(Freelance) Not You, but Her

not you but her

Title : Not You, But Her
Author: Nikkireed
Cast : SNSD Yoona, Luhan, f(x) Krystal
Genre : Idol Life, Angst

Luhan melepaskan headphone-nya. “Terima kasih, untuk hari ini.” Ia membungkuk pada producer Lin.

“Kerja bagus, Lu. Aku bangga padamu.” Producer Lin menepuk bahu Luhan dan tersenyum. “Kurasa, kita akan lebih cepat memproses album barumu. Tidak ada yang perlu ditunda lagi, bukan?” Producer Lin beralih pada Manajer Shen.

Manajer Shen mengangguk setuju, “Benar. Apalagi mengingat sebentar lagi berita pertunanganmu akan disiarkan, Lu. Apakah waktu ini pas sekali?”

Ketika itu wajah Luhan berubah.

“Baiklah Luhan, siapkan dirimu untuk proses syuting video klipnya dan.. hubungi aku jika ada masalah.” Producer Lin lagi-lagi menepuk bahu Luhan. Lalu tersenyum sebelum meninggalkan studio.

“Setelah ini, kau kosong. Besok hanya ada persiapan pembuatan video klipnya. Lusa, kau akan berangkat ke Seoul untuk pemotretan salah satu iklan kosmetik. Kau mau aku email semua daftarnya?” Manajer Shen berlaku kejam lagi. Ia jelas tahu Luhan tidak suka jadwalnya disetujui tanpa pemberitahuan.

Luhan mendecak sebal, “Shen jie (Kak Shen), sudah kubilang –“

“Tidak, Luhan. Hanya kau sendiri, tanpa mantan boyband-mu itu.” Manajer Shen memotong pembicaraan Luhan karena sudah mengetahui protes Luhan. “Lagipula, besok malam Soo-jung juga akan pulang, ia menyuruhku untuk mengosongkan jadwalmu besok malam.”

Luhan merasa tidak perlu terlalu jauh membahas jadi ia hanya menyetujuinya. “Ya, xie xie Shen jie (Terima kasih kak Shen).”

“Hao de (Baiklah). Sekarang kita pulang.”

Luhan menghempaskan tubuh di sofa apartmentnya begitu ia sampai. Ia meluruskan kakinya di meja kopi, dengan tidak sengaja menjatuhkan remot TV sehingga  TV itu nyala dengan sendirinya.

Acara bergengsi salah satu stasiun TV, menampilkan sebuah grup girlband yang berhasil mengambil peringkat teratas karena album barunya. Kamera menyorot pada leader grup untuk memberikan ucapan terima kasih, Luhan meringis saat tiba-tiba kamera menyorot pada visual grup tersebut.

Perempuan itu.

Luhan yang tengah duduk lemas menjadi tegak. Sosok perempuan itu, yang membuatnya selama ini merindukannya. Ia sontak meraih remot TV dan membesarkan volumenya. Mendengarkan sang visual berbicara, matanya berkaca karena senang. Tapi ia masih tetap tersenyum.

Saat perempuan itu menatap dalam-dalam ke kamera, ia seolah berbicara padanya. Luhan membuang muka, tidak ingin lebih jauh merasa tersiksa dalam kerinduannya.

Luhan membuang nafas kasar, tapi tetap saja mata tidak bisa berbohong. Ia kembali menatap layar TV, masih perempuan itu yang berbicara.

“…Kemenangan ini adalah yang terbaik, terima kasih telah mendukung kami.” Perempuan itu menyerahkan mike itu kembali kepada MC.

Luhan tersenyum. Aku selalu mendukungmu, Yoong.

“CUT!”

Luhan membungkuk mengucapkan terima kasih pada seluruh kru dan Producer Lin atas kerjasama mereka. Ia berjalan menuju komputer untuk melihat hasil shooting teaser music videonya. Luhan tersenyum puas pada Producer Lin, “Terima kasih, Lin Ge (Kak Lin). Ini keren!”

Seseorang menghampiri Luhan memberikan sebotol air putih. “Xie xie, Shen Jie (Terima kasih, Kak Shen).” Ucap Luhan tanpa memandang siapa yang memberinya minuman. Ia meneguk botol air itu sampai tandas dan setelah botol itu kosong, Luhan baru menyadari bahwa Soo-jung sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum lebar.

“Ba-bagaimana kau bisa disini?” Tanya Luhan terkejut.

“Tentu saja bisa. Waaaah, kau terlihat tampan disini, oppa.” Puji Soo-jung saat matanya menangkap hasil shooting di komputer.

Manager Shen baru tiba dengan segala bawaannya, “Lu, cepat bersiap. Pemotretan kosmetik di Seoul dimajukan menjadi hari ini. Nanti malam.”

Luhan terkejut, tentu saja. Apalagi Soo-jung, yang sudah menyiapkan kencan bersama Luhan tapi karena kemendadakan ini, kencannya harus batal lagi. “APA?!” Pekik Soo-jung ketika menyadari kata nanti malam.

“Tapi, Luhan oppa ada kencan bersamaku nanti malam. Tidak bisa!” Soo-jung langsung menggandeng lengan Luhan yang membuat Luhan kaget.

“Soo-jung-ssi, kontrak pemotretan ini –“

“Baik, baik. Aku pergi.” Potong Luhan, lalu beralih pada Soo-jung, “Jungie-ah, aku harus pergi untuk pemotretan. Kita masih ada besok dan besok. Okay?”

Soo-jung mengerucutkan mulutnya, “Tapi oppa, kita tidak bisa mendapatkan waktu seperti ini lagi. Kau akan padat untuk shooting video klip ini, rekaman ini, itu.”

Luhan mengacak-acak rambut Soo-jung, “Tenang saja, aku akan cepat pulang.”

Manager Shen mendecak sambil mengacungkan jam tangan.

“Baik, aku pergi dulu. Daah.”

Dan Soo-jung ditinggal sendiri dengan kru pemotretan yang lain dan asing itu.

Shooting rekaman video klip Luhan berjalan dengan lancar. Seminggu penuh ia berangkat subuh dan pulang subuh demi mendapatkan hasil terbaik. Dan seminggu penuh juga ia tidak mengabari Soo-jung. Ia bahkan lupa jika hari ini ia ada kencan dengan kekasihnya itu, well, sebentar lagi tunangannya.

“Jungie-ah?” Luhan mendekatkan ponselnya pada telinga begitu mendengar ponselnya bordering di meja. Ia melirik jam tangannya, pukul sepuluh lewat sepuluh, pagi.

“Oppa! Aku merindukanmuuuuu, sangat. Kau di apartment-mu sekarang?”

Luhan menghembus nafas malas, “Ya, aku.. aku baru bangun Soo-jung-ah. Ada apa?”

“Aku sudah meminta Manajer Shen mengosongkan jadwalmu hari ini. Aku akan kesana sebentar lagi. Kau ingin makan apa?”

Luhan merasa dengan cerita panjang lebar Soo-jung jadi ia hanya meng-hem-kan.

Sampai akhirnya Soo-jung sampai di apartment-nya, Luhan masih di tempat tidur. Soo-jung bermaksud untuk memberikan kejutan dengan membuatkan sarapan romantis untuk dirinya dan Luhan, tapi sedikit harum roti bakar dan dentingan sendok dan cangkir membuat Luhan dengan malas berjalan menuju dapurnya.

“Kau sedang apa, Yoona-ya?”

Soo-jung yang membelakanginya terkejut akan 2 hal. Satu, Luhan sudah bangun yang artinya kejutannya terancam gagal. Dua, Luhan salah memanggil namanya.

Soo-jung berbalik dan menatap ngeri wajah Luhan yang masih mengantuk, dengan mata sedikit tertutup Luhan menguap dan tersenyum datar, “Selamat pagi, Yoona.”

Soo-jung mendecak sebal, Luhan masih saja belum melupakan wanita itu rupanya, batin Soo-jung kesal. Ia berjalan menghampiri Luhan, “Aku Soo-jung, oppa. Bukan Yoona.”

Mata Luhan langsung membelalak, ia menggosok sedikit matanya, memastikan bahwa ia salah. Memang ia salah.

“EH, oh, ya.. maksudku, Soo-jung..” Luhan menggaruk tengkuknya, “Sejak kapan kau disini?” Luhan mengalihkan pembicaraan.

Soo-jung mendelik, “Sejak aku menutup panggilan tadi, aku berencana untuk –“

Ponsel Luhan berdering dari kamarnya. “Tunggu sebentar, Jungie-ah.”

Luhan menghilang dari hadapan Soo-jung, semakin membuat Soo-jung merasa dongkol dengan sikap calon tunangannya itu.

“…Ya, tapi sekarang ada Soo-jung disini..”

Mendengar Luhan menyebutkan namanya, Soo-jung berjalan mendekatinya.

“Oh, baiklah. Aku kesana.”

Setelah Luhan menutup ponselnya, ia menatap Soo-jung, “Aku harus kesana. Yoona. Sakit.” Luhan menghela nafas saat menyebutkan 2 kata terakhir.

“Tapi.. sarapanlah dulu denganku.” Pinta Soo-jung dengan memelas. “Aku bahkan sudah membuatkanmu teh madu, oppa.”

Luhan berjalan menuju lemari dan mengambil jubah hitam panjangnya, “Maafkan aku, Jungie-ah. Aku buru-buru.” Ia bahkan sudah menyambar topi hitam dan memakainya agar tidak banyak fans yang tahu keberadaannya dan kepergiannya.

“APA LEBIH PENTING PEREMPUAN ITU DARIPADA AKU?”

Soo-jung bertanya pada dirinya, dan pintu yang tertutup tepat setelah Luhan keluar.

Luhan masuk dalam sebuah ruang pasien VVIP yang dominasi dinding putih pucat. Matanya langsung tertuju pada sosok yang tengah berbaring di bangsal, satu-satunya yang menarik dari keseluruhan ruangan tersebut.

Yang Luhan bayangkan saat masuk ke ruangan tersebut adalah perempuan itu tengah tertidur tenang, tapi apa yang Luhan bayangkan tidak menjadi kenyataannya. Perempuan itu tengah membuka matanya, mengutak-atik ponsel ditangannya.

“Yoona?”

Yang dipanggil langsung menoleh, “LU!”

Yoona langsung terduduk di bangsal tersebut, wajahnya sumringah dan senyumnya merekah. Bagaikan seperti ponsel yang sudah diisi penuh baterainya, Yoona memaksa Luhan mendekat.

“Kupikir kau sakit?” Luhan mengerutkan keningnya, memastikan keadaan perempuan dihadapannya itu. “Sampai Tiffany menelepon dan Hyoyeon mengantarku kesini.”

Senyum Yoona memudar, “Ah, itu. Ya, kurasa… mereka merindukanmu. Sudah lama tidak bertemu denganmu, kau tahu.” Yoona tertawa canggung.

“Jadi kau tidak merindukanku?” Tanya Luhan dengan senyum menggoda.

“YA! TENTU SAJA!”

Reflek, Yoona memeluk Luhan dengan kuat. Luhan sampai terkejut dengan perlakuan Yoona yang mendadak itu. Bukan tipe pelukan yang romantis mesra, tapi pelukan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu.

Luhan ragu ingin membalas pelukan Yoona, tangannya sudah diangkat hampir menyentuh bahu perempuan itu, tapi…

“Yoong.” Panggil Luhan pelan tanpa menyentuh bahunya.

Yoona melepaskan pelukannya, “Oh, maaf. Aku mendengar berita pertunanganmu dengannya. Chukkae, Lu! Aku ikut senang mendengarnya.”

Luhan berani bersumpah apa yang ia dengar barusan tidak setulus yang diucapkan. Luhan menatap nanar kedua mata dihadapannya itu dan tersenyum muram. “Kau tahu, bukan ia yang kuinginkan.”

Yoona berusaha menelan air matanya. Ia memaksakan diri tersenyum, “Kau punya perempuan lain, eoh?” Ia tertawa dengan canggung, bermaksud mencairkan suasana.

Luhan ikut menahan tawa akhirnya, “Ya, aku punya. Ia bahkan lebih cantik dari yang terakhir kulihat. Matanya indah, rambutnya terurai lembut.” Reflek Luhan menyentuh rambut Yoona.

“Lu –“

Luhan mendongak padanya, “Aku – “

“Yoona!”

Suara Tiffany membuyarkan suasana. “Kau terbangun? Apa kau tahu ia akan datang jadi kau bangun? Dokter bilang kau harus istirahat.”

Ocehan panjang lebar 6 member lainnya memadati telinga Luhan. Ia tersenyum menatap Yoona saat digiring paksa oleh perempuan-perempuan itu keluar dari ruangan Yoona.

Luhan sedang duduk mencoba menikmati kopi di kafetaria rumah sakit itu. Kemudian, seorang perempuan berambut pirang yang pendek sebahu dengan poni menggantung duduk dihadapannya tanpa minta ijin.

“Noona.” Sapa Luhan pelan, tersenyum tipis.

Yang disapa memasang wajah jutek, seperti biasanya. “Ya! Kau datang menemuinya lagi?”

Kali ini Luhan tersenyum lebar, “Tiffany menelepon mengatakan ia sakit dan masuk rumah sakit. Dan kupikir tidak salah mengunjungi kalian.”

“Tapi tidak seperti ini, Lu. Kau tahu, kau membuatnya semakin bingung.” Taeyeon memajukan dirinya dan berbisik dengan serius.

“Apanya?”

“Semuanya. Ia tahu berita pertunanganmu. Dan ia sempat menangis semalaman. Apalagi sejak kau keluar dari agensi dan mengatakan untuk solo. Ia merindukanmu sampai sakit. Kau tidak tahu?”

“Tahu. Hanya sebagai teman yang merindukan teman.”

Taeyeon menggeleng, “Tidak semudah itu, Lu. Kalian sudah tidak berteman.”

Luhan mengernyitkan keningnya.

“Aku mengetahuinya, aku melihat kalian di gedung atas waktu itu, sehari sebelum kau keluar. Kau sudah memutuskan?”

Luhan tidak mengerti arah pembicaraan ini, “Memutuskan apa?”

“Soo-jung atau Yoona! Kau tidak bisa menyakiti dua duanya, Lu!” Taeyeon tanpa sengaja menaikkan suaranya. Membuat Luhan terkejut.

“Noona!”

“Aku tahu, ini melelahkan. Tapi menurutku, sebagai laki-laki, kau tetap harus menentukan satu. Bukan menggantungkan seperti ini.” Taeyeon berdiri dari kursinya. “Dan, jika kau menyakiti Yoona seperti ini lagi, kami tidak akan diam, Lu.”

Kemudian, Luhan sendirian.

Ponsel Luhan tidak berhenti berdering sejak dua puluh menit lalu. Sampai panggilan ke-31 dari Soo-jung, ia memutuskan untuk mematikan alat elektronik tersebut dan menyimpan di laci nakas samping tempat tidurnya.

Ia sudah pulang sejak perbincangan singkat dengan Taeyeon siang tadi. Dan sekarang sudah sore, pukul lima lewat. Luhan memang lelah, secara fisik dan mental. Ia langsung tidur setelah pulang dari rumah sakit, meninggalkan voice note pada manager Shen untuk membatalkan penerbangannya. Bagaimanapun juga, ia lelah. Tidak akan sanggup melakukan perjalanan jauh.

Luhan memaksakan dirinya untuk berjalan ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Lalu keluar dengan kaus hitam dan jins belel.

Perutnya lapar. Dan ia belum makan dari pagi. Sialan, ia bahkan lupa Soo-jung sudah menyiapkan sarapan untuknya tadi pagi!

Akhirnya, ia meraih topi hitam dan jaket bulu super tebal melangkah keluar apartment.

Soo-jung mengikutinya. Soo-jung tahu ini akan salah, tapi kali ini ia ingin membenarkan semuanya. Ia tidak ingin seperti ini lagi. Ia muak.

Laki-laki itu berjalan menuju sebuah supermarket dekat kota. Soo-jung tidak mengikuti laki-laki itu masuk, hanya mengawasinya dari jauh.

Luhan makan sandwich dingin dan menegak coke sampai tandas dengan tatapan kosong.

Lalu Luhan berjalan melangkah keluar dari supermarket dan menyebrang ke sebuah toko musik. Soo-jung lagi-lagi tidak mengikutinya masuk. Dua puluh menit kemudian, laki-laki itu keluar dengan headset di telinganya. Saat itu juga, Soo-jung mencoba menghubungi ponselnya. Tapi di jawab oleh operator yang membuat Soo-jung semakin kesal.

Luhan melangkah dengan santai, melewati ramainya kota tanpa ingin mendengarkan – hanya melihat. Ya, ia hanya ingin melihat. Melihat semuanya indah.

Soo-jung masih mengikuti laki-laki itu sampai mereka akhirnya berhenti di sebuah tempat. Teater.

Luhan menatap lama sebuah poster film yang sedang tayang. Film-nya. Film terakhirnya.

Soo-jung mengikuti arah pandangnya, kemudian mengerti. Tapi ia berharap asumsinya salah. Ia berharap apa yang dipikirkan Luhan bukan yang dipikirkan olehnya. Soo-jung menggeleng keras, menghapus bayangan itu dari pikirannya.

Sampai ia kehilangan jejak Luhan.

Soo-jung kesal, ia sedikit berlari mencoba mencari sosok Luhan di depan teater tersebut. Melirik sana-sini, sampai hampir menabrak orang-orang yang berjalan. Ia mengeluarkan ponselnya kemudian teringat dengan operator yang berarti Luhan mematikan ponselnya. Bagaimana ia bisa mencari Luhan lagi setelah ini?

“Mencariku?”

Soo-jung berbalik mendengar sumber suara dari belakang punggungnya. Ia terkejut seperti baru saja disiram air es. “Oppa!”

“Kau mengikutiku?” Tanya Luhan lagi, wajahnya datar. Tidak menunjukkan kekesalan karena mengetahui Soo-jung membututinya seperti waktu itu.

“Ah, a..ti..tidak. aku –“

“Ikut aku.” Luhan memotong ucapan Soo-jung dan melangkah melewatinya. Padahal Soo-jung berharap Luhan akan menarik tangannya seperti di drama-drama. Ya ampun Soo-jung sadarlah!

Soo-jung cepat-cepat mengikuti Luhan. Sampai mereka berhenti di sebuah jembatan penyebrangan. Tempat yang tidak seramai depan gedung teater tadi.

“Soo-jung.”

Soo-jung sedikit bergetar karena Luhan memanggil namanya, bukan dengan panggilan biasanya. “Eh?”

“Maaf.”

Soo-jung tidak mengerti, ia mengernyitkan dahinya.

“Aku, sudah memutuskan. Aku –“ Luhan menarik nafas, “Aku akan menghentikan semua ini.”

“Apa?” Di pikiran Soo-jung, Luhan akan menghentikan aktingnya, di film dan di drama kehidupan ini. Tapi yang ternyata di lontarkan Luhan berbeda dengan apa yang ia bayangkan.

“Kita. Aku tidak bisa membuatmu selalu bersedih. Aku juga ingin sekali melupakannya. Aku sudah memutuskan untuk berhenti. Semua ini. Karirku di Korea, hubungan kita, hubunganku dengannya. Aku ingin memulai lagi.” Luhan mengatakan kalimat-kalimat tersebut dengan sangat santai, sampai pelan-pelan menusuk hati Soo-jung. “Kali ini tanpamu, Soo-jung.”

Soo-jung tidak bisa tidak menangis. Walaupun ia tersenyum pahit. Luhan menyebutkan namanya dengan sangat santai, tenang. Seolah tidak masalah. Sialan dengan senyum tenang tersebut!

Luhan melepaskan jaket bulunya lalu menyerahkan pada Soo-jung. Soo-jung mendongak setelah menghapus air matanya yang tumpah.

“Aku akan berangkat besok. Kumohon, jangan mencariku lagi Jungie-ah. Aku menyayangimu, seperti adikku sendiri.” Luhan melangkah maju, mendekat sampai Soo-jung dan mengecup puncak kepalanya.

Kemudian berbalik, dan berjalan tanpa melihat Soo-jung lagi. Untuk beberapa tahun, janjinya dalam hati.

An.

Kangen Luhan, bangetttttttttt. :”)

 

13 thoughts on “(Freelance) Not You, but Her

  1. Menurut pendapatku…
    -luhan pergi krn mau memastikan perasaannya
    -nanti klo udah yakin, dia balik lagi, trus mengungkapkan perasaannya
    -dia bakal milih yoona/karena cast nya disini tertulis SNSD Yoona, Luhan, f(x) Krystal/
    Tolong dilanjutin thor.. biar imajinasiku ga melayang kemana mana..

  2. Jadi??
    Yak!!! Stidaknya jngan gantung Yoong Dan kami 😂 😂 😂 sequel dong 😅
    Luhan mngakhiri smuanya? Trmasuk Yoong? Ooew
    Okelah dtunggu aja sequel nya 😜
    FIGHTING!!!

  3. Authorr lanjut thor jgn gantungin kayak ginii,,,
    Trus hubungan luhan sama yoona gmnaa??? Wahh luhan bener2..

  4. JAHAT BANGET SIH ELAH UDAH GAPAPA SOOJUNG DAPET JONGIN YG LBH TINGGI TRUS LBH HOT
    TRUS INI GANTUNG GINI AJA THOR? SERIUS? YOONA LUHAN APA URUSANNYA INI? JANGAN PERMAINKAN READERS MU JUSEYO

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s