[Freelance] In a Dream -Empat

empat

In a Dream | Hanabi

Im Yoona | Kris Wu | Jessica Jung | Huang Zitao

Chapter | Horror – Mystery – Thriller | PG-17

.

.

.

Tao merasa kalau hari ini dia sangat sial. Pertama, Han Songsaenim–guru perempuan yang cantiknya kayak model–hari ini tidak masuk. Padahal pemuda itu menyukai Han Songsaenim. Kedua, guru itu malah memberikan tugas yang menumpuk. Padahal Tao benci matematika. Dan yang terakhir, kenapa dia harus sekelompok dengan dua murid perempuan paling dimusuhi di sekolah? Im Yoona si pembawa sial dan teman seperjuangannya Jessica Jung.

Memang Tao cukup beruntung kalau sekelompok dengan Yoona. Gadis itu juga terkenal dengan prestasinya di sekolah. Tao hanya tinggal duduk diam dan menyerahkan semua tugasnya pada Yoona, karena gadis itu memang tidak suka ribut. Tapi masalahnya si cerewet Jessica Jung yang dari tadi ngoceh panjang lebar di sampingnya. Telinga Tao rasanya mau pecah.

Mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju rumah Tao. Awalnya mereka berencana mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah. Tapi menurut Yoona akan memakan banyak waktu untuk mengerjakan tugas ini. Entah mengapa Tao malah setuju dengan pendapat Jessica tentang mengerjakan tugas di rumahnya. Harusnya dia menolak, tapi mereka hampir sampai di rumah pemuda itu ketika dia sadar atas kesalahannya.

Mereka berhenti di ujung jalan. Di depan sebuah rumah yang terlihat sangat kontras dengan lainnya di perumahan ini. Rumah miao bergaya sky will lengkap dengan pintu kayu geser dan lantai kayu. Rumah panggung megah yang tersusun dari potongan balok-balok kayu yang tebal.

“Wah, aku merasa seperti memasuki lorong waktu menuju Dinasti Qin.” Celetuk Jessica ketika mereka memasuki ruangan depan.

Jessica dan Yoona terkagum-kagum melihat rumah Tao. Seperti orang asing yang baru pertama kali melihat rumah tradisional China kuno. Namun suara melengking membuat mereka membeku di tempat. Seorang wanita tua memasuki ruang tamu, dia berjalan sangat pelan dan anggun karena mengenakan cheongsam bermotif sederhana. Tetapi, wajahnya terlihat marah sambil mengeluarkan kalimat kasar. Disusul dengan seorang pria tua yang mengenakan pakaian kantor. Mereka bertengkar di depan Jessica dan Yoona, membuat Tao sangat tidak nyaman. Kesan pertama yang diberikan oleh kedua orang tua Tao, sangat buruk.

“Bisakah kalian berhenti bertengkar!” Tao meyela ditengah pertikaian yang memanas. “Sekali saja dan tolong jangan bertengkar di depan teman-temanku.”

Jessica dan Yoona terlihat kikuk ketika Nyonya Huang malah terlihat tidak suka dengan kehadiran mereka disini. Mereka berdua saling melempar pandangan, seolah memiliki pikiran yang sama. Jessica dan Yoona berjalan mundur secara bertahap. Tidak ingin menganggu pertikaian di antara mereka bertiga.

“Hey, kalian mau kemana?” pertanyaan Tao membuat langkah mereka terhenti. “Ayo masuk.” Ajaknya sambil menunjuk dengan dagu.

Jessica dan Yoona mengambil langkah memasuki ruang tengah. Mereka membungkuk lalu berbicara hampir bersamaan. “Permis.” Lalu berlari kecil mengikuti Tao yang tengah berjalan di lorong berlantai kayu.

Sesampainya di kamar pemuda itu, Tao menunjukkan wajah kecewanya. Tentu saja hal itu membuat Yoona dan Jessica merasa tak enak hati. Tao berbalik, menatap dua teman kelasnya yang kini masih berdiri di ambang pintu. Terlihat ragu untuk masuk. “Apa yang kalian lakukan? Ayo masuk.”

Sedikit dorongan dari Jessica membuat kaki Yoona melangkah masuk. Ia duduk di lantai kayu dekat ranjang pemuda itu. Interior kamar Tao terlihat sangat moderen, berbanding dengan bentuk rumahnya yang tradisional. Seperti kamar anak laki-laki pada umumnya. Yoona mengeluarkan buku dan alat tulisnya, meletakkannya di atas meja kayu berkaki pendek yang baru saja Tao letakkan di depannya.

Jessica yang duduk dihadapannya masih terlihat enggan untuk berbicara lagi seperti yang dia lakukan dalam perjalanan menuju ke sini. Gadis itu menutup mulut cerewetnya rapat-rapat. Sedangkan Tao sudah dapat mengontrol emosinya, kini dia terlihat biasa-biasa saja. Seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.

“Tao-ssi,” Yoona tidak enak yang menumpuk di dalam hati Yoona, mendorongnya untuk bicara. “Maaf, apa kami menganggu? Jika kau ingin sendiri, kami akan pergi. Kita bisa mengerjakan tugas ini besok. Lagi pula tugas ini akan dikumpulkan minggu depan.”

“Aku tidak merasa kalian penganggu,” Tao berbicara tanpa menatap Yoona. “Tugas ini sangat banyak, aku tidak yakin waktu satu minggu cukup untuk menyelesaikan tugas ini. Kita harus memanfaatkan waktu yang ada.”

“Tapi, kami tidak enak hati…”

“Tolong,” Tao menyela. Sorot matanya langsung memandang Yoona serius. Tidak seperti biasanya, pemuda brandal ini tidak terlihat seperti biasanya. “Anggap saja kejadian yang tadi tidak pernah terjadi.”

.

.

.

“Kalian yakin tidak ingin di antar?” tanya Tao.

Hari sudah gelap ketika mereka keluar dari rumah pemuda tersebut. Mereka menyelesaikan tugas yang diberikan Han Songsaenim lebih cepat dibandingkan yang Yoona perkirakan. Ternyata Jessica dan Tao sangat handal tentang team work. Membuat pekerjaan mereka jauh lebih mudah.

“Tidak perlu,” timpal Jessica. Kini mereka berdiri di depan gerbang kayu di ujung jalan depan rumah Tao. “Kau pikir siapa yang akan berani menganggu kami berdua?”

Tao mengangguk lalu tersenyum kecil. “Ya, ya. Kau benar. Aku hanya menawarkan diri, jika kalian tidak mau. Ya sudah.”

“Kalau begitu, kami pergi dulu,” Ucap Yoona sambil tersenyum kecil. “Maaf, merepotkan.” Tambahnya.

“Iya, hati-hati.”

Mereka berjalan menjauhi rumah Tao. Tetapi pemuda itu masih berdiri di sana, di ambang gerbang sambil menatap punggung Yoona dan Jessica menjauh dari pandangannya. Bahkan ketika mereka telah berbelok di persimpangan jalan.

“Yoona-ya, apa kau merasa Tao terlihat sangat aneh?”

Yoona yang tidak mengerti maksud Jessica malah bertanya balik. “Apa maksudmu?”

“Aku tahu, baru dua hari aku sekelas dengannya. Tapi aku juga tahu Tao bukan tipe laki-laki yang akan mengkhawatirkan anak perempuan seperti kita.”

“Seperti kita? Memangnya kita seperti apa?”

Jessica tersenyum lebar. “Aneh, suram, cerewet, pendiam.” Katanya sambil menunjuk dirinya sendiri dan Yoona secara bergantian untuk setiap sifat yang dia lontarkan.

Yoona tertawa kecil. “Benar. Kau aneh dan aku suram. Kau cerewet dan aku pendiam.”

“Hey, aku baru pertama kali melihatmu tertawa.”

“Benarkah?”

Jessica mengangguk. “Mungkin dia menyukaimu,” celetuk Jessica asal-asalan. “Dia terus berdiri di depan gerbang sambil menatap kita.”

“Benarkah?” Yoona terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. “Kupikir dia menyukaimu Jessica-ssi.”

“Mana mungkin.” Lalu mereka tertawa bersamaan.

Yoona merasa sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Ada rasa sesak yang mendalam yang sedang ia rasakan sekarang. Seorang teman. Jessica adalah temannya. Hal yang dulu mungkin terlihat tabu untuknya kini jadi kenyataan. Jadi, begini rasanya mempunyai seorang teman. Ia menyukai Jessica, walaupun gadis itu cerewet dan tidak bisa diam. Tapi, Jessica teman yang baik. Ia merasa nyaman berada di dekat gadis itu, seperti keluarga.

Namun mengetahui fakta bahwa gadis itu adalah korban selanjutnya. Gemuruh di dadanya membuat ia sulit bernapas. Mengetahui Jessica akan mati di hadapannya, mengetahui gadis itu akan tertabrak mobil di depannya, dan mengetahui semua itu membuat Yoona mati rasa.

Tanpa ia sadari kini mereka berada di depan kedai ice cream yang baru beberapa hari yang lalu dibuka. Tercium wangi semanis vanilla yang membuatnya mual. Jessica masih terus mengoceh panjang lebar tentang kemungkinan Tao menyukai Yoona. Dia tidak menyadari betapa frustasinya wajah Yoona sekarang.

Mereka berdiri di bibir trotoar. Waktu menunjukkan pukul enam lebih dua puluh tujuh menit. Lalu lintas di depan stasiun bawah tanah memang selalu ramai, apalagi saat jam pulang kantor seperti saat ini. Banyak mobil yang berlalu lalang di depan mereka.

“Yoona-ya, kenapa kau malah berdiri disini? Bukankah rumahmu ke arah sana?” tanya Jessica sambil menunjuk lurus tangannya ke kanan.

“Hm…” Yoona berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. “Kau sendiri kenapa berdiri di sini? Bukankah rumah Detektif Wu searah dengan rumahku? Hanya berbeda satu blok saja?”

Jessica mengangguk. “Ya, tapi aku ingin mengunjungi Kris Oppa sebelum pulang. Oh, bagaimana kalau aku memperkenalkanmu dengannya?” Jessica tersadar kalau Yoona dan Kris sudah saling mengenal. “Maksudku, aku memperkenalkanmu sebagai temanku. Bagaimana?”

“Hm… kurasa…”

“Ah, lampunya sudah merah.” Belum sempat Yoona menyelesaikan ucapannya, Jessica sudah menyela lalu menyebrang jalan sendirian. “Yoona-ya, ayo.”

Tubuh Yoona bergetar hebat. Ia menghentak-hentakkan kakinya di tanah sambil menatap punggung Jessica yang telah menjauh. Ia harus bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Napas Yoona tercekat mengenali mobil hitam yang melaju kencang ke arah Jessica. Itu adalah mobil di dalam mimpinya.

Yoona masih diam di tempatnya ketika jarak mobil itu tinggal sepuluh meter di depan Jessica. Ia menutup mata dan menguatkan hatinya. Lalu berlari kencang dan menabrak tubuh Jessica ke trotoar di seberang jalan.

.

.

.

Duk!!!

Suara benda yang terhantam keras lalu diikuti suara sirine dan teriakan orang-orang hampir membuat kopi panas di dalam cangkir itu menumpahi pakaian Kris Wu. Semua orang di dalam kantor polisi tersentak kaget lalu berbondong-bondong keluar memenuhi trotoar. Sendangkan pria itu sibuk menyibak tumpahan kopi yang mengotori meja kerjanya.

“Ah, merepotkan.” Keluhnya.

Dia mendongak dan memperhatikan seisi ruangan. Tidak ada orang lain selain dirinya. Terkadang sebuah kecelakaan lebih menarik untuk di pertontonkan. Dia bangkit dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Ada sedikit rasa penasaran yang mengerogotinya dan membuatnya melangkah lebih jauh.

Walaupun tidak bisa melihat dengan jelas karena terlalu banyak orang yang bergerombol di sekitar lokasi kejadian, tapi pria itu bisa melihat api besar yang membumbung tinggi di tengah-tengah persimpangan jalan. Sirine pemadam kebakaran, teriakan orang-orang yang histeris, dan tangisan anak kecil membuatnya menyadari betapa parahnya kecelakaan ini.

“Detektif Wu,” Seorang anggota kepolisian memanggilnya. “Ada empat korban dalam kecelakaan ini. Dua korban yang terbakar sudah di evakuasi dan di larikan ke rumah sakit terdekat di sekitar sini dan dua korban luka lainnya.”

“Korban luka?”

“Ya. Dua murid SMA hampir tertabrak mobil itu.”

Kris mengangguk. “Dimana mereka sekarang?”

Anggota kepolisian itu membuka jalan di antara penonton yang memenuji jalan raya lalu menunjuk dua murid perempuan yang duduk di tengah jalan. Ada tiga orang dari tim medis yang sekarang sedang mengobati mereka.

Dan saat itu juga Kris memekik dengan suara yang melengking. “Jessica!”

Pria itu berlari tergesah-gesah menuju adik sepupunya. Khawatir dan takut terlihat jelas di wajah Kris. “Kau baik-baik saja? Apa kita harus ke rumah sakit?”

Tidak bisa mengimbangi ekspresi Kris, Jessica malah tertawa. “Aku baik-baik saja. Hanya luka-luka kecil.”

“Luka kecil apanya?” Kris memperhatikan Jessica. Gadis itu terlihat kacau, rambutnya berantakan, wajahnya kotor, beberapa bagian bajunya robek, dan tubuhnya penuh luka. Gadis itu pasti guling-guling di aspal.

“Tentu saja luka kecil. Kau tidak lihat luka yang dialami Yoona-ya.”

Kris baru sadar kalau ada dua korban luka dalam kecelakaan ini dan mereka murid SMA. Temannya Jessica, tentu saja Im Yoona. Kris terkejut melihat semua luka ditubuh gadis itu. Lebih parah, sangat parah.

“Kau baik-baik saja?”

Yoona mengangguk dalam diam. Ia merintih kesakitan dan Kris langsung tahu betapa sakitnya tubuh gadis itu.

“Kaki kanan Yoona-ssi menyenggol bagian depan mobil. Tidak ada tanda-tanda tulang patah atau retak. Tetapi kakinya akan membengkak dan kemungkinan terburuk, dia tidak bisa berjalan selama seminggu.” Jelas salah satu anggota tim medis.

“Maaf ini semua salahku. Maafkan aku Yoona-ya. Aku menyeberang jalan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri dulu. Yoona-ya, kau malah mendorongku ketika dia melihat sebuah mobil yang berjalan kearahku. Aku benar-benar berhutang budi padamu dan sangat menyesal tentang semua lukamu.”

“Tidak apa-apa.” kata Yoona singkat kemudian kembali terdiam.

Kris menghembuskan napas lega. Walau tubuh Jessica dipenuhi luka dan kemungkinan selama seminggu Yoona tidak bisa berjalan. Tapi dia tetap lega, setidaknya mereka terhindar dari maut. Jessica masih mengoceh walau tubuhnya penuh luka, gadis itu sangat aneh. Sedangkan Yoona masih terdiam sambil tersenyum kecil menanggapi celotehan Jessica.

“Yoona-ssi, berapa nomor telpon orang tuamu? Biar mereka yang menjemputmu ke sini.” Tanya salah seorang anggota kepolisian.

Yoona terlihat panik. Ia enggan memberitahu ke dua orang tuanya tentang kecelakaan ini dan Kris langsung tersadar dengan gerak-gerik gadis itu. Dia meletakkan tangannya dipundak anggota kepolisian yang pernah menjadi bawahannya beberapa minggu yang lalu.

“Tidak perlu, aku yang akan mengantar mereka pulang ke rumah.”

Yoona membungkukkan kepalanya. “Terima kasih.”

“Tidak masalah,” kata Kris sambil tersenyum. Dia melirik jam tangannya, pukul tujuh lewat dua menit. Yoona harus pulang sekarang atau orang tuanya akan khawatir. “Aku memarkirkan mobilku tidak jauh dari sini,” Dia melirik Jessica. “Kau bisa berjalan?”

“Walau sedikit sakit, tapi aku bisa berjalan.”

“Baiklah.”

Kris mendekati Yoona. Tangan kirinya menyentuh punggung gadis itu, sedangkan tangan satunya lagi diselipkan diantara paha dan betis Yoona. Yoona yang terkejut mendapati perlakuan ini dari Kris hanya tertunduk malu. Menyembunyikan rasa sakit dan wajahnya yang memerah.

“Aku harus menggendongmu seperti ini, kalau tidak kakimu akan sangat sakit jika aku menggendongmu dengan cara yang lain.” Jelas Kris lalu bangkit dan mulai berjalan mengekor secara perlahan di belakang Jessica yang berjalan pincang dibantu oleh anggota medis.

Kris mendudukan Yoona di kursi belakang mobil. Tim medis mengatakan selama kaki Yoona masih bengkak, gadis itu tidak di perbolehkan menekuk kakinya. Kakinya harus dalam keadaan lurus, setidaknya cukup mengurangi rasa sakit yang gadis itu derita dan jika kakinya tertekuk akan memperlambat proses penyembuhan. Jessica duduk di depan bersama dengan Kris sebagai pengemudianya sekarang. Mereka meninggalkan lokasi kejadian setelah beberapa polisi memberi jalur cepat.

“Benar disini rumahmu?” tanya Kris ketika mereka telah sampai di sebuah perumahan yang jaraknya hanya dua blok dari lokasi kejadian.

Yoona mengangguk. “Ya, benar.”

Kris memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah moderen minimalis. Dia membuka pintu belakang mobil dan kembali menggendong Yoona dengan cara yang sama. Yoona menekan bel rumahnya dengan tangan bergetar.

Setelah beberapa detik berlalu, muncullah dua orang dari balik pintu dengan wajah terkejut bukan main. Bahkan salah satu dari mereka hampir menangis. Ini bukanlah pemandangan aneh lagi bagi Kris yang telah lama bergabung dalam tim anggota kepolisian.

Orang tua mana yang tidak terkejut melihat anak gadisnya pulang dengan digendong seorang pria dewasa dan tubuhnya penuh dengan luka. Nyonya Im menangis histeris melihat anak sematawayangnya pulang dengan keadaan seperti ini.

“Astaga, Yoona-ya. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?”

Yoona masih sempat-sempatnya tersenyum manis menenangkan Ibunya sambil menahan rasa sakit. Ia lebih merasa sakit melihat Ibunya terluka dibandingkan dengan semua luka ditubuhnya sekarang. Tangan bergetar itu meraih tangan Nyonya Im.

“Tenang, Eomma. Aku baik-baik saja.”

“Tapi… tapi… bagaimana ini bisa terjadi?”

Yoona melirik Kris yang hanya diam. “Eomma,” Yoona kembali menenangkan Ibunya. “Akan aku jelaskan di dalam.”

“Baiklah.”

Tuan Im mempersilahkan Kris masuk dan membantu pria itu meletakkan tubuh Yoona di atas sofa panjang. Kris membungkuk sopan, memberi salam. Merasa tidak enak belum memperkenalkan dirinya.

Annyeong. Saya, Kris Wu. Anggota kepolisian sektor lima. Anak kalian mengalami kecelakaan lalu lintas. Lukanya cukup parah, namun tidak serius. Oh, dan yang perlu di perhatikan, kaki kanannya akan mengalami pembengkakkan dan kemungkinan terburuk anak anda tidak bisa berjalan selama seminggu dan jangan sampai biarkan kakinya terkekuk. Itu akan membuat proses penyembuhan berjalan lebih lama.”

Tuan Tachibana mengangguk mengerti. “Terima kasih, Kris-ssi.”

Kris mengangguk dan membungkuk. “Kalau begitu saya permisi.”

Pria itu baru saja ingin berbalik. Namun panggilan Yoona membuatnya berhenti. Dengan senyuman gadis itu berkata. “Terima kasih banyak, Detektif Wu.”

Kris terlihat malu sendiri. Ternyata senyuman gadis berwajah datar itu sangat manis. Kris membalas senyum Yoona. “Sama-sama dan semoga kau cepat sembuh.”

 

To Be Continued

.

.

.

Wattpad : https://www.wattpad.com/user/Hanabisite

16 thoughts on “[Freelance] In a Dream -Empat

  1. jess selamat… seneng y… udh gtu ada momen yoonkis y wlpn kurang byk…. panjangin dikit thor…. biar puas baca y…
    kljtn y jgn lma2 thor

  2. masih kurang panjang thor..pdhl ceritanya semakin menarik?disni yoona menyelamatkn jessica apa ngga masalah,takutnya yoona mendapatkn masalah stlh menylmtkn jessica thor..lanjut thor..semangat.,buat ff ini..

  3. thoorrrr panjangin lg dong.. snng deh udh mulai ada moment yoonkrisnyaa.. banyakin lg yaa thorr momennya biarr mkin so sweeetttt 😁 Fighting thorrr

  4. Akhirnya Sica gk jadi meninggal karena Yoona menyelamatkan meskipun mereka sama” terluka. 😀
    Apa yg akan terjadi dengan Yoonsic setelah Yoona menyelamatkan Sica????
    Makin seru dan penasaran kelanjutannya.
    Chayoo tuk next cepter. 😀

  5. Meskipun yoonsic trluka tpi aq ikut bahagia yoona bisa nylametin jessica sbgai tmannya
    Moga ja kristao suka sma yoona karna kemisteriusan yoona

  6. Jadi kasihan sama Tao, kayaknya dia itu sebenernya baik deh.
    Makasih banget thor, udah batalin kematian Jessica walaupun Yoona ama Sica masih harus terluka kayak gitu. Seenggaknya, Yoona punya teman. Seorang teman…
    Senengnya di nie chapter, ada Kris Yoona moment. Yei…yei…yei…
    So sweeetttt….pada malu malu, jadi gemes!!!
    Next chap ada lagi ya thor, yang banyak hehehe…
    Ditunggu next chap thor, Hwaiting!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s