(SQ) POISON LIPS 7

YOONA-POISON-LIPS-798798

AUTHORS : Firda Auliana

MAIN CASTS : Im Yoona X Park Chanyeol|

MINOR CASTS :– Lee Won Geun as Kim Yeol, KAI

GENRE : Fantasy,Romance| RATING : PG 17

Don’t be siders!

NOTE : Sebelum membaca ini di harapkan untuk membaca POISON LIPS awal.

******

01.00 AM

Yoona merasakan guncangan pada tubuhnya. “Yoong, Ayo ikut oppa ke Jerman” Soo Hyun terus mengguncang tubuh Yoona, membuat gadis itu mengeluh. Yoona bangun dari tidurnya dengan setengah nyawa, dirinya Vampire tetapi entah mengapa ia juga bisa mengantuk. Persetan dengan itu semua.

“Oppa, untuk apa kita ke Jerman? Besok aku sekolah” Yoona mengucek kedua matanya lalu menajamkan pandangannya menatap Soo Hyun.

“Oppa sudah mengirim surat izin untukmu kemarin. Bukankah kau ingin sekali ke Jerman? Kebetulan oppa mempunyai schedul di Jerman, sekalian saja kita berlibur”

“Oppa, sebentar lagi aku akan menghadapi ujian”

“Ujian mu masih lama Yoona. Anggap saja kita refreshing.” Yoona menghela nafas mendengar ucapan Soo Hyun.

“Baiklah, aku bersiap sia-“

“Kita akan langsung berangkat”

“Tidak mungkin aku ke sana tanpa koper dan pakaian-ku oppa”

“Aku sudah mengurusnya. Ayo cepat kita pergi, Sebentar lagi Pesawat akan take off” Soo Hyun menarik Yoona dari duduknya, membuat gadis itu berjalan mengikuti Soo Hyun dengan kesadaran yang masih minim.

2 jam perjalanan membawa mereka ke bandara incheon. Saat akan check in, Yoona merasakan semua tatapan mengarah padanya. Yoona tidak memperdulikannya, mungkin mereka hanya melihat Soo Hyun, yang berada di depan Yoona.

Saat berada di dalam pesawat, Yoona duduk di samping Soo Hyun. Kembali rasa kantuk menuntut Yoona untuk menutup mata kembali. Soo hyun hanya menggelengkan kepalanya melihat Yoona yang sudah tertidur di bahunya. Belum sampai 5 menit, Yoona kembali membuka matanya menatap dua orang yang berada di depannya.

Yoona menyipitkan matanya, lalu menggeleng kemudian menepuk pipinya.

“Aww! Oppa!” Yoona meringis merasakan cubitan keras di pipinya, itu ulah Soo Hyun yang gemas melihat tingkah adiknya.

“Aku berharap ini mimpi” Yoona menatap tajam keduanya. Chanyeol tersenyum, begitupun Kai. Yoona mendesis kesal, pria yang paling di hindarinya,kini berada di hadapannya dengan wajah mempesona itu. Damn it!.

“Kenapa kalian juga ikut?!”

“Aku juga ingin berlibur ke Jerman” ucap Chanyeol, ia kembali membaca bukunya. Kai hanya tersenyum masam.

“Aku ada urusan keluarga” ucap Kai seraya mendesah.

“Seharusnya kau juga ikut berlibur Kai. Aku ingin bermain denganmu” Yoona manyun.

“Aku bisa menamanimu” ujar Chanyeol. Yoona merotasikan bola matanya.

“Aku tidak ingin di temani olehmu, Kai tidak bisakah kau mengurusnya nanti?”

“Kai sangat sibuk Yoona. Aku yang akan menemanimu kemanapun kau mau”

“Tapi aku tidak mau dengan mu”

“Kau harus mau”

“Memangnya kau siapa?”

“Chanyeol benar Yoona. Aku mempunyai urusan yang sangat terdesak membuatku sangat sibuk hingga 1 minggu ke depan. Lebih baik kau di temani oleh Chanyeol.” Kai tersenyum meyakinkan. Yoona hanya mendesah kesal, gadis itu terus menatap Chanyeol yang masih membaca buku, bahkan saat ia berbicara,pria itu tidak meninggalkan pandangannya pada buku itu.

“Terserah!”

****

Setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam. Akhirnya mereka sampai di Bandara Frankfurt. Kembali semua pasangan mata menatap Yoona yang berada di depan mesin minuman. Yoona yakin dialah yang mereka tatap, bukan Soo Hyun ataupun orang lain. Mengingat Soo Hyun masih mengambil barang.

“Apa ada yang salah denganku?” Gumam Yoona.

“Kau bisa melihatnya sendiri” Yoona menoleh menatap Chanyeol yang bersender di samping mesin minuman itu. Yoona menatap sinis Chanyeol, memilih tidak menanggapi pria itu. Yoona memasukkan beberapa koin jerman, tak berapa lama satu kaleng coca cola telah jatuh, dan Yoona mengambilnya.

“Kau tidak ingin tahu, kenapa mereka menatap mu seperti itu?”

“mereka tidak menatapku.”

“Tahu dari mana?”

“Mereka pasti melihat orang lain. Aku bukan objek penarik perhatian”

“Sayangnya kau adalah objek penarik perhatian itu.” Chanyeol mendekat, tangannya bersedakap di dada. Ia membungkuk mendekatkan wajahnya pada Yoona, reflek gadis itu mundur. Chanyeol tersenyum, menatap wajah cantik itu.

“Piyama yang bagus sayang” Chanyeol tersenyum lebar menahan tawanya kemudian berlalu pergi. Yoona terdiam, otaknya masih mencerna perkataan Chanyeol. Sontak Yoona langsung melihat pakaiannya. Piyama rillakumanya.

“OPPA!!!!”

****

“Sudah lah Yoong, jangan cemberut terus. Wajahmu akan cepat menua” ujar Soo Hyun. Yoona mendelik kesal,  menuju kamar hotelnya. Sejak pulang dari bandara, Yoona terus mengoceh kepada Soo Hyun tentang piyamanya.

Soo hyun terus meminta maaf, tetapi Yoona terus saja mengoceh, membuat pria itu hanya menghela nafas.

“Ah memalukan!!” Teriak Yoona, gadis itu terus mengumpat sambil mendorong kopernya menuju kamar. Sesekali ia menghentakkan kakinya, mencoba menyalurkan kekesalannya ke lantai. Yoona menarik daun pintu kamar, menaruh kopernya di sudut ruangan. Yoona mencium sesuatu yang aneh, dengan cepat ia menyalakan lampu. Matanya menangkap sosok pria yang duduk di pinggir kasur dengan bukunya, lagi.

“Kenapa kau ada di sini?”

“Ini kamarku”

“Ini Kamarku, Tuan Park”

“Berarti ini kamarku juga”

“Silahkan cari kamarmu, sebelum aku mengusirmu”

“Untuk apa aku mencarinya? Ini adalah kamarku”

“Kau tidak lihat nomor kamar ini? Kamarku adalah 220, dan sudah ku Pastikan kau salah masuk kamar!”

“Kamarku juga 220”

What the fuck! Jangan membuatku marah Chanyeol. Sekarang keluar dari kamarku!”

“Kamar di hotel ini sudah penuh. Lagi pula kamar inilah yang terakhir”

“Apa peduliku? Itu urusanmu”

“Urusanku menjadi Urusanmu juga”

“Memangnya kau siapa?”

“Mantan dan Calon suamimu”

“Mantan hanya akan menjadi gelar terakhirmu”

“Calon akan menjadi gelarku untuk sekarang dan selamanya”

Yoona menghela nafas kesal, matanya kembali tidak dapat di ajak kompromi. Yoona berjalan menuju kasur  king size tersebut. Tubuhnya ia rebahkan memunggungi Chanyeol.

“Aku lelah, terserah dirimu ingin melakukan apa”

Chanyeol menatap sendu punggung Yoona. Ingin sekali ia meraih punggung itu, memeluknya, mencoba mengantarkan rasa hangat kepadanya. Walaupun ia tahu mahluk sepertinya tidak dapat bisa menjadi hangat dengan suhu tubuh dingin.

****

Yoona menghentakkan kakinya beberapa kali, sesekali ia melirik pria yang ada di belakangnya. Dengan kesal, Yoona berbalik. “Kenapa kau terus mengikutiku?”

Chanyeol menaikkan alis kirinya. “Apa? Siapa yang mengikuti mu? Aku hanya ingin berjalan-jalan”

“Aku tahu itu, tapi kenapa kau terus mengikutiku, di Jerman banyak wisata lain, jadi pergilah ke jalur yang berbeda.”

“Aku ingin ke toko buku. Bukannya kau juga ingin kesana? Jadi ayo kita bersama-sama ke sana”

“Bersama? Tidak akan! Kau bisa memakai jalaur lain Park Chanyeol. Asal jangan bersamaku”

“Memangnya jalan ini milikmu? Apa toko buku itu milikmu? Maaf nona Kim, anda tidak berhak melarangku”

Yoona menggeram kesal. “Terserah!” ia berbalik memasuki toko buku. Tatapan Yoona menyapu berbagai rak buku. Langkah dan tangannya mulai bergrilya mencari beberapa buku atau novel. Rasa jengkel yang tadinya berkelebat kini telah pudar saat Yoona mendapat buku yang cukup menarik perhatiannya.

Fake Wings

Pernahkah kau berada di takdir yang salah? Bahkan jika kau mempunyai sayap, kau hanya bisa berdiam diri di dalam sangkar. Apa ada yang bisa mengubah takdir itu? mungkin saja seseorang atau beberapa orang. Kau hanya harus menghadap ke depan, melawan kenyataan bahwa semua ini hanya permainan Tuhan. Mereka ada karna manusia. Manusialah yang membuat mereka ada. Semua berawal dari dirimu, sekarang maupun masa lalu.

Judul buku yang cukup memikat, sinopsis yang penuh misteri mampu menghanyutkan Yoona ke dalam buku tersebut. Chanyeol yang sedari tadi berada di belakang Yoona, hanya dapat memandang punggung gadis itu. Chanyeol tersenyum, pria itu melangkah, berdiri di samping Yoona dan mengambil sebuah buku.

Yoona menarik nafas lalu ia menghembuskan dengan pelan. Aroma musk masuk ke dalam hidungnya, aroma yang cukup membuatnya gila. Yoona menoleh, menatap Chnayeol yang tengah membaca buku.

Wajah tampan Chanyeol, membuat Yoona terdiam, mata indahnya mulai menelusuri wajah itu, dari alis, bulu mata, lalu mata tajamnya, hidung hingga-bibir. Yoona menelan salivanya, saat Chanyeol menoleh mendapati dirinya memandang wajah pria itu.

Mereka saling menatap, pria itu tersenyum seraya mendekat. Buku yang berada di genggaman Yoona terlepas begitu saja saat Chanyeol berada di depannya, menghimpit tubuhnya di rak buku tersebut. Yoona menunduk saat manik mata Chanyeol menatapnya intens. Chanyeol mengangkat dagu Yoona, menatapnya kembali, perlahan wajahnya semakin mendekat, menempelkan bibirnya ke bibir ranum gadis yang sangat ia cintai.

Yoona sontak membulatkan matanya, ini memang bukan ciuman pertamanya, tetapi entah bagaimana, rasa meledak itu muncul lagi. Rasa berdebar begitu kencang di dada Yoona, walaupun kini jantungnya telah mati, tetapi rasa itu benar-benar nyata.

Suara buku terjatuh menyadarkan Yoona dari rasa meledak itu. yoona mendorong Chanyeol menjauh dengan wajah memerahnya. yoona menundukkan kepalanya, berjalan menjauh, dengan langkah  cepat. membuat dirinya sendiri jatuh akibat tersenggol beberapa pejalan kaki.

Chanyeol menghentikkan tawanya, berlari cepat ke arah Yoona.

“Kau baik-baik saja?”

Yoona mengadahkan kepalanya menatap wajah Chanyeol. “A-aku baik-baik saja”

“Baguslah” gumam Chanyeol, ia mengulurkan tangannya mencoba membantu Yoona. Sedangkan Yoona hanya memandang tangan itu, ada tatapan ragu di dalamnya, pada akhirnya ia menyambut uluran tangan itu. Chanyeol langsung memeluk Yoona dengan erat. Yoona tersentak kaget.

“Kumohon jangan jatuh lagi. Aku tidak ingin melihatmu terluka” bisik Chnayeol. Yoona menunduk, menatap sendu tanah yang ada di bawah. Yoona rindu pelukan ini, ia rindu suara lembut ini.

“Aku harus memebeli sesuatu. Kau duluan saja” Yoona melepas pelukan itu. walaupun ia harus menjadi mahluk yang naif, walaupun ia sangat merindukan pria itu, walaupun ia harus jatuh ke lubang yang sama. Yoona hanya bisa menuruti takdir sesat ini.

“Aku akan mengantarmu”

Leave me alone

Chanyeol menatap Yoona kaget, ia hanya bisa diam melihat gadisnya pergi menjauh, meninggalkan dirinya.

****

Hari mulai beranjak malam. Suasana jerman cukup sunyi. Meninggalkan Yoona yang tidur dengan lelap di atas kasurnya.

“Bagaimana?” Chanyeol menatap puluhan lampu kota dari balkon kamar hotel.

“Para Dewan sudah memberikan keputusannya. Yoona akan mendapatkan hukuman mati. Mereka mulai mengerahkan para anggota mereka untuk mencari Yoona”

“Mereka masih mengejarnya? Apa kau sudah menghubungi keluarga?”

“Ya, mereka masih mencarinya. Aku belum memberitahu keluarga kita. Akan lebih baik kau pergi ke Alaska dan bicara dengan orang tuamu. Ingat Chanyeol, aku dan Soo Hyun hyung memberikan satu kesempatan untukmu untuk menjaga Yoona! Mengingat kaulah yang memulai ini, maka kau harus mengakhirinya. Jaga Yoona!”

Chanyeol menghembuskan nafasnya. “Tentu aku akan menjaganya, serahkan saja padaku”

“Baiklah,aku tutup dulu, masih banyak urusan yang harus ku urus.”

“Aku berharap banyak padamu Kai.” Setelah mengatakan itu, sambungan terputus. Chanyeol menatap rembulan yang berada di pencakar langit. Lalu pandangannya jatuh menatap Yoona yang tengah tertidur pulas. Chanyeol mendekat, berjongkok menyamakan tingginya dengan kepala Yoona.

Seulas senyuman terpatri di wajah Chanyeol. Sebuah penyesalan terlintas meninggalkan bekas yang cukup dalam di diri Chanyeol. Membayangkan wajah sedih berlinang air mata di wajah cantik Yoona, Chanyeol takkan sanggup. Tapi bayangan itu menjadi nyata saat melihat Yoona menangis karnanya.

Chanyeol terdiam, kerutan dan setetes air mata terlukis jelas di wajah Yoona.

“Chanyeol” lirih Yoona dalam tidurnya. Chanyeol menangis dalam diam, rekaman saat dirinya menyakiti Yoona kembali datang. Ada yang menggerakkan hati dan tubuhnya saat Yura menggodanya. Ia tau dia adalah pria berengsek, tetapi Cinta Chanyeol hanya untuk Yoona.

Sudah cukup Chanyeol merasa sakit dan kosong, saat Yoona me-reject nya. Seketika itu dunia Chanyeol runtuh. Bahkan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang takkan pernah bersatu kembali. Ia marah, kecewa pada dirinya sendiri, bahkan saat Chanyeol membunuh Yura tepat sepulang sekolah di hari pertamanya sebagai murid baru.

Chanyeol masih merasa hal itu belum cukup. Ingin rasanya Chanyeol menyiksa Yura terlebih dahulu agar ia tahu bagaimana persaan sakit di tinggalkan Yoona karna wanita jalang itu, tetapi hati nya berkata lain saat emosi memenuhi dirinya, Chanyeol langsung menggigit leher Yura hingga putus, tubuh Yura terbakar dan hanya menyisakan debuh kotor yang di bawah pergi oleh angin dunia.

“Sayang, ada apa?” yura bergelayut manja.

“Jauhi aku Yura”

“Kenapa? Aku mencintaimu oppa! Apa kau memutuskanku karna wanita murahan itu?”

“Jaga mulutmu Yura!”

“Cihh.. wanita murahan itu sangat mengganggu. Dasar jalang! Apa dia tidak sadar diri dengan posisinya?”

“Jangan menyebut istriku jalang! Seharusnya kaulah yang sadar diri akan posisimu. Karna kau, aku kehilangan istriku! Karna kekuatan bodohmu itu, dengan lancangnya mengontrol tubuhku. Apa kau gila?!”

“Ya aku gila, aku gila karnamu oppa. Lupakan wanita itu oppa, wanita kotor itu tidak pantas untukmu”

Chanyeol maju, tangan kirinya mencengkram leher Yura, rahangnya mengeras. Iris emas itu menatap tajam Yura yang tengah meronta.

“Kau mau membunuhku? Aku seorang Vampire murni oppa. Kau akan di hukum karna membunuh seorang vampire murni”

“Apa peduliku? Kau lupa dengan kekuasaan keluarga Park, kematianmu hanya akan menjadi kesenangan yang tak terduga untuk keluargaku. Sampah sepertimu memang pantas untuk mati!”

“Kau akan menyesal karna membela wanita kotor itu!”

Chanyeol menahan nafasnya, ia mengatup rahangnya keras. “JANGAN PERNAH MENGHINA ISTRIKU, AHN YURA!!” seiring teriakan amarah itu, tangan Chanyeol mengeras, wajahnya maju menggit leher Yura, lalu mencabiknya dengan agresif, hingga kepala wanita itu jatuh di rerumputan halaman Chanyeol. Tubuh itu menjadi abu dan hilang seiring angin yang menderu.

“Cukup sekali saja aku merasa betapa menyiksa kehilanganmu. Kau takkan pernah tergantikan Yoona, aku tidak akan melepasmu lagi”

“Aku harus mendapatkan hatimu kembali. Aku sangat menyayangimu Yoona, aku merindukanmu, aku membutuhkanmu. Aku tahu sayang itu takkan cukup untuk membuktikan padamu. Aku akan tunggu sampai kapan pun itu, agar Tuhan dan waktu mengatakan semua perasaanku” Chanyeol menangis dalam diam, ia menahan rasa sesak di dadanya. Rasa berdebar akan penyesalan terus menyelimutinya. Chanyeol mengatup rahangnya, berusaha akan isakan itu tidak keluar menganggu putri tidur ini.  Air matanya terus mengalir, mencoba menguraikan rasa sakit itu.

Sebuah tangan menangkup pipi Chanyeol, perlahan ibu jari tangan itu mengusap pipi pria itu, menghapus air mata yang mengalir sedih. “Jangan menangis Chanyeol. Kau hanya akan terlihat lemah.” Yoona berbicara pelan nan lembut, menenangkan Chanyeol.

Chanyeol tersentak kaget, rasa rindu itu meluap begitu saja. Sentuhan itu, tatapan itu, suara itu. Chanyeol tak dapat menahan dirinya, ia kembali menangis. Anggap saja Chanyeol adalah pria cengeng, tetapi apakah ada yang akan mengejeknya cengeng saat hati itu tengah berduka?.

“Aku minta maaf Yoona. Aku minta maaf. Aku menyakitimu, tolong maafkan aku. Aku sungguh menyesal, aku bodoh, aku berengsek, aku bajingan. Kau boleh menghajarku, kalau bisa, bunuh aku Yoona. Kalau itu bisa membuatmu terobati. Aku sudah menyakitimu Yoona, aku mohon maafkan aku. Aku mencintaimu Yoona, aku merindukanmu, hidupku kosong tanpamu Yoona. Aku mohon maafkan aku.. aku mohon”

“Hei.. Jangan menangis lagi. Ketampananmu akan berkurang” ucap Yoona. Ia duduk dari tidurnya, lalu menarik Chanyeol untuk tidur di sampingnya. Yoona membawa Chanyeol ke pelukannya, menepuk punggung pria itu dengan lembut. Isakkan itu masih terdengar, Yoona merasakan bajunya kini basah karna air mata. Yoona semakin mengeratkan pelukannya, sesekali Yoona mencium puncak kepala Chnayeol, memberikan ketenangan pada pria itu.

Tak bisa di pungkuri, Yoona merasa kembali sedih melihat Chanyeol. Rasa rindu juga kini berdesir di dalam tubuh Yoona. Hidunngnya mencium bau Parfum Musk Chanyeol, jujur saja parfum itu membuat Yoona nyaman.

“Kau tahu Chanyeol, memaafkan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Bila saja maaf itu mudah, mungkin banyak penjara yang akan kosong. Seperti kau menyakitiku, seperti itulah jalur kata maaf bagiku. Itu hanya akan mempersulit dirimu. Mungkin inilah akhir Chanyeol, kau dan aku tidak akan lagi bersatu. Anggap saja malam ini menjadi pelukan terakhir kita”

Chanyeol hanya bisa terdiam, rasa sesak mengalir ke seluruh tubuhnya, tangannya mulai mengeratkan pelukan itu. seakan inilah akhir bagi mereka. “tapi, biarkan aku menjagamu dengan nyawaku. Untuk terakhir kalinya”

DON’T BE SIDERS

 

32 thoughts on “(SQ) POISON LIPS 7

  1. Aaa.. Aku telat bacanya. Makin seru nih, and perkataan Chanyeol trakhr itu sungguh menyakitkan. Knp Yoona hrus mati? Wae? Ap krn chanyeol ngebunuh Yura? Msa krn itu? Thor, satukan kmbli Yoona ama Chanyeol yah. Next chap d’tnggu!! Fighting!

  2. makin seru ya chingu… daebak..
    itu kenapa jadi yoona yg dibunuh? apa karna yeol bunuh yura?
    next part semoga kejawab semua. kekeke

  3. Huwaaaaaaa kurang panjang thor 😭 Itu alasan yoona di bunuh apaan? 😱 Duuh jadi sedih pas di part terakhir nya,next thor jan lama2 fighting! 😁

  4. yoona dihukum apa karena chanyeol yg membunuh yura???atau karena yoona yg mereject chanyeol???
    penasaran sama alasan yoona harus dibunuh??😦

    smoga bukan sad ending pengennya happy ending…

  5. kenapa chanyeol mengatakan”biarlah q menjagamu dengan nyawaku,untuk terakhir kalianya”…apa yg akn trjdi ma yoona thor,sehingga chanyeol mengatakn itu?q harap yoona baik2 aja…lanjut thor q suka ff ini next..next..lanjutkan…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s