redo-irresistible-2

Irresistible (Chapt. VI)

I R R E S I S T I B L E

by
Clora Darlene

Main Casts
Im YoonA | Oh Sehun

Supporting Casts
You’ll find out while you reading this.

Length | Rating | Genre
Chaptered | PG-13 | Romance, Marriage Life

I | II | III | IV | V ]

poster by; Aeyoungiedo @ Poster Designer

Sehun masih membeku di tempatnya. Rasanya seperti ada tombak yang baru saja membelah badannya menjadi dua.

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

Ucapan Yoona masih terngiang-ngiang keras di kepalanya dan itu membuat seluruh inderanya terasa mati total. Ia tidak dapat mendengar apapun di sekitarnya. Matanya menatap kosong entah kemana. Tangan dan kakinya tidak bisa bereaksi seperti apa yang otaknya perintahkan—pergi, Sehun.

Oh Sehun terasa mati tepat sedetik setelah Yoona mengatakan segalanya.

“Sehun—”

Sehun langsung mengangkat tangannya. Memberi tanda kepada Kai lebih baik untuk menutup mulutnya kali ini. “Jangan ganggu aku.” Perintah Sehun dingin lalu berbalik dan menuju garasi. Dengan sekali hentakan keras, pintu mobilnya terbuka dan ia masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas.

Badannya masih menegang di balik seat belt yang ia kenakan. Buku tangannya memutih menggenggam stir mobil dan kakinya menginjak pedal gas begitu dalam. Mobilnya melesat cepat di jalan lebar Kota Seoul. Ia tidak punya tujuan, tapi satu hal yang ia ketahui bahwa ia harus pergi.

Sehun tersadar bahwa ia berkendara menuju sebuah club malam yang terletak tidak jauh dari kantornya. Mungkin, ia butuh sedikit penenang. Ya, mungkin itu yang ia butuhkan.

Tapi, iris pure hazel menangkap sebuah mobil terparkir di depan gedung perusahaannya. Ia mendelik dan mobil tersebut berhasil membuat Sehun memutar stir-nya tiga ratus enam puluh derajat. Perlahan, bayangan Yoona—untuk sejenak—menghilang. Mobil hitam tersebut menarik perhatiannya. Ia segera keluar dari mobil dan seorang security shift malam memberikan salam hormatnya kepada Sehun. Laki-laki itu hanya mengangguk singkat lalu segera masuk ke dalam elevator.

Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Tangannya masih menggenggam, mencoba meredam detak jantungnya yang berdetak luar biasa di luar kendalinya.

Ting!

Dengan satu langkah besar, Sehun keluar dari elevator dan menuju ruang kerjanya.

Koridor tampak gelap, begitu juga dengan ruangan lainnya dengan pintu tertutup dan terkunci rapat. Tetapi, alisnya menukik tajam hampir bertautan saat menemukan pintu ruang kerjanya terbuka. Langkahnya memelan, hampir tanpa suara.

Appa?” Sehun mendorong pintu ruang kerjanya dan menemukan ayahnya itu tengah memegang lukisan yang tergantung di salah satu dinding ruang kerjanya. “Apa yang appa lakukan di sini?”

Ayahnya menoleh dan tampak terkejut. “Ini perusahaan appa. Appa bisa datang kapan saja.”

Sehun mendecak pelan lalu menyalakan lampu. “Appa sudah memberikan perusahaan ini kepadaku. Itu berarti ini adalah perusahaanku, sudah bukan perusahaan appa lagi.”

“Ada apa kau ke sini?” Tanya ayahnya memutar balik pertanyaan Sehun.

“Hanya lewat, dan aku melihat mobil appa.” Jawab Sehun ringan lalu duduk di balik mejanya.

“Dimana Yoona?”

“Di rumah,” Jawab Sehun cepat. Sehun menghindari kontak mata dengan ayahnya saat ia menjawab keberadaan Yoona. “Apa yang membawa appa kemari?”

Ayahnya lalu mengeluarkan sebuah patung kecil dari saku mantelnya dan memperlihatkannya kepada Sehun. Ah, Sehun tahu itu. Itu salah satu hiasan pada meja kerjanya dan kini ayahnya mengambilnya tanpa seizinnya. “Mengambil ini. Ini pemberian teman appa dari Zurich.”

Oh, astaga. Ayahnya seperti tidak memiliki kerjaan. Membobol ruang kerjanya hanya untuk mengambil souvenir dari Zurich. Pikir Sehun.

“Baiklah. Appa akan pulang.”

Sehun mengangguk pelan. “That’s sound better.” Ia tidak beranjak atau sekedar berdiri untuk mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya lalu memutar kursinya menghadap kaca besar yang menampakkan Kota Seoul.

Hanya ada hening, dan juga dirinya. Tetapi, di dalam kepalanya tengah terjadi perang besar yang membuat seluruh bagian badannya terasa nyeri. Sehun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan bertumpu pada lututnya.

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

Suara Yoona tentu saja masih terngiang begitu kelas di otaknya. Bagaimana otaknya dengan sangat jeli serta pintar merekam setiap tekanan yang diberikan oleh Yoona pada kata-kata yang diucapkannya. Suara itu juga yang membuat Sehun akhirnya melangkahkan kakinya menuju sebuah lemari penyimpanan yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.

Ia membuka lemari tersebut dan terdapat lemari pendingin kecil khusus untuk menyimpan minuman beralkohol milik Sehun. Sehun tidak terang-terangan minum di depan karyawannya—bukankah itu contoh yang tidak baik?—dan ia harus menjaga image-nya dengan sangat baik. Ia meraih sebuah botol Smirnoff. Ia membuka botol tersebut dengan lincah dan langsung meneguknya. Harapannya sederhana—setiap tegukan dapat menghilangkan suara Yoona. Tetapi, ia salah besar.

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

Sehun menjabak rambutnya untuk menghentikan suara itu di kepalanya tapi tidak berguna. Ia menahan teriakannya dan semakin kuat menjabak rambutnya.

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

Prang!

Sehun melempar botol tersebut hingga terkena sebuah guci tinggi dan kedua benda tersebut sama-sama pecah. Aroma Smirnoff langsung menguak di dalam ruang kantor Sehun. Sehun menemukan tangannya bergetar dan kakinya terasa lemas.

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

Ayolah berhenti!

Sehun memukul kepalanya berharap suara itu dapat berhenti. Lagi, tidak berguna. Ia semakin keras memukul kepalanya, dan suara itu semakin membesar di telinganya. Membuatnya terasa tertekan. Sehun menutup telinganya dengan sangat kuat, tetapi suara itu masih ada! Siapapun tolong dia! Tolong hentikan suara itu!

“…Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?”

Bruk!

Sehun terjatuh dan meringkuk di lantai marmer kantornya. Tangannya masih menutup erat telinganya tetapi suara itu tak kunjung hilang.

Sehun tidak pulang.

Kai menunggu kedatangan laki-laki itu, tetapi hingga fajar menyingsing—tidak ada.

Kai akhirnya memutuskan untuk mencari laki-laki itu dan tetap mencoba menghubungi ponsel Sehun. Tersambung, tetapi Sehun tidak mengangkatnya. Kai menghabiskan paginya mengelilingi Seoul, dan menemukan mobil laki-laki itu di depan gedung perusahaannya.

Hari masih pagi dan karyawan perusahaan Sehun masih belum terlihat. Kai memakirkan mobilnya dengan cepat dan melesat masuk. Ia bahkan tidak sabar menunggu pintu elevator terbuka. Ia melihat pintu ruang kerja Sehun sedikit terbuka dan ia langsung masuk tanpa izin.

“Oh, sialan,” Umpatnya pelan lalu berlari menghampiri Sehun yang tergeletak di atas lantai. Mata Kai mengamati setiap sudut ruang kerja Sehun dan menemukan pecahan guci serta sebuah botol kaca dengan tulisan ‘Smirnoff’. Kai bahkan dapat mencium aroma minuman tersebut. Akhirnya Kai membantu laki-laki itu berdiri lalu ditidurkannya di atas sofa. “Sehun?” Kai mengguncang pelan bahu Sehun.

“Ngg…” Sehun mendesah pelan. Setidaknya berhasil membuat Kai bernafas lega bahwa tuannya masih hidup. “Haruskah aku menelfon Dokter Kim?”

Sehun menggeleng lalu tangannya melambai menandakan tidak. “Kepalaku sangat pusing.”

“Kau terlalu banyak minum.” Balas Kai mengingat pecahan botol Smirnoff.

“Kepalaku sangat—” Sehun tidak menyelesaikan kata-katanya dan ia langsung bangkit, berlari cepat sempoyongan menuju kamar mandi dan terdengar suara tidak mengenakkan dari dalamnya. Kening Kai mengerut jijik. Sehun muntah.

Cukup lama Sehun tidak keluar dan terdengar suara aliran air. Lalu beberapa saat, Sehun keluar dengan pakaian setengah basah. “Kau baik-baik saja?”

“Ya, tentu saja. Aku tidak pernah merasa sebaik ini.” Setelah Yoona membongkar kebusukannya? Ya, tentu saja.

“Kau tidak biasa minum. Kenapa kau malah banyak minum?” Tanya Kai.

Iris pure hazel Sehun memandang lurus Kai. Ada perubahan pada mimik wajahnya setelah mendengar ucapan kepala pengawalnya tersebut. “Semua orang berubah, Kai. Termasuk aku. Ada apa kau kemari?”

Kai mendengus pelan lalu duduk di sofa dengan merentangkan kedua tangannya. “Apa kau tidak sadar bahwa keselamatanmu adalah tanggungjawabku? Jika kau mati, aku adalah orang pertama yang akan masuk ke dalam penjara bahkan sebelum pelakunya ditemukan.”

“Kau terdengar seperti istriku sekarang.” Sehun tertawa hambar.

“Omong-omong mengenai istrimu,” Kai melirik Sehun. “Aku tidak tahu jika kau sebrengsek itu. Kau menyalahkan Yoona atas perselingkungannya, sedangkan orang yang memulai semua ini adalah kau. Wow.”

“Kau menguping percakapanku dengannya?” Suara Sehun meninggi satu oktaf. “Kau tahu, itu sangat tidak sopan.”

Kai menaikkan kedua bahunya lalu menggeleng. “Itu bukan percakapan. Itu pertengkaran. Kau bertengkar dengannya. Dan juga, aku tidak menguping. Awalnya aku hanya ingin memeriksa CCTV rumahmu untuk memastikan kondisi rumahmu, tetapi yang kutemukan di luar dugaanku.”

Sehun kembali tertawa hambar. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi putar dan menengadahkan kepala, memandang langit-langit ruang kerjanya. Keadaannya begitu kacau. Isi kepalanya lebih kacau. “Bagaimana keadaan Yoona?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

“Dia belum keluar dari kamarnya dan juga memakan sarapannya,” Jawab Kai jelas. “Jadi, benar? Kau dan perempuan bernama Son Naeun?”

Sehun menghela nafas pelan. “Ya. Semuanya benar.”

“Kau tidak ingin meminta maaf kepada Yoona?”

Pertanyaan Kai barusan berhasil membungkam mulut Sehun. Sudah bertahun-tahun lalu semenjak Sehun merencanakan hal itu, jujur kepada Yoona bahwa ia telah selingkuh dan menyesal. Tetapi, ia sadar satu hal. “Permasalahan di antara diriku dengannya tidak dapat diselesaikan hanya dengan sekedar kata ‘maaf’.” Sehun memandang Kai, lalu akhirnya ia mengalihkan pandangannya pada lukisan yang terdapat di salah satu dinding ruang kerjanya.

Lukisan Aster Putih.

Sehun tahu bahwa Kai tengah merecokinya dengan berbagai saran yang—mungkin—dapat memperbaiki hubungannya dengan Yoona. Tetapi, Sehun tidak terlalu menaruh banyak perhatian. Iris pure hazel-nya memandang sayu lukisan tersebut. “Semalam ayahku datang kemari.” Beritahu Sehun, memotong ucapan Kai.

“Ini perusahaannya.” Timpal Kai ringan.

Sehun bangkit dari kursinya dan berdiri di hadapan lukisan tersebut. Ia tahu pasti siapa yang melukis lukisan tersebut. Mendiang ibunya, yang sangat menyukai Aster Putih serta berbakat dalam bidang melukis. Dan ayahnya memajangnya di ruang kerjanya. Sehun juga tahu bahwa ayahnya itu sangat mencintai ibunya. Sangat setia. Dan sangat merasa kehilangan saat ibunya meninggalkan mereka berdua. Sehun dapat melihat semuanya dari mata ayahnya. Sorot mata yang seakan-akan sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi.

Sosok Seo Joo Hyun langsung melintas cepat di depan mata Sehun. Lukisan itu tanpa sengaja mengingatkannya dengan Seohyun. Aster Putih serta melukis. Dua hal yang Seohyun juga sukai. “Kau sudah menghubungi Jessica Jung?”

“Bisakah kau sejenak tidak memikirkan perempuan lain saat rumah tanggamu sebentar lagi akan hancur?” Tanya Kai balik.

Sehun membalikkan badannya. Wajahnya datar. Tidak merasa puas dengan jawaban Kai. “Kau sudah menghubunginya?” Ia menolak menjawab pertanyaan Kai.

Kai mengangguk malas. “Kita hanya perlu menunggu konfirmasi makan malam dari pihak Jessica.”

Great.” Jawab Sehun singkat lalu kembali membalikkan badannya dan menurunkan lukisan tersebut, berniat untuk membawa pulang dan menggantungnya di kamar. Tetapi, apa yang ia temukan di balik lukisan tersebut malah membuatnya menahan nafas di dada. Kai bahkan langsung berdiri dari sofa.

“Apa itu?” Kai tampak tertegun.

Mata Sehun belum berkedip. Ia menaruh lukisan tersebut di lantai tanpa mengalihkan pandangannya sediktpun dari pintu besi yang berukuran tidak terlalu besar yang ia temukan di balik lukisan Aster Putih milik ibunya. “Brankas.” Jawabnya pelan.

Pada brankas terdapat sebuah layar berbentuk lingkaran dengan lingkaran yang lebih kecil di tengahnya. Berukuran hampir sebesar iris mata. “Milikmu?” Tanya Kai lagi.

“Bukan.”

Koridor tampak gelap, begitu juga dengan ruangan lainnya dengan pintu tertutup dan terkunci rapat. Tetapi, alisnya menukik tajam hampir bertautan saat menemukan pintu ruang kerjanya terbuka. Langkahnya memelan, hampir tanpa suara.

“Appa?” Sehun mendorong pintu ruang kerjanya dan menemukan ayahnya itu tengah memegang lukisan yang tergantung di salah satu dinding ruang kerjanya. “Apa yang appa lakukan di sini?”

Ayahnya menoleh dan tampak terkejut. “Ini perusahaan appa. Appa bisa datang kapan saja.”

Sehun terdiam sejenak. Ia meneliti dengan baik layar tersebut, lalu mendesah keras setelah menyadari kegunaan layar tersebut. “Oh, Shit.”

“Ada apa?”

Sehun memutar badannya dan memandang Kai. “Biometric.”

Fingerprint?”

Retinal scan.” Jawab Sehun membenarkan. Matanya masih memandang pintu brankas tersebut. Ia yakin bahwa brankas tersebut dipasang oleh ayahnya, yang berarti brankas tersebut juga milik ayahnya, dan yang berarti juga Sehun butuh retina ayahnya untuk membuka pintu brankas tersebut.

“Menurutmu, ada apa dibalik pintu tersebut? Berlian? Emas batangan?”

“Lebih dari itu,” Jawab Sehun tanpa menoleh. “Apapun yang berada di baliknya, ayahku pasti tidak ingin aku mengetahuinya. Jadi, itu pasti lebih dari sekedar berlian atau emas batangan.”

“Kau ingin membukanya?” Tanya Kai.

Sehun memandang Kai. Iris pure hazel-nya menajam. “Kau yang akan membukanya. Lakukan segala cara,” Sehun kembali meraih lukisan Aster Putih yang tergeletak di lantai. “Dan, gandakan penjagaan Yoona. Aku mau kau menjaganya bersama Tao. Tembak di tempat siapa saja yang menyakiti dan mencelakainya.”

“Tunggu. Apa maksudmu aku harus mengikutinya kemana pun bersama Tao?” Kening Kai mengerut dan tangannya membentuk gesture seakan-akan ia tidak yakin pada perintah bosnya kali ini.

“Ya. Itu maksudku.” Timpal Sehun ringan.

“Apa? Aku kepala pengawalmu.” Suara Kai mendadak meninggi satu oktaf.

“Penjagaan Yoona harus diperketat. Jangan membuatku mengulanginya.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Kai mendesah keras. “Kau tidak ingin melaporkan kasus ini kepada polisi? Bisa saja mereka melakukan hal yang lebih buruk. Mungkin seperti menyerang Yoona secara langsung, dan sebagainya.”

“Aku akan melaporkannya jika waktunya sudah tepat nanti. Aku akan pulang.”

“Kita belum selesai, Oh Sehun!” Teriak Kai saat Sehun keluar dari ruang kerjanya.

Untuk pertama kalinya, Sehun ragu melangkah masuk ke dalam rumah miliknya. Sehun belum benar-benar bisa melupakan pertengkarannya dengan Yoona semalam. Bagaimana bisa ia melupakannya?

Yoona tidak ada di ruang tengah—tidak seperti biasanya saat Sehun pulang dan akan menemukan perempuan itu sedang menonton acara TV kesukaannya atau sekedar membaca majalah terbitan terbaru.

Sehun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dengan membawa lukisan Aster Putih yang ia bawa dari kantornya. Ia berencana menggantung lukisan tersebut di dalam kamarnya. Ia memutar knop pintu lalu menutupnya tanpa suara. Tapi, rencananya segera ia urungkan saat menemukan sebuah amplop cokelat di atas ranjangnya.

Keningnya mengerut dalam. Alisnya bertautan membentuk sebuah jembatan.

Sehun menaruh lukisannya di lantai lalu segera meraih amplop tersebut. Dengan cekatan ia membukanya dan ternyata isinya lembaran foto yang cukup banyak. Kurang dari sedetik kemudian, matanya terbelalak lebar. Badannya mendadak membeku, tangannya mecengkram ujung foto dengan keras hingga membentu lekukan tegas.

Sehun menelan salivanya dengan susah payah.

Rasanya sarafnya menegang saat ia melihat beberapa foto yang lainnya. Foto dirinya dengan Son Naeun beberapa tahun lalu di Chicago. Tangan kiri Sehun mengepal di sebelah badannya kemudian dengan sekali sentakan keras, Sehun membuka pintu kamarnya. Langkah lebarnya menaiki anak tangga, menuju kamar Yoona, dan menggedor pintu itu dengan keras.

Dok! Dok! Dok!

“Keluar kau, Im Yoona!” Teriak Sehun keras.

Cklek.

Dengan mata cekung serta kantung mata yang menghitam, Yoona keluar dari kamarnya. Mengenakan tank top putih kebesaran selutut. Rambutnya digerai, tetapi masih berantakan. “Kau sudah menerima hadiahku?”

Ada api yang berkobar di iris pure hazel Sehun saat memandang Yoona. “Apa maksudmu dengan ini semua?!”

“Apa maksudmu bertanya seperti itu kepadaku?” Tanya Yoona tenang. “Itu adalah fotomu bersama your secret darling. Kau bisa lihat itu. Apa kau lupa?”

“Apa yang kauinginkan?”

Yoona melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku ingin memperlihatkan sesuatu yang seharusnya kuperlihatkan sejak tujuh tahun lalu—kebusukkanmu. Kau bukan laki-laki baik seperti yang orang pikirkan. Kau munafik. Kau pendusta. Emosional. Pembual. Skeptis. Kau menjaga image-mu dengan sengat sempurna dan menyembunyikan bau busukmu. Kau laki-laki brengsek.”

“Kau sudah merasa senang sekarang?”

Yoona tersenyum kecil. “Little bit.”

Sehun terdiam sejenak, tetapi matanya masih belum berkedip memandang iris madu Yoona dengan intens. “Aku bertanya-tanya, kenapa tujuh tahun lalu kau memilih membalasku dengan berselingkuh dengan Luhan ketimbang membuka perselingkuhanku? Apa kau melihat hal itu sebagai sebuah kesempatan untuk memiliki Luhan juga?”

Yoona menggeleng pelan. “Jangan memutarbalikkan fakta, Sehun-ssi. Ini semua tentang dirimu dan Son Naeun.”

Yes, you’re right. It was always about me and her. She was joy, peace, love, hope, serenity, humility, kindness, benevolence, empathy, generosity, truth, and compassion. She was all about passion. She wasn’t anger, selfish, envy, sorrow, regret, greed, arrogance, self-pity, guilt, resentment, inferiority, lies, false pride, and superiority—like you.”

Plak!

Yoona tidak lagi tampak tenang seperti sebelumnya. Ia tidak dapat menahan tangannya untuk tidak menghentikan ucapan Sehun. Tepat saat itu juga, ia melayangkan tangannya dan menampar pipi laki-laki itu dengan keras dan tentu saja menyakitkan, yang juga menyakitkan untuk Yoona. “Kau ingin tampar aku lagi? Go ahead, Yoona-ssi,” Sehun tersenyum kecil. “Karena semua tamparanmu tidak akan merubah masa lalu kita dan tidak merubah betapa egoisnya dirimu dulu hingga aku lebih memilih Son Naeun.”

Damn you.” Desis Yoona.

“Terima kenyataannya. Itulah yang terjadi.”

“Kau pasti melupakan satu hal tentang Son Naeun,” Yoona menghela nafas pelan. “Dia wanita penggoda. Dia menggoda kekasihku, tetapi ternyata kekasihku juga menginginkannya. Bagaimana aku tidak melakukan ini semua untuk membalasnya?”

Lagi, Yoona berhasil membuat Sehun menutup mulutnya dengan sangat rapat. Semua ini sudah dirancang Yoona untuk membalas perbuatannya tujuh tahun lalu. Oh Sehun menyakiti Im Yoona begitu hebatnya. Oh Sehun adalah satu-satunya alasan mengapa Im Yoona berubah. Oh Sehun adalah alasan utama mengapa sudah tidak ada lagi Im Yoona dengan sebuah senyuman hangat dengan tingkah seperti anak-anak. Oh Sehun telah mengubur Im Yoona hidup-hidup serta dalam.

Sehun menyodorkan setumpuk foto yang berada di tangannya kepada Yoona. “Kukembalikan ini kepadamu.”

“Simpanlah. Sebagai kenang-kenangan betapa buruknya dirimu di masa lalu. Aku senang karena pilihan untuk meninggalkanmu malam itu bukanlah pilihan yang salah. Aku benar meninggalkanmu dan kau benar untuk ditinggalkan. Kau tidak lebih baik dari orang-orang yang kau cap buruk. Have a best morning of your entire life, Sehun-ssi.”

Yoona membalikkan tubuhnya dan hilang di balik pintu kamarnya.

Yoona bersandar pada pintu kamarnya setelah ia menutupnya. Tangannya masih memegang knop pintu dan rasanya otaknya tidak dapat bekerja dengan normal.

Apa yang terjadi padanya, padahal ia sudah menyiapkan segala amarahnya untuk membentak laki-laki itu, mengeluarkan seluruh emosinya ketika laki-laki itu menggedor pintu kamarnya, tetapi ia bahkan hampir kehilang kata-kata saat memandang wajah rupawan dengan iris pure hazel serta garis rahang tegas yang selalu dikaguminya?

Oh, dadanya mulai terasa sakit dan sesak.

“Karena semua tamparanmu tidak akan merubah masa lalu kita dan tidak merubah betapa egoisnya dirimu dulu hingga aku lebih memilih Son Naeun.”

Astaga, apa laki-laki itu bercanda?! Karena kalimat itu tidak terdengar lucu bagi Yoona!

“…hingga aku lebih memilih Son Naeun.”

Yoona menggigit bibirnya dengan kencang, tidak membiarkan teriakannya keluar begitu saja. Tidak, ia tidak akan memperlihatkan sisi lemahnya ini kepada Oh Sehun.

Oh Sehun pantas mendapatkan ini semua. Ia memang pantas untuk dibalas.

Sehun menghabiskan waktunya berdiri di tepi pantai yang jauh dari kebisingan kota. Ia segera melarikan diri dari rumahnya sendiri untuk menghindari segala kemungkinan cekcok dengan Yoona. Ia butuh penenang. Otaknya kacau, begitu juga dengan dirinya.

Ada yang tidak benar dalam dirinya kali ini.

Otak dan hatinya tidak berjalan beriringan. Tidak menciptakan sinkronisasi yang tepat.

Ia tahu jelas alasan mengapa ia memilih perempuan lain ketimbang Im Yoona kala dulu, tetapi ada perasaan bersalah yang menyelimutinya. Yoona adalah tipikal perempuan yang cukup egois di balik kulit manisnya yang bersinar. Posesif. Arogan, dan beberapa sifat lainnya yang tidak pernah Sehun sukai sejak awal. Ia tahu jelas bahwa Oh Sehun tujuh tahun lalu telah muak dengan Im Yoona. Jadi, mengapa ia merasa sangat bersalah sekarang? Ia pun juga tidak tahu.

Sehun menendang sebuah kerikil dan deru ombak menyambutnya. Membasahi sepatunya serta ujung celana panjangnya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, lalu sedetik kemudian ponselnya berdering menandankan sebuah telfon masuk. Sehun merogohnya. Melirik sekilas, dan tidak lagi menggubrisnya.

Kai.

Kepala pengawalnya tersebut telah menghubunginya ratusan kali dan mengirim beribu pesan yang menanyakan keberadaannya—serta sumpah serapah karena Sehun tidak mengangkat telfonnya—tetapi, tampaknya kali ini Sehun tidak peduli. Ia tahu apa yang harus dilakukannya, dan kembali ke rumah bukanlah hal yang tepat.

Sehun menghela nafas panjangnya. Langit sudah siap menyenja dan beberapa sinar bintang sudah mulai tampak dari kejauhan di atas sana. Ia membalikkan badannya dan kembali ke mobilnya. Ia mengenakan kacamata hitam New York milik Blanc & Eclare dan bertolak balik ke Seoul.

Ia menuju sebuah tempat yang akan selalu menjadi temannya. Yang tidak pernah mencampakkannya, dan tidak akan pernah meninggalkannya.

Aneh.

Tempat ini sangat bising.

Dengan suara dentuman musik yang begitu keras.

Tapi, ia masih merasa sepi.

Riesling.” Sehun mengacungkan telunjuknya pada seorang bartender sebagai isyarat dan duduk di kursi tinggi pada meja bar. Sehun memandang sekelilingnya dan sebuah senyuman kecil terukir di paras tampannya. Ia memandangi sekumpulan perempuan yang mengenakan pakaian minim dan salah satu dari mereka menangkap pandangan Sehun. Perempuan dengan rambut hitam panjang yang mengenakan bandage dress dengan belahan yang rendah pada dadanya dan peeptoes serta glitter emas pada eyeshadow-nya. Sehun memalingkan pandangannya dan menerima segelas Riesling dari sang bartender.

“Aku melihatmu memperhatikan teman-temanku.”

Sehun meneguk Riesling-nya lalu menoleh. “Benarkah?” Suara tetap datar dan rendah.

Perempuan itu duduk di sebelah Sehun dan membalas tatapannya. Warna irisnya tidak terlihat jelas, tampak samar di antara remang-remangan club. “Ya. Ada yang kauinginkan dari kami, tuan?”

Sehun terkekeh pelan. “Tidak. Tidak ada.”

“Benarkah?” Perempuan itu berdiri dan menaruh tangannya di sekitar pundak Sehun. “Atau yang kau perhatikan adalah aku?”

“Aku sudah memiliki istri.” Ucap Sehun.

“Lalu, mengapa kau tampak kesepian dan menyedihkan?” Bisik perempuan itu tepat di telinga Sehun lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi laki-laki itu.

“Aku terpaksa menikah dengannya karena aku adalah seorang gay.” Gumam Sehun pelan.

“Apa?!” Perempuan itu langsung menjauh darinya dan memandangnya kaget. “Urgh! Kau sangat menjijikkan!” Teriak perempuan itu dan lekas pergi.

Sehun tertawa kecil lalu kembali menegak minumannya.

“Aku ingin menarik perempuan itu menjauh darimu, tapi aku tertawa setelah mendengar pengakuanmu,” Kini, giliran Sehun yang terkejut mendapati Kai duduk di kursi tinggi yang sebelumnya diduduki oleh si perempuan rambut hitam. “Kau baru saja menghancurkan image sang pemilik The Ex’Act Group.”

“Bagaimana kau bisa menemukanku?”

“Ini adalah satu-satu club yang kaudatangi dan lokasinya sangat dekat dari kantormu, dan juga kau memakirkan mobilmu di depan club ini. Sangat mudah menemukanmu, bung.” Jelas Kai lalu meraih gelas Riesling milik Sehun dan menghabiskannya dalam sekali teguk.

“Itu minumanku.”

Riesling,” Tebak Kai dan kembali menaruh gelas tersebut di atas meja bar. “Sweet Wine. Pertama kali yang ayahmu katakan saat menerimaku menjadi kepala pengawalmu sebelum kau kembali dari Chicago adalah ‘Dia tidak suka minum, dan tidak pernah pergi ke club. Dia tidak bisa minum minuman beralkohol’. Tapi, setelah kepulanganmu, kau mengejutkanku.”

So, what’s the point?” Tanya Sehun.

“Aku benar-benar ingin mengetahui alasan atau apa yang membuatmu jadi mencintai tempat seperti ini.”

Karena Yoona.

Karena Yoona menyukai club dan minuman beralkohol.

Karena perselingkuhannya malam itu di salah satu club malam di Chicago.

Setelah kehilangannya, aku jadi sering datang ke club tanpa aku sadari, dan aku menjadi seorang peminum tanpa kusadari juga.

Alkohol mengingatkanku dengannya.

Mungkin itu mengapa aku minum sangat banyak.

Hanya untuk mengingatnya.

“Semua orang berubah. Termasuk aku. Bukankah sudah kukatakan padamu?”

Sebenarnya, Kai tidak melihat Sehun sebagai seorang peminum kelas berat. Laki-laki itu hanya meminum sebatas sweet wine, seperti Riesling, Moscato, Chenin Blanc, dan lainnya. Dengan kata lain, minuman dengan kadar alkohol rendah. Laki-laki ini pada kenyataannya tetap menjadi seseorang yang tidak bisa minum. Well, tidak seperti Yoona yang bisa tahan dengan bold wine.

Kai mengerti perubahan nada pada suara Sehun yang mendadak sinis. Jadi, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan topik tersebut lebih jauh. “Aku hanya ingin tahu lebih spesifik lagi. Omong-omong, mengenai brankas yang berada di kantormu, aku telah menyuruh anak buahku untuk membukanya.”

Sehun mengalihkan pandangannya dan memainkan gelas kosong kacanya. “Lalu?”

“Data dalam biometric brankas tersebut adalah retina ayahmu.” Beritahu Kai.

“Jadi, aku membutuhkan retina ayahku untuk membukanya. Aku sudah tahu itu, Kai.” Balas Sehun dengan nada kesal.

“Brankas itu tidak hanya menggunakan biometric untuk keamanannya, tapi juga terhubung dengan sistem alarm kebakaran gedung perusahaanmu. Jadi, jika kau membukanya dengan paksa atau salah dalam retinal scan, itu sama saja dengan membakar gedung perusahaanmu. Alarm kebakaran akan menyala, pemadam kebakaran akan segera datang dan mereka akan menyerahkanmu ke polisi akibat tuduhan aksi pembobolan.”

Penjelasan Kai tersebut berhasil membuat Sehun memandangnya dengan kerutan dalam pada keningnya. “Itu gila.”

“Itu ayahmu,” Timpal Kai. “Kau benar. Apapun yang berada di baliknya, ayahmu pasti tidak ingin ada seorang pun yang mengetahuinya.”

I told you so.”

“Jadi, membuka brankas tersebut akan memakan waktu yang cukup lama.”

“Berapa lama?”

Kai menimbang-nimbang sejenak. “Tiga hari? Empat hari?”

Kai bisa mendengar erangan Sehun yang tidak suka dengan jawabannya. “Aku bahkan berencana untuk membukanya dengan menggunakan gergaji mesin,” Gurau Sehun. “Lakukanlah dengan cepat.”

Copied that sir,” Kai berdeham sejenak lalu kembali mengubah topik pembicaraan. “Ayahmu tadi datang ke rumah.”

“Benarkah?” Sehun masih tampak tenang. Tidak terlalu terkejut dengan berita yang dibawa Kai kali ini.

“Itu mengapa aku menelfonmu dan kau tidak mengangkatnya.”

So sorry, bro.”

“Yoona menceritakan mengenai perselingkuhanmu kepada ayahmu.” Akhirnya ucapan tersebut berhasil keluar dari mulut Kai.

Sehun menghentikan gerakan tangannya yang memainkan gelas minumannya dan kembali memandang Kai dengan iris pure hazel yang membara. “Apa?! Katakan sekali lagi.”

“Yoona menceritakan perselingkuhanmu kepada ayahmu. Dia bahkan menunjukkan foto-foto tersebut.” Ulang Kai lagi.

“Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?” Tanya Sehun mendesis dengan penekanan di setiap kata yang diucapkannya.

“Aku sudah mencoba menelfonmu tapi—“

Kai belum menyelesaikan ucapannya, namun Sehun telah melesat pergi dan memaksa Kai harus mengikuti bosnya tersebut.

Brak!

Sehun membanting pintu rumahnya dan segera menaiki anak tangga tidak sabaran. Ada api yang masih menyala dalam irisnya serta amarah dalam benaknya yang siap meledak kapan saja. Ia berdiri di depan pintu kamar Yoona dan menggedor pintu yang terkunci itu.

“Keluar kau, Im Yoona!”

Dok! Dok! Dok!

“Im Yoona!”

“Keluar kau, Im Yoona!”

Dok! Dok! Dok!

Sehun berhenti setelah mendengar suara kunci diputar dan pintu tersebut terbuka. Perempuan itu terlihat biasa saja saat menatapnya. Sehun tersenyum kecil. “Here you are.

“Ada apa?”

“Apa maksudmu memberitahu ayahku?!” Teriak Sehun keras.

“Memberitahu tentang apa?” Tanya balik Yoona dengan kening yang mengerut.

“Jangan pura-pura bodoh, kau, Im Yoona-ssi!”

Sedetik kemudian Yoona menjentikkan jarinya dan matanya bersinar. “Ah, pasti tentang perselingkuhanmu itu? Ya, aku memberitahu ayahmu, dan ayahmu terlihat sangat terkejut, as I expected.” Yoona tertawa kecil.

Sehun menarik kerah baju Yoona dan mencengkramnya dengan kuat, membuat Yoona harus berjinjit untuk menyentuh lantai. “Kenapa kau memberitahunya?” Yoona dapat mendengar suara gigi Sehun yang menggertak dan garis rahangnya yang menegas.

“Karena ayahmu pantas tahu seberapa buruk anaknya selama ini. Semua orang pantas tahu bahwa kau brengsek, Sehun.” Jawab Yoona pelan, hampir seperti berbisik karena nafasnya tercekat.

Brak!

Ada kekuatan kuat dalam diri Sehun untuk mencekik Yoona dan membenturkan perempuan itu di dinding, kembali membuat Yoona kesakitan dan semakin tercekat—hampir tidak bisa bernafas. “Jangan main-main denganku.”

“K-Kau…pantas…menda…patkan…nyah…” Yoona tersedak seraya cekikan Sehun pada lehernya semakin menguat.

Sehun ingin membalas ucapan perempuan tersebut, tapi seseorang menariknya dan menyeretnya menjauh, dan membuat Sehun melepaskan Yoona lalu perempuan itu jatuh tersungkur di atas lantai.

Kai berdiri di antara Sehun dan Yoona dengan pistol bermunisi penuh yang ditodongkannya ke arah kepala Sehun. Kai tampak getir. Tapi, ini adalah tugasnya. “Jangan membuatku menembakmu, Sehun. Kau sudah memberikanku izin untuk menembak siapa pun di tempat. So, don’t make me pull the trigger.”

Sehun memandang Kai sejenak lalu menghela nafas pelan dan tertawa kecil. “Baiklah,” Sehun mengangkat kedua tangannya. “Aku menyerah.” Ia sempat melirik Yoona yang memegangi lehernya karena kesakitan dan menuruni anak tangga.

Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menjernihkan pandangannya. Ia baru saja bangun dari tidurnya dan segera keluar dari kamarnya. Kai telah menunggunya di ruang tengah.

“Kau.” Ucap Sehun.

“Maafkan aku atas kejadian semalam.”

“Aku baik-baik saja. Kau melakukan pekerjaanmu dengan baik. Dimana Yoona?” Tanya Sehun lalu melangkah ke dapur, berniat untuk menyeduh kopi.

“Dia pergi ke kantor untuk persiapan meeting dengan CRTC pekan ini.” Jawab Kai.

“Apa aku menyakitinya semalam?” Tanya Sehun seakan-akan ia tidak ingat apa yang telah dilakukannya semalam kepada Yoona.

“Aku akan kesakitan jika seseorang mencekikku dan membenturkan kepalaku ke dinding,” Kai menaikkan kedua bahunya lalu mengikuti Sehun. “Kau sedang mabuk semalam. Jadi, itu tidak dihitung sebagai ‘menyakiti’. Kau dalam keadaan tidak sadar.”

Sehun melirik Kai. “Jika aku mabuk, aku akan membiarkanmu menarik pelatuk pistolmu,” Ia menghela nafas pelan. “Setengah gelas Riesling tidak akan membuatmu mabuk. Aku tidak mabuk semalam. Aku sadar.”

Yoona membelai pelan lehernya seraya matanya memandangi kontrak baru perusahaannya dengan CRTC. Bolamata turun pada kolom tandatangan dan terdapat nama ‘Oh Sehun’ di sana. Kini bagaimana caranya untuk mendapatkan tandatangan laki-laki itu?

“Kau baik-baik saja?” Tanya Yuri.

Yoona mendongakkan kepalanya, memandang sahabat sekaligus asistennya tersebut. “Tentu saja. Waeyo?”

Yuri menyingkap rambut panjang Yoona lalu menyingkirkan jemari Yoona. Ada lebam biru di sekitar leher Yoona dan membuat Yuri terkejut. “Kau kenapa? Kau salah minum obat lagi?”

Yoona tidak langsung menjawabnya. Ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan Yuri dengan berkata jujur atau malah sebaliknya.

“Apa Sehun melakukan sesuatu padamu?”

Yoona tidak bisa mengelak dari pandangan Yuri yang begitu tajam terhadapnya. Ia akhirnya menghela nafas. “Semalam dia mencekikku.”

“Apa?!” Suara Yuri melengking tinggi. Well, reaksi Yuri barusan lebih parah dari yang Yoona bayangkan. “Dia mencekikmu?!”

“Ya, begitulah.”

Yuri mendesah keras. Ia terlihat sangat marah dan begitu kesal. “Aku akan mencekiknya balik.”

“Lakukan saja jika kau bisa, atau setidaknya kau akan berakhir dengan luka lebam yang sama sepertiku.” Timpal Yoona.

“Dia psikopat, Yoong! Apa pikiranmu saat menikahinya?!”

“Ayahku. Aku memikirkan permintaan ayahku saat itu, Yul.” Jawab Yoona ringan.

“Aku tidak mengerti mengapa ayahmu menyuruhmu menikah dengannya setelah semua yang dilakukan Sehun adalah menyakitimu saja.”

“Relasi perusahaan. Bisnis. Berhenti membicarakannya, Yul,” Jawab Yoona lagi. Ia melirik arloji rose gold yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Tamu kita akan segera datang.”

“Casablanca Group?” Tanya Yuri.

“Ya. Pemilik group tersebut adalah teman baik ayahku, dan sekarang anaknya tengah berkunjung ke Seoul. Ayahku memintaku untuk menemaninya.” Beritahu Yoona.

Mata Yuri dan Yoona tertuju pada pintu ruangan Yoona. Salah satu seorang staff Yoona mengetuk pintu lalu masuk setelah mendapatkan izin. “Casablanca Group telah datang, Nyonya.” Beritahu staff tersebut.

“Sebuah kebetulan.” Timpal Yuri pelan.

“Kau bisa menyuruhnya masuk.” Perintah Yoona diikuti anggukan sang staff.

“Kau pernah bertemu dengannya?” Tanya Yuri setelah staff tersebut keluar dari ruangan Yoona.

Yoona menggeleng pelan. “Tidak pernah sekali pun.” Yoona dan Yuri berdiri setelah seorang laki-laki jangkung dengan rambut keemasan yang ditata undercut straight spike masuk ke dalam ruangan Yoona. Suit-nya terlihat sangat rapih. Matanya lumayan besar dengan dagu yang runcing, tetapi tidak mewakili tipikal wajah Orang Korea, melainkan darah campuran Kanada-China.

“Selamat datang, Kris Wu-ssi.” Yoona melangkahkan kakinya dan mendekati laki-laki jangkung tersebut lalu menyodorkan tangannya.

Kris Wu—si laki-laki dengan rambut keemasan—menyambut tangan Yoona dan menjabatnya dengan hangat. Tangan perempuan itu terasa kecil pada telapak tangan Kris yang lebar. “Kris Wu imnida.”

“Im Yoona imnida.”

to be continued.

Author’s Note:
#HappySONEDay and #HappyEXOLDay  guys!❤
Semoga pada masih demen sama ceritanya. Jangan lupa komen ya❤

60 thoughts on “Irresistible (Chapt. VI)

  1. Ya tuhan gua ampe ngulang baca dari awal .. Sehun kamu bangcad yaa . tuwins aku kamu cekek cekek .. Upload (?) . kapan mereka cerai gedeg gua .. Ya tuwins kamu juga sih kebangcadan hendaknya jangan dibals dengan kebangcadan pula .. Hee kalian cerai aja sudah .. Sehun juga ga jelas cinta sama siapa ? Kris kamu berperan sebagai apa nak .. :v tapi ya masa luhannya ya yg jahat .. Ga mungkin kan ?gege lu kan imut ..

  2. Astaga konflik d chap ini mmbuat darahku mndidih. Arrrrggggghhh ni gara” sehun yg egois….
    Aku bisa gilaaa

    Oh kris muncul.
    Apa dy org ke empt atw klima keenam dan sterusnya. Hahahah mian

  3. Wiiii kacau amat rumah tangganya haha. Cast baru krisss, apakah dia berperan penting dalam cerita ini?entahlah walaupun banyak prasangka dari ku sendiri hihi. Keep writing author😊

  4. Ceritanya makin seru thor, pertma kli liat sehun sekasar ini, tp aku mkin penasaran kelanjutannya thor, ditunggu yah..! Jangn lama” next chapt. Nya..

  5. Gilaaaaaaaa sehun kaya cekik yoona?? Bener apa akata Yuri dia psikopat hahahahah tapi seru sih ini pertama kalinya aku baca ff yang sehunnya sekejam itu..

  6. Penasaran tor! Jgn lama lama oke! Ini udah gedeg juga sama si sehun! Dibelakang yoong dia peduli, tapi di depan yoong malah nyekik! Kalo aku jadi yoong mah! Cerai langsung dah!! Setuju sama yuri! ‘cekek balik yuk’

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s