[Freelance] My Husband or My Love?

myhusbandormylove

[Oneshot] : My Husband or My Love?

With cast : Yoona SNSD

Xi Luhan, and

Sehun EXO.

Other cast:

Jungkook BTS as Im Jungkook

Seohyun SNSD as Ahn Seohyun

Jaehyun NCT U as Lee Jaehyun

Park Seo Jun as Im Seo Jun

Dasom Sistar as Kim Dasom

Hong Bin VIXX as Lee Hongbin

And find it.

Genre : sad, marriage life, AU, romance, and family life.

Rating : PG-13+

 

A Fanfiction by Nani hunhan

 

Poster by Rioneilds@yoongEXO

 

Disclaimer : cast belong’s GOD. I just borrowed the names of characters and places. Semua cerita ini hanya sekedar  fiksi dan murni karya dariku.

A/N : ff ini sebenarnya pernah di publish di  Smentffindo.wordpress.com  namun versi drabbelnya. Ini ff telah lama tersimpan, dan tiba-tiba aku berinisiatif untuk buat versi twoshotnya. Please don’t bash and sorry for TYPO. Leave a coment.

====

…….

My Husband or My Love?

 

Pernikahan yang tak berlandaskan cinta, yakni salah satunya atau mungkin satu-satunya  dan lazim kita temukan adalah pernikahan karena adanya perjodohan.

 

Im Yoona, anak sulung dari CEO dan komisaris Im Corp. Mahasiswi lulusan dari Universitas Kyunghee ini dengan terpaksa menikahi seorang pria dari anak pebisnis kaya pemilik Xi Corp karena perjodohan. Padahal ia sendiri sebenarnya telah memiliki dambatan hatinya.

Xi Luhan, pria tampan dan anak tunggal dari pebisnis kaya yang menjunjung tinggi kemewahan. Sama seperti Yoona, ia juga terpaksa dengan perjodohan yang telah diatur oleh kedua orang tuanya.  Juga, ia telah memiliki seseorang yang di cintainya meski itu bertepuk sebelah tangan.

Oh Sehun, pria yang mengaku sederhana ini merupakan namjachingu Yoona. Bahkan cinta mati Yoona. Oh Sehun, anak angkat dari pemilik Universitas Kyunghee ini memiliki usaha sendiri yakni sebuah Coffe shop dan Café di kawasan yang berbeda. Sangat dan sangat mencintai Yoona, meski ia harus menelan kenyataan pahit jika yeoja yang ia cintai akan menikah dengan orang lain.

,,,,,

“oppa, apa kau telah mendengar berita tentang Yoona?” Kim Dasom, adik angkat dari Sehun ini tiba-tiba bertanya pada Sehun dan mengagetkannya.

Sehun yang tengah asik bermain dengan anjing peliharaannya pun, memandang heran Dasom.

‘apa oppa belum tahu? Bagaimana jika ia tahu kalau Yoona akan menikah?’ batin Dasom panik.

“ada apa dengan Yoona?” Tanya Sehun sambil menghampiri adiknya tersebut. Bukannya menjawab, Dasom malah menangis.

“wae? Uljima-yo.. bicaralah!” desak Sehun sambil mengguncang tubuh sang adik. Tetap saja, Dasom tak mengeluarkan satu katapun dan memilih pergi dari hadapan Sehun.

“yakh! Dasom-ah, katakan apa yang telah terjadi pada Yoona?” Sehun hendak mengejar Dasom, namun tiba-tiba ia melihat Jungkook berlari menghampirinya.

“hosh.. hosh.. Hyeong,” Jungkook berusaha menetralkan kondisinya selepas berlari tadi.

“kenapa harus berlari? kau dan Dasom benar-benar aneh hari ini.” Kata Sehun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya geli.

“Hyeong, jam 7 malam nanti temui Yoona noona di rumah Jaehyun. Jangan bertanya kenapa, yang harus Hyeong lakukan adalah datang kerumah Jaehyun.” Terang Jungkook cepat.

“tidak biasanya. Jika memang noonamu ingin bertemu, ia bisa menghubungiku lewat panggilan atau pesan untukku.” Timpal Sehun yang merasa aneh.

“ponsel Yoona noona disita oleh ayahku begitu pula ponselku. Pokoknya, Hyeong jangan lupa jam 7 malam di rumah Jaehyun.”

Sehun dengan terpaksa mengangguk meski sedikit bingung dengan apa yang telah terjadi terhadap kekasihnya itu.

“memang apa yang telah terjadi dengan Yoona?” Sehun tak bisa menahan keingin tahuannya.

“aku tidak bisa mengatakannya. aku harus pulang, sebelum Appa menyadari kepergianku.” Ucap Jungkook  lalu berlari pergi dari tempat Sehun.

 

Sehun akhirnya datang kerumah Jaehyun, rumah teman sekolah Jungkook sekaligus rumah salah satu teman sekolah Yoona juga. Saat ia datang, ia telah di sambut oleh Jaehyun lalu di tarik masuk kerumahnya. Bukannya di ruang tamu, Jaehyun menarik Sehun memasuki kamarnya.

Selang 27 menit, Jungkook datang bersama sang kakak dengan keterburu-buruan mereka. Sehun memang sengaja datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan.

“waktu kalian hanya 30 menit.” Terang Jaehyun, lalu bergegas keluar bersama Jungkook dari kamar itu.

Setelah Jungkook dan Jaehyun meninggalkan mereka berdua, akhirnya Sehun bertanya.

“apa yang telah terjadi? Hari ini adik-adik kita begitu aneh. Dan kenapa ponsel kalian bisa disita oleh paman Im?”

Yoona menghela napas pelan dan menunuduk, membuat Sehun merasa tak nyaman.

“ceritalah. Aku akan mendengarkanmu. Kau tak dengar tadi kata mereka, jika waktu kita hanya 30 menit Yoong.”

“aku di jodohkan oleh appa. Aku sungguh tak mau dan ini terlalu cepat, oppa!” lirih Yoona. Sehun terdiam mendengarnya.

Bagaimana bisa ayah Yoona menjodohkan anaknya, padahal Ia tahu jika Yoona telah memiliki Sehun.

“aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau menikah dengan pria itu.” Lanjutnya. Kali ini Yoona tak kuasa menahan tangisannya.

“turutilah kata ayahmu.” Gumam Sehun sambil menatap Yoona.

“mwo-ya? Maksudmu aku harus menikah dengan pria itu? Aku mencintaimu oppa!” tegas Yoona.

Sehun menangkup wajah Yoona, lalu mencium keningnya lama.

“aku tahu. Aku dan kau saling mencintai, tapi mungkin ini bukan takdir kita untuk bersama.” Cecar Sehun sedih.

Yoona lalu memeluk Sehun dengan erat dan mereka berdua berciuman dengan tempo lama.  Sehun melumat bibir Yoona dengan lembut dan Yoona membalasnya. Lalu Sehun yang menyudahi ciuman itu dengan terpaksa.

“kau harus menungguku oppa. Apapun yang terjadi kau harus menungguku. Aku akan tetap mencintaimu, dan itu tak akan berubah meski aku telah menikah nanti.” Ungkap Yoona dan di jawab oleh anggukan dari Sehun. Lalu mereka berdua kembali berpelukan.

‘aku tidak yakin. Bisa saja waktu akan menaklukkan perasaanmu dan melupakanku dengan mencintai pria yang telah di jodohkan denganmu Yoong..’ batin Sehun

Brak!!!

Pintu kamar Jaehyun terbuka dengan paksa. Dan Jaehyun sendiri yang melakukannya.

“Hyeong, kau harus sembunyi.” Kata Jaehyun panik. Yoona pun ikut panik karenanya. Sedangkan Sehun hanya bersikap santai meski keadaan saat ini seperti mencekap berkat ulah Jaehyun.

“wae? Sembunyi dimana?” Tanya Sehun bingung. Dengan cepat Yoona menarik Sehun, dan menyuruhnya bersembunyi dibawah ranjang Jaehyun. Namun dengan gerakan cepat, Jaehyun menarik Sehun.

“jangan disitu. Di dalam lemari, di dalam kamar mandi, dan di luar jendela Itu biasa dalam drama atau film. ” Kata Jaehyun, dan Sehun kini bertambah bingung.

“ternyata banyak menonton drama dan film ada manfaatnya juga yah..” gurau Sehun.

“jadi dimana?” Tanya Yoona panik.

“tidak ada cara lain, hanya ada satu tempat persembunyian yang aman.” Kata Jaehyun akhirnya.

.

.

Jungkook  yang melihat calon kakak iparnya memasuki rumah yang bernuansa klasik itu, lalu dengan cepat berpura-pura sibuk di dapur. Rencananya membuatkan minuman untuk mereka bertiga, dirinya, Yoona dan Jaehyun.

“Jungkook-ah, ada yang mencarimu. ” Ujar Ibu Jaehyun, lalu berlalu.

“nugu?” pura-pura tak tahu.

“oh, Hyeong. Tugas sekolah kami belum selesai, kau tak perlu repot-repot untuk menjemput kami.” Ucap Jungkook, setelah melihat calon kakak iparnya, yakni Xi Luhan.

“tak perlu berbasa-basi. Dimana noonamu?” tanya Luhan dengan tampang yang menjengkelkan.

“ambil ini. Dan ikuti aku, Hyeong.” Tangkas Jungkook kesal sambil menyerahkan nampan berisi tiga gelas minuman dan beberapa cemilan pada Luhan.

Luhan menerimanya dengan kesal, lalu mengikuti Jungkook dengan beberapa bodyguard di belakangnnya.

 

Sesampainya dikamar Jaehyun, dapat mereka lihat jika Yoona tengah membantu Jaehyun mengerjakan tugas sekolahnya.

“noona, apa sudah selesai?” Tanya Jungkook lalu ikut bergabung dengan keduanya.

‘aku pikir Appa yang datang, ternyata ia turun tangan sendiri. Dasar menyebalkan!’ rutuk Yoona kesal.

PRANG!!

“berhentilah Berpura-pura!” marah  Luhan sambil membanting nampan yang di berikan Jungkook tadi.

“periksa ruangan ini. Pasti mereka telah menyembunyikan seseorang dari kita.” Kata Luhan, lalu para bodyguardnya berpencar menelusuri dan mencari di beberapa sudut kamar itu, namun tak ada yang mereka temukan. Ada yang mencari di dalam lemari pakaian Jaehyun, di dalam kamar mandi, di bawah ranjang, dan di balik jendelapun mereka periksa.

“ arraseo.. mungkin kali ini dugaanku salah, tapi aku tetap  harus berjaga-jaga.” Cecar Luhan.

Lalu Luhan menarik Yoona dan mengajak kakak-adik itu untuk segera pulang tanpa berbasa-basi.

 

Lepas kepergian Luhan dan para bodyguarnya yang mengikutsertakan Yoona dan Jungkook, akhirnya Jaehyun bisa bernapas lega.

“Hyeong, turunlah! Situasinya telah aman” pinta Jaehyun bernapas lega  sambil mengangkat kepalanya menghadap plafon kamarnya. Lalu salah satu bagian plafon itu terbuka, dan Sehun mulai turun darisitu dengan menginjak di atas lemari diikuti meja belajar Jaehyun.

“mian, hyeong. Apa kau baik-baik saja di atas sana tadi?” Tanya Jaehyun, namun Sehun menghiraukannya.

“gomawo, Jaehyun-ah. Aku harus pulang.” Lirih Sehun. Jaehyun yang melihat Sehun dan tahu akan perasaan Sehun, ikut sedih dengan apa yang terjadi.

.

.

“apa undangannya sudah disebar semua?” tiba-tiba Luhan muncul bersama Yoona,  sambil bertanya kepada beberapa orang disana.

“sudah. Kau tak perlu khawatir anakku.” Jawab ibu Luhan.

Setelah mengatakan itu, Luhan mengajak Yoona ke kamarnya.

“untuk apa kau membawaku ke sini?” Tanya Yoona saat mereka berdua berada dalam kamar Luhan.

“wae? Diamlah.” Terang Luhan ketus lalu mengambil berkas-berkas di atas ranjangnya. Melihat itu, Yoona ikut duduk di atas ranjang tersebut seperti Luhan.

“apa mereka sudah mengirim undangan untuk Sehun oppa?” Yoona memberanikan diri bertanya. Luhan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“wae? apa aku saja yang mengirim undangan itu?” lanjut Yoona cepat.

Mendengar itu, Luhan lalu menghempaskan berkas-berkas yang ia pegang begitu saja, yang berhasil membuat Yoona kaget.

“Pabbo! Kita tidak akan mengundangnya. Jika aku mengundangnya, maka kau akan kabur dengannya di saat pernikahan nanti.” Jelas Luhan, sedikit keras.

“apa kau mencintaiku?” entah dorongan dari mana, tiba-tiba pertanyaan itu terlontarkan dari Yoona.

“mencintaimu? Jangan mimpi! Aku sudah memiliki perempuan yang kucintai, dan dia bukan seperti kau.” Yakin Luhan.

“lalu kenapa kau tak mengundang Sehun, pria yang kucintai?” Yoona mulai tersulut emosi tertahan.

Luhan tertawa sambil menatap wajah Yoona.

“karena aku adalah Xi Luhan, calon suamimu. Aku bebas melakukan apapun yang kumau.” Kata Luhan santai, lalu keluar dari ruangan itu sambil mengunci pintu kamarnya dari luar, membiarkan Yoona terkunci dalam kamarnya.

Yoona hanya bisa menangis melihat itu. Dan ia berjanji, apapun yang terjadi ia tak akan pernah mencintai Luhan.

‘kenapa aku melakukan itu? Apa aku mencintainya? Oh, itu tidak mungkin. Seohyun, hanya Seohyun yang aku cintai.’ Batin Luhan saat itu.

.

.

Saat Luhan tengah asik dengan beberapa dokumen penting perusahaannya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.

Tampak sepasang kekasih mendekati Luhan yang tengah sibuk tersebut.

“oh, kenapa tak mengatakan padaku terlebih dahulu jika kalian ingin datang menemuiku? Kaliankan tahu aku sangat sibuk.” Kata Luhan sambil berdiri mempersilahkan pasangan itu untuk duduk.

“apa itu penting? Hehe..” Seohyun terkekeh, dan Luhan menyukai itu.

“hyeong, sebentar lagi kau akan menikah dan kenapa kau tak mengenalkannya pada kami siapa gadis yang tak beruntung itu? Melihat wajahnya di photo saja tak lengkap rasanya jika tak bertemu langsung ” kekasih Seohyun bersuara, Kim Seokjin.

“eits, tidak beruntung? Justru dia yang beruntung bisa menikah denganku, dan aku yang tak beruntung.” Kata Luhan.

“tidak beruntung?” heran Seokjin. Luhan yang mendengar itu, lalu sadar akan ucapannya.

“hei, aku hanya bercanda. Tentu saja kami akan menjadi pasangan suami-istri paling beruntung se-abad ini.” timpal Luhan.

Seohyun dan Seokjin hanya tertawa mendengarnya.

Tok! Tok! Tok!

“ masuk! “ kata Luhan, lalu pintu itu terbuka. Menampilkan seorang gadis, yang masuk dalam topic pembicaraan mereka bertiga tersebut.

“mian  Luhan-ssi, aku pikir kau tidak sibuk.” Ujar  gadis itu, dan mendapat tatapan kesal dari Luhan karena gadis itu tak memanggilnya dengan panggilan oppa.

“bukankah dia calon istrimu yang di photo yang kita lihat itu?” Tanya Seokjin pada Luhan di ikuti anggukan dari Seohyun.

‘yeppo.’ batin Seokjin.

‘bukankah dia gadis yang ada dilaptop Sehun? Mungkin hanya teman.’ sadar Seokjin.

“Luhan-ssi?” gumam Seohyun heran dengan Yoona. Luhan jadi salah tingkah, tapi tak ada yang menyadari sikapnya itu.

Luhan lalu merangkul calon istrinya itu, sambil memberikan kecupan pada kening indah Yoona.

“perkenalkan, dia adalah calon istriku. Chagi, mereka berdua ini adalah sahabatku.” Jelas Luhan, masih dengan merangkul Yoona.

‘chagi? Cih, kau tak pantas memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu.’ Batin Yoona.

“anyeonghaseyo. Aku Seohyun dan dia adalah kekasihku, Kim Seokjin” Seohyun memperkenalkan diri lalu menjabat tangan Yoona di ikuti Seokjin.

“Im Yoona.” Balas Yoona singkat.

“oppa, kenapa tadi dia tak memanggilmu oppa?” Tanya Seohyun pada Luhan.

Luhan memper-erat rangkulannya pada Yoona, lalu tertawa sebelum menjawab pertanyaan Seohyun. Sedangkan Yoona, dalam hatinya ia merasa senang melihat Luhan yang sepertinya tidak tahu mau menjawab apa pertanyaan Seohyun itu.

“Yoona memang seperti itu. Dia pikir kalian berdua adalah rekan bisnisku, jadi dia merasa tak enak hati memanggilku oppa. Benarkan, sayang?”

Yoona ingin rasanya muntah melihat ekspresi Luhan. “nde, oppa.” Jawab Yoona berusaha  lembut.

“ kalau begitu, kami pulang saja. kami berdua tak ingin mengganggu kalian.” Ujar Seokjin lalu mengajak Seohyun untuk meninggalkan tempat itu.

“jangan lupa, 2 minggu lagi pernikahan kami. Aku sangat mengharapkan kedatangan kalian.” Kata Luhan lalu di jawab anggukan oleh Seohyun dan sebuah senyuman dari Seokjin.

Setelah Seohyun dan Seokjin pergi, dengan cepat Luhan melepas rangkulannya pada Yoona.

“oh, jadi gadis itu yang kau cintai? Picik sekali kau. Menyukai yeojachingu orang lain, apalagi sahabat sendiri. Pantas saja ayahmu menjodohkanmu denganku.” Terang Yoona kesal.

“wae-yo? Apa urusannya padamu? Dan, ayahku menjodohkanku denganmu juga karena ide ayahmu sendiri untuk menyelamatkan perusahaan kalian. Jadi diamlah!” Luhan menegaskan.

“ dan untuk apa kau kemari?” lanjutnya.

“ ibumu bilang, aku harus pergi denganmu untuk membeli  cincin pernikahan kita.”

“tentu saja kau harus pergi denganku. Karena aku adalah mempelai prianya. Aku  Xi Luhan.” Ucap  Luhan percaya diri, dan Yoona selalu jengah dengan sikap Luhan seperti ini salah satunya.

 

Akhirnya hari itu tiba. Hari yang bersejarah sekaligus sangat penting bagi keluarga besar Xi dan Im.

Hari dimana membahagiakan menurut kebanyakan orang. Sebuah pernikahan.

Anak tunggal keluarga Xi terhormat akan menikah dengan anak sulung keluarga Im.

Xi Luhan & Im Yoona

Sang pengantin pria, Xi Luhan telah bersiap-siap untuk mengikat janji suci bersama perempuan yang tidak dicintainya di sebuah gedung perusahaan Xi Corp.

Seorang pendetapun untuk acara pernikahan ini sudah berdiri menunggu upacara pernikahan dimulai.

Luhan berdiri tegap dan sangat mempesona dengan tuxedo putih, membelakangi para tamu undangan yang hadir.

Tak lama kemudian, pengantin wanita berjalan menuju altar tempat Luhan berdiri membelakanginya. Dengan di temani dua orang anak kecil perempuan yang berdiri di belakang pengantin wanita memegang ekor gaun yang di kenakan sang pengantin yang panjang tersebut.

Yoona menyempatkan melirik kearah samping kanannya, namun orang yang ia cari tak ada. Tentu saja tak ada, Oh Sehun-pria yang dicintainya itu tak di undang di acara pernikahannya ini. Lalu ia dapat melihat ayahnya yang berada di deretan kursi paling depan dengan mengulaskan senyum menenangkannya. Di samping ayahnya, Yoona dapat melihat ayah dan Ibu Luhan yang memamerkan senyum bahagia mereka, yang tak kunjung berhenti menebarkan senyum.

Flashback

“appa kenapa masih disini?” Tanya Yoona, saat sang ayah menghampirinya.

“nde?” ayahnya mengernyit bingung

“ appa hanya perlu menyaksikan pernikahan ini dengan duduk tenang di kursi yang telah di sediakan. Appa tidak perlu mengantarku menuju altar.” Ujar Yoona.

“ tapi bukankah impianmu saat ibumu masih hidup, jika kau menikah appa harus mengantarkanmu di depan altar?” tangkas ayah Yoona.

“ ne, itu memang benar. tapi pernikahan ini tidak membuatku bahagia. Meski aku belum menjalaninya, tapi aku sudah memiliki firasat buruk tentang ini.” Jawab Yoona.

‘ dan aku berharap Tuhan berbaik hati untuk mewujudkan pernikahanku yang bahagia bersama Sehun oppa nantinya.’

“mianhe, appa memang salah padamu.” Ucap Tn. Im sedih.

“ gwenchana, appa. Aku mengerti, ini demi kebaikan perusahaan kita dan masa depan kita terutama Jungkook.” Yoona menenangkan ayahnya dengan memeluk sang ayah.

Flashback end

Setelah Yoona sampai disamping Luhan, anak kecil yang memegang ekor gaun Yoonapun mulai menjauh dari altar tersebut.

Sang pendeta melangkah maju dan membaca doa sebelum mengikarkan janji suci pada pasangan itu.

Setelah selesai sang pendeta membaca doa, acara pengikraran janji sucipun dimulai.

“untuk anda Xi Luhan, bersediakah anda menerima Im Yoona sebagai istri sah anda. Menyayanginya dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, dan ketika dalam keadaan sehat maupun sakit sampai ajal menjemput.”

Sebelum Luhan menjawab, ia menyempatkan diri untuk menatap Seohyun di salah satu deretan kursi untuk para hadirin, duduk bersama sang kekasih, Kim Seokjin.

“ne, saya bersedia.”

‘ andai saja pria yang berdiri disampingku ini adalah Oh Sehun.’ Batin Yoona.

“dan untuk anda, bersediakah anda Im Yoona menerima Xi Luhan sebagai suami anda, menyayanginya dalam keadaan suka maupun duka, disaat kaya dan miskin serta ketika dalam keadaan sehat maupun sakit sampai ajal menjemput.”

‘tidak, aku tidak bersedia.’ Ingin rasanya Yoona mengatakan itu, namun ia harus memikirkan masa depan perusahaan ayahnya serta nasib sang ayah tercinta yang telah membesarkannya bersama sang adik sampai sekarang ini. Jadi ia hanya dapat mengatakan penolakan dalam hatinya.

“Ne, saya bersedia.” Jawab Yoona.

“Dengan ini saya menyatakan, kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri di hadapan Tuhan, orang tua, keluarga besar kalian serta para hadirin yang menyaksikan acara pernikahan ini.” Ujar sang pendeta.

Prok prok prok

Semua orang yang menyaksikan itu lalu bertepuk tangan dengan ria menyambut ucapan sang pendeta itu. Seokjin sangat antusias memberikan sebuah tepukan tangan untuk sahabatnya itu dengan senyum yang tak pudar dari wajah tampannya. Sedangkan kekasihnya, Seohyun merasa sedih melihat Luhan berdiri di altar bersama Yoona. Entah kenapa ia merasa tak ikhlas Luhan bersanding dengan gadis manapun. Seohyun hanya memberikan sebuah tepuk tangan yang lemah, berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya.

‘wae? Kenapa aku merasa tak ikhlas melihat Luhan oppa menikahi Yoona? Apa aku menyukai Luhan oppa?’ batin Seohyun.

Dan sekarang, sesi yang dinanti-nanti para tamu undangan tiba. Sesi dimana sang pengantin pria mencium pengantin wanita. Ingin rasanya Yoona menolak, tapi itu mustahil. Sedangkan Luhan ia hanya bersikap tenang dengan mudahnya.

Lalu Luhan dan Yoona berdiri saling berhadapan. Luhan hendak mencium Yoona, namun ia melihat dengan jelas jika wanita dihadapannya ini mengucapkan nama Oh Sehun tanpa suara saat Luhan ingin mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu.

Luhan merasa kesal. Dalam hatinya, ia juga tak ingin mencium wanita itu.

Akhirnya, Luhan mencium Yoona di pipi kanan dan kirinya saja. Dan dapat Luhan lihat, jika wanita itu tersenyum.

Setelah acara selesai, Luhan dan Yoona menginap di Hotel perusahaan milik keluarga Luhan, atas permintaan kedua orang tua Luhan.

Mereka berduapun telah mengganti pakaian pesta mereka dengan sebuah piyama.

“kenapa aku tak melihat adikmu tadi?” Tanya Luhan membuka percakapan.

“Dia harus sekolah.” Jawab Yoona ketus.

“ ini pernikahan noona-nya, seharusnya ia bisa meminta ijin pada pihak sekolah.” Pikir Luhan

“ sekolahnya lebih penting dari pada acara pernikahan. Dan Ia tahu mana pernikahan sesungguhnya, jadi jangan terlalu berharap lebih dari adikku.”

“yah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalian memang keluarga yang munafik. Ayah, kau dan Jungkook sama saja.” Desis Luhan dan tanpa sepengetahuannya berhasil membuat Yoona tersulut emosi.

“mwo?” Yoona menatap sengit Luhan.

“memang benarkan? Jika bukan karena ayahmu dan perusahaannya kita tidak akan menikah seperti ini.” Jawab Luhan.

“ ayahmu dan perusahaannya juga salah. Kenapa mau membantu ayahku? Dan asal kau tahu, Ayahku adalah orang hebat dan baik bukan sepertimu. Ingat itu!!” cecar Yoona berusaha untuk tenang.

“aku tidur di ranjang, dan karena kau pria jadi kau tidur saja di Sofa itu.” Sambung  Yoona lalu membaringkan diri diranjang.

“hey, aku menyayangi tubuhku untuk tidur di Sofa. Lagipula kita telah menikah, dan tidur satu ranjang itu tak masalah.” Balas Luhan sambil mengambil tempat di samping Yoona.

Yoona bangkit dari kegiatan baringnya, dan menatap Luhan kesal.

Merasa ditatap oleh Yoona, Luhan lalu menghela nafas kasar dan berkata “aku tidak sudi menyentuhmu, jadi kau tidak perlu bersikap seperti itu.”

“aku juga terpaksa menikah denganmu.” Lanjutnya.

“kau pikir aku juga mau menikah denganmu? Kalau bukan terpaksa, aku juga tidak akan menikah denganmu. Jika memang aku tidak bisa memiliki Sehun, lebih baik aku menikah saja dengan Park Chanyeol atau dengan Park Seo Jun sekalian, dari pada harus menikah denganmu.” Ungkap Yoona, sambil mendelik kesal.

“ternyata kau diam-diam menyukai pria bermarga Park rupanya.”

“aku lebih mencintai pria marga Oh. Tapi dari pada pria bermarga Xi sepertimu, marga Park lebih baik.” Kata Yoona, lalu turun dari ranjang menghampiri Sofa panjang dikamar itu.

‘tidur di sofa lebih bagus ketimbang tidur seranjang bersamamu.’ Batin Yoona lalu memilih tidur dengan nyaman.

Flashback

Pagi itu, di rumah yang terbilang sangat sederhana ada anak perempuan yang berumur 9 tahun tengah menggigil dikamarnya. Lalu tak lama kemudian, sang ayah masuk dan melihat kondisi anak perempuannya itu.

“Yoongi, gwenchana?” Tanya sang ayah khawatir, namun anak perempuan yang bernama Yoona itu tak menjawab yang berhasil membuat ayahnya makin khawatir.

“appa akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah.” Setelah mengatakan itu, ayahnya menggendong Yoona.

Saat Yoona sadar, ia sudah terbaring di ranjang rumah sakit dan melihat sang ayah yang tengah mengobrol dengan seorang dokter. Ayahnya membungkukkan badanya beberapa kali pada pria berjas putih itu sambil mengucapkan kata terima kasih. Lalu Yoona tak sengaja melihat ke bawah, dan dapat ia lihat jika salah satu kaki ayahnya tak memakai sandal rumah. Sepertinya karena khawatir, ayahnya jadi melupakan itu. Padahal cuaca dingin seperti ini, ayahnya menggendongnya menuju rumah sakit dengan satu kakinya telanjang itu sangat menyiksa tapi ayahnya tak merasakan itu.

Melihat kenyataan seperti ini, Yoona tak kuasa menahan tangisnya.

“Yoongi, gwenchana?” tiba-tiba ayahnya menghampirinya dengan khawatir.

“ gwenchana, appa. Aku hanya merindukan Jungkookie.” Bohong Yoona.

“ jangan khawatir, sayang. Adikmu itu baik-baik saja dengan paman Huang.” Ujar ayahnya sambil membelai lembut rambut sang anak.

“berapa lama dia dengan paman Huang? Aku merindukannya. Apa seorang bayi tidak bisa hidup susah appa?”

“bukan seperti itu sayang. Kita hanya perlu sabar, hanya 2 tahun, lalu kita dapat bersama lagi dengan adikmu dan ayah akan memulai membangun perusahaan lagi bersama paman Huang.” Jawab ayahnya dan Yoona mengangguk meng-iyakan.

‘aku sayang appa. Mulai sekarang, Aku akan menuruti setiap perintah appa.’ Batin Yoona.

Semenjak ibu Yoona meninggal saat melahirkan Jungkook, perusahaan ayah Yoona mulai mengalami beberapa masalah. Hingga masalah itu tak bisa di atasi dan membuat perusahaan Im Seo Jun akhirnya bangkrut.

Beruntung, saat itu seorang pengusaha sukses asal Tiongkok Huang Zi Tao  mau membantunya dengan 1 syarat. Seo Jun harus memberikan anak bungsunya yang masih bayi di rawat oleh pria bermarga Huang itu. Hanya 2 tahun, lalu bayi lelaki itu kembali pada Seo Jun dan akan membantu Seo Jun membangun perusahaannya kembali. Bukan tanpa alasan Tao melakukan itu. Bagaimanapun, istri Seo Jun dan istrinya bersaudara tiri. Istri Tao ingin anak bungsu Seo Jun itu bisa mendapatkan yang terbaik selama 2 tahun dan memberikan sebuah pembelajaran hidup bagi Seo Jun sebab sebelumnya ayah 2 anak itu memiliki sifat angkuh dan sombong.

Butuh sebulan untuk Yoona dan Seo Jun berpikir dan setuju. Lagipula dengan itu, Jungkook bisa mendapatkan ASI dari istri Tn. Huang dan hidup nyaman. Dan secara tidak langsung Jungkook yang masih menginjak umur satu bulan itu telah menyelamatkan hidup mereka.

Dasom dan Hong-bin, sahabat Yoona sekolah tiba-tiba datang untuk mengunjungi Yoona.

“Yoong, gwenchana?” Tanya keduanya bersamaan pada Yoona. Yoona terkekeh melihat itu.

“gwenchana. Kalian tahu aku disini dari siapa?”

“ bibi yang tinggal disamping rumahmu. Tadi kami berdua ingin menjemputmu. Hari ini kakaknya Dasom berulang tahun, tapi Dasom lupa mengundang kita. Sahabat macam apa dia, coba?” ujar Hong-bin sambil menyindir Dasom.

“aish, itu juga bukan salahku. Aku pikir oppaku tak akan merayakannya ternyata appa dan eommaku tetap bersikeras merayakannya. Aku saja baru tahu hari ini.” Jawab Dasom.

“tapi soal pesta, lupakan saja. Kami berdua akan menemanimu di sini.” Lanjut Dasom di iringi anggukan Hong-bin.

“kalian mengobrollah, Appa akan membelikan kalian makanan diluar.” Sahut Seo Jun tiba-tiba lalu keluar dari ruang inap Yoona.

“Appa aku ikut.” Kata Hong-bin lalu mengikuti Seo Jun.

“mian. Karena aku kita tidak bisa ikut merayakan pesta dirumahmu.” Sesal Yoona.

“tak masalah. Walau aku sangat berharap kau dan Hong-bin bisa bertemu dengan oppaku, tapi kesehatanmu lebih penting.”

“ tapi oppamu kan tinggal di Canada. Hari ini adalah kesempatan aku dan Hong-bin bisa berkenalan dengannya. Lagipula kami hanya sekali kerumahmu.”

“ oppaku bukan artis. Kalian bisa berkenalan dengannya lain kali saat ia kembali.” Balas Dasom.

 

Saat ayah Yoona dan Hong-bin di koridor rumah sakit, Hong-bin malah menyuruh supir ayahnya  untuk membelikan makanan dan mengambil sepatu santai ayah Hong-bin yang ada di bagasi.

“ appa, cuaca dingin seperti ini kenapa hanya memakai satu sandal? Pakailah ini, appa.” Ujar Hong-bin lalu Seo Jun memakai sepatu yang di berikan Hong-bin itu.

“ aku dan Dasom telah membayar biaya administrasi Yoona, jadi appa tak perlu memikirkan soal biaya.” Lanjut Hong-bin.

“kau dan Dasom memang anak baik. Yoona beruntung memiliki sahabat seperti kalian. Terima kasih!” Ucap Seo Jun terharu.

“ kita semua beruntung appa, bisa saling mengenal dan bersama seperti ini. Lagi pula, sebelum appa bangkrut, appa selalu mengajak kami bertiga berlibur di luar negeri. Dan aku serta Dasom tak akan melupakan itu.” Cecar Hong-bin

“appa ingin mengajak kalian lagi berlibur, tapi untuk sekarang aku belum bisa melakukan itu. Mintalah pada appa Lee atau appa Kim dulu. hahaha.. bukankah kalian memiliki appa Im, Appa Lee, dan Appa Kim” ayah Yoona melanjutkan sambil tertawa.

“ tentu saja. Jangan tertawa keras-keras, ini rumah sakit appa. Tapi appaku sangat pelit sedangkan appa Kim sangat irit.”

“arraseo. Tapi, sepertinya kau menyukai Dasom. Benarkan?” tiba-tiba Seo Jun bertanya.

“aish, apa tahu itu? Padahal aku sudah berusaha menyembunyikannya. Tapi appa jangan bilang siapa-siapa yah? Kami masih kecil appa.” Seo Jun hanya menganggukannya.

Flashback end

#Ke esokkan harinya

Saat Luhan bangun, Yoona masih terlelap dalam alam mimipinya. Melihat Yoona tidur di Sofa, Luhan hendak mengangkat tubuh wanita itu untuk memindahkannya tidur lebih nyaman di ranjang. Namun, ia urungkan dan lebih memilih untuk membersihkan dirinya dikamar mandi.

Luhan telah bersiap dengan jas kantornya, namun sang istri tak kunjung bangun untuk membuatkannya sarapan pagi.

“aku akan benar-benar mati kelaparan jika terus menjadi suaminya.” Gerutu Luhan lalu mengambil tas kerjanya keluar dari Hotel itu.

Hari ini Luhan akan menemui seseorang. Ia telah menyuruh supir Kang agar bisa menemui orang itu, dan untung saja orang itu mau bertemu dengannya hari ini.

Supir Kang membukakan pintu mobil untuk Luhan, lalu berjalan di belakang tuan nya itu.

“sepertinya ia akan datang terlambat, tuan muda.” Terang supir Kang dan di jawab anggukan mengerti dari Luhan.

Luhan memilih tempat paling strategis di café itu. Sebenarnya Luhan ingin mengajak bertemu di sebuah restoran italia, namun orang itu lebih memilih bertemu di café di kawasan Myeongdong ini.

Tak butuh waktu lama untuk menunggu, orang yang Luhan tunggu akhirnya datang.

“sepertinya anda sangat ingin bertemu denganku.” Gurau orang itu sebelum duduk di hadapan Luhan.

‘ dia sama menyebalkannya dengan Yoona.’ Batin Luhan.

“ yah bisa di bilang seperti itu, Tuan Oh.” Timpal Luhan berusaha tenang.

“ kau bisa memanggilku Sehun, tak perlu seformal itu. Aku bukan rekan kerjamu.” Balas Sehun dengan tenang.

“ dan langsung pada intinya saja, ada perlu apa kau menemuiku?” Tanya Sehun saat Luhan hendak mengeluarkan suara untuk berbasa-basi dengannya yang berhasil di mengerti Sehun.

“ aku ingin kau jangan menemui Yoona. Kau harus tahu posisi kalian sekarang. Ia telah menjadi istriku.” Jelas Luhan tersenyum meremehkan.

Sehun juga menanggapinya dengan tawa renyah.

“wae?” desis Luhan.

“kau melarangku untuk bertemu dengan kekasihku?” Tanya Sehun.

“ dia telah menjadi istriku. Kau tak pantas menyebutnya sebagai kekasihmu lagi sekarang.” Jawab Luhan santai.

“Lalu kau? Menemui wanita pujaanmu yang telah memiliki kekasih?  Ahn Seohyun? Cih, kau sungguh brengsek tuan Xi.” Cecar Sehun.

“Mwo-ya?” Luhan hendak menghajar Sehun, namun berhasil di cegah oleh supir Kang yang berdiri tak jauh dari mereka.

“ ternyata anak angkat keluarga Kim sepertimu, bisa mengetahui hal seperti itu juga yah?” pancing Luhan, namun Sehun tak mengindahkannya.

“ apa kau berusaha mencari tahu tentangku?” lanjut Luhan.

“ bukan aku. Tapi kau yang berusaha tahu tentangku. Jangan kau pikir karena kau dari keluarga kaya, kau bisa mengendalikan hidup seseorang. Karena hidupmu sendri tak bisa kau kendalikan, apalagi mengendalikan hidup orang lain. Aku anak angkat, tapi tidak pernah menyukai kekasih sahabat sendiri.” Cecar Sehun lalu berdiri.

“ aku rasa hanya membuang-buang waktu yang berharga jika aku disini. Semoga ini pertemuan terakhir kita. Aku pergi!” pamit Sehun lalu meninggalkan tempat itu.

Luhan sontak marah, merasa tak percaya. Lalu memukul meja café itu sebelum pergi.

.

.

“supir Kang, kita ke toko kue yang terletak di Nonhyeon-dong terlebih dahulu sebelum bertemu Seohyun.” Pinta Luhan pada supir pribadinya itu.

“nde, tuan.” Jawab Supir Kang.

Sesampainya di toko kue perancis yang bernama Paris Baguette itu, Luhan lalu keluar dari mobilnya di dampingi supir Kang di belakangnnya.

“mian, Tuan. Bukankah itu istri anda?” pertanyaan supir Kang berhasil membuat Luhan menoleh kearah yang ditunjuk Supir Kang. Dan benar saja, jika itu adalah Yoona – istrinya.

Yang membuat Luhan kesal adalah, Yoona memasuki toko tempat Luhan ingin datangi.

“kita tunggu istriku keluar, lalu kita masuk ke toko tersebut.” Ungkap Luhan pada supir Kang, lalu mereka memasuki mobil.

“jika seperti ini, Tuan Xi seperti sedang selingkuh.” Kekeh Supir Kang.

“kenapa supir kang berkata seperti itu?” Tanya Luhan heran.

“kenapa kau tidak masuk bersama saja tadi? Jika seperti ini, Tuan muda terlihat sedang membelikan sesuatu untuk selingkuhan anda.” Lanjut Supir Kang.

“Mwo-ya?” desis Luhan.

“ani-yo. Lupakan saja, tuan.” Diam-diam Supir Kang tidak bisa menahan senyumnya.

Tiba-tiba Luhan melihat seorang pria memasuki toko yang di masuki Yoona tadi. Pria itu memakai jaket supreme, celana pendek dan topi berwarna hitam.

“supir Kang, aku seperti pernah melihat pria itu, tapi aku lupa dimana?!” kata Luhan sambil berpikir sejenak. Supir Kang ikut melihat pria yang di tunjuk oleh Luhan itu.

“nde? oh, dia adalah actor sekaligus seorang musisi, tuan. Tentu saja anda pernah atau bisa sering melihatnya di tv. Bahkan dia pernah berpartisipasi di SS Club ” Jelas supir Kang.

SS Club adalah salah satu cabang perusahaan ayah Luhan di Imjado yang cukup kompeten.

“oh, aku mengingatnya. Dia adalah actor terkenal, Park Chanyeol.” Gumam Luhan.

Oh, ternyata actor itu hanya sebentar memasuki toko kemudian keluar dari toko bersama Yoona?. Sontak pemandangan itu berhasil membuat Luhan terkejut.

“Kau pikir aku juga  mau menikah denganmu? Kalau bukan terpaksa, aku juga  tidak akan menikah denganmu. Jika memang aku tidak bisa memiliki Sehun, lebih baik aku menikah saja dengan Park Chanyeol atau dengan Park Seo Jun sekalian dari pada harus menikah denganmu.” Ungkap Yoona, sambil mendelik kesal.

“ternyata kau diam-diam menyukai pria bermarga Park rupanya.”

Tiba-tiba perkataan Yoona saat itu terngiang di otaknya.

Tanpa pikir panjang,  Luhan keluar dari dalam mobil, dengan membanting pintu mobilnya cukup keras.

Dengan tangan yang saling bertaut, Yoona dan Chanyeol berjalan bersama hendak menuju  ke mobil milik Chanyeol.

Namun langkah mereka berhenti, ketika Luhan dengan cepatnya melepaskan tautan itu. Menggantikan Luhan yang menggenggam tangan Yoona – istrinya.

“jika kau bukan seorang actor, aku akan menghabisimu.” Kata Luhan, mendengus kasar.

“Yoong, nugu?” Chanyeol bertanya pada Yoona sambil menatap gadis itu meminta penjelasan.

“aku adalah suaminya.” Timpal Luhan memperkenalkan statusnya.

Chanyeol kaget, sangat kaget mendengarnya.

‘apa karena Sehun meninggalkannya, jadi dia dengan mudahnya berkencan dengan pria ini? Ckck..’ batin Luhan sambil menatap Yoona kesal.

“jika pria ini adalah suamimu, bagaimana dengan Sehun?” Tanya Chanyeol, yang berhasil membuat Luhan tak percaya. ‘jadi actor terkenal seperti Park Chanyeol juga tahu tentang hubungan asmara Yoona dan Sehun?’

“umm, aku harus pulang. Maaf, tidak bisa pulang bersamamu. Jika kau masih penasaran, tanyakan saja pada Jungkook.” Ujar Yoona sambil memberikan bungkusan belanjaan yang dipegangnya pada Chanyeol. Lalu menarik Luhan pergi dari hadapan Chanyeol.

 

“apa hubunganmu dengan actor tadi?” Tanya Luhan, disela-sela perjalanan pulang mereka.

“apa urusanmu? Jangan karena kau pikir aku istrimu, kau berhak tahu semua tentangku dan mencampuri urusanku. Yang hanya perlu kau tahu adalah aku mencintai priaku, Oh Sehun. Aku tidak pernah mencampuri atau bertanya soal hubunganmu dengan Seohyun. jadi berhentilah bertanya.”  Jawab Yoona dengan kesal.

Luhan terdiam, dan karena Yoona menyebut nama Seohyun, ia jadi teringat jika ia telah berjanji pada Seohyun untuk membawakannya kue di apartemennya.

‘ish, kenapa aku bisa lupa sih?’ sesal Luhan.

“kau pasti ingin membelikan kue untuk Seohyun, makanya kau ke Paris Baguette. Akhirnya kau tidak bisa membawakannya kue, karena sibuk mencampuri urusanku.” Gerutu Yoona.

Luhan kesal mendengarnya, namun rasa kesalnya hilang setelah Yoona mengatakan “ hubungi dia. Beritahu padanya jika kau ada urusan mendadak yang penting dan tidak bisa kau tinggali, jadi kau tidak bisa menemuinya hari ini.”

‘Luhan, kau tidak boleh menyukai perempuan di sampingmu ini. Istrimu ini telah terobsesi pada pria yang bernama Oh Sehun.’ Racau Luhan dalam hati.

Luhan lalu mengetikkan sebuah pesan untuk Seohyun, seperti ucapan Yoona tadi.

 

Pagi yang cerah. Namun suasana hati Luhan sedang tak cerah. Dia belum sarapan pagi ini, wanita yang menjabat sebagai istrinya juga tak peduli padanya. Pagi-pagi sekali, ia sudah tak ada diapartemen mereka.

Pantas saja ia membujuk Luhan untuk tinggal di appartemen ketimbang rumah orangtua Luhan kagar dia bisa keluar sesuka hatinya.

Luhan dengan terpaksa sarapan pagi di sebuah restoran itali yang sering dia kunjungi.

Saat ia tengah asik menikmati sarapannya, dia tak sengaja melihat Seokjin.

Seokjin tengah mengandeng seorang wanita. “apa dia berani menduakan Seohyun?” gumam Luhan.

Saat Luhan hendak berdiri menghampiri Seokjin dan memberinya pelajaran, namun Seokjin tiba-tiba menengok kearah tempat Luhan duduk.

“Luhan Hyeong!” panggil Seokjin lalu menghampiri Luhan.

“kau sarapan disini juga?” Tanya Luhan dan dijawab anggukan oleh Seokjin.

“nugu?” Tanya Luhan sambil melirik gadis disamping Seokjin.

“anyeonghaseo.. Dasom imnida. Aku sepupu Jin oppa.” Dasom memperkenalkan diri.

‘bukankah dia suami Yoona?’ batin Dasom.

“oppa, aku harus pergi sekarang. Aku akan sarapan bersama sahabatku.” ujar Dasom pada Seokjin dan Seokjin mengiyakan.

Saat Dasom berdiri, dia lalu dengan sengaja menyenggol  seorang pelayan yang tengah membawakan secangkir kopi untuk Luhan. Namun karena ulah Dasom, isi cangkir kopi itu tumpah mengenai Luhan.

“oh, maaf. Aku tak sengaja menyenggol dia oppa.” Kata Dasom sambil melirik  Seokjin agar sepupunya itu membela dirinya.

“kau boleh pergi.” Pinta Luhan pada pelayan tersebut.

“mian..” lirih Dasom.

“maafkan dia, Hyeong. Dia selalu ceroboh memamg.” Ucap Seokjin.

“gwenchana.. bukankah kau ingin menemui sahabatmu? Pergilah temui sahabatmu, jangan membuatnya menunggu.” Kata Luhan sambil tersenyum. Ia sama sekali tak marah setelah melihat raut wajah yang bersalah dari sepupu Seokjin itu.

“istriku juga sangat ceroboh.” Terang Luhan setelah Dasom pergi. Sedangkan Seokjin hanya bisa tertawa mendengarnya.

 

Awalnya Dasom mau menemani ajakan Seokjin karena ia tak mau mengganggu kebersamaan Yoona dengan Sehun. Namun setelah tak sengaja bertemu dengan suami Yoona tadi, Dasom lalu mau tak mau harus mengusik kebersamaan pasangan kekasih itu.

“mian, aku mengganggu.” Kata Dasom, tanpa basa-basi ikut duduk bergabung.

“tidak biasanya kau mau bergabung.” Tangkas Sehun.

“ne. biasanya kau selalu mengatakan jika tak ingin mengganggu.” Lanjut Yoona.

“aku tadi bertemu dengan suamimu, Yoong.” Jelas Dasom.

“bertemu dimana?” Tanya Sehun santai.

“aku menemani Jin oppa, eh malah tak sengaja bertemu dengan suami Yoona. Ternyata Jin oppa mengenalnya.” Jawab Dasom.

“tentu saja dia kenal. Jin adalah sahabatnya.” Ucap Sehun.

“maksud oppa, Seokjin oppa?” kaget Yoona.

“nde. Kim Seokjin, tapi aku dan Sehun sering memanggilnya dengan sebutan Jin.” Dasom menambahkan.

“siapa sih nama pria yang menjabat suamimu itu? Tadi Jin oppa mengatakannya padaku, tapi aku lupa.  Aku tidak suka menyebutnya suamimu.” Tanya Dasom.

“namanya Luhan.” Jawab Yoona.

Lalu Dasom menceritakan sikap jailnya pada Luhan direstoran. Sehun dan Yoona tertawa senang mendengarnya. Dari mereka bertiga, Dasom dan Yoona lah yang antusias.

 

Karena kejadian di Restoran pagi tadi, Luhan terpaksa mengganti pakaiannya. Dan ia memutuskan untuk menemui Jungkook, adik Yoona disekolah. Tepatnya sih, menjemput adik iparnya itu.

Menurut informasi, Jungkook sering pulang bersama Jaehyun teman sekelasnya. Pulang menggunakan bus, di jemput ibu Jaehyun atau pulang bersama para sunbae mereka.

Luhan saat SMA ia sudah memiliki kendaraannya sendiri. Motor dan mobil, ia sudah memilikinya sejak ia sekolah menengah atas.

20 menit yang dibutuhkan Luhan untuk menunggu didalam mobilnya.

Setelah menunggu lama, akhirnya dia melihat Jungkook bersama Jaehyun yang keluar dari gerbang sekolah bersama siswa-siswi yang lain.

Luhan lalu keluar dari dalam mobilnya, dan memanggil Jungkook. Jungkook yang melihat Luhan, bersikap cuek dan tetap mengobrol bersama Jaehyun.

Melihat itu, Luhan lalu menghampiri kedua siswa itu.

“waeyo?” Tanya Jungkook tak suka pada Luhan.

“aku ingin menjemputmu. “ tangkas Luhan.

“Jungkook, aku duluan yah.” Kata Jaehyun.

“kau pulang dengan siapa?” Tanya Jungkook. Sebab mereka berdua sering pulang bersama, ia harus tahu temannya itu pulang dengan siapa.

“kau bisa pulang bersama kami.” ajak Luhan.

“aku pulang bersama Peniel sunbae.” Jawab Jaehyun cepat lalu pergi.

“ia terlihat tak sopan.” Pendapat Luhan.

“memangnya kenapa?” ketus Jungkook.

“nde?” kaget Luhan

“tidak biasanya. Kau menjemputku pulang karena ada maunya kan? Cih.” Kesal Jungkook lalu masuk kedalam mobil.

“dasar bocah!” gumam Luhan.

 

Luhan tidak langsung mengantar Jungkook pulang, ia mengajak adik iparnya itu makan siang di salah satu Restoran di kawasan Sinchon.

Setelah pesanan mereka datang, Jungkook lalu dengan lahap menikmati makanan yang telah Luhan pesan untuknya.
“aku bertanya sesuatu padamu.” Kata Luhan sambil melihat Jungkook makan.

“setelah makananku habis, kau boleh bertanya padaku.” Balas Jungkook.

Walau kesal mendengarnya, Luhan tetap menurutinya.

Beberapa pengunjung café yang didominan kaum pelajar itu manatap kearah mereka. Adapula yang berbisisk-bisik dan mungkin membicarakan mereka.

“apa aku setampan itu sampai mereka melihat kearah kita?” gumam Luhan dengan percaya diri. Jungkook yang mendengarnya tak ambil pusing, tetap menikmati makanannya.

“kau tahu, dia tampan sekali. Siswa dari SOPA memang tampan-tampan ya?” salah satu gadis berseragam berbisik pada temannya yang dapat Luhan dengar.

“nde. dia sangat tampan.” Tambah gadis disebelahnya.

Luhan lalu memasang wajah masam mendengarnya. Ia pikir beberapa pengunjung tengah terpesona padanya, ternyata ia salah.

“Hyeong, lihat disana. Dia sejak tadi melihatmu.” Kekeh Jungkook.

Dan benar saja, orang yang dimaksud Jungkook itu sejak tadi melihat kearah Luhan. Luhan semakin frustasi karenanya.

Yang dimaksud Jungkook itu adalah sekumpulan ahjumah-ahjumah. Saat Luhan melirik kearah merekapun, para ahjumah itu tersenyum menggoda padanya yang berhasil membuat Luhan mual.

“pelayan..” Panggil Luhan, lalu seorang pelayang pria menghampirinya.

“tolong panggilkan pemilik dari Café ini.” Pinta Luhan, lalu pelayan itu mengangguk mengerti.

 

“maaf, apa makanannya kurang enak?” Tanya pemilik Café itu memastikan.

“bukan soal makanannya, tapi pengunjungnya.” Ungkap Luhan. Jungkook yang mendengar itu, hanya menyerngit kesal.

“nde?” pemiliki Café itu tak mengerti.

“bisakah anda menyuruh para ahjumah itu meninggalkan Café ini? Aku terganggu dengan mereka. Aku akan membayar 7 kali lipat dari mereka.” Jelas Luhan.

“tidak semua pengunjung. hanya para ahjumah itu.” Luhan menambahkan.

Pemilik Café itu mengerti, lalu melakukan apa yang dikatakan Luhan.

“kau berlebihan.” Kata Jungkook yang baru menyelesaikan kegiatan makannya.

“apa kau sudah selesai?” Tanya Luhan, dan Jungkook mengangguk.

“aku ingin bertanya padamu. Ada hubungan apa Park Chanyeol dan Park Seo Jun dengan noonamu?”

Jungkook sempat kaget mendengar kedua nama pria itu.

“kau perlu membayar mahal untuk ini.” Tangkas Jungkook.

“arra. Kau ingin apa?” tawar Luhan.

“aku punya 10 permintaan. Otte?”

“bukankah itu terlalu banyak?” Luhan tak terima.

“aku hanya bercanda. 3 permintaan yang harus Hyeong kabulkan. Otte?”

“apa itu?”

“pertama, aku ingin tidur ditemani noona malam ini. Dan permintaan kedua dan ketiga aku akan memikirkannya.” Jelas Jungkook.

“OK. itu mudah.” Luhan menyanggupi.

“jika Hyeong mengingkarinya, maka Hyeong harus melepas ahli waris keluarga Xi pada orang lain. Deal?”

“Deal.” Jawab Luhan yakin

“aku telah merekamnya. Jadi Hyeong tidak bisa berdalih nantinya.” Ungkap Jungkook memperlihatkan ponselnya yang telah merekam pembicaraan mereka tadi.

Luhan sontak tak percaya, namun tak lama kembali bersikap santai.

“jadi katakanlah siapa mereka?” lanjut Luhan.

“Park Chanyeol adalah mantan kekasih Yoona noona sebelum mengenal Sehun Hyeong. Chanyeol hyeong memutuskan Yoona noona karena hyeong ingin mewujudkan impiannya menjadi seorang public figure. Ia khawatir jika tetap menjalin hubungan dengan Yoona noona, itu bisa menghambat impiannya.” Jelas Jungkook panjang lebar tentang Park Chanyeol.

“Park Seo Jun?” lanjut Luhan.

“Park Seo Jun adalah Im Seo Jun ayahku.”

“nde?” kaget Luhan.

“ayahku mengganti marganya semenjak ibu meninggal dan perusahaan ayah bangkrut. Noona sangat menyayangi appa, makanya ia menjadikan appaku tipe idealnya. Jelas? Ayo, aku ingin pulang.”

“itu saja?” Tanya Luhan tak puas.

‘jika seperti ini, lebih baik aku menyewa orang untuk mencari tahunya saja.’ Batin Luhan.

“lalu apalagi?” Jungkook balik bertanya.

“Park Seo Jun dan Park Chanyeol hanya pria cadangan.” Kata Jungkook santai.

“nde? pria cadangan?” Tanya Luhan tak mengerti.

“Park Se Jun dan Park Chanyeol hanya cadangan, sebab pria utamanya adalah Sehun Hyeong. Tapi lebih baik bisa menjadi pria cadangan daripada menjadi pria tak diharakan.” Sindir Jungkook.

“baiklah, kita pulang sekarang.” Kata Luhan akhirnya.

Saat Luhan tengah asik dalam alam mimpinya, tiba-tiba Yoona menyiramkan dirinya dengan segelas air dingin tepat diwajahnya. Sontak hal itu berhasil membuat Luhan sadar dari kegiatan tidurnya.

“YAKH!! Apa yang kau lakukan?” amuk Luhan sambil melemparkan bantal kearah Yoona, namun tak mengenainya.

“aku hanya ingin membangunkanmu saja. Bukankah itu berhasil?” jawab Yoona santai.

“kau bisa membangunkanku dengan baik-baik. Tak perlu dengan cara seperti ini.” Racau Luhan.

“cepatlah! Pagi ini orangtuamu mengajak kita sarapan bersama di rumah mereka.” Terang Yoona lalu meninggalkan Luhan yang terlihat kesal karena perbuatannya.

 

Setelah sarapan pagi di rumah orangtuanya, rasa kesal Luhan tak hilang-hilang karena kejadian tadi pagi.

“Tuan, apa anda baik-baik saja?” Tanya Supir Kang yang melihat raut wajah kesal Luhan di kaca spion mobil sambil menyetir. Yoona yang duduk disamping Luhanpun, hanya terkekeh.

“bagaimana aku bisa baik-baik saja jika aku memiliki istri seorang MONSTER.” Jawab Luhan sambil memandang Yoona ketus.

“supir kang, nyalakan radionya. Hari ini lagu Chanyeol yang Monster akan di play diradio. Itu adalah lagu barunya.” Pinta Yoona pada supir Kang dengan semangat tak mengubris perkataan Luhan yang ketus padanya.

“oh, aku akan mati mendengarnya.” Ledek Luhan saat lagu yang dimaksud Yoona di putar.

“jinja? Kalau begitu aku akan sangat berterima kasih pada lagu Chanyeol oppa jika itu terjadi.” Balas Yoona senang.

“mwo-ya? Jika aku mati, banyak orang yang menangis karena itu. Dan siapa tahu, jika aku mati kau ikut menangis.” Kata Luhan

“nde. aku akan menangis jika kau mati karena lupa bernapas. Aku akan menangis karena kebodohanmu.” Balas Yoona sambil tertawa.

“lihat, bahkan supir Kang juga tertawa.” kata Yoona sambil melirik Supir Kang.

“Aish, kau ini!” pada akhirnya Luhan terpaksa mengalah dan memutuskan untuk diam.

Pernikahan Luhan dan Yoona telah menginjak satu tahun. Ibu Luhan juga telah mendesak keduanya untuk memberikan cucu. Namun Luhan dengan mudahnya mengatakan jika dia dan Yoona masih berusaha.

Hari ini adalah hari senin, dan tidak biasanya Luhan masih tertidur di ranjang mereka.

‘apa karena ucapan ibunya semalam ia jadi ingin berusaha membuat cucu dalam mimpimya?’ pikir Yoona lalu berlalu untuk menonton tv.

Sejam telah berlalu, namun Luhan tak kunjung keluar dari kamar. Padahal seharusnya ia telah berangkat ke kantor sejam lalu.

“meski dia atasan, tetap saja dia tidak harus bermalas-malasan.” Kata Yoona, sambil masuk kedalam kamar.

“Luhan bangunlah. Apa aku harus menyiram wajahmu dengan air, atau kau ingin mendengar lagu LOTTO baru mau bangun?” Tanya Yoona, berdiri disamping ranjang. Namun tak ada reaksi apapun dari pria itu.

“LUHAAAAN…” teriak Yoona akhirnya.

“Diamlah..” lirih Luhan merasa risih dan terganggu dengan teriakan Yoona.

Melihat wajah Luhan yang pucat dan tak bersemangat, Yoona baru sadar jika suaminya itu sedang tak sehat atau demam.

“gwenchana?” khawatir Yoona, sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi Luhan. Panas.

“kau demam. Kita harus kerumah sakit sekarang.” Panic Yoona.

“aku tidak apa-apa. Hanya demam, itu biasa. Aku adalah Xi Luhan.” Yakin Luhan, menolak untuk kerumah sakit.

“tapi kau demam dan ini bahaya, Lu.. kita harus kerumah sakit sekarang.” Tegas Yoona.

Tanpa sepengetahuan Yoona, Luhan tersenyum dalam hatinya. Entah kenapa ia senang Yoona mengkhawatirkannya dan memanggilnya dengan sebutan Lu.

“panggil Dokternya kemari. Jika perlu, pindahkan rumah sakitnya di apartemen kita.” Gurau Luhan.

“meski sakit, kau tetap menyebalkan. Aku akan menyuruh supir Kang memanggilkan Dokter untukmu, dan akan aku buatkan bubur untukmu.” Ucap Yoona, lalu berlalu.

“apa aku mencintainya?” Tanya Luhan pada dirinya sendiri.

 

Setelah Dokter memeriksanya dan memberikan beberapa obat yang perlu diminum pada Luhan, Dokter tersebut lalu kembali kerumah sakit.

“mian, oppa. Luhan sedang sakit, aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri.” Itu suara Yoona yang tengah mengobrol melalui smartphonenya. Luhan yakin, jika itu adalah Sehun.

Yoona lalu menghampiri Luhan, dan duduk disamping ranjang yang ditempati Luhan untuk menemaninya.

“aku ingin bertemu dengan Seohyun. Telpon dia kemari.” Ujar Luhan santai.

“tapi untuk apa? Lagipula ada aku disini.” Jawab Yoona tak suka.

Luhan tak menjawab. Yoona lalu dengan terpaksa mengambil ponsel Luhan dan melakukan seperti apa yang dikatakan Luhan.

Selang beberapa menit, Seohyun datang dengan kekhawatirannya.

“oppa, gwenchana? Seharusnya oppa bisa menjaga kesehatan dengan baik.” Ucap Seohyun.

“gwenchana. Kata Dokternya, aku hanya perlu beristirahat.” Jawab Luhan sambil melirik Yoona. Luhan paham, jika Yoona tak suka dengan kehadiran Seohyun. Menurut Luhan, Yoona tengah cemburu.

‘apa aku dan Yoona akhirnya saling menyukai?’ Luhan bertanya-tanya dalam hatinya.

“oppa, kau sudah menelan obatnya?” Tanya Seohyun dan dijawab gelengan dan kekehan dari Luhan

Yoona yang melihat itu jengah dan memutuskan keluar dari kamar itu.

TBC

A/N: ini ff lama. ff ini berasal dari Drabbel yang kujadiin twoshot dengan beberapa perubahan dan penambahan cerita. Tapi cerita ini murni dari pemikiranku serta aku terinspirasi dengan kisah paman dan bibiku yang tidak mengenakkan menurutku. Rencananya aku mau  ini ff di publish lepas lebaran lalu, namun aku tidak mempunyai banyak waktu sebab sepupuku yang cowok menikah, terus di ikuti  sepupu cewek juga menikah, dan kakakku juga  menikah. Oh melelahkan sekali dan repot. Terus, lanjutan fated to love you nya nunggu laptop di perbaiki yah #bagiyangnunggu.

Gomawo udah nyempatin baca dan ninggalin jejak. Juga, Terima kasih untuk admin yang telah publishin ff ku ini.

Istrinya Lay, keponakan Oh Sehun pamit.

17 thoughts on “[Freelance] My Husband or My Love?

  1. Setahun? Kyaaa kyaknya luhan udah mulai suk dan bagaimana dengan sehun ? Ga maksa sih endingny sehun sama yoona . tapi happy ending sangat diharapkan cepet dilanjut ya thorr penasaran

  2. semoga luyoon akhirnya saling mencintai,,,
    aku pikir lgsg tamat eh ternyata tbc juga… kekeke
    ff nya bagus…. aku tggu lanjutannya ya chinguuu. hwaiting

  3. Iya tuh fated to love you ditunggu loh thor. Penasaran banget sama kelanjutan cinta segi empat nya…
    Kasihan sehun di nih ff, luhan malah sok banget gitu. Geer nya lu… Udah yakin aja kalo Yoona suka sama dia. Bakal jadi YoonHun apa LuYoon ya…
    Ditunggu part 2 nya thor, Hwaiting!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s