CALL ME BABY – CHAPTER DUA BELAS

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOONMAIN CAST :

SUHO (EXO),  IM YOONA (SNSD) OTHER CAST:

BOYBAND GROUP EXO, SEO YU NA (AOA) CATEGORIES :

ROMANCE, FRIENDSHIP LENGHT :

CHAPTER RATING :

PG-17

Credit:
Blithemee @ArtZone

OoO

maafffff……FF ini amat sangat terlambat update di karenakan kesibukan author dalam pekerjaan di dunia nyatanya …. ;( bahkan author gak bisa membalas semua komentar yang masuk dan kali ini akan berusaha sebaik mungkin demi para reader. Selamat membaca yaaaaa….

****

Konser EXO di Jepang berjalan sangat sukses dan membawa semua anggota member mulai serius menggarap album winter yang akan meluncur di awal Desember. Kesibukan itu memaksa Suho untuk melupakan suasana hatinya yang tak menentu akibat merindukan Yoona. Butir-butir salju yang terus turun ke bumi selalu mengingatkannya akan Yoona begitu juga Yoona yang hari bersalju itu hanya duduk diam di salah satu kursi di kafenya menatap jalanan Gimcheon yang mulai dipenuhi tumpukan salju.

Sudah berjalan sebulan sejak dia mengetahui keadaan dirinya yang sedang mengandung membuat Yoona menjadi lebih pendiam dari biasanya. Belum ada perubahan yang berarti dari bentuk tubuhnya sehingga tidak ada satupun orang yang menyadarinya bahkan Yu Na sendiri tidak menyadarinya. Namun Yoona tahu bahwa keadaannya yang belum diketahui itu bertahan lama. Perlahan tapi pasti dia bisa merasakan bahwa hari demi hari perutnya mulai melebar dan untuk tetap menjaga keadaan itu Yoona selalu memakai pakaian longgar dan kadang menumpuknya dengan dua lapis dengan dalih suasana cukup dingin.

Tetapi rasa mual masih selalu menyerangnya setiap bangun tidur pagi dan seperti pagi itu dia tampak menghela napas menatap jendela kafe. Tanpa sadar tangannya mengelus perutnya dan bergumam pelan. “Jangan membuat Eomma selalu muntah tiap pagi, nak. Yu Na Ahjumma akan curiga”.

“Kau terlihat lesu pagi ini”.

Yoona tersentak kaget ketika mendengar sapaan halus dibelakangnya. Rasa kagetnya membuat tangannya yang berada di bawah meja membentur sisi meja dengan tepat membuatnya meringis. Dia mengangkat pandang matanya dan mendapati Yi Fan tengah menatapnya dengan khawatir. Pria itu melihat bagaimana raut wajah meringis Yoona sambil memegang punggung tangannya yang nyeri.

Dengan reflek Yi Fan meraih tangan itu dan mengelusnya tanpa sadar. “Kau baik-baik saja? Kau tampak gugup. Apa kau sakit?”

Yoona menatap penuh terimakasih atas perhatian Yi Fan dan dengan halus menarik tangannya dari genggaman pria itu. “Aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut”, Yoona berkata dengan nada ceria dan menunduk sekilas untuk memperhatikan sweaternya yang lebar menutupi area perut.

Menyadari bahwa Yoona dengan halus melepaskan tangannya tidak membuat Yi Fan kecil hati. Pria itu dengan senyum hangatnya duduk dihadapan Yoona yang sudah bisa mengendalikan suasana hatinya.

“Apa malam ini kau mau menemaniku makan malam? Aku berencana akan kembali ke Amerika dua hari lagi. Kerjaanku di Korea sudah selesai dan akan membawa semua laporan ke kantor pusat. Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu ke Busan untuk melihat kota masa kecil kita dan terutama sekolah kita sewaktu SD tetapi waktunya sangat sempit sekali”.

Yoona memperhatikan bagaimana cerahnya wajah Yi Fan saat membicarakan masa kecil mereka di Busan membuat sekejab rasa bimbang yang mendera hati Yoona hilang sementara. Namun dia teringat bahwa malam nanti adalah jadwalnya untuk memeriksa kandungannya pada Dokter Ahn Ma Ri dan dia sudah membuat janji.

“Aku…..”

Yi Fan menangkap nada keraguan dari suara Yoona dan terlihat bahwa belakangan ini Yoona selalu terlihat gusar tiap kali dia datang menjenguk wanita itu. alisnya yang hitam berkerut dengan penasaran saat bertanya pelan pada Yoona.

“Apa yang sedang terjadi, Yoona? Apakah ada sesuatu yang membuatmu gusar?”

Yoona menatap lekat manik mata pekat Yi Fan. Pertanyaan pria itu membuat dada Yoona begitu sesak oleh rasa cinta tertahan pada orang yang dicintainya. Aku merindukan Junmyeon! Aku ingin dia tahu bahwa aku sedang mengandung anaknya! Namun bayangan akan kesuksesan karir yang dilalui Suho bersama EXO membuat Yoona membuat jauh gundah perasaannya.

Dengan tegar dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Yi Fan. Sebaliknya dia cepat mengalihkan pertanyaan pada pria itu. “Apa nanti malam aku boleh menentukan tempatnya?” sepotong senyum manis mengembang di wajah cantik Yoona.

Senyum indah itu membuat Yi Fan bernapas lega. Dia mengangguk dengan cepat dan menjawab dengan antusias. “Tentu saja! Aku akan membawamu kemana saja”. Kemudian dia mengedipkan matanya. “Meskipun agendanya justru aku yang minta ditemani olehmu”.

Yoon tertawa dan dia mengatakan apa yang ada di benaknya. “Ramen. Aku ingin makan di kedai ramen”. Ya. Dia ingin makan ramen di kedai dimana waktu itu dia dan Suho pernah melakukannya ketika pria itu masih menggunakan tongkat untuk menyanggah lututnya yang cidera.

****

Meskipun malam itu Yoona menemani Yi Fan makan malam di kedai ramen sesuai yang diinginkannya. Dia masih sempat menelpon praktek Dokter Ahn Ma Ri dan meminta jadwal periksanya lebih awal. Beruntung saat itu tidak terlalu banyak pasien sehingga Yoona tetap dapat menjalani pemeriksaan kandungan sesuai jadwal.

Di usia kandungan memasuki bulan ke 4, Yoona mengetahui bahwa perkembangan janinnya sangat baik. Dia mendengar bahwa di usia tersebut dimana janin mulai membentuk jaringan tangan dan kakinya. Meskipun saat dilakukan USG dia belum bisa mengetahui jenis kelamin anaknya, namun perkembangan yang dijabarkan Dokter Ahn Ma Ri membuat Yoona terharu.

Yoona memasang coat tebalnya saat keluar dari prakter dokter kandungan itu dan berjalan perlahan dengan tersenyum seraya mengelus perutnya. Perlahan dia bisa merasakan denyut halus pada dinding perutnya dan dengan girang dia berkata. “Aih…kau sangat sehat. Eomma ingin sekali Appamu mengetahui keberadaanmu tapi sayang sekali, dia sangat sibuk”. Saat mengucapkan itu ada setitik airmata meloncat dari pelupuk matanya.

Yoona menarik napas dengan panjang dan mengusap airmata itu dan menatap langit sore Gimcheon yang indah. Tidak boleh menangis, Im Yoona! Kau sudah berjanji pada dirimu sendiri! Dan karena kalimat itu dia melangkah dengan lebih santai. Tetapi dia terdiam saat melihat seseorang berdiri tepat didepannya.

“Eonni?”

Yoona tersentak dan sepotong nama terlontar dari celah bibirnya dengan kaget. “Yu Na-ah!”

Yu Na berjalan cepat mendekati Yoona. Dia seolah ingin menyakinkan wanita yang dilihatnya dari kejauhan tadi memang kakak sepupunya. Dia tepat berada di depan Yoona dan pandang mata bulatnya menatap sebuah titik di belakang Yoona. Pada sebuah klinik praktek kandungan yang hanya berjarak tak jauh dari mereka berdiri di mana tadi Yoona barusan keluar.

“Apa yang kau lakukan dari klinik di belakang sana, Eonni?”

Yoona memejamkan matanya sejenak. Dia dapat mendunga bahwa kemungkinan besar Yu Na telah melihatnya dari kejauhan sebelum gadis itu memanggilnya. Dia tidak menjawab dengan segera pertanyaan Yu Na dan hanya menatap gadis itu dengan tenang.

Tapi Yu Na tidak tenang. Dia sudah merasa cemas melihat hampir setiap pagi mendengar Yoona selalu muntah dia toilet. Dia ingin bertanya namun takut jika Yoona akan marah. Ada sebersit tanya dibenaknya namun selalu berhasil ditepisnya. Tetapi saat itu dia melihat Yoona keluar dari klinik kandungan itu membuat rasa panik yang dipendamnya selama ini muncul ke permukaan membuatnya mengguncang bahu Yoona.

“Bukankan itu klinik kandungan? Apa kau sakit, Eonni?”

Yoona meraih tangan Yu Na dan menggenggamnya dengan erat. Dia mencoba tersenyum memenangkan Yu Na yang terdengar panik. “Ayo kita pulang. Kita bicara di rumah”.

“Bicaralah, Eonni…apakah kau sakit…”, nada suara Yu Na mulai bergetar. Ada genangan airmata di sepasang mata yang biasanya berbinar jenaka itu.

Yoona meremas halus tangan Yu Na yang terasa dingin dan dia yakin itu tidak disebabkan dari udara bersalju saat itu. “Aku tidak sakit dan dapat kupastikan aku dalam keadaan sehat…”

“Tapi…”

“Kita bicarakan di rumah”.

****

Yu Na hanya bisa terpaku diam ketika mendengar penuturan Yoona yang lembut. Saat itu mereka sedang berada di kamar Yoona saat wanita itu sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi memenuhi janjinya menemani Yi Fan makan ramen malam itu. Yu Na seakan berada di dalam mimpi saat kata demi kata meluncur dari bibir Yoona. Nada suara wanita itu begitu tenang dan teratur sehingga Yu Na dapat memahami dengan jelas apa yang terjadi. Yoon sedang dalam keadaan hamil 4 bulan dan itu adalah benih dari Suho.

Yoona mengakhiri penjelasannya dan hanya menunggu reaksi Yu Na. Yu Na terlihat shock dan hanya mampu terdiam menatapnya. Yoona tidak ingin memaksa Yu Na untuk mengeluarkan pendapat apapun atas apa yang dialaminya. Semuanya telah terjadi dan dia hanya bisa menjalaninya saja. Apalagi Yoona mencintai anak yang dikandungnya.

Yu Na mencoba menahan jatuhnya airmata dari pelupuk matanya dan mencoba bersikap setenang Yoona. Dengan suara bergetar dia bersuara, “Sekarang apa yang akan kau lakukan, Eonni?”

Yoona meraih syal rajut dari dalam lemari dan melingkarinya pada leher jenjangnya. Dia mengatur sedemikian rupa blazer rajut pada tubuhnya sehingga bagian perutnya yang mulai tampak membesar tidak terlihat. Yoona tersenyum manis. “Aku tetap akan melahirkannya dan membesarkannya.”

“Sendirian?” tanya Yu Na dengan nada tinggi. Dia bangkit berdiri dari duduknya dengan alisnya yang berkerut. “Suho Oppa harus tahu!”

“Tidak perlu.”

“Eonni!”

Yoona menatap Yu Na dengan matanya yang bening dan mencoba menahan sedu sedan didadanya. Dia menggelengkan kepalanya dan menjawab tegas. “Tidak akan.” Yoona mengikat ujung syalnya dan berjalan menuju pintu keluar. “Aku tidak akan memberitahukannya apapun. Aku tidak ingin menghalangi kariernya.”

Yu Na menatap punggung Yoona yang telah berlalu. Dia kembali duduk di ujung ranjang Yoona dan kali ini airmatanya tumpah. Dia mengusap sudut matanya dan bergumam tidak puas, “Tapi ini tidak adil bagimu, Eonni.”

Mengetahui bahwa Yoona telah pergi bersama Yi Fan, Yu Na kembali ke kafe dan melayani beberapa manula yang datang bersama dua orang karyawan kafe. Dia berharap bahwa selama Yoona mengandung sendirian tanpa suami, kakak sepupunya itu tidak mengalami gunjingan masyarakat.

Selama berada di meja kasir, Yu Na hanya bisa menopang dagunya dan berpikir keras agar ibu Yoona tidak mengetahui kondisi Yoona. Paling tidak sampai Yoona Eonni melahirkan. Yu Na begitu serius memikirkan masa depan yang akan dihadapi Yoona sehingga dia tidak sadar bahwa di hadapannya telah berdiri seorang wanita separuh baya yang masih terlihat cantik. Ketika wanita itu memanggilnya, Yu Na terlonjak kaget dan membuyarkan segala lamunannya.

“Ya. Anda di meja nomor berapa?” tanya Yu Na dengan cepat sambil mempersiapkan mesin kasir.

Terdengar suara tawa renyah di depannya yang membuat Yu Na mengangkat pandangannya. Bola mata Yu Na membesar seakan siap meloncat dari tempatnya ketika dia mengenali siapa yang tengah berdiri di depannya. Karena perasaan tidak siap untuk bertemu membuat Yu Na mendorong kursi yang didudukinya ke arah belakang.

Wanita itu tertawa lebar. “Kau masih saja ceroboh, Yu Na.”

Yu Na memajukan tubuhnya ke depan meja kasir untuk melihat dengan jelas. Dia tidak ragu lagi bahwa wanita yang tengah tertawa di depannya adalah Ibu dari Yoona yang datang dari Busan.

“Soon Ah Ahjumma!”

****

Yi Fan sangat menikmati mie ramen yang di makannya bersama Yoona malam itu. Pilihan wanita itu sangat sesuai dengan cuaca dingin malam itu. Kuah ramen yang panas terasa hangat memasuki perutnya dan dia merasa yakin bahwa dia akan merindukan ramen setelah kembali ke Amerika.

Yi Fan menatap Yoona yang duduk di depannya. Cukup lama dia menatap wanita yang dicintainya selama bertahun-tahun itu dan mencoba menyimpan kenangannya selama di Gimcheon yang dilaluinya bersama Yoona.

Kalimat Yi Fan yang tiba-tiba membuat Yoona terdiam. “Seperti apakah pria yang berhasil membuatmu jatuh cinta seperti ini?” tanya Yi Fan tenang.

Yoona menghentikan sejenak gerakan sumpitnya dan menatap manik mata pekat milik Yi Fan. Sekejab dia teringat akan sorot mata lembut lainnya yang berada di Seoul. Mata yang bersinar tenang dan selalu membuat hati Yoona terasa hangat. Seolah menyadari suasana hati Yoona, janin yang berada di dalam tubuhnya terasa berdenyut menembus dinding perutnya.

Yoona mengerjabkan matanya dan tersenyum manis pada Yi Fan. Dia menunduk sejenak dan menghela napas. “Dia pria yang sangat lembut dan pantang menyerah. Dia selalu berjuang keras untuk memenuhi kewajibannya.” Yoona menatap Yi Fan dengan lekat. “Pria itu telah membuatku jatuh cinta.”

Yi Fan membalas tatapan mata bening milik Yoona. Sepasang mata itu terlihat tanpa ragu saat mengatakan semua kalimat itu. Yi Fan menunduk menatap ramennya yang hampir habis. Tak ada dirinya di dalam hati Yoona. Bahkan secui namanya tak singgah di sana.

Yoona tidak ingin berkata apapun karena dia tahu kalimatnya barusan membuat Yi Fan merasa terluka. Dia segera menghabiskan ramennya dan mulai mengatakan ingin menemani kemana saja yang diingini oleh Yi Fan.

Tidak ingin bersikap lemah dan patah hati, Yi Fan mengatakan bahwa dia ingin melihat keramaian ferstival di tepi sungai Gimcheon yang selalu diadakan tiap musim dingin. Yoona setuju akan permintaan itu dan mereka menuju tujuan mereka selanjutnya.

Sementara di Seoul, Suho dan member EXO lainnya bekerja keras untuk menyelesaikan album Winter mereka yang akan segera release. Hampir tidak ada kesempatan bagi siapapun dari mereka untuk memikirkan selain album tersebut. Mereka pulang ke dorm ketika menjelang tengah malam dan kesempatan itu di manfaatkan bagi para member untuk tidur.

Hanya Suho yang selalu tidur lebih larut dan menatap langit malam yang gelap. Di genggamannya selalu berada ponselnya dan dia akan menatap benda itu berlama-lama. Menatap foto-fotonya bersama Yoona saat berada di Gimcheon.

****

Yoona dan Yi Fan tiba di rumah Yoona pada saat salju kembali turun dengan perlahan. Syal Yoona tertinggal di bangku penumpang dan Yi Fan meraihnya. Yoona merasa embusan angin malam itu menerpa kulitnya dan akan mengambil syal di tangan Yi Fan.

“Terima kasih,” ucapan Yoona terhenti di udara ketika dia melihat Yi Fan bergerak secara tiba-tiba.

“Aku pasti akan merindukanmu, Yoona.” Yi Fan melingkarkan syal itu di leher Yoona dan menunduk menatap manik mata Yoona. “Dan aku tak kan pernah bisa melupakan cintaku padamu.”

Mereka bertatapan dengan lekat. Yoona memegang ujung lengannya dan menahan airmata yang siap runtuh. Dia dapat merasakan rasa cinta yang amat besar dari Yi Fan terhadap dirinya. Dengan bibir gemetar, Yoona bersuara. “Maafkan aku….”

“Yoona-yah!”

Yoona kaget saat mendengar seseorang meneriaki namanya dengan lantang dan bernada ceria itu. tanpa sadar dia mencengkram lengan baju Yi Fan dan menoleh dengan perlahan. Yi Fan dapat merasa bahwa Yoona mencengkram lengan bajunya dengan erat mencoba memperlajari wajah wanita itu yang pucat seketika.

Melalu atas kepala Yoona dia mencoba melihat siapa yang memanggil nama Yoona demikian girang. Dia bisa melihat seorang wanita setengah baya berlari ke arah mereka. Yi Fan mendengar suara lirih Yoona.

“Eomma…”

TBC

22 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER DUA BELAS

  1. uaa akhirnya d update walau agak pendek.
    qq udah nunggu ampe lumutan nie ff pling qq tggu” dr skian ff yg ada.
    jd sedih yoona hamil 4 bulan trus nti klo perutnya tmbah besar gmna donk ???? thor please ktmuin yoona ma suhoo.
    pkoknya d tggu update soonnya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s