No Limits – 2

1211

by Pimthact 

Chanyeol – Yoona – Sehun

poster by Liarground @artfantasy

Suara lorong yang sunyi menjadi begitu ramai dengan adanya suara barang jatuh begitu juga dengan suara balon yang pecah. Suara itu sontak membuat beberapa pengguna lorong melirik ke arah sumber suara. Yang ternyata adalah suara dari loker Chanyeol. Disusul dengan lelaki tinggi yang tampak salah tingkah karena kesalahan-nya.

Chanyeol melihat banyak post-it yang tertempel di lokernya. Banyak sekali tulisan-tulisan aneh yang Chanyeol yakin itu berasal dari gadis maniak yang tergila-gila padanya. Chanyeol mengehla nafas kasar dan segera membereskan kertas-kertas juga beberapa balon konyol yang tertera di lokernya. Ia melesat pergi kekelasnya. Walau hari ini masih pagi dan suasana masih sepi, Chanyeol dapat merasakan hawa tak enak saat ia menuju kelasnya.

Dan apa yang ia rasakan ternyata memang benar kenyataan nya. Dari ambang pintu masuk, ia dapat melihat meja tempat biasa ia duduki sudah penuh dengan post-it dan ia dapat melihat sepucuk surat disitu. Lalu ia bergegas menghampiri meja. Disitu terdapat post-it dan ia dan terdapat sepucuk surat pita yang berdiri ditengahnya. Terlihat manis-namun menggelikan menurut Chanyeol. Dia pun langsung membuka surat itu.

 BELLO!! 

Chanyeol sunbae, maafkan aku karena kemarin tidak bisa menyemangati-mu saat sunbae bermain basket. Aku harus menghabiskan waktuku dengan orang yang tidak berguna seperti Sehun. Jangan salah paham dulu sunbae, kita hanya mengerjakan tugas untuk musim semi. Dan lagipula Sehun tidak bisa dibandingkan dengan sunbae yang super keren. Juga aku akan berjanji besok akan terus menonton dan menyemangati sunbae saat bermain basket. Yesterday is gone, Tomorrow is mystery and today is blessing. Fighting!

Yoon-a. 

Chanyeol menggeleng karena mendapat surat seperti ini. Ia kemudian membungkus dan membuang asal surat itu, beserta dengan post-it nya. Tanpa ia sadari, bibirnya menarik dan membentuk lengkungan, menahan rasa geli.

…..

“Aku pikir aku akan gila,” guman Jessica sambil meletakkan kepalanya dimeja. Kemudian kedua tangan nya mengacak tatanan indah pirang dalam balutan bandana. Tanpa bertanya lagi, Yoona beserta kedua temannya sudah tau apa yang menjadi topik kefrustasian Jessica.

“Bagaimana bisa aku sekelompok dengan dia, kalian tau kan dia itu tidak bisa diajak kerja kelompok. Aku tak tau lagi bagaimana harus melanjutkan tugas ini, seseorang tolong lah aku,” suara Jessica separau burung gagak yang tenggorokannya sudah tak terisi oleh air selama berhari-hari. Sedangkan Yoona dan teman-temannya tak ada yang menaruh rasa iba pada gadis malang tersebut. Mereka semua sudah terbiasa dengan tontonan drama Jessica setiap pagi.

“Kau kerjakan sendiri saja, itu sudah cukup.” saran Yuri yang sibuk dengan ponsel.

 Jessica berdecak, “Aku bukan Yoona, okay? lagipula materinya sangat banyak dan aku benar-benar tak kuat melihat ribuan tulisan itu.”

Yoona mendelik kearah Jessica. “Dia tergila-gila dengan nilai A,” sambar Jessica tanpa memperdulikan Yoona yang mendesis.

“Aku kasihan padamu Yoong harus satu kelompok dengan Sehun,” timpal Sooyoung.

 Yoona memegang jantungnya dan melolong seperti anjing yang sedang berpuasa selama satu tahun. “Kau tau, aku seperti snow white yang membutuhkan ciuman seorang pangeran tampan dari negeri seberang. Karena seorang nenek sihir membuatku tidak mendapatkan vitamin.”

“Kau tidak ada bedanya dengan-ku,” tandas Jessica.

“Apa yang nenek sihir itu lakukan padamu?” tanya Yuri penasaran akan drama Yoona pagi ini.

“Nenek sihir itu membuatku tidak menonton latihan basketnya dan malah tidak membangunkan ku ketika aku tertidur saat kerja kelompok. Dan lebih parahnya lagi dia malah menulis kata-kata aneh dalam post-it yang ia tempelkan dijidatku,” keluh Yoona yang membuat Yuri gemas padanya.

Jessica menatap kedua remaja muda tersebut dengan sengit. Bagaimana bisa saat Jessica memulai dramanya tak ada satupun yang peduli, sedangkan saat Yoona sudah memulai akting nya yang dibawah rata-rata, semua orang seketika penasaran padanya.

“Lalu apa yang kau berikan pada pangeran-mu itu sebagai tanda tidak menonton latihan basketnya?” tanya Sooyoung.

“Aku bangun tengah malam dan langsung membeli balon dan kertas-kertas lucu yang tak jauh dari rumahku,”

“Kau pikir dia anak kecil,” sahut Yuri malas.

Sebenarnya, Yuri, Sooyoung dan Jessica sudah melarang Yoona untuk tidak memperdulikan dirinya sendiri didepan Chanyeol dan harus sedikit jual mahal. Tapi, seberapa banyak dan keras mereka katakan kepada Yoona, rasa cinta Yoona membutakan itu semua.

“Kau itu,” Sooyoung menyipitkan matanya kepada Yoona, “Maniak.”

Yoona hanya tertawa mendengar ‘pujian’ dari sahabat dekatnya itu.

“Jadi, Yoona yang cantik dan baik, bagaimana jika kau meminjamkan tugas kelompokmu pada sahabatmu yang malang ini?” rayu Jessica dengan puppy-eyes yang membuat Yoona segera mengerang jijik.

“Aku belum selesai mengerjakan tugas itu.” sahut Yoona.

Jessica, Sooyoung dan Yuri segera menatap Yoona dengan tatapan yang sama, terkejut. Yoona tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, dalam hal 1X24 jam ia sudah ‘harus’ selesai mengerjakan tugas apapun itu walaupun tugas itu dikumpulkan setahun lagi-sekalipun.

“Wow, kau membuat sejarah.” canda Sooyoung yang diikuti tawa Yoona.

Jessica mencibir, “Itu pasti alasan agar aku tidak dipinjamkan tugasmu.”

Yoona menatap sengit Jessica sambil memukul lengan gadis keturunan Korea-Amerika itu. “Aku tak sejahat itu, kau tau, Jess.”

“Aku bercanda, okay? kau tau kau sahabat terbaik yang selalu meminjamkan pr mu untukku,” ucap Jessica sambil memegang tangan Yoona. Dan Yoona terbahak melihat drama Jessica dimulai lagi.

….

“Bagaimana sih, Chanyeol?!” seru Jeong Mi. “Aku sudah menyuruhmu untuk memberi hasil praktik kemarin, kenapa kau malah meringkas materi praktik?”

“Bukan nya kemarin yang menulis hasil praktik itu Su Ri?” tanya Chanyeol tak terima.

“Iya tapi dia tak bisa, karena dia memiliki urusan jadi tugas nya kukerjakan. Dan aku sudah memberi-taumu saat kau bermain basket seminggu yang lalu. Dan kau sudah menyutujinya,” Jeong Mi dengan menatap tajam Chanyeol.

“Oke, maafkan aku karena aku lupa soal itu.” sesal Chanyeol yang langsung mengutuk dirinya sendiri. Sekarang dia berurusan dengan si pintar dan optimis-julukan yang diberikan kepada Jeong Mi dari teman-temannya.

“Kau bilang begitu saat presentasi akan dimulai sebentar lagi? so fun.” sahut Jeong Mi lalu berlalu pergi dari meja Chanyeol.

Chanyeol sendiri panik dan langsung membuka laptopnya. Lelaki itu dengan cekatan mengingat-ingat hasil praktik kemarin. Dia tak mau namanya tidak ditulis dalam presentasi kelompok. Chanyeol tidak mau ia mendapat nilai rendah seperti  semester kemarin.

Guru Kang sudah masuk kekelasnya dan memberi salam. Tangan Chanyeol lebih cepat mengetik kata-kata yang ada didalam kepala Chanyeol. Kata-kata itu aneh dan berbelit, Chanyeol tersadar saat ia mengetik kalimat terakhir. Mau tak mau ia tetap meng-copy ke flashdisk dan langsung ia berikan pada Jeong Mi agar tugasnya digabung dengan tugas kelompoknya.

“Oke, sebelum-nya aku harus mengatakan sesuatu.” jeda guru Kang, “Sebulan lagi tepatnya tanggal 14 September 2016, ada olimpiade fisika yang mengharuskan beberapa murid di kelas XI untuk mengikuti olimpiade tersebut untuk mewakili sekolah.”

“Hanya ada tiga orang dari kelas ini yang mewakili sekolah dan saya memilih berdasarkan nilai dari dua ulangan yang sudah kalian kerjakan minggu lalu.”

efek yang diberikan oleh guru Kang  lumayan besar. Beberapa siswa berharap mereka tidak dipilih namun beberapa murid yang menginginkan ikut olimpiade fisika tersebut. Jika olimpiade seperti ini, pastinya akan mendapatkan hadiah yang bisa membuat bangga jika bisa memenangkannya.

Hwang Mi Young.” semuanya menatap gadis dengan rambut pirang yang tampak memamerkan senyuman manisnya-bangga pada dirinya.

Jung Mina.” Tebakan beberapa orang tidak meleset, gadis cantik dengan kaca mata itu memang cerdas dan menjadi rival Jeong Mi dalam mengejar nilai.

“Dan yang terakhir,” Semua orang sudah melihat ke arah Jeong Mi. “Park Chanyeol.”

Semuanya tidak bersuara, namun menampakkan wajah yang sama. Kaget sekaligus tidak percaya, begitupun dengan kedua teman dekat Chanyeol. Seorang Chanyeol yang hanya menang tampang dan keahlian dalam basket terpilih ikut olimpiade fisika? tolong seseorang jelaskan ini.

Chanyeol tak bereaksi. Lelaki itu terdiam, menatap lurus ke arah papan tulis. Saat semua bertepuk tangan untuk menyemangati mereka, Chanyeol malah melihat gadis yang duduk di dekat jendela. Gadis itu juga menatapnya dengan tatapan kosong, dia-Cha Jeong Mi.

…..

 “Untuk materi hari ini, bisa kalian lanjutkan berdiskusi dengan kelompok kalian tentang tugas musim semi. Tugas itu nantinya bisa memberi nilai tambahan untuk memperbaiki nilai kalian di tugas sebelumnya.” jelas guru Kang. Semua siswa segera berpindah tempat duduk untuk berdiskusi dengan kelompok masing-masing.

Jangan tanyakan bagaimana Sehun dan Yoona duduk berdampingan untuk berdiskusi masalah tugas ini. Yoona sudah sibuk menenggelamkan wajahnya agar ia bisa tertidur lelap sedangkan Sehun sibuk mendengarkan lagu EDM dengan volume keras dengan menggunakan earphone.

Mereka sudah berdiskusi semalam dan sama-sama sudah menyelesaikan materi mereka-hanya Yoona yang belum selesai mengetik. Dan Sehun juga tidak terlalu ribut karena ia yakin rangkuman nya sudah dicek oleh Yoona terlebih dahulu sebelum gadis itu mengetik.

Detik berikutnya, Yoona langsung terbangun. Dia kemudian menatap Sehun yang sedang menyenderkan kepalanya pada jendela. Sehun yang melihat ekspresi kaget Yoona hanya mengangkatkan satu alis. Gadis itu menggerak-gerakan tangan-nya dengan isyarat copot-earphone-mu. Dan Sehun menuruti permintaan Yoona.

“Sehun-ah,” panggil Yoona. Sehun membuat mimik wajah aneh karena tiba-tiba gadis itu sok dekat sekali menggunakan embel-embel ‘-ah’. “Kau tau? kemarin rangkuman mu ternyata salah, tapi hanya satu materi saja kok yang salah. Aku baru ingat aku salah memberikan materi, jadi kuharap kau bisaa–ehe.”

Sehun memutar bola matanya malas. Gadis ini benar-benar menguji kesabaran nya dan menguras otaknya. Sehun hanya membuang pandangan ke arah jendela dan menghiraukan Yoona yang menunggu jawaban Sehun. “Ayolah Sehun.”

“Kita rangkum bersama, besok kan hari libur, jadi datang lah kerumahku.” Sehun masih saja menghiraukan ucapan gadis itu.

“Atau namamu benar-benar kuhapus,” Sehun memalingkan wajah dan menatap Yoona tajam.

“Kau tidak bisa melakukan itu, Yoona-ssi. Aku sudah merangkum materi dan sudah kuberikan teks nya padamu. Jadi kau tidak bisa menghapus namaku secara sepihak,” Sahut Sehun.

“Tapi Sehun, rangkuman yang kau buat tidak ada 5 halaman, aku tau memang ini rangkuman. Tapi coba kau pikir dari dua materi yang jika dijumlahkan bisa sampai 50 halaman hanya bisa kau dapatkan 4 setengah halaman? Itupun harus ku teliti dan banyak yang masih salah. Jadi ini tidak sepihak kan?” balas Yoona tak mau kalah.

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, “Aku sibuk.”

Yoona mengerucutkan bibirnya, “Oh iya, kemarin pulang nya bagaimana? maafkan aku karena ketiduran, aku benar-benar lelah.”

Sehun menoyor kepala Yoona. “Tentu saja aku dijemput oleh supir. Kau pikir bagaimana,”

“Baiklah, besok kutunggu jam sepuluh pagi dirumahku ya.” ujar Yoona sambil meletakkan tangan nya diatas tangan Sehun. Ini bukanlah kesengajaan, bahkan sekarang Yoona sudah membuang pandangan nya kearah teman-temannya.

Namun, Sehun. Lelaki itu memandang tangan nya. Wajahnya menghangat dan tiba-tiba udara begitu memanas. Terasa menakutkan sekaligus membuat nyaman. Oh, lelaki itu mulai gila. Sehun segera menjauhkan tangan-nya dengan tangan Yoona. Dan perbuatannya langsung menarik perhatian Yoona.

“Ada apa dengan tangan-mu? terluka?” tanya Yoona.

“Tidak, hanya keram.” tukas Sehun sambil membuang pandangan nya. Namun Yoona berfokus pada pipi Sehun yang memerah, apa ini karena cuaca yang tak teratur membuat lelaki itu menjadi hipotermia? tapi aneh, musim disini masih musim hujan dan musim salju pun datang nya masih lama.

“Pipimu–” Saat tangan Yoona hampir mengenai pipi Sehun, lelaki itu sontak berdiri dan menepis tangan Yoona. Yoona sendiri cukup kaget dengan gerakan reflek Sehun. Ia tak menyangka bahwa lelaki ini akan bereaksi berlebihan.

Sehun sendiri meringis dan kembali duduk. Ia mengabaikan tatapan aneh Yoona. Karena saat ini ia berfokus pada jantung nya yang berdegup begitu cepat. Dan sekali lagi ia merasakan bahwa nafas nya tersendak karena kurang nya oksigen disekitarnya. asma? batin Sehun ngeri.

Yoona sendiri bingung dengan Sehun yang membelakanginya. Lelaki itu terus saja memegang jantung nya dan berusaha menghirup nafas kuat-kuat. Apa jangan-jangan lelaki ini memiliki asma? Yoona langsung memegang pundak Sehun dan mengelusnya, agar nafas Sehun kembali stabil.

Saat bel tanda istirahat berbunyi, beberapa siswa keluar dari kelas termasuk teman-teman Yoona. Mereka sudah menawari Yoona, namun gadis itu menolak untuk ikut dikarenakan khawatir pada Sehun yang sekarang malah membenamkan wajahnya pada meja dengan satu tangan nya. Dan satu tangan nya lagi setia memegang jantungnya yang masih tidak stabil.

“Sehun, kau tidak apa? apa kau butuh inhaler?” tanya Yoona.

Sehun masih terdiam, tak menjawab pertanyaan Yoona. Kemudian Yoona mengelus lagi pundak Sehun dengan arah terbalik secara lembut yang membuat nafas Sehun dengan lambat mulai teratur. Yah sebenarnya cara seperti ini Yoona pelajari saat penjaga ruang kesehatan memberi taunya tentang pertolongan pertama pada orang yang sesak nafas.

 Sehun kemudian menegakkan badan nya dan bernafas dengan normal. Yoona yang melihat pemandangan itu bernafas lega, setidaknya ia berhasil menyelamatkan teman-nya. Sehun setelah menyadari hal-hal disekitarnya, ia terkejut karena mendapati bahwa hanya dirinya dan Yoona yang berada di kelas.

“Kenapa masih disini?” tanya Sehun.

Yoona menggaruk rambutnya yang tak gatal, “Maaf?”

Gadis ini tak mendengar omongan nya. Jadi mungkin Sehun harus memperbaiki kalimatnya, “Aku harus pergi.”

Yoona? ia tak terima dengan perlakuan Sehun padanya. Apakah lelaki itu tak ingat bahwa beberapa menit lalu dia membutuhkan bantuan Yoona? bagaimana jika Yoona tidak disana? bagaimana jika Yoona pergi bersama teman-teman nya ke kantin? Pasti Sehun sudah tak terselamatkan. Oke, ini berlebihan, tapi Yoona tetap tidak suka jika Sehun sama sekali tidak mengucapkan kata terima kasih dan malah meninggalkan nya dikelas.

Jadi Yoona berlari mengejar Sehun yang ternyata baru sampai depan kelas. Gadis itu merentangkan kedua tangan nya untuk menghadang Sehun. Sehun sendiri sudah memberi tatapan bingung kepada Yoona.

“Tidak mau mengucapkan apapun?” tanya Yoona.

“Tidak.” singkat Sehun.

“Kau tidak menghargai jasaku-begitu? aku sudah menyelamatkan nyawamu bahkan sudah membuang waktu berharga ku untuk membantumu, dan sekarang aku malah dikhianati seperti ini? kejam sekali anda Tuan darah dingin.” sindir Yoona sambil menatap sengit Sehun.

“Kau biacara apa? terlalu repot untuk dicerna,” keluh Sehun sambil menguap.

Yoona membuka mulutnya tak percaya kemudian mengumpat. “Aku menyesal membantumu,”

Saat Yoona berbalik, Sehun menahan Yoona dengan memegang tangan gadis itu. Dan sialnya, pipinya menghangat. “A-aku hanya bercanda, terima kasih.”

Yoona menghadap Sehun kemudian tersenyum manis. “Katakan sekali lagi?”

Sehun menatap sengit, “Tidak.”

“Sekali saja?” Yoona memegang tangan Sehun.

Sehun menggeleng.

“Oh Sehun, tolong? dengan sangat.” pinta Yoona.

“Jangan pegang-pegang,” Sehun menarik tangan nya dan tertawa ringan.

“Dih, tolong sifat percaya diri dalam dirimu dihilangkan.” sahut Yoona.

“Aku terlalu sempurna, sehingga aku tak memiliki kekurangan.”

“Dasar mayat tak berguna!” ejek Yoona sambil menatap sengit Sehun yang dibalas dengan tatapan super dingin dari Sehun.

“Kau sendiri apa? cungkring tanpa tata krama?” balas Sehun.

“Kau sendiri apa punya tata krama? lihatlah, hanya bermodal wajah saja sudah sombong sekali.” tukas Yoona.

Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Kemudian ia mendekatkan wajah nya dengan Yoona. Sangat dekat sehingga Yoona bisa merasakan nafas Sehun mengelilinginya. “Jadi kau berpikir kan bahwa aku tampan?”

Yoona mendorong Sehun sambil terpekik, “Dalam mimpimu!”

Setelah mengatakan itu, Yoona pergi meninggalkan Sehun yang sekarang tersenyum geli.

….

Chanyeol keluar kelas dengan wajah lesu. Hiburan konyol dari Kai dan bahkan Suho yang berniat sekali melakukan hal konyol bersama Kai sama sekali tidak membantu Chanyeol. Chanyeol tidak mood untuk melakukan apapun, tetapi kedua temannya berhasil membawanya menuju ke arah kantin. Sebenarnya mereka melakukan pemaksaan.

“Sehun?” Tanya Chanyeol saat mereka sudah hampir sampai ke kantin.

“Ah, lupa.” sahut Kai sambil menepuk jidatnya.

“Kau panggil saja, aku dan Kai akan memesankan sesuatu untukmu.” saran Suho yang dibalas anggukan oleh Chanyeol dengan diam.

Chanyeol berjalan tanpa ekspresi. Meskipun tetap–ganteng,sih. Tapi mungkin beberapa orang akan melihatnya seperti monster berjalan, apalagi tak memiliki arah yang benar. Dengan menabrak beberapa orang contohnya, meskipun beberapa gadis sengaja menabrakkan dirinya agar bisa melakukan kontak fisik dengan Chanyeol meskipun hanya saling bersentuhan.

Chanyeol hampir sampai ke ruang kelas Sehun. Dan para gadis gadis yang seangkatan dengan Sehun sudah berada didepan ruang kelas mereka dengan histeris, hanya untuk menyapa Chanyeol atau sekedar memamerkan senyum terindah mereka. Tetapi sepertinya karena mood memperburuk hari Chanyeol, lelaki itu tak membalas satu pun sapaan atau senyum mereka.

Chanyeol mengedarkan pandangan nya untuk mencari Sehun. Jika sudah jam istirahat, Sehun tidak mungkin tetap berada di kelasnya, lelaki itu pasti sudah beranjak pergi. Biasanya, mereka akan bertemu Sehun di persimpangan dekat kantin, karena Sehun pasti akan menunggu disitu.

Pandangan Chanyeol malah sekarang berfokus pada seorang gadis yang berbicara dengan tawa khasnya. Chanyeol tanpa sadar juga ikut menarik lengkungan tipis meskipun tidak terlalu terlihat. Tetapi lengkungan itu memudar ketika gadis itu sibuk dengan seorang lelaki. Mereka terlalu begitu dekat, bukan terlihat, tetapi kenyataan nya. Yang membuat Chanyeol heran adalah, mereka berdua sebelum nya tidak sedekat itu dan bahkan mungkin saling membenci.

Gadis itu tak mencarinya seperti biasa.

Dan, Chanyeol sedikit merasa iri kepada lelaki itu. Ralat, tidak sedikit.

Apakah gadis itu tak menyukainya lagi seperti Chanyeol menyukainya?

Seolah masalah olimpiade tadi belum cukup meruntuhkan otaknya sekarang harus ada realita yang meruntuhkan hatinya. Bahkan gadis itu berciuman dengan lelaki tersebut. Chanyeol segera bersembunyi dibalik lorong ketika gadis itu berbalik. Chanyeol memegang jantung nya yang tiba tiba merasa sesak.

Berapa lelaki yang dibuat gadis itu seperti dirinya. Chanyeol pikir gadis itu memberi harapan kepadanya yaitu selalu menggenggam tangan nya meskipun Chanyeol belum menggenggam balik. Ternyata yang hangat tak selalu membuatnya merasa hangat, bahkan karena kehangatan itu, Chanyeol merasa api bertambah panas dalam dirinya.

Realita belum bisa diterima olehnya. Semua ini terasa begitu fiksi.

Gadis itu adalah senyuman nya. Gadis itu adalah alasan dia selalu bersemangat sekolah. Gadis itu adalah alasan mengapa ia tak pernah bosan menginjakkan kakinya di kantin. Dan rasa cinta nya Chanyeol adalah alasan mengapa gadis itu tak berani ia sakiti.

Namun sebelum ia sempat menyentuh sejentik jari pada pagar hati Gadis itu, ternyata gadis tersebut terlebih dahulu meruntuhkan rumahnya.

Saat Chanyeol merasa kepalanya bertambah pening, sebuah tangan pucat memegang tangannya. “Kenapa bisa ada disini?”

Hal yang diingat terakhir oleh Chanyeol ketika Sehun merangkulnya membawa ke suatu tempat.

…..

Chanyeol terbangun dengan kepala yang benar-benar pening. Saat ia mengedarkan pandangan nya ke segala arah, ia mengetahui dimana dia berada. Ruang bekas rapat milik anak majalah dinding-tapi itu dulu, sebelum sekarang ruang rapat mereka berpindah.

Dan ruangan ini sudah dipakai oleh teman-teman Chanyeol-tentu saja beserta lelaki itu, dengan ditambahkan barang-barang lain seperti sofa, tv, dan juga dua tempat tidur (itu ide bodoh Kai). Tapi ini adalah tempat favorit teman-temannya karena ruangan itu memiliki jendela besar nan tinggi menjulang yang memperlihatkan taman belakang sekolah yang asri dan luas. Taman belakang juga menjadi favorit tempat ‘nongkrong’ para siswa dan siswi disana. Juga karena ruangan itu tak terpakai, jadi tak ada yang keberatan jika ruangan itu di ubah-ubah oleh Chanyeol beserta ketiga temannya.

Disudut ruangan, Chanyeol melihat Kai dan Sehun sedang bermain psp dan ia melihat Suho sedang menonton tv didepan sofa. Saat pandangan nya bertemu dengan Kai yang meliriknya sekilas, Kai langsung menghela nafas. “Yang mulia pangeran sudah terbangun.”

Suho tersenyum miring ketika mendapatkan wajah sengit Chanyeol. Kemudian Suho melemparkan bantal ke arah Chanyeol. “Dasar lemah.”

Chanyeol belum mengatakan apa-apa karena ia harus menetralkan pengelihatan nya dan firasatnya pun suaranya juga akan serak begitu ia berbicara. Jadi dia hanya berjalan menuju ke sofa yang diduduki oleh Suho. Menurutnya dengan berjalan menuju Kai dan Sehun bukan lah hal yang bagus. Ia harus menanyakan pada Suho apa yang terjadi.

Dengan Chanyeol duduk disebelah Suho dan menendang kecil kaki lelaki itu, Suho sudah tau apa yang membuat Chanyeol mendatanginya. “Tadi pingsan. Terus dibawa Sehun kesini dan ternyata kau baru sadar saat pulang sekolah,” Suho menatap sengit Chanyeol “Selamat sudah berhasil untuk memotong jam pelajaran.”

Chanyeol melebarkan matanya, ia tidak ada niatan untuk memotong jam pelajaran dan ia bahkan terkejut karena ia pingsan sampai jam pulang sekolah. “Aku tak mengira hanya karena olimpiade itu saja kau jadi pingsan begini.”

“benar-benar lemah,” sahut Sehun yang terfokus pada psp-nya.

“Diam kalian.” tukas Chanyeol dengan suara yang tak terlalu keras.

“Tadi Hong Seongsangnim mencarimu, dia berkata bahwa hari ini libur saja latihan-nya, kau bisa berlatih besok.” ujar Sehun yang masih tetap fokus pada pspnya.

“Ah, dan litlle honey bunny mu tadi mengirimkan makanan. Dia sempat mengobrol dengan Suho tadi.” Goda Kai yang langsung dibalas umpatan oleh Chanyeol.

Dont say that, dude.

“Siapa little apalah tadi itu?” tanya Sehun yang membuat pandangan Chanyeol terfokus padanya.

“Yoona.” sahut Kai dan Suho berbarengan.

Sehun hanya menganggapi dengan anggukan singkat. Setelah itu Chanyeol berdiri dan mengambil ranselnya yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan ini. Lelaki itu melepas kancing paling atas seragamnya. Dan untuk jas? jangan tanyakan itu, ia sudah melepasnya bahkan sebelum bel pelajaran dimulai.

Chanyeol berniat untuk pergi ke lapangan basket yang mungkin bisa membuat mood nya menjadi lebih baik. Dia penat berada diruangan ini karena godaan dari Kai soal makanan yang dibawa Yoona.

“Aku ada dilapangan basket jika kalian mencariku.” pamit Chanyeol kepada teman-teman yang tak dibalas apapun dari teman-temannya.

“Eh, Chanyeol.” panggil Kai.

Chanyeol menaikkan satu alisnya.

“Itu makanan dari Yoona tidak dibawa?” Kai menggoda lalu tertawa ketika Chanyeol tak menjawab dan langsung membanting pintunya.

….

Chanyeol memandang hamparan tanah luas yang membentang sampai ke ujung. Menikmati semilir angin yang tiada henti membuat rambutnya berterbangan.

Suasana hatinya masih remuk dan belum bisa kembali seperti semula. Setelah kejadian apa yang menimpanya hari ini. Mungkin beberapa orang menganggap reaksi nya begitu berlebihan. Tapi yang dianggap Chanyeol bukan lah main-main karena waktu olimpiade fisika bersamaan dengan final lomba basket tingkat nasional. Ini adalah kesempatan nya menjadi wakil sekolah untuk olimpiade fisika yang sempat ia dambakan, tetapi untuk basket, Chanyeol adalah ketua tim ini.

belum lagi soal gadis itu, Chanyeol merasa jantung nya berdetak lagi-

Ia bersandar pada salah satu tiang yang menjadi ring basket. Saat pandangan nya mengelilingi tempat duduk penonton yang sepi, dia menemukan gadis itu. Dan gadis itu melambai juga tersenyum padanya.

“Sunbae!”

mimpi buruk.

Sebelum lelaki itu berpikir membiarkan saja gadis itu, Chanyeol sudah membuang muka dan berjalan menjauh dari lapangan basket. Tetapi langkah gadis itu sudah mendahului Chanyeol bahkan saat lelaki itu belum berjalan sejauh 100 meter.

Yoona juga merentangkan kedua tangan nya didepan Chanyeol. Meskipun gadis itu bersusah payah membuat nafasnya kembali normal setelah ia berlari dari bangku penonton menuju lapangan yang jarak nya tidak bisa dibilang dekat.

“Su..sunbae,” panggil Yoona masih dengan nafasnya yang belum normal.

“Aku tak memiliki waktu untukmu.” timpal Chanyeol lalu berjalan lagi melewati Yoona.

Bukan Yoona yang hanya diam saja. Gadis itu berjalan mendekati Chanyeol dan memegang tangan lelaki itu. Tanpa membutuhkan banyak waktu, Chanyeol langsung menepis tangan Yoona yang membuat gadis itu sedikit terkejut dengan perlakuan Chanyeol.

“Sunbae?” tanya Yoona meyakinkan Chanyeol setelah perlakuan Chanyeol kepadanya.

i have no time.” sahut Chanyeol berjalan pergi.

Yoona berlari dan merentangkan kedua tangan nya didepan Chanyeol untuk kedua kalinya. Dia tidak ingin kesempatan berdua dengan Chanyeol berjalan sia-sia. “Sunbae tidak ingin mengatakan apapun kepadaku?”

“Pergi dari sini.” ketus Chanyeol. Begitu dingin.

“Aku tidak mau perjuanganku menunggu sunbae berujung sia-sia.” ujar Yoona dengan senyum manisnya.

“Tidak ada yang menyuruhmu menunggu.” balas Chanyeol.

“Aku yang ingin menunggu sunbae,” sahut Yoona.

“Lalu apa kau pikir aku mengharapkan kehadiranmu?” mata Yoona membulat, “Sama sekali tidak.”

Hati Yoona sakit mendengarnya, tapi tak apa. Ia selalu merasa seperti ini di hadapan Chanyeol. Sakit dan nyaman bercampur menjadi satu. Dan itulah alasan kenapa Yoona bertahan pada situasi ini.

“Sunbae jika mau bermain basket, bermainlah. Aku akan menonton di—“

“Dan apa kau pikir kedatangan mu tidak menggangguku?” tanya Chanyeol dengan nada lebih ketus dari yang tadi.

“Maaf, sunbae?” tanya Yoona.

“Kau pernah diuntit? pernah dikirimi banyak balon yang menggelikan?” Chanyeol membalas Yoona dengan menyindir gadis itu.

“Ah, balon itu—“

“Berhentilah tersenyum seperti itu.” jeda Chanyeol. “Apa kau tak sadar semua omongan ketusku padamu? apa yang membuatmu tetap bertahan?”

Yoona tersenyum lebih dalam, “Alasan nya satu, hanya sunbae.” 

Chanyeol mendesis. “Menggelikan. Lihat dirimu, kau itu tidak buruk. Tidak seharusnya kau menjatuhkan harga dirimu demi aku.”

Yoona melongo, “Maaf, sunbae? menjatuhkan harga diri? aku tidak pernah melakukan itu. Aku melakukan ini karena aku menyukai sunbae. Sunbae memang bersifat dingin, tapi dingin itu yang membuatku luluh, dan itu tak mau berhenti. so fast and no limits.”

Chanyeol tertawa, “Kau bisa berkata-kata manis seperti itu pada lelaki mana saja.”

Sebelum Yoona sempat berbicara, Chanyeol sudah menyahut. “Aku sedang stress. Dan kau tidak pernah membuat apapun menjadi lebih baik, bahkan balon picisan yang kau berikan tadi pagi. Itu hanya mempermalukan ku didepan umum. Tidak akan menyelesaikan masalah yang terjadi.”

Yoona mengatup mulutnya. “Aku juga merasa geli jika kau selalu berada didekatku, tidak kau berpikir seperti itu? Jadi sebaiknya menyingkir lah dariku. Untuk selama yang kau bisa.”

Yoona menggeleng, “I can’t lose you, i won’t survive and that’s your fault. You made me love you, you made me let you in.”

“Seberapa lama kau akan bertahan? sampai mati? kau lucu Yoona.” Chanyeol tertawa nyaring dan terdengar begitu licik dan dingin. “Jangan membuat dirimu terlihat murahan, meskipun memang begitu. Jangan memalukan harga diri orang tuamu. Atau jangan-jangan dulu ibumu juga seperti ini saat mengejar ayahmu?”

Yoona menahan nafasnya, matanya sudah menatap tajam Chanyeol. Lelaki itu sudah keterlaluan, benar-benar keterlaluan. “Kupikir sunbae adalah orang yang baik dibalik kata-kata tajam yang selalu sunbae lontarkan.”

See it? The more you care, The more you have to lose.” Timpal Chanyeol santai.

“Sunbae, kau.”

“Jadi lebih baik kau pergi,” suara Chanyeol meninggi satu oktaf.

“Ternyata omongan sunbae lebih murahan dari sampah jalanan.” Balas Yoona yang suaranya juga meninggi. Batasan Yoona adalah dimana orang tuanya dibawa-bawa seperti ini.

Dont say that. My Mom is the best girl i ever have. It’s better than doesnt have mother like you.” Yoona memang sudah keterlaluan, tapi gadis itu memiliki batas kesabaran nya disini.

Shut up, Bitch!” Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Yoona.

Go ahead, judge me. But this time, i won’t care anymore.” Setelah mengatakan itu, Yoona langsung berlari sambil menahan tangis. Merasakan semua rasa sesak didadanya menguap dan melebur ke seluruh tubuhnya, sehingga seluruh tubuhnya lumpuh oleh rasa sakitnya.

Chanyeol sendiri berteriak. Menahan rasa sakit yang kembali lagi dan semakin meruntuhkan semua yang ia miliki. Ia jatuh.

To Be Continued or- FIN?

A/N: sorry buat alur yang terlalu cepat karena memang ini disengaja. Dan ini bakal ada lanjutan nya dengan judul yang berbeda, dan disitu udah aku kodein judul selanjutnya apa(?) oh iya, aku mau minta saran para readers, kira-kira yang bisa buat poster disini siapa ya? atau blog yang bisa request poster gitu selain artfantasy karena request aku gak di take ;_;

Terima kasih sudah membaca, Pimthact.

34 thoughts on “No Limits – 2

  1. Next thor secepatnya. Please yoona jadinya sama sehun #yoonhun couple.
    Biar tau rasa tuch chanyeol. Masa langsung ngehina orangtuanya yoona.

    Semangat ya thor, buat lanjutin ff ini.

  2. Tlong thor yoonhun aja ya.. buat yoona lupain si chanyeol, trus yoona mulai suka ma sehun, atau bikin sehun mulai suka yoona & meluluhkan hati yoona. Buat mereka jadian, trus di saat bersamaan chanyeol mulai suka yoona. Tapi telat yoona udh suka ma sehun bahkan lbh. Hahaha #mau2nyasaya maaf ya thor banyak maunya, cuma saran aja koq. Hahaha di tunggu next chapt nya.

  3. Seneng waktu ada moment yoona-sehun , cewe yang diliat chanyeol siapa cewe lain atau yoona? aahh chanyeol jahat amat kata”mu-_- buat chanyeol nyesel dong thour😀

  4. Author aku baca lagi nih ff…kayaknya komenku salah deh itu yang diliat chanyeol si cewek itu apa si yoona??..berarty chanyeol??????…ahh yoongsyudahlah…oke author aku nunggu banget kelanjutannya…tapi aku berharap endingnya yoonhun deh..tapi chanyoon juga boleh…arghhhh seterah author aja lah…

  5. Nyesek pas d’akhir. Chanyeol knp jd keterlaluan seperti itu? Apa krn ia telah slah pham mengira Yoonhun ciuman? Apa alasan Chanyeol semangat itu, Yoona kan? D’tnggu next story-nya dgn judul baru. Fighting!

  6. Oke fix…chanyeol berhasil buat gue pingin cekek dia..keterlaluan…setidaknya hargai seorang wanita…ohh gue mulai ngikut ngayal gaje…oh iya moment nya sweet banget yoonhun jjang..aku kira tadi yang chanyeol liat si yunah ternyata gadia lain…oke lah author boleh saran gak akuh..??
    Buat si chanyeol beneran nyesel nolak yunah trus ada konflik antar pertemanan karna yoona ..ahh pleasee aku butuh the next chapter nya thoorr..
    😢😢😢😢

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s