[Freelance]Revenge (Chapter 4)

REVENGE

REVENGE 4

 

Author                        : Chobi
Tittle               :
Revenge
Cast                 :
Im Yoon Ah, Oh Sehun, Kris, Park Jiyeon

Support cast  : Kai, Chanyeol (Temukan yang lainnya)

Genre              : Romance, Action
Rating                         : PG
21
Length            : Chapter

Disclaimer       : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini hanya khayalan semata, GAK NYATA. Banyak terinspirasi dari Kdrama maupun Kmovie. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran.

 

Mungkin banyak yang udah lupa, buat lebih ngerti lagi mending baca part sebelumnya ya hehe.. Happy Reading…

Part 3

 

Dua Jam Sebelum Penambakan…

 

Markas Tim Kris

07.00

 

Kai dan Chanyeol sedang berada di balkon menatap hutan belantara yang ada di hadapan mereka.

 

“Kau lelah?” Tanya Chanyeol tiba-tiba.

 

Kai menoleh sekilas ke arah Chanyeol dan tak memberikan jawaban apapun.

 

“Aku lelah, bahkan sangat lelah,” lanjut Chanyeol.

 

Kai menghela nafasnya dan berbalik badan. Ia melipat kedua tangannya di depan perutnya tanpa menoleh ke arah Chanyeol. “Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Kai.

 

Chanyeol mundur beberapa langkah kebelakang, dan mendaratkan pantatnya pada sebuah kursi. Ketika ia hendak berbicara, seseorang datang menghapiri Kai dengan nafas yang terengah-engah.

 

“Mereka mati,” ucap pria tinggi pada Kai.

 

Kai mengerutkan keningnya.

 

“Dua orang yang kau suruh mengikuti Luhan, terbunuh di kamar mandi bandara dua hari lalu,” lanjut anak buah Kai.

 

Mendengar itu, Kai menghela nafasnya dan menutup kedua matanya cukup lama. Ia tahu pasti Luhan pelakunya. Mungkin kini dirinya  menyesali tidak menembak Luhan beberapa hari lalu dan kini Luhan sudah bersama para sesepuh di Brazil.

 

Chanyeol memberi kode pada seseorang itu untuk pergi.

 

 “Kita akhiri semunya!” Ucap Chanyeol.

 

“Mwo?” Tanya Kai.

 

Chanyeol menghela nafasnya. “Kita habisi mereka, setidaknya aku ingin merasakan hidup normal di sisa hidupku!” Chanyeol bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Kai.

 

Chanyeol menuju ruangan yang sudah menjadi kamarnya, ia mengambil ponselnya di dalam laci dan menghidupkannya.

 

Sesaat kemudian ia sudah menghubungi seseorang.

 

“Sunbae..”

 

 

Markas Tim AIK

 

Di waktu yang hampir bersamaan, Sehun sedang berdiri di balik pintu ruang kesehatan dimana Yoona tengah terkapar lemah dengan selang infus yang menempel di tangannya.

 

Di dalam ruangan, Yoona terlihat gusar dalam tidurnya, keningnya berkeringat, nafasnya terengah, wajahnya menunjukan raut ketakutan. Sedangkan Sehun di luar hanya bisa menggigit bibirnya meliat Yoona.

 

“Masuklah, bantu dia agar bisa tenang,” ucap dokter yang menangani Yoona.

 

Sehun masih diam mematung di luar.

 

Dokter itu pun membuka pintu dan meminta Sehun untuk masuk ke dalam. “Kuyakin dia membutuhkanmu,” ucap dokter itu lagi.

 

Sehun menatap mata sang dokter yang sudah sangat dekat dengannya itu dan dokter itu tersenyum sembari mengangguk. Dengan perlahan, Sehun melangkah masuk mendekati Yoona dan sang dokter pergi.

 

Sehun menatap Yoona dengan tatapan yang sulit diartikan, entah ia sedih atau marah. Namun perlahan, tangannya bergerak memegang kening Yoona dan  benar saja, kegusaran Yoona sirna dalam sekejap.

 

Kini Yoona terlihat tidur dalam kedamaian. Tangan Sehun mulai menurun memegang pipi Yoona dan mengusap keringat yang ada di sana. Tangannya yang satu lagi sudah menggenggam jemari lentik Yoona.

 

Namun sesaat kemudian, mata Yoona terbuka. Sontak Sehun pun langsung berbalik badan dan hendak pergi, tetapi tangan Yoona lebih dulu menahannya. “Sehun-ah,” panggil Yoona pelan.

 

Sehun terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia melepaskan tangan Yoona yang menggenggam pergelangan tangannya dan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

 

Yoona menatap sedih kepergian Sehun. Walau bagaimanapun, ia akan tetap menyembunyikan status terbarunya saat itu.

 

Flashback

 

Seorang dokter berdiri tepat di samping Yoona. Perlahan mata Yoona terbuka sedikit demi sedikat. Yoona pun melihat seseorang yang sedang berdiri di sampingnya.

 

“Bisakah kau memberiku obat tidur, Dokter?” Ucap Yoona dengan suara yang pelan. Ia merasa dirinya sudah sangat lelah, bahkan teramat. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia hanya ingin tidur tenang beberapa jam.

 

Bukan menjawab, dokter itu justru menggeleng pelan. “Apa kau tidak merasakannya?” Tanya dokter itu.

 

Yoona mengernyit bingung. “Ne?”

 

Dokter itu pun menghela nafasnya. “Jika aku memberimu obat tidur, itu akan berdampak pada janinmu,” ucap dokter itu yang mampu membuat Yoona terdiam.

 

Sempat beberapa detik terdiam. Yoona akhirnya tersadar. “J..ja.nin?” Ucapnya terbata.

 

“Kau harus menjaganya Im Yoona! Kondisimu sangat tidak bersahabat saat ini,” tambah dokter itu.

 

Yoona menggeleng pelan. Ia mengarahkan tangan kanannya ke perutnya yang masih datar itu. “Benarkah ada bayi disini?”

 

Dokter itu mengangguk. “Aku tidak bisa memprediksikan dengan jelas, tapi kuperkirakan bayi itu sudah berumur seminggu. Kumohon pedulilah pada kesehatanmu mulai saat ini,” tambahnya.

 

“Aku akan menjaganya jika kau merahasiakannya dari Sehun,” ucap Yoona.

 

Dokter itu seolah tahu Yoona akan mengatakan hal itu. “Aku tidak berhak ikut campur dalam masalah itu,” dokter itu pun pamit pergi.

 

Flashback END

 

 

Di luar ruangan, Sehun langsung menyandarkan tubuhnya ke tembok dan menghela nafas sedalam-dalamnya. Mengapa semua yang ia lakukan untuk Yoona terasa begitu menyakitkan.

 

“Sehun-ah,” panggil Suho sembari berjalan mendekati Sehun.

 

Sehun yang sedang bersandar ke tembok pun kembali berdiri tegak dan sedikit membungkuk ke arah Suho.

 

“Aku akan memindahkan Yoona ke penjara, kau ikut denganku!” Ucap Suho tanpa basa-basi.

 

Sehun tidak menatap Suho, ia justru menundukan kepalanya, sebelumnya ia sudah mendapat kabar tentang pemindahan Yoona ke penjara. “Apa dia akan di interogasi dalam keadaan sakit seperti itu?” Tanya Sehun dan memberanikan diri menatap Suho.

 

“Kita harus membuat Yoona berbicara, Jiyeon harus diselamatkan,” jawab Suho.

 

“Di sana, introgasi di sana sangat kejam, tidak peduli wanita atau pria. Hyung, dia sakit, interogasi itu tidak akan berhasil. Tidak bisakah menunggu dia sehat kembali?” Sehun mencoba meyakinkan Suho, entah apa yang difikirkan Sehun, ia hanya tidak ingin Yoona di siksa.

 

Suho menarik nafas dalam. Jelas yang di hadapinya kini bukanlah Sehun yang sebenarnya. Tidak pernah sekalipun Sehun melarang orang yang jelas bersalah untuk di interogasi. “Sehun-ah,”

 

“Baiklah, aku pergi Hyung,” ucap Sehun tanpa membungkuk. Ia tahu, Suho tidak bisa dipengaruhi akan hal seperti itu. Pun dirinya sangat tidak bersedia untuk mengantar Yoona ke penjara.

 

Area Parkir Markas Tim AIK

07.20

 

Sehun masuk ke dalam mobilnya, ia menggengam erat setir mobil yang ada di hadapannya. Ia tidak bisa tenang mengetahui Yoona akan di bawa ke penjara.

 

“Kenapa kau harus memulainya Im Yoona,” ucap Sehun dalam hati sembari menutup matanya.

 

KRING!!

Saat itu juga, ponsel Sehun berdering. Cukup lama Sehun terdiam sampai akhirnya ia melihat ponselnya dan mendapati nama Chanyeol di layar ponselnya, segera ia mengangkatnya.

 

“Sunbae,” terdengar suara Chanyeol.

 

“Hentikan sampai di sini Park Chanyeol!! Jiyeon Sunbae, lepaskan dia sekarang juga!!!” Sehun tidak membentak. Namun ia berbicara penuh penekanan dan sedikit rasa kecewa tentunya.

 

“Sunbae, cepat atau lambat Yoona akan di bawa ke penjara. Kita sama-sama tahu bagaimana kejamnya penjara itu. Bantu kami mengetahui strategi apa yang kalian pakai saat membawa Yoona. Sebagai gantinya, aku akan membawa Jiyeon Sunbae langsung ke tanganmu.” Chanyeol berusaha meyakinkan Sehun.

 

Sehun terdiam cukup lama.

 

“Sunbae, percayalah kami sekarang di pihakmu, kita sama-sama akan menghancurkan teroris Brazil yang akan datang ke Korea tidak lama lagi.” Sehun sangat bingung. Ia harus percaya atau tidak. Mungkin bukan kepercayaan yang penting sekarang, tapi Yoona selamat dari penyiksaan.

 

“Yak OH SEHUN!!” Teriak Chanyeol meminta Sehun berfikir cepat.

 

“Baiklah, di mana aku harus menjemput Jiyeon?” Tanya Sehun.

 

“Sungai Han, bagaimana dengan Yoona?” Tanya Chanyeol balik.

 

“Dia ada dalam rombongan, karena kau, kami merubah strategi. Ada 4 mobil yang akan mengiringinya.” Biasanya, para teroris yang akan dibawa ke penjara tidak akan berada di rombongan yang sama. Melainkan meiliki jalur sendiri. Hal itu dilakukan tentunya untuk mengecoh seseorang saat melakukan hal yang tidak diinginkan.

 

“Baiklah. Sampai bertemu di Sungai Han jam 9.” Jawab Chanyeol yang langsung mematikan panggilan telponnya.

 

 

Markas Tim Kris

07.30

 

Chanyeol akhirnya memberitahukan keberadaan Yoona pada Kris. Ia memang tidak menjelaskan bagaimana bisa ia mendapat informasi penting itu pada Kris. Namun Kris tetap perca karena waktu juga yang terbilang semakin menipis. Kris dan timnya sedang membagi tim mana saja yang akan pergi mendapatkan Yoona. “Aku, Kai, Chanyeol, Sooyoung, tetap di sini. Sisanya, lakukan misi untuk penyelamatan adikku,” ucap Kris dengan tegas.

 

“Hyung, aku akan memimpin mereka,” pinta Kai yang kurang menyetujui rencana Kris.

 

“Kalian tetap di sini!!” Tegas Kris. Dia sadar dan mempercayai anggotanya dapat menyelamatkan Yoona. Ia juga memiliki perasaan yang tidak baik yang akan terjadi di markasnya. Maka dari itu, ia mengandalkan orang2 terbaiknya untuk menyelesaikan masalah ini jika nantinya benar terjadi.

 

Dalam perjalanan ke penjara, Yoona di apit oleh dua orang berbadan besar dan di kursi depan terdapat Suho. Mobil mereka ada di posisi nomer 3 dari depan. Tangan Yoona dalam keadaan di borgol. Ia sempatkan momen bebas sesaat itu untuk melihat keadaan jalan.

 

“Bisa kau buka jendela itu?” Pinta Yoona pada seseorang yang duduk di sebelah kirinya.

 

Tidak ada jawaban.

 

“Bukalah,” pinta Suho pada bawahannya. Dan jendela pun di buka setengahnya. Yoona menutup kedua matanya. Ia menghirup udara sebanyak mungkin. Udara yang mungkin tidak bisa ia rasakan lagi.

 

 

08.00

Yoona masih dalam perjalanan. Tim yang membawanya kini memasuki jalur yang sepi, di mana kanan kirinya hanya ada hutan. Namun jalan di sana masih terbilang lebar.

 

Namun tiba-tiba.

DARR! BRUKKK! DOR! DOR! DOR!

 

Yoona dan beberapa orang di dalam mobil terkoyak cukup kencang saat mobil mereka di dorong oleh truk ke arah hutan. Tiga mobil lainnya pun ada yang berbalik dan langsung terbakar.

 

Sehun yang ternyata ada di mobil keempat masih sadar saat mobil yang ia tumpangi dalam keadaan terbalik. Ia hanya seorang diri dalam mobil itu. Sebisa mungkin ia mencoba keluar. Tidak memakan waktu lama, Sehun pun berhasil keluar.

 

DOR! DOR! DOR!

Sehun menghindari beberapa peluru yang di arahkan kepadanya. Ia melihat puluhan orang turun dari dalam truk.

 

DOR! DOR! DOR!

Sehun melihat ada dua kubu yang saling menembak. Saat genting itu ia gunakan berlari ke tempat mobil Yoona yang jauh terlempar ke dalam hutan.

 

Mobil Yoona tidak berbalik. Namun keadannya cukup parah. Sehun memastikan supir, Suho dan dua orang yang duduk di belakang telah meninggal. Namun Yoona tidak terlihat. Sehun melihat kesekeliling hutan, ia tidak melihat siapapun.

 

DOR!

Tembakan kencang berhasil menembus tangki bensin mobil yang ditumpangi Suho. Sehun tahu itu akan membuat mobil meledak.

 

“Hyung!” Teriak Sehun yang berusaha mengeluarkan Suho dari dalam mobil. Biarpun sudah menjadi mayat, Sehun berencana mengeluarkan tubuh rekan-rekan kerjanya dari dalam mobil sebelum meledak.

 

Sehun melihat ke depan dan ada satu orang lagi yang akan menembak ke arahnya. Dengan sergapnya ia mengambil pistol milik Suho dan menembak ke arah orang yang ada jauh di depannya.

 

DOR! DOR! DOR!

Tembakan bertubi-tubi menyerbu ke arahnya.

 

Namun tiba-tiba, seseorang menarik bajunya dari arah belakang dan membuatnya jatuh bergelinding ke bawah hutan bersama.

 

DUAR!

Mobil milik Suho pun meledak kencang.

 

BUG!

 Punggung Yoona membentur pohon besar. “Eeemmmh,” ringisnya menahan sakit. Beberapa luka dan darah turut mrnghias wajahnya. Yoona diam-diam mengelus perutnya dan berucap dalam hati. “Kau baik-baik saja, percayalah aku akan melindingimu.”

 

 

“Akkkhhh…” Sehun yang berada diantara semak-semak beranjak bangkit berdiri, tangan kanannya terasa sangat sakit. Setelah dilihat, terdapat luka sobek yang cukup besar di sikunya. Namun, mendadak rasa sakitnya hilang saat melihat Yoona terkapar di dekat pohon. Sehun berlari mendekati Yoona.

 

DOR! DOR! DOR!

Yoona dan Sehun mendengar suara tembakan yang semakin mendekat, Yoona pun berusaha berdiri di bantu Sehun untuk melarikan diri.

 

Yoona dan Sehun sudah berlari cukup jauh, tangan Sehun setia melingkari pinggang Yoona untuk membantu Yoona berjalan. Setelah sudah tak terdengar suara tembakan, Yoona dan Sehun sepakat untuk beristirahat. Mereka duduk saling berhadapan dan menyandar di pohon besar.

 

Sudah biasa tentunya bagi Sehun akan kehilangan rekannya saat bertugas. Namun hal itu tetap saja meninggalkan luka yang dalam untuknya. Terlebih Suho adalah salah satu orang terdekatnya. Meninggalnya Suho membuat dirinya menjadi pendiam, ia memandang ke arah tangannya yang berada di tanah yang sempat memegang bahu Suho untuk dibawa keluar. Namun Yoona lebih dulu menariknya. Tentu saja ia juga tidak menyalahkan Yoona. Karena jika Yoona tak menariknya, pasti ia tak akan selamat.

 

Yoona melihat raut wajah Sehun. Ia tahu, ia hafal, ia mengenal maksud raut wajah itu. Ia pernah melihatnya saat ibu Sehun meninggal. Luka mendalam tergambar jelas di sana.

 

“Maaf, tapi aku tetap tidak menyesal sudah menarikmu,” ujar Yoona yang tidak mendapat respon apapun dari Sehun. Yoona berada di mobil yang sama bersama Suho. Sejak ia kabur dari mobil itu, ia  tahu bahwa Suho sudah meninggal.

 

Perlahan Sehun mengangkat kepalanya. Tersirat rasa ingin menghapus noda darah yang ada di wajah cantik Yoona. Namun ia hanya bisa berharap dapat melakukan itu. “Siapa mereka?” Tanya Sehun menatap Yoona.

 

“Mereka orang suruhan Kris dan  puluhan orang yang turun dari truk adalah segerombolan orang sesepuh,” jawab Yoona.

 

“Sesepuh? Maksudmu teroris dari Brazil,” tanya Sehun memastikan.

 

Yoona mengangguk.

 

Sehun menyadari bahwa tangan Yoona masih dalam keadaan di borgol. Ia beranjak berdiri dan mencari batu besar. Ia berpikir kini dirnya dan Yoona dalam keadaan tidak aman. Akan sangat sulit menyelamatkan diri dalam keadaan tangan terborgol.

 

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Yoona saat Sehun berada tepat di depannya sembari membawa batu besar.

 

“Membunuhmu,” jawab Sehun singkat.

 

Yoona menelan salivanya dan terdiam sesaat. Namun ia mengerti saat Sehun meraih tangannya dan berusaha membuat rusak borgol yang ada di tangannya. Hal itu membuat Yoona menatap dalam mata Sehun.

 

“Jangan menatapku, atau tanganmu yang akan terluka.” Ucap Sehun tanpa menoleh. Ia merasa gugup saat Yoona terus menerus menatapnya.

 

“Aku mempercayaimu,” ucap Yoona tanpa berniat mengalihkan pandangannya.

 

BRAK!!! BRAKK!!

Yoona tidak sekalipun menutup matanya, ia tidak takut sama sekali. Borgol pun rusak.

 

“Ayahmu,,” Yoona ingin sekali mengetahui keadaan Ayah Sehun setelah insiden penembakan itu. Namun ia ragu dan takut untuk menanyakannya.

 

“Jangan membahas tentang Ayahku, karena aku bisa saja membunuhmu,” jawab Sehun cepat dengan tatapan yang sulit diartikan.

 

Yoona menghela nafasnya. “Kau mampu?” Tanyanya.

 

Sehun menatap sinis ke arah Yoona, ia semakin menyudutkan Yoona ke pohon dan menakan lengannya di leher Yoona. Sudah pasti Yoona merasa tersudut. Bahkan ia harus mengangkat kepalanya ke arah atas karena semakin lama tekanan lengan Sehun semakin keras. Namun tak sekalipun terbesit dipikirannya untuk memberontak.

 

“Eotte?” Tanya Sehun.

 

“Kau mampu?” Tanya Yoona lagi. Ia akan sangat bersyukur jika Sehun berani membunuhnya. Mungkin dengan seperti itu ia bisa menebus semua dosanya pada Sehun dan ayahnya. Namun ia yakin Sehun tidak akan bisa melakukannya. Tak akan pernah bisa.

 

Sehun semakin menatap dalam mata Yoona. “Kenapa kau memulai semuanya?” Tanya Sehun pelan.

 

Yoona terdiam. Ia merasa tekanan lengan Sehun semakin meregang dan meregang sampai akhirnya Sehun menurunkan tangannya. Kesempatan itu diambil Yoona untuk berdiri.  Dan dengan gerakan cepat, Yoona berhasil menyudutkan Sehun  ke pohon lainnya dan mengunci tubuh Sehun.

 

Seolah sudah tahu dengan apa yang akan terjadi. Sehun pun tidak berniat memberontak atau apapun. “Kau mampu membunuhku?” Tanyanya.

 

“Hmm,” Yoona menjawab cepat dan yakin.

 

Sehun tersenyum. “Lakukanlah!” Pinta Sehun.

 

“Tidak saat ini,” Yoona melepaskan tubuh Sehun dan kesempatan itu ia gunakan untuk berlari sejauh-jauhnya meninggalkan Sehun.

 

Sehun melihat kepergian Yoona. “Bantu aku membecimu, Im Yoona.” Ucapnya dalam hati. Sesaat setelah itu, ia mendapat telepon dari Lay.

 

“Wae?” Tanyanya dalam telepon.

 

“Mwo?” Ucapnya saat tahu Jiyeon tidak ada di sungai Han.

 

“Arraseo,” Sehun mematikan panggilan teleponnya.

 

Ia berlari untuk berbalik arah sembari menghubungi Chanyeol.

 

“Yak!! Dimana Jiyeon Sunbae?” Ucapnya pada Chanyeol.

 

“Sunbae, aku akan menjelaskan mengapa aku tidak bisa membawanya kesana,” jawab Chanyeol.

 

“Mwo?? Kau di mana sekarang??” Jawab Sehun kembali bertanya.

 

“Bicaralah langsung dengan Kris hyung,” jawab Chanyeol.

 

 

Saat Penembakan Terjadi

Markas Tim Kris

09.00

 

Kris berjalan masuk menuju tempat Jiyeon ditawan sembari membawa makanan dan minuman. Ia melepas tangan Jiyeon yang masih di borgol. Lagi, untuk yang kesekian kalinya Jiyeon menendang semua makanan yang disuguhkan Kris. Tiba-tiba tubuhnya oleng dan Jiyeon jatuh pingsan.

 

Kris memegang denyut nadi Jiyeon yang mulai melemah. Ia membopong tubuh Jiyeon dan membawanya ke kamar Yoona. “Kau bisa mengurusnya?” Tanya Kris pada Sooyoung.

 

Sooyoung mengangguk.

 

Kris pergi menemui Kai yang berada di balkon. “Dimana Luhan?” Tanya Kris.

 

“Hyung, kurasa kita harus meninggalkan tempat ini,” jawab Kai.

 

“Dimana Luhan?” Kris masih belum mendapat jawaban, ia akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban.

 

Kai tahu Luhan ada di Brazil, yang secara langsung Luhan sudah tak lagi dipihak Kris. Jelas sudah, mereka dalam posisi bahaya jika sesepuh yang terkenal kejam mengejar mereka ke Korea.

 

“Hyung,” tiba-tiba Chanyeol datang membawa ponsel yang sedang terhubung untuk Kris. Kris menoleh, dan saat itu juga terdengar suara tembakan.

 

DOR!

“Aakkkh,” rintih Chanyeol yang terkena tembakan di bagian bahu kirinya.

 

“Merunduk!” Pinta Kris.

 

Kai langsung berjongkok dan menghampiri Chanyeol yang tengah menahan sakit. Ia melihat luka tembak di bahu Chanyeol.

 

Chanyeol mengambil ponsel yang sempat terjatuh. “Sunbae, kami diserang,” ucapnya pada Sehun di dalam telepon.

 

Hutan

09.05

 

Di lain tempat, Sehun masih berlari ke tempat di mana sebelumnya mereka di serang. Sekian lama Sehun menunggu Kris berbicara, justru bukan suara Kris yang di dengar melainkan suara tembakan yang bertubi-tubi.

 

DOR!! DOR!!

“Akkkhh!!”

 

“Park Chanyeol!!” Mendengar teriakan Chanyeol, Sehun sudah bisa menduganya.

 

“Sunbae, kami diserang,” terdengar suara rintihan Chanyeol disana dan telepon terputus.

 

“Aish!!” Sehun melihat ke arah ponselnya. Tak lama ia kembali berlari, sembari menghubungi Lay untuk meminta bantuan.

 

Sehun meminta Lay untuk melacak keributan terkait penembakan di Seoul, karena itu satu-satunya cara ia mempeoleh keberadaan Chanyeol.

 

15 menit kemudian, Sehun tiba di lokasi meninggalnya Suho. Ia melihat Baekhyun, Tao dank rekan lainnya berkumpul di dekat mobil Suho yang tengah di padamkan apinya. Ia menggeleng lemas, perlahan ia mendekati mobil itu. Namun Tao menahannya. Sehun lantas berhenti. Tak lama, mayat pun berhasil dikeluarkan dan dibawa ke Rumah Sakit di Seoul.

 

Tempat kejadian itu diramaikan pula oleh beberapa mayat dari orang suruhan Kris. Faktanya, semua orang dari pihak Kris tewas tertembak.

 

Selang beberapa menit, Sehun mendapat panggilan dari Lay yang sudah menemukan lokasi keberadaan Chanyeol. Ia pun pergi dan mengajak Tao.

 

 

Markas Tim Kris

09.05

 

DOR! DOR!! PRANG! DAR!!

Suara tembakan dan kaca pecah mengisi hampir ke seluruh ruangan markas milik Kris. Seolah peluru muncul dari segala arah.

 

Sooyoung membantu Chanyeol yang sudah melemah untuk melarikan diri,  disusul Kai di belakangnya sembari berjaga-jaga dengan pegangan pistol berlaras panjang ditangannya.

 

“Tunggu aku di pintu belakang,” teriak Kris sembari berlari ke kamar. Ia bergegas menggendong Jiyeon yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.

 

Kai, Chanyeol dan Sooyoung berhasil masuk ke dalam mobil lebih dulu. Kai mengambil posisi supir.

 

DOR! DOR!!

Beberapa peluru menembak ke arah mobil. Sooyoung bergegas mengambil pistol di balik punggungnya dan menembak ke arah lawan. Begitu pun dengan Chanyeol, walau ia harus menembak dengan satu tangan.

 

Kai melihat Kris datang membawa Jiyeon, ia segera menghampiri Kris untuk melindunginya. Akhirnya mereka semua masuk ke dalam mobil, Kai sibuk menyetir mobilnya, sedangkan Kris berusaha menembaki musuh yang mengejarnya.

 

Kai membawa mobil dengan brutalnya, ia tidak segan menabrak apapun yang sekiranya menghalangi jalannya. “Yak!!” Bentak Sooyoung karena ia kesulitan memasukkan peluru ke dalam pistolnya.

 

“Arraseo,” jawab Kai.

 

Beberapa mobil mengelilingi mobil Kris. Untungnya di mobil itu sudah disiapkan berbagai senjata dan memang di desain untuk mobil pelarian.

 

“Aishh!! Kenapa mereka banyak sekali!!” Kesal Chanyeol yang masih menembaki musuhnya.

 

Sooyoung mengokang senjatanya. “Annyeong,” ucapnya tersenyum dan menembakan peluru besar dan berhasil membuat satu mobil disampingnya terpental.

 

“Sooyoung-ah,” Kris mengulurkan tangannya ke belakang, bermaksud meminta senjata yang sedang dipakai Sooyaoung.

 

DOR!!

Kris berhasil melumpuhkan mobil terakhir yang mengikutinya. Hal itu membuat mereka bernafas lega dan bersandar di tempat duduk masing-masing. Sooyoung melihat ke arah bangku belakang untuk mengetahui keadaan Jiyeon yang masih tak sadarkan diri.

 

Selang setengah jam, Kris mendapat telepon dari seseorang yang belum terdaftar nomor teleponnya. Namun ia tetap mengangkatnya.

 

“Oppa,” terdengar suara Yoona. Mendengar suara adiknya, Kris langsung menoleh ke arah Kai yang berada disampingnya.

 

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan Rumah Sakit dimana mayat Suho berada. Kris keluar dari mobilnya dengan memakai masker. Ia membopong tubuh Jiyeon dan membawanya masuk ke dalam.

 

Tak lama setelah Kris keluar, masuklah seseorang ke dalam mobil. Yoona, membuka topinya dan melihat ke arah Sooyoung. “Kerja bagus,” ujar Sooyoung. Chanyeol dan Kai pun ikut tersenyum.

 

Setelah itu, masuklah Kris ke dalam dan mobil melaju kencang meninggalkan Rumah Sakit.

 

“Kau baik-baik saja?” Ucap Kris tanpa menoleh ke arah belakang, walau sebenarnya ia ingin melihat keadaan Yoona.

 

“Emm,” jawab Yoona.

 

 

Markas Tim Kris

11.00

 

Tao menghentikan laju mobilnya di halaman markas. Sehun bergegas keluar dan saat ia memasuki gedung yang cukup besar itu, hanya ada sisa bekas peperangan. Keadaan yang sudah porak poranda.

 

“Bisakah mereka melarikan diri?” Ucap Tao yang lebih terdengar seperti gurauan. Sebab jika ia melihat keadaan yang cukup parah di markas itu, kemungkinan kecil dapat keluar dalam keadaan hidup.

 

Tao dan Sehun berpencar memasuki ke ruangan yang terdapat di markas itu. Tao memasuki ruangan senjata, ia sempat terkagum oleh beberapa senjata yang bahkan dirinya belum pernah melihatnya.

 

Berbeda dengan Tao, Sehun justru memasuki ruangan dimana Kris tinggal. Tentu saja kamar itu dalam keadaan amat berantakan. Namun beberapa buah foto di lantai menarik perhatiannya. Ia mengambil sebuah foto yang dimana dalam foto tersebut adalah Kris dan Yoona kecil. Namun Sehun tidak mengenali siapa yang ada di foto tersebut.

 

Sehun kembali mengambil foto lainnya, kali ini ia tahu bahwa Yoona dan Kris remaja sempat bersama. Dalam foto itu terlihat jelas bagaimana Yoona memandang Kris sebagai orang terpenting dalam hidupnya. Yoona memandang ke arah mata Kris saat Kris tengah tersenyum dan merangkulnya.

 

Dari semua foto yang ditemukan, kebanyakan merupakan foto masa kecil Yoona dan Kris saat tinggal di Korea. Tepatnya sebelum insiden penembakan kedua orangtua Kris. Sehun mengambil foto-foto itu dan mengantunginya di saku celana.

 

“Sunbae, Jiyeon sunbae sudah ditemukan,” tiba-tiba Tao masuk ke dalam menemui Sehun. Ia mendapat kabar dari Baekhyun yang sedang berada di Rumah Sakit Seoul.

 

Sehun lantas berbalik cepat. “Ne, Di mana?”

 

“Di rumah sakit Seoul,” jawab Tao.

 

“Kajja!” Sehun berlari meninggalkan markas menuju mobilnya disusul Tao di belakangnya.

 

 

Dua Hari Kemudian…

 

Rumah Sakit, Seoul

08.30

 

Hari ini merupakan hari pemakaman Suho, yang akan dilakukan jam sepulu. Hari itu pun Sehun ingin menjemput Jiyeon yang sudah bisa keluar dari Rumah Sakit, sekaligus pergi ke pemakaman bersama.

 

KLEK!

Sehun membuka pintu kamar Jiyeon. Ia melihat Jiyeon tengah memakai mantel hitamnya. Sehun pun menghampirinya.

 

Jiyeon sadar Sehun berada di sampingnya. Namun sikapnya kini berbeda, rasanya seperti tidak ingin memperdulikan Sehun yang datang menemuinya. Jiyeon justru sibuk dengan ponselnya.

 

Ia pun menelpon seseorang. “Kau! Kubilang jemput aku sekarang! Cepat!!” Jiyeon langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Ku suruh dia tetap di markas,” ucap Sehun sembari berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur pasien. Ia tahu bahwa Jiyeon menyuruh Baekhyun untuk menjemputnya. Namun ia sengaja menggagalkannya karena ada ssesuatu yang harus dibicarakannya dengan Jiyeon. Semenjak Jiyeon sadar, tepatnya satu hari yang lalu, Jiyeon memperlakukan dirinya seperti tidak biasanya, itulah yang membuatnya harus berbicara dengan Jiyeon.

 

Jiyeon melirik sesaat. Lalu dia mengalihkan pandangannya. Ia bergegas mengambil tasnya di meja dan hendak berjalan keluar. Namun Sehun menahan pergelangan tangan Jiyeon lebih dulu.

 

“Mianhae,” ucap Sehun.

 

Jiyeon menutup matanya sekilas. Terlalu banyak yang harus dikorbankan dalam kasus teroris ini. Terlebih Sehun yang ia kenal seakan bertolak belakang dengan Sehun yang sekarang.

 

“Bagaimana wanita itu lolos saat semua yang ada di mobil itu meninggal?” Ucap Jiyeon tanpa berbalik.

 

Sehun diam tak bergeming, membuat Jiyeon semakin naik pitam.

 

“Kau membantunya Oh Sehun!!” Ucap Jiyeon penuh penekanan.

 

“Ibumu, Ayahmu, Suho, siapa lagi yang akan kau korbankan demi wanita itu?” Tambah Jiyeon.

 

Sehun mengerti maksud ucapan Jiyeon. Ia tahu Jiyeon sedang menyalahkan dirinya dan Yoona terkait masalah yang terjadi saat ini.

 

“Anni, aku tidak tahu bagaimana dia bisa sel,” respon Sehun terpotong balasan Jiyeon.

 

“Kau membantunya Oh Sehun!” Lagi, Jiyeon berbicara penuh penekanan. Ia kesal saat Sehun mencoba membela Yoona lagi.

 

Sehun merasa ucapan Jiyeon memang benar. Walau dirinya tak membantu Yoona keluar dari mobil, tapi dirinya membantu Yoona melarikan diri. Ia harus melakukan itu agar Jiyeon juga bisa dibebaskan.

 

“Jangan jadikan penyanderaan diriku sebagai alasan! Saat aku tidak disandera pun kau akan membantunya!” Ucap Jiyeon lagi. Kini rasa kecewanya kepada Sehun benar-benar sudah tak tertahan.

 

“Sekarang, bagaimana aku harus menghadapimu? Aku tidak tahu Sehun-ah. Aku seperti tidak mengenalimu.” Jiyeon perlahan berbalik mengahadap Sehun.

 

“Sadarlah Oh Sehun, ingatlah perjuangan Ayahmu dan Suho,” Jiyeon menarik tangannya dan meninggalkan Sehun di ruangan itu.

 

Sehun menatap nanar pintu yang sudah tertutup sepeninggalan Jiyeon. Perlahan tangannya meremas kencang seprei kasur yang didudukinya itu. Ia berfikir apa benar semua yang telah terjadi karena dirinya.

 

Ia menghela nafasnya. Sehun bergegas pergi menuju kamar inap ayahnya yang berada di gedung yang sama. Saat ia hendak memasuki kamar, ia lebih dulu melihat Jiyeon tengah mengelus kening ayahnya yang masih terbaring koma. Ia memilih untuk duduk di kursi tunggu.

 

Tak lama, Jiyeon keluar. Ia pergi meninggalkan Sehun yang tengah berdiri saat ia keluar dari ruangan itu. Sehun mengejar Jiyeon. “Kau mau kemana?” Tanya Sehun.

 

“Markas,” jawab Jiyeon singkat.

 

“Aku akan mengantarmu,” tidak menunggu persetujuan Jiyeon, Sehun langsung menarik salah satu tangan Jiyeon dan pergi meninggalkan Rumah Sakit.

 

 

Tempat Pemakaman Khusus Agen

10.00

 

Langit begitu redup dari biasanya. Segerombolan orang berpakaian rapih berpangkat berkumpul di depan makam Suho. Isak tangis dari keluarga terdengar jelas.

 

Sehun dan anak buahnya berada di barisan kedua pun tak bisa menutupi rasa kesedihan mendalamnya. Jiyeon yang berada di barisan pertama tidak kuasa menahan air mata yang bergulir membasahi pipinya.

 

Tak jauh dari tempat itu. Terlihat dua orang berdiri di samping pohon besar. Chanyeol mengenakan kemeja dan celana hitam. Yoona memakai rok hitam, kemeja putih dibalut mantel warna hitam. Mereka tak kalah terlihat sedihnya. Bagaimanapun, mereka pernah bersama saat di AIK dulu.

 

Tiba-tiba Sehun menarik diri dari barisan, ia berdiri di barisan paling belakang seorang diri. Lantas ia berbalik, dan mendapati dua orang yang sedang berangkulan pergi menjauh. Sehun mengenal sosok kedua orang itu. Terlebih sosok wanita yang sudah bertahun-tahun tinggal bersamanya.

 

Hujan lebat pun turun seolah ingin mengiringi pemakaman yang tengah berlangsung.

 

 

Rumah Kosong (Markas Tim Kris Baru)

11.00

 

Chanyeol yang sempat kehujanan sepulang dari pemakaman membuat luka tembak di bahu kirinya harus mendapat perawatan lagi. Sooyoung tengah membersihkan luka Chanyeol itu dengan hati-hati. Berbeda dengan Kris dan Kai yang sedang membersihkan beberapa senjata. Mereka dituntut sigap, karena tidak tahu kapan gerombolan sesepuh akan menyerang mereka.

 

Yoona tengah menatap ke arah luar jendela dengan tatapan yang sulit diartikan, kedua tangannya dilipat di depan perutnya. Sekaligus bermaksud menutupi perutnya yang nantinya akan semakin besar. Memang belum terlihat saat ini. Namun Yoona harus pintar menyembunyikan kehamilannya.

 

“Terlalu bahaya jika kau berdiri di sana,” Kris tiba-tiba menarik lengan Yoona.

 

Yoona menoleh ke arah Kris, lalu tersenyum. “Arraseo,” jawab Yoona singkat.

 

Yoona dan kris saling bertatapan lama, tak satu pun dari mereka mengalihkan pandangannya. Entah apa yang membuat mereka sampai bisa saling bertatapan lama. Mungkin rasa rindu, atau berpura-pura rindu.

 

“Persiapkan dirimu,” ucap Kris lalu pergi meninggalkan Yoona.

 

 

Markas Tim AIK

19.00

 

Beberapa anggota AIK terlihat masih menjalankan tugasnya. Namun tidak dengan Sehun, ia sedang berada di ruang kesehatan seorang diri.

 

“Kau sakit?” Tiba-tiba seorang dokter memasuki ruangan itu.

 

Sehun menjawabnya dengan menggeleng singkat. Saat melihat Sehun, dokter itu teringat Yoona yang tengah mengandung. Namun apa daya, ia tidak bisa menyampaikan berita itu. Ia memilih untuk kembali meninggalkan ruangan itu.

 

Namun Sehun menghentikannya dengan sebuah pertanyaan. “Bagaimana keadaannya?” Tanya Sehun.

 

“Siapa?” Tanya dokter itu santai.

 

“Yoona,” jawa Sehun.

 

“Seperti yang kau lihat,” jawab dokter itu lagi.

 

“Menurutmu, apa aku bisa membunuhnya?” Sehun menatap dalam mata dokter itu.

 

“NE?” Dokter itu tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.

 

Sehun tersenyum. Ia tahu jawabannya pasti tidak. Ia tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan kasus ini kedepannya. Masalah semakin runyam. Jiyeon tak lagi meresponnya. Ayahnya tak kunjung sadar, Suho meninggal dan Yoona pergi. Semua terjadi di saat yang bersamaan. Membuat Sehun merasakan sakit yang begitu mendalam.

 

“Lindungi bayimu,” ucap dokter itu dalam hati. Ia sangat ingin memberitahukannya pada Sehun. Namun ia tidak bisa. Ia tidak mau melanggar janjinya pada Yoona.

 

Dokter itu memilih pergi meninggalkan ruang kesehatan.

 

KRING!!

Sehun mengangkat telponnya tanpa melihat nama di layar ponselnya. Ia dibuat terkejut dengan suara Kris di sana.

 

Selang beberapa menit Sehun mematikan panggilan telponnya dan pergi menjenguk Ayahnya.

 

 

Markas Tim Kris

22.10

 

Yoona baru keluar dari kamarnya. Ia memakai rok stret di atas lutut berwarna abu-abu serta kaos putih polos dibalut jacket kulit hitam. Tidak lupa sepatu sport berwarna putih. Ia menggerai rambut hitamnya dan berjalan melewati Kai dan Kris yang sedang berbincang.

 

“Yoona-ya,” panggil Kris.

 

Yoona berhenti dan menoleh ke arah Kris. “Aku keluar sebentar,” jawabnya.

 

“Kai ikutlah dengannya,” pinta Kris pada Kai. Kai pun segera beranjak.

 

“Anni! jangan khawatir, aku bisa sendiri, Oppa!” jawab Yoona lalu kembali berjalan.

 

“Kalau begitu biar aku yang ikut denganmu,” Kris beranjak dan menyusul Yoona.

 

Yoona kembali menghentikan langkahnya. “Disaat aku sudah memilihmu, kau tetap tidak mempercayaiku?”

 

Kris terdiam. Bukannya tidak mempercayai Yoona. Namun Kris khawatir akan keselamatan Yoona, mengingat kini mereka adalah buronan para sesepuh.

 

“Aku butuh kepercayaanmu, Oppa!” Sesaat Yoona memegang pergelangan tangan Kris dan pergi masuk ke dalam mobil.

 

Beberapa saat setelah Yoona pergi. Kris menghubungi seseorang. Kembali tidak menunggu lama, seseorang datang mengendarai motor besar berwarna hitam. Kris mengambil helm milik seseorang itu dan membawa pergi motornya.

 

Kris memang sudah kehilangan kepercayaannya oleh petinggi di Brazil. Namun tidak dengan beberapa kelompok yang sudah menjalin kerjasama dengannya. Bukan perkara sulit untuk mendapatkan pakaian, makanan, transportasi, senjata bahkan tempat yang bisa dijadikan markas.

 

 

Rumah Sakit Seoul

22.45

 

Yoona baru saja tiba di parkiran rumah sakit. Ya, dia ingin menjenguk kakek dari bayi yang sedang dikandungnya. Yoona keluar dari mobilnya. Ia harus pintar mengendap-endap masuk ke kamar Oh SeHwan.

 

Yoona berjalan santai di koridor. Saat ia melihat beberapa suster berjalan ke arahnya, dengan gerakan cepatnya ia bersembunyi. Sampai akhirnya ia tiba di depan kamar ayah Sehun. Ia memastikan tidak ada siapapun di dalam.

 

TUT! TUT! TUT!

Suara detak jantung pasien mengiringi langkah kaki Yoona. Ia berdiri tepat di samping ayah Sehun. Perlahan tangannya meraih tangan seseorang yang sudah dianggap ayah kandungnya itu.

 

“Maafkan aku Ayah,” ucap Yoona pelan.

 

“Maaf sudah menjengukmu, maaf sudah berani mendekatimu. Maaf untuk semuanya.” Yoona mengelus tangan ayah Sehun dengan lembutnya.

 

“Ayah, aku merindukanmu… Sungguh,” ucap Yoona lagi.

 

SREP!!!

“Eeeemmm,” tiba-tiba Yoona disergap oleh seseorang dibelakangnya. Mulut dan hidungnya ditutup oleh saputangan.

 

Emmmmmm,,” Yoona terus meronta dengan kuat.

 

Dan tunggu kelanjutanya yahhh..

Hai guys, Maaf nunggu lama buat kelanjutan ff nya, tapi mau selama apapun, aku usahain bakalan nyelesain ff ini kok, hehe.. Pasti bnyak banget nemuin kekurangan di ff ini, iya aku juga menyadari itu kok,, hhehe.. Semoga ke depannya aku bisa lebih baik lagi… Makasih buat kalian yang udah setia nunggu, mau baca dan ninggalin komentarnya… Semangat buat kalian dan aku juga… FIGHTING!!!

40 thoughts on “[Freelance]Revenge (Chapter 4)

  1. Waaa kutunggu tunggu akhirnya berlanjut .. Ditunggu kelanjutannya bikin penasaran.. Siapa ya yang bekep2 eonnie yoong? ..semakin seru .. Terus semangat ya thorr

  2. Pas bca judulnya ampir lupa… tpi pas baca ceritanya pasty inget lah…
    wah semkin seru ni… cinta yang rumit di tengah perang di kubu masing masing… berharap happy end.. kcian juga yoonhun yg harus mnderita…apalgi sekarg yoona lgi hamil… semoga merasa mengasingkn dri berdua… hidup damai.. hahaha kayaknya simple tpi rumit kyaknya… next

  3. Akhirnya update juga dikira gk bakal di lanjut😂😂😂
    Cerita nya makin keren&buat penasaran,,, semoga di chapter selanjutnya Sehun tahu Yoona hamil anak nya😂😁😁 ..
    Di tunggu chapter selanjutnya semoga cepet & lebih seru
    Semangat Thor dan keep Writing😊😉😍😘

  4. sumpah demi apapun thor, kamu tega buat aku eaitibg selama ini hmm 😅
    tapi untung masih dilanjut. tauga si thor, aku sampe baca dari part awal lhoo 😂
    btw cepet lanjut ya thorr, jangan sampe lumutan waiting nya. fighting thorrr 💪

  5. Waow aku harus baca chap 3 lagi lih min 🙈 tapi semakin seru, kasian Yoona hamil pas sehun udah tau kenyataannya astaga, next miin. Jangan lama2 jusseyoo 🙏

  6. ahhhh knapa lama banget thor. semakin seru ini. tolong update nya jangan lama” lagi updatenya ya thor. fighting. gomawo,

  7. sehun bagaimanapun masih sayang bgt pasti sama yoona. huhu mereka saling mencintai tapi krna keadaan. mereka jadi rumit bgini huhuhu. seru masih pengen bacaaaaa lanjutannya. semoga post cepet ya. okay . semangat buat lanjutinnya. disini kita menunggu huhihihi

  8. ia emang bener2 lama bngt thor…smpai2 q berpikir klau ff ini dah ngga dilanjutkn lagi?wlpn begitu q tetep menunggu suka sma ff ini,,,q harap ngepost ya jngn kelamaan thor,,,pliss….??siapa yg membekap yoona,q harap bukan tim AIK,,klau smpai tertngkp yoona bkln dlm bahaya??lanjut thor…jngn kelamaan oke.,plisxxx bngt ya…

  9. Y Alloh lamaa bgt thor upfatenyaa huaaa kgn bgt pdhal..
    Knp si Yoona mlh ngrhsiain khmilannya..kn sehun ayahnya
    Sehun jg knp jd mellow gtu
    Tmbah rumit..brhrp endingnya yoonhun+aegi bhgia
    Next soon

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s