[Freelance] In a Dream – Sepuluh

in-a-dream_

In a Dream | Hanabi

Im Yoona | Kris Wu | Jessica Jung | Huang Zitao

Chapter | Horror – Mystery – Thriller | PG-17

.

.

.

“Kau lagi,” Kyuhyun menunjuk Yoona yang berdiri di depan minimarket. Beberapa menit yang lalu seseorang menelpon dan melaporkan ada sebuah perampokkan di sebuah minimarket. Kyuhyun memasukkan tangannya ke saku mantel. “Aku bingung harus berkata apa, tapi kau selalu ada disetiap kekacauan.”

Pria itu langsung mengerti kenapa dulu Kris begitu pusing menghadapi gadis ini. Karena gadis ini terlihat seperti biang masalah, jika dia pergi ke suatu tempat, pasti ada satu orang yang mati di sana. Melihat Yoona hanya tertunduk dan tidak menjawab, agak sedikit membuatnya tidak enak hati. Ah, mulutnya ini harus segera dilakban.

Kyuhyun mendesah. “Kau itu bodoh, ya?” Dia membuka mantelnya. “Kau harusnya memakai jaket,” ketika ia ingin memakaikan Yoona mantelnya, tiba-tiba seseorang mengcengkram tangannya kuat. Kyuhyun berkedip dua kali, orang itu adalah Kris dan pria itu terlihat ingin menggonggong seperti anjing.

Nampaknya dia sudah melakukan kesalahan. Ini bukan cerita romantis dan bukan Kyuhyun peran utama prianya. Jadi untuk apa dia sok-sokan memakaikan matelnya ke Yoona jika peran utama prianya sudah datang? Kyuhyun berdehem beberapa kali. “Ah dingin sekali malam ini,” Dia kembali memakai matelnya lalu berjalan agak menjauh. “Kau urus dia, aku akan bertanya pada kasirnya.”

Seperginya Kyuhyun, Kris menarik Yoona ke arah mobilnya. Dia membuka pintu belakang mobil dan menarik Yoona masuk ke dalam lalu menutupnya. Pertengahan bulan Oktober cukup dingin, mungkin tidak sedingin musim dingin bulan Desember, tapi cukup membuat tubuh orang dewasa mengigil. Kris menutupi tubuh Yoona dengan selimut yang selalu dia persiapkan di dalam mobil.

Tangan gadis itu begitu dingin dan Kris langsung menggenggamnya erat. “Kau baik-baik saja?”

Yoona mendonggak. “Kupikir tidak. Orang itu mati. Mati di depanku.”

Kris mengangguk. “Aku pernah bilang padamu. Jika kau bermimpi tentang kematian, katakan padaku. Kita bisa mencengah kematian itu terjadi.”

Yoona menggeleng lemah. “Tidak,” ujarnya lirih. “Aku tidak bermimpi. Aku belum bermimpi tentang kematian semenjak aku menyelamatkanmu dua hari yang lalu. Aku belum bermimpi lagi, tapi dia mati di depanku. Kenapa?”

“Apa maksudmu? Jadi, dia tidak muncul di dalam mimpimu, tetapi dia mati di depanmu. Bagaimana itu bisa terjadi? Kemampuanmu? Kemampuanmu sudah hilang.”

“Tidak, bukan begitu,” Yoona menutup mengusap wajahnya. “Dia memiliki kemampuan sepertiku.”

“Maksudmu? Dia bisa melihat kapan seseorang akan mati?”

Yoona mengangguk. “Kurasa. Tapi, ada yang aneh.”

“Apa?” tanya Kris secepat kilat.

“Dia terus berguam : aku akan mati. Awalnya kupikir dia hanya ketakutan, karena kami ditodong dengan pistol. Aku juga tidak bermimpi apapun, sampai dia berkata : Aku selalu menolong orang-orang. Tapi kenapa saat takdir menyuruhku mati, tidak ada yang mau menolongku. Dan dia benar-benar mati tertembak. Karena dia tahu kalau dia akan mati tertembak hari ini. Karena dia tahu, mangkanya dia ketakutan. Karena dia bermimpi tentang kematiannya sendiri. Itu artinya…”

Yoona menatap tepat di manik mata Kris. Wajahnya terlihat begitu serius. “Aku bisa mengatahui, kapan aku akan mati.”

.

.

.

Tidak seperti sekolah-sekolah lain di Korea, di Aobe High School pada hari sabtu mereka di bebas tugaskan dari pelajaran. Akan tetapi mereka mendapatkan homeroom, suatu program sekolah berupa pembimbingan siswa di luar jam pelajaran. Biasanya hanya berlangsung sampai jam makan siang dan mereka diperbolehkan pulang ke rumah. Tetapi hari ini Yoona tidak datang ke sekolah, dia sudah meminta izin kepada Han Songsaenim yang sekarang menjadi wali kelasnya.

Gadis itu duduk berhadapan dengan Kris, tidak melakukan apapun dari tadi. Tidak. Mereka malah sedang asik mempertontonkan percekcokan antara Kyuhyun dengan seorang murid SMA yang ternyata teman korban dan juga salah satu saksi mata. Oke, ini agak sedikit membingungkan. Saksi mata meninggalnya korban yang diketahui bernama Kim Taehyung hanya Yoona dan sang kasir. Tapi nyatanya, ada orang lain yang ikut menyaksikan pembunuhan itu. Dia adalah Jeon Jungkook.

“Kau mengenal korban?”

“Ya.” Kata Jungkook singkat. Ekspresinya terlalu datar untuk seseorang yang baru saja kehilangan temannya.

“Itu artinya kau temannya bukan?”

“Bukan. Kami saling mengenal, tapi bukan berarti kami berteman.”

“Oke,” kata Kyuhyun pasrah. Dia terlihat begitu lelah untuk adu mulut dengan pemuda berwajah datar ini. “Tapi begitu banyak riwayat panggilan keluar dan masuk dari kalian berdua. Kalian terlihat begitu dekat dan kau bilang dia bukan temanmu.”

“Iya.”

“Lihat ini,” Kyuhyun menyodorkan ponsel Taehyung yang terbalut plastik bening. “Dia menulis pesan kepadamu kalau dia akan mati tertembak dan dia benar-benar mati tertembak. Bagaimana bisa? Apa dia bisa meramal?”

“Apa itu mungkin?”

“Oh Tuhan! Itu tentu saja tidak mungkin. Aku pasti sudah gila jika aku menganggap itu benar-benar mungkin. Oke kita lupakan itu, mungkin dia agak sedikit gila dan kudengar beberapa hari sebelumnya dia dilaporkan karena membuat kekacauan di apartemen-nya dan tetangganya menganggapnya gila.”

Yoona mendesah panjang. Siapapun manusia di dunia ini akan menjadi gila jika dia mengetahui kapan akan mati dan bagaimana prosesnya.

Kim Taehyung seorang mahasiswa Tokyo University. Dia dikenal memiliki sifat yang baik dan ramah. Dia tinggal di sebuah apartemen kecil dengan biaya sewa yang murah. Menurut teman-temannya Taehyung sangat pintar, dia mendapatkan beasiswa penuh. Tetapi seminggu yang lalu keanehan terjadi, tiba-tiba saja dia menjadi sensitif dan tidak segan-segan melayangkan tinju ke orang-orang yang menegurnya.

Yoona rasa, itu adalah hari dimana dia mendapatkan mimpi kematiannya sendiri. Keadaannya semakin buruk setiap harinya, dia terlihat seperti orang gila. Terlalu waspada dan ketakutan. Tak jarang dia berbicara sendiri lalu berteriak-teriak mengucapkan kalimat kasar. Taehyung pasti benar-benar tertekan, pikir Yoona.

Kyuhyun memutar video CCTV di layar monitornya. Beberapa menit sebelum Kim Taehyung tertembak, Jeon Jungkook datang dan berdiri di seberang jalan, bersender pada pagar besi rumah orang lain dan Yoona merasa dia benar-benar brengsek. Malah terlihat asik mempertontonkan perampokkan yang terjadi di dalam minimarket.

“Kenapa kau tidak menolong mereka?” tanya Kyuhyun geram, dia menghentikan videonya.

“Aku sudah menelpon polisi. Lagipula, apa yang bisa kulakukan? Bukankah kalian yang datang terlalu terlambat?”

“Kau bisa mencari bantuan orang lain, kan?”

Tubuh Jungkook yang dari tadi bersender di punggung kursi, perlahan bangkit. Tubuhnya maju ke depan, dia meletakkan kedua tangannya di atas meja Kyuhyun. Wajahnya yang tadi sama sekali tidak tertarik kini berubah menjadi sangat serius.

“Kau bodoh, ya? Coba kau pikir. Siapa yang masih terjaga tengah malam seperti itu? Lagi pula, mereka memegang pistol. Jika aku salah ambil tindakkan, bisa saja sekarang aku juga sudah mati.”

Rahang Kyuhyun mengeras. Tangannya juga terkepal. Dia tidak pernah bertemu dengan orang seberengsek ini. Sialan! Memang benar apa yang dia bilang, tetapi Jungkook terlihat sangat tidak perduli. Dia bahkan tidak panik melihat Taehyung tertembak dan dengan santainya dia berjalan pergi menjauhi lokasi kejadian.

Benar-benar sialan bocah ini, kata Kyuhyun dalam hati. Dia tidak mempunyai kata-kata yang bisa membalas ucapan Junkook.

Jungkook mundur beberapa senti, tubuhnya duduk dengan tegak. Masih dengan ekspresi yang sama, pemuda itu kembali melayangkan bom mematikan bagi Kyuhyun. “Hidup ini cuma sekali dan nyawaku hanya ada satu. Dari pada menolong orang lain, aku lebih suka menolong diriku sendiri,” Pandangannya teralih ke arah Yoona, lalu senyum sinis tersungging hanya sekejap. “Aku bukan manusia super yang rela menolong orang lain dan berpikir dirinya telah menjadi pahlawan.” Dan Yoona yakin, kalimat itu ditujukan untuknya.

.

.

.

Kris membolak-balik laporan kematian Kim Taehyung. Keningnya berkerut samar. Dulu Taehyung tinggal di Busan bersama Ibu dan adik perempuannya. Taehyung anak yang pintar dan selalu menjadi juara di sekolahnya. Dia mendapatkan beasiswa di Seoul University, meninggalkan Ibu dan adik perempuannya di Busan. Mereka mempunyai toko manisan kecil dekat pasar yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka.

Sunbae, apa kau sudah memberitahu keluarga korban?” tanya Kris tanpa mengalihkan pandangannya.

Kyuhyun meletakkan dua gelas kardus berisi kopi di meja pantry lalu menarik kursi di samping Kris dan duduk di sana. “Sudah. Keluarga korban akan datang lusa. Memangnya kenapa?”

“Tidak,” Kepalanya terangkat. “Kupikir, keluarganya akan sangat tersiksa.”

“Kudengar dari para tentanggnya dia agak sedikit gila. Kurasa kita tidak perlu mengatakan itu kepada keluarga korban.”

“Tentu saja tidak. Ibunya pasti akan sangat tertekan,” Kris tersenyum lalu menarik gelas kardus berisi kopi yang ada di depannya. “Wah, sunbae. Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau membuatkanku kopi.”

“Aku hanya terkekan dengan bocah sialan itu. Oh, bukankah dia juga bersekolah di Aobe High School?”

“Iya, dia satu tahun di bawah Jessica.”

“Aku tidak mengerti,” Kyuhyun meremas gelas kardus yang kosong itu. “Kenapa semua murid di sekolah itu sangat menakutkan. Sama seperti Yoona-ssi, Jeon Jungkook itu juga sering keluar masuk kantor polisi.”

“Apa maksudmu? Dia pernah terlibat kasus kejahatan?”

“Bukan,” Kyuhyun menggeleng. “Dia sering menjadi saksi mata kematian orang lain sama seperti Yoona-ssi dan sialnya aku yang selalu mengintrogasinya. Ah! Bocah itu memang kurang ajar.”

Tunggu sebentar. Kemarin Yoona mengatakan kepadanya kalau Kim Taehyung juga memiliki kemampuan sama seperti dirinya. Itu artinya, ada orang lain di luar sana yang bisa melihat kapan seseorang akan mati. Bukan hanya Yoona dan Taehyung saja, mungkin lebih banyak dari yang pernah Kris pikirkan dan mereka semua berkeliaran di sekitarnya seolah tidak terjadi apapun. Dan nampaknya Jeon Jungkook salah satunya.

Sekarang Kris mengerti. Taehyung dan Jungkook tidak berteman, tapi mereka saling mengenal dan saling berhubungan. Bukan karena mereka dekat, tetapi saling tahu kalau mereka memiliki kemampuan itu. Mereka saling berhubungan untuk bertukar informasi atau apapun itu. Karena mereka saling membutuhkan.

Tetapi kenapa mereka begitu egois? Kenapa mereka tidak saling menolong. Kenapa mereka membiarkan yang lain mati. Karena ada tumbal, tapi Kris yakin bukan itu. seperti kata Jungkook tadi pagi : Dari pada menolong orang lain, aku lebih suka menolong diriku sendiri.

“Oh Kris, lihat ini,” Kris tersadar dari lamunannya, pandangannya langsung teralih ke jemari Kyuhyun yang menunjuk salah satu paragraf di laporan kematian Kim Taehyung. “Ternyata pria ini sering membantu polisi memecahkan kasus kematian. Wah, dia hebat sekali. Tapi sangat disayangkan dia akhirnya mati tertembak.”

Kalimat yang di ucapkan Kim Taehyung sebelum mati : Aku selalu menolong orang-orang. Tapi kenapa saat takdir menyuruhku mati, tidak ada yang mau menolongku.

Kalimat yang di ucapkan Jeon Jungkook tadi pagi : Dari pada menolong orang lain, aku lebih suka menolong diriku sendiri.

Tidak! Mereka bukannya tidak mau menolong orang lain. Kris yakin itu. Tetapi mereka tidak bisa. Mereka tidak diperbolehkan untuk menolong orang lain. Ada satu variable yang belum terungkap dan Kris harus memberitahu Yoona untuk berhenti menolong siapapun mulai dari sekarang.

 

To Be Continued

.

.

.

Rasanya nggak enak ya kalo ditulis Jeon Jeongguk? Enakkan Jeon Jungkook ya? Hahaha… sumpah nggak penting banget nih pertanyaan.

Berita Buruk : RAM RUSAK!!! Nggak yakin bisa lanjut. Data ilang dan kemungkinan laptop eror. Kalaupun lanjut mungkin lama postnya dan mungkin hanya lanjut di wattpad.

9 thoughts on “[Freelance] In a Dream – Sepuluh

  1. Makin kesini makin seru abis…
    Btw aku membayang wajah volosnya mpii yang lagi ketakutan trus wajah sexy nan innocennya dedeg kookie…aku kok nyess gitu ya…bayangin mereka berdebat ama neng yoona. Jungkook punya kesamaan ama yoona..tpi dia cukup egois atau memang aturan dalam kemampuan mereka memang seperti ini…

  2. Sebenarnya setuju sich sama jungkook…Yg terjadi biarlah terjadi…Tpi klo ngga gitu nanti yoona sama kris ngga ada moment…
    makin penasaran sama variabel yg belum terungkap…

  3. wah sayang bngt thor…pdhl ceritanya semakin menarik.q harap jngn smpai berhenti ff ini y thor…semangattt…semangattt….

  4. Wihh sayang bnget,,
    Jungkook kyanya jga bsa deh,,
    mkin pnasaran..
    dtunggu aja klnjutannya! smoga laptopnya g knapa-knapa 😁
    FIGHTING!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s