[Freelance] In a Dream – Duabelas

in-a-dream_

 

In a Dream | Hanabi

Im Yoona | Kris Wu | Jessica Jung | Huang Zitao

Chapter | Horror – Mystery – Thriller | PG-17

.

.

.

Yoona menejejalkan jemari tangannya ke dalam saku mantel. Berjalan di atas trotoar pada awal musim dingin bulan Desember. Rambut hitamnya menjuntai panjang menutupi syal wol berwarna biru laut. Hidungnya kemerahan, seperti terserang flu. Salju belum turun, tetapi deru napasnya terlalu berat. Mengingat sekarang betapa tak perdulinya ia dengan semua mimpinya.

Kalimat yang Jeon Jungkook ucapkan satu setengah bulan yang lalu, masih menganggunya. Ia mengikuti kalimat Jungkook, Yoona berhenti menolong siapapun sejak hari itu. Ia kembali menjadi dirinya yang dulu, menutup mata dan telinga, seolah tidak pernah terjadi apapun dan semua baik-baik saja. Tetapi semua itu tidak pernah mengurangi rasa bersalahnya, namun egonya selalu menang.

Ia mengadahkan kepalanya kembali. Menatap jalanan di trotoar di persimpangan jalan tempat ia menyelamatkan Jessica. Hm… ia tidak menyesal, sedikit pun. Jessica temannya, mungkin ia memang ditakdirkan untuk menyelamatkan nyawa gadis itu. Dan Kris, Yoona rasa ia mulai menyukai pria itu.

Oh Sehun berdiri di sampingnya ketika ia telah sampai di lampu lalu lintas persimpangan jalan yang tak jauh dari sekolahnya. Sehun menoleh dan tersenyum. Sambil menunggu lampu merah menyala, pemuda itu bertanya dengan nada riang : “Sepertinya kau sedang bahagia.”

“Memang. Hm… kau juga jauh lebih tampan semenjak pertama kali kita bertemu.”

“Benarkah?” tanya Sehun malu-malu.

“Kau terlihat jadi jauh lebih ceria dan terbuka.”

“Hm… kurasa juga begitu,” Lampu lalu lintas berwarna merah. Mereka berjalan berdampingan menyusuri aspal bergaris-garis. “Kurasa ini karena Jungkook.”

“Jungkook? Kau sangat dekat dengannya.”

“Tidak sedekat itu juga,” Sangkal Sehun. “Tapi, aku menyukainya. Kuharap kau tidak membencinya.”

Alis Yoona terangkat, ia menoleh ke samping. “Kenapa pula aku harus membencinya?”

“Karena dia berbicara kasar padamu satu setengah bulan yang lalu. Kau tahu… insiden bunuh diri Han Songsaenim.”

Yoona mengangguk. “Aku tidak mungkin membencinya hanya karena itu, lagi pula dia yang menyelamatkan nyawaku. Ngomong-ngomong, kau tidak merasa aneh tentang kemampuan kami? Ya, mengetahui kapan seseorang akan mati. Kurasa itu sulit untuk diterima.”

“Aku juga punya,” kata Sehun pelan. “Aku juga punya kemampuan itu.”

“Eh?” Wajar saja kalau Yoona terkejut. Ia tidak menyangka Sehun juga memiliki kemampuan seperti dirinya dan Jungkook. Benar apa kata Kris waktu itu, diluar sana ada banyak orang yang memiliki kemampuan yang sama seperti dirinya dan mereka berkeliaran di sekitarnya seolah tidak terjadi apapun. “Siapa orang pertamanya?”

“Han Songsaenim,” Melihat Yoona yang semakin terkejut Sehun melanjutkan ucapannya. “Awalnya aku juga bingung. Ada orang lain yang memimpikan Han Songsaenim selain diriku. Kupikir hanya diriku seorang. Ternyata, siapapun yang mati tidak sesuai dengan siapa yang memimpikannya. Mungkin bukan cuma kita berdua yang memimpikan Han Songsaenim bunuh diri hari itu, karena Jungkook juga,”

“Aku dan Jungkook tidak dekat walau kami teman sekelas. Hm… dia baik, aku tahu dia baik, hanya saja dia terlalu tertutup. Hari itu ketika aku mendapatkan mimpi pertamaku, aku mencari alamat rumah Han Songsaenim dan ternyata mereka tinggal di gedung apartemen yang sama. Jadi aku mulai berbicara dengannya pagi itu. Karena aku sedikit bodoh, jadi aku menceritakan mimpiku pada Jungkook. Kupikir dia tidak akan percaya, tapi dia malah mengajakku ke rumahnya dan menceritakan semua,”

“Tentu saja aku terkejut, tapi perlahan-lahan aku mulai menerimanya sekarang. Dan kurasa, aku tidak bisa mengorbankan nyawaku untuk menolong orang lain.”

“Hm… semua orang pasti berpikir seperti itu.” Mereka berdiri di gerbang sekolah. Masih sepi, tentu saja. Orang-orang lebih suka meringkuk dalam selimutnya.

“Dia benar. Maksudku, Jungkook benar. Semua orang yang memiliki kemampuan sama seperti kita pasti juga memiliki masalahnya sendiri. Kau pasti tidak percaya, masalah yang Jungkook alami lebih buruk dari pada masalah kita berdua.”

“Memang apa masalahnya?”

“Ayahnya terjatuh dari lantai tiga sebuah mall dan satu bulan kemudian Ibunya yang stress memutuskan arteri-nya di depan Jungkook.”

“Ayahnya mati kecelakaan jatuh dari lantai tiga?” Sehun mengangguk. “Satu tahun yang lalu?”

Sehun kembali mengangguk. “Ya, bagaimana kau bisa tahu?”

Yoona menggeleng. “Aku pernah melihat beritanya. Aku duluan.” Kata Yoona sambil melambai. Ia berlari menuju kelasnya, meninggalkan Sehun yang berdiri di anak tangga lantai dua.

Pantas saja Jungkook terlihat begitu membencinya. Ayah Jungkook adalah salah satu orang yang mati dalam mimpi Yoona. Pemuda itu pasti bertanya-tanya, kenapa Yoona tidak bisa menyelamatkan Ayahnya? Sementara Yoona bisa menyelamatkan Jessica dan Kris? Ah, tanpa sadar Yoona adalah salah satu orang yang menghancurkan hidup Jungkook.

.

.

.

From : Detektif Wu

            Kau benar-benar berhenti menolong orang lain, kan?

 

            To : Detektif Wu

            Iya. Semenjak Jungkook-ssi memberitahu bayaran yang harus kutanggung.

 

            From : Detektif Wu

            Syukurlah, aku senang mendengarnya. Maksudku, bukan berarti aku tidak perduli dengan orang-orang di luar sana. Kau mengerti, kan?

 

            To : Detektif Wu

            Tentu saja. Terima kasih, karena sudah mengkhawatirkanku.

 

Yoona menyelipkan ponsel ke dalam saku mantel bagian dalam. Di Aobe High School murid-murid tidak diperbolehkan membawa ponsel, itu peraturannya. Tetapi tetap saja Yoona dan semua murid yang bersekolah di sini membawa ponsel, untuk jaga-jaga. Kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi ia harus menyelipkan ponselnya di tempat yang tepat, walaupun sekarang sudah jam makan siang.

Gadis itu berjalan pelan di belakang Jessica dan Tao yang semakin hari semakain dekat saja, walaupun sering adu mulut. Yoona curiga, mungkin setelah ini mereka akan memiliki hubungan khusus. Pacaran, maksudnya. Well, seperti dalam drama, benci menjadi cinta.

Napas Yoona terlihat seperti kebulan asap putih, ketika mereka melewati lorong koridor di halaman belakang sekolah menuju kantin. Matanya sedikit memincing, musim dingin di awal bulan Desember, mungkin tidak membuatmu berada dititik beku. Tapi, cukup membuat kulit membiru jika terlalu lama di luar ruangan dan orang gila baru sedang duduk di kursi taman, di samping mesin penjual minuman otomatis, sambil memakan sup kacang merah. Jeon Jungkook.

Oh yang benar saja! Rasanya baru kemarin Jungkook menghinanya dengan mengatakan ia bodoh, kolot, atau sebangsanya. Dan pemuda itu dengan tololnya duduk di kursi taman di tengah musim dingin. Kalau Yoona bodoh, lalu dia apa? Sinting?

“Yoona?” Gadis itu mengalihkan pandangannya. Jessica dan Tao berdiri di depan tak jauh darinya dengan tubuh terputar kebelakang. “Ayo cepat, aku sudah sangat kedinginan dan lapar.”

“Kalian duluan saja dulu. Aku ada urusan sebentar. Oh ya Jessica, bisa kau belikan aku sup jagung?”

“Oh ya, tentu.” Jawab Jessica dan langsung meninggalkan kedua temannya dengan keadaan bingung.

Yoona memasukkan tangan ke dalam saku mantel, tubuhnya sedikit membungkuk, sejajar dengan wajah Jungkook yang sedang berkonsentrasi memakan sup kacang merah dari kaleng. “Ya ampun, ada orang gila yang makan di luar di tengah musim dingin.” Ejek Yoona. Ucapannya membuat wajah Jungkook terangkat, sedikit terkejut lalu memasang muka masam.

“Kau bisa mati kedinginan makan di luar seperti ini dan sendirian pula.”

“Aku tidak sendirian,” Sangkal Jungkook. “Aku bersama Sehun.”

Alis Yoona saling bertaut. Kepalanya menengok ke kiri dan kanan. “Tidak ada Sehun-ssi disini.”

“Dia sedang ke toilet.”

Yoona menengakkan tubuhnya sambil berkata. “Benarkah? Baguslah kalau begitu.” Yoona menggeser kaleng sup kacang merah yang masih tertutup dan duduk di samping Jungkook.

“Yak! Itu tempat duduk Sehun.”

“Aku hanya duduk disini sebentar, lagi pula orangnya juga belum datang,” Yoona menghembuskan napas panjang dan Jungkook masih sibuk makan. “Aku mengikuti ucapanmu. Aku berhenti menolong orang lain.”

“Baguslah kalau begitu.” Kata Jungkook datar.

“Aku tahu kau tidak jahat. Karena kau memperingatiku dan menyelamatkan nyawaku. Mungkin kau hanya terlalu kasar. Maksudku, kau harusnya berbicara baik-baik denganku, bukannya mengata-ngataiku seperti itu.”

“Ini balasanmu. Aku menyelamatkan nyawamu, kau malah bilang aku kasar.”

“Aku serius, kau memang kasar dan aku rasa kau harus… hm…” Tangan Yoona bergerak-gerak liar di udara, mencari kalimat yang tepat dan demi apapun saat itu Jungkook menatapnya seperti Yoona sudah gila. “Kau tahu… ramah… tersenyum. Oh, kau harus lebih banyak tersenyum dan ceria.”

Hening cukup lama, mereka saling memandang. Oke, sepertinya menyuruh Jungkook untuk lebih banyak tersenyum dan ceria adalah ide yang buruk. Karena pemuda itu memandangnya seolah Yoona sedang memakai bikini di tengah badai salju, sebelum akhirnya Jungkook menghelakan napas sambil berkata : “Oke.” Lalu lanjut makan.

Yoona tersenyum kecil. Ia suka ini. Begini, selama hampir, yeah satu setengah tahun, setelah ia menyadari kemampuannya, ia bertemu dengan salah satu manusia ketiban sial yang juga mempunyai kemampuan sepertinya. Yeah selain, Oh Sehun. Itu membuatnya senang dan bersemangat.

Setelah ia menonton film yang dipinjamnya dari Tao seminggu yang lalu, tentang seseorang yang memiliki kemampuan bisa melihat hantu dan dia bertemu dengan orang lain yang memiliki kemampuan sama sepertinya. Akhirnya mereka berteman baik dan merencanakan cara agar para hantu berhenti menganggu mereka. Oke, ini agak sedikit berlebihan. Tetapi Yoona berharap, ia bisa berteman baik dengan Sehun maupun Jungkook.

Tiba-tiba wajah Yoona terlihat murung. “Maaf,” Jungkook yang sudah menyelesaikan makannya menoleh cepat dan memandangnya seakan berkata ‘Untuk apa?’ atau ‘Apa maksudmu?’ atau sebangsanya. “Untuk Ayahmu, aku minta maaf.”

Wajah Jungkook mengendur. Dia menunduk sambil menatap ujung sepatunya dan kedua tangan di masukkan ke saku mantel. “Tidak apa-apa.”

“Aku tidak tahu kalau itu Ayahmu. Aku malah berkoar-koar seperti orang gila dan merasa menjadi pahlawan.”

“Tidak apa-apa,” Ulangnya lagi dengan nada lebih lembut. “Kau memang tidak mengenalnya dan jika kau tidak menolongnya itu hal yang wajar.”

Mereka terdiam cukup lama sebelum akhirnya suara Sehun membuat mereka mengangkat kepala. “Apa yang kalian lakukan berduaan disini?”

“Tidak ada,” jawab Jungkook cepat. “Kau, kenapa lama sekali?”

“Kau tidak tahu betapa panjangnya anteran di toilet tadi?”

Yoona tersenyum lalu bangkit. “Natal tinggal satu minggu lagi. Aku dan teman-temanku akan pergi ke mall membeli kado. Kalian mau ikut?”

Jungkook dan Sehun menoleh terkejut. “Kami boleh ikut?” tanya Sehun tak percaya. Yoona tahu betapa kejamnya di perlalukan berbeda. Di bully misalnya, dan hal itu membuat siapapun yang menjadi bahan bully-an akan menjadi pendiam dan tertutup. Oh Sehun, salah satunya. Jadi, wajar saja dia terkejut dan bertanya sekali lagi, memastikan.

“Tentu saja.”

“Apa Tao sunbae ikut?” Dengar-dengar dari Jessica, semenjak Tao menolong Sehun satu setengah bulan yang lalu, mereka jadi dekat. Dan tidak dipungkiri lagi, hobi bermain game, membuat mereka terlihat seperti adik kakak.

“Tentu saja dia harus ikut.” Atau Jessica akan mengamuk, tambah Yoona dalam hati.

“Asik!” seru Sehun kegirangan.

Eru menatap Jungkook yang hanya diam dari tadi sambil memperhatikan. Kenapa pemuda itu sama sekali tidak merespon? Padahal Yoona mengajak mereka berdua.

“Apa?” tanya Jungkook sinis. Hey, Yoona hanya menatapnya, bukan mempelototinya.

“Kau ikut atau tidak?”

Jungkook terlihat ragu. Yoona tidak mengerti, kenapa pemuda itu selalu was-was? Ia hanya mengajak pemuda itu keluar bersama, bukan berkencan. Dan in harus dicatat, mereka akan pergi bersama Tao, Jessica, dan Sehun.

“Baiklah,” wajah Jungkook terlihat sedikit ragu-ragu waktu dia menjawab. “Aku akan ikut.” Tetapi Yoona bisa meilihat, mata itu tersenyum cerah memandangnya.

 

To Be Continued

Bagi yang kemaren bingung mau milih antara Jungkook atau Kris atau Sehun. Haha… aku ngakak bacanya. Ayo dipilih cogan-cogan diatas. Tapi Tao udah buat Jessica. Well, kayaknya Sehun nggak mungkin, soalnya dia udah kepincut sama Tao yang udah nolongin dia.

Udah baca prolog Soul? Yang castnya Yoona – Kyungsoo. Well, untuk fanfic Soul awalnya mau buat kayak In a Dream. Mystery – Thriller. Tapi capek ah, mati-matian mulu. Jadi genrenya Mystery – Romance. Tapi setelah aku nulis, kok malah berubah genrenya. Jadi, Romance – School Life – Slice Of Life – Friendship. Hm… kayaknya aku salah request poster, soalnya posternya kayak Dark Soft, harusnya Fancy.

8 thoughts on “[Freelance] In a Dream – Duabelas

  1. hem..dipart ini kris g banyak…jd joongkok bkln ska yoona??hem yoona jg mulai ramah…sehun jg pny trnyt….ya qbc tp q ksian ma yoona yg hdp sbgai yuri hehe

  2. akhirnya yoona mempunyai banyak teman..?ceritanya kurang panjang thor…?q penasaran siapa yg akn menjadi pasangan yoona,,,kris,jungkook atau sehun.lanjut thor…jngn kelamaan ya…semangat…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s