We’re Just…

we're just

Title                   : We’re Just…

Author                : NandaFM

Rate                  : Teen

Genre                 : Romance

Main Cast           : Park Chanyeol | Im Yoona

Supporting Cast   : Byun Baekhyun

Disclaimer           : Bagi yang merasa udah pernah baca FF ini sebelumnya, silahkan dicek dulu dimana dulu bacanya. Soalnya FF ini pernah aku post di blog pribadi aku (foggymindyblog.wordpress.com).

Enjoy!

**NO PLAGIATOR ALLOWED

Matanya yang gelap mencuri pandang ke arahku untuk kesekian kalinya dari ujung kelas. Membuatku merasa kesal dan marah. Dia mau apa, sih? batinku. Tapi aku sama sekali tak berani menegurnya. Bukan karena takut padanya, hanya saja hal itu sama sekali bukan seperti diriku. Gambaran seorang gadis yang terkenal akan sifat cueknya dan tidak terlalu menaruh perhatian dengan sekitar jelas membuatku harus menelan bulat-bulat perasaan kesal yang sepertinya akan meledak sebentar lagi.

Untunglah bel masuk sudah berbunyi sehingga dapat membuatku fokus lagi. Setiap penjelasan yang diterangkan di depan kelas mampu membuatku konsentrasi sepenuhnya sampai getaran handphone di saku seragamku membuyarkan semuanya. Ingin kuabaikan begitu saja tapi getarannya yang terus mengganggu membuatku mau tak mau harus mengalihkan perhatian. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tepat saat akan kutekan tombol reject getaran itu berhenti. Mungkin salah sambung, pikirku tak mau terlalu ambil pusing.

***

            Baru saja aku sampai di depan pagar rumah ketika handphoneku kembali bergetar, tanda ada pesan masuk. Dari nomor tak dikenal yang tadi meneleponku. Meskipun sangat malas untuk membukanya, tetapi tentunya rasa penasaran yang tinggi akan lebih menang dalam hal seperti ini.

Hai Yoona. Maaf tadi bukan aku yang meneleponmu, tapi Baekhyun. –Chanyeol.

Seketika aku merasa menyesal sudah membukanya. Lebih baik tidak usah kubuka tadi, batinku.

Chanyeol, lelaki yang secara kebetulan selalu menjadi teman sekelasku mulai dari kelas X. Laki-laki berperawakan tinggi dengan rambut berantakan yang hampir membuat mata besarnya tak terlihat. Selalu duduk di pojok belakang kelas dekat jendela. Menjadi langganan remidi di segala macam tes dalam pelajaran Matematika. Anak yang selalu berisik dengan tawa renyahnya yang menggelegar. Dan lelaki yang akhir-akhir ini kudapati sering mencuri pandang ke arahku.

Biarkan aku terkesan kelewat percaya diri bila menganggap apa yang tadi ada di pesannya hanyalah modus semata. Mengkambing hitamkan teman sebangkunya yang hampir sama abstraknya dengan dirinya. Sedangkan jelas-jelas tadi saat aku mendapat panggilan itu Baekhyun sedang ijin ke toilet.

Y

            Sambil berjalan ke arah kamar kuketik balasan seadanya saja. Hanya satu huruf yang kuharap dapat menyampaikan semua rasa kesalku dan mengakhiri percakapan ini. Tapi harapan tinggallah harapan ketika aku mendapat balasan darinya hanya dalam hitungan detik.

Yoona-ah, sudah dapat kelompok untuk tugas matematika tadi? Kalau denganku, bagaimana? Kau tahu sendiri bagaimana track record-ku dalam matematika. Kalau kau mau pasti aku akan sangat beruntung.

Dan aku akan sangat sial, pikirku. Meski begitu jawabanku padanya adalah sangat berkebalikan dari pikiranku. Aku menyetujuinya dengan sangat terpaksa karena teman kelasku yang lain terlalu takut untuk bahkan sekedar bertanya. ‘Gadis superior yang kekurangan teman’ sudah menjadi makanan sehari-hari sejak kecil. Dan aku sama sekali tak keberatan akan hal itu, selama aku masih menjadi si gadis superior.

***

            Rupanya dari berbalas pesan singkat dapat menarikku sejauh ini. Benar seperti apa yang kudengar di sekolah bahwa seprang Park Chanyeol adalah anak yang sangat mudah bergaul. Dia bahkan tak segan meloncarkan candaan sambil mengacak rambutku saat kami baru untuk pertama kalinya –dalam tiga tahun sekelas– berbicara. Tidak memperdulikan delikan mataku atau bahkan bentakanku.

Si gadis superior yang kini berubah menjadi gadis yang tak canggung untuk tertawa lebar di kala senang dan menangis kencang di saat sedih. Aku bukan lagi seorang gadis yang hanya memiliki pandangan datar dengan kesan angkuh, tapi kini aku semakin terbuka dan bersahabat. Semua karena si laki-laki berantakan dengan sejuta persediaan humornya yang kini sedang duduk di hadapanku. Dia merubah segala yang ada pada diriku, termasuk hatiku.

Setiap perhatian yang ia berikan menggerakkan hatiku tanpa kuduga. Morning call yang selalu ia lakukan membuatku segera ingin terjaga dari tidurku, sekalipun aku sedang bermimpi indah. Tangan besarnya yang menggenggam erat tanganku dengan hangat saat berangkat ke sekolah bersama membuatku selalu berharap bahwa jarak sekolah dengan tempat kami berada masih jauh. Tak lupa juga kecupan-kecupan ringan yang ia berikan di keningku ketika ia mengantarkanku pulang, sungguh membuatku gila. Aku menyukainya dan tahu bahwa ia juga menyukaiku. Lalu kenapa hubungan ini masih tetap tidak ada kemajuan?

Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya menganggapku sebagai seorang adik setiap teman-temannya menanyakan tentang hubungannya denganku. Meskipun kemudian yang ia dapat adalah dengusan kecil dengan diiringi tawa yang syarat akan ejekan. “Adikmu pasti sangat beruntung memiliki kakak yang selalu bilang ‘I love you’ padanya setiap hari.” komentar mereka dengan penuh sarkasme.

Setiap elakan yang ia berikan membuatku semakin tidak bisa tenang. Dia yang pertama kali mendekatiku. Dia yang selalu memberi perhatian lebih. Dan dia juga yang memberi namaku sebagai Mine di kontak telepon miliknya. Tetapi ia juga yang selalu menolak dengan keras bila ada pihak yang menamakan hubungan ini sebagai hubungan romansa antara anak gadis dengan lelaki yang sedang kasmaran.

“Aku heran dengan mereka, kenapa selalu mengatakan dan menanyakan hal yang sama? Memangnya salah kalau kita sedang mencoba untuk memperbanyak teman? Apa kalau ada lelaki dan perempuan yang dekat harus karena perasaan suka saja? Pemikiran konyol. Mereka sangat konservatif. Kolot.” Adunya menggebu-gebu sambil matanya masih fokus dengan layar tv di hadapannya yang masih menampilkan film Harry Potter, kesukaannya.

Sedangkan aku di sampingnya hanya bisa diam tak bergeming dengan jantung yang sepertinya akan meledak. Chanyeol si lelaki naif itu sedang menyandarkan kepalanya santai di bahuku dengan tangannya yang ia kaitkan pada tanganku sangat erat. Sepertinya aku akan menjalani masa terakhir SMA-ku tanpa ada kemajuan dengan si bodoh ini batinku kesal dengan perasaan berdebar yang masih sama.

 

END

Note      : Jangan lupa komentarnya ya guys. Entah itu cuma satu kata ataupun satu paragraf berarti banget :’)

Oh ya, maaf juga karena cerita yang aku post harus ada di ujung bulan begini. UAS di kampus bikin waktu author kesita sepenuhnya dan males buat ngepost fanfict. Apalagi ada dosen yang alot banget buat dimintai ujian susulan, jadinya kan author stress banget (nah lho, malah curhat).

Well, pokoknya ditunggu ya guys kritik dan sarannya. Apa yang mesti diperbaiki dari tulisan ini jadi biar ke depannya lebih baik🙂

33 thoughts on “We’re Just…

  1. Friendzone yang bikin sakit ya. Seneng sih kalo punya cowo kaya gitu, tapi kalo udah disalah satu pihak ada yang suka kan sakit😀 keep writing^^

  2. sebenernya aku suka sih sma ceritanya, hanya saja heran sma chanyeol, dia itu kelewat naif, atau emang gk peka sih ? masalahnya jika yoona hanya seorang adik baginya, apa perlakuannya gk kelewat mesra ? orang kya sepasang kekasih gtuhhh,,, hduhh chanyeol, chanyeol, berharap sequel, hehe.

  3. ah chanyeol sebenernya suka gak sih
    kok kyak phpin yoona
    bilang temen tapi kayak gitu
    butuh sequel ini thor

    • Sebenarnya baek di sini cuma numpang nama doang *sorry baek hehe
      Maaf banget kalo endingnya begitu.aku lagi kena demam bikin ending yang nggk jelas nih hehe
      Makasih yaa udh baca dan komen :))

  4. Lah? Ini pegimane? Malh kaka-ade zone begindang..
    Need sequel please??
    Adain org ke3 n bkin si yeol cemburu,, nahloh biar rasa dia.. Cmiww

      • Klo sinetron mah.. ada kecelakaannya.. trus amnesia.. trus.. ada orang ketiga.. trus ingatannya balik.. trus menyesal.. trus pergi keluar negri.. trus end.. trus beberapa thn kemudian muncul season 2.. trus.. trus.. trus nabrak tembok.. 😄
        Iyah sama sama 👌

  5. cielah… yoona-yeol ngejalanin hts nih.. kekeke
    lanjut dong chingu.. kelanjutan yoona ama yeol yg tak peka… munculin sehun.. biar yeol sadar.. ahahaha

  6. Aish, Chanyeol itu gimana sih. Dia duluan yang deketin Yoona, malah dia juga yang ngelak kalau ada hubungan yang lebih. Malahan jadi kayak friendzone, kalau bahas tentang frindzone jadi kesel akunya thor, ihh.
    Kelanjutannya gimana nih thor, sequel ya. Butuh sequel.🙂
    Fighting!!!🙂🙂

  7. Chanyeol gimana sih, dia duluan kan yg deketin Yoona. Kok mlah jdi friendzone, hedehh Chanyeol… berharap hubungan kedua.y maju! Alias butuh Sequel nihh kkkk^^ Baekhyun pun hanya lewat nama doang hahaha.. *dijitak*
    Next, fict ditunggu! Yehet!

  8. Aigoo.. Itu Yeol oppa ad perasaan suka gak sih ma Yoona? Knp hub mereka cuma diam d’tempat doang? Yeol oppa sama skali nggak bergerak, lama2 ad namja lain yg naksir Yoona bru tahu rasa!! Brharap in ff ad sequelnya..

  9. lol! for real? jd chanyeol udah nempel seenak jidat ke yoona cuma bilang temen?!!
    jadi mikir gimana temen temen cewe chanyeol irl nanggepin sifat chanyeol yang kaya gini hahahahahaha
    just imagine how many girls have shed their tears because he said that they are only his friends!=)))(

  10. sekalipun hubungan mereka saat ini tdk ada kemajuan
    berharap ff ini ada kemajuan jd hubungan mereka lebih jelas

    amiiinnnnnn

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s