[Freelance] In a Dream -Enam

in-a-dream_

In a Dream | Hanabi

Im Yoona | Kris Wu | Jessica Jung | Huang Zitao

Chapter | Horror – Mystery – Thriller | PG-17

.

.

.

Sama seperti hari kemarin. Hari ini semua murid dan guru Aobe High School diliburkan dengan alasan penyelidikan kematian salah satu guru di sekolah ini–Kim Joon So. Kim Joon So tewas terbunuh dengan dua luka tusuk di tubuhnya, di perkirakan waktu kematiannya pada hari jum’at tanggal 23 Oktober 2015, pukul 19:00 sampai dengan 21:00. Tubuhnya di temukan–pada hari senin–membengkak dan hampir membusuk.

Ada lima orang yang dicurigai oleh anggota kepolisian. Huang Zitao, Jessica Jung, Im Yoona, Tiffany Hwang, dan Kim Seol Yoon. Ada banyak alasan mengapa kepolisian mencurigai mereka berlima, tapi dari mereka semua hanya Im Yoona lah yang kesaksiannya sangat meragukan, diperberat lagi dengan fakta ia memiliki salah satu kunci cadangan kelas.

Kris berdiri di atas undakan yang berada di depan kelas. Di samping kirinya adalah lokasi dimana tubuh Kim Joon So ditemukan. Masih jelas terlihat garis putih yang membentuk tubuhnya dan bekas darah yang mengering. Tak jauh dari sana ada sebuah kunci yang digeletakkan di lantai, nampaknya kunci itu jatuh ketika sang pelaku melakukan aksi pembunuhan. Di atas kiri sisi meja terdapat tumpukan lembaran kertas dan sisi kanannya ada sebuah kotak makan kosong. Tas kerja dan kantung berisi makanan ringan yang diletakan di sisi kanan bawah meja.

Kris menatap ke lima orang di depannya secara bergantian. Dengan sengaja dia mengundang ke lima orang ini untuk mendengarkan analisisnya yang sebenarnya juga tidak terlalu hebat. Mereka berlima duduk di balik meja murid yang telah Kris sediakan. Disalah satu tangannya menggenggam tumpukkan kertas yang diikat disisi kiri hingga membentuk sebuah buku agar tidak berantakkan.

“Baiklah. Ayo kita mulai analisisnya,” Kris mengawali percakapan mereka dengan nada gembira, seperti orang yang mendapatkan lotre. Namun, wajah dingin itu kembali saat dia membuka lembaran kertasnya. “Kita langsung saja pada intinya,”

“Kim Joon So satu-satunya guru yang bekerja lembur pada hari itu. Dia menyelesaikan soal untuk ulangan semester minggu depan di ruang kelas 2-A. Dia duduk disini sambil menulis,” Kris menunjuk meja guru dibelakangnya. “Dan pintu berada tepat disamping kirinya dan malam itu semua jendela di kelas ini terkunci. Jadi, bagaimana bisa pembunuh masuk selain lewat pintu? Tetapi jika lewat pintu, bukankah Kim Joon So menyadarinya?”

“Ketika itu kelas tidak terkunci dan pelaku masuk. Tetapi Kim Joon So tidak beranjak dari duduknya. Kenapa? Karena pelakunya adalah orang yang dia kenal. Sesuai penyelidikan, pelaku di perkirakan adalah seorang perempuan. Dari cara pelaku memegang pisau dan menusukkannya, luka tusuk di belakang perutnya terlalu rendah untuk laki-laki dan luka tusuknya tidak terlalu dalam untuk menimbulkan kematian,”

“Pelaku menarik pisau dari tubuh korban dan membiarkan tubuh korban kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke lantai. Selanjutnya pelaku menusuk tepat di jantung korban,”

“Tiffany Hwang. Bukankah kau yang menusuk Kim Joon So?”

Suasana hening yang sendari tadi menyeliputi ruangan ini tiba-tiba berubah menjadi medan perang ketika Tiffany bangkit lalu berbicara dengan nada melengking. “Bukan aku! Kenapa kau menuduhku?”

“Hey, tenanglah. Aku juga belum menyelesaikan analisisku,” Kris memberi tanda ke salah satu anggota kepolisian untuk mengawasi Tiffany, agar gadi itu tidak kabur. “Kau akan ditangkap setelah aku menyelesaikan analisisku,”

Yoona dan Jessica terlihat kaget, sementara Tao dan Kim Seol Yoon hanya diam. Kris yakin mulut Jessica sudah sangat gatal untuk menghujani pertanyaan ini itu. Tetapi, ini belum selesai.

“Bagaimana kau bisa membunuh Kim Joon So jika kau tertangkap kamera cctv? Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa mengelabui kepolisian dengan video cctv palsu yang kau pasang di lobby gedung apartementmu. Tetapi sayangnya, kejahatan yang kau lakukan tidak berjalan mulus,”

“Hari itu kau pergi ke minimarket pukul 19:30, sampai disana pukul 19:35 dan keluar dari sana pukul 19:45. Kenapa kau harus pergi ke minimarket yang jaraknya dua ratus meter dari gedung apartementmu jika kau bisa pergi ke minimarket yang jaraknya hanya lima puluh meter? Karena minimarket yang kau datangi searah dengan jalan menuju sekolah. Bukankah begitu?”

Tiffany hanya diam sambil menunduk. “Kau pergi membawa pisau dapur milikmu yang kau sembunyikan dibalik jaket pink yang kau kenakan hari itu. Tentu saja kau merasa tidak nyaman dan semuanya tertangkap di kamera. Seperti yang kubilang tadi, kau menusuk Kim Joon So ketika dia sedang duduk disini. Menarik pisaumu dan menusuknya kembali saat dia terjatuh. Kau bingung harus di kemanakan pisau ini, jadi kau meninggalkannya ditubuh korban,”

“Kau kembali ke gedung apartementmu. Tetapi sebelum itu kau telah memotong bagian ketika kau pergi dan tiga puluh detik kemudian kau memasuki lobby apartementmu,” Kris mendesah pelan. “Sayangnya kau membuat kesalahan ketika kau memotong videonya, ada sebuah mobil hitam yang terparkir di depan gedung yang juga tertangkap kamera, mungkin orang-orang tidak memperhatikannya, tetapi aku melihatnya ketika tiba-tiba mobil itu menghilang seperti sihir,”

“Oh! Dan satu lagi. Ketika di minimarket kau keluar dengan membawa tiga kantung belanja dan kembali ke apartmentmu hanya dengan dua kantung belanja. Bagaimana bisa kau menghabiskan satu kantung penuh berisi banyak makanan dalam waktu lima menit?” Kris tersenyum. “Karena kau tidak sengaja meninggalkannya disini.” Kris menunjuk ke arah bawah, ke kantung belanja yang berada di dekat kakinya.

Kris membuka kantung belanja itu dan meraih sturk belanjanya. “Semua daftar barang yang kau beli sama seperti daftar barang yang tercatat disini. Waktu pembelian dan tempat pembelian,” Kris menatap Tiffany yang masih tertunduk. “Yah! Kau tidak berbakat menjadi seorang pembunuh.”

Mulut Jessica seperti dipenuhi oleh serangga–gatal dia ingin bertanya. Jadi gadis itu bangkit dan langsung menatap Tiifany yang duduk di belakangnya. “Kau benar-benar membunuh Kim Songsaenim? Kenapa?”

Tiffany tidak berniat untuk menjawab dan Kris langsung kesal melihat tingkah adiknya. “Ya! Jessica! Jangan tiba-tiba memotong analisiku. Aku belum menyelesaikannya.”

“Belum?”

“Iya, masih ada satu puzzel yang belum terungkap.”

Pada akhirnya Jessica kembali duduk setelah Yoona menenangkan gadis itu. Kris harus berterima kasih kepada Yoona setelah ini. Pria itu menghembuskan napas panjang. “Aku memang mengatakan kalau Tiffany-ssi menusuk Kim Joon So. Tapi, aku tidak mengatakan kalau gadis itulah yang membunuh gurunya.”

“Maksudmu, ada orang lain yang membunuh Kim Songsaenim?” kini Tao yang terlihat gatal melontarkan pertanyaan.

“Lebih tepatnya Kim Joon So telah meninggal sebelum Tiffany-ssi menusuknya.”

Satu kalimat yang langsung membuat geger seisi ruangan termasuk beberapa anggota kepolisian yang berdiri di ambang pintu. “Menurut data yang kuterima, Kim Joon So tewas bukan karena luka tusuk. Tetapi serangan jantung. Hm… sebelumnya dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Dia malah memiliki penyakit gula darah yang cukup parah. Jadi, bagaimana bisa? Karena ternyata kasus ini lebih merepotkan dari yang ku duga. Tentu saja Kim Joon So sudah tewas terlebih dahulu, bagaimana mungkin seorang gadis bertubuh mungil bisa membunuh seorang pria yang tubuhnya dua kali lebih besar?”

“Kim Seol Yoon, maukah kau menjelaskan semuanya?”

Kim Seol tersenyum kecil. “Bagaimana jika kau saja yang menjelaskannya?”

“Baiklah. Kurasa itu ide yang bagus. Pelaku tidak bisa membunuh Kim Joon So begitu saja. Jadi, dia membuat gula darah Kim Joon So naik drastis dengan makanan yang dia bawakan. Pelaku tidak bisa memberika makanan yang tentu saja dipantang oleh penderita gula darah, jadi pelaku mencampurkan makanannya dengan wine, tidak merubah rasa makanan tetapi membuat aromanya tercium tajam,”

“Korban yang tidak menyadari akan hal itu akhirnya memakan makanan yang dibawakan pelaku.  Namun, beberapa menit kemudian gula darahnya naik dan Kim Joon So dengan terpaksa menyuntikkan insulin ke tubuhnya. Tetapi cairan di dalam suntikan itu bukanlah obat melainkan potassium. Cairan yang menyebabkan penggunanya mengalami serangan jantung mendadak,”

“Karena pelaku sudah memperkirakan kapan korban akan memakan makanannya dan menyuntikkan insulin, itulah mengapa pelaku tidak begitu panik. Takut ada orang yang melihat Kim Joon So ketika kejang. Pelaku sangat pintar dan percaya diri. Alibinya di perkuat dengan kesaksian orang-orang yang melihatnya diacara pernikahan keponakkannya. Bukankah sangat mudah untuk seorang apoteker mendapatkan satu botol potassium? Bukankah begitu Kim Seol Yoon?”

“Aku tidak menyangka rencanaku yang telah ku susun sangat rapi ini akan ketahuan dalam satu malam.”

“Mungkin jika Tiffany-ssi tidak datang malam itu, kejahatanmu tidak akan ketahuan,” Kris mengangkat sebuah jarum suntik berlapis plastik yang dia sembunyikan di kantung celananya. “Jika Tiffany-ssi tidak menendang benda ini dan membuatmu tidak menemukannya, kau benar-benar akan terlihat tidak bersalah.”

Kris meletakkan benda itu diatas meja. “Setelah menghadiri acara pernikahan keponakkanmu, kau mencari-cari alasan untuk keluar malam itu. Kau akan ketahuan jika kau tidak menemukan benda ini. Tetapi sesampainya di ruang kelas kau mendapati suamimu telah tergeletak di lantai dengan pisau yang tertancap di dada kirinya. Ternyata ada seseorang yang ingin membunuh Kim Joon So selain dirimu. Kemudian kau mulai mencari-cari jarum suntikmu, tapi tidak di temukan. Mungkin jika kau mencarinya hingga ke lorong koridor, kau akan menemukan suntikkan ini yang terselip di balik tempat sampah,”

“Kau yang panik kemudian mendapatkan ide. Kau berlari ke ruang guru dan mengambil kunci kelas 2-A dan melemparnya di dekat tubuh korban. Kau juga menyembunyikan kunci kelas yang korban pegang dan menguncinya dari luar. Ini benar-benar terlihat seperti di film-film. Pembunuhan ruang tertutup.”

Tiba-tiba nada suara Kris terdengar lebih kesal dari biasanya. Dia terlihat marah. “Dan kau membuat Yoona-ssi terlihat sebagai pembunuhnya.”

.

.

.

Yoona duduk di kursi panjang di halaman belakang sekolah dekat mesin minuman otomatis. Ditangannya terdapat kotak jus jeruk yang biasa ia minum ketika istirahat makan siang. Penangkapan Kim Seol Yoon sudah berlalu dua puluh satu menit. Sekolah benar-benar sepi, semua anggota kepolisian telah pergi membawa Kim Seol Yoon dan Tiffany Hwang, begitu juga dengan Jessica dan Tao. Sementara Yoona, apa yang gadis ini lakukan sekarang? Entahlah.

Dua hari ini rasanya begitu berat. Dituduh sebagai pelaku pembunuhan gurunya sendiri dan mengetahui ternyata ada orang yang merencanakan untuk membuatnya terlihat seperti pembunuh. Itu menyebalkan. Ia tidak mau pulang, tidak untuk saat ini.

“Hey, jangan memasang wajah murung,” ada sebuah kaki jenjang berbalut celana hitam dan sepatu dengan warna yang sama di hadapan Yoon. “Kau terlihat menyeramkan.”

Kris Wu berdiri di depannya dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana. “Menyeramkan?” Menatap Kris dari bawah membuat Yoona merasa pria itu sangat tinggi.

“Ya, wajahmu menyeramkan,” Kris mengambil alih tempat kosong di samping Yoona. “Kau harus lebih banyak tersenyum.”

“Orang-orang mengatakan aku tidak bisa terenyum dengan benar. Jadi, untuk apa tersenyum?”

“Kurasa orang yang mengatakan hal itu padamu–dia pasti buta.”

“Buta? Ah, kurasa matanya sedikit rabun.”

“Rabun, ya. Kurasa begitu. Orang dengan mata rabun tidak bisa melihat senyuman manismu dengan jelas,” Yoona menatap Kris bingung. Tidak mengerti maksud pria itu. “Aku tidak sedang memujimu, aku hanya menghiburmu.”

Kris terlihat gugup. “Aku hanya menghibur. Ya, menghibur.”

“Begitukah?” Yoona mengangguk. “Kau menghiburku, tapi sebenarnya aku juga tidak mengerti maksudmu. Jadi, kau terdengar sedang mencelaku.”

Mulut pria itu terbuka, tetapi dia menutupnya kembali. Dia kehabisan kata-kata. Astaga! Gadis ini! Kris memujinya, kenapa dia malah berpikir Kris sedang mencelanya? Kris hanya malu mengatakan kalau senyuman Yoona ternyata manis. Jadi Kris mengatakan kalau dia hanya menghibur Yoona. Ugh! Rasanya Kris mau mengutarakan semua pikirannya barusan, tetapi ah sudahlah, dia malah menelannya lagi.

Tunggu! Kenapa dia malah mengobrol dengan Yoona bahkan sampai duduk di samping gadis bermuka datar itu? Tujuan utama Kris ke sini adalah untuk mengambil laporan yang tidak sengaja dia tinggalkan di ruang kelas 2-A. Mangkanya dia jauh-jauh datang kembali ke sekolah ini. Apa lebih baik Kris meninggalkan Yoona? Tetapi, rasanya kurang sopan seorang pria terpelajar seperti Kris Wu meninggalkan seorang gadis di tempat sepi seperti ini.

“Hey, kau tidak pulang?”

“Aku baru saja ingin pulang, tapi kau datang dan duduk di sampingku. Jadi, kupikir aku harus menemanimu.”

Astaga! Itu harusnya kata-kata yang Shinji ucapkan.

“Detektif Wu.”

“Jangan panggil aku seperti itu. Sekarang kita kan tidak berada di kantor polisi.” Kata Kris sedikit kesal.

“Jadi, aku harus memanggilmu apa?”

Kris terlihat malu-malu. “Karena kau teman dekat Jessica, kau boleh memanggilku Oppa.”

Yoona menoleh bingung. Kris menatap lurus ke arah lain dengan wajah sedikit merah. Hari ini memang sedikit panas, jadi wajar saja jika wajahnya memerah. “Apa boleh?”

“Kenapa tidak?” Sekarang mereka sedang berhadapan.

Oppa,” Kris bersumpah, dia sempat menahan napasnya walau sebentar. “Terima kasih karena telah membuktikan aku tidak bersalah.”

“Sama-sama, lagi pula kau bukanlah pembunuhnya. Itu tugasku untuk mengungkapkan kejahatan seseorang.”

Apa terdengar keren? Apa kata-kata Kris sudah terdengar keren di telinga Yoona?

“Aku ingin berterima kasih padamu.”

“Benarkan? Tentu saja kau boleh melakukan itu.”

“Tapi,” Yoona tertawa kecil. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu.”

“Kencan. Maksudku,” Kris menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Astaga! Apa? Kencan? Dengan anak SMA? Apalagi dengan Im Yoona, si muka datar. Tapi, Kris menginginkannya. “Itu,” Kris menunjuk melewati kepala belakang Yoona. Gadis itu menoleh ke kanan dan mengerti maksud Kris. “Festival musim gugur.”

Yoona menatap poster yang tertempel di sisi kiri mesin penjual minuman otomatis. Festival musim gugur. “Aku akan senang jika kau ingin pergi bersamaku ke sana.”

“Jika itu yang kau inginkan, tentu aku mau,” Mata Yoona sedikit memincing melihat tulisan yang tercetak kecil di bagian bawah poster. “Nanti malam kita ke sana.”

“Apa? Nanti malam? Kenapa mendadak sekali?”

Perasaan Yoona saja atau memang iya, Kris terlihat gugup. Tapi gadis itu tidak begitu memperdulikannya. “Malam ini adalah malam terakhir festival musim gugurnya dan ada acara kembang api. Aku ingin melihat kembang api.”

“Baiklah kalau itu maumu, ya, nanti malam. Malam ini aku juga kosong,” Kris melirik ke arlojinya. Masih ada waktu sepuluh jam sebelum festival musim gugur dimulai. “Aku akan menjemputmu di rumahmu pukul tujuh malam.”

“Apa itu tidak merepotkanmu? Ah, aku akan mengajak Jessica.”

“Jangan.” Apa? Mengajak Jessica? Itu ide yang buruk.

“Kenapa?”

“Tidak. Ya, kau ajak saja dia,” Kris tidak boleh terlihat mencurigakan. Pria itu bangkit, berjalan mundur tetapi pandangannya tetap tertuju ke Yoona. “Ingat, jam tujuh. Aku akan menjemputmu jam tujuh. Kau sudah harus bersiap. Aku tidak suka menunggu.”

Yoona mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah.”

.

.

.

Yoona melirik jam kecil yang terletak di atas meja rias di samping ranjangnya. Pukul lima belas lewat lima puluh empat menit. Empat jam enam menit lagi sebelum Kris Wu menjemputnya, untuk rencana kencan mereka. Bukan kencan, tepatnya balasan terima kasih atas apa yang Kris telah lakukan.

Ia telah menelpon Jessica–tentang rencana mereka dan Jessica berkata dia akan datang–ketika ia telah sampai di rumah tadi siang. Dan sekarang gadis itu ragu untuk datang atau membatalkan rencana mereka. Ia tidak bisa membiarkan Jessica dan Kris datang ke acara itu. Tidak! Jika mereka datang, Yoona pasti akan sangat menyesal.

Yoona meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Menekan nomor Jessica dan menempelkan ponselnya di telinga. Tidak menunggu cukup lama hingga suara melengking itu terdengar di seberang sana.

“Halo, Yoona. Ada apa?”

“Begini Jessica, sepertinya aku…”

“Aku telah memilih pakaian terbaik yang aku miliki. Mungkin, kita bisa mengajak Tao.”

“Tidak Jessica. Aku tidak bisa datang.”

“Apa? Kenapa?”

Yoona terdiam sejenak lalu memulai kebohongannya lagi. “Aku demam.”

“Ah, sayang sekali.”

Yoona sedikit sedih mendengar nada kecewa dari suara temannya itu. “Maaf.”

“Tidak apa-apa. Aku akan pergi bersama Kris Oppa.”

“Jangan!” Yoona sendiri kaget mendengar dirinya berteriak. “Maksudku, jangan datang ke sana.”

“Kenapa?”

“Akan ada badai besar malam ini. Aku menontonnya tadi di televisi.”

“Ah, aku juga melihatnya tadi. Hm… kurasa kau benar. Sebaiknya tidak perlu datang, aku akan mengabari Kris Oppa dan semoga kau cepat sembuh.”

“Iya, terima kasih,” Yoona ragu tapi ia harus bertanya. “Hm… Jessica.”

“Iya.”

“Apa Detektif Wu bisa berenang?”

“Eh? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya ingin tahu.” jawab Yoona gugup.

“Tidak, dia tidak bisa berenang. Dia memiliki trauma.”

“Kalau begitu, kalian tidak boleh datang ke acara itu!”

“Kau kenapa? Oke baiklah, aku dan Kris Oppa tidak akan datang.”

Yoona menatap layar ponselnya yang gelap setelah ia memutuskan sambungan telpon. Jika Yoona tidak datang, ia tidak perlu melihat kematian orang itu dan lebih baik jika orang itu juga tidak datang. Karena takdir kematian mungkin akan berubah seperti ia menyelamatkan Jessica. Karena dimimpinya tadi siang, Kris Wu adalah korban selanjutnya.

 

To Be Continued

.

.

.

Annyeong, bagi kalian yang menerka-nerka motif pembunuhan Kim Joon So yang dilakukan oleh Tiffany Hwang dan Kim Seol Yoon. Mianhe, aku juga gak tahu mofinya apa. Maaf banget. Hehehe… gak mikir sampe ke situ soalnya.

Dan kalian semua yang ngarep banget moment YoonKris. Mianhe, ff ini lebih ke arah tragedi kematiannya dibandingkan romance, karena di genrenya udah jelas banget gak ada romance. Tapi kalo ada kesempatan pasti aku selipin romancenya. Semoga kalian masih suka ^^

Wattpad : https://www.wattpad.com/user/Hanabisite

17 thoughts on “[Freelance] In a Dream -Enam

  1. TUH KAN YES! tebakan aku bener, pelakunya tiffany or istirnya kim joon so eh ternyata both of them. Hahaha. duh thor, bru romantis dikit, eh kris lgsg jadi korban selanjutnya:(

  2. Ada motif sebenarnya knp istrinya sama tiffany membunuh…Seperti perselingkuhan…

    Semoga secepatnya kris tahu tentang kemampuan yoona biar yoona ngga merasa kesepian…

  3. kapan momen yoona sama kris ya thor?trs smpai kapan yoona membunyikan kelebihan yg dimilikinya.kpn kris tahu klau yoona mempunyai kelebihan..lanjut thor…jangan kelamaan ya…semangatttt,,,,

  4. Apa karena Yoona menyelamatkan Jessica terus dia fk di kasih petunjuk untuk kematian selanjutnya???
    Semoga Yoona bisa menyelamatkan Kris.
    Apakah nantinya karena mimpi” itu sendiri Yoona yg akan di per sulit???
    Chayoo tuk next cepter. 😀

  5. Daebak thor, akhirnya sebuah moment di sekolah yang sederhana dan mampu membuat pipi seorang Kris Wu memerah. Suka! Suka! Suka!
    Gak apa apa deh thor, kalo emang gak bakal ada banyak moment Yoona Kris nya. Yang penting jangan lupa diselip selipin ya, dikit dikit juga gak pa pa lah thor.
    Aduuuhhh… Jangan sampe deh Kris jadi korban selanjutnya, gak kebayang kalo bener kejadian Kris bakal ninggal gitu.
    Pleaseee…jangan ya thor
    Ditunggu next yah, hwaiting!!!

  6. hahahha jd pmbnhnya ad dua orng…kris lcu bgt ya msk klh ma yoona hehe skrng mrk brempt jd teman…yah ksian bgt…ap yg akn trjd ma kris nanti…ap yoona yg akn mnylmtknyya

  7. kris jgn jdi krban selanjutnya plisss..
    bru aja da moment yoonkris udah mau da korban lgi
    kan brharapnya yoonkrin moment trus😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s