[Freelancee] Perro (3)

7663

Perro | De_Pus19

Im Yoona | Xi Luhan | Lee Jong Hyun

Bae Joo Hyeon | Choi Siwon

Chapter | Romance – Psycho | PG-17

.

.

.

“Saya akan memanggil Lee Jong Hyun sebagai saksi. Dia adalah saksi yang terakhir kali bertemu dengan korban.”

“Keberatan,” Jaksa Cho berdiri. “Lee Jong Hyun tidak terdaftar sebagai saksi. Lagi pula, banyak orang yang melihat mereka dan belum tentu Lee Jong Hyun adalah saksi terakhir yang melihat korban.”

“Lee Jong Hyun akan memberikan kesaksian penting.” Tukas Siwon tajam.

“Saya menolak permintaan pengacara.” Hakim Lee bahkan berbicara tanpa memandang Siwon.

“Yang Mulia, saksi memiliki–“ kalimat Siwon terputus. Tatapan yang Hakim Lee layangkan membuat pengacara muda itu tersadar.

“Pengacara. Jika anda menganggu persidangan, anda akan dikeluarkan,” Hakim Lee meletakan laporan kembali ke mejanya. “Persidangan ini akan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.” Katanya sambil memukul palu 3 kali.

Siwon melirik Jong Hyun. Bodohnya dia! Harusnya Siwon sadar. Kalau ada orang besar yang sedang bermain di belakang layar.

.

.

.

Yoona duduk dipinggir ranjang sambil menempelkan ponselnya ditelinga. Wajahnya terlihat tidak suka, ia memejamkan matanya mendengar satu-persatu penjelasan Jong Hyun diseberang sana.

“Jadi, persidangannya ditunda?”

“Iya.”

“Bodoh! Kenapa kau tidak menyuap saksi yang Pengacara Choi bawa? Dan kenapa kesaksian Joo Hyun malah membuat ku tersudut?”

“Maaf Yoong. Aku akan mengurus semuanya.”

“Aku tidak perduli. Jangan hubungi aku.”

Yoona melempar ponselnya ke lantai. Sial! Sebenarnya ia tidak perlu begitu khawatir dengan persidangan yang ditunda, karena selama itu Oh Dong Il akan tetap menjadi tersangka. Tapi, bukan berarti posisi Yoona aman sekarang ini.

“Yoong, kau kenapa?”

Seorang pria yang tadinya tertidur di ranjang kini bangkit dan duduk disamping Yoona. Yoona memejamkan mata. Ah, kepalanya pusing! Ia sedang tidak ingin diganggu.

“Diamlah.”

“Hey, kau kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini.”

Yoona langsung menatap tajam Byun Baekhyun, anjing barunya. Yoona baru saja mengangkat Baekhyun menjadi anjing barunya satu minggu yang lalu dan kini Yoona jadi muak melihat wajah pria itu. Astaga! Bisakah dia tidak ikut campur?

“Ceritakan padaku, Yoong.”

Yoona langsung bangkit. Dia muak! Sungguh! Yoona meraih gelas berisi anggur diatas meja dan melempar gelas itu tepat di kepala Baekhyun. Pria itu tak sempat menghidar karena terkejut dan tanpa disadari darah sudah mengucur dari kening Baekhyun.

“Itulah akibatnya jika kau banyak bicara.”

Yoona melenggang kearah pintu hotel. Didepan sana ada dua pengawal yang menjaga kamar hotel yang Yoona tempati. Yoona bahkan tidak perduli, ia keluar hanya dengan menggunakan baju tidur tipis.

“Hey, cepat telpon Dokter. Anjingku terluka.”

.

.

.

Demi sepotong ayam goreng yang Luhan makan tadi siang, ia benar-benar menyesal datang dengan tergesah-gesah ke tempat ini. Oke, Luhan sangat shock ketika seseorang menelponnya dan mengatakan bahwa ‘ada anjing yang terluka’. Jujur saja, Luhan sangat-sangat menyukai anjing dan ia pasti akan berusaha menyelamatkan anjing tersebut.

Luhan menekan jarinya pada nadi, nadinya masih berdunyut. Dia masih hidup. Syukurlah. Walaupun darah sudah membanjiri pelipisnya, tapi Luhan telah memberikan pertolongan pertamanya sebagai manusia, bukan dokter hewan. Oh astaga! Yang benar saja! Luhan tidak mungkin mengobati manusia dengan obat hewan. Ia hanya bisa menutup luka yang ada di kepala pria itu.

Luhan bangkit lalu memandang wanita yang duduk di sofa yang sekarang sedang mengecat kuku jarinya dengan warna ungu pastel–tajam. Ia menghampiri wanita itu lalu menarik tangannya sampai dia hampir terjungkal.

“Berhentilah main-main,” tukas Luhan tajam. Mereka berdiri didepan ranjang. “Dia itu manusia bukan hewan.”

Wanita itu terlihat tidak mengerti. “Kau,” kalimatnya tergantung diudara. Dia memejamkan mata. “Kau dokter hewan?”

Dengan intonasi datar yang Luhan ucapkan membuat wanita itu meringis. “Iya.”

Wanita itu ternganga memandang dua pengawalnya tajam lalu tatapannya melunak ketika beralih memandang Luhan. “Ada kesalah pahaman disini,” Dia berusaha keras menarik tangannya dari cengkraman tangan Luhan. “Aku berniat memanggil dokter manusia bukan dokter hewan. Sepertinya pengawalku salah mengartikan maksudku.”

Salah satu pengawal wanita itu angkat bicara. “Bukankah Nona mengatakan bahwa anjing Nona sedang terluka?”

Wanita itu memandang pengawalnya lalu mengomel tanpa suara. Wajahnya sedikit memerah, bukan seperti orang marah, dia terlihat malu. “Kau menganggap kekasihmu itu anjing?”

“Apa? Bukan seperti itu.”

“Yang benar saja!” suara Luhan meninggi, tapi ia tidak terlihat seperti orang yang sedang marah. Luhan meraih tas kerjanya. “Kau bodoh ya? Harusnya kau membawanya ke rumah sakit!”

“Apa?” wanita itu tercengang. Wajahnya masih angkuh, suaranya sedikit melengking. “Bodoh?”

“Iya, kau bodoh! Jadi berhentilah main-main dan bawa dia ke rumah sakit!”

Blam!

Pintu kamar hotel terbanting keras, Luhan pergi tanpa dibayar. Menyisakan wanita itu dengan rahang mengeras dan tangan terkepal. Dia marah.

.

.

.

Noona, jam 3 kau ada pemotretan di perusahaan Nam Ju Grup untuk produk kosmetik terbaru mereka.” Lee Bo Young, gadis berusia 19 tahun yang sekarang bekerja sebagai asisten manager model terkenal Bae Joo Hyeon, terus mengoceh panjang lebar tentang produk kosmetik yang akan diiklan kan oleh Joo Hyeon.

Bo Young berkedip beberapa kali, berhenti bicara. Kali ini dia mulai menyadari bahwa Joo Hyeon sama sekali tidak mendengarkan apa yang baru saja dia katakan. Dia memandang lurus kearah dinding yang berjarak beberapa senti didepannya, dan untung saja dia tersadar selama dia bicara panjang lebar, kakinya terus berjalan kesana-kemari dan sekarang dia sudah berada dipojok ruangan.

Bo Young berputar, menatap Joo Hyeon yang duduk di pojok ruangan di seberangnya. Ah! Dia berjalan terlalu jauh. Dia menutup buku agenda dan mulai mendekati wanita berumur 20 tahun yang tengah menggendong anjing kesayangannya. Anjing ras chihua-hua, sangat kecil dan imut. Terlihat lebih mirip aksesoris dibandingkan dengan peliharaan.

Noona.”

Joo Hyeon mengadah. Wajahnya terlihat bingung dan agak murung. “Sepertinya honey sakit.”

“Eh?” butuh waktu beberapa detik sampai Bo Young menyadari honey yang Joo Hyeon maksud adalah anjingnya. Bukannya dia bodoh atau apalah itu, hanya saja artis yang dia tangani sedikit aneh. Joo Hyeon sering menganti-ganti nama anjing peliharaannya, jadi wajar saja kalau Bo Young bingung.

Kemarin namanya puppy, hari ini namanya honey, besok namanya siapa?

Honey mengeliat tidak nyaman dalam pangkuan Joo Hyeon. Ah! Sepertinya benar, anjing itu sakit. Wajah Joo Hyeon yang khawatir membuat Bo Young kebingungan. Dua jam lagi sebelum pemotretan, tapi wanita itu malah mengkhawatirkan anjingnya.

Joo Hyeon bangkit, masih menggendong honey. Ia meraih hand bag lalu berjalan menuju pintu keluar. Hal itu membuat Bo Young panik bukan main, diikutinya wanita itu. Joo Hyeon berhenti didepan mobil.

“Aku serahkan Manager Park padamu.”

“Apa maksudmu? Oh jangan bilang kalau kau–“ Bo Young belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Joo Hyeon sudah masuk kedalam mobil sambil tersenyum ganjil. Ah! Dia ingin membunuhku. Lalu mobil itu melesat seperempat detik kemudian.

.

.

.

Bae Joo Hyeon, model muda yang sedang naik daun dengan penyamaran supernya, ia berdiri didepan sebuah klinik hewan. Sudah lebih dari tiga puluh menit Joo Hyeon berkeliling mencari klinik hewan. Jujur saja, sebenarnya selama ini Manager Park dan asisten Lee lah yang merawat honey. Joo Hyeon tidak tahu apa-apa, tapi dia sangat menyayangi honey.

Dari balik kacamata hitamnya, mata Joo Hyeon memancarkan tatapan kecewa. Didepan pintu klinik tertulis ‘close’. Seharusnya dia bertanya pada Bo Young klinik hewan langganan honey. Joo Hyeon memandang honey yang berada dalam pangkuannya, lalu menyelipkan rambutnya kebelakang.

Joo Hyeon mendongak. Sepertiga detik kemudian ia mengambil langkah mundur, dengan napasnya yang masih tercekat. Terlalu dekat, tadi terlalu dekat. Seorang pria membuka pintu dari dalam dan sekarang berdiri di ambang pintu, dengan ekspresi sama dengan Joo Hyeon, dia terlihat terkejut.

“Apa kliniknya tutup?”

Pria itu tersenyum kecil lalu menggeleng. “Tadi, aku baru saja menangani kasus yang membuatku benar-benar kesal, jadi aku bersih-bersih klinik. Itu adalah caraku melampiaskan kesalan.” Katanya sambil mengangkat dua buah kantung plastik hitam.

Dibalik maskernya, Joo Hyeon tersenyum tipis. Pria ini, mulutnya seperti keran bocor.

.

.

.

Rahang Yoona terkatup rapat. Tangannya menggantung memegang alat makan di atas meja. Jangankan memakan, menyentuh sarapan paginya saja belum. Iris madu itu menatap lurus piring di depannya, namun nampak kosong, seolah pikirannya melayang jauh.

Pertemuannya dengan seorang dokter hewan di kamar hotel dua hari yang lalu, sedikit mengganggu pikiran Yoona. Wanita itu terus teringat tentang kesalahpahaman yang disebabkan pengawalnya. Yoona tidak begitu perduli dengan pria itu, tapi semakin Yoona masa bodo, semakin pria itu merasuki pikirannya.

“Adaapa denganmu, Yoong?” Im Nam Ju memang tidak pernah perduli dengan perasaan orang lain, tapi tidak untuk anaknya. Dia selalu terlihat seperti ayah yang kejam. Namun sebagai seorang ayah, dia bisa menyadari perasaan puterinya semudah membaca buku dongeng.

Yoona bergeming, sorot matanya terlihat keruh. Perasaannya campur aduk antara senang, kesal, dan sedih. “Hm, tidak,” ia menggeleng, sebelumnya Yoona menghembuskan napas panjang. Segaris senyum muncul diwajahnya, terlihat ganjil, tapi Yoona menutupinya dengan nada ceria. “Makanannya enak.”

Kening Im Nam Ju berkerut samar begitu pula dengan Lee Jong Hyun yang memang setiap pagi menemani mereka sarapan. Jelas-jelas Yoona sama sekali belum menyentuh sarapannya, bagaimana mungkin dia bisa berkata bahwa makanan itu enak? Pasti ada hal yang menganggu pikiran wanita itu.

Appa,” Im Nam Ju meresponnya dengan berdehem pelan. Nampaknya dia belum bisa berbicara seperti biasanya, karena melihat perubahan didiri Yoona pagi ini. “Ada yang ingin aku tanyakan,” Yoona meletakan alat makannya. “Apa kau pernah dikatai ‘bodoh’?”

Im Nam Ju menatap Yoona heran. Tak cukup dia terkejut dengan sikap Yoona yang terlihat normal seperti anak seusianya, sekarang dia dikejutkan lagi dengan pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut wanita itu.

“Ada orang yang mengataimu bodoh. Mungkin dia bukan orang pertama yang berbicara seperti itu. Tapi, entah kenapa kalimat itu terus mengusik pikiranmu.” Tambah Yoona.

Dengan perasaan harap-harap cemas Yoona menunggu jawaban ayahnya. Ia sudah bisa menerima kalau jawaban yang ayahnya berikan melenceng dari apa yang ia harapkan. Begini, ayahnya bisa menjawab kalau Yoona harus menganggap kalimat itu seperti angin lewat atau misalnya Yoona harus menemui orang yang mengatainya.

Bibir Yoona mengerucut sedetik setelah ayahnya menyodorkan cek berisi sejumlah uang yang cukup banyak. Wajah Im Nam Ju terlihat gusar, dia mendesah. “Kau bisa mengadakan pesta dengan uang itu bersama teman-temanmu. Kalau kurang kau bisa hubungi Appa.”

Appa!” teriak Yoona kesal. Memangnya dia minta uang?

“Yoong jangan bersikap seperti ini. Kau terlihat seperti anak baik dan itu membuatku takut,” Ekspresi Im Nam Ju terlihat khawatir. Bukannya senang puterinya bersikap seperti anak pada umumnya, Im Nam Ju malah takut. Yoona tidak pernah begini, bukan, ia pernah bersikap seperti anak manis dan sewajarnya. Tapi itu dulu, dulu sekali. “Jong Hyun, ada apa dengan dia? Hah? Apa ada orang yang meracuni otaknya? Atau kepalanya terbentur?”

Appa!” Yoona bangkit. Wajahnya terlihat kesal, ia itu serius. Kenapa mereka malah menganggapnya aneh? “Aku pergi.”

“Kau mau kemana?”

Pertanyaan Im Nam Ju membuat langkah Yoona terhenti ditengah ruangan. Ia tidak menoleh, atau berbalik. “Makam Eomma.” Tapi Im Nam Ju tahu, wajah cantik itu terlihat muram.

 

To Be Continued

5 thoughts on “[Freelancee] Perro (3)

  1. This ff needs more love tbh. Ffnya bagus bgt. Aku suka. Jarang bgt Yoona berperan kayak gini, as a psycho. Jalan ceritanya juga menarik. Kalau benar2 di bayangin, FF ini bagus bgt. Tetap semangat ya! Ditunggu kelanjutannya💚

  2. Jadi makin penasaran sama next chap thor, moment luyoon cuma satu😦 udah gitu ngeselin lagi momentnya. Kayaknya yoona sebenarnya baik deh thor *iyagak tapi karena appanya itu, apalagi eommanya udah meninggal. Aduh, baekhyyn kok digituin sih.. jadi kesel thor. Ditunggu thor next chap. Yg cepet ya, hehehe🙂 . Fighting!!!!

  3. Two thumbs for you thor.. Tambah keren tambah bikin penasaran. Kasus sehun kan diundur, apa ada kemungkinan yoona bakal ditangkap? Jangan dehh.. Pertemuan yg tidak menyenangkan utk LuYoon. Itu Bae Joohyeon sama Joohyunnya sehun beda kan? Antara Irene sama Seohyun. Kalau Irene, bisa jadi dia org ketiga antara LuYoon bsok ni dong, soalnya byk ff yg masang mereka b2 jd couple*semogaajagakyah* Itu aja deh, udh kepanjangan. Ditunggu kelanjutannya.. Fighting

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s