The Wedding Breaker – Chapter One

TWB1

The Wedding Breaker

Chapter One

apareecium // SNSD Yoona with Kris and EXO Chanyeol // Romance, Drama // PG 15+

“Kau harus menerima perjodohan, ah, maksudku kau harus menolong keluarga dan perusahaan ayahmu. Hanya ini cara satu-satunya,” ucapan yang keluar dari bibir ibunya itu semakin membuat Im Yoona merasa kesal. Dia sering mencari cara untuk menolong perusahaan ayahnya yang sudah berada di ujung tanduk. Sangat sering dia memikirkannya, tapi memang hanya jalan ini yang bisa dia lihat. Menikah dengan salah satu putra dari relasi ayahnya, lalu putranya tersebut akan diangkat menjadi direktur di Empire Corp. Andai saja dia mengambil jurusan bisnis di masa kuliahnya, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

“Tidak ada waktu untuk berpikir lagi, Yoona. Jawab sekarang,” suruh ibunya dengan lantang. Yoona menengok kepada ibunya yang duduk tegak di hadapannya. Ekspresi wajah yang serius, matanya yang menatap dirinya, dan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya semakin membuat jantung Yoona berdegup kencang. Pilihannya hanya iya dan iya. Tidak ada opsi tidak di pertanyaan ini.

Iris coklat Yoona semakin jelas ketika dia menatap ke luar jendela di café ini. Dia membuang napasnya pelan, lalu menunduk dalam sambil memejamkan kedua matanya erat-erat berharap ketika dia membuka kedua matanya, ini semua hanyalah mimpi. Tsk! Mau pun kedua mata tersebut tertutup hingga matahari tenggelam pun, takdir ini tidak akan bisa berubah.

Yoona pun membuka kedua matanya, lalu menatap manik mata ibunya, “aku akan melakukannya.”

Ibunya menyunggingkan senyumannya, lalu memegang punggung tangan Yoona yang terletak di atas meja, “kau memang harus melakukannya, Sayang.”

Yoona membalas senyuman ibunya, lalu menatap arloji bermodel klasik di tangan kirinya, “sepertinya aku harus pergi sekarang, Bu. Aku ada urusan dengan temanku.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan,” balas ibunya singkat. Yoona segera bangkit dari duduknya, lalu membungkuk hormat sebelum meninggalkan meja tersebut. Dia melangkah keluar dari café tersebut. Menelusuri pinggir jalanan Seoul yang ramai. Sebenarnya dia tidak ada urusan dengan temannya, tapi dia benar-benar ingin menghilang dari hadapan ibunya.

Yoona paham dengan kondisi keluarganya yang semakin hari semakin memburuk. Ayahnya bahkan memotong uang saku adiknya, Im Yoojung sedangkan Yoona harus mati-matian menerima pekerjaan dari pelanggannya agar mendapat pendapatan lebih. Jadi dia bisa membayar uang cicilan apartemennya sendiri. Ya, Yoona memang sudah tidak tinggal satu atap dengan kedua orang tuanya dan adiknya. Tapi, perjodohan ini bukankah terdengar bodoh? Di tahun 2016 ini masih ada yang namanya perjodohan. Oh, Tuhan tolong Yoona sekarang juga.

Motor-motor, mobil-mobil, dan beberapa truk berlalu-lalang di jalanan Seoul ini. Aspal yang berwarna abu-abu mulai tertutup dengan sinar matahari menjelang sore yang berwarna oranye. Yoona membuang napasnya pelan. Dia sangat menyukai warna oranye dari sinar matahari seperti ini. Dia mengangkat kepalanya, menatap sinar matahari yang memancarkan sinar oranyenya itu. Terlalu silau, dia menurunkan kepalanya, lalu menangkap sosok yang tak asing baginya.

Pria berambut coklat gelap, matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, tubuhnya yang tinggi, bahkan mantel yang dikenakannya. Yoona mengenal semuanya. Semuanya tampak familiar baginya. Bukankah itu Chanyeol? Park Chanyeol? Cinta pertamanya di masa kuliahnya dulu?

Ya! Park Chan—“

Yoona segera menghentikan teriakannya ketika pria tersebut menoleh. Kenapa dia melakukan hal sebodoh ini? Ugh, bisakah dia melenyap sekarang juga? Dia langsung menunduk dalam-dalam, enggan melihat sepasang mata milik Chanyeol.

“Yoona? Im Yoona?”

Suara berat khas Chanyeol tetap sama, tapi Yoona tidak menoleh. Dia tidak mengacuhkan Chanyeol, dia mempercepat langkahnya meninggalkan Chanyeol. Namun, langkahnya terhenti karena lengannya baru saja digenggam oleh seseorang dan dia hanya bisa berharap kalau itu bukan Chanyeol.

“Mau kemana? Kenapa buru-buru begini?” tanya orang yang menggenggam tangan Yoona tersebut. Suaranya, pasti Chanyeol.

Yoona menoleh pelan, “kenapa?”

Ekspresi Chanyeol terlihat terkejut, “loh? Aku hanya menjawab panggilanmu, Yoona. Seharusnya aku yang bertanya, ada apa?”

Yoona menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Chanyeol, “tidak apa-apa, kok. Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu. Yang tadi hanya refleks.”

“Oh, jadi kau refleks memanggilku, ya? Ternyata kau masih sama saja,” balas Chanyeol yang ditutup oleh tawa kecilnya.

“Begitulah.”

“Oh, iya,” Chanyeol mengeluarkan ponselnya, “apa kita bisa bertukar nomor telepon?”

Yoona menatap ponsel Chanyeol dengan seksama. Ah, dia sudah mati-matian untuk melupakan Chanyeol dan sekarang mahkluk ini kembali lagi?

“Boleh saja,” Yoona meraih ponsel Chanyeol, lalu memasukkan nomor teleponnya dengan nama ‘Si manis Yoona’.

“Ponselmu,” Yoona memberikan ponsel tersebut  kepada Chanyeol. Chanyeol menerima ponselnya, lalu menatap Yoona, “nomormu?”

Missed call saja. Kalau begitu, sampai nanti,” ucap Yoona sambil membungkuk hormat, lalu memutar tubuhnya memungguni Chanyeol dan melanjutkan perjalanannya pulang. Sedangkan Chanyeol yang berada di belakangnya hanya bisa menahan tawanya ketika dia memeriksa nomor Yoona dengan namanya di ponselnya.

Jantung Yoona berdegup kencang. Tolong. Jangan lagi. Dia tidak ingin perasaan ini kembali lagi karena interaksi beberapa menit yang lalu. Dia mengeratkan mantel yang digunakan olehnya, angin yang berhembus mulai mengencang. Musim gugur akan segera tiba, Yoona sangat menyukai musim gugur. Dia sangat menyukai daun-daun kering yang berguguran, lalu akan mendarat di atas kepalanya. Entah mengapa, Yoona sungguh menyukainya. Tapi kali ini tidak, dia tidak bisa membayangkan musim gugur tahun ini karena perjodohan itu. Mood-nya telah hancur. Dia juga tidak bisa membayangkan musim gugur tahun ke depannya. Apakah akan berjalan dengan baik?

Mata Yoona terbuka lebar. Kali ini dia menangkap sosok yang sangat dibenci olehnya. Pria dengan rambut blond, tubuhnya yang kurus dan tinggi, serta tatapannya yang tajam itu. Yoona membencinya. Dialah yang—menurutnya—telah menghancurkan sisa hidupnya setelah ini. Pria berdarah dingin itulah yang akan dijodohkan olehnya. Yoona tidak menganggap perjodohan ini hal yang salah jika pria yang dijodohkan olehnya adalah pria yang memberi kesan pertama mereka baik. Ugh, pria ini?

1 bulan yang lalu..

“Maaf, jika tempat pertemuan kedua anak kita di tempat yang sederhana ini,” ucap pria berambut putih di hadapan Yoona dan keluarganya. Dia sedang berada di sebuah pertemuan antara keluarganya dengan keluarga campuran Cina-Kanada yang tinggal di Korea Selatan. Dia sudah menolak untuk menghadiri pertemuan ini ratusan kali. Kini dia duduk di hadapan pria berambut blond yang sangat mencolok, tanpa ekspresi. Bahkan pria itu enggan menatap matanya.

“Tidak apa-apa. Makanannya sangat enak kok,” balas ayah Yoona dengan senyuman yang merekah di wajahnya.

“Acara makan malam ini sudah berakhir. Bagaimana jika Yoona dan Kris-ssi jalan-jalan dulu sebentar?” ujar ibu Yoona.

Kedua mata Yoona terbelalak. Dia membuang napasnya pelan, lalu menatap kedua orang tuanya yang berada di samping kanannya. Tiba-tiba adiknya, Im Yoojung menyikut lengan kirinya pelan.

“Ikuti saja kemauan mereka,” kira-kira itulah pergerakan mulut Yoojung. Yoona hanya menatap melas adiknya, lalu memfokuskan tatapannya kepada pria yang berada di hadapannya dan pria tersebut—Kris membalas tatapan Yoona. Astaga, kenapa dia harus dijodohkan oleh pria dingin sepertinya?

Kedua orang tua Yoona dan adiknya, begitupun kedua orang tua Kris bangkit dari duduknya dan segera pamit kepada mereka. Yoona hanya duduk diam menatap piring kosong yang ada di hadapannya sedangkan Kris, dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh pria dingin itu. Dia tidak berani dan tidak mau menatap matanya yang dingin itu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit sudah berlalu semenjak keluarga mereka meninggalkan restoran mewah ini, tapi mereka bahkan tidak beranjak dari kursi mereka. Yoona menatap arloji yang melingkar di lengannya. Jarum jamnya sudah menunjuk angka sembilan lewat lima menit. Baru saja dia ingin mengangkat kepalanya, menatap pria dingin itu, tapi pria itu membuka mulutnya.

“Kau bisa pulang naik taksi ‘kan? Aku pulang duluan.”

Perkataan yang keluar dari mulut Kris berhasil membuat Yoona membencinya.

Yoona berusaha tidak mengacuhkan Kris yang berada di hadapannya. Dia berjalan seperti biasa, tapi ketika dia melewati pria tersebut.

“Yoona-ssi,” panggilnya.

Yoona menghentikan langkah kakinya ketika dia mendengar namanya dipanggil oleh Kris. Dia memutar tubuhnya dan mendapati Kris yang berdiri menghadapinya. Kris melangkahkan kakinya mendekati Yoona.

“Apa kau sedang sibuk sekarang?” tanya Kris.

Yoona hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“Baiklah. Bisa kita bicara sebentar di taman?” tanya Kris sekali lagi.

“Baiklah.”

Mereka berjalan menuju taman kecil yang tak jauh. Yoona memang membencinya, tapi mereka harus melewati hari-hari mereka bersama nanti. Jadi, dia harus mulai menerima pria yang dia benci ini. Ah, dan tentu saja dia harus menghapus rasa bencinya itu. Siapa tahu kalau Kris ini adalah pria yang baik. Mereka berhenti di depan bangku panjang. Kris duduk di bangku tersebut lebih dahulu, lalu Yoona duduk di sampingnya. Tidak pas disampingnya. Mereka berjarang mungkin tiga jengkal.

“Aku sudah menerima perjodohan itu dan aku tahu kau juga. Aku tidak mau basa-basi disini dan aku juga tahu kenapa kita berdua dijodohkan,” Kris menghentikan perkataannya, lalu menarik napas panjang sebelum dia melanjutkan, “setelah perusahaan ayahmu stabil, kita akan menyelesaikan perjodohan ini. Tanggal pernikahan juga sudah ditentukan oleh ibuku yang akan dilaksanakan Sabtu ini. Besok kau akan memilih gaun pengantin dan sisanya telah diurus oleh ibuku. Jadi, kau hanya harus menuruti skenario yang telah dibuat ini.”

Butuh waktu bagi Yoona untuk mencerna semua perkataan Kris. Dia baru saja menerima perjodohan itu sekitar lima belas menit yang lalu dan sekarang mereka sudah membicarakan perceraian? Yang benar saja. Dia sudah bersumpah untuk menikah sekali dalam seumur hidup dan dia bersedia untuk menjalani rumah tangganya bersama pria yang berada di sampingnya sekarang. Perasaannya benar-benar runtuh ketika dia memahami perkataan dari Kris.

“Apa kau mengerti?” tanya Kris.

“Aku mengerti,” Yoona bangkit dari duduknya dan menatap mata Kris, “tapi aku tidak akan menanda tangani surat apapun darimu nanti.”

Jarum jam yang sedari tadi berputar itu diperhatikan oleh Yoona, namun tidak ada senyuman di wajahnya itu. Yoona membuang nafasnya pelan lalu memalingkan pandangannya dari jam tersebut dan memerhatikan seorang wanita yang jauh lebih tua darinya yang sibuk memilih-milih sebuah gaun pengantin dari puluhan gaun pengantin yang ada dihadapannya. Dia menundukkan kepalanya dalam. Dia tertekan. Dia mengerutkan bibirnya lalu membuang nafasnya lagi. Dia ingin sekali pergi dari toko bridal ini dan tidak ikut melihat gaun pengantin yang akan dia pakai tiga hari lagi.

Semuanya mendadak. Semuanya serba mendadak. Undangan baru saja selesai dicetak kemarin sore seusai pertemuan dengan ibunya. Memesan gedung, memesan menu makanan, hingga berapa banyak piring baru dilaksanakan pagi tadi dan sekarang dia berada di toko bridal untuk memilih gaun pengantinnya. Dia mendecak kesal. Yang dia inginkan adalah pergi dan melakukan hal itu semua bersama dengan calon suaminya. Oh, bukan calon suami yang ini. Calon suami yang dia cintai. Jujur saja, Yoona bahkan bertemu dengan pria yang akan dijodohkannya itu baru dua kali saja. Pertama, ketika makan malam keluarga dan mereka tidak berbicara banyak. Hanya beberapa kalimat saja. Kedua, kemarin sore.

“Yoona,” suara serak milik ibunya itu membuyarkan lamunannya. Yoona langsung menoleh ke asal suara. Dia hanya melihat ibunya, tidak tersenyum dan tidak memberikan respon lebih. Dia tidak bisa membohongi dirinya, dia sangat membenci perjodohan ini. Tanpa basa-basi, Yoona meletakkan tasnya ke atas sofa yang dia duduki lalu bangkit dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah memegang gaun pengantin yang lumayan bagus untuk Yoona. Dia pasti akan sangat cantik jika memakainya.

“Ada apa?” Suara lembut milik Yoona itu keluar dari bibirnya yang tipis. Dia hanya melemparkan tatapan mau-tidak-mau kepada ibunya itu. Ibunya tersenyum lalu mengguncangkan lengan Yoona pelan.

“Ayolah, jangan memasang wajah seperti itu,” bujuk ibunya.

“Mau seperti apa?” tanya Yoona. Dia langsung mengambil gaun pengantin itu dan memberikan pada salah satu pelayan yang ada disebelah kanannya, “tolong bantu aku memakai ini.”

“Baik,” pelayan itu mengikuti langkah Yoona dari belakang menuju ke ruang ganti. Yoona memasuki sebuah ruangan yang berbentuk bulat dan besar, lebih besar dari ruang ganti biasanya. Di hadapannya terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan dirinya itu. Dia memandangi pantulan dirinya disana, lalu membuang nafasnya, dia tidak menyangka jika di hari besarnya nanti dia tidak akan merasa setitik kebahagiaan nantinya.

Yoona pun melepaskan pakaian yang melekat ditubuhnya dan segera memakai gaun pengantin itu. Dia sedikit melihat gaun pengantin yang masih belum terpakai sempruna itu dari cermin yang ada dihadapannya. Dia mendengus sebal. Gaun ini terlihat terlalu besar untuknya. Dia menoleh ke pelayan yang sedang menaikan ritsleting yang berada di punggung gaun Yoona.

“Permisi, bisakah gaun ini sedikit dikecilkan?” tanya Yoona hati-hati.

“Maaf, nyonya. Tapi, tidak bisa. Satu-satunya cara adalah anda menggemukkan tubuh anda agar gaun ini terlihat pas.”

Ugh! Menggemukkan tubuhnya itu adalah keinginannya dari dulu. Sayangnya tubuh ini tidak mau menggemuk sama sekali. Yoona memutar tubuhnya perlahan. Ketika dia sudah membelakangi cermin besar itu, dia tersenyum sekilas, “Baiklah. Bisakah kau buka hordengnya? Aku ingin ibuku melihat ini.”

Pelayan itu hanya mengangguk kecil dan membuka hordengnya perlahan. Yoona mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya, dia tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan. Dia membenci perjodohan ini tapi, dia senang menggunakan gaun pengantin ini. Ya, sedikit senang.

Yoona mendongakkan kepalanya yang sedari tadi dia tundukkan itu. Dia melihat pemandangan yang tepat berada dihadapannya. Yoona terperanjat. Dia…ada disini. Dia yang dijodohkan oleh Yoona. Dia yang akan berdiri di depan altar nanti.

Dia. Kris Wu.

Yoona tetap menatap pria yang bertubuh tinggi itu. Rambutnya yang berwarna blond itu benar-benar mencolok dari mereka—ibunya dan dua pelayan toko ini. Dia berdiri tegap sambil melipatkan kedua tangannya tepat di depan dadanya yang bidang itu.

“Ka-Kau kenapa—“

“Kris-ssi, bagaimana pendapatmu dengan gaun ini?” pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu Yoona itu menyela pertanyaan dari Yoona.

“Hm?” Kris merespon lalu melirik sebentar ke wanita tua yang berada disebelah kirinya, “Aku kurang suka dengan gaun yang ini, Kris mengedarkan pandangannya kepada deretan gaun pengantin yang berada di ujung ruangan itu. Matanya bertukar dari gaun yang ini lalu ke gaun yang disebelahnya lalu ke gaun yang ada disana dan…

Sebuah gaun putih yang tampak anggun dan elegan dengan lengan panjang yang transparan itu benar-benar membuat seorang Kris bisa tertarik. Tanpa dia sadari, tangan kanannya terangkat dan menunjuk gaun tersebut, “coba yang itu.”

Yoona tercengang melihat respon Kris yang diluar ekspetasinya. Yoona mendengus sebal, “kenapa kau disini?” akhirnya pertanyaan yang tertahan pun berhasil lolos juga.

Kris menoleh dengan cepat, “kau berbicara padaku?”

Yoona menopang pinggangnya, “siapa lagi?”

Kris hanya diam. Dia tidak mengacuhkan Yoona. Dia memundurkan langkahnya lalu duduk di atas sofa. Dia meraih sebuah majalah yang berada di meja yang terletak disamping sofa tersebut dan meletakkan kaki kanannya di atas kaki kirinya sambil melihat-lihat isi majalah itu. Rahang Yoona mengeras. Pria itu benar-benar menyebalkan. Rasanya dia ingin keluar dari ruang ganti ini dan menghajarnya sekarang juga. Tapi, tetap saja dia tidak bisa melakukannya. Selain gaun pengantin yang panjang dan kebesaran itu mengganggunya, disana ada ibunya yang tengah melemparkan tatapan mematikan.

Salah satu pelayan mengambil gaun tersebut dari tempat penyimpanan dan memberikannya kepada pelayan yang berada di ruang ganti bersama Yoona. Yoona menurut dari pada dia merasa merinding karena seseorang—ibunya—melototinya setiap detik.

Tak lama kemudian, gorden ruang ganti itu terbuka lagi dan Yoona dengan gaun pengantin yang berwarna putih pilihan Kris itu pun muncul. Yoona hanya berdiri diam sambil menatap ibunya dan Kris bergantian. Dia menunggu respon mereka.

“Gaun ini terlihat lebih baik,” puji ibunya ketika melihat sosok anak tunggalnya yang sudah terlihat sempurna dengan gaun pengantin pilihan Kris.

“Dan pas,” tambah Kris. Dia langsung bangkit berdiri dari sofanya dan melangkahkan kakinya keluar dari toko bridal ini. Tidak pamit. Tidak menatap mata Yoona. Tidak tersenyum.

Dia benar-benar manusia es yang bisa berjalan.

Ponsel Yoona berdering tanda panggilan masuk. Dia hanya melihat digit nomor telepon berseri di layar ponselnya. Dia menyentuh, lalu menarik tanda bulat hijau di layar ponselnya.

“Halo? Siapa ini?”

Coba tebak ini siapa!

Ah, pasti si Chanyeol, pikirnya. Dia menarik napasnya dalam.

“Ada apa menghubungiku?” tanya Yoona to the point.

Ya! Santai saja bisa nggak? Aku cuman mau tanya, apa kau sibuk? Bisa temaniku makan siang?

“Kenapa harus aku?”

Bukannya teman lama itu harus menjalin hubungan yang baik? Ah, sudahlah. Kutunggu kau di Noldoo. Mereka menyiapkan hangari galbi yang enak.

“T-tapi, Chan—“

Sampai jumpa,” potong Chanyeol dan disambung oleh nada senada yang panjang. Yoona menghelakan napasnya pelan, “seharusnya dia menawari diri untuk menjemputku, dasar bodoh!”

“Siapa itu tadi?”

“Ah, kau mengagetkanku, Bu!” seru Yoona pada ibunya yang baru saja keluar dari kamar mandi di toko bridal ini.

“Ibu tanya, siapa itu tadi?” nada bicara ibu Yoona berubah menjadi serius. Dia menatap manik mata Yoona yang berwarna coklat tersebut.

“Ah, oh! Ini Kim Taeyeon, teman lamaku, tapi kami sangat dekat, Bu. Dan kami akan makan siang nanti,” balas Yoona dengan alasan klasiknya.

“Kim Taeyeon? Kau masih berhubungan dengannya setelah dia merebut kekasihmu dulu?” tanya ibu Yoona.

“Kekasih? Ah, maksudmu pria jangkung itu, Bu? Kami bahkan tidak mempunyai hubungan spesial kok!”

Ibu Yoona menyunggingkan senyumannya, “bagaimana jika kau mengajak Kris juga, hm?”

Kedua mata Yoona terbelalak. Mengajak Kris? Yang benar saja!

“Bagaimana? Sekalian saja kau memberi undangan pernikahanmu kepada dia. Ibu punya beberapa undangan yang belum diberi nama di mobil. Bagaimana?”

“Ide yang bagus,” suara berat khas Kris ikut masuk ke dalam percakapan mereka. Kris melingkarkan tangannya ke pinggang Yoona, “waktuku kosong. Aku bisa menemaninya siang ini.”

“Jangan salah paham.”

Yoona melirik Kris yang berada dibalik kemudi, lalu membuang pandangannya kembali ke jendela.

“Aku hanya ingin memperkecil jarak di antara kita. Perkataanku yang kemarin, tolong jangan dipikirkan lagi,” lanjut Kris.

Yoona mendengus kesal. Dia menoleh ke arah Kris, “baiklah. Jadi, tolong jaga bicaramu lain kali. Aku akan menjalani sisa hidupku denganmu jadi, tolong jangan seperti kemarin.”

“Dan soal makan malam pertama waktu itu aku juga—“

“Sudahlah. Jangan dibahas. Ikuti saja apa yang telah terjadi sekarang. Toh, tidak akan ada yang berubah jika tetap dibahas,” Yoona menunjuk memberi tahu jalan, “setelah lampu merah ini belok ke kanan.”

“Aku tahu tempatnya,” balas Kris, lalu dia diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, “tadi kau ingin menemui siapa? Kim… siapa tadi?”

Yoona melirik ke arah Kris lagi, kali ini sedikit lebih mengumpat-umpat. Dia juga bermain dengan jari-jarinya, “aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengan orang yang kusebut tadi di toko bridal.”

Kris menoleh ke arah Yoona singkat, “lalu?”

“Temanku, tapi bukan yang kusebut tadi.”

“Siapa? Pria?” Kris dapat melihat Yoona mengangguk sekilas. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kris menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Dia mengarahkan tubuhnya menghadap ke arah Yoona.

“Pria? Siapa? Pacarmu atau mantanmu? Kenapa perlu berbohong seperti tadi?” tanya Kris tanpa henti.

Yoona tidak mau menoleh ke arah Kris, bahkan dia tidak sanggup untuk melihat sebentar ke manik mata Kris. Dia menghelakan napasnya pelan.

“Teman. Hanya teman.”

“Teman? Kalau teman, kau tidak perlu berbohong seperti tadi, Yoona-ssi,Kris kembali pada kemudinya, “kau tahu, kau akan segera menikah denganku. Aku tidak mau kau berhubungan dengan pacarmu atau mantanmu setelah ini.”

Kris mendecak kesal. Dia yakin bahwa pria ini bukan hanya sekedar teman. Jika iya, Yoona tidak perlu berbohong kepada ibunya seperti tadi. Dia dapat melihat restoran yang disebut oleh Yoona tadi. Mobil dia berhenti tepat di depannya, “kau turunlah. Selesaikan urusanmu kepada dia. Jangan lupa berikan undangannya juga.”

Yoona hanya mengangguk pelan. Dia bahkan tak berani untuk bertanya, apa kau tidak ikut turun?

Perhatian pria jangkung berambut gelap—Chanyeol terfokus terhadap seorang wanita—Im Yoona yang turun dari mobil sedan hitam. Kedua matanya terbelalak. Bukan. Bukan karena Yoona, tapi mobil tersebut. Dia sangat mengenalnya. Mobil itu milik Kris.

Chapter One: to be continued.

I am very sorry buat ngegantungin FF ini lama banget karena kemaren itu moody-an banget. Aku akan usaha untuk post FF ini setiap tanggal 30 per dua atau tiga bulan. Aku gak janji lho, tapi bakal usaha banget dan disini hubungan spesial Kris-Chanyeol gak akan terlalu dikeluarkan karena di versi dua tahun yang lalu kurang suka sama bagian mereka yang “begitu”

Semoga respon readers sesuai dengan ekspetasiku jadi aku punya semangat untuk terus tulis FF ini. Oke ditunggu ya chapter selanjutnya!😀

22 thoughts on “The Wedding Breaker – Chapter One

  1. Inget bgt sm cerita yg dlu,, yg kris pacar chanyeol kn? Klo yg skrg mau di ubah ada hub apa antara kris dan chanyeol?? Penasaran smga kris jatuhhati sm yoona

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s