My Beautiful Agony

mba cover

I’m just gonna remember you

As the most beautiful agony

That happened in my life

Title                             : My Beautiful Agony

Author                         : NandaFM

Rate                             : Teen

Genre                          : Romance

Main Cast                    : Im Yoona | Kris

Supporting Cast          : Tao | SooYoung | Jessica

Disclaimer                   : Bagi yang merasa udah pernah baca FF ini sebelumnya, silahkan dicek dulu dimana dulu bacanya. Soalnya FF ini pernah aku post di blog pribadi aku (foggymindyblog.wordpress.com).

RCL guys🙂

Enjoy!

**NO PLAGIATOR ALLOWED

Saat sahabatku sibuk mengagumi lelaki tampan yang barusan lewat aku hanya menanggapi dengan seadanya saja. Lelaki itu memang tampan, tinggi, keren, dan sebagainya, tapi menurutku untuk menjadikannya topik selama seharian penuh adalah cukup berlebihan. Bukannya aku tidak normal ataupun tidak tertarik dengan yang namanya lelaki, hanya saja rasanya kata ‘lelaki’, dan ‘cinta’ adalah dua kata yang kurang cocok apabila digabungkan dengan masa remajaku.

Tapi berbeda saat beberapa hari terakhir aku rutin mendapat pesan dan telepon singkat dari teman sekelasku. Kris namanya. Sejak saat itu sering kali kudengar sahabatku menggodaku dengan menyebutkan bahwa aku akhirnya menjadi seorang perempuan sejati. Pipiku sering terlihat merona saat mendapati perhatian-perhatian kecilnya yang terselip di setiap pesan dan telepon yang kuterima.

Semakin lama kita bertukar pesan dan percakapan aku mulai merasa ada perasaan lain yang ia siratkan di dalamnya. Aku tidak merasa kelewat percaya diri atau kegeeran, hanya saja kata ‘rindu’, ‘sayang’, dan kata picisan yang lain ia berikan sudah sangat jelas menunjukkan itu. Dan aku layaknya gadis polos yang baru mengenal kisah asrama hanya menerimanya dengan tangan terbuka. Tidak perduli dengan ucapan sahabatku yang mengatakan bahwa mungkin saja aku hanyalah pelarian dari mantah kekasih Kris yang baru beberapa minggu yang lalu putus.

Aku merasa ‘menang’ atas sahabatku karena tepat beberapa hari setelah itu Kris menyatakan cintanya padaku. Mengajakku keluar ke taman hiburan seharian penuh, menonton film kesukaanku di bioskop pada sore harinya, dan terakhir menatap bintang-bintang di taman pada malam harinya. Tidak terlalu romantis memang, tapi cukup manis menurutku.

Kris bisa dibilang sebagai lelaki yang hampir mendekati kata sempurna. Prestasi akademiknya di sekolah tidak usah diragukan lagi, kemampuannya dalam mengetuai sebuah kegiatan ekstrakuliker di sekolah kami patut untuk diberi acungan jempol. Sikapnya yang jauh dari kata tercela membuat siapapun senang berteman dengannya. Yoongambah dipilihnya ia sebagai maskot sekolah kami bersama temanku yang lain seolah menjadi penutup kesempurnaannya itu. Carilah kelemahannya, dan aku rasa kau akan menyerah saat itu juga.

“Kamu suka sama dia bukan karena ‘nama’nya ‘kan, Yoong?” tanya Sooyoung, sahabatku, saat aku menceritakan hubunganku dengan Kris.

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum menanggapinya. Terdengar naif memang, tapi aku benar menjalin hubungan ini karena aku tidak menemukan alasan yang tepat untuk mencintainya. Perasaan berbunga-bunga dan debaran jantung yang tak menentu saat di dekatnya adalah alasan yang hampir tepat mengapa aku mengatakan ‘iya’ saat ia menyatakannya perasaanya kala itu.

Tidak hanya sahabatku saja yang mengenal dengan baik bagaimana hubunganku dengan Kris, Tao –sahabat Kris– juga sangat tahu bagaimana hubungan ini berjalan. Waktu itu sore hari sepulang sekolah, Kris mengajakku untuk makan di kedai dekat sekolah dan secara kebetulan bertemu dengan Tao.

Tao adalah anak yang cukup menyenangkan untuk dijadikan teman. Ia sering sekali mengumbar tawa dan lelucon yang herannya selalu terdengar lucu meskipun itu adalah lelucon kuno. Pembawaannya santai dan sangat bebas, sangat tepat untuk mengimbangi sifat Kris yang terkadang kurang pas untuk diajak bersantai.

Masa-masa remaja ku di SMA kini tak lagi terlihat datar ataupun membosankan. Kisah-kisah romansaku dengan Kris seolah memberi warna dan dinamika pada setiap lembarnya. Di awal-awal kisah itu hidupku seolah berubah warna menjadi biru terang, kuning cerah, ataupun warna ceria lainnya. Layaknya seolah pasangan pengantin baru kami menjalani kisah cinta yang dapat dibilang sangat romantis. Ia sering melakukan atau mengucapkan hal-hal yang manis, juga ia selalu menyempatkan untuk berkomunikasi denganku di sela kesibukannya atas urusan yang aku tidak pernah pahami.     Tapi semakin jauh hari aku merasa semakin berbeda. Ia jarang menghubungiku dan sikapnya menjadi semakin dingin. Aku merasa sedang dikelilingi warna hitam dan warna gelap yang lain.

“Aku rasa wajar. Lagipula ‘kan kalian hanya sebatas pacaran, belum menikah. Tidak usah terlalu getol untuk diperhatikan. Nanti dia malah jengah lho dengan protesmu yang terus-terusan,” nasihat Sooyoung dengan santai saat aku menceritakan keluhanku padanya.

Pada awalnya aku menuruti nasihat Sooyoung dengan begitu saja karena aku juga merasa kalau aku terlalu muluk akan hubungan ini, tapi aku semakin lama merasa semakin ada yang tidak beres di sini. Apalagi saat Tao pernah kelepasan bicara kalau akhir-akhir ini Kris sering menjalin komunikasi kembali dengan mantan kekasihnya, Jessica.

Aku mendesak untuk bertemu dengan Kris di taman. Tidak memperdulikan protesnya yang mengatakan ia sedang sibuk sedang mengurusi ekstrakulikulernya yang akan mengikuti lomba. Aku terlalu sensitif apabila sudah mendengar nama Jessica yang disandingkan lagi dengan Kris. Terkadang masa lalu yang masih buram terlihat lebih menarik dibandingkan masa depan yang sudah jelas.

Meskipun kami menyepakati untuk bertemu pukul tujuh malam Kris rupanya datang jauh dari jam itu. Jam sembilan malam. Ia datang dengan santai tidak perduli dengan aku yang sudah menunggunya lama. Tidak mau tahu bahwa pada kenyataannya aku datang satu jam lebih awal dari kesepakatan. Dan bersikap tidak peduli meskipun sedari tadi aku sering menggosokkan kedua telapak tanganku menahan dinginnya angin malam.

“Maaf terlambat. ‘Kan aku sudah bilang kalau aku sedang mengurusi ekstrakulikulerku yang mau lomba. Ini saja sudah untung aku mau datang,” ujarnya dengan nada yang hampir sepenuhnya datar. Matanya tidak pernah bertemu langsung dengan mataku. Ia menghindarinya.

“Sebaiknya kita putus,” ucapku pelan mengharap agar ia menolaknya. Awalnya aku hanya ingin meluruskan beberapa hal yang sepertinya sudah jauh dari kata benar. Tapi dengan segala sikap yang ia tunjukkan saat ini membuatku segera mengambil keputusan.

Di luar harapanku ia mengangguk menyetujui sebagai balasan.

Aku hanya bisa menangis mengadu pada Sooyoung yang ikut kelabakan saat aku dengan histerisnya bercerita bagaimana aku dan Kris putus malam itu. “Aku seharusnya tidak mengajaknya bertemu malam itu. Seharusnya aku biarkan saja dia menjalin komunikasi lagi dengan Jessica. Lebih baik aku dibohongi daripada harus putus seperti ini.” Penyesalan yang sangat bodoh.

***

            Aku mencoba menata hati lagi agar tidak terlalu terpengaruh dengan hal yang baru saja terjadi pada hubunganku dengan Kris. Baru setengah aku hampir berhasil, aku merasa goyah lagi. Kris memulai pendekatan lagi seperti yang pernah ia lakukan dulu. Harusnya aku belajar dari pengalaman, tapi dengan naifnya aku menerima semua kata manis itu dengan sangat baik.

Sooyoung sering memarahiku mencoba mengingatkan apa yang pernah Kris lakukan dulu. “Jangan dibalas pesannya. Jangan kamu angkat teleponnya. Biarkan saja walaupun dia mulai mengumbar rayuan gombalnya lagi.” Meskipun aku dengan bebalnya mengabaikan itu semua.

Entah bagaimana hubungan ini mulai berjalan lagi. Semuanya berjalan mulai dari awal kembali seolah tidak pernah ada apapun yang terjadi. Kris masih penuh dengan kata dan perilaku manisnya. Aku masih dengan rona merah dan debaran jantung yang bodoh menerima itu semua.

“Jessica berpacaran dengan anak teman ayahnya,” Tao menjelaskan dengan hati-hati saat aku bercerita padanya kalau aku dan Kris sudah menjalin hubungan kembali. Tanpa dijelaskan pun aku sudah paham apa maksudnya mengatakan itu. Ia curiga bahwa alasan sebenarnya Kris kembali padaku adalah karena Jessica yang sudah tak bisa ia menangkan lagi hatinya. Pada akhirnya aku tetaplah hanya pelarian.

“Biarkan aku menikmati kisah menggelikan yang bodoh ini selama aku masih ingin menjadi lakonnya,” ucapku pelan sambil menyesap kopi hangat yang sudah Tao pesan sebelumnya.

Hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada hal yang terlalu khusus bagiku. Sooyoung masih sering uring-uringan mengingat aku yang dengan sukarela kembali berhubungan dengan Kris. Tao masih setia mendengar cerita picisan milikku setiap harinya dengan raut kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya. Ataupun Kris yang masih terus tanpa lelah mengumbar rayuan manisnya padaku.

Hingga pada suatu hari dimana dengan kebetulan yang luar biasa aku tanpa sengaja melihat Kris yang sedang bercanda begitu serunya dengan Jessica. Tidak terlihat canggung manakala ia mengacak pelan rambut gadis itu dengan gemas. Atau saat Jessica menyandarkan kepalanya di bahu Kris dengan manja.

“Jessica baru saja putus dengan pacarnya. Katanya yang memutuskan waktu itu Jessica,” masih teringat dengan jalas kata-kata Tao dua hari yang lalu. Aku hanya tertawa saat mengingatnya, merasa bodoh. Keledai saja tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama untuk ke dua kali. Lalu bagaimana dengan diriku?

Dengan yakin kuhampiri mereka berdua dengan senyum tipis. Kris menatapku terkejut sedangkan gadis di sampingnya menatapku sinis. “Untuk yang kedua kalinya, aku mau putus denganmu, Kris,” ujarku dengan pasti dan kemudian melangkah pergi. Tidak perlu tahu apa reaksi mereka saat itu.

Kalau aku mengatakan aku baik-baik saja maka aku jelas berbohong. Aku merasakan sakit hati yang rasanya masih hebat meskipun sudah sering kali disakiti. Tapi inilah keputusanku. Hubungan yang sudah putus dan menyambung kembali adalah hubungan yang sudah tidak sehat. Dan kebodohanku serta kebohongannya menambah hubungan ini semakin tak tertolong lagi.

Namun aku berusaha menghibur diri semampuku. Kata Sooyoung dan Tao aku memiliki hati yang tulus dan setia untuk mencintai seseorang seperti Kris. Maka aku akan menyiapkan hatiku untuk seseorang yang akan memberikan ketulusan dan kesetiannya padaku juga.

Biarlah Kris menjadi kesalahan terindah yang pernah kubuat dalam hidupku. Aku tidak akan pernah melupakan ataupun menghapusnya dari hidupku. Segala rasa sakit dan kebahagiaan yang ia torehkan di hatiku akan selalu ku simpan dengan baik di sisi kecil hatiku. Kujadikan pengalaman hidup yang sangat berharga agar aku tak melakukan kesalahan yang sama lagi ke depannya.

8 thoughts on “My Beautiful Agony

  1. ff ini seperti ungkapan curhatan ya..hehe…stiap baca ff ini rasanya bener2 merasakn apa yg dirasakn yoona disni,kris memacari yoona trnya bt pelarian doang karna dia putus dari jesica…?thor lanjut ff ini dong buat kris menyesal apa yg dia lakukan ma yoona,bt dia meraskn apa yg diraskn yoona,q harap pas kris ktmu yoona…yoona udah pnya cwo..?semangat,,,

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s