[Freelance] The Way You Look at Me

COVER TWYLAM

Title                             : The Way You Look At Me

Author                         : NandaFM

Rate                             : Teen

Length                         : Oneshot

Genre                          : Romance

Main Cast                    : Xi Luhan | Im Yoona

Supporting Cast          : Kwon Yuri

Disclaimer                   : Bagi yang merasa udah pernah baca FF ini sebelumnya, silahkan dicek dulu dimana dulu bacanya. Soalnya FF ini pernah aku post di blog pribadi aku (foggymindyblog.wordpress.com).

RCL guys J

Enjoy!

**NO PLAGIATOR ALLOWED

 

Mencoba menjadi bagian dalam hidupmu agar suatu saat kau dan aku berjalan dalam satu arah dan waktu.”

*#*#*#*#*

01 Maret 2016 ; 06.30

Kutekan bel rumahnya berkali-kali agar segera dibukakan pintu, tapi nihil. Tak ada tanda sama sekali bahwa pintu akan terbuka. Semua orang sedang tidak di rumah dan menciptakan suasana yang begitu sepi seolah sama sekali tak berpenghuni.

“Luhan-ah ….” tanpa lelah aku masih menunggunya untuk berangkat ke sekolah bersama seperti biasa, berharap ia tiba-tiba muncul dengan raut muka bersalah karena membiarkanku menunggu terlalu lama. Yah, benar itu hanya harapan karena pada kenyataannya pintu sama sekali tidak terbuka yang menunjukkan akan kehadiran sosoknya. Kesabaran-lah yang membuatku masih menunggunya, dan kesabaran juga yang memberikan keajaiban kali ini. Berselang menit yang terhitung sedikit lama dapat kulihat sosoknya turun dari mobil.

Senyumku menyambutnya tepat ketika ada gadis yang menyusulnya dari mobil itu pula. Gadis itu cantik. Mata besarnya dan bibir tipisnya begitu pas dibingkai rambutnya yang berwarna coklat gelap. Dia begitu indah hingga membuatku ingin berpaling. Bahkan ketika ia tersenyum menawan aku hanya menatapnya datar dengan ataupun tanpa makna.

Gadis itu berjalan tepat di belakang Luhan menuju tepat ke arahku. Entah apa yang aku pikirkan, aku malah mundur selangkah berusaha pergi dari hal yang tak mengejar. Dapat kulihat raut bingung di wajah mereka.

Dengan sigap Luhan menahan tanganku. “Ada apa?” dari suaranya dapat kudengar perasaan bingung di sana yang kubalas hanya dengan gelengan.

“Tidak mungkin kau berdiri di sini tanpa ada keperluan apapun, kan?” kali ini gadis itu yang bertanya. Sungguh aku tidak suka padanya. Nada bicaranya yang begitu menuntut dan membuatku ingin menutup telinga seketika ia bersuara. Kupandang dirinya dengan rasa tidak sukaku yang terdalam.

“Ini……”

“Ah… aku rasa aku harus segera berangkat ke sekolah sebelum terlambat” aku memotong perkataan Luhan ketika kutahu ia akan memperkenalkan gadis itu padaku. Lalu aku melenggang pergi tanpa menoleh sekalipun ke belakang. Meskipun aku tahu bahwa perasaan bertanya masih bersarang di pikiran mereka.

*#*#*#*#*

01 Maret 2016 ; 14.45

Pikiranku terus melanglang buana tak menentu memikirkan Luhan dengan gadis cantik yang tak kusukai itu. Mereka turun dari mobil yang sama dengan aura yang membuatku marah. Haaahh, mereka itu benar-benar……

Aku berdiri dengan seribu ketetapan yang sangat dan melangkah dengan ketetapan itu pula. Melewati jalanan yang sepi menuju rumah Luhan yang berjarak lumayan jauh dari rumahku. Gairah, semangat, dan amarah yang menyelimuti membuatku kehilangan sebagian waktu dan tiba-tiba sudah berada di depan rumahnya.

Rumahnya masih sama seperti dulu ketika aku masih sering mengotori lantai depannya. Sama ketika aku masih terlalu kecil dan polos bagiku untuk mengetahui perasaan ini.

Kutekan bel sekali dan ketika pintu gerbang itu terbuka dapat kulihat wanita paruh baya yang membukanya. Rambutnya yang sedikit beruban disanggul kebelakang dengan cantik. Mata coklatnya yang gelap masih tetap lembut dan penuh kasih.

Melihatnya seperti ini dapat kuingat ketika dulu tangannya yang halus selalu menyisir rambutku ketika aku datang bertamu sambil mengawasi Luhan yang sedang bermain bola dengan adiknya di taman. Ketika bibirnya selalu berucap bahwa betapa ia teramat menginginkan aku agar dapat berjodoh dengan anaknya, Luhan, sebagai ucapan selamat datang ketika aku mengunjunginya.

Tapi anakmu sekarang punya jalannya sendiri. Dia dapat memilih siapa yang akan menemani hidupnya. Dan sepertinya, itu bukan aku……. batinku ketika mengingat kejadian tadi pagi.

Tangannya menggapaiku dan menarikku masuk sambil berujar betapa ia teramat merindukanku. Betapa ia merasa kesepian ditinggal sendiri dalam rumah sebesar itu hanya ditemani televisi dan benda mati lainnya.

“Oh, Yoona-ah!! Kenapa kau tidak pernah main lagi ke sini, hmm?”

“Maaf Eomoni….. Aku tidak ada waktu. Tugasku sangat banyak.” Tak lupa kuberikan senyum saat menjawabnya. Dan beliau memasang ekspresi wajah memahami akan alasan yang kuberikan. Beliau menarikku menuju ruang tamu yang masih terlihat sama dengan memori yang dapat kuingat.

“Sebentar ya, Eomoni ambil minum dulu.”

Pikiranku kembali berputar dan memikirkan ulang apakah tindakanku ini benar? Aku tidak ingin kecerobohan dan tingkah gegabahku menjadikan situasi yang sudah tidak begitu baik menjadi semakin tidak baik. Tapi sisi lain diriku menginginkan semuanya terungkap dan dapat membuatku lega entah apa hasil akhirnya nanti.

Kembalinya beliau aku segera meminta izin agar bertemu dengan Luhan . Tapi ternyata ia sedang tidak berada di rumah. Hal itu tentunya membuatku sedikit kecewa dan lega secara bersamaan. Kecewa, karena aku harus menyimpan perasaan ini lagi hingga waktu yang tak ku ketahui kapan. Dan lega karena setidaknya aku sesungguhnya memang tidak sepenuhnya siap untuk menyatakannya. Akhirnya aku menghabiskan waktu di sore yang indah dengan berbincang bersama wanita paruh baya yang sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri.

*#*#*#*#*

20 April 2016 ; 06.00

Hari ini, Minggu; libur sekolah; waktu bersantai; free day; dan merupakan hari ulang tahun Luhan yang ke-18. Sengaja kupasang alarm sepagi ini pada malam sebelum tidur hanya untuk setidaknya mengucapkan selamat ulang tahun padanya walaupun hanya melalui jendela kamar yang terbuka dengan burung-burung kecil, sinar hangat matahari pagi dan desiran lembut angin yang berhembus sebagai pendengar.

Aku berlari menuju dapur karena aku tahu bahwa Eomma sudah berkutat di dapur sepagi ini. Segera kupeluk dari belakang dirinya yang tengah memotong sayur-sayuran dan kudapati wajahnya yang terkaget. Aku hanya terkekeh melihatnya.

“Sudah bangun?” nada heran menyelimuti pertanyaannya yang hanya kujawab dengan gumaman. “Hmm”

“Tapi biasanya di hari libur kan si puteri tidur ini baru bangun kalau matahari benar-benar sudah berada tepat di atas kepala?”

Segera kulepaskan pelukan dan lalu aku ikut membantu kegiatan di dapur walau dengan mempoutkan bibir. Eomma yang melihat hanya tertawa kecil dan kembali serius dengan kegiatannya walau masih sambil bercerita tentang segala hal tentangku, terutama keburukan-keburukan pada diriku. Aku yang mendengar hanya tersenyum dan terkadang mengelak karena aku merasa tidak benar apa yang diceritakannya tentangku pada bagian-bagian tertentu.

Ting tong.

Tanpa menunggu perintah, aku segera beranjak membukakan pintu dan seketika membelalakkan mata melihat Luhan berdiri di depan gerbang rumahku dengan pakaian rapi. Mataku semakin melebar lagi ketika tangannya akan menggapai wajahku dan rupanya ia tengah mengatupkan bibirku yang baru kusadari terbuka lebar sejak kedatangannya karena kaget. Dan ia tersenyum karena ulahku, senyum miringnya yang begitu khas.

Keadaan sempat hening untuk sesaat hingga pernyataan dari dirinya memecah keheningan itu. “Hari ini hari ulang tahunku” ujarnya. Aku terdiam tidak mengerti atas pernyataannya yang baru saja ia ucapkan. Tentu saja aku mengetahui hari ini adalah hari ulang tahunnya. Apakah ia berpikir aku akan melupakannya dengan sekejap saja setelah sebelumnya kita selalu merayakan harinya ini berdua? “Aku ingin kita piknik……..”

“Aku segera kembali” kupotong perkataanya dan berlari menuju kamar meninggalkannya yang terdiam di depan pintu dengan antusias. Kucari-cari baju yang aku rasa pantas dan segera aku berdandan dengan secepat yang aku bisa. Ketika kurasa sudah siap aku bersegara menuju Luhan yang belum sempat kupersilahkan masuk sebelumnya.

Hendak saja aku menghampiri Luhan yang tengah berbincang dengan Eomma di ruang tamu ketika mataku menangkap sosok gadis itu lagi. Membuat semangat dan antusiasme yang tadi kurasakan surut seketika. Dengan langkah yang lesu, aku kembali ke kamar sebelum ada yang menyadariku. Segera kuganti pakaianku dengan yang kupakai sebelumnya, menghapus riasan di wajah dan kembali ke ruang tamu dengan malas.

Mereka menatapku dengan heran mendapati keadaanku yang terlihat sama sekali tidak siap untuk bepergian. “Tiba-tiba aku tidak enak badan.” Setelah mengatakan alasan yang kusadari cukup bodoh aku meninggalkan mereka dan kembali ke kamar.

*#*#*#*#*

21 April 2016 ; 12.00

Sempat kehilangan kontak selama satu bulan lebih semenjak hari ulang tahun Luhan bulan Maret yang lalu, tentunya menciptakan perasaan rindu dan perasaan bersalah. Pada hari itu yang kulakukan adalah suatu hal yang konyol dan kekanakan. Menyebabkanku tak sempat mengucapkan sekedar ucapan ‘selamat tahun’ padanya. Padahal, seandainya waktu itu aku mampu mengalahkan egoku tentu tidak akan seperti ini jadinya.

Kemudian ketika aku berharap ia akan menghubungiku lagi dan hal itu menjadi suatu yang nyata, keadaan yang tak kuharapkan terjadi. Ia menghubungiku pagi tadi dengan membawa kabar yang cukup mengejutkan. Sambil suara isakan yang cukup jelas terdengar, ia mengabarkan bahwa Kwon Yuri, kekasih Luhan , baru saja meninggal dunia akibat kecelakaan mobil ketika ia hendak berkunjung ke rumah saudaranya yang ada di Busan.

Tentunya yang pertama kali kurasakan adalah terkejut. Tapi, salahkah aku bila aku sama sekali tidak merasakan kesedihan akibat kepergiannya?

Dan di sinilah aku sekarang. Menghadiri pemakamannya bersama keluargaku. Suasana haru menyelimuti semua orang yang ada di sini. Terutama Luhan dan Eomoni. Mereka berdua adalah pihak yang kulihat paling berduka di antara peziarah yang lain selain keluarga dari Kwon Yuri itu sendiri. Juga dari sinilah aku mengetahui bahwa hubungan di antara Luhan dan Yuri telah berjalan lebih jauh dari yang aku kira. Eomoni yang kukira hanya menginginkan diriku seperti yang ia ucapkan dulu rupanya telah menerima Yuri jauh daripada diriku.

Hari-hari selanjutnya yang kuharap dapat berjalan seperti biasanya rupanya telah berubah. Semenjak kepergian Yuri setiap hari kini seolah berubah menjadi hari penuh luka. Luhan memang kembali lagi dekat denganku tapi dapat kurasakan jarak di antara kita yang semakin jauh. Eomoni kini selalu bercerita tentang Yuri sambil memasang wajah yang sendu setiap aku mengunjunginya.

Tapi aku selalu berusaha menguatkan diri sendiri. Dengan rutin aku mengunjungi Eomoni dan menemani Luhan setiap kali ia meminta. Aku tidak tahu mengapa seorang Xi Luhan selalu memintaku pada situasi yang seperti ini, tidakkah ia bisa meminta sahabat karibnya yang lain. Terkadang aku merasa jengah dan lelah, tapi entah mengapa aku selalu menempatkan diri pada posisi siap untuknya. Aku terlalu tak punya daya untuk mengelak.

*#*#*#*#*

20 Juli 2016 ; 16.00

Berada di tempat Yuri berbaring untuk selamanya, memperingati satu tahun semenjak kepergiannya, bersama Luhan membuat sesak di dalam dada. Mungkin sebelumnya aku yang waktu itu terlalu dibutakan oleh kecemburuan sama sekali tidak merasakan simpati walau hanya setitik. Tapi kini aku sadar, akulah yang jahat di sini. Terlalu memaksakan pandanganku agar sesuai dengan harapan, tidak mau mencoba melihat dari sisi yang lain.

Rasa kehilangan yang mendalam dengan jelas terlihat di wajah Luhan. Juga setiap tetes air matanya yang menyiratkan kepiluan. Sehingga membuatku merasa tersisih dan semakin memiliki batasan tak terlihat dengannya.

Melihat seorang Xi Luhan menangis dengan cara seperti itu membuatku melangkah pergi secara perlahan. Membiarkannya untuk mencurahkan segala kepedihan hati, kerinduan, dan segala rasanya untuk Yuri. Karena aku sadar pada saat seperti inilah aku tidak diperlukan. Aku sadar, selamanya aku akan selalu tertutup dari pandangannya. Dan kini kuputuskan, aku akan melangkah keluar dari hidupnya, tidak akan kupaksakan lagi agar aku selalu berada dalam hidupnya. Walaupun air mataku yang keluar menunjukkan sebaliknya.

Akan tetapi, baru dua langkah aku berjalan kurasakan tangan Luhan yang dingin menggenggamku. Segera kubalikkan badan untuk melihatnya. Matanya yang hitam kelam itu kini melihatku. Benar-benar melihatku dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Dan jemarinya yang kurus dan panjang itu merengkuhku dalam peluknya, membuatku tidak mampu menahan air mata yang berjatuhan semakin deras.

Apakah kini ia telah melihatku dengan selayaknya diriku? Bukan sebagai adik kecilnya yang manja lagi?

꞊꞊꞊END꞊꞊꞊

*) Note: Jangan lupa komennya ya, guys!! Kritik dan sarannya bakalan bikin author makin semangat lagi buat nulis cerita J

Dan jangan lupa ya visit ke blog pribadi aku buat cerita-cerita yang lebih banyak lagi J

21 thoughts on “[Freelance] The Way You Look at Me

  1. Luhan sama yoona gak bersatu yaa??
    Yaahh thorr dilanjutin yaaa, pnsaran sama ceritanyaa, awalnya sih aku gak ngerti, tpi aku coba bacanya pelan2 jadi ngerti dehh, bacanya sampe nyesek tauu

  2. Kasian yoongie… tuh si lulu ngapa ga peka apa gmna?
    tapi….. aku bngung sama tanggalnya thor dan adakah sequelnya thor hehe.. mau tau prsaan lu ke yoong
    Ditinggi ff lainya figthing thor

  3. bingung sama tanggalnya niih.. ini juga ngegantung cerita nya butuh squel #modus
    udah lama juga ga baca ff Luyoon. kebanyakan main castnya Sehun atau Chanyeol..

  4. Wihh,, slain mommy Lim aku jga skit hati loh krena ending-nya digantung 😂 *modus
    Hehhehe
    Dtunggu krya slnjutnya!!
    FIGHTING!!!

  5. hem jd yoona jth cnt dan luhan ga tau gt yoona jg skt hati krn dia brsma wanita lain??klo q jg pasti skt…hahhaha….tp knp endingnya gantung ya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s