[Freelance] Perro (2)

7663

Perro | De_Pus19

Im Yoona | Xi Luhan | Lee Jong Hyun

Bae Joo Hyeon | Oh Sehun

Chapter | Romance – Psycho | PG-17

.

Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Untuk Perro chapter 1 kemarin, aku baru sadar setelah aku kirim fanficnya kalau yang aku kirim itu file nya salah. Maaf banget. Yang kalian baca di YoongEXO itu baru setengah dari chapter yang aku post di Im Yoona Fanfic sama diblog aku sendiri.

Bagi kalian yang baca di YoongEXO, silahkan baca ulang di blog aku atau di Im Yoona Fanfic. Sebenarnya sama aja tapi ada beberapa bagian yang aku tambahin dan memang di blog aku lebih panjang.

Teaser and Prolog | Chapter 1

.

.

.

Sudah tiga bulan pasca meninggalnya seorang murid SMU yang mengejutkan warga Seoul. Kasus ini sudah ditutup dan pelaku utamanya adalah Oh Dong Il, ayahanya sendiri. Sidang akan dilaksanakan pada tanggal 4 april, awal musim semi.

Choi Siwon berdiri di depan ruang sidang, tangan kirinya menggenggam tas kantor, sementara tangan kanannya menahan ponsel ditelinga. Ia adalah pengacara Oh Dong Il dalam kasus ini. Siwon tidak begitu yakin kalau Oh Dong Il adalah pembunuh dalam kasus ini, tapi semua bukti sudah terkumpul dan dia adalah tersangka utamanya.

“Kau tidak ingin menghadiri sidangku?”

“Tidak.”

“Yak, kau ini.”

“Aku tidak ingin melihatmu kalah. Lagi pula, hewan-hewan di klinik ku lebih membutuhkanku dari pada kau.”

“Ah, kau benar. Aku akan kalah.”

“Hey, tidak biasanya kau bersikap seperti ini.”

“Entahlah, aku rasa memang dia yang pembunuh sebenarnya. Awalnya aku berpikir dia bukanlah pembunuhnya. Tapi, aku rasa aku salah.”

“Yasudah, terimalah kekalahan mu yang pertama ini. Reputasimu sebagai pengacara yang tidak pernah kalah pasti akan hancur. Jadi, lebih baik kau membantuku di klinik.”

“Yak, Xi Luhan. Kau sudah bosan hidup.”

“Aku hanya bercanda, Hyung.”

Seseorang menepuk punggung Siwon dan memberi isyarat untuk masuk kedalam ruang persidangan. Siwon mengangguk. “Luhan, nanti akan ku hubungi lagi.” Siwon memasukan ponselnya ke dalam jas lalu berjalan menuju meja yang disediakan di tengah-tengah ruangan. Ruangan persidangan hari ini cukup ramai, kasus yang Siwon tangani cukup menarik perhatian warga Seoul.

Ia menatap Jaksa Lee yang duduk tepat diseberangnya. Cho Kyuhyun, musuh Siwon selama di persidangan. Siwon tidak pernah menyukai Kyuhyun, alasannya? Karena Kyuhyun mau berbuat curang demi uang.

Siwon tersenyum kecil, ia merasa kejanggalan yang sangat besar dalam persidangan hari ini. Kasus ini memang kasus besar dan menyedot banyak perhatian, tapi kasus ini bukanlah kasus yang menghasilkan uang. Siwon dengan suka rela membantu Oh Dong Il, karena ia tidak percaya. Tapi, setelah Siwon selidiki lebih dalam. Kasus ini semakin rumit, semakin Siwon mencari tahu, semakin Oh Dong Il yang terlihat sebagai pembunuh.

Kejanggalan yang terlihat jelas adalah Jaksa dan Hakim yang hadir pada hari ini. Cho Kyuhyun dan Lee Dong Hae, dua orang yang sama-sama menyukai uang. Oh Dong Il memasuki ruang persidangan, semua mata memandang tidak suka kearahnya. Dia duduk tepat disampng Siwon. Wajahnya terlihat pasrah.

“Pengacara Choi,” Siwon menoleh. “Aku sangat merasa bersalah pada Sehun. Tapi sungguh, aku tidak pernah punya niatan membunuhnya. Jika pada persidangan hari ini dapat membayar semua dosaku, aku rela dijadikan sebagai pembunuh.”

Siwon tersenyum miris. “Aku akan berusaha.”

“Gugatan pidana yang dilaksanakan di Pengadilan Seoul akan dimulai sekarang. Pertama-tama, jenis pengadilan ini adalha juri pengadilan. Ketua juri, silahkan melakukan sumpah seorang juri.”

Seorang wanita muda berusia 20-an. Berdiri disamping kiri ruang persidangan dekat dengan Jaksa sambil memegang sebuah map. “Kami, juri yang duduk dipersidangan ini bersumpah bahwa kami akan bertindak adil dan sesuai dengan hukum dan bukti yang dijelaskan oleh hakim, kami akan memberikan keputusan yang adil.”

“Pihak penuntut, silahkan sampaikan tuntutan anda.”

Jaksa Cho berdiri. “Atas kasus pembunuhan Oh Sehun pada tanggal 3 Januari 2015 kami menuntut terdakwa Oh Dong Il atas kejahatan kekerasan pada anak dan pembunuhan.”

“Pihak pembela, silahkan sampaikan pembelaan anda.”

Siwon menarik napas lalu berdiri. “Kami menyangkal semua tuduhan yang disampaikan oleh pihak penuntut. Kami mengajukan permohonan ketidak bersalahan.”

Jaksa Cho berdiri dan menyampaikan tuntutannya. “Oh Sehun dibunuh setelah mengalami kekerasan. Tubuhnya mengalami memar dan patah tulang dibagian rusuk. Hal itu dikarenakan terdakwa Oh Dong Il memukulinya hingga tewas.”

“Pertama-tama, dia memukul bagian belakang tubuhnya, membuat si korban jatuh lemas. Dia terus memukuli punggung korban hingga menyebabkan beberapa tulang rusuknya patah. Senjata yang dia gunakan adalah tongkat bisbol yang terbuat dari alumunium.”

Asisten Jaksa Cho menyerahkan sebuah bukti berupa tongkat bisbol yang sudah dibungkus plastik kepada Hakim. “Berapa kali dia memukuli korban? Sekali, dua kali, tiga kali? Cukup lima kali untuk membuat tulang rusuk seseorang patah. Menurut hasil otopsi dia,” Jaksa Cho menunjuk Oh Dong Il. “Memukulnya lebih dari 20 kali pada punggung korban.”

Seketika semua orang dipersidangan sedikit ribut, terkejut mendengar penjelasan Jaksa. Oh Dong Il hanya bisa tertunduk.

“Korban langsung muntah darah saat itu juga. Kedua, pelaku memukul tubuh bagian depan korban, tepat diperut bagian kiri dibawah tulang rusuk. Hal itu menyebabkan limpanya pecah. Limpanya meledak selama Oh Dong Il memukulinya, korban mengalami pendarahan internal.”

“Tapi menurut hasil otopsi, korba tewas bukan karena tulang rusuknya patah atau limpanya meledak. Tapi, tulang rusuk dibagian depan dada korban yang patah menusuk paru-paru dan jantung korban.”

Siwon bangkit dan berjalan ketengah ruangan berhadapan dengan Kyuhyun. “Hasil otopsi memang membuktikan bahwa Oh Sehun meninggal disebabkan oleh paru-paru dan jantungnya tertusuk tulang rusuk. Tapi, hal itu tidak membuktikan bahwa korban dibunuh oleh Oh Dong Il.”

Siwon menyerahkan laporan berisi hasil penyelidikannya. Dilayar diperlihatkan hasil foto tubuh Sehun. “Lihat dibagian dadanya,” Siwon memperbesar dibagian dada kanan Sehun. “Ada bekas cakaran yang merobek daging korban. Bekas cakaran ini didapat ketika terjadi pembunuhan, sementara pada saat ditemukan korban berada diluar ruangan, tepat dipekarangan rumah ditengah salju. Korban mengenakan seragam sekolah dan matel yang tebal.”

“Bagaimana cara pelaku mencakar tubuh korban, sementara korban mengenakan pakaian? Itu artinya, tempat terjadinya pembunuhan ada didalam ruangan dan saat itu korban tidak mengenakan pakaian.”

“Hasil tim forensik menyatakan bahwa darah korban hanya terdapat di pekarangan rumah, bukan di dalam rumah,” Siwon memperlihatkan lokasi korban ditemukan. “Dan tim forensik juga menyatakan bahwa pada kuku Oh Dong Il tidak terdapat darah atau daging korban.”

“Dan yang lebih menguatkan lagi fakta bahwa Oh Dong Il bukanlah pembunuh adalah darah pada tubuh korban,” Siwon memperlihatkan darah yang sudah mengering pada bagian leher dan dada. “Lihat ini, seragam sekolah korban tidak terkena darah setetes pun. Padahal ketika korba muntah darah, seharusnya darah korban yang mengering di leher dan dada juga membekas dibaju korban.”

“Artinya, darah korban mengering bahkan sebelum pelaku memakaikan kembali baju korban.”

.

.

.

Jong Hyun yang dari tadi menonton jalannya persidangan dari awal merasa gelisah. Persidangan diistirahatkan sampai jam makan siang selesai. Ia berdiri di lorong di depan mesin penjual minuman otomatis sambil menempelkan ponselnya ditelinga.

“Yoong.”

“Ada apa?”

“Kau mencakarnya?”

“Siapa?”

“Oh Sehun.”

“Ah,” Yoona terdiam. “Hm, aku tidak ingat. Ada apa?”

“Astaga! Pengacara Oh Dong Il mengungkit masalah ini.”

“Hanya bekas cakaran saja. Bukankah tidak berarti apa-apa?”

“Kau bahkan bisa masuk penjara hanya karna sebuah cakaran.”

“Benarkah? Sayangnya aku telah memotong kuku ku. Tada! Mereka tidak bisa menuduhku.”

“Yasudah, kau tidak perlu khawatir.”

“Aku tidak pernah khawatir. Oh, dan satu lagi. Aku mendengar dari pengawal Kim kalau kau menukar barang buktinya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Orang-orang akan curiga kalau barang buktinya adalah tongkat golf. Orang miskin tidak bermain golf, Yoong.”

“Ah, Jong Hyun. Kau pintar juga. Hm, baiklah. Aku serahkan semuanya padamu.”

“Lee Jong Hyun?” Jong Hyun menoleh dan langsung terkejut melihat Siwon sudah berdiri didepannya. Segera ia memasukan ponsel ke dalam saku jas. “Lee Jong Hyun, kan?”

Jong Hyun tersenyum. “Choi Siwon.”

“Ah, kupikir kau tidak mengingatku. Kau tadi berjalan saja melewatiku.”

“Aku yang takut salah orang.”

Lee Jong Hyun, Choi Siwon, bahkan Cho Kyuhyun adalah teman satu sekolah dulu. Jong Hyun sangat akrab dengan mereka berdua. Tapi, Siwon dan Kyuhyun sangat tidak akur seperti anjing dan kucing.

“Apa yang kau lakukan disini? Kulihat tadi kau menghadiri persidanganku.”

“Iya benar. Oh Sehun adalah salah satu murid di Seoul High School, anak cabang perusahaan tempatku bekerja.”

“Kau bekerja di Nam Ju Grup?”

“Iya.”

“Wah, aku tidak menyangka temanku bekerja dengan orang besar,” Siwon menoleh kearah pintu ruang sidang. “Baiklah. Kita lanjutkan bicaranya nanti saja.”

.

.

.

“Apakah benar Oh Dong Il sering memukuli Oh Sehun?”

“Iya. Bahkan suara jeritan Sehun terdengar sampai kedalam rumah saya.”

“Apa anda orang pertama yang menemuka Oh Sehun?” Jaksa Cho bertanya pada saksi satu, Seo Joo Hyun. Anak pemilik kontrakan tempat tinggal korban.

Joo Hyun mengangguk. “Bukan.”

“Tapi, anda yang melapor ke polisi?”

“Iya,” Joo Hyun memandang Oh Dong Il lalu menunduk. “Pagi itu saya seperti biasa menjemput Sehun ke rumahnya. Langit masih gelap, karena kemarin malam hujan salju. Saya mendengar suara Tuan Oh dari luar jalanan memanggil Sehun. Saya mengintip, sayang melihat,” Tubuh Joo Hyun bergetar, dia menangis.

“Sehun tertidur di pekarangan rumah, tubuhnya sudah tertimbun salju. Dan saya melihat Tuan Oh memanggil Sehun sambil mendang tubuhnya. Tuan Oh terlihat mabuk hari itu.”

Jaksa Cho berbalik menatap Hakim. “Bahkan setelah membunuh korban, pelaku masih menendangi mayat korban.”

Kini giliran Siwon yang memanggil seorang saksi. Dia, Jang Mo Hyun, teman minum Oh Dong Il malam itu.

“Apa benar anda bersama dengan Tuan Oh malam itu?”

“Iya.”

“Jam berapa anda dan Tuan Oh minum?”

Pria tua itu terlihat berpikir keras. “Jam 10 malam, kami bersama yang lain tertidur di toko Nyonya Park sampai pagi. Dong Il pulang ke rumahnya pukul 6 pagi.”

“Anda yakin Oh Dong Il tidak meninggalkan tenda Nyonya Park sampai pagi?”

“Iya. Karena kami mabuk berat dan Nyonya Park mengijinkan kami tidur di tokonya sampai pagi. Nyonya Park menutup tokonya jam 12 malam dan membukanya jam 6 pagi. Jadi, selama kami tertidur Nyonya Park mengunci tokonya. Dong Il tidak mungkin bisa keluar.”

“Menurut perkiraan pembunuhan terjadi pukul 4 sampai 5 pagi. Sementara Tuan Oh baru pulang ke rumahnya pukul 6 pagi. Coba kita lihat lagi lokasi kejadian ditemukan korban,” Siwon menunjuk kearah layar. “Bisa dilihat tubuh korban tertimbun salju, pembunuhan terjadi pukul 4 sampai 5 pagi, sedangkan hari itu hujan salju terjadi pukul 9 sampai 12 malam.”

“Pelaku bisa saja mengubur korban.” Jaksa Cho menyambar.

“Benar, itu bisa terjadi. Tapi, tim penyelidik menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda penggalian salju.”

“Itu artinya, lokasi sebenarnya tempat terjadi pembunuhan bukanlah di pekarang rumah. Kejadian sesungguhnya mungkin, korban dibunuh oleh pelaku disuatu tempat lalu pelaku memindahkan korba ke pekarangan rumah korban. Pelaku juga mengkambing hitamkan Tuan Oh sebagai tersangka yang seharusnya sebagai saksi pertama.”

“Pelaku mengetahui bahwa hubungan Oh Sehun dan Oh Dong Il tidak baik. Hari itu Oh Dong Il yang baru saja pulang dari toko Nyonya Park terkejut melihat anaknya tertidur di pekarangan. Oh Dong Il ingin membangunkan anaknya, tapi Seo Joo Hyun salah mengartikannya.”

“Itu hanya spekulasi dari pengacara.” Sambar Jaksa Cho lagi.

“Spekulasi? Ini adalah spekulatif dari akal sehat.”

“Saya setuju dengan Jaksa,” Siwon menoleh menatap Hakim Lee. Astaga! Apa mereka bekerja sama? “Pengacara, silahkan tampilkan bukti dari pernyataan anda.”

“Baiklah, saya akan memanggil saksi selanjutnya. Seo Joo Hyun, silahkan maju kedepan.”

Joo Hyun yang duduk dikursi penonton sedikit terkejut. Tapi ia segera menuruti perintah Siwon dan kembali lagi duduk dikursi saksi.

“Seo Joo Hyun, benarkah rumah anda bersebelahan dengan rumah Oh Sehun?”

“Iya.”

“Setiap pagi anda dan Oh Sehun berangkat sekolah bersama. Boleh saya tahu, pukul berapa anda bangun pagi?”

“Ibunya saya sakit keras, setiap hari pukul 4 pagi saya sudah bangun dan membereskan rumah.”

“Seperti yang anda katakan tadi, setiap Oh Dong Il memukuli Oh Sehun, anda bisa mendengar jeritan Oh Sehun?”

“Iya.”

“Coba anda ingat-ingat, hari itu, pagi itu apakah anda mendengar jeritan korban?”

Joo Hyun mendonggak menatap Siwon seakan dia baru saja mengingat sesuatu. “Tidak.”

“Menurut anda, jika Oh Sehun dipukuli seperti itu, apa jeritannya terdengar sampai kerumah anda?”

“Iya. Saya rasa Sehun akan berteriak minta tolong.”

Siwon tersenyum. Ia sedikit merasa lega, setidaknya Joo Hyun yang awalnya menyudutkan Oh Dong Il. Kini berubah jadi sedikit berpihak padanya. “Anda satu sekolah dengan korban, anda dan korban selalu berangkat dan pulang bersama?”

“Iya.”

“Tapi saya dengar hari itu anda tidak pulang bersama dengan Sehun.”

“Iya. Hari itu ada acara beasiswa, saya dan Sehun selalu menghadiri acara itu setiap tahun. Acara dimulai sepulang sekolah, sekitar pukul 5 sore sampai 8 malam.”

“Dimana acara beasiswa berlangsung?”

“Kantor pusat Nam Ju Grup.”

Siwon menarik napas panjang lalu melirik Jong Hyun yang masih duduk dikursi penonton. “Kenapa hari itu anda tidak pulang bersama Oh Sehun?”

“Karena Sehun bilang ada sedikit urusan, katanya ada seseorang yang ingin bertemu dengannya?”

“Siapa kau tahu?”

Joo Hyun menggeleng. “Tidak, aku tidak tahu siapa yang ingin bertemu dengannya. Tapi,” Joo Hyun bangkit lalu memutar tubuh menghadap penonton. “Orang yang memanggil Sehun ada disini,” Joo Hyun menunjuk kesalah satu penonton disana. “Dia. Pria itu.” Lee Jong Hyun.

To Be Continued

10 thoughts on “[Freelance] Perro (2)

  1. DAEBAKKK!! PARAH SUKA BANGET! KAYA DRAMA BENERANNN!!!! OH GOD AKU SUKA ADA SIWON JONGHYUN DONGHAE KYUHYUN (Mereka pairing yoona fav aku dulu sebelummunculnya para anak muda yang lebih menggoda wkwkwk)… cuma rada merinding pas tau yoona nyiksa sehun, aku kira dia cuma mau main-main sama ‘anjing kecil’ nya

  2. Waduhh disini character Yoona mirip bgt sama Nam Gyuman di drama Remember(?) Orang kaya yg psycho gitu. Poor sehun…

  3. Huwaahhhh..Yoona serem banget, sampe tega bunuh Sehunnie😦. Tapi Yoona itu kenapa sih kok psycho banget, kebangetan malah. Waduhh, Yoona bakal ketahuan nggak ya? LuYoon moment belum ada nih😦, next chap adaain ya thor, yang buwanyaakkk. Hehehe😀, ditunggu kelanjutannya thor. Fighting!!!

  4. Jadi sehun beneran meninggal? Kirain dia bakal lama disini. Seru ffnya, kan jarang2 yoona jd serem gini. Gmn sidangnya nih? Yoona bakal ditangkep atau gmn? Ditunggu kelanjutannya.. Fighting

  5. Sehun dbnuh Yoong??
    APA yg trjadi???
    Gilaa,, keren..
    Okelah aku ntar bca ulang
    Dtunggu aja klnjutannya!!
    FIGHTING!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s