BABYSITING (1)

BS 1 Cover

Tittle:                    Babysiting (Chapter 1-The Baby)
Author:                 NandaFM
Rate:                      Teen
Main Cast:            Yoona | Luhan | Sehun
Supporting Cast: Yuri | Jessica | Taeyeon | Tiffany | Sooyoung
Note:                      Untuk usia main cast dan supporting cast-nya di sini sesuai sama aslinya. Jadi untuk menyesuaikan, author bikin latar waktu per chapter bukan di tahun 2016.

BABYSITING (Chapter 1)
—The Baby—
(((2007)))
Menonton movie, dinner romantis, atau hanya sekedar berjalan-jalan menghabiskan waktu sepertinya adalah hal yang sangat pas untuk dilakukan di hari Sabtu malam. Tapi tidak dengan seorang Im Yoona. Gadis berkacamata itu lebih memilih menghabiskan waktunya dengan cara yang sedikit tidak biasa.

Ditemani segelas cokelat hangat dan suara radio yang sama sekali tidak jelas, gadis semampai itu terlihat fokus dengan novel yang ada di genggamannya. Mengabaikan ringikan sahabatnya yang saat itu tengah berkunjung ke apartemennya.

“Oh ayolah Yoong! Cepat tutup novelmu itu!! Tidak bosan, apa?” tanya Yuri kesal.

“Mm-hmm..” gumam Yoona tanpa mengalihkan pandangannya dari novelnya.

“’Mm-hmm’? Aku yang tidak membaca saja bosan setengah mati menunggumu membaca novel yang setebal kamus itu!”

“…”

“Dari tadi siang sampai sekarang sudah gelap Yoong!!!” ujar Yuri makin kesal ketika sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Yoona.

Rencana Yuri untuk menghabiskan waktu dengan Yoona di hari libur harus tertahan ketika ia mendapati kacamata yang tertengger di wajah Yoona saat gadis itu membukakan pintu. Menandakan bahwa ia tengah bergulat dengan tumpukan novel yang sama sekali tidak pernah Yuri pahami. Alhasil Yuri malah terlihat tergeletak begitu saja di atas tempat tidur Yoona berharap agar si gadis berkacamata itu cepat selesai.

“Yoong! Ini kan malam minggu, tidakkah kau ingin keluar? Lihat Yoong! Suasana di luar sangat romantis!” ujar Yuri antusias sambil berjalan ke arah jendela.

“’Suasana di luar sangat romantis!’” balas Yoona menirukan gaya bicara Yuri sambil menutup novelnya yang –akhirnya- sudah selesai.

What?” tanya Yuri kesal.

“Kau sudah tau romantis tapi malah merengek mengajakku keluar? Aku masih normal Yul.” Yoona mendengus ketika matanya menatap keluar jendela. “Lagipula saat ini sedang bersalju.”

“Gah!! Itu hanya salju tipis Yoong, bukan badai salju. Malah lebih romantis, kan?” jawab Yuri memutar bola matanya. “Oh, aku juga normal –enak saja, tapi aku tau kalau dirimu itu masih forever alone Yoong. Sebagai sahabat yang baik, aku tidak bisa membiarkanmu menjamur di apartemen seperti ini.”

“Padahal sendirinya juga masih solo.” Bisik Yoona kesal sambil memakai coat hitamnya dan berjalan ke arah pintu. “Ayo!”

Wait!!!!” pekik Yuri menahan tangan Yoona. “Kau yakin akan keluar seperti itu?”

“Memangnya ada apa?” tanya Yoona bingung. Menurutnya rambut yang ia ikat asal, wajah yang sama sekali tidak berpoleskan make-up dan mantel yang lusuh sama sekali tidak ada masalah. Lagipula, hanya menemani Yuri jalan-jalan saja, pikirnya.

Tanpa memberi jawaban, Yuri segera menarik tangan Yoona menuju meja rias. Dan mendudukkannya dengan kasar ketika Yoona hanya membulatkan matanya tidak mengerti maksud dari sahabatnya itu.

“Ada apa sih?” tanya Yoona jengkel ketika Yuri mulai mengganti coat Yoona dengan yang lebih baik dan mulai merapikan tampilannya.

“Aku tidak bisa membiarkanmu keluar dengan tampilan seperti ini, Yoong.” Jawab Yuri tegas.

“Grhh! Kita hanya jalan-jalan Yul. Ber.du.a” ucap Yoona penuh penekanan.

“Ya! Siapa yang tau kalau nanti kita bertemu dengan someone.”

Okay. Mungkin nanti kita akan bertemu dengan dua orang hot guy yang sama-sama berjalan-jalan seperti kita. Berharap saja kalau mereka bukan pasangan gay.” Jawab Yoona sarkastis.

“Mungkin Luhan juga berpikiran untuk keluar malam ini.” Balas Yuri mengabaikan perkataan Yoona barusan.

Yoona hanya memutar bola matanya kesal, meskipun selanjutnya ia lebih menurut dengan perkataan sahabatnya itu.

***

Ya!!!” teriakan Jessica yang begitu memekikkan telinga dapat terdengar hingga ke kelas-kelas yang ada di sampingnya.

Seolah tidak menghiraukan teriakan gadis itu, sekumpulan anak lelaki –yang memang tidak bisa diam, malah semakin gancar melempar bola-bola kertas ke arahnya.

Kelas X.1 tanpa ada guru yang mengajar bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Sama sekali tidak bisa diatur. Tidak heran apabila tidak ada satu gurupun yang dengan sukarela menegur para pernghuni di kelas itu. Mereka sudah pernah mencobanya dan tidak ingin merasakannya lagi.

“Dasar gadis manja. Dilempar kertas begitu saja teriakannya sudah seperti sedang kemalingan.” Dengus Yuri pelan yang kemudian dibalas anggukan dari beberapa teman sekelasnya yang selalu mengelilingi meja Yuri –dan Yoona- pada saat jam seperti ini. Kedatangan guru yang telat adalah waktu yang tepat bagi para sekumpulan gadis itu untuk bergosip tanpa perlu meninggalkan kelas.

“Iya! Dia sangat manja. Dia kira dia siapa bisa enaknya berteriak seperti itu. Aku sangat sebal padanya.” Balas Taeyeon bersemangat.

“Eiii. Kau bilang ‘sebal’ begitu juga kalau ada di depannya kau berlagak seperti anjing yang melihat majikannya.” Timpal Yoona tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang baru ia baca beberapa halaman. “Kalau kau mau ‘sebal’ begitu sebaiknya berlagaklah seperti Yuri yang didepannya tidak terlihat pura-pura manis.”

Taeyeon yang mendengarnya hanya bisa diam dengan wajah yang memerah. Antara kesal dan malu diberitahu seperti itu.

“Lalu kau sendiri bagaimana?” tanya Tiffany menyahuti.

“Apanya?” Yuri balas bertanya melihat Yoona yang terlihat mengabaikan pertanyaan Tiffany.

Ya! Im Yoona! Kau sendiri membencinya atau tidak?” kali ini Tiffany bertanya sambil menutup novel milik Yoona.

Kesal dengan tindakan Tiffany, Yoona malah mengalihkan pandangannya ke arah lain menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak memiliki niatan untuk meladeni apalagi menjawab pertanyaan yang ia anggap konyol itu.

“Membencinya atau tidak, aku rasa ia tidak perlu memberitahunya ke kalian semua kan?” lagi-lagi Yuri membalas pertanyaan Tiffany karena Yoona yang kali ini terlihat begitu mematung.

Yuri yang melihat gelagat aneh sahabatnya segera saja mengikuti arah pandangannya yang tertuju ke seberang kelas. Ia mendapati Jessica yang kini sedang memberikan bekal makanan sambil tersenyum malu-malu kepada teman sekelasnya yang sangat populer. Luhan. Seketika ia mengerti kenapa Yoona terlihat seolah kehilangan nafasnya dan badannya yang begitu kaku. Dengan perlahan ia menendang kaki Yoona yang ada di bawah meja.

“Selagi tidak ada alasan yang tepat untuk membencinya.” Jawab Yoona dengan nada yang dingin membuat teman-teman yang mengelilinginya bingung.

“Ada apa dengannya?” bisik Sooyoung yang masih terdengar jelas.

“Aishh!! Sudah sana kembali ke bangku kalian!” ujar Yoona sambil matanya sekali lagi mencuri pandang ke seberang kelas.

***

“Waa!!!! Congrats Yoong! Akhirnya mimpimu terwujud juga hihihi.” Teriak Yuri antusias saat ia dan Yoona tengah membereskan barang-barangnya bersiap pulang.

Yoona hanya memutar bola matanya, mengabaikan teriakan gadis di sampingnya yang terlalu heboh menurutnya. Meskipun senyum kecil yang nampak tak bisa ia tahan.

“Setelah sekian lama…….” Yuri membiarkan kalimatnya menggantung sambil memeluk erat Yoona.

Yoona membalas pelukan itu tak kalah eratnya sambil tersenyum makin lebar. Tidak ada gunanya ia menahan diri di hadapan sahabatnya yang sudah tahu semua rahasianya. Oh, ia rasa bahkan saat ini ia ingin memeluk guru matematikanya –Kim Saem– yang menjadikan dirinya dan Luhan menjadi satu kelompok untuk salah satu tugasnya.

Very happy, huh?” goda Yuri tanpa melepas pelukannya.

Of cour-“ jawaban Yoona terpotong seketika saat mendengar suara deheman di sampingnya.

Yoona yang melihat Luhan berada begitu dekat dengannya segera menjauhkan diri dari pelukan Yuri. Ia tak ingin menyebabkan pemikiran salah paham pada seseorang yang disukainya. Bagaimana kalau sampai Luhan berpikir aku dan Yuri… batin Yoona menyebabkan wajahnya memerah.

Ya. Im Yoona memang menyukai Luhan. Sejak pandangan pertama.

“Maaf, apa aku mengganggu? Aku bisa nanti saja kalau kalian masih ingin melanjutkan urusan kalian.” Ucap Luhan tersenyum memahami.

“Tidak.” Jawaban Yoona yang terlalu cepat membuat Yuri tidak bisa menahan tawanya. Membuat Yoona segera menoleh padanya sambil memberikan pandangan yang tajam.

“Pfft. Okay. Sorry. Aku tunggu di gerbang ya, Yoong!!” pamit Yuri keluar kelas masih sambil terkikih. Yoona hanya bisa merutuki sahabatnya itu dalam hati dengan ruam merah di wajahnya yang semakin kentara.

“Ada apa, Luhan-ah?” tanya Yoona mengembalikan fokusnya pada Luhan yang kini terlihat menawan tawanya. Dia tidak menertawaiku, kan? batin Yoona khawatir.

“Ahh, ini soal tugas kelompok dari Kim Saem tadi.”

Yoona hanya mengangguk.

“Kau tahu kan kalau ada perlombaan klub sepakbola antar sekolah minggu depan, jadi kemungkinan waktuku akan banyak tersita untuk latihan.” Luhan melanjutkan ketika Yoona hanya diam sambil mengangguk beberapa kali.

“Kira-kira kau bisa tidak kalau hari ini saja kita mengerjakannya?”

“Boleh.” Jawab Yoona, “tapi, dimana?”

“Di tempatmu saja, di rumahku banyak gangguannya.” Luhan menjawab sambil menggaruk belakang kepalanya (yang sangat imut menurut Yoona). “Just text me di mana lokasinya, okay?”

Yoona lagi-lagi mengangguk.

“Baiklah, kalau begitu aku duluan ya!” pamit Luhan.

***

Luhan-ah, maaf sekali hari ini aku tidak bisa mengerjakan tugas kelompok matematika. Aku sedang ada urusan mendadak.

“Ugh!!! Sial! Sial! Sial!!!” Yoona hanya bisa mengumpat kesal sambil tangannya sibuk mengetik pesan di handphone-nya. Dan kemudian ia membanting badannya ke kasur. Baru tadi siang ia merasa ingin sekali memeluk Kim Saem, sekarang ia malah ingin menggoyang-goyangkan badan bulat guru itu karena harus menyuruhnya untuk menjadi pengasuh bagi anak-anaknya.

Ya! Im-Yoon Ah! Harusnya yang kesal itu aku. Aku datang jauh-jauh ke sini membantumu berdandan sekarang harus sia-sia!” balas Yuri tak kalah kesal ketika melihat Yoona mulai bangkit. “Luhan masih bisa menunggu besok.”

Yoona hanya mendengus sambil mengganti pakaiannya dan menghapus make-up nya. Kalau menjaga anak-anak pasti nanti juga kotor, kan? pikirnya.

“Sudahlah, ayo cepat! Mumpung aku bawa mobil.” Ajak Yuri yang sudah mendahuluinya.

***

“Aku duluan ya! Fighting!” ujar Yuri sambil mengepalkan tangannya memberi semangat.

Masih dengan wajah yang ditekuk, Yoona hanya membalas dengan lambaian tangan yang lemas sebelum dirinya menghadap ke sebuah pagar mewah yang ada di hadapannya. Fighting, Im Yoona! batinnya sambil menekan bel yang ada.

“Siapa?”

Dasar anak manja tidak tau sopan santun, pikir Yoona ketika ia mendapati seorang bocah laki-laki yang menyahutinya dengan wajah sok. “Hai! Aku Im Yoona! Aku barusan mendapat telepon dari Kim Seung Cheul Seonsaengnim, dan aku adalah penga–“

“Ckckck. Maaf Nona, tapi aku rasa dirimu itu terlalu muda untuk Ayahku. Cari saja sana laki-laki yang seumuranmu.” Potong bocah itu dengan matanya yang menilai penampilan Yoona.

“Hah? Apa barusan maksudmu aku ini adalah..kekasih…Ayahmu?”

Tanpa bermaksud menjawab pertanyaan Yoona barusan, bocah berkulit pucat itu malah menutup pagar, yang berhasil ditahan oleh Yoona dengan setengah badannya. Dasar bocah sialan, batin Yoona.

“Hei bocah! Tunggu dulu. Kau belum mendengar semua ucapanku tapi sudah berspekulasi yang macam-macam. Dengar ya, aku datang ke sini untuk –“ lagi-lagi ucapan Yoona harus berhenti di tengah jalan. Bukan karena interupsi dari bocah di depannya yang menatapnya seolah ia telah kehilangan akalnya. Melainkan karena suara yang begitu familiar di telinganya.

Ya! Kim Sehun! Siapa yang datang? Kenapa lama sekali buka pintunya?” terdengar suara dari arah dalam rumah.

“Luhan?” bisik Yoona perlahan ketika matanya menangkap sosok Luhan mendekat.

“Ini, ada pacar Abeoji datang. Urus dia ya hyung, aku lelah baru pulang sekolah.” Sehun menjawab dengan santai meninggalkan dua orang yang kini saling berhadapan dengan perasaan terkejut yang tergambar di wajah mereka.
to be continued
Hai hai!! Gimana nih ceritanya? Karena ini pengalaman pertamaku bikin FF Chapter, jadi maafkan kalau masih abal-abal dan kurang menggiurkan (?)
Untuk chapter selanjutnya aku liat dulu dari tanggapan kalian. Kalo positif dilanjut kok, cuman kalo negatif dengan berat hati harus distop buat bikin FF yang lain:)

Kritik dan Saran ditunggu, guys!

39 thoughts on “BABYSITING (1)

  1. wuuuuuuww penasaran thorrr 😂
    dipanjangin lagi ya thor hehe, aku malah nnti ngiranya yoona berakhir sm sehun wkwk. kan lucu 😅

  2. Jd ini sehun n luhan saudara, trs kim ssaem it appanya mrk, trs sehun msh kecil dan y msh bocah. Msh agak bingung sih thorr jd ditunggu kelanjutannya, FIGHTING!!!!

  3. disni yoona jdi apa..ko bisa dirmhnya luhan?disni luhan ma sehun bersaudara ya,penasaran thor.sebenernya apa yg dilakukn yoona ko bisa kerumh luhan.lanjut thor..semangattt

  4. Oh, jdi Yoong ska sma Luhan
    Knapa Sehun asal nyebut klau Yoong kkasih ayahnya d dpan Luhan??
    Aihh..
    Dtunggu aja klnjutannya!!
    FIGHTING!!!

  5. Ciieee, Yoona satu kelompok sama Luhan. Tuh kenapa bisa Sehun bilang kalo Yoona pacar ayahnya? Wae? Itu tuh Luhan ama Sehun kakak adik ya?
    Jadi penasaran nih. Next chap ditunggu ya thor🙂

  6. Ciee yoona udah lama suka lulu dan akhirnya satu kelompok. Sehun masih bocah yah? Duh gereget amat tingkahnya, penasaran kenapa ada lulu disitu ditunggu kelanjutannya yah🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s