[Freelance] Eyes

006h0M0Tgw1ezwjgjy2itj30ku0pi0w7 - Copy

EYES

By.FLYers

Cast: Yoona – Kris

Genre : Romance-fluff (gak jelasih haha)

Rating : PG 15+

 

*Cast bukan milik saya tapi milik

Tuhan Yang Maha Esa yah guys😉

Btw ini aku tulis cuma sekitan tigajaman, jadi mohon maaf dengan hasil amburadulnya

Posternya jugayah, males ngedit. wkwkwk

 

HAPPY READING!! Jangan lupa feedbacknya

___________________

Awal September adalah saat pertama kali aku melihatnya. Berjalan dengan wajah angkuh dan dagu yang tertarik keatas, memperlihatkan betapa kepercayaan diri itu benar-benar ada dalam dirinya. Arogan dan tak pernah mengalah sungguh terpancar dari mata tajam dan sudut bibirnya yang tak pernah sekalipun ku lihatnya terangkat. Lalu untuk apa histeria yang tertangkap di ujung mataku ketika lelaki itu melangkahkan kaki ke koridor sekolah? Terkadang aku tak mengerti pikiran anak gadis.

Kembali kupandangi lelaki itu. Garis wajahnya yang harus kuakui memang tampan, posturnya yang tinggi, juga rambut hitam pekat yang melengkapi kulit putihnya -mungkin hal itulah yang menarik perhatian anak-anak gadis -pikirku iseng lantas menunduk untuk menyembunyikan senyuman akibat pikiran bodoh barusan.

Ketika kudongakkan kepala, kudapati mata tajam itu mengarah padaku. Membuatku memerah dengan alasan yang tak kuketahui. Segera kubalikkan badan dan berjalan kemanapun kaki ini menuntun.

Kedua kali aku bertemu dengannya adalah tiga hari kemudian. Ketika guru Shin memintaku menata obat-obatan yang baru tiba untuk persediaan di ruang kesehatan -karena dirinya yang harus mengikuti rapat. Lenganku dengan erat memeluk dua kotak besar berisi alkohol pembersih luka serta aspirin ketika kudapati diriku kesulitan untuk membuka pintu. Berusaha memutar kenopnya yang menimbulkan suara gaduh -namun pintu itu tak kunjung terbuka. Sedikit menyadari kebodohanku, segera kuletakkan kotak tersebut kelantai -namun belum juga kutundukkan punggung pintu dihadapanku segera terbuka menampilkan sosok tinggi yang menatapku dengan heran. Alis kirinya terangkat, dengan sorot tajam dari matanya yang masih sama.

Aku tak bersuara, menatapnya yang juga menatapku. Mendapati pantulan diriku dalam bola mata coklatnya lagi-lagi -entah menagapa- membuatku memerah. Kuputuskan kontak mata kami dan segera berjalan masuk mengabaikannya di ambang pintu. Menghampiri lemari kaca yang berisi persediaan obat-obatan yang sungguh telah menipis -kapan terakhir kali sekolah mengisi persediaan ini? -pikirku tak jelas.

Deritan pintu tertutup terdengar tepat setelah kuletakkan botol alkohol ketiga kedalam lemari. Tanpa menoleh aku tahu bahwa ia telah melangkah keluar dari ruangan ini. Sekilas sorot mata tajamnya kembali berwujud dalam benakku, membuatku berpikir tentang mata coklatnya, alis tebalnya yang benar-benar melengkapi pahatan indah dari wajahnya. Lalu kemudian beralih pada rambut hitamnya -akan sehalus apa helaian itu jika saja jemariku bisa bermain disana?

Apa yang kupikirkan?

Aku menggeleng, menghalau pikiran tak jelas yang terus saja menari di sudut kepalaku -seolah mengolok diriku yang tak mampu melarikan diri darinya.

Kembali kufokuskan diri pada tumpukan aspirin dihadapanku, berpikir akan kuletakkan dimana mereka selagi ruang dalam lemari dihadapanku tak lagi mampu menampung -akibat sesak oleh botol alkohol yang baru saja kutata.

“Sebelah sini” suara berat itu mengejutkanku, membuatku tanpa sadar membenturkan kepala di sudut lemari kaca yang berlapis besi. Aku meringis bersamaan dengan kotak di tanganku yang terjatuh, menghamburkan tumpukan aspirin yang sebelumnya tertata rapi di dalamnya.

Aku berbalik dan kembali mandapati lelaki itu yang tengah terduduk di atas sebuah bangsal. Melipat tangannya dengan mata -yang kali ini- nampak terkejut dengan keadaanku. Mataku membulat, kupikir ia telah meninggalkan ruangan ini. Dan ternyata sosoknya berada di belakang sana sedari tadi. Memperhatikanku? Lalu kemudian aku kembali merasakan aliran darah menuju wajahku, membawa sensasi panas pada kulitku. Dan untuk beberapa alasan aku tahu wajahku benar-benar telah memerah.

Kembali kuputuskan kontak mata kami, memilih menunduk untuk mengumpulkan isi kotak yang menghambur kelantai. Mengabaikan rasa sakit yang menghujam di keningku. Lalu kusadari langkah kaki lelaki itu, dan detik berikutnya lenganku tertarik keatas memaksa mataku untuk kembali menemukan bola matanya. Sekilas ku lihat raut panik di sana, dan tanpa sadar aku telah berdiri di atas kaki dengan jemarinya yang masih menggenggam leganku. Menarikku pelan menuju bangsal di mana beberapa saat lalu menjadi tumpuannya.

“Duduk” pintanya melepas genggaman di tanganku -dan aku tak mengerti dengan rasa kecewa yang terasa jelas ketika kehangatan jemari itu menghilang dari kulitku. Memilih mengabaikan perasaan aneh di dadaku segera kududukkan diri sesuai pintanya. Dan dengan tiba-tiba  wajahnya berada di hadapanku, membuatku terkejut dan menarik wajahku kebelakang secara refleks. Apa yang dilakukannya?

“Jangan bergerak” kembali jemarinya terasa dikulitku -kali ini tepat berada di bagian tengkuk dan membawaku kembali keposisi semula. Wajahnya kembali mendekat seiring dengan debaran jantungku yang semakin cepat. Sedikit berharap ia tak mendengarnya dari posisi dimana ia berdiri. Tangan bebasnya terangkat, dan jemarinya menari lembut di atas keningku membuatku kembali meringis.

“Kau berdarah” ucapnya lagi-lagi mengejutkanku hari ini. Matanya menatapku tajam, begitu dekat hingga aku mampu merasakan udara hangat dari hembusan nafas lembutnya. Lalu kemudian kehangatan itu menjauh saat ia berjalan kembali ke arah lemari kaca, mengambil beberapa alat pembersih luka. Dan ia kembali berdiri dihadapanku, menarik daguku keatas dan mulai membersihkan luka di keningku dengan hati-hati.

Lagi, kudapati diriku menatap wajahnya. Dari jarak sedekat ini kulitnya sungguh menawan -terlihat begitu lembut berbanding terbalik dengan mata tajamnya yang seringkali mengintimidasi. Rasa perih di keningku teralihkan dengan garis dagunya yang mengeras -kurasa karena konsentrasinya dalam membersihkan luka kecil di keningku. Entah mengapa aku mendapati hal itu sedikit lucu.

Detik itu juga aku tersadar alasan dari wajah memerahku, alasan dari debaran jantungku dan alasan dari mata tajamnya yang begitu sulit meninggalkan pikiranku -aku tahu aku telah terjatuh pada lelaki ini. Terjatuh dalam mata tajamnya yang terkesan arogan tanpa sadar.

Ketika matanya kembali mengarah padaku, dengan rasa bersalah yang terpancar jelas di sana, serta permintaan maaf yang terlontar dari lekukan bibirnya yang sempurna -aku tahu untuk tak membalasnya selain dengan senyuman dan kalimat “bukan sepenuhnya salahmu”

Bibirnya membentuk senyuman -senyuman yang untuk pertama kali kulihat hadir di wajahnya, matanya menyipit dengan rahang yang melembut. Menghapus kesan pertama yang kumiliki untuknya. Dimana kali ini kutemukan kehangatan yang sama dari sentuhan, nafas dan juga senyumannya.

“Aku Kris Wu” ucapnya pelan dengan senyuman yang kembali membuat wajahku memerah.

“Yoona”

Dan aku tahu aku benar-benar jatuh untukku.

 

—-FIN—-

*A/N : hola hola teman sekalian. FLYers balik nih *syukuran haha

Kapan terakhir posting sesutu di sini yah? Udah lupa.

See yah :*

7 thoughts on “[Freelance] Eyes

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s