irresitle

Irresistible (Chapt. IV)

I R R E S I S T I B L E

by
Clora Darlene

Main Casts
Im YoonA | Oh Sehun

Supporting Casts
You’ll find out while you reading this.

Length | Rating | Genre
Chaptered | PG-13 | Romance, Marriage Life

[ I | II | III ]

poster by; berserkheal @ArtFantasy

Sehun memakirkan mobilnya di garasi rumah ayahnya. Ia mengunjungi ayahnya untuk bersantai atau setidaknya meluangkan waktu untuk ayahnya yang sudah mulai menginjak umur lebih dari setengah abad lebih satu dekade tersebut. Ayahnya tampak mendelik dari balik korannya saat kaki jenjang Sehun masuk ke dalam rumahnya.

“Hai, dad.” Sapa Sehun.

“Apa yang kaulakukan di sini?” Tanya ayahnya tidak berbasa-basi.

Sehun memandang ayahnya tanpa berkedip. “Ini adalah rumahku. Apa aku tidak boleh pulang ke rumahku sendiri?”

“Yoona baru saja dari sini dan dia mengatakan bahwa kau menghilang selama tiga hari.” Beritahu ayahnya lalu melipat korannya dan ditaruhnya di atas meja kayu di hadapannya.

Sehun mengerang pelan. “Aku tidak menghilang. Aku sudah mengatakan kepadanya bahwa aku akan pergi.”

“Tapi, kau tidak memberitahu kepadanya kemana kau akan pergi.”

“Bisakah kita mengganti topik pembicaraan kali ini, appa? Aku sudah pulang dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.”

Sehun duduk di hadapan ayahnya lalu matanya tak sengaja melirik sebuah kotak berwarna putih di atas meja. “Apa ini?” Tanyanya lalu membuka kotak tersebut.

Tepat saat itu juga, ia terdiam.

“Yoona yang membawanya,” Beritahu ayahnya walaupun Sehun tidak bertanya siapa yang membawakan Pie Apel itu untuk ayahnya. “Yoona sangat baik, padahal kau memperlakukannya dengan sangat jahat.”

Sehun kembali menutup kotak tersebut dan tidak membiarkan aroma kesukaannya itu menyerbak menyerang indera penciumannya. “Dia tidak sebaik itu.” Bantah Sehun.

“Kau tidak pernah menceritakan kepada appa alasan hubungan kalian berakhir tujuh tahun lalu.”

“Cerita itu sudah basi.”

“Apa kau berselingkuh?”

Sehun langsung membelalakkan matanya. Kaget dengan pertanyaan ayahnya. “Tentu saja tidak!” Suaranya mendadak meninggi satu oktaf.

Appa hanya bertanya,” Ayahnya menaikkan kedua bahunya. “Appa dengar kau dan Yoona menandatangani kontrak dengan CRTC.”

Sehun menyandarkan punggungnya lalu mengangguk pelan. “Bagaimana appa tahu?”

“Yoona memberitahu appa saat dia datang kemari tadi.”

“Baguslah jika dia sudah memberitahu appa, jadi aku tidak perlu melaporkan banyak hal kepada appa.” Timpal Sehun ringan.

“Berapa nilai kontrak tersebut?” Tanya ayahnya.

“Tiga ratus miliar won.” Jawab Sehun.

“Dan, penalty-nya?” Tanya ayahnya lagi.

Kening Sehun mengerut. Ia mencoba mengingat-ingat hal yang ditanyakan oleh ayahnya itu. “Entahlah. Aku lupa. Mungkin tiga kali lipat dari nominal yang ditawarkan.”

“Sembilan ratus miliar won?” Ayahnya memastikan, lalu Sehun kembali mengangguk. “Berhati-hatilah. Sembilan ratus miliar bukanlah uang yang sedikit.”

“Aku sudah tahu itu.” Timpal Sehun.

“Bagaimana hubunganmu dengan Luhan?”

“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Aku bukan gay.”

“Kalian adalah teman baik selama SMA.”

“Kalau begitu, bagaimana hubungan appa dengan Ayah Luhan? Kenapa appa tidak datang ke acara pemakaman Ayah Luhan waktu itu?” Well, apa yang Sehun ucapkan adalah benar. Ayahnya dan Ayah Luhan adalah teman baik sekaligus partner dalam hal pekerjaan. Tapi, sayang sekali, tidak lama dari kematian ibunya, Ayah Luhan diberitakan meninggal karena serangan jantung.

Ayahnya menghela nafas berat. “Seharusnya appa memberitahumu dari awal—lebih baik untukmu tidak menandatangani kontrak apapun dengan CRTC. Tapi, karena kau dan Yoona telah menandatangani salah satu kontrak dengan mereka, maka berhati-hatilah.”

Kening Sehun mengerut. “Kenapa aku harus berhati-hati? Aku tidak akan korupsi.”

“Nominal penalty yang mereka tawarkan tidak main-main. Tidak menutup kemungkinan jika yang mereka incar adalah uang penalty, bukan project yang akan menghasilkan tiga ratus miliar won. Itu yang mereka lakukan pada perusahaan kita dua belas tahun lalu.”

Appa pernah menandatangani kontrak dengan CRTC dua belas tahun lalu?” Kening Sehun mengerut dalam. Matanya memancarkan tanda tanya besar.

“Ya. Permainan mereka sangat kotor dan berbahaya. Mereka menjebak perusahaan kita untuk mendapatkan uang penalty yang mereka inginkan.”

“Bagaimana cara mereka menjebak appa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Sehun. Ayolah, Sehun tahu pasti betapa pintar ayahnya itu, dan tidak akan mudah untuk membuatnya jatuh ke lubang yang dalam.

“Tetap berhati-hatilah, dan jaga Yoona dengan baik.” Titah ayahnya, menolak untuk menjawab pertanyaan anak sematawayangnya.

Iris pure hazel Sehun terputar. “Yoona memiliki pengawal, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menjaganya. Aku pulang dulu, see you soon, dad.” Sehun bangkit dari kursinya lalu melangkah keluar. Tangannya meraih ponsel di dalam saku celananya lalu memasang wireless earphone-nya.

Boss?

“Hey, Tiff. Aku ingin kau memeriksa arsip perusahaan dengan CRTC dua belas tahun lalu.” Perintah Sehun lalu memutar holder stir mobilnya.

Baiklah, boss.”

“Laporkan semuanya besok kepadaku.”

“Hanya ini yang bisa kudapatkan,” Tiffany menjejerkan beberapa lembar kertas di atas meja Sehun. “Aku tidak menemukan lembaran kontrak asli. Ini semuanya hanya file copy. Kedua orangtua Anda yang menandatanganinya dan juga Ayah Luhan.”

Sehun memeriksa baik-baik setiap lembar yang didapatkan oleh asistennya tersebut. “Hanya ini saja?”

“Ya. Kurasa sebagian file-nya telah dihapus secara permanen. Kontrak ini dibatalkan oleh perusahaan kita karena kematian ibu Anda.”

Sehun mendongakkan kepalanya. “Karena itu? Kau yakin?”

Tiffany mengangguk yakin. “Aku mencari tahu hal itu semalaman, boss. Kontrak ini sama dengan kontrak kita sekarang dengan CRTC. Dua belas tahun lalu orangtua boss yang menandatanganinya, dan sekarang boss dan Nyonya Yoona yang menandatanganinya. Karena ibu Anda mengambil peran dalam kontrak ini dan kematiannya yang begitu mendadak, kontrak ini dianggap batal dan ayah Anda harus membayar penalty kepada CRTC.”

“Seberapa banyak?”

“Tiga ratus miliar won.” Jawab Tiffany.

“Lalu, ada lagi?”

“Seminggu setelah kematian ibu Anda, ayah Luhan meninggal dunia karena penyakit jantung yang sudah dideritanya selama kurang lebih tiga tahun—serangan jantung.” Lanjut Tiffany.

“Aku sudah tahu itu,” Timpal Sehun. “Bisa kau ambilkan kontrak kita dengan CRTC?”

Tiffany langsung mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan Sehun dan menuju mejanya. Ia mencari file copy kontrak perusahaan tempatnya bekerja dengan CRTC lalu kembali ke ruangan Sehun dengan selembar kertas. Ia memberikannya kepada Sehun lalu kembali duduk di hadapan laki-laki itu. “Itu hanya salinan, boss. Nyonya Yoona membawa file yang asli, dan Xi Luhan juga pastinya.”

Sehun membaca dengan seksama lembaran kertas yang kini berada digenggamannya. Ia tahu pasti kertas itu bernilai sangat besar. Bahkan penalty yang diajukan bernilai setengah dari kekayaannya. Sehun mengetukkan jemarinya di atas meja sembari berpikir keras. Tidak mungkin Xi Luhan hanya ingin bekerja sama dengan perusahaannya—mengingat hubungan kedua pemilik perusahaan itu tujuh tahun terakhir sangatlah buruk karena masalah seorang perempuan.

“Aku mengerti. Well done, Tiff. Kau bisa pergi.”

Tepat sedetik setelah Tiffany menghilang di balik pintunya, ponsel Sehun berdering. Nama kepala pengawalnya tertera di layar dan membuatnya langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang. “Ada apa?” Tanya Sehun tanpa berbasa-basi.

Yoona akan makan malam bersama Luhan malam ini di The Lounge. Apa aku harus ikut mengawalnya?

“Ya, tentu saja,” Jawab Sehun. “Apa kau bisa membocorkan tangki bensin mobil Luhan nanti?”

Itu akan sedikit susah. Butuh waktu cukup lama untuk membocorkan tangki mobilnya dan pengawal Luhan pasti akan berjaga dengan ketat.”

“Bagaimana dengan ban mobilnya?”

Aku bisa jika yang satu itu.

“Baiklah. See you there.”

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sehun merapihkan jasnya sembari menunggu pintu elevator terbuka. The Lounge yang ia tuju berada di lantai dua puluh empat Park Hyatt Seoul. Sehun mengerti bahwa The Lounge adalah tempat makan romantis dengan kursi yang terbatas dan berada di salah satu hotel berbintang lima Seoul, dan ia masih tidak mengerti mengapa Luhan rela membuang uangnya untuk memesan The Lounge seluruhnya hanya untuk makan malamnya bersama Yoona.

Ayolah, bahkan Sehun yang menjabat sebagai suami Yoona tidak akan melakukan hal itu.

Ting!

Pintu elevator terbuka dan iris pure hazel-nya dapat menangkap beberapa pengawal Yoona serta pengawalnya tengah berdiri di pintu masuk The Lounge. Dan juga, beberapa pengawal berwajah China yang sudah dipastikan adalah pengawal Luhan. “Selamat malam, Tuan,” Kai membungkuk dan diikuti beberapa pengawal lainnya menyambut kedatangan Sehun. “Nyonya Yoona sudah datang.”

Sehun hanya mengangguk sebagai respon dari laporan Kai. Pengawalnya membukakannya pintu The Lounge dan ia dapat menangkap wajah Luhan lalu diikuti wajah Yoona yang terkejut dengan kedatangannya yang tidak disangka-sangka. Well, tidak ada yang mengundangnya. Sehun tersenyum manis. “Maafkan aku karena datang terlambat,” Yoona langsung berdiri dari kursinya masih dengan tatapan kaget. Sehun melangkahkan kakinya mendekati Yoona lalu meraih pinggul Yoona dan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya dan mencium bibir perempuan lembut.

Sehun tahu bahwa Yoona kaget. Tapi, itu tidak berarti bahwa Sehun akan melepaskan ciumannya begitu saja. “Selamat malam, sayang. Aku merindukanmu,” Ucap Sehun di sela ciumannya. Merasa cukup, Sehun akhirnya melepaskan ciumannya dan beralih memandang Luhan. “Kita bisa melanjutkan makan malamnya.”

Sehun menarik kursi di sebelah Yoona dan ketiganya bersamaan duduk. “Kedatanganmu di luar perkiraanku, Sehun-ssi.” Ucap Luhan.

“Benarkah? Senang bisa memberikan kalian sedikit kejutan,” Sehun tersenyum kecil. “Dan, sebenarnya, aku sungguh mengapresiasi usahamu untuk menyewa The Lounge hanya untuk makan malam dengan istriku.”

Yoona harus mengendalikan detak jantungnya, sungguh. Jika tidak, bisa-bisa jantungnya akan loncat begitu saja karena terlalu keras berdetak.

Ayolah, bagaimana jantungnya tidak bereaksi seperti ini saat Sehun tiba-tiba datang lalu menciumnya?!

Yoona mengutuk Oh Sehun dalam hatinya. Ah, dan aroma parfum Oh Sehun yang begitu khas langsung menusuk indera penciumannya. Yoona bahkan dapat mencium aroma laki-laki itu sudah menjadi satu dengan aroma parfum Dior-nya kali ini.

Sehun masih mengenakan jasnya yang sama saat ia berangkat ke kantor pagi tadi—menandakan laki-laki itu langsung berangkat ke sini setelah pekerjaannya selesai.

Yoona menjernihkan pikirannya. Penciumannya yang sudah dikuasai oleh aroma Sehun dan detak jantungnya yang tidak karuan—Yoona dalam masalah besar.

“Dan, sebenarnya, aku sungguh mengapresiasi usahamu untuk menyewa The Lounge hanya untuk makan malam dengan istriku.” Ucap Sehun.

“Aku dan Luhan hanya membicarakan tentang kerja sama perusahaan kita.” Bantah Yoona memberanikan dirinya untuk membuka suaranya.

Yoona dapat melihat Sehun yang memandang dari sudut matanya dan itu membuatnya bereaksi memandang balik iris pure hazel itu. “Benarkah begitu, sayang?”

Oh, sialan. Don’t you dare look at me in that way!

Sehun menatapnya dengan tatapan yang hangat dengan iris pure hazel yang terang—tatapan kesukaan Yoona. Tatapan Sehun kala dulu kepadanya, dan ini adalah kali pertama Sehun menatapnya kembali seperti itu setelah tujuh tahun mata itu menatapnya dengan kebencian. Demi Tuhan, Yoona, kau harus menenangkan jantungmu!

Yoona mengangguk pelan. “Ya. Ini makan malam bisnis. Tidak lebih.”

“Yoona sangat bersemangat dengan kontrak kerja sama perusahaan kita kali ini.” Luhan menambahkan dengan sebuah senyuman kecil.

“Dia sangat bertanggungjawab dan pintar. Itu mengapa dia sangat bersemangat.” Timpal Sehun lalu seorang pelayan mendatanginya dan menanyakan Sehun mengenai makanan yang ingin ia pesan.

“Aku dan Yoona sudah menyusun kerja sama ini dari lama. Setahun lalu, bukankah begitu, Yoong?” Tanya Luhan lalu memandang Yoona.

“Ya, setahun lalu, Lu.” Yoona membenarkan.

Kening Sehun mengerut dalam dan matanya menyipit memandang Luhan serta Yoona bergantian. “Kalian sudah merencanakan kontrak ini?”

“Ya. Aku dan Yoona sudah membicarakan tentang kerja sama ini setahun lalu dan akhirnya sekarang terlaksana.” Jawab Luhan.

“Wow. Kini kalian yang mengejutkanku.” Timpal Sehun lalu tertawa hambar.

“Yoona tidak menceritakannya kepadamu?” Tanya Luhan.

“Menceritakan tentang kerja sama kalian yang ternyata sudah kalian rencanakan setahun lalu? Tidak,” Sehun menolehkan kepalanya dan memandang Yoona. “Kau selalu berhasil mengejutkanku, Yoona-ya.”

Yoona terperangkap dalam pembicaraan sarkastik kedua laki-laki itu. Keduanya saling melemparkan sindiran dan Yoona mulai merasa muak—terutama dengan Oh Sehun.

“Aku dan Yoona sering bertemu untuk membahas kerja sama ini sebelum pernikahan kalian.” Aku Luhan.

Sehun lalu menjentikkan jarinya dan ia menyeringai lebar. “Ah, aku mengerti. Bahkan setelah aku menikah dengannya, kau masih sering bertemu dengannya. Ingat pertemuan kita saat di Pulau Jeju, Luhan-ssi? Aku tidak menyangka kau akan segigih itu untuk bertemu dengan Yoona hingga kau menyusulnya ke sana.”

“Kita tidak sengaja bertemu di sana,” Yoona membantah. Well, itu benar. Ia tidak sengaja bertemu dengan Luhan yang saat itu tengah berlibur di Pulau Jeju. Dan, Luhan juga tidak sengaja—ternyata—bertemu dengan Sehun. “Saat itu kita sedang berbulan madu, kau ingat, sayang?” Yoona tersenyum kecil.

“Saat itu kita sedang berbulan madu, kau ingat, sayang?” Yoona tersenyum kecil.

Mulut Sehun terkatup rapat sebelum ia menjawab pertanyaan Yoona. Perempuan yang dibalut dress emas dengan rambut yang diikat rendah itu tersenyum kecil memandangnya dan tatapannya yang berbinar. Mata Yoona berukuran lebih besar dari kebanyakan Orang Korea dan dipadupadakan dengan iris madu bulat sempurna. “Tidak mungkin aku lupa.” Jawab Sehun yakin.

“Aku senang akhirnya kita bisa bekerja sama, Sehun-ah.” Ucap Luhan.

Sehun-ah? Kita tidak sedekat itu, Luhan-ssi.

“Ya, tentu saja. Aku juga merasa sangat senang bisa bekerja sama dengan kawan SMA-ku.”

Sedetik kemudian, ponsel Luhan berbunyi. Laki-laki itu permisi untuk mengangkatnya, dan hanya menyisakan Sehun serta Yoona di meja makan. “Apa yang kauinginkan?” Tanya Yoona to the point kepadanya dengan nada suara yang direndahkan.

“Apa kau pikir hanya perusahaanmu saja yang terlibat dalam kerja sama ini? Tidak. Berhentilah berlagak bahwa kau bisa menghandle kerja sama ini. You know nothing, Yoona-ssi. Mark my words.”

Yoona mendengus pelan dan ia langsung memalingkan wajahnya untuk meredakan amarahnya. Beberapa saat kemudian, Luhan kembali duduk di hadapan Sehun serta Yoona. “Hanya masalah kecil.” Beritahu Luhan kemudian tertawa hambar.

Yoona adalah orang pertama yang menyadari kedatangan kepala pengawal Sehun—Kai. “Kai?”

“Aku ingin melaporkan mobil Tuan Luhan mengalami kebocoran ban.” Beritahu Kai.

“Ya, aku sudah tahu. Pengawalku baru saja memberitahuku.” Timpal Luhan.

“Sayang sekali. Mobil pengawalmu pasti sudah penuh dan tidak etis jika pimpinan perusahaan menggunakan mobil pengawal. Bagaimana jika kita mengantarmu pulang?” Sehun menawarkan bantuan dengan sangat ramah kepada Luhan. “Aku hanya ingin bersikap baik karena kau sudah menemani Yoona makan malam. Aku sangat mengapresiasinya. Jadi, kumohon, jangan menolaknya,” Sehun menoleh kepada Kai sebelum Luhan memutuskan. Ia merogoh saku jasnya dan memberikan kunci mobilnya kepada Kai. “Pakai mobilku. Kau menyetir.”

“Baik, Tuan.” Kai menerima kunci mobil Sehun lalu sekejap ia menghilang di balik pintu.

Luhan, Sehun, dan Yoona mengakhiri makan malam mereka. Luhan melangkahkan kakinya lebih dulu lalu diikuti Sehun yang tetap merangkul Yoona di dalam dekapannya. Range Rover putih milik Sehun telah terparkir di depan pintu lobby hotel. Sehun membukakan pintu mobil untuk Yoona dan membantu perempuan itu masuk ke dalam mobil karena dress emasnya yang panjang menghalangi langkahnya.

“Awasi mobil-mobil yang mengikuti kita. Kau mengerti?” Bisik Sehun pelan pada telinga Kai.

“Aku mengerti.” Kai mengangguk dengan yakin lalu membukakan pintu mobil untuk Sehun. Ia menekan tombol kecil pada earpiece-nya dan menyuruh anak buahnya untuk berjaga mengawasi keadaan sekitar, seperti yang diperintahkan oleh Sehun.

Luhan duduk di depan berdampingan dengan Kai, sedangkan Sehun duduk di kursi tengah bersama Yoona. Sehun tetap menggenggam erat tangan istrinya. Range Rover tersebut diikuti oleh dua mobil di belakangnya—satu mobil pengawal Luhan, dan satu mobil lainnya adalah pengawal Yoona dan Sehun.

“Aku tidak menyangka kau akan menandatangani kontrak tersebut, Sehun-ssi.” Luhan membuka pembicaraan.

“Itu bukan apa-apa. Aku hanya ingin membuat Yoonaku senang.” Timpal Sehun ringan. Sesekali Sehun memandang melirik ke belakang, memperhatikan mobil-mobil yang mengikutinya selain mobil pengawalnya serta pengawal Luhan.

“Kebahagiaan Yoona adalah yang utama, begitukah menurutmu?” Lagi, Luhan bertanya.

Sehun tersenyum kecil. “Tentu saja. Kau juga pasti berpikiran sama sepertiku, mengingat kau dulu juga memprioritaskan kebahagiaannya.”

Yoona melirik Sehun tajam. Laki-laki ini sangat jahat. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya sama tajamnya dengan sumpah serapah.

“Itu adalah masa lalu.” Timpal Luhan ringan.

“Ya, aku bersyukur karena itu hanyalah masa lalu. Bukankah begitu, Yoona-ya?” Sehun menoleh dan menatap iris madu Yoona lekat-lekat di antara kegelapan mobil.

Yoona tersenyum kecil. Ada sirat tajam pada tatapannya yang membalas tatapan Sehun. “Ya, tentu saja, sayang. Aku bersyukur memilikimu kembali sekarang.”

Lagi, Yoona berhasil membuat mulut Sehun terkatup rapat. Yoona memainkan perannya sama baiknya dengan Sehun.

Beritahu Yoona—siapa makhluk Tuhan yang lebih sialan ketimbang Oh Sehun?

Tidak ada.

Yoona melepaskan ikatan rambutnya dan masih menghujat laki-laki itu dalam hatinya. Akting kissing tadi itu tidaklah lucu. Maafkan dirinya yang terlalu berlebihan, tapi Yoona tahu pasti apa yang bisa membuatnya kehilangan kendali—salah satunya adalah sikap manis Oh Sehun.

Sikap manis laki-laki itu mampu membuat Yoona lupa betapa brengsek sebenarnya laki-laki itu. Im Yoona—masih sama seperti dulu—mudah terjatuh dalam pesona Oh Sehun. Ayolah, perempuan mana yang tidak terpesona dengan Oh Sehun?

Aroma khas laki-laki itu masih menempel pada badannya, terutama pada tangannya. Genggaman laki-laki itu terasa hangat pada kulitnya dan—akui saja—Yoona menyukainya.

Oh, lihatlah. Lagi, Yoona berhasil melupakan kebrengsekkan laki-laki itu hanya dengan sentuhan kulit.

“Selamat malam, sayang. Aku merindukanmu.”

Ciuman, genggaman, tatapan—jantung Yoona tidak dapat berkompromi dengan hal-hal seperti itu.

Sehun menutup pintu kamarnya.

Ia melepaskan jasnya dengan cepat dan melemparnya sembarangan. Suhu tubuhnya mendadak meninggi dan rasanya sangat gerah bagi Sehun. Ia tidak merencanakan mencium Yoona tadi, hanya saja badannya bergerak di luar kendalinya.

Melihat Luhan di sana membuatnya bereaksi lebih dari apa yang ia perkirakan.

Sehun duduk di pinggir ranjangnya. Rasanya seperti ada yang salah pada dirinya.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk mandi dan mendinginkan kepalanya yang membara. Ia tidak suka jika Im Yoona memenuhi pikirannya, karena perempuan itu memang tidak seharusnya dipikirkan olehnya. Ia tidak pernah betul-betul menganggap Yoona sebagai istrinya atau sebagai miliknya, tapi melihat perempuan itu makan malam dengan Luhan—Sehun membencinya.

Oh, astaga, lalu kenapa ia datang ke makan malam tersebut jika ia tidak benar-benar menganggap Yoona?

Ia harus membuktikan ucapan ayahnya.

“…Permainan mereka sangat kotor dan berbahaya. Mereka menjebak perusahaan kita untuk mendapatkan uang penalty yang mereka inginkan.”

Ayahnya menolak menjelaskannya lebih jauh mengenai kata ‘menjebak’ yang diucapkan oleh ayahnya. Itu membuat Sehun harus mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi di antara perusahaannya dengan perusahaan keluarga Luhan.

Ia tidak pernah berpikir bahwa hubungan keluarganya dengan keluarga Luhan akan serumit ini. Di mulai dari masa lalunya yang melibatkan Luhan dan Yoona, dan sekarang ia baru tahu bahwa ayahnya pernah mempunyai ‘masalah’ dengan perusahaan keluarga China tersebut.

“Aku akan memperkenalkanmu pada seseorang.” Laki-laki itu menggandeng tangan perempuan tersebut menuju sebuah tempat. Sebenarnya, mereka hanya menyusuri koridor sekolah.

“Siapa?”

“Teman terbaikku.”

“Benarkah?”

“Itu dia,” Laki-laki itu mempercepat langkahnya dan membuat si perempuan harus menyeimbangkan langkahnya dengan laki-laki yang menarik tangannya. “Hey, Lu!”

Laki-laki yang dipanggil itu membalikkan badannya saat ia hendak pergi. “Sehun?” Mata laki-laki yang dipanggil ‘Lu’ itu melirik kepada seseorang yang berdiri di belakang sahabatnya tersebut. “Baru?” Tebaknya.

Laki-laki bernama Sehun itu tertawa. “Perkenalkan, ini Yoona. Yoong, ini Luhan.”

Yoona menyodorkan tangannya dan tersenyum manis. “Im Yoona.”

“Xi Luhan.”

 

Sehun berani bersumpah bahwa hari di saat ia memperkenalkan mereka berdua adalah hari terbodohnya. Ia seharusnya tidak memperkenalkan perempuan itu dengan laki-laki itu. Ia seharusnya tidak melakukan hal itu.

Dan, ia mendapatkan dirinya malam ini menyesal untuk kesekian kalinya.

Sehun segera mematikan shower dan mengeringkan badan serta rambutnya. Ia mengenakan pajama-nya dan mengutuk dirinya karena kantuknya hilang setelah ia mandi. Ia memutuskan untuk berbaring di atas ranjangnya dan memandang langit-langit kamar. Otaknya berputar dengan cepat mencoba mengurutkan berbagai kejadian yang—mungkin—bisa menjadi petunjuk untuknya membongkar dalang di balik ‘penguntit’ Yoona.

Jam sudah menunjukkan pergantian hari, namun Sehun tak lekas mengistirahatkan badannya. Ia bergerak tidak nyaman di atas ranjangnya, dan akhirnya menyerah. Ia bangkit lalu melangkahkan kakinya menuju mini bar yang terletak di dekat ruang makannya. Ia meraih sebotol Moscato dan menuangkannya pada gelas kecil.

“Apa yang kaulakukan?”

Sehun terkejut dan refleks menoleh ke sumber suara. “Kau mengagetkanku. Bergabunglah, temani aku.”

“Sekarang kau terdengar seperti gay.” Ungkap Kai lalu duduk di hadapan Sehun.

“Aku masih menyukai perempuan.” Timpal Sehun lalu menuangkan Moscato pada gelas milik Kai.

“Ada apa denganmu?” Tanya Kai.

Sehun melirik sekilas lalu menaikkan kedua bahunya. “Aku tidak apa-apa. Kenapa?”

“Kau ada masalah?” Tanya Kai, tapi kini tidak dibalas Sehun. “Ada yang kaupikirkan?”

Iris pure hazel Sehun terputar. “Tentu saja ada yang aku pikirkan. Aku punya otak yang berfungsi untuk berpikir.”

Kai menyesap minumannya namun matanya masih memandang Sehun yang malah hanya memainkan gelasnya. “Tentang Luhan? Yoona?”

Both of them,” Akhirnya Sehun menjawab. Ia menghela nafas pelan. “Jadi, bagaimana? Aku butuh laporan darimu mengenai mobil-mobil aneh itu.”

Kai menelan minumannya lalu menaruh gelasnya di atas meja bar. “Anak buahku tidak menemukan hal-hal aneh selama kita mengantar Luhan pulang. Everythings clear.”

“Kau yakin?”

“Kau ingin aku meragukan kinerja anak buahku sendiri?” Tanya balik Kai.

Slow down, bro. Aku hanya bertanya,” Sehun akhirnya meminum Moscato miliknya. “Ada yang mengganjal tentang Luhan.”

“Apa sekarang kau mulai berpikir bahwa yang menguntit Yoona adalah Luhan?”

“Yang kutahu hanyalah setiap kehadirannya akan menimbulkan hal-hal buruk.” Balas Sehun ringan tidak menjawab pertanyaan Kai.

Kai tertawa mendengarnya. Ia hampir tersedak Moscato-nya dan Sehun memandangnya dengan tajam. “Maksudmu ‘hal buruk’ adalah Yoona yang lebih memilih Luhan ketimbang dirimu?”

“Perselingkuhan itu? Yang benar saja.” Sehun mendengus kasar lalu kembali menegak minumannya.

“Aku mencoba menebak apa yang Yoona pikirkan saat dia berselingkuh dengan Luhan.” Kai tertawa.

“Aku berani bertaruh bahwa dia tidak berpikir saat itu, karena dia sangat bodoh.” Sehun mendengus pelan.

“Mungkin selain Luhan, kau harus mencari tahu orang-orang yang pernah memiliki masalah dengan Yoona. Tidak ada yang dapat menutup kemungkinan bahwa mereka berniat untuk membalas dendam kepada Yoona. Jangan terlalu cepat menilai tentang Luhan. Bisa saja itu hanya sugestimu karena kau memiliki masalah dengannya di masa lalu.” Ucap Kai.

Kening Sehun mengerut dalam. “Bisa kau panggilkan Tao?”

“Tentu saja.” Kai bangkit dari kursinya lalu pergi memanggil kepala pengawal Yoona. Sehun bersandar pada kursi tingginya dan pandangannya menatap kosong gelasnya yang sudah tidak berisi. Lamunannya buyar setelah Tao serta Kai datang menghampirinya. Kedua kepala pengawal itu duduk di hadapannya.

“Aku memiliki beberapa pertanyaan yang mungkin kau tahu jawabannya. Aku sangat butuh bantuanmu, Tao.” Ucap Sehun serius tanpa berbasa-basi. Bahkan ia tidak membiarkan Tao menyapanya terlebih dahulu.

“Apa ini tentang Yoona?” Tebak Tao.

“Tentu saja,” Sehun menjawab dengan yakin. “Ini tentangnya. Jadi, apa kita bisa bekerja sama?”

Tao mengangguk. “Ya. Aku akan menjawab pertanyaan Anda.”

“Apa kau tahu bahwa Yoona pernah memiliki masalah dengan orang lain?” Tanya Sehun.

“Beberapa. Kebanyakan adalah rekan kerja, tetapi ada dua orang yang memiliki masalah berkepanjangan dengan Yoona.” Jawab Tao.

Alis kiri Sehun terangkat. “Siapa dua orang itu?”

“Bae Suzy dan Lee Seung Gi.” Jawab Tao lagi.

Sehun benar-benar sudah seperti mengintrogasi Tao kali ini. “Apa yang telah mereka lakukan atau apa yang telah Yoona lakukan pada mereka?”

“Kita tahu bahwa Yoona sangat suka horse riding. Dia memiliki kudanya sendiri bernama Pony dan suatu hari Bae Suzy pernah menggunakan kuda miliknya tanpa sepengetahuannya hingga akhirnya mati. Yoona sangat membencinya, dan Bae Suzy tidak ingin mengakui kesalahannya serta meminta maaf. Karena, Bae Suzy adalah seorang anak dari pemilik suatu perusahaan besar, dia mengira bisa melakukan segalanya. Yoona beberapa kali telah menyindir Suzy lewat media, dan kurasa Suzy merasa bahwa dirinya sudah dipermalukan.” Jelas Tao.

“Lalu, bagaimana dengan Lee Seung Gi?”

“Dia sangat menyukai Yoona. Dia mengejar-ngejar Yoona. Dia bahkan membelikan Yoona banyak barang mewah tetapi selalu ditolak oleh Yoona. Itu membuatnya marah kepada Yoona.”

“Kau yakin itu saja?” Tanya Kai.

Tao mengangguk. “Itu saja.”

Sehun terdiam sejenak. Ia memegang tiga nama kini—Xi Luhan, Bae Suzy, dan Lee Seung Gi.

“Bagaimana?” Tanya Sehun saat Kai muncul di kantornya.

“Aku sudah melakukan sesuai yang kau perintahkan,” Kai duduk di sofa ruang kerja Sehun. “Bae Suzy—aku tidak yakin jika perempuan itu yang melakukan ini semua. Dia seorang shopaholic dan dia tidak begitu pintar. Tetapi, ayahnya—Bae Yong Joon—kau pasti pernah mendengar namanya.”

“Dia pernah diberitakan menyuap jaksa pada kasus korupsinya, dan dia dinyatakan tidak bersalah.” Jawab Sehun.

Kai menjentikkan jarinya. “Kau benar sekali. Ada kemungkinan jika ayahnya yang melakukan ini semua untuk Suzy, karena dia tidak terima jika anaknya pernah dipermalukan oleh Yoona di media hanya karena kematian seekor kuda.”

“Lee Seung Gi?”

“Laki-laki itu,” Kai menghela nafas. “Dia seorang artis. Dia manis dan juga ramah. Tapi, dia memiliki tempramen yang sangat buruk dan suka melakukan kekerasan. Tao benar, dia sangat suka membeli barang-barang mewah untuk Yoona. Swarovski, Cartier, Hermes, Dolce & Gabbana, dan sebagainya. Dia memiliki kemungkinan yang lebih besar menjadi dalang dari semua ini ketimbang Bae Suzy.”

“Yoona tidak pergi ke kantornya?” Tanya Sehun mengalihkan topik pembicaraan.

“Dia masih tidur.”

“Sekarang?” Mata Sehun membulat dan ia memandang jam dinding pada ruangannya. “Ini hampir jam makan siang.”

“Dia pasti kelelahan.” Kai mencoba menebak.

Sehun bangkit dari kursinya lalu meraih jasnya. “Aku akan pulang.”

Sehun baru saja sampai di rumahnya dan terasa sangat sepi. Rumah besar itu hanya dihuni oleh dirinya dan Yoona dengan beberapa pengawal pastinya. Sehun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan menemukan pintu kamar Yoona masih tertutup.

Yoona bukanlah tipikal perempuan yang akan bangun sesiang ini dan—entah bagaimana—Sehun mengetahuinya. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, tetapi perempuan itu tak segera bangun dari tidurnya. Sehun memutar knop pintu kamar Yoona dengan pelan lalu mendorongnya tanpa suara.

Kamar Yoona masih gelap. Tirai jendelanya belum dibuka dan terasa sangat dingin karena AC. Perempuan itu masih terbaring di atas ranjangnya dan Sehun melangkahkan kakinya mendekat. Iris pure hazel-nya dapat melihat Yoona dengan jelas bahkan dalam keadaan kamar yang gelap.

Sehun menghela nafas pelan. Apa yang dilakukannya di sini? Seharusnya ia tidak masuk ke dalam kamar perempuan itu.

Irisnya menyusuri setiap tubuh Yoona lalu keningnya mengerut saat mendapati ruam biru pada pergelangan tangan perempuan itu. Sehun menyalakan lampu tidur yang berada di sebelah ranjang Yoona untuk memastikan apa yang ia lihat. Ia meraih tangan Yoona dan memperhatikannya dengan saksama.

Dan, memang benar. Ada ruam biru pada pergelengan tangan kiri Yoona. Sehun segera memeriksa pergelangan tangan kanan Yoona dan menemukan hal yang sama. Ada beberapa ruam biru pada badan Yoona. Sehun tidak ingin mengambil keputusan dengan cepat, ia memiringkan wajah Yoona dengan pelan untuk memeriksa leher jenjang perempuan itu. Dan, ia menemukan hal yang sama dan terlihat lebih parah.

Laki-laki itu menaruh telunjuknya pada hidung Yoona dan memeriksa nafas perempuan itu—pelan. Nafas Yoona terasa pelan dan hangat.

Ting!

Sehun melirik ponsel Yoona yang baru saja berdering karena ada sebuah pesan masuk. Persetan dengan privacy, pikir Sehun lalu meraih ponsel tersebut.

 

From: Lee Seung Gi Oppa

Apa kau ada waktu? Bagaimana dengan makan malam denganku? Aku memiliki hadiah untukmu, Yoong. Aku akan segera menyelesaikan syutingku di gedung KBS.

 

Sehun segera keluar dari kamar Yoona dan berteriak memanggil Kai. “Panggil Dokter Kim dan suruh dia periksa Yoona sekarang.”

“Kenapa dengan Yoona?”

“Seseorang pasti memberikannya Eszopiclone. Yoona alergi dengan obat-obatan seperti itu. Ada beberapa ruam biru di tubuhnya dan nafasnya melambat. Kau segera panggil Dokter Kim, aku memiliki urusan yang lainnya.”

“Baiklah.” Kai mengangguk lalu segera menelfon dokter yang biasa menangani Keluarga Sehun.

Sehun menuruni anak tangga dengan cepat lalu meraih kunci mobilnya dan melesat pergi. Ia menyetir sembari mencari ‘Lee Seung Gi’ di Google. Ia mencari foto laki-laki tersebut. Setelah memastikan ia menghafal wajah yang menjadi targetnya kini, ia menginjak pedal gas lebih dalam. Sehun memakirkan mobilnya di sebuah gedung pertelevisian terkenal Korea Selatan—KBS Building.

 

To: Lee Seung Gi Oppa

Aku sedang berada di KBS Building, oppa. Oppa ada di lantai berapa?

 

Oh Sehun terlalu licik untuk membawa ponsel Yoona dan berlagak seakan-akan perempuan itu membalas pesan Lee Seung Gi.

 

From: Lee Seung Gi Oppa

Benarkah? Kau ada di sini? Aku di lantai lima. Jadwalku di-reschedule. Kita bisa bertemu sekarang.

 

To: Lee Seung Gi Oppa

Apa aku harus menghampiri oppa?

 

From: Lee Seung Gi Oppa

Aku akan menunggumu, Yoong.

 

Sehun masuk ke dalam KBS Building lalu masuk ke dalam elevator dengan cepat. Ia menekan tombol dengan angka 5, lalu menunggu hingga pintu besi tersebut terbuka. Ada sirat tajam pada iris pure hazel-nya.

Oh Sehun terlihat lebih menakutkan dari biasanya.

Ting!

Pintu elevator terbuka.

Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Sehun melangkahkan kakinya keluar dari elevator dan pandangannya menyapu ruangan tersebut. Ia mencari-cari seseorang dengan paras manis serta terlihat ramah.

Mata Sehun menyipit untuk memastikan laki-laki yang tengah berdiri di dekat pintu darurat.

Itu dia. Tengah berdiri sendirian dengan memainkan ponsel silver-nya dan tidak menaruh perhatian pada keadaan sekitarnya. Sehun segera melangkah dengan cepat. Mata tajamnya tidak teralihkan satu sentimeter pun dari laki-laki itu. Tangan kanannya menarik gagang pintu darurat, sedangkan tangan kirinya menarik laki-laki itu dengan cepat dan menyeretnya ke balik pintu darurat.

Brak!

Sehun membenturkan kepala Lee Seung Gi dengan keras pada dinding.

“Apa-apaan ini?!” Teriak Seung Gi kaget dengan aksi Sehun.

“Kau Lee Seung Gi?”

“Siapa kau?!”

Tangan kekar Sehun mencekik leher laki-laki itu dan mendorongnya semakin keras pada dinding. “Kau tidak pernah mendengar bahwa Yoona telah memiliki suami?”

“Kau suami Yoona?!”

Bugh!

Sehun melayangkan tonjokannya pada rahang laki-laki itu.

“Dan kau masih mengajaknya makan malam dan menggodanya!” Teriak Sehun keras lalu diikuti gertakan giginya dan cekikannya pada leher Seung Gi refleks menguat. “Aku bisa melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Ini peringatan terakhirmu untuk berhenti menggoda Yoona. Dan singkirkan seluruh penguntitmu itu!”

“Peng…untit apa?” Suara Seung Gi tercekat akibat tangan Sehun yang masih mencekiknya dengan keras.

“Jangan berpura-pura kau tidak tahu, Lee Seung Gi-ssi.”

“A-Aku sungguh t-tidak tahu!” Bantah Seung Gi.

Bugh!

Lagi, Sehun melayangkan tonjokkannya. Bahkan menyakiti Lee Seung Gi saja tidak membuat amarah Sehun padam setelah mengingat laki-laki ini masih terus menggoda istrinya.

“Ini peringatan terakhirmu. Ingat itu.” Sehun membenturkan kepala Seung Gi pada dinding dengan keras lagi sebelum akhirnya ia pergi lewat tangga darurat.

Sehun merapihkan bajunya serta rambutnya sebelum ia turun dari mobilnya dan membersihkan buku jarinya yang terdapat bercak darah akibat memukul Lee Seung Gi. Ia mengatur nafasnya yang tidak karuan. Setelah memastikan penampilannya aman, ia turun dari mobil dan masih mendapati Dokter Kim di rumahnya.

“Dokter,” Sehun menjabat tangan pria itu. “Bagaimana keadaan Yoona?”

“Kau benar, dia mengonsumsi Eszopiclone. Dia alergi beberapa bahan kimia dan efek sampingnya kali ini tidak terlalu parah. Hanya ruam biru dan sesak nafas. Untungnya kau cepat menyadari hal itu, Sehun-ah. Ceritanya akan berbeda jika Yoona tidak cepat ditangani.” Jelas Dokter Kim dan berhasil membuat Sehun bernafas lega.

“Terimakasih, Dok.” Sehun tersenyum kecil.

“Kau bisa menelfonku jika ada beberapa gejala aneh yang menimpa Yoona. Aku akan segera datang.” Dokter Kim tersenyum kecil lalu permisi untuk kembali pulang.

“Kau darimana saja?” Tanya Kai setelah Dokter Kim pergi.

Just take a walk.” Jawab Sehun ringan. Ia meninggalkan Kai dan menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar Yoona yang tirainya belum dibuka sedari tadi. Sehun berdiri tegap di dekat ranjang Yoona dan memandang perempuan yang tengah tertidur itu. Di pergelangan kanannya terdapat perban kecil—rupanya perempuan itu sudah diberikan obat injeksi oleh Dokter Kim.

Hanya ada hening dan sepi di sana yang menemani Sehun.

Perempuan itu terbaring tidak sadarkan diri dan hampir saja mati karena seseorang memberikannya Eszopiclone—obat tidur. Sehun menarik nafas panjang dan tangannya refleks mengepal.

Tidak seharusnya ia membantu perempuan ini. Bukankah ia membencinya dengan segenap hatinya setelah kejadian perselingkuhan tersebut?

Sehun mencoba mengelak bahwa ia masih peduli dengan perempuan ini. Tapi, ada bagian dari dalam dirinya yang bersumpah bahwa ia akan membunuh siapa pun yang hampir membunuh Yoona kali ini.

Sehun bersumpah akan hal itu.

to be continued.

Author’s Note:
Halo! Semoga kalian suka ya sama lanjutannya Irresistible ini. Don’t forget to comment❤

74 thoughts on “Irresistible (Chapt. IV)

  1. Prtanyaanx. Ap bener yoona it betul” prna slingkuh sm luhan?? ? Apa tdkda alsn lain yoona slingkuh atw hx slh paham sehun..
    Dan sp jg yg ingn mmbnuh yoona?

  2. Siapa sih yang ngejahatin yoona . Yaampun sehun bener bener manly bgt datengin lee seunggi trs mukulin dia demi istrinya yoona 😆😆

  3. aduuh ini makin kesini makin seru,adegan sindir2annya aku suka alurnya. si sehun tuh pasti masih cinta yoona cuma dia menyesal aja iya kan yaa. Tapi apa bener alasan sehun benci krna yoona selingkuh luhaan

  4. Sehun jaim woi, masih perhatian sama yoona gitu. Sampe mukulin seunggi segitunya, jauhi istriku.kekeke..seneng banget bacanya kali ini. Kayaknya yg nguntit beneran suruhannya luhan,benar gak thor? semangat thor nulisnya. Fighting!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s