[Freelance] Contented (Chapter 2)

Contented.jpg

Title                       : Contented (Chapter 2)

Author                  : Hime Lee

Cast                       : SNSD’s Yoona, EXO’s Sehun

Genre                   : Romance, high school life

Category              : Chaptered

Length                  : 3,552 words

Yoona berumur 6 tahun ketika pertama kali bertemu Sehun, si anak kecil yang dingin dan jauh dari kata menyenangkan. Pertemuan itu terjadi di sebuah acara makan siang yang diadakan oleh keluarga bibi Yoona yang merupakan adik dari ayahnya. Sehun yang hanya duduk di salah satu ayunan, sibuk dengan bukunya, tentu tidak menarik perhatian Yoona yang tengah berlarian dengan Krystal dan anak-anak dari kolega keluarganya yang lain. Sampai tiba-tiba Yoona tidak berhati-hati dan menabrak Sehun, membuat anak laki-laki itu tersungkur dan menggerutu.

“Oh, maafkan aku,” Yoona berusaha membantu Sehun dengan takut-takut. Wajah dingin Sehun membuat Yoona mengerti mengapa tidak ada anak yang ingin bermain dengannya. Semua anak seusianya pasti takut padanya.

“Lain kali perhatikan langkahmu,” jawab Sehun cuek. Ia kembali duduk di ayunan dan membuka bukunya seolah-olah kejadian barusan tidak terjadi.

Yoona melirik buku itu dan mengernyitkan kening ketika membaca judulnya. “Apakah itu buku anak-anak?”

“Aku tidak membaca buku anak-anak.”

Kerutan di kening Yoona tidak kunjung hilang. Ia justru tertarik lebih jauh lagi dan kini duduk di samping Sehun, mengamati buku itu.

“Kau bisa membaca buku seperti itu?”

Sehun mengangguk, wajahnya angkuh. “Tentu saja. Appa bilang aku harus rajin membaca jika ingin menjadi insinyur.”

Semua kata-kata itu begitu asing di telinga Yoona. “Mengapa kau ingin menjadi insinyur?” tanya Yoona walaupun ia sendiri tidak begitu mengerti apa itu insinyur.

“Agar aku bisa meneruskan pekerjaan Appa.”

Yoona semakin dibuat bingung. “Mengapa kau harus meneruskan pekerjaan ayahmu?”

Sehun yang lama-lama merasa terganggu pun kini menutup bukunya dengan keras. “Dengar ya, anak kecil.” Yoona mengernyit tersinggung ketika Sehun memanggilnya anak kecil, tetapi ia diam saja. “Appa punya perusahaan yang besar. Perusahaan itu harus terus berjalan, dan aku akan meneruskannya suatu hari nanti. Anak kecil sepertimu tentu saja tidak mengerti.”

Yoona tidak tahan untuk menggumamkan, “Paling tidak aku tahu banyak permainan.”

Sebuah dengusan meluncur dari bibir Sehun. Sehun sendiri tidak tahu mengapa ia mau repot-repot menanggapi anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.

Belum sempat Sehun menyanggah perkataan Yoona, ayahnya sudah memanggilnya. “Lee Sehun! Ke sini sebentar, Nak!” Sehun pun berjalan meninggalkan area ayunan tanpa menengok ke belakang, ke arah Yoona yang menatap punggung Sehun dengan keheranan.

Pertemuan berikutnya terjadi ketika mereka masuk ke middle school yang sama. Sehun berusaha meyembunyikan kekagetannya ketika melihat Yoona, yang dulu ia panggil anak kecil, ternyata seumuran dengannya. Mereka tidak pernah merasa perlu untuk bertukar sapa. Sehun punya dunianya sendiri, begitu pula Yoona. Lagipula, bagi murid-murid middle school, berteman dengan lawan jenis adalah hal yang sangat memalukan. Namun, pertemuan itu terjadi begitu singkat karena Sehun harus pindah ke sekolah internasional di Incheon pada akhir tahun pertamanya di sekolah itu.

Dan ketika akhirnya mereka dipertemukan kembali di Konkuk Prep School, Sehun hampir tidak mengenali Yoona. Anak kecil itu kini tumbuh begitu dewasa, dengan garis wajah yang semakin tegas menunjukkan kecantikannya. Tidak ada lagi Yoona dengan kulit kecoklatan karena sering bermain di bawah terik matahari dengan rambut diikat ekor kuda. Pubertas telah mengubah Yoona menjadi sosok gadis cantik dengan kulit pucat dan rambut yang tergerai indah melewati punggungnya. Dan itulah kali pertama Sehun menatap Yoona dengan berbeda.

Mengenang itu semua membuat Sehun tersenyum kecil. Ia menatap cangkir kopi yang masih mengepulkan asap di depannya, melarikan jari-jarinya di bibir cangkir itu. Ia baru menyadari bahwa perbedaan prinsip dirinya dengan Yoona sudah terlihat sejak mereka kecil. Hidup Sehun sudah diatur dengan rapi semenjak ia bisa membaca, sementara Yoona adalah gadis kecil yang ekspresif dan bebas, seolah-olah dunia ini miliknya, ia bisa memilih apapun yang ia inginkan.

Ini adalah tahun kedua semenjak ia menginjakkan kaki di MIT. Semua berjalan lancar sesuai harapan Sehun. Ia memiliki beberapa teman yang loyal, dosen-dosen menyukainya, dan nila-nilainya selalu jauh di atas rata-rata. Hidupnya stabil, dan Sehun menyukainya. Ia membutuhkan kestabilan, hal yang tidak bisa ia dapatkan ketika masih bersama Yoona.

“A penny for your thought?”

Sehun mengangkat wajahnya. Kedua matanya langsung bersiborok dengan sepasang mata abu-abu yang menatapnya lembut. Ia pun menggeleng pelan.

“Hanya mengingat masa lalu.”

Gadis di depan Sehun ikut tersenyum. “Kau sedang rindu rumah?”

“Setiap hari.” Aku merindukan rumah dan Yoona, tambah Sehun dalam hati.

Adalah sebuah kebohongan jika Sehun tidak merindukan Yoona. Gadis itu masih ada di mana-mana. Ia ada di setiap sudut kamar Sehun, bahkan ia ada di buku-buku yang Sehun baca setiap hari. Hanya saja, kerinduan itu berkurang ketika ia bertemu Keiko, gadis Jepang keturunan Prancis yang kini sedang duduk di hadapannya.

Keiko Laurent adalah mahasiswa Aerospace Engineering yang brilian dan menyenangkan. Setelah dua bulan penuh mengerjakan riset bersama, perasaan-perasaan itu pun tumbuh dengan sendirinya. Sehun memandang Keiko sebagai wanita yang mandiri, pintar, dan bisa mengimbanginya. Dan Keiko bisa menyediakan kestabilan yang Sehun inginkan. Semua itu cukup bagi Sehun untuk memberanikan diri meminta Keiko menjadi kekasihnya tiga bulan yang lalu, yang dibalas Keiko dengan anggukan antusias.

Hanya saja, kehadiran Keiko masih tidak bisa menghilangkan bayang-bayang Yoona yang kadang masih Sehun temui. Yoona tidak pernah mengontaknya, dan Sehun juga terlalu sibuk untuk mengontak Yoona sekadar untuk menanyakan kabar walaupun kini mereka berada di negara yang sama. Sehun hanya mendengar tentang Yoona dari Donghae yang juga tengah melanjutkan studinya di New York. Donghae masih sering bertemu dengan Yoona, tetapi ia tidak pernah mengangkat topik tentang Yoona ketika bertemu dengan Sehun.

“Dia jauh lebih baik dari baik-baik saja, Sehun. She’s living her dream now,” adalah kabar terakhir yang ia dengar tentang Yoona sebelum kakak beradik Lee itu benar-benar berhenti membicarakan gadis itu.

Dan ketika Sehun mengajak Keiko untuk makan malam dengan Donghae, Donghae tidak menyuarakan ketidaksetujuan. “Keiko gadis yang menyenangkan. Kalian berdua sangat mirip dalam banyak hal,” komentar Donghae ketika Keiko harus ke toilet dan meninggalkan Lee bersaudara di meja makan.

“Kau selalu terlihat distracted ketika sesuatu menganggumu.” Suara Keiko menarik Sehun kembali dari lamunannya.

“It’s nothing,” ujar Sehun tanpa melepas senyumnya. Keiko masih menatapnya dengan satu alis terangkat. Namun, ketika tangan Sehun meraih tangannya yang ada di atas meja, ia pun mengalah.

“Baiklah,” desah Keiko menyerah. “Nah sekarang, bisa kita fokus ke tugas kita?”

Sehun tertawa kecil dan kembali memusatkan perhatiannya pada tugas kuliah yang sedang mereka kerjakan bersama.

 

“Aku sudah memesan tiket untuk liburan Natal besok, Eomma. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Yoona terlihat kerepotan dengan kantong belanja di kedua tangannya dan ponsel yang ia jepit di antara telinga dan bahunya. Setelah memindahkan kantung belanjaan ke tangan kiri dengan susah payah, Yoona pun memencet tombol sandi apartemen dan membuka pintunya dengan bahu kanan.

Ia meletakkan semua belanjaan di atas kitchen counter dan meletakkan ponselnya setelah tidak lupa ia mengaktifkan mode speaker. Suara ibunya menggema di dapur, mengiringinya yang tengah memasukkan bahan-bahan makanan yang baru saja dibelinya ke dalam kulkas.

“Bagus kalau begitu. Kau sudah melewatkan Chuseok kemarin, dan Eomma tidak akan memaafkanmu kalau kau tidak pulang Natal ini,” gerutu ibunya.

Yoona memutar bola matanya. “Mana ada libur Chuseok di sini, Eomma.”

Ibu Yoona hanya menggumam tidak jelas. Yoona pun melanjutkan pekerjaannya dalam diam.

“Bagaimana kabar Donghae?”

“Dia baik-baik saja,” jawab Yoona seadanya.

“Kalian tidak makan malam bersama malam ini?”

Yoona mengerutkan keningnya. “Eomma, kalau aku tidak mengenalmu, aku pasti berpikir kau sedang menjodohkanku dengan Donghae-oppa.”

“Oh, Eomma memang berencana begitu.”

Karton susu di tangan Yoona hampir terjatuh ke lantai. Mata Yoona membeliak lebar. “Eomma! Hubungan kami tidak seperti itu.”

“Tidak ada salahnya berharap kan?”

Yoona mengerang. Sekarang ia tahu dari mana sifat keras kepalanya diwariskan. “Demi Tuhan, Eomma! Donghae-oppa kan sudah bertunangan.”

Sepertinya ibu Yoona tidak mau kalah. “Tetapi kan mereka belum menikah.”

“Ugh. Terserah kata Eomma.” Yoona sudah terlalu kesal menghadapi ibunya yang delusional itu. Semenjak Yoona bercerita bahwa Donghae juga kini tinggal di New York dan mereka sering bertemu, entah mengapa ibu Yoona selalu getol bertanya tentang Donghae di setiap kesempatan.

“Kau masih teringat Sehun, ya?”

Kali ini Yoona benar-benar membeku. Ia menarik napas panjang dan menutup pintu kulkas lebih keras dari seharusnya. Dengan malas ia meraih ponsel di atas kitchen counter dan mematikan mode speaker sebelum membawanya ke kamar. Moodnya tiba-tiba rusak mendengar nama itu disebut.

“Eomma…”

“Sudah dua tahun, Yoona, dan kau sama sekali tidak pernah menceritakan satu pria pun kepada Eomma. Eomma jadi khawatir, apakah anak gadis Eomma ini tidak laku?”

“Yah!” protes Yoona keras yang disambut suara kekehan dari seberang sana. “Anak Eomma ini sangat populer di sini, asal tahu saja.”

“Oke, oke, Eomma percaya saja.” Ibunya masih tertawa.

“Aku serius, Eomma. Aku sedang tidak ingin memikirkan hal itu. Jadwal latihanku semakin padat dan aku harus terus berjuang keras karena semua orang di sini sangat berbakat dan bekerja keras sepertiku. Aku tidak mau tertinggal.”

Dua minggu pertama di Juilliard adalah saat-saat terberat bagi Yoona. Ia yang waktu itu masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitar pun merasa insecure dengan dirinya sendiri setelah mengetahui bakat teman-temannya yang luar biasa. Ia merasa kemampuannya menari tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Tetes peluh dan air mata pun mewarnai setiap malam yang ia gunakan untuk berlatih, hanya untuk menandingi teman-temannya. Namun, semua usaha keras itu akhirnya terbayar ketika ia terpilih menjadi penari utama di sebuah pertunjukan musim dingin di tahun pertama ia bersekolah di sana. Kepercayaan dirinya pun bangkit dan Yoona mulai dikenal di departemen tari.

“Jangan melupakan kesehatanmu,” tegur ibu Yoona yang tahu betul kebiasaan Yoona untuk melewatkan makan setiap kali ia sibuk berlatih untuk sebuah pertunjukan.

“Ya, Eomma.”

“Jam berapa kau berlatih?”

Yoona melirik jam dinding di kamarnya. “Masih ada dua jam lagi. Aku harus bersiap-siap, Eomma. New York sangat ramai di jam-jam seperti ini.”

“Baiklah. Semoga pertunjukanmu lancar!”

Seulas senyum terbit di wajah Yoona. “Terima kasih, Eomma. Sampaikan salamku untuk Appa, oke? I love you both.”

Setelah sesi telepon dengan ibunya selesai, Yoona pun mulai bersiap-siap untuk latihan sore ini. Ia memasukkan beberapa pasang baju ke dalam tas. Ketika ia membuka laci untuk mengambil jam tangan, gerakan tangannya terhenti oleh sebuah kilauan yang begitu familiar. Gelang pemberian Sehun.

Sehun memang memberikan kembali gelang yang Yoona lemparkan ketika mereka bertengkar satu hari sebelum ia berangkat ke Columbia.

“Aku memberikan ini padamu. Gelang ini milikmu dan aku tidak akan menerima jika kau mengembalikannya,” kata Sehun waktu itu. Yoona hanya bisa menerimanya tanpa bisa berkata apa-apa. Bahkan ketika Sehun berpamitan padanya, Yoona hanya mengangguk pelan. Tidak ada ucapan selamat tinggal, tidak ada pelukan hangat.

Yoona meraih gelang itu, menimangnya beberapa kali sebelum mendesah dan meletakkan gelang itu di sudut terdalam laci dan menguncinya tanpa berniat untuk membukanya dalam waktu dekat. Melihat gelang itu hanya akan mengingatkan Yoona pada sosok yang memberikannya.

Selama dua tahun ini, ia tidak pernah mendengar kabar tentang Sehun. Walaupun ia bertemu Donghae hampir setiap hari, pria itu ternyata cukup pengertian untuk tidak mengangkat topik soal Sehun.

Luka itu masih ada. Setiap Yoona menyelesaikan sebuah pertunjukan dan orang-orang bersorak untuknya, luka itu kembali terbuka. Sebuah kesedihan merambat di hatinya ketika ia menyadari bahwa Sehun tidak akan ada di barisan orang-orang tersebut. Setiap kali Yoona pulang ke apartemen dengan badan remuk redam karena sesi latihan yang panjang dan tidak makan seharian, Yoona bisa membayangkan Sehun akan mengomelinya habis-habisan jika dia ada di sana. Sehun akan sangat khawatir hingga ia melupakan bahwa yang Yoona butuhkan hanyalah pelukan panjang dan dukungan.

Nyatanya Sehun tidak ada di sini dan kau bisa berhenti memikirkannya, Yoona, tegur Yoona pada dirinya sendiri. Terkadang Yoona tertawa miris. Apa yang ia mimpikan selama ini nyatanya tidak cukup untuk mempertahankan seseorang yang ia cintai. Mimpi itu justru malah menjauhkannya dari Sehun. Ia sadar akan perbedaan prinsip yang ia pegang dengan Sehun, tetapi ia pikir itu tidak akan pernah menjadi masalah. Hingga Yoona akhirnya menyadari bahwa Sehun tidak bisa memberikan dukungan sebanyak yang Yoona inginkan, dan Yoona juga tidak bisa memberikan apa yang Sehun butuhkan.

Semua sudah berakhir, Yoona, get over it, lagi-lagi batin Yoona menegurnya.

Yoona mendesah panjang. Ia memasang seat belt dan menyalakan mesin mobil, lalu melaju meninggalkan semua lamunannya.

 

Pertunjukan sore ini berlangsung meriah. Senyum Yoona masih mengembang lebar bahkan setelah ia turun dari panggung. Raut kepuasan dan kebanggaan sangat terlihat di wajah cantik itu. Mata bulatnya berbinar, bercampur dengan pantulan cahaya panggung yang menambah keindahan mata itu.

Teman-teman Yoona langsung berbondong-bondong menyambut Yoona di belakang panggung. Yoona memeluk mereka bergantian, merasa beruntung mendapatkan dukungan dari orang-orang ini.

“You were amazing up there, Yoona,” Julia, salah satu teman dekatnya di Juilliard, memeluknya erat sekali lagi yang dibalas Yoona dengan pelukan tak kalah eratnya. Julia adalah teman pertama Yoona di sini.

Kemudian sebuket bunga diulurkan ke arah Yoona, membuat Yoona mengerutkan kening dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang baru saja memberinya bunga.

Dylan, kakak tingkatnya dari departemen drama. Pipi Yoona bersemu merah ketika kedua mata biru itu menatapnya intens dan hangat, menenggelamkan Yoona ke dalam pesonanya.

“Thank you,” kata Yoona tidak keras dari sebuah bisikan.

Dylan tersenyum. Yoona harus menahan diri untuk tidak berjinjit dan mengecup lesung pipi yang muncul setiap kali pria di depannya ini tersenyum. Julia dan Mike, teman Yoona yang lain, mengerling menggoda ke arah Yoona.

“Kau selalu menakjubkan, Yoona.”

Meledaklah tawa Julia dan Mike ketika pipi Yoona memerah hingga telinga. Yoona menundukkan kepala, terlalu malu untuk menatap Dylan sambil menyumpahi sahabat-sabatnya dalam hati.

Dylan yang tampak tidak peduli dengan siulan menggoda di sekelilingnya meraih siku Yoona, membuat gadis itu menatapnya.

“Makan malam denganku?”

Dylan memang belum pernah mengajaknya berkencan. Hal terjauh yang mereka lakukan adalah hang out bersama Julia dan Mike atau dengan teman-teman Dylan dari departemen drama. Belum pernah sekalipun mereka pergi hanya berdua. Dan ajakah Dylan barusan, apakah itu tandanya ia mengajak Yoona berkencan? Yoona tidak akan berpikir dua kali untuk mengiyakan ajakan tersebut jika saja ia tidak memiliki janji dengan seseorang malam ini.

Yoona memandang Dylan dengan penuh penyesalan. “Maafkan aku. Aku diundang makan malam di tempat Donghae malam ini. Gaeul baru saja datang dari Seoul dan yah, kau tau kelanjutannya.”

Dylan mengangguk mengerti. Yoona bersumpah ia melihat kilatan kekecewaan di kedua mata biru itu tetapi memilih untuk mengabaikannya karena kemungkinan besar itu hanya imajinasinya saja.

“Kau bisa bergabung dengan kami kalau kau mau,” Yoona melancarkan usaha terakhirnya untuk tidak menggagalkan makan malamnya dengan Dylan. Hey, tidak ada salahnya berharap kan?

Pria jangkung dengan rambut pirang gelap itu pun hanya menggeleng pelan. “Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin mengganggu kalian.”

“Tidak sama sekali.” Yoona sudah tidak peduli lagi jika ia terlihat mengemis sekarang.

Dylan mengulurkan tangan untuk membelai puncak Yoona sekilas. Sebuah senyum (dan lesung pipi itu! Yoona memekik dalam hati) menghiasi wajahnya.

“There’s always next time, Yoona. Sekarang, nikmatilah waktumu dengan Donghae dan Gaeul.”

Ketika Yoona memarkirkan mobilnya di tepi jalan daerah apartemen Donghae, ia melihat beberapa mobil yang cukup familiar baginya. Teman-teman Donghae di sini tidak sedikit dan Yoona sudah mengenal beberapa. Mereka pasti juga diundang di acara makan malam kali ini. Meraih sebuah paperbag di bangku belakang yang merupakan hadiah selamat datang untuk Gaeul, Yoona pun merapatkan mantelnya dan berjalan menuju apartemen Donghae.

Gaeul adalah tunangan Donghae yang berprofesi sebagai seorang fashion designer. Ia memiliki sebuah clothing line bernama Autumn, yang merupakan arti nama Gaeul dalam bahasa Inggris. Pertama kali mereka bertemu, Yoona sudah sangat menyukai Gaeul yang ramah dan hangat. Mereka pun menjadi sangat dekat, bahkan Gaeul sudah tahu cerita lama Yoona dengan Sehun yang enggan Yoona ceritakan pada teman-temannya.

Terakhir kali mereka bertemu adalah empat bulan lalu ketika Gaeul menghadiri acara New York Fashion Week. Oleh karena itu, Yoona tidak heran ketika Gaeul langsung memeluknya erat begitu ia menghampirinya di dapur apartemen Donghae.

“God, Yoona! Aku sangat merindukanmu!”

Yoona terkekeh. Ia membalas pelukan Gaeul tak kalah erat. “Aku juga merindukanmu, Unnie.”

“Hey, hey! Berhenti menganggu tunanganku dan bergabunglah dengan yang lain di ruang tamu!” seru Donghae yang entah sejak kapan ada di dapur. Yoona hanya menjulurkan lidahnya ke arah pria itu, membuat Donghae gemas dan memiting leher Yoona. Gaeul hanya tertawa melihat Yoona yang mengumpat sambil berusaha lepas dari kungkungan Donghae.

“Ugh, kau merusak rambutku!” gerutu Yoona setelah ia berhasil meloloskan diri.

Tidak ingin begitu saja berhenti mengganggu Yoona, Donghae dengan sengaja mengacak-acak rambut Yoona dengan kasar dan langsung kabur begitu Yoona akan balik menyerangnya.

Sambil menunggu Gaeul menyiapkan makan malam, Yoona pun bergabung dengan teman-teman Donghae di ruang tamu. Teman-teman Donghae memang sangat menyukai Yoona, wajar saja jika Yoona menjadi pusat perhatian mereka saat ini. Diam-diam Donghae tersenyum melihat Yoona bercanda akrab dengan yang lain.

Namun, senyum di wajah Yoona terhapus begitu saja ketika pintu depan terbuka, menampilkan sosok yang sudah dua tahun ini ia coba lupakan.

Sehun, dengan sebuah buket buka di tangan, berdiri membeku di ambang ruang tamu ketika matanya bertubrukan dengan sepasang mata cokelat yang begitu ia kenal. Dunia seakan-akan berhenti. Sekelebat memori pun memenuhi pikirannya.

Sebuah tepukan halus di bahunya menyadarkan Sehun. Ia menghela napas panjang, tidak menyadari bahwa ia telah menahan napas sejak tadi. Ia menoleh ke belakang dan mendapati sepasang mata abu-abu itu menatapnya penuh tanya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Keiko setengah penasaran setengah khawatir.

“Um…ya. Ya, aku baik-baik saja,” jawab Sehun terbata. Kalaupun Keiko masih bingung, ia tidak menunjukkannya.

Sepasang kekasih itu mulai bergabung dengan teman-teman Donghae. Sehun menyapa dan menyalami mereka satu-persatu, hingga tiba saatnya ia berhadapan langsung dengan Yoona. Yoona, satu-satunya gadis yang menghiasi masa remajanya, yang saat ini terlihat begitu dewasa dibanding saat terakhir kali ia mengingatnya. Yoona, yang harus ia lepas karena perbedaan prinsip yang ia pegang. Yoona, yang pernah terluka karenanya.

Dadanya berdenyut ketika kulitnya melakukan kontak dengan tangan Yoona. Tangan itu masih sama seperti ia mengingatnya; lembut dan begitu kecil di genggamannya.

“Hey,” sapa Sehun canggung. Yoona membalasnya dengan satu anggukan singkat.

Sehun bisa mengerti bahwa Yoona tidak siap bertemu dengannya. Sama seperti dirinya sendiri yang tidak siap bertemu dengan Yoona di suasana seperti ini. Terlebih dengan keberadaan Keiko di sampingnya.

Ah, ngomong-ngomong tentang Keiko…

Sehun memerhatikan Keiko yang kini sedang tersenyum ramah ke arah Yoona. Gadis itu mengulurkan tangannya yang disambut dengan Yoona dengan tidak kalah ramahnya. Mereka berkenalan. Sesuatu dalam dada Sehun berkecamuk.

“Apakah kau teman Donghae? Aku belum pernah bertemu denganmu,” tanya Keiko setelah ia bertukar nama dengan gadis di hadapannya itu.

Yoona menggigit bibirnya, gestur yang selalu ia lakukan ketika ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Mmm…ya, bisa dibilang begitu.”

Dari sudut matanya, Yoona bisa melihat Donghae menggerakkan bibirnya, mengucapkan permintaan maaf tanpa suara. Donghae benar-benar lupa untuk mengatur jadwal petemuan yang berbeda dengan Yoona dan Sehun, hal yang selalu ia lakukan selama dua tahun ini. Ia cukup mengerti untuk tidak membuat kedua orang itu berada di tempat yang sama. Namun tampaknya kini takdir ingin bermain-main sedikit dengan kedua orang itu.

“Yoona dulu teman sekolah Sehun saat SMA,” Gaeul tiba-tiba menyahut dari dapur. Yoona menahan dirinya untuk tidak memutar lehernya dan melemparkan tatapan paling mematikan ke arah Gaeul.

“Ah…” Keiko mengangguk mengerti. Sehun menyipitkan matanya, menatap Keiko penuh selidik. Senyum di wajah Keiko mengucapkan seolah-olah otaknya baru saja menghubungkan sesuatu.

 

Yoona pernah beberapa kali terjebak dalam suasana yang begitu canggung. Namun, tidak ada yang lebih canggung daripada harus berdua dengan Sehun di dapur untuk mencuci piring setelah Gaeul tiba-tiba menyuruh mereka mencuci piring sementara ia dan Donghae keluar untuk mencari udara segar. Yoona hendak protes, tetapi ketika Gaeul menatapnya dengan tajam, Yoona tahu ia tidak memiliki pilihan lain.

Sepanjang makan malam, Yoona hampir tidak bersuara. Seolah-olah keberadaan Sehun di sana belum cukup untuk membuatnya tidak nyaman, lelaki itu justru duduk di hadapannya. Tidak pernah sekalipun Yoona mengangkat wajahnya. Matanya selalu tertuju pada makanan di hadapannya. Dan ketika seseorang mengajaknya berbicara pun, Yoona tetap menghindari kontak mata dengan Sehun.

Yoona bisa merasakan Sehun beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Dan ia juga sadar sepenuhnya bahwa Keiko berkali-kali pula menatap Sehun dan Yoona bergantian. Yoona memilih mengabaikan itu semua dan hanya bisa berharap acara makan malam itu segera berakhir.

Suara aliran air dan piring yang beradu dengan benda lain menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Semua teman-teman Donghae sudah pulang, termasuk Keiko yang sudah dijemput salah satu temannya karena harus menghadiri acara lain. Dan kali ini benar-benar hanya tinggal Sehun dan Yoona di apartemen itu.

Sehun mengelap piring dalam diam sambil beberapa kali mencuri pandang ke arah Yoona. Tidak ada tanda-tanda gadis itu akan mengajaknya bicara. Dan jika ia membiarkannya, ia yakin Yoona tidak akan membuka mulutnya hingga ia berpamitan nanti.

Memikirkan itu membuat Sehun tersenyum pahit. Jika mengingat betapa tidak terpisahkannya mereka waktu SMA, keadaan mereka sekarang terlihat menyedihkan. Bagaimana bisa dua orang yang pernah saling mengasihi, saling menjadi kekuatan masing-masing, menjadi dingin dan jauh seakan-akan tidak pernah saling mengenal sebelumnya?

“Apakah kita akan saling mendiamkan seperti ini?” tanya Sehun pelan.

Yoona menghentikan aktivitasnya membilas piring tetapi tidak menatap Sehun. Ia tersenyum kecut. “Apa yang harus kita bicarakan? Aku tidak akan mengerti duniamu, begitu pula denganmu. Tidak ada gunanya kita saling berbicara.”

“Tidak bisakah kita bersikap seperti teman lama selayaknya orang normal pada umumnya?”

“Kita tidak pernah berteman, Sehun.” Kali ini Yoona meletakkan piring dan menyerongkan tubuhnya untuk menatap Sehun. “Kau membenciku waktu kita kecil dulu, dan kita tidak pernah bertukar sapa semasa middle school. Kurasa itu bukan definisi dari seorang teman.”

Sepertinya usaha Sehun untuk menarik kembali tali hubungan mereka akan berakhir sia-sia.

“Well, if that’s what you want. Bukankah kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan, Yoona?” Sehun bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melemparkan ucapan sindiran itu.

Yoona mendengus. “Kurasa kau sedang membicarakan dirimu sendiri, Sehun.”

Ketika semua piring dan gelas sudah selesai mereka cuci, Gaeul dan Donghae belum juga kembali. Tidak mau berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan Sehun karena itu hanya akan membuatnya melemparkan lebih banyak sindiran yang penuh sarkasme, Yoona beranjak ke ruang tamu dan meraih mantelnya.

“Aku pulang,” gumam Yoona entah pada siapa.

Sehun tidak bergerak dari tempatnya. Ia masih terdiam ketika pintu apartemen Donghae menutup di hadapannya, menenggelamkan sosok Yoona dan meninggalkannya sendiri.

 

 

To be continued…

 

****

 

Yeay, akhirnya update juga! Maaf ya yang udah nunggu lama. Aku gak janji aku bakal bisa update cepet karena yah, biasa lah, sibuk kuliah dll. Semoga kalian suka sama chapter ini ya. Kritik dan sarannya aku tunggu. Till next time!

 

Love,

Hime Lee

66 thoughts on “[Freelance] Contented (Chapter 2)

  1. Woahhh daebak.. aku suka konflik bkn saya panas dindin sj. Hahah
    Tp i like it. Hah sehun dah pux keiko.. ah sprtx dy msh mnyukai yoona. Ah ani mrk msh slg mnyukai hx mslh prbedaan.prinsip aj yg mmbut mrk jauh… arrrgghhhh sehun dsni mnybalkannn. G ngrt ma yoona..

  2. Ya Tuhan!! Aku bingung mau komen apa. Kasian juga yoona. Tapi aku gatau kasian apa ke Yoona. Cuman rasanya pengin nangis aka aku sebagai reader yang ngefans sama Yoona. Astagaaa!! Ini happy end kan thor? Udah beberapa hari terakhir aku baca cerita yang gaterlalu baik buat ending. Jadi happy end jusseyoo wkwk

  3. Duhh kayanya Yoona terlalu sakit sampe sampe gk mau ada pembicaraan sama sekali sama Sehun 😑

    Berharap itu dua orang sana sama kgk busa move on!!

    next ya thorr, ditunggu nihhh 😊

  4. Gitu sih kalo udah jadi mantan, berasa canggung+kaku deh kalo ketemu. Malah jadi saling ngelempar perkataan pedes
    YoonHun kpn bisa balikan kalo kek gitu trus??? *emang ada rencana si author buat YoonHun balikan xD
    Ditunggu lanjutannya~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s