[Freelance] Meet (End)

MEETING CHAPTER2

Meet

Chapter 2

Written by PinnochioTall

Poster by CalisJ

Main Casts : [EXO] Park Chanyeol | [SNSD] Im Yoona 

Support Casts : Temukan Dalam Cerita

Genre : Romance-Drama | Length : Chapter 1&2 [END]  | Rated : Teen

Disclaimer : kebanyakan terinspirasi diberbagai anime shoujo dan Drakor. Cast punya ortu-nya dan allah SWT! Recommended: baca sambil dengerin lagu adele- all I ask and hello.

 

Cahaya di langit sangat menyilaukan mataku, duduk melamun memandang awan di balik jendela transparan membuat fikiranku tidak karuan. Suhu tubuhku juga mulai mendidih. Apa aku sedang memikirkan yoona? Oh ayolah..

Hari-hariku hanya bisa bertemu dengan Yoona saat pagi dan sepulang sekolah, itu membuatku sangat frustasi. Aku tidak bisa meninggalkan sekolahku, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seseorang bisa dibanggakan  oleh Yoona. Tapi wajah Yoona terus terbayang di kepalaku. Aku sangat tidak sabar menanti bel pulang sekolah.

Sedikit berlari menuju tempat kami, aku menertawakan diriku yang terlalu terobsesi padanya. Sebaiknya aku terlebih dahulu ke dokter jiwa.

“Yoona!” teriakku dari kejauhan. Yoona melambai padaku.

“ Apa kau lama menungguku?” ia hanya menggeleng dengan senyuman mautnya.

“Apa kau ganti style? Kenapa pakai topi segala?”

“Ooh, iya, aku akan mengubah styleku sekarang. Selalu memakai topi ini.”  Aku mengangguk mengerti.

“Besok pagi kita bertemu disini lagi ya!” ajakku.

“Oke.”

Matahari terbit terlambat pagi ini, cuaca terlihat sedikit mendung dan berawan tebal. Aku khawatir Yoona akan kedinginan menungguku, atau bagaimana apabila hujan mulai turun. Ia akan kebasahan. Segeraku ambil payung dan berlari menujunya.

Syukurlah ia tidak kebasahan, tapi kenapa ia selalu datang lebih awal dariku? Aku merasa gagal sebagai laki-laki.

“Chanyeol-ah”  sapaan pagi darinya menyejukkan hatiku.

Baru saja aku akan menyapa kembali dirinya namun aku merasa wajahnya semakin pucat dan tidak sehat, ditambah ia tidak memakai sepatu, hanya alas kaki rumahan.

“Ada apa? Apa kau sakit?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa wajah dan sepatumu..-“ ia melihat kebawah, tepatnya alas kaki yang ia kenakan.

“Astaga, aku lupa menggantinya.”

“Hahaha. Masa gadis secantikmu bisa lupa juga akan hal seperti ini.” Tawaku.

“Hahaha, benar juga”

“Chanyeol-ah, apabila suatu hari aku berlagak tidak mengenalmu, aku mohon jangan marah dan ingatkan aku bahwa dirimu adalah pacarku. Marahi aku apabila aku membuat kesalahan yang fatal. Agar aku menjadi seseorang yang bisa kau banggakan.”

Ada apa ini? Kenapa ia bersikap aneh belakangan ini. Seolah-olah ia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu ada yang tidak beres akan hal ini. Namun ia tetap tidak pernah mau menceritakan masalahnya padaku. Aku hanya bisa menunggu hingga ia sepenuhnya percaya padaku.

Pagi ini aku tidak bisa serius akan pelajaran, aku hanya bisa memikirkan Yoona yang bersikap aneh pagi ini. Hanya kali ini saja, hanya kali ini saja aku bolos dan menemuinya. Aku datang ke sekolah Yoona—mencarinya disana. Namun tidak ada satupun siswa yang mengenal atau pernah mendengar nama Im Yoona. Bukankah ia bilang ia bersekolah disini? Dan seragamnya pun terlihat sama dengan yang ia kenakan.

“Permisi, apa kau sedang mencari siswa bernama Im Yoona?” seseorang mengejutkanku dari belakang.

“Ya, apa kau mengenalnya? Apa kau tau dimana dia sekarang?”

“Ya aku mengenalnya, ia adalah teman sebangku-ku dulu saat tahun pertama, tapi sebulan setelah ia masuk, ia selalu izin dan tidak pernah masuk lagi hingga sekarang.”

Aku diam, berusaha mencerna apa yang dikatakan gadis di depanku ini. Apa ini termasuk masalah hidup yang ia alami itu?

“Terimakasih.”

“Apa aku boleh tau kau siapanya?” tanyanya padaku sebelum aku pergi.

“Aku adalah pacarnya.”

Setelah setengah berteriak mengatakan itu aku berlari menuju tempat dimana kami biasa bertemu, duduk dengan gelisah menunggu Yoona muncul. Tapi baru satu jam aku menunggu ia sudah datang.

“APA YANG KAU LAKUKAN DI JAM SEKOLAH INI? APA KAU SELALU MENUNGGU LEBIH DARI SATU JAM SETIAP HARINYA? APA KAU TAHU BUTUH LIMA JAM LAGI HINGGA KITA BISA BERTEMU SEPERTI BIASANYA?” aku membentaknya tanpa alasan.

“A-a-aku hanyaa” kini ia menangis. Apa yang telah kulakukan? Aku sangat menyesalinya.

“maafkan aku Yoona , aku meneriakimu tanpa alasan. Aku tau semua yang kau lakukan pasti ada alasannya. Bisakah aku bertanya. Apa alasan itu?” menunggu yoona mengatakan semuanya tidak akan ada habisnya, fikirku.

Ia menunduk, masih dalam tangisannya. Aku mendekapnya erat. Sangat erat seolah aku takut kehilangnya. Kami duduk dibangku tempat pertama kali bertemu.

“Aku,-aku tidak sekolah, aku dirawat dirumah sakit didepan taman ini. Kata dokter aku di diagnosa  menderita penyakit alzaimer.”

“A-a-apa?”

“Yah, kau tau kan penyakit itu sangat memalukan, hehe. Maksudku aku akan sering lupa pada hal-hal kecil. Semakin lama penyakitnya bersarang ditubuhku akan membuat rambutku rontok. Apa kau suka pada gadis botak? Haha. Mungkin sampai suatu hari aku akan lupa apa itu meja, pohon bahkan namamu-” Matanya kini sudah dipenuhi oleh butiran-butiran kristal yang keluar dari matanya.

“-Sakitku semakin parah, tapi aku bersyukur masih bisa bertemu dan mengingatmu walau aku tidak terlihat cantik lagi karena memakai topi ini dan wajahku semakin terlihat buruk.” Ia tersenyum sambil mengatakan hal yang sangat menyedihkan itu masih dengan genangan air matanya.

Sungguh aku tidak tau apa yang harusku lakukan, baru saja kemarin aku mensyukuri nikmat yang tuhan berikan padaku, karena telah memberikanku tujuan hidup  dengan mempertemukanku dengannnya namun tuhan mengambilnya begitu saja dengan cepat. Apa aku pernah berbuat dosa yang tak termaafkan? Kalau begitu ambil saja diriku, jangan dirinya.

Setelah hari itu berlalu, aku memilih absen dari sekolah dan merawat Yoona di rumah sakit. Menjaganya hingga ia sehat. Melihat tangannya yang membiru disekitar jarum impusnya membuatku berfikir, sudah berapa lama ia dirawat disini hingga banyak pembuluh darahnya yang pecah. Tidak di pergelangan tangan kanannya saja, tapi di pergelangan tangan kirinya pun sudah banyak yang membiru. Sakit, sangat sakit melihat tubuh lemahnya terlalu banyak berjuang hanya untuk hidup didunia yang sementara ini.

“Ada apa Chanyeol? Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Aku tak dapat lagi membendung air mataku, dengan sangat erat aku memeluknya. Jangan ambil Yoona dariku. Sungguh aku bersumpah akan selalu bersamanya selamanya dan tidak akan pernah meninggalkannya. Aku akan selalu disisi nya.

Kadang Yoona berteriak memegangi kepalanya yang sakit, menahan sakit di tubuhnya. Berjuang melawan penyakit mematikan itu. Aku segera menekan tombol darurat. Dokter datang dan mengecek keadaan Yoona. Tak lama dokter tersebut berjalan kearah kedua orang tua Yoona, berbicara sangat serius hingga aku berfikir yang tidak-tidak. Spontan aku berteriak pada Yoona. Mencoba membangunkannya dari pingsannya.

Aku terpuruk dalam kefrustasianku. Berfikir apa yang akan aku lakukan saat Yoona tidak ada. Apa yang bisa aku lakukan tanpanya. Apa gunanya diriku lagi tanpanya. Aku akan selalu bersama dengannya! Saat ia tidak ada aku juga tidak akan ada didunia ini. Keputusanku telah bulat.

Aku kembali memasuki ruangan putih itu, sangat mengerikan, melihat obat-obatan ada dimana-mana, bau obat-obatan itu pun terus menusuk hidungku hingga memecahkan kepala. Sedikit takut aku kembali kekamar Yoona. Takut akan melihatnya tak ada lagi disana.

“dari mana saja kamu Chanyeol?” ucapnya dengan senyuman yang selalu kusukai itu. Padahal beberapa menit yang lalu ia masih menahan rasa sakitnya.

“syukurlah ia masih bisa mengingatku”

“ aku tadi baru saja mencuci mukaku.” Aku membalas senyumannya sambil duduk disebelah ia tidur.

“Chanyeol, aku harap saat aku tidak ada nanti, kamu bisa menjalani hidupmu dengan bahagia. Aku tidak memintamu untuk melupakan aku, hanya saja aku sangat ingin kau melanjutkan hidupmu tanpa ada beban disampingmu.”

“kau bukanlah beban bagiku Yoona!”

“ya, aku tahu dan aku sangat menghargai hal itu.”

“istirahatlah, aku akan kembali besok pagi.” Ucapku sambil mencium kening Yoona.

Setelah berpamitan dengan kedua orangtua Yoona aku benar-benar meninggalkan rumah sakit itu dengan gelisah.

Matahari terbit dengan sempurna. Cerah benderah hingga aku merasa tidak adil untuk cuaca yang mengerikan ini. Disaat semua tidak berjalan dengan lancar, matahari muncul dengan indahnya. Sedangkan Yoona berjuang untuk hidupnya.

Baru saja aku hendak memasuki ruangan putih itu, seluruh dokter lagi-lagi memasuki ruangan itu duluan sambil tergesa-gesa. Aku tahu Yoona merasakan kesakitannnya lagi. Setelah semuanya berakhir, yoona diam menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Aku tahu, yoona mulai melupakan segalanya. Disaat aku datangpun dia tidak lagi menyapaku. Tidak lagi melihat kearahku. Apa dia masih ingat untuk melawan penyakitnya? Itu yang sangat aku khawatirkan sekarang ini.

Yoona terbatuk-batuk, saat aku hendak mengambilkan air untuknya tiba-tiba saja ia melemparkan air itu. Berteriak tidak karuan dan melihatku secara asing.

“siapa kau?! Jauhi aku! Apa yang kau inginkan dariku!” hatiku tersayat lebar.

“ini aku Park Chanyeol.” Ucapku lirih.

Ia diam seperti berusaha mengingat nama itu, ia frustasi, ia benar-benar tak megingatnya lagi. Tangisku pecah. Aku memeluknya paksa walau ia sendiri meronta-ronta minta dilepaskan. Hatiku semakin sakit melihat hal ini. Aku harap tuhan menjadikan aku pengganti posisi Yoona.

Lebih dari sebulan aku absen di sekolah, dan selama itu juga hatiku tercabik-cabik berulang-ulang kali. Perjuangan tanpa henti-hentinya yang kami lakukan bersama. Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Ya kan?

“uhuk” yoona terbatuk-batuk dalam tidurnya.

“apa kau terjaga?” ucapku sambil mengambil air untuknya. Batuk yoona semakin parah, hingga mengeluarkan darah.

Astaga! Apa yang harus ku lakukan? Memanggil dokter kah? Berteriak menyemangatinya kah? Aku sangat ingin melakukannya sekaligus.

Dengan tangan yang gemetaran kembali aku menekan tombol darurat. Mungkin tombol itu akan rusak beberapa jam lagi karena sudah sangat sering aku menekannya.

Kembali pemandangan yang tak asing terjadi. Dokter beserta susternya berhamburan memasuki ruangan yoona. Kuatkan mentalmu Chanyeol! Ku genggam erat tanganku untuk menenangkan diri.

“tekanan darah mulai menurun!”

“150 joule. Clear. mulai!”

“200 joule. Clear. mulai!”

“tekanannya tak kembali normal..” disela-sela suara dokter ada tangisan yang mengiringi.

apa yang terjadi?

                Perasaan campur aduk kini menghampiriku. Dengan cepat aku memasuki ruangan itu. Mataku membulat besar jantungku serasa berhenti berdetak waktu serasa sangat lambat berjalan. Pemandangaan yang sangat mengerikan!

Defibrilator menarik yoona hingga tubuhnya terangkat, beberapa detik dokter mengulangi hal yang sama. Yoona masih tidak bergerak, ia tidur- tertidur sangat pulas. Stimulator detak jantungnya berlahan melambat membentuk garis horizontal dengan mengeluarkan suara tit panjang memekakan telinga. Aku tetap berdiri diambang pintu. Masih dengan mata yang tercengang.

“satu, dua, tiga.. satu, dua, tiga..” dokter masih berusaha semampunya. Memompa jantung Yoona.

“maaf bu,pak. Kami sudah melakukan yang terbaik.”

Tangisan pun pecah, ibu yoona dengan tatapan tidak percaya mendekati yoona mengelus rambutnya, mencium keningnya. Berusaha mengikhlaskan kepergian yoona. Tak lama ayah yoona mendatangiku yang masih terpaku berdiri.

“kau sudah melakukan semuanya. Terimakasih nak.”

“tidak.., tidak! tidak-tidak-tidak-tidak-tidak..” kakiku bergetaran tidak sanggup lagi untuk berdiri. Aku tertunduk dalam tangisanku. Memegangi kepalaku. Otakku tak dapat menafsirkan apa yang terjadi.

“yoona? Yoona-yah? Bangunlaah. Bangun! Kubilang bangun..” kupaksakan kaki ini kembali melangkah menuju Yoona. Ku peluk yoona dengan erat, kucium keningnya. Tidak ada lagi kehangatan di tubuhnya. Tidak ada deruan nafas yang kudengar lagi darinya. Hanya saja ia tetap terlihat sedang tersenyum. Seolah-olah inilah jalan yang terbaik yang harus ia lalui. Cantik. Sangat cantik senyumannya hingga aku merasakan ia masih ada di dunia ini. Ia belum pergi Ia hanya tertidur panjang.

Kupanggil namanya, berharap ia tiba-tiba bangun dan berkata “aprilmop”. Tak apa walau sekarang masih belum bulannya. Aku berjanji tidak akan marah walau candaan ini kelewatan batas. Kumohon bangunlah.

Pagi ini aku masuk kesekolah, duduk di bangku ku, melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan saat bersama Yoona.  Hanya saja sedikit berbeda. Pagi dan sepulang sekolah aku tidak lagi janjian bertemu di tempat kami biasa bertemu namun kami telah berjanji disebuah pemakaman bertemu dialam yang berbeda. Sebuah pertemuan yang sangat berarti bagiku dan baginya untuk menghargai hidup.

 

End_part2

WARNING:

Yeeeeiyy, alhamdulilah selesai /manse/ maaf ya ceritanya kek gini ;’( menurut author seperti inilah ending bahagianya ;’) author juga mau minta maaf karena lama ngepost nya dan juga ga balas komentar readers semua soalnya author ga tau kalo ff ini udah dipublish. Ini aja tahu karena diberitahu sama teman sesama author  freelance. Padahal chapter 2nya udah siap dari awal cerita ini dibuat. Sekali lagi author minta maaf ya :’)

5 thoughts on “[Freelance] Meet (End)

  1. Daebak,meski aku kurang suka klo endingnya sad..tp jujur aja aku terharu bgt..karena ff ini aku makin suka ending sad.Keren,thor..ditunggu karya lain ya..

  2. paling sedih kalo udah kena alzheimer:(((
    chanyeol yang sabar ya sayaang/? /eh hahahaha
    nice story author-nim^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s