[Freelance] You Don’t Know

1459253899853

Title : You Don’t Know

Written by Nikkireed

Cast : EXO Chen as Kim Jongdae and SNSD Yoona as Im Yoona

Poster credit to kpopfeeds

Jongdae Kim.

Aku menghela nafas begitu namaku dipanggil.

Setelah aku menghitung sampai tiga barulah aku berdiri dari kursiku.

Pasang wajah menyenangkan, pasang wajah menyenangkan.

Begitu sampai dipodium, Yoona memberikanku selembar kertas seukuran kartu pos. Aku menerima dengan senyumku yang paling terpaksa sambil berbisik thanks. Lalu melangkahkan kaki di belakang mimbar dengan mikrofon kecil diatasnya.

Tetap tersenyum, Jongdae. Tetap tersenyum.

“Hehe.”

Siapa sangka, pidato resmi yang seharusnya kubawakan malah dimulai dengan suara tawaku di mikrofon. Beberapa audience ikut tertawa mendengar suaraku di speaker. Tapi 2 baris depan, tepatnya barisan ‘orang penting’ termasuk ayahku duduk disana, dengan wajah masam ikut tersenyum aneh.

Aku membaca kertas yang diberikan Yoona. Sebagai sekertaris, ia mengerjakan tugasnya dengan sangat baik – termasuk memesan pesawat di menit terakhir dan memesan supir super cepat untuk menjemputku agar aku sampai disini tepat waktu. Termasuk pidato yang barusan kubawa ini. Kupikir aku harus memberikan reward yang pantas untuknya nanti.

Beberapa audience riuh bertepuk tangan saat aku menundukkan diri tanda selesainya pidato singkatku. Huh, tidak sampai lima menit. Aku benar-benar harus berterima kasih pada Yoona atas pidatonya.

Begitu aku turun dari podium, 2 baris depan yang kubilang ‘penting’ itu menghambur ke arahku. Meraih tanganku untuk berjabatan. Aku tidak biasa menerima uluran tangan orang asing. Dengan senyumanku yang paling palsu, aku menerima jabatan tangan-tangan yang terulur itu.

“Hebat kau, nak. Ayahmu memang tidak salah memilihmu sebagai penerus.” Aha! Itu pujian untuk ayahku, bukan aku.

“You look great tonight! Ey, Tuan Kim, apakah putramu ini belum menikah?” Nah, walaupun untuk pertanyaan ini untuk ayahku, aku merasa aku harus menjawab. “Terima kasih, pak. Belum.”

Tetap tersenyum, Jongdae. Jangan meremas tangan bapak ini, tahan.

Ayahku hanya tersenyum, “Memang belum. Tapi akan secepatnya. Apa kalian ada rekomendasi?” Lalu terdengar suara sekumpulan bapak-bapak tertawa dengan suara khas. Huh. Aku malah menertawai mereka yang mencoba untuk mencari wajah ayahku dengan mengeluarkan nama putrinya dan status. Apa pentingnya!

Dan apa pentingnya semua ini!

Seharusnya aku masih di Jeju bersama teman-temanku. Chanyeol, Suho hyung, Sehun akan panik mencariku sebelum aku mengabarkan mereka. Shit! Aku lupa. Aku mencari sosok Yoona, ternyata ia ada di belakangku, lalu aku menghampirinya.

“Yoon, please, beritahu Suho hyung dan Chanyeol aku sudah di –“

“Sudah, pak. Saya sudah memberitahu mereka tentang kepergian anda yang mendadak.”

Dan hatiku lega. Sekali lagi, Yoona benar-benar penyelamat.

“Jongdae!”

Mendengar namaku dipanggil lagi oleh ayahku, aku berbalik dan mengangguk. “Thanks, Yoon.” Aku menggosok lengan Yoona berterima kasih.

“Kau masih ingat Luhan?” Tanya ayahku begitu aku kembali ke perkumpulan bapak-bapak ‘penting’ tersebut. Di hadapanku seorang laki-laki gagah mengenakan jas biru navy mengulurkan tangan. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan ayahku.

“Yo! Jongdae! Kau berubah ya sekarang.” Laki-laki yang kelihatan gagah itu sekarang malah terlihat chic, hah, swag atau apalah sebutannya untuk itu. “Kau masih berteman dengan Chanyeol dan lain? Dimana mereka? Apa mereka datang?” Luhan itu mengulurkan kepalanya mencari sana sini.

“Tidak, mereka masih di Jeju.”

“Tentu saja, susah memang berprofesi ganda sebagai seorang penerus tunggal dan seorang artis sekaligus. Aku mengerti.”

Tidak. Kalau kau mengerti seharusnya kau tidak tersenyum seperti itu, bodoh.

“Jadi, mana lebih susah? Seorang penerus atau seorang artis?” Laki-laki itu bertanya lagi. Aku bersyukur ayahku sekarang sedang ‘berpindah grup’ dan berbicara dengan kelompok bapak-bapak lain sedangkan aku ditinggal hanya dengan si chic boy ini yang merasa ia dekat denganku. Ia bahkan menepuk bahuku. Oh Tuhan apa aku mengenal orang ini?

Aku memasang wajah paling siap, “Kurasa keduanya. Haha.”

“Tapi, Jongdae-ah, sekarang kau terlihat lebih artis. Lihat saja sepatumu.” Ia menunjuk sepatuku. Lalu tertawa terbahak-bahak.

Aku melirik sekitar, merasa canggung. Persetan dengan sepatu!

“Maaf. Aku tidak tahu bahwa adidas superstar itu sepatu formal untuk pertemuan kolega seperti ini. Tapi, Jongdae-ah..”

Oh sekarang ia merasa lebih akrab memanggilku jongdae-ah dan merangkul bahuku.

“Wajahmu terlalu artis untuk menjadi direktur, kau tahu.”

Aku tahu. Hanya karena aku seorang putra tunggal dan takdir menunjukku menjadi seorang penerus tunggal perusahaan ayahku.

Lalu, aku memutar badan, meninggalkan si chic boy itu dan berjalan menjauhinya.

Oh sialan. Siapa laki-laki sok akrab ini sih?

Rasanya aku ingin keluar dari ruangan ini secepatnya. Atau setidaknya aku butuh minum, kopi, ekspreso, atau apalah dengan kafein tinggi agar sedikit menenangkanku.

Aku menunduk memandang sepatuku. Sialan memang! Karena terburu-buru mengejar pesawat, aku tidak sempat mengganti sepatu. Persetan dengan sepatu. Aku bahkan tidak membawa apa-apa. Hanya ponsel dan dompet. Dimana ponselku?

Aku meraba kantung jas kiri dan kanan, saku celana. Nihil.

Lalu sebuah tangan mulus terjulur dengan iPhone berwarna emas digenggaman.

Yoona.

“Anda meninggalkannya dipodium tadi. Ini bukan pidato pertama anda, tapi mengapa anda terlihat kesal?” Yoona berdiri disisiku, agak setengah langkah dibelakangku, ditangannya terdapat sebuah iPad mini.

“Thanks again, Yoon. Kau benar-benar banyak membantu. Dan yah, kesal. Because he ruined my plans.” Aku memeriksa beberapa email masuk.

Dan beberapa menit kami berdiam. Oh, aku tidak diam. Mataku sibuk membaca email ini dan itu. Sampai akhirnya aku melirik Yoona yang terdiam menunggu, “Ah, Yoon. Can you do me a favor? I need coffee.”

Yoona membuka iPadnya, mencolek-colek layarnya dengan jari lentik, lalu kembali bersuara, “Maaf, pak. Tapi anda sudah tidak boleh mengkonsumsi kafein. Kadar –“

Jari telunjukku terangkat diudara, “Uh-uh. Yoona, you’re my assistant. Not my mom.”

Dengan wajah polos Yoona tetap melanjutkan membaca mengenai data kesehatanku saat ini. Dan aku menunggu sampai ia selesai.

“Okay, Yoon. Aku bisa mengambil sendiri.” Aku melangkah pergi.

Yoona mengikuti langkah kakiku, sedikit terburu-buru karena ukuran langkah kaki yang berbeda. Sampai aku berhenti di sebuah bar dan hendak mengambil cangkir. Tangan Yoona lagi-lagi terulur, kali ini ia menahan lenganku. “Pak.”

Aku memutar mata, “Im Yoona.”

“Saya akan bermasalah jika anda berakhir menginap diruang vvip rumah sakit nanti malam. Jadi maaf.” Yoona memita maaf. Suaranya terdengar tulus.

Okay. Baiklah. Aku bisa menahannya. Aku merasa iba dengan memelasnya suara Yoona. Ia benar, ia bisa dalam bahaya jika ayahku mengetahui malam ini aku tidak berada disini.

Dan YA! Ide bagus!

Acara ini diselenggarakan oleh ayahku, bukan aku. Walaupun dari judulnya aku akan menjadi bintang acara, tapi sekarang lihat? Siapa yang menjadi bintangnya? Bukan aku. Jadi tidak masalah jika aku melarikan diri sekarang. Lagian, tugasku juga sudah selesai.

Aku melangkah menuju lift dengan santai. Beberapa tersenyum melewatiku, aku tidak berani membalas senyum. Siapa? Tidak kenal kenapa harus senyum?

Yoona meraih lenganku sebelum aku menekan tombol lift. “Pak?”

“Yoon, kali ini aku tidak akan buat masalah. Tidak denganmu. Jadi, please.”

“Tapi acaranya belum selesai.”

“Pidatoku sudah selesai. So, I’m not spending my hours here. And..” Aku menekan tombol lift, “Oh, what’s your favorite colour?”

Aku melangkah ke dalam lift yang terbuka. Kosong.

Yoona menimbang. Agak bingung karena topikku diluar jalur. Ia akan menganggapku aneh setelah ini. Oh dia sekertarisku, seharusnya ia tahu bosnya gila.

Belum sempat menjawab, aku tersenyum menahan pintu lift, “Eh, lupakan. Okay, good night, Yoon.” Dan pintu lift tertutup rapat.

Aku puas. Lift sendirian dari lantai 43.

Dan menunggu.

Cukup lama.

Saat pintu lift lobby sudah terbuka, bisa kurasakan wajahku sedikit terangkat. Senyum kemenangan. Apa itu kemenangan? Kemenangan adalah kabur dari sebuah acara peresmian yang menyiksamu. Dan aku sedang merasakan itu.

Setelah melangkah keluar dari gedung, aku tidak akan aman. Kim Jongdae, artis papan atas sekaligus penerus perusahaan ternama berjalan-jalan di malam sendirian tanpa pengawasan atau manajer. Tidak, kurasa itu terlalu panjang untuk dijadikan headline. Bagaimana jika, Kim Jongdae, si artis dan anak orang kaya itu mengunjungi coffee shop malam-malam. Apa dirumahnya tidak ada kopi? Hahaha. Aku tertawa dalam hati. Benar juga. Kopi. Aku butuh kafein. Toh Yoona tidak akan tahu.

Saat sampai di sebuah coffee shop, aku langsung memesan Americano. Dingin. Tidak lupa juga aku meminta password wifi.

Aku memilih kursi sofa diujung toko dekat kaca. Duduk dan meletakkan gelas Americano-ku di meja lalu mengeluarkan iPhone, mematikan signal dan menonaktifkan GPS. Kemudian membuka email, membaca berita di portal dan membalas email undangan dari sebuah gallery art.

Tidak lama menyesap Americano, aku hampir mati tersedak di tegukan ketiga.

Yoona di depan mataku. Duduk tanpa merasa dosa.

“What?!?!? Yoon? Sudah berapa lama kau disini? H-how did you.. k-know I’m here?” Tanyaku terbata-bata, mencari tisu untuk membersihkan sedikit kekacauan.

“54 menit yang lalu. Aku mengenalmu sejak kecil, tentu saja aku tahu. Dan, Americano, hmm? Berjanjilah kau tidak akan pingsan disini.”

APA? Aku sudah duduk disini hampir 1 jam? Yang benar saja! Aku memandang ke belakang Yoona, mencari beberapa orang yang sebentar lagi akan datang menyusul Yoona untuk menangkapku pulang. Yoona menyadari yang aku cari.

“Tidak ada mereka. Kau selamat malam ini, ayahmu terlalu fokus untuk mempromosikanmu di depan dewan pemimpin saham. Beliau tidak akan terusik.” Yoona mengambil gelas Americano-ku dan menyesap 2 kali.

Sudut bibirku terangkat, “Ini Yoona yang kukenal. Aha.”

Kemudian aku kembali pada iPhoneku yang bergetar di meja.

“Kau sudah menerima kadoku?” Aku kembali membuka pembicaraan. Aneh saja melihat Yoona duduk di depanku sekarang. Karena sebelumnya tidak pernah ia senekat ini. Hanya malam ini.

Ia melemparkan tatapan ‘apa’ sambil menyesap Americano-ku sampai tandas.

“Belum kurasa. Aku mengirimkan ke alamat apartmentmu. Kuharap kau tidak keberatan ya menerima kado dari atasanmu.”

Yoona tersenyum tipis, “Terima kasih. Aku hanya sekertarismu di Kim CO. Disini tidak.”

“Ya, memang. Ayahku membayar mahal dirimu untuk menjadi baby-sitter-ku hanya karena kau sudah terlalu lama menjadi temanku. Tapi, Yoon, apa kau tidak bosan?”

Yoona memandang kosong ke keluar kaca, “Ya, membosankan. Jadi cepatlah kau menikah supaya aku tidak repot mengurusimu, Jongdae.”

Aku menyandarkan punggung ke sofa, “Mana ada artis pendatang baru memberitakan dirinya akan menikah setelah menjadi artis!”

“Kau benar. Mana ada gadis yang akan menjadi istrimu, merepotkan!” Yoona ikut mencibir. Aku pernah melihat sikap gemas itu selama SMA.

Yoona memang teman terdekatku setelah Chanyeol, Suho hyung dan Sehun. Well, tentu yang membedakan mereka teman dekatku di agensi. Tapi Yoona, sahabat yang menemaniku sejak masih kecil. Aku saksi pertumbuhan perempuan itu. Yoona si ketua kelas yang populer, rajin belajar, selalu menjadi juara. Semua orang tahu itu.

“…lagian, kita sudah berteman lama mengapa kau masih tidak tahu warna kesukaanku.”

Ucapan Yoona membuyarkan nostalgia singkatku. Benar. Aku bahkan tidak tahu warna kesukaannya. Tempat favoritnya, buku yang paling sering ia baca, olahraga yang paling ia senangi. Ya ampun,  Jongdae! Kau tidak pantas mengangap dirimu teman dekat Yoona.

Aku malu.

“Aku bisa tebak.”

Yoona kembali memberikan tatapan ‘apa’ dari sebrang.

“Kalau aku benar, maka aku akan memesan Americano satu lagi. Jika tidak –“

“Jika tidak, kau tetap memesan Americano itu tapi untukku. Call?” Yoona memajukan tubuhnya ke meja, ia tertarik dengan permainan ini. Aku hanya membalas senyum. Dan berdoa dalam hati semoga tebakanku benar.

Aku membuka iPhone, men-scroll-down layar lalu menghadapkan ponsel tersebut tepat dihadapan Yoona.

Yoona mengatupkan bibirnya, menahan tawa. Lalu ketika aku menarik tanganku, tawanya meledak.

“Jongdae. Jangan bilang itu hadiahku?” Yoona masih tertawa.

Well, dari caranya tertawa aku merasa sedikit tersinggung. Ia menertawakan jenis hadiahku? Atau warna yang kutebak? Apa yang salah, sih? Seharusnya perempuan itu senang jika ada paperbag bermerek Chanel menjadi kado yang menunggunya dirumah. Tapi Yoona malah tertawa mengejek.

“Sialnya kau hampir benar. Pink pastel is my fave.” Akhirnya Yoona mem-poutkan bibirnya. “Tapi kau tetap salah. Itu pink fuschia. Dan menurutku itu warna norak.”

Benar, kan. Yoona menyukai pink. Sepuluh jarinya di pedikur prancis berwarna pink, dan jika aku tidak salah lihat, iPad-nya juga berwarna pink. Tapi apa bedanya? Toh, sama-sama warna pink.

“Ya, tapi kan sama saja warna pink. Aku tidak menerima penolakan. Jadi ya kau terima saja.” Ucapku masam, berdiri dari kursiku.

“Terima kasih, Jongdae. Less ice ya.” Yoona tersenyum lebar kali ini. Tepat sebelum aku berjalan ia sedikit teriak, “Grande ya.”

Aku memutar mata dan pergi memesan Americano untuknya.

Saat aku kembali ke meja, Yoona tertidur. Yaampun! Aku memikir ulang tentang fungsi dan guna kafein yang sesungguhnya. Atau memang tubuh Yoona yang tidak dapat memproses kafein yang barusan ia telan. Belum lagi dengan Americano yang barusan kubeli ini.

“Yoon?” Aku menusuk pundaknya sekali.

Tidak ada jawaban.

“Yoona? Kau tidur?”

Masih tidak ada jawaban.

“Jadi, Americano ini untukku, ya.” Aku meraih gelas kopi tersebut, tiba-tiba tanganku tertahan sebuah genggaman.

“Oh, pak. Maaf, Presdir meminta kami untuk menjemput anda pulang.”

Kesal. 2 bodyguard ayah datang menjemputku. Benar-benar persis peliharaan yang dijemput majikannya untuk pulang.

Aku melirik genggaman tangan tersebut kemudian barulah dilepas. “Ck, ck. Padahal GPS sudah kumatikan dan mencari tempat sejauh mungkin.” Aku menatap Yoona yang masih tertidur dimeja. “Sial, GPS Yoona pasti.”

“Pak?”

“Ya, aku tahu. Tapi setelah aku keluar dari tempat ini pastikan Yoona pulang kerumah. Jika tidak, kalian bermasalah denganku.”

Aku meraih ponsel dan berdiri. Kemudian melangkah keluar dari coffeeshop sambil sekali-kali menatap Yoona yang tertidur dimeja.

AN.

Ini Chen’s POV. Jadi, akan ada Yoona’s POV juga. Ini ff paling blak-blakan yang pernah saya buat. HAHA.  Terinspirasi dari salah satu foto di timeline sosmed saya. Jadi maaf kalau sedikit maksa dan aneh. Semoga kalian suka J

-Nikkireed

8 thoughts on “[Freelance] You Don’t Know

  1. penulisan y keren… bkn yg baca gk bosen… gantung thor… ky y hrs di lajutin deh… msa yoona di tggl sndrian…

  2. Cara penulisannya bagus dan keren sekali ! Bikin kebawa imaginenya Hehe suka juga ko sama castnya, tapiiii ini sepertinya butuh sequel😊 jadi untuk author lanjutkan karya karyamu selanjutnya ! Aku menanti…

  3. Agak weird sih awalnya pairing yoona dgn chen, tapi justru ini hal baru yg menarik

    Dan ya ampuun cara bertuturnya keren abis, santai dan elegant.. Ditunggu kelanjutannya thor

  4. Aku ska pnulisannya, bcanya bkin senyum-senyum sendiri..
    Widihh,, dtunggu bnget YoonA’s pov-nya!!
    FIGHTING!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s