(Freelance) Mading Sekolah

girls-generation-yoona-kt-lte-noot-season-2-photoshoot

Mading Sekolah | De_Pus19

Im Yoona | Xi Luhan

Ficlet | Romance | PG-13

.

.

.

“Hey, kalian sudah dengar. Katanya Xi Luhan berkencan dengan Tiffany Hwang.”

“Ekh, yang benar?”

“Iya. Mereka terlihat serasi seperti Romeo dan Juliet.”

Im Yoona berjalan cepat dengan langkah panjang melewati segerombolan murid perempuan yang berbisik-bisik di lorong koridor. Akh, rasanya menyebalkan mendengarkan ocehan mereka barusan. Apa katanya tadi? Luhan berkencan dengan Tiffany? Romeo dan Juliet? Astaga! Kalau tidak melihatnya sendiri, Yoona tidak akan percaya dengan gosip murahan itu.

Yoona mengibas rambut panjangnya kebelakang, hawa panas membuatnya ingin marah-marah. Tapi hey, sekarang kan sudah memasuki musim gugur bahkan sebentar lagi musim dingin. Apa ini semua gara-gara mendengarkan ocehan menyebalkan mereka?

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya Yoona tidak mempunyai hak untuk marah. Karena pada dasarnya ia tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Luhan. Yeah memang, mereka pernah berpacaran cukup lama dulu. Tapi dengan bodohnya Yoona memutuskan Luhan dengan alasan yang ia juga tidak mengerti.

Yoona menyukai pemuda itu. Tapi sikap Luhan yang terkadang cuek dan masa bodo membuat Yoona geram. Dan sekarang, ia mengutuk dirinya sendiri karna telah memutuskan hubungannya dengan Luhan dan berharap Luhan masih menyukainya setelah ia mencampakkan pemuda itu.

“Tiffany,” Langkahnya terhenti di anak tangga ketiga sebelum mencapai lantai dua. Napasnya tercekat dan bahkan ia sampai lupa bernapas sampai kalimat selanjutnya terdengar. “Aku membawakan CD yang kau inginkan.”

“Ah, benarkan? Khamsahamida, Luhan.”

Bernapas Yoona! Bernapas!,  jeritnya didalam hati.

Jadi benar apa yang mereka katakan, Luhan dan Tiffany berkencan. Mungkin berkencan terdengar sangat tidak mungkin bagi mereka yang masih saling berbicara dengan bahasa formal. Tapi, fakta bahwa Luhan dan Tiffany dekat membuat Yoona ingin menjerit.

“Ano, Tiffany, aku-“

Kya! Berhenti! Yoona tidak ingin mendengarnya, ia sudah tidak sanggup.

Yoona berlari cepat melewati dua anak tangga selanjutnya dan menerobos lorong koridor lantai dua menuju kelasnya. Astaga! Bahkan ia tidak perduli jika Luhan dan Tiffany menganggapnya aneh atau apalah itu. Pokoknya ia tidak perduli. Astaga! Ia ingin menangis.

 

 

“Hey Yoong, kau kenapa?” Yoona menggeser buku matematika yang sendari tadi menutupi wajahnya. Kepalanya masih menempel pada meja dan ia terlihat sangat kelelahan. “Kau sakit?”

“Hm, kurasa.”

Jessica Jung mengambil alih tempat duduk yang berada di depan meja Yoona. “Kau sakit apa?”

Yoona menegakkan tubuhnya. Ia merasa sangat buruk hari ini. Ia benar-benar cemburu dan marah melihat Luhan bersama dengan Tiffany. Ingin sekali Yoona menceritakan semuanya kepada Jessica, tapi kalau dipikir-pikir ia merasa malu sendiri. Jadi Yoona rasa, ia harus menyimpan semua sendiri.

Tapi, astaga! Ia ingin Luhan tahu bahwa dirinya masih mencintai pemuda itu. Atau setidaknya ia ingin Luhan menyadari keberadaannya disini, didekatnya.

“Aku merasa cemburu melihat Luhan bersama Tiffany.”

“Astaga! Jadi kau masih mengharapkan pemuda itu?”

“Tentu saja. Dia itu cinta pertamaku. Bahkan sampai saat ini tidak ada satupun pemuda yang menarik perhatianku.”

Jessica menopang dagu. “Kau sendiri yang melepaskannya.”

“Aku tahu! Aku tahu!” Yoona menutup telinga sedikit kesal dengan ucapan sahabatnya. “Iya, iya aku salah. Aku ingin dia tahu bahwa aku masih meyukainya.”

“Kalau begitu bertahu langsung saja padanya.”

“Bodoh!” pekik Yoona. “Aku malu.”

“Hm, yasudah. Kirimi dia surat atau apalah itu. Gimana?”

“Surat? Apa tidak kuno? Aku ingin memberitahunya dengan cara yang tidak biasa. Ektrim misalnya.”

“Ekh, kau ingin Luhan mengetahui perasaanmu atau kau ingin pemuda itu jauh darimu?” tanya Jessica yang bingung dengan jalan pikiran sahabatnya. “Nah, dari pada kau memikirkan Tuan Xi Luhan yang tampan itu. Bagaimana kalau kau membantuku untuk membuat artikel di mading sekolah.”

“Artikel?”

“Iya. Aku ingin membuat artikel tentang kisah percintaan remaja. Artikel seperti itu banyak peminatnya.”

Yoona terdiam sebelum akhirnya dia bangkit sambil memukul meja, membuat Jessica tersentak kaget. “Itu dia!”

“Apa?”

“Artikel! Kau pintar ,Sica!”

“Ekh? Benarkah?” tanya Jessica yang masih tak percaya.

“Serahkan padaku. Biar aku yang kerjakan artikelmu.” Yoona memasukan bukunya kedalam tas lalu berlari cepat meninggalkan kelas yang hampir kosong.

“Ekh, entah mengapa. Perasaanku jadi tidak enak.”

 

Xi Luhan memang menyadari ketampanannya dari lahir. Semua gadis menyukainya dan mengejar-ngejarnya seperti idol. Tapi hari ini berbeda, memang biasanya banyak orang yang menatapnya ketika ia berjalan. Banyak yang berbisik-bisik dan tersenyum padanya. Tapi kali ini berbeda, seperti ada hal penting yang hanya dirinya seorang lah yang tidak tahu.

Semua orang menatapnya lalu tertawa. Ada apa ini sebenarnya?

“Hey, tampan.” Kris Wu sepupu Jessica Jung memukul punggung Luhan kencang membuat pemuda itu terhempas kedepan beberapa senti. “Kau dicintai banyak orang ya, bahkan salah satu gadis terjutek di sekolah ini.”

“Apa?”

“Lihatlah ke mading! Semoga sukses dan aku iri padamu!” teriak Kris sambil berlari menghampiri anak klub basket.

Tiba-tiba perasaan Luhan jadi tidak enak melihat banyak orang bergerombol didepan mading. Ada yang terkejut dan tertawa-tawa. Ketika mereka melihat Luhan datang semua orang yang ada disana menyingkir, memberi jalan untuk pemuda itu. Dan seketika jantungnya berdegup kencang.

Dear, Xi Luhan

Aku ingin memberitahumu satu hal dan ingat hal ini baik-baik.

Aku masih mencintaimu

Aku masih menyangimu

Dan aku tidak akan melupakanmu selamanya

Ingat itu baik-baik

Oh, dan satu hal lagi. Aku tidak menyukaimu berkencan dengan Tiffany Hwang dan tolong katakan padaku bahwa kau tidak benar-benar berkencan dengan gadis itu. Karna aku tidak suka. Aku muak mendengar mereka membicarakanmu dengan Tiffany dan yang lebih konyolnya lagi. Kau tahu? Mereka bilang kalian seperti Romeo dan Juliet.

Astaga! Hey, dengarkan. Sebelum Romeo bertemu dengan Juliet, Romeo memiliki cinta pertama dan cinta pertamanya adalah aku. Im Yoona.

Kau boleh berkencan dengan gadis lain diluar sana, tapi kau harus ingat. Kau tidak akan kulepas. Jadi, kurasa kau tidak perlu mencari gadis lain, karna ada aku disini.

Dari seseorang yang selalu mencintaimu. Im Yoona.

 

 

“Hey, Jessica. Kau lihat itu, Luhan tersenyum sambil membacanya.”

“Hm, iya.”

“Hey, ada apa dengamu? Kau terlihat tidak suka?”

“Bukan begitu. Aku kan pernah bilang kau katakan langsung padanya saja tapi kau malu. Memangnya kau tidak malu sekarang?”

“Ekh, kenapa harus malu?”

“KARNA YANG MEMBACA ARTIKEL YANG KAU TULIS BUKAN HANYA XI LUHAN SAJA. TAPI SEMUA MURID DAN GURU.”

Yoona tersentak kaget. Astaga! Ia baru menyadarinya. “EH!!! KAU BENAR!”

 

The End

8 thoughts on “(Freelance) Mading Sekolah

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s