irresitle

Irresistible (Chapt. III)

I R R E S I S T I B L E

by
Clora Darlene

Main Casts
Im YoonA | Oh Sehun

Supporting Casts
You’ll find out while you reading this.

Length | Rating | Genre
Chaptered | PG-13 | Romance, Marriage Life

[ I | II ]

poster by; berserkheal @ArtFantasy

“Seharusnya aku yang mentraktir ahjumma dan ahjussi, tetapi malah ahjumma yang memasak untukku.” Gurau Sehun lalu tertawa kecil.

“Anggap rumah sendiri, Sehun-ah.” Ucap Ahn ahjussi.

Ne, ahjussi.”

“Bagimana kabar ayahmu, Sehun-ah?” Tanya Ahn ahjussi sembari Ahn ahjumma masih berada di dapur menyiapkan makan malam.

“Ayahku baik-baik saja, ahjussi.” Sehun tersenyum simpul.

“Syukurlah. Apa dia masih sibuk?” Sudah dari dulu ayah Sehun terkenal sibuk. Beliau harus mondar-mandir Seoul-Samcheok untuk mengurus kerjaannya dan bertemu istri beserta anak sematawayangnya. Dan setelah ibu Sehun meninggal, ayahnya memutuskan untuk membawa Sehun kembali ke Seoul dan menetap di sana—Well, keluarga Sehun memang berasal dari Seoul dan mereka pindah ke Samcheok karena sebuah alasan spesifik yang bersifat privasi.

“Pekerjaannya dilimpahkan kepadaku, ahjussi,” Jawab Sehun singkat. “Tadi, aku bertemu dengan Seohyun.” Sehun membuka topik lain setelah kedatangan Ahn ahjumma dengan membawa sebuah panci yang berisikan masakan berkuah yang masih panas.

“Seo Joo Hyun?” Tanya Ahn ahjumma memastikan.

Sehun mengangguk. “Ne, Seo Joo Hyun.”

“Dia adalah teman kecilmu.” Timpal Ahn ahjussi.

Sehun terkekeh pelan. “Aku mengingatnya.”

“Dia berbakat menjadi fashion designer. Gambarannya sangat bagus. Tapi, sayang sekali, bakatnya yang hebat hanya sebatas di Samcheok. Jika Seohyun tinggal di Seoul, dia pasti bisa menjadi seorang fashion designer terkenal.” Ucap Ahn ahjumma.

“Bukankah Seohyun sangat cantik, Sehun-ah?” Ahn ahjussi mencoba menggodanya.

“Ya, dia sangat cantik.” Sehun tersenyum lebar.

Tentu saja. Cinta pertama Sehun itu selalu terlihat cantik di mata Sehun. Dengan rambut hitam legam yang digerai dan mata yang berbinar, wajah yang tidak terlalu tirus dan perilaku yang sopan serta baik—Oh, astaga, laki-laki mana yang tidak akan jatuh cinta dengan Seo Joo Hyun!

“Omong-omong, kau tidak berencana untuk menikah, Sehun-ah?” Tanya Ahn ahjussi yang langsung membuat Sehun tersedak saat menyesap sup buatan Ahn ahjumma.

“Oh, itu,” Sehun berdehem pelan lalu membasahi bibirnya yang kering. “Akan kupikirkan.”

“Ayahmu pasti sudah memimpikan menggendong cucu. Segeralah.” Ahn ahjumma meyakinkannya dan Sehun hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya.

            “Mobil Anda sudah siap, Nyonya.”

“Oh, astaga, Kai. Sudah kukatakan berapa ribu kali agar kau tetap memanggilku ‘Yoona’ tanpa embel-embel ‘Nyonya’? Just Yoona, please, Kai.” Oceh Yoona lalu iris madunya terputar.

Kai tersenyum kecil. “Mobil Anda sudah siap.”

Yoona meraih tas pink-nya lalu berjalan keluar ruangan. Seorang pengawal membukakan pintu mobil untuknya. Kai adalah kepala pengawal Keluarga Sehun, dan Yoona memiliki pengawal yang berbeda. Kai akan selalu mengikuti Sehun kemana pun, namun semenjak Sehun pergi, Kai mengawal Yoona. Agak sedikit aneh untuk Yoona.

Kai duduk di belakang kemudi dan Yoona duduk bersandar di belakangnya. Lalu suaranya memecah keheningan. “Kau tidak ingin memberitahuku, Kai?”

“Mengenai apa?” Tanya Kai balik seraya menginjak pedal gas—mengantar Yoona pulang.

“Oh, astaga, Kai! Kau mulai lagi! Kau mulai berpura-pura bodoh seperti bosmu itu!” Sontak nada suara Yoona meninggi dan ia merengek layaknya balita. Yoona sungguh kesal. “Kemana Sehun pergi? Tidak mungkin dia tidak memberitahumu. Kau adalah kepala pengawal keluarganya. Sekarang tanggal 31, kemana dia akan pergi pada akhir bulan seperti ini?”

“Aku sungguh tidak tahu.” Balas Kai ringan.

“Kai, kumohon padamu.” Yoona kembali memohon-mohon kepada Kai seperti anak kecil. Pantas saja dulu Sehun selalu memenuhi permintaan Yoona, pikir Kai.

“Maafkan aku, Yoong. Tapi aku tidak tahu kemana Sehun pergi.”

Yoona menghempaskan dirinya kembali. “Aku bisa gila.”

“Mengapa kau tidak bertanya langsung kepadanya?” Tanya Kai.

Yoona menghela nafas. “Dia tidak main-main membenciku. Aku menyadarinya.”

Kai tidak melanjutkan obrolannya saat ponsel Yoona berdering. Kai melirik dari spion mobil yang tergantung di atas—Yoona hanya melirik ponselnya. Membiarkan berdering nyaring hingga kembali mati.

Lalu, ponselnya kembali berdering dan Yoona melakukan hal yang sama.

“Mungkin itu sesuatu yang mendesak.” Kai berkomentar.

Yooona menggeleng. “Tidak mendesak sama sekali.”

“Ponselmu terus berdering, pasti itu mendesak.” Kai menegaskan ulang.

Lagi, Yoona menggeleng. “Percayalah padaku. Ini tidak mendesak.”

“Dari ibumu?” Kai mencoba menebak.

“Luhan,” Yoona membenarkan. “Dia ingin mengajakku makan malam hari ini.”

“Aku akan mengantarmu—“

“Tidak usah. Aku tidak akan datang.” Potong Yoona cepat.

Waeyo?”

Iris madu Yoona terputar. “Yang benar saja kau, Kai. Aku sudah memiliki suami dan makan malam bersama pria lain? Kau pasti gila.”

Kai terkekeh pelan. “Maafkan aku.”

“Jadi, dimana Sehun? Ayolah, Kai. Aku butuh informasi darimu.”

Tapi, kali ini Kai tidak menjawab pertanyaan Yoona. Lirikan tajam mata Kai terfokus pada spion dan memandang jauh ke belakang mobil yang sedang dikendarainya. Keningnya mengerut dalam. “Kai?”

“Kai?”

“Jangan melamun saat menyetir, Kai!”

“Maafkan aku, tenggorokkanku mendadak terasa sakit.” Jelas Kai lalu berdehem.

Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, namun Sehun sudah berbaring di atas pasir Pantai Chu-am yang terletak di Kota Donghae. Di sebelahnya ada Seohyun yang ikut berbaring. Keduanya memandang langit yang masih membiru gelap, masih menampakkan beberapa bintang yang menggantung dan bulan yang samar.

Suara deru ombak terdengar keras di antara mereka. Rasanya menenangkan.

Sehun ingin menikmati matahari terbit dari Laut Timur, itu mengapa ia sudah berada di pantai sepagi ini. Dan alasannya lainnya adalah mencari ketenangan.

Seoul mempenatkan kepalanya. Badannya lelah. Beberapa waktu lalu ia kembali dari perjalanan bisnis dan harus kembali melakukan perjalanan tersebut ke negara yang berbeda. Ia harus menenangkan dirinya sebelum semua itu kembali menyerangnya.

Dan pilihannya jatuh kepada pantai dan juga Seo Joo Hyun. Laki-laki itu meminta Seohyun untuk menemaninya dan menjemputnya.

“Bagaimana pekerjaanmu di Seoul, Sehun-ah?” Tanya Seohyun membuka topik pembicaraan.

“Melelahkan,” Sehun menghela nafas. Iris pure hazel-nya masih memandang langit luas. “Tapi menyenangkan. Kudengar kau adalah fashion designer dengan mahakarya menakjubkan.”

Gelak tawa Seohyun lepas begitu saja beriringan dengan deru suara ombak yang saling menyalip satu sama lain. “Yang benar saja. Siapa yang mengatakan seperti itu?”

“Semua orang.” Jawab Sehun singkat.

“Aku bukan fashion designer. Aku hanya menggambar, bukan membuat baju-baju tersebut menjadi kenyataan. Dan, apa katamu? ‘Mahakarya’? Kau harus memperbaiki kosakatamu, Sehun-ah.” Seohyun masih tertawa kecil dan meluruskan ucapan Sehun.

“Kau tidak ingin membawa karyamu ke Seoul?” Tanya Sehun.

Pertanyaan Sehun berhasil membuat Seohyun bungkam. Mulutnya mendadak terkatup dan iris cokelatnya memandang sayu langit. “Aku mencoba untuk menahan keinginanku yang satu itu.”

Waeyo?”

“Kita tidak hidup di dunia yang sama, Sehun-ah. Di duniamu, mungkin semua terasa mudah. Tapi tidak dengan duniaku.” Seohyun menoleh memandang Sehun dan tersenyum kecil.

Sehun menghela nafas. “Jika suatu hari nanti aku mengajakmu ke Seoul dan aku memintamu membawa karyamu, kau akan melakukannya?”

“Untuk apa? Kertas-kertas itu tidak lebih dari sampah.”

“Aku mengenal seseorang yang mungkin bisa membantumu.” Beritahu Sehun.

“Siapa?” Tanya Seohyun.

“Jessica Jung. Kau tahu?” Tanya Sehun balik.

“Oh, astaga! Creative Director Blanc & Eclare?!” Mendadak suara Seohyun meninggi satu oktaf. “Siapa yang tidak tahu dia!”

“Mungkin aku bisa mengenalkanmu padanya, well, jika kau setuju dengan penawaranku.” Sehun terkekeh pelan.

“Kau pasti bercanda. Itu tidak mungkin.” Tukas Seohyun lalu kembali memandang langit.

Sehun menoleh dan menatap perempuan yang berbaring di sebelahnya. Ia lalu memposisikan dirinya duduk dan menunduk menatap manik cokelat Seohyun lekat-lekat. Wajah mereka begitu dekat, hingga Seohyun ketakutan bahwa Sehun dapat mendengar degup jantungnya yang seakan-akan siap meledak dan perubahan ruam merah pada wajah Seohyun. “Hey, dengarkan aku. Aku akan membantumu. Aku akan mengerahkan semua kemampuan dan tenagaku untuk mimpimu itu. Jangan takut. Yang perlu kaulakukan adalah percaya kepadaku.”

Kedua iris beda warna itu bertatapan cukup lama dan dalam. Sehun menatap Seohyun dengan keyakinan kuat, sedangkan Seohyun seakan tersihir memandang iris berwarna terang tersebut. “Kau membuat harapanku meninggi.” Akhirnya Seohyun adalah orang pertama yang memalingkan wajahnya.

We need hope. Everyone needs hope,” Sehun menghela nafas. “Jadi, bagaimana? Jika aku mengajakmu ke Seoul dan memintamu untuk membawa karyamu, kau akan ikut denganku?”

Seohyun terkekeh hambar. “Yang benar saja.”

“Kuanggap kau setuju dengan penawaranku.” Sehun mengambil kesimpulan secara cepat, sebelum Seohyun menolaknya dan kembali berbaring di sebelah perempuan tersebut.

“Kau sudah menikah?” Tanya Seohyun tiba-tiba.

Kini, pertanyaan Seohyun yang berhasil membuat Sehun bungkam. Sejenak, Sehun terdiam dan matanya menantap langit yang sudah mulai menerang. Tidak lagi membiru gelap seperti tadi. Bayangan Yoona tiba-tiba terlintas di dalam otaknya. Ia menelan salivanya dengan susah payah, dan akhirnya menjawab. “Belum. Bagaimana denganmu?”

Sehun memiliki alasan tersendiri untuk mengatakan bahwa ia belum menikah, karena ia tidak ingin mengakui Yoona sebagai istrinya—setelah apa yang sudah dilakukan perempuan itu kepadanya.

“Aku tidak ingin terburu-buru menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak.” Canda Seohyun kembali tertawa.

Ada rasa lega yang dirasakan oleh hatinya—hati Seohyun.

Setelah matahari naik, keduanya sepakat untuk meninggalkan pantai dan berkeliling. Ingin melihat keindahan yang lainnya. Seohyun dengan senang mengabulkan permintaan Sehun untuk menemani laki-laki itu pergi jalan-jalan hari ini. Well, Sehun bahkan lupa kapan terakhir ia berjalan-jalan seperti ini. Dan keberadaan Seohyun selalu mengingatkannya akan ibunya. Seakan-akan ibunya juga ikut berada di dekatnya. Mereka pergi semenjak matahari terbit hingga kembali menyenja.

“Hey, Kai?”

“Ada yang ingin kuberitahu kepadamu. Tapi, berjanjilah padaku, setelah kau mendengar ini, kau akan langsung kembali ke Seoul.”

            Sehun bangun dan melihat jam digital di atas nakas dekat ranjangnya. “Sekarang jam 3 pagi dan kau berharap aku kembali ke Seoul sekarang? Kau gila.”

“Ini tentang Yoona.”

“Ada apa dengannya?”

“Yoona diikuti. Aku sudah menyelidikinya dan memang benar. Mereka berjaga di depan gedung perusahaanmu dan perusahaan Yoona. Mereka bahkan mengikuti kemana pun Yoona pergi. Kurasa, ada seseorang yang mengincar Yoona.” Jelas Kai di ujung sana.

Sehun bergegas turun dari ranjangnya. Ponselnya dijepit di antara bahu serta telinganya. “I’m on my way to Seoul. Jangan beritahu Yoona aku akan pulang dan siapkan apartemenku.”

“Aku akan menyiapkanmu kamar hotel.”

“Kenapa kamar hotel? Aku memiliki apartemen.”

“Segeralah kembali ke Seoul.”

“Ini beberapa foto yang berhasil didapat,” Kai menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Sehun. Laki-laki berambut tembaga itu lelah, namun ia tidak bisa beristirahat. Memejamkan mata saja rasanya susah sekali. Sehun membuka amplop tersebut lalu mengeluarkan semua isinya. Tangannya seketika sibuk melihat foto-foto tersebut satu per satu secara bergantian.

“Siapapun yang melakukan hal ini, dia bersungguh-sungguh. Mereka menggunakan berbagai macam mobil beserta nomor polisi yang berbeda agar tidak dicurigai. Dan yang terbaru adalah foto yang kau lihat sekarang.” Lanjut Kai.

Tangan Sehun refleks berhenti saat mendengar ucapan Kai. Kening Sehun mengerut. Foto tersebut berlatar di jalan di depan rumahnya. Ada seseorang yang mengenakan topi hitam melintas di depan rumahnya dan berhasil ditangkap oleh kamera. “Apa ini?”

“Mereka sudah berani berjalan kaki di depan rumahmu untuk memastikan kondisi rumahmu. Dengan kata lain, mereka berani menunjukkan diri mereka. Aku masih belum tahu apa yang mereka inginkan dari Yoona, tapi mereka benar-benar mengincar istrimu itu,” Jelas Kai. Kai melangkahkan kakinya dan menyingkap tirai jendela kamar hotel Sehun. Pandangannya menuju ke bawah sana, ke jalanan. “Aku akan membuktikan ucapanku. Mobil Yoona akan segera lewat. Kau bisa memperhatikannya dari sini.”

Sehun melepaskan foto-foto tersebut lalu berlari kecil dan berdiri di sebelah Kai.

“Itu mobil Yoona,” Beritahu Kai saat sebuah mobil melintas diikuti satu mobil di belakanganya—mobil pengawalnya—lalu Kai melanjutkan, “Dan itu adalah mobil si penguntit,” Sebuah mobil silver berada tepat di belakang mobil pengawal Yoona. Setelah mobil-mobil tersebut berlalu, Kai kembali menutup tirai jendela. Itu adalah alasan mengapa Kai membawa Sehun ke hotel yang berada dekat dari gedung perusahaan Yoona, bukan ke apartemen milik Sehun di Galleria Foret. “Mereka mengikuti Yoona kemana pun dia pergi. Luhan juga beberapa kali mengajaknya makan malam, tapi Yoona menolaknya.”

Alis kiri Sehun terangkat. “Yoona menolaknya? Kau pasti bercanda.”

“Yoona benar-benar menolaknya. Dia bilang kepadaku, ‘Aku sudah memiliki suami dan makan malam bersama pria lain?’ lalu dia berkata bahwa aku gila.”

“Wow. Dia benar-benar berpikir bahwa aku suaminya.” Sehun kembali duduk di sofa. Ia masih merasa lelah dan tidak bisa berpikir. “Kau tetap awasi Yoona. Aku akan segera pulang.”

“Baiklah.”

“Oh, dan satu lagi.” Sehun mengangkat kepalanya dan mengacungkan telunjuknya.

“Apa?”

“Kau mengenal Jessica Jung?” Tanya Sehun.

Alis kiri Kai terangkat. “Jessica Jung?”

Creative Director Blanc & Eclare.” Jelas Sehun singkat.

“Tidak, waeyo?”

Sehun menjentikkan jarinya. “Kau harus berkenalan dengannya lalu atur jadwal makan malamku dengannya. Aku harus mengenalnya.”

“Itu adalah tugas sekretarismu untuk mengatur jadwal pertemuanmu. Bukan tugas kepala pengawal.” Tukas Kai.

“Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.”

“Untuk apa kau mengenal Jessica Jung?” Kai kini terdengar sedang menginterogasi Sehun.

“Kau ingat dengan Seohyun yang dulu pernah kuceritakan?” Tanya Sehun mengingatkan.

“Cinta pertamamu itu?” Tebak Kai.

“Kau benar sekali,” Lagi, Sehun menjentikkan jarinya. “Aku ingin membantunya menjadi seorang fashion designer. Jadi, aku ingin mengenalkannya dengan Jessica Jung.”

“Bagaimana bisa kau mengenalkan Seohyun kepada Jessica Jung jika kau saja tidak mengenal Jessica Jung?” Sungguh, Kai sudah mulai kesal.

“Itu mengapa aku memintamu untuk memperkenalkanku dengan Jessica Jung.” Sehun tersenyum lebar. Ingin sekali Kai menonjok wajah tanpa dosa itu.

“Mengapa kau menyebut ‘Jessica Jung’ kepada Seohyun?” Tanya Kai lagi.

“Hm, well, itu karena…sebelum aku pergi ke Samcheok, aku membaca sebuah majalah fashion. Dan cover majalah tersebut adalah Jessica Jung. Jadi, hanya ada namanya di dalam otakku.” Jelas Sehun yang terdengar bodoh.

“Aku pergi dulu.” Kai langsung pergi sebelum dirinya lepas kendali untuk membunuh sahabatnya yang satu itu.

Seohyun mendapati dirinya kecewa.

Sehun tiba-tiba kembali ke Seoul tanpa berpamitan dengan dirinya.

Kau harus menenangkan dirimu, Seo Joo Hyun. Batin Seohyun.

Ia sudah mengatakan kalimat itu ratusan kali kepada dirinya sendiri, namun tidak berguna. Ia sudah menyibukkan dirinya sendiri dengan menggambar, tapi Sehun memenuhi otaknya, mengakibatkan ia menggambar wajah rupawan Sehun tanpa ia sadari.

Dirinya kacau.

Sehun membuatnya kacau semudah itu.

To be continued.

Author’s Note: Ini masih kebanyakan Seohyun-Sehun’s Sidenya ya? Hahahaha maaf banget, tapi bagian cerita itu semacam rada penting buat perkenalan tokoh😀 Gak enak rasanya kalau Seohyun tiba-tiba dateng atau cuma sekedar dibayangin aja. Author banyak bct nih w ah😦 wish u love this one!❤

67 thoughts on “Irresistible (Chapt. III)

  1. Ishh mnyebalkan sehun knp sih hrs mmbnt seoyong mncr krjaan. Klo dy ke seoul pst ktm yoona. Truss pst akn nyesek jadinya.
    Hah dan sp yg mngikuti yoona?

  2. Sehun aneh. Benci Yoona tapi khawatir. Nggak konsisten banget sih!
    Ini lagi seohyun pake nyempil lagi segala. Kayaknya gak ada yang perduli sama Seohyun deh, mau dia kecewa atau hancur sekalipun. Oke, saya jahat.

  3. Omaygat ternyata sehun cinta pertama nya seohyun , seohyun juga cinta pertamanya sehun. Yah sedih deh jadi yoona, jadi penasaran apa yang dilakuin yoona ke sehun dimasa lalu sampe segitu nya sehun benci yoonaㅠㅠ

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s