[Freelance] In a Dream – Dua

Dua

In a Dream | Hanabi

Im Yoona | Kris Wu | Jessica Jung | Huang Zitao

Chapter | Horror – Mystery – Thriller | PG-17

.

.

.

“Kalian sudah dengar beritanya?”

“Apa?”

“Kemarin sore seorang wanita bunuh diri, terjun dari atap gedung berlantai lima.”

“Eh? Benarkah?”

“Menyeramkan.”

“Dan kalian tahu?” suara tawa terdengar. “Im Yoona menjadi salah satu saksi mata. Ini bukan pertama kalinya dia menjadi saksi mata, dia sering dipanggil ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Kalian tahu apa artinya?”

“Dia pembawa sial.”

“Benar! Dia pembawa sial.” Nadanya berubah gembira.

“Menjijikan.”

“Jahat.”

“Harusnya dia tidak masuk ke kelas ini.”

Yoona berdiri di depan pintu kelas yang tertutup. Menelan dengan pahit semua celaan yang terdengar hingga lorong koridor. Ia merasa mual. Seperti banyak kalimat yang tertahan di tenggorokkannya yang ingin Yoona muntahkan di depan mereka semua. Benar! Yoona sering keluar masuk kantor polisi. Lalu? Memangnya kenapa? Apa kejahatan yang ia perbuat sampai mereka berbicara seperti itu?

Kalau ditanya, Yoona juga tidak mau memiliki kutukan ini. Ia tidak mau. Tapi, ia tidak memiliki pilihan lain. Ia hanya menutup mata, tapi untuk pertama kalinya. Kemarin, Yoona ingin menolong wanita itu. Namun kenyataan berkata lain. Ia gagal dan kegagalannya membuat dirinya merasa menjadi penyebab kematian wanita itu.

Karena kegagalannya wanita itu mati. Karena Yoona. Tapi bukan Yoona yang membunuhnya. Bukan Yoona yang menyuruhnya mati. Itu pilihannya sendiri. Yoona harus menahan sebongkah perasaan bersalah dihatinya. Itu bukan salahnya.

Hinaan mereka tidak membuat Yoona gentar. Ia tidak takut. Tapi membuatnya semakin tegar. Jadi gadis itu mengulurkan tangannya, menyentuh gagang pintu. Ia akan masuk dan berjalan dengan tegap. Menginjak-injak setiap mulut kasar dengan sepatu miliknya yang bersih dari noda. Tapi seseorang menahannya, mencengkram pergelanggan tangannya kuat dan menatapnya tak percaya.

“Kau sudah gila, ya?” ucap Tao tak percaya. Ia menarik Yoona menjauhi pintu. Lorong koridor lantai dua yang sepi membuat suara pemuda itu sedikit bergema, namun tidak menarik perhatian orang lain.

“Memangnya kenapa?” Mereka berdiri berhadapan. Tao menatap Yoona tepat di manik mata hitam itu, tidak ada rasa takut disana.

“Kau ingin masuk kesana?” Mata Tao melirik ke arah pintu kelas mereka yang tertutup rapat. Dari dalam masih terdengar suara gelak tawa.

“Ya, tentu saja.”

“Kenapa?” Tao bingung harus melontarkan kalimat apalagi agar gadis ini mengerti. Tao bukanlah orang yang hebat dalam menjelaskan sesuatu, jadi dia berpikir sebentar belum akhirnya melontarkan kalimat yang mungkin saja dimengerti oleh gadis kolot ini. “Maksudku, mereka sedang mengejekmu dan kau masih mau masuk kesana?”

Yoona memandang bingung Tao. “Kau mengkhawatirkan aku?”

“Apa? Tentu saja, kau temanku,” Yoona memiringkan kepala kesamping. “Teman sekelasku, maksudnya.” Tambahnya cepat. “Lagi pula aku tidak menyukai mereka, mulut mereka kasar.”

Yoona tersenyum kecil. “Sudah berapa lama kau sekelas denganku?”

“Satu setengah tahun.”

Yoona mengangguk. “Kau bilang, kau sekelas denganku sejak kelas satu. Itu artinya sudah satu setengah tahun kau mengenalku. Selama itu pula mereka melakukan pembullyan kepadaku dan kau melihat semua itu. Dan kau bilang apa barusan? Kau mengatakan mulut mereka kasar,”

Yoona sangat payah dalam memilih kata-kata, terkadang ia tidak bisa menyaring perkataannya. Ia selalu mengatakan semua yang ada di dalam otaknya tanpa perduli dengan perasaan orang lain dan tidak jarang membuat orang lain sakit hati. Ia juga sangat berhati-hati dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan jika mereka bersikap baik padanya.

“Kau terlihat mengkawatirkanku dan ingin membantuku. Kenapa tidak dari dulu saja? Kenapa baru sekarang? Kau terlihat seperti pahlawan kesiangan,” Yoona mengeluarkan sebuah payung lipat dari tasnya. “Aku sudah mencurigaimu dari kemarin dan terima kasih atas payungnya.”

Serentetan kalimat yang keluar dari mulut gadis itu membuat Tao mematung di tempat. Lalu dia menyeringai, tidak menyangka gadis ini sangat sulit dibohongi. “Baiklah aku kalah.” Katanya pasrah sambil meraih payung miliknya.

Jendela dan pintu kelas 2-A terbuka lebar, menampakkan deretan murid-murid yang menyerbu melihat ke arah mereka. “Sudah ku bilang, dia susah untuk ditaklukkan.”

“Kau bodoh ya, dia itu tidak memiliki perasaan.”

“Kupikir dia akan tertipu.”

Tao hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar semua komentar murid-murid dari dalam kelas. “Ah, kalian benar. Berbicara dengannya membuatku merinding. Dia bahkan tidak bisa tersenyum dengan benar.”

Tao mendekatkan kepalanya ke telinga Yoona. “Ini semua hanya taruhan.” Lalu pergi mendatangi teman-temannya yang bermulut kasar.

Di lorong koridor yang sepi hanya dirinya sendirilah yang berdiri disana, memunggungi pintu kelas. Yoona tersenyum kecil. “Untungnya aku tidak tertipu.”

.

.

.

Tujuh kali, ya seingatnya tujuh kali Yoona mendatangi kantor polisi yang berada di wilayah dekat rumahnya sebagai saksi mata. Ia tidak begitu gugup, ya karena ini memang bukan kali pertamanya Yoona menjadi saksi. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, gadis itu bergegas menuju ke sini yang jaraknya hanya tiga ratus meter dari gerbang sekolah dan dua ratus meter dari gerbang rumahnya.

Ia duduk di kursi kayu panjang di ruang tunggu bersama dua orang saksi lainnya. Sebenarnya saksi dalam kejadian ini sangat banyak, karena memang wanita yang diketahui bernama Kim Taeyeon, meloncat ditengah-tengah daerah pertokoan yang selalu ramai. Tapi hanya Yoona dan dua saksi lainnya yang pada saat itu jaraknya sangat dekat dengan korban.

Sudah hampir lima belas menit, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang dipanggil. Samar-samar Yoona dapat mendengar kekacauan yang terjadi di dalam, kelihatannya mereka sangat sibuk sampai melupakan tiga saksi penting dalam kasus ini.

Sebenarnya Yoona agak khawatir tentang faktanya yang selalu keluar masuk kantor polisi dalam kurun waktu satu tahun ini. Ia khawatir dengan pendapat orang tuanya. Apakah mereka juga akan mengecap Yoona sebagai pembawa sial seperti orang lain? Tapi nampaknya sampai sekarang orang tua Yoona tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka malah terlihat antusias dan berkata bahwa dirinya harus membantu polisi untuk memecahkan sebuah kasus.

“Im Yoona,” Namanya dipanggil dan ia langsung bangkit sambil menyeruka kata ‘ya’. “Masuk ke dalam.”

Ia duduk di kursi di depan sebuah meja kayu–yang telihat kokoh–dengan seorang pria yang duduk di baliknya. Tanpa melihat papan nama kayu yang berada dipojok kanan meja, Yoona mengetahui siapa gerangan pria yang duduk dihadapannya. Tentu saja, Yoona sudah tujuh kali berhadapan dengan pria ini dan hari ini yang ke delapan. Detektif Wu. Polisi lain memanggilnya anjing pemburu.

Dia adalah detektif polisi terhebat di sekitar sini, setidaknya itulah kata orang-orang. Dengan mudah dia bisa memecahkan sebuah kasus hanya dengan sedikit bukti. Detektif Wu menopang dagu dengan ekspresi malas. Dia menghembuskan napas panjang lalu meraih beberapa berkas dan membacanya.

“Kau tidak bosan?” Detektif Wu bertanya tapi pandangannya masih tertuju pada lembaran kertas.

“Bosan? Tentang apa?”

Lagi. Detektif muda berperawakan sekitar dua puluh tujuh tahun lagi-lagi menghembuskan napas panjang sambil melirik Yoona. “Bosan karena kau selalu menjadi saksi mata kematian seseorang.”

“Selalu?” Terdengar jelas Yoona tidak menyukai kata itu.

“Iya,” Kini wajah detektif muda itu terlihat serius. “Baiklah, ayo kita mulai Yoona-ssi.”

“Kenapa kau ada disekitar sana saat itu? Apa yang kau lakukan?”

“Itu jalanan umum. Memangnya aku tidak boleh lewat sana?”

“Tapi, arah rumahmu bukan lewat sana.”

“Aku hanya berjalan-jalan sebelum pulang,” Yoona berbohong. “Kalau aku tahu dia akan mati disana, aku tidak akan lewat sana.”

Detektif Wu menatapnya selidik. Dia sepertinya mencium kebohongan gadis itu. “Dari kesaksian yang ku dengar kau mengejar wanita itu dan di dalam CCTV di dekat lampu lalu lintas, kau mengejar wanita itu. Kenapa?”

Anjing pemburu mencium kebusukkan.

Yoona tak kuasa menahan ketakutan yang bergejolak di dalam perutnya. Pertemuan mereka yang ke delapan kalinya sepertinya membuat Detektif Wu belajar satu hal ‘gadis itu selalu berbohong’. Yoona memang bukan pelaku, ia hanya saksi, tapi ia patut dicurigai. Dan kali ini kebohongannya tidak akan mempan.

“Kenapa? Kenapa kau mengejar wanita itu? Apa alasannya?” tanyanya penuh selidik.

Ia menatap tepat di manik mata coklat tua itu. Matanya terlihat cantik, tapi sedingin es. Yoona nampaknya harus jujur untuk sebuah kasus kematian untuk pertama kalinya. Okey, ia harus memilih kata yang tepat. Ia tidak mungkin berkata bahwa dirinya bisa melihat kematian seseorang lewat mimpi. Detektif Wu pasti akan langsung menangkapnya.

“Aku…” suaranya sedikit bergetar. “Merasa wanita itu akan bunuh diri.”

Salah satu alis Detektif Wu terangkat tinggi-tinggi. “Kenapa? Kenapa kau berpikir dia akan bunuh diri.”

Yoona menampakkan ekspresi malas. Sebuah kedok yang akan menariknya keluar dari permasalahan karena ketahuannya tentang kasus ini. “Kau bilang, kau melihat CCTV saat aku mengejar wanita itu. Itu artinya kau juga melihat kejadian sebelumnya ketika wanita itu hampir tertabrak mobil karena dia berjalan saat lampu hijau menyala. Tidakkah kau berpikir dia akan bunuh diri?”

Detektif Wu mengangguk. Terlihat setuju tentang pendapat yang Yoona lontarkan. Dia mencorat-coret lembaran kertas. “Kau benar, orang-orang akan berpikir dia akan bunuh diri. Tapi mungkin hanya kau saja yang berusaha mengejarnya walau kau tidak tahu kapan dia akan bunuh diri. Seolah-olah kau mengetahui kalau saat itu dia akan bunuh diri.”

Yoona tidak suka ini. Ia bahkan terlihat lebih mencurigakan dari seorang pembunuh berantai sekalipun. Ia masuk ke dalam kasus ini terlalu dalam dan Detektif Wu memaksanya bicara. Inilah alasan kenapa kasus kematian yang lain Yoona tidak mencoba menolong mereka. Karena polisi akan memandangnya seperti seorang pembunuh. Ia pura-pura tidak tahu, ia pura-pura tidak melihat, dan menghilang dibalik puluhan saksi mata.

“Aku selalu merasa curiga kepadamu. Yoona-ssi, mungkinkah kau mengetahui kapan seseorang akan mati? Atau kemampuan aneh lainnya?”

Yoona memutar bola matanya, persis seperti gadis-gadis yang merasa bosan dengan cat kuku berwarna pastel mereka. Tapi hatinya serasa ingin meledak. Ia ketahuan. Walaupun Detektif Wu tidak bisa membuktikan hal itu, spekulasi yang dilontarkan Detektif muda itu membuat tubuhnya membeku.

“Pertanyaanmu sudah keluar dari kesaksian kasus ini,” Bahkan Yoona sendiri sangat kaget mendengar suaranya yang sangat tenang. “Lagi pula, apa itu mungkin?”

Detektif Wu tertawa renyah. “Kau benar. Itu sangat tidak mungkin. Aku hanya mengada-ngada.”

Ia selamat.

.

.

.

Aroma manis seperti es krim vanilla memenuhi rongga hidung Yoona. Mengingatkannya tantang sebuah kedai es krim yang baru di buka kemarin, letaknya dekat stasiun bawah tanah, hanya dua blok dari rumahnya. Ia mengingat aroma manis yang tercium dari kedai itu, kedai es krim itu buka bertepatan dengan keluarnya Yoona dari kantor polisi sebagai saksi meninggalnya seorang wanita bernama Kim Taeyeon. Ya, ia ingat jelas aromanya.

Tapi sekarang ia tidak sedang berada di dekat kedai itu, melainkan ia sekarang berada di dalam mimpi. Mimpi kematian. Seperti biasanya, awalnya gelap lalu tercium aroma manis es krim vanilla. Dilanjutkan dengan setitik cahaya muncul dan menerangi sebagian tempat dalam mimpinya.

Yoona berdiri tepat di bibir trotoar di belakangnya terdapat kedai es krim. Di seberang sana ada kantor polisi, tempat biasanya Yoona memberikan kesaksian. Dibawah kantor polisi terdapat stasiun bawah tanah. Ya benar, tidak salah lagi. Ini tempat yang sering Yoona lewati.

Yoona tersadar dan mendapati dirinya berdiri bersama seorang gadis yang sebaya dengannya. Memakai seragam dan sepatu yang sama. Gadis itu terus mengoceh, namun suaranya tidak keluar atau mungkin Yoona tidak dapat mendengarnya. Keadaan di sekitarnya terlihat seperti film hitam putih, tidak ada warna sama sekali, dan tidak ada suara.

Gadis itu mulai menyeberangi jalan sambil melambai kearahnya. Yoona tidak yakin, tapi nampaknya Yoona tidak mengenali gadis itu. Rasanya ia belum pernah bertemu dengan gadis itu atau mungkin ia yang terlalu tidak perduli dengan wajah teman sekolahnya.

Entah datang dari mana, sebuah mobil berkecepatan tinggi muncul secara tiba-tiba, seperti kilat yang menyambar, terlalu cepat hingga Yoona baru menyadari, gadis itu telah tersungkur bersimbah darah di tanah.

Gadis itu mati. Gadis itu korban selanjutnya.

.

.

.

Pagi ini sama seperti pagi biasanya. Ia duduk di meja makan bersama ke dua orang tuanya. Bercerita tentang ini dan itu sambil menertawakan lelucon yang sama sekali tidak lucu. Dan mungkin tidak ada satu pun orang yang menyangka Yoona biasa tertawa dan berbicara seperti orang normal pada umumnya. Maksudnya, ia terlihat ceria, seperti seorang gadis remaja yang sedang mabuk kepayang.

Satu hal yang perlu diingat, ia hanya bersikap seperti itu di depan kedua orang tuanya. Hanya di depan orang tuanya. Yoona tidak ingin membuat orang tuanya khawatir tentang dirinya yang sering mendapatkan prilaku yang tidak baik dari teman sekolahnya. Dan ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa dalam setahun kebelakangan ini, ia terus di hantui oleh kematian orang-orang. Setidaknya ia harus bersikap ‘semua baik-baik saja’.

Tapi pikiran gadis itu melayang kemana-mana. Pikirannya terus terpaku pada mimpi kematian yang baru ia saksikan semalam. Teman sekolahnya akan mati, entah kapan dan saat itu ia berada disana. Yoona tidak memiliki teman yang dekat dengannya, tapi gadis di dalam mimpinya berbicara dengan Yoona seolah mereka adalah sahabat. Atau mungkin gadis itu akan berprilaku seperti Huang Zitao. Yang hanya berpura-pura berteman dengannya.

Apa Eru harus menolongnya? Atau membiarkannya mati?

“Yoona-ya, ada apa?”

Gadis itu mendonggak dan langsung menatap wajah khawatir Ibunya. Yoona menggeleng lalu tersenyum manis. Ia tidak boleh membuat Ibunya khawatir. “Tidak ada apa-apa, Eomma.”

Nyonya Im masih terlihat khawatir. Dia ingin bertanya lebih banyak lagi mengenai anak semata wayangnya ini. Namun dia mengurungkan niatnya dan tersenyum menanggapi perkataan Yoona.

Tuan dan Nyonya Im tahu tentang semuanya. Pembullyan yang terjadi terhadap anaknya atau tentang kasus yang membuat Yoona keluar masuk kantor polisi. Tapi mereka berdua berpura-pura tidak tahu dan mengawasi dari jauh. Mereka tidak ingin ketahuannya tentang semua ini membuat anaknya semakin tertekan. Sebisa mungkin mereka tidak menyinggung apa-apa tentang sekolah atau kasus kematian.

Yoona berjalan ke gerbang diikuti dengan Tuan dan Nyonya Im yang mengekor di belakangnya. Mereka terlihat enggan melepas anaknya walau hanya ke sekolah. Tapi semua tetutupi dengan senyuman dan lambaian tangan.

.

.

.

Terlambat. Yoona terlambat masuk ke kelas. Bukan karena ia malas bangun pagi. Ia bahkan telah sampai tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Tapi, Yoo Songsaenim mencegatnya masuk, di karenakan guru itu ingin meminta bantuan Yoona mengurusi materi pelajaran sejarah dunia yang akan diajarkan minggu depan.

Untungnya Yoona sudah meminta izin kepada wali kelasnya Kim Songsaenim. Guru fisika yang galaknya minta ampun. Kim Songsaenim sudah berumur empat puluh satu tahun bulan kemarin. Tapi dia terlihat sepuluh tahun lebih tua dibanding umur yang sebenarnya. Tubuhnya pendek dan gempal seperti kue mochi. Kepalanya botak, tidak, ia memiliki beberapa helai rambut. Hanya beberapa helai.

Yoona berhenti berlari di depan pintu kelas 2-A. Napasnya memburu. Tujuh menit setelah bel pelajaran pertama berbunyi. Guru itu pasti sedang mengabsen nama murid di kelas. Yoona mengatur napasnya lalu mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong pintu kelas ke dalam.

Semua mata tertuju padanya, ia berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin seperti biasanya. Dan tatapan mereka membuat Yoona merasa risih. Kemudian pandangannya tertuju pada Kim Songsaenim yang sekarang berdiri diatas undakan di depan kelas. Dia tidak sendirian, seorang murid perempuan berdiri di sampingnya dan tersenyum kepada Yoona.

Saat itu juga terjadi serangan mendadak terhadap tubuhnya. Semua darah di tubuh Yoona serasa berhenti mengalir, membuatnya merasa kesemutan.

Murid baru. Korban selanjutnya adalah murid baru.

To Be Continued

.

.

.

Wattpad : https://www.wattpad.com/user/Hanabisite

WordPress : https://chichansite.wordpress.com/

 

21 thoughts on “[Freelance] In a Dream – Dua

  1. Ihhh itu si Tao jahat bgt sih, ternyata deketin YoonA cuma karna taruhan-_-” . Kris akhirnya muncul jugaa, jadi seorang detektif, pdhl aku kira dia jadi teman SMA Yoona:v. Ituu siapa tmn bru YoonA?Jessica ya? KeepWriting yaa thorr. Fightingg

  2. Hmm..bru pengen nanya yg ttg eru, eh ternyata sesuai dugaan klo itu typo dr ver sebelumnya..😂 btw, murid baru itu jessica bukan thor? keknya utk yg satu ini yoona bakal gagalin kematian murid baru itu deh, semoga aja mereka bakalan jd temen hehe

  3. suka bgt ff y thor… ky y kris sdh tau yoona punya kemampuan ‘itu’ d mdh2n kris bsa mldngi yoona..
    next thor kljtn y jgn lma2… ak tggu..

  4. Yo yo yo part 2..apa yang ingin ku katakan pada tao..ingin ku berkata kassaarr!!!..aku penasaran lanjutannya pleasee update cepetan…ini masih terlalu pendek..sebenernya kasian ama yoona ..

  5. lanjut… baru mau punya temen eh temennya bakal meninggal ketabrak
    btw,, klw beneran kejadian, yoona semakin di cap pembawa sial dong..
    moment yoonkris nya gmn chinguuu? ditggu yah.. hwaiting

  6. Klo yoona menghalangi kematian anak baru itu bukannya itu akan berdampak pada diri yoona sendiri???Itu sama aza menyalahi takdir kan???
    Detektif wu itu kris bukan yach???
    Jadi penasaran…

  7. Serem amat ya….yoona punya kemampuan bisa melihat org yg akan mati…..tapi bisakah yoona bisa menyelamatka teman barunya dari kematian???ditunggu nextnya……..

  8. ff ini bener2 keren thor…q suka banget ff ini,ff ini beda ama yg lainya..?pasti yoona tertekan disni,dia harus berpura2 didepan ke2orang tuanya klau dia baik2 aja,disni kris wu jdi polisi y thor..apa kh kris akn menjadi rekan yoona dlm menangani kasus kematian atau menolong korban yg akan bunuh diri…?lanjut thor q suka bngt ff ini…setiap q bca ff ini bikin penasaran apa kelanjutanya…pliis thor jngn kelamaan ya miss you…next semangatt…

  9. Miris banget perasaanku bacanya nih ff thor. Lha kok tega, tuh “temen” sekelasnya Yoona begitu ke Yoona padahal gak ngerti apa apa. Asal narik spekulasi kalo Yoona itu pembawa sial, dasar punya otak kagak dipake. Kemana aja tuh otak, apa lagi Tao juga bikin dongkol. Dasar temen boongan!!!!
    Kalo ortunya Yoona udah tahu kalo Yoong dibully di sekolah, kok diem aja ya. Apa mereka juga udah tahu kalo anaknya juga punya “keahlian” itu?? Semoga tuh anak baru bisa temenan sama Yoona dan gak jadi meninggal kayak yang di mimpi Yoona ya thor.
    Wow, kangen banget aku sama ff yang cast nya Yoona sama Kris. Bakal ada moment gak ya next chap???
    Jadi makin penasaran sama next chap. Daebak thor. Hwaiting!!!

  10. hem jd tao dktn yoona krn taruhan??jd kris seorng detektif??keren amat ya siapa murid baru itu??gmn orang tua yoona bisa tau ya??ap mrk jg tau tntng kekuatan yoona

  11. Kasihan Yoona dibuli terus, tp kenapa Gk coba jujur ke ortunya biar bisa bantu.
    Apa teman baru Yoona itu Jessica???
    Apa Yoona nanti bisa menyelamatkan Teman barunya itu????
    Chayoo tuk next cepter. 😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s