Teman Perjalanan

setidaknya manusia harus mempunyai teman, apapun kondisinya

Yoona and The Boy

Friendship | Teen | Vignette

by Ravenclaw

Namaku Im Yoona. Panggil saja Yoona. Aku seorang gadis berkepala dua, dan jangan pernah mengharapkan sosokku seperti di film series Harry Potter kalau aku sesosok gadis yang mempunyai kepala dua yang entah apalah namanya dan aku juga tidak yakin ada tidaknya sosok seperti itu di film favoritku. Aku ini manusia. Manusia biasa yang kebetulan bisa pergi ke Amerika seorang diri berkat dorongan nenek yang paling kusayangi.

Oh, aku lupa. Aku ini asalnya dari Korea Selatan dan jangan tanya aku dimana kota aku dilahirkan, aku tidak akan menjawab. Lupa. Sengaja. Dengan sangat sengaja aku melupakan semua hal di Korea sana selama 17 tahun terakhir ini. Banyak hal yang menyedihkan di sana. Seperti kedua orang tuaku yang lebih menyayangi adikku ketimbang aku karena aku tidak pintar dalam akademik.

Tapi, hei! Akademik juga tidak menentukan hidupmu kearah mana, kan? Justru non-akademik lah yang menentukan hidupmu selanjutnya. Bakat yang kumaksud. Tapi, ah, sudahlah. Aku malas menceritakan bagaimana mereka bertiga mencampakkanku dan sok tegar kala aku lebih memutuskan untuk hidup mengabdi pada nenek pihak ibu.

Kali ini aku terduduk di salah satu kursi bus menuju Texas, dimana nenekku tinggal menghabiskan sisanya. Ini semua berkat karyawanku yang memberiku izin untuk pulang kampung. Mereka selalu berterimakasih padaku telah memperlakukan mereka selayaknya manusia. Itu juga berkat nenek yang selalu mengajariku berbisnis yang baik tanpa menggunakan mantra yang aneh-aneh. Kata nenek, kalau ingin sukses memanusiakan lah para karyawannya. Dan aku juga baru tahu kalau nenek mengadopsi kata-kata itu dari CEO Google. Tapi terserahlah, yang penting berkat semua ini aku bisa membuka cabang bisnis cafeku hingga ke beberapa kota besar, seperti Los Angeles, Washington D.C, juga New York. Banyak orang menyuruhku untuk membuka cabang di beberapa kota yang belum kujamah, tapi aku hanya bisa berkata nanti. Aku tidak suka kalau ada yang gegabah dalam mengambil kesempatan ini. Persaingan saat ini sengit sekali.

Beberapa menit aku membayangkan apa yang sedang dilakukan nenek saat ini, apakah meminum kopi encer kesukaannya, atau memilih nonton komedi receh tahun 50-an, tiba-tiba bus berhenti. Kutebak kalau ada penumpang yang hendak menaiki bus dengan tujuan yang sama denganku. Tapi jangan tanya padaku gender apa yang menaiki bus ini, aku bukan cenayang. Aku merasa kalau bangku sebelah sedikit bergoyang, pertanda ada yang duduk di sebelahku. Oh, ternyata seorang pria dewasa berkulit putih yang barusan menaiki bus ini. Dengan sadis aku biarkan saja menikmati perjalanan ini. Semoga tidak merepotkan.

“Permisi, apakah ini bus arah menuju Texas?”

Pria itu bertanya, terlihat rautnya sedikit bingung. Aku hanya mengangkat alis, bingung juga kenapa ada orang bertanya seperti itu.

“Menurutmu?” tanyaku balik, sedikit ketus. Bilang saja kalau ingin berkenalan.

Pria itu terkekeh pelan, menyadari sifatku yang sedikit ketus atau kelewat ketus baginya, “maaf kalau membuatmu tersinggung, aku baru pertama kali kesini.”

Oh, wow. Ternyata ada orang asing yang duduk di sebelahku. Bagus, Yoona, kau sudah menjatuhkan image-mu sendiri. “Memangnya kau darimana?” tanyaku dengan suara yang mulai biasa.

“Kanada.”

“Pantas.”

Sekali lagi, aku bukan cenayang.

Aku mengangguk pelan, seolah mengatakan kalau bus ini memang benar bertujuan kearah Texas. Dan kembali ia tersenyum kecil, “Namamu siapa?” toh, pada akhirnya ia juga bertanya namaku.

“Im Yoona.”

“Korea?”

“Iya.”

South Korea?”

Dan sekali lagi aku mengangguk. Pintar juga tebak-tebakkannya.

“Karena kau sudah tahu namaku, sekarang aku tanya siapa namamu?”

“Wu Yi Fan, tapi kau bisa panggil Kris,” jawabnya.

Oke, biar kutebak, “Chinese?” dan pria itu mengangguk.

Chinese Kanadian?” sekali lagi, pria bernama Kris itu mengangguk.

Aku mengangguk-angguk kecil, seolah-olah berkata, “oh, begitu ya?” pertanda mengerti.

“Kau ke Texas ada urusan apa?” tanya Kris beberapa sekon kemudian, dan aku hanya menjawab untuk menjenguk nenekku yang sendirian di rumahnya. Dan saat aku bertanya padanya dengan tema yang sama, ia sedikit mendung.

“Aku ingin ke rumah ibu.”

“Memangnya kenapa?”

“Semenjak cerai, ibuku pindah ke Texas untuk melanjutkan hidup.”

Oh, pantas saja. Setidaknya masih bagus nasibnya dia ketimbang aku. Ayahnya juga mau mengurusnya meskipun hanya sekedar untuk melanjutkan usahanya kala ayahnya pergi ke surga.

“Aku ke sana sekalian minta izin kalau besok aku akan diangkat sebagai wakil direktur. Aku ingin ibu tahu kalau anaknya hendak menggantikan ayah.”

Anak yang baik, tidak sepertiku yang sampai saat ini tidak sudi menanyakan keadaan mereka di sana.

“Begitu, ya?” Kris mengangguk.

“Kalau kau, pasti ayah ibumu…”

“Mereka tidak mau mengurusku di sana, setidaknya aku sama sepertimu meskipun lebih parah aku,” potongku, sedikit sarkastik. Aku tidak suka kalau ada orang yang menanyaiku tentang masa lalu.

“Maaf.”

Aku mengangguk, “no problem.”

Dan selanjutnya, tidak usah dihiraukan. Kami mengobrol seputar beberapa kesukaan kami. Seperti dirinya yang menanti pertandingan COPA, aku yang juga menanti pertandingan English Open Badminton. Dan sampai akhirnya beberapa sekon kami terdiam, ia mulai bertanya lagi. “Kapan kau pulang ke New York?”

Aku menghitung menggunakan jari, “seminggu lagi, kenapa memangnya?”

“Kita pulang bersama, ya?”

Aku mengangkat alis, baru beberapa jam kami mengobrol sudah berani mengajak jalan anak orang. Tentu saja aku bingung, siapa yang tidak bingung dengan situasi seperti ini?

“Untuk?”

“Sekedar sebagai teman perjalanan juga teman ngobrol,” jawabnya, dengan senyum.

Aku mulai berpikir lagi. Setidaknya aku tidak mati bosan di perjalanan berikutnya, aku mengangguk.

“Setelah itu kau kurekrut jadi tour guide-ku di New York selama seminggu, aku ingin jalan-jalan dulu sebelum aku…”

“Eits! Tunggu dulu! Rekrut macam apa ini kalau tanpa persetujuan pihak lainnya? Aku tidak setuju kalau aku tidak diga…”

“Kau akan digaji, lebih tinggi dari gaji tour guide biasanya,” potongnya kembali, merasa menang.

Baguslah, setidaknya ia mempekerjakanku selayaknya manusia. Aku setuju akan itu dan kembali aku mengangguk.

Deal?”

Aku menyambut jabatannya dan berkata “deal,” dengan semangat.

Kami tertawa atas janji konyol ini. Setidaknya aku punya teman yang bisa diajak mengobrol untuk beberapa pekan ke depan. Tidak usah ditanya, kelanjutannya. Kami tetap tertawa sembari meminta nomor ponsel satu sama lain. Setidaknya ini positif untukku dan dia.

14 thoughts on “Teman Perjalanan

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s