CALL ME BABY – CHAPTER TIGA BELAS

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOONMAIN CAST :

SUHO (EXO),  IM YOONA (SNSD) OTHER CAST:

BOYBAND GROUP EXO, SEO YU NA (AOA) CATEGORIES :

ROMANCE, FRIENDSHIP LENGHT :

CHAPTER RATING :

PG-17

Credit:
Blithemee @ArtZone

OoO

 Selamat membaca yaaaaa…. Salam cium dari Author

****

Suho memasuki kamarnya dan terkejut melihat bahwa didalam sana berada Chanyeol. Pria muda itu tampak sedang membaca sebuah komik yang menjadi pengantar tidur bagi Suho sementara Sehun sudah terlihat tidur dengan nyenyak.

Mendengar suara langkah kaki memasuki kamar, Chanyeol menoleh dan melepaskan earphone yang dikenakannya. Dia mengacungkan komik yang berada di tangannya. “Aku baca ya, Hyung.”

Suho menutup pintu kamar dan menghidupkan lampu utama sehingga kamar itu terang. Terdengar gumaman Sehun tentang cahaya lampu yang mengganggu tidurnya dan meraih bantal. Dia menutupi wajahnya dengan bantal tersebut dan melanjutkan tidur nyenyaknya.

Suho menjawab Chanyeol dengan santai, “baca saja,” dia membuka t-shirtnya dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian tidurnya.

Chanyeol menutup komik yang dibacanya dan berkata dengan suaranya yang berat, “minggu depan MV kita akan release dan akan melakukan comeback stage. Aku ingin mengirimkan tiket masuk padaYoona Noona di hari pertama kita di panggung comeback,” Chanyeol menatap punggung tegap Suho yang terlihat lebih tegak.

Tanpa menoleh, Suho berkata, “lakukan saja dan jangan sampai ketahuan manager-nim.”

Chanyeol merasa tidak puas dengan respon yang diucapkan Suho. Dia bangkit berdiri dan berkata keras, “kau tidak ingin bertemu dengan Yoona Noona?!”

Suho masih tidak menatap Chanyeol dan meneruskan kegiatannya memakai t-shirt tanpa lengan. “Aku tidak ingin Yoona mengalami kesulitan…”

“Katakan saja kalau kau mulai menyerah!” tukas Chanyeol tajam.

“BRAKK!!”

Terdengar suara benturan keras pada pintu lemari pakaian dan Chanyeol menutup mulutnya ketika melihat bahwa kepalan tinju Suho menghantam benda itu. Suara keras itu membangunkan Sehun dari tidurnya dan menatap kedua orang yang saling berhadapan itu dengan bingung. Dia bisa melihat wajah pucat Chanyeol dan wajah keruh milik Suho. Bahkan Sehun dan Chanyeol melihat sepasang mata yang biasanya bersinar lembut itu terlihat menatap penuh kemarahan pada Chanyeol.

“Aku tak pernah menyerah atas cintaku pada Yoona!” ucap Suho rendah. Matanya mencorong menatap Chanyeol dan tinjunya masih berada di pintu lemari. “Aku selalu ingin bertemu dengannya. Tetapi aku tidak ingin menempatkannya dalam masalah,” lanjut Suho pahit.

Chanyeol menelan air liurnya dan memberanikan diri untuk kembali bersuara. Dia membungkuk meraih komik yang hendak dipinjam olehnya. Dia melirik Suho dengan hati-hati.

“Aku hanya ingin mempertemukan kalian meskipun itu harus dengan cara bersembunyi,” Chanyeol melihat bahwa Suho tetap bergeming dan berjalan menuju pintu, “tapi jika Hyung tidak bersedia, aku tidak akan melakukannya.”

Suho menggigit bibirnya dan menarik napas. Dia melihat Chanyeol siap akan berlalu dari kamarnya. Dia tidak bisa menyalahkan Chanyeol. Pria itu hanya ingin membantunya bertemu Yoona karena selama ini dia terlihat sangat kehilangan. Perlahan dia melepaskan tinjunya dan membalikkan tubuhnya.

“Kirimlah tiket itu pada Yoona. Aku sungguh ingin bertemu dengannya,” Suho menatap Chanyeol yang melongo dan dia tersenyum, “aku sangat berterimakasih padamu.”

Senyum Chanyeol muncul selebar wajahnya dan berkata dengan semangat, “siap Hyung!” dan seperti kijang melompat, dia berlari menuju kamarnya.

Suho menatap pintu kamar yang kini sudah tertutup. Dia menghela napas dan mengusap wajahnya. Tatapan matanya bertemu pada pandang mata Sehun. Tanpa berkata apapun Suho mendekati tombol lampu. Dalam sekejab ruangan kamar mereka menjadi gelap. Perlahan Suho naik ke atas ranjangnya dan berbaring dengan diam.

Terdengar suara Sehun samar. “Aku dan Chanyeol hyung bisa memberikan hyung waktu untuk bertemu Yoona Noona tanpa diketahui oleh Manager-nim maupun fans.”

****

“Eomma?” bisik Yoona dengan ragu serta kaget.

Soon Ah memeluk Yoona dengan rasa rindunya. Wanita paruh baya itu menciumi pipi Yoona penuh semangat dan menatap wajah anaknya dalam jarak selengan. Senyum terkembang di wajahnya.

“Eomma sangat rindu padamu, Yoona-yah,” ucap Soon Ah lembut.

Yoona sangat senang bertemu dengan ibunya namun ucapan Soon Ah selanjutnya membuatnya terdiam.

“Kau terlihat sedikit lebih gemuk,” kata Soon Ah. Tatapan Soon Ah jatuh pada sosok pria jangkung yang berdiri di samping Yoona. Ketika dia mengenali pria jangkung itu kembali seruannya muncul, kali ini terdengar sangat penasaran. “Bukankah ini Wu Yi Fan?”

Yi Fan yang langsung mengenali Soon Ah segera membungkukkan tubuhnya. Yi Fan berkata sopan, “aku Wu Yi Fan, Ahjumma. Sudah lama tidak bertemu.”

Soon Ah sangat terkejut sekaligus girang melihat teman masa kecil Yoona saat itu berada di depannya. Dia masih ingat akan Yi Fan kecil yang selalu menjemput Yoona untuk berangkat sekolah bersama. Dia tertawa dan menepuk bahu Yi Fan yang sangat tinggi baginya.

“Sedang apa kau di Gimcheon? Bukankah kau sudah pindah ke Amerika?”

Yi Fan tersenyum dan menjawab, “aku berada di Gimcheon karena pekerjaan dan kebetulan bertemu Yoona kembali.”

Yoona yang melihat Ibunya yang sangat akrab berbincang dengan Yi Fan tanpa sadar merapatkan lebih kencang coatnya dan menatap Yu Na. Adik sepupunya itu terlihat memasang tampang cemas apalagi ketika Soon Ah mengomentari Yoona terlihat gemuk.

Yoona memberi isyarat pada Yu Na agar tidak terlalu tegang dan tersenyum. Dia melangkah mendekati Ibunya dan meraih siku wanita itu dengan lembut.

“Ayo kita masuk, Eomma,” Yoona menatap Yi Fan sekilas dan kembali tersenyum pada Ibunya.

Soon Ah menoleh dan menepuk lengan Yoona dengan lembut. “Ayo kita masuk, Yi Fan-ssi,” ajak Soon Ah.

Tetapi Yi Fan mengerti bahwa Ibu dan anak itu ingin bersama tanpa ada kehadiran orang lain. Dengan sopan dia menggeleng dan menjelaskan bahwa dia akan segera kembali ke hotel. Soon Ah terlihat kecewa ketika Yi Fan juga mengatakan akan kembali ke Amerika dua hari lagi. Maka dengan ajakan Yu Na, wanita itu kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Yoona bersama Yi Fan.

Yoona menatap Yi Fan yang terlihat mengancingkan jaketnya dan berkata pelan, “terimakasih atas ajakannya malam ini,” Yoona menatap Yi Fan tampak menatapnya dengan lembut, “dan…maaf atas jawabanku padamu beberapa hari lalu.”

Yi Fan tersenyum dan mengulurkan tangannya. Dia mengusap puncak kepala Yoona dengan sayang. Dia berkata lembut, “aku tidak menyesal karena mengakui perasaanku dan jangan merasa bersalah padaku.”

Yoona balas tersenyum dan dia terdiam saat dirasakannya Yi Fan menunduk dan mengecup ringan pipinya. Perlahan dia melihat pria itu menjauh dan terlihat sepasang mata pekat itu berkaca-kaca.

“Selamat tinggal, Yoona.”

Yi Fan berbalik dan segera memasuki mobilnya. Yoona mencengkram erat syalnya dan tanpa disadarinya segulir airmata jatuh menuruni pipinya. Mian ne.

****

Kehadiran Ibunya membuat Yoona lebih hati-hati menjaga kehamilannya. Dia berusaha sekeras mungkin tidak menimbulkan kecurigaan Soon Ah hingga sampai waktunya kembali ke Busan. Sehari hari lewat dapat diatasinya namun serangan morning sick yang masih dialaminya tidak bisa disembunyikan lagi.

Pagi itu cuaca Gimcheon terasa dingin dan lembab. Yoona baru saja menerima sebuah pesan dari Yi Fan yang mengatakan dia akan berangkat ke Incheon tepat jam makan siang dan pria itu ingin menyempatkan diri untuk pamit pada Soon Ah. Saat itu Yoona mulai merasakan rasa mual yang kemarin bisa diatasinya.

Dia mencoba menegak air mineral yang tersedia di kamarnya untuk menghilangkan rasa mual tersebut namun semakin dia menegak air mineral, semakin rasa mualnya meningkat. Yoona menutup mulutnya dan mulai panik. Dia tidak memiliki toilet pribadi di kamarnya dan ruangan itu berada tepat di bawah tangga. Dia bisa mendengar suara Ibunya yang sedang bercakap-cakap dengan Yu Na.

Airmata Yoona nyaris tumpah karena mencoba untuk menekan rasa mualnya. Tetapi hal itu tidak mungkin bisa disembunyikan lagi. Dia harus segera mengeluarkan isi perutnya dan membuka pintu kamarnya. Dia setengah berlari dia menuruni tangga dan menerobos ke dalam toilet.

Soon Ah yang mendengar suara Yoona muntah di toilet menoleh Yu Na yang saat itu terlihat pucat. Dia menunjuk arah toilet dan bertanya heran, “apakah Yoona sedang sakit?”

Yu Na terdiam dan hanya menggeleng pasrah. “Aku tidak tahu.”

Soon Ah meletakkan piring sarapan yang dipegangnya dan berlari ke toilet. Dengan cemas dia mengetuk pintu toilet itu.

“Yoona-yah? Apakah kau baik-baik saja? Apa kau sakit, Nak?”

Yoona mengusap ujung bibirnya dan menekan tombol closet. Suara air segera memenuhi toilet tersebut. Dia memegang ujung closet dan menatap pintu toilet yang tertutup. Dalam hati dia mengeluh. Ya Tuhan, kumohon tolonglah aku.

Soon Ah semakin keras menggedor pintu toilet. “Yoona-ah! Bukalah! Apakah kau baik-baik saja?” seru Soon Ah.

Yu Na terdengar mencoba menenangkan Soon Ah. “Tenanglah Ahjumma, Yoona Eonni tidak apa-apa…”

Soon Ah menoleh Yu Na dengan tiba-tiba. Air wajah wanita itu terlihat curiga. Dia berkata tajam, “tidak apa-apa? Apa ini sudah sering terjadi sehingga kau mengatakan hal ini bukan apa-apa?”

Yu Na terdiam dan menyadari kesalahannya dalam berkata. Dia berdoa agar Yoona segera keluar dari toilet dan mencoba mengalihkan suasana. Dia tertawa tidak nyaman seraya menjawab kalimat Soon Ah, “maksudku Yoona Eonni tidak sakit…”

Tetapi Soon Ah tidak ingin melepaskan Yu Na. Dia mencengkram lengan keponakannya dengan erat. “Kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan? Aku menemukan sekotak susu di dapur.”

“Ahjumma…”

“Eomma.”

Suara Yoona muncul tepat di belakang kedua orang itu. Soon Ah dan Yu Na menoleh dan mendapati sosok Yoona yang tampak kusut. Rambutnya yang panjang terlihat melekat di dahinya dan ada genangan airmata di bola mata indah itu.

Soon Ah memegang bahu Yoona dan mengguncangnya pelan. “Apakah kau sakit, Nak?”

Yoona membalas memegang tangan ibunya dan menggenggamnya dengan erat. Dia menatap manik mata cemas Soon Ah dan menjawab lirih, “aku hamil.”

Seakan ada bongkah batu besar menghantam dada Soon Ah ketika mendengar kalimat pendek itu. Dia melotot menatap anaknya dengan tidak percaya. Yoona yang selama ini selalu membuatnya bangga, Yoona yang mandiri dan selalu tegar. Dia meletakkan banyak harapan pada anak perempuan tunggalnya itu. Selama ini Yoona tidak pernah mengecewakannya.

Rasa pedih dan terguncang membuat Soon Ah tanpa sadar melayangkan telapak tangannya ke wajah Yoona.

“PLAAK!!”

Yoona memejamkan matanya merasakan perih pipinya akibat tamparan Ibunya yang keras. Dia bisa mendengar jeritan Yu Na dan isak tertahan Ibunya. Didetik selanjutnya dia merasakan nyeri bahunya karena pukulan Ibunya. Pukulan itu berlangsung beberapa kali menimpa lengan dan bahu Yoona. Dia juga bisa mendengar ucapan-ucapan kecewa yang keluar dari mulut Ibunya.

“Mengapa? Mengapa kau lakukan ini, Yoona? Siapa yang menghamilimu! Katakan pada Ibu!”

“Ahjumma! Jangan pukul Eonni!” Yu Na berusaha memisahkan Soon Ah dari Yoona yang terlihat sangat pasrah dengan apa yang terjadi.

Dengan geram Soon Ah menepis tangan Yu Na. Wanita itu membentak Yu Na dengan keras, “aku harus tahu siapa pria tak bertanggung jawab itu!”

Mendengar gigihnya Ibunya ingin mengetahui pria yang menghamilinya membuat Yoona sadar akan apa yang dialaminya pagi itu. Dia mengangkat kepalanya dan menghindari pukulan lanjutan dari Soon Ah.

Sejenak Soon Ah terdiam melihat sorot mata marah di kedua mata bening Yoona. Dengan mencengkram ujung gaun tidurnya, Yoona berkata pelan, “aku tidak akan pernah mengatakan siapa ayah bayi yang kukandung. Aku tidak meminta Eomma untuk menerima anak ini karena aku akan membesarkannya sendirian!”

Soon Ah terdiam dan tidak mampu berkata apapun ketika dengan terisak Yoona melewati bahunya. Yoona setengah berlari menaiki tangga tanpa menghiraukan panggilan Yu Na yang cemas.

“Eonni!” Yu Na berteriak serak bersamaan dengan airmatanya yang mengalir. Dia menoleh dan menatap Soon Ah penuh teguran.

“Ahjumma boleh marah kepada Eonni tetapi jangan menyakiti lebih dari sebuah tamparan di pipi! Bukan hanya Ahjumma yang terluka tetapi Yoona Eonnilah yang paling tersakiti. Kumohon jangan menghakiminya,” Yu Na terisak memohon pada Soon Ah.

Dengan kedua kaki lemas, Soon Ah berusaha mencari pegangan apapun yang ada di dekatnya. Dia menumpukan kedua tangannya pada sebuah meja kecil di sudut lorong itu dan menunduk. Setetes airmata jatuh pada taplak meja yang bermotif bunga kecil itu.

*****

“Cut!!”

Suho dan Chanyeol menghentikan gerakan mereka saat berakting untuk MV Winter mereka. Dengan mengusap wajahnya, Suho bertanya heran pada sutradara yang mengurus MV mereka kali ini. “Mengapa Masternim?”

Pria yang memakai kacamata dan terlihat macho itu menggoyangkan tangannya. Dia membuka topi yang dikenakannya dan berkata dengan nada mengeluh, “akting kalian tidak maksimal terutama Suho!” tatapan matanya tertuju tajam pada Suho yang terpaku. “Kurasa kau butuh istirahat sejenak. Kita lanjutkan setelah makan siang,” lanjutnya dan berjalan pergi.

Beberapa kru mengikuti instruksi sang sutradara untuk merapikan alat-alat mereka untuk break time. Chanyeol menoleh Suho yang masih terlihat mengurut pelipisnya. Dari pagi dia melihat kondisi Suho tidak dalam keadaan baik. Pria itu terlihat gelisah untuk sesuatu yang tidak dimengerti oleh dirinya sendirinya dan para membernya.

Suho memang tidak merasa nyaman sejak bangun dari tidurnya. Dia merasa gelisah yang tidak dipahaminya. Ada denyut nyeri menghentak jantungnya yang nyaris membuatnya sesak. Rasa tidak nyaman itu merusak konsentrasinya dalam pembuatan MV kali ini. Ada apa? Mengapa hati ini terasa sempit? Ini bukan rasa sakit normal, ini lebih pada rasa cemas yang tidak ku mengerti.

Suho melihat sebuah kaleng kopi dingin berada di depan wajahnya dan mendapati itu adalah Chanyeol yang sedang menyodorkan benda itu untuknya. Wajah tampan itu tersenyum cerah dan kembali menggerakkan tangannya di depan Suho.

“Minumlah Hyung. Semangatmu sedang turun?” tanya Chanyeol pelan seraya melemparkan kaleng kopi pada Suho, “kau harus minum itu.”

Suho menangkap kaleng kopi itu, menatapnya sejenak sebelum membuka tutup kalengnya. Dia menegak dengan cepat dan melirik Chanyeol yang kini sedang bersandar pada dinding studio. Pria jangkung itu terlihat menikmati sesi istirahat mereka dengan sekaleng kopi dinginnya sementara member lain terlihat sibuk dengan kotak makanan yang dibawa oleh manager mereka. Tanpa sadar Suho menghela napas dan mengeluh dalam hati.

Seandainya aku memiliki sedikit saja semangat yang ada pada diri Chanyeol.

“Hyung sedang memikirkan Yoona Noona kan?”

Pertanyaan Chanyeol yang tiba-tiba membuat Suho mencengkram erat kaleng kopinya. Dia tidak menatap Chanyeol dan hanya menatap lantai di bawah kakinya. Terdengar kembali suara berat Chanyeol yang diikuti tarikan napas pria tinggi itu.

“Mengapa tidak mencoba untuk menelponya? Paling tidak tindakan itu akan menghilangkan rasa cemas Hyung.”

Suho menoleh Chanyeol dengan gerakan cepat. Dia melihat senyum lebar menghiasi wajah tampan Chanyeol. Chanyeol terlihat menggerakkan tangannya dan sebuah benda melayang ke arah Suho.

Dengan tangkas Suho menangkap benda yang ternyata adalah ponselnya. Dia melotot pada Chanyeol yang tertawa. Pria itu berkata girang, “teleponlah.”

Meski dongkol dengan cara Chanyeol memberikan ponselnya, Suho tetap mengucapkan terimakasih dan berlari keluar dari studio. Udara sejuk menyambutnya saat dia berda di luar studio. Dengan jantung berdebar dia membuka contact list  dan menemukan nama Yoona di speed dial.

Dia menekan nomor itu dan menempelkan ponselnya di telinga. Detak jantungnya seakan menembus kulitnya kala dia menanti sambutan Yoona.

****

“Yoona-yah, buka pintumu,” suara Soon Ah terdengar sangat cemas di depan pintu kamar Yoona, “bukalah pintumu, Nak.”

Bahkan Yu Na pun terdengar mengetuk pintu kamar Yoona dengan keras, “Eonni, keluarlah. Aku sudah memasak makan siang.”

Yoona mendengar suara ketukan serta kalimat yang diucapkan oleh Soon Ah dan Yu Na. Tetapi dia tetap bungkam dan hanya memeluk bantalnya sambil menangis. Tatapannya tak lepas pada bunga mawar yang diberikan oleh Suho dan airmatanya semakin deras mengalir. Dia tidak akan keluar dari kamarnya. Tidak akan.

Yoona berada di titik terlemahnya saat suara ponselnya berdering nyaring. Dia menoleh ponselnya yang terletak di lantai tepat di dekat kakinya. Bola matanya membulat ketika melihat nama yang terpampang di layar ponsel.

Dengan tangan gematar dia meraih ponselnya dan menatap tidak percaya. Suho menelponnya. Yoona ingin sekali membagi rasa sedih dan derita dirinya saat itu pada Suho. Jarinya siap akan menekan tombol terima ketika sebuah suara asing terdengar kembali di benaknya.

“Jika hubungan nona dan artis kami terungkap, maka dalam semalam karir Suho dan para membernya akan runtuh.”

Yoona menggenggam erat ponselnya yang terus berdering. Kini wajahnya sudah penuh airmata dan dia menekan ujung ponselnya di pipinya yang basah. Dia sudah mengambil keputusan bulat dalam hidupnya dan juga terhadap Suho.

“Mian ne…” Yoona tersedu-sedu ketika dia meletakkan kembali ponselnya di lantai kamarnya yang dingin. Dia memeluk bantalnya lebih erat dan membenamkan wajahnya di sana. Dia berusaha menutup telinganya dari dering yang menghubungkannya pada orang yang dicintainya. Dia berharap dia tidak mendengar dering itu tetapi dering itu terus berkumandang di dalam kamarnya.

“Mian ne, Junmyeon…”

Sementara itu Suho menatap ponselnya yang sama sekali tidak mendapat respon dari Yoona. Dia menatap dengan rasa penasaran dan sakit yang tiba-tiba. Mengapa Yoona? Mengapa tidak menyambut panggilanku?

“Bagaimana, Hyung?” Chanyeol muncul di belakang Suho. Dia melihat Suho seperti patung yang menatap ponselnya tanpa berkedip. Perasaan tidak enak melanda Chanyeol membuatnya bertanya lebih ingin tahu, “apakah kau sudah bicara dengan Yoona Noona?”

“Sudahlah! Sepertinya Yoona sungguh-sungguh tidak ingin berhubungan denganku!” tukas Suho pahit. Dengan gerakan kasar dia menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya dan memutar tubuhnya, meninggalkan Chanyeol yang bengong.

Chanyeol membuang tatapannya ke langit bersih di atas kepalanya dan menghela napas, “ada apa denganmu, Noona?”

****

Yoona duduk bersandar di ujung ranjangnya tanpa memperdulikan gedoran pintu Ibunya. Pikirannya kosong dan hanya terpaku pada ponsel yang kini telah diam membisu. Segulir airmata kembali jatuh di pipinya dan dia terisak seraya menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.

Sementara itu Yi Fan mendorong pintu kafe dan mendapati hanya terdapat dua orang karyawan lepas yang berada di kafe tersebut. Dia melangkah mendekati meja kasir dan disambut dengan ramah oleh gadis remaja berambut keriting.

“Anda ingin memesan, Oppa?”

Yi Fan sedikit membungkuk dan berkata ramah, “dimana Yoona-ssi?”

Sekilas dia melihat tatapan ragu terpancar di bola mata cokelat di didepannya itu. Dengan masih tersenyum, gadis itu menjawab, “nona Yoona hari ini tidak datang ke kafe.”

“Bagaimana dengan Yu Na?”

Kembali Yi Fan melihat kilat ragu di mata itu. suara gadis kasir itu terdengar ragu saat menjawab Yi Fan. “Yu Na-ssi juga tidak datang ke kafe…”

“Apa mereka terjadi sesuatu?” tanya Yi Fan cepat.

Gadis kasir itu menggeleng tanda tidak tahu dan Yi Fan segera berlari menuju pintu keluar kafe dan memasuki mobilnya. Dengan tergesa-gesa dia menghidupkan mobil dan melajukannya ke rumah utama Yoona.

Yi Fan melihat suasana rumah tampak senyap dan dia memberanikan diri membuka pintu rumah yang ternyata tidak terkunci. Dia melongok dan mencoba mengucapkan salam dengan pelan.

“Yoona, apa kau di dalam?”

“Yoona-ah! Buka pintumu!”

Langkah Yi Fan terhenti ketika mendengar suara panik Soon Ah dan juga disusul oleh suara Yu Na yang berteriak sambil menangis. Tanpa pikir panjang Yi Fan berlari ke arah suara dan mendapati Soon Ah dan Yu Na sedang menggedor pintu kamar Yoona yang tertutup.

“Ahjumma?”

Soon Ah menoleh dan melihat kedatangan Yi Fan dan saat itu airmatanya tumpah. Dengan terisak dia mencengkram lengan kemeja Yi Fan sambil berkata putus asa.

“Yoona…anak itu mengurung dirinya di kamar sepanjang hari. Kumohon Yi Fan, bujuklah dia untuk keluar.”

Yi Fan memegang lengan Soon Ah dan bertanya bingung bercampur cemas. Dia bertanya halus berusaha menenangkan Soon Ah, “tenanglah Ahjumma. Sebenarnya apa yang terjadi?”

Soon Ah semakin kencang mencengkram lengan kemeja Yi Fan dan tanpa mengangkat kepalanya dia menjawab lirih. “Yoona sedang mengandung dan dia merahasiakan pria yang menghamilinya.”

Kalimat Soon Ah bagai petir yang menembus jantung Yi Fan. Sejenak dia terdiam dan tidak bisa berkata apapun. Ingatannya melayang pada penolakan Yoona serta wajah sendu wanita itu terakhir kali mereka bertemu. Yi Fan memejamkan matanya berusaha memenangkan hatinya dan saat itulah dia mendengar suara serak Yu Na.

“Jangan salahkan Eonni. Dia menyimpan semuanya selama 4 bulan ini dan kali ini dia mengurung dirinya seperti ini. Ini tidak baik bagi kandungannya.”

Yi Fan menatap pintu kamar yang tertutup dan menunduk menatap Soon Ah yang mengusap airmata. Yi Fan menghembuskan napasnya dengan perlahan, meraih bahu wanita setengah baya itu dan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya tanpa memikirkan dirinya sendiri maupun masa yang akan datang. Dia harus membantu Yoona keluar dari masalah pelik tersebut.

“Ahjumma, maafkanlah aku.”

Soon Ah menatap Yi Fan dengan heran begitu juga dengan Yu Na. Dia mengerutkan keningnya dan bertanya khawatir, “mengapa kau minta maaf?”

Yi Fan menarik napasnya dan menghembuskannya dengan cepat secepat kalimat yang meluncur dari bibirnya. “akulah ayah bayi yang dikandung oleh Yoona.”

****

Tiba-tiba Yoona mendengar tidak ada lagi suara-suara riuh dan teriakan cemas di depan pintu kamarnya. Dia menatap pintu kamarnya dengan tanpa perasaan apapun dan beranggapan bahwa Ibunya dan Yu Na sudah lelah memintanya keluar. Dengan malas dia membaringkan dirinya di lantai yang dingin dan bergumam datar, “biarlah. Biarlah seperti ini.”

Terdengar suara ketukan halus pada pintunya yang membuat Yoona kembali duduk dengan tegak. Dia menatap pintu kamarnya dengan waspada dan sama sekali tidak membuat suara apapun dan hanya menanti.

“Yoona, bukalah pintumu. Ini Yi Fan.”

Alis Yoona berkerut dan dia masih tetap dalam posisinya.

Kembali terdengar suara Yi Fan yang sabar, “kumohon bukalah pintumu. Untukku.”

Tidak ingin membuat Yi Fan curiga dengan keadaan yang sedang dialaminya, Yoona bangkit berdiri dan berjalan pelan menuju pintu. Dia memutar anak kunci dan mendapati Yi Fan berdiri tepat di depannya. Di belakang pria itu berdiri pula Ibunya dan Yu Na yang saling berpegangan tangan.

Bersama sepasang matanya yang merah dan bengkak akibat menangis, Yoona menatap Yi Fan menuntut jawaban atas kedatangan pria itu di hadapannya. Dia mendengar suara bergetar Ibunya kepadanya.

“Mengapa tidak bicara dari awal jika orang itu adalah Yi Fan?”

Yoona semakin mengerutkan dahinya dan menatap tajam antara Ibunya dan Yi Fan. Tiba-tiba daun pintunya terbuka lebih lebar dan dia merasa bahwa lengannya dipegang oleh Yi Fan.

“Aku perlu bicara denganmu di dalam.”

Dan tanpa meminta persetujuan Yoona dan Soon Ah, Yi Fan menerobos masuk ke kamar dan menutup pintu kamar. Dia mengunci benda itu dan menguatkan hatinya untuk menghadapi Yoona. Dia siap dibenci oleh wanita itu asalkan dia bisa membantu.

“Ada apa denganmu?”

Yi Fan memutar tubuhnya dan dalam dua langkah lebar dia sudah berada di depan Yoona. Tanda menduga apapun, Yoona terbelalak lebar saat dengan kedua lengan kokoh Yi Fan meraih tubuhnya ke arah pria itu dan menciumnya dengan penuh kerinduan tertahan. Pelukan pada tubuhnya begitu erat dan seolah ingin meremukkan dirinya.

Awalnya Yoona terkejut dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun ketika dia sadar apa yang dilakukan Yi Fan terhadapnya, dia berontak dan menggerakkan tangannya untuk mendorong dada Yi Fan. Tetapi pria itu tidak membiarkan Yoona menolaknya, dia menangkap tangan mungil itu dan semakin memperketat ciumannya.

Bola mata Yoona membesar dan amarah menguasai dirinya ketika merasakan dengan lembut lidah Yi Fan menelusuri rongga mulutnya. Dengan kekuatannya dia menarik lepas tangannya dan melayangkan tangan itu kepada wajah tampan di hadapannya.

“PLAK!!”

Yi Fan merasakan perih pada pipi kirinya dan membiarkan Yoona melampiaskan kemarahan pada dirinya. Perlahan dia menatap Yoona yang menjauh dua langkah darinya dan melihat wajah merah padam wanita itu yang dihiasi airmata. “Kau…apa yang kau lakukan padaku? Mengapa kau melakukan ini padaku?!”

Yi Fan maju selangkah dan berkata lembut pada Yoona, “menikahlah denganku, Yoona.”

Yoona terdiam. Dia mundur selangkah dengan tubuh gemetar dan menggelengkan kepalanya tetapi Yi Fan meraih lengannya.

“Lepaskan!” ucap Yoona kasar.

Tetapi Yi Fan tidak melepaskan pegangannya dan menatap Yoona dengan sepasang mata pekatnya. “Tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu, Yoona.”

Yoona membuang muka dan berkata tajam, “tinggalkan aku dan jangan ucapkan kalimat konyol itu!”

Yi Fan memaksa Yoona agar menatap dirinya dan menarik kembali lengan itu dengan lembut. “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi kesulitan yang kau hadapi. Aku tidak mengharapkan balasan cintamu. Sudah cukup aku saja yang mencintaimu. Aku akan menganggap anak yang kau kandung adalah anakku. Aku tidak  mempertanyakan siapa pria yang bersamamu dulu. Ijinkanlah aku menjagamu dan anak yang kelak akan kau lahirkan.”

Yoona  merasa hatinya ditusuk sembilu mendengar kalimat Yi Fan. Dia berusaha melepaskan lengannya dari pegangan pria itu dan berkata lemah, “tidak. Aku tidak ingin menjadi bebanmu. Aku tidak ingin memanfaatkan cinta yang kau miliki..”

Tiba-tiba Yi Fan memeluk Yoona dan berkata penuh percaya diri, “kau bukanlah beban bagiku, Yoona. Tidak mengapa jika ini adalah cinta sepihak. Aku hanya ingin melindungi wanita yang kucintai. Kumohon, biarkan aku menjadi ayah bagi anakmu demi kebaikannya di masa depan. Biarkan aku menjagamu. Aku tidak ingin kau menghadapinya sendirian.”

Saat itu juga airmata Yoona runtuh dan dia menangis keras di dada Yi Fan. Airmata yang selama ini ditahannya, rasa kecewa yang menderanya serta rasa rindu yang menguasai hatinya kepada Suho kini tumpah tak terbendung. Dia meraung di pelukan Yi Fan yang hanya memeluknya dengan memberikan dada serta bahunya bagi Yoona.

Yi Fan memejamkan matanya dan matanya terasa panas. Dia tidak sanggup mendengar tangisan pilu Yoona dan hanya bisa memeluk erat wanita itu. di dalam hatinya dia bertekad tidak akan membuat Yoona menangis.

Dan jauh di Seoul, Suho tiba-tiba menghentikan aktingnya di tengah shooting. Dadanya sesak secara mendadak dan membuatnya harus bersandar di dinding ruang shooting. Semua member mendekatinya dan manager serta sutradara segera mengambil obat-obatan yang bisa meredakan sesak napas yang dirasakan Suho.

“Hyung? Kau baik-baik saja?” Sehun berteriak cemas.

Suho tidak menjawab dan hanya menekan dadanya. Dia merasakan rasa hangat mengalir sepanjang pipinya dan para member EXO terdiam ketika melihat leader mereka menangis tanpa sadar.

TBC

21 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER TIGA BELAS

  1. huwaaa qq terharu deh liat ikatan batin suho-yoona.
    kpan seh mreka ktmu????
    rsanya tuh greget liat yoona harus nanggung semua sendirian.
    please ktmuin mreka donkkk

    qq tggu next chapter deh,udah berderai mlah tbc huweeee….

  2. Itu kenapa suho jadi sesak nafas kyk gitu…Kasian bgt yoona sama suho,,,sama2 menyesakkan bacanya…
    Kesal sama kris di sini…
    Semoga happy ending

  3. Aigoo…
    Kapan nih thor Yoona Suho moment nya, ditunggu banget loh. Kesel banget ama manager exo di nie ff, gara gara dia Yoona jadi harus ngehindari Suho gitu. Kasihan kan, mereka berdua jadi lost contact gitu.
    Gak tahu kenapa yah thor, di part yang Kris Yoona moment. Kok aku jadi suka yah kalo mereka jadi, abis author sih bikin moment Kris Yoona mulu. Jadi ke bawa kan…
    Pokoknya ditunggu next ya…
    Yang terbaik menurut author deh, hwaiting thor!!!

  4. thor kau membuat ku menangis..q sedih banget thor melihat cinta yoona ma suho.hati mereka sangat menyatu..disaat yoona menangis,suho merasakn dadanya sesak dan meneteskn air mata.cinta mereka ber2 benar2 besar..kapan mereka dipertemukan thor,,,q menanti mereka ber2 bertemu.q bener2 suka ff ini thor…stiap q membaca ceritanya membuat q deg2an apa kelanjutan critanya…lanjut thor jangan kelamaan ya…semangattttt…

  5. Nyesek dooohhh 😭 Btw yifan segitu cinta nya sama yoona sampai mau ngorbanin diri nya gitu. Aigo so sweet. Next nya jan lama2 thor 😁

  6. Baper baper baper sebaper bapernya….. hikz hikz. knp juga yoona gk jawab tlpon Suho? Dia bener bakal nerima kris? Gmna Suho? Duh tu si yeol nelpon yu na aja lah, tanyain kbr yoona lwt dia. Makin greget.. lama2 sehun tk nikahin juga ni.. #eh #plak hahaha lanjut thor.. update sooonnnnnn

  7. Nyesek bacanya thor aigo mereka punya ikatan batin thor persatukan mereka dalam pernikah dan bikin yuna ngasih tau ke suho kalau yoona mengandung anak nya dan menikah yoona next thor jangan lama-lama ya.

  8. Huwaaaa.. Lumayan lama nunggu akhirnya di lanjut 💞
    Makin kesini makin keren.. Jadi itu gimana, aa~ yoona bakal nikah sama yifan? Suho gimana 😭
    Author.. ihh.. Kangen moment suho yoona. Pertemukanlah mereka, wahai author pembuat cerita 🙏
    Di tunggu lanjutannya. Udah ga sabar 😁 jangan lama lama ^^

  9. Waaaa akhirnyaaa dilanjuuut
    Nyesek bacanya kaya oengen nangiiis
    Ceritanya nyesek bngeeet

    Aku dukung yoona sama siapa aja deh yg penting bahagiaa, yifan juga baik kok :””””

    Lanjuuut yaa, ditunggu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s