irresitle

Irresistible (Chapt. II)

I R R E S I S T I B L E

by
Clora Darlene

Main Casts
Im YoonA | Oh Sehun

Supporting Casts
You’ll find out while you reading this.

Length | Rating | Genre
Chaptered | PG-13 | Romance, Marriage Life

I ]

poster by; berserkheal @ArtFantasy

“Mereka sudah lama berkencan, Lee ahjussi. Semenjak sepuluh tahun lalu. Hari-hari mereka dipenuhi tawa dan derai air mata. Aku saksi masa lalu mereka berdua.” Beritahu seseorang yang memutuskan ikut ke dalam pembicaraan Sehun, Yoona, dan Lee Soo Man—Xi Luhan.

Lee Soo Man memandang Sehun kagum. “Benarkah? Kalian sudah berkencan dari sepuluh tahun lalu?” Tanya Lee Soo Man lagi. “Woah, Sehun-ah. Kau sungguh pria sejati.”

Sehun tertawa kecil. “Yoona menjadi narkoba tersendiri untukku, ahjussi. Dia benar-benar membuatku candu.” Sehun merangkul pinggang Yoona dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh perempuan tersebut lalu mengecup pucuk kepala Yoona. Iris pure hazel-nya tidak teralihkan dari Xi Luhan—laki-laki yang baru saja bergabung dalam pembicaraan mereka bertiga—dan begitu juga dengan Luhan—tidak mengalihkan pandangannya dari Sehun yang mengecup pucuk kepala Yoona.

Sehun tidak suka—membencinya—saat Luhan datang dan mengatakan bahwa ia adalah saksi mata masa lalunya bersama Yoona. Laki-laki itu memang ada di sana, dan memainkan peran—sangat—penting di masa lalu Sehun dan Yoona.

“Kau membuatku iri saja, Sehun-ah,” Lee Soo Man tertawa dengan suara beratnya yang khas. “Kurasa, aku harus pergi dulu sekarang. Aku akan menemui kalian nanti.”

Sehun, Yoona dan Luhan membungkukkan badan mereka sebagai tanda mengucapkan selama tinggal dengan hormat kepada Lee Soo Man.

Luhan memandang Sehun dan Yoona bergantian setelah Lee Soo Man pergi. “Kurasa, kita bertiga masih memiliki kontrak yang harus segera ditandatangani,” Gumam Luhan dengan sebuah senyuman kecil. “Silakan ikut aku.”

Luhan melangkahkan kakinya lebih dulu. Ia berjalan di depan Sehun dan Yoona—yang membuat Sehun ingin menendang laki-laki China itu dan membuatnya terjerembab. Sepertinya menyenangkan. Tanpa sadar, Sehun masih melingkarkan tangannya di pinggang Yoona dan—tampaknya—enggan untuk dilepaskannya.

Luhan mengajak Sehun dan Yoona memasuki sebuah ruangan baru yang tidak ramai. Hanya ada mereka bertiga di dalam ruangan tersebut dan pintu ruangan dijaga oleh empat pengawal Luhan.  Luhan menarik sebuah kursi lalu duduk. “Silakan. Jangan malu-malu seperti itu.”

Sehun dan Yoona akhirnya ikut menarik kursi dan duduk di hadapan Luhan. Di atas meja tersebut hanya ada sebuah map hitam dengan pulpen bertinta tebal. “Aku tidak ingin berbasa-basi lagi,” Luhan membuka map tersebut lalu menyodorkannya ke Sehun. “Silakan tandatangan, Sehun-ssi.”

Iris pure hazel Sehun melirik Luhan tajam. “Kau bisa meminta tandatangan Yoona terlebih dahulu.”

“Yoona sudah menandatanganinya.” Ucap Luhan cepat. Well, Luhan harus mendapatkan tandatangan Sehun agar kontrak tersebut sah—mengingat perusahaan Sehun dan Yoona kini telah bergabung menjadi satu, namun keduanya masih menjabat sebagai CEO masing-masing dari perusahan mereka. Singkatnya, keduanya tidak ada yang ingin mengalah untuk memperebutkan siapa yang harus duduk di kursi tertinggi perusahaan.

Sehun mendesah pelan mendengar ucapan Luhan. Ia lalu tertawa hambar. “Kau pasti sengaja membawaku ke sini bukan, Yoona-ssi? Aku tidak tahu bahwa kau sepintar ini.”

Luhan menggeleng pelan. “Kau salah. Akulah yang membawamu ke sini. Pesta ini dirancang untuk kedatanganmu.”

Oh, tentu saja. Luhan tahu bahwa Sehun tidak akan pernah mau bertemu dengannya, bahkan jika Luhan sekali pun meminta private meeting dengan laki-laki tersebut.

Sehun menghela nafas lalu meraih pulpen yang berada di dekatnya.

Sejenak, Yoona memperhatikan tangan Sehun. Iris madunya mengikuti arah gerakan tangan laki-laki itu. Bukan karena Yoona kaget bahwa Sehun akhirnya menyetujui kontrak yang bernilai tinggi itu—karena benda melingkar yang berada di jari manis tangan kanan Sehun.

Cincin pernikahan mereka.

Skenario mereka dapat meyakinkan orang-orang bahwa mereka adalah sepasang suami-istri yang ideal. Sehun akan mengatakan kepada semua orang bahwa Yoona adalah hidupnya, dan Yoona akan mengatakan bahwa ia beruntung mendapatkan Sehun. Dan cincin tersebut menjadi buktinya—yang hanya mereka pakai saat di acara besar seperti ini.

Setelah acara selesai?

Sehun mencoba sekuat tenaga untuk tidak membuang cincin tersebut atau melenyapkannya. Yang pada akhirnya, cincin tersebut hanya akan ditaruhnya di lemari.

Yoona terbangun dari lamunannya saat Sehun melemparkan pulpen tersebut kepada Luhan—sebagai sebuah penghinaan yang kasar sekali. “Kau salah dalam menilaiku, Luhan-ssi. Mungkin kau bisa membeli tandatangan Yoona dengan harga sebesar ini, tapi tidak dengan tandatanganku. Aku pergi dulu.” Sehun bangkit lalu merapihkan tuxedo-nya dan pergi.

“Sehun-ah! Tunggu dulu, Sehun-ah!” Teriak Yoona sembari menyusul suaminya tersebut.

            Sehun memasukkan beberapa pasang bajunya ke dalam sebuah tas yang berukuran tidak terlalu besar. Tepat saat ia menutup zipper tasnya, seseorang membuka pintu kamarnya.

Oh, itu sangat tidak sopan. Masuk ke dalam kamar orang lain tanpa mengetuk pintu.

“Kau mau pergi?” Tanya Yoona.

“Tentu saja. Kau pikir aku betah tinggal di sini walaupun ini adalah rumahku sendiri?” Tanya Sehun balik terdengar ketus.

“Kau mau pergi kemana?”

Sehun menghela nafas lalu menolehkan kepalanya. Ia berdiri tegak dan memandang Yoona. Iris pure hazel-nya memandang map hitam yang dibawa Yoona. “Sepertinya, kau dan Luhan masih belum menyerah.”

“Ini demi perusahaan kita, Sehun-ah. Kuharap kau sadar akan hal itu.” Ucap Yoona tegas.

“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”

“Kau ingin tandatanganmu dibayar?” Tanya Yoona tak percaya lalu mendengus. “Yang benar saja.”

Alis kiri Sehun terangkat. “Tentu saja.”

“Ini bahkan untuk kemajuan perusahaan keluargamu.” Jelas Yoona singkat.

“Aku tidak meminta uangmu.” Bantah Sehun. Oh, astaga. Uang yang ia miliki sangat jauh dari cukup untuk dirinya dan keluarganya.

“Apa yang kauinginkan?”

“Tandatanganmu,” Jawab Sehun singkat. “Tandatangan dibayar tandatangan. Terdengar cukup adil, bukan?”

Kening Yoona mengerut. “Tandatanganku? Untuk apa?”

“Aku akan membawa berkasnya setelah aku kembali nanti. Jadi, bersabarlah.” Sehun meraih tasnya lalu melangkah mendekati Yoona. Ia kembali menaruh tasnya di lantai, mengambil map hitam dari tangan Yoona lalu menandatangani satu lembar kertas tersebut.

“Kau mau kemana?” Tanya Yoona lagi. “Kau belum menjawab pertanyaanku yang satu itu.”

“Kau hanya perlu berterimakasih kepadaku karena sudah menandatangani kontrakmu dan membuat Luhan-mu semakin kaya raya.” Bisik Sehun lalu meraih tasnya dan pergi. Tidak mengucapkan selamat tinggal pada istrinya.

Dan, akhirnya sampai.

Perjalanannya cukup—sebenarnya, sangat—melelahkan. Biasanya, perjalanannya hanya menghabiskan waktu sekitar tiga jam, namun lalu lintas hari ini sungguh padat dan harus membuatnya bertahan di dalam mobil selama hampir lima jam. Tapi, ia bisa berterimakasih kepada perusahaan mobil yang sudah cermat menambahkan fasilitas autodriver pada mobilnya.

Dan, sekarang, mungkin kau akan bertanya-tanya. Dimana Sehun?

Samcheok.

Sebuah kota di Provinsi Gangwon.

Sehun turun dari mobil dengan menenteng tas hitam. Ia memakirkan mobilnya di depan sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Tampak sudah tua, namun masih kokoh berdiri. Meskipun halaman yang dimiliki rumah tersebut tidak terlalu luas, tetapi rumput hijau segar tumbuh memenuhinya. Dirogohnya saku mantelnya, lalu memasukkan kunci ke dalam knop pintu dan memutarnya.

Aroma kayu yang tidak pernah berubah.

Sehun selalu terlihat menawan dengan balutan suit hitam. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Rambutnya yang berwarna tembaga disisir rapih. Dasinya sudah terpasang dan jasnya sudah terkancing. Makhluk menawan—well, itu adalah sebutan darinya untuk dirinya.

Setelah memastikan bahwa penampilannya sudah sempurna, Sehun meninggalkan rumah tersebut dan berkendara menuju sebuah toko bunga. Sebuah toko bunga yang Sehun mengenal baik sang pemiliknya—Ahn ahjumma.

Toko tersebut tidak terlalu besar, namun ditata rapih dengan berbagai macam bunga oleh sang pemiliknya untuk dipajang. Sehun masuk ke dalam toko tersebut dengan sebuah senyuman yang tersungging indah, memamerkan sederet gigi putih sempurnanya.

Seorang wanita yang mengenakan bandana di kepalanya menyambutnya dengan hangat dan langsung menghampiri Sehun. “Oh, Sehun-ah, kau sudah datang.” Wanita itu langsung memeluk Sehun seakan-akan Sehun adalah anak laki-lakinya.

Dengan senyuman yang masih menggantung, Sehun mengelus punggung wanita tersebut dengan pelan dan halus. “Aku datang kemarin sore, ahjumma.” Beritahu Sehun kemudian melepaskan pelukannya.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah makan?” Tanya Ahn ahjumma.

“Aku baik-baik saja, bagaimana kabar ahjumma? Aku sudah makan, tenang saja.” Sehun memastikan bahwa wanita ini tidak perlu mengkhawatirkan dirinya dan juga perutnya yang—sebenarnya—masih kosong karena tidak memiliki sarapan apa pun di rumahnya.

“Aku sudah menyiapkan bunga untukmu. Tunggu sebentar, akan kuambilkan, Sehun-ah.” Ahn ahjumma setengah berlari menuju sebuah lemari kaca—tempat ia menyimpan berbagai pesanan bunga—dan kembali dengan membawa sebuah buket Bunga Aster Putih yang dirangkai sangat indah.

Mata Sehun berbinar-binar tatkala buket bunga tersebut sudah berada di genggamannya. Ia seperti tersihir. “Sangat cantik.” Gumamnya tanpa disadari.

“Titipkan salamku untuk ibumu, Sehun-ah. Katakan padanya, aku sangat merindukannya.” Ahn ahjumma adalah sahabat karib ibu Sehun, dan setiap bulan Sehun akan memesan bunga di toko bunga milik Ahn ahjumma. Bunga yang ia pesan tidak spesifik—well, karena Sehun bukanlah tipikal laki-laki yang pintar memilih bunga—melainkan, Ahn ahjumma-lah yang akan memilihkan untuknya. Ahn ahjumma biasanya akan memilih bunga yang sedang laris di pasaran atau sedang diburu oleh banyak orang.

Namun, Aster Putih adalah bunga kesukaan ibunya.

“Pergilah. Kasihan ibumu menunggu begitu lama, Sehun-ah.”  Sebuah senyuman kecil di wajah Ahn ahjumma.

“Aku akan mentraktir ahjumma makan malam hari ini, aku janji.” Ucap Sehun lalu mengecup pipi Ahn ahjumma. Setelah mengucapkan selamat tinggal, ia mengendarai mobilnya ke sebuah tempat yang letaknya tak begitu jauh.

Lagi, untuk kesekian kalinya, Sehun memperhatikan penampilannya sebelum kembali turun dari mobil. Ia memandang rambutnya di spion yang tergantung di depannya. Ia lalu meraih buket yang berada di kursi penumpang di sebelahnya lalu turun dari mobil dan melintas sebuah lahan luas dengan banyak batu nisan yang tertancap pada tanah.

Pemakaman.

Ia menghela nafas saat langkahnya terhenti. Segera ia menaruh buket tersebut di depan sebuah batu nisan dan memanjatkan doa. Di batu tersebut tertulis nama ibunya serta waktu meninggalnya.

Hari ini tepat tahun ke-12 ibunya meninggalkannya.

Ia kehilangan sosok malaikatnya sejak ia menginjak umur 15 tahun. Dan semenjak itu, dunianya berubah drastis. Rasa kehilangan yang begitu besar dirasakannya. Menganga lebar di hatinya.

Lalu, perempuan itu datang ke dalam kehidupannya. Merubahnya semudah menjentikkan jari. Perempuan itu mengisi celah-celah kosong pada dirinya—kembali menyempurnakannya.

Sehun menghela nafas. Matanya terlihat nanar memandang batu nisan. “Aku menikah dengannya, eomma. Pasti eomma belum pernah melihatnya, bukan? Dia sangat cantik. Perempuan tercantik yang pernah kutemukan selain eomma,” Sehun terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri.

“Dia pintar dan juga pandai memasak, padahal dia bukan seorang pâtissier atau lulusan sekolah memasak. Masakannya luar biasa. Oh, dan juga, Ahn ahjumma menitipkan salamnya untuk eomma. Bunga yang kuberikan kepada eomma setiap bulannya dirangkai olehnya. Apa eomma menyukainya?” Sehun dengan cepat menyapukan tangannya pada pipinya setelah setitik air mata itu terjun dari pelupuk matanya.

Sehun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. “Aku merindukan eomma. Kami semua merindukan eomma.”

“Sehun-ah?”

Sehun dengan cepat berbalik saat seseorang memanggil namanya. “Ya?”

Ada seorang perempuan dengan rambut hitam sebahu yang dibiarkan tergerai telah berdiri di dekatnya. “Oh, astaga. Ini benar-benar kau, Sehun-ah!” Perempuan itu menutup mulutnya—terkejut—dan matanya terbelalak lebar menatap Sehun.

Sehun tidak ingin bersikap tidak sopan, tapi, sungguh, ia tidak mengenal perempuan ini. Keningnya mengerut. “Maafkan aku sebelumnya, tapi siap Anda?”

Perempuan itu mendesah kesal. “Kau kejam sekali melupakan teman kecilmu, Sehun-ah,” Ucap perempuan itu lalu menunjukkan pergelangan tangan kanannya. Terdapat luka bekas jahitan di atasnya. “Orang yang hampir kau bunuh.”

Well, ia mengingat satu nama. Tapi, setelah perempuan itu menunjukkan luka jahitannya—Sehun yakin. “Seo Joo Hyun-ssi.”

“Ternyata kau masih mengingat nama panjangku.”

Sehun tertawa kecil. “Tentu saja. Tidak mungkin aku melupakan korbanku.”

“Masa kecil kita begitu bodoh.” Ucap Seo Joo Hyun as known as Seohyun.

“Tapi menyenangkan.” Timpal Sehun.

“Kau mengunjungi ibumu?” Tanya Seohyun melirik batu nisan ibu Sehun.

Sehun mengangguk pelan. “Ya. Hari ini adalah hari perayaannya yang ke-12.”

Suara Seohyun berubah menjadi sedikit lebih dalam dari sebelumnya. Ia ikut berkabung atas kematian ibu Sehun. “Tidak terasa sudah dua belas tahun lamanya. Apa ibumu menyukai Aster Putih?” Tanya Seohyun merubah topik pembicaraan.

Sehun mengangguk. “Ya, dia sangat menyukainya. Kau juga?”

Seohyun tersenyum memandang bunga tersebut lalu beralih memandang Sehun. “Bunga kesukaanku.” Jawab Seohyun singkat.

“Apa artinya?”

“Aster melambangkan kesabaran dan kemewahan.” Beritahu Seohyun.

“Pantas kau menyukainya.” Timpal Sehun pelan, hampir seperti bisikan yang dibawah oleh angin yang baru saja berlalu.

“Apa katamu?” Tanya Seohyun. Ayolah, suara Sehun barusan terlalu kecil untuk ditangkap oleh telinganya.

Sehun tersenyum kecil lalu menggeleng. “Tidak ada. Omong-omong, apa yang kaulakukan di sini?”

“Aku baru saja pulang dari rumah temanku di dekat sini, dan aku melihat seseorang berdiri di dekat makam Oh ahjumma. Kukira, awalnya kau adalah salah satu saudara Oh ahjumma, tapi kurasa itu adalah kau.”

“Kau merasa itu aku?” Kening Sehun mengerut dan jari telunjuknya mengacung menunjuk dirinya sendiri.

“Ya, seperti itulah. Ayolah, aku tidak tahu pasti kenapa, tetapi aku yakin orang itu adalah kau. Jangan bertanya lebih lanjut, Sehun-ah.” Bola mata Seohyun terputar kesal—kesal karena ia sendiri juga tidak bisa menjelaskan bagaimana ia yakin bahwa orang itu adalah Sehun.

Sehun terkekeh kecil mendengarnya. Seohyum tampak kesal dengan bibir yang dikerucutkan—lucu sekali. “Kau ada waktu?” Tanya Sehun.

Seohyun mendongak menatap laki-laki tinggi yang berdiri di hadapannya dengan mengenakan suit hitam rapih. “Ya, kenapa?”

“Mau menemaniku makan? Aku sangat lapar.”

Seohyun mengehal nafas. “Baiklah.”

Senyuman Sehun tersungging lebar dan hampir membuat jantung Seohyun berhenti berdetak saat itu juga. “Kau mau makan apa?”

Seafood, of course,” Jawab Sehun lalu keduanya melangkah bersama menuju mobil Sehun. Dengan sekali sentakan, Sehun membuka pintu penumpang untuk Seohyun dan perempuan itu masuk ke dalam mobilnya. “Seafood Samcheok adalah yang terbaik.” Lanjut Sehun setelah duduk di balik kemudi dan menginjak pedal gas, menuju salah satu restaurant di dekat sana yang menyajikan seafood—yang menurut Sehun adalah seafood terbaik.

“Seoul bahkan memiliki seafood dari semua provinsi.” Timpal Seohyun.

Sehun menggeleng dengan cepat. “Rasanya mengerikan.”

“Tapi kau tetap memakannya.” Lagi, iris cokelat hangat Seohyun—yang mirip dengan lelehan hot chocolate—terputar.

Sehun tertawa kecil lalu melirik Seohyun dan kembali memandang jalan. “Aku senang bertemu denganmu. Setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu.”

Seohyun tersenyum mendengarnya. “Aku juga.”

“Apa kau pindah rumah?” Tanya Sehun lalu keningnya mengerut. Tangannya sibuk memutar setir mobil. “Seseorang tinggal di rumahmu.”

Seohyun mengangguk, tanda mengiyakan. “Ya, aku sudah pindah. Sudah sangat lama sekali.”

“Benarkah?” Sehun tampak terkejut dengan jawaban Seohyun. “Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Saat kau pindah ke Seoul. Ya ampun, apa kau tidak sadar kau sudah menjadi laki-laki yang super sibuk itu?” Seohyun mendengus.

Lagi, Sehun tertawa—membuat Seohyun harus menjaga jantungnya kembali agar tetap berdetak.

“Maafkan aku. Akan kupastikan aku mengetahui kabar tentang sahabat kecilku ini.” Sehun mengacak-acak rambut Seohyun lalu memakirkan mobilnya di depan sebuah restaurant yang tidak terlalu besar namun cukup ramai. Untuk beberapa saat, Seohyun masih terdiam atas apa yang baru dilakukan Sehun kepadanya.

Sadarlah, Seo. Jangan seperti orang bodoh.

“Kau tidak turun?” Sehun setengah membungkuk agar ia dapat melihat wajah Seohyun setelah ia membukakan pintu mobil untuk perempuan itu.

“Ah, ya. Tentu saja. Apa kau pikir aku akan makan di dalam mobilmu.” Gerutu Seohyun.

Keduanya memesan beberapa porsi makanan laut lalu memilih dimana mereka akan duduk. Mereka memilih meja yang dekat dengan jendela—Sehun ingin merasakan udara Samcheok, itulah alasannya. “Setiap tahun kau akan datang ke makam ibumu untuk merayakan kematiannya?” Seohyun membuka topik pembicaraan kali ini.

“Setiap bulan.” Sehun membenarkan.

Mata Seohyun membulat. “Setiap bulan?”

“Ya, setiap bulan. Setiap tanggal 31, atau tanggal 30.” Tegas Sehun.

“Aku tidak pernah mendengar berita kedatanganmu setiap bulan.”

“Mungkin itu karena rumah kita sekarang berjarak cukup jauh.” Sehun menimbang-nimbang. Seorang bibi membawa pesanan mereka lalu menaruhnya di atas meja.

“Sejak kapan kau menyambangi makam ibumu? Setelah hari kematiannya?”

Sehun menggeleng. Tangannya sibuk mengambil beberapa porsi makanan sekaligus menjawab pertanyaan Seohyun, “Aku tidak langsung menyambangi makamnya setelah dia meninggal. Setelah aku kembali dari Chicago untuk bachelor degree-ku, aku mulai menyambangi makamnya tiap bulan. Lalu aku harus kembali ke sana untuk master degree-ku. Dan aku kembali melakukannya—maksudku, menyambangi makam ibuku setiap bulannya setelah aku kembali dari Chicago dan mendapat gelar master-ku.”

University of Chicago?” Tebak Seohyun yang juga ikut mengambil makanannya.

Sehun melirik Seohyun. “Bagaimana kau tahu?”

Seohyun menghela nafas. “Kabar burung.” Seohyun kesal melihat Sehun yang sedari tadi begitu kesusahan menyingkirkan tulang ikan dari dagingnya. Akhirnya, ia turun tangan. Ia membantu laki-laki itu menyisihkan tulang-tulang tersebut dengan lincah.

“Kau seperti ibuku.”

“Maksudmu, aku sudah tua?”

Sehun tertawa kecil. “Ya, tentu saja. Kau sudah terlihat tua, Seohyun-ah,” Seohyun mendengus kesal mendengarnya. “Aku bercanda. Ibuku biasa menyisihkan tulang-tulang ikan untukku. Gomawo.”

Seohyun mengangkat kedua bahunya setelah membersihkan tulang-tulang tersebut—pertanda bahwa itu bukan masalah besar baginya. “Bukan apa-apa. Selamat makan.”

“Selamat makan,” Lanjut Sehun mulai menyantap makanannya. “Omong-omong—“

Seohyun langsung mengangkat tangannya—menandakan bahwa Sehun harus berhenti berbicara. “Telan makananmu dulu, Sehun-ah.”

“Kau benar-benar mirip dengan ibuku,” Sehun langsung menelan makanan yang berada di mulutnya. “Omong-omong, luka jahitanmu masih belum hilang. Padahal, kejadian itu sudah lama sekali.”

“Maksudmu, kejadian bodoh itu?” Seohyun menahan tawanya.

“Aku sangat bodoh waktu itu.”

“Tentu saja kau bodoh!” Lalu, Sehun tertawa dan membuat Seohyun kebingungan. “Apa yang lucu?”

“Kita,” Jawab Sehun. “Kita berdua sangat lucu dulu.”

“Oh, astaga. Bermain dengan pisau dan melukai temanmu sendiri kau sebut ‘lucu’? Apa kau psikopat?”

“Aku hanya meniru salah satu adegan di film kesukaanku. Mereka menggunakan pedang. Karena aku ingin merasakan sensasi yang lebih nyata, aku tidak ingin menggunakan pedang plastik. Aku mengambil pisau di dapur ibuku dan mengajakmu bermain.” Tawa Sehun meledak saat itu juga. Beberapa pengunjung bahkan sampai memperhatikannya karena mereka terganggu.

“Ya, dan kau melukai pergelangan tanganku, bodoh. Darahku mengucur seperti air pancuran.”

“Kita sangat bodoh, Seohyun-ah.” Sehun mencoba mengendalikan gelak tawanya.

“Hanya kau yang bodoh. Aku tidak.” Seohyun menggelengkan kepalanya dengan cepat. Acara makan-makan mereka diselingi dengan berbagai cerita masa kanak-kanak. Mereka kembali ke masa-masa yang mereka rindukan. Saat-saat mereka bersama bahkan saat mereka harus berpisah karena Sehun harus pindah ke Seoul mengikuti sang ayah—setelah sepeninggal ibunya.

Keduanya masih asik bercerita bahkan hingga makanan mereka sudah habis tak bersisa. Sehun mengantar Seohyun pulang agar tahu dimana rumah baru perempuan itu. “Apa orangtuamu sedang di rumah?”

Seohyun melepaskan seat belt-nya dan menggeleng. “Mereka sedang pergi. Waeyo?”

“Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Titipkan salamku untuk mereka.” Sehun tersenyum kecil.

Seohyun membuka pintu mobil dan turun. “Baiklah. Sampai jumpah, Sehun-ah.” Seohyun melambaikan tangannya lalu setelah keduanya menyampaikan salam perpisahan, mobil Sehun melajut dengan cepat sepanjang jalan. Seohyun masuk ke dalam rumahnya setelah mobil hitam tersebut tidak dapat dijangkau lagi dengan matanya.

Well, rumahnya sepi. Orangtuanya memang sedang tidak ada di rumah dan dia adalah anak tunggal—seperti Sehun. Rahim Ibu Seohyun terpaksa diangkat sebelum ia mengandung anak keduanya karena alasan kesehatan. Itu adalah alasan mengapa Seohyun sangat berarti untuk kedua orangtuanya.

Seohyun masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa kelabu. Ia merebahkan dirinya di atas ranjang dan memandang langit-langit kamarnya. Oh, astaga, Neptunus. Apa yang baru saja terjadi padanya?

Seohyun memegang dada kirinya, masih merasakan detak jantungnya yang tidak karuan karena ulah Sehun. Ya, Oh Sehun. Laki-laki yang merangkap menjadi tetangganya, sahabat kecilnya, sekaligus cinta pertamanya.

 

 

“Seohyun sangat cantik. Aku ingin sekali memiliki anak perempuan agar kelak aku bisa berbelanja dan memasak bersama dengannya.” Oh ahjumma tertawa kecil.

            “Tapi, Seohyun sangat pendiam dan pemalu. Dia lebih suka berdiam di rumah dan menyibukkan diri, seperti belajar menggambar. Namun, aku tidak tahu bagaimana dia bisa begitu terbuka dengan Sehun.”

            “Kita bisa menjodohkan anak kita saat mereka sudah dewasa nanti. Aku akan bahagia memiliki Seohyun sebagai menantuku.”

 

 

Ingatan saat ia tidak sengaja mencuri dengar obrolan ibunya dengan ibu Sehun—sebelum meninggal—terputar. Saat itu ibu Sehun mengunjungi rumahnya dan berbicara dengan ibu Seohyun. Seohyun kecil yang mendengar ucapan ibu Sehun itu merasa senang—ia akan dijodohkan dengan Sehun. Ia terus merasa senang, hingga ia mendengar kabar duka bahwa ibu Sehun meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Seohyun datang ke rumah duka waktu itu. Untuk pertama kalinya, Seohyun melihat Sehun dengan balutan suit hitam dengan kain kuning yang melilit salah satu lengannya. Sehun kecil terlihat terpuruk begitu dalam. Ia tidak banyak berbicara, namun kedatangan Seohyun mampu menghibur Sehun walaupun hanya sebentar. Dan untuk pertama kali juga, Seohyun melihat Sehun menangis.

Ada satu pertanyaan yang akhirnya muncul dalam benak Seohyun— jika tabrakan itu tidak merenggut nyawa Oh ahjumma, apakah aku akan tetap dijodohkan dengan Sehun? Apakah aku akan tetap menjadi istrinya?

To be continued.

62 thoughts on “Irresistible (Chapt. II)

  1. Hahh…bingung sih dgn perasaan sehun ke yoong.. apa sih yg trjd antr mrk brdua. Shingga mrk pisah… dan oh knp hrs ada org ke empt lagi sih…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s