[Freelance] In a Dream-Sebelas

in-a-dream_

In a Dream | Hanabi

Im Yoona | Kris Wu | Jessica Jung | Huang Zitao

Chapter | Horror – Mystery – Thriller | PG-17

.

.

.

Oh Sehun menyusuri barisan buku di rak. Sambil menatap jeli setiap pigura yang diletakkan di meja di seberangnya. Kemudian menyeberang ke sisi lain di depan meja, menyentuh bayangan pigura dari jendela geser pendek yang tertembus cahaya lembayung. Senyumnya sedikit mengembang ketika ia meraih pigura dengan foto ‘keluarga bahagia’ berlatarkan pantai.

Kedua orang tua itu tersenyum lebar ke arah kamera, begitu pula dengan bocah laki-laki yang berada di tengah. Suara pintu terbuka membuat Sehun kikuk dengan cepat dia meletakkan pigura di tempatnya semula, tetapi terlambat. Pemuda yang berdiri di ambang pintu sambil membawa dua mug cokelat panas, menangkap basah aksinya. Tetapi pemuda itu tidak begitu perduli, dia mengembangkan senyum dan berjalan santai menuju Sehun.

Dia mengulurkan tangan, menyerahkan salah satu dari mug yang berada digenggamannya. Mata Sehun menyipit, tulisan bordir kecil di bahu kiri atas baju pemuda di depannya, sedikit menarik perhatiannya. Jeon Jungkook.

“Apa kau yang membordir tulisan itu?” tanya Sehun setelah dia mendapatkan mug-nya.

Alis Jungkook terangkat tinggi-tinggi. “Ah!” katanya melirik bahu kirinya. “Ini?” Sehun mengangguk, walau sebenarnya itu tidak perlu. “Ibuku yang melakukannya. Dulu dia ikut kelas menjahit dan dia selalu berpikir baju kesayanganku akan hilang jika kami mencucinya di laundry koin.”

Sehun mengangguk. Di foto, Ibu Jungkook terlihat sangat baik dan lembut. Hangat seperti sarung tangan rajut yang biasanya diberikan sebagai hadiah Natal. Seperti apa yang Sehun pikirkan setelah melihat foto keluarga bahagia itu. Ibunya istimewa.

Lalu matanya menyebar liar. Untuk ukuran apartemen sebesar ini tidak mungkin Jungkook tinggal sendirian. Dia pasti tinggal bersama orang tuanya, tetapi Sehun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka. Apa mereka sedang bekerja? Tetapi rasanya tidak, rumah ini terlalu hening bahkan jika orang tua Jungkook tinggal di sini. Seperti roti Prancis yang mengugah selera, namun hambar rasanya.

“Dimana orang tuamu?” Sekarang sabtu sore. Biasanya sebuah keluarga yang harmonis akan berkumpul di ruang tamu sambil menonton acara TV atau pertandingan fotball. Itu hal yang biasa, walaupun sesungguhnya Sehun tidak pernah melakukan itu. Karena memang, keluarganya tidak seharmonis yang terlihat.

“Mereka sudah meninggal,” kata Jungkook pelan. Tanpa terlihat tersinggung sedikitpun, dia mengembangkan senyum lalu menyeruput cokelat panasnya. “Setahun yang lalu.”

“Oh, maaf. Aku tidak tahu,” ujar Sehun menyesal. Sungguh dan semua tergambar jelas di wajahnya. “Apa penyebabnya?”

Jungkook sedikit terkejut, hanya sebentar lalu tersenyum kecil. “Biasanya orang-orang akan berhenti bertanya.”

“Oh, maaf. Aku hanya penasaran. Apa aku salah bertanya?”

Jungkook menggeleng. “Tidak, aku akan menjawab,” tangannya yang kosong mengambil pigura ‘keluarga bahagia’ yang tadi Sehun genggam. “Ayahku mengalami kecelakaan, terjatuh dari lantai tiga sebuah mall dan mati di tempat. Ibuku yang stress dan tidak bisa menghadapi kenyataan ini memutuskan arteri-nya di hadapanku satu bulan setelahnya.”

Jungkook mengalihkan pandangannya ke Sehun. Melihat teman sekelasnya kikuk, membuat pemuda itu mengembangkan senyum. “Apa rasa penasaranmu sudah terobati?”

“Maaf.”

“Untuk apa?”

Pegangannya pada telinga mug sedikit menguat. “Karena telah bertanya hal bodoh. Harusnya aku diam sama. Aku benar-benar… menyesal.”

“Kau tidak perlu merasa seperti itu. Karena mereka pantas mati,” Tidak mendapatkan respon dari Sehun, Jungkook menoleh dan tersadar ucapannya sedikit gila. Dia terkekeh. “Maksudku, semua orang pasti akan mati. Hanya saja, kita tidak tahu kapan itu. Setelah kupikir-pikir, lebih baik membiarkan orang yang sudah ditakdirkan untuk mati, pergi. Dari pada mengorbankan orang lain yang tidak tahu apapun.”

.

.

.

Langkah Jungkook terhenti di tengah perjalanan. Wajahnya tertekuk dan kilatan kekesalan menyala dalam bola matanya. Sehun yang tidak sadar teman sekelasnya berhenti berjalan–menabrak punggung Jungkook, namun pemuda itu sama sekali tidak terusik. Sehun mengambil satu langkah ke kanan, melihat apa yang membuat Jungkook berhenti berjalan secara mendadak seperti ini.

Seorang gadis SMA menggedor-gedor pintu apartemen sambil berteriak-teriak memanggil nama seseorang = Han Songsaenim. Mata Sehun sedikit memincing. Ah, dia ingat gadis itu. Gadis yang bersama kakak kelas yang menolongnya kemarin, gadis itu juga menanyai namanya. Tapi, apa yang gadis itu lakukan disini?

“Kau ingin membuat keributan malam-malam seperti ini?”

Kepala gadis itu menoleh ke arahnya. Wajahnya yang tadi terlihat sangat panik, agak sedikit mengendur sekarang, matanya berkilat senang ditambah senyuma kecil. “Tolong aku, Jungkook-ssi, Sehun-ssi.”

Wajah Jungkook mengeras. “Menolong? Menolong apa?”

“Ada seseorang yang mau bunuh diri di dalam. Hm… kalian tahu, Han Songsaenim?”

“Ah,” Desah Jungkook sambil mengangguk. Seolah dia baru saja mengingat seseorang yang sukar untuk diingat. “Guru perempuan yang selalu ada di UKS?”

Gadis itu mengangguk senang. “Ya, benar. Kita harus menolong Han Songsaenim.”

“Kenapa?”

“Eh?” gadis itu terlihat bingung.

“Kenapa aku harus menolongnya? Apa untungnya buatku?”

“Apa?” Gadis itu bertanya seakan kalimat yang Jungkook ucapkan terdengar seperti desisan lebah.

“Jika aku menolongnya, aku akan mendapatkan uang? Atau apa?”

“Apa maksudmu, Jungkook-ssi? Menolong seseorang tidak perlu imbalan.”

“Kalau begitu, aku akan rugi,” Jungkook tersenyum manis. Tapi gadis itu tahu, dibalik senyumannya ada sebuah amarah yang membara. “Sudah kubilang, berhentilah bersikap seolah kau adalah manusia super. Berhentilah menolong orang lain.”

“Kenapa aku harus berhenti? Aku suka melakukan ini.”

“Kubilang kau akan rugi dan hal yang lebih buruk akan muncul.”

Mata gadis itu berputar. Dia terlihat lelah dan kesal secara bersamaan. “Kenapa kau begitu egois? Aku tahu kau memiliki kemampuan itu. Kenapa kau tidak menolong orang lain yang membutuhkan kemampuanmu?”

“Egois?” Senyuman di wajah Jungkook memudar, berganti menjadi wajah yang serius. “Siapa yang kau maksud? Aku atau dirimu sendiri? Hanya karena kau menolong dua orang yang kau kenal, kau manjadi sombong dan merasa menjadi pahlawan. Hey, kau menolong mereka hanya untuk memuaskan egomu saja, kan?”

Gadis itu bergeming. “Sebelumnya, apa kau pernah berpikir untuk menolong orang lain? Tidak. Kau sama sekali tidak perduli, sama sepertiku. Dan kau bilang aku egois? Kau itu menyedihkan, hanya karena ada seseorang yang menyebutmu teman, kau menolongnya dan kau juga menolong kakak sepupunya. Ya ampun!”

Jungkook mendesah. Rasanya begitu puas melihat wajah gadis itu perlahan murung. “Dan kau tanya kenapa aku tidak menolong orang lain yang membutuhkan bantuanku? Oke kita ingat lagi. Ada berapa banyak orang di luar sana yang kau biarkan mati? Tiga? Lima? Sepuluh? Lebih?” Alis Jungkook terangkat tinggi-tinggi. “Ah, mungkin lebih dari apa yang kau bayangkan dan kau tidak sadar itu. Kau bahkan membuat dua orang yang tidak mengetahui apapun mati. Dan kau masih menyebutku egois?”

.

.

.

Yoona bergeming sambil mengepal kuat. “Sebelumnya, apa kau pernah berpikir untuk menolong orang lain? Tidak. Kau sama sekali tidak perduli, sama sepertiku. Dan kau bilang aku egois? Kau itu menyedihkan, hanya karena ada seseorang yang menyebutmu teman, kau menolongnya dan kau juga menolong kakak sepupunya. Ya ampun!”

Yoona membenarkan dalam hati. Ia memang menyedihkan. Hanya karena Jessica tersenyum manis padanya, ia luluh seperti anjing diberi makan. Semua memang tentang egonya. Jika orang itu bukan Jessica–gadis yang mau berteman dengannya. Jika itu bukan Detektif Wu–pasti Jessica akan sedih jika sepupunya mati, dengan terpaksa ia ikut menolongnya. Dan jika itu bukan Han Songsaenim–guru baik yang memandang Yoona dengan tatapan hangat. Yoona bersumpah, tidak akan menolong mereka.

Jungkook mendesah. “Dan kau tanya kenapa aku tidak menolong orang lain yang membutuhkan bantuanku? Oke kita ingat lagi. Ada berapa banyak orang di luar sana yang kau biarkan mati? Tiga? Lima? Sepuluh? Lebih?” Alis Kiyoshi terangkat tinggi-tinggi. “Ah, mungkin lebih dari apa yang kau bayangkan dan kau tidak sadar itu. Kau bahkan membuat dua orang yang tidak mengetahui apapun mati. Dan kau masih menyebutku egois?”

Yoona tidak perduli. Mau satu, dua, tiga, bahkan sepuluh orang atau lebih yang akan mati karena ia menolong orang-orang yang Yoona kasihi. Yoona tidak perduli. Kenapa? Karena mereka adalah orang-orang yang memandang Yoona seperti gadis normal pada umumnya dan Yoona tidak mungkin membiarkan mereka pergi. Yoona egois? Benar dan ia tidak perduli. Karena Jungkook tidak pernah merasakan apa yang selama ini ia rasakan.

“Tidak. Bukan kau yang egois. Aku yang egois,” Yoona membenarkan serentetan pertanyaan Jungkook dengan senyuman manis. “Tapi, aku tidak perduli. Yang aku perdulikan adalah orang-orang disekitarku yang menatapku hangat, yang masih menganggapku manusia normal, mereka yang tidak menatapku seperti monster. Mungkin kau tidak pernah merasakan di bully selama satu setengah tahun oleh teman sekelasmu, mungkin kau tidak pernah merasakan tatapan sedih yang orang tuamu layangkan ketika kau keluar dari kantor polisi. Kau tidak pernah merasakannya, bukan?”

“Aku salah menilaimu. Kau bukan hanya menyedihkan, kau bodoh, kolot, dan buta. Baiklah, kita ikuti permainanmu. Tolonglah dia dan teruslah hidup seperti ini, aku ingin melihat sampai kapan kau akan bertahan, mungkin hanya beberapa detik setelah kau mengetahui harga yang kau bayar untuk menolong orang lain.”

“Apa? Apa harga yang harus kubayar?”

Jungkook tersenyum miring, seolah berkata ‘kau penasaran juga?’–bertepatan dengan seorang petugas keamanan dan pengurus apartemen yang datang membawa kunci duplikat dan beberapa alat lainnya. Mereka membuka kunci otomatis lalu menarik pintu keluar, tapi rantai mengikat pintu, bertanda Han Yuri mengunci pintu dari dalam.

“Nyawamu.”

Satu kalimat yang langsung membuat jantung Yoona meloncat. Bayaran yang pantas untuk menolong seseorang adalah nyawa si penolong sendiri. Tanpa sadar tangan kiri Yoona menahan seorang petugas keamanan yang ingin memutuskan rantai dengan tang. Perutnya bergejolak dan ia merasa mual. Jungkook bukannya tidak ingin menolong mereka, dia bukan tidak perduli atau egois, tapi dia tidak bisa dan Yoona baru sadar, ia tidak bisa mengorbankan nyawanya demi orang lain.

“Kenapa?” tanya Jungkook dengan nada mengejek. Tangan kiri Yoona masih mengcengkram kuat pada tangan sang petugas keamanan. “Kau takut?”

Yoona tersenyum miris. “Iya,” perlahan tangannya menjauh lalu jatuh ke sisi paha kirinya. “Aku merasa sangat takut.”

Petugas keamanan memutuskan rantai lalu menerobos masuk. Dalam mimpi Yoona, Han Yuri bunuh diri, meloncat dari balkon apartemennya. Si petugas keamanan pastilah langsung menuju balkon, karena Yoona telah memberitahunya tadi. Dan tiba-tiba dia sangat berharap Han Yuri mati.

“Kenapa? Kau berharap dia mati?”

Yoona menatap lurus ke bola mata hitam itu. Jungkook dan Sehun pastilah berteman baik, karena Jungkook membiarkan Sehun mengetahui pembicaraan mereka saat ini. Yoona mengangguk sambil tersenyum kecut. Mata hitam itu nampak tersenyum dan mata yang satunya lagi terlihat bingung, namun hanya bisa diam.

Samar-samar Yoona mendengar petugas keamanan membujuk Han Yuri untuk turun dan saat itu juga Yoona berdoa dia menolak. Lalu suara teriakkan histeris, menyadarkannya satu hal. Wanita itu tidak selamat. Yoona mendengar percakapan sang petugas keamanan dengan pemilik gedung apartemen di telpon setelah Han Yuri mati. Sang petugas keamanan mengatakan, awalnya wanita itu  menurut dan mau turun. Tapi karena pagar balkon yang licin, dia terpeleset, terjatuh, dan mati.

Kontan bahu Yoona merosot. Kendur dan menjadi tenang. “Kau sangat senang dia mati?”

Yoona mendonggak. Tatapan Jungkook masih sama, dia terlihat tidak suka. “Nampaknya begitu.” Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Yoona, dia merasa begitu senang seseorang yang ia kenal mati.

“Berhentilah merasa kau satu-satunya manusia paling menyedihkan di dunia ini. Karena semua orang yang memiliki kemampuan sama seperti kita juga memiliki masalahnya sendiri.”

 

To Be Continued

12 thoughts on “[Freelance] In a Dream-Sebelas

  1. Kookie-aa..kau berhasil membuatku semakin jtuh dalam seponahmu …author…gimana nasip yoona jungkook? Akankah mereka terus berdebat dingin kayak gini…aku nunggu moment mereka, buat mata si kookie kebuka…

  2. Aku setuju sama jungkook..Yang harus meninggal biarlah meninggal jgn melawan takdir dan mengorbankan orang lain..
    Ngga ada momen kris sama yoonadi chapter ini…

  3. stlh yoona thu kalau dia menyelamatkan nyawa orang imbalanya nyawa sendiri.dia merasa takut…?apa yg akn terdi ma yoona selanjutnya thor,apa yoona akn menceritaknya ama kris.lanjut thor..bikin penasaran aja thor…jngn kelamaan y thor…semangatt…

  4. duh… awl y yoonkris… tp gara2 jungkook ma sehun ak jadi galau… blh jg thor yoona pacaran ma jungkook…(ngarep)
    next thor kljtn y jgn lma2…

  5. Lanjut chinguuu
    Makin penasaran gmn nasib nya yoona dgn kekuatan super nya ditambah dia ketemu org baru yg punya kekuatan sama kaya dia. Semoga happy end yah..
    Hwaiting chinguuu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s