(Freelance) If You Know

yoona__lim

Title : If You Know

Written by : Nikkireed
Cast : SNSD Yoona as Im Yoona and EXO Chen as Kim Jongdae
Poster Credit to yoona__lim

Nomor yang anda tuju tidak menjawab.

Aku kembali menekan speed dial 2. Setelah hening beberapa detik, kembali dijawab operator.

Kemudian aku berpasrah, semoga saja ia sampai tepat waktu.

“Itu dia!”

Sontak, kepalaku langsung memutar ke sumber suara, itu dia. Tanganku yang sedikit basah karena panik tiba-tiba menjadi dingin. Dan aku tersenyum.

“Pak. Ini pidatonya.” Aku menyerahkan sebuah kartu dengan isi pidato singkat yang harus ia bacakan. Ia hanya mengucapkan thanks tanpa suara kemudian naik ke podium dengan canggung.

“Hehe.”

Seingatku, tidak ada hehe di pidato yang kutulis itu. Aku hanya mencuri senyum dan berjalan ke belakang untuk mengambil iPadku.

Saat aku kembali, aku sudah bisa mendengar tepuk tangan riuh dan beberapa siulan dari audience. Aku melirik jam tangan, huh tidak sampai lima menit. Seharusnya ia senang.

Aku melihat Jongdae turun dari podium dan langsung disambut oleh para pemegang saham, termasuk ayahnya.

Beberapa staff lain memindahkan podium dan menemukan ponsel Jongdae. Aku memutar mata. Tidak biasanya Jongdae menjadi pelupa. Apa ia baik-baik saja?

“Apa putramu belum menikah?”

Pertanyaan itu terdengar olehku. Jelas aku tidak menguping, aku sekertaris si anak penerus ini, aku harus berada disekitarnya 24/7.

Jongdae menjawab sesuatu yang tidak jelas kudengar. Lalu saat ia berjalan menghampiriku, aku hanya berpura-pura memalingkan pandangan ke arah yang lain.

“Yoon, please, beritahu Suho hyung dan Chanyeol aku sudah di –“

Aku menjawab dengan cepat, “Sudah, pak. Saya sudah memberitahu mereka tentang kepergian anda yang mendadak.”

Kemudian senyumnya merekah dan terdengar helaan nafas lega. Bisa tidak dia tidak tersenyum seperti itu di hadapanku sekarang? Apa aku harus lari dari sini juga?

“Jongdae!”

Presdir Kim memanggil putranya itu dan Jongdae sempat meraba lenganku mengucapkan terima kasih dengan senyum tulus. Oh Tuhan, hentikan dia hentikan.

Tapi aku hanya bisa memandanginya dari jauh. Toh siapa aku? Seorang teman sejak kecilnya yang kebetulan menjadi sekertarisnya karena permintaan ayahnya. Seorang teman sejak kecilnya yang menyimpan rasa yang bahkan ia tidak mengetahuinya. Bodoh.

Aku mengumpat kesal dengan kenyataan ini.

Sampai aku tidak menyadari seorang cowok hipster yang sedang mengobrol dengannya. Dari raut wajahnya, terlihat ketidaksenangan dari obrolan itu.

“Tapi, Jongdae-ah, sekarang kau terlihat lebih artis. Lihat saja sepatumu.” Cowok hipster itu menunjuk sepatu Jongdae. Lalu tertawa terbahak-bahak.

Bisa kulihat wajah Jongdae memerah. Ia menunduk lalu berbalik menjauhi cowok hipster itu.

Aku hanya berjarak delapan langkah darinya.

Jongdae terlihat bingung. Aha, aku tahu apa yang ia cari.

Aku mengulurkan ponselnya. “Anda meninggalkannya dipodium tadi. Ini bukan pidato pertama anda, tapi mengapa anda terlihat kesal?” Aku berdiri disisi Jongdae, agak setengah langkah dibelakangnya.

“Thanks again, Yoon. Kau benar-benar banyak membantu. Dan yah, kesal. Because he ruined my plans.” Jongdae kembali terfokus pada ponselnya. Ah, aku mengerti yang dimaksud. Ayahnya. Presdir Kim berambisi putra tunggalnya ini akan meneruskan perusahaannya. Maka dengan acara pengangkatan dan pengenalan ini, Jongdae dipastikan akan menjadi penerus Kim Co.

Yang sebenarnya ditolak mentah-mentah oleh seorang Kim Jongdae.

Seperti, hey, siapa di dunia ini yang tidak mengenalinya? Artis papan atas yang baru saja tenar ternyata adalah penerus perusahaan ternama di Korea? Yang benar saja!

Dan beberapa menit kami berdiam. Oh, aku yang diam, hanya pikiranku yang berbicara. Sedangkan Jongdae disampingku, matanya sibuk membaca sesuatu yang serius di ponselnya.  Sampai akhirnya ia menoleh padaku yang terdiam menunggu, “Ah, Yoon. Can you do me a favor? I need coffee.”

Sejenak, jaringan otakku sudah hampir bergerak sesuai perintahnya. Tapi aku teringat sesuatu, lalu membuka iPad, mencari data terakhir mengenai kesehatannya, “Maaf, pak. Tapi anda sudah tidak boleh mengkonsumsi kafein. Kadar –“

Jari telunjuk Jongdae terangkat diudara, “Uh-uh. Yoona, you’re my assistant. Not my mom.”

“Kadar gula anda sedang berada di titik rendah. Terakhir melakukan scan kesehatan, anda tidak diperbolehkan mengkonsumsi kafein karena akan menyebabkan kejang-kejang lagi. Jadi, pak, anda disarankan untuk menghindari kopi untuk beberapa hari dan beristirahat cukup.”

“Okay, Yoon. Aku bisa mengambil sendiri.” Jongdae memutar badan lalu melangkah pergi.

Aku sebisa mungkin mengikuti langkah kakinya. Sampai ia berhenti di sebuah bar dan hendak mengambil cangkir. Dengan reflek, aku mengangkat tanganku untuk menyentuh lengannya dan menatapnya serius, “Pak.”

Bisa kulihat Jongdae memutar mata, “Im Yoona.”

“Saya akan bermasalah jika anda berakhir menginap diruang vvip rumah sakit nanti malam. Jadi maaf.” Dengan nada paling menyesal, aku meminta maaf.

Ekspresi Jongdae berubah. Raut kesalnya merenggang. 3 detik kemudian, ia tersenyum lebar.

Jongdae melangkah menuju lift dengan santai. Dan aku sebisa mungkin kembali mengejarnya. Tidak mengerti apa rencananya setelah ini.

Ia hendak menekan tombol lift saat aku memanggilnya, “Pak?”

“Yoon, kali ini aku tidak akan buat masalah. Tidak denganmu. Jadi, please.”

“Tapi acaranya belum selesai.”

“Pidatoku sudah selesai. So, I’m not spending my hours here. And..” Jongdae menekan tombol lift dan langsung masuk ke dalam lift kosong tersebut, “Oh, what’s your favorite colour?”

Hah? Warna favorit. Oke ini diluar topik. Apa sih rencananya?

Belum sempat menjawab, Jongdae tersenyum menahan pintu lift, “Eh, lupakan. Okay, good night, Yoon.” Dan pintu lift tertutup rapat.

Secepat kilat aku meminta bantuan untuk menahan Jongdae lewat intercom yang terpasang di lengan kananku. Kemudian sedikit berlari mencari orang lain. Sialan, sepi disini.

Aku menoleh, karena hanya ada 2 lift yang bisa digunakan di gedung ini, sedangkan lift lain sedang loading makanan penutup untuk acara. Aku tidak menemukan cara lain.

Mataku berputar saat aku melihat kotak diatas pintu tulisan EXIT berwarna hijau di sudut ruangan berjarak sekitar 30 meter. Mau tidak mau aku harus berlari kesana.

Oh astaga. Kenapa Jongdae suka sekali membuatku dalam masalah?

“Nona Im, Tuan Muda Jongdae sudah hampir keluar dari gedung tanpa pengawasan. Apa perlu kami mengikutinya?” Sebuah suara masuk ke dalam intercomku saat aku berlari menuruni tangga.

“Tidak usah, Joe. Biar aku saja. Pastikan Presdir tidak mengetahui Jong- maksudku, jangan sampai Presdir tahu. Okay?”

“Ya, Nona Im.”

Kemudian aku melirik tangga. Ya Tuhan, ini akan melelahkan.

Persetan dengan lantai 43!

Persetan dengan sepatu tumit 3 cm!

Beruntung adalah sejauh kuhitung, terdapat delapan anak tangga setiap lantai. Jadi aku harus melangkah sekitar tiga ratus lima puluhan anak tangga untuk sampai ke lobby.

Sampai di lantai 20, nafasku habis. Aku duduk di ujung anak tangga. Melepaskan sepatu sialan itu, memeriksa ponselku dan berharap Jongdae belum mematikan GPSnya, menarik nafas. Lalu kembali melangkah sambil menenteng sepatu.

Masih tidak ada lift yang kosong karena sekarang kedua lift tersebut digunakan untuk akses makanan. Sialan.

Setelah melalui sekitar tiga ratus empat puluh empat anak tangga, aku tertatih di lobby. Hampir kehabisan nafas. Joe menatapku dan langsung menghampiriku.

“Nona Im!” Serunya, “Kau baik-baik saja?”

Joe menangkap tubuhku yang hampir terhuyung. Ia memindahkanku ke kursi tamu di lobby. Menyuruh pelayan resepsionis untuk mengambil air. Setelah aku menenangkan diri, aku menghabiskan air tersebut. Kemudian hendak berdiri sambil mengenakan sepatuku lagi.

“Nona Im?”

“Ya, aku akan menyusulnya. Aku tahu dia dimana sekarang.”

Joe sedikit mencengkram lenganku. “Kau yakin?”

Aku mengangguk mantap, “Pastikan Presdir tidak mengetahuinya. Aku akan membawanya pulang dengan selamat.”

Joe, sudah kuanggap seperti ayahku. Well, tentu saja, ia sudah bekerja dengan Kim Co, hampir setengah hidupnya. Ia juga sudah mengenalku sebagai teman masa kecilnya Jongdae dan tetap memperlakukanku sebagai teman Jongdae – bukan sebagai rekan kerjanya. Aku menghargai itu.

Kemudian, aku memutar otak. Kafein. Coffee shop. Coffee shop mana yang jam selarut ini sudah agak sepi? Karena yang kutahu, Jongdae tidak suka coffee shop yang ramai.

Langkah kakiku terhenti di sebuah coffee shop ternama. Tidak terlalu jauh dari gedung acara. Aku bahkan masih bisa melirik gedung 43 lantai itu.

Begitu masuk ke coffee shop tersebut, semerbak wangi kopi merambat di hidungku.

Aku memutar pandangan. Menemukan Jongdae duduk santai sambil melipat kaki di ujung ruangan dekat jendela. Ada segelas es kopi di meja. Sialan, ia benar-benar minum kopi.

“What?!?!? Yoon? Sudah berapa lama kau disini? H-how did you.. k-know I’m here?”

Jongdae kelabakan.  Ia sedikit menyenggol Americano-nya dan tumpah. Ia panik menarik tisu untuk membersihkan kekacauan kecil tersebut.

“54 menit yang lalu. Aku mengenalmu sejak kecil, tentu saja aku tahu. Dan, Americano, hmm? Berjanjilah kau tidak akan pingsan disini.” Jawabku santai setelah duduk di hadapannya dan melirik minumannya.

Wajah Jongdae terkejut. Lalu memandang jauh ke belakangku, aku tahu maksudnya.

“Tidak ada mereka. Kau selamat malam ini, ayahmu terlalu fokus untuk mempromosikanmu di depan dewan pemimpin saham. Beliau tidak akan terusik.” Aku meraih gelas Americano-nya dan menyesap 2 kali.

Jongdae tersenyum, oh Tuhan, senyum itu lagi. “Aha. Ini Yoona yang kukenal.”

Kemudian ponsel Jongdae bergetar lagi, ia memusatkan pandangannya pada layar, membaca dengan serius. Apa ia bermasalah?

“Kau sudah menerima kadoku?” Jongdae tiba-tiba bertanya. Matanya masih membaca sesuatu di ponselnya.

Aku hanya melemparkan tatapan ‘apa’ sambil menyesap Americano-nya sampai tandas. Jangan sampai Jongdae minum kopi terlalu banyak lalu pingsan disini. Oh, aku belum bisa membayangkan.

“Belum kurasa. Aku mengirimkan ke alamat apartmentmu. Kuharap kau tidak keberatan ya menerima kado dari atasanmu.” Kemudian ia menjawab pertanyaannya sendiri.

Aku membalas tersenyum tipis, “Terima kasih. Aku hanya sekertarismu di Kim CO. Disini tidak.”

“Ya, memang. Ayahku membayar mahal dirimu untuk menjadi baby-sitter-ku hanya karena kau sudah terlalu lama menjadi temanku. Tapi, Yoon, apa kau tidak bosan?”

Aku memalingkan pandangan keluar jendela, jangan sampai ia menyadarinya ya Tuhan, “Ya, membosankan. Jadi cepatlah kau menikah supaya aku tidak repot mengurusimu, Jongdae.”

Jongdae menyandarkan punggungnya ke sofa, “Mana ada artis pendatang baru memberitakan dirinya akan menikah setelah menjadi artis!”

“Kau benar. Mana ada gadis yang akan menjadi istrimu, merepotkan!” Aku melemparkan lelucon tidak lucu itu, semoga ia mengerti aku sedang bercanda. “Tapi Jongdae, apa maksudmu bertanya warna kesukaanku? Kau membelikanku sesuatu untuk apa? Aku tidak sedang berulang-tahun.”

Tidak ada respon.

“Lagian, kita sudah berteman lama mengapa kau masih tidak tahu warna kesukaanku.”

Jongdae melamun. Aku sadar. Karena begitua aku selesai bicara, ia seperti baru saja terbangun dari pikirannya. Diam-diam ia tersenyum aneh.

“Aku bisa tebak.” Jawabnya tiba-tiba.

Aku menatapnya.

“Kalau aku benar, maka aku akan memesan Americano satu lagi. Jika tidak –“

“Jika tidak, kau tetap memesan Americano itu tapi untukku. Call?” Aku langsung menyetujui permainan tersebut sambil tersenyum lebar. Kalau Jongdae benar memperhatikan warna kesukaanku, mungkin ia benar teman sejak kecilku, yang kucintai itu. Belum apa-apa hatiku sudah girang.

Jongdae meraih dan membuka iPhone, mencolek-colek layarnya sebentar lalu menghadapkan ponsel tersebut tepat dihadapanku.

Aku terbelalak. Sekuat mungkin menahan tawa. “Jongdae. Jangan bilang itu hadiahku?” Kemudian aku tertawa, tidak sanggup menahan kegiranganku.

Diponselnya, sebuah kotak besar mengilap dengan merek ternama dunia berwarna pink gelap tergeletak di atas meja. Aku mengenali meja itu, meja di apartmentku.

“Sialnya kau hampir benar. Pink pastel is my fave.” Aku mendecak sebal setelah selesai tertawa, memajukan bibirku dan sedikit berbisik. “Tapi kau tetap salah. Itu pink fuschia. Dan menurutku itu warna norak.”

Kulihat Jongdae melirik tanganku sebentar, mencari argumen.

“Ya, tapi kan sama saja warna pink. Aku tidak menerima penolakan. Jadi ya kau terima saja.” Ucapnya masam, kemudian berdiri dari kursinya.

“Terima kasih, Jongdae. Less ice ya.” Aku tersenyum lebar kali ini. Belum terlalu jauh ia melangkah, aku mengingatkan, “Grande ya.”

Aku tahu Jongdae kesal dengan permainan ini. Ia kalah. Tapi harus menerimanya.

Aku diam-diam memandanginya dari jauh. Postur tubuh yang tidak terlalu kurus, tidak terlalu berisi juga, wajah tampan dan senyum lebar. Suara ramah yang berbicara pada barista, kedua mata yang tersenyum bersamaan dengan bibirnya melengkung. Oh astaga apa aku sudah gila?

Tiba-tiba tumitku berdenyut nyeri, aku menekan sumber sakitnya. Membuatku harus sedikit membungkuk dan merebahkan kepalaku di meja.

“Yoon?” Aku merasa ada yang menusuk pundakku. Tapi aku tidak bisa membuka mataku. Bergerakpun tidak bisa.

“Yoona? Kau tidur?”

Jongdae sedikit mengguncang tubuhku. Aku bisa merasakan. Tapi mataku tidak mau membuka meski sudah kupaksa. Tanganku kelu, serasa lumpuh mendadak.

“Jadi, Americano ini untukku, ya.” Suara Jongdae menggoda.

“Oh, pak. Maaf, Presdir meminta kami untuk menjemput anda pulang.”

“Ck, ck. Padahal GPS sudah kumatikan dan mencari tempat sejauh mungkin.”

“Sial, GPS Yoona pasti.”

“Pak?”

“Ya, aku tahu. Tapi setelah aku keluar dari tempat ini pastikan Yoona pulang kerumah. Jika tidak, kalian bermasalah denganku.”

Samar-samar aku sedikit tersenyum untuk kalimat terakhir yang kudengar dari Jongdae.

AN.

Setelah post versi Chen, ini versi Yoona. Baru kali ini saya buat fiction dalam 2 sudut pandang. DAN ITU SUSAH. Karena harus memutar otak. Apalagi yang satu cewek yang satu cowok. Jadi yaaaaaa begini hasilnya. Semoga kalian suka🙂

-Nikkireed

5 thoughts on “(Freelance) If You Know

  1. Waaah suka banget ko suka banget😁 kirain gak bakal ada yoona versionnya ternyataaa ada juga yeay!!! Makasih ya author, yaa walaupun tau pasti susah ya mesti buat alur yang sama tapi beda version. Pokonya makasih loh thor! Terus lanjutkan buat karya karya yang bagus kaya gini, semangat thor😉

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s