Byeong Won

 

 

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzx

By Cicil

Pairing  Park Chanyeol and Im Yoona

Genre  sad romance, a little bit fluff

Rated  SU

Recommended song: Skinny Love by Birdy, Antidote covered by KHS and Josh Levi, Hold On We’re Going Home covered by KHS and Max.

P/s: stay calm, pemeran berkemungkinan 80% tidak akan meninggal di akhir cerita, hehe.

.

.

.

.

.

Untuk yang sedang galau dan ingin bertambah galau ataupun tidak berniat untuk galau, dipersilahkan memutar recommended song.

.

Yoong?

Waeyo? Mengapa kau meneleponku pagi-pagi begini.”

Yoona mengusap matanya karena ngantuk, barusan ia melongok jam di dinding dan sangat perlu diketahui bahwa sekarang baru jam 5 pagi! Telepon dari Chanyeol sukses jadi alarmnya kali ini. Yoona berjalan ke arah dapur, mengambil kotak susu dari kulkas dan menuangnya ke gelas dengan mata tertutup. Serius, ia tidur larut malam kemarin karena mengerjakan tugas.

Ehmm..

“Bicaralah atau aku tutup teleponnya–”

Jangan! Ehm.. bisakah kau pergi ke mari? Ke apartemenku, sekarang.

Gadis itu baru saja ingin meneriaki kekasihnya karena meminta yang tidak-tidak. Tapi kalimat selanjutnya dari Chanyeol membuatnya terdiam. “Sepertinya aku sakit, badanku tidak enak semua.

Terakhir kali Chanyeol berucap begitu membuat Yoona panik setengah mati dan ternyata itu hanyalah salah satu trik palsunya untuk mengajak pergi kencan. “Baiklah, aku akan sampai di sana dalam setengah jam.” Well, kalau pun kali ini merupakan trik Chanyeol yang lainnya, Yonna bersedia untuk tertipu lagi karena rasanya menyenangkan.

Gadis itu kembali ke kamarnya, memilih-milih baju mana yang hendak ia pakai. Dengan santai ia bersiap-siap, kemudian karena jarak antara apartemennya dan Chanyeol cukup dekat, ia sampai dalam waktu singkat.

Yoona memasukan password pintu yang sudah dihafalnya. Retinanya menangkap kertas pelajaran dan buku paket bertebaran di meja tamu, berikutnya ada lembaran-lembaran sheet musik di atas piano electronik. Tempat itu terlihat seperti tidak terurus sama sekali, padahal baru seminggu yang lalu Yoona meluangkan waktunya untuk membereskannya.

Ia melangkahkan kakinya ke kamar laki-laki itu, membuka pintunya perlahan, melupakan segala kecurigaannya terhadap trik biasa Chanyeol ketika menemukannya sedang menyembunyikan diri di balik selimut. Hawa di kamar itu pengap, dan saat Yoona mengintip wajah Chanyeol tampak pucat.

Yoona meraih tangan laki-laki itu dan menggenggamnya erat, lantas ia mengecek suhu badannya. Panas, Yoona bergeming karenanya. Park Chanyeol, bertahun-tahun Yoona mengenal laki-laki itu hanya pernah sakit sebanyak 2 kali. Kini, ia tergoleh lemas di sana dan Yoona tidak memiliki persiapan mental apapun.

“Sudah berapa lama kamu seperti ini?

Chanyeol membuka matanya, tersenyum kecil melihat Yoona sudah datang. Suaranya yang serak menjawab “Kemarin malam..”

“Sudah berapa lama?”

“Sejak kemarin,”

“Berapa lama?”

“Dua hari yang lalu.”

Yoona berdecak mendengar jawaban Chanyeol. Gadis itu mengambil segelas air putih, namun begitu Chanyeol menggerakan tubuhnya untuk duduk, ia menggerang–mengeluh sakit di bagian perutnya. Jelas, Yoona yakin laki-laki itu bukan hanya terkena demam tinggi.

“Lebih baik aku menelepon rumah sakit,” gumam Yoona, hendak beranjak dari tempat tidur namun tanggannya ditahan oleh Chanyeol. Ia menggelengkan kepalanya lemah, sama sekali tidak berniat membuang uang jajannya untuk biaya dokter.

Tapi Yoona tahu ia tidak akan menurut pada Chanyeol begitu saja.

Dalam sekejap mereka tiba di rumah sakit, Chanyeol bersama tempat tidur dorongnya masuk ke dalam unit gawat darurat untuk diberi pertolongan pertama. Yoona tidak bisa berpikir jernih, yang ia lakukan hanya menunggu, lalu dokter muncul dan laki-laki itu dipindahkan ke kamar rawat inap, dokter bilang ia sudah memberi obat penurun panas dan mencurigai ada virus di bagian perutnya–blablabla, yang Yoona dengar selanjutnya adalah nihil. Ia hanya ingat Chanyeol diharuskan menginap beberapa hari dan Yoona harus menunggu kabar terbaru untuk tindakan lebih lanjut.

Chanyeol bersikeras melarang Yoona menghubungi ibunya, ia tidak ingin anggota keluarganya menghabiskan uang hanya untuk pergi ke sini dan menengoknya. Bukan, bukan karena ekonomi keluarga Chanyeol sangat rendah, malahan mereka hidup lebih dari berkecukupan, namun Chanyeol tahu ia diajarkan untuk menghargai uang.

Yoona tidak bisa menolaknya, akhirnya ia menelepon ibu Chanyeol dan memberitahu bahwa anaknya sedang sakit tapi beliau tidak perlu repot-repot ke mari karena Yoona berjanji akan menjaganya.

Chanyeol tertidur setelah perawat yang datang mengecek memberinya obat tidur, ia meringkuk seolah memeluk guling. Yoona hanya memperhatikan infus yang mencolok berdiri di samping tempat tidur. Suasana di situ sepi, ia hanya bisa mencium wangi antiseptik dan pikirannya kosong. Kaca jendela kamar menunjukan mentari sedang bekerja, cuaca cerah namun tidak sama dengan dirinya.

Di situ, dari sorot pandangnya, Park Chanyeol tampak rapuh seperti seorang anak kecil. Sosoknya yang tinggi dan besar tidak terlihat sama sekali, yang ada justru terlihat terpenjara oleh side rails di sekelilingnya.

Yoona tersenyum pahit, tidak ada patah kata yang ia tukar bersama Chanyeol semenjak mereka sampai ke rumah sakit. Ia tidak lagi memikirkan tugas paper yang harus dikumpulnya hari ini, tidak lagi memikirkan komputer di apartemen yang masih menyala, bahkan lupa dirinya sendiri belum makan semenjak terakhir Chanyeol meneleponnya pagi-pagi buta.

Gadis itu menengok Chanyeol, memastikannya terlelap tanpa rasa sakit. Kemudian ia berencana pergi ke luar gedung membeli makanan cepat saji untuknya sendiri, rasa khawatir yang menggunung menyebabkannya tidak ingin meninggalkan Chanyeol lama-lama.

Ketika ia kembali mendekati gedung putih tersebut, iris pekatnya menangkap sepeda berikatkan balon berserta ajhussi penjualnya yang sedang berusaha menarik pelanggan. Tanpa diperintah, ia berjalan ke sana, membeli beberapa balon berkarakter lucu dan membawanya masuk ke rumah sakit.

Yoona mengikatkan balon-balon itu di dekat nakas meja. Kembali menduduki kursi yang tersedia untuknya. Menghela napas berat. Setidaknya balon adalah satu-satunya pencerah warna di dalam ruangan itu, atau Yoona akan mati karena rasa perih di hatinya yang tidak kunjung habis.

Ia tidak bisa merasakan seberapa Chanyeol sakit, namun rasanya ingin menangis terus-terusan melihat laki-laki yang biasanya hiperaktif, senang mengganggunya, berjalan ke sana dan kemari seperti setrika saat tidak punya kerjaan itu hanya terdiam memejamkan matanya tanpa bicara sama sekali.

Yoona, kau ada di mana?

Kau berani sekali membolos mata kuliah Kim sonsaengnim?

Apa kau sakit?

Lihat Chanyeol hari ini? Anak itu tidak muncul sejak kemarin

Yoona men-scroll layar handphonenya, membaca notif-notif dari temannya. Tidak memiliki keinginan sama sekali untuk membalasnya satu-persatu. Ia menggigit bibirnya, sama sekali tidak nyaman dengan perasaan ini, perasaan tertekan dan takut.

Menjelang malam, setelah dokter dan perawat membangunkan laki-laki itu untuk memeriksanya, Yoona hanya terdiam. Ia menempatkan jemarinya di genggaman Chanyeol. “Gwaenchanha?” pertanyaan itu yang terucap dari bibirnya setelah dokter dan perawat keluar kamar.

Chanyeol menganggukan kepalanya, seolah mengeluarkan suara saja membutuhkan tenaga yang besar baginya. Cukup lama, Chanyeol menyuruhnya untuk menonton teve karena laki-laki itu tidak ingin kekasihnya memperhatikannya terus-menerus dan menjadi lebih khawatir lagi. Karena itulah, Yoona tidak berani bertanya apa-apa maupun berkomentar lain. Ia hanya menatapi teve yang menyala dengan kosong,

Malam makin larut, lewat curian pandang kepada Chanyeol, Yoona akhirnya bisa menghela napas sedikit lega. Bibir Chanyeol tidak tampak sepucat tadi pagi, tawa lemahnya sekali terdengar karena acara variety show. Namun Yoona memilih pasif, hanya meneliti jarum infus di tangan Chanyeol sembari menggenggamnya.

Belakangan, laki-laki itu menggeser tubuhnya ke pinggiran ranjang, menepuk-nepuk sisi yang kosong bermaksud menyuruh Yoona mengambil sisi kecil itu. Kemudian, Chanyeol memeluknya, yang justru membuat Yoona sadar suhu badannya masih saja panas.

Chanyeol memejamkan matanya, merasa sedikit senang saat mencium wangi shampoo Yoona, rasanya dekat sekali dan aman. “Jangan khawatir lagi, aku tidak apa-apa.. and i promise, i’ll be okay.”

Oleh perkataan itu, tangis Yoona justru pecah dan meluber. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Ya, bahkan dokter sudah bilang Chanyeol akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, perasaan itu tidak hilang sama sekali, rasa takut kehilangan, rasa seolah Chanyeol adalah angin yang tidak dapat dipegannya dan cepat atau lambat akan pergi begitu saja.

Chanyeol mengusap kepala Yoona, cukup pelan sampai tangis itu memudar. “Waeyo?” Tanya Chanyeol begitu Yoona menunjukan wajahnya dan mata mereka bertemu dalam satu garis lurus.

Gadis itu menggelengkan kepalanya lantas mengusap jejak air mata di pipinya. Oleh tingkah itu, Chanyeol malah tersenyum penuh arti.

“Kamu mau tau apa yang paling cepat membuatku sembuh?”

Yoona hanya menatapnya, mencurigai sebuah gombalan lainnya yang berani-beraninya Chanyeol lemparkan pada keadaan seperti ini. Tapi tetap saja, ia menunggu jawaban dari pertanyaan itu.

“Kamu. Selama aku sakit, saat aku tau kamu ada di samping aku, khawatirin aku, jagain aku, nungguin aku. Itu lebih dari cukup buat pulih lagi..”

Mau tidak mau, kedua sudut di bibir Yoona tertarik membentuk lengkungan sempurna ke bawah. Rasanya hari ini berjalan begitu singkat setelah mendengar perkataan Chanyeol–mendengarnya bicara sepatah kata saja sudah membuat Yoona tenang–meski sedari tadi pagi waktu terasa bergerak begitu lama.

“Yang tadi itu aku benar-benar jujur, serius. Plus, balon-balon yang kamu pasang lucu-lucu.”

Yoona melotot padanya, ingin memberinya cubitan keras seperti biasa namun (bersyukurlah Chanyeol) diurungnya mengingat Chanyeol sedang sakit. “Mau gombalan yang lainnya supaya kamu tersenyun terus?”

Yoona melayangkan tawanya. Sial, justru dari semua rasa sedih yang tampak seperti jurang hitam di dalam hatinya hari ini, Chanyeol masih sukses menggelitiknya dan membuatnya melupakan apa itu rasa sakit.

 

–End here hihi.

.

*byeong won: hospital

Note: karena aku sedang sangat galau tapi tetep gabisa bikin fanfict yang jauh-jauh dari rasa manis, jadi begini deh. dan terima kasih untuk siapa pun yang udah baca tulisan ini sampai akhir (semoga kalian tersenyum).

 

12 thoughts on “Byeong Won

  1. Ooooalah byeong won it hospital or rumah skt tt. Q naru tau thor hehehehe maklum kpop baru pendatang hihihihi
    Trs endingnya chanyeol knp, skt apa, tmn tmnnya chanyoon tw gk klo mereka pacaran ayo thor sequelnya ditungguuu hehehe. Klo gk bisa y ditunggu ff lainnya aja. Fighting thorr…

  2. Ni author apa kabar coba? lama nggak baca ffnya.😄
    duh, jadi baper. pa lagi aku sakit panas, kenapa sehun gak jenguk sih? #plak *becanda

    romancenya dapet bnget eon. KEEP WRITING!!

  3. Mungkin Chanyeol sakit magh kali ya? *asal ngira 😆
    Soalnya sakitnya dia kek aku sepertinya. Sakit perut lemes sampe ngomong/gerakin badan susah.. yg paling parah tuh aku demam, tubuh bagian dalam kerasa panas banget tp luarnya dingin jd sampe menggigil kek kedinginan 😵😵😵
    Kan jd bablas kemana2😁😁

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s