[Freelance] Mianhae (Chapter 4/End)

MIANHAE

MIANHAE

Cast : Calista Im/Im Yoon Na, Im Yoon Ah, Oh Se Hun, Xi Lu Han and Other

Genre : Mystery, Fantasy, Sad, Romance

Length: Chaptered

Author : Zii21

Big Thanks for leesinhyo @Yoongexo

 

Luhan membuka knop pintu kamar Calista, gadis cantik berkuncir dua sedang menghabiskan waktunya untuk bermain dengan bunga-bunga yang Calita dan Luhan tanam di dekat jendela besar kamar Calista. Di kamar bercat putih yang luas milik Calista hanya berisi sebuah ranjang untuk tidur, dan beberapa bunga di dekat jendela besar.

 

Luhan mendudukan Calista di kursi dekat jendela, lalu tangan Luhan menyisir rambut Calista pelan dan menguncir seperti biasa. Calista melihat buku tugas Luhan yang diletakan di dekat jendela besar kamarnya. Ia selalu ikut campur dalam urusan tugas Luhan, karna memang sedari kecil mereka bersama dan saling menjaga.

 

Senyuman di wajah calista kebali tertarik menampilkan wajah datarnya menatap puluhan kata yang ada di buku tugas luhan. “Katakan padaku mengapa disini tertulis nama sehun dan yoona kecelakaan luhan !!”giginya bergemeletuk karna menahan emosi.

 

…………..

 

Bahagiakah kau sekarang?…….”suaranya melirih, matanya melirik dedaunan yang berterbangan mengikuti arah angin.

 

“……Appa”lanjutnya dengan suara yang semakin mengecil, entah angin yang membuatnya hilang atau karna pita suaranya yang mengecil.

 

Lelaki dengan balutan jas hitam menoleh menatap gadis berkuncir dua yang berdiri di depan jendela ruang kerja Tuan Im. Tangan keriput Tuan Im meletakan kembali cangkir kopi panas yang ia pesan pada bawahannya lima belas menit yang lalu. “Berbahagialah dengan tempatmu dan jangan ganggu Yoona, dia tidak salah”

 

Kaki jenjang milik gadis berkuncir dua melangkah kearah sofa panjang di ruangan Tuan Im. Ia rebahkan tubuhnya sesekali nafas panjang ia keluarkan. “Uruslah dirimu sendiri Appa, aku masih berbaik hati membuatmu hidup dan Yoona”

 

Sopanlah dengan kakakmu, panggil dia Yoona eonni. Dan kau tidak akan bisa merubah takdir tuhan. Kau harus mengingatnya !”ucap Tuan Im, tangannya kembali membenarkan letak kaca matanya.

 

Tentu saja Tuan Im tidak terkejut, bisa dibilang dialah yang paling santai menghadapi Calista. Calista kembali menelan salivanya dengan susah payah, kuatkan kembali hatinya.

 

Apa urusanmu? Dan aku bisa saja membuatmu mati, Appa. Apa kau tidak takut?” Calista mulai dilanda cemas, ia takut tidak bisa menahan emosinya. Berkali kali nafas panjang ia keluarkan untuk menetralkan suaranya.

 

Kembalilah. Aku sudah membunuhmu.  KEMBALILAH KE ASALMU. AKU SUDAH MEMBUNUHMU, DAN KAU TAK BERGUNA BERADA DIDUNIA INI. SAMPAI KAPANPUN YANG AKAN MEMBUNUHKU TUHAN BUKAN HANTU SEPERTIMU! DAN KAU…”

 

“AAAAAAAAAAAAAA CUKUP  HENTIKAN. AKU BISA MEMBUNUHMU. HENTIKAN kumohon hentikan. Aku mohon hentikaannnn.. aku.. aku akan membunuhmu… aku.. akuu…”tubuhnya melemas bahkan hanya untuk melanjutkan perkataanya Calista tidak mampu. Kedua tangannya menutupi erat telinganya berusaha agar suara ayahnya tidak ia dengar.

 

Kau ingat, aku yang menyuruh suster itu..”

 

Kumohon, aku minta padamu. Sungguh jangan ucapkan kata-kata itu. Itu menyakiti aku kumohonnnn”

 

Aku yang menyuruhnya bukan Yoona. Dan aku yang membunuhmu bukan Yoona. Karna kau tidak berguna jika kau hidup. Pergilah ke duniamu”lelaki paruh baya suaranya mulai mereda, menetralkan kembali suara yang membuat tenggorokannya serak.

 

Calista terus menangis seiring dengan makian ayahnya, kepalanya menggeleng keras, kedua tangannya sudah menutup telinga dengan rapat tapi mengapa suara ayahnya masih ia dengar ? badannya benar-benar bergetar, Calista benar-benar tertekan dengan kondisinya.

 

Luhan-ah kumohon bawa aku sekarang, Luhan”hatinya mulai berteriak berkali-kali Calista memanggil malaikatnya, Tuhan tolonglahhh kirimkan Luhan sekarang juga.

 

Jangan menangis. Kau harus kuat. Apa kau ingin menemui ibumu?”Tanya Luhan menghapus air mata yang mengalir dipipi Calista. Luhan sengaja membuat waktu didunia manusia berhenti untuk membawa Calista pergi sebelum ia benar-benar gila karna ucapan lelaki tua yang menyandang sebagai ayahnya.

 

Calista mengangguk, tangannya memegang kuat lengan tangan Luhan seolah meminta agar Luhan memberinya kekuatan. Calista tersenyum simpul memandang wajah Luhan. Hari ini juga Calista akan menemui ibunya. Tangannya membersihkan dress putih yang ia pakai, menata wajahnya kembali seperti sebelum ia menangis.

 

Calista menggenggam erat tangan Luhan sedikit ia ayunkan keudara seperi kebiasaanya. Mereka melewati pohon-pohon yang menjulang tinggi, menutupi tubuhnya agar tidak langsung bertemu dengan sinar matahari. Calista bukan vampire, dia tidak akan terbakar dengan cahaya matahari. Hanya saja kekuatannya melemah saat bertemu langsung dengan matahari.

 

…………..

 

Eomma, bogoshipo”

 

Terlihat sosok ibunya yang sedang memunggunginya, Calista memeluk erat tubuh ibunya dari belakang. Ini suatu kebiasaan yang ia sukai.

 

Calista baru saja menarik bibirnya agar kembali tersenyum sebelum kenyataan pahit kembali menyerangnya. Ibunya mengenal sosoknya, ibunya mengetahui ia bukan Yoona, dan ibunya menangis karenanya, KARENA CALISTA.

 

Ia berlari meninggalkan ibunya, seketika sosok yoona membuatnya berhenti melangkah. Calista terdiam, matanya menatap tajam kearah gadis cantik dengan rambut terurai. Calista sudah merubah dirinya agar ia tak terlihat oleh orang lain, kekuatannya sudah memudar untuk sekedar menunjukan dirinya didepan manusia.

 

Kau sangat cantik, eonni”

 

Tidak, dia yang membunuhku. Aku membencinya. Dia membunuhku”

 

Aku membencinya. Dia membunuhku. Ya gara-gara Yoona appa menjadi membunuhku”

 

…………..

 

“Jessie”

 

Yoona dengan rambut acak-acakannya berlari memeluk Jessica yang sedang memasak nasi goreng untuk makan malamnya. Jessica cukup terkejut saat seseorang tiba-tiba memeluknya dan terisak dipunggungnya. Jessica tahu, dari parfum yang sering ia cium siapa lagi kalau bukan Yoona.

 

“Kau menangis?”ucap Jessica pelan.

 

“Jessica, adiku tidak mau menemuiku. Sudah seminggu aku mencarinya bersama Sehun tapi dia tidak datang, Jessie”ucap Yoona masih terisak dipunggung Jessica, tangannya melingkar diperut ramping Jessica.

 

Yoona sudah bercerita panjang lebar tentang adiknya atau saudara kembarnya. Pada awalnya Jessica menganggapnya hanya cerita horror yang sengaja Yoona ceritakan untuk menakutinya. Sampai setelah dua hari kerjadian dimana Yoona bercerita tentang adiknya dia baru percaya bahwa ini memang nyata menimpa sahabatnya.

 

Jessica melepas lingkaran tangan Yoona diperutnya, membalikan badannya dan menyentuh kedua bahu Yoona, menguatkan Yoona agar terus semangat untuk bertemu adiknya. “kau duduklah, aku lapar dan aku harus menyelsaikan makananku”ucap Jessica, suaranya dibuat seimut mungkin untuk membujuk Yoona.

 

Kala masakan Jessica matang, berkali-kali Jessica akan menyuapkan nasi goreng miliknya kedalam mulut yoona. Jessica tahu Yoona akan merasa baikan setelah dia makan.

 

“Kau terlalu banyak menyuapi aku Jessie, kau melupakan perutmu sendiri”ucap Yoona yang masih mengunyah makanan didalam mulutnya.

 

“Apa yang adikku lakukan saat ini? Apa ada orang lain yang ia temui selain Sehun dan Eomma?”ucap Yoona lagi, tangan memutar-mutar apel merah yang ada ditangan Yoona.

 

“Mungkin dia alergi sinar matahari”ucap Jessica yang masih menghabiskan makanan buatannya.

 

“Dia bukan vampire, Jessie. Adikku normal”ucap Yoona mendengkus kedua tangannya ia lipat diatas dada setelah mengembalikan apel merah yang tadi ia pegang ke ranjang buah.

 

Jessica hanya mengangguk pelan, meneguk air mineral yang tadi ia tuang ke dalam gelas. Jessica sedikit melirik kearah Yoona yang mengerucutkan bibirnya, ia tahu Yoona pasti kesal karna ucapannya. Dan Jessica tidak akan mengomntari apapun, cukup diam saja melihat sahabatnya.

 

“Tapi Jessica, aku baru menyadari aku tidak pernah bermimpi buruk setelah kejadian dimana eomma menangis saat adikku meninggalkannya”ucap Yoona matanya menerawang seisi ruang makan Jessica, tampak luas dan rapi.

 

“Mungkin saja didalam mimpimu itu adikmu”

 

“Yak!!!”teriak Yoona, Yoona langsung berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi dari rumah Jessica. bagaimana bisa Jessica mengatakan yang membuat mimpi buruk selama ia hidup adalah adiknya.

 

“Bagaimana mungkin adikku sendiri ingin membunuhku? Ahh sudahlah dia tidak mungkin melakukan itu”

 

…………..

 

Rambut kecoklatan bergelombang yang terurai berterbangan terkena angin sore nakal yang meniupnya. Air matanya berkali-kali keluar dari kelopak matanya dan berkali-kali air matanya mengering dan menjadi lengket dikulitnya. Kakinya ia tekuk dan kepalanya ia tenggelamkan.

 

“Yoona”

 

Gadis yang dipanggil Yoona hanya diam, air matanya masih terus keluar dari pelupuk matanya.  Suara Ayahnya masih terngiang dikepalanya bagaikan film yang terus diputar.

 

Berhenti mencari adikmu. Sampai kapanpun ia takkan kembali”ayahnya kembali meminum sedikit demi sedikit kopi panas dicangkirnya.

 

Ia bersahabat baik dengan Sehun, temanku. Dan dia juga menemui eomma. Dia pasti akan menemuiku. Pasti”Yoona kembali tersenyum, ia sudah membuat rencana panjang dengan adiknya jika adiknya akan menemuinya.

 

“Kau hanya membuang waktu dengan mencari hantu yang tak tentu sepertinya”

 

Percayalah padaku. Sampai kapanpun kau mencari adikmu. Dia tidak akan menemuimu”

 

Yoona membanting keras pintu putih ruang kerja Ayahnya, kakinya ia hentakkan keras. Giginya bergemeletuk menahan emosi yang ada di hatinya. Ohh nafasnyapun ikut sesak.

 

“Yoona”

 

Yoona mendongakkan kepalanya sekedar memastikan siapa orang yang memanggilnya. Pandangan mata Yoona mengabur karena bulir-bulir air mata yang terus berjatuhan. Berkali-kali Yoona mengerjapkan mata dan sesekali mengusap mata untuk membuat pandangannya kembali jelas.

 

“Apakah dia membenciku? Dia tidak ingin menemuiku karna dia membenciku? Apa itu benar, Sehun”nafasnya tidak teratur akibat isakan yang sedari tadi Yoona keluarkan.

 

“Apa salahku Sehun? Kenapa dia membenciku dan tidak mau menemuiku?” Yoona kembali bertanya dengan wajah yang basah akibat air matanya.

 

Tangan Sehun membersihkan air mata yang masih menempel di pipi Yoona. Sehun menata kembali rambut yang menutupi wajah cantik Yoona. “Jika dia membencimu, maka minta maaflah. Tetaplah menjadi Im YoonAh yang pertama aku kenal. Kau mengerti? Aku akan membujuknya”

 

Yoona mengangguk lemah mengiyakan ucapan Sehun, sedikit lega di hatinya saat lelaki ini berada di sampingnya. Pipi Yoona semakin memanas kala Sehun mencium puncak kepala Yoona.

 

“Jika kau tidak akan menemuiku lagi, maka temui Yoona. Aku merelakanmu Calista, dan aku berjanji akan membuat Yoona hidup seperti sebelum mengetahui kau, Calista”ucap Sehun dalam hati, matanya memandang awan putih di langit, bibirnya ia tarik menjadi senyuman simpul.

 

 

“Dulu aku mencintai Calista, tapi sekarang aku tidak tahu aku masih mencintainya atau tidak”

 

“Aku tidak pernah mengenal cinta. Aku menyukai Calista yang selalu tersenyum dan selalu menyemangatiku. Aku fikir itu cinta tapi ternyata bukan. Aku hanya membutuhkannya karena dia berteman denganku sedari kecil”

 

Yoona tersenyum lalu mengelus pelan pundak Sehun yang duduk di sebelahnya. Mata Yoona kembali menatap hamparan laut yang terus berombak. “Bagaimana bisa kau bertemu dengan adikku?”

 

Sehun mentap Yoona, rambut milik Yoona kembali berterbangan karena angin laut yang menghempaskan rambut Yoona. “Ketika aku kecil, aku menemukannya disebuah tempat. Aku awalnya hanya sekedar jalan-jalan sampai aku menemukan ada tempat yang sangat cantik. Lalu aku melihatnya yang sedang menangis dibawah pohon. Aku mendekatinya lalu bertanya apakah kau Peri tempat ini? Lalu dia tersenyum dan dia mengatakan padaku bahwa ini tempat rahasia miliknya dan aku tidak boleh mengajak orang lain ke tempat itu. Lalu setiap hari aku datang dan bermain dengannya. Aku selalu memanggilnya deer karena dia seperti rusa betina yang lincah dan manis”

 

Yoona tersenyum “Ini seperti drama yah Sehun. Apa kesukaan adikku?”

 

“Dia selalu memakai dress putih, lalu rambutnya selalu dikuncir dua dan dia selalu merengek minta lolipop padaku. Kupikir itu kesukaan dan kebiasaanya”

 

Yoona beranjak dari duduknya lalu berlari mengejar kepiting yang ikut berlari untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Sebelum kepiting itu masuk kedalam rumahnya Yoona sudah lebih dulu menangkapnya, dan tertawa dengan lebar. Belum ada satu jam dia sudah berubah, satu jam yang lalu dia menangis mengatakan apa adiknya membencinya tau tidak. Tapi sekarang dia tertawa karena menangkap kepiting.

 

“Aku akan mencapitmu Sehun”yoona berlari membawa kepiting di tangannya.

 

Dengan gerakan cepat Sehun meloncat dan berlari menghindari Yoona. Sebenarnya Sehun tidak takut dengan hewan pencapit kecil yang Yoona pegang, hanya saja Sehun ingin membuat Yoona semakin terawa lebar dan melupakan kejadian sedih satu jam yang lalu.

 

“Apa yang terjadi?” Sehun menatap yoona yang memegang tangan kanannya. Sehun baru menyadari kepiting yang di tangan Yoona sudah tidak ada lagi.

 

“Kepiting itu mencapitku, Sehun”

 

Sehun tertawa terbahak bahak menatap Yoona yang cemberut memegangi tangannya. “Kau gila, Yoon. Jika kau tadi menangkap induk kepiting mungkin saja jarimu akan patah”Sehun tertawa memegangi perutnya yang terasa sakit.

 

Yoona memandang Sehun yang tertawa kencang dengan kedua tangan yang memegangi perutnya. Tentu saja Yoona kesal, seharusnya yang dicapit Sehun bukan dirinya. “Sehun ayo kita makan kepiting yang besar. Aku akan membalaskan dendamku padanya dan memakan semuanya”

 

 

…………..

 

“LUHAN-AH!!!”teriak Calista.

 

Luhan mentap Calista dan enggan untuk membalas teriakan Calista. Calista meremas jarinya, matanya yang memancarkan kemarahan kembali redup dengan iris mata teduhnya.

 

“Apa yang harus aku lakukan Luhan, disisi lain aku ingin membunuh Yoona tapi disisi lain aku tidak ingin Yoona mati”ucap Calista pelan, tangannya terus meremas jarinya.

 

“Apa yang kau bicarakan? Sekarang kau menjadi plin-plan? Kau ragu? Sudah kubilang untuk mengikhlaskan semuanya tapi kau malah memilih jalur ini”

 

“Tapi aku bahagia bisa mengenalmu, mengenal Sehun, dan bertemu keluargaku. Tapi Luhan bisakah kau batalkan kecelakaan itu. Emm maksudku selamatkan mereka”Calista mentap Luhan dengan ragu kemudian ia melihat Luhan yang menggelengkan kepalanya.

 

Luhan berdiri dan berjalan keluar, tepat di ambang pintu dia berhenti dan berbalik menatap Calista yang masih terdiam menatap Luhan “Aku hanya menjalankan tugasku, ketua akan sangat marah jika aku tidak melakukan tugasku, pertimbangkan kembali Calista. Mungkin kau saat ini terbawa omongan Appamu, jika kau ingin membunuh Yoona maka besok kau harus bahagia”

 

Semakin lama sosok Luhan menghilang di balik pintu, Calista hanya diam ditempatnya dia tidak bisa mengejar Luhan atau sekedar memohon padanya. Bagaimanapun dia sedang dihukum. Pikirannya melayang tentang hal yang baru saja terjadi.

 

“Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Haruskah aku senang atau aku sedih?”

 

 

…………..

 

 

“Ya Tuhan”yoona memekik ketika ia melihat layar handphonenya setelah enampuluh detik yang lalu ia menerima sms.

 

Sehun memberhentikan mobilnya disamping jalan lalu dengan cepat melihat kearah Yoona yang masih melihat layar handphonenya “Ada apa Yoong?” Sehun menaikan sebelah alisnya sambil menatap Yoona dengan heran.

 

“Ini buruk Sehun. Kita harus cepat pulang. Ibuku sakit”

 

“Ini hujan deras, mungkin tidak secepat biasanya” Sehun mendesah pelan lalu perlahan mulai menjalankan mobilnya.

 

“Baiklah sehun, hati-hati. Aku takut hal buruk menim—

 

“Arghhh Sehunnnnnnnnnnn”

 

 

= Telah terjadi kecelakaan di daerah Seoul, tabrakan terjadi di karenakan truk yang membawa barang import oleng karena hujan deras sehingga membuat jarak pandang yang buruk bagi pengemudi. 2 penumpang dari mobil silver kini dirawat dirumah sakit Seoul. Sedangkan supir truk melarikan diri dan masih dalam pencarian polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. =

 

“Yoona bangunlah, kita akan bertemu dengan adikmu. Bertahanlah kumohon” Sehun berjongkok di depan pintu unit gawat darurat.

 

Saat truk didepannya akan menabrak mobil milik sehun, Sehun langsung putar setir berniat untuk menghindar tetapi naas bagian kiri mobilnya tertabrak. Awalnya Sehun berniat bersyukur karena dirinya masih bisa sadar, mungkin hanya luka beberapa tempat ditubuhnya. Namun ketika mata Sehun melirik kearah samping, Sehun menelan rasa syukurnya dia bahkan berteriak memanggil Yoona. Berusaha menggoyangkan badan Yoona dengan tangannya yang terluka.

 

“Maafkan aku, harusnya aku lebih cepat memutar mobilku. Maafkan aku Yoona. Ini kesalahanku aku benar benar minta maaf” Sehun menangis dalam diam, dia menatap lantai rumah sakit dengan tatapan menyesal.
“jika Calista juga mengalami kecelakaan siapa yang akan kau tolong lebih dulu Sehun?”

 

Sehun mendongak, melihat siapa sosok yang mengajaknya berbicara seperti itu di tengah keadaan Sehun yang kacau. Lelaki berwajah baby face yang menjadi malaikat Calista, lelaki yang memakai jas putih dengan  buku hitam di genggamannya.

 

“Kau gila? Pertanyaanmu tidak masuk akal”ucap Sehun, giginya menggertak mencoba menahan amarahnya yang kapan saja akan meledak.

 

“Kau mengatakan kau mencintai Calista, tapi kau begitu takut kalau Yoona meninggal. Kau ingat aku siapa? Kalau aku disini kau pasti akan paham apa maksudku datang kesini bukan?” Luhan menatap Sehun dengan senyuman yang menjatuhkan. Dia melirik sedikit ruangan yang sedang merawat Yoona.

 

“Tidak. Jangan bilang kau akan membawa Yoona. Aku tidak akan mengijinkanmu menyentuh Yoona sedikitpun” Sehun berdiri, tangan kanan Sehun meremas kerah kemeja putih dengan setelan jas yang  Luhan pakai. Luhan hanya tersenyum enteng melihat reaksi Sehun.

 

“Jadi pada intinya kau menyukai Yoona atau Calista, Sehun?”

 

Lagi-lagi Luhan tersenyum melihat reaksi Sehun yang terlihat kebingungan. Tangan kanan Sehun semakin erat meremas kemeja putih milik Luhan. Mata Sehun menatap tajam Luhan yang menyeringai menampilkan senyum yang menurut Sehun menjijikan.

 

“Apa yang kau bicarakan Luhan!!! Ini tidak lucu” teriak Sehun tepat di wajah Luhan.

 

“Tentu saja ini tidak lucu. Ini bukan lelucon Sehun. Yoona atau Calista? Bagaimana jika Yoona kubawa?” Luhan menghentak tangan kanan Sehun, membuat tangan kanan Sehun terlepas dari kerah kemeja putih milik Luhan.

 

“Aku memilih Yoona. Jadi jangan bawa dia”suara Sehun melembut, pikirannya kembali melayang pada saat sebelum kejadian ini terjadi.

 

“Aku tidak akan membawa Yoona, Sehun. Tapi mungkin orang lain akan membawanya dengan paksa”

 

Sehun memandang awan putih yang membuat tubuh Luhan menghilang. Satu jam kemudian Yoona sudah di pindahkan ke ruang pasien. Sehun belum bisa bernafas lega karena Yoona masih dalam masa kritis.

 

“Dokter mengatakan luka dikepalanya cukup parah, sehingga membuat Yoona tidak sadarkan diri. Mungkin jika Yoona sudah membuka matanya dokter akan lebih mudah membuat kesimpulan. Karena saat ini dokter hanya bisa menunggu Yoona. Yoona harus melewati masa kritis, Sehun” Ayah Yoona menjelaskan semua yang dikatakan dokter padanya lima belas menit yang lalu ketika ayah yoona dipanggil dokter untuk ke ruangannya.

 

Sehun terdiam memandang keadaan Yoona di atas ranjang rawat. Alat bantu pernafasan harus tetap tertempel serta alat dokter lainnya yang tidak sehun mengerti. Air mata sehun kembali jatuh saat mengingat dirinya selamat tetapi Yoona tidak. Bagaimana bisa Sehun seegois ini memutar mobilnya agar dirinya selamat namun Yoona tidak.

 

 

…………..

 

 

“Aku membencinya, aku membenci Yoona. Aku sangat membenci Yoona”

 

Calista mencabut alat bantu pernafasan yang dipakai yoona. Alat bantu nafas itu ia tempelkan pada hidunganya sendiri, ia menghirup oksigen sedalam-dalamnya, matanya menatap sinis Yoona yang sedang membutuhkan oksigen.

 

“Bagaimana rasanya? Apakah sakit ? ini yang aku rasakan dulu sampai aku seperti ini. Kau rasakan betapa tersiksanya aku, Yoona” air matanya mulai turun membasahi pipi Calista.

 

“Yoona, aku kembali”

 

Calista memandang Sehun yang baru saja masuk ruang rawat Yoona. Ada banyak luka kecil di tangan dan di kepala Sehun yang sudah mengering akibat goresan kaca yang terjadi saat kecelakaan tiga puluh hari yang lalu. Sampai ia melihat keadaan Yoona yang sedang sesak nafas Karena alat bantunya di cabut oleh Calista.

 

“Apa yang kau lakukan Calista” Sehun berteriak kencang lalu berjalan cepat. Dengan cepat ia mengambil alat bantu nafas itu dan memasangkan kembali.

 

“Wow. Kau begitu melindunginya Sehun. Apa kau menyukainya karna dia berwajah seperti aku? Sebegitu cintanya kau sampai kau menganggap dia itu aku?”ucap Calista dengan senyum miringnya, tangannya ia lipat di depan dada.

 

“Apa yang kau bicarakan Calista, dia kakakmu. Dia memang sama fisiknya denganmu, tapi ia berbeda dengan sifatmu Calista. Dan apa yang aku lihat dan dengar sekarang? Ternyata ini Calista yang sebenarnya”ucap Sehun yang berusaha menjauhkan Calista dari ranjang Yoona.

 

Calista terdorong beberapa meter dari ranjang Yoona akibat Sehun. “Kau begitu kasar padaku Sehun, kau lupa kalau kau menangisiku karna aku tak ada disampingmu? Apa ia menghasutmu Sehun? Ohh dia benar-benar kejam”Calista menghempaskan tangan Sehun yang mencengkram erat lengan tangan kanan Calista.

 

“Aku menyesal mengenalmu deer

 

“Kau dulu berkata menyukaiku bahkan mencintaiku. Dan sekarang kau menyesal mengenalku? Ahahhaaa kau begitu lucu Sehun” Calista tertawa hambar lalu mentap Sehun dengan sinis.

 

Calista kembali melepas alat bantu yoona, bersamaan dengan orang tua Yoona yang masuk ke dalam ruang inap anaknya. “Brengsek apa yang kau lakukan? Menjauhlah dari anakku” Tuan Im berteriak begitu murka menatap Calista.

 

Tuan Im mengambil paksa alat bantu Yoona lalu memasangnya kembali. Matanya memerah menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak. Calista tersenyum meremehkan menatap ayahnya.

 

“Ahh Kau takut anak kesayangnmu mati ditanganku, TUAN IM?” Calista menekan setiap perkataanya menatap tajam ayahnya.

 

Tuan Im menampar Calista hingga ia terjatuh ke lantai. “Suamiku, apa yang kau lakukan? Dia anakku. Anak kita” Nyonya Im berlari memeluk Calista dengan erat sembari menangis.

 

Calista berdiri mensejajarkan tubuhnya didepan ayahnya. “Yoona membunuhku”

 

Satu tamparan keras kembali mengenai pipi kanan Calista. “Yoona mengambil hakku”

 

Tamparan bertubi tubi Tuan Im layangkan pada anaknya, Calista. Hingga Luhan datang menarik Calista menjauh dari hadapan Tuan Im. Luhan menarik tubuh Calista yang sudah melemas, dan kapan saja akan jatuh. “Berhenti memukulnya. Dia tumbuh dari kecil denganku, aku yang mengurusnya. Dan bukan hak mu lagi untuk memukulnya, Tuan” Luhan bekata lembut pada lelaki berumur setengah abad.

 

“Ohh jadi kau yang membuat anakku seperti ini” Tuan Im menatap Luhan dengan sinis. Matanya melirik kearah istrinya yang menangis duduk di lantai ditemani Sehun yang menepuk nepuk pelan punggung Nyonya Im.

 

“Luhan biar aku yang menyelsaikannya”

 

Kejadian sembilan belas tahun yang lalu kembali berputar dikepala Tuan Im. Tuan Im menatap isterinya dengan cemas, lalu menatap Yoona yang masih tertidur selama tiga puluh hari, pusat matanya kembali menatap Calista anaknya yang ia bunuh sembilan belas tahun yang lalu. Tuan Im menahan nafasnya berusaha meyakinkan diri dengan apa yang akan dia lakukan. Tuan Im akan menceritakan semuanya, dari awal memang Tuan Im yang bersalah. Sebelum Calista semakin membabi buta karena dendamnya lebih baik dihentikan.

 

“Yoona tidak bersalah jadi berhen-”

 

“Yoona tidak bersalah? Lalu siapa yang membuatku seperti ini? Siapa yang membuatku bangkit dari kematianku? Ayah? Atau Suster yang menuruti perkataanmu?” Calista berteriak dengan kencang melempar benda yang didekatnya ke segala arah.

 

Suara tangisan bayi terdengar begitu nyaring sampai luar ruangan. Tuan Im tersenyum saat suster keluar ruangan membawa anaknya yang kecil. Tuan Im sedari tadi terus berdoa untuk keselamatan isterinya dan anaknya. Nyonya Im kehabisan air ketuban dan pendarahan satu jam yang lalu, sehingga mengharuskan Nyonya Im melahirkan dengan cara sesar.

 

“Tuan, kedua anak anda perempuan” ucap suster yang membawa anaknya.

 

Kedua perempuan berusia dua puluhan tersenyum ramah saat pemilik anak yang ia gendong menyambutnya. Kedua bayi perempuan Tuan Im sangat berbeda, bayi pertama terus menerus berontak dan menangis kencang. Berbeda dengan anak keduanya yang terus diam dengan mata terpejam.

 

“Dokter, apakah anak keduaku baik-baik saja?” Tuan Im mengerutan dahinya. Sedikit ragu jika anak keduanya baik baik saja.

 

“Ini karena tekanan dan ditambah tubuhnya yang lemah, pernafasannya juga terganggu Tuan. Kami akan meletakan keduanya di inkubator”

 

Tuan Im berjalan mengikuti suster yang membawa anak pertama dan keduanya. Langkah kakinya pelan, tertinggal beberapa meter dari suster didepannya. Tuan Im memasuki ruangan dengan banyak bayi diruangan. Matanya menatap kearah kedua anaknya.

 

“Maaf persediaan inkubator kami tinggal satu, Tuan Im. Mungkin anak kedua anda yang akan saya masukkan ke inkubator karena pernafasannya begitu lambat dan kondisinya tidak stabil”

 

Tuan Im hanya mengangguk ketika suster menjelaskan tentang kehabisan persediaan di rumah sakit ini. Seharusnya Tuan Im pergi ke Rumah Sakit lebih besar agar kedua anaknya mendapat perawatan yang sama, tapi apa boleh disesalkan jika sudah terjadi. Tuan Im sudah terlanjur panik ketika istrinya mengeluarkan darah.

 

Suara anak pertama Tuan Im begitu jelas, bayi mungil yang cantik yang keluar dari rahim isterinya terus memberontak menjerit memekakan telinga siapapun di ruangan tertutup ini. Tuan Im menghampiri anak pertamanya dan mengelus pipi serta surai rambutnya yang tipis dan basah.

 

“Suster, biarkan sepuluh menit untuk anak pertama saya. Apakah bisa?”

 

Suster ingin menolak, tetapi melihat kondisi anak pertama yang terus menangis membuatnya mengikuti permintaan ayah dari anak yang ia rawat. Suster tersebut menukar posisi anak pertama dan kedua. Anak pertama terdiam dari tangisnya, matanya terpejam dan tidur dengan nyenyaknya.

 

Belum sepuluh menit berlalu anak kedua yang dalam gendongan Tuan Im menangis dengan suara kecil. “Sabarlah sayang. Akan tiba giliranmu sebentar lagi”

 

Suster mengambil bayi kedua dalam gendongan Tuan Im, lalu kembali menukarkan dengan bayi pertama. Dua puluh detik keadaan bayi pertama seperti semula, kembali menangis dan memberontak dalam pelukan suster cantik dengan mata sipit.

 

Tuan Im memandang anak pertamanya kemudian iris matanya menatap anak kedua yang nampak tertidur pulas. “Biarkan anak pertama saya mendapatkan fasilitas ini”

 

Tuan Im menghela nafas panjang lalu mengelus pipi anak pertamanya “Untuk apa memberikan fasilitas ini dengan anak kedua saya jika anak kedua saya tidak bisa hidup normal nantinya dengan terus menerus membawa inhealer?”

 

“Lebih baik seperti ini”

 

Anak kedua dan anak pertama sudah bertukar posisi. Tuan Im mengelus surai rambut anak keduanya dengan lembut. Air matanya jatuh dari kelopak matanya, menetes di permukaan pipi tebal anak keduanya. “Maafkan appa, sayang”

 

“Namamu Im Yoon Na . Selamat Tinggal”

 

“Im Yoon Na meninggal, waktu kematian 09.29 pagi, waktu Korea Selatan”

 

Tuan Im menangis dalam diam, mencium kening anak keduanya untuk pertama kali dan terakhirnya. Tuan Im menyerahkan gendongan anak keduanya ke suster yang merawat kedua anaknya. Langkahnya keluar dari ruangan steril bayi, Tuan Im terduduk didepan pintu menatap kedua tangannya. Berkali-kali tangannya menampar bibirnya yang beberapa menit yang lalu membuat anak keduanya meninggal dunia.

 

Kenapa semuanya harus seperti ini? belum ada satu jam anak keduanya menghirup udara dunia tapi Tuhan sudah kembali mengambilnya. Seharusnya dia tidak mementingkan anak pertamanya yang sehat. Seharusnya dia lebih sadar akan keselamatan anak kedua.

 

Nasi sudah menjadi bubur. Anaknya sudah meninggal. Dan hal ini menjadi penyesalan terberatnya selama tiga puluh satu tahun hidup di dunia. Seorang ayah yang tega membunuh anak keduanya demi kenyamanan anak pertamanya.

 

“IM YOON NA”

 

Calista tersenyum menatap ayah kandungnya. Luhan masih dibelakang calista memegang erat pundak calista dengan erat membuat kulitnya sedikit memerah. “Namaku Calista bukan IM YOON NA”

 

“Bunuh aku bukan kakakmu. Maafkan appa yang membuatmu bangkit dalam kematianmu Yoon Na”Tuan Im menangis menatap Calista, tangan kirinya memegang tangan kiri Calista.

 

“Appa”

 

Suara lirih Yoona membuat seluruh pandangan mengarah padanya. Nyonya Im bangkit dengan bantuan Sehun melangkah ke arah ranjang Yoona. Kedua tangannya menghapus kasar air mata di pipinya yang sudah lembab karena air mata.

 

“Dongsaeng, akhirnya kita bertemu” Yoona tersenyum lebar menatap adiknya yang berdiri disamping ranjang Yoona dengan lelaki di belakang adiknya.

 

Calista tersenyum tipis menatap yoona, kedua tangan calista Menyingkirkan tangan Luhan di pundak miliknya. Langkah demi langkah Calista mendekat kearah ranjang Yoona dan tersenyum tipis.

 

“Aku menyayangimu. Aku menunggumu. Aku mencarimu terus menerus bersama Sehun. Dimana kau tinggal selama ini? Hiduplah denganku mulai sekarang”

 

“Menunduklah”

 

Calista menunduk mendekat kearah kakanya yang tersenyum lebar. Tangan kanan Yoona terulur menyentuh pipi Calista yang dingin. Yoona tersenyum semakin lebar dan menunjukkan deretan gigi kecilnya yang rapi. “Kau begitu mirip denganku. Dan kenapa pipimu dingin? Apakah pendingin ruangan membuatmu kedinginan?”

 

Calista menggeleng “Aku tidak bisa hidup denganmu. Karena kita berbeda”

 

“Tapi aku membutuhkanmu” Yoona memegang erat tangan kanan Calista yang dingin. Yoona menangis dalam diam menatap Calista yang menatapnya dengan pandangan yang sulit Yoona artikan.

 

“Maafkan aku. Mungkin ada hal yang aku lakukan padamu di masa lalu. Maafkan aku”

 

“Maafkan aku yang membuatmu enggan untuk tinggal denganku. Maafkan semuanya yang aku lakukan. Bisakah kau memaafkan aku dan membuka lembaran baru untuk kita?”

 

Yoona menggenggam tangan kanan Calista sesekali jemarinya mengelus tangan Calista. Air mata Yoona tak kunjung berhenti untuk mengalir di pipi putih milik Yoona.

 

“Maafkan appa. Mungkin itu buruk untukmu. Aku tidak ingin membuatmu hidup dengan terus menerus menahan sakit karena pernafasanmu yang tidak stabil”

 

Calista menatap Tuan Im dengan matanya yang memerah. Tangan kanannya masih berada dalam genggaman Yoona. Nyonya Im menatap Tuan Im dengan pandangan kaget. Langkah Nyonya Im mendekat kearah Tuan Im, tangannya terulur menampar pipi Tuan Im dengan kencang.

 

“Atas dasar apa kau membuat keputusan seperti itu? Kau tidak berhak membuat takdir anakmu seperti itu. Aku yang mengandung mereka selama sembilan bulan. Aku memepertaruhkan nyawaku bahkan rela menukar nyawaku untuk kedua anakku. Kenapa kau bahkan membiarkannya meninggal” Nyonya Im mengepalkan kedua tangannya. Menatap sengit suaminya yang bertindak kekanak-kanakkan menurutnya.

 

“Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin anakku terus merasakan sakit setiap harinya. Aku.. Aku kalap.. Aku bingung.. Aku memang Appa yang tidak berguna” Luka Tuan Im seperti ditabur garam berkilo-kilo. Tuan Im merasakan perih berkali-kali lipat.

 

“Kau fikir dengan kehidupanku yang sekarang aku tidak merasakan sakit? Aku kesakitan.. setiap hari aku menangis, kenapa kau begitu tega padakku. Apa salahku? Apa yang membuatmu hanya memandang Yoona eonni? Apa yang membuatku tampak tidak berguna dimatamu?” Calita berkali-kali memukul dadanya yang terasa sesak dengan tangan kiri Calista.

 

Luhan menarik tangan kiri Calista berusaha menjauhkan Calista dari lelaki setengah abad yang berdiri dihadapan Calista. “Cukup. Kita pergi sekarang”

 

Calista menepis tangan luhan yang menggenggam tangannya “Aku harus menyelsaikannya Luhan”

 

Calista maju medekat kearah ayah dan ibunya. “Apa karena aku tidak sesehat Yoona eonni?”

 

“Mereka mengatakan pernafasanmu buruk dan jantungmu berdetak pelan. Aku tidak ingin kau seperti teman anakku yang terus menerus melakukan terapi dan merasakan sakit yang luar biasa jika pada akhirnya sia-sia”

 

“Dia hidup selalu dengan alat bantu. Tetapi tetap saja tidak bisa membuatnya hidup lama”

 

Tuan Im mengelus surai rambut kecoklatan yang tertata rapi dengan kunciran dua. Calista menepis keras tangan Tuan Im dikepalanya. Bibirnya tertarik membentuk senyuman mengejek pada Tuan Im.

 

“Appa minta maaf karena appa membuat takdirmu seperti ini”

 

“Appa sangat menyayangimu”

 

Calista terjatuh dilantai dingin ruangan Yoona. Tangis yang sudah Calista tahan berkahir sia-sia hanya karena ayahnya mengucapkan satu kalimat yang sedari dulu ia inginkan. Nyonya Im mendekap tubuh lemah Calista erat, menepuk pelan punggung Calista. “Eomma juga sangat menyayangimu, Yoon Na”

 

“Dongsaeng. Aku minta maaf walau ini sedikit terlambat. Aku juga sangat sangat menyayangimu”

 

Tangis calista semakin pecah, Ayah, Ibu, dan Yoona-Kakaknya tulus menyayanginya. Calita mengangguk dalam dekapan ibunya. “Aku memaafkannya. Aku mencintai kalian semua”

 

Luhan menarik Calista dari pelukkan ibunya. Mensejajarkan badannya didepan Calista. “Biarkan aku egois untuk saat ini. Kumohon tetaplah dendam dengan keluargamu. Aku tidak ingin kau pergi. Bagaimana dengan aku?”

 

Calista menggeleng pelan, tangannya memeluk Luhan untuk terakhir kalinya. “Maafkan aku Luhan. Aku tidak bisa terus menerus hidup dengan dendam seperti ini”

 

“Dongsaeng jangan pergi lagi”

 

Calista melepas pelukkannya dengan Luhan, iris matanya menatap Yoona beralih menatap kedua orang tuanya. Tatapan mata terakhirnya menuju ke sosok sahabatnya.

 

“Sehun-ah jaga Yoona eonni dengan baik”

 

Sehun mengangguk pelan lalu tersenyum lebar kearah sahabatnya. Sehun menggenggam tangan kanan Yoona menyalurkan kekuatan untuk membuat Yoona lebih bersabar dan mengikhlaskan kepergian adikknya.

 

“Selamat tinggal semuanya. Aku menyayangi kalian. Yoona eonni fighting!!!”

 

Tubuh calista menghilang seiring berjalannya waktu. Yoona berusaha bangkit untuk turun mencegah kepergian adiknya yang baru pertama kali bertemu. Seharusnya Yoona bisa membuat Calista lebih lama berada di dunia ini.

 

“Seharusnya aku membawa pergi Calista lebih cepat. Seharusnya dendamnya dengan kalian semua tidak menghilang. Aku yang merawatnya sedari kecil, seharusnya Calista masih ada. Kalian membuatnya menghilang” Luhan berteriak kencang kearah Tuan Im dan Yoona. Luhan membanting vas bunga di dekatnya, membuat kepingan kaca menyebar dan air yang tumpah semakin mengotori lantai ruangan Yoona.

 

Luhan menghilang dalam sekejap dengan asap yang mengelilinginya. Nafasnya tidak teratur menahan marah. Buku-buku tangannya sudah memutih dan seluruh kulitnya memerah.

 

“Semuanya terjadi karena aku” Tuan Im menatap hamparan kaca pecah dibawah kakinya.

 

“Lebih baik kita semua berdo’a untuk Yoon Na anak kita, agar mendapatkan kehidupan yang layak selanjutnya” ucap Nyonya Im.

 

Sehun membawa tubuh Tuan Im untuk duduk di sofa dengan Nyonya Im. Yoona menatap kedua orang tuanya dan sehun bergantian. Matanya menatap langit lewat jendela di samping ranjang rawat Yoona.

 

Seiring berjalannya waktu dengan lembaran kehidupan baru yang Yoona jalani dengan Sehun beserta keluarganya melewati lika-liku kehidupan. Bahkan tidak terasa lima tahun terlewat setelah kejadian memilukkan di rumah sakit tempat Yoona di rawat.

 

Yoona tersenyum menatap balutan dress putih panjang di tubuhnya. Tangannya memegang erat kumpulan bunga indah yang siap ia lempar nantinya. Hari ini merupakan hari yang ditunggu oleh kedua pasangan yang menajalin kasih sejak Lima tahun yang lalu.

 

“Yoona. Appa dan Eomma akan kesepian tanpamu. Ternyata anakku sudah besar ya” Tuan Im mengelus surai rambut yoona.

 

Balutan tuxedo hitam yang membuat Tuan Im begitu gagah, tidak lupa dengan kacamata tebal yang terus menggantung di matanya. Nyonya Im yang nampak cantik dengan balutan dress panjang putih yang tampak simple ditubuhnya.

 

Yoona menggandeng lengan ayahnya berjalan diatas altar dengan senyum lebarnya semakin mendekat kearah Sehun yang akan menjadi suaminya. Sehun dan Yoona mengucapkan janji sehidup semati yang akan membuat keduanya melepas masa lajang.

 

“Selamat Yoona eonni dan Sehun oppa”

 

Pandangan mata Yoona bertemu dengan Calista yang berada jauh dengannya. Calista tampak seperti biasa dengan dress pendek putih dan rambut yang terkuncir dua. Disampingnya ada lelaki bernama Luhan yang memeluk pinggang Calista.

 

Yoona berlari turun dari atas altar menuju kearah pintu masuk, Yoona mendekap erat tubuh calista. Air mata Yoona terjun bebas membasahi pipi putih Yoona. Calita tersenyum lalu melepas dekapan Yoona dan menghapus air mata di pipi kakaknya dengan lembut.

 

“Kenapa kau baru menemuiku?”

 

Calista tersenyum menampilkan deretan gigi kecilnya. “Luhan oppa menangis pada ketua, memohon agar aku menjadi malaikat sepertinya. Dan berkat air mata buayanya aku ada disini. Tapi sebenarnya aku menjadi malaikat sudah lama. Dan aku sudah sering menemui kalian berdua. Tapi kalian tidak bisa melihatku”

 

Sehun datang mengampiri Yoona yang berdiri diambang pintu. “Hai cinta pertamaku. Bagaimana jika kau juga menikah denganku?” ucap Sehun dengan senyum manisnya, tangan kanannya terulur mengajak tangan Calista untuk digenggam.

 

“Boleh” ucap Calista dengan senyuman manisnya.

 

“YAKK!!!”

 

“YAKK!!!”

 

Luhan dan Yoona kompak berteriak menatap Calista dan Sehun yang saling menggam. Yoona berubah menjadi tersenyum menatap Sehun dan Calista di hadapannya.

 

“Ide bagus, sehingga aku terus bersama adikku. Aku dan adikku akan berbagi tugas untuk suami kita yaitu Sehun Oppa” Yoona tersenyum lebar dan menggandeng tangan Sehun.

 

Luhan langsung menarik tangan Calista menjauh dari Sehun dan Yoona “Gila. Calista itu milikku”

 

“Dasar overprotektif. Sehun oppa bagaimana nanti jika kita menculik Calista lalu kau menikahinya juga?”

 

Sehun mengangguk menyetujui ucapan Yoona. Jemari Sehun mengaitkan ke jemari Yoona mengucapkan janji untuk menculik Calista suatu saat nanti.

 

“Kami akan merestuinya juga” ucap Tuan Im yang tersenyum menggandengan isterinya.

 

Yoona menarik Calista dan memeluk Ayah dan Ibunya. Bodonya Luhan yang mau saja menanggapi obrolan bodoh Sehun dan Yoona. Sehun yang terus menggoda Luhan dan Luhan yang semakin panas dengan godaan Sehun.

 

-Semuanya bisa berakhir bahagia jika diselsaikan dengan saling terbuka dan jujur-

 

 

 

 

 

 

Entah main cast Yoona atau Calista dan aku suka dengan cerita keduanya. Mungkin aku lebih menjurus kearah Calista. Maafkan keterlambatan yang sangat lambat.

 

Maafkan typo yang tersebar bagaikan gelas pecah.

 

Sampai jumpa^^

4 thoughts on “[Freelance] Mianhae (Chapter 4/End)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s