Hidden Scene [14]

Hidden Scene

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

with

former member of EXO’s, Kris

.

.

.

.

.

Jessica menggigit bibirnya. Ponsel ditelinganya dan kakinya mengetuk lantai tidak sabar. Dia berada di depan resipsionis apartemen Yoona.

Jadi begini, manager pagi pagi sekali datang ke dorm, meminta mereka membangunkan Yoona. Membuat Jessica dan Taeyeon kaget pasalnya, member mereka yang satu itu tidak pulang semalam. Mereka khawatir, tapi mereka meredanya. Yoona memang terkadang suka pergi tanpa izin—well, itu salah satu sifat buruknya. Semua panggilan sudah dilakukan, tapi tidak ada satupun yang dijawab. Kata security digedung SM, artis cantik itu berjalan pulang mencari taksi tadi malam.

Dan percayalah, Jessica khawatir sekali.

Zaman sekarang ini, kejahatan merajalela. Dan Yoona adalah target menyenangkan kejahatan. Dia cantik dan kaya raya. Semua orang mengetahuinya. Bisa bayangkan bentuk kejahatan apa yang bisa menimpanya? Yah, walaupun Jessica tahu Yoona pintar bela diri, tapi tetap saja dia khawatir setengah mati.

“Kau dimana, Yoong?” gumam Jessica.

Biar bagaimanapun juga, Yoona adalah membernya. Yoona adalah adiknya. Jessica bahkan rela meninggalkan schedulenya untuk mencari wanita itu.

“Apa benar dia tidak kesini?” sekali lagi Jessica meragukan perkataan resipsionis. Lelaki muda itu tersenyum, “Tidak Jessica-ssi”

Jessica sebal sekali. Resipsionis itu tidak membiarkan Jessica masuk ke apartemen Yoona. Katanya melanggar aturan. Padahal kan Jessica sedang butuh sekali masuk ke apartemen gadis itu yang sialnya berada di apartemen mewah yang super ketat. Yang lebih sial, dia tidak tahu password apartemen wanita itu.

“Apa kalian yakin?”

“Sudah lama sekali nona Yoona tidak kembali kesini.  Saya pasti tahu jika dia pulang, karena dia selalu menyapa saya” lelaki itu tersenyum menggantung. Orang bilang pribadi Yoona secantik wajahnya, dan itu benar.

Ekspresi wajah Jessica berubah, “Kapan terakhir kali kau melihat Yoona?”

“Sekitar” matanya yang kecil menatap Jessica tajam, dia sedikit ragu, “sebulan yang lalu?”

“Kau bercanda!” pekik Jessica kaget. sebulan yang lalu? Orang ini pasti keliru, Yoona bahkan belum lama bilang pada Taeyeon kalau dia menginap di apartemennya, “Yoona terakhir bilang dia menginap disini sekitar 4 hari yang lalu!”

Lelaki itu tersenyum ramah, “Nona Yoona memang kesini beberapa hari yang lalu” bersama that-so-called-famous EXO Sehun.

“Lalu kenap—“

“Maaf, tapi kami punya peraturan untuk menjaga rahasia klien klien kami jika mereka menginginkannya” karena Im Yoona meminta mereka membuatkan satu kartu untuk temannya, memaksa lelaki itu melewati ketatnya prosedur gedung itu.

Sebelum Jessica sempat protes, Taeyeon menghubunginya, memintanya segera kembali. Wanita itu berdecak kesal dan menudingkan jarinya pada si lelaki, “Rahasia macam apa yang dimiliki Yoona?”

“Maaf, kami tidak bisa mengatakannya”

“Yoona itu adikku. Aku pantas untuk mengetahui apa yang dia sembunyikan disini”

“Tapi nona Yoona menganggap anda tidak pantas untuk mengetahuinya” lelaki itu masih tersenyum ramah, “oh sebagai tambahan, nona Yoona tidak menyembunyikan sesuatu yang berbahaya. Kami pasti langsung mengetahuinya jika iya”

Jika saja Taeyeon tidak merecokinya—menghubunginya berkali kali—Jessica bisa saja mencakar senyum menyebalkan itu.

//

Yoona menatap berkas cahaya yang tersisa di lantai yang dingin. Tatapannya kosong. Itu adalah pagi yang cerah sebelum hujan menghapusnya. Dia memeluk lutut menatap hujan mengguyur kota kelahirannya.

Sekali lagi ponselnya berdering.

Ah, seharusnya dia ada di lokasi shooting saat ini. Tapi dia justru termenung di apartemen Sehun. Manager pasti habis habisan mengomelinya sehabis ini. Taeyeon juga benar benar khawatir, dia mengirimi Yoona banyak pesan yang sama sekali tidak Yoona baca.

Sehun-ie calling

Yoona tersenyum tipis. Dia meraih ponselnya. Menatap lelaki itu yang tersenyum di layarnya. Tatapan Yoona masih kosong. Tapi sudut bibirnya terangkat. Dengan wajahnya sekarang, senyum kecil itu pasti terlihat mengerikan. Dan seperti panggilan panggilan lainnya, Yoona membiarkannya.

Wanita itu menyentuh kaca yang dingin oleh hujan. Tangannya bergerak menuliskan nama Sehun di embun tipis yang menggantung. Diakhir, dia tersenyum lamat dan melingkari nama Sehun dengan gambar hati.

“ITU HANYA TIPUANNYA! SUATU SAAT OPPA AKAN SADAR BAHWA CINTA NYA HANYA ILUSI! KAU ITU CANTIK DAN TIDAK ADA YANG BISA LEPAS DARIMU! OPPA HANYA PERLU BELAJAR UNTUK MELEPASMU BODOH!”

Yoona memudarkan senyumnya. Tangannya menggambar lambang EXO, “Mereka bohong kan Sehun? Mereka hanya mencoba menakutiku ‘ya kan? Sehun mencintaiku. Sehun tidak mungkin seperti itu.”

Tapi diujung kalimatnya, suaranya menggantung dengan keraguan.

“Jika kau melawan Yoona-ssi. Kau akan melihat apa yang akan kami perbuat pada kesayangan kesayanganmu itu”

“Memangnya mereka pikir, mereka itu siapa?” Yoona mendesah, “Seenaknya saja memperlakukanku seperti kemarin” dia menuliskan tanggal dimana Sehun menyatakan cintanya, “Aku pasti akan menemukan mereka dan membayarnya”

Tapi embun menutupi hatinya untuk Sehun.  Perempuan yang dicintai banyak orang itu tersenyum sedih melihat coretan di embunnya, “Aku penasaran reaksi Sehun jika tahu” dia kemudian berdiri, sedikit bergetar di kakinya.

“Apa dia akan memilihku….” kemudian kakinya melangkah, mencapai sebuah figura kedua belas pasang lelaki yang tersenyum cerah di kamera, “Atau mereka” dia duduk di kasur dengan hati yang terluka.

“Sehun…..” tanpa sadar Yoona meneteskan air matanya. Dengan emosi dia membanting figura itu, hingga kacanya pecah. Itu jahat, tapi Yoona tidak peduli, “….pasti memilih mereka kan? Kau tidak mempercayai mereka, tapi kau mencintainya. Bukankah kau munafik Sehun?”  karena Yoona takut untuk mengetahui jawabannya. Ada beberapa hal yang memang diciptakan untuk tidak diberitakan.

Sekali lagi Yoona memeluk lututnya, menangis tersedu sedu disana.

//

Yuri tahu ada yang salah.

Ini sudah dua hari sejak Yoona menghilang. Wanita itu memang tersenyum. Tapi senyum itu bergetar di bibirnya. Yoona memang bersikap biasa, tapi Yuri tahu dia tidak pernah sama lagi. Dua hari yang lalu, Yoona kembali setelah hampir setengah hari dihabiskan mencari keberadaannya. Artis itu kembali dengan wajah pucat dan perban kecil di kepalanya. Membuat semuanya kaget. Tapi Yoona hanya tersenyum dan mengatakan dia menolong seorang tua dijalan yang diganggu oleh pemabuk.  Meskipun Taeyeon memaksa Yoona untuk beristirahat, tetapi dia menolak dan pergi menyusul jadwalnya yang tertinggal.

Tapi siapapun bisa melihatnya, mata itu berbeda.

Hari ini mereka ada jadwal di Jepang. Seperti biasa, bandara penuh dengan para fans. Saat Yuri turun dari Van, dia bingung melihat kerumunan yang sepertinya bukan SONE. Turn out, itu adalah EXO-L. Manager bilang, EXO seharusnya mendarat tidak beberapa lama lagi.

Dan Yoona pun mencengkram erat lengannya. Wanita itu menunduk. Mereka sempat bertemu dengan Suho, Lay dan Sehun diruang tunggu. Taeyeon pun sedang berbicara dengan Suho. Tapi sekali lagi, Yoona mencengkram lengannya, berbisik bahwa mereka harus pergi dari sini. Matanya tidak lepas dari kaca yang membatasi mereka dengan fans diluar.

“Yoona?”

Perempuan itu tersentak kaget saat Suho menepuk bahunya. Dia tersenyum kikuk dan menghindari pandangan Sehun—ya, Yuri menyadarinya.

“Kudengar katanya kemarin kepalamu terbentur ya? Sudah tidak apa?”

Yang mengejutkan adalah ekspresi kaget di wajah Sehun. Memang selintas tapi matanya menatap kekasihnya menuntut. Yoona kemudian menjadi gugup dan seketika Yuri tahu, bahwa Yoona dan Sehun tidak baik baik saja.

“Ah, ya. Tidak apa” jawabnya formal. Kemudian dia meraih lengan Taeyeon, “Bisa kita pergi dari sini? Aku tidak mau ambil resiko apapun dengan mereka”

Yoona tidak pernah seperti itu. Berkata seperti itu seolah menyalahkan member EXO. Yoona menjunjung kesopanan dan jelas, perkataan itu bukan hal yang sopan. Terlebih jika kau menarik leadermu tanpa menunggu jawaban.

Yuri menatap Sehun. Lelaki itu terlihat bingung tapi kemudian dia menatap Yuri seperti biasa, “Yuri noona? Kau tidak kesana?”

Wanita itu tersenyum dan membungkuk, “Maafkan aku atas kelancangan Yoona”

Suho dan Lay tertawa, “Tidak apa. Yoona benar biar bagaimanapun juga. Kami tidak ingin menyebabkan kalian dalam masalah”

Yuri tersenyum sopan dan memperhatikan Sehun yang menatap kosong kedepan. Sampai akhirnya lelaki itu sadar, “Ada apa?”

“Benar tidak ada yang ingin kau katakan?”

Sehun menggeleng dan tertawa kecil, “Memangnya aku harus mengatakan apa?” Yuri mendengus dan memberi salam sebelum berjalan menghentak hentak.

“Pria gila” gerutunya.

//

Oh Sehun berdiri di depan kasurnya dengan datar.

Seingatnya, terakhir kali dia meninggalkan apartemennya, keadaannya tidak semengenaskan ini. Memang, kamarnya tidak terlihat seperti kapal pecah. Tapi jelas, ada yang masuk dan mengacak acak kamarnya.

Sehun merogoh sakunya dan menekan nomer 1—panggilan cepat untuk kekasihnya. Tapi kemudian dia mendesah dan membanting tubuhnya ke kasur. Sekali lagi, Im Yoona mengabaikannya tanpa Sehun tahu alasannya. Dan untuk kesekian kalinya, dia tidak mengangkat satupun panggilannya. Ataupun membalas pesan pesannya.

“Kenapa lagi sih?” gerutunya sebal.

Yang masuk ke apartemennya dan mengacak kamarnya jelas wanita itu. Tidak ada yang punya kartu dan tahu password apartemen Sehun selain dia. Dan mengingat beberapa hari yang lalu katanya Yoona terluka karena menolong seseorang, semuanya menjadi masuk akal. Perban, alcohol, obat merah yang berserakan di meja ruang tamu pun pasti digunakan oleh Yoona.

Sehun mencoba menghubungi Yoona sekali lagi, “Aarrghh! Wanita dan segala tingkahnya!” pada akhirnya dia malah berteriak kesal karena ugh, dia tak perlu mengatakannya kan?

Dia akhirnya bangkit, frustasi dan mengacak ngacak rambutnya gemas. Dia melepas kausnya, air dingin pasti bisa menyegarkan pikiran mumetnya, pikirnya. Tapi kemudian matanya menangkap pigura yang pecah didepan nakasnya.

Sehun menatapnya lama sekali, dan menghela nafasnya. Dia kemudian melepas foto dari pigura yang hancur itu dan meletakannya diatas nakas. Jari jarinya mengetuk foto kesebelas membernya gelisah. Foto foto lain di nakas itu tidak apa apa. Tidak berubah dari posisinya.

Sekali lagi, Oh Sehun hanya bisa menghela nafasnya seraya meraih parka yang tergeletak di lantai. Aroma Yoona menyeruak saat Sehun menciumnya, semakin membuatnya gelisah.

“Sebenarnya ada apa?” gumamnya memandangi baju kekasihnya itu.

//

Kris Wu tahu tidak ada yang lebih baik untuk menyegarkan hari selain Im Yoona.

Setelah hampir seminggu dia gila oleh perasaan bersalah. Setelah kerinduannya pada wanita bermata indah itu menjadi semakin tak tertahankan. Setelah dia harus bertahan untuk tidak berbicara pada Yoona ditengah puluhan fans yang mengawasinya layaknya emas?

Setelah semua penderitaan yang harus ditanggungnya akibat perbuatan bodohnya, melihat Yoona tersenyum padanya menjadi menyenangkan sekali.

Perempuan itu agak sedikit berbeda, samar namun nyata. Tapi dia menjawab sapaan Kris, bertanya bagaimana kabar pria itu dan akhirnya menarik lengan Kris, memasuki ruang latihan kosong dan menatapnya. Right in his eyes.

“Okay, spill out the beans Yifan-ssi”

Dengan wajah cantiknya, tatapan tajam yang diberikan Yoona padanya justru membuatnya terlihat seksi, “Apa maksudmu?”

“Berhenti bermain main” wanita itu mendesah, “Aku tahu kau mengiginkan ini. Just say a word, it feels so awkward everytime I saw you”

Ah, the kiss. Kris sebal sekali mengingat hal itu. Itu mengingatkannya tentang betapa bodohnya ia. Dan ditanya seperti itu oleh wanita yang menjadi korbannya sangat tidak menyenangkan. Kris ingin kabur, tapi dia tidak yakin kapan Yoona akan mau berbicara lagi dengannya. Tapi jika dia tetap berdiri disitu, dia tidak  bisa berkutik melihat tatapan Yoona. Lagipula apa yang akan dikatakannya? He didn’t have anything left in his head except foolishness to face her.

Yoona sendiri akhirnya kesal dengan Kris yang diam seperti patung. Sebenarnya dia tertekan melakukan ini. Moodnya sedang jelek akhir akhir ini dan dia ketakutan setengah mati setiap kali melihat member EXO. Tapi jika dia menuruti itu semua, masalahnya dengan Kris justru akan memperumit keadaan. Dan jelas, Yoona tidak menginginkan itu.

Dia akhirnya mendesah kalah, “I’m off” dan melangkahkan kaki keluar.

“It was an accident” itu Kris yang menghentikannya. Yoona berhenti. Tangannya bergetar di gagang pintu.

“Aku tidak bermaksud seperti itu. I really didn’t meant it. It just…..” Kris berbalik. Menatap punggung Yoona yang membelakanginya. Mencoba mencari kata yang tepat, “…happened”

Tidak ada balasan, “Aku benar benar minta maaf. Kejadiannya sangat cepat. Aku tidak tahu apa yang terjadi. But, I thought every man in my position will do exactly the same thing”

Wanita itu mendesah sinis dan berbalik. Melayangkan tatapan menyakitkan ke Kris, “Exactly the same thing? Oh you mean ‘misunderstanding and abruptly kiss me’?” Dia menggulirkan matanya, “Aku berkali kali berada dalam satu mobil dengan pria, Kris—It just not you. Dan sayangnya, mereka tidak menciumku, everytime I see them right in the eyes”

Skakmat.

Tidak ada yang bisa Kris katakan. Semuanya sangat membingungkan. Kepalanya seperti permainan komedi putar. Tapi dibalik semua itu, terselip amarah dalam dirinya. Wanita ini lebih keras kepala dibandingkan yang dipikirkannya, “Listen, aku tahu aku salah. I’m completely an asshole. Tapi aku benar benar tidak sengaja. You blind me that time. So, maafkan aku, okay? Maafkan aku dan aku bisa tidur nyenyak malam ini”

Yoona kaget. Hey, dia tidak menyangka Kris akan mengatakannya. You blind me . Tapi sekali lagi dia hanya mendengus, “Kris, apa kau…” dia menggantung ucapannya. Memikirkan itu tiba tiba membuat pipinya menghangat, “Did you into me?”

Double skakmat.

Yoona memang cerdas. Bahkan hanya dengan beberapa kata, Kris sudah merasa dirinya ditelanjangi oleh wanita itu. Dia tidak sanggup menatap matanya. Sangat tidak sanggup. Mata yang memancarkan kebenaran itu menakutinya. Kris takut. Tidak, dia belum siap untuk mengungkapkannya.

“You’re pretty, Yoona. It just not like I’m into you, aku hanya bertindak seperti pria normal. Ya, kau menarik tapi hanya sebatas itu” dia melihat tatapan tidak percaya Yoona, “Well, aku pasti sudah gila mengatakan ini padamu…” karena dia tidak sanggup untuk berada disana lebih lama lagi, Kris melangkah dan menundukan kepalanya agar mencapai telinga Yoona, ”I’m kinda high that time”

Kemudian Kris melangkah. Merasa segar dengan udara. Dia tidak peduli disana Yoona mematung dengan muka merah mendengarnya. Tidak peduli dia telah merusak citranya. Well, biar bagaimanapun juga Yoona harus mengerti kalau dia juga seorang lelaki normal.

“Kris” dia mendengar wanita itu memanggilnya. Setelah dia beberapa langkah jauhnya. DIa berhenti, menikmati desir udara saat Yoona melangkah lebih dekat padanya, “Aku memaafkanmu. Kau bisa tidur dengan tenang malam ini”

Dan ketika Kris berbalik untuk melihatnya, senyum Yoona tersisa diudara, sebelum akhirnya wanita itu berbalik, tanpa menoleh lagi.

//

Jessica sangat mengerti kalau Oh Sehun sengaja menghindarinya. Lelaki itu menjadi dingin padanya—meskipun dia selalu seperti itu. Tapi saat Jessica menyapanya, Sehun hanya melempar senyum kecil dan berlalu begitu saja. Saat Jessica memberikan minuman, Sehun menerimanya, tapi dia menemukan botolnya masih utuh. Tidak tersentuh.

Jadi, Jessica bertopang dagu. Memandang pantulan dirinya pada cermin, “Apa salahku?” dia mencoba mengingat ingat. Tapi dia tidak menemukan apapun.

Tapi kemudian dewi fortuna memihak padanya. Salah seorang staff menghampirinya. Mengatakan kalau sudah waktunya Jessica bermain peran. Wanita itu mengangguk dan tersenyum lebar sekali, dia tahu dengan siapa lawan mainnya dalam adegan ini.

“Apa aku berbuat salah padamu?” bisik Jessica. Lelaki itu kini sedang memeluknya dari belakang di sebuah taman bermain. Menyenangkan, kalau dia boleh bilang. Tapi Sehun kembali mengabaikannya.

“Oh Sehun!” panggilnya sebal ketika dia melenggang pergi. Sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun padanya kecuali dari script yang ditulis. Tapi Sehun berhenti, memandang Jessica seolah dia menumpahkan kotoran diatas wajahnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku!” teriaknya sebal. Dia terengah engah dan Oh Sehun memandangnya rendah. Well, Jessica mempunyai harga diri yang tinggi. Meskipun Oh Sehun adalah lelaki yang sangat dia sukai, tetap saja.

Sehun memijat pangkal hidungnya. Dia hampir gila menghadapi wanita yang satu ini. Apa perlakuan dinginnya tidak cukup membuat Jessica jera? Duh, meskipun Yoona dan dirinya sedang ada masalah—dia agak sensi tentang ini karena dia sama sekali tidak tahu apa permasalahannya—Sehun telah berjanji untuk tidak mendekati atau berada terlalu dekat dengan Jessica.

“Apa menjawab pertanyaan tidak penting itu sangat penting bagimu?” Sehun mengutuk dirinya sendiri. Dia tidak suka berkata sekasar itu. Apalagi terhadap wanita. Ayahnya bilang, berbicara kasar pada wanita sama saja menurunkan harga dirinya mentah mentah. Tapi dia sedang moody akhir akhir ini. Dan karena Yoona memintanya, Sehun tidak punya pilihan lain selain menurunkan harga dirinya di depan Jessica.

Di lain sisi, Jessica tertegun. Tatapan Sehun dingin sekali. Dan perkataannya lebih tajam dibandingkan pisau. Wanita itu bergetar di kakinya. Berusaha untuk tidak menangis. “Apa salahku padamu huh? Kau terus bersikap seolah ak—”

“Tidak” sanggah Sehun, “Jangan bilang aku mengabaikanmu, Jessica noona” dia menekan di kata ‘noona’, “Karena aku bahkan tidak pernah merasa menaruh perhatian padamu”

Sehun tahu dia jahat. Sehun tahu dia menyakiti perasaan wanita ini. Tapi jika dengan ini Jessica bisa berhenti merecoki hidupnya, maka Sehun harus melakukannya. “Dengar noona. Aku hanya ingin mempertegas hubungan kita”

Jessica mengerang pelan. Dia tahu bahkan tanpa perlu menunggu Sehun selesai bicara. Dia tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu akan menyakitinya. Dia mengangkat tangannya, meminta Sehun tidak melanjutkan ucapannya, “Tidak perlu. Tak usah. Aku tahu. Aku sangat tahu, Oh Sehun”

“Kalau begitu berhenti mendekatiku” Sehun menaikan suaranya, “Noona, aku adalah Sehun. Aku member EXO. I’m your hoobae. Parahnya, fansku sangat overprotektif. Berada di dekatku terus menerus hanya akan membuatmu dalam masalah” dia menepuk pundak Jessica, “aku tidak ingin itu terjadi padamu, sunbaenim. I’ve got enough problem without you interfere things”

Lelaki itu kemudian berbalik, memunggui Jessica, “Jika kau pintar. Menjauhlah dariku”

Dan pada saat itu Jessica tahu. Cintanya telah ditolak mentah mentah.

//

Dua hari yang lalu, Yoona sengaja tidak datang ke penutupan project KBS, agar dia tidak bertemu dengan Sehun disana. Tapi nyatanya, pria itu kini bersender di dinding kusam, memejamkan mata dengan headset yang menggantung.

“Yoona”

Angin berbisik padanya dengan lembut, menghentikan langkahnya yang ingin turun kembali. Rambutnya berkibar ditiup angina senja. Matanya menatap lelakinya yang termenung. Untuk sejenak, Yoona tenggelam dalam pengamatannya sendiri. Keindahan itu membiusnya. Oh Sehun bagai panah pesona sang dewa. Lelaki itu tampan. Tapi kali ini, dia terlihat rapuh. Aura kesedihannya sangat jelas hingga membuat Yoona takut. Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti itu? Apa yang telah dia lewati? Apa yang tidak dia ketahui?

Dia sedang tidak mood untuk bertemu Sehun. Tapi Sehun memang selalu punya cara untuk membuatnya tetap tinggal. Lelaki itu tersenyum tipis dan membuka matanya, pada akhirnya menatap Yoona yang diam memandangnya.

“Ada apa? Bukankah tadi kau ingin pergi darisini?” Sehun bertanya lembut. Dia melepas headsetnya, melangkah mencapainya.

Yoona tidak ingin menjawab. Dia tidak bisa menjawab. Jadi dia hanya diam seperti orang tolol, “Terkadang, aku tidak bisa memahami apa yang sedang dipikirkan kepala kecil ini” dia menyentuh kening Yoona, mengusapnya pelan. Senyum masih terpatri di wajahnya, enggan menghilang meskipun Yoona tak berminat membalasnya.

“Apa yang sedang dia pikirkan? Apa yang membuatnya tersenyum? Apa yang membuatnya bersedih?” lelaki itu masih setia bermonolog dengan senyumnya yang mematikan, “Apa yang dimilikinya, hingga aku tak bisa berhenti memikirkannya? Daya tarik apa, yang membuatku jatuh tergila gila padanya?”

Dalam orbs cognac itu, Yoona terbelenggu. Dalam heningnya senja, Yoona kembali mengagumi lelaki itu. “Tapi kemudian aku tahu jawabannya” Sehun merengkuh wajahnya dengan tangannya yang kurus dan panjang, “Karena dia adalah Im Yoona” Dan dalam hangat mentari, Yoona membiarkan dirinya dilingkupi debaran itu.

Ciuman itu menggelora. Selembut sutra, semanis madu. Ada keegoisan didalamnya, menuntut dua hati yang merindu. Senja seolah membakar gairah, merubah ciuman itu menjadi lebih berani dan menegangkan.

Kekehan Sehun lolos bagai lonceng yang menggetarkan hati Yoona, menghidupkannya dengan cinta yang nyata, dengan perasaan yang seolah tak mau mati dalam hatinya. “Kau dan hormone hormone nakalmu, akan selalu menjadi musuh besarku”

Yoona tersenyum dan membiarkan tubuhnya meringsut semakin dekat dengan Sehun. Membiarkan detakan yang cepat itu menyatu. Membiarkan semua kerisauan menguap dalam pelukan hangat. Lelaki ini, akan selalu mempunyai tempat dihatinya. Tak peduli betapa menyedihkan dan hancurnya hati itu.

“Dia memang pencuri yang handal. Mencuri hatiku tanpa permisi dan membuatku hampir gila memikirkannya” Sehun mengusap usap punggung Yoona lembut, membiarkan wanita itu memeluknya seerat yang dia bisa. Membiarkan Yoona tahu, bahwa Sehun ada. Tangguh dan mencintainya.

Yoona tak bisa menyembunyikan perasaan itu. Merebak begitu saja dalam setetes air mata. Semua ketakutan yang dia rasakan, semua ketidakberdayaannya, Yoona membiarkannya lepas. Yoona membiarkan dia terisak dengan menyedihkan di bahu kekasihnya.

Yoona tak membiarkan Sehun menatapnya. Dia tak membiarkan lelaki itu tahu betapa hancurnya ia. Betapa semua ini begitu melelahkan. Betapa semua ini membuatnya ingin menyerah.

“Yoona, ada apa denganmu hmm?” Dengan sedikit paksaan, Sehun berhasil melepaskan Yoona dari pelukannya, “Kenapa kau menangis?” dia bertanya dengan bergetar. Ibu jarinya terulur, menyentuh mata Yoona, menghapus derai kesedihan disana.

Yoona membuka mulutnya, meloloskan suara seperti anjing sekarat. Menyedihkan. Hingga ia tak sanggup menatap dalamnya mata itu.

Dan Sehun pun paham. Bahwa ada saat dimana dia harus menutup mulut besarnya. Jadi, dia mengulurkan lengan besarnya dan mendekap Yoona. Memberikan bahunya, untuk wanita yang berharga untuknya.

Membiarkan jejak terakhir mentari, menghangatkan dua hati yang terluka.

//

Jessica termenung kepulan uap yang berdesis tipis dari coklat hangatnya. Jemarinya meraih sendok tipis dan mengaduk aduk cangkirnya tanpa minat. Setiap putaran seperti membawanya ke alam mimpi. Membuatnya semakin terlihat menyedihkan

Dia baru saja patah hati, apalagi yang bisa diharapkan?

Oh Sehun berhasil mencabik cabik hatinya. Setelah dia menurunkan harga dirinya di depan lelaki itu, yang dia dapatkan hanyalah penolakan kasar yang menyakitinya. Siapa sih Oh Sehun itu? Kenapa lelaki itu membuatnya seperti tampak seperti kain rombeng sekarang? Kenapa dia diciptakan untuk berhati dingin? Tidak bisakah Sehun terlahir sehangat matahari? Jessica mendengus. Dia pasti sudah gila sekarang. Memutar mutar sendok dan eyeliner yang luntur karena dia terus terusan menangis. Oh, apa dia sudah terlihat seperti tokoh tokoh di drama picisan sekarang? Dengan make up luntur dan wajah sembab, bertekad untuk menghancurkan pesaingnya.

Tapi Jessica tidak tahu. Dan Jessica tidak semunafik itu. Dia sudah lelah. Jessica ingin berhenti. Dan dia memang harus berhenti

“Jika kau pintar, kau akan menjauhiku”

Cinta memang tidak pernah salah, tapi terkadang cinta tidak tahu diri memilih kepada siapa dia berlabuh. Itulah yang dirasakan Jessica. Dia tidak akan mengatakan perasaannya terhadap Sehun kesalahan. Mencintai lelaki itu, adalah hal terhebat yang bisa Sehun berikan padanya. Tapi Oh Sehun sendiri adalah sebuah kesalahan. Baginya, mencintai Sehun sama beratnya dengan mencintai adik kandungmu sendiri. Oh Sehun terlalu muda untuknya. Oh Sehun terlalu dingin untuknya.

Seharusnya Sehun tidak masuk dunia entertainment, seharusnya Sehun tetap tinggal di rumah megahnya, menghabiskan waktunya dengan pelayan dan uang berlimpah. Bukan melepas semua itu dan bergelut dengan kejamnya dunia ini.

Wanita itu tertawa hambar. Dunia ini, kejam dan mengikatnya. Tapi Jessica tumbuh terbiasa dengan itu. Dia memberikan masa depannya di dunia ini, dan entertainment telah memberikan banyak kepada Jessica. Berada didalamnya, menghabiskan masa remajamu disini, membuat Jessica sudah terbiasa dengan hal hal yang tidak disukai. Tapi Jessica tidak pernah menyangka, kalau hal yang sudah lama dibunuhnya itu, menyerang balik dan meremukkannya.

Entartainment memberinya banyak hal. Tapi entertainment juga lah yang merenggut Sehun darinya. Seandainya tidak ada fans, seandainya tidak ada agensi, Jessica dapat leluasa mendekati Sehun. Tapi hanya untuk bertegur sapa di muka umum saja sudah mengambil resiko yang besar.

Dia harus move on and look forward.

Tidak ada gunanya dia terus bertahan. Disekelilingnya, semua menentang perasaannya. Melanjutkannya hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam lagi. Tidak ada yang dapat dia dapatkan nantinya. Toh, agensi sudah pasti menolak hubungan mereka—Jika Sehun memang punya perasaan pada wanita itu.

Jessica mungkin tampak pengecut, tapi dia tidak mau kehilangan semua yang telah dia bangun. Pengorbanan yang dia berikan. Karir yang dirintisnya dengan susah payah. Dia tidak mau membuang semua itu hanya karena perasaan bodohnya. Tidak.

Lagipula, Jessica tidak berhati jahat. Dia memang terkadang menyebalkan dan cold-hearted. Tapi jauh didalam hatinya, dia tetaplah seorang wanita yang punya perasaan lembut.

Jessica memeluk kedua kakinya dan bersender disana. Air mata kembali mengalir darinya. Apa dia sanggup bertahan kedepannya? Jessica tidak tahu. Tapi saat ini, yang dia inginkan hanyalah menangis sepuasnya dan menatap hari esok seperti biasanya.

Karena Jessica tahu, Oh Sehun sudah benar benar mengalahkannya.

//

09:42

Jam di dashboard mobilnya berkelip kelip. Yoona menghembuskan nafas dengan susah payah. Dengkuran halus terdengar, mengalihkan perhatiaan Yoona dari jam yang entah sudah berapa kalinya dia pelototi beberapa jam terakhir.

Oh Sehun meringkuk tidak nyaman dengan Yoona dipangkuannya. Dari bahunya, Yoona bisa melihat wajah lelaki itu gelisah dalam tidurnya. Yoona mengulas senyum manis, menggerakan jemarinya menelusuri rambut kelam milik kekasihnya. Setelah percintaan mereka yang menggetarkan, Oh Sehun membiarkan Yoona meringkuk di tubuhnya, dan membiarkan hujan mengisi kekosongan itu.

Sekali lagi Yoona menghembuskan nafas berat. Tubuh Sehun hangat, tidak seperti hatinya yang dingin seperti es. Membuat Yoona mampu bertahan ditengah deras hujan yang menurunkan suhu hingga beberapa minus derajat. Tapi besok, Sehun akan menghabiskan harinya yang sudah melelahkan dengan tubuh pegal karena tertidur di mobil sembari memangku Yoona. Dan jelas, Yoona tidak ingin merepotkan Sehun karena itu—meskipun Sehun tidak akan keberatan. Dia bergerak sedikit, mencoba meraih bajunya yang tergeletak di kursi depan. Tapi lengan besar Sehun dipelukannya bergerak, lelaki itu bergumam kecil dan kemudian menjatuhkan kepala besarnya di bahu Yoona.

Sudah hampir 4 jam dia berdiam di mobil setelah tangisan menyedihkannya. Young Bae sudah pasti mengomelinya karena—sekali lagi—pergi tanpa meninggalkan pesan apapun. Memikirkan Young Be harus mengurus jadwal yang dia tinggalkan seenak jidatnya, membuat Yoona merasa bersalah. Rambut halus Sehun menggelitik pipinya dan dia memutuskan mengangkat ponsel yang sedari tadi berkelap kelip.

“Iya, ini aku”

“Im Yoona! Demi tuhan, kau kemana saja? Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila? Mau cari ma—“ Yoona tidak mendengar rentetan pertanyaan managernya karna Sehun kini terjaga, menatap Yoona dengan mata khas bangun tidurnya—later, she found out that it was goddamn sexy.

Yoona tersenyum lembut pada lelaki itu, dan mengecup bibirnya sekilas sebelum menggeser tubuhnya ke jok kulit, membuat Sehun meringis samar karena well—memangku seseorang wanita selama hampir 3 jam cukup membuat pahamu kram.

asdfghjklblablablablabla—“

Young Be oppa” Yoona menarik cardigannya dari kursi depan dan menutupi tubuh telanjangnya “Aku tahu kau pasti dalam masalah karenaku. Aku merasa bersalah dan aku sungguh sungguh minta maaf. Aku akan pulang. Aku tahu ini kekanak kanakan, tapi beberapa hari terakhir terasa sangat berat bagiku. I need healing time” Yoona melirik Sehun yang termenung menatapnya.

Dari sana, Yoona bisa merasakan decakan frustasi Young Be, “Aku tahu kau sedang tidak baik baik saja. Itu sebabnya aku khawatir, perasaanku terus menghantuiku, Yoona” lelaki itu mendesah berat, “It’s okay. You got all the time you’ve been buzzing about. Go home and play or whatever. Just come back to me at 7 as bright as sunshine okay?”

Wanita itu meloloskan kekehan kecil, “Terimakasih oppa. You’re the best”

Yoona menoleh, mendapati Sehun bertopang dagu menatapnya. Lelaki itu tampak polos—dan teknisnya, dia memang polos sekarang—membuat Yoona tertawa dan mengacak rambut pirang kelamnya. “Pakai bajumu, bodoh. Suhu semakin turun!”

Tapi Sehun menarik tangannya yang sedang meraih bajunya yang menyedihkan di jok depan, dan mencium wanita itu dalam. Tangan Sehun yang dingin menekan punggung polosnya, membuat dirinya merapat dalam kehangatan tubuh Sehun.

“Mencuri ciuman pria yang baru saja bangun tidur itu bisa dianggap kejahatan criminal tahu?” dia berkata dengan nada menggoda, “Terlebih setelah beberapa ronde yang cukup panas”

“Ini gila” Yoona mencemooh, melepaskan diri dari Sehun dan melompat ke kursi paling belakang dengan baju ditangannya, “Bercinta didalam mobil, dengan hujan dan suhu yang menyakitkan tulang—aku tak pernah membayangkannya” tapi kemudian dia tertawa keras keras.

“Siapa yang menyangka bahwa bercinta di mobil cukup menyenangkan?” tanya Sehun disela sela tawanya, “We should do it often sweetie”

“In your dreams!” rona merah menjalari pipinya. Dia menunduk dan focus dengan bajunya sementara Sehun yang tidak tahu malu tertawa keras keras. Beberapa menit kemudian, Yoona sudah selesai berpakaian, begitu pula dengan Sehun. Jadi dia kembali ke kursi depan dan duduk manis disamping kemudi.

“Untung saja kaca mobilmu gelap. Jika tidak, mungkin mereka akan tahu seberapa agresifnya si cantik yang mereka puja puja ini” dan Sehun masih belum puas menggodanya.

“Diamlah, sialan” makinya dengan wajah merah padam. Ugh, rasanya dia ingin mati saja kalau ingat.

“Watch your mouth sweetheart. Mulutmu ternyata tidak semanis saat kau mengu—“

“OH SEHUN!” jeritnya

“HAHAHA!”

Yoona bukan wanita yang tergila gila dengan romansa dan segala keriwehannya. Dia tidak butuh beribu kata manis yang berlebihan saat dia sedang galau. Dia hanya perlu menggegam tangan Sehun, dan tertawa seperti tidak ada yang perlu mereka cemaskan. Dia hanya perlu merasakan jemari Sehun mengusapnya lembut, mengirimkan sejuta tegangan listrik di tubuhnya. Dia hanya perlu itu semua.

Karna bagi Yoona, kehadiran Sehun itu sendiri, sudah menjadi obat yang tak tertandingi.

//

Cho Young Be mendesah pelan, mengepulkan asap ke udara yang dingin. Dia mengeratkan mantelnya. Seoul sebentar lagi memasuki musim dingin dan cuaca benar benar tidak bersahabat.

“Young Be, aku duluan ya!” salah seorang staff menyapanya dan berlari keluar menembus derasnya hujan.

“Hati-hati!”

Young Be tersenyum dan meneguk kopi kalengnya. Lama kelamaan senyumnya memudar seiring dengan ingatan beberapa saat yang lalu.

Young Be, kau tahu apa yang harus kau lakukan ‘kan?”

Lelaki itu bersandar pada pintu, menatap background dinding SM Building. Menatap artis artis besar yang terikat dengan perusahaan itu dengan pandangan sendu.

“This is not gonna be easy”

//

Yoona sudah lupa kapan terakhir kali melihat ibunya menangis. Tapi dia rasa itu sudah lama sekali.

30 menit yang lalu, dia baru saja kembali dengan kelelahan bertumpuk dan pikiran yang penat. Ketika ponselnya berbunyi dan Im Yeon Jin dengan suara serak menyuruhnya untuk segera ke St. Mary Seoul Hospital, karena ibunya baru saja mengalami kecelakaan. Membuatnya melupakan tubuh lelahnya dan menginjak pedal gasnya kuat kuat.

Ibunya tidak apa apa. Pergelangan kakinya retak, namun dia baik baik saja. Meskipun begitu, wanita yang telah melahirkannya itu terguncang hebat. Pandangan wanita itu kosong, seolah tidak percaya dirinya baru saja lolos dari tabrakan maut. Dan itu bukan hal bagus. Jantung ibunya bermasalah. Shock therapy adalah hal terakhir yang diinginkan Yoona terjadi padanya.

“Yoona” panggil Yeonjin. Mereka berdiri di depan ruang rawat ibunya. Sementara ayah mereka dan ibu tiri Yoona berada di dalam.

“Pulanglah eonnie. Aku akan menjaga ibu” katanya menepuk pundak kakaknya. Wanita yang lebih tua 2 tahun darinya itu masih menggunakan pakaian kantornya. Wajahnya lelah dan tertekan. Mendengar ibumu nyaris saja terenggut oleh sebuah kecelakaan cukup untuk membuat semua orang frustasi.

Percayalah, sampai sekarang jantung Yoona berdebar debar. Meskipun dokter mengatakan ibunya baik baik saja, rasa khawatir itu ada dalam hatinya, “Aku tidak bisa membayangkannya” gumam Yeonjin.

“Apa?”

“Yoona,” dia menyenderkan tubuhnya ke tembok rumah sakit, “Pernakah kau berpikir jika ibu pergi?”

Yoona diam. Entah karena tubuhnya terlalu lelah, atau memang dia tidak mempunyai jawaban, wajahnya tetap datar. Seolah olah pertanyaan tadi tidak menusuk hatinya. Seolah pertanyaan tersebut tidak menghentikan kerja jantungnya.

“Bagaimana jika ibu tidak selamat tadi?”

Yeonjin tidak dekat dengan ibu seperti Yoona. Bahkan ketika ayah ibunya bercerai, Yeonjin tampak biasa biasa saja. Bahkan Yeonjin mendukung pernikahaan ayah dengan wanita yang dicintainya. Membuat hubungan Yoona dan Yeonjin merenggang. Tapi melihat kakaknya seperti itu, membuat Yoona kembali berpikir. Bahwa Yeonjin tetap menyayangi ibu mereka. Meskipun mereka tidak dekat dan Yeonjin memilih menjadi anak kesayangan ayah dengan menikmati perannya sebagai penerus perusahaan keluarganya.

“Aku tidak tahu” bisik Yoona.

Kakaknya membuka mata dan memegang tangan Yoona, “Dari dulu, kau selalu menjadi anak kesayangan ibu. Apa jadimu tanpa ibu hmm?” kakaknya terkekeh. Tangannya membelai wajah Yoona sayang, “Kau harus belajar untuk rela melepaskan, Yoona. Terkadang, ada hal yang memang tidak bagus untuk terus dipertahankan”

“Apa maksudmu?” sela Yoona marah. Apa salah jika dia mencintai ibunya?

Tapi Yeonjin berkepala dingin. Dia memegang tangan Yoona lebih erat dibanding sebelumnya, “Ibu bertahan di Seoul. Saat pernikahan ayah menyakitinya. Untuk siapa? Untuk engkau. Agar kau punya tempat untuk pulang. Agar kau tetap merasakan kasih sayang ayah dan ibu. Agar ka—“

“Aku tidak mengerti yang kau bicarakan, Im Yeonjin” geramnya. Dia menyentak tangan kakaknya. Dia menyesal sudah mengira Yeonjin menyayangi ibu. Kakaknya masih saja berhati dingin.

“Aku mencoba mengatakan kalau suatu saat ibu akan meninggalkanmu! Kecelakaan ini buktinya, Yoona. Satu kejadian lagi dan jantung ibu tidak akan bertahan!”

“Kau terdengar sinting. Kenapa ka—“

“Noona”

Pertengkaran mereka dipotong oleh seorang remaja laki laki berambut hitam. Badannya menyembul dari pintu rawat inap, “Ayah bilang, ini bukan saat yang baik untuk bertengkar” Adik tirinya kemudian menutup pintu dengan pelan.

Keduanya mendesah. Meskipun begitu, dia masih memandang Yeonjin sengit. Kakaknya kemudian melirik ke dalam kamar, “Ayah dan eomma sebentar lagi mungkin pulang. Berjagalah disini sebentar, aku pulang dulu ”

Dia berjalan hendak meninggalkan Yoona, tapi sang adik memegang lengannya, “Ibu pasti kecewa, melihat anak perempuannya mendukung pernikahan ayah dengan wanita lain”

“Aku mendukung mereka, bukan artinya aku tidak menyayangi ibu, Yoona” dia menepuk pipi Yoona, “Aku juga ketakutan sepertimu. Tapi yang coba kukatakan adalah bahwa ada waktu dimana ibu tidak bisa lagi menopang masalah masalahmu”

“Dan saat itu terjadi. Kau harus siap dan merelakannya”

Dan Yeonjin berlalu. Meninggalkan luka dihati Yoona karena perkataannya.

//

Yifan memperhatikan bayangannya di cermin. Seorang stylist sedang menangani rambutnya. Dia tersenyum tipis. Oh, dirinya memang tampan. Lihat saja bagaimana sempurnanya wajah itu—Tidak ada cacat. Yifan memang terlahir untuk menjadi pria yang diidamkan banyak wanita.

Ugh, tapi tidak dengan wanita itu.

Yifan merengut. Entah tipe seperti apa yang disukai Yoona, tetapi wanita itu terlihat biasa biasa saja. He means, well, every girls will scream and giggling over his perfection, but, Yoona is a mystery. And sometimes, it bother him—a lot.

Well, apa yang dia harapkan? Yoona seperti fans fans diluar sana? Come one, that girl is Im Yoon Ah—Korean Goddess. Banyak lelaki yang menginginkannya, dan sedihnya, Yifan hanyalah sebagian kecil diantara mereka. Oke, dia mungkin lebih besar dibandingkan ‘sebagian kecil’. Tapi mengharapkan Yoona tergila gila padanya adalah pikiran yang kekanak-kanakan.

Seperti yang sudah dia bilang. Wanita itu adalah Im Yoona.

Tapi cinta itu memang menyebalkan. Buta dan membuatnya seperti orang bodoh. Saking bodohnya, Yifan rela mati saat itu juga. Ugh, baiklah, itu berlebihan. Tapi itu yang dirasakannya, saat dia mencium Yoona. Saat dia membuka mata dan melihat tatapan Yoona padanya.

Dosa apa yang dia miliki hingga bertindak sebodoh itu? Meskipun Yoona bilang dia sudah memaafkan Yifan dan melupakan kejadian itu, tapi tentu saja bayangan itu tidak akan pernah hilang dari otak Yifan. Bagaimana bisa? Yifan mempermalukan dirinya sendiri. Bahkan menjatuhkan harga dirinya sebagai ‘pria baik-baik’ dengan mengatakan dia sedang ‘bergairah’ kepada Im Yoona. Oke, Im Yoona. Wanita yang menjadi incarannya. Dan Yifan mengatakannya. MENGATAKANNYA.

“Kris, did you into me?”

Pancaran mata Yoona saat mengatakannya. Dia tidak akan pernah melupakannya. Kebenaran yang menusuk, seolah siap membunuh Yifan kapanpun. Pada saat itu dia tidak bisa merasakan apapun. Dia seperti mati rasa. Mengetahui wanita yang kau sukai curiga akan perasaanmu padanya tidak terdengar bagus. Apalagi jika dia tahu wanita itu tidak membalas perasaannya. Yifan pasti terlihat menyedihkan. Dan dia sangat benci itu. Mungkin Yifan menyangkalnya, mempermalukan dirinya, membuat Yoona percaya itu tidak benar. Tapi Yifan bukan orang bodoh. Dia tahu, Yoona hanya berbelas kasihan padanya. Bahwa Yoona berpura pura mempercayai omong kosong Yifan. Bahwa didalam hatinya, Yifan tahu Yoona memang mengetahui perasaannya.

Ini diluar semua yang dia bayangkan. Ini seperti melihat rencana yang kau susun rapi hancur begitu saja. Dia tidak tahu bagaimana lagi dia harus bertindak. Apa dia harus menyerah? Apa dia harus percaya diri dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya? Tapi apa yang bisa dia harapkan lagi? Bagaimana dia tahu kalau Yoona akan membiarkannya masuk kedalam hidupnya setelah apa yang dia lakukan? Dan yang membuatnya semakin buruk, adalah kenyataan kalau Yoona mengetahui perasaannya. Kenapa terdengar seperti dunia akan kiamat saja bagi Yifan? Karna dia tahu, Yoona mencintai pria lain. Semua yang telah dia katakan pada Yifan, dia sudah tahu kalau pria itu bukan dirinya. Jadi katakan padanya, apa hal terbaik yang sudah dicapainya?

Yifan berlagak seolah Yoona menyukainya. Drama yang terlalu dia hayati hingga membuatnya mencium wanita itu. Tepat saat dia sadar bahwa hati wanita itu milik lelaki lain. Setelah perasaan sepihak itu berhasil membuatnya seperti orang gila, kini, Yoona tahu bahwa Yifan menyukainya. Dan setelah itu semua, Yifan masih berharap Yoona akan bertingkah seperti biasa dan berpura pura bahwa Yifan tidak pernah menjadi sebodoh itu.

Yifan pasti sudah gila.

Wanita di benua manapun pasti akan menjauhi Yifan. Itu adalah insting paling mendasar dari seorang wanita. Saat seseorang menyukaimu, namun kau tidak bisa membalasnya karna kau jatuh cinta pada orang lain. Perasaan mereka yang rumit akan membuat mereka menjauhimu. Berharap bahwa ketidakhadiran mereka dapat menekan perasaan lelaki malang itu. Berharap itu dapat menjaga perasaan lelaki itu. Dan Yifan yakin, Yoona akan melakukan exactly the same thing. She’s a girl after all.

Dia mungkin bisa berharap lelaki yang disukai Yoona tidak membalas perasaan wanita itu. Sehingga Yoona akan berpaling padanya, dan belajar untuk mencintai Yifan. Hal seperti itu memang selalu ada di dunia. But for god sake, sekali lagi, wanita itu adalah Im Yoona. Pria bodoh macam apa yang menolak perasaan wanita secantik dia? Wanita selembut dia? Wanita sebaik dia? Oke, mungkin ada pria yang semacam itu. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Tapi sekali lagi, dia harus mengingat tatapan Yoona saat itu. Seolah olah mata wanita itu sudah mengeluarkan vonisnya untuk Yifan. Bahwa Yifan perlu dijauhi, untuk menjaga perasaan lelaki itu. Yoona mungkin bersikap biasa tapi Yifan tahu mereka tidak akan pernah sama lagi.

Ya tuhan, Yifan tidak pernah menyangka hidupnya akan semenyedihkan ini.

//

”Tidak ada anak yang tidak menyayangi ibunya, noona”

Yoona mendesah, tangannya memilin untaian rambut coklatnya, “Aku tahu. Tapi, dia bersikap seperti orang tidak punya hati”

Don’t judge people by it’s cover. Bukankah itu yang selalu kau katakan?”

Yoona terdiam. Dia melirik ibunya yang tertidur di ranjang. Ini nyaris pukul setengah 2 pagi ketika dia memutuskan untuk menelpon Sehun. Lelaki itu masih terdengar mengantuk, tapi dia setia mendengar cerita Yoona.

Yang Sehun katakan benar. Meskipun hubungan Yoona dan Yeonjin buruk dan Yeonjin sering sekali mencela keputusannya untuk menjadi artis. Didalam hatinya, Yoona tahu kakaknya menyayanginya. Juga menyayangi ibu mereka. Tapi Yoona tidak habis pikir kenapa Yeonjin mendukung pernikahan ayah dan ibu tirinya. Ibu tiri Yoona—Ny. Im, memang wanita yang baik. Wanita itu merawat Yoona dan Yeonjin semenjak perceraian dan selalu mengundang ibunya, setiap kali Yoona menangis merindukannya. Yoona menyayangi Ny. Im dan dia bersyukur bahwa ada wanita yang menjaga ayah di masa tuanya. Tapi, keputusan ayahnya untuk mencampakan ibu dan menceraikannya adalah hal yang tidak akan pernah Yoona terima. Melihat ibunya tersakit, melihat ibunya terluka diatas kebahagian ayah, juga menyakiti Yoona.

“Aku tahu” Yoona mengelus rambut Yoo Jun, yang tertidur di pangkuan Yoona, “Aku hanya tidak mengerti, kenapa Yeonjin bersikap seperti kutu menyebalkan”

Lelaki itu terdiam cukup lama, membuat Yoona mengerutkan keningnya, “Sehunie?”

“Yoona” kali ini dia terdengar serius, “Sebenarnya kau hanya takut kan?” dia bisa merasakan Sehun menarik nafas dalam, “Kau takut yang dikatakan Yeonjin noona benar”

“What is that supposed to mean?”

“Kau takut menerima kenyataan kalau ibu-mu, mungkin tidak akan selamanya disisimu. Kau takut, kalau jantungnya akan mengalahkannya. Kau takut untuk kembali ke ayahmu, benar kan?”

///

Okay, aing tak tau kalau masih ada yang nungguin cerita ini.

Dan untuk kalian yang masih nungguin dan inget cerita ini…….thankyou very much. Sungguh, aku tak dapat berkata kata. Like i said in the previous chapter, i dont know when and how im gonna finish this absurd fanfiction. Tapi aku akan selesain ini, pasti. Although, the struggle is real bruh

Btw, taun ini gua kelas 12 hahahahamampuslofebhahaha.

So, drop your comment below okay? I know this chapter is kind of messed up. Sorry about that.

aressa

p.s. happy fasting for those who celebrated it!

 

 

84 thoughts on “Hidden Scene [14]

  1. Yoong eonni knpa g crita klo diserang fans sehun sih
    Jdi ksian deh liat yoong mnderita sndiri… tpi kbar baiknya sehun akhirnya nolak jessica Skrg tinggal nunggu kai yuri bisa tau rahasia yoona sehun..

  2. Setelah lama ga buka yoongexo dan pas buka langsung cek aressa akhirnya kamu update 3 chapter… Lama banget aku nungguin tapi ga apa apa ceritanya makin gereget aku makin sukaaa.. Btw yang yoonhun di mobil aku ga bisa berenti senyum aku bener imagine kalo mereka di real life kaya gituuuu huwaaaa bener bener yoonhun ituuuu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s