Hidden Scene [16b]

Hidden Scene copy

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

and

former member of EXO’s, Kris

.

.

.

Kyungsoo melirik jam di dinding. Ini sudah lebih dari 15 menit dan Sehun belum juga keluar dari kamar mandi. Itu aneh, menurut Kyungsoo. Karena Sehun bukan tipe lelaki yang akan menghabiskan banyak waktu di kamar mandi.

Dan perasaanya mengatakan hal buruk. Sehun sedang tidak baik baik saja, jelas sekali, dilihat ekspresinya tadi. Jadi, Kyungsoo berdiri di depan pintu kamar mandi. Ragu untuk mengetuknya.

“Sehun?”

Terdengar suara music di dalam. Tapi dia tidak mendengar suara Sehun. Itu sudah mengkhawatirkan. Dengan menguatkan hati, Kyungsoo membuka pintu kamar mandi. Karena takut Sehun akan mengomel karena Kyungsoo mengintipnya mandi, lelaki bertubuh kecil itu menutup matanya.

“Sehun?” panggilnya sekali lagi. Dia meraba raba dinding. Berharap dia tidak terpeleset. Ugh, dia pernah sekali terpleset di kamar mandi dan keesokan harinya dia tidak bisa jalan dengan benar.

Telinganya menangkap suara erangan. Masih dengan mata terpejam, Kyungsoo menajamkan kembali. Dia mendengar suara shower yang menyala. Diikuti dengan erangan pelan dan…isakan?

Dengan takut takut, Kyungsoo membuka matanya perlahan, “Sehun? Apa itu kau?”

Mata Kyungsoo membulat, didalam shower tub, Sehun meringkuk dengan baju masih lengkap. Lelaki itu menunduk menyembunyikan wajahnya, tapi tangannya menjambak rambutnya sendiri dan kemudian erangan pelan mulai lolos darinya. Kyungsoo mematung sejenak. “SEHUN!”

Saat Kyungsoo menyentuh Sehun. Dia terhenyak melihat keadaan lelaki itu. Tubuhnya yang besar meringkuk kedinginan—Kyungsoo dengan cepat mematikan shower—dan wajahnya tampias. Sangat pucat. Tapi mata dan hidungnya memerah. Kyungsoo tidak punya waktu untuk berpikir, karena dia sibuk menahan tubuh Sehun untuk berdiri.

“Astaga, apa yang terjadi padamu?” Sehun masih kuat berjalan tapi tetap saja Kyungsoo was was. Dia menumpukan lengan Sehun dibahunya, membantunya berjalan ke kasur.

Dengan gerakan cepat, setelah memastikan Sehun duduk di kasur, Kyungsoo meraih handuk kering dan melemparkannya ke Sehun. Dengan panic dia mengobrak abrik lemari Sehun. Mencari pakaian kering laki laki itu.

“Sekarang cepat ganti bajumu” seru Kyungsoo. Dia menyodorkan sepotong kaus biru navy dan celana training pada Sehun. Lelaki itu mengangguk lemah dan tanpa banyak bicara membuka kausnya.

Daripada Kyungsoo harus menonton Sehun ganti baju, ia pikir akan lebih baik jika dia ke dapur mengambil air panas karena tubuh Sehun sangat dingin.

Tapi tangan Sehun menahannya, “Hyung” panggilnya lemah, “Sakit” dia kesulitan menarik nafasnya, “Temani aku. Kumohon”

Kyungsoo menatap adiknya itu iba. Kyungsoo mengurungkan niatnya dan menuruti permintaan Sehun. Sementara Sehun mengganti bajunya, Kyungsoo membuka nakas. Mencari  obat – obatan milik maknae nya itu.

Setelah dia mendapatkannya, Sehun sudah selesai berganti baju dan kini sedang menahan kepalanya sendiri. Ekspresinya kesakitan dan matanya terpejam. Kyungsoo kembali panic.

“Ada apa? Apa yang kau rasakan? Sehun!?”

Sehun mengerang lemah, ekspresinya semakin menjadi jadi. Kyungsoo mengguncang bahunya panic, “Sa—“ perkataannya terputus oleh erangan yang kembali lolos dari bibirnya, “—kit. Sakit hyung. Sakit sekali. Aku tidak sanggup lagi”

Dan Kyungsoo melihat air mata lolos dari Sehun.

//

Luhan menoleh saat Kyungsoo berteriak dari pintu kamarnya. “Joonmyeon! Joonmyeon!!!” teriak lelaki itu. Ketika Kyungsoo melihat Luhan dan Kris, dia menghampiri mereka dengan ekspresi panik.

“Luhan Hyung, dimana Joonmyeon!?”

“Suho sed—“

“Joonmyeon!!!! Suhoooo” teriak Kyungsoo lagi membuat Kris berteriak kesal.

“YA!”  Kris mencengkram bahu Kyungsoo. Mencegah laki laki itu kabur dari pandangannya, “Ada apa? Kenapa kau panic sekali!?”

“Aku butuh Joonmyeon sekarangggg!” kemudian lelaki itu mengerjap, “AH! Yixing! Hyung!! Lay!!!!”

Luhan akhirnya ikut berteriak, “YA! Kyung, tenangkan dirimu! Ada apaa!?”

Kyungsoo menghentak tangan Kris lepas dari bahunya. Dia menarik nafasnya, “Ya, bagus seperti itu. Tenangkan dirimu” Kyungsoo menarik nafasnya berkali kali. Badan Sehun dingin sekali, seperti orang mati. Dan itu membuat Kyungsoo panic setengah mati. Dan lagi Sehun terlihat benar benar kesakitan. Sepanjang Kyungsoo mengenal Sehun, belum pernah ia melihat Sehun semenyedihkan itu.

Kyungsoo mencoba menenangkan dirinya, “Panggilkan aku Joonmyeon hyung” dan Lay akhirnya muncul dihadapan Kyungsoo dengan wajah bingungnya. Dia sedang buang air ketika Kyungsoo teriak memanggilnya, “AH! Lay-ge! Tolong buatkan bubur atau apa saja yang hangat”

“Kyung, ada apa?”

Lelaki itu berbalik menatap Luhan, “Sehunnie” Luhan merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, “Kenapa dengan Sehun!?” dan akhir akhir ini dia memang menempatkan perhatian penuh pada anak itu.

“Aku tidak tahu. Badannya dingin sekali dan wajahnya pucat. Ia terus mengeluh sakit.”

Tanpa pikir panjang Luhan langsung berlari ke kamar Sehun dan Kyungsoo dan Jongin. Dia masuk dengan rusuh, Kris dibelakangnya tidak kalah panic. Pasalnya, Kris sadar Sehun tidak terlihat sehat dari kemarin. Belum lagi ia pasti kelelahan di tengah jadwalnya yang luar biasa ketat. Kris tahu Sehun hanya dapat tidur kurang dari 3 jam setiap harinya.

“Sehun?” seru Luhan pada ruang kosong. Dia menyerbu masuk kedalam kamar mandi. Pintunya terbuka dan dia punya perasaan Sehun ada disana.

Dan benar saja. Bertumpu pada wastafel, dia membelakangi Luhan. Tapi kemudian lelaki itu melihat tetesan darah di lantai. Setelah 2 detik, Luhan panic, “SEHUN!”

Tubuh Sehun roboh begitu Luhan menyentuhnya. Luhan dengan sigap menangkapnya dan mendudukannya di lantai, “Astaga, apa yang terjadi?” Luhan menepis tangan Sehun yang menutupi mulutnya. Dan dia semakin terkejut ketika melihat hidungnya dipenuhi darah.

Kris berdiri tak jauh dari sana. Masih tidak mengerti apa yang terjadi. Dia melihat Luhan yang memekik kaget, dengan Sehun yang lemah didekapannya, “KRIS! AMBILKAN TISU!”

Begitu kesadarannya pulih, Kris langsung menuruti ucapan Luhan. Ia menarik banyak tisu toilet. Dan bergabung dengan Luhan di lantai. Tubuh Sehun sangat dingin dan ia mengernyit menahan sakit. Ia menggenggam tangan Sehun saat pria itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Sehun-ah, jangan seperti ini. Jangan sakit begini, aku sudah bilang kan? Aku yang harus kulakukan kalau kau sudah seperti ini? Istirahatlah, tolong jangan paksakan dirimu, kumohon.” katanya membantu Luhan menopang tubuh Sehun.

“Demi tuhan Oh Sehun!?” seru Luhan kesal ketika Sehun memaksa lepas dari dekapannya. Pria berwajah manis itu menahan pergerakannya dan tetap mencoba menghentikan darah di hidung Sehun.

“Sehu—OH!” Kyungsoo yang datang dengan segelas susu, sepenuhnya lupa diri dan melempar gelasnya begitu saja ke lantai saat melihat tisu yang dinodai darah berserakan di lantai. Dia menghampiri Luhan dan Kris yang masih mencoba menghentikan pendarahan Sehun, “Dia mimisan!?”

“Aku tidak ap—AH!” Sehun menjerit ketika sebuah tusukan menekan kepalanya. Rasa sakitnya menjadi jadi. Dia masih bisa merasakan tangan Luhan menahan gerakannya. Dia bisa melihat Kris yang gelagapan mengguncang guncang bahunya.

“Aku lelah Sehun! Kenapa kau begitu egois!? Aku lelah terus bersembunyi. Aku lelah. Kenapa kita tidak bisa seperti yang lain!? Kenapa!? Persetan dengan perusahaan, kau juga tidak mencoba untuk menghiburku!”

“Aku membencimu, Sehun. Aku membencimu dan segala omong kosongmu!”

“ARGHHHH” dan hal terakhir yang dia ingat adalah wajah Yoona malam itu. Sebelum akhirnya kegelapan menariknya.

Kris, Luhan dan Kyungsoo mematung. Pergerakan Sehun terhenti. Tangannya jatuh dari kepalanya, dan tubuhnya melemas dalam dekapan Luhan. Matanya terpejam. Butuh beberapa detik untuk mereka semua untuk mencerna apa yang terjadi. Mereka tidak melakukan apapun sampai Kris akhirnya sadar dengan semuanya.

“Kyungsoo, cepat panggil Chanyeol!” perintah Kris cepat, “Lu, telepon dokter sekarang” lelaki setengah China itu mengambil alih Sehun yang pingsan dari Luhan yang masih terdiam.

“LUHAN!” bentaknya.

Luhan kemudian mengerjap sadar. Dia melempar tatapan khawatir pada Sehun sebelum akhirnya berlari mengikuti Kyungsoo.

Kris masih mencoba membangun Sehun. Wajahnya pucat sekali dan nafasnya pendek pendek. Kris menyentuh leher Sehun, berusaha merasakan detak jantungnya. Ia sedikit lega merasakan detaknya masih normal.

“Sehun-ah, bangun. Kumohon bangunlah. Jangan seperti ini. Hey, Oh Sehun” katanya seraya menepuk pipi maknaenya itu. Tidak lama kemudian Chanyeol menyerbu masuk, “Hyung! Ada ap—“

Chanyeol terkejut melihat Sehun setengah berbaring di pelukan Kris. Ia bergabung dengan Kris, mencoba membangunkan maknaenya itu, “Ya, Oh Sehun! Bangun!”

“Cepat bantu aku mengangkat Sehun!” Chanyeol baru saja bangun tidur ketika Kyungsoo menyerbu masuk dan mengatakan Sehun pingsan dan Kris memanggilnya. Chanyeol langsung melompat dari kasurnya dan menemukan Kris sedang berusaha membangunkan Sehun.

“SEHUN!” Tao yang mendengar keributan masuk dengan panic—Well, Sehun adalah teman terdekatnya. Dia sedang merecoki Baekhyun ketika teriakan Kyungsoo dari kamar sebelah terdengar.

“TAO!” Kris dan Chanyeol sedang kesusahan mengangkat tubuh Sehun. Oh ayolah, mereka sedang mengangkat pria dewasa dengan tubuh setinggi 188 cm, “Bantu aku mengangkat Sehun.”

Dengan tiga pria yang sama sama besar, akhirnya mereka berhasil memindahkan Sehun ke kasur. Luhan yang sudah menunggu segera menyelimuti Sehun. Member yang saat itu ada di dorm masuk dengan tergesa gesa dan mulai melontarkan pertanyaan. Dan semuanya terdiam ketika Kris berteriak kesal.

Kris akhirnya mengusir mereka keluar. Menyuruh mereka menelpon dokter dan manager dan juga Joonmyeon. Sehun butuh udara segar, begitu kata Kris. Akhirnya dengan berat hati mereka keluar dari kamar. “Chen, Luhan, Chanyeol, kalian tetap disini. Yang lainnya, buat diri kalian berguna dan jangan mengerubung seperti semut.”

//

Hari sudah nyaris tengah malam ketika Jongin pulang. Dia sedang syuting variety show ketika Tao menangis menelponnya. Katanya Sehun pingsan dan badannya deman tinggi. Saat itu Jongin ingin segera pulang. Tapi dia tidak bisa, manager tidak memperbolehkannya.

Ketakutan Jongin terjawab sudah.

Selama ini, Jongin tahu, akan ada waktu dimana Sehun akan menyerah. Untuk itu lah Jongin selalu berada di sisi Sehun. Di bandara, saat di interview, atau saat latihan. Pasca pemberitaan Kris dan Yoona, Sehun sudah terlihat sakit. Meskipun dia menyembunyikannya, Jongin tahu laki laki itu sakit. Jongin tahu Sehun mengambil drama yang ditawarkan padanya hanya untuk membuat dirinya sibuk. Agar Sehun bisa sampai di dorm saat semua sudah tidur. Agar kesibukan mengalihkan perhatian Sehun dari Kris. Jongin tahu semuanya.

“Bagaimana keadaannya?” tanyanya pada Luhan yang sedang merenung di meja makan.

Luhan mendesah, “Somatoform disorder. Aku tidak tahu dengan pasti apa itu tapi dokter bilang itu berkaitan dengan kondisi psikologisnya. Tekanan darahnya tinggi dan ia juga kurang tidur ditambah sepertinya anak itu senang sekali menahan diri kalau sakit. Ia mengabaikan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan. Jika dipaksa dokter khawatir akan berdampak buruk. Bad rest selama seminggu dan vitamin akan membantu”

Jongin meneguk airnya, “Biar kutebak. Sehun menolaknya mentah mentah”

Luhan mengangguk lemah dan menatap Jongin memohon, “Kau yang paling mengerti ia, Kai. Tolong buat dia beristirahat seminggu saja”

Diluar dugaan, Jongin membanting gelasnya keras, “Percuma saja. Anak itu, kepalanya keras seperti batu” kemudian Jongin menjadi emosi, “Lagipula, memangnya perusahaan memperbolehkannya? Jadwal Sehun sangat sangat padat minggu ini.” dia bermaksud pergi dari ruang makan.

“Aku tidak bilang bahwa kau yang harus membujuknya ‘kan?”

Jongin berbalik, menatap Luhan bingung. Sedangkan lelaki dengan wajah cantik itu menatapnya penuh arti.

Luhan mengantar dokter Lee keluar setelah ia menjelaskan keaadan Sehun pada manager dan Kris. Dia tidak banyak bicara karena kepalanya dipenuhi perkataan dokter Lee  tak sengaja ia dengar tadi. Somatoform Pain Dissorder. Namanya saja sudah terasa sangat asing hingga Luhan terus mengkerutkan kening. Ia berhenti, membuat dokter Lee menoleh.

“Dok—“

“Luhan-ssi” selanya. Dokter Lee adalah dokter muda kenalan Sehun dan telah menjadi dokter pribadi lelaki itu. Diusianya yang baru menginjak 37 tahun, dokter Lee telah menjadi ahli syaraf yang cukup terkenal di Seoul. Sehun pernah memberikan nomernya pada Luhan ketika Luhan mengeluh sakit kepala yang berlebihan, “Bisa kita bicara?”

Luhan mengangguk dan masuk kedalam kamar Kris. Tidak ada orang disana karena semuanya sedang sibuk mengkhawatirkan Sehun, “Omong omong terima kasih sudah mau menyempatkan diri ke sini, dokter. Untung saja Sehun pernah memberikan nomermu padaku. Terkahir kali kami menggunakan dokter perusahaan, ia marah marah sepanjang hari”

Pria itu tersenyum, “Tak masalah. Aku anak tunggal dan selalu ingin mempunyai saudara. Sehun sudah kuanggap adik, meskipun aku ragu ia menanggapku sama.”  Dokter itu terkekeh saat melihat ekspresi kebingungan Luhan, “Ayahku sudah menjadi dokter pribadi keluarga Oh bertahun tahun.”

 “Dokter, apa Sehun benar benar baik baik saja?”

“Dia baik baik saja” jeda sejenak. Lelaki berusia sekitar tigapuluh tahun itu tampak menimbang nimbang, dilihat dari ekspresinya, “Tapi tidak dengan psikologisnya”

Luhan terdiam sejenak mendengarnya, “Apa maksud dokter? Apa itu ada hubungannya dengan somatoform pain disorder? What is that anyway? ”

“Sebenarnya Sehun sering menemuiku. Dia sering mengeluh sakit di kepala dan dada. Aku sudah melakukan semua jenis test kesehatan dan tidak menemukan ada yang salah dengan tubuhnya,” dokter Lee menghela nafas panjang, “Tapi 1 tahun yang lalu, aku menemukan kalau Sehun punya masalah yang cukup serius dan sepertinya itu menjadi penyebab rasa sakit yang seringkali ia rasakan.”

“Hah!?”

“Somatoform pain disorder adalah gejala sakit atau nyeri pada satu tempat atau lebih yang tidak dapat dijelaskan dengan pemeriksaan medis maupun neurologis.. Faktor psikologis, stress dan konflik batin yang kuat menjadi adalah penyebab utamanya.”

Saat itu rasanya Luhan seperti terkejut sekali. Oh Sehun ternyata tidak sekuat yang selama ini ia perlihatkan. Ia sakit bahkan sampai mengalami gangguan psikologis. Dan yang lebih membuat Luhan sedih adalah, fakta kalau Sehun mengalaminya sendirian, “Sehun menolak melakukan terapi. Dia tidak mau mengatakan alasannya. Tapi dia secara gamblang mengatakan dia pernah menjalani hypnoterapi. Aku terkejut tentu saja.”

“Hipnoterapisnya mengatakan kalau Sehun memintanya memasukan sugesti yang spesifik ke kepalanya. Akhirnya aku menemukan akar permasalahan dari somatoform disordernya.”

Luhan tidak familiar dengan istilah istilah kedokteran seperti itu, tapi ia tahu apa itu hipnoterapi, “Sugesti apa? Dan apa yang kau temukan?” kini Luhan terlihat sedang menodong dokter itu.

“Masalah apa?”

“Sebagai dokter, aku telah bersumpah untuk tidak membocorkan rahasia pasien kepada siapapun kecuali jika pasien itu mengijinkan. Dan sudah jelas sekali, Sehun tidak akan mengizinkannya,” dokter Lee mengernyit, “Saat aku memberitahunya untuk berhenti menemui hipnoterapisnya dan menemui psikiater dia malah marah marah dan mengatakan kalau dia belum gila. Sejak saat itu dia menolak menemuiku lagi.”

“Dokter Lee, persetan dengan kode etik kedokteran. Jangan berbelit belit, aku ingin membantu Sehun. Tolonglah. Beritahu aku. Bukankah ini alasan kau mau bicara denganku?”

Dokter itu mengangguk, “Dia menelan emosinya sendirian, Luhan. Rasa takut yang menghantuinya setiap saat dan konflik internal yang terus menerus menjadi penyebab awal Somatoform disorder nya. Kondisi ini diperparah dengan penolakan yang begitu kuat terhadap emosi-emosi ini—ia bahkan sampai menguburnya dengan melakukan hipnoterapis.”

Tapi, hipnoterapis tak bisa selamanya mengubur emosi itu karena emosi melibatkan serangkaian kerja syaraf yang sangat sangat rumit . Namun sebagai dampak hipnoterapi, saat emosi emosi ini dipicu, alam bawah sadarnya secara reflek akan terus berpura pura kalau itu tidak pernah ada. Dan pada akhirnya emosi  ini akan berubah menjadi boomerang dalam bentuk rasa sakit yang diperparah dengan kondisi fisiknya yang kelelahan.”

Semuanya sangat membingungkan bagi Luhan. Kepalanya rasanya berputar mendengar penjelasan itu, “Jadi, apa yang harus ku lakukan?” Luhan dapat mendengar dirinya sendiri nyaris memohon pada dokter muda itu, “Emosi yang kau bilang ini, apa aku harus membukanya? Membiarkan ia merasakan hal yang justru tidak ingin ia rasakan?”

“Tepat sekali. Ia perlu berdamai dengan masalah-masalahnya. Sehun harus mulai mempercayai dirinya lagi.  Bantu ia untuk melepaskan amarahnya. Bantu ia mengekspresikan dirinya. Emosi itu tidak harusnya dipendam, ia justru harus merengkuh dan menerimanya.”

Dokter itu menepuk pundak Luhan, “Aku mengatakan ini bukan sebagai dokter melainkan seperti permintaan seorang kakak terhadap adiknya. Aku tahu ia dekat denganmu, ia bahkan sering bercerita tentangmu—dan Jongin—padaku.”

Lelaki China itu mengacak rambutnya frustasi, “Kenapa aku tak pernah menyadari ini!? Kenapa ia tak pernah menceritakannya padaku!? Kakak macam apa aku ini, dokter!?”

“Dari dulu, Sehun memang pandai menyembunyikan perasaannya.” dokter Lee berjalan keluar dari pintu, “Dia menahannya sendirian, berpura pura dan membohongi dirinya sendiri. Semua itu membutuhkan tenaga yang besar Luhan. Dan Sehun melakukan itu. Setiap harinya.”

Sebelum pergi, dokter berkata padanya, “Masih belum terlambat untuk membantunya. Kau bisa memulainya dari sekarang mengingat ini adalah masa masa yang kritis untuknya.”

“Kau mengenal Sehun lebih dari kami mengenalnya, Kai. Mungkin sudah saatnya kau ambil peran. ” Luhan menghela nafas, “Kau pasti mengerti maksudku, kan?” tatapannya berubah menjadi penuh arti.

Jongin menatap Luhan. Dan kemudian mengerti. Dia tidak mengatakan apa apa. Hanya berjalan keluar dapur dan menuju kamar.

Jongin menangkap suara samar samar Kyungsoo yang duduk disamping Sehun, membelakangi Jongin. Laki laki berkulit tan itu kemudian menyenderkan tubuhnya pada dinding. Menatap siluet teman sekamarnya.

Kyungsoo berdecak putus asa. Lelaki disampingnya mengabaikan Kyungsoo dan termenung menatap jendela. Sehun sangat tidak baik baik saja. Mental maupun fisiknya. Persetan dengan mentalnya, tubuh Sehun butuh asupan gizi. Dan dia menolak setelah suapan ketiganya.

“Sehun-ah, ayolah makan. Kau butuh makan. Bagaimana bisa kau memaksa untuk ikut comeback stage jika kau menyiksa dirimu seperti ini? Makanlah, kau butuh banyak tenaga menghadapi hari hari mu Sehun.”

Sehun hanya menggeleng pelan, membuat Kyungsoo gemas. Ia mendesah keras keras, tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Sehun. Kyungsoo lelah melihat Sehun seperti ini. Apa dia seorang masokis atau apa?

“Dengarkan hyung, Sehun.” Ia menyentuh lengan lelaki itu, mengusap usapnya pelan. “Tidak peduli seberapa berat masalahmu, kau harus tetap makan, oke? Tolong jangan seperti ini.”

Sehun menatap Kyungsoo lama. Rasa iba dan khawatir jelas terpampang di wajah hyung nya itu. Membuat Sehun marah. Ia benci dikasihani. Jadi ia menepis tangan Kyungsoo di lengannya, “Sudahlah hyung. Aku benar benar tak apa. I’m used to it. Besok pagi aku akan kembali sehat dan ceria seperti biasanya. Sekarang, aku butuh waktu sendirian.”

Kyungsoo pada akhirnya menghela napas. Tidak tahan dengan pandangan memohon Sehun dan kalimatnya yang begitu sendu. Aku akan kembali sehat dan ceria seperti biasanya. Seolah lelaki ini mampu mengatur mood nya sendiri! Ia bangkit dan menemukan Jongin sedang bersedekap menatap mereka berdua.

Saat ia mendekati lelaki tan itu, tangan Jongin terulur meminta piring Sehun. Kyungsoo memberikannya tanpa banyak bicara dan ia menangkup tangannya, memohon Jongin untuk membujuk Sehun makan.

Sehun merasakan seseorang duduk di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Jongin sedang mengaduk aduk piring yang tadi dipegang Kyungsoo. Pria itu tampak baru pulang dan masih dengan pakaian lengkap, “Aku tidak mau makan.”

Jongin berhenti mengaduk buburnya, “Kalau begitu aku yang makan. Rasanya lapar sekali.” Keluh Jongin.

“Silahkan.” Sehun ingin tersenyum mendengar keluhan Jongin. Mungkin ia sedikit merasa lebih baik dengan Jongin duduk disampingnya seperti ini, “Dan cepat ganti bajumu dan mandi, kau bau sekali bung.” Kali ini menatap Jongin dengan senyuman.

Untuk sedetik, Jongin terpaku dengan senyum Sehun—tolong jangan berpikiran yang aneh, ia masih normal. “Hey, kau benar tak mau makan? Ini enak sekali. Sumpah, aku tak pernah makan bubur seenak ini.”

“Idiot, diamlah. Kau membuatku semakin tak ingin memakannya.”

Jongin tertawa dan menepuk nepuk punggung Sehun, “Kalau aku terus membuatmu tersenyum seperti itu, mungkin kau bisa memikirkan untuk membalas perasaanku Sehunie,” ia tersenyum menggoda, “Aku sangat menyayangimu loh. Sangat sangat menyayangimu.”

“Ya! Aku masih normal dasar kau bocah hitam gila!” Sehun berjengit menghindar saat menyadari keintiman kata kata Jongin. Ia meninju lengan pria yang lebih tua beberapa bulan darinya itu, “Ugh, enyahlah kau ke antartika.”

Kemudian mereka sama sama tertawa. Seperti biasanya. Seperti tidak ada Sehun yang baru saja pingsan dan membuat panik semua member. Dan Sehun menyukai itu. Dia benci dipandang lemah dan semua membernya melakukannya seolah olah Sehun di vonis punya penyakit mematikan. Semuanya kecuali Jongin.

“Hey, hitam, terimakasih.” Sehun merenggangkan persendian tubuhnya, “Badanku masih terasa tak enak tapi aku merasa lebih baik karena ada orang yang tak memandangku seolah aku hendak mati kapan saja.”

Jongin tersenyum, senang karena ia melihat Sehun dapat sedikit rileks di depannya. Senyum itu bahkan sudah mencapai matanya yang sipit, “Karena kau sudah merasa lebih baik. Kau mau membantuku menghabiskan bubur ini?”

Sehun mengembik kesal, “Sudah kubilang aku tak mau. Habiskan saja, sungguh. Aku tak akan makan sekalipun kau membawa Miranda Kerr telanjang disini.”

Jongin juga jadi sebal mendengarnya. Memangnya ia siapa? Meskipun mungkin akan menyenangkan melihat Miranda Kerr dikamarnya, telanjang. Ia kemudian tersadar dari fantasi nya yang mulai liar dan menendang kaki anak itu keras.

“Aduh!”

“Berhenti bersikap kekanak kanakan, bodoh! Kau tidak mau bad rest tapi tidak mau makan, kau cari mati huh!?”

“Aku tetap tidak mau makan!”

“Ya Oh Sehun!” ia mengatur nafasnya. Jongin sebenarnya kelelahan jadi ia mudah sekali kesal malam ini, “Apa aku perlu memanggil Im Yoona kesini agar kau mau makan?”

Jongin melihat Sehun berbalik dengan cepat. Pandangannya tidak dapat ditebak. Ia terlihat kaget untuk sesaat dan kemudian memalingkan wajahnya dengan ekspresi terluka. Jongin sedikit menyesal membawa nama itu dalam percakapannya. Terlihat sekali Sehun sedang berusaha keras tidak mengingat wanita itu. Tapi sudah tidak ada jalan kembali sekarang.

“Jangan seperti ini, Sehun-ah. Kau mau aku memberitahu Yoona noona kalau kau sakit? Apa kau ingin membuatnya khawatir? Ini saat yang buruk baginya, Sehun. Kau tentu tahu kan? Jan—”

“Jongin,” Sehun menghentikan perkataannya, ia tampak menahan nafasnya, “Apa ini alasan kenapa kau menjadi dekat dengan Yuri noona?”

“Ya”

Mereka bertatapan dalam diam sebelum Sehun menghembuskan nafas panjangnya, “Jangan beritahu ia. Jangan biarkan ia kesini atau aku akan menghajarmu sampai mati.” Sehun meraih piring di tangan Jongin dengan kasar dan mulai memakan buburnya dengan cepat.

Jongin tersenyum lega. Lihat betapa hebatnya Im Yoona membuat sahabatnya bertekuk lutut. Ia bangkit dan mulai melepas kemejanya.

“Kai” ia menoleh saat Sehun memanggilnya seperti itu. Ia jarang memanggilnya seperti itu di dorm. Dan rasanya menyenangkan saat tahu masih ada orang yang melihatmu sama seperti dulu. Bukan sebagai Kai, dancing machine EXO. Melainkan sebagai Jongin yang menyebalkan.

“Sudah seberapa banyak yang kau tahu?”

Lelaki itu tersenyum lebar dan menepuk nepuk pundak Sehun, “Kau tidak sendirian lagi, Oh. Kau tidak akan pernah sendirian lagi.”

//

Sehun menatap langit kamarnya dengan pandangan kosong. Ia ingin sekali tidur tapi ia tak bisa. Ia tahu besok jadwalnya sangat padat tapi apalah daya ketika otaknya terus terusan memutar hal yang paling tidak diinginkannya itu. Sehun terpejam menikmati bagaimana rasa sakit yang sama terus bergemuruh di dadanya. Selama seminggu ini, hanya pada saat saat seperti ini lah Sehun bisa melepas bebannya. Tak perlu berpura pura dia kuat. Tak perlu bersikap seolah ia baik baik saja. Bersikap kalau hubungan Kris dan Yoona tidak menyakitinya. Berpura pura buta melihat raut bahagia Kris saat menelpon Yoona.

That should be me

Ia bangkit dengan perlahan dari kasurnya dan berjalan mengendap endap ke lemarinya, berusaha tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan teman sekamarnya–Jongin dan Kyungsoo.

Ia melirik medium sized bed itu, mendapati Jongin dan Kyungsoo sudah terlelap dengan deru nafas tenang. Ia tersenyum miris, iri terhadap hyungnya yang bisa tertidur. Jongin menggeliat pelan membuat Sehun siaga namun kemudian pria itu kembali tidur dengan lengan menutupi mata kanannya. Sehun tersenyum lega dan mengambil brankas mini-nya.

Jemarinya meraih kotak biru itu, mengelus permukaan satinnya yang halus sesaat setelah brankasnya terbuka. Ia memasukan kembali brankasnya dan berjalan ke kasurnya. Sebelumnya ia kembali melirik Kyungsoo dan Jongin, melempat senyum tipis pada wajah kelelahan mereka. Omong omong tentang Jongin, Sehun merasa bersalah karena ia adalah penyebab Yuri dan Jongin diterpa kabar tak mengenakan. Tapi Sehun tak dapat mengelak kalau ia sedikit meraa lega dengan kehadiran Jongin.

Untuk keberapa kalinya malam itu, Sehun menghela nafas panjang dan mendudukan dirinya di lantai yang dingin. Iris cognac nya menyusuri cincin putih itu dengan sendu. Disaat ia ingin melamarnya, Yoona justru mematahkan hatinya dengan begitu hebat. Membuatnya kehilangan arah. Yang selama ini ia lakukan hanyalah meneguhkan hatinya untuk menghadapi hari hari yang sangat melelahkan.

Tapi tetap saja, ia tak bisa benar benar melupakannya. In fact, he couldn’t forget it at all. Bagaimana ia bisa melupakan saat yang ia inginkan adalah menghajar Kris, mengkambing hitamkan pria itu karena telah mendorongnya untuk menyembunyikan hubungannya?

Tapi kemudian melihat senyum Kris membuatnya merasa gila. Kris tidak pernah memintanya. Dia bahkan tidak tahu kalau Sehun mendengarkan pembicaraannya dengan ibunya. Tidak tahu kalau Sehun mati matian menahan perasaannya demi melindungi perasaan rapuh lelaki itu.

Demi EXO.

Rasanya sakit sekali. Sehun harus terus terusan mengsugesti dirinya kalau Kris menyukai Jessica. Harus berusaha keras melupakan ekspresi Kris saat melihat Yoona. Itulah alasan kenapa ia melarang Yoona terlalu dekat dengan membernya. Pada akhirnya ia berhasil, ia mampu menahannya meskipun terkadang ia masih terbangun di tengah malam dan berlari ke dapur dengan ketakutan. Berharap Kris tidak disana dan meninggalkan another surprise for him.

Ia kemudian teringat semua momen kebersamaannya dengan Yoona. Ciuman mereka. Percintaan mereka yang menggetarkan. Pelukan hangat wanita itu saat Sehun lelah dengan jadwalnya. Suara tawanya yang akan selalu mengundang senyum Sehun. Surai halusnya yang selalu acak acak. Kulitnya yang putih dan sangat lembut. Aromanya yang memabukan. Sentuhannya lembutnya di kulit Sehun. Tatapan teduhnya.

God he missed her so much!

//

Jongin terbangun mendengar suara isakan tertahan itu. Ia bertumpu dengan lengannya, mendapati seseorang duduk di lantai dengan punggung membelakanginya. Meskipun lampu kamarnya gelap, ia tahu itu Sehun. Well karena ia masih bisa merasakan Kyungsoo disebelahnya.

Punggungnya bergetar dan ia bisa merasakan lelaki itu menahan isakannya. Entah untuk berapa menit ia hanya mampu terdiam. Membiarkan sahabatnya menangis di keheningan malam.

Jongin seperti kembali ke beberapa tahun lalu saat Sehun harus memutuskan hubungannya dengan Nami. Di malam mereka didebutkan, Sehun menangis diam diam. Saat itu ia masuk kamar dan melihat Sehun memeluk lututnya, menangis dengan punggung bergetar.

Seperti de javu, ia bermaksud bangkit dan menepuk nepuk punggung Sehun seperti malam itu. Tapi kemudian ia merasakan dorongan pelan di lengannya. Ia menoleh dengan terkejut dan melihat Kyungsoo yang berbaring menatapnya dengan pandangan melarang.

Untuk sesaat ia terpaku pada mata lebar hyungnya. Mereka bertatapan dalam diam, membiarkan isakan pelan Sehun mengisi keheningan.

Dan pada saat itu ia tahu kalau Kyungsoo juga mengetahuinya.

Saat pemahaman merubah tatapan menyelidik Jongin, Kyungsoo membuang pandangannya ke arah Sehun. Pria itu masih terisak. Begitu lirih namun Kyungsoo tahu kalau ia begitu kesakitan. Ia tidak pernah menyangkanya. Kalau Sehun yang dikenalnya ceria, nakal, dan tahan banting itu mampu menangis seperti itu.

Kyungsoo mengkerutkan keningnya saat mengenali sosok Sehun di basememt dengan penyamaran lengkap. Untuk sesaat ia ragu apakah itu benar Sehun namun ketika ia melihat jaket yang pria itu kenakan, ia langsung tahu itu Sehun. Ia mengangkat tangannya berniat memanggil membernya itu saat ia melihat Sehun masuk ke dalam sebuah mobil yang ia tahu itu bukan mobilnya.

Mata besarnya memperhatikan mobil itu dengan seksama. Apa mungkin Sehun membeli mobil baru?  Itu bukan hal aneh mengingat ia tahu Sehun senang mengoleksi serentetan mobil mewah. Darah chaebol yang sepertinya tidak bisa lepas dari diri anak itu. Diantara membernya yang lain, Sehun adalah yang pertama bisa membawa mobil, memiliki international driving liscence dan mampu membeli sebuah mobil  bahkan sebelum mereka debut.  Kyungsoo mendengus memikirkan betapa menyenangkannya tumbuh di keluarga kaya raya yang mampu membeli mobil mobil mewah layaknya kacang goreng. Ia berjalan menuju mobil itu, ingin memergoki Sehun dan memberi ‘salam perkenalan’ pada mobil baru adiknya saat lagi lagi ia terkejut.

Im Yoona berjalan dan melambai pada seorang staff yang menyapanya. Yang membuatnya terkejut bukan karena sunbaenya itu berada di kantor. Ia hanya kaget saat Yoona memegang gagang pintu mobilnya dan menoleh cepat ke kanan kirinya–Kyungsoo dengan sigap bersembunyi di samping mobilnya. Dan kemudian masuk ke kursi penumpang.

Kenapa Sehun dan Yoona berada dalam satu mobil? Oke itu mungkin tidak aneh mengingat mereka berdua terkenal cukup dekat. Yang membuat Kyungsoo curiga adalah tingkah laku Sehun dan Yoona yang tampak bersembunyi dari sesuatu?

Dari apa? Paparazi kah? Tapi ini adalah kantor agensinya dan ia cukup yakin pengamanan di luar gedung mampu mencegah paparazzi. Wartawan wartawan itu sebenarnya tidak segila yang fans fans pikirkan.

Kyungsoo melihat saat mobil putih itu berlalu melewatinya. Entah apa yang dipikirkannya, ia langsung masuk ke mobilnya dan mengikuti mereka. Di perjalanan ia mencoba menelpon Sehun. Ia curiga dan ia ingin memastikannya.

“Hyung?”

“Sehun-ah,” Kyungsoo masih mencoba mengikuti mobil itu dengan tetap menjaga jarak, “kau dimana?”

Sehun terdiam beberapa saat, “Aku di rumah, hyung. Kenapa?”  Kyungsoo mengeratkan pegangannya pada setir mobil. Kenapa Sehun mesti berbohong? Apa yang dia lihat tadi itu benar Sehun?

“Aku kesana ya? Aku merindukan Vivi” 

“Jangan!” terlalu cepat. Jawaban Sehun terlalu cepat dan bahkan sedikit membentak Kyungsoo. Membuat lelaki bermarga Do itu terdiam dengan gelisah.

Sehun berdehem pelan, “Eumm disini ada keluarga calon kakak iparku dan percayalah, kau tidak mau datang di pertemuan keluarga seperti ini,” diujung sana Sehun tertawa yang justru terdengar canggung di telinga Kyungsoo, “aku akan membawa Vivi beso–Ah, maksudku kapan kapan. Besok ia mau dibawa kakakku ke salon”

“Yah. Padahal aku bosan di dorm. Omong omong ada orangtuamu?”

Mobil yang ia ikuti berhenti di depan sebuah minimarket. Kyungsoo meneruskan laju mobilnya untuk menghilangkan kecurigaan. Sial ia lupa, Sehun mungkin familiar dengan plat mobilnya. Ia melewati Ford putih itu, menyadari kaca filmnya yang sangat gelap menyamarkan dua orang yang berada di dalamnya.

“Hyung, kau dimana sekarang?” 

Kyungsoo menyadari kecurigaan di suara Sehun, sehingga ia memutar otak dengan cepat, “Aku di mobil,” jawabnya jujur, “Temanku bilang ada kedai kopi yang enak di daerah Samyundong. Aku menelponmu karena ingin mengajakmu kesana” kebohongannya keluar dengan lancar. Dalam hati Kyungsoo berdoa Sehun tidak menyadari kegugupannya.

“Kapan kapan kau harus mentraktirku disana hyung. My treat” kecurigaan itu lenyap. Beruntung Kyungsoo mengingat ia pernah ke kedai ini semasa sekolah dulu. Kyungsoo memarkirkan mobilnya di parkiran, “Aku tunggu lho hun”

Sehun tertawa “Eh hyung aku harus pergi. Sejun hyung memanggilku”

Setelah itu ia tahu Sehun akan melanjutkan perjalanannya dan dengan cepat ia memberhentikan taksi yang lewat, “Ikuti mobil putih itu” katanya saat melihat mobil Sehun melewatinya.

Ford putih itu berhenti tidak jauh dari Seoul Forest. Hujan sudah turun dengan deras menutupi pemandangan yang seharusnya indah. Taksinya berhenti di tempat yang strategis. Hampir 30 menit Kyungsoo nyaris kebosanan, namun rasa penasarannya mengalahkannya. Kemudian setelah ia memutuskan untuk pulang dan mengakhiri kegiatan mata mata gadungannya, ia melihat Sehun keluar dari pintu pengemudi dan masuk ke kursi penumpang. Kyungsoo berpikir sepertinya Sehun akan lama didalam mobil itu, mengingat ia baru saja pindah ke kursi penumpang di belakang. Ia juga yakin Yoona sudah pindah. Jadi ia memutuskan untuk pulang ke dorm. Sepenuhnya melupakan alasan kenapa ia pergi ke kantor malam itu.

Dan pada esok harinya, ia melihat the super happy Sehun menyapanya ramah sekali. Semalam lelaki itu pulang sekitar tengah malam, saat Kyungsoo sudah tidur karena kelelahan. Kyungsoo bertanya apakah Sehun ingin membeli mobil baru di perjalanannya menuju gedung latihan mereka. Yang dijawab dengan gelengan Sehun. Ia bilang ia cukup puas dengan Aston Martin yang baru dibelinya tahun lalu.

Tapi kemudian Ford putih yang semalam ia ikuti berada di parkiran diikuti dengan Yoona dan Sooyoung keluar dari sana dengan manager SNSD. Saat Joonmyun menarik yang lain untuk menyapa sunbae mereka itu, Kyungsoo menyadari pandangan Sehun pada Yoona. Wanita itu juga tampak ceria sekali.

Dan pada saat itu ia sadar ada sesuatu diantara Yoona dan Sehun.

Kyungsoo terbangun dari lamunan panjangnya saat Jongin berbaring dengan tiba tiba. Ia melirik Sehun mendadak bangkit dan masuk ke kamar mandi. Mereka berdua menatap pintu itu dengan nanar. Pandangannya sama sama menunjukan kekhawatiran terhadap maknae mereka yang tidak hanya sakit secara fisik, namun juga hatinya.

Jongin bangkit dan berdiri di depan pintu kamar madi. Pria itu tampak ragu untuk masuk atau tidak. Ia tidak dapat mendengar isakan Sehun karena pintu soundproof ini, tapi ia tahu kalau maknaenya itu sedang menangis. Cukup keras untul membangunkan Kyungsoo dan Jongin, makanya ia masuk kamar mandi. Dan berhasil membuatnya khawatir sekali.

Jongin mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana kalau Sehun collapse lagi dikamar mandi? Mengingat kondisi fisik anak itu sedang tidak baik baik saja.

“Hyung, haruskah aku masuk?” ia menoleh dan mendapati lelaki yang lebih tua itu terduduk di kasur Sehun. Napasnya naik turun dengan tidak teratur membuat Jongin bingung terlebih hyungnya tidak menjawab pertanyaannya. Pada akhirnya ia menyalakan lampu dan berjalan menuju Kyungsoo.

“Hyung?”

“Jongin,” suaranya tampak bergetar, “Apa yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan sakit hatinya?”

Digenggamannya ada kotak berwarna biru dan ia menatap Jongin dengan matanya yang basah.

//

Yoona masuk ke dapurnya dengan lunglai. Ia membuka kulkas dan meneguk air dingin dengan cepat. Nafasnya memburu sesaat setelah kenangan itu kembali menyerbunya.

Dua tahun yang lalu, pria itu menciumnya disini. Menatapnya seolah ia adalah perempuan tercantik yang ada di hidupnya. Perasaan yang membuncah di dadanya kala itu, Yoona masih mengingatnya dengan jelas.

Ia tertawa hambar saat melihat kursi yang biasanya di duduki kekasih hatinya itu kosong. Ya kosong. Seperti hatinya yang kosong saat pemiliknya pergi.

Sehun, aku merindukanmu.

Setelah kejadian di atap itu, Yoona belum bertemu Sehun lagi. Ia masih belum sanggup. Hatinya masih belum sanggup. Dan itu sangat menyiksanya. Yoona berusaha melupakannya. Bahkan menyetujui permintaan Kris untuk mencoba. Memulai hubungan mereka dari awal.

Tapi ia tak pernah menyangka rasanya akan sesulit ini.

Semua perasaan yang ia rasakan saat bersama Kris dulu seperti menguap. Kenyamanan dan keamanan yang ia rasakan hilang layaknya kabut. Dia justru merasa bersalah. Ia merasa seperti ketahuan berselingkuh dengan sahabat baik kekasihmu.

Bisa kau bayangkan bagaimana perasaannya sekarang?

Perkataan Nami terngiang di kepalanya. Ia berusaha menghindari pertanyaan itu. Yoona tidak ingin mengetahui jawabannya tapi sepertinya ia tahu sekarang.

Tatapan nanar yang dilemparkan Sehun padanya tadi berhasil merobohkan pertahanan yang susah payah ia bangun seminggu ini. Berhasil menjawab semua kekhawatiran yamg ditahannya.

Ia mungkin hanya melihatnya tak lebih dari 1 menit. Tapi itu sudah cukup. Ada perasaan aneh saat melihat Sehun muncul di layar tab nya. Melihat Sehun menjalani hari harinya seperti biasa membuatnya lega. Melihatnya terasa menyenangkan. Seolah menyembuhkan kerinduan yang diam diam ia tahan.

Tapi itu juga menyakitkan menyadari tatapan Sehun padanya. Cognac yang biasanya selalu kuat itu tampak rapuh. Untuk sesaat saat iris mereka bertemu, dia seperti tenggelam dalam kepedihan yang coba lelaki itu tahan. Menyakitkan melihat kelelahan itu begitu nyata di wajahnya yang tirus.

Sehun sakit dan ia sangat tidak baik baik saja.

Itu menyakitkan. Perasaannya seperti digantung beban berat. Membuatnya sesak dan sulit bernafas. Saat Sehun mengalihkan pandangannya, ia yakin sekali kalau dirinya menangis. Ia bahkan mengabaikan kalimat terakhir Kris.

Karna bukan lelaki itu yang ia harapkan mengucapkannya.

Yoona masuk ke kamarnya dan mengambil handycam. Dia tidak tahu apa yang mendorongnya tapi ia menemukan dirinya menonton semua kebersamaan mereka yang terekam.

“Sehun-ah”

Dilayar lelaki itu terlihat serius dengan gamenya. Tidak memedulikan Yoona yang memanggilnya.

Oh Sehun~” Yoona melihat tangannya sendiri menekan pipi Sehun, “Lihat dia, begitu serius dengan game yang bahkan tidak ada sexy sexy nya sama sekali” suaramya terdengar merajuk.

“Tentu saja kau lebih sexy, sayang.” Sehun menyahut santai. Yoona mendengar dirinya sendiri tertawa dan mencubit pipi Sehun, “Uhhh imutnya. Noona’s heart fluttering because Sehunie words”

Lelaki itu tersenyum dan menghentikan gamenya. Ia menghadap Yoona–kamera sebenarnya. “Jantung mu, sehat kan?

Yoona di dua waktu yang berbeda itu terdiam saat Sehun memberikan killer smilenya. Hanya senyum tipis, tapi ia tahu Yoona di masa itu tak berkedip, “Astaga! Suara apa itu?” ia tersenyum mengejek, “Kau dengar? Dugum dugum dugum. Keras sekali! Noona kau baik baik saja?”

“Sehunnn~~~” suaranya tampak kesal dan geli.

“Noona, kau mendengarnya? Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit?” raut wajahnya menggoda–still with that kitty smile.

Tangannya mengelus pipi Sehun lembut, “Kau mau tau bagaimana menyembuhkanku?”

“Bagaimana~” sialan, kini Oh Sehun menggerak gerakan kepalanya imut. Aegyo attack yang selalu mampu membuat Yoona luluh.

“Yatuhan Oh Sehun! Cium aku sekarang!”

Sehun tertawa terbahak bahak dan menunjuk nunjuk wajahnya. Kemudian ia menyeringai, “Apa kau yakin? Apa nanti jantungmu tidak meledak? Noona aku takut nanti kau ti–“

“Berisik! Sana lanjutkan game sexy mu it–“

Kamera tiba tiba terdorong, folusnya tergeser menjadi kacau. Yoona bisa merasakan wajahnya memerah karena ia tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Yoona menggeser video itu. Dan memutar video lainnya. Wajahnya sendu. Ia merindukan waktu itu. Merindukan tawa Sehun. Merindukan ciumannya.

“Test test” kali ini Sehun muncul sendirian di kamar Yoona. Tampilannya acak acakan dan ia hanya menggunakan kimono tidur. Ia menyentuh lensa kamera dan mengotal atiknya. Wajah seriusnya tampak lucu dan tampan pada saat yang sama.

Ia mengerutkan kening saat mengingat ia tidak pernah menonton video itu.

“Eumm Yoona-ssi,” Sehun akhirnya duduk dan tersenyum, “Bagaimana konsermu? Jangan terlalu aktif, nanti kau kelelahan.”

Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menengok ke belakang. “Kau lihat? Itu dirimu, sleeping beauty. Terlalu lelah sehabis menghadapi little Sehunnie” lelaki itu tertawa tawa tak jelas. Yoona memerah, ternyata Sehun merekamnya sehabis percintaan mereka berminggu minggu lalu.

Maaf memberimu banyak sekali hickey. Kau pasti akan kesulitan menutupinya kan?” Ia menyeringai, “Habis kau terlalu menggoda. Rasanya aku ingin menghajarmu sampai habis.”

“Oke, so aku tak tahu apa yang kulakukan dengan video ini.” ia bergumam pada dirinya sendiri, “Ah! Tadi aku bermimpi indah sekali. Mau mendengarnya?” Sehun tersenyum dan mengangguk angguk.

“Tadi aku terbangun di sebuah kamar yang indah. Udaranya sejuk dan perabotnya terbuat dari kayu yang cantik. Itu mengingatkanku padamu. Kau ingin punya rumah yang seperti itu kan? Tapi tiba tiba aku kelaparan dan aku memutuskan untuk mengikuti aroma yang menggoda itu.

Kemudian aku sampai di tempat yang kuyakini sebagai dapur dan mendengar suara tawa mu di belakang. Aku tersenyum dan melangkah ke sebuah taman kecil yang indah.

Matanya terpejam dan senyumnya kini sangat manis, “Kau ada disana, Yoona. Sedang tertawa bersama seorang anak kecil dan Vivi–hey apa itu Vivi? Dia terlihat besar sekali. Anak lelaki itu menoleh dan aku merasa dunia berhenti.

Dia sangat mirip denganmu. Dan yang mengejutkan dia juga mirip denganku. Tampan sekali. Aku hanya terpaku menatapnya sampai kau memanggilku. ‘Yeobo! Kemarilah, Reino sudah mampu berlari!”

Sehun menangkupkan tangamnya di dada, senyumnya semakin lebar. “Anak lelaki itu tertawa tawa dan berlari pelan dengan kakinya yang mungil. ‘Daddy!’ katanya dan ia merentangkan tangannya padaku. Saat itu aku paham kalau dia adalah putraku dan sungguh, kau tidak bisa membayangkan betapa bahagianya aku saat ku memeluk kami berdua”

Senyum di wajahnya memudar dan ia tampak menggerutu sebal, “Dan aku terbangun saat tanganmu memukul kepalaku. Rasanya aku ingin sekali memarahimu tapi kemudian kau mencebik imut dalam tidurmu. Dan aku tahu aku tak bisa menahan ditiku sendiri untuk tidak menciummu. Maaf karena mencuri satu ciuman darimu, okay?”

Ia terkekeh, “Yoona. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu membahagiakan sampai aku ingin menangis karena berhenti begitu saja. Aku jadi memikirkannya. Selama ini kau selalu meminum pil pencegah kehamilan setelah bercinta denganku kan?”

“Aku mungkin terdengar gila, tapi aku ingin kau berhenti meminumnya. Kalau nanti kau mengandung anakku, Oh Sehun bersumpah ia akan menjadi pria paling bahagia di dunia.”  Kali ini ia terdengar serius.

Yoona menahan nafasnya melihat senyum Sehun. Air mata sudah menuruni pipinya tanpa sadar. Di layar, Sehun  mengusap wajahnya dan kembali tersenyum tipis. “Tapi aku tidak mau married by accident. Aku ingin melamarmu, one bended knee. Aku ingin melihat senyum bahagiamu saat itu.”

“Im Yoona, aku, Oh Sehun akan menikahimu. Aku akan menjadikanmu wanita tercantik di hidupku. Aku akan menjadikanmu Ratu-ku. I’ll give you all of me. Hatiku, waktuku, hidupku. Kau adalah pemiliknya, sayang.”

“Kau tahu apa yang paling kuinginkan? Aku ingin menggenggam tanganmu selamanya. Tumbuh tua bersama dan keluar dari dunia kejam ini. Aku akan kembali ke perusahaan ayah dan kau akan berhenti sebagai Girls Generation. Kau bisa mengejar mimpi masa kecilmu untuk menjadi dokter dan kita akan membangun keluarga dengan anak anak yang lucu. You’ll gonna be a great mother.”

Lelaki itu menegakan duduknya dan ia menatap Yoona yamg tertidur dibelakangnya. Kemudian ia berbalik kembali, “Aku akan berusaha keras mewujudkan mimpiku itu, Yoona. Meskipun aku tahu terlalu banyak yang menghalangi itu. Untuk saat ini, aku cukup puas denganmu disisiku. Im gonna be fine as long as you with me.”

Ia berjalan kearah kamera dan melambai, “Sleep well baby,” ia tersenyum manis sekali membuat Yoona menahan nafasnya.

“Karena aku akan selalu mencintaimu. Kau dengar? Aku, Oh Sehun, akan selalu mencintai Im Yoona”

Yoona melempar handycam nya ke kasur. Kebahagian di wajah lelaki itu masih terbayang. Dan ia tak sanggup mengingatnya. Ia tak sanggup.

Yoona memeluk lututnya dan menangis disana. Mengingat semua kenangan manis. Mengingat kalau bayangan keluarga yang baru saja Sehun begitu menggiurkan.

Sehun, apakah kita bisa mewujudkannya?

Dan Yoona terus menangis. Tidak mempedulikan suhu yang semakin turun dan langit yang mulai murung dengan tangisan. Tak peduli kalau ia memiliki segudang jadwal untuk esok harinya.

Karena yang ia inginkan hanya Oh Sehun datang dan memeluknya. Menciumnya seperti tidak pernah ada masalah diantara mereka.

Aku mencintaimu, Yoona. Demi tuhan, aku mencintaimu.

//

“Hey”

Kwon Yuri menoleh dan mendapati Jongin melambai padanya. Wanita itu tersenyum menghampiri Jongin. “Penampilan bagus.” puji Yuri saat memberikan friendly hug pada Jongin.

“Bagaimana keadaan teman sekamarmu?” tanya Jongin seraya memberikan sekaleng kopi padanya.

“Dan bagaimana pula keadaan teman sekamarmu?”

Yuri mendesah dan meneguk kopinya, “Dia tidak pulang semalam. Dan aku berani bertaruh ia habis menangis. Matanya menyeramkan tahu.”

“Lucunya,” Jongin tersenyum masam, “Sehun juga menangis semalam. Sepertinya ia berniat melamar Yoona.”

“APA!?”

Jongin mendesah panjang dan menyandarkan tubuhnya pada dinding kusam gedung MBC. Mereka baru saja selesai tampil di Music Bank dimana Yuri menjadi MC nya, “Ya aku menemukannya menangis tengah malam memegangi cincin yang terlihat seperti cincin lamaran.”

“Tunggu, kau melihatnya menangis? Dan dia tidak bersembunyi lagi?”

“Lebih tepatnya, aku dan Kyungsoo melihatnya diam diam menangis,” ia menoleh dan tersenyum tipis, “Kyungsoo juga tahu omong omong.” Ia terdiam sejenak mengingat kelakuan lelaki China itu, “Dan sepertinya Luhan juga mengetahuinya.”

“Wah ini tak adil,” Yuri bersedekap, “kita sampai tergeret skandal demi bisa mengetahuinya dan hyungmu mengetahuinya semudah membalik telapak tangan.”

Jongin terkekeh, “Mungkin kita memang kurang keberuntungan. Berbanggalah, aku yakin mereka tidak tahu lebih banyak dari kita.”

“Jadi kalian itu apa? Pasukan pembela Oh Sehun begitu?” Yuri mengikat rambutnya asal asalan dan menatap Jongin sebal, “Terus fungsinya Kim Joonmyun apa? Guardian Angel macam apa yang suka marah marah sepertinya?”

Sebenarnya leadernya itu tidak ada hubungan apa apa dengan pembicaraan mereka, tapi karena ia tadi ia ingat Suho membuat Yuri kesal di backstage tadi, ia jadi memakluminya. Wanta dan segala perasaan perasaannya, gumam Jongin dalam hati.

“Oi Jongin, sehabis ini apa yang harus kita lakukan? Aku ingin membantu mereka. Aku benar benar ingin membantu Yoona.” Jongin menatap Yuri yang mendongak menatap langit senja. Ekspresinya tampak sendu. Mungkin Yuri juga sama lelahnya dengan Jongin melihat ini semua.

“Aku sudah memikirkannya,” katanya membuat Yuri menoleh, “Semua yang belum terjawab, kita harus mengetahuinya secepatnya. Kali ini aku serius. Semakin lama kita bergerak, kondisi Sehun semakin buruk.”

Yuri tertawa sinis, “Bagaimana caranya? Menanyakannya langsung pada Oh Sehun begitu? Seperti dia mau menjawab saja.”

“Ya, tentu saja.” Ia menyeringai membuat Yuri melebarkan matanya penuh keterjutan, “Yang paling tepat adalah bertanya secara langsung kan?”

“Ya! Kau benar benar serius?” tanya wanita itu akhirnya setelah menyelidiki ekspresi Jongin.

“Aku tidak mungkin bercanda untuk hal seperti itu, kan?” Jongin terkekeh sebelum ia cemberut karena mengingat sesuatu, “Omong omong Yoona tidak tahu kalau Sehun sakit kan?”

“Tidak, dia tidak tahu. Lucunya, Jessica Jung malah tahu. Sepertinya Kris tidak repot repot mengatakan maknae kalian sedang sakit ke pacar pura puranya itu huh?”

“Bagus. Karena Oh Sehun akan menghajarku sampai mati kalau Yoona sampai tahu.”

Sekali lagi Yuri melebarkan matanya mendengar ucapan pria tan disisinya itu “Yatuhan Kim Jongin, berhenti membuatku kaget dan katakan saja!”

“Noona, kita tak perlu bersembunyi lagi. Sehun sudah tahu kalau kita berdua mengetahui hubungannya.” Ia tersenyum lebar, “Semalam aku berhasil membujuk anak itu makan dengan membawa nama Yoona. Hebat, eh? Bahkan Kyungsoo pun memujiku karena itu.”

Yuri terdiam beberapa saat dan Jongin pun ikut terdiam. Ekspresinya serius sekali hingga Jongin bingung harus membicarakan apa dengan wanita ini, “Jongin. Tidakkah kau merasa ini aneh? Kenapa Sehun mendadak melemahkan pertahanannya seperti ini?”

“Mungkin,” ia membuang pandangannya menatap matahari yang menampilkan cahanya malu malunya, “karena ia sudah terlalu lelah dengan ini semua. Mungkin ia pikir sudah tidak ada gunanya merahasiakannya begitu rapat. Mungkin.”

Ponsel Yuri berdering. Ia merogoh sakunya dan melihat manager menelponnya, “Time to go?” tanya Jongin saat melihat Yuri menatap ponselnya sampai diam. Dia mengangguk dan tersenyum pada Jongin. “Apa aku perlu mengatakannya juga pada Yoona? Kalau aku sudah tahu?”

“Pilihanmu, noona.”

Wanita bermarga Kwon itu memijat pangkal hidungnya. Mendadak pening dengan rencana mereka selanjutnya, “Jadi kita akan mulai maju kedepan. Aneh rasanya setelah sekian lama bermain di belakang.”

“Noona,” Jongin meremas kaleng kopinya sampai penyok dan membuangnya asal, “tolong jangan salah paham. Fokusku saat ini hanyalah menjaga Sehun. Mendukungnya. Meskipun aku tahu kebenarannya sekalipun, aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuannya. Aku tidak ingin menambah masalah dengan bertindak semauku.”

Yuri tersenyum dan mengangguk angguk, “Saat ini Sehun dan Yoona membutuhkan kita berdua. Akan lebih baik jika kita tidak ikut campur dan hanya diam mendukungnya kan? Pada akhirnya, mereka sendirilah yang menentukan bagaimana semua ini akan berakhir.”

“Ya. Aku akan mengabarimu jika aku tahu sesuatu lagi, noona.”

“Acha! Aku bisa pulang sekarang. Dan oh! Pastikan Sehun menjaga kesehatannya di masa comeback seperti ini ya Jongin. Aku tidak ingin Yoona tersiksa karena khawatir dengan si pucat itu. Aku tahu sampai sekarang ia belum siap bertemu dengan Sehun.”

Jongin tersenyum dan membiarkan Yuri berlalu. Ia menghela nafas panjang dan duduk bersila, menunggu sinar terakhir matahari menghangatkan tubuhnya.

“Oh Sehun, aku akan berusaha semampuku untuk menolongmu. Jadi kau harus berusaha keras juga untuk menolong dirimu sendiri, okay?” bisiknya pada angin yang menerbangkan helai helai rambut coklatnya.

//

“Kau sudah minum obatmu, Sehun?”

Lelaki berkulit pucat itu mengalihkan pandangannya dari panggung. Ia tersenyum tipis dan menggeleng. Mengundang decakan kesal lelaki yang lebih tua itu. Kris langsung menyentuh dahi Sehun, memeriksa temperatur tubuhnya.

“Kau keringat dingin, Sehun! Apa benar tak ap–”

“Hyung, aku baik baik saja. Aku masih kuat untuk tampil kok.” Sehun mengusap punggung tangan Kris di bahunya. Rasanya aneh melihat Kris begitu peduli padanya saat hal yang paling diinginkannya saat ini adalah memaki lelaki itu sampai puas.

Kris mendesah dan menggenggam tangan Sehun, “Kau butuh liburan, Sehun. Ada banyal hal yang kau pikirkan kan? Ada apa? Kau bisa menceritakannya pada hyung.”

Yang lebih muda itu terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tentu saja dia tidak bisa menceritakan masalahnya pada lelaki itu saat ia adalah salah satu sumber utama rasa sakit dikepalanya yang berdenyut denyut. Pada akhirnya ia membuang pandangannya ke atas panggung.

Perempuan itu disana, tampak seksi dengan dress hitamnya. Tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa apa. Seolah ia tidak terluka. Dan itu menyakitinya. Melihat Yoona begitu tenang. Melihatnya bertingkah malu malu saat fans berteriak menyebut nama Kris saat Yoona berbicara.

That should be me.

Sehun melirik Kris. Memperhatikan senyum yang melebar saat melihat fans secara tidak langsung mendukung hubungannya dengan visual mereka itu.

“Apa benar Yoona tak apa, Kris? Aku lihat masih banyak netizen yang tidak suka dengan hubungan kalian lho.” Suho menghampiri pria itu. Lelaki itu mendadak menjadi lebih ramah terhadap Kris setelah berita tentangnya keluar. Membuat Sehun mendengus sebal menyadari lelaki itu tidak sebaik yamg ditunjukannya di depan kamera.

Sehun, memangnya apa yang bisa kau harapkan dari seorang publik figure seperti mereka?

“Yah, mau bagaimana lagi? Nanti juga mereka diam sendiri.”

“Duijang! Mau ikut tidak?” Baekhyun yang sedari tadi berada di belakang mereka menyerbu ditengah tengah Kris dan Sehun.

“Kemana, Baek?”

Baekhyun tertawa tawa dan menunjuk wanita yang sedang ia incar sedang berbicara diatas sana, “Taeyeon noona mengajakku ke Huai Ji–restoran Hot Pot terkenal itu.”

“Byun Baekhyun, kau mengajakku double date?” Lelaki yang lebih kecil itu menganggul penih semangat, “Duijang, please. Akhir akhir ini aku canggung sekali bertemu dengan Taeyeon.”

“Tidak bisa,” Kris tersenyum meminta maaf. Ia buru buru menyergah saat Baekhyun hendak membuka mulutnya, “Aku sudah ada janji bertemu dengan ibu.”

Kali ini Suho menyeringai dan menepuk nepuk punggung Kris, “Mau memperkenalkan wanitamu pada mama huh?”

Baekhyun dan Sehun sontak mengalihkan pandangan mereka dari kesembilan wanita cantik yang baru saja bersiap untuk menampilkan lagu mereka. Baekhyun menyeringai menggoda Kris, sedangkan Sehun menatapnya murung. Menunggu jawaban lelaki itu.

“Ge, kau mau mengajak Yoona noona bertemu dengan ibu-mu? Woah daebak!”

Kris gelagapan melihat tatapan Baekhyun dan Suho padanya. Ia bisa berasakan wajahnya merah. Sial, bagaimana Suho tahu tentang itu!? Kris akhirnya melempar kekehan kecil dan mengangguk kemudian menatap The Boys yang sedang ditampilkan diatas panggung SMTown World Tour itu.

Tidak menyadari ekspresi Sehun yang berubah sendu.

Satu bulan yang lalu, ia mempunyai niat yang sama. Memperkenalkan Yoona kepada orangtuanya. Menunjukan pada wanita itu kalau ia serius. Ia tidak menganggap hubungan mereka main main. Ia ingin menunjukan pada Yoona kalau dia penting untuknya.

Sehun meremas cincin yang tergantung di lehernya. Ia kemudian memejamkan matanya, merasakan jantungnya yang berdebar kencang hingga terasa sakit. Sehun sendiri tidak paham kenapa ia mengeluarkan benda yang menjadi saksi kejadian malam yang sangat dibencinya itu.

Bisakah ia memutar balik waktu? Jika Sehun lebih cepat membawa perempuan itu ke orangtuanya akankah cincin itu berada di jari manis Yoona?

Sekali lagi Sehun mendesah saat mengingat orangtuanya yang memutuskan untuk melanjutkan perjodohan mereka. Yang membuat Sejun uring uring-an merecoki Sehun untuk membantah habis habisan rencana gila itu. Kakaknya itu, dia cukup tahu kalau Sehun sebenarnya tidak menginginkan ini dan merasa bersalah karena dia secara tak langsung telah membuat adik bungsunya terlibat dalam hubungan yang tidak ia hendaki.

Mungkin karena aku akan bertemu calon istriku dalam waktu dekat ini. Mungkin karena aku akan menikah dengan orang asing, makanya aku memakai cincin kita, Yoong.

“Yo, kau tak apa?” Ia merasakan tepukan di bahunya. Jongin meringsut mendekat, berbisik. Sehun mengembangkan senyumnya menyadari Jongin diam diam mendengarkan percakapan mereka.

“Tidak usah dipikirkan.” Jongin menatapnya iba, “Apa kau mau aku membuat dia sibuk sehingga tak bisa datang?”

Kali ini, Sehun terkekeh. Oh betapa ia sangat menginginkan hal itu. Ia tidak rela rasanya mengetahui Yoona bertemu dengan ibu Kris, saat dia juga menginginkan hal yang sama. Tapi Sehun, meskipun merasakan kelegaan yang aneh saat tahu kalau Jongin akan mendukungnya, tidak ingin melibatkan lelaki itu. Jongin sudah banyak berkorban untuknya. Ia bahkan rela menjadi korban gosip tidak jelas itu. Tidak, Sehun tidak akan meminta lebih dari itu.

“Aku tidak apa, Kai. Terimakasih omong omong.”

Jongin membuang nafas kasar saat Sehun membuang pandangannya ke sunbae mereka yang sebentar lagi akan turun dari panggung. Ia melirik Sehun, memastikan lelaki itu cukup kuat untuk tampil di panggung.

“Sehun-ah, kau bisa kan? Kalau kau tak sanggup, berhentilah. Hyung mohon, oke?” Ia mendengar Kris berkata. Sekali lagi Jongin melihat ekspresi Sehun yang datar.

“Goodjob, sunbae!” Jongin sempat mendengar Chen berteriak lantang ke gerombolan wanita yang penuh keringat melewati mereka sebelum ia merasakan tangan pucat Sehun menariknya naik ke atas panggung.

Lelaki itu rupanya belum juga siap untuk melihat Yoona.

//

“Woah!!??” Kris berteriak dengan suara bass nya setelah mereka menyelesaikan Overdose mereka. Member lainnya tertawa tawa mendengar suara duijang mereka.

“Are you guys ready to rock the night!!??” Lelaki itu tersenyum senang saat fans berteriak menjawab pertanyaannya. Hari ini ia sedang sangat senang, jadi ia mau mengambil alih saat membernya yang lain sedang sibuk minum dan mengusap keringat mereka. “Today, we have special performance for uri EXO-L. Ready!??”

“Canada, put your hands up!!”

“Lemme hear you make some noise!!”

Seluruh stadion dipenuhi gemuruh fans yang histeris. Kerlap kerlip lightstick berbagai warna menjadi pemandangan mereka saat itu. Tidak bisa dipungkiri, SMTown hari itu dipastikan sukses besar jika melihat dari banyaknya fans tanah Amerika itu yang datang.

“Yo hyung galaxy!” Panggil Chanyeol membuat Kris menoleh, “kata mu akan ada penampilan spesial. Apa itu!?”

“Woah aku sangat penasaran.”

“Laxy dance?”

Member tertawa, begitupula dengan stadion itu. Kris menyampirkan lengannya di leher Sehun dan menatap maknae itu dengan tatapan menggoda, “Mari tanyakan pada Mr. Maknae, shall we?”

Sehun tersenyum senyum saat fans mulai sahut menyahut menyebut namanya. Sejujurnya, Sehun tidak yakin ingin melakukan ini. Tapi kemudian ia teringat malam malam dimana Yoona mengajarinya bernyanyi.

Kau hanya kurang percaya diri, sayang.

Sehun memantapkan hatinya yang berdenyut denyut dan membalas tatapan para membernya. Mereka tahu Sehun ragu dengan kemampuannya sendiri. Pihak SM pun tidak biasa biasanya memberikan pria itu kesempatan untuk menolak performance ini. Jadi mereka menatap tatapan maknae mereka dengan lembut. Seolah mengatakan kalau tak apa jika ia tidak ingin menampilkan apapun. Toh, Suho dan Chanyeol sudah mempunyai back up plan. Apalagi kondisi Sehun sedang tidak fit. Terlihat dari wajahnya yang sangat sangat pucat di bawah gemerlap langit Kanada.

“Ummhh,” Sehun berhenti sejenak, seperti sengaja membiarkan fans berteriak melihat gestur malu malunya. Padahal tangannya menutupi wajahnya bukan karena ia malu. Melainkan serangan rasa sakit yang sama, yang akhir akhir ini selalu ia coba sembunyikan dari membernya kembali menyerangnya. “this is embarassing, really. But tonight, are you guys ready to feel more embarassed because of me!!??” Sehun akhirnya meninggikan suaranya, tetap dengan tangan di dahinya, menekan denyutan itu. Ia berusaha melebarkan senyumnya meskipun kepalanya terasa sangat berat untuk ditegakan.

Kyungsoo sadar kalau Sehun kembali kesakitan. Anak itu sebenarnya sangat keras kepala. Kondisinya masih belum benar benar fit tapi ia memaksa untuk terus beraktifitas seperti biasanya. Ia bahkan sudah kembali shooting untuk dramanya padahal pihak SM yang sekali lagi, tampak aneh dengan menawarkan Sehun untuk mengambil cuti untuk memulihkan kondisinya. Mereka sepertinya memang takut dengan Sehun–atau dengan keluarganya.

Jadi, Kyungsoo membiarkan lengannya merangkul tubuh Sehun yang besar, membuat fans kembali berteriak dengan kedekatan itu. Lelaki tinggi itu menatap Kyungsoo, ia sudah menurunkan tangan dari dahinya, tapi Kyungsoo bisa merasakan kesakitan yang coba ia tahan.

“Tunggu tunggu.” Baekhyun yang bawel berhasil menenangkan riuh fans, “Kalian jangan jatuh cinta pada maknae kami ya!!?? Ia milik kami tahu huuuu” Katanya manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

“Seriously hyung, get away from me!!”

Mereka tertawa saat Sehun menyentak Kyungsoo dan Baekhyun terlepas dari tubuhnya. Lelaki itu menggerutu kesal saat Baekhyun mencebik, “Ya maknae! Awas kau nanti di dorm!”

“Berisik” Ucap Sehun jengkel dan akhirnya ia kembali menghadap fans, “So, I’m gonna sing a song along with Chanyeol and D.O hyung. I know this is embarassing but I really hope you enjoy the song.”

“Lagu ini juga akan mengakhiri pertunjukan malam ini. In the other time, let’s make another good memories okay!?”teriak Kyungsoo.

“The song we about to sing is a cover! Amnesia, let’s go!”

Setelah gemuruh fans yamg histeris berhasil tenang, lampu mulai mati dan Sehun dan Kyungsoo berkumpul di tengah mengelilingi Chanyeol yang membawakan intro lagu dengan gitarnya.

Untuk sesaat, tatapan Sehun terpaku pada wanita yang sedang menatapnya khawatir dari samping panggung itu. Yoona berdiri di depan, lengkap dengan kaos SMtown nya bersama dengan membernya yang sudah bersiap siap untuk encore. Tatapannya menyentuh Sehun dan raut wajahnya tampak gelisah. Yoona memang tidak tahu kalau ia akan tampil malam ini. Wanita itu bahkan mungkin tidak tahu kalau ia sakit selama sebulan ini.

Sehun menyunggingkan senyumnya. Seperti mengatakan pada Yoona kalau ia mampu melakukan ini. Sehun tidak ingin mengecewakan fans tapi ia lebih tidak ingin mengecewakan wanita itu.

Intro pun dimulai dan lampu sorot menerangi Sehun. Lelaki itu menarik nafasnya panjang dan mulai bernyanyi.

 

I drove by all the places we used to hang out getting wasted

I thought about our last kiss, how it felt, the way you tasted

And even though your friends tell me you’re doing fine

 

Are you somewhere feeling lonely even though he’s right beside you?

When he says those words that hurt you, do you read the ones I wrote you?

 

Sometimes I start to wonder, was it just a lie?

If what we had was real, how could you be fine?

‘Cause I’m not fine at all

 

Sehun melirik Yoona yang terdiam. Saat ia bernyanyi, stadion terdengar hening. Terpaku mendengar penghayatan luar biasa. Tentu saja seperti itu, ia membiarkan kenangan serta perasaannya dengan Yoona membanjiri pikirannya.

Kepalanya berdenyut dan tubuhnya mendingin diterpa angin malam. Sehun bisa merasakan keseimbangannya nyaris hilang. Tapi ia tak boleh ambruk disini. Sehun tidak bisa seperti itu dihadapan ribuan fans yang melihatnya. Terlebih dihadapan Yoona. Sehun benci terlihat lemah. Jadi ia hanya mencengkram bahu Chanyeol keras saat ia nyaris limbung.

 

I remember the day you told me you were leaving

I remember the make-up running down your face

And the dreams you left behind you didn’t need them

Like every single wish we ever made

I wish that I could wake up with amnesia

And forget about the stupid little things

Like the way it felt to fall asleep next to you

And the memories I never can escape

‘Cause I’m not fine at all

 

Ekspresi Yoona. Ciuman terakhir mereka. Pelukannya. Sentuhan Yoona dikulitnya. Teriakannya. Amarahnya.

Sehun mengingat detail hari itu di atap perusahaan yang telah mempertemukan mereka. Ia mengingat bagaimana langit seolah ikut menangisi keputusannya. Ia mengingat punggung Yoona yang tidak lagi bisa ia gapai.

It fucking kill him. Those memories. Ia ingin menghapusnya. Menghilangkan perasaan berat yang terus menggantunginya. Perasaan yang tidak bisa ia hapuskan bahkan dengan jadwalnya yang padat. Tidak bisa dihapuskan oleh lelahnya tubuh dan pikirannya setiap hari.

It’s an empty house. A hole inside his heart.

 

The pictures that you sent me they’re still living in my phone

I’ll admit I like to see them, I’ll admit I feel alone

And all my friends keep asking why I’m not around

It hurts to know you’re happy, yeah, it hurts that you’ve moved on

It’s hard to hear your name when I haven’t seen you in so long

 

It’s like we never happened, was it just a lie?

If what we had was real, how could you be fine?

‘Cause I’m not fine at all

 

Ingatannya melayang pada senyum Yoona yang membuatnya marah. Dia benci ketenangan yang ditunjukannya. Seperti ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan putusnya hubungan mereka.

Rasanya Sehun ingin mencengkram bahu Yoona keras keras dan meneriakinya. Apa benar Yoona pernah sangat mencintainya? Lalu kenapa ia terlihat baik baik saja? Saat Sehun rasanya nyaris gila?

 

I remember the day you told me you were leaving

I remember the make-up running down your face

And the dreams you left behind you didn’t need them

Like every single wish we ever made

I wish that I could wake up with amnesia

And forget about the stupid little things

Like the way it felt to fall asleep next to you

And the memories I never can escape

 

Lelaki bermarga Oh itu sekali lagi memejamkan mata menahan emosinya yang nyaris tumpah. Ia tidak bisa seperti ini. Ia tidak boleh menangis sekarang. Fans akan curiga dan akan berspekulasi yang aneh aneh. Begitu pula dengan membernya yang lain.

Tapi rasanya sangat menyakitkan.

Tangannya menyentuh cincin di kalungnya. Meremasnya kuat kuat. Menggenggamnya seperti itu adalah pertahanan terakhirnya. Lirik ini. Bagian ini. Adalah hal yang paling ingin ia sampaikan pada wanita yang telah mengambil alih hatinya. Harapan terbesarnya saat ini.

 

If today I woke up with you right beside me

Like all of this was just some twisted dream

I’d hold you closer than I ever did before

And you’d never slip away

And you’d never hear me say

 

I remember the day you told me you were leaving

I remember the make-up running down your face

And the dreams you left behind you didn’t need them

Like every single wish we ever made

I wish that I could wake up with amnesia

And forget about the stupid little things

Like the way it felt to fall asleep next to you

And the memories I never can escape

 

‘Cause I’m not fine at all

No, I’m really not fine at all

Tell me this is just a dream

‘Cause I’m really not fine at all

 

Dan rasa sakit itu akhirnya pecah dalam setetes air mata yang tak sanggup lagi ia tahan.

//

Yoona tahu, bahkan di kegelapan kalau lelaki itu menangis. Ia bisa merasakan emosi yang coba ia sampaikan. Bukan. Bukan kepada fans nya. Bukan karena ia ingin menunjukan kepada fans kemampuannya bernyanyi.

Tapi karena Yoona.

Lagu itu untuk Yoona.

Ia ingin Yoona tahu kalau ia tak baik baik saja dengan hubungan mereka. Ia ingin adanya kesempatan kedua. Ia ingin memulai semuanya dari awal. Ia marah terhadap Yoona yang terlihat baik baik saja.

Emosi emosi Sehun mempengaruhinya hingga Yoona tidak sadar sejak kapan ia berlari, meninggalkan membernya. Tidak peduli mereka harus melakukan encore. Tidak peduli membernya memanggilnya. Ia hanya ingin menangis. Menumpahkan semua perasaan yang dia tahan.

No, Sehun. I’m not fine at all

//

Jessica terhenyak saat Sehun menyelesaikan lagunya. Lagu yang saat ini menggambarkan perasaannya. Ia tahu itu. Emosi yang ia tuangkan di setiap bait membuat siapapun terdiam. Perasaan lelaki itu tampak sangat jelas. Seperti buku yang terbuka.

I’m really not fine at all

Sebulan ini Sehun tidak baik baik saja. Dia mungkin berusaha terlihat baik baik saja. Tapi ia tidak.  Dia tidak baik baik saja. Semua itu hanya kamuflase. Ia terluka mengetahui wanita yang ia cintai menjalin hubungan dengan pria lain. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah hyungnya sendiri. Membernya.

Jessica begitu terpaku dengan perasaan Sehun dan baru tersadar saat Sooyoung berteriak memanggil manggil Yoona. Ia menatap punggung membernya dengan bingung. Akhir akhir ini Jessica tidak banyak bicara dengan Yoona. Ia masih butuh waktu untuk membiasakan perasaannya saat melihat Yoona. Jessica tahu dia kekanak kanakan tapi mau bagaimana lagi? Saat berada di dekat Yoona ia merasa marah. Meskipun ia tahu Yoona tidak bersalah disini.

Bukan salahnya ‘kan kalau Sehun mencintai wanita itu?

Alunan lagu Hope mulai terdengar menandakan encore akan dimulai. Jessica bisa melihat member EXO sudah berganti baju dan berkumpul di sisi lain panggung. Ia bisa melihat Sehun diapit Luhan dan Jongin. Ia mengusap usap rambutnya dan matanya bertabrakan dengan Jessica saat wanita itu mulai berjalan di tengah panggung.

Jessica terdiam saat Taeyeon tersenyum menyapa Sehun, “Hey, penampilan yang bagus maknae! Aku sampai tak bisa berkata kata. Kau seperti bernyanyi dengan seluruh perasaanmu.”

Lelaki itu hanya tersenyum mengangguk dan berlalu dengan Jongin. Meninggalkan Jessica yang terpaku dengan perkataan Taeyeon.

Kau seperti bernyanyi dengan seluruh perasaanmu.

Jessica mengerutkan kening mengingat seluruh lirik lagu yang tadi Sehun nyanyikan. Benar, ia terlalu terpaku dengan perasaan Sehun. Ia tidak memikirkan apa yang sebenarnya coba pria itu sampaikan.

It’s like we never happened was it just a lie? If what we had was real, how could you be fine? Cause i’m not fine at all.

I remember the day you told me you’re leaving. I remember the make up running down your face.

I’d hold you closer than i ever did before.

No, I’m really not fine at all.

Dirinya tahu Sehun menggambarkan dirinya sendiri pada lagu yang ia bawakan. Tapi kemudian alam bawah sadarnya berteriak bahwa lagu itu bukan untuk Sehun.

Itu untuk seseorang yang lain.

Jessica mendadak ketakutan. Matanya terputar mencari sosok yang akhir akhir ini ia hindari sekuat tenaga. Jessica terus menerus mencegah dirinya untuk membangkitkan hlpikiran itu saat ia berjalan mengelilingi panggung SMTown mencari keberadaannya. Wajahnya tampias dan ia tidak mengindahkan panggilan rekan rekannya.

Are you somewhere feeling lonely eventhough he’s right beside you?

Jantungnya berdebum debum memikirkan opsi yang tiba tiba muncul itu. Ia semakin panik saat tidak menemukan wanita itu dipenjuru panggung. Kemudian kakinya berhenti tak jauh dari Chanyeol, Kris, dan Sehun yang sedang berinteraksi dengan fans. Mata kecilnya memperhatikan Sehun yang melambaikan tangannya tanpa minat. Senyumnya tidak mencapai matanya dan ia lebih sering menampilkan pokerface nya.

Dia tampak sedih dan pucat. Membuat Jessica berkeringat dingin. Kini jantungnya bertalu talu hingga membuatnya sakit.

Tidak mungkin!

//

Yoona menatap bayangannya di kaca.

Ia menyadari wajahnya yang mengerikan. Kantung matanya besar sekali dan pipinya menirus. Matanya sembap sebagai efek ia menangis tadi. Lagu yang dibawakan Sehun tadi berhasil mengacaukannya. Memecah pertahanan diti yang susah payah ia bangun semudah merobek kertas. Setelah sebulan akhirnya Yoona berhasil sedikit mengontrol perasaannya. Ia tak lagi ingin menangis setiap waktu meskipun ia juga tidak bilang ia baik baik saja. Ia masih sangat tidak baik baik saja. Setiap malam ia tidak bisa tidur karena kerinduan yang menyiksanya.

Wanita bermarga Im itu mendesah panjang dan memakai make up di wajahnya. Berusaha untuk terlihat cantik seperti biasanya. Meskipun sebenarnya ia sangat tidak ingin datang. Tapi ia tidak enak dengan ibu Kris yang menelponnya. Memastikan Yoona tidak lupa dengan janji makan malam mereka. Rasanya aneh bertemu dengan orangtua lelaki yang pura pura menjadi pacarmu. Yoona malah merasa dia seperti seorang wanita yang menyelingkuhi kekasihnya.

Tapi Yoon, kalian sudah tak lagi bersama.

Yoona jadi mengingat perkataan Sehun sebulan lalu di atap. Sepertinya Sehun mengatakan orangtuanya ingin bertemu sebelum Yoona memotong perkataannya. Tapi diam diam Yoona bersyukur karena Sehun belum sempat membawanya ke orang tua nya menilik keadaan akhir akhir ini. Pasti akan lebih sulit untuk memutuskan hubungan mereka.

Yoona akhirnya siap dan melangkah keluar dari toilet. Ada Kris menunggu di depan dengan wajah gelisah. Yoona berhenti sejenak dan menarik nafasnya. Bersiap menghadapi sandiwara lain yang akan dilakoninya.

“Hey,” Kris menoleh dan mendapati Yoona tersenyum lembut padanya. Tampak cantik dengan midi dress warna khaki nya. Ia sendiri memakai pakaian kasual meskipun ini tergolong dalam makan malam resmi. Itu ibunya dan ia ingin ibunya berhenti merecoki untuk keluar dari EXO. Ia ingin ibunya melihat ia bahagia bahkan ketika industri hiburan menekannya sedemikian rupa. “Kau siap?”

Yoona tertawa dan menggamit lengan Kris, “Ini hanya makan malam biasa kan Kris?” Ia bertanya ragu. Lelaki itu tersenyum sedih saat menyadari maksud wanita ini. Yoona, pada dasarnya tidak sepenuhnya membuka hati untuk Kris.

“Tentu saja, Yoong. Ibu hanya ingin mengenalmu. Tak perlu gugup.” Katanya seraya meremas tangan wanita itu di lengannya.

“Aku tidak gugup, Kris. Aku hanya merasa–” dia mengangkat bahu dan menatap ke depan, mencari keberadaan ibu Kris yang sebenarnya cukup membuatnya penasaran.

“Tidak nyaman?” Lanjut Kris. Yoona mengangguk dan menghentikan langkahnya saat Kris berhenti.

“Yoona, kalau kau tak–”

“No! Aku tak apa, sungguh. Bukan tidak nyaman atau apa. Hanya saja rasanya sedikit aneh,” dia memutar pandangan gelisah, “We’re here due to very weird circumstance anyway. Meskipun aku setuju untuk mencoba. But still.” Dia melemparkan tatapan meminta maaf pada Kris.

Kris sendiri menatap wanita itu ragu. Sebenarnya tanpa Yoona mengatakannya, ia sudah tampak tidak nyaman meskipun ia tersenyum manis. Pandangannya menyelidik. Yoona menyentuh bahu Kris, “Ayolah. Ibu mu sudah menunggu, Kris.”

Lelaki setengah China itu akhirnya mendesah dan melanjutkan langkahnya ke meja tempat ibunya menunggu.

Nyonya Wu adalah wanita yang cantik di 40 tahunnya. Wajahnya berbentuk hati dengan raut Amerika yang kental. Genggamannya di tangan Yoona kuat namun lembut. Genggaman tangan seorang wanita single parent. Wanita itu memekik girang dan memeluk putra satu satunya itu erat.

“Yaampun Jiaheng, aku tidak tahu kau mampu menakluk kan hati wanita secantik Yoona.” Ia tersenyum lebar dan untuk sesaat Yoona seperti melihat sosok ibu kandungnya dalam Nyonya Wu. Yoona tersenyum lebar, mengingat wanita dihadapannya juga sama tangguhnya dengan ibunya.

“Ibu, jangan panggil aku dengan nama kecilku di hadapan Yoona.” Rengek Kris

Nyonya Wu mengabaikan rengekan Kris dan menarik Yoona duduk disampingnya, “Yoona sudah makan malam? Kau pasti lelah sehabis konser harus datang kesini. Apa benar tak apa?”

“Tidak apa, Nyonya Wu. Aku bisa mengejar pesawat besok pagi bersama memberku yang lain.” Memang, sudah ada beberapa anggota SMtown yang langsung terbang ke Korea karena jadwal pribadi mereka. Yoona sendiri memilih untuk pulang besok pagi. Ia ingin beristirahat sebenarnya, tapi diluar dugaan Kris malah mengajaknya bertemu dengan ibunya.

Yoona memesan spaghetti. Dan setelah itu Nyonya Wu banyak menceritakan masa kecil Kris yang menggemaskan. Sedangkan Kris hanya menggerutu disamping Yoona saat ibu nya mulai menjelek jelek kan dirinya.

“Ah, apa Jessica sudah pulang? Bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.” Tanya Nyonya Wu seraya memakan Lasagna nya.

Yoona tersenyum sedih mendengar nama Jessica. Membernya itu terlihat sekali menghindari Yoona. Dia memang bersikap biasa didepan yang lainnya, tapi ia bisa merasakan kalau Jessica menghindar untuk berbicara dengannya ataupun berada di ruang yang sama dengan sama. Ia hanya melempar senyum dan mengangguk saat Yoona menyapanya. Setelah beberapa waktu, akhirnya Yoona berhenti untuk menyapa Jessica. Ia terus terusan mengatakan pada dirinya kalau Jessica mungkin butuh waktu. Ia pasti akan kembali bersikap seperti biasanya.

Tapi Yoona sadar, disudut hatinya ia takut kalau Jessica tidak akan kembali bersikap seperti dulu.

“Jessica eonnie pulang hari ini, Madam. Sepertinya besok ia punya jadwal.”

Nyonya Wu menggenggam tangan Yoona menyadari perubahan suaranya, “Pasti berat menjadi kalian kan Yoona? Mengejar jadwal yang satu ke jadwal lainnya. Kau harus jaga kesehatanmu, okay?”

“Iya, Nyonya Wu.”

“Jangan panggil aku seperti itu, Yoona. Panggil aku ibu, ya?”

Yoona tersenyum dan mengangguk meskipun hatinya berat sekali. Ia merasa berdosa membohongi wanita dihadapannya dengan hubungannya dengan Kris. Yah, meskipun ia bilang ia akan mencoba. Sebenarnya, Yoona tidak yakin ia akan membuka hatinya untuk Kris. Dia sudah lelah dengan public figure dan segala keriwehannya.

Lagipula, bukankah mereka hanya akan melakukannya selama setahun? Meskipun perusahaan berkata mereka tak peduli jika Kris dan Yoona saling jatuh cinta akhirnya, Yoona tidak berminat melanjutkannya hubungan ini setelah satu tahun. Mungkin ia sedikit trauma? Yoona tidak ingin merasa kehilangan lagi. Sudah cukup.

“APA!?”

Yoona dan Nyonya Wu sontak menoleh saat mendengar satu satunya lelaki diantara mereka itu berteriak kaget. Kris sudah berdiri dari duduknya dengan mata terbelak.

“Bagaimana keadaannya? Kalian dimana sekarang!?” Kris tampak tidak bisa mengontrol suaranya. Membuat ibunya memukul lengan anak lelakinya itu keras.

“Okay, aku akan kesana sekarang juga. Bilang pada Ki On hyung aku akan menggunakan tiketnya. Ia bisa pulang dengan yang lain besok.” Ia mengisyaratkan Yoona untuk bersiap siap pergi. “Tao, tenanglah. Jangan membuat yang lain panik. Telepon Suho atau Young Woon hyung. Aku akan segera sampai. Posisiku sekarang tak jauh dari bandara. Okay?”

Entah kenapa Yoona punya firasat buruk. Apalagi mendengar nama Tao dan Suho serta manager EXO. Siapa dia yang Kris maksud? Jantungnya mulai berdebar debar memikirkan pria yang mengambil seluruh hatinya itu.

Kumohon Tuhan, tolong jaga dia. Tolong jaga Sehun-ku.

“Ibu, maaf, tapi sepertinya aku harus kembali ke Korea malam ini. Ada situasi mendadak.”

Raut wajah Ibu Kris menjadi sedih saat anaknya itu menarik Yoona berdiri, “Aku harus segera ke bandara, Yoong. Cepat.”

“Kris apa yang terjadi?”

“Jelaskan dulu situasinya pada ibu, nak.”

Kris menghembuskan nafas panjang, “Sehun jatuh pingsan dibandara, bu. Suho ada jadwal ke Thailand malam ini jadi ia tak bisa ikut ke Korea. Aku harus segera kesana.” Sesaat setelah Kris mengatakannya, Yoona merasa angin dingin meniup jantungnya berhenti.

“Tak bisakah kau pulang besok saja? Bukankah ada manager yang mengurusnya?”

“Sebulan ini Sehun selalu sakit, bu! Hanya Jongin, Kyungsoo, Chanyeol dan Tao yang pulang ke Korea malam ini! Aku tidak bisa meninggalkan dia pada mereka. Aku harus disana. Aku leader dan dia memberku.” Kris menarik nafas panjang dan memeluk ibunya singkat, “Aku menyayangimu bu. Aku akan menelpon nanti. Maafkan aku.”

Dan Kris menarik Yoona terburu buru ke luar dari restoran. Yoona masih mencerna perkataan Kris. Entah kenapa otaknya bekerja sangat lambat.

Sehun jatuh pingsan di bandara.

Sebulan ini Sehun selalu sakit.

Yoona menyentak tangan Kris yang menggenggamnya menuju parkiran. Membuat lelaki itu terkejut, “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” ia berkata dengan dingin.

Kening Kris mengkerut, “Apa?”

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau Sehun sakit!!??” suaranya meninggi oleh amarah dan kekhawatiran.

Kris menatap Yoona dengan bingung. Wanita itu tampak pucat dan terengah engah, kenapa? Tapi sungguh itu tidak penting sekarang. Sehun belum collapse lagi sejak hari itu dan itu sangat membuatnya panik.”kenapa aku harus memberitahumu?”

“Tentu saja karena a–” Yoona mendadak berhenti dan menatap Kris dengan pandangan tak tertebak.

“Karena apa!?” karena panik tanpa sadar Kris meninggikan suaranya. Ia kemudian menggeleng tak sabaran melihat Yoona yang diam, “Sudahlah, itu tidak penting sekarang. Saat ini aku harus ke bandara secepatnya oke?” ia kemudian mendorong Yoona masuk ke mobilnya.

“Aku akan langsung ke bandara.” Kris menjalankan mobilnya dan menoleh menatap Yoona dengan permintaan maaf, “Aku akan mengantarmu sampai depan, setelah itu kau bisa naik taksi. You’re fine with that right? Aku benar benar minta maaf.”

Yoona mendadak menyentuh tangan Kris dikemudi, “Tidak. Aku ikut denganmu ke bandara, Kris.” ucapnya serius.

“Untuk apa? Tiketmu pesawatmu besok, Yoona.”

Yoona terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab Kris dengan gugup, “Eummh aku juga ingin mel–”

“Kau khawatir dengan Sehun?” Kris dengan cepat mengerti maksud Yoona. Perempuan itu tampak lega dan mengangguk, “Tenang saja, Yoona. Dia akan baik baik saja. Hanya saja aku benar benar harus kesana.”

Yoona menatap Kris ragu, sebenarnya ia sangat ingin kesana. Ia ingin berada di samping Sehun. Lelaki itu sakit selama sebulan ini dan Yoona tidak tahu!? Oh yatuhan, melihat dari reaksi Kris saja ia tahu kalau kondisi lelaki itu jauh dari kata baik baik saja.

Apalagi ia tahu kalau Sehun sangat sibuk. Mereka sedang comeback stage dan ia tetap mengambil tawaran drama. Yoona teringat dengan kondisi Sehun yang tampak sangat kelelahan saat rehersal. Ia juga ingat wajah lelakinya sangat pucat sejak SMTown dimulai. Ugh, Yoona kesal sekali. Dia merutuki dirinya sendiri yang mengabaikan hal hal kecil seperti itu.

Kenapa aku bisa tidak tahu kalau Sehun sakit?

Ponsel Kris berdering dan ia langsung mengangkatnya, “Ada apa Tao?”

“….”

Kris berhenti mendadak, membuat Yoona memekik kaget. Tapi ia langsung memperhatikan ekspresi Kris. Ia paham panggilan itu pasti menyangkut Sehun. Dan sungguh, tak ada yang lebih diinginkan Yoona saat ini selain berada di sisi Sehun atau setidaknya mengetahui kondisi lelaki itu.

Ekspresi Kris berubah menjadi lebih panik. Ia melirik keluar, “5 menit lagi aku sampai. Panggil dokter bandara sekarang!” ia menutup teleponnya dan menatap Yoona memohon.

“Aku harus seg–”

“Bagaimana keadaannya?”

Kris mendesah, “Ia sadar sebentar tadi dan kembali pingsan. Dan yah, dia lagi lagi mimisan.” Yoona mendesah terkejut mendengarnya. Ia mencengkram tangan Kris dikemudi, “Oh tuhanku, Kris! Sehun baik baik saja kan?”

Kris tahu kalau Sehun dan Yoona itu dekat. Jadi ia menganggap kekhawatiran Yoona sangatlah wajar. Ia ingin menenangkan wanita yang terlihat luar biasa khawatir itu tapi dia harus segera cepat ke bandara. ,”Percaya padaku, Yoona. Dia akan baik baik saja. Sehun kuat. Dia pasti akan bertingkah normal besok.”

Yoona menggeleng kuat kuat. Kris mungkin ingin menenangkannya, tapi ia tidak bodoh untuk menyadari kalau lelaki itu juga tidak begitu yakin dengan ucapannya. “Aku akan ikut ke bandara. Setelah itu aku bisa pulang lagi ke hotel. Kumohon.” Yoona menangkupkan tangan didepan wajahnya. Memohon.

“Tidak. Pulanglah ke hotel dengan taksi. Aku minta maaf karena harus menurunkanmu disini.”

“Kris ak–”

“Demituhan Yoona!” wanita itu tersentak kaget saat Kris membentaknya, “Apa kau masih belum puas dengan ulah fansku padamu? Kini kau mau menambahnya dengan fans Sehun?” Perkataan itu memukulnya. Yoona merasa bodoh sekali karena melupakan hal yang paling penting. Sasaeng itu.

Tapi ia ingin berada di sisi Sehun sekarang, apa itu terdengar egois sekali?

Kris keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Yoona. Ketika wanita itu sekali lagi menatap Kris memohon, dia menarik Yoona keluar dan memberhentikan taksi yang kebetulan lewat. “JW Marriot Hotel, please?” supir tua itu mengangguk.

“Kris…”

“Dengar, Yoona. Aku akan menghubungimu nanti. Tapi sungguh, saat ini memberku membutuhkanku. Sekarang kau pulang dan beristirahatlah” dengan tiba tiba ia mengecup bibir Yoona, “Maafkan aku karena menurunkanmu disini. Kumohon berhati hatilah, oke? Aku mencintaimu, Yoona.”

Yoona hanya diam. Terlalu terkejut dengan ciuman dan pengakuan cinta Kris. Jantungnya serasa mati rasa. Ia memejamkan matanya dan mengangguk. Masuk kedalam taksi tanpa membalas ucapan terakhir Kris.

Lelaki itu mengacak rambutnya kesal saat Yoona meninggalkannya dengan dingin. Tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Dia juga tidak membalas kalimat cinta, Kris. Sepertinya akan sulit sekali memenangkan hati wanita itu.

Sudah tidak ada waktu lagi, Kris! Sehun membutuhkanmu, sekarang! pikirnya seraya masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan diatas rata rata.

//

Jessica memandang minggu terakhir musim gugur mengirim angin dingin ke penjuru Seoul. Termenung memikirkan keadaan akhir akhir ini yang cukup membuatnya pusing. Lamunannya terhenti saat mendengar derap langkah kaki menujunya.

Wanita bermarga Im itu disana, menatapnya ragu. Jessica mendesah mengingat Yoona tampaknya tidak merasa aneh dengan sikap dingin Jessica beberapa minggu ini. Dan itu justu membuatnya semakin kesal.

Kenapa Yoona tidak marah pada Jessica. Kenapa ia masih mau menyapa Jessica? Kenapa ia masih bersikap baik padanya saat Jessica jelas jelas meminta Yoona mendekatkan ia dengan kekasihnya sendiri?

“Eonnie?” panggil Yoona pelan.

“Ada apa?”

Yoona memejamkan matanya sejenak. Kemudian iris caramel itu menatapnya lembut, “Ayo pulang, yang lain sudah menunggu.”

Jessica mengangguk dan membereskan barang barangnya. Ia murni lelah secara fisik dan batin. Ia berjalan melewati Yoona begitu saja, masih tak sanggup menatapnya terlebih setelah kecurigaannya terbukti. Tapi kemudian ia mengingat percakapannya kemarin saat menjenguk Sehun di rumah sakit.

“Apa rasanya sakit sekali?”

Sehun mengangkat pandangannya dari buku yang sedang ia baca, “Apa?”

“Seberapa sakit dirimu mengetahui wanita yang kau cintai menjalin hubungan dengan hyungmu hingga kau jatuh sakit seperti ini?” tanya Jessica nanar. Kris baru saja menceritakan padanya hasil kesehatan Sehun.

Sehun terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa pada wanita itu, “Noona, aku hanya kelelahan.”

“Ya dan kau kesakitan!” Jessica tampak emosi, “Tolong jangan seperti ini. Aku ingin melupakanmu, Oh Sehun. Makanya kau harus berhenti membuatku khawatir padamu.”

Diam diam Sehun tersenyum senang melihat tekad wanita ini. Jessica pasti melalui hari yang sulit berperang batin untuk peduli atau tidak peduli pada Sehun, “Aku akan berhenti membuatmu khawatir, noona.”

Mengabaikan rasa berdenyut di hatinya karena Sehun ingin dia melupakannya, Jessica menggenggam tangan Sehun yang di infus. “Kalau begitu ikut terapi, ya?”

“Aku tidak mau membicarakannya.” Sehun berdecih. Dirinya tahu kalau ia membutuhkan terapi itu. Dan ia pasti akan melakukannya, sungguh. Tak akan ada yang tahan jika rasa sakit yang sama terus menerus menyerangmu. Hanya saja Sehun rasa sekarang bukan waktu yang tepat.

Selama ini ia menolak melakukan terapi karena ia belum siap untuk kehilangan Yoona dan Kris. Jika Sehun berdamai dengan dirinya, dengan emosinya, ia takut sosok Sehun yang lemah itu akan membiarkan hatinya mengambil alih.

Tapi sekarang ia sudah kehilangan Yoona. Itu cukup membuatnya hampir gila, dan di waktu ini, ia tak ingin kehilangan Kris. Ia tak ingin kehilangan EXO. Sehun tahu itu sebenarnya hanyalah buah dari pikirannya yang sakit. Ia tahu bahwa ada kemungkinan kalau itu senua tidak terjadi, tapi kemudian ia selalu tersadarkan dengan ucapan Kris waktu itu. Bahwa akhir akhir ini, ia sering memikirkan untuk keluar dari EXO. Sekarang bukan waktu yang tepat.

“Apa aku perlu membawa Yoona?”

Sehun menoleh dengan cepat. Nama wanita itu selalu berhasil mengirimkan rasa ngilu di hatinya. Ia menatap Jessica menuntut.

“Apa jika Yoona yang membujukmu kau akan melakukan terapi itu?”

Sehun mengangkat bahu. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Sehun belum sepenuhnya siap bertemu dengan Yoona. Meskipun ia setuju kalau mereka harus bertemu. Sehun sudah sangat merindukan Yoona dan itu semakin menyiksa setiap harinya.

Jessica mengangguk dan bersiap meninggalkan kamar inapnya. Sehun akan pulang ke rumah keluarganya besok. Ayahnya sudah memerintahkan Sehun untuk beristirahat sebulan ini dan pihak agensi–yang takut dengan kekuasaan keluarganya–tidak punya pilihan lain selain menurutinya.

“Sehun, sebelum aku pergi, bisakah aku bertanya satu hal padamu?”

“Sure”

“Kau dan Yoona….” Jessica mengambil jeda, “tidak punya hubungan apapun kan?”

Sehun mematung mendengar pertanyaan Jessica. Lelaki itu mengerutkan kening. Bagaimana bisa Jessica tahu? Ah! Lagu itu. Tentu saja. Jessica tahu ia menyimpan perasaan khusus untuk Yoona dan lagu itu jelas menjelaskan bahwa ada hubungan lebih antara Yoona dan Sehun.

Jessica tersenyum miring melihat ekspresi Sehun. Kaget, curiga dan keraguan. Melihat dari reaksi Sehun saja sudah membuatnya yakin kalau memang mereka berhubungan. Dan sungguhan itu menyakitinya. Sangat menyakitinya. Jessica menepuk nepuk dadanya, “Aku akan mencoba bicara dengan Yoona untuk menemuimu.”  kemudian ia keluar dan bersandar pada dinding rumah sakit, berusaha menahan air matanya yang siap tumpah kapan saja.

Kemudian suara pintu terbuka dan sosok Sehun yang tinggi menjulang menatapnya memohon, “Jessica Jung, tolong jangan benci Yoona karena ini. Kumohon.” 

Lalu Sehun tiba tiba memeluknya cukup lama. Tangannya menepuk nepuk punggung Jessica. Merasakan nafasnya yang naik turun. Ia sangat tahu kalau Jessica terluka. “Bersikaplah seperti biasa. Dia sangat menyayangimu, noona. Demi aku. Lakukan ini demi aku.”  tangannya yang pucat dan dingin menggenggam Jessica, “She doesnt deserve that hate from you. Hate me, noona. I’m the one who hurt you in the first place, not her. Please?”

Jessica menatap Sehun marah. Bagaimana bisa lelaki itu begitu kejam meminta satu hal yang rasanya sangat sulit itu?

“Kenapa?” Jessica bisa merasakan suaranya sendiri dingin dan menusuk. Sehun tersenyum muram dan menepuk pundak Jessica.

“Karena aku dan kau sudah belajar, bahwa kita tak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, kan?”

Dan Sehun masuk kedalam kamar inapnya, meninggalkan Jessica yang luruh ke lantai rumah sakit dalam tangisan yang dalam.

“Tidak pantas menerimanya huh?” gumam Jessica pelan. Mendadak ia berhenti dan menatap Yoona. Mengingat semua perlakuan anak itu padanya.

Yoona memeluk tubuhnya sendiri dan ia tampak punya banyak pikiran. Raut wajahnya lelah dan Jessica bisa melihat kalau tubuh Yoona semakin kurus. Dan itu berhasil menyadarkan Jessica betapa Yoona sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini.

“Yoona.”

Perempuan itu mengangkat kepalanya, mendapati Jessica tersenyum padanya. Dan itu adalah sebuah kelegaan yang luar biasa. Rasanya sudah lama sekali sejak Jessica tersenyum seperti itu padanya.

“Kau mau menjenguk Sehun?” ekspresi Yoona berubah saat mendengar nama itu. Dia menatap Jessica dengan pandangan yang aneh, “Temui Sehun, Yoona. Dia membutuhkanmu.”

Kini Yoona menatap Jessica luar biasa terkejut. Dia menatap Jessica lekat lekat. Mencoba memahami ekspresi wanita itu. Kemudian pandangannya berubah khawatir dan itu semakin membuat Jessica merasa kesal. Kesal dengan dirinya sendiri yang bisa begitu bodoh membenci wanita ini karena hal yang tidak sepenuhnya salah.

She doesnt deserve that. Right, Sehun?

“Dia membutuhkanmu sekarang. Dan kalau bisa kau harus membujuknya melakukan terapi. Kau pasti sudah tahu itu dari Kris kan?” Jessica menepuk pundak Yoona dan berbalik melanjutkan langkahnya.

“Eonnie,” Yoona menahannya. Dan ia bisa merasakan tangan Yoona yang gemetar di lengannya, “Kenapa?”

Dia berbalik dan menatap Yoona yang tampak haru. Mendengar pertanyaan Yoona membangkitkan emosi yang dia tahan dalam setetes air mata yang jatuh di pipi mulusnya. Jessica tertawa, menertawakan takdir yang memainkannya seperti ini. Tangannya membelai pipi Yoona lembut, “Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta kan?”

Kemudian Jessica berbalik melanjutkan langkahnya. Dia menyeka air matanya berkali kali. Dia merasa lega. Perasaan yang sama ketika ia melepas Sehun. Konyol rasanya tahu ia menjauhi Yoona setelah semua kebaikan wanita itu padanya.

Bukankah mereka telah tumbuh dewasa bersama? Bukankah membencinya karena seorang lelaki sama saja pengkhianatan terhadap memori mereka?

Kali ini, Jessica berharap ia telah mengambil keputusan yang tepat.

//

Sehun buru buru keluar dari rumah megahnya. Mengabaikan panggilan kepala pelayannya, “Tuan Sehun!”

“Tuan muda, kondisi anda belum sehat betul. Istirahatlah. Tuan besar bisa marah nantinya.” Sehun menggulirkan matanya dan menyentak lengan kepala pelayan yang sudah merawatnya sejak Sehun masih bayi itu.

“Ahjumma, aku hanya pergi ke apartemenku. Aku tidak akan kemana mana.”

“Tapi tuan an–”

Lelaki itu menggenggam tangan Song Ahjumma dan menatapnya memohon, “Ahjumma, ini bisa jadi kesempatan terakhirku. Tolong percayalah padaku, Ahjumma.”

Wanita paruh baya itu tahu kalau tuan mudanya itu punya masalah yang serius. Diam diam ia bahagia mengetahui bocah nakal yang dulu sudah berubah menjadi lebih dewasa. Tuan muda  Sehun nya telah berubah menjadi pria dewasa yang bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. “Baiklah. Tapi kau harus membawa obatmu, okay? Dan kau harus pergi dengan supir Jung.”

Sehun mengangguk semangat dan memeluk sosok yang hampir seperti ibunya itu. Ia berlari kecil menuju garasi dan masuk di salah satu mobil mewahnya. Menunggu Supir Jung datang dengan obat obatan Sehun.

Sambil menunggu, Sehun membuka kotak satin biru di sakunya. Menatap satu cincin disana. Dia sendiri menjadikan cincin lainnya sebagai kalung. Ia menyentuh kalung itu, merasakan deru nafasnya.

From : Yoona

Sehun-ah, mari kita bertemu di tempat semua ini dimulai. Aku akan menunggumu.

///

Haloo, another chapter for hidden scene–or sub chapter???

Jadi gini, kemarin kan aku bilang chapter 17 bakal jadi anti klimaks kan ya? But unfortunately i forgot that there’s another scene before that. Dan yesh, aku udah nulis itu😦 kan mubazir dan bisa jadi plot hole kalo gak aku post😦 so karena chapter yang setelah- gua-baca-lagi-ini-sangat-ngebosenin, aku memutuskan untuk mempost ini sebagai chapter 16b instead of chapter 17.Karena chapter 17 dan chapter chapter selanjutnya bakal full sama penyelesaian and ofc the ending!

Btw part amnesia 5sos itu udah aku tulis lama banget makanya feels weird. Tapi entah kenapa aku suka aja karena well, amnesia is one of my inspiration for this fanfic yaw. Beside, itu menjelaskan banyak hal. Cara ampuh buat  ngebuka semuanya😦 wkwkwk

So, sudah cukup aku cuap cuapnya. Maaf kalo ada kesalahan di chapter yang panjang banget tapi sumpah, gua bacanya aja rada rada bosen sendiri wkwk. Maafkan saya yang kinerjanya mungkin menurun(?) apa sih feb wkwk

See you on another chapter! Dont forget to comment below!

Love, aressa.

 

 

 

 

 

71 thoughts on “Hidden Scene [16b]

  1. hai aressa…. really miss you. this fanfic was really really make me wanna cry. jujur saya pengen disini yoona sama sehun berakhir sama kayak di mimpi sehun.
    please happy ending…
    setelah dari Hidden Scene 1-16b kamu buat para reader berlinang air mata, mungkin happy ending salah satu pilihan yang tepat, salah satu ya… saya g bilang harus. cumaaaa…. kalau sampe ini ff g happy ending, kalau saya sihh ya bener bener bakal kebawa terus bayangan ceritanya. jujur nih ff udah melekat banget di hati saya. saya pikir ini juga pendapat dari reader lain.

    i love your FF sooooo much to the moon and back

    please satuin mereka dan happy ending.

    dan tetep semangat untuk nulis ff in!! saya selalu nunggu karya kamu yg ini.
    jadi cepetan di post part selanjutnya yaaaaa

  2. ohh gila mnderita banget sehun ny,,
    smpe sakit sebulann ..kasiann 😢
    part ini keren bnget,diawal crrita rda ga suka ma sehun,krna keegoisannya,jdi pngen sehun ngerasain penderitaan yoona juga..

    tpi knpa pas bca ini mewek,,ga rela 😭..dia tersiksa bnget,bhkan dia sakit..
    aku harap mereka kmbali,biar yoona bisa bujuk sehun terapi..
    lagi pula ternyata bnyak member yg tau hub mreka,n juga sehun spertinya sudah lelah sembunyi2,n jess udah sadar, itu smua salah,tggal kris aja..

  3. Kyaaa yoona mau bertemu sama sehun??? Tpi kenapa to be continued? Sedihh..
    Gilaa penasaran banget, moga2 yoona dan sehun kembali seperti semula…
    Bener2 ditunggu next chapter nya thor, FIGHTING

  4. Haduuu😦 baper liat sehun sampe segitunya nahan sakit hatinya :”
    Authoor < gatau mo ngmg apa lg.. Pokokny cepetan next chapter ……
    GA SABAR AF!! ❤

  5. Puas banget… tapi sesak banget…
    kenapa yoona memilih menyiksa hatinya. Ya low pun itu ulah fans sehun yg terlalu cie…
    Tapi buat apa ada bodyguard coba… akh sedih pokonya.. lnjut say seru bget suka bget sam ff kmu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s