[Freelance] Revenge (Chapter 5)

REVENGE

REVENGE 5

 

Author                        : Chobi
Tittle               :
Revenge
Cast                 :
Im Yoon Ah, Oh Sehun, Kris, Park Jiyeon

Support cast  : Kai, Chanyeol (Temukan yang lainnya)

Genre              : Romance, Action
Rating                         : PG
21
Length            : Chapter

Disclaimer       : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini hanya khayalan semata, GAK NYATA. Banyak terinspirasi dari Kdrama maupun Kmovie. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran.

 

 

TUT! TUT! TUT!

Suara detak jantung pasien mengiringi langkah kaki Yoona. Ia berdiri tepat di samping ayah Sehun. Perlahan tangannya meraih tangan seseorang yang sudah dianggap ayah kandungnya itu.

 

“Maafkan aku Ayah,” ucap Yoona pelan.

 

“Maaf sudah menjengukmu, maaf sudah berani mendekatimu. Maaf untuk semuanya.” Yoona mengelus tangan ayah Sehun dengan lembutnya.

 

“Ayah, aku merindukanmu… Sungguh,” ucap Yoona lagi.

 

SREP!!!

“Eeeemmm,” tiba-tiba Yoona disergap oleh seseorang dibelakangnya. Mulut dan hidungnya ditutup oleh saputangan.

 

Emmmmmm,,” Yoona terus meronta dengan kuat.

 

BUG!!

Yoona menyikut kencang perut orang yang menyergapnya. Ia pun berhasil membuat orang itu menjauh darinya. Yoona melihat ada dua pria berpakaian serba hitam dihadapannya. “Siapa kalian?”

 

SRRTT!!

Bukan menjawab, kedua orang itu justru mengeluarkan pisau lipatnya.

 

Yoona mulai berpikir cepat, ia merasa seperti tidak asing dengan wajah kedua pria itu. Benar, faktanya memang kedua orang itu pernah ia lihat saat di Brazil. Mereka orang-orang sesepuh.

 

SRTTT!!!

Yoona pun mengeluarkan pisau lipat yang ia simpan di balik jaket kulitnya. Seolah ia sudah siap meladeni orang-orang yang pernah satu tim dengannya itu.

 

Kedua pria itu tersenyum. Lalu maju dan langsung menyerang Yoona. Keahlian yang dimiliki Yoona tidak bisa diremehkan, terbukti ia bisa bertanding dengan kedua pria itu. Bahkan dirinya juga masih melindungi ayah Sehun.

 

Yoona menendang kencang kedua pria di depannya sekaligus. Yoona langsung menancapkan pisaunya di salah satu paha pria itu. Lalu melebarkan robekan di pahanya itu.

 

“Akkkhh!!” Pekik pria yang lebih tinggi dari yang satunya.

 

Saat Yoona tengah menangani pria satu. Pria yang lainnya mendekati ayah Sehun, bermaksud menyuntikan racun mematikan langsung ke tubuh ayah Sehun. Yoona dengan cepat berlari ke pria itu dan menariknya kencang.

 

BUG!! PRANG!!

Tubuh pria itu membentur meja makan yang terbuat dari besi. Namun ia langsung berdiri dan ia berhasil melempar Yoona ke tembok.

 

BUG!!

“Akhh,” rintih Yoona.

 

Pria itu kembali mencoba menyuntikkan racun pada ayah Sehun, Yoona kembali mendekat dan membuat dirinya kembali membentur tembok bersama pria itu.

 

Pria yang semakin kesal itu mengarahkan suntikkannya ke arah Yoona. Yoona pun menahan gerakan tangan pria yang memiliki badan lebih besar darinya itu agar tidak menusuk pada tubuhnya. Semakin Yoona merasa tersudut. Namun ia masih bisa menahannya.

 

BUG!!

Yoona menggunakan kakinya untuk menyingkirkan pria itu darinya. Ia pun lantas berdiri dan mengambil pisau di lantai. Yoona berlari dan langsung menancapkan pisau di perut pria itu.

 

SUPP!!

“Emmh,” rintih pria itu lalu jatuh tergelatak di lantai.

 

Yoona menarik pisaunya dan bergegas menekan tombol darurat dan segera pergi meninggalkan kamar.

 

Tidak jauh dari keberadaan Yoona, beberapa dokter dan suster memasuki ruangan ayah Sehun. Yoona tetap berjalan di jalan yang tentunya berlawanan arah. Lantas ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tangannya dari noda darah.

 

Saat hendak keluar dari kamar mandi, Yoona melihat Sehun berlari kencang menuju kamar ayahnya. Ia pun menutup kembali pintu kamar mandi itu.

 

Yoona menyandar dibalik pintu kamar mandi. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit yang begitu luar biasa di perutnya. Ia pun mengelus perutnya. “Mianhae,” ucapnya yang seolah untuk bayinya,

 

“Emmmhh,” rintihan Yoona semakin menjadi. Hal ini menguatkan fakta bahwa sakit yang dirasa luar biasa. Mengingat Yoona sempat beberapa kali terbentur. Sampai akhirnya harus membuat Yoona terduduk lemah di lantai.

 

Sesekali Yoona meremas perutnya, guna mereda sakit yang dirasa. Namun rasa sakit itu tak kunjung hilang. Perlahan Yoona bangun, ia harus meninggalkan rumah sakit lebih dulu sebelum wajahnya yang muncul di CCTV diketahui orang.

 

Yoona berjalan sedikit demi sedikit dengan bantuan tembok di sebelahnya yang ia gunakan untuk bersandar sesekali. Sampai akhirnya ia tiba di parkiran, saat ia mendekati mobilnya. Yoona ditarik oleh seseorang yang berada di dalam mobilnya dan membuatnya duduk di kursi sebelah supir.

 

“Kenapa kau begitu lama? Lihat!” Ucap Kris lalu tak lama melajukan mobilnya.

 

Kris memberitahu Yoona bahwa beberapa penjaga sedang berlarian menuju pintu gerbang agar ditutup supaya tidak ada seorangpun yang bisa keluar. Yoona tidak mempedulikan ucapan Kris, karena dirinya harus berakting menahan sakit yang luar biasa, dan itu sulit.

 

Sepanjang perjalanan Yoona terdiam, keningnya sudah dipenuhi keringat dingin. “Oppa, aku harus ke kamar mandi,” ucap Yoona pelan.

 

Tak lama, Kris menepi di depan toko swalayan, Yoona bergegas keluar dan berjalan sebiasa mungkin. Sesekali ia melihat ke arah belakang, dimana Kris masih melihatnya dari dalam mobil. Yoona masuk ke dalam swalayan. Namun ia keluar lewat pintu lainnya dan segera menaiki taksi.

 

Klinik 24 Jam

23.30

 

Yoona tengah memeriksakan kandungannya. Setelah dokter memberinya suntikan yang kadar dosisnya rendah, keadaan Yoona sedikit membaik. Walau ia tak bisa menyembunyikan wajah pucatnya.

 

“Dimana suamimu?” Tanya dokter yang terbilang berumur itu.

 

“Bekerja,” jawab Yoona singkat.

 

“Lebih baik kau menghubunginya,” saran dokter itu.

 

Yoona tersenyum, bermaksud untuk mengakhiri percakapan itu. “Bagaimana keadaan bayiku, dok?”

 

Dokter itu membalas tersenyum. Ia merasaa Yoona menutupi sesuatu darinya. “Apa kalian sedang bertengkar?”

 

Yoona terdiam. Ia berfikir dokter ini terlalu ingin tahu masalah kehidupannya. “Tak bisakah kau hanya memberitahu keadaan bayiku saja?” Tanya Yoona yang terdengar sinis.

 

“Mianhae, aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu, aku memiliki putri yang seusia denganmu,” jawab dokter itu.

 

“Sebaiknya kau beristirahat total di rumah, keadaan janinmu amat sangat lemah. Bahkan jika kau kelelahan saja sudah bisa menggugurkan kandunganmu,” lanjut dokter itu.

 

Setelah mendengar penjelasan dokter, Yoona bangkit dari tidurnya dan pergi menuju kasir lantas segera pergi keluar klinik itu. Yoona masuk ke dalam taksi.

 

 

Rumah Sakit, Seoul

12.12

 

Pasca penyerangan yang terjadi di kamar ayah Sehun, kini kamar itu dijaga oleh dua anggota AIK. Hal ini bertujuan agar penyerangan yang telah terjadi tidak terulang lagi. Kedua pria yang sempat ditusuk Yoona tidak meninggal. Tusukkan Yoona berada tepat di dekat organ yang membahayakan. Seolah penusuknya adalah seorang yang profesional.

 

Setelah beberapa saat berdiam di kamar Ayahnya, Sehun beranjak pergi ke ruangan CCTV. Saat ia membuka pintu, Jiyeon sudah lebih dulu melihat rekaman yang sedang manayangkan aksi Yoona melawan kedua pria dari tim sesepuh Brazil. Sehun pun menghampiri dan ikut melihatnya.

 

“Dia pandai menyembunyikan keahliannya dihadapanku,” ucap Jiyeon yang menyindir kepandaian Yoona dalam berkelahi. Ia teringat saat dirinya melatih Yoona, tidak sekalipun ia dibuat terkesan dengan keahlian yang dimiliknya.

 

Sehun yang mendengar itu pun tak merespon apapun, seolah ia menyetujui apa yang diucapkan Jiyeon.

 

“Lihat itu!” Jiyeon menunjuk saat Yoona menusuk perut salah satu lawannya.

 

“Jika dia menggeser pisaunya ke kanan sedikit, kupastikan dia mati di tempat,” Jiyeon tersenyum. Senyum yang terlihat menggelikan. Ia menertawakan dirinya sendiri karena sudah tertipu oleh Yoona.

 

Lagi, Sehun tidak berniat menjawab apapun. Satu hal yang ia perhatikan adalah Yoona masih melindungi ayahnya. Hal ini tentu saja membuatnya semakin bingung menghadapi Yoona kedepannya.

 

“Ku akui dia memang pintar mencari tempat sasaran yang dekat dengan organ vital. Ayahmu lah salah satu korbannya,” tanpa menoleh, Jiyeon berbalik pergi meninggalkan Sehun. Hal itu ia lakukan murni untuk menyadarkan Sehun yang sudah terlena jauh oleh rayuan Yoona.

 

Ayah Sehun memang ditembak di daerah yang dekat dengan jantungnya. Yoona melakukan hal itu untuk mengecoh Kris dan Kai. Namun faktanya, Kris maupun Kai tahu bahwa Yoona sudah mefokuskan titik tembak di daerah tersebut.

 

Sehun meminta untuk memutar semua CCTV yang didalamnya berisikan Yoona. Ia baru sadar bahwa dirinya melewati Yoona yang saat itu bersembunyi di kamar mandi yang dilewatinya. Raut wajah Sehun berubah mengkerut saat melihat Yoona keluar kamar mandi dengan berjalan yang seolah menahan sakit dan beberapa kali bersandar ke tembok.

 

“Mwoya,” ucap Sehun pelan.

 

Sehun terus melihat CCTV sampai Yoona akhirnya pergi dari rumah sakit. Sehun memang tidak melihat dengan jelas sosok pria yang menarik Yoona. Namun ia yakin sosok itu adalah Kris.

 

Setelah selesai melihat CCTV, Sehun berjalan di koridor rumah sakit sembari mengingat percakapannya dengan Kris ditelpon. Dia amat sangat bingung dengan permohonan Kris kepadanya. Saat tengah berjalan, Sehun melihat Jiyeon tengah duduk di bangku taman sembari meminum yoghurt kesukaannya. Sehun pun menghampiri dan diam-diam duduk di samping Jiyeon.

 

Jiyeon menyadari kehadiran seseorang. Ia membuka matanya sebentar untuk melihat Sehun dan menutup matanya kembali.

 

“Aku lelah, kembali besok jika ingin berdebat denganku!” Ucap Jiyeon lalu menyesap yoghurtnya.

 

“Nado,” jawab Sehun. Ia mengambil yoghurt yang ada di tangan Jiyeon lalu menghabiskannya.

 

Setelah menelan habis yoghurt milik Jiyeon, Sehun ikut memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ia duduki. Beberapa kali ia menghirup udara untuk mengatasi rasa sesak di dadanya yang tak kunjung ia temui obatnya.

 

“Aku akan membantu Kris,” ucap Sehun secara tiba-tiba.

 

“Kubilang aku tidak ingin berdebat,” jawab Jiyeon.

 

“Jika kau mau bergabung, kau akan lebih mudah menangkap sesepuh, karena mereka tahu segalanya,” tambah Sehun. Dalam percakapan yang ia lakukan bersama Kris siang tadi. Ia mendapati bahwa kini Kris sudah tidak lagi di pihak sesepuh, Kris ingin agar tim AIK membantu mereka untuk menangkap para sesepuh dan mengakhiri semuanya.

 

Jiyeon membuka matanya perlahan. Nama Kris ampuh membuatnya tertarik mengikuti percakapan. Di sisi lain, Sehun pun membuka matanya. Kini mereka saling pandang satu sama lain.

 

“Kris dan timnya akan menyerahkan diri setelah berhasil menangkap sesepuh,” lanjut Sehun dengan tatapan seriusnya.

 

“Kau mempercayai setiap ucapannya,” tanya Jiyeon.

 

Sehun menggeleng. “Tentu saja tidak. Tapi kita masih bisa mengambil keuntungan dari mereka. Karena mereka tahu banyak tentang teroris Brazil, karena mereka lah pelakunya dulu.” Jawab Sehun mencoba meyakinkan Jiyeon.

 

Pandangan Jiyeon berpaling ke arah depan. “Sebaliknya, bagaimana jika ternyata mereka menjebak kita?”

 

Sehun spontan menggeleng, ia yakin Kris tidak akan melakukannya. Mengingat semua tim Kris yang mati di TKP oleh orang suruhan para sesepuh.

 

“Karena mereka termasuk dirimu ingin melindungi Im Yoona! Aku benar?” Jiyeon melirik tajam ke arah Sehun. Setelah beberapa hari disandera oleh Kris, banyak hal yang ia ketahui tentang tim Kris, salah satunya adalah fakta bahwa Kris mencintai Yoona. Dan semua terasa masuk akal jika Kris meminta bantuan timnya untuk memberantas teroris Brazil, karena selama teroris itu masih berkeliaran, nyawa wanita yang dicintai Kris masih sangat terancam.

 

Sehun gantian memalingkan wajahnya. Benar saja yang diucapkan oleh Jiyeon. Saat Kris meminta bantuannya pun alasan utamanya adalah keselamatan Yoona. “Semua terserah padamu, sunbae! Aku akan tetap membantunya” Jawab Sehun yang tidak sama sekali menjawab pertanyaan Jiyeon sebelumnya.

 

Jiyeon terdiam cukup lama. Wajah Jiyeon berubah menjadi serius. Ia beranjak bangkit dan hendak meninggalkan Sehun tanpa menjawab tawaran Sehun.

 

Sehun mencoba menghentikan langkah Jiyeon dengan caranya. “Jangan berharap apapun dariku, noona!” Ucapan Sehun ampuh menghentikan langkah kaki Jiyeon. Jika Sehun sudah memanggil dirinya dengan kata ‘noona’, maka pembahasan pembicaraan sudah beralih ke ranah pribadi.

 

“Dan, jangan berikan apapun yang kau punya padaku! Apapun!” lanjut Sehun.

 

“Aku hanya pria brengsek yang tidak berhak mendapatkan apapun darimu!  Termasuk cinta didalamnya!” ucap Sehun. Ia lantas bangkit dari duduknya dan beberapa kali menepuk pundak Jiyeon guna menguatkan hati Jiyeon yang saat itu tengah tercobak cabik. Sehun tahu bahwa Jiyeon masih berharap padanya. Namun faktanya ia sama sekali sudah tidak menaruh rasa cinta untuk Jiyeon. Lalu dengan cara inilah Sehun merasa dapat menyelesaikan semuanya. Ya, lain kata ia menolak perasaan Jiyeon dengan halus.

 

“Apa yang membuatmu begitu mencintainya? Setelah apa yang dia lakukan terhadap ayahmu, tidakah merubah perasaanmu padanya sedikit pun?” Tanya Jiyeon dengan suara yang terbilang pelan dan lembut.

 

“Anni,” jawab Sehun cepat.

 

“Aku yang begitu memperhatikanmu dan ayahmu, tidakah kau sedikit memandang ke arahku?” Tanya Jiyeon lagi. Hatinya benar-benar teriris saat itu. Ia merasa masih memiliki harapan untuk mendapatkan Sehun kembali. Namun faktanya sungguh menyayat hatinya.

 

“Apa aku harus menjadi wanita brengsek agar pantas bersanding denganmu?” Tanya Jiyeon lalu berbalik badan menghadap Sehun.

 

“Noona, aku mengenal dirimu. Tidak akan ada yang kau dapatkan jika kau melakukan hal itu,” jawab Sehun.

 

Jiyeon mencoba kembali berfikir jernih. Ia tahu hati Sehun benar-benar sudah tertutup untuknya. Apapun yang akan ia lakukan tak kan pernah ternilai di mata Sehun. “Aku menyerah Sehun-ah. Aku pergi,” Jiyeon melangkah meninggalkan Sehun.

 

“Jangan coba halangi aku, bagaimanapun caranya aku akan membantunya!” Ucap Sehun.

 

Kembali Jiyeon menghentikan langkahnya. “Jika kau memilih untuk tidak bersamanya, aku akan membantumu! Pilih siapa pun wanita yang kau inginkan! Tapi jangan dia! Maka aku akan membantumu!” Jiyeon benar-benar melangkah pergi meninggalkan Sehun. Dari lubuk hati terdalam, Jiyeon masih sangat memperdulikan Sehun, ia tak ingin Sehun merasakan sakit berkali-kali tiap teringat Yoona lah penembak ayahnya.

 

“Aku akan tetap bersamanya,” teriak Sehun. Ia hanya tidak ingin Jiyeon terus menerus mengaharapkan dirinya.

 

Namun saat Jiyeon jauh berada didepannya, Sehun menatap nanar punggung Jiyeon. “Sebelum kau meminta. Aku sudah memutuskan untuk tidak kembali dengannya,” ucap Sehun pelan.

 

 

Apartemen Yoona

02.00 pagi

 

Sudah lama Yoona tidak menjejakan kakinya di apartemennya. Setelah pergi ke klinik, Yoona memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Ia juga sudah mengabarkan keberadaannya pada Kris dan meminta Kris untuk tidak menemaninya. Ia butuh waktu sendiri, terlebih kini ia memiliki buah hati dari Sehun yang tidak tahu bagaimana masa depannya. Ia belum memikirkan jauh kesana.

 

TUT TUT TUT TUT

Yoona memasukan kode sandi apartemennya. Setelah itu masuklah ia ke dalam. Pertama yang ia perhatikan adalah apartemennya dalam keadaan rapih, lalu ia masuk ke dalam kamar pun sama. Yoona yakin bahwa Sehun sesekali datang ke apartemennya.

 

Setelah beberapa saat Yoona mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur, ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari bau amis darah musuhnya yang sesekali masih tercium.

 

Saat Yoona tengah sibuk di dalam kamar mandi. Pintu apartemennya seperti sedang ditekan dan akan dimasuki oleh seseorang.

 

TUT TUT TUT

Masuklah Sehun ke dalam apartemen tanpa tahu bahwa sang empunya ada di dalamnya. Sehun pergi ke dapur dan membuka kulkas untuk menegak air mineral, lalu kemudian ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar Yoona.

 

DEG!!

Langkahnya terhenti saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Matanya pun langsung tertuju pada jaket kulit milik Yoona yang ada di tempat tidur.

 

“Kau kembali,” ucap Sehun lirih dan masih tetap tak bergeming di depan pintu kamar.

 

CEKLEK!!

Yoona akhirnya selesai mandi, ia keluar dengan masih berbalutkan handuk pada tubuhnya dan rambutnya dibiarkan terurai dengan keadaan sedikit masih basah.

 

Setelah Yoona menutup pintu kamar mandi, ia pun berbalik. Saat itu juga langkahnya terhenti dan diam seperti patung mendapati Sehun berada di depan matanya tengah memandangnya.

 

Diam dan saling tatap bergulir cukup lama. Semua kenangan indah antara Sehun dan Yoona bergulir indah dan rapih. Dari awal pertemuan yang hanya menyajikan tawa dan canda. Bahkan tidak ada yang menduga bahwa semua keindahan itu akan berakhir seperti ini.

 

Puas memandangi wanita yang masih bersarang di hatinya ini. Sehun memutuskan untuk memulai pembicaraan.

 

“Aku merindukanmu,” ucap Sehun.

 

Sepenggal kata yang selalu ia ucapkan dalam hati dan ia tahan untuk tidak mengucapkannya langsung kepada Yoona. Bagaimanapun ia harus menahannya. Tapi untuk malam itu, rasanya teramat sangat berat. Bahkan sangat sulit. Namun setelah ia mengucapkan kalimat itu, Sehun merasa sudah menemukan obat untuk kesesakan hatinya.

 

Mendengar kata rindu yang diucapkan Sehun, tidak membuat Yoona berhenti memandang pria yang dicintainya itu.

 

“Aku sudah memutuskan untuk tidak kembali padamu,” tambah Sehun. Saat itu ia berjalan satu langkah mendekati Yoona.

 

“Tapi malam ini, biarkan aku menjadi anak yang jahat pada ayahku,” ucap Sehun dan kembali berjalan satu langkah.

 

“Biarkan aku menjadi anggota yang tidak berguna di dalam timku,” ucapnya lagi dan semakin mendekatkan dirinya pada Yoona.

 

“Karena aku tidak bisa lagi menahannya,” mata Sehun terlihat menahan air mata yang mau turun membasahi pipinya. Sebelumnya tidak pernah ia mempelihatkan sisi lemahnya ini pada Yoona, namun malam itu rasanya sulit. Sulit sekali menahan rasa sakit yang di deritanya.

 

“Saranghae,” ucap Sehun berbarengan dengan sebulir air mata yang turun membasahi pipinya.

 

Yoona yang sudah tak berada jauh dari Sehun bergegas lari mendekati Sehun dan memeluknya sangat erat. Ia tidak bisa menahan tangisnya. Sama halnya dengan Sehun, ia pun menahan perasaan cintanya, sayangnya, rindunya selama ini.

 

Saat kedua tangan Yoona merekat pada tubuh Sehun. Sehun merasa semua bebannya selama ini hilang sudah, ia kembali sehat. Seperti ia kembali menemukan kebahagiannya. Sehun pun balas memeluk erat tubuh Yoona.

 

“Aku merindukanmu,” ucap Sehun disela-sela pelukannya.

 

Yoona hanya diam dan mengangguk berkali-kali. Tidak ada kalimat yang dapat mengungkapkan perasaannya saat itu. Ia hanya ingin menikmati malam itu bersama Sehun dalam diam.

 

Sehun dan Yoona merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Yoona memunggungi Sehun dengan tangan Sehun yang melingkar erat di tubuh Yoona. Kepala Yoona pun berada di dalam rengkuhan tubuh Sehun. Suatu hal yang sangat ia butuhkan. Kemanjaan yang biasa dialami wanita hamil.

 

“Untuk malam ini jangan membicarakan tentang ayahku, Kris, atau apapun,” ucap Sehun berbisik di telinga Yoona. Yang di respon Yoona dengan mengangguk cepat.

 

Yoona menggenggam tangan Sehun, lalu ia arahkan untuk mengelus perutnya dengan lembut.

 

“Wae?” Tanya Sehun.

 

“Appo,” jawabnya singkat. Yoona hanya ingin Sehun mengelus perutnya tanpa bermaksud memberitahukan keberadaan bayinya. Karena ia berpikir momen romantis itu hanya akan terjadi malam itu. Seterusnya ia tidak akan tahu.

 

Sehun teringat saat ia melihat rekaman cctv, Yoona berjalan seolah menahan sakit di perutnya.

 

“Kau baik-baik saja?” Tanya Sehun.

 

“Tetap seperti ini, maka aku akan baik-baik saja,” jawab Yoona.

 

Sehun tersenyum dan mengangguk. Sesekali Sehun mencium helaian rambut Yoona. Menghirup aroma tubuh Yoona yang sudah lama tidak ia rasakan.

 

Tak lama berselang, Yoona berbalik badan dan memegang salah satu pipi Sehun. Menatap mata Sehun dan tersenyum.

 

Sehun balas tersenyum dan menggenggam tangan Yoona yang sedang membelai pipinya.

 

“Benarkah hanya malam ini?” Tiba-tiba Yoona bertanya.

 

Sehun Memang sudah memutuskan untuk tidak kembali sebelumnya. Namun saat ia bersama dengan Yoona seperti malam itu, rasanya ia ingin menarik semua kata-katanya untuk tidak kembali pada Yoona.

 

Sehun meresponnya dengan menarik lembut kepala Yoona ke arahnya dan mencium bibir Yoona cukup lama. Lalu ia menjauhkan dirinya lagi.

 

“Malam ini akan terasa panjang,” ucap Sehun sembari tersenyum.

 

Yoona pun ikut tersenyum dan mengangguk. Sehun dan Yoona berbarengan mendekatkan wajah mereka, dan kembali saling menempelkan bibir mereka. Sehun mencium Yoona semakin dalam dan dalam. Seolah memberitahukan kepada Yoona rasa cintanya itu. Yoona pun menarik kepala Sehun agar semakin mendekat. Seolah tidak rela Sehun pergi jauh lagi darinya.

 

 

Markas Kris

 

Di waktu yang bersamaan dengan persaan yang jauh berbeda. Kris tengah memandang kosong ke arah luar jendela dari kamarnya. Benar Yoona sudah memilihnya, tapi rasanya tidak ada yang berubah saat Yoona masih bersama Sehun. Kris mersa hampa dan kosong. Susah sekali rasanya bisa bersama Yoona dalam semalam dan tidak ada rasa canggung ataupun pertengkaran.

 

“Aku merindukanmu. Kau memilihku tapi kau tidak didekatku. Appo,” ucap Kris lirih dalam hati.

 

 

Apartemen Yoona

07.00

 

Pagi pun tiba…

Disaat Sehun masih terlelap tidur, Yoona lebih dulu membuka matanya. Yang ia lihat hanyalah wajah Sehun yang terlihat damai dalam tidurnya. Ia mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Sehun.

 

“Emmh,” Sehun menggulat. Ia justru semakin merapatkan lagi tubuhnya dalam dekapan Yoona. Seperti kucing yang merindukan induknya.

 

Yoona tersenyum. Sehun yang manja saat sedang bersamanya sudah kembali. Yoona pun membelai mesra puncak kepala Sehun.

 

Sehun semakin mendekatkan kepalanya ke dada Yoona, seolah tak ingin menjauh darinya. Tidak peduli malam yang ia bilang sebagai malam terakhir bersama Yoona sudah berakhir. Kedua tangannya ia lingkarkan pada tubuh Yoona semakin erat.

 

“Sehun-ah,” Yoona mencoba membangunkan Sehun. Tidak ada respon yang berarti. Ia takut jika tiba-tiba saja Kris datang dan melihat keadaannya saat itu. Pasti masalah akan semakin runyam.

 

“Sehun-ah ireona,” pinta Yoona lagi.

 

“Biarkan tetap seperti ini 10 menit lagi,” jawab Sehun pelan.

 

Sepuluh menit yang diminta Sehun pun berakhir. Sehun menepati ucapannya. Perlahan, ia menarik tangannya dari tubuh Yoona. Ia beranjak dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

 

Yoona yang melihat Sehun pergi tanpa sepatah kata pun hanya bisa diam. Benar-benar hanya satu malam yang indah pikirnya.

 

Seleng 20 menit, Sehun keluar dengan bagian tubuh bawahnya terbalut handuk putih. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.

 

Yoona beranjak dari tempat tidurnya dengan tubuh yang masih berbalut selimut. Ia hendak pergi ke kamar mandi.

 

“Aku akan melupakan apa yang sudah terjadi pada Ayahku, jadi tetaplah bersamaku,” ucap Sehun tiba-tiba. Ternyata 10 menit yang ia minta sebelumnya digunakan untuk berpikir terkait hal itu yang sudah ia rasakan dari semalam.

 

Yoona menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Sehun. “Shireo,” jawab Yoona singkat lalu masuklah ia kemar mandi. Ia berfikir tidak akan mudah baginya untuk bertemu lagi dengan ayah Sehun saat sadar nanti. Sulit untuknya maupun untuk Sehun.

 

Sehun menutup lemari pakaiannya lalu ia pergi keluar kamar. Saat itu ia sudah mengenakan celana bahan warna hitam dan kaos oblong warna putih. Sedangkan jasnya ia pegang di tangan kanannya.

 

Saat Yoona sudah selesai dengan aktivitas di kamar mandinya, ia pun keluar. Yoona memakai celana panjang dan kaos oblong putih. Lalu mantel hitam panjangnya ia pegang di tangannya lalu pergi keluar kamar.

 

Kembali, langkah kaki Yoona terhenti melihat Sehun tengah berdiri di sampingnya dengan menyandar pada tembok. “Aku ingin kau kembali padaku,” ucap Sehun lagi.

 

Yoona mengabaikan ucapan Sehun dan berjalan menuju pintu keluar. Sehun pun menarik pergelangan tangan Yoona. “Apa begitu sulit untukmu?”

 

Yoona terdiam sesaat. “Ya, sulit untukku bertemu lagi dengan ayahmu,” jawab Yoona.

 

“Kau belum mencobanya, aku tidak akan memberitahu keadaan yang sebenarnya pada Ayah,” ucap Sehun lagi.

 

“Itu akan lebih menyikasaku,” jawab Yoona. Yoona harus menyimpan kebohongan selamanya di depan ayah Sehun. Bukan lagi perkara mudah.

 

“Aku akan bekerjasama dengan Kris untuk melindungimu,” ucap Sehun membocorkan rencananya dengan Kris.

 

“Mwo? Apa maksudmu?” Kaget Yoona.

 

“Kris sangat mengkhawatirkanmu, dia tidak bisa menangani tim sesepuh hanya dengan anggota yang sedikit tersisa, dia ingin aku dan timku membantunya,” jawab Sehun.

 

“Lalu?” Todong Yoona. Ia yakin akan ada imbalan besar dibalik pertolongannya itu.

 

“Kris akan menyerahkan diri,” jawab Sehun.

 

“Andwae,” Yoona menggeleng.

 

“Wae?” Todong Sehun.

 

“Tidak bisakah kalian hanya membebaskannya? Kris sudah membantu kalian, melawan sesepuh sama saja mengorbankan nyawanya,” terang Yoona.

 

Perlahan, genggaman tangan Sehun pada pergelangan tangan Yoona terlepas. Sedikit rasa kecewa dirasakan Sehun.

 

“Kau mencintainya?” Tanya Sehun dengan tatapan dalam ke arah Yoona. Ia teringat foto-foto yang ia temukan di kamar Kris dulu.

 

Yoona mengerutkan keningnya. “Pertanyaan bodoh Oh Sehun!” Jawab tegas Yoona.

 

“Lalu? Apa yang membuatmu berat melepaskannya?” Tanya Sehun.

 

“Berat katamu?” Yoona tampak menunjukan kekesalannya. Bagaimana mungkin ia merelakan kakak tersayangnya di penjara dan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya.

 

“Aku hidup lebih lama bersamanya. Dia yang menemaniku saat aku kehilangan kedua orangtuaku, dia ada bersamaku lebih lama dibandingkan dirimu Oh Sehun!!” ucap Yoona penuh penekanan.

 

Sehun menahan rasa kecewanya saat Yoona mencoba menbandingkannya dengan Kris. Pria yang membuat hubungannya dengan Yoona menjadi rumit seperti ini. “Bahkan kau membandingkan aku dengannya?”

 

“Eoh,” jawab singkat Yoona.

 

“Tidakah kau sadari kau lebih beruntung darinya? Kenapa kau masih saja terlihat menyedihkan dibandingkan dia?” Ucapan Yoona ampuh menusuk hati Sehun. Ucapan yang dikeluarkan dengan suara yang pelan, tegas namun menusuk. Yoona merasa memang Sehun lebih beruntung dari Kris.

 

Faktanya, Kris melihat bagaimana kedua orangtuanya tertembak di depan matanya dan langsung meninggal di tempat. Bahkan karena hal itulah Kris menjadi orang yang pendendam, terlebih pada orang yang sudah menembak kedua orangtuanya. Lalu, Yoona lebih memilih Sehun dibandingkan dengan Kris yang sudah ada untuk Yoona sejak kecil. Sehun masih memiliki Ayah tapi Kris tidak. Kris hidup dalam pengejaran pembunuh, Sehun tidak.

 

Sehun menghela nafasnya. Ucapan Yoona sangat menggores luka yang belum sembuh benar. Walau bagaimanapun dirinya tidak ingin dibandingkan dengan Kris. “Kumohon jangan bertengkar lagi,” pinta Sehun.

 

“Kau yang memulainya!” Jawab Yoona.

 

“Aku atau Kris, kita bicarakan nanti setelah selesai melumpuhkan tim sesepuh,” ucap Sehun.

 

“Anni! Kau bilang tidak akan kembali padaku Oh Sehun!! Tepati ucapanmu!” Yoona berbalik pergi dan meninggalkan apartemennya.

 

Sehun menatap nanar kepergian Yoona. “Aku akan kembali padamu, bagaimanapun caranya!” Ucapnya pelan.

 

Sedangkan Yoona yang sudah berada di luar apartemennya menghela nafasnya. “Kau akan mati jika terus berada di sampingku, Sehun-ah.. Biarkan kami yang menyelesaikan semuanya,” ucap Yoona dalam hati.

 

 

Markas Tim Kris

08.35

 

Yoona memasuki rumah yang sudah dijadikan Kris sebagai markas dengan langkah seribu. Ia melihat Kris tengah sibuk rapat dengan Kai, Sooyoung dan Chanyeol. Tak peduli dengan hal itu, ia langsung menghampiri Kris.

 

“Ada yang harus kubicarakan denganmu!” Ucap Yoona memegang bahu Kris.

 

“Kau dari mana saja? Tidak bisakah kau tidak membuatnya khawatir sekali saja?” Tanya Kai dengan bahasa tubuh tenangnya.

 

Yoona merespon ucapan Kai dengan sekilas menatapnya. Chanyeol dan Sooyoung lebih memilih diam.

 

“Bicaralah!” Ucap Kris menanggapi permintaan Yoona sebelumnya.

 

“Apa maksudmu ingin bekerjasama dengan Sehun?” Tanya Yoona to the point.

 

“NE?” Kaget Sooyoung.

 

Kai menoleh ke arah Kris. “Hyung.”

 

Chanyeol menampilkan respon biasa saja, ia sudah tahu sebelumnya. Karena Kris juga lah yang meminta sara padanya.

 

“Kau tahu?” Tanya Kai pada Chanyeol. Chanyeol hanya mengangguk singkat.

 

“Apa yang kau serahkan padanya hingga mereka mau membantumu?” Tanya Sooyong pada Kris.

 

“Hidup membusuk di penjara memang lebih baik, dibandingkan dengan hidup yang selalu dihantui kematian,” jawab Kris. Ia bangun dari kursinya dan melenggang pergi masuk ke kamarnya. Kris tahu ada yang ingin dibicarakan Yoona dengannya.

 

“Itu bukan dirimu Kris!” Jawab Sooyoung. Kris bukan orang yang akan menyerah begitu saja, terlebih untuk menyerahkan diri, itu bukanlah Kris yang ia kenal. Ia tahu Kris pasti punya tujuan lain.

 

Yoona pun mengikuti kepergian Kris.

 

Setelah berada di dalam kamar. Kris memilih untuk berdiri di dekat jendela dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

 

Yoona berjalan mendekati Kris dan berdiri tepat di hadapan Kris. “Kau akan menyesalinya!!”

 

Mata Kris tertuju pada Yoona. “Wae? Apa yang akan membuatku menyesal?” Tanya Kris sembari melangkah 1 langkah mendorong Yoona menempel ke kaca besar dibelakangnya.

 

Yoona terdiam.

 

“Kau sudah memilihku! Apa yang harus aku takutkan?” Lagi, Kris semakin menyudutkan Yoona.

 

Sedikit demi sedikit Kris mendekatkan wajahnya pada Yoona. Bibir Kris semakin mendekati bibir Yoona. Namun saat sudah berjarak semakin dekat, Kris justru menarik tubuhnya menjauh dari Yoona.

 

Yoona masih memandangnya. “Jangan libatkan dia!” Pinta Yoona.

 

“Wae?” Tanya Kris.

 

“Ku mohon!” Jawab Yoona.

 

“Kau memilih kita mati bersama?” Tanya Kris lagi.

 

Yoona mengangguk.

 

“Baiklah,” jawab Kris. Ia beranjak pergi.

 

“Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku,” Yoona mencoba meyakinkan Kris.

 

“Aku juga bersungguh-sungguh tidak akan membiarkanmu mati! Mungkin kau yang akan melihatku mati!” Kris meninggalkan kamarnya.

 

“Oppa,” ucao Yoona pelan. Ia menutup matanya sekilas, lalu ia merebahkan tubuhnya di atas tempay tidur milik Kris. “Eomma, tidak bisakah kau membawaku pergi saat ini juga?” Ucap Yoona dalam hati.

 

 

 

 

Satu bulan berlalu…

 

Setelah keributan yang dialami Sehun dan Yoona, mereka sudah tidak pernah saling bertemu. Berbeda dengan Sehun dan Jiyeon yang akhirnya memilih untuk bekerjasama dan mereka seringkali bertemu dengan Kris untuk membahas  strategi penangkapan sesepuh.

 

Terbukti, setelah sebulan mereka bekerjasama, beberapa lahan uang  dari usaha narkoba milik sesepuh di Brazil berhasil dilumpuhkan oleh tim AIK berkat Kris yang membocorkan rahasia besar tersebut. Hal ini tentu saja membuat sesepuh berada di kerugian yang sangat besar.

 

 

Markas TIM AIK

09.00

 

Jiyeon yang berada di kantornya sedang sibuk menelpon orang kepercayaannya yang sekaligus memimpin penangkapan sesepuh di Brazil.

 

“Arraseo,” Jiyeon mematikan panggilan telponnya.

 

Ia pun keluar dari ruangannya dan menghampiri Sehun yang sedang sibuk melihat data tersangka yang dikirimkan tim dari Brazil untuknya.

 

“Kajja!” Ajak Jiyeon sembari memegang pundak Sehun.

 

Sehun menoleh. “Kirim aku ke Brazil,” ucap Sehun menanggapi ucapan Jiyeon.

 

Jiyeon menghela nafasnya. “Aku tahu kau sangat ingin mengakhiri semuanya! Tapi jangan gegabah Oh Sehun! Kau pergi, pertahan disini akan lemah!” Jawab Sehun.

 

“Kau bisa mengandalkan Kris,” jawab Sehun.

 

“Ku tunggu kau di mobil,” Jiyeon pergi tanpa berniat menjawab permintaan Sehun. Jiyeon sudah memikirkan semuanya, mengapa ia tak mengirim dirinya maupun Sehun ke Brazil, karena jika sesepuh datang ke Korea, maka pertahanan akan lemah.

 

Jiyeon duduk di kursi penumpang di depan. Tak lama Sehun datang dan langsung mengisi kursi supir.

 

“Kris mengajak kita bertemu di markasnya,” ucap Jiyeon yang tidak menolehkan wajahnya ke arah Sehun.

 

“Pembahasan kita akan semakin mendalam, lebih baik berbicara di tempat yang aman,” tambah Jiyeon.

 

Sehun berhasil menutupi wajah kagetnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Yoona, apa kali ini ia akan bertemu kembali di markas itu.

 

Jiyeon membacakan alamat yang ia dapat dari Kris. Sehun yang mengetahui alamat rumah itu langsung tancap gas meninggalkan markasnya.

 

 

Bandara Incheon

09.30

 

Sesosok pria berkulit susu berjalan sembari membawa tas jinjing di tangannya. Tak lama ia mengeluarkan ponsel lalu menelpon seseorang.

 

Setelah sampai di luar bandara, sebuah mobil hitam datang untuk menjemputnya. Luhan, kembali datang ke Korea dengan status terbarunya. Kini ia memliki kedudukan tinggi yang sebanding dengan Kris dulu. Ia memiliki misi untuk membunuh Kris dan kawan-kawannya karena sudah mengusik usaha yang sudah dijalankan sesepuh berpuluh-puluh tahun yang lalu. Luhan memiliki markas dan timnya tersendiri. Lebih dari 100 orang kepercayaannya tersebar di Korea.

 

Di dalam mobil, Luhan memandang ke arah luar jendela. “Eotte?” Tanyanya pada pria yang ada disebelahnya. Diketahui pria itu bernama Zega, pria asal Brazil itu merupakan pengawal Luhan.

 

“Kami sudah berhasil menemukan markasnya,” ucap Zega yang tak sedikitpun meninggalkan wajah seriusnya.

 

“Lalu?” Tanya Luhan yang sesekali melihat jam tangannya.

 

“Gadis itu, sudah ada di genggaman,” tambah Zega.

 

Luhan menoleh dan tersenyum licik. “Umpan yang sangat menarik. Lebih cepat lebih baik bukan?” Ucap Luhan menoleh ke arah Zega dengan lirikan martanya yang sulit diartikan.

 

“Ya!” Jawab Zega.

 

 

 

Markas Kris

09.50

 

Yoona baru saja keluar dari kamarnya. Akhir-akhir ini dirinya jarang keluar dan pakain yang ia kenakan kini banya yang ukuran besar. Tentu saja hal itu ia lakukan untuk menutupi perutnya yang akan sedikit terlihat membesar. Kali ini ia hendak pergi ke luar. Sudah cukup ia menahan dirinya untuk tidak keluar. Namun kali ini dirinya sudah penat, pun dirinya harus memikirkan bagaimana cara agar semua permasalahan cepat selesai dan ia bisa pergi jauh dari Sehun dan memberitahu keadaan yang sesungguhnya pada Kris.

 

Yoona pergi dengan mobilnya tanpa diketahui oleh siapapun, karena Kris sedang berada di kamar mandi, Kai dan Chanyeol sibuk dengan laptopnya di ruangan lain, sedangkan Sooyoung sedang menelpon beberapa bawahannya yang ada di Busan.

 

Sepuluh menit setelah kepergian Yoona, mobil Sehun datang dan berhenti di halaman markas Kris. Tak lama, Chanyeol keluar untuk menyambut kedatangan mereka.

 

Melihat kedatangan Chanyeol, Sehun dan Jiyeon saling pandang. Namun tak berapa lama, mereka mengikuti langkah Chanyeol yang mulai memasuki markas.

 

“Kalian bisa tunggu di sini, aku akan memanggil Kris Hyung,” ucap Chanyeol dan bergegas menaiki tangga untuk menuju kamar Kris.

 

Kai yang masih sibuk dengan laptopnya sesekali menoleh ke arah Sehun  dan Jiyeon. Namun tak lama, ia kembali fokus dengan laptopnya.

 

Kris keluar dari kamarnya, ia membawa 3 botol minuman soda di tangannya dan meletakannya di meja. Kecanggungan diantara mereka tidak bisa ditutupi, pasalnya Sehun dan Jiyeon baru pertamakalinya datang ke markas itu.

 

“Mereka akan bergerak lebih cepat saat tersudut,” ucap Kris.

 

Jiyeon mengangguk, sedangkan Sehun hanya menunduk.

 

“Kemungkinan mereka sudah mengirim beberapa orang untuk mengawasi kita,” tambah Kris dan menegak sedikit minuman bersodanya.

 

“Chanyeol-ah, panggil Yoona ke bawah,” pinta Kris pada Chanyeol.

 

Mendengar nama Yoona. Sehun lantas mengangkat kepalanya memandang Kris, begitu pun sebaliknya.

 

“Kurasa dia pergi, dia tidak ada di kamarnya,” ucap Sooyoung yang mulai bergabung dengan Kris.

 

“Aku sudah menghubungi mereka agar segera ke tempat ini,” tambah Sooyoung. Ia baru saja menghubungi anak buahnya yang berada di Busan untuk merapat ke markas Kris.

 

“Kemana perginya?” Tanya Kris.

 

“Ahh, benar. Mobil tidak ada di halaman,” jawab Chanyeol.

 

Kai menutup laptopnya, lalu berbalik arah menghadap Kris. “Aku akan mencarinya,” ucap Kai.

 

DRT!! DRT!!

Saat itu juga, ponsel Sehun bergetar, ia melihat nama Lay dan segera mengangkatnya. Setelah mengakhiri perbincangannya di dalam telpon, Sehun memberitahukannya pada Kris. “Luhan terlihat di Bandara Incheon pagi ini,” ucapnya.

 

Mendengar kabar itu, Kris reflek bangun dari kursi yang didudukinya. “Dimana mereka?” Tanya Kris.

 

“Timku kehilangan jejak, mereka tahu sedang diikuti,” jawab Sehun.

 

Pikiran Kris jadi tidak karuan, yang ada dipikirannya saat ini hanya Yoona, Yoona dan Yoona. Ia tidak akan pernah tenang jika Yoona berada jauh darinya. Terlebih Luhan sudah di Korea.

 

Kris berbalik pergi. Namun Jiyeon menahannya.

 

“Kai akan menemukannya, tetap disini karena ada yang harus kita selesaikan!” ucap Jiyeon.

 

Kris berbalik. “Aku ingin melakukan apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin ada penyesalan!”

 

“Kau harus bisa menghargai waktu! Tetap disini dan susun rencana selanjutnya! Aku yang akan mencarinya,” ucap Sehun dan bergegas pergi menunggalkan markas sebelum ada yang menggentikannya.

 

Tidak mau mendengar ucapan Sehun, Kris pun bergegas pergi meninggalkan markas.

 

“Beruntung sekali dia,” ucap Jiyeon.

 

 

Di suatu tempat, Yoona sadar bahwa kini Kris tengah mencarinya. Ia melihat banyak panggilan tidak terjawab di ponselnya, lalu akhirnya ia memutuskan untuk mematikan ponselnya.

 

Yoona berada di sebuah bukit yang sepi. Hanya rerumputan hijau dan kicauan burung yang menemaninya. Ia memilih untuk keluar dari mobilnya. Ia pun Berjalan mendekati sebuah pohon besar yang sangat menggoda untuk didatangi. Benar saja, saat tiba di tempat itu, Yoona merasa nyaman dan segar. Ia pun duduk di atas rerumputan hijau dan bersandar pada pohon itu. Yoona memejamkan matanya.

 

Tidak jauh dari keberadaan Yoona. Mobil hitam datang dan terparkir di sebelah mobil milik Yoona. Tak lama keluar lah Luhan didampingi Zega di sebelahnya.

 

BAM!!

Luhan sengaja menutup pintu mobilnya dengan kencang.

 

Yoona reflek membuka matanya saat mendengar suara kencang. Ia melihat tak jauh di depannya ada sebuah mobil dan dua orang pria yang masih ia coba kenali.

 

Disisi lain, datang lagi sebuah mobil hitam dimana mereka adalah anak buah Luhan. Luhan pun mendekati Yoona.

 

Yoona yang masih menerawang pun akhirnya tahu bahwa orang itu adalah Luhan. Yoona pun bergegas berdiri. Ia melihat semakin banyak orang yang berada di belakang Luhan. Yoona melihat ke sekelilingnya, ia harus bisa melarikan diri. Yang ia kenal dari sosok Luhan adalah, ia tidak mengenal pria atau wanita saat tengah bertarung. Yoona memilih menghindar karena ia takut akan ada sesuatu yang terjadi pada bayinya.

 

Yoona melihat ke arah kirinya, ada sebuah perumahan yang lumayan jauh dari keberadaanya. Yoona pun bergegas berlari menjauh dari Luhan.

 

Saat Zega mengeluarkan pistolnya, Luhan menahannya. “Kau sama sekali tidak menarik!! Aku ingin kau membawanya dalam keadaan hidup!” Pinta Luhan.

 

Zega pun mengangguk, dan meminta anak buahnya untuk mengejar Yoona, lalu disusul dirinya. Luhan melepas jas hitamnya, lalu ia berikan pada supirnya dan menggulung kedua lengan kemejanya. “Sudah lama tidak melakukan hal ini,” ucapnya lalu ikut berlari mengejar Yoona.

 

Yoona berlari semakin kencang, sesekali ia melihat ke arah belakang. Keberadaan dirinya masih lumayan jauh dari perumahan yang ingin ia pijaki. Ia berfikir di daerah perumahan itulah dirinya bisa sesekali bersembunyi.

 

Setelah berlari di rerumputan hijau, Yoona pun mulai berloncat-loncat di atap perumahan yang padat itu. Sempat sesekali terpeleset dan jatuh, tak dijadikan alasan untuk menyerah. Yoona akhirnya turun dari atap perumahan dan mulai memasuki gang-gang kecil untuk bersembunyi. Yoona merasa kelelahan akhirnya ia masuk ke dalam sebuah gang lebih kecil dan berdiam diri di sana.

 

Zega yang merasa kehilangan jejak pun memilih untuk diam dan mengamati situasi dan kemungkinan kemana Yoona pergi. Tidak butuh waktu lama, Zega menemukan keberadaan Yoona yang sedang berdiri di tempat kegelapan, ia pun mendekatinya. Yoona yang tahu akan hal itu pun kembali berlari. Namun tiba-tiba..

 

BUG!!

“Akkh,” ringis Yoona dan tubuhnya pun terhuyung dan jatuh ke arah depan saat sebuah balok mengenai pundaknya.

 

Luhan tersenyum dan membuang balok yang ia gunakan untuk memukul Yoona. “Lama tidak bertemu Im Yoona,” sapa Luhan.

 

Perlahan Yoona kembali berdiri. Ia mencoba berlari lagi. Namun anak buah Luhan sudah menghalanginya. Ia pun memilih untuk melawan anak buah Luhan.

 

“Aku lelah,” ucap Luhan, yang sekaligus memberi kode pada Zega untuk membuat Yoona cepat ikut dengannya.

 

Zega pun mendekati Yoona dan memukul kencang di area punggung Yoona.

 

BUG!!

“Eemh,” tubuh Yoona melemas dan ia jatuh tak sadarkan diri.

 

 

Markas Tim AIK

22.00

 

Berjam-jam sudah berlalu, Yoona tak kunjung ditemukan. Sehun masih berusaha mencari keberadaan Yoona melalui CCTV begitupun dengan anak buahnya.

 

Di jam yang sama, Kris berada di dalam apartemen milik adiknya itu. Sudah berjam-jam ia mencari keberadaan adiknya di jalan. Namun tak kunjung ditemukan.

 

Sooyoung dan Chanyeol  yang stay di markas pun tak kunjung menemukan titik terang keberadaan Yoona.

 

Di tempat lainnya, Kai sedang membelah jalanan malam Korea dengan motornya. Sesekali ia menghubungi anak buahnya untuk mendapatkan info. Namun ia tak mendapatkan apapun.

 

 

Markas Tim Luhan

22.05

 

Yoona terlihat tak sadarkan diri di sebuah kursi di dalam ruangan. Tubuhnya tidak terikat apapun. Namun terlihat Zega tengah menyuntikan sesuatu ke dalam tubuh Yoona.

 

CEKLEK!!

Luhan pun masuk ke dalam ruangan itu.

 

“Bagaimana?” Tanya Luhan.

 

“Sudah ku suntikan cairan yang akan membuatnya sadar yang sekaligus membuat pikirannya kosong,” jawab Zega.

 

Benar saja, tidak membutuhkan waktu lama, Yoona pun tersadar. Tatapannya kosong seperti mayat hidup.

 

“Kajja,” ucap Luhan pada Zega.

 

 

Markas Tim AIK

23.00

 

Sehun mendapatkan sebuah pesan singkat dimana didalamnya ada gambar Yoona yang tengah tak sadarkan diri dan pesan yang mengatakan bahwa Yoona akan segera dikembalikan di depan Markas Tim AIK. Sehun pun segera melihat keadaan sekitar markasnya melalui CCTV.

 

Di luar markas, Kris sudah berdiam di dalam mobil tepatnya di pinggir jalan setelah mendapatkan pesan singkat yang sama persis dengan Sehun. Kris tampak gusar, ia menggenggam erat setir mobilnya.

 

“Akkkhhh!!!” Teriaknya kesal. Ia menyanyangkan kenapa dirinya bisa lalai dalam menjaga Yoona. Sampai kini akhirnya Luhan bisa mendapatkan gadis yang dicintainya itu.

 

Sehun yang hendak berlari keluar markas pun tertahan saat Baekhyun mengabari keberadaan Kris. “Kris terlihat di sana,” ucapnya.

 

Sehun pun memastikan ucapan Baekhyun dan benar saja ia melihat keberadaan Kris. Ia pun memutuskan untuk berdiam di markas.

 

Setelah cukup lama menunggu. Kris pun mendapatkan panggilan dari nomor telepon yang tidak bisa dilacak. Ia tahu dia adalah Luhan. Kris pun mengangkatnya.

 

“Bebaskan dia secepatnya!” Ucap Kris langsung.

 

Luhan tertawa. “Arraseo, jangan keluar dari mobil sebelum aku mengizinkannya! Jika kau tetap keras kepala, kupastikan kau menyesal seumur hidupmu!” Ancam Luhan.

 

Kris sadar dirinya tidak bisa berbuat apapun sekarang, terlebih pikirannya sedang kacau. “Jika kau menyentuh sehelai rambutnya saja, kupastikan kau mati ditanganku!”

 

“Arra,” jawab Luhan sembari tertawa meremehkan.

 

“Gadismu akan datang! Tunggu dan jangan keluar!” Ucap Luhan mulai serius.

 

Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil hitam datang dan menurunkan seorang wanita di pinggir jalan yang tepatnya berseberangan cukup jauh dengan keberadaan Kris.

 

“Target terlihat,” ucap Lay yang berada di dalam markas.

 

Sehun pun meminta Lay untuk membesarkan tampilan layar di komputernya.

 

Kris akhirnya melihat keberadaan Yoona, tangan yang satunya sudah berada di bukaan pintu mobilnya.

 

“Jangan menyesalinya Kris!” Ancam luhan lagi.

 

Kris menderu kesal. Ia memperhatikan Yoona dari kejauhan. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Yoona, adiknya itu terlihat seperti mayat hidup yang akan berjalan di tengah jalanan yang terlihat sepi.

 

DEG!!

Kris teringat sesuatu. Ia mengingat bahwa sesepuh memiliki cara tersendiri untuk membunuh anak buahnya yang berkhianat. Yakni dengan menyuntikkan racun yang akan membuat korbannya sadarkan diri namun pikirannya kosong. Lalu dilepas di tengah jalan dan akan ditabrak oleh mobil berkecepatan tinggi agar terlihat seperti kecelakaan.

 

“Andwae,” ucap Kris pelan.

 

Yoona mulai berjalan melintasi jalanan malam dengan tatapan kosong ala robot.

 

Di tempat lain, Sehun menggelengkan kepalanya saat mengetahui ada sebuah mobil kencang mengarah ke arah Yoona. “Andwe!” Ucapnya dan berlari meninggalkan markas untuk menghampiri Yoona.

 

Sedangkan di luar markas, Kris juga sudah menyadari apa yang terjadi pada adiknya itu.

 

“Hadiah untukmu Kris,” ucap Luhan.

 

“BAJ***N KAU!” Kris langsung melemparkan ponselnya entah kemana dan segera keluar dari mobilnya dan berlari.

 

TIN!! TIN!!

Mobil hitam yang berkecapatan kencang itu semakin dekat dengan keberadaan Yoona. Yoona yang tidak tahu apapun tetap berjalan lurus dengan tatapan kosongnya.

 

Kris berlari sekencang mungkin. “YOONA-YA!! ANDWAE!!” Teriak Kris kencang.

 

Sedangkan Sehun yang masih berada di lobi markas pun berlari dengan brutalnya, tak peduli apa yang sudah ia tabrak sebelumnya. “Andwae Yoona-ya,” ucap Sehun sembari terus berlari.

 

TIN!!! TIN!! TINN!! TIN!!!

 

“ANDWAE!!” Teriak Kris.

 

TIN!! TIN!! TIN!! TIN!! TIN!!

DARRRRR!!! BRUGGGG!!! CIIIITT!!

 

Tubuh Yoona pun terpelanting ke atas mobil dan berguling di jalanan cukup jauh, sampai akhirnya terhenti karena tubuhnya menabrak trotoar.

 

“Emmh,” suara lengguhan Yoona terdengar sesaat setelah tubuhnya menabrak trotoar.

 

“Ahhh,” Kris menghentikan langkahnya dan terdiam mematung.

 

“YOONA-YA!!” Teriak Sehun saat melihat Yoona tak sadarkan diri.

 

Kepala Yoona mulai mengeluarkan darah segar begitupun di beberapa bagian tubuh lainnya.

 

BRUG!!

Lutut Kris yang terasa sangat lemas pun membuat dirinya harus terjatuh dalam keadaan berlutut di jalan. Tatapannya tak kalah kosong dengan Yoona. Kris pun menggeleng pelan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Sampai bertemu di part selanjutnya ya guys… Jangan lupa komennya yaaa.. Annyeong🙂

42 thoughts on “[Freelance] Revenge (Chapter 5)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s