Hidden Scene [15]

Hidden Scene

 

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

and

former member of EXO’s, Kris

.

.

.

.

a/n. try listening Bruno Mars – It Will Rain if you like the slashed feelings especially for the last scene kkk~

//

“Yoona noona”

Yoona baru menutup pintu kamar mandi saat melihat Yoo Jun duduk dengan muka mengantuk, “Hey, kenapa kau terbangun?” Yoona menghampiri remaja 17 tahun itu, dan mengelus rambut acak acakannya.

“Yeonjin noona belum kembali?”

“Dia akan kembali subuh. Aku menyuruhnya seperti itu”

“Noona, apa kau sudah tidur?” Yoona tersenyum. Meskipun dia menolak pernikahan ibu Yoo Jun dengan ayahnya, dia tidak memungkiri, kalau dia menyayangi adik tirinya itu, “Aku sudah terbiasa”

Yoo Jun mungkin sudah berusia 17 tahun, tapi sikapnya masih saja kekanak kanakan. Anak lelaki itu memeluk Yoona erat, “Aku merindukan noona”

Yoona tertawa kecil dan menepuk nepuk punggung adiknya itu, “Ya tuhan, Jun-ku yang tampan. Apa kata gadismu nanti jika tahu dia masih memeluk kakak perempuannya seperti teddy bear?”

“Aku tidak punya pacar”

“Oh, benarkah?” Yoo Jun mengangguk. Kemudian dia menatap Yoona ragu ragu, “Bagaimana denganmu Noona?”

“Aku?”

“Kakakku sangat cantik dan baik. Dan umurnya sudah 26 tahun. Aku tidak percaya kalau noona belum punya pacar”

Senyum menghilang dari wajah Yoona. Dia hanya termenung menatap adiknya itu. Dan lagi, dia teringat hubungannya dengan Sehun. Meskipun mereka akhir akhir ini baik baik saja, bukan artinya Yoona melupakannya.

Sesaeng itu.

Hubungan menyedihkannya. Bagaimana Sehun memilih mempertahankan hubungan ini, disaat dia tahu kalau dirinya menyakiti Yoona. Bagaimana Sehun yang selalu berhasil membuat dirinya kembali, kapanpun Yoona merasa semua ini menyakitinya. Bagaimana hatinya yang sekali lagi, jatuh, mencintai pria itu dan segala hal tentangnya.

Yoona tidak akan pernah lupa.

“Jun, terkadang ada sesuatu yang memang lebih baik untuk tetap tersembunyi”

Sebuah pesan MMS baru saja masuk ke ponselnya. Unknown Number. Membuat wanita itu mengerutkan kening.

Sebuah surat yang ditulis dengan tinta merah berhasil membuatnya  membeku.

Dear Im Yoona.

Bukankah aku sudah mengatakan untuk berhenti menghubungi Oppa? Tentunya, kau tidak ingin jantung ibu-mu yang malang itu berhenti kan?

Sebuah kenyataan menamparnya. Tangannya bergetar. Pikirannya seolah berhenti bekerja membaca surat itu. Dengan takut dia melirik ibunya yang tertidur dengan gelisah. Dan sekali lagi melirik surat di ponselnya.

Mereka. Mobil yang menabrak mobil ibu. Mereka. Mereka yang mengejar ibu, mereka yang meny—

Tapi, Noona. Sometimes holding on does more damage than letting go.”

//

Kim Taeyeon tidak mengerti apa yang terjadi dengan Yoona. Wanita itu seperti baru saja melihat pembunuhan di depan wajahnya. Wajahnya pucat dan dia berkali kali melamun. Oke, Taeyeon tahu kalau ibu kandung wanita itu baru saja kecelakaan. Tapi, Yoona sudah bilang kalau ibunya baik baik saja. Bahkan ketika tadi Taeyeon menjemput Yoona di rumah sakit, Ibu Yoona tampak baik baik saja. Dia memang tampak terguncang tapi tidak ada yang salah dengan dirinya.

Justru putrinya yang tampak mengkhawatirkan.

Taeyeon dan Yoona sedang berada di gedung MBC. Mereka berdua ditunjuk untuk menjadi MC disana. Namun, dengan pikiran Yoona yang sepertinya tidak berada bersama raganya, Taeyeon ragu wanita itu bisa membawakan acara dengan baik.

“Yoona?”

Wanita itu menggumam. Mereka sedang berada di ruang kosong, menunggu pihak acara memulai briefingnya, “Aku tidak tahu kau punya adik lho” Itu benar. Dia cukup terkejut saat melihat seorang anak lelaki berkeliaran di sekitar Yoona. Mengaku sebagai adik tiri wanita itu.

Yoona tidak menjawab. Dia menatap Taeyeon sebentar dan kembali membuang pandangannya. Taeyeon menunggu. Mungkin dia masih kelelahan menjaga ibunya semalaman.

“Yoona?”

Dia menarik nafasnya panjang sekali, seolah dia baru terbangun dari mimpi buruk, “There are things that better left unsaid” suaranya kosong. Seperti mengatakannya dari sebaris kalimat yang tiba tiba kau ingat.

Dibalik sikap cerianya, Yoona memang tertutup. Taeyeon tahu Yoona adalah seorang chaebol. Dia tahu orangtuanya telah bercerai sejak umurnya 7 tahun dan ayahnya menikahi wanita lain. Dia tahu Yoona sesekali menelpon ibunya. But that’s all. Dia tidak pernah tahu hal hal lainnya. Sekali, Yoona menceritakan tentang dirinya dan hidup yang dijalaninya sebelum menjadi sekarang. Tapi kemudian dia tidak pernah mengungkit ungkit hal itu lagi. Setiap kali dia menanyakan kabar ibunya, Yoona hanya tersenyum singkat dan menjawab ala kadarnya. Bahkan, jujur, Taeyeon tidak pernah tau dimana rumah keluarga Im. Dia juga sudah lupa bagaimana wajah keluarga Yoona. Bukan artinya Taeyeon tidak pernah ingin mengenal mereka, hanya saja Yoona tidak mau membuka hal itu pada yang lainnya.

Tapi melihat Yoona seperti ini membuat Taeyeon sadar kalau visualnya itu menyimpan banyak hal sendirian. Apa lagi yang disembunyikan perempuan ini?

Taeyeon mengulurkan tangannya, merangkul bahu Yoona lembut, “Kau tahu, Yoona?  You can count on me”

“Hmm”

“Yoona” Taeyeon memanggilnya sekali lagi. Membuat dia menatap mata wanita yang lebih tua itu, “Aku serius. Kau bisa berbagi denganku kapanpun kau ada masalah. Aku akan mencoba membantu sebisaku”

Tidak, eonnie. Kau tidak akan bisa membantuku

Dia memeluk leadernya itu “Aku baik baik saja, sungguh. Hanya kelelahan”

Benar. Aku sangat lelah

Meskipun emosi itu mengacaukan perasaannya. Yoona tetap berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa apa by showing her famous fake smile.

Like she always did

//

“Perkataanku kemarin sangat kasar” Sehun menghela nafasnya dan memperhatikan ekspresi Jessica, “Maafkan aku” dia membungkuk dengan sopan dan tetap begitu untuk beberapa detik yang terasa panjang.

“Sehun-ah” tangan Jessica menggapainya, menyentuh bahunya lembut,”It’s okay”

Lelaki itu tersenyum, “Aku menyakitimu, Noona. How on earth you said you’re okay?” mata itu penuh dengan penyesalan yang nyata.

Jessica menghela nafasnya. Dia benar. Jessica tidak baik baik saja. Perkataannya keras dan kasar, menghancurkan Jessica lebih dari lelaki itu sadari. Sehun mungkin tidak tahu berapa banyak dia menangis karena lelaki itu hari itu. Tidak tahu bahwa Jessica saat ini mengenggam hatinya kuat kuat, mencoba menahan debaran itu. Tidak tahu bahwa Jessica ingin sekali berteriak mengatakan bahwa Sehun telah membunuh perasaannya. Tidak, Sehun tidak tahu itu.

Tapi tetap saja, Oh Sehun datang dengan kharismanya dan memohon maaf. Sederhana namun menyentuh hatinya yang terluka.

Wanita itu kemudian mencoba tertawa meskipun akhirnya terdengar seperti suara pesakitan, “I’m hurt, Oh Sehun. But it’s okay”

“Sunbaenim…..” iris cognacnya menatap Jessica bersalah. Oh, benar benar. Apa yang dipikirkannya hingga mengatakan hal buruk itu? Ayahnya selalu mengajarkan Sehun untuk menghormati wanita, tapi apa yang telah dilakukannya? Lihatlah kesakitan itu dimata wanita itu! “Jessica Sunbaenim, I’m truly sor—“

“Sehun-ah, dengar aku” Jessica tidak tahu apa yang mendorongnya, tapi dia punya perasaan kuat bahwa dia harus mengatakan ini, “It’s hurt so much. But it’s okay, Sehun. It’s okay because it’s you. It’s okay because I love you”

Dihadapannya, Oh Sehun mematung. Dia memang menduga ini tapi mendengarnya langsung dari Jessica, wow, dia tidak pernah menduganya, “Noo—“

“Aku tahu bahwa hubungan kita tidaklah lebih dari sunbae dan hoobae. Aku tahu bahwa berada di dekatmu terus menerus bisa menimbulkan masalah besar dengan fans mu. Aku tahu itu Oh Sehun. Aku tahu dan aku tetap mencintaimu”

Jessica menyentuh wajah kaku Sehun dengan jemarinya. Mengaguminya, “Kau tidak tahu betapa kerasnya aku mencoba menarik hatimu, mencoba untuk mengetahui apa yang sebenarnya kau pikirkan dibalik ekspresimu, mencoba untuk membuatmu menganggapku lebih dari seorang sunbaenim. Aku tergila gila padamu, aku berpura pura tidak sadar dengan ketidaknyamananmu. Aku bodoh dan egois” jemarinya turun ke kemejanya, membetulkan letak kerah Sehun yang berantakan, “Tapi kemudian ucapanmu menyadarkanku, Sehun. Bahwa seberapa keras aku mencoba, hatimu tidak memilihku. Sakit sekali memikirkannya. And now, I’m tired enough. ”

Wanita itu tersenyum tulus dan menatap iris kesukaannya itu, “Aku memutuskan untuk menyerah, Sehun”

Ada sebuah kelegaan. Seperti melepaskan ransel berat yang selama ini menggantung di pundak. Seperti menghirup udara ditengah sesaknya konser music.

Oh Sehun tidak tahu apa yang mendorongnya, tapi dia menemukan dirinya memeluk Jessica. Merasakan debaran hatinya untuk Sehun. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan.

“Maafkan aku, Noona. Sungguh, maafkan aku”

Aku mencintaimu, Sehun. Aku mencintaimu

Didekapannya, tempat dimana lelaki itu tak bisa melihat air matanya, ia menangis.

//

Im Yoona melihat semuanya. Dia berdiri bersandar pada dinding seperti seorang penguntit, menatap Sehun memeluk Jessica erat. Jangan bilang hatinya tidak sakit melihat itu. Jangan bilang dia baik baik saja. Karena Yoona tidak baik baik saja.

Kecelakaan ibunya mengacaukannya. Namun yang lebih mengacaukannya adalah dalang dari kecelakaan itu.

Menemukan mereka bukan sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun ingatannya samar oleh rasa takut, Yoona rasa dia masih bisa mengingat beberapa hal tentang mereka. Ditambah dengan kekuasaan ayahnya, Yoona rasa dia bisa menemukan mereka kurang dari sebulan.

Tapi bukankah itu artinya ia mengakui pada ayahnya, pada keluarganya, kalau dia selama lebih dari setahun ini dibodohi oleh lelaki yang sedang memeluk membernya itu? Membuka mata dunia tentang hubungannya dengan Sehun? Melihat karir lelaki itu hancur karenanya? Apakah Yoona sanggup melihat semua itu?

Dia terus memikirkannya hingga kepalanya terasa pening. Menangkap mereka sama saja memulai perang. Dan Yoona tidak tahu apakah dia bisa memenangkannya sampai akhir. Dan lagi, jika Yoona benar benar memulainya, akankah Sehun berada di pihaknya? Yoona sangat takut dengan jawaban itu hingga dia seringkali menghentikan pikiran itu begitu saja.

Akankah Sehun terluka karena harus memilih antara Yoona dan fansnya?

Satu hal yang paling tidak disukai Yoona adalah sikap melankolisnya. Dia benci sekali menjadi tokoh tokoh lemah dalam novel roman picisan. Dia benci menjadi wanita yang biarpun disakiti sebegitu seringnya namun tetap akan membuka tangannya saat lelakinya tersenyum padanya. Yoona benci dirinya yang lemah terhadap Sehun. Bahkan setelah laki laki itu menyakitinya; ketika ibunya berada dalam bahaya akibat perbuatan fansnya, setelah semua itu dia masih takut Sehun terluka. Masih memikirkan lelaki itu

Menyedihkan.

Apalagi ia hanya diam, merasakan kecemburuan yang hampa menusuk hatinya saat Oh Sehun membiarkan Jessica Jung menciumnya.

//

Yifan pulang ke dorm dalam keadaan kacau. Dia minum banyak sekali dan jalannya sempoyongan. Rambutnya acak acakan dan nafasnya bau alcohol. Member lain sudah menggerutu kesal karena lagi lagi, Yifan membahayakan reputasi EXO dengan minum seperti orang bar bar.

“Sudahlah, urus dirimu sendiri!” teriak manager kesal ketika racauan Yifan semakin tidak jelas. Dia terus terusan meminta Tao memberikan lebih banyak lagi soju padanya. Seperti tidak puas dengan bau alcohol yang sudah sangat menyengat.

“Ge, hentikan. Kita semua sudah kelelahan tanpa perlu mengurus orang mabuk!” Tao akhirnya sampai dilimitnya. Di dorm hanya ada dirinya, Lay—yang sedang tidur karena kelelahan dan Xiumin—yang bersedekap kesal melihat leadernya tampak seperti orang bodoh. Oh ayolah, ini sudah malam dan mereka punya jadwal pagi besok. Tidur yang cukup tanpa perlu meladeni Yifan terdengar bagus sekali.

“Tao-yya, kenapa rasanya sakit sekali?” Yifan terbatuk dan kemudian tertawa tawa seperti orang gila. Oh mungkin dia sudah gila. Kepalanya pening sekali dan saat ini yang diinginkannya adalah pergi ke atap gedung dan menikmati semilir angin.

“Apa apaan galaxy satu itu?”

Tao menoleh dan nyaris memekik senang saat melihat Sehun bersender di kulkas. “Mabuk seperti orang bodoh begini,” dengusnya dan menyiramkan air dingin dari gelasnya ke wajah Yifan.

“Sehun-ah” Tao melepaskan tangan Yifan dari lengannya, “Bisa tolong temani galaxy tidak jelas ini sebentar? Chanyeol dan Kyungsoo sebentar lagi pulang dengan Jaewoon hyung”

Sehun mengangkat alisnya. Dia tahu Tao sudah sangat ingin tidur dan Minseok—Sehun bahkan tidak tahu kapan kakak tertuanya itu melarikan diri dari dapur. Hal terakhir yang Sehun inginkan besok dipagi hari adalah Tao yang marah marah dan menyebalkan seperti kutu karena kelelahan dan kurang tidur. Ugh, bocah China itu sangat manja hingga kadang dia lupa siapa yang sebenarnya paling muda di dorm ini.

Sebenarnya Sehun juga sangat lelah. Benar benar lelah. Fisik dan batinnya. Tapi melihat Yifan yang terlihat menyedihkan seperti itu membuat Sehun iba. Jadi, dia mengangguk yang disambut sorakan Tao, “Thankyou maknae! Aku akan mentraktirmu lain kali!” katanya bahagia

“Omong kosong” gumamnya dan mendudukan diri didepan Yifan. Hidung lelaki itu merah. Tangan kanannya memegang sekaleng soju dan matanya terpejam. Bulir bulir keringat membasahi kening Yifan dan yatuhan, lelaki ini tampak seperti menanggung beban seluruh manusia di pundaknya.

Ia mendesah dan menempelkan pipinya pada meja, memperhatikan pria kaku itu meracau tidak jelas, “Apa maumu, hyung? Kau beruntung tidak ada Suho disini. Sungguh, apa kau sudah gila mabuk di bar seperti itu? Bagaimana jika ada yang memotretmu? Dasar bodoh”

Yifan tertawa dan membuka matanya, meskipun pandangannya tidak focus, Sehun yakin lelaki itu mengerti perkataannya, “Ya! Maknae! Ayo minum bersama!. Berhenti mengomeliku. Cukup Suho dan manager saja, oke? Aku memang bodoh dan menyebalkan tapi ‘kan aku tetap hyungmu!”

Uh-oh, entah kenapa Sehun merasa sedih sekali mendengar Yifan berbicara seperti itu. Dia tahu betapa kerasnya Yifan mencoba leader yang baik. Dia tahu betapa seringnya Suho dan manager menyampaikan komentar pedas tentang perilakunya. Dia tahu betapa inginnya Yifan diterima sepenuhnya oleh member EXO. Seperti Sehun, Chanyeol, dan yang lainnya.

Sungguhan, dia menyayangi Yifan. Lelaki ini mungkin aneh dan kaku. Dia memiliki kadar narsisme luar biasa tinggi yang kadang membuat Sehun ingin menendang bokong Yifan jauh dari pandangannya. Ucapannya sering tidak masuk akal dan leluconnya garing sekali sampai Sehun merasa prihatin. Tapi tetap saja Yifan adalah pria yang selalu memperhatikan Sehun. Membernya yang satu ini tidak pernah absen mengingatkan Sehun untuk makan dengan teratur, minum vitaminnya dan pulang ke dorm tepat waktu. Kalau Sehun jatuh sakit, dia mungkin akan diam saat member lain sibuk mengurus Sehun, tapi ia tahu Yifan memperhatikan dan merawat Sehun lebih baik dari siapapun saat mereka sedang berdua saja.

Yifan mengingatkan Sehun dengan kakaknya, yang menyebalkan namun sangat sayang padanya. Yifan, seperti member EXO lainnya adalah keluarganya. Dia suka dan akan selalu sayang dengan Yifan. Terlepas dari apapun.

Tanpa sadar Sehun meneteskan air mata. Sehun sejujurnya tidak suka sifatnya yang mudah iba dengan orang. Kai sering sekali meledeknya kalau dia mulai bersimpati—hingga ingin menangis—terhadap orang lain. Oh, apakah dia baru saja mengakui kalau pada dasarnya Oh Sehun adalah lelaki yang belum sepenuhnya dewasa?

Pria yang lebih muda itu tersenyum. Dia mengusap air matanya dan mengusap dahi Yifan. Ada perasaan sesak didadanya meliat Yifan seperti itu. Tidak boleh. Hyungnya tidak boleh terlihat menyedihkan seperti ini. Yifan harus kembali bertingkah aneh dan membuat Sehun lupa dengan masalahnya sejenak. Yifan harus kembali berdiri dengan pandangan dinginnya dan berkata akan selalu menjaga Sehun.

“Sehun-ah” suara serak Yifan menyadarkan Sehun. Laki laki itu tersenyum dan menatap kaleng sojunya, “Tadi, ibuku menelpon”

Melihat dari ekspresinya, Sehun tahu ada banyak yang ingin Yifan sampaikan padanya, lebih dari sekedar memberitahu kalau wanita kesayangan Yifan itu menelponnya. Jadi, Sehun menegakan tubuhnya dan mencondongkannya kearah Yifan, menunjukan gestur tertariknya, “Ceritakanlah hyung. Kalau itu membuat mu merasa lebih baik”

Mata Yifan menatap Sehun menyelidik. Dia sedang stress hari ini. Sungguh. Kepalanya dipenuhi dua wanita yang sama sama berarti untuknya. Dia mungkin mabuk, tapi sungguh, Yifan sangat sadar apa yang telah dia lakukan.

Terkadang, kau harus menunjukan kepada orang lain perasaanmu

Perkataan Yoona waktu itu terngiang di kepalanya. Jadi Yifan menarik nafas panjang, memutuskan untuk percaya dengan Sehun. Toh, diantara yang lainnya, Yifan paling suka dengan Sehun.

“Ibu, well, dia memintaku kembali Sehun-ah. Ibu memintaku menemaninya di China” dia sengaja mengatakan hal itu dengan nada semabuk mungkin. Yifan tidak ingin nantinya Sehun serius memikirkan itu semua. Dia hanya ingin bercerita, tanpa ingin mendengar balasan apapun dari Sehun.

Tapi reaksi yang ditunjukan lelaki yang lebih muda itu berbeda. Ekspresinya tidak terbaca. Yifan sempat melihat kemarahan pada rahang tegasnya, “Waktu aku bilang kembali maksudku yah—kau tau—“

“Lalu kau menjawab apa?” suaranya masih tenang, namun dibalik kabut alcohol yang membutakan pikirannya, Yifan menangkap secercah gelisah di suara adiknya itu.

Yifan tertawa lagi, “Aku bilang aku tidak bisa. Ini bukan pertama kali ibuku memintaku berhenti kau tahu? Aku sudah sering menolaknya dan ini hal yang biasa biasa saja. Tidak perlu tegang seperti itu” katanya menepuk nepuk bahu Sehun.

Sekilas, Yifan melihat ketakutan di poker face andalan adiknya itu. Melihat itu mau tak mau Yifan terdiam. Sebenarnya, hari ini ibunya meminta Yifan untuk berhenti. Ibunya bilang kalau Yifan ingin menjadi bintang, Yifan tidak perlu susah susah di Korea, menjalani hari yang berat dan agensi yang menyusahkan. Yifan bisa jadi bintang di tanah airnya, China.

Menjadi anak tunggal setelah perceraian ayah dan ibunya membuat Yifan tahu bahwa wanita yang melahirkannya itu kesepian. Yifan tahu seharusnya ia ada disamping ibunya, menemani dan menjaga wanita itu. Biasanya Yifan dapat menangani hal seperti ini—dia sudah terbiasa. Tapi entah kenapa, hari ini ia sangat frustasi mendengar permintaan ibunya itu.

“Hyung” ia menoleh, mendapati Sehun menatapnya dengan tatapan tak terbaca, “Jujur saja, pernah tidak kau memikirkan untuk meninggalkan ini semua?”

Seharusnya Yifan tertawa dan kembali berpura pura mabuk. Seharusnya Yifan tidak menceritakan hal itu pada Sehun. Seharusnya Yifan berkata kata kata yang menenangkan kegelisahan Sehun. Seharusnya Yifan tidak membuat hati adiknya yang lembut sekali itu khawatir padanya. Seharusnya dan seharusnya.

“Sayangnya, Sehun. Aku sering sekali memikirkan opsi itu. Melihat banyaknya masalah disini” ujarnya lirih

//

Kalau ada hal yang paling diinginkan Yuri saat ini juga, itu mungkin dapat menyumpal mulut mulut yang terus terusan mengejeknya itu.

Mencacinya karena entah bagaimana, fotonya bersama Kim Jongin bertemu di café menjadi viral di media.

Yuri menekuk wajahnya. Sama sekali tidak senang dengan rumor yang baru saja beredar tentang dirinya. Ponselnya terus saja bergetar dengan ribuan notification yang didapatnya dari akun SNS nya yang kini—ia berani menjamin—sedang terjadi fanwar antara fansnya dan EXO-L. Belum lagi Minho yang menuntut jawaban darinya. Yuri pusing sekali.

Jongin langsung menelponnya tak lama setelah berita itu keluar. Meminta maaf karena tidak sadar kalau café yang mereka datangi tidak aman. Well, mereka memang bertemu. Berminggu minggu yang lalu.  Lucunya, hanya karena Jongin dan Yuri ketahuan bertemu di café yang sama, para netizen gila itu seenaknya menarik kesimpulan kalau mereka berpacaran. Hell! Mereka berdua hanyalah dua orang yang dengan bodohnya mencoba mencari tahu apa yang salah dengan sahabatnya masing masing, Sehun dan Yoona, dan sungguhan deh Yuri bahkan tak pernah berpikir kalau dancing machine EXO itu menaruh perhatian lebih padanya—well, ia juga tak berharap begitu.

Ia pulang dengan amarah yang membara di hatinya dan keletihan luar biasa setelah mengejar syuting iklan parfum terbarunya. Perusahaan baru saja memanggilnya dan Jongin. Mereka meminta klarifikasi tentang foto yang beredar. Yang dibalas Yuri dengan penyangkalan yang sengit. Oh, mereka sangat marah tentu saja. Membentak dan berlaku bodoh dengan tidak mempercayai ucapan Yuri dan Jongin.

Aku dan Kim Jongin hanya berteman. Memangnya tidak boleh aku berteman dengannya? Terlepas dari semuanya, kami berhak menentukan dengan siapa kami berteman!”

“Apa kau sudah gila!!?? Kau tidak boleh terlihat dengan member EXO tanpa seizin kami! Begitupula dengan yang lainnya!”

“Apa kau lupa seberapa pentingnya mereka bagi kita!?”

Mendengarnya membuat Yuri marah sekali. Rasanya ia ingin melempar meja kewajah pimpinan kantor itu. Memangnya mereka dianggap apa? Demi tuhan apa mereka benar benar seriu menentukan dengan siapa mereka berteman? Apa kini Yuri juga tak bisa bertemu dengan teman teman lelakinya sebelum melapor ke agensi?

Seolah ada bara api yang jatuh dikepalanya, Yuri bangkit dengan emosi menggebu gebu, “Aku tak peduli! Aku memiliki hak untuk menentukan dengan siapa aku bertemu. Mau itu member EXO atau Presiden Korea sekalipun, aku tak peduli!” ia kemudian menatap Kim Jongin yang daritadi hanya diam, “Dan aku sudah menjelaskan kalau aku dan Jongin-ssi tidak memiliki hubungan apapun. Kami berteman, that’s all! Terserah kalau kalian tak mempercayai kami”

Yuri meraih tasnya dengan kasar dan melenggang pergi. Tak peduli ketua Shin itu terus terusan memanggilnya. Dalam hatinya ia mendecih. Memangnya kapan mereka pernah mempercayai mereka?

Tiffany menatapnya prihatin ketika ia pulang dan duduk di sofa dengan tubuh lemas. Yuri lelah, lahir dan batin. Hani menggongong semangat melihatnya pulang tapi hari ini Yuri tidak ingin bermain dengan anjing kesayangannya itu. Ia membungkam Tiffany dengan tatapannya dan memilih memejamkan mata sejenak.

“Yuri eonnie, kau tidak apa?” Biji mata Yuri menatap teman sekamarnya yang baru saja sampai. Wanita itu pulang cepat rupanya. Dia tersenyum seperti biasa. Seperti tidak ada salah. Anehnya Yuri merasa emosi itu kembali menguasainya.

“Sudah pulang? Tumben” tanya Tiffany

“Iya. Tadi aku habis mengantar ibu pulang ke rumah”

“Loh, memangnya ibu mu sudah benar benar sehat?”

Kali ini senyum Yoona berubah menjadi lebih sendu, “Ibu tidak ingin berlama lama di rumah sakit” Tiffany menepuk nepuk bahu adiknya itu, “Aku turut berduka, Yoong”

Mendadak emosi yang tadi membakarnya saat melihat Yoona, lenyap seketika. Yoona terlihat berantakan. Yuri sudah berteman dengan Yoona cukup lama untuk tahu kalau dia tidak benar benar tersenyum tulus menanggapi senyuman Tiffany.

Bagaimana bisa aku menimpakan rumor ini pada Yoona? Dia tak tahu apa apa tentang aku dan Kim Jongin!

“Yuri eonnie, kau baik baik saja?” Yoona kembali mengulang pertanyaannya. Matanya menatap Yuri dengan kekhawatiran yang nyata, “Aku melihat foto itu—agak kaget sebenarnya. Tapi, kau tak ada hubungan apapun dengan Jongin kan?” kini ia menatap Yuri ragu

Yuri tersenyum sedih. Ingin sekali ia bilang kalau mereka bertemu karena sama sama prihatin dengan hubungannya dan Oh Sehun, “Tentu saja tidak, Yoong. Kami hanya berteman. Kau tentu tahu itu kan?”

“Aku tahu” Yoona menghela nafas dalam. Raut wajahnya berubah murung melihat Tiffany bangkit untuk membuka pintu yang terus saja berbunyi, “Makanya aku khawatir. Ini pertama kalinya media menangkap kedekatan kita dengan member EXO. Ini pasti berat bagimu, ‘kan?”

Yoona tersenyum menyemangati dan rasanya ada sepotong baja yang menusuk hatinya. Kalau mereka tahu tentang hubungan Yoona dan Sehun, apa ia akan tetap tersenyum? Ia dan Jongin ketahuan bertemu di café saja reaksinya sudah seperti ini, Yuri tak bisa membayangkan reaksi public jika tahu keduanya berpacaran.

“Eonnie?” panggil Yoona lagi

Aku tak pernah mengerti alasan kenapa kau menyembunyikan ini semua, Yoong. Tapi aku rasa, sekarang aku paham ketakutanmu.

Yuri mengusap punggung Yoona, “Aku baik baik saja. Perusahaan telah menkonfirmasi berita ini. Fans akan menggila beberapa saat. Tapi aku pasti bisa melaluinya. Aku akan baik baik saja, Yoona”

Yoona memangku Hani dan bermain dengan bulu halusnya, “Ngomong ngomong. Perusahaan tidak melakukan apapun padamu ‘kan?”

Mendengar pertanyaan Yoona membuat Yuri mengingat konfrontasinya dengan perusahaan beberapa jam yang lalu. Ugh, mengingat itu membuat Yuri marah dan juga sedih disaat yang sama.

“Kau tidak boleh terlihat dengan member EXO tanpa seizin kami! Begitupula dengan yang lainnya!”

Dalam hati ia tertawa sinis. Sebegitu menyedihkannya kah hidupnya? Hingga ia tak bisa bertemu dengan temannya tanpa membuat keributan? Yuri tak pernah benar benar menyadari kalau selama ini statusnya sebagai public figure telah merampas kebebasan darinya.

Ia jarang terlibat rumor seperti ini. Bukannya ia tak punya teman lelaki atau apa, hanya saja berita tentangnya tidak terlalu menjadi konsumsi public. Selama ini Yuri selalu bermain aman hingga ketika ada ketukan yang mengguncang dunianya seperti ini, ia merasa sangat marah.

“Yul, ada kiriman tuh untukmu” Yuri terlalu tenggelam dalam pikirannya hingga tak sadar Tiffany sudah kembali dengan paket kiriman berukuran sedang yang dibungkus dengan manis.

Ia mengerutkan keningnya, “Dari siapa?”

“Mungkin dari fans, melihat tampilannya” membernya yang lebih tua itu mengangkat bahu dan berjalan masuk ke kamarnya. Meninggalkan Yoona dan Yuri di ruang tamu. Yoona tersenyum lembut dan menyalakan televise. Mendapat hadiah dari fans bukan hal yang aneh bagi mereka.

//

“Nyonya Jung tak apa, Yoona-ssi. Dia hanya mengalami retak tulang kaki. Itu akan sembuh dalam beberapa minggu. Percayalah” dokter setengah baya itu tersenyum melegakan. Tapi kemudian tangannya menyentuh bahu Yoona. Meremasnya pelan

“Tapi saya sangat tidak mengharapkan ibu anda mengalami hal seperti ini lagi. Dia cukup syok kemarin dan tekanan darahnya sempat menurun. Faktor usia dan stress telah meningkatkan resiko ibu anda menjadi lebih tinggi dibanding seharusnya” dokter itu menatapnya prihatin, “Mungkin anda bisa membujuk Nyonya Jung untuk pensiun sebagai hakim? Itu membuatnya mempunyai beberapa musuh yang dapat membahayakan jantungnya”

Saat mendengar itu Yoona tak mampu bergerak. Bernafas saja rasanya sangat sulit. Pikirannya seperti kosong.

Bu, apa yang akan terjadi padaku kalau kau pergi?” gumamnya. Ia sedang menggenggam tangan ibunya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah wanita yang telah melahirkannya itu.

Wanita berusia setengah abad itu memandang keluar dengan matanya yang luar biasa mirip Yoona. Yoona bahkan pernah berpikir bahwa alasan ayahnya tak pernah sanggup menatap Yoona terlalu lama adalah karena Yoona luar biasa mirip dengan ibunya.

“Life must go on, dear” wanita tua itu menoleh dan mengelus rambut putri keduanya dengan sayang, “Bahkan kalau aku pergi meninggalkanmu. Kau masih memiliki keluarga yang lengkap. Kau masih mempunyai orang orang yang menyayangimu. Kau tidak akan kesepian”

“Tapi bu, aku ti—“

“Yoona-ku sayang, saat itu terjadi, ibu yakin mereka tidak akan meninggalkanmu. Untuk itulah, saat ini kau harus menjaga mereka okay?”

Yoona dilemma. Melihat ibunya yang pemaaf seperti itu menyakiti Yoona. Wanita lembut itu bahkan menolak saat Yoona bilang ia ingin memperpanjang kasus kecelakaan ini. Menolak permintaan Yoona untuk berhenti menjadi hakim dan menghabiskan masa tuanya dengan tenang. Ia dilemma karena ibunya meminta Yoona memaafkan mereka.

Bisakah Yoona memaafkan sasaeng fans itu?

Yoona tidak tahu. Ia takut untuk bertemu Sehun. Ia takut dia akan lari dan menangis di hadapan laki laki itu. Mengatakan kalau semua ini adalah ulah fans-kelewat-fanatiknya. Ia takut kalau akhirnya keinginan melihat ibunya menghabiskan waktunya dengan tenang menang melawan keinginannya untuk bersama Sehun. Yoona takut melihat dirinya memilih option itu. Yoona takut kehilangan Sehun.

Yoona takut dengan banyak hal hingga rasanya ia bisa gila karena paranoid. Bahkan ketika ia mengangkat panggilan dari Sehun, ia gemetaran. Sehun terus memanggil namanya, menanyakan keadaannya dengan kekhawatiran yang nyata. Dan Yoona hanya diam mendengarkan suaranya mengirimkan kerinduan yang aneh dihatinya.

Pikirannya terhenti ketika ia mendengar isakan tertahan. Ketika ia menoleh. Ia mendapati Yuri memeluk dirinya sendiri di sofa. Ia tampak kacau dan berhasil membuat Yoona panik.  Ketika ia beringsut untuk memeluk Yuri, pandangannya jatuh pada box hadiah yang baru saja dibuka Yuri.

Itu adalah surat yang kejam. Dengan boneka kodok yang jelek sekali. Yoona tahu dengan jelas kalau Yuri tersakiti. Yuri juga memiliki masa lalu yang ingin ia lupakan dan membicarakannya dalam untaian kata pedas seperti itu sangatlah tidak menyenangkan.  Ia meremas kertas itu dengan marah. Ini pasti akibat rumor tentang Yuri dan Jongin.

Tapi kemudian, sebuah kuku palsu yang dicat berwarna biru yang sangat familiar berhasil menarik segala emosinya. Ia tak mampu berkata kata.

“Eonnie” lirihnya pelan

Yuri mengangkat kepalanya. Kondisinya sedang buruk saat ini dan surat itu benar benar menghancurkannya. Yuri merasa dadanya sesak sekali. Kenapa bisa? Kenapa mereka bisa sejahat itu padanya?

Dan ketika Yuri melihat senyum sedih Yoona, pertahanannya hancur.

//

Young Be terbangun karena ponselnya terus berdering. Dia mengusap kepalanya yang pening karena terlalu banyak meminum Soju.

“Ada apa!?”

Cho Young Bae?”

Young Bae buru buru mengecek caller Id dan merasa bodoh karena berteriak kepada bos nya ditengah malam seperti ini, “Oh bos! Maafkan aku, aku sedikit mabuk”

“Kau ini! Berhentilak mabuk mabukan

“Sesekali tak apalah” lelaki itu melirik jam yang menunjukan pukul 11 KST, “Tapi bos, ada apa menelponku malam malam begini?”

Besok sore, kosongkan jadwal Yoona. Ketua Shin ingin berbicara dengannya” wanita diujung sana terdiam sebentar, “Kau pasti tau ini tentang apa kan? Mereka pikir ini saat yang tepat. Jadi kau urus saja Yoona ya? Dia pasti tak akan menyukai ini”

Dan sungguh, ia menyesal telah mengangkat panggilan bosnya yang cerewet itu.

//

Yoona menutupi tubuh Yuri dengan selimut tebalnya dan menyalakan penghangat ruangan. Musim dingin sebentar lagi tiba dan suhu udara sudah mulai turun hingga beberapa derajat. Mata rusanya menatap Yuri dengan kosong.

Kenapa mereka begitu kejam, Yoong? Apa aku tak cukup baik?”

Yoona termenung di tepi kasurnya. Mengingat perkataan Yuri beberapa saat lalu sebelum wanita itu jatuh tertidur karena terlalu lelah menangis. Dan sungguh, rasanya Yoona ingin sekali bersujud dihadapan Yuri, mengatakan kalau surat itu semata mata dikirim hanya untuk sebagai peringatan untuknya.

Peringatan kalau mereka tidak akan berhenti sampai Yoona menuruti kemauan mereka.

Yuri, adalah teman terbaiknya. Wanita itu memahami Yoona bahkan tanpa perlu ia jelaskan. Ia adalah eonnie terbaiknya. Kakak yang paling dia sukai. Ketika Yoona sedih, Yuri akan disana. Menghiburnya, mengajaknya minum soju sampai mabuk atau rela menemaninya hingga pagi menjelang jika ia belum hapal dengan koreografi lagunya. Yoona berarti untuk Yuri dan begitupula posisi wanita itu di hati Yoona. Bahkan Yoona sering membayangkan kalau hidupnya akan jauh lebih menyenangkan jika Yuri lah yang terlahir sebagai kakak kandungnya. Bukan wanita jahat seperti Yeon Jin yang tidak peduli dengan ibunya.

Yuri saat bersamanya selalu menjadi sosok kakak yang kuat. Hingga membuat Yoona percaya kalau ia aman bersama wanita itu. Dan seingat Yoona, kakaknya itu tidak pernah terlihat semenyedihkan ini. Tidak pernah. Yoona sakit melihat Yuri seperti itu. Seperti anak kembar yang sakit melihat kembarannya tersakiti.

Dengan kepala yang berputar putar Yooona keluar dari kamarnya. Dormnya sudah sepi. Member lain pasti sudah tertidur or simply diam di kamar mereka. Ia melangkahkan kakinya ke dapur dan mengambil sekaleng soju.

Bodoh, sudah lupa ya beberapa minggu lalu kau dengan lantangnya ingin mengakhiri hubunganmu dengan Sehun? Kenapa sekarang kau ragu, Im Yoona?

Yoona meremas kaleng sojunya hingga remuk. Sialan, apa yang telah Oh Sehun lakukan padanya!?

Kenapa kini ia sangat takut untuk kehilangan Sehun? Kemana perasaan ingin bebasnya? Kemana perasaan yang kemarin begitu menggebu gebu dihatinya? Kemana semua pikiran tentang betapa jahatnya apa yang telah Sehun lakukan pada Yoona? Kemana semua luka itu ketika Yoona membutuhkannya sekarang?

Mungkinkah karena alam bawah sadarnya menolak untuk melihat Sehun dalam keaadaan yang sama saat Yoona meminta mumutuskan hubungan mereka? Mungkinkah karena hatinya sakit melihat Sehun terlarut dalam kesedihan yang nyata saat di atap kemarin? Mungkinkah karena Yoona benci dia harus kehilangan Sehun karena sasaeng fans itu memintanya? Benci karena harus ia dan Sehun yang sakit sedangkan mereka begitu bahagia diluar sana?

Setelah apa yang telah mereka lakukan pada ibu Yoona, apakah Yoona akan dengan begitu mudahnya membuat mereka tertawa bahagia?

Tidak. Yoona tidak akan mau. Demi jagad raya, ia tak mau memberi mereka kepuasan telah berhasil mengontrol hidup Yoona. Dia tidak rela. Dia tidak sudi.

Tapi, sekali lagi, sanggupkah ia melihat orang orang yang ia sayangi terluka karenanya?

Dengan kepala berat seolah ada beton diikat dikepalanya, Yoona melangkah kembali ke kamarnya. Berharap tidur dapat meringankan masalahnya. Namun ketika ia melewati kamar Jessica dan Tiffany ia mendengar suara tangisan. Yoona mengkerutkan kening? Ada apa? Kalau diingat ingat, terakhir ia melihat Jessica adalah saat ia berbicara dengan Sehun.

Yoona memutuskan untuk membuka pintu kamar itu, hanya untuk dikejutkan dengan Jessica yang terisak dibahu Seohyun.

“It’s hurt so much Seohyun-ah. Really hurt” ia bisa mendengar suara sayup Jessica dibahu Seohyun. Sedangkan maknaenya itu menepuk nepuk punggung Jessica lembut.

“Eonnie, tak apa. Sungguh, rasa sakitnya akan hilang dengan sendirinya. Lupakan dia, jangan pikirkan apapun tentangnya” Jessica hanya memeluk Seohyun, tidak menjawab perkataan yang lebih muda itu. Yoona tidak tahu penyebab Jessica menangis, tapi dia punya perasaan kuat kalau Sehun tadalah alasan utamanya. Dan melihat kakaknya, membernya, menangis seperti itu membuat rasa sakit yang sedari tadi menggerayangi hatinya semakin pedih.

Sehun, sudah berapa banyak air mata yang terbuang untuk kita?

“Seohyun-ah aku…aku…ak—“ Jessica tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia kembali pecah dengan isakan liar.

“Eonnie sudahlah. Sungguh. Aku tak tega melihatmu seperti ini. Ini bukan dirimu. Ini sungguh bukan dirimu. Berhentilah menangis dan kembali menjadi eonnieku yang cantik dan kua—“

“BUT IM NOT!” potong Jessica kini meninggikan suaranya, “AKU TIDAK CUKUP CANTIK UNTUK MENARIK PERHATIAN SEHUN. IM NOTHING IN HIS EYES. DON’T YOU UNDERSTAND!?”

Seohyun tak mengatakan apa apa. Ia terdiam dan membiarkan Jessica meluapkan semua perasaannya. Ia membiarkan Jessica menggenggam tangannya begitu kuat hingga ia sakit karenanya. Setelah isakan liar Jessica berubah menjadi sesenggukan kecil. Ia baru membelai rambutnya lembut, “Eonnie, terkadang mencintai tak harus memiliki. Who knows he isnt good for you? Kau membuang harga dirimu untuknya dan dia menolakmu. Semata mata karena ia tak ingin kau terluka karena fansnya. Niatnya mulia, tapi seorang lelaki sejati tak akan melakukan itu. Dia akan mengejar apa yang dia cintai. ” yang muda itu menghapus jejak air mata di pipi kakaknya dengan sayang,

“Ia membiarkan kau menciumnya, padahal ia sudah menolakmu. Kau sakit. Aku bisa memakluminya. Semua wanita akan sakit jika berada diposisimu. Dia membuatmu merasa dicintai barang sedetik dan kemudian menyakitimu di detik lainnya. Itu jahat. Sungguh, Sehun was not good enough for you. Kumohon eonnie, lupakanlah Sehun okay?”

Jessica terdiam. Dan Yoona merasakan air matanya semakin tak tertahankan. Perkataan Seohyun menamparnya. Rasanya ia tercekik. How about me, Seohyun-ah?

Ketika Jessica berbicara, suaranya penuh dengan rasa sakit yang sangat nyata, “Bukan. Bukan itu yang membuatku merasa sakit luar biasa seperti ini, Seohyun-ah. Sejak aku memutuskan untuk melepas perasaan ini, aku tahu aku akan sakit. But not like this” wanita itu memandang dengan kosong, “It was his confession that hurt me the most. He said that in fact he’s in love with Im Yoona”

Yoona mematung. Dibandingkan harus senang karena untuk pertama kalinya Sehun menceritakan tentang perasaannya kepada orang lain. Yoona merasa oksigen membeku menjadi Kristal yang tak lagi bisa ia hirup.

“Pengakuan kalau hatinya tak menginginkan wanita lain selain Yoona lah yang membuatku sakit, Seohyun-ah” air matanya kembali jatuh dihadapan wajah terkejut Seohyun, “Kenyataan kalau aku tak tahu harus bagaimana memandang Yoona setelah ini, membunuhku”

Seiring dengan tangis Jessica yang kembali pecah dibahu Seohyun, Yoona keluar dengan hati yang berdenyut. Ia menghela nafas pendek pendek, mencoba menahan semua rasa sakit yang menyerangnya secara bersamaan. Tangisan Yuri dan Jessica bergema dipikirannya. Membuatnya merosot kedinginnya lantai.

Sudah cukup! Ia tak tahan lagi dengan semua ini!

//

Sehun menghela nafasnya kasar saat lagi lagi wanita itu tidak mengangkat panggilannya. Dengan marah ia meninju setir mobil, mencoba meluapkan kekesalannya.

Seharian ini Im Yoona tidak mengangkat panggilannya. Tidak membalas pesannya. Membuatnya gila. Ia tidak ingin berpikir macam macam, tapi terakhir kali Yoona mengabaikannya seperti ini, mereka terlibat pertengkaran yang hebat. Dan Sehun sedang tidak mood untuk adu mulut dengannya.

Lelaki itu lelah. Baik fisik maupun mentalnya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah memeluk Yoona dengan erat. Merasakan helaian rambut halusnya di pipi Sehun. Merasakan aroma Yoona menenangkan benaknya yang seperti kaset kusut. Tapi lihatlah, bahkan hanya untuk mendengar suaranya pun Sehun tak bisa.

Sehun kembali menghela nafas panjang. Pukul 1 pagi dan ia masih betah berlama lama di Aston Martinnya. Tidak berniat untuk keluar dan naik ke dorm. Bergelung dalam selimut seperti membernya yang lain. Sehun sedang ingin sendirian—ingin Yoona sebenarnya.

Jadi lelaki 22 tahun itu membuka channel Youtube di smartphonenya. Ia bersender dengan nyaman di kursi kulit mahalnya dan memandangi Yoona di siaran MBC. Kekasih hatinya itu cantik seperti biasanya. Anggun dan pembawaannya luar biasa menenangkan. Tapi Sehun menyadari kalau Yoona berbeda. Ia tidak banyak bicara selama menjadi MC dan membiarkan Taeyeon dan Irene mengambil alih.

Sehun tersenyum sedih. Yoona sedang ada masalah. Dia sangat mengenal Yoona untuk tahu kalau senyumnya sangat tidak tulus. Itu bukan Yoonanya. Yoona nya akan tetap tersenyum meskipun ia kesakitan didalamnya. Hal yang membuat Sehun muak tapi juga membuat ia jatuh cinta begitu dalam padanya. Cukup dalam untuk sadar kalau lagi lagi ia membuat wanita itu bersedih.

Ayolah Oh Sehun, sampai kapan kau mau bersandiwara seperti ini? Berapa lama lagi kau sanggup bertahan melihat Yoona tersakiti karena hubungan ini?

Sehun tahu apa yang paling Yoona inginkan darinya. Yoona hanya ingin pengakuan. Yoona ingin membernya tahu tentang Sehun. Yoona ingin bisa berkencan tanpa perlu waspada ada anggota SMent yang melihat mereka. Yoona ingin bisa bersandar pada sahabatnya saat ia marah dengan Sehun. Sehun tahu itu semua. Bukankah ia pernah bilang ia mengenal Yoona lebih baik dari dirinya sendiri? Sungguh, sebenarnya Sehun juga sangat ingin melakukannya. Membiarkan yang lain tahu tentang mereka. Sehun juga lelah. Sehun juga sakit harus bersembunyi dan berpura pura wanita itu bukan siapa siapanya saat yang ia inginkan hanyalah memeluk Yoona dan menciumnya.

Tapi sekali lagi, alasan kenapa ia memulai semua itu menghantuinya. Sehun takut. Ia sudah kehilangan Nami dan kehangatan keluarganya. Ia tak akan mampu kehilangan lagi.

Lelaki itu tersenyum tipis melihat Yoona tertawa. Hanya tawa kecil. Tapi ia bahagia. Yoona tak pernah cocok dengan wajah masam tanpa senyum. Ia cantic sekali saat tersenyum atau tertawa.

Ah, perempuan ini. Aku tak akan pernah bosan jatuh cinta padanya, pikir Sehun seraya mengulang adegan Yoona tertawa berkali kali.

Sehun memikirkan pertemuannya beberapa jam yang lalu. Orangtuanya, kali ini sepertinya benar benar serius untuk menjodohkannya dengan anak kolega mereka. Hal yang sangat konyol—menurut Sehun dan Sejun. Sehun bisa saja marah dan meninggalkan kediaman keluarganya tadi, tapi ia urung melakukannya. Biar bagaimanapun ia mengerti kenapa keluarganya sampai menempuh jalan ini. Pada akhirnya ia menceritakan alasan kenapa ia tak bisa menerima perjodohan ini.

“Kalau wanita itu penting bagimu, maka bawa ia kehadapanku. Aku percaya terhadap pilihanmu, nak. Lalu kita mungkin bisa membicarakan tentang pernikahan. Tak apa jika kalian berdua masih belum menikah—engagement will do. Dan jangan lupa tentang perjanjian kita. Waktumu sebulan dari sekarang”

Ia mengingat perkataan ayahnya yang irit bicara sebelum masuk ke ruang kerjanya. Meninggalkannya dengan ibunya yang cantik dan kakaknya yang sibuk dengan laporan keuangan perusahaan mereka. Wanita itu menggenggam tangan Sehun dengan ekspresi bahagia, mengatakan kalau ia senang putra putranya sudah cukup dewasa untuk membawa seorang gadis kehadapan mereka.

Sehun memejamkan matanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat mengingat mungkin ia bisa menyenangkan hati Yoona dengan membawanya ke hadapan orangtuanya. Itu jauh lebih baik dibanding membuka hubungan mereka ke teman temannya. Toh, Yoona dan Sehun sama sama tertutup tentang keluarga mereka. No one dare to ask anyway. Dan lagi, Sehun ingin Yoona tahu kalau ia serius dengannya.

Mulutnya kemudian melepaskan tawa kecil seraya tangannya meraih paperbag Tiffany and Co. di jok mobilnya. Mungkin ia terlalu bahagia memikirkan opsi tentang sebuah keluarga dengan Yoona dan anak anak yang lucu hingga ia mampir ke toko perhiasan mewah itu. Didalamnya terdapat dua buah cincin putih yang bertahtakan berlian murni dan dikelilingi taburan batu ruby semerah darah. Cincin itu cantik. Sederhana namun elegan. Persis seperti Yoona-nya.

Ia ingin menyematkan ke jari Yoona. Selama ini Sehun tak pernah benar benar memikirkan tentang hubungan yang lebih serius. Dia masih ingin menikmati masa lajangnya dulu—dan ia yakin Yoona pun seperti itu. Lagipula, Sehun masih berusia 22 tahun. Terlalu muda untuk melepas masa lajangnya.

But just like his father said, engagement will do.

Mendadak ia mendapat ide. Lelaki itu akan melamar Yoona. Secepatnya setelah mereka bertemu. Dan Sehun akan membawa Yoona makan malam dengan orangtuanya. Kalau perlu Sehun akan mendatangi keluarga Im terlebih dahulu untuk meminta restu. Ia yakin seratus persen kalau ayahnya akan sangat menyukai Yoona mengingat wanita itu berlatar belakang keluarga yang cukup bagus.

Oh, terdengar menyenangkan sekali.

Lamunannya terpecah saat mendengar pesan masuk di social medianya. Dia mengambil ponselnya dan mendapati satu pesan dari Yoona

Aku ingin bertemu. Besok.

Sehun mengkerutkan kening dan mencoba menelpon Yoona kembali. Hanya untuk diabaikan oleh wanita itu. Dia mendengus. Duh, kenapa lagi sih wanita ini? Apa ia sedang bersama membernya?

Baiklah, dimana? Kapan? Besok aku tak ada jadwal.

Kenapa tidak mengangkat panggilanku? Kau baik baik saja? Yoona, aku merindukanmu.

 Sehun tak tahu kalau wanita itu duduk menahan napasnya membaca kalimat Sehun. Yoona memejamkan matanya. Mengingat pesan Young Bae tadi.

Dikantor. Ada yang ingin kubicarakan.

Dikantor? Apa besok Yoona ada urusan dengan agensinya? Sehun tak pernah suka berurusan dengan kantor agensinya. Kalaupun harus pergi dari sana, ia pasti akan datang dengan wajah cemberut. Dan dia tidak ingin melamar Yoona diatap kantornya.

Tak bisakah kita bertemu di tempat lain? Aku punya rentetan tempat bagus untuk kencan.

Ah, Sehun baru ingat. Kalau tak salah sebentar lagi masa berlaku kontraknya akan habis. Ia harus mengambilnya.

Tidak—dan ini bukan kencan. I don’t have time. Aku ada urusan ke kantor dan aku ingin bertemu.

Ada apa? Aku merindukanmu. Ada yang ingin kubicarakan juga. Tak bisakah kita berkencan saja?

Kali ini Yoona membalas cukup lama, Ini hanya sebentar, Oh Se Hoon. Jangan membantah. Aku lelah.

Yoona terdengar dingin. Membuat Sehun heran. Dia kembali mencoba menelpon Yoona dan harus kembali kecewa ketika wanita itu menolak untuk kesekian kalinya.

Baiklah. Hubungi aku saat kau disana, okay? Aku mencintaimu.

Apa yang ingin perempuan ini bicarakan? Ia terdengar serius sekali. Kemudian Sehun menepuk keningnya. Sial, itu pasti tentang Jessica.

Sehun berdecih kesal. Wanita itu pasti sudah berbicara dengan Yoona. Memang, tadi siang Sehun mengakui kalau dia mencintai Yoona—ia tidak mengatakan tentang hubungan mereka. Lagipula bukan tanpa alasan ia berbicara seperti itu. Jessica terlihat berantakan, hancur oleh penolakan Sehun dan mengatakan kalau ia tak akan melupakan Sehun. Itu membuat Sehun marah dan sedih disaat bersamaan. Marah karena setelah penolakannya, wanita itu tetap bersikukuh untuk tak melupakannya. Hell, ia tak mau ada wanita lain yang menunggunya saat hatinya tidak memiliki ruang lagi selain untuk Yoona. Dan sedih karena ia membiarkan dirinya menyakiti hati orang lain.

Sehun juga tak mengerti dengan dirinya saat itu. Mungkinkah karena ia terbawa suasana? Mungkinkah karena sebenarnya itulah yang Sehun inginkan? Mengungkap hubungan mereka dan berhenti bersandiwara? Saat itu Sehun seperti tidak menjadi dirinya sendiri.

Dan kali ini perasaannya berubah menjadi sekejap. Ia panik. Jessica bisa saja menceritakan semuanya dan membuat semua ketakutan Sehun selama ini terjawab. Pikiran pikiran buruk kembali meracuni otaknya, menggantikan perasaan bahagia yang tadi membutakan. Sehun berkali kali mengutuk dirinya. Bagaimana bisa ia jadi bodoh seperti ini!? And of all people why her!? Kenapa harus Jessica Jung!?

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Dan Yoona tetap tidak membalas pesan terakhirnya.

//

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Yuri Noona, Jongin?” gumam Luhan bingung.

Pagi itu cerah dan member EXO–minus Kyungsoo, Minseok, Joonmyun dan Lay–sedang menikmati sarapan pagi mereka. Seraya mengintrogasi dancing machine mereka tentu saja. Sedangkan yang ditanya asik mengunyah Fruit Loops nya. Tampak tidak peduli dengan membernya yang menatapnya penasaran dari tadi.

“Yaak! Kim Jongin, jawab pertanyaan hyungmu!” rengek Baekhyun. Dia bingung sekali mendengar rumor itu. Setaunya Yuri dan Jongin itu tidak dekat untuk beberapa kali datang ke Cafe bersama. Lagipula, hubungan Yuri dan Minho baru di publikasi belum lama ini. Masa Jongin sudah mau menjadi orang ketiga?

“Memangnya aku perlu memberitahu kalian kalau aku sedang dekat dengan Yuri Noona atau bahkan Taylor Swift?” ucapnya dan bangkit membawa mangkuknya ke cucian piring.

“Yak! Jangan jadi perusak hubungan orang! Kau punya keinginan mati muda, ya?” Chanyeol melempar bola plastik mainannya ke Jongin.

“Siapa juga yang minat jadi perusak hubungan orang?” sengit Jongin membanting mangkuknya kasar, “Berhenti mengatakan hal bodoh! Membuatku pusing saja!”

Baekhyun merengut sebal saat Jongin membentak. Duh, kenapa sih dia punya maknae—Sehun, Jongin dan Tao—yang kurang ajar pada hyungnya.

“Tapi jujur, aku kaget lho. Seleramu boleh juga” gumam Kris saat meletakan piring kotor ke tumpukan piring Jongin. Membuat ia mendapat tatapan membunuh dari pria yang lebih muda itu.

“Berisik! Kalian yang sudah selesai, pergi sana!” Chen melempar bebek bebeknya ke Jongin dan kabur sebelum lelaki itu tambah marah, “Kim Jong–”

“Kau marah marah seperti wanita tua, bung” Sehun tiba tiba datang dan menyela Jongin. Lelaki itu tampak kelelahan. Ia menyuruh member yang tertawa tawa dengan perkataannya tadi pergi sebelum ia ikutan ngamuk seperti Jongin. Ancaman yang cukup mengerikan, mengingat tabiat anak itu saat marah.

“Kau beruntung aku tidak menghajarmu, Oh” geram Jongin dan mulai mengumpulkan piring piring kotor. Sedangkan pria itu tampak tak acuh dan membuat fruit loops nya dengan santai.

Satu hal yang Jongin sukai dari Sehun adalah sifatnya yang tidak ingin ikut campir urusan orang. Acara mencuci piring Jongin ditemani oleh Sehun yang sedang sarapan jadi cukup menyenangkan.

“Semalam kau kemana?” tanyanya saat melihat kantung mata anak itu besar sekali. Yang paling muda itu tidak pulang semalaman, dan baru saja muncul di dorm dengan muka kusut saat Jongin baru selesai mandi.

“Ketiduran di mobil”

Jongin mencipratkan busa sabunnya ke wajah Sehun, “Idiot” dan kemudian mereka berdua tertawa.

Selalu seperti ini. Jongin dan Sehun. Bertengkar kemudian berbaikan. Saling mengejek namun juga saling menyayangi. Mereka dekat tanpa perlu menunjukannya.

“Omong omong” Sehun menandaskan susu yang tersisa di mangkuknya, “Ada alasan apa kau tiba tiba sering bertemu dengan Yuri Noona?”

Jongin sebal dengan semua orang pagi ini. Bahkan Sehun pun bertanya tanpa dosa. Seperti tidak sadar kalau alasannya berkaitan dengan hubungan asmara laki laki itu. Rasanya ia ingin menyiram Sehun dengan susu panas. Jongin merengut membayangkan kulit putih lelaki itu jadi kemerahan, ugh, pasti menyenangkan sekali melihatnya.

“Aku tahu kau tidak ada hubungan apapun dan bahkan tidak berminat menjadi perusak hubungan Yuri noona dan Minho hyung. Tidak perlu marah marah seperti itu,” Lelaki itu akhirnya membantu Jongin mencuci piring, “Aku hanya penasaran. That’s it. ”

Jongin melirik Sehun dan pria itu tampak tidak memaksa Jongin bercerita. Jadi ia menghela nafas panjang. Anak ini paham sekali dengan dirinya, “Ada hal yang sedang aku dan Yuri kerjakan. Kau tidak perlu tahu apa itu”

Oh yeah? Maksudnya menguntit hubungan Sehun dan Yoona?

“Kau sudah menelpon Yuri noona? Kudengar kemarin ia diserang setelah selesai latihan”

“Sudah” geram Jongin, ia sekali lagi membanting piringnya dengan kesal, “Maaf deh kalau aku marah marah seperti wanita tua. Hanya saja rasanya aku ingin merobek mulut mereka”

Sehun menepuk nepuk pundak Jongin. Mendadak ia jadi sendu. Tatapannya mengingatkan Jongin pada saat mereka berdua sama sama kehilangan wanita yang dicintainya. Mereka berdua kini terdiam. Mengingat masa lalu yang membuka luka.

“Bagaimana keaadaan Yuri? Aku kasihan dengannya, Jongin. Kau tahu bagaimana fans kita kan?”

Keadaan wanita itu tidak baik tentu saja. Meskipun Yuri berbohong dengan sangat payah—mengatakan kalau ia baik baik saja. Pada akhirnya ia menangis juga saat menceritakan ada surat jahat yang dikirim sasaeng fans untuknya.

“Dia tidak baik” desah Jongin frustasi, “Ia diteror sasaeng fans lewat sebuah surat jahat”

Sehun menatap temannya itu dan tiba tiba merangkul Jongin. Ia tidak mengatakan apapun tapi itu rasa cukup menenangkan Jongin yang sedang merasa bersalah. Memberitahu bahwa Sehun ada untuk Jongin bercerita, “Dia akan baik baik saja. Yuri noona itu kuat, aku percaya itu”

Ia percaya dengan Yuri karena Yoona mempercayai wanita itu.

“Iya dia sudah baikan tadi pagi. Katanya Yoona langsung membuang surat itu dan menghiburnya. Jadi ia merasa lebih tenang” bukan tanpa alasan Jongin menyebut nama Yoona. Ia hanya ingin mengamati reaksi adiknya itu. Dan well, hasilnya tidak terlalu memuaskan, tapi ia senang mencari tahu efek nama wanita itu pada sahabatnya.

Sekilas memang, tapi ia tahu bahwa eskpresi Sehun melembut mendengar nama itu. Bahkan ia tersenyum tipis sekarang. Membuat Jongin lagi lagi kesal—bukan karena ia jadi viral di situs netizen karena mencoba menyingkap kisah asmaranya. Ia lebih kesal karena ia sering kali dengan bodohnya berpikir kalau Oh Sehun sebegitu jahatnya sampai menyembunyikan kisah cintanya demi karier.

Jongin rasa, itu agak tidak masuk akal. Makanya dia sering bertemu Yuri untuk memikirkan kemungkinan kemungkinan lainnya. Yang pada akhirnya berujumg pada rumor tak jelas itu.

Wanita penggoda.

Pria perusak hubungan orang.

Playgirl.

Duh, Jongin rasanya ingin menjedukan kepala mereka semua ke tembok! Ia marah karena komentar netizen itu malah mengingatkannya pada saat ia harus melepas Hana.

Menimbulkan pertanyaan yang sama saat ia mulai memikirkan wanita itu : Seberapa banyak yang harus ia korbankan untuk ini?

“Ngomong ngomong hun” ia sedang tidak ingin berlarut larut dengan kegalauannya, “Aku melihat Jessica noona seperti habis menangis kemarin. Kau membuatnya menangis ya?”

Sehun mendengus, “Dia menyatakan perasaannya padaku”

“Dia–Apa!?”

“Aku harus memukulnya mundur bahkan jika itu harus membuatnya menangis, Jongin. Tidak tega sebenarnya. Tapi yasudahlah, biar dia sadar”

“Dia menyatakan perasaannya padamu!?”

“Kenapa kau jadi cerewet sekali sih?” gumam Sehun kesal.

Jongin menutup mulutnya. Menemukan celah diantara pengakuan Sehun, “Kenapa kau harus memukulnya mundur? Dia cukup cantik, menurutku”

Sehun menghentikan gerakan mencuci piringnya dan menatap Jongin ragu. Dia sebenarnya ingin bercerita pada Jongin tapi ia tak bisa. Ia tetap ketakutan. Bahkan sebenarnya ia ketakutan sejak ia melangkah masuk ke dorm EXO.

“Ada seorang wanita yang kusuka” jawabnya akhirnya. Ia belum siap untuk menceritakan masalahnya. Ke Jongin sekalipun.

“Siapa?”

“Kalau aku memberitahumu, kau mau memberitahuku alasan sebenarnya kau sering menemui Kwon Yuri?” sebenarnya Sehun tidak serius dengan ucapannya. Ia hanya merasa ada yang aneh dengan Yuri dan Jongin.

Jongin memikirkannya sejenak. Bagus juga. Ia kepingin tahu seberapa jauh Sehun mau membuka hubungannya. Walaupun kalau Jongin memberitahu alasan sebenarnya ia bisa dapat hadiah amukan Sehun tapi tawarannya cukup menggoda.

“Oke”

Sehun kaget dengan jawaban Jongin, “Apa? Tidak tentu saja!” Jongin tertawa tanpa humor. Ia kesal dengan Sehun. Maunya apa? Merepotkan orang saja.

Apa sih yang ada di pikiran anak ini!?

Jongin jadi kesal sendiri memikirkannya. Ugh, mendadak ia ingin terbang ke langit ketujuh. Dan melupakan semua hal tentang Sehun, Yoona dan bahkan Kwon Yuri.

“Hey baekgu, mau menemaniku minum tidak?” Jongin akhirnya bertanya setelah keheningan yang cukup panjang.

“Tidak” Sehun menjawab cepat, “Aku ada janji denganku”

“Kapan?Jam berapa?” Jongin berbalik dan menatap Sehun dengan puppy eyesnya yang ia yakin akan gagal,”Ayolah maknae. Temani aku sebentar sajaaaa”

“Aku tidak tahu” kemudian Sehun tertawa, “Dan tolong hentikan wajah menjijikanmu itu. Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu”

Sungguh rasanya ia ingin sekali menjotos pria bermarga Oh ini, “Kok bisa buat janji tapi tidak tahu jam berapa? Dasar aneh”

“Bisa saja. Karena aku mendedikasikan waktuku seharian untuk janji ini” dia menoleh menatap Jongin with his famous kity smile.

Dan Jongin baru saja tahu kalau Sehun akan menemui Yoona hari ini.

//

“Kris!”

Lelaki itu mendesah dan melepas maskernya saat Jae Woon hyung—salah satu manager EXO menatapnya sebal dari ujung kasur. Ugh, apa lagi ini? Ini masih pagi dan ia sedang tak ingin berurusan dengan manager yang tak pernah akur dengannya ini.

“Kenapa?”

Jae Woon duduk dikasurnya dan bertopang dagu, menatap Kris tajam, “Kau tidak punya pacar rahasia kan?”

Kris terlalu kaget untuk tertawa dengan pertanyaan managernya itu. Pacar rahasia? Duh, peluang Kris mendapatkan hati wanita yang ia cintai saja kecil sekali, ini malah ngomongin pacar.

“Tentu saja tidak. Memangnya aku bisa pacaran tanpa memberitahu kalian?” ucapnya ketus. Ia sedikit kesal mengingat agensi dan managernyanya suka sekali mengatur atur wanita yang dekat dengan mereka. Ia saja bahkan tak bisa terlihat terlalu dekat dengan Jessica yang notabenenya adalah sahabat masa kecilnya!

“Kau serius?”

“Yaampun hyung. Aku ini orang sibuk, tahu? Terlalu sibuk untuk mengurusi hal semacam pacar rahasia” jawabnya setengah narsis, setengah berbohong. Well, ia rasa ia rela menjadi pria paling tidak sibuk didunia jika Im Yoona lah yang jadi ‘pacar rahasianya’.

“Baguslah kalau begitu”

Kris mulai merasa aneh dengan pertanyaan Jae Woon. Ada angin apa tiba tiba kepala manager EXO itu bertanya pertanyaan semacam itu?

“Kenapa kau bertanya yang yang aneh aneh, hyung?” tanyanya curiga.

Jae Woon bangkit dan menepuk pundak Kris, “Tidak usah banyak tanya” ia kemudian melirik pantulan dirinya sendiri di cermin dan membetulkan penampilannya, “Nanti sore kau ikut aku ke kantor. Ada yang ingin Ketua Shin bicarakan. Batalkan semua janjimu sampai sore nanti okay?”  dan ia melangkah pergi dari kamar Kris dan Minseok.

Kenapa ketua Shin ingin berbicara dengannya? Ia tahu betul siapa itu ketua Shin. Ia adalah orang yang mengurus ‘citra’ mereka di muka publik. Ia yang mengatur semua pemberitaan tentang mereka. Baik itu baik—pujian atau bahkan berita buruk—rumor tidak jelas. Dia juga yang memberikan mereka ‘hukuman’ jika mereka mulai merusah citra mereka di hadapan fans.

Kris tidak suka dengan ketua Shin. Rata rata trainee asing agensi juga tidak menyukai Ketua Shin karena lelaki itu selalu tampak jahat dan ingin membuat semuanya menjadi sulit bagi mereka. Apalagi Jae Woon sering mengancam akan memberitahu ketua Shin kalau Kris sudah bertingkah yang aneh aneh.

Ia mengingat sejenak semua kelakuannya akhir akhir ini. Sepertinya ia tidak membuat masalah apapun. Mereka sedang sibuk mempersiapkan comeback mereka jadi Kris belum benar benar muncul di publik. Kris juga berlatih dengan baik bersama membernya. Ia juga sudah menyelesaikan syuting dramanya dan tampaknya sutrada tampak puas dengan kerja Kris.

Lalu apa?

Dan kini Kris mulai gelisah dengan apa yang menantinya nanti.

//

Sehun bersenandung pelan. Ia akan menyematkan cincin cantik itu ke jari Yoona. Sebenarnya ia tak ingin mengatakan kalau ia akan menikahi gadis itu diatap kantor dan dengan langit yang terus bergemuruh. Sehun juga tak tahu mengapa. Dia hanya punya perasaan kuat kalau ia harus melakukannya sekarang. Now or never. Entahlah, pikirannya sedang tidak focus. Sehun tidak tidur semalaman dan itu sangat tidak membantu menghadapi masalahnya saat ini.

Wanita itu sudah menghubunginya. Mengatakan kalau ia sedang dalam perjalanan menuju kesini. Membuat perasaan Sehun menjadi menggebu gebu. Duh, dibalik rasa khawatirnya. Ia tetap senang memikirkan kemungkinan jawaban Yoona terhadapnya.

“Yoong, aku ingin hubungan yang serius” Sehun berbisik pelan. Dan mengeluarkan kotak satin biru itu dari saku jaketnya. Ia tersenyum manis, “Orangtuaku pun ingin mengenalmu. Jadi, maukah kau makan malam bersama mereka?”

Sehun menggeleng geleng. Konyol. Kalimatnya sangat payah. Yoona pasti akan tertawa habis habisan mendengarnya. Mendadak ia merasa tolol. Kalau Yoona nanti menolaknya bagaimana? Sial, ia tak memikirkan sejauh itu!

Tapi kemudian Sehun memandangi cincin itu dan dia seolah mendapat kekuatan. Ketika ia berbicara suaranya dalam dan sarat makna. Kali ini, Sehun tidak berlatih. Ia hanya mengucapkan apa yang selama ini ada didalam hatinya,

“Yoona-ssi, aku tahu lelaki yang saat ini berdiri dihadapanmu ini 4 tahun lebih muda darimu. Aku tahu kalau aku telah banyak menyakitimu. Aku tahu kau telah banyak menangis untukku. Aku jahat dan aku tahu itu dengan pasti. Aku bodoh. Aku egois. Kau boleh memakiku, meneriakiku, tapi setelah semua itu, maukah kah menjadi pelengkap hidupku? Aku menjanjikanmu kehidupan yang lebih baik dari ini. Aku janji akan mencintaimu sepenuh hatiku. Aku akan kuat untuk melindungimu. Im gonna be your wings. Im not gonna be your little man again”

Dia berlutut ditengah gemuruh langit, membayangkan gadisnya disana saat ia melamarnya dengan gestur yang diinginkan oleh semua wanita didunia, “Jadi, maukah kau menemani pria jahat, bodoh dan egois ini sampai akhir hidupnya?”

Kalimatnya sederhana. Tapi demi jagad raya, itu semua tulus dari hatinya. Mengalir begitu saja. Sehun bangkit dan tersenyum senang. Sounds better, pikirnya. Dia menatap langit dan memohon agar tidak hujan sekarang. Sehun sudah berpakaian bagus dan dengan cincin cantik yang ada disakunya, dia tidak mengharapkan langit turun hujan sekarang.

Kemudian perhatiannya dialihkan oleh suara pintu yang terbuka. Sehun berbalik dan tersenyum lebar, menyambut wanita yang tampaknya tidak ingin membalas senyumnya, “Yoona!” Sehun dipenuhi oleh perasaan perasaan baru yang membuatnya berlari memeluk wanita itu, “Aku sungguh merindukanmu”

Sehun tak tahu kalau Yoona mati matian menahan diri untuk tidak balas memeluk Sehun. Keputusannya sudah bulat dan hal terakhir yang diinginkannya adalah Sehun mengacaukan semua kalimat yang susah payah ia pikirkan.

Lelaki itu melepas pelukannya. Heran karena Yoona tak jua membalas pelukannya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Yoona, memperhatikan wajah cantik itu tak menampilkan sedikitpun senyum, “Ada apa?”

Yoona menatap Sehun sejenak dan kemudian membuang pandangannya kearah lain. Ia tak sanggup. Sangat tak sanggup menatap iris cognac itu menatapnya innocent. Sekali lagi Yoona ragu dan seluruh rencananya gagal total saat Sehun menciumnya dengan lembut.

“Kenapa? Kenapa tak mau menatapku?” bisik Sehun pelan. Saat Yoona membuang pandangannya, Sehun tahu kalau ada sesuatu yang salah. Im Yoona-nya tampak tidak sama. Ia terasa kaku dan bahkan Yoona tak membalas pelukan atau ciumannya.

Sekali lagi wanita itu tak mau menatapnya. Sehun tertawa kecil dan menangkup wajah Yoona, membuat wanita itu terpaksa menatapnya, “Kau menggigit bibirmu saat menyembunyikan sesuatu, kau tahu? Katakanlah, kali ini aku salah apalagi?”

Yoona benci kesedihan itu merayap di iris Sehun. Dia benci raut bahagia lelaki itu saat melihat kedatangannya digantikan senyum getir. Dia benci dirinya yang tidak bisa menyuarakan keputusannya.

“Yoona, apa salahku? Katakanlah sayang”

Ibuku dalam bahaya! Yuri-ku menangis dengan menyedihkan! Dan itu semua dilakukan oleh fans gilamu! Dan seolah itu belum cukup, kau menyakiti hati Jessica eonnie. Kau menghancurkan hubunganku dengannya dan kau masih bertanya apa salahmu!?

Seharusnya Yoona meneriaki Sehun. Mendorong lelaki itu menjauh dan bukannya tenggelam dalam keindahan iris matanya.

Seseorang tolong bangunkan ia! Yoona ingin lepas dari kungkungan Sehun. Ia ingin menyelesaikan ini semua dengan cepat. Ia tak bisa bersuara jika Sehun terus menatapnya seperti itu. Seolah semua memori mereka menghantamnya sekaligus.

Kencan pertama mereka. Malam pertama mereka.

Ciumannya. Pelukannya. Aromanya.

Panggilan di pagi hari. Suaranya. Kekuatannya.

Semua perasaan dan debaran itu tumpah dalam satu ingatan yang menyakiti Yoona.

Demituhan apakah ia sanggup melepas pria ini? Pria yang sudah menjadi kekasih, sahabat, adik, kakak, bahkan guru baginya? Sanggupkah Yoona mengesampingkan semua memori selama nyaris 2 tahun ini? Lelaki yang menjadi orang nomer satu dihatinya bahkan nyaris melampaui ayahnya sendiri?

“…..meningkatkan resiko ibu anda menjadi lebih tinggi dari seharusnya”

“Tapi noona, sometimes holding on does more damage than letting go”

Tapi kemudian ia mengingat perkataan dokter dan Yoojun, kondisi kesehatan ibunya, tangisan Yuri dibahunya, teriakan Jessica hingga malam saat sasaeng fans itu mencegatnya.

Semuanya berputar dengan cepat dikepalanya hingga sakit. Semua kenangan indah. Semua hal menyakitkan. Semuanya. Desahan. Ciuman. Cinta

Membuat Yoona muak.

“Bukankah bahagia sesederhana mengetahui kau mencintai orang yang mencintaimu?” Kalimat itu lepas dari bibirnya dengan dingin.

Tidak. Yoona tidak akan merubah keputusannya.

Sehun mengerutkan kening. Setelah mata wanita itu dipenuhi oleh beragam emosi, kini pandangannya mengeras. Membuat Sehun bingung dan waspada, “Noona? Kenapa kau membica–”

Yoona mendesah, “Bodoh” kemudian ia menyentak tamgan Sehun dipinggangnya, “Kenapa aku bisa begitu bodohnya mempercayai kalimat naif seperti itu?”

“Noona ak–”

“Apa salahmu? Kau masih berani bertanya padaku apa salahmu? Seolah kau tak sadar kau menyakitiku sedemikian rupa!”

Sehun kaget. Emosi wanita itu mengagetkannya. Otak Sehun bekerja dengan lambat–dan dia menyalahkan his lack of sleep. Butuh beberapa detik yang panjang bagi Sehun untuk mengerti perkataan Yoona.

Ah, masalah ini lagi.

Sehun memejamkan matanya. Dia tidak boleh tersulut emosi. Dia harus tenang. Untuk Yoona.

“Aku sadar dengan pasti tentang itu, Yoona”

“Whoa” dia mendesah kaget, kemudian kemarahan mulai menyulutnya seperti api pada korek, “Kau sadar dan kau masih melakukannya. What kind of man that you are? If you’re man at all” dia marah. Ia ingin meneriaki Sehun sampai rasa sakit itu hilang.

Dihadapannya Sehun tidak tahu harus berbicara apa. Sebenarnya, Sehun mulai lelah dengan pertengkaran seperti ini. Dia mulai lelah menghadapi sisi Yoona yang seperti ini. Ia ingin Yoona-nya yang dulu. Yang manis dan tidak sensitiv seperti ini, “Noona, seriously? Kita sudah terlalu sering membicarakan ini”

“Dan kau masih melakukannya. Berulang kali” sanggah Yoona datar.

Kali ini Sehun tersenyum kecil, “Not this time” ia mengusap pipi wanita itu lembut, “Orangtuaku ingin bertemu den–”

Yoona tahu apa yang Sehun katakan akan menggoyahkan keputusannya. Jadi dia memotongnya dengan sigap. Berharap rasa senang itu mati oleh luka yang didapatnya, “Tidak, Sehun-ssi”

Lelaki itu terkejut saat Yoona memanggilnya seperti itu. Tidak seperti biasanya, “Noon–”

“Lets break up”

Hanya sebuah kalimat singkat, tapi berhasil mengirimkan jutaan rasa sakit pada Sehun. Ia menatap Yoona dengan pandangan yang tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Wanita itu menatapnya datar, wajahnya tanpa senyum dan tidak ada air mata dimatanya.

Tidak bisa. Sehun tidak bisa kehilangan Yoona. He loved her so damn much.

“Tidak” bahkan ketika Sehun berbicara, ia tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya. Sudah dua kali Yoona meminta seperti ini dan masih tetap membuatnya sesak.

“Aku tidak meminta pendapatmu, Sehun. I dont care. From now on, we’re nothing” dan Yoona berbalik. Tidak sanggup melihat dirinya sendiri menghancurkan cahaya di mata itu. Yoona mungkin tidak menangis. Tapi hatinya sakit sekali.

Bagaimana bisa Oh Sehun sanggup melihatnya terluka?

Sebuah pelukan hangat menghentikan langkahnya. Pria tinggi itu gemetar di badannya, dia menenggelamkan wajahnya di helai rambut Yoona, “Kau bercanda. Aku tidak suka dengan leluconmu. Tidak lucu, sungguh”

“Kau tahu kalau aku serius dengan ucapanku” , kalau bisa, Yoona ingin sekali berteriak pada Sehun untuk tidak bergetar ketakutan seperti itu. Itu mengganggunya. Sungguh, melihat Sehun menahan emosinya seperti itu menyakitinya.

“KENAPA!?” dengan marah Sehun memutar balik tubuh Yoona. Mendapati Yoona menatap sama marahnya dengannya. Sudah cukup basa basinya, ia tak akan menang melawan pria keras kepala ini.

Aku lelah, Sehun! Kenapa kau begitu egois!? Aku lelah terus bersembunyi. Aku lelah. Kenapa kita tidak bisa seperti yang lain!? Kenapa!? Persetan dengan perusahaan, kau juga tidak mencoba untuk menghiburku!”

“Aku mencintaimu! I really do! Tidakkah itu cukup untukmu?”

Dan Yoona sudah berada di puncak terlemahnya saat Sehun mengatakan itu. Dia memejamkan matanya, dan semua emosi yang sedari tadi ditahannya pecah.

“Yoona, bukankah aku sudah bil–”

“BULLSHIT!” Yoona terengah engah. Dia sakit. Dia lelah. Yoona ingin berhenti. Dia benci menjadi pihak yang terus disakiti, “Cinta katamu? Omong kosong”

“ITU HANYA TIPUANNYA! SUATU SAAT OPPA AKAN SADAR BAHWA CINTA NYA HANYA ILUSI! KAU ITU CANTIK DAN TIDAK ADA YANG BISA LEPAS DARIMU! OPPA HANYA PERLU BELAJAR UNTUK MELEPASMU BODOH!”

“Tak sadarkah kau kalau cintamu itu menyakitiku? Tak sadarkah kau kalau aku benci berpura pura tidak ada apapun diantara kita saat hal yang paling kuinginkan adalah memelukmu? Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaanku harus diam memendam masalah kita sendirian?”

Semuanya. Panggilan diam diam mereka. Momen tersembunyi dibalik tirai yang membuat Yoona lelah. Yoona mencoba untuk memikirkan itu saja dan tidak peduli kalau ia baru saja menyakiti Sehun. Menghancurkan cahaya dimatanya.

“Selama ini aku diam melihat kau menghancurkan hatiku perlahan. Dont you know everytime i see you, i die a little more? Lucu, bagaimana aku tergila gila oleh konsep romansa yang kau tawarkan. Lucu bagaimana aku melihatmu tumbuh menjadi lelaki yang sanggup menyakitiku and do nothing about it. Hubungan ini konyol, Sehun. You’re younger than me. We should never started this on the very beginning”

“If this is love, I do not want it. Take it from me, please. Ini batasku. Aku lelah terus menangis. Aku lelah. Hubungan ini memuakan. Cintamu membuatku marah” Yoona kemudian meninggikan suaranya, sarat dengan kemarahan dan kesakitan, “Aku membencimu, Sehun! Aku membencimu dan segala omong kosongmu!”

Lucu, bagaimana Sehun melihat hatinya sendiri hancur mendengar kalimat Yoona. Wanita itu tidak lagi berteriak. Dia juga tidak menangis tersedu sedu. Tapi setiap kalimatnya penuh kekecewaan. Kecewa terhadap Sehun.

Tatapan Yoona padanya membuat Sehun gila. Begitu menusuk. Membuat perasaannya tak tergambarkan. Ia seperti kehilangan arah. Ia hilang karena ia sadar kali ini, dia tidak bisa menghancurkan kerasnya tatapan itu. Ia tidak bosa mencium dan bercinta dengan Yoona demi mengacaukan pikiran di kepala kecilnya.

Tapi seperti yang sudah dibilang. Sehun lost his sense.

“Kalau begitu biarkan mereka tahu. Beritahu managermu. Beritahu membermu. Tell them about us! Apa aku juga perlu mengirim foto foto kita ke Dispatch? So that i wont lose you?” suaranya merendah di alhir kalimat. Menunjukan keinginan terbesar terhadap wanita dihadapannya.

Untuk sesaat Yoona seolah tergiur dengan tawaran Sehun. Dan lelaki itu menyadarinya, ia tersenyum sangat tipis saat tahu tawarannya berhasil. Sehun tidak akan peduli dengan apapun, “Aku akan menelpon Dis–”

Dan kemudian sesuatu menghantamnya. Yoona mendorong tubuh Sehun menjauh. Tidak. Mereka tidak boleh tahu tentang ini! Ibunya juga Jessica dan entah siapa lagi membernya. Mereka akan tersakiti dengan ini!

“Lets break up”

Lagi lagi Yoona mengucapkannya. Seperti itu adalah pertahanan terakhirnya. Dia tidak boleh goyah. Banyak orang akan tersakiti jika Yoona terus terusan bertingkah seperti orang bodoh.

Yoona harus tegar seperti batu karang.

Dihadapannya, Oh Sehun harus kembali menahan kesakitannya mendengar kalimat itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia harus bisa berpikir tenang. Amarah hanya akan memperburuk keadaan.

“Yoona, aku tidak melakukan ini tanpa alasan. Apa aku perlu membeberkannya padamu ken–”

Wanita itu menggeleng kuat. Tidak boleh. Sehun tidak boleh menggoyahkan pertahanannya. Dia tidak boleh membiarkan Sehun menang.

“Apa lagi yang harus kul–”

“Sehun, aku kehilangan Jessica eonnie karenamu! Dia tidak mengatakan apapun, tapi aku tahu sesuatu berubah” suaranya meninggi mengingat bagaimana Jessica memghindari tatapannya tadi pagi. Membuatnya sakit, “Aku tak mau ada perpecahan di Soshi hanya karena lelaki yang bahkan tidak mempedulikan perasaanku”

Sehun memejamkan matanya. Kepalanya pusing. Udara semakin dingin. Ia yakin badai akan datang, “Tentang Jessica, aku tidak tahu apa yang terj–”

“Aku melihatmu dengannya kemarin” Yoona tersenyum getir dan menengadah menatap langit yang mulai dihiasi dengan rintik hujan.

“Sudah cukup memyakitkan bagiku mengetahui ada wanita lain yang menangisimu, mengharapkan cintamu. Anehnya, aku merasa hampa melihat kalian” dia kemudian menatap Sehun dengan marah, “Kau membiarkannya menciummu ditempat terbuka seperti itu saat aku bahkan tidak bisa menggenggam tanganmu”

“Aku bisa jela–”

Yoona tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak mengecup Sehun. Ia membelai wajah itu perlahan. Biarlah. Untuk terakhir kalinya, biarlah Yoona menatap mata yang terpejam itu, “Hentikan, Sehun-ie. Aku tidak akan merubah keputusanku” bisiknya.

Kali ini, Yoona membiarkan Sehun menciumnya. Ciuman yang biasanya menggetarkannya itu terasa dingin dan hampa. Hatinya kesakitan. Dia tidak ingin melepas pria ini, demi apapun! Memikirkan hari hari beratnya tanpa Sehun meninggalkan luka di hatinya.

“Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Aku tak bisa kehilanganmu. Sungguh, aku tak bisa kehilanganmu” bisik Sehun sendu. Nafasnya menggelitik hidung Yoona. Membuatnya ingin menangis.

Yoona membelai rambut Sehun yang jatuh diatas dahinya. Berlama lama merasakan lembutnya kulit itu, “Cinta tak hanya tentang perasaan menggebu gebu dihatimu. Karena cinta tak seharusnya semenyakitkan ini, Sehun” dan Yoona memeluk Sehun erat. Seerat ia mencoba menahan air matanya. Dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh membiarkan Sehun tahu kalau ia sendiri tidak yakin dengan keputusannya.

“Aku mencintaimu, Yoona. Demi tuhan, aku mencintaimu”

Yoona tidak membalasnya. Hanya membiarkan Sehun memeluknya semakon erat. Ketika ia rasakan tubuh lelaki itu bergetar menahan air mata, Yoona tahu itu tandanya untuk pergi.

“Maafkan aku, Sehunie. Sungguh, maafkan aku”

Dan Sehun tahu kalau kali ini dia kalah. Dia benar benar akan kehilangan Yoona. Wanita itu tersenyum muram padanya dan berbalik. Meninggalkan Sehun dengan luka menganga dihatinya.

Hujan rintik rintik mulai membasahi Seoul. Dua hati yang terluka itu saling menggenggam. Enggan melepaskan tautan diantara mereka. Tak ingin menjalani kejamnya takdir ini.

“Is this what you really want, Yoon Ah?”

Seandainya saja Yoona membalikan badannya, Sehun akan bisa melihat air mata yang sedari tadi ditahannya, jatuh menuruni pipinya.

Apa ini yang aku inginkan?

Yoona melepas genggaman Sehun ditangannya. Kemudian memeluk dirinya sendiri, berusaha keras menahan isakan itu. Dia tidak bisa menangis. Ia tak boleh.

“Ya. Ini yang aku inginkan”

Dan Yoona melangkah diiringi rintik hujan yang seolah ikut menangisi kepergiannya.

///

Halo, it’s me again! Here’s another long and boring chapter, and sorry for the last scene. I know some of you guys wont like it but really, adegan terakhir udah aku rencanain bahkan sebelum chapter 1 nya di publish. So sorry about that🙂

Aku minta maaf juga kalau hidden scene makin kesini makin bosenin😦 Im trying my best but seems like it’s not good enough. But dont worry, i wont give up on this story. Dan really, kalau chapter ini bahasanya beda beda aku minta maaf juga karena well aku curi curi waktu nulis diantara kesibukan sebagai anak kelas 12 dan jam kosong di kelas.

Last, aku gak tau apa ada yang masih nungguin cerita ini, tapi seperti yang aku bilang di post sebelumnya, aku akan selesaikan ff ini. Mark my words.

See you on other post. Drop your comment below, okay?

p.s : follow me  pau-jia on wattpad please? xoxo

With love,

aressa

 

 

77 thoughts on “Hidden Scene [15]

  1. konfliknya duhh.. Sehun mau dijodohi, yoona dipanggil ke kantor, kris juga dipanggil, terus sica menjauh dari Yoona. Yuri kena masalah ama kai. Ibu yoona juga kena sasaran sasaeng fans..itu lg yoona knp saat sehun mau ngajak serius malah mau putus.. duhhh pusingg..

  2. knpa putus??
    wlaupun bnyak yg terluka krna hubungan mReka,tetep ga rela mrek putuss..
    pliss blikan lgi..jngan smpe perjuangan mreka mertahanin hub mreka sblum2nya sia2,,

  3. Sedih. Mereka samasama punya cinta yang besar satu sama lain, tapi entah kenapa kayanya susah banget buat mereka bisa nikmatin hubungan mereka. Apalagi yoona yang udah nyerah gitu. Entah gimana mereka bisa bersatu lagi, pasti susah. Apalagi mereka udah putus ( walaupun keputusan sepihak). Well author makasih udah berusaha buat tetep lanjutin cerita ini hehe, ditunggu chapter selanjutnya^^

  4. Cincin airmata itumah namanya thor 😭
    saoloh, lama aku nungguin ini fanfic thor 😂
    dan pada akhirnya Yoona ngeluarin unek unek nya dia, kenapa harus jadi begini sihhh?
    berharap Sehun periksa setiap CCTV yang Yoona disiksa.
    berharap happy ending thor, gk tega seriusan sama Yoona, dia udah cukup menderita, sekali kali buat Yoona ngerasain kebahagian kali thor 😳
    btw cepet lanjut thor, penasarannnnn 😅
    semangat belajarnya ya thor 💪

  5. Gilak baper parah thorr.. :((
    Apalagi sambil denger lagu “secret love song” pas bgtt dah :(( update secepatnya thorr pleasee 😭❤ suka bgt sm FF ny, trs buat SEHUN Ga Nyerah sama YOONA.. HARUS BALIKAN POKOKNY 😢😭💜

  6. Demi tuhan… aku kesel sm sasaemg itu… jessica… dan yoona
    Kenapa Yoona begitu baik sih?!
    Gerem.. greget… gigit bantal
    Tidak bisakah mereka hidup bahagia,tenang…
    Kl ini sad ending i’m dissapointed. You know thor?
    Aku gk tahan kl ini sad ending…
    Pasti aku kesel setengah mati
    Kecewa….
    Aku benci Yoona yg terlalu baik
    Terkadang kita harus menjadi egois… bukankah jessica jg begitu?
    Bahkah yuri sm kai tau walaupun gk dikasih tau. Yoona sm sehun pny hubungan….
    Thor jangan lama-lama aku buka blog ini nunggu ff hidden scene terus… yg updateny butuh kesabaran…
    Yah.. aku ngerti kok…
    Intiny.. kl sad ending aku kecewa…ㅠㅠ

  7. Bagian akhirnya huhuhu…kenapa harus berakhir. Plis thor bikin mereka happy end ya. Udah gak peduli lagi ama Kris atau ama Jessica. Kasihan Yoona kalo harus mendem perasaannya dan kenyataan soal saseng fans kampret itu. Plis thor, dilanjut ya…ditunggu loh thor!!!

  8. Akhirrnya ff ybg ditunggu tunggi dipost jugaa😍😍😍
    Makin penasaran dama hubungan yoonse please semaga diakhirnya happy ending😌😚😚😚

  9. udah lamaaa banget nunggu part ini muncullll😢😢😢 kurang panjang thor ah greget sendiri jadinya😦 seru bangetttt jd makin penasarannn

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s