Judge – 1 [ no limits sequel ]

1016

by Pimthact

Chanyeol – Yoona – Sehun

sequel of No Limits

poster by Liarground @artfantasy

Dont say that. My Mom is the best girl i ever have. It’s better than doesnt have mother like you.” Yoona memang sudah keterlaluan, tapi gadis itu memiliki batas kesabaran nya disini.

Shut up, Bitch!” Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Yoona.

Go ahead, judge me. But this time, i won’t care anymore.” Setelah mengatakan itu, Yoona langsung berlari sambil menahan tangis. Merasakan semua rasa sesak didadanya menguap dan melebur ke seluruh tubuhnya, sehingga seluruh tubuhnya lumpuh oleh rasa sakitnya.

Chanyeol sendiri berteriak. Menahan rasa sakit yang kembali lagi dan semakin meruntuhkan semua yang ia miliki. Ia jatuh.

….

Gadis itu menatap pantulan bayangannya di cermin. Kemudian ia menyeringai. Wajah kusam dengan kantung mata juga rambut yang berantakan membuatnya terlihat seperti orang tak terawat. Cermin itu seperti mengejeknya. Bayangan gadis cantik dan ceria berubah menjadi nenek sihir yang tak memiliki tujuan hidup.

Tidak, dia tak memerlukan pendapat wajahnya sekarang dari cermin tersebut seperti cerita Snow White atau menunjukkan akting sedihnya dalam cerita Rapunzel. Dia tak membutuhkan itu. Dia hanya membutuhkan sebuah tangan untuk menariknya dari gua yang gelap dan sempit menuju samudra yang sejuk dan luas. Membiarkan perasaan sakit itu mengalir jauh mengikuti deras nya jalan samudra. Namun, perasaan itu masih disini dan membuatnya terhimpit.

Gadis itu kembali melihat pantulan nya di cermin. Lalu ia mengambil ponselnya dan melemparkan benda elektronik itu kearah cermin. Cermin besar nan tinggi itu pecah menjadi berkeping-keping. Gadis itu tak peduli dengan pecahan cermin yang mengenai anggota tubuhnya. Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit yang memotong hatinya menjadi berkeping-keping.

Ia tersenyum. Tak ada lagi yang mengejek penampilan nya kali ini. Meskipun cermin itu tak berbicara, ia tau bahwa cermin itu melihat dirinya sebagai mahluk paling mengerikan didunia. Cermin itu tertawa melihat penderitaannya. Cermin itu menjadi saksi kehidupannya dan menusuk nya seolah cermin itu bersikap naif. Memuji dirinya kemudian menertawakan dirinya. Munafik.

Gadis itu berteriak. Ia kemudian menendang pecahan-pecahan kaca tersebut. Darah menetes dimana-mana akibat perbuatan nya. Ia tertawa, memikirkan betapa menyedihkan dirinya.

Suara besar itu terdengar lagi. Tangan nya meraih rajutan kain putih kemudian menutupi dirinya menggunakan kain itu. Ia takut, seolah semuanya berbuat jahat kepadanya. Seakan-akan semua suara itu ber kalimat sama dengan apa yang dia katakan.

Kayu jati itu menjeblak terbuka. Menampilkan lelaki jangkung dengan wajah pucat juga panik. Lelaki itu langsung menghambur. Sama seperti gadis muda itu, lelaki itu berlari tanpa memikirkan pecahan kaca yang mungkin sudah membuat luka disekitar kakinya. Namun ia tak peduli, Gadis yang berada dihadapan nya lebih menyedihkan ketimbang luka di kakinya.

Gadis itu mengulas senyum. Iris madunya tampak lebih terlihat seperti anak kecil yang dibuang ketimbang seorang gadis yang tersenyum bahagia. Matanya bertemu dengan pure hazel yang nampak memancarkan kekhawatiran. Badan nya yang lemah tak ber energi langsung direngkuh oleh lelaki itu. Lelaki itu tau, bahwa tubuh lemah itu membutuhkan nya.

Gadis itu diam. Tak mengucapkan sepatah kata apapun juga tak melakukan hal apapun.

“Menangislah,” sahut lelaki itu, “kau boleh juga memukul ku sesuka hatimu. Apapun yang membuatmu bisa merasa lebih baik.”

Gadis itu tertawa sinis. Dia sudah terlihat lemah, menyedihkan, dan menakutkan. Ini sudah diambang batasnya, dan ia tak bisa terlihat lebih menyedihkan lagi. Ia malu, lelaki pucat ini yang menjadi saksi wajah buruk rupa nya. Bagaimana jika lelaki ini memberi tau teman-nya bahwa ia memiliki wajah seperti ini. Ini akan merusak image nya.

Persetanan dengan itu semua, ia tak peduli.

Gadis itu menutup matanya. Merasakan buliran hangat itu sekali lagi menjelajahi wajahnya. Merasakan perih nya ketika buliran itu mengenai luka nya.

Ia tak pernah terlihat sebodoh ini. Dimana jati dirinya yang selalu berusaha keras menjadi orang cerdas dan selalu terlihat menjadi terbaik dihadapan orang yang ia sukai.

“Dunia kejam, ya, Sehun?” suaranya parau dan serak. Bahkan terdengar begitu hampa dan lemah.

Lelaki itu, Sehun- merengkuh gadis itu lebih erat. seolah Sehun juga merasakan apa yang gadis itu rasakan. Sehun mengelus rambut gadis tersebut. Sehun tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ia tak pernah turut bersimpati terhadap seorang gadis. Apalagi gadis semacam Yoona.

“Hey, i’ll promise i will protect you. And i never leave you,” 

Yoona menangis lebih keras. Perkataan itu begitu mendesak nya dan membuka matanya. Lelaki pucat itu hanya berkata namun memberi janji. Memberinya sebuah pegangan yang dapat menariknya dari dasar gua.

“Tell me, What happening.” Tanya Sehun ketika tangisan Yoona sudah mereda.

Yoona menatap mata Sehun. Pure Hazel itu menyakinkan nya. Membuatnya hangat dan merasa terlindungi. “Im sick of feeling. Is there anything you can say? Take all this away. Im suffocating. Tell me what the fuck is wrong with me?”

Who?”

Him. always.” Yoona tersenyum. Senyum yang belum pernah Sehun lihat seumur hidupnya saat bertemu Yoona. Senyum itu seperti senyum Yoona biasa, tapi tak ada sinar di matanya, karena sinar itu meredup. Bersamaan dengan air matanya yang masih menetes sedikit demi sedikit.”

Sebelum Sehun sempat berkata, Yoona sudah menutup wajahnya lagi di dada bidang Sehun. Sehun sendiri merasa tak tau harus melakukan apa karena ini pertama kalinya ia menghadapi kegalauan wanita.

I..im sorry, i’m not good enough.” Sahut Yoona yang langsung mengusap air matanya yang jatuh. Yoona masih berusaha tersenyum dihadapan Sehun. Dan itu membuat Sehun merasa iba pada gadis itu. Bagaimana bisa Yoona disakiti seperti ini. Dan Sehun yakin ini adalah ulah Chanyeol. Masa bodoh dengan apa yang lelaki itu lakukan, tapi yang pasti, Sehun tau pasti Chanyeol sudah berada diluar batas.

“Jangan pernah mencoba tersenyum di depanku jika kau merasa sakit, jangan pernah membuatku tidak perhatian padamu padahal aku sangat meng-khawatirkan mu. Jangan pernah memaksa terlihat baik padahal kau butuh sandaran, Jangan pernah merasa jatuh karena aku disini. Bahuku siap untuk menyandarkanmu, mendengarkan keluh kesahmu. Dan aku selalu berada di belakangmu.  Selalu memegang pundakmu jika kau goyah sedikit saja.” Sehun menutup matanya. Apa yang ia katakan, semuanya bukan lah berasal dari otaknya yang tak pernah mengijinkan nya mengatakan hal super manis itu kepada gadis ini.

Ini dari hatinya, dari dalam hatinya.

Tangisan Yoona bertambah keras ketika Sehun mulai mengelus kepalanya. Yoona sekarang bahkan sudah segukan karena tangisnya yang tak mau berhenti. Entah mengapa ia tenang bersama Sehun, ia memecahkan apa yang ia rasa kepada lelaki itu, meski tanpa kata-kata.

“Ch..Chanyeol,” Sehun menahan nafasnya. “He break my limitsFucking dude, aku tak tau dia punya omongan busuk sehingga bisa merendahkan keluargaku. He said me and my mom bitch, Oh Sehun!! Bitch! WHAT THE FUCK!!” 

Sehun cukup terkejut ketika Yoona sedikit memukul dada bidangnya. Mungkin Yoona benar-benar sedang berada dalam amarahnya. Tapi untuk mengumpat dengan berteriak, Sehun tau bahwa Yoona benar-benar merasa direndahkan dan dia tak menerima hal itu.

Tapi di sisi lain, Sehun tau apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Sehun mengerti bahwa Chanyeol bukanlah tipikal lelaki yang suka berkata kasar kepada perempuan, karena lelaki itu mengatakan semua gadis akan berwajah sama dengan ibunya ketika Chanyeol bersiap berkata kasar kepada para gadis itu. Maka dari itu Chanyeol tak pernah berani berkata kasar karena ia sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun. Dan Sehun yakin Chanyeol sedang stress memikirkan olimpiade nya yang sama dengan lomba basket nya. Chanyeol memang kadang tidak suka diganggu dan merasa marah jika ia sedang stress.

Tapi untuk kali ini, ini bukan Chanyeol.

“Aku lelah, Sehun.” ungkap Yoona.

“Sudah seharusnya kau tidak memperjuangkan dia lagi, Yoona.  Masih banyak lelaki diluar sana yang memperjuangkan mu. You have to realize.” hibur Sehun.

Yoona  terdiam dan tak mengatakan apapun. Pikiran nya sedang bercampur aduk, semuanya terasa berputar-putar mengelilingi Yoona. Dari semua yang berada dipikiran nya, hanya satu wajah yang menjadi masalahnya. Yaitu Chanyeol.

Sampai matanya bertemu lagi dengan Sehun. Tatapan itu menghangat lagi dan membentuk sebuah lengkungan, “Mau berjalan-jalan?”

Yoona mengangguk dan segera membenarkan tampilan nya.

….

Angin musim semi tidak terlalu membuatnya merasa baik. Semuanya masih terasa dingin dan tak berperasaan. Bahkan gugur nya bunga yang selalu membuat hatinya terlonjak, sekarang tak terasa apapun. Perasaan nya masih diam dan menutup. Membiarkan masalah itu beradu didalamnya dan memberi rasa sakit padanya.

Sehun berjalan kearah nya. Lelaki itu membawa dua cappucino hangat yang tadi ia tawarkan. Sehun tampak begitu sempurna saat ia berjalan dibawah bunga yang berguguran. Lelaki itu nampak hangat juga manis dengan sweater hitam dan celana biru gelap yang panjang nya hanya selutut. Tak salah jika beberapa pengguna jalan yang melewatinya berdecak kagum.

Melihat sosok Sehun, Yoona jadi ingat apa saja yang ia katakan kepada Sehun saat lelaki itu menghiburnya. Bukannya merasa malu, Yoona malah merasa bebannya sedikit terangkat. Ia tak habis pikir bagaimana lelaki yang pendiam, cuek dan penuh misteri itu bisa berubah menjadi seorang malaikat tampan yang katanya berjanji untuk melindunginya.

Sehun merasakan sejuknya suasana disekitar sini. Matanya kemudian menangkap keberadaan Yoona. Dan ternyata, gadis itu sudah lebih dulu menatapnya.

Namun tatapan itu tak terbaca sama sekali. Seperti melamun, tetapi tatapan gadis itu selalu mengikutinya.

Berpikir bahwa lelaki itu gila karena gadis itu mampu membuatnya takluk. Sehun berhenti ditempat. Apa yang ia lakukan dimulai dari memeluk Yoona sampai membelikan kopi untuk gadis itu adalah sebuah tidak refleks atau murni yang berasal dari tubuhnya-juga kemauannnya. Ia ingat rasa panik itu datang ketika ia mendengar suara barang yang pecah juga perkataan pekerja rumah Yoona.

t..tolong, agashi, nona Yoona!”

Ucapan itu seakan menjelaskan semuanya. Dan terlebih rasa kaget Sehun saat melihat keadaan Yoona. Ia tak pernah melihat gadis itu begitu hancur.

Sehun saat melihat keadaan Yoona. Ia tak pernah melihat gadis itu begitu hancur. Dan entah dorongan darimana Sehun meemluk Yoona dan berjanji pada gadis itu bahwa ia akan melindunginya.

Dan lebih gilanya lagi Sehun menenangkan Yoona dengan mengatakan semuanya baik-baik saja setelah Yoona mencurahkan semuanya. Ia tak pernah berbuat seperti ini pada gadis manapun. Ia tak memiliki tipe playboy atau perhatian kepada gadis-gadis seperti Kai atau Chanyeol. Dia seorang yang dingin dan tak berperasaan.

Tapi Yoona mengubah itu.

Dan Yoona berbahaya untuknya.

Sehun kembali melanjutkan langkah nya untuk duduk di sebelah Yoona. Sehun tersenyum dan memberikan cappucino panas kepada Yoona. Gadis itu mengulas senyum setelah berterima kasih pada Sehun.

“Maaf merepotkan.” Sehun menoleh. Menatap gadis itu yang ternyata sudah menatapnya terlebih dahulu. Yoona tidak tersenyum atau menunjukkan antusias nya, ia hanya terlihat sedikit lebih hangat dari yang tadi. Dan itu membuat Sehun cukup lega.

“Tidak sama sekali,” sahut Sehun diikuti dengan kekehannya. Berusaha membuat suasana lebih cair.

“Aku salah,” Sehun terdiam. “Kupikir setiap orang bisa kubaca lewat sifat mereka atau wajah mereka, namun aku salah. Orang yang kukejar selama ini, berharap untuk bisa mendapat balasan darinya, ternyata tak memiliki norma dan moral. He such a —“

“Hey.” Sehun menyahut setelah mengetahui bahwa Yoona menggenggam tangan nya sendiri. Wajahnya kembali memerah menahan amarah.

Yoona akhirnya meneteskan air matanya. Ia terkekeh. Gadis itu tertawa sesaat liquid bening jatuh dari kelopak matanya. Sehun tak bisa menahan lagi untuk menggenggam tangan Yoona.

I really.. Am just trying to laugh to cover the tears,” Yoona lagi-lagi tertawa. Ia tak bisa menahan rasa sakit yang berkecamuk di hatinya. Rasa sakit itu membuat Yoona merasa kalah. Semangat gadis itu tak bisa mengalahkan rasa sakit nya. “Fuck off. This shit killing me slowly.”

Sehun menutup matanya, merasakan amarah Yoona yang membawa. Ia kemudian menaruh cappucino nya dan memegang kedua pundak Yoona. “Hey, it’s ok to be a glowstick. Sometimes we need to break before we shine.”

Yoona terdiam. Namun dengan sekali hentakan, Yoona sudah memeluk Sehun erat. Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada dada Sehun. Lelaki itu terdiam, belum membalas perlakuan Yoona. Karena ada hal yang lebih penting dibanding membalas perlakuan Yoona yaitu menenangkan jantung nya yang sudah tak karuan.

“Sehun,” Sehun membalas tatapan Yoona. “Kenapa?”

Sehun tau maksud Yoona. Yoona menanyakan alasan mengapa Sehun disini. Mengapa Sehun menggenggam erat tangan Yoona. Dan mengapa bibir Sehun terasa kelu untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu. “Untuk temanku.”

Yoona menatap Sehun bingung.

Sehun menelan saliva, “Aku merasa bersalah karena sikap Chanyeol kepadamu. Jadi aku yang akan bertanggung jawab.”

Yoona mengangguk sebagai jawaban, “Lalu apakah gadis sebelum nya yang Chanyeol sakiti juga seperti ini? kau hibur seperti ini?”

Sehun mati rasa. Yoona memang dari dulu selalu pintar berbicara dan sekarang Sehun korban dari kecerdasan Yoona. Mungkin seharusnya sekarang Sehun berpura-pura sakit perut dan langsung pulang kerumah tanpa mengabari Yoona lagi. Tapi Sehun tak sekonyol itu.

“Kau satu kelompok denganku. Aku tidak mau tugasnya berantakan.” tukas Sehun.

Yoona mengangguk sambil tersenyum tipis-begitu tipis. “Terima kasih.”

…..

Yoona mengerjapkan matanya. Ia membuang nafas kasar. Berapa kalipun ia mencoba fokus, selalu gagal. Materi yang dibawakan guru Kang sama sekali tak ada yang masuk dalam otaknya. Padahal guru Kang adalah guru favorit Yoona karena materi yang dibawakan oleh guru Kang selalu dapat dimengerti dengan mudah oleh Yoona.

Sehun sadar akan hal itu. Karena pandangan nya tak lepas dari gadis itu. Entah mengapa, Sehun susah melepaskan pandangan nya dari Yoona untuk fokus pada pelajaran. Atau memang-duh, kapan sih Sehun bisa fokus pada pelajaran? 

Guru Kang menyadari ketidak fokusan Yoona. Dan lelaki paruh baya itu merasa terganggu karena Yoona termasuk murid favoritnya.

Lagi- dan lagi Sehun menyadari tatapan guru Kang pada Yoona. Maka dari itu, lelaki itu tak bisa diam saja. Sehun menggulung sebuah kertas dan melemparkan nya pada Yoona. Saat kertas yang Sehun lemparkan mengenai kepala Yoona, gadis itu langsung mengelus kepalanya dan mencari tau siapa pelaku yang melemparkan kertas padanya. Saat Yoona menengok kebelakang, Sehun sudah melambaikan tangan sambil tersenyum.

Yoona menatap Sehun sengit, kemudian gadis itu melakukan hal yang sama seperti Sehun. Yoona merobek kertas dan menggulungnya, kemudian ia lemparkan gulungan kertas tersebut pada Sehun. Sehun berdesis, namun sebelum Sehun sempat membalas, seruan guru Kang terlihat seperti neraka di telinga Yoona.

“YOONA! SEHUN! KELUAR KALIAN DARI KELAS SAYA DAN JANGAN MASUK SEBELUM PELAJARAN SAYA SELESAI!”

Yoona membulatkan matanya. Begitu pula dengan ketiga sahabatnya.  Bahkan Jessica kaget bukan main ketika teman nya yang super pintar itu bisa terkena seruan dari guru Kang. apa-yang-kau-perbuat? Yoona menggigit bibirnya ketika melihat Yuri berkata padanya tanpa suara. Yoona merasa begitu malu karena ini seperti atmosfer baru baginya-karena semua mata tertuju padanya. Mungkin mereka akan berpikir mana-mungkin-si-juara-kelas-mendapatkan-hukuman-setara-dengan-Sehun.

Yoona tak mengatakan apapun. Ia kemudian berdiri dan langsung keluar dari kelas, disusul Sehun yang berada dibelakang nya. Mereka berdua berjalan tanpa tau arah. Sebenarnya hanya Yoona saja yang tak tau arah, karena Sehun berada di belakangnya-bermaksud mengikutinya.

Yoona berhenti, begitu juga dengan Sehun. Gadis itu berbalik badan menghadap Sehun.

“Apa yang kau perbuat tadi benar-benar membuatku malu.” ketus Yoona.

Sehun membalas dengan menatap sengit gadis itu, “Hey, aku tidak meminta mu melempar balik kertas tadi. Aku hanya memperingatkanmu karena daritadi guru Kang melihat kearahmu.”

“Jadi kau memperhatikan-ku?” goda Yoona.

“Terserah.” Sehun melongos pergi dari Yoona. Ini adalah alasan yang sederhana kenapa Sehun langsung meninggalkan Yoona, pipi lelaki itu menghangat.

….

Chanyeol berjalan gontai ke arah perpustakaan. Ia dihukum oleh guru Kim karena tidak mengikuti pelajaran karena beralasan sakit perut. Tapi bukannya malah bertahan di UKS, Chanyeol melongos pergi ke lapangan belakang untuk bermain basket. Tapi dia ketahuan oleh temannya, dan sebagai hukuman, ia harus mengambil beberapa buku sejarah yang ada di perpustakaan. Buku-buku itu kemudian harus ia berikan pada teman-teman setelah pelajaran selesai untuk mengerjakan tugas kelompok.

Ruang perpustakaan terasa dingin. Hembusan angin yang dikeluarkan lewat air conditioner membuat bulu Chanyeol berdiri. Dia membenci hawa dingin, apalagi musim dingin. Membenci ketika ia harus menggunakan pakaian tebal dan banyak agar ia tak terbunuh karena hipotermia.

Jadi Chanyeol bergegas mencari buku-buku itu. Ia berlari menuju rak-rak dimana terdapat tulisan “sejarah” pada rak tersebut. Ia kemudian memilah-milih buku mana yang tadi dipinta oleh guru Kim. Namun tanpa sengaja, Chanyeol menjatuhkan buku-buku yang membuat kegaduhan dalam hening nya perpustakaan. Ia meruntuk karena buku-buku yang ia jatuhkan rata-rata buku yang tebal atau besar.

Ia duduk di lantai sambil menata buku itu dengan baik. Untung nya, tidak ada yang mampir ke lorong rak bukunya setelah kegaduhan yang ia buat tadi. Tetapi sepasang sepatu yang berada di ujung lorong menarik perhatiannya untuk melihat siapa pemilik sepatu itu.

Pandangan nya mengeras. Tak bisa bergerak ketika dia tau siapa pemilik sepatu itu.

Yoona. Gadis itu menatapnya seolah tak mengenalnya. Dia menatap seolah merasa kasihan pada nasib Chanyeol yang harus merapihkan buku-buku itu. Tatapan nya terlalu dingin sehingga tatapan itu menusuk kulit Chanyeol. Bahkan Chanyeol tak pernah menerima tatapan itu lagi.

Setelah itu, Yoona berlalu pergi seolah ia hanya melihat tempat sampah yang memang harus ditinggali. Chanyeol mematung. Terbuai oleh apa yang barusan saja terjadi.

Gadis itu sudah berubah 100% dan dialah yang mengubahnya. Didalam lubuknya, ia merasa sangat menyesal atas apa yang telah ia lakukan pada Yoona. Kemarin lusa ia begitu stress hingga tak memikirkan apa yang ia katakan. Tapi dengan begini, semuanya akan menjadi baik-baik saja. Ia tak perlu repot-repot mendengar seruan jijik dari Yoona, atau malu atas perlakuan Yoona padanya.

Ia merasa tenang.

atau tidak.

..

Yoona merasakan jantungnya berdegup kencang. Wajahnya juga memanas. Hampir saja tadi ia reflek membantu Chanyeol jika ia tidak mengingat bagaimana perkataan lelaki itu padanya kemarin. Ia berusaha keras membuat tatapan sedingin yang pernah ia perlihatkan.

 Dan ia rasa tatapan nya mungkin sangat kaku.

Ia tidak ingin seperti ini. Ia tak mau harus bersikap dingin pada Chanyeol padahal ia sangat merindukan lelaki itu. Ia tak ingin bersikap cuek pada Chanyeol padahal ia sangat khawatir pada lelaki itu.

Ia tak ingin.

Tapi setiap kali nama itu terdengar atau muncul dalam pikirannya, perasaan nya bertambah sakit. Merasa ia dijatuhkan dan ditendang ke dalam sebuah gua yang terlalu dalam sehingga ia susah untuk kembali. Gelap dan mengerikan.

Saat dulu semua rasa suka itu mengalahkan rasa malunya, sekarang tak ada lagi. Rasa suka itu tertutup rapat oleh rasa sakit nya.

I’m done here. Saat kelopak mata itu tertutup, liquid bening jatuh begitu saja.

“Kita harus mencari Yoona.” titah Yuri begitu bel pulang sekolah berbunyi. Ini aneh, karena harusnya setelah pelajaran guru Kang selesai, Yoona sudah boleh masuk kelas lagi untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya. Tapi apa yang ketiga sahabat Yoona temukan hanyalah Sehun yang kembali ke kelas tanpa Yoona.

Sebelum mereka keluar kelas, Sooyoung menghampiri Sehun. “Dimana Yoona?”

Sehun mengedarkan pandangan nya ke penjuru kelas, dan benar saja Yoona tak ada disitu. Sebenarnya Sehun sudah mencari Yoona tadi sebelum ia masuk ke kelas, tapi ia tak menemukan dan ia pikir Yoona sudah berada didalam kelas. Jadi Sehun mengedikan bahu sambil menggeleng.

Jessica menyipitkan matanya, “Ada apa dengan Yoona?”

Sekali lagi, Sehun mengedikkan bahunya.

“Kau bersamanya kemarin bukan? Jadi kau tau apa yang terjadi padanya.” sahut Jessica.

Sehun menatap ketiga temannya dengan tatapan datar, “Tanyakan padanya sendiri jika kalian memang benar-benar sahabatnya.”

Setelah mengatakan hal itu, Sehun berlalu pergi.

Kemudian Yuri, Jessica dan Sooyoung berunding kemana mereka harus mencari Yoona. Tetapi sebelum mereka memutuskan untuk keluar kelas, Yoona masuk ke kelas.

“Yoona?” panggil Jessica begitu tau saat Yoona masuk ke kelas.

Yoona mendongak-kan kepala. Cukup terkejut ketika tiga temannya masih berada di kelas. Dan Yoona yakin ketiga temannya itu menunggu kedatangan nya.

Setelah masuk dan duduk di tempatnya, ia melihat tiga gadis menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Yoona hanya menghela nafas sambil menaikkan bahunya. Ia tak tau apa yang harus ia jelaskan kepada ketiga temannya, ceritanya terlalu panjang dan ia pun tak akan menjamin ia bisa menceritakan sampai habis.

Tell us.” Sahut Jessica yang tak mau berbasa basi. Ia tak suka apabila Yoona merasa bahwa dia tak membutuhkan nya lagi, tak merasa bahwa Jessica dan lainnya tak cukup membantu masalahnya. Dan dia terlalu bodoh untuk berbohong kepada tiga sahabatnya.

We are best friends. Tell us if you feel not okay, tell us if you worry about anything.” pinta Sooyoung sambil duduk didepan Yoona. Yoona semakin merasa terpojok ketika ketiga temannya itu menatapnya dengan hangat. Rasanya Yoona ingin menangis sekarang, menyadari bahwa selain Sehun, ketiga temannya juga khawatir padanya.

I’m fine,” Yoona tersenyum. “I’m just..”

Sebelum selesai berbicara, Yoona menutup mata dengan kedua tangannya. Tangisnya keluar lagi. Ia hanya ingin berkata sejujurnya tapi rasa sakit itu kembali lagi. Semuanya seolah datang dan tiba-tiba menyerangnya dalam satu hentakan.

Tangis Yoona terdengar lebih keras ketika ketiga gadis itu memeluk Yoona erat. Yoona merasa bahwa ia seharusnya langsung memberi tahu ketiga sahabatnya soal masalahnya. Ia harusnya sadar bahwa dia membutuhkan ketiga teman nya.

There’s so much pain.” Yoona mengeluarkan suara serak nya.

Yoona mengehela nafas. Ia kemudian dengan suara serak juga mata sembap nya menceritakan apa yang telah ia alami. Ia menceritakan mulai dari Chanyeol yang membentak nya sampai Sehun yang menghiburnya. Tak ada satupun yang terlewatkan. Begitu pun juga dengan ketiga temannya yang tidak memotong pembicaraan saat Yoona bercerita.

Yoong,” Yuri memegang pundak Yoona. “He’s going to be sorry he lost you, so stop worrying. Forget the past, forget the pain, and remember what an incredible woman you are.”

Yoona tertawa, “Ini memalukan kalian tahu. Aku tak pernah berharap aku menjadi seperti ini.”

Jessica tersenyum, “Why not? We live in a world full of broken hearts & judgemental hypocrites.” 

“Itu dunia mu, bukan dunia kita.” Sahut Sooyoung yang membuat semuanya tertawa.

To Be Continued

A/N: saya kembali dengan berbagai quotes yang abal abal gajelas dan juga tak mendidik akh. Diharapkan readers sekalian tidak muntah dengan kata-kata diatas karena dapat membuat gangguan kehamilan dan janin. Jadi saya harap readers mengerti bahwa No Limits sudah tamat dan digantikan dengan judge karena ada alasan yang tidak bisa dijelaskan.

Thanks, Pimthact. 

24 thoughts on “Judge – 1 [ no limits sequel ]

  1. HUN AKU PADAMU
    doh si sehun malu” kucing. Tembak dah tembaaak :v lah cahyo maunya apaan si? akh lelaki kardus kau yo😦 im in #TeamSehun❤ mari coblos sehun sbg calon jodoh yoonaa :<

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s