No Limits – 1

1211

by Pimthact

Yoona 

Lelaki hitam itu tergelak. Pandangan nya teralih pada gadis yang berlari sambil membawa bekal makanan. Mungkin tak sampai dua menit, gadis itu akan sampai pada tujuannya. Tanpa perlu menebak, lelaki hitam itu tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tak hanya lelaki hitam itu saja, para siswa dan siswi yang berada di kantin itu juga sudah bisa menebak rega adegan apa yang terjadi. Sebgaian siswi sudah berbisik ketika gadis itu menyerahkan sebuah bekal makanan pada lelaki jangkung yang baru saja membeli air mineral.

Tak perlu dua detik, gadis itu ditolak. Namun, gadis itu sama sekali tak menyerah. Gadis tersebut ikut duduk bersama lelaki yang menolak bekal-nya di sudut kantin. Tempat dimana lelaki hitam itu duduk juga.

“Selamat siang, sunbae.” sapa gadis itu cerah. Namun diantara beberapa laki-laki yang duduk di meja itu, hanya lelaki hitam yang membalas sapaan gadis itu dengan melambaikan tangan nya sambil memberi seringai. sedangkan yang lain tak perlu repot-repot membalas sapaan gadis itu karena mereka lebih memilih sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

“Apa yang kau bawa untuk Chanyeol kali ini?” Tanya lelaki hitam itu. Chanyeol berdesis dan menatap tajam lelaki hitam itu.

Pertanyaan yang dilayangkan lelaki hitam tersebut hanya akan memperpanjang keberadaan gadis itu dan menyulitkan Chanyeol. Sedangkan lelaki hitam itu tertawa begitu melihat ekspresi Chanyeol. Seringainya bertambah lebar karena berhasil membuat Chanyeol menatap tajam padanya.

“Aku membawakan kimbap dan juga kimchi, buatan ku sendiri loh, sunbae” sahut gadis itu sembari menepuk tempat makan yang ia bawa. si Lelaki hitam-Kai menjadi penasaran bagaimana rasanya. Dia kemudian mengkode Chanyeol untuk menerima tempat makan itu, tapi sayang. Chanyeol sama sekali tak menatapnya. Lelaki itu sudah sibuk dengan ponselnya.

“Yoona! cepat kembali ke kelas, guru Jung sudah berada dalam perjalanan menuju kelasmu!” gadis itu menoleh. Kemudian ia mengangguk cepat dan menaruh tempat makan nya pada meja. “Dimakan ya, sunbae. Jangan lupa dihabiskan,” setelah itu, Yoona berlalu pergi.

“Menyebalkan sekali gadis itu.” ketus Chanyeol sambil memperhatikan tempat makan itu tanpa ada rasa minat sekalipun. Lambung nya sudah terasa begitu kenyang bahkan ingin mual rasanya mengingat kata-kata sok manis yang gadis itu ucapkan. “Membuat malu saja.”

“Berikan aku saja, setidaknya ini gratis.” ucap Kai menyahut Chanyeol dan merampas tempat makan itu. Saat kai membuka tempat makan itu, bau harum menyeruak dan mengalihkan perhatian lelaki pucat yang berada di sebelah Kai, Sehun. Sehun langsung mengambil sumpit yang berada di meja itu dan mengambil satu buah kimbap tanpa memperdulikan protes dari Kai.

“Cukup enak, seperti biasa.” guman Sehun kemudian mengambil dua buah kimbap dan satu kimchi. Lelaki itu pun  kemudian melanjutkan game yang tadi sempat terhenti. Sedangkan Kai terhenyak, “Seperti biasa?” tanyanya.

“Di kelas, dia sering mendapat nilai tertinggi untuk praktek masak.” Jelas Sehun tanpa mengalihkan padangan nya dari ponsel Kai hanya mengedikan bahu tak peduli dan melanjutkan menghabiskan makanan Yoona. Sedangkan Chanyeol yang memang tak peduli sedari tadi sekarang malah digoda oleh Suho yang sedari tadi tak mengikuti perbincangan, karena Chanyeol kemarin sempat diberi surat cinta oleh Yoona.

Chanyeol, Suho, Sehun, dan Kai adalah cowok-cowok yang termasuk populer di Kangnam Junior High School. Tak hanya mereka, banyak juga lelaki muda lain yang sama populer seperti mereka. Tau kan, selera para gadis berbeda-beda dan kadang berubah-ubah. Namun hanya Sehun yang berada satu kelas dibawah mereka, itu bukan karena apa-apa, karena memang Sehun lebih muda dari mereka satu tahun. Jadi saat Chanyeol, Suho dan Kai berada dalam satu kelas, Sehun harus menerima kesialan nya dengan satu kelas bersama Yoona.

 

Yoona dengan serius memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru Jung. Guru Jung itu adalah guru yang paling disiplin, misterius, dingin dan tak berbelit. Dan Yoona termasuk murid yang sedikitnya disanjung guru Jung karena Yoona akhir-akhir ini mendapatkan nilai tertinggi pada ujian pelajaran guru Jung. Bukan sebuah kebetulan, karena Yoona memang selalu berusaha mendapatkan peringkat tertinggi di kelas walau sampai sekarang belum tercapai.

“Kalian harus mengerjakan tugas untuk liburan musim semi, dan ini berkelompok,” jeda guru Jung. Setelah membacakan semua kelompok yang dibagikan oleh guru Jung secara sepihak, ternyata Yoona satu kelompok dengan Sehun. Yoona berteriak dalam hati, ini adalah peluang nya untuk lebih dekat lagi dengan Chanyeol.

Sehun memutar bola matanya malas. Berusaha tak peduli dengan keadaan, pure hazel itu memilh untuk melihat lapangan luas yang tertera di jendela. Kehidupannya tak akan berjalan mulus apabila gadis yang super hyperactive ini turut masuk kedalam hidupnya.

 

..

“Billiard?” tawar Kai sambil menyeringai.

“Not bad, lagipula aku sangat bosan.” timpal Suho sembari melonggarkan dasinya. Disaat-saat seperti itu, pastinya hampir setiap gadis yang lewat akan berdecak kagum.

“Aku tak akan menolak ajakan-”

“SEHUN!”

Sehun menutup matanya. Dia menarik nafasnya. Tanpa perlu berbalik badan, ia sudah tau siapa yang berteriak seperti itu.

Gadis itu, akan menghancurkan planning nya. Dan Sehun tak akan membiarkan itu.

“Apa yang kau lakukan disini, Yoona?” tanya Kai. Yoona tersenyum senang sembari memamerkan deretan giginya. Untuk saat ini, Yoona lebih mirip anak kecil yang memegang ranselnya dibanding dengan remaja yang dapat melihat lelaki yang disukainya lebih dekat.

“Aku mau mengajak Sehun untuk belajar kelompok,” jawab Yoona. Kai dan Suho langsung terkekeh begitu melihat wajah Sehun yang memelas. Sedangkan Chanyeol bisa menghembuskan nafasnya lega karena gadis ini tidak terlalu antus—

“Dan tentu saja untuk melihat Chanyeol-ku,” 

Suho tersedak. Kai tertawa. Chanyeol mendesah kasar. Lelaki itu menatap tajam Yoona kemudian berdecih, “Sudahlah, berhenti mengejar. Tak ada gunanya,”

Yoona tersenyum, dia tak memperdulikan cemooh dari Chanyeol. Baginya, lelaki itu bagaimana pun keadaan atau sifatnya, Yoona tetap menyukainya. “Aku sudah berjalan sejauh ini, lagipula aku susah lho sunbae untuk suka pada orang, maka dari itu aku tak akan menyerah.”

“Hentikan drama ini,” sahut Sehun “Dan aku tak ada waktu untuk belajar kelompok. Kau saja yang mengerjakan nanti akan ku print.”

Yoona mendengus. Ia menyipitkan matanya. “Yasudah, terserah jika tak mau, tak apa” Yoona berbalik untuk pergi, “Tapi jangan salahkan jika aku tak menulis namamu dalam tugas kali ini.” Sehun mendesah kemudian memegang lengan Yoona.

Yoona tersenyum. Ia berhasil.

“Kau menang Im Yoona, tapi jangan harap aku akan ikut belajar kelompok selanjutnya.” desis Sehun yang hanya dibalas cemooh oleh Yoona. Sehun kemudian berjalan mendauhului Yoona. Lelaki itu bersumpah akan mengutuk gadis itu habis-habisan. Ia tak mau kejadian seperti semester lalu saat Hansol tidak menulis namanya saat presentasi karena Sehun tak mengikuti kegiatan belajar kelompok, dan ia mendapat hukuman habis-habisan oleh guru Jung yang membuatnya dipermalukan oleh satu sekolah. Ia tak mau hal itu terjadi lagi.

“Dah, sunbae.” Yoona melambaikan tangan nya ke arah Chanyeol sambil tersenyum cerah. Kemudian gadis itu berlari mengejar Sehun.

…..

Sehun cukup terkejut. Ia tak menyangka bahwa Yoona hidup diantara bangunan se-besar dan semewah ini. Sekolah mereka masuk kategori yang siswanya memiliki keuangan diatas rata-rata, tapi dilihat dari penampilan, Yoona tak menampilkan latar belakang keluarganya. Gadis itu hanya memakai seragam dan jam tangan hitam sebagai tambahan. Tidak make-up dalam bentuk apapun.

Cukup melihat Lamborghini dan Buggati Veyron, Sehun menganga. Buggati Veyron dengan warna metalic sudah cukup susah ditemui apalagi harga nya yang sangat fantastis. Keluarga Yoona mungkin pemilik showroom atau mungkin penjual mobil sejenisnya. Sehun tak mau tau lebih banyak lagi.

Yoona membawanya masuk kedalam rumah. Interior di dalam rumah Yoona terlihat mahal namun tak terlalu berlebihan. Lantai yang Yoona pakai yaitu kayu halus, dan rata-rata barang-barang disitu berwarna putih atau hitam-juga abu-abu. Kayu untuk lantai pun berwarna coklat gelap. Cukup kontras dengan barang-barang disini. Juga senada.

Akhirnya Yoona membawa Sehun ke halaman belakang. Disana terdapat satu gazebo besar yang memang didesain untuk tempat berkumpul. Selain itu terdapat kolam renang yang terbentang luas dengan beberapa kursi malas yang tertata rapi di pinggir kolam renang. Tak jauh dari situ, ada sebuah ruangan yang terbuat dari kaca. Di ruangan itu terdapat beberapa alat gym. 

 Pantas saja gadis itu memiliki badan yang ideal, pikir Sehun.

Mereka duduk di gazebo. Yoona menyuruh Sehun untuk menunggu, karena Yoona akan mengambil bahan tugas dan juga macbook nya.

Sehun menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Ini adalah musim semi yang cukup bagus. Suhu nya standar dan nyaman. Sehun sudah menebak bahwa dihalaman belakang rumah Yoona tak ada satu pun pohon, hanya ada tempat-tempat bunga hias didekat kolam renang. Hal itu pasti untuk mengantisipasi musim semi seperti sekarang agar gugurnya bunga-bunga tidak membuat kotor kolam renang.

Tanpa Sehun sadar, Yoona sudah duduk dihadapan nya. Sehun masih sibuk melamunkan segala sisi dari rumah Yoona. Sedangkan gadis itu mengerang karena Sehun tak menjawab pertanyaan nya. Akhirnya, Yoona tak punya cara lain. Gadis itu memberikan pukulan ringan pada bahu Sehun.

Sehun mengerang, lalu lelaki itu menatap Yoona tajam. Yoona mendelik, “Orange Juice atau Lemon tea?” 

“Lemon tea.” sahut Sehun. Yoona kemudian mengangguk dan meneriakan permintaan Sehun. Entah karena Yoona tak ingin repot-repot masuk lagi kedalam rumahnya hanya untuk memberikan minuman untuk Sehun.

“Jadi Sehun,” Yoona menyalakan macbook “Aku akan membuat rangkuman tentang materi pertama, dan tugasmu untuk merangkum materi kedua dan ketiga. Nanti akan kuketik dan aku yang membuat pertanyaan-nya, jelas?”

“Kenapa harus aku yang merangkum dua materi?” tanya Sehun.

“Mau dapat nilai atau tidak?” tandas Yoona.

Sehun bungkam. Ternyata dibalik sisinya yang sok imut dihadapan Chanyeol, gadis itu memiliki sisi mengerikan sekaligus menyebalkan. Ternyata wajahnya menipu daya-kan orang-orang.

Sehun mendelik. Dia menatap dingin Yoona sebisa mungkin. Tapi bukan Yoona jika ia peduli terhadap tatapan seperti itu apalagi tatapan dari Sehun.

Sehun dan Yoona fokus pada kegiatan masing-masing. Sebenarnya hanya Yoona-sih. Sehun hanya membolak-balik halaman per-halaman dengan memainkan stabilo malang yang menjadi korban kekesalan nya. Dia berdecak.

“Aku menyerah,” keluh Sehun.

Yoona hanya terdiam. Gadis itu tak mengadah perkataan Sehun. Tangan nya masih sibuk mengetik kata demi kata yang membuat dirinya sendiri pusing. Tapi tangan nya tak henti-hentinya mengetik, bahkan matanya tak berpaling dari buku tebal yang berisi rangkuman.

Tapi kemudian, tangan Yoona berhenti. Tatapan nya mengarah kedepan. Tampak menerawang.

“Sehun, sekarang hari apa?”

“Kamis.”

“Bukan kah hari ini Chanyeol latihan basket?”

“iya.”

“SIAL!”

Yoona menepuk jidatnya. Kemudian ia mengumpat beberapa kali setelah mengingat satu hal.

“Kenapa kau tidak mengingatkan ku jika hari ini Chanyeol latihan basket?” seru Yoona. Sehun hanya menatapnya sengit.

“Kau tidak menyuruh,” sahut Sehun tak acuh. Sehun kembali fokus pada buku pelajaran. Jangan terlalu menganggap ini berlebihan, ia hanya tak ingin Yoona tak menulis namanya dalam tugas yang diberikan guru Jung.

Namun sementara itu, Yoona menyesal karena sudah membuang waktu nya yang berharga dengan lelaki berkulit porselen dibanding dengan melihat bagaimana sexy-nya Chanyeol bermain basket. Yoona masih mengetuk kepalanya. Rasa sesal itu masih berbenak dalam batin dan tak mau pergi. Ia harus mencari cara agar rasa sesal itu hilang.

“Sehun,” Sehun mengadah “Hadiah apa yang kira-kira cocok untuk Chanyeol?” tanya Yoona.

Alis Sehun naik, “Ulang tahun nya masih lama.”

Yoona berdecak kemudian memukul lengan Sehun, “Bukan itu! ini untuk permohonan maaf karena tidak bisa menemaninya bermain basket.”

Mata Sehun menyipit, “Nobody cares,”

Ucapan Sehun begitu dingin. Terasa menusuk, tapi tak dapat menghilangkan rasa suka dari hati Yoona. Yoona tau bahwa Chanyeol tak peduli dan mungkin tak menganggapnya, tapi Yoona masih memiliki kesempatan karena akhir-akhir ini Chanyeol terkadang menerima sesuatu darinya. Dan Yoona tak akan mundur lagi.

“Kaus? Jam tangan? Sepatu?” Yoona menimang-nimang tanpa mengadah ucapan Sehun. Sehun sendiri sudah menggeleng dan tak peduli pada gadis itu. Toh, ia tau Chanyeol akan menolak Yoona mentah-mentah, walau gadis itu memaksa Chanyeol sekalipun.

Tapi Sehun bingung, bagaimana bisa gadis cantik seperti Yoona bisa mengejar Chanyeol. Yeah, as everybody know it Yoona termasuk gadis pintar, cantik, dan pandai dalam berbagai bidang. Yoona hampir saja mendekati kata perfect, tapi sayang nya image nya harus hancur karena ia terlihat seperti gadis tak tau diri yang terlalu blak-blakan mengejar Chanyeol. Dan Chanyeol juga menolak Yoona dengan terang-terangan. Kadang, Sehun tak habis pikir, Chanyeol adalah lelaki yang super perhatian pada setiap gadis dan Chanyeol suka gonta-ganti pacar dengan asal walau tidak separah Kai. Tapi kan dengan menerima Yoona-yang entah sudah berapa kali menyatakan cinta pada Chanyeol-juga tidak akan membuat image Chanyeol jatuh. Malah kemungkinan, mereka akan terbilang pasangan yang sempurna. Chanyeol juga tak mungkin menceritakan hal seputar gadis padanya, Kai ataupun Suho. Paling tidak Chanyeol dan Kai hanya berpendapat atau bertukar pandang pada gadis-gadis baru mereka. Dan itu akan membuat mereka berdua terlihat seperti lelaki konyol yang tak ada topik lain untuk dibicarakan.

Tapi, Sehun terlihat lebih konyol ketika memikirkan hal yang tak begitu penting ini. Dia bodoh. Sama bodohnya dengan Chanyeol dan Kai.

Sehun tak peduli lagi. Ia mengacuhkan Yoona yang masih sibuk menentukan apa yang harus gadis itu beri pada Chanyeol. Sehun harus cepat-cepat menyelesaikan tugas ini dan langsung pulang kerumah. Ia lelah berpikir lagi, dan ia lelah harus bersama gadis yang tak jelas seperti ini.

Akhirnya, Sehun selesai dengan tugasnya. Ia menghela nafas panjang dan membuang stabilo dengan asal. Lalu ia melihat Yoona. Gadis itu ternyata tertidur dengan kepala yang menyender pada kursi. Pantas saja gadis itu tidak membuat perbincangan yang tak berbobot atau melakukan hal-hal aneh lagi.

Wajahnya terlihat tenang. Dan entah kenapa wajah itu terlihat lebih cantik di mata Sehun. Lebih terlihat anggun dan kalem, berbanding balik jika ia sudah membuka matanya. Tidak terkendali. Sehun kemudian mengambil post-it yang ada pada kotak pensil Yoona dan menuliskan pesan singkat dan langsung ia tempelkan pada jidat Yoona.

Sehun segera bergegas dan pergi untuk pulang kerumah.

 

To Be Continued

A/N: Hai! aku kembali setelah sekian lama hiatus dan menghilang dari peradaban ;_; buat para readers, admin dan author sekalian aku memohon maaf lahir dan batin meskipun ini sangat telat (Serius bahasanya gak bener banget-__-) dan mungkin di bulan ini sampai bulan agustus aku bakal sering ngepost fiction karena untuk bulan selanjutnya aku udah fokus buat sekolah karena bakal ngadepin ujian nasional taun depan ;_; (curhatan hati kaka) Jadi hope ya like it aja ya, maaf ada typo ato segala macem yang gak disuka, kalo gasuka disukain aja biar suka karena author sudah lelah dengan microsoft yang php.

Regard, Pimthact.

26 thoughts on “No Limits – 1

  1. Yoona pantang menyerah bgt ya orangnya
    Hahahaha
    Bagus thor ffnya
    Yoona sama sehun aja
    Kayaknya bakalan suka tuh sehun sama yoona wkwk
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor

  2. yoona knpa bisa suka bgt sma chanyeol??
    chanyeolnya aja cuek bgt gtu
    mendingan yoona sma sehun aja
    sehun yg g pernah trtarik sdikitpun dg yoona tiba2 jdi suka yoona gra2 sering bljar klompok
    atau kai juga g papa
    buat kai tobat aja..

  3. Yoona segitunya suka ama Chanyeol. Udah Yoong, Chanyeolnya gak suka tuh mending ama Sehun ajah😀 Aku suka ceritanya. Next chap d.tnggu! Update soon, thor. Fighting! Fighting!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s