[Freelance] Contactless

contactless-copy

Contactless

Written by Nikkireed

SNSD Yoona, Lu Han, and Tao

cr : Ken’s @ Art Fantasy

“Bagaimana menurutmu, Tao?” Tanya Yoona begitu ia melayangkan dua lembar tiket penerbangan menuju Swiss pada adiknya itu.

“Swiss? SWISS EROPA? Noona!” Seru Tao setelah selesai mencerna tulisan-tulisan di kertas persegi panjang tersebut. Oh, ada namanya juga disitu!

Yoona mengangguk puas dan tersenyum lebar, “Tentu. Aku ingin sekali mengunjungi Pegunungan Alpen itu, Tao. Dan aku mendapatkan tiket tersebut dengan harga murah. Ditambah dengan penginapannya. Dan kau harus ikut denganku, itu hadiah ulang tahunmu.” Yoona menuding lembaran kertas tersebut, menunjuk nama Tao yang jelas tertera disitu. Itu artinya, Tao sudah pasti ikut.

“Terima kasih, tapi, noona, aku masih ada kelas. Aku tidak bermaksud menunda kelas sampai liburan musim panas tiba.”

“Uh-uh, no! Eomma sudah menyetujui dan aku akan meminta ijin pada sekolah untuk mengatur jadwalmu. Ayolah, Im Zi Tao, kau tega membiarkan noona sendirian di negri orang lain?” Yoona mengakhirnya dengan mengedipkan mata memelas.

Tao meletakkan mangkuk popcorn-nya di meja kopi dan duduk di sofa dengan serius, “Noona, tapi Swiss jauh sekali. Yang benar saja!”

Yoona ikut duduk di samping Tao, “Aku tahu. Aku hanya ingin sekali mengunjungi Pegunungan Alpen, Tao. Dan tugas akhirku memaksaku harus memberikan ulasan mengenai perjalanan jauh. Dan Swiss pilihanku.”

“Berapa hari?”

“Dua minggu.” Jawab Yoona cepat, “Dan aku janji, begitu tulisanku selesai, kita pulang.”

Tao membelalakan matanya, “Dua minggu?! Noona!” Tao melempar tiket tersebut ke meja kopi. “Itu lama sekali. Seminggu.”

Yoona mengerucutkan bibirnya, “Baik, seminggu. Tapi kau harus berjanji untuk tidak memberitahu eomma apa yang akan kulakukan disana.” Yoona berbisik pelan.

“Memangnya apa yang akan kaulakukan disana?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Jadi kau ikut? Itu sudah pasti.” Yoona berdiri. Ia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri, berjalan menuju kamarnya dengan sedikit bernyanyi.

Yoona pernah bermimpi bahwa suatu hari ia akan pergi menuju tempat tertinggi, menikmati alam yang secara nyata diciptakan, menunggang kuda seperti di cerita dongeng, melewati padang rumput hijau nan luas, merasakan bau hutan mint, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang semua itu bukan mimpi lagi.

Hamparan bukit yang terdiri dari pepohonan hijau dilapangan luas dengan sedikit bekas salju putih terbentang dihadapannya, tepat setelah ia turun dari mobil pengangkut turis yang khusus mengantarkannya sampai ke Desa Alpine.

Yoona melepaskan kacamata hitamnya, takjub dengan yang ada dihadapannya. “Aku di Swiss?” Ia menoleh kaku pada Tao, sang adik yang sedari tadi mengurusi ponselnya. “Aku di Swiss, Tao! Aku di Swiss!” Detik itu Yoona melompat keluar dari mobil karena kegirangan.

“Kita harus mengabari eomma kalau kita sudah sampai di.. umm.. where are we right now?” Tao bertanya pada driver yang sedang mengeluarkan koper-koper dan tas milik mereka.

“Alpine.” Jawab driver berkacamata tersebut. “These are all the stuff. Enjoy your trip and have fun.” Driver tersebut melesat menghilang dengan mobilnya.

“Noona!”

Yoona sudah mengeluarkan kameranya dari ransel untuk mengambil foto yang ada dihadapannya sekarang. Ia berdiri sekitar 3 meter jauhnya dari Tao dan barang bawaan mereka. “Noona! Dimana penginapannya? Mengapa driver tersebut tidak membawa kita langsung ke penginapannya?”

Yoona menurunkan kameranya. Baru ia sadari, sekeliling mereka hanya hamparan bukit luas. Tidak ada penginapan. Tidak ada rumah. Tidak ada hostel. Dan Yoona baru menyadarinya.

“Tunggu sebentar, Tao-ah. Aku akan mencari posisi kita.” Yoona mengeluarkan ponselnya dan mencari letak mereka dengan GPS. Sedihnya, tidak ada koneksi internet. Tentu saja, mereka berada di pedesaan dan simcard ponsel mereka tidak bisa diakses selama mereka ada di desa terpencil seperti Alpine.

“Noona!” Tao memutar mata, mendecak kesal. “Kenapa driver itu melarikan diri dan meninggalkan kita disini? Dasar tidak becus!” Tao menendang bagian kopernya.

“Tunggu, tunggu. Sepertinya aku melihat sesuatu.” Mata Yoona menangkap seekor kuda berwarna coklat gelap sedang berjalan sendirian di jalan setapak tersebut. Yoona berlari mengikuti kuda tersebut menghiraukan panggilan adiknya di belakang.

Kuda cantik tersebut membawanya pada sebuah danau. Yoona lagi-lagi takjub dengan pemandangan dihadapannya. Kameranya memotret beberapa bagian dari alam yang nyata itu. Sampai Yoona menangkap kuda tersebut minum air dari danau tersebut.

Air yang tenang, terik matahari yang tidak terlalu menyilaukan, angin siang yang berhembus sejuk, pemandangan hijau yang indah, seperti mimpi – Yoona sampai ikut kuda tersebut menuju tepi danau. “Tao! Cepat kemari!”

“There you are!”

Tapi yang didengar Yoona bukan suara adiknya, melainkan suara orang lain. Yoona berbalik dan menghadap seorang laki-laki tengah berlari menghampirinya.

Yoona sedikit takut, menemui orang baru ditengah kesesatannya di negri orang.

“Ah, I am sorry for disturbing you but thanks for found my Etienne.” Ujar laki-laki berkemeja kotak-kotak dengan celana jins usang dan sepatu koboi sebetis. “We never met, yeah, are you tourist?”

Yoona yang bahasa inggrisnya terbatas hanya tersenyum canggung walaupun ia bersumpah senyum lelaki didepannya ini terlihat tulus, ia masih takut. Ia mencari sosok adiknya dibelakang lelaki itu, dimana Tao, aku takut. Batin Yoona tidak keruan.

“I think you’re tourist, are you from Asia?” Laki-laki itu menebak lagi, membiarkan kuda itu kembali minum air dari danau.

Yoona mengangguk, “Korea. I am from Korea.”

“Oh, annyeonghasseo.” Laki-laki itu membungkuk (salam orang Korea) lalu tersenyum pada Yoona.

Sialan, ia tampan. “Oh, Korean.” Yoona membalas membungkuk.

“Apa kau tersesat? Ini pertama kali ke Alpine?” Laki-laki itu berbicara formal pada Yoona begitu menyadari mereka sama-sama mengerti bahasa Korea.

Yoona mengangguk kaku, “Ya, aku mencari adikku. Im Zi Tao.” Yoona kembali memanjangkan kepalanya mencari sosok adiknya yang seharusnya tidak jauh dari danau tersebut. Tapi tanpa ia sadari, ternyata Yoona sudah berada lumayan jauh dari adiknya itu, “TAO-AH!” Teriak Yoona begitu menemukan sosok adiknya yang terengah-engah.

“Itu adikmu? Tadi aku bertemu dengannya di depan gerbang sebelum masuk ke danau ini.” Laki-laki tersebut menarik kudanya agar berhenti minum.

“Noona.” Tao sampai dengan sedikit keringat di dahinya. “Oh, aku bertemu dengannya tadi di depan. Aku tidak berani menyapa karena takut.”

“Annyeonghasseo, Jung Luhan imnida.” Luhan akhirnya memperkenalkan dirinya begitu menangkap isi pembicaraan bisik-bisik kedua kakak adik di hadapannya. Ia kembali menampilkan senyumnya.

Yoona mendekatkan diri pada telinga Tao, “Ia seorang Korea, bodoh. Bagaimana kau bicara bahasamu di sembarangan tempat.” Yoona tersenyum pada Luhan, “Aku Im Yoona, dan dia Im Zi Tao.”

“Ya, siapa sangka ada orang Korea di Swiss. Kecuali kau yang tersesat.” Tao kembali berbicara dengan lantang pada Yoona.

“YAK bodoh!” Yoona meminta maaf dengan canggung pada Luhan, “Dimana barang-barang kita?”

Tao menunjuk ke salah satu arah dengan memajukan bibirnya, “Aku meninggalkannya disana. Noona, cepat carikan penginapan sebelum aku meminta untuk pulang sekarang juga.”

“Kalian mencari penginapan?” Luhan yang tadi mengurusi kudanya, menyela begitu mendengar mereka berdebat mengenai penginapan. “Aku tahu tempat penginapan terbaik disini.” Luhan kembali tersenyum.

“BAIK! Dimana tempatnya?” Seru Tao begitu ia mendengar tawaran Luhan. “Noona, batalkan penawaran penginapan murah yang kau bilang itu, kita ikut saja dengannya.”

Yoona mengedip mata terkejut, “Mana bisa seperti itu, Tao-ah. Kita sudah memesan penginapan dengan orang lain.” Yoona mendekatkan diri pada telinga Tao lagi, “Lagipula, kita tidak kenal dengan orang ini.”

“Memangnya kau kenal dengan orang yang memberimu penginapan murah itu?”

Yoona menahan kesalnya.

“Lagipula, aku tidak mau menunggu. Aku mau istirahat. Hyung, dimana tempat penginapan terbaik yang kau tahu itu?”

Singkatnya, mau tidak mau Yoona ikut dengan mereka. Ternyata penginapan mereka cukup jauh, hampir satu mil jauhnya. Tao yang tadinya mengeluh habis-habisan sekarang malah tampak semangat – entah karena asik bercerita dengan Luhan atau memang karena tidak sabar dengan tempat penginapannya. Kuda indah milik Luhan itu juga mengekor mereka dengan tunduk.

Yoona menggendong ransel dipunggungnya dan menarik satu koper di tangan kirinya, ia menyeka keringat di dahi begitu melihat hamparan taman bunga musim semi di depan matanya. Ia berhenti sebentar mengambil potret taman bunga tersebut. Ia tidak menyangka akan seindah ini.

Terlalu asik berceloteh, Luhan dan Tao meninggalkan Yoona yang cukup jauh tertinggal di belakang. “Noona!” Seru Tao begitu mendapati kakaknya sedang mengambil foto melalui kameranya.

“Nanti aku menyusul.” Begitu ucap Yoona, karena terlalu kagum dengan pemandangan dihadapannya ia berbicara tanpa melihat Tao.

Saking terlalu serius, ia tidak menyadari Luhan sudah berdiri di sampingnya, “Indah bukan?”

“Eh.” Yoona bergeser, menyangga diri di pagar kayu. Ransel dan kopernya sudah berada di tanah sedari tadi ia mengambil foto. “Indah, sekali.”

“Ya, tapi kurasa lebih baik, kau ikut kami ke penginapan dulu. Karena akan ada penyambutan bagi turis yang datang ke Alpen.” Luhan mengambil ransel dan koper Yoona.

“Ah, baik. Aku bisa –“

Yoona hendak mengambil barang bawaannya sendiri tapi Luhan sudah terlebih cepat menyambarnya. Akhirnya Yoona hanya tersenyum, “Terima kasih.”

“Please meet my Mom, Mrs. Jung.” Luhan mengenalkan ibunya – sekaligus pemilik penginapan terbaik yang ia ketahui. Jelas, karena tidak ada penginapan lain sejauh 3 mil lagi yang bisa mereka dapati jika berjalan kaki dan itu bukan pilihan Tao.

Wanita paruh baya dengan wajah setengah oriental setengah eropa itu tersenyum pada Yoona, ia membungkuk dan membalas tersenyum pada Mrs. Jung, “Hello, my name is Im Yoona.”

“Hello, I am Im Zi Tao. Call me Tao. Just Tao.” Tao membungkuk di hadapan ibu Luhan. Ia mengeluarkan setangkai bunga (yang entah darimana ia dapatkan) dan memberikan pada ibu Luhan. Mrs. Jung hanya menerima dengan senyuman, “Thank you.”

“Okay, mom, give me their keys. I’ll take care of these.” Luhan menerima serenceng kunci besi dan mengajak Tao dan Yoona ke lantai atas.

Bangunan penginapan ini sangat sederhanda. Di lobby hanya ada meja resepsionis yang masih terbuat dari kayu, sebuah ruang tunggu dengan 4 sofa tua berwarna hijau, sebuah dapur atau pantry yang masih sangat sederhana dan meja makan untuk 10 orang.

Bisa Yoona tebak, kamar dilantai dua tidak akan berbeda jauh dengan yang dibawah. Jadi ia hanya tersenyum begitu mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang dominan kayu, tempat tidur kayu, meja kayu, lemari kayu. Dan yang membuat Yoona lebih senang lagi, satu kamar mandi disetiap kamar. Ini lebih dari yang ia bayangkan.

Kamar Yoona dan Tao bersebelahan. Dan saat Tao bertanya ada berapa tamu yang sudah menginap, Luhan hanya menjawab 2. Karena desa Alpine ini yang paling jauh dari perkotaan dan yang paling susah dicari penginapan, tidak banyak turis yang mau sampai kesini. Dan alasan itu bisa diterima.

Saat Yoona ditinggalkan untuk beristirahat di kamarnya sendiri, ia memeriksa kamar mandi. Toilet jongkok dan sebuah bak mandi dari plastik. Ia beruntung pernah mengikuti camp dari kampusnya yang memaksanya untuk hidup super sederhana. Ia beruntung.

Dan Yoona melepaskan kamera yang tergantung dilehernya. Kemudian berbaring di tempat tidur dengan kasur tipis di ujung ruangan. “Ini akan jadi menyenangkan, Yoona. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan dan segera melupakan dia.” Yoona berbicara dengan mantap pada dirinya sendiri sebelum bergegas untuk membersihkan diri.

Yoona turun dari lantai dua dengan mengenakan celana jeans dan kaus dan cardigan sopan. Tampaknya, Luhan dan Tao sudah menunggu sedari tadi. Mrs. Jung ikut bergabung membawakan sebuah mangkuk besar dan meletakkan di meja makan.

Yoona mengambil duduk di sebelah Tao, tepat disebrang Luhan.

“Okay, ini adalah penyambutan untuk turis kita.”

Yoona terkejut ketika Mrs. Jung ikut duduk di samping Luhan dengan berbahasa Korea. Karena dari rambut pirangnya, dan cara berpakaiannya yang sangat eropa sederhana, seharusnya ia bicara bahasa inggris dengan fasih.

Mrs. Jung menyadari kebingungan Yoona, “Berbahasa Korea-lah jika kau nyaman. Ayah Luhan berdarah China dan aku keturunan Inggris-Korea. Dan kami sempat tinggal di Korea sebelum ayah Luhan dimutasi ke Swiss.”

Tao menoleh, “Tapi dimana mr. Jung?”

Luhan menghela nafas, “Dad akan pulang setahun sekali diakhir tahun menjelang natal. Karena pelayaran akan dihentikan jika sudah turun salju.”

Ada perubahan dari wajah Mrs. Jung, “Ayah Luhan seorang pelaut.”

Yoona hampir saja meninju adik kesayangannya itu karena sembarangan bertanya sehingga suasana menjadi canggung. Tapi beruntung Tao mengingatkan acara penyambutan turis di desa Alpine.

Dan ternyata acara penyambutan yang hanya 4 orang itu adalah salam sapa orang Swiss. Makan roti keras dan bercerita mengenai kedatangannya ke Alpine.

“Aku datang ke Alpine untuk tugas akhirku, membuat summary mengenai perjalanan jauh melewati batas negara. Dan aku memilih Swiss karena sangat ingin melihat Pegunungan Alpen.” Yoona bercerita dengan mengakhirnya dengan senyum.

“Aku datang ke Alpine… karena dipaksa Yoong noona. Ia baru putus dari pacarnya, dan menggunakan alibi tugas akhir untuk melupakannya dan datang kesini.” Tao meraih gelas kaca dan minum tanpa dosa.

Yoona ingin sekali mengetukkan gelas kaca itu pada kepala Tao. Ia akhirnya tersenyum canggung lagi pada Mrs. Jung dan Luhan yang terlihat sedikit terkejut dengan cerita Tao.

“Tao.. hehehe, memang sedikit.. terbuka. Maafkan kami.” Yoona menunduk.

“Noona memang begitu, Mrs. Jung, hyung. Waktu itu saat –“ PLAK!

Sebuah pukulan sendok dengan kepala Tao menghentikan cerita Tao, “Noona, appo!”

Yoona lagi-lagi tersenyum canggung, “Maafkan kami,” Ia mendekatkan diri pada telinga Tao, “Jaga ucapanmu. Jangan membuatku malu.”

Tao menggosok kepalanya, “Noona malu.”

“Sudah-sudah, tidak apa. Kami menerima kalian dengan terbuka. Selamat datang ke Alpine.” Mrs. Jung menuangkan sup berwarna merah biru dari mangkuk besar yang ia bawa tadi. Lalu menyerahkan semangkuk untuk Yoona dan semangkuk untuk Tao.

“Ini sup kacang merah. Tradisi desa Alpine, menyambut turis.” Luhan melanjutkan.

Dan malam itu, 4 orang yang baru saja bertemu menjadi akrab. Entah Tao yang masih mencoba membeberkan masalah putusnya Yoona, atau Yoona yang akan menguliti Tao karena sudah terlalu bawel membuka ceritanya. Luhan dan Mrs. Jung hanya tertawa mendengarkan cerita 2 turis itu.

Malam itu, Yoona belum bisa tertidur nyenyak. Jetlag. Badannya letih, tapi ia tidak cukup mengantuk untuk tidur. Yoona membuka jendela kamarnya yang langsung mengarah ke taman bunga musim semi. Bahkan malampun seindah ini. Batin Yoona takjub.

Ia segera menyambar kameranya untuk mengambil foto. Langit biru gelap dengan taburan bintang, angin bertiup sehingga bunga musim semi itu tampak seperti menari-nari, jalan setapak menuju penginapan tersebut seperti sedikit lebih terang karena lampu jalan disetiap pagar kayu.

Yoona puas dengan setiap foto yang ia dapat, ia tersenyum. Mungkin nilai tugas akhirnya akan mendapat nilai terbaik.

Yoona mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya.

“Oh, Luhan.”

“Maaf mengganggumu, tapi mom memberikan ini untukmu, berjaga-jaga kalau kau merasa dingin.” Luhan menyerahkan setumpuk selimut tebal. Memang musim semi, tapi ini Eropa. Yoona menerima tumpukan selimut tersebut, “Terima kasih.”

“Uhm.. kalau begitu, selamat malam.” Luhan menggaruk tengkuknya, canggung. Mungkin karena ada Yoona dihadapannya dengan pakaian tidur yang tipis atau karena memang ia merasa ada yang aneh.

“Baik, selamat malam.” Balas Yoona sebelum Luhan turun melalui tangga.

Esok paginya, dentingan piring dan sendok membangunkan Yoona dari waktu tidurnya yang singkat. Ia melirik jam tangannya dan langsung loncat bangun dari tempat tidur. Ia meraih cardigannya dan memakai asal. Lalu turun ke lantai bawah.

“Maafkan aku, bangun terlambat.” Yoona menunduk merasa bersalah mendapati Mrs. Jung dan Luhan tengah membereskan meja makan. Ia segera ikut membantu menyiapkan piring dan sendok.

Mrs. Jung hanya  tersenyum, “Tidak apa, Yoona.”

Luhan datang dari arah dapur membawa sebuah teko di tangan kiri dan sekarton susu di tangan kanan, “Kau minum kopi atau susu? Atau teh, Yoona?”

Yoona terpaku sejenak, sosok dihadapannya tersenyum dengan tampan. Ia belum pernah melihat senyum setampan itu. Yoona mengerjap-ngerjap bangun dari fantasinya. “Ah, kopi.. kurasa.. aku, aku susah tidur semalam. Jadi.. aku bangun terlambat. Hahaha.” Yoona menertawai dirinya sendiri. Dan Luhan hanya mencuri-curi tersenyum.

“Kau masih belum beradaptasi dengan lingkungan disini, mungkin.” Mrs. Jung selesai mengolesi roti dengan selai. “Apa Tao juga belum bangun?”

“Sudah.” Jawab Tao dari tangga. Ia menggaruk tengkuknya dan menguap, “Aku masih mengantuk, maaf.”

Tao segera bergabung dengan Mrs. Jung, Luhan dan Yoona di meja makan, menikmati sarapan pertama di Swiss.

“Noona, bagaimana jika hari ini kita tour?” Tao masuk ke kamar Yoona tanpa mengetuk, kakak perempuannya itu tengah mengeluarkan seluruh isi ranselnya dengan wajah kebingungan.

“TAO-AH! Gelang itu hilang!” Teriak Yoona dengan wajah horror (?)

Tao melangkah mendekati Yoona, “Gelang dari Kris? Buat apa! Kau sudah putus dengannya, noona. Buat apa masih menyimpan barang-barang pemberiannya?”

Yoona mengitari ruangan, mencari barang pusaka tersebut, “Aku bermaksud untuk mengembalikan padanya, bodoh. Tapi aku lupa dimana aku menaruhnya. Apa aku tidak bawa ya?” Yoona mengetuk-ngetuk bibir dengan jarinya dan berpikir, “Ah, kurasa memang tidak kubawa.”

“Tapi bagaimana jika ternyata aku bawa, dan menghilangkannya?” Yoona kembali berbicara panjang lebar, membuat Tao menggeleng.

“Yoong noona, kau pergi jauh dari Korea untuk melupakannya. Bukan semakin mengingatnya.” Tao melipat tangan di dada, “Ayoooo hari ini kita menjelajahi Alpine. Bukankah resume-mu belum selesai?”

Yoona menatap nanar adiknya itu, “Benar. Untuk apa aku mengingatnya lagi. Biarkan saja gelang sialan itu hilang. Aku tidak peduli.”

Tao senyum lebar, “Baik, sekarang kita pergi.” Tao menarik tangan Yoona.

“Tunggu, aku perlu bersiap.” Yoona menahan dirinya. “Aku akan ke bawah 5 menit lagi.”

Tao segera melesat keluar kamar Yoona.

“Yoong noona, kau pergi jauh dari Korea untuk melupakannya. Bukan semakin mengingatnya.”

“Ayoooo hari ini kita menjelajahi Alpine. Bukankah resume-mu belum selesai?”

“Benar. Untuk apa aku mengingatnya lagi. Biarkan saja gelang sialan itu hilang. Aku tidak peduli.”

“Baik, sekarang kita pergi.”

“Tunggu, aku perlu bersiap.”

“Aku akan ke bawah 5 menit lagi.”

Luhan tidak sengaja mendengar percakapan kedua kakak adik itu langsung turun ke lantai bawah sebelum Tao sempat memergokinya.

Tao menuruni tangga dan melihat Luhan sedang ingin membuka pintu utama, “Hyung, kau mau pergi? Boleh kami ikut? Aku dan Yoona noona ingin berkeliling.”

Luhan terhenti sebentar, lalu tersenyum, “Baiklah.”

Luhan mengajak kakak-adik itu mengunjungi pasar di bawah kaki pegunungan Alpine. Suasana sejuk mendominasi dan Yoona menyesal salah kostum, ia mengenakan sweater lengan panjang dan jeans belel. Sangat salah kostum.

Luhan hanya memutar mata melihat ekspresi Yoona yang merasa sebal karena salah berpakaian. “Seharusnya kau memberitahuku jika akan pergi ke tempat seperti ini, Luhan-ssi.” Yoona mengomel setelah menyadari Luhan diam-diam tersenyum.

Tao sudah pergi entah kemana, berjalan ke satu stand dan stand yang lain untuk melihat-lihat. Yoona juga tidak terlalu khawatir kehilangan jejak Tao, ini bukan pasar tradisional yang ramai dan akan menyesatkan. Pasar tradisional yang lebih mirip dengan festival makanan dan souvenir.

“Hyung, tidak disangka, ada tempat seperti ini disini.” Tao tahu-tahu sudah berada di samping Luhan dan Yoona, sambil membawa sepotong roti panjang khas Alpine. “Noona, kau mau coba?” Ia menyodorkan roti tersebut pada Yoona.

Yoona penasaran, “Apa itu bisa dimakan?”

Karena dari bentuknya, roti tersebut pipih tapi panjang dan mengeras, diatasnya ditabur bubuk putih, semacam gula halus. Ini akan lebih mirip donat di Korea dibanding roti.

Yoona menerima roti dari Tao dan langsung melahapnya. Tanpa ia sadari mulutnya penuh dengan serbuk putih. Luhan langsung menyerahkan kain tangan untuk Yoona.

Yoona menoleh dengan wajah bingung. Luhan tersenyum sebelum menjawab dengan gerakan sedikit noda di dekat bibirnya, wajah Yoona seketika menjadi malu. Dengan cepat ia mengambil kain tersebut dan menyeka sudut bibirnya.

“Terima kasih.”

“Hey, sudah berapa kali kau mengucapkan terima kasih?” Tanya Luhan sedikit tertawa.

Yoona membalas dengan senyum.

Satu minggu liburan kedua kakak-adik Im itu tidak terasa sudah lewat. Yoona juga tidak bisa berbohong jika summarynya sudah lebih dari cukup. Lima belas halaman, belum termasuk foto dokumentasinya. Ia sudah hampir membuat buku jika mereka menetap satu minggu lagi. Belum lagi, Tao yang sudah merengek merindukan eomma.

“Noona, jadi kapan kita pulang?”

Yoona menutup laptopnya, “Entahlah, Tao. Summary-ku sudah lebih dari cukup. Dan aku yakin akan dapat nilai terbaik. Tapi..”

Yoona menggantungkan kalimatnya, tanpa dilanjutkan Tao mengerti. ‘Noona belum melupakan Kris sepenuhnya.’

“Lupakanlah, noona. Laki-laki jahat itu tega menyelingkuhimu. Buat apa kau masih pikirkan?” Sergah Tao. “Maksudmu pergi jauh-jauh ke Swiss bukan untuk summary-mu ‘kan?”

“Im Zi Tao!”

“Mwo? Benar ‘kan?”

Yoona tidak bisa berbohong, memang, beberapa memori itu tidak bisa dihapuskan. Ia menggeleng pelan.

“Tapi, noona.”

Yoona hanya menghemkan panggilan Tao.

“Kau tidak menangkap sinyal sedikitpun?” Tao bergeser mendekat pada Yoona. “Luhan hyung, kurasa ia..”

Yoona menoleh dengan kerutan di dahinya. “Apa?”

Tao tersenyum nakal, “Jadi kau tidak menyadarinya? Pantas saja Kris hyung tega menyelingkuhimu! Kau ini sangat tidak peka!”

Yoona masih dengan kerutan di dahinya, “Apa maksudmu?”

Toktok.

Pintu kamar Yoona diketuk seseorang dari luar, Yoona mengisyaratkan Tao untuk membuka pintu, dengan malas Tao berjalan menuju pintu dan membukanya.

“K-kris hyung?”

Kris, Luhan, Yoona, Tao, Mrs. Jung memenuhi meja makan malam itu. Mrs. Jung dan Luhan tentu menyambut kedatangan turis mereka. Tapi jika disertai dengan drama seperti ini, mereka sedikit canggung bagaimana mengatasinya.

Tao memang tidak bermasalah dengan kehadiran Kris selama ia tidak mengganggu Yoona, tapi Yoona yang merasa terganggu karena kedatangan Kris yang mendadak ini. Ia tidak menyambut laki-laki ini.

Setelah menghabiskan makan malam, Yoona mengelap mulutnya dengan tisu. Kemudian menatap serius pada Kris yang duduk di hadapannya, “Kita bicara sebentar.” Yoona berdiri dan pamit pada Mrs. Jung dan Luhan kemudian berjalan pelan menuju pintu.

“Yoona.” Begitu Kris mengikuti Yoona keluar dari rumah tersebut.

Angin malam tidak berhembus, bulan juga tidak terlalu terang bersinar. Beberapa kali Yoona mengusap lengannya pelan. Gugup menghadapi Kris yang berdiri di belakangnya.

“Aku menemukanmu.”

Yoona tidak menjawab, bahkan tidak berniat berbalik untuk melihat Kris. Jadi Kris yang mengambil langkah untuk berjalan meraih Yoona agar ia menatapnya.

“Ya, tapi untuk apa?”

“Aku.. maukah kau mendengarkan penjelasanku?”

Yoona melipat tangan didada, menutupi kenyataan bahwa ia sedikit kedinginan.

“Waktu itu kau melihatku, aku sedang bersama –“

Yoona mengangkat tangannya, memotong pembicaraan Kris yang tidak ingin ia dengar. “Aku tidak ingin mendengar bagian tersebut.”

Kris mendeham sebelum melanjutkan, “Aku ingin memintamu untuk kembali.” Kris mendeham sekali lagi, “Padaku.”

“Tidakkah kau melihat aku sudah bahagia? Maksudku, disini aku menemukan tempat indah bersama orang-orang yang baik. Aku sedang berbahagia. Jangan merusak segalanya, Kris. Hubungan kita sudah rusak –“

“Ya, aku tahu. Apa karna laki-laki separuh pirang itu?” Kris menebak dengan suara lemah.

Yoona mengangkat sudut bibirnya tersenyum, “Ya, ia salah satu alasannya. Jadi, kumohon.”

Kris mengangguk sekali, “Aku mengerti. Besok aku kembali ke Korea. Aku hanya datang memastikan dirimu baik-baik saja.”

Tanpa berbalik ia melangkah dengan diam setelah beberapa saat Yoona tidak merespon.

Yoona sebenarnya kedinginan. Fakta bahwa ia sedang berada di Pegunungan Alpine dengan musim semi dan angin malam bertiup kencang tidak bisa menghentikannya tetap duduk di bench depan rumah penginapan tersebut. Air matanya sudah kering, meninggalkan sedikit bekas di ujung mata.

“Kau mau duduk sampai pagi disini?”

Yoona reflek menoleh ke sumber suara. Luhan, berdiri di sisi kanannya membawa selimut tebal. Ia tersenyum hangat pada Yoona dan menawarkan selimut tersebut dengan mata. Dan Yoona sudah merasa hangat dengan tatapan tersebut.

“Terima kasih.”

“Aku akan mengajarkanmu sedikit bahasa Swiss.” Luhan duduk di samping Yoona, cukup dekat sampai Yoona bisa merasakan hangat dari tubuh Luhan.

Yoona tertarik, ia sedikit tersenyum.

“Terima kasih dank. Sama-sama ebenso.” Logat bahasa Jerman Luhan terdengar aneh, mau tidak mau Yoona tertawa lepas tanpa ia bisa menahannya.

“Hey, jangan menertawaiku. Ada lagi. Sekarang bahasa Mandarin.” Luhan mendeham sambil tersenyum, “Terima kasih xie xie. Sama-sama bu ke qi.”

“Kau lebih fasih berbicara bahasa Mandarin!” Seru Yoona.

Xie xie. Terkadang aku suka menelepon Dad dan bicara bahasa Mandarin dan itu membuat Mom marah karena ia tidak terlalu mengerti.”

Yoona menggosok selimut tebal yang melekat di tubuhnya, “Bagaimana Mom dan Dad-mu bertemu? Maksudku, ayahmu seorang pelaut. Dan berasal dari China. Sedangkan ibumu terlihat seperti eropa asli.”

Luhan memandang kejauhan, “Dad seorang pelaut, membawa kapal China berisi bahan makanan dari asia. Sedangkan ibuku yang memang seorang koki di restoran China. Dan mereka bertemu.”

Yoona sudah menantikan dongeng panjang dari Luhan, tapi ternyata Luhan hanya menarik kesimpulan dalam beberapa kalimat sehingga ia sedikit protes, “Hanya itu? Maksudku, bagaimana mereka bertemu. Kau bilang Dad jarang pulang dan Mom hanya mengurus penginapan disini.”

“Kau terdengar serius. Hahahaha.” Luhan tertawa renyah, “Ya, Dad akan pulang tiba-tiba kalau sudah musim dingin. Mom akan terlihat lebih banyak tersenyum jika Dad pulang. Mereka terlihat senang dan aku hanya ikut bersama mereka. Walaupun aku tahu Mom lebih banyak khawatir daripada senyum yang ia berikan. Karena pekerjaan Dad beresiko, cuaca atau badai petir, bahkan ditengah laut seperti itu, Mom tidak bisa menghubungi Dad. Dad akan menelepon jika ia sudah sampai tujuan atau akan berangkat pulang. Dan aku menyaksikan bagaimana Mom tersenyum lebar menerima panggilan dari Dad, bahkan jika itu tengah malam sekalipun. Tentu saja, maksudku, mereka terpisah waktu dan tempat yang jauh –“

Luhan berhenti bercerita karena ia merasakan tengkorak Yoona menyentuh pundak kirinya. Ia tidak pernah mendekat pada perempuan selain ibunya sampai sedekat ini. Ia hendak menyentuh pipi Yoona yang sudah tertidur namun diurungkan niat tersebut. Ia tersenyum sendiri.

“Ya, walaupun terpisah waktu dan tempat, tapi takdir tetap mempertemukan ‘kan?”

Tao berlari keluar dari rumah buru-buru begitu ia  menemukan sosok Luhan dan Yoona duduk di bench depan penginapan pagi itu. Demi Tuhan ini masih terlalu pagi untuk mereka mengobrol! Terlebih dengan dingin yang membuat Tao bergidik.

“Noona! Gwenchana?”

Siapa sangka mereka akan tertidur dengan posisi saling melindungi, kepala Yoona di bahu Luhan, tangan Luhan yang merangkul Yoona.

Mata Luhan terbuka duluan, mencoba beradaptasi dengan keadaan sekitar, ditambah dengan teriakan Tao yang mengagetkannya.

Selanjutnya Yoona membuka mata, merasa pegal disekujur badannya. Mencoba beradaptasi dengan penglihatannya (karena ia bisa melihat dagu Luhan di depan matanya), Yoona terdiam dan matanya membulat seketika. Ia bergerak reflek mendorong tubuh Luhan, karena ia merasa masih waras. Luhan hampir terjengkang jatuh akibat dorongan Yoona.

“YA!”

“Kalian tidur disini semalaman?” Tanya Tao begitu menemukan mereka yang menjadi canggung. Sebenarnya yang canggung hanya Yoona, sedangkan dengan sialnya Luhan hanya tersenyum sopan.

“Maaf. Aku masuk duluan.” Yoona berdiri mengangkat selimut yang masih membungkus tubuhnya dan berlari masuk ke penginapan. Ia hampir jatuh karena selimut yang terlalu panjang itu.

Tao hanya tersenyum melihatnya. Dan Luhan terlihat bahagia seperti baru saja mimpi indah.

“Kau menyukainya, hyung.”

Luhan menghentikan senyum bodohnya. “Itu pertanyaan atau pernyataan?”

“Jadi kau benar-benar menyukainya!” Seru Tao sambil tertawa.

Luhan salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Tapi kurasa ia belum melupakan pacarnya.”

“Mantan pacar.” Tao melarat kalimat Luhan. “Jelas kau yang lebih baik darinya. Laki-laki brengsek itu! Ish! Memikirkannya sedikit ingin membuatku meninju rahangnya.” Suara Tao berubah menjadi kesal.

“Sudah, sudah. Ayo masuk. Disini dingin.” Ajak Luhan, mengalihkan pembicaraan.

Yoona harus mengakui bahwa ia sudah jatuh cinta pada Swiss. Tepat semenjak hari pertama ia menginjakkan kaki di tanah Eropa tersebut, ia sudah bahagia. Terlebih dengan adiknya yang awalnya menolak ikut, tapi siapa sangka ‘kan Tao bisa saja menyukai Swiss karena kakaknya.

Dengan malas Tao membawa kopernya menuruni tangga. Sedangkan Yoona masih diatas, berbenah sana sini karena terlalu banyak barang yang ia lupakan.

“Noona!” Seru Tao begitu ia sudah sampai diujung tangga.

“Ya! Tao! Bantu aku bawa koper ini.”

Bukan Tao yang berlari naik, tapi Luhan.

“Ya! Bukannya membantu noona!” Yoona masih mengumpat membereskan beberapa barangnya ke dalam koper tanpa melihat siapa yang datang padanya. Sampai ia berbalik dan merasa malu, “Luhan.”

“Sudah?” Luhan melirik koper Yoona setelah ia selesai meresletingkan dan menambah kunci tambahan. Yoona hanya mengangguk sekali.

Luhan dengan sekali gerakan menarik koper yang lumayan besar itu ke sisinya.

“Maaf, barang-barangku berat ya.” Yoona merasa malu, lagi-lagi terlihat seperti salah tingkah karena kasmaran.

“Ya, lumayan.” Jawab Luhan sopan.

“Noona!!!!”

“Ish, Tao itu sangat terburu-buru ingin pulang.” Komentar Yoona dengan sebal setelah mendengar panggilan Tao dari lantai bawah. Ia meraih ranselnya dan keluar dari kamar mengikuti Luhan.

Luhan menarik koper tersebut sampai tangga, “Jadi kau tidak ingin pulang?”

Yoona terdiam. Kamera yang menggantung di lehernya ia raih dan dengan cepat ia mengambil foto Luhan yang tersenyum. “Tidak. Ya, maksudku ya.”

“Kau mengambil fotoku?”

Yoona tersenyum nakal, “Hanya jika aku merindukan tempat ini. Aku akan menyimpannya dengan baik.”

Perjalanan udara yang dilewati Yoona dan Tao berlangsung lancar, mereka hampir menangis saat ingin naik pesawat meninggalkan Swiss. Bahkan saat mereka sudah menginjakkan kaki di tanah Korea, Yoona bergidik, “Aku masih berada disana, Tao.”

Mobil yang menjemput mereka dari bandara sudah sampai dirumah. Yoona langsung menyerbu ibunya, rindu karena hampir 3 minggu tidak bertemu dan hanya komunikasi via telepon dengan signal yang jelek. “Maaf karena tidak sempat membelikanmu apa-apa, eomma. Hanya ini.” Yoona mengeluarkan selembar kain, semacam scarf, berwarna biru keunguan. Ibunya hanya memeluk Yoona erat dan Tao ikut memeluk mereka dari belakang.

[epilog]

Lalu bagaimana dengan Luhan?

Laki-laki itu tetap di Swiss bersama ibunya. Sampai suatu hari ia berkata pada ibunya, “Mom, can I go visit Yoona and Tao?”

Dan ibunya terkejut bukan main.

“With you?” Luhan melanjutkan. Nadanya seperti meminta ijin untuk mengajak ibunya ikut.

Lalu ibunya tersenyum lebar.

Author’s short note:

HELLO!!! I am sorry karena sudah lama menghilang dari dunia menulis, but believe me, saya mengerjakan beberapa tulisan dalam waktu lama ini. Beberapa sudah selesai, beberapa perlu di edit lagi dan beberapa menunggu poster. Fyi, Contactless ini adalah project saya 2 tahun lalu. Tapi baru bisa diselesaikan sekarang. Dan epilog (yang dibuat secara iseng) pendek itu akan berlanjut, jadi kemungkinan besar akan ada sequel atau (mungkin) prequel. I need some motivations to make me writing again, I got many ideas, but I got writer’s block too, when I saw the ms word’s blank page, I got nothing. Maaf bangetttttttt kalo curhat colongan, karena ya that’s what I felt. Saya sampai tulis tangan ide cerita itu biar gak lupa hahaha. So, I hope u like this Contactless. Walaupun ending yang nyebelin, tapi saya janjiin ini akan happy ending, kebetulan ngebawain ot3 yang… yasudahlah.

-nikkireed

7 thoughts on “[Freelance] Contactless

  1. i’m in love with yoona’s character in this fanfic!! gosh she’s so matches with luhan. i need sequel/prequel eonnie, i’ll wait kkk~

  2. Ahh,, mnisnya,, ciee Lu ikut nyusul k Korea, lngsung lamar nie, klau prlu nikah aja lngsung 😅
    Aku ska ceritanya,, ringan 👍
    OK, dtunggu krya slnjutnya!!
    FIGHTING!!!

  3. Kerenn, kupikir kris bakal ngejar-ngejar nyatanya engga😄 aku suka tapi mungkin kurang suka endingnya. Maksudnya gaada hubungan special yoona luhan gitu^^

  4. Woh daebak, meskipun rada nyebelin epilognya hahah. Tapi gapapa, suka banget sama ceritanya. Semangat nulisnya kak😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s