Oh!

re-oh-t.png

OH!

“ oh sehun is actually warmer than hot chocolate. “

by twodeers

starring

Girls’ Generation’s Yoona X EXO’s Sehun

Genre; School life, Romance, doki-doki moments, Joohyun and Jongin being lovebird, and Yoona’s overreaction to Sehun’s cold yet unpredictable behaviour.

Credit poster goes to here

a/n:

HAI HAI HAI HAIIIIIII!!!!!!! Yaampun yoongexo fellas apa kabar T__T wp ini udah jamuran banget apalagi wp aku juga penuh sarang laba-laba dimana-mana huhuhu T___T

Fanfiction kali ini sebenernya hasil request buat Fania (are you still alive? maaf lama banget T__T) dari project Fanfiction Requestnya YoongEXO. Fanfic ini udah jamuran selama hampir setaun di laptop yang inii, aku udah pengen ngupload dari lama tapi gasempet terus T__T

Kalau ditanya ‘Author kemana aja selama ini?’

Jawabannya:

Belajar!!! HAHAHAHAHAHA gadeng. etapiiyadeng. persiapan buat sbm, buat nyari kampus apalagi buat un kemarin hadeuh ga gampang ternyata sob😦

Sip deh, enjoy reading guys!!!

///

Yoona suka Sehun.

Oh Sehun yang kulitnya pucat, dengan garis wajah yang tegas dan sepasang bola mata hitam gelap yang dalam. Oh Sehun yang berada satu tingkat diatas Yoona, yang digandrungi hampir seluruh perempuan seantero sekolah. Oh Sehun yang ikut klub basket bersama Park Chanyeol dan klub menari bersama Kim Jongin sahabatnya. Oh Sehun yang suka memilih menu B dengan fried shrimp di kafetaria dan memberikan jatah pudingnya pada Byun Baekhyun.

Yoona suka Sehun, sih, tapi pria itu terlalu dingin.

Joohyun selalu memarahi Yoona setiap kali gadis itu tersenyum sendiri saat memikirkan Sehun, apalagi kalau Yoona mencoba keberuntungannya lagi dengan mendekati Sehun; seperti saat ini.

“Pudingnya untukku saja, sunbae.”

Sehun berhenti mengunyah dan mengangkat kepalanya. Yoona tersenyum lebar dan menyorongkan tempat makan siangnya. “Sunbae tidak suka pudingnya, ‘kan?” tanya Yoona, tapi lebih terdengar seperti pernyataan karena percaya diri yang terlihat jelas di wajahnya. “Aku sangat suka puding. Bukankah kita saling melengkapi?”

Joohyun menyesali ajakkan pacarnya—Kim Jongin untuk makan siang di kafetaria berempat. Seperti yang ia duga, Yoona kembali meluncurkan berbagai cara untuk meluluhkan Sehun si Dingin. Joohyun mengurut keningnya kesal sementara Jongin menikmati bagaimana emosi Sehun yang terlihat jelas di wajahnya naik turun menghadapi gadis bermata bulat dihadapannya.

“Ini untuk Baekhyun.”

Yoona menggeleng. “Baekhyun sunbae sudah punya 2 puding.” Potong Yoona cepat.

Joohyun mendengus. “Yoona memberikan puding bagiannya pada Baekhyun.”

Yoona melirik Joohyun dengan tatapan ‘jangan-katakan-itu’, membuat gadis itu membalasnya dengan menjulurkan lidah. Rasakan.

Jongin terkekeh. “Berikan saja, Sehun. Lagipula itu hanya puding, ‘kan.” Bujuk Jongin, agak kasihan melihat perjuangan Yoona yang kemungkinan besar (re: pasti) akan berakhir sia-sia.

Yoona tersenyum lebar saat melihat Jongin menyetujui perkataannya. “Ayolah, sunbae…. please? Please?” pinta Yoona memelas dengan kedua tangan dikatupkan didepan wajahnya.

Ada kerutan di kening Sehun. Whoops. Yoona sudah tahu apa artinya itu.

“Berisik.” Hardik Sehun dengan nada kesal, lalu bangkit berdiri dan mengambil puding sisanya.

Jongin mengangkat kedua bahunya. “Aku harus pergi, babe. See you after school.” Gumam Jongin lembut seraya mendaratkan kecupan singkat di kening Joohyun. Jongin menoleh ke arah Yoona. “Ganbatte, Yoong!”

Jongin bangkit dan menyusul Sehun, pria itu merangkulkan lengannya secara kasual di leher sahabatnya.

Yoona menggeserkan tubuhnya mendekati Joohyun lalu menghela napas. “Padahal aku cuma ingin pudingnya.” Gerutunya sebal.

Joohyun memutar kedua bola matanya. “Tentu saja dia kesal, Yoong. Ini kan bukan pertama kalinya kau memohon-mohon meminta pudingnya.” Ujar Joohyun. “Sebaiknya kau tidak terlalu agresif, Yoong. Sehun mau menerima ajakkan Jongin untuk makan berempat saja sudah bagus. Bagaimana kalau nanti dia kesal dan tak mau makan bersama lagi?”

Yoona mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam. “i guess i should try harder again next time!” ucapnya.

Pandangan Yoona dan Joohyun mengikuti sosok Sehun dan Jongin yang hampir keluar dari kafetaria. Tanpa melihat, Sehun melemparkan puding tadi ke dalam kotak sampah, membuat Jongin tertawa dan memukul bahunya sambil berteriak ‘itu buang-buang makanan namanya, bodoh’ yang membuat seisi kafetaria menatap mereka bingung.

Joohyun meringis. “Or not.”

///

Biologi!

Biologi ada di daftar ke-5 hal yang paling disukai oleh Yoona, dengan Sehun di urutan pertama tentunya. Yoona suka sekali Biologi. Memandangi bakteri dari mikroskop, memahami proses pembelahan sel, proses reproduksi pada tumbuhan, dan Yoona paling suka bab Genetika. Biologi sangat menantang, dan Yoona suka hal yang menantang.

Sama seperti Sehun.

“….saat keluar dari tempat karaoke, seorang pria tua mabuk langsung menarik tangan Baekhyun dan mengira ia perempuan!”

Walau dari Jauh, Yoona bisa mendengar suara tawa Chanyeol yang khas, dilanjutkan oleh suara cempreng Baekhyun yang membalas perkataan sahabatnya. Suara Jongin yang kencang juga bisa tertangkap oleh pendengaran Yoona. Ada Chanyeol, Baekhyun, Jongin, jadi pasti ada……

“Sehun sunbae!”

Yoona menghampiri kerumunan Sehun setengah berlari sambil memeluk buku cetak biologi dalam dekapannya. Gadis itu berbelok di korridor dan ia bertemu dengan wajah keempat kakak kelasnya yang terkejut.

“Yoona?” Jongin pertama kali angkat bicara dengan raut wajah bingung. “Ada perlu apa di gedung kelas 11?”

Yoona membungkuk pada keempatnya lalu tersenyum lebar. “Aku diminta mempersiapkan alat-alat di laboratorium Biologi oleh Nam saem.” Balasnya.

“Ah, laboratorium Biologi milik kelas 11 belum diperbaiki?” tanya Baekhyun yang langsung dijawab anggukkan dari Yoona. “Baguslah, aku juga ingin melihat wajah Son Naeun yang katanya paling cantik seangkatan kalian. Apa kalian sekelas?”

Yoona mengangguk. “Apa sunbae ingin aku mengenalkan sunbae pada Naeun?” tawar Yoona yang membuat Baekhyun mengangguk cepat.

Chanyeol tersenyum lebar dan tampak antusias. “Aku juga, aku juga! Bisa kenalkan aku pada Yoon Bomi?”

“Tentu!” balas Yoona tak kalah antusias. “Aku punya tiket bioskop untuk sabtu ini, sunbae bisa mengajaknya nonton bioskop bersama.”

“Benarkah?!”

Jongin menepuk pundak Chanyeol dan tertawa. “Chill, dude. Kau malah akan menakutinya kalau seperti itu.” Canda Jongin.

Baekhyun menoleh pada Yoona dan tersenyum ramah. “Sebagai gantinya, apa yang kau mau?” tanya Baekhyun. “Ah, apa kau mau kami membantumu menyiapkan praktek Biologi?”

Chanyeol mengernyit. “Hey, kita ada kelas Sejarah setelah ini.” Ujarnya, mengingatkan Baekhyun pada Ahn saem yang terkenal killer.

Sehun melepas rangkulan Jongin pada lehernya dan melirik ketiga sahabatnya. “Aku duluan ke kelas.” Pamitnya singkat.

“Hey, Oh Sehun!” seru Baekhyun saat Sehun semakin menjauh. “Tck, bocah sialan itu tidak tahu tata krama sama sekali.”

“Aku juga harus pergi. Aku harus memberikan pengumuman tentang anggota tim inti klub basket ke kelas 10 dan 11.” Ujar Jongin lalu mengikuti arah perginya Sehun tadi.

Baekhyun menjentikkan jarinya di udara. “aha! Aku punya ide!” serunya dengan senyum penuh arti dan bola matanya yang berkilat senang.

Chanyeol tidak begitu mendengar apa yang dibisikkan Baekhyun pada Yoona, tapi apapun itu, Sehun pasti tidak akan senang mendengarnya.

///

Shoot!

Sehun mengangkat sudut bibirnya dan tampak puas setelah berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring dari luar garis three point. Perlahan-lahan, pria itu berusaha memecahkan rekornya sendiri. Sebenarnya kalau dibilang passion, Sehun tidak akan menyebutkan basket pertama kali. Basket hanyalah…… apa sebutannya? Selingan? Sehun sendiri sebenarnya tidak terlalu suka berlarian dibawah terik matahari, diiringi sorakan riuh rendah para penonton dan baju yang basah karena keringat.

Sehun tidak benci pada panas—damn it, dia bukan banci. Tapi ada hal lain yang Sehun lebih sukai.

Sunbae!”

Sehun menoleh cepat. Uh-oh, tidak lagi, batinnya dalam hati.

Yoona berdiri dihadapannya dengan botol minuman isotonik dan handuk kecil di tangannya.”Ini minuman dan handuknya!” Ucap Yoona riang dengan senyum lebar di wajahnya.

Sehun menatap Yoona dari ekor matanya lalu berjalan melewati gadis itu. “Berisik.”

Yoona mengernyitkan keningnya dan mengikuti langkah Sehun yang besar. “Sunbae, apa sunbae selalu pulang selarut ini? Apa orangtua sunbae tidak marah? Sunbae pulang naik bus, ‘kan? Apa rumah sunbae jauh dari sini?”

Sehun mengernyitkan keningnya dan menghentikan langkahnya. “Kenapa kau menanyakan hal itu terus?” tanyanya, kesal.

Yoona tersenyum lebar melihat Sehun yang akhirnya bereaksi padanya. “Karena lebih seru mendengarnya langsung daripada dari orang lain, sunbae! Kalau sunbae menceritakan semuanya langsung padaku, aku jadi merasa lebih dekat dengan sunbae!” serunya riang.

Sehun kali ini menoleh dan membuat wajahnya hanya berjarak setengah jengkal dengan Yoona. Wajah Sehun tak tampak jelas karena pencahayaan yang remang-remang, sehingga Yoona tidak bisa memahami ekspresinya. Tapi Yoona menahan nafasnya saat menyadari nafas hangat Sehun sangat dekat dengan mukanya.

Kedua alis tebalnya yang sering kali mengernyit, bola mata hitam pekatnya yang tak menunjukkan emosi apapun, dan…. bibirnya. God, how Yoona wishes to kiss that lips so bad.

“Apa kau menyukaiku?”

Suara berat Sehun terdengar sangat jelas di kedua telinga Yoona, membuat gadis itu menelan ludahnya.

S-s-sunbae! Aku… aku membuatkan sandwich!” Yoona memundurkan langkahnya kebelakang, dan menyodorkan kotak bekal pada Sehun.

Sehun tersenyum miring melihat reaksi Yoona. Gadis itu lucu sekali. Pipinya langsung semerah tomat dan kedua mata besarnya makin membulat. Bibirnya menganga lebar dan Yoona terlihat makin imut, membuat Sehun ingin mencubit kedua pipinya. Tunggu—apa?

“I-ini sandwich daging dan sayur…” Yoona membuka tutup kotak bekal tadi dan Sehun bisa melihat deretan sandwich dengan daging sapi dan sayur diatasnya. “Aku sudah menunggu sunbae sedari tadi, jadi sandwich-nya sudah agak dingin.”

Sehun mengernyitkan keningnya. Gadis ini menungguku dari sore hingga malam disaat cuaca sedingin ini, tanpa mengenakan jaket? Apa dia gila? Apa yang ada di pikirannya? Kenapa dia mau melakukan ini?

“Kau….”

“Ah, sunbae sudah mau pulang, kan?” Yoona melirik jam ditangannya, 20:09, yang berarti sudah terlalu larut bagi keduanya untuk ada di lapangan sekolah. “Bagaimana kalau sunbae makan ini sambil berjalan pulang? Akan aku temani! Sunbae pasti takut berjalan sendiri, kan?”

Sehun mendengus, tapi akhirnya berjalan dengan Yoona yang tampak kegirangan disampingnya. “ “Memangnya boleh makan sambil jalan?”

Yoona menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Eh iya….” gumamnya setengah malu. “Kalau begitu kita makan nanti…”

“Aku lapar…..” Sehun melirik Yoona dari ekor matanya. “Sekarang.”

Senyum Yoona terkembang lebar. “Cobalah, sunbae! Tidak terlalu enak sih, tapi kata Joohyun tadi sandwich lumayan layak dimakan.”

Lumayan layak dimakan? LUMAYAN? Sehun tampak ragu. Sandwich dihadapannya memang menggoda perut Sehun yang kosong sejak tadi sore. Lagipula mubazir membuang makanan kan?

Tangan Sehun mencomot salah satu sandwich itu dan mengunyahnya. Yoona mengikuti setiap gerakan Sehun tanpa melepaskan pandangannya sekalipun. Seketika jantung gadis itu berdegup cepat melihat Sehun mencoba makanan buatannya. Seorang Oh Sehun, mencoba makanan buatannya. MAKANAN BUATAN IM YOONA. Ya Tuhan, Yoona harus menceritakan ini pada Joohyun. Pasti gadis itu akan sama terkejutnya dengan Yoona.

“B-bagaimana,” tanya Yoona dengan nada bergetar, “Sunbae?”

Sehun mengunyah sandwich di mulutnya sekali lagi lalu menelannya. “Tidak buruk.” Gumam Sehun tanpa menatap Yoona sekalipun.

Tidak buruk.

Yoona menahan teriakan dalam hatinya. Sehun bilang sandwich buatannya tidak buruk!!!!!! Masih jauh dari kata ‘enak sekali’ sih—tapi kurcaci-kurcaci kecil dalam hati Yoona sudah jingkrak kesenangan. Bayangkan, saat pulang sekolah tempat pertama yang didatanginya adalah dapur di rumahnya. Setelah 2 panci gosong dan 17 potong sandwich gagal (yang semuanya dicoba Joohyun dan membuat gadis itu bolak balik WC), akhirnya Yoona bisa memberikan 5 potong sandwich yang baik pada Sehun. Itupun akhirnya dengan bantuan Ibu Joohyun yang sedang mampir disana.

Sunbae naik bus yang mana?” tanya Yoona begitu keduanya sudah sampai di halte bus yang sepi. Tak banyak orang disana, apalagi lampu disekitar halte itu lumayan redup. Yoona bergidik. Kalau tidak ada Sehun, pasti ia sudah kencing di celana.

Sehun melirik Yoona sedikit. “Kau naik yang mana?”

Yoona tersenyum lebar. “Bus-ku ke arah pertokoan!” seru Yoona sambil menunjuk sebelah kanannya. “Kalau sunbae?”

Sehun mengangguk. “Kita searah.”

Rumah Sehun searah dengan Yoona! Satu lagi hal yang harus Yoona catat dalam daftar ‘everything i know about Oh Sehun’ versi Im Yoona.

Bus yang dimaksud Yoona telah datang, dan Sehun masuk duluan kesana. Yoona tak bisa menahan senyumnya dan mengikuti langkah Sehun. Keduanya duduk di kursi paling belakang, dengan Sehun yang duduk di bagian jendela.

Sunbae, apa hal yang sunbae sukai?” tanya Yoona.

Sehun melemparkan pandangan keluar jalan, namun Yoona dapat melihat wajahnya lewat jendela. “Apanya?”

“Apa saja! Misalnya, makanan, minuman, tempat kesukaan, atau…. hewan peliharaan kesukaan! Ah iya sunbae, aku memelihara 2 ekor anjing pom pom di rumah dan 3 ekor ayam! Totalnya jadi 10 hewan karena anak-anak ayamnya baru saja menetas!” jelas Yoona panjang lebar. “Rumahku jadi ramai sekali!”

“Bintang.”

Yoona mengernyit lalu mencondongkan tubuhnya ke arah jendela, mencoba menatap langit. “Tidak ada bintang sama sekali, sunbae. Langitnya berawan.” Ucap Yoona bingung.

Sehun menahan nafasnya saat menoleh. Sangat dekat! Sehun bisa mencium wangi sampo strawberry dari rambut Yoona. Kenapa gadis ini bisa memakai sampo dengan wangi kesukaannya? Dan…. Sehun baru menyadari satu hal. Yoona itu tidak jelek. Bola matanya bulat besar, pipinya tidak terlalu tembam tapi sangat merona. Hidungnya mungil dan bibirnya selalu membentuk lengkungan yang menghangatkan hati siapapun juga. Demi Tuhan, gadis ini sangat…..

“Sunbae?”

Sehun tersadar dari lamunannya dan buru-buru mendeham, lalu memalingkan wajahnya agar tidak bertemu dengan wajah Yoona. “Bintang. Aku suka melihat bintang.”

Bola mata Yoona berkilat bahagia. “Benarkah?! Aku tidak menyangka sunbae akan suka bintang…”

Sehun melirik Yoona datar. “Karena aku terlalu muram?”

Yoona menggeleng cepat. “Bukan!!! Maksudku, biasanya orang-orang yang rupawan takkan menyukai benda yang berkilau dan cantik karena takut tersaingi, tapi aku heran pada sunbae. Sunbae sudah sangat indah dan bersinar, kenapa suka juga pada sesuatu yang sama indahnya seperti sunbae?”

Deg. Wait—apa itu barusan? Apa seorang Oh Sehun baru saja berdebar karena Im Yoona menyamakannya dengan bintang? Huh, menyamakannya dengan batuan yang sudah mati ribuan tahun lalu itu, memangnya itu romantis? Sedikit, sih. Si Yoona ini pandai bicara juga.

“Ngawur.” Gumam Sehun ketus.

Yoona terkekeh pelan. “Bagaimana dengan makanan kesukaan sunbae?”

Sehun kembali mengambil sandwich dari kotak bekal yang dipegang Yoona. “Sup rumput laut.”

“Aku juga suka! Saat ulang tahun aku bisa makan banyaaaak sekali sup rumput laut!” seru Yoona girang. “Lalu apa hewan kesukaan sunbae?”

Sehun tampak berpikir sejenak sambil mengunyah sandwich di mulutnya. “Mungkin penguin.”

“Penguin?” Yoona terkekeh. “Memangnya sunbae pernah melihat penguin secara langsung di kutub utara?”

Sehun menatap Yoona kesal, tak terima melihat tawa Yoona yang seolah mengejeknya. “Kau sendiri, apa binatang kesukaanmu?”

“Kupu-kupu!”

Sehun tersenyum miring. “Tipikal gadis SMA sekali.”

Yoona mengerucutkan bibir bawahnya kesal. “Tapi mereka memang cantik kok! Aku malah lebih suka kupu-kupu daripada penguin.”

“Tentu saja.” Balas Sehun. “Keduanya kan berbeda jauh, bodoh.”

“Tapi tetap saja!” seru Yoona lalu menjulurkan lidahnya dan tertawa.

Sehun memaki jantungnya yang berdegup cepat. Mungkin ia harus ke dokter besok. Hari ini entah berapa kali Sehun mendapati Sehunnya berdetak lebih kencang tanpa seijinnya (ya tentu saja, Oh Sehun, pernah belajar Biologi tidak sih?). Apa ini karena Yoona? Sehun menggeleng cepat.

“Ah, aku turun disini.” Gumam Yoona saat bus mereka berhenti dan beberapa orang keluar darisana. “Apa sunbae turun disini?”

Sehun tampak berpikir sebentar. Ia bahkan sudah naik bus yang berlawanan dengan rumahnya, telat sebentar tidak apa-apa, kan?

“Aku ada urusan didekat sini.” Gumam Sehun.

Yoona tampak girang saat tahu Sehun ternyata turun di halte yang sama dengannya. Keduanya turun dari bus tadi, dan Yoona tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya.

Sehun mengernyit. “Kenapa wajahmu?”

Yoona menoleh ke arah Sehun lalu tersenyum lebar. “Aku senang sekali, sunbae! Aku tidak menyangka kita naik bus dan turun di halte yang sama. Berarti mulai sekarang kita bisa pergi dan pulang sekolah bareng, kan?”

Sehun tercekat. Ugh. “Sebenarnya mulai sekarang aku berencana naik sepeda ke sekolah.”

“Oh ya?” Yoona tersenyum lebar. “Pas sekali! Kakakku baru memberikanku sepeda kemarin, tapi aku bingung kapan mau memakainya. Bagaimana kalau kita pergi ke sekolah dengan sepeda bersama-sama?”

Sehun mempertimbangkan tawaran Yoona sejenak. Sebenarnya ia tidak apa-apa sih kalau pergi dan pulang sekolah menggunakan sepeda. Pria itu melirik Yoona yang tampak tak sabar menunggu jawabannya.

“Baiklah.”

Yoona hampir saja menjerit kegirangan ditengah jalan, kalau saja ia tidak menutup mulutnya dengan cepat. Mulai besok ia pergi dan pulang sekolah dengan Sehun sunbae!

Sunbae, aku pulang lewat sini.” Yoona menunjuk salah satu gang luas yang sepi. “Sampai jumpa besok, sunbae!”

Sehun mengernyitkan keningnya. Gang itu sangat sepi, apalagi cahayanya hanya remang-remang. Bagaimana kalau Yoona diculik? Bagaimana kalau Yoona dibunuh? Bagaimana kalau organnya diambil lalu dijual di black market? Bagaimana kalau ia jadi sandera gangster sekitar sana? Polisi pasti akan menginterogasi dan bahkan menuduh Sehun sebagai tersangka utamanya, kan?

“Aku ikut denganmu.”

Sehun tak dapat menahan senyumnya begitu ia melihat Yoona mematung di tempatnya dan berjingkrak kegirangan. Pria itu mengikuti langkah Yoona dan tersenyum tipis. Ini juga demi dirinya, kan?

///

“Wajahmu menyebalkan sekali.”

Yoona menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan menoleh pada Joohyun. “Benarkah?”

Joohyun menggeleng lalu kembali berjalan dalam antrian kafetaria dengan Yoona didepannya. Sejak pagi tadi mereka bertemu di kelas, Yoona sudah menceritakan bagaimana tadi pagi ia dan Sehun mengendarai sepeda sama-sama ke sekolah (walau ada jarak 1,5 meter diantara mereka). Joohyun dan yang lainnya hanya bisa menganga saat Yoona menceritakan kejadian kemarin dengan senyum seperti orang bodoh.

Joohyun menghela napas. Bahkan sejak Yoona—sepupu jauh Joohyun pindah ke sekolah mereka dan bertemu Sehun (karena Joohyun dan Jongin, tentunya), Joohyun tidak mengerti apa yang Yoona sukai darinya. Sehun lumayan tampan sih—tapi lebih tampan my cutie patootie Jongin baby boo, batin Joohyun—Joohyun tidak habis pikir. Bahkan setelah dipukul mundur beberapa kali, Yoona tetap mendekati Sehun seperti anjing yang setia.

Bukan hanya Yoona, banyak gadis yang telah disingkirkan oleh Oh Sehun satu persatu dari hadapannya. Joohyun dan yang lainnya mengakui, kalau Yoona adalah seorang yang gentar – atau dalam kata lain; bodoh.

Yoona seperti tidak punya malu. Bahkan saat Oh Sehun sudah menghardiknya dengan dingin, tidak menghiraukan keberadaannya, dan ratusan cara lainnya, tapi Yoona tetap tersenyum dan memanggil ‘Sehun sunbae!’ dengan nada kegirangan; seperti saat ini.

“Sehun sunbae!” seru Yoona dari antrian kafetarianya, membuat seluruh penghuni kafetaria pada jam makan siang itu menatapnya aneh.

“Joohyun-ah, ini pudingku, jangan bilang kalau aku yang memberikannya!” Yoona mengoper puding dari makan siangnya pada Joohyun, “Aku akan ke Sehun sunbae dulu!”

Joohyun tersenyum tipis lalu menghela napas. She is not the strong Im Yoona for nothing, afterall.

///

Jongin bertukar pandang dengan Joohyun. Apa ia sedang bermimpi sekarang?

Sunbae, kenapa kacang polongnya tidak makan? Sunbae tidak suka?”

“Suka, kok. Kusisakan untuk nanti.”

“Bohong! Pasti sunbae tidak bisa makan sayur, ‘kan? ‘kan?”

“Ini ku makan kok.”

Jongin merasa telinganya tersumbat sesuatu sekarang. Apa ia tidak salah dengar? Seorang Oh Sehun—si pria bermuka dingin dengan hati sekeras batu yang sangat tidak ramah baru saja bercakap-cakap dengan Im Yoona? Dan—apa ini? Apa Yoona baru mengajak Sehun bercanda? Apa Sehun menerimanya begitu saja?

Joohyun yang duduk didepan Jongin memberinya tatapan ‘aku juga masih sulit memahaminya tapi akan kujelaskan nanti’. Tapi Jongin tidak mau menunggu istirahat selesai sampai mendengar a once-in-a-blue-moon-like event yang seperti ini.

“Jadi?” Jongin mendehem pelan. “Apa terjadi sesuatu kemarin?”

“Jongin sunbae! Kemarin Sehun sunbae mencicipi sandwich buatanku dan katanya sangat enak!” seru Yoona girang.

Sehun mendengus. “Aku tidak bilang begitu.” Timpalnya.

Yoona tersenyum jahil dan memukul lengan Sehun pelan. “Sunbae, tidak perlu berpura-pura. ‘Tidak buruk’ itu sama dengan ‘sangat enak’, ‘kan?”

Sehun mengangkat kedua bahunya dan tersenyum tipis.

What the fuck is going on here? Kerutan di kening Jongin malah makin dalam. Sehun mencoba makanan buatan Yoona? Sehun memuji Yoona? Wait—apa Jongin masih ada dalam mimpinya semalam?

Yoona kembali mengunyah sesendok makan siangnya lagi. “Ah iya sunbae, pulang sekolah nanti kita lewat minimarket, ‘kan? Ingatkan aku untuk membeli bedak dan body lotion, ya.”

Sehun mengangguk sambil tetap mengunyah. “Jangan lupa oli untuk sepeda.”

“Ah, benar.” Yoona menepuk keningnya lalu tersenyum lebar. “Karena kita akan memakai sepeda setiap pulang dan pergi sekolah, jadi aku harus membeli oli yang banyak!”

Oh Sehun sudah jadi gila.

Atau mungkin Yoona yang gila.

Atau Jongin yang malah gila?

Apa-apaan ini? Pergi dan pulang sekolah bersama? Apa yang sedang terjadi disini???

“Whoa, whoa. Oke.” Sela Jongin, membuat ketiga orang di meja itu menatapnya heran. “You guys,” Jongin menunjuk Sehun dan Yoona dan memicingkan kedua matanya, “Kalian harus menjelaskan sesuatu.”

“Menjelaskan apa, sunbae—ah, bukannya ini giliran piket Sehun dan Jongin sunbae untuk laboratorium Kimia?” sambung Yoona tiba-tiba.

Jongin menepuk keningnya cepat dan bertukar pandang dengan Sehun. “God damn it, aku lupa.” Keluhnya. “Ayo cepat! Kita harus mengambil buku dari perpustakaan juga!”

Sehun bangkit dan membawa tempat makan siangnya yang sudah hampir kosong, sementara Jongin menyisakan setengah mangkuk nasi dan 2 potong telur dadar. Jongin bangkit dengan terburu-buru, panik karena takut Heo saem akan menghukumnya, sementara Sehun mengikutinya dengan santai.

Baru beberapa langkah dari mejanya, Sehun berhenti di tempatnya. Yoona dan Joohyun menatap Sehun heran, apalagi ketika melihat pria ini kembali ke meja mereka.

“Aku hampir lupa.” Gumam Sehun. “Ini, jatahmu.”

Yoona menahan jeritan kesenangannya saat Sehun menyodorkan pudingnya dihadapan Yoona.

///

Kali ini bukan hanya Jongin atau Joohyun saja yang merasa keheranan, tapi hampir seisi sekolah akan melempar tatapan bingung dan heran setiap kali melihat Sehun dan Yoona bersama-sama.

Setiap pagi, Sehun dan Yoona memarkir sepeda di tempatnya bersama-sama lalu Sehun akan berjalan menuju gedung kelas 10 (yang tersambung ke gedung kelas 11) hanya untuk mengantarkan Yoona sampai ke depan kelasnya.

Saat istirahat pertama, Sehun, Jongin, Chanyeol dan Baekhyun akan main basket di lapangan tengah. Yoona dan Joohyun duduk di kursi penonton dan menyoraki mereka, dan Sehun akan menghampiri Yoona untuk minum air atau menyeka keringatnya saat permainan selesai.

Saat istirahat makan siang, Sehun, Yoona, Jongin dan Joohyun akan makan di meja yang sama. Kalau dulu hanya suara Jongin, Joohyun dan Yoona yang terdengar, kali ini seisi kafetaria bahkan bisa mendengar suara tawa Sehun atau gerutuan kesalnya saat Yoona mulai menggodanya.

Saat pulang sekolah,Sehun menunggu Yoona di depan gerbang atau di parkiran sepeda, lalu mereka berdua akan pulang bersama. Saat Sehun mendapat tugas tambahan dan pulang agak telat, Yoona akan menunggu Sehun di Seven Eleven disamping sekolah dan begitu sebaliknya.

“Yoona?”

Tepukan Joohyun di bahu kanan Yoona membuat gadis itu tersentak dan menoleh ke arahnya cepat. “Oh, Joohyun. Ada apa?”

Joohyun menatap Yoona dengan kening yang berkerut. “Lingkaran hitam dibawah matamu menebal. Apa kau begadang lagi?” tanyanya khawatir.

“Ah, ini… sebenarnya kemarin ada kegaduhan didekat rumah, jadi aku tidak bisa tidur semalaman.”

“Benarkah? Bagaimana kalau menginap di rumahku untuk beberapa hari kedepan?” tawar Joohyun.

Yoona menggeleng. “Tidak apa-apa.” Sanggahnya cepat. “Ah, kita tepat waktu. Mereka baru saja mulai main!”

Joohyun baru saja ingin menceramahi Yoona saat gadis itu telah mendahuluinya menuju lapangan. Sehun, Jongin, dan yang lainnya tampak asik bermain bola basket di lapangan dengan anak kelas 10 dan 11 lainnya. Joohyun akhirnya menghela napas lalu mengikuti langkah Yoona dan duduk disebelah gadis itu di bangku penonton.

Sunbae!” seru Yoona saat ia melihat Sehun celingukan kesana kemari mencari sosoknya.

Sehun tersenyum tipis saat melihat sosok Yoona di pinggir lapangan. Pria itu setengah berlari untuk menghampiri Yoona yang tersenyum lebar. “Kalian lama sekali.”

“Tadi Kang ssaem meminta bantuan kami mengantar kerangka ke lab biologi.” Ucap Yoona lalu menyodorkan botol minuman isotonik pada Sehun.

Sehun menyambut botol itu dengan kening berkerut. “Kalian harusnya memanggilku dan Jongin.” Ujarnya lalu meneguk isi botol tadi dalam sekali teguk.

Yoona hanya terkekeh pelan. “Sunbae nanti pulang agak telat, ‘kan?” tanya Yoona.

“Yeah.” Ujar Sehun lalu mengangguk. “Ada praktek kimia gelombang kedua nanti. Tahu darimana?”

“Dengar di ruang guru.” Jawab Yoona. “Nanti kutunggu di tempat biasa, ya.”

“Jangan pulang sendirian nanti.” Sehun menatap wajah gadis itu, lalu mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan wajahmu?”

Yoona menangkup kedua pipinya dengan tangannya. “Wajahku kenapa, sunbae?”

Sehun mengernyitkan alisnya, lalu menggerakkan jempol kanannya dibawah mata kiri Yoona. Gadis itu menahan nafas. Walau sudah bermain diluar cukup lama, entah kenapa jemari Sehun tetap dingin. Yoona hanya bisa membelalakkan kedua matanya saat Sehun mengelus bagian bawah mata gadis itu dengan jempolnya.

“Apa kau memakai make-up?”

“Apa?”

Sehun melepas jemarinya dari wajah Yoona. “Kantung matamu hitam sekali. Apa kau ini panda?” ejek Sehun.

“Tentu saja! Aku ini panda, panda yang imut. Benar, ‘kan, Joohyunnie?”

Joohyun mendengus. “Panda imut, my ass.”

Sehun menghela napas lalu mencopot kancing kemeja seragamnya, memperlihatkan kaos hitam polosnya. Dengan sekali gerakan, Sehun meletakkan kemeja itu diatas kepala Yoona, membuat gadis itu tertegun.

“Jangan berjemur terlalu lama.” Ucapnya singkat sebelum kembali ke lapangan.

Yoona tak bisa menahan senyuman di wajahnya yang kian merekah, lalu menutupi wajahnya dengan kemeja Sehun. Ini wangi Sehun, gumam Yoona. Parfum pria bercampur deterjen lemon khas Sehun. Wangi yang sering Yoona cium setiap kali angin bertiup ke arah Sehun, saat Yoona berdiri tepat disampingnya. Wangi yang sering Yoona cium setiap kali Sehun menarik Yoona kedalam pelukannya, saat gadis itu hampir terserempet mobil.

Yoona memejamkan kedua matanya rapat. I’m the happiest person on earth at this moment.

///

Sehun membuka pintu geser ruangan UKS itu, dan dokter sekolah mereka— Hwang Junggeum langsung menyapanya dengan senyuman.

“Sehun-ah.” Sapa Junggeum dengan senyum lebar. “Kau membawanya?”

Sehun mengangguk dan meletakkan kardus kecil dihadapan Junggeum. “Isinya 20 botol alkohol 70% sesuai pesanan noona.” Ucap Sehun lalu meletakkan sebuah nota diatas kardus tadi. “Untuk obat sakit kepala dan obat batuknya masih dipesan, kalau untuk perban akan kubawa stoknya besok.”

Aigoo. Maaf karena sudah merepotkanmu. Istirahat pertamamu jadi harus habis dengan bolak-balik dari sekolah dan apotik noona-mu.” Gumam Junggeum. “Kau jadi tidak bisa bersama pacarmu itu, ‘kan?”

Sehun berdecak kesal. “Noona, daripada menggodaku lebih baik carilah pacar untuk dirimu sendiri. Ini tahun ke-8 kau masih single, ‘kan?”

Junggeum memukul pundak Sehun pelan lalu tertawa. “Bocah sialan. Bagaimana dengan pembayarannya?”

“Mijoo noona bilang kapan-kapan saja.” Ujar Sehun santai. “Atau titipkan saja padaku saat anggaran dari sekolah sudah keluar.”

Baru saja Junggeum ingin membalas perkataan Sehun, pintu UKS kembali terbuka. Sosok gadis berambut panjang –Yoo Jiae, ketua kelas 11-7—muncul disana.

“Hwang ssaem, anda dipanggil ke ruang guru.” Ujarnya sopan. Jiae melirik ke arah Sehun dan pria itu bisa membaca tatapannya yang seolah berkata ‘apa yang orang ini lakukan disini’.

“Ah, pasti dana anggarannya sudah keluar!” seru Junggeum girang. “Sehun-ah, aku titip UKS padamu, oke? Kalau ada anak yang ingin bolos kesini, tendang pantat mereka!”

Junggeum baru ingin keluar dari UKS mengikuti langkah Jiae, saat ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah iya, tolong siapkan segelas air hangat dan sebutir pil Vitamin C yang sudah hancur. Itu untuk anak yang sedang tidur disana.” Ujar Junggeum lalu menunjuk ke belakang Sehun, tempat tidur yang dikelilingi tirai. “Dia sedang sakit, jadi jangan terlalu berisik ya.”

Sehun baru saja ingin menolaknya, tetapi sosok Junggeum sudah menghilang dari sana. Pria itu menghela napas dan melakukan sesuai yang diminta Junggeum. Setelah menuangkan air hangat kedalam gelas, Sehun mengambil pil Vitamin C dari dalam rak dan menghancurkannya dalam sendok. Pria itu melakukannya dengan cekatan, karena terbiasa membantu sepupu kandungnya –Lee Mijoo—di apotik noona-nya itu. Jadi menyiapkan hal-hal remeh seperti ini tentunya sangat mudah bagi Sehun.

Sehun membawa bubuk Vitamin C yang sudah dihaluskan tadi di tangan kanannya, dan gelas air hangat di tangan kirinya. Perlahan, Sehun mendekati tempat dimana anak yang tadi dimaksud Junggeum sedang beristirahat.

Yoona?

Kernyitan tercipta di kening Sehun. Pria itu menatap sosok yang sedang berbaring di kasur UKS dengan tidak percaya. Beberapa detik kemudian, Sehun meletakkan kedua benda ditangannya tadi diatas meja dan menarik sebuah kursi. Tanpa menimbulkan suara, Sehun duduk disebelah tempat tidur Yoona.

Sehun mencermati Yoona yang tertidur dihadapannya. Rambutnya yang biasanya dikuncir kuda, kini dibiarkan tergerai begitu saja. Rambutnya terlihat halus sekali.

Sehun menggeleng cepat. Apa yang baru saja ia pikirkan?

“….ngg.”

Sehun sedikit terkejut saat Yoona mengerang, dan kening gadis itu berkerut. Sehun mencermati kantung mata gadis itu yang menghitam dan wajahnya yang memucat. Apa Yoona begadang semalaman? Kenapa Yoona bisa kurang tidur? Apa ia sedang ada masalah? Apa yang terjadi?

Perlahan, jemari Sehun bergerak dan mengelus telapak tangan Yoona. Tangannya hangat sekali, pikir Sehun. Sehun selalu suka padanya. Karena walaupun Yoona kedinginan, entah kenapa suhu tangannya selalu hangat. Mungkin karena ia memiliki hati yang hangat juga.

Sehun tidak tahu apa-apa tentang Yoona. Yoona tahu semua tentang Sehun. Makanan kesukaan Sehun, pemain bola kesukaan Sehun, cerita dibalik luka di lutut dan dipunggungnya saat SD, Sehun’s guilty pleasures, hobi Sehun, dan semuanya. Yoona tahu semuanya. Tapi apa yang Sehun tahu tentang Yoona?

Sehun baru menyadari, sebagian percakapan mereka selama ini terdiri dari; Yoona yang melontarkan pertanyaan dan Sehun yang berusaha menjawabnya sepanjang mungkin agar gadis itu tidak tampak kecewa (padahal itu kebiasaan Sehun untuk tidak menjawab dengan panjang lebar, sungguh).

Apa yang aku tahu tentang Yoona?

Sehun mengangkat kepalanya dan melirik ke arah jam di dinding. Jam pelajaran ke-4 baru saja dimulai, pria itu harus bergegas kalau ia tidak ingin nilai Seni Budayanya kosong.

Sehun bangkit dan menghela napas. Padahal ia sedang malas masuk kelas (bohong, ia hanya ingin menemani Yoona saja disini). Tapi pria itu bertekad, ia harus lebih sering melontarkan pertanyaan tentang Yoona nantinya.

“…ngin…”

Sehun berhenti dan menoleh ke arah Yoona.

“Dingin….”

Yoona mengerang dan kerutan di keningnya semakin dalam. Gadis itu membalikkan badannya dan menarik selimutnya keatas. Yoona meringkuk dan pundaknya sedikit bergetar.

Dalam sekali gerakan, Sehun melepas jas sekolah yang dipakainya dan meletakkannya diatas tubuh Yoona. Pria itu merapikan ujung selimutnya yang menutupi kaki Yoona perlahan.

Sebelum benar-benar pergi, Sehun kembali melirik Yoona yang tertidur dengan kening berkerut.

“Cepat sembuh, Yoona.”

///

“Itu tidak keren sekali, dude.”

“Padahal kau bisa saja bolos jam pelajaran ke-3.” Timpal Chanyeol, menyanggupi pernyataan Baekhyun sebelumnya. “Tapi kau malah lebih memilih dihukum oleh Gil ssaem. Aigoo, bodoh sekali.”

Sehun terkekeh lalu memukul pundak Chanyeol, membuat pria itu mengaduh kesakitan. “Sialan.”

Chanyeol dan Baekhyun lalu berbelok dan keluar lewat pintu timur ke parkiran mobil, sementara Jongin dipanggil oleh Ketua Tim Rugby—Park Seojoon—sehingga hanya tinggal Sehun sendiri, berjalan diantara kerumunan anak kelas 10, 11, dan 12.

Sunbae.”

Sehun menoleh tepat saat ia keluar dari pintu utama. Yoona berdiri disana dengan senyum lebar di wajahnya. “Yoona.” Gumam Sehun lalu tersenyum tipis. “Menunggu lama?”

Yoona menggeleng pelan. “Sunbae, terima kasih untuk jasnya.” Ujar Yoona sambil menyerahkan jas dengan name tag Sehun diatasnya. “Sunbae tadi kesulitan karena tidak ada ini, ‘kan?”

Sehun mengambil jas tadi dan mengenakannya dalam sekali gerakan sambil berjalan disebelah Yoona. “Tidak juga.”

“Bohong.” Sela Yoona cepat. “Chanyeol sunbae bilang padaku tadi sunbae dihukum berdiri sampai pelajaran berakhir di lorong.”

Sehun memaki dalam hati. Terkutuklah Park Chanyeol dan mulut besarnya.

Yoona mengerucutkan bibir bawahnya. “Harusnya sunbae tidak melakukan itu.” Gerutu Yoona kesal. “Sunbae jadi dihukum karenaku, ‘kan.”

“Bukan, kok.” Potong Sehun. “Gil ssaem sedang PMS jadi dia cepat sekali emosi.”

Yoona terkekeh. “Sunbae bisa saja.”

Sehun tersenyum tipis. “Ah, benar juga. Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?”

“Sudah!” seru Yoona sambil tersenyum lebar. “Tadi Junggeum unni memberikanku pil Vitamin C lainnya untuk diminum nanti.”

Sehun mengingat dalam hatinya untuk berterima kasih pada Junggeum noona nanti. “Jadi? Apa kau begadang semalaman?”

Yoona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sebenarnya aku sedang menonton ulang drama kesukaanku.” Jawabnya lalu terkekeh pelan.

Drama kesukaan Yoona! Sehun baru tahu tentang hal ini.

“Memangnya…” Sehun mendehem pelan. “Apa drama kesukaanmu?”

“Aku suka—“

Ucapan Yoona disela oleh dering ponsel dari sakunya. Dengan cepat, gadis itu merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponselnya. Setelah melihat caller id, Yoona melirik Sehun cepat lalu memalingkan wajahnya.

“Halo?” bisik Yoona pelan. “Ada apa, Jungkook-ah?”

Deg. Sehun melirik Yoona cepat. Jungkook itu nama pria, ‘kan?

“BENARKAH?!” seru Yoona tiba-tiba, membuat orang disekitarnya menatapnya aneh. “Dimana?”

Sehun hanya mengernyitkan keningnya saat Yoona menarik pulpen dari sakunya dan menuliskan sesuatu di punggung permukaan tangannya.

“Eh? Kau akan mengantarku nanti? Terima kasih, Jungkook-ah! Aku mencintaimu!” seru Yoona, lalu tertawa lebar. “Arasseo, aku akan mengajakmu makan kapan-kapan, oke?”

Begitu panggilan dimatikan, senyuman di wajah Yoona kian merekah, membuat Sehun menatapnya penasaran.

“Ada apa?” tanyanya heran.

Yoona menoleh pada Sehun. “Sunbae! Maaf aku tidak bisa pulang dengan sunbae hari ini. Aku ada janji dengan seseorang. Maaf!”

Sehun mengikuti langkah cepat Yoona menuju ke sepedanya. “Apa perlu…”

“Maaf, ya, sunbae, lain kali kita akan pulang bersama!”

Yoona mengayuh sepedanya keluar dari gerbang sekolah dalam waktu singkat. Sehun memandangi sosoknya yang kini menghilang di belokan dan menghela napas. Mungkin dia memang benar-benar sibuk.

///

“Yoona—“

“Sunbae, maaf aku tidak bisa makan bersama. Aku ada urusan sedikit.”

“Hey, Im Yoon—“

“Aku harus ke lab Kimia sekarang. Sampai jumpa nanti, Sunbae!”

“Bae Joohyun, dimana Yoona?”

“Sudah pulang duluan, katanya ada urusan. Memangnya dia tidak memberitahu?”

Sehun memangku dagu dengan tangan kanannya dan mencelupkan pipet berkali-kali ke air dalam gelas ukur. Instruksi dari Ketua Kelas tentang praktek Biologi mereka kali ini tidak disimaknya sama sekali. Sehun terhanyut dalam pikirannya dengan kening yang berkerut.

“Hey.” Jongin yang baru selesai mengambil air dari keran, duduk disebelah Sehun dan menyodorkan gelas berisi air pada baekhyun dihadapannya. “Kau diam terus. Ada apa?”

“Kim Jongin, jangan ganggu dia. Melamun pagi-pagi begini, apalagi kalau bukan….”

Tawa Baekhyun langsung disambut oleh kikikan Chanyeol, yang berubah menjadi tawa yang meledak-ledak. Seisi lab biologi menatap mereka kesal, karena duo beagle itu tidak pernah bisa menutup mulut mereka.

Jongin melemparkan kulit bawang ke wajah Baekhyun. “Dasar mesum.”

“Ah, tapi kelihatannya uri Sehunnie ini sedang dalam masalah.” Timpal Chanyeol, lalu menggosok-gosok dagunya seolah ada janggut transparan disana. “Beritahu hyung, apa ini…. masalah wanita?

“Oh-ho!” Baekhyun bersiul. “Bahkan Oh Sehun si muka besi pun bisa galau.”

“Muka besi?” ulang Jongin heran.

Chanyeol mengangguk. “Julukan lama Sehun. Sekarang sih, lebih ke ‘Oh Sehun yang mabuk kepayang karena cinta’.” Goda Chanyeol.

BRAK!!!

Sehun menyentak meja dihadapannya dengan kencang dan berdiri.

Jongin diam.

Baekhyun kaget.

Chanyeol menggigit jarinya.

Sehun melirik ketiga orang didekatnya itu dari ekor matanya. “Berisik.”

Sehun mengambil buku cetaknya dari atas meja, dan berjalan menuju Ketua Kelas di meja dekat papan tulis yang menatapnya takut-takut. “Laporan praktekku.” Ujarnya sambil meletakkan-setengah melempar kertas laporan dihadapan Kim Namjoo yang tersentak, si ketua kelas yang malang.

Seisi lab Biologi menahan nafas mereka. Sehun menyentak pintu lab dengan kasar dan membiarkannya terbuka. Mereka semua baru bisa bernafas lega saat mendengar langkah Sehun di lorong yang kian menjauh.

Shit, that was tense.” Gumam Chanyeol.

Baekhyun mengangguk. “Sudah lama dia tidak meledak seperti itu.” Ujarnya. “Yang sekarang rasanya jauh lebih menyeramkan. Aigoo, bocah itu.”

“Kau menggodanya, sih.”

“Kau juga ikut-ikutan tadi!”

“Yaa! Itu hanya bentuk dukungan dariku sebagai sahabatmu. Ternyata sahabatku ini berada di jalan yang salah. Ckck….”

Baekhyun kembali membalas perkataan Chanyeol, dan kali ini pertengkaran konyol mereka menjadi bahan tawaan seisi lab. Suasana tak sekaku tadi, dan mereka kembali fokus pada tugas praktek untuk nilai ujian tengah semester itu.

Jongin menghela napasnya. Sehun kembali seperti yang dulu lagi.

///

Baekhyun membawa game boy miliknya saat SD dulu, dan memainkannya dengan Chanyeol saat istirahat kedua. Karena keteledoran petugas piket yang memecahkan vas bunga buatan wali kelas, mereka semua dihukum tidak boleh keluar hingga jam pelajaran ke-7.

Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan mendengarkan musik melalui earphone, Baekhyun dan Chanyeol asik memainkan game boy dan Jongin membaca komik Naruto yang dipinjamnya dari Nam Taehyun—otaku dari kelas sebelah.

“Byun Baekhyun.”

Mereka semua—kecuali Sehun, menoleh pada Im Nayeon si wakil ketua kelas yang berdiri didekat meja mereka. “Ada apa?” tanya Baekhyun.

Nayeon menyerahkan tumpukkan kertas hasil ulangan didepan Baekhyun. “Yoo ssaem ingin ini diantar ke kelas 10-3.”

Baekhyun berdecak kesal. “Kenapa aku? Minta saja pada ketua kelas.” Gerutunya.

“Yaa!” Nayeon berkacak pinggang. “Namjoo sedang membantu di UKS sekarang. Lagipula kau tidak pernah kerja kan? Sesekali berfungsilah sebagai sekertaris kelas, Byun Baekhyun.”

Baekhyun menghela napas lalu meletakkan game boy-nya diatas meja. “Baiklah, baiklah.”  Gumam Baekhyun kesal sambil bangkit berdiri.

“Aku saja.”

Kini, Jongin, Baekhyun, Chanyeol dan Nayeon semuanya menatap Sehun kaget. Sehun melepas earphone-nya dan bangkit berdiri lalu mengambil tumpukkan kertas tebal itu dengan satu tangan. Pria itu tak menunggu jawaban mereka dan langsung berjalan keluar dari kelas.

“Hey, Oh Sehun!” seru Baekhyun saat Sehun hampir sampai ke pintu kelas mereka. “Aku titip roti coklat di kantin!”

Sehun melirik Baekhyun dari ekor matanya.

“Ti-tidak jadi deh.” Gumam Baekhyun pelan lalu kembali memainkan game boy-nya.

Sehun melangkah keluar dari kelas dan berjalan melewati lorong anak-anak jurusan IPS. Beberapa diantara mereka langsung menyingkir saat Sehun lewat, dan beberapa hanya bisa memandanginya dengan kagum. Sehun tidak menghiraukan semua itu dan tetap berjalan tanpa melihat kiri kanannya. Sehun akan membungkuk sedikit saat melewati guru, tapi tetap tak memperdulikan yang lainnya.

Sehun menyebrangi jembatan berupa lorong untuk sampai di gedung kelas 10. Dan saat sampai disana, hampir semua gadis riuh saat melihat kehadiran Sehun.

“Itu Sehun sunbae!”

“YaTuhan dia tampan sekali….”

“Kenapa Sehun sunbae ada disini?”

“Kau belum dengar? Katanya Sehun sunbae berpacaran dengan anak kelas 10!”

“Eeeyy, aku dengar katanya dia masih lowong.”

Sehun berdecak kesal dan melempar tatapan dingin yang langsung membungkam kerumunan gadis didekatnya. Sehun lalu mendongak dan memperhatikan papan nama kelas didepan setiap pintu.  10-1 ada disana, kelasnya Yoona.

“Oh Sehun?”

Sehun menoleh dan mengangkat sudut bibirnya. “Kau masih tidak akan memanggilku sunbae, huh?” ejek Sehun.

Joohyun memutar kedua bola matanya dan bersender pada pintu kelasnya. “Aku kira ada ribut-ribut apa disini. Ternyata kau. Mana Jongin?”

“Baca komik Naruto di kelas.” Jawab Sehun.

“Itu apa?” Joohyun melirik tumpukkan kertas di tangan Sehun.

“Hasil ulangan Bahasa Inggris.”

Joohyun menatap Sehun datar. “10-3 ada disana.” Ucap Joohyun dan menunjuk arah yang berlawanan dengan jempolnya.

Sehun mengangkat kedua alisnya. Sudah tahu. Pria itu menjulurkan kepalanya ke kelas 10-1, membuat siswi disana berteriak memanggilnya.

Joohyun menutup kedua telinganya karena bising. “Dia tidak masuk.”

“Apa?”

“Kalau kau mencari Yoona, dia tidak masuk sekolah hari ini.”

“Karena?”

“Sakit.” Jawab Joohyun. “Kakakku adalah tetangganya. Dia menitipkan surat ijin.”

Sehun menghela napas. “Beri aku alamatnya.”

Joohyun mengernyitkan keningnya. “Tidak mau.”

“Kenapa?”

Joohyun memutar kedua bola matanya. “Yoona hanya sendiri di rumah, ia selalu tidur di lantai 2. Kau mau dia bangun dan capek-capek berjalan hanya untuk membukakan pintu?”

Sehun terdiam. Gadis ini ada benarnya juga.

“Titip ini.”

Sehun memberikan tumpukkan kertas tadi pada Joohyun, membuat gadis itu membelalakkan kedua bola matanya.

“Yaa! Oh Sehun!!!”

///

Sehun melemparkan tubuhnya keatas kasur, dan memandangi langit-langit kamarnya. Pria itu menyangga kepalanya dengan tangan kanannya dan menghela napas.

1 minggu.

Hampir 1 minggu ia tidak bertemu Yoona. Bahkan mendengar suara gadis itu pun ia tak bisa. Panggilan dan pesan singkat Sehun tak diindahkannya sama sekali. Joohyun menolak memberitahukan alamat Yoona dan Sehun tidak bisa mengecek data siswa (terkutuklah petugas TU yang salah memasukkan data siswa).

Sehun memandang koleksi figur anime yang tertata rapi di raknya. Mungkin Yoona sudah bosan padanya, tapi ia tidak enak mengatakannya dan menghindari Sehun perlahan-lahan. Ya, itu mungkin. Yoona terlalu baik untuk menyatakan kalau ia bosan padaku secara langsung. Sehun memejamkan kedua matanya rapat, berharap jantung sialannya tidak akan berdenyut karena nyeri lagi.

Tuk!

Sehun menghela napas.

Tuk!

Sehun membalikkan badannya dan menutup wajahnya dengan bantal.

Tuk!

Kali ini kedua bola mata Sehun terbuka lebar.

Refleks, Sehun bangkit dari tempat tidurnya dan meraih tongkat bisbol dari sebelah lemarinya. Pria itu berjalan menuju jendelanya perlahan dan membukanya cepat, membuat angin malam menerpa wajahnya.

“Yoona?”

“Sunbae!” seru Yoona pelan, lalu melambaikan kedua tangannya.

Sehun tak dapat menahan senyumnya. Yoona ada didepan rumahnya, dengan jins belel panjang dan kaos putih serta jaket varsity hitam membalut tubuhnya. Wajah Yoona tak begitu terlihat karena pencahayaan yang muram didepan rumahnya. Tapi Sehun tahu, gadis itu sedang tersenyum.

“Apa yang kau lakukan disini?!”

Yoona kembali melambaikan tangannya, membuat gestur menyuruh Sehun turun ke bawah. “Turun, sunbae!”

Sehun meraih jaket varsity dan topi hitam dari lemari, lalu keluar dari kamarnya dan turun ke lantai 1 tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Setelah memastikan tak ada satupun penghuni rumahnya yang masih terbangun, Sehun membuka pintu rumahnya dan berjalan keluar menemui Yoona didepan gerbang rumahnya.

“Im Yoona.” Gumam Sehun begitu mereka berdua sudah berhadapan. “Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu?”

Yoona tertawa pelan, membuat raut khawatir di wajah Sehun sirna seketika. “Sunbae, apa sunbae ada waktu? Temani aku ke suatu tempat!”

“Kemana?” tanya Sehun heran.

Yoona hanya tersenyum dan menarik tangan Sehun darisana.

///

“Ini….”

“Ya.”

“Apa kau yakin….?”

“Sangat!”

“Im Yoona….”

Sunbae, please? Please?”

“Aku harus memakainya……?”

“Tentu! Perlu kubantu?”

Sehun menggeleng cepat. “Tidak usah.”

Yoona terenyum lebar dan menyodorkan benda tadi ditangan Sehun.

Sehun menghela napas dan akhirnya mengenakan penutup mata itu di wajahnya. Ia tidak peduli apa penumpang bus malam ini melihatnya dengan tatapan heran atau bahkan tertawa geli, toh Sehun hanya bisa melihat warna hitam disekelilingnya sekarang.

“Jadi?” Sehun angkat bicara. “Kemana kita sekarang?”

Yoona tersenyum walau tahu Sehun tak dapat melihatnya. “Suatu tempat yang sangat jauh.”

Sehun terdiam sebentar. “Luar kota?” tanyanya ragu.

“Bukan!” Timpal Yoona cepat. “Itu tidak terlalu jauh dari sini, kok.”

“Tidak mau memberitahuku?”

Yoona menyengir lebar. “Bagaimana kalau kita ngobrol saja supaya tidak terasa?”

Sehun baru ingin mengangkat kedua bahunya dan menjawab ‘oke’ saat ia teringat sesuatu. Apa yang ia ketahui tentang Yoona?

“Aku punya beberapa pertanyaan.”

Yoona mengernyitkan keningnya. “Apa itu, Sunbae?”

Sehun menjilat bibirnya yang kering dengan cepat. “Apa drama kesukaanmu?”

“Apa?”

Sehun menghela napas. “Apa. Drama. Kesukaanmu.” Ulang Sehun pelan.

“Uhmm…” Yoona tampak berpikir sejenak, “Ah, Kill Me Heal Me! Sunbae tahu? Itu tentang pewaris perusahaan terkenal yang mengidap kepribadian ganda yang kemudian jatuh cinta dengan psikiater rahasianya!”

“Kurasa aku tahu.” Gumam Sehun ragu. “Lalu, siapa artis favoritmu?”

“Westlife!”

“Makanan kesukaan?”

“Hmm… apapun yang enak dan bisa dimakan.”

“Mata pelajaran yang dikuasai?”

“Seni Budaya dan PE!”

“Tipe ideal?”

Sunbae!”

Sehun menahan nafasnya. Diamlah, jantung sialan.

“Yoona, kau…..” ujar  Sehun, “Kenapa kau bisa menyukaiku?”

Yoona menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi bus. “Hmm… kenapa ya?” gumam Yoona, lalu terkekeh pelan. “Karena sunbae baik.”

“Itu klise sekali.” Timpal Sehun.

“Tidak, kok.” Potong Yoona. “Saat aku digoda preman dekat sekolah dulu, orang lain melihatku dengan prihatin tapi mereka menjauh dan enggan menolongku sama sekali. Tapi Sunbae berbeda. Sunbae menolongku dan tidak menatapku kasihan sama sekali. Sunbae memperingatiku untuk jadi lebih berani saat menghadapi mereka. Sunbae terlihat dingin dan kejam, tapi sebenarnya sunbae adalah orang dengan hati yang sangat lembut.”

“Tunggu.” Sela Sehun. “Jadi gadis yang waktu itu…..”

Yoona mengangguk. “Yeap! Itu hari ke-3 aku masuk sekolah. Aku belum dapat seragam, mungkin karena itu sunbae lupa padaku. Tapi aku… aku mencari tahu tentang sunbae. Joohyun dan Jongin banyak membantuku.” Ucapnya dengan nada riang.

“Kau berlebihan.”

Yoona terkekeh pelan. “Waktu itu ada bocah kecil yang terperosok dalam kubangan, sunbae membelikan dia es krim dan mengantarnya pulang sampai ke rumah, ‘kan?”

Sehun mengernyitkan keningnya. “Bagaimana….”

“Aku melihat sunbae saat menolongnya! Setelah itu, bocah itu terus memanggil sunbae dengan ‘hyung’ dan kalian sering makan es bersama, ‘kan?”

Sehun tampak ragu dan akhirnya mengangguk pelan. “Akhir-akhir ini dia sedang sibuk ikut les piano.”

Yoona tersenyum lebar. “Aku tidak salah mencintai orang.” Bisik Yoona pelan.

“Apa?”

Yoona menggeleng dan tersenyum tipis walau tahu Sehun tak dapat melihatnya. “Tidak apa-apa, Sunbae.”

///

Sehun menarik nafas dalam, membiarkan paru-parunya dipenuhi udara malam dari Seoul yang segar. Sudah lama ia tak keluar selarut ini. Walau sudah memakai jaket tebal, tetap saja bulu kuduknya berdiri karena kedinginan. Sehun bisa merasakan hidung dan kupingnya yang memerah karena dingin, walau tak melihatnya sama sekali.

“Ada batu didepan, Sunbae.”

Suara lembut Yoona menuntun Sehun yang masih memakai penutup matanya. Tangannya memegang lengan Sehun sekuat tenaga, tapi cengkraman kuat itu malah terasa lembut di lengan Sehun yang besar. Sesekali Yoona akan menghembuskan nafas kuat lalu menggumam ‘dingin sekali’ yang akan disambut gumaman oleh Sehun.

Sehun mengernyit saat kedua telapak kakinya menyentuh tempat yang empuk dan lembap. Rumput? “Apa kita sudah sampai?” tanyanya.

“Hampir…..” Gumam Yoona, “…..kita sampai!”

Langkah Yoona terhenti, membuat Sehun ikut berhenti. “Aku bisa membukanya sekarang?” tanya Sehun sambil menunjuk penutup mata di wajahnya.

“Tentu!”

Sehun mencopot penutup mata di wajahnya dalam sekali gerakan, dan menyeka wajahnya yang berkeringat. Pria itu mengacak rambutnya lalu menjilat bibirnya yang kering. Saat mengangkat kepalanya, hal pertama yang dilihat Sehun membuat kedua mata pria itu terbelalak.

Dibawah sana, gedung-gedung pencakar langit berbaris dengan angkuh. Lampu-lampu terang dari mobil yang lalu lalang di jalanan yang padat dan papan iklan yang makin memadati kota Seoul. Kebisingan kendaraan tertutup oleh angin yang berhembus kencang malam itu, dan Sehun hanya bisa mendengar suara tawa Yoona disebelahnya.

“Ini…..”

Yoona tersenyum lebar. “Ayo kita duduk, sunbae!” seru Yoona dan menarik lengan Sehun untuk duduk diatas batang kayu didekat sana. “Apa sunbae kedinginan?”

Sehun masih menatap pemandangan megah dihadapannya dengan takjub dan mengangguk pelan. “….ya.”

Yoona mengambil termos berukuran sedang dari tas kecil yang digendongnya tadi lalu mengeluarkan 2 mug kecil untuknya dan Sehun. Setelah menuangkan teh hangat tadi masing-masing di mugnya dan Sehun, Yoona menyodorkannya pada pria itu. “Ini, sunbae.”

Sehun menerima mug dari tangan Yoona dan mengelus permukaan luarnya yang hangat. Perlahan, pria itu menghirup wangi melati yang lembut dari teh hangat itu dan menyesapnya. “Ah….” gumam Sehun, “Hangat sekali.”

Yoona ikut meminum teh dihadapannya lalu tersenyum lebar. “Aku suka sekali teh ini.”

Sehun melirik Yoona sebentar. “Jadi? Bisa jelaskan padaku?” tanya Sehun, membuat Yoona menoleh ke arahnya. “Malam-malam begini kau mengajakku kemari, tentunya bukan hanya untuk minum teh saja, ‘kan?”

“Sebenarnya….” Yoona melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu membelalakkan kedua bola matanya. “Sunbae! Lihat itu!”

DUARRR!

Tepat di detik saat Sehun menoleh ke arah yang ditunjuk Yoona, sebuah kembang api meledak di langit dan menggoreskan warna merah terang di langit biru gelap itu. Tak lama kembang api lainnya menyusul dan kali ini membiarkan warna biru bercampur kuning meletus di udara. Puluhan bahkan hampir ratusan kembang api meletup-letup di langit, membuat Sehun dan Yoona hanya terdiam dalam kekaguman.

“Cantik sekali.” Gumam Yoona pelan dengan tatapan yang terfokus ke arah langit.

Sehun memandangi wajah Yoona dari samping dan mengangkat kedua sudut bibirnya. “Ya. Sangat cantik.”

Yoona menoleh, dan saat itulah tatapannya bertemu dengan Sehun.

Sehun menahan nafasnya. She was breath-takingly beautiful. Cahaya kembang api terpantul di wajahnya dan bola matanya berkilat senang. Bibirnya melengkung membentuk senyuman dan entah kenapa semuanya terlihat seperti gerakan slo-mo di pikiran Sehun.

“Yoona…”

Baru saja Yoona ingin membalasnya, ponselnya berbunyi dan membuat gadis itu tersentak. Yoona tersenyum lebar setelah melihat caller id dan langsung mengangkat panggilan. “Oh, Jungkook-ah?”

Nyut. Sehun merasa dadanya sesak. Bukan, bukan karena angin malam yang menusuk-nusuk tulangnya. Tapi karena mendengar betapa kasualnya ia memanggil nama pria yang Sehun tak kenal sama sekali.

Yoona terkekeh pelan. “Ya, kami sedang melihatnya. Keren sekali!” seru Yoona riang. Walau samar, Sehun dapat mendengar suara berat pria di ujung sana. “Uhm. Terima kasih Jungkook-ah, aku pasti akan benar-benar menraktirmu sekarang. Oke. Kututup ya, Jungkook.”

“Siapa?” tanya Sehun segera setelah Yoona mematikan panggilannya.

“Jungkook?” tanya Yoona balik, lalu tersenyum tipis. “Hanya teman.”

“Hanya teman?” ulang Sehun dengan alis kiri yang terangkat.

Yoona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Dia temanku dari SMA lain.” jelas Yoona. “Hari ini adalah ulang tahun sekolah mereka, dan ada perayaan kembang api di lapangan sekolah mereka untuk memperingatinya. Jungkook memberitahuku kemarin, dan kami mencari-cari tempat paling strategis untuk melihat kembang apinya. Waktu itu Sunbae bilang kalau sunbae suka bintang, ‘kan? Sebagai pengganti bintang, kali ini aku punya kembang api untuk sunbae.

“Jadi… selama ini kau pulang cepat karena….”

Yoona mengangguk. “Aku dan Jungkook selalu bertemu setelah pulang sekolah untuk mencari tempat yang bagus.”

“Apa kau mencarinya hingga kurang tidur?”

“Sedikit.” Balas Yoona lalu terkekeh pelan. “Aku sering ketinggalan bus saat mencari tempatnya, apalagi Jungkook hanya bisa menemaniku beberapa kali. Baru beberapa hari lalu kami menemukan tempat ini. Bukankah tempat ini sangat indah?”

Sehun menatap gadis itu lekat-lekat. “Hingga jatuh sakit?”

“Tidak!” seru Yoona sambil menggeleng cepat. “Dalam sebulan aku memang biasa sakit, itu sudah seperti kewajiban.”

Sehun mengangguk dan kembali menatap kembang api yang meletup diatas langit. “Berhentilah.” Gumamnya lalu kembali menyesap teh yang mulai dingin di tangannya.

Yoona mengernyitkan alisnya. “Berhenti apa, sunbae?” tanyanya heran.

“Memanggilku sunbae.”

Deg. Yoona menahan nafasnya. Kenapa Sehun tidak mau dipanggil sunbae? Apa ia tidak senang dengan kejutan ini? Apa Sehun jadi benci padanya lagi? Kenapa begini? Apa yang—

“Itu terdengar kaku dan panjang sekali,” Sehun menoleh pada Yoona dengan kedua sudut bibirnya yang ditarik, “Yoong.”

Yoong. Sehun sunbae baru saja memanggilku Yoong. SEHUN SUNBAE BARU SAJA MEMANGGILKU YOONG. OH SEHUN. OH SEHUN MEMANGGILKU YOONG.

Kurcaci-kurcaci kecil di dalam hati Yoona berjingkrak kejirangan, dan Yoona berusaha menahan teriakannya dengan menutupi mulut dengan kedua tangannya. Sehun menangkap reaksi Yoona yang menurutnya lucu, dan terkekeh. “Wajahmu lucu sekali.”

Sunbae…” gumam Yoona, yang langsung membuat kening Sehun berkerut. “Ah, maksudku……” Yoona menatap Sehun ragu-ragu. “…..oppa?”

Sehun tersenyum puas. “Itu tidak buruk.”

Yoona menggigit bibir bawahnya. Kembang api di langit perlahan-lahan teredam oleh letupan-letupan kembang api di dadanya. Wajahnya terasa panas dan Yoona bisa saja terlihat seperti orang bodoh dihadapan Sehun karena ia bersusah payah menahan rona merah di wajahnya.

Sehun meneguk habis teh dalam mugnya, dan memasukannya bersama dengan termos dan mug Yoona ke dalam tas gadis yang pikirannya entah ada dimana sekarang. Sehun bangkit berdiri dan meregangkan ototnya yang pegal lalu menghembuskan nafas dalam. Pria itu menoleh pada Yoona yang masih duduk dan bengong di tempatnya.

“Mau mampir ke Seven Eleven sebelum pulang,” Sehun menyodorkan tangan kanannya pada Yoona, “Yoong?”

Yoona menatap wajah Sehun dan tangan kanannya bergantian, lalu tersadar dan menyunggingkan senyum di wajahnya. “Tentu!” balasnya dan membiarkan Sehun menarik Yoona hingga berdiri.

Sehun membiarkan telapak tangan hangat milik Yoona bertemu dengan telapak tangan dingin miliknya dan melirik gadis yang berdiri disebelahnya dengan wajah yang merona. Sehun tersenyum puas.

Begini dulu, tidak apa-apa, ‘kan?

 

///

 

a/n: GIMANA GUYS GIMANA HAHAHA ini gaya nulis aku pas 2015 gatau deh sekarang masih sama atau makin butek HAHA:( soal Revenge sama Numinous– aku lagi nyari ide maapkeunnnn😦

p.s.: wattpad tuh lagi ngetren gasih? i was thinking about making one, kalau ada yang main wattpad juga kasitau ya hehehe

63 thoughts on “Oh!

  1. KERENN!!! Awalnya ga terlalu suka sifat yoona, tp lama2 jd kebawa alur cerita jg hahah. Anw, itu masih gantung kan ceritanya? Hehe need sequel juseyooo. Oiyaa sama ditunggu bgt revenge sm numinousnya yaaa :3

  2. akhirnya setelah sekian lama Yoona berusaha dapetin perhatian Sehun, Sehun nya luluh juga 😂

    Ini belum end kan thor? masa udah end aja, gantung kan..
    dijadiin series kaya kane thor 😳

    lanjut yaa thorr 😂

  3. sampai sekarang g tau udah berapa kali baca ff ini, dan hebatnya g bosen walau udah baca beberapa kali. love you thor!!
    semoga karya karya selanjutnya lebih bagus dari yg ini.
    bener bener need SEQUELLLLLLLLLLLL!

  4. Weeeeeeh ini ffnya kece biyuuuuut…..💪 Nice thooor tpi ini udh tmat ya??? msak?? gtu aja nih?? seriusan?? eeeeeeeum next dong authooor-nim please di next ya…..Aq tnggu

  5. Usaha yoona berbuahkan hasil yg memuaskan
    Sneng bgt deh yoonhun moment
    Sehun ungkapin klo suka yoong dong
    Pngen mreka jadian deh

  6. Daebaaakk…
    Ceritanya benar2 maniisss…
    So Sweet bangeettt…
    Akhirnya, perasaan Yoona oenni susah terbalas. Tidak sia2 perjuangannya selama ini…
    Good Job Chingu…
    Ditunggu sequel dan ff yang lainnya…
    Keep Writing and Fighting!!!

  7. Ini keren banget ya Allah >.<
    Please aku mau sequelnya thor😦
    Huwaaa YoonHun bikin baper😀
    Keep writing ya thor❤

  8. SAADIIIISSS PARAH MANISSSS!!! authooorr ini kenapa begini yaaampuun baca ini tuh bikin senyum sedih terus gemeesss gak kuat banget astagaaaa. Awalnya ngira bakal cheesy banget ternyata alurnya dan watak tokohnya keren banget cocok banget sama cast yoona sehun!!! Apalagi ini termasuk panjang tapi gak bertele tele dan maksud ceritanya langsung ngena, kata katanya juga kereeen. Pokonya the best best best best! Kalau bisa sih ini bener bener butuh sequel thor😂
    Btw kita sama sob lagi ngurusin masalah daftar kuliah wkwk
    Jadi Semangat teruuus thor! Lanjutkan karya karya seperti ini, God bless you❤❤❤

  9. Harus ada lanjutannya niih thor, harus banget malah, aku sampai terbawa suasana baca ceritanya, keren banget daaah, sehun keren banget, yoona i love you dah🙂

  10. Gila parah banget nih ff! Ini ff genre kesukaan aku banget, thor.
    Udah lama gk baca ff YoongExo yg Yoona sifatnya kyk gitu, thor.
    Gaya bahasa ff ini jg bagus thor, ngebayangin adegan nya jg kyk jd kenyataan hehehe
    Ditunggu kelanjutannya, thor!

  11. SWEET PARAH MAYGATTTT ;A;

    Pertama baca kek yang ‘buseh ini apaan Yoona nya ngapa begini amat’ tapi pas baca kesananya lucu gitu manis bgt parah ah ini harus ada sequelnya pas mereka pacaran atuhlah gitu ngebayangin Yoona manggil Sehun oppa gt y gimana gua mo terbang aja.gggg

    Ah suka banget deh:3

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s