[Freelance] Soul (1)

soul-2

Soul | Hanabi

Im Yoona | Do Kyungsoo

Chapter | Mystery – Romance | PG-13

.

.

.

Aku menatap papan nama kelas 2-C yang tergantung di depan pintu. Kelas Im Yuri. Menggeser pintu itu perlahan lalu masuk selangkah. Tiba-tiba seperti ada hawa dingin yang menjalar disekujur kulitku, ketika mereka–teman sekelas Yuri–menoleh dengan serentak, menatap, tersenyum, dan memanggil-manggil nama kembaranku. Ini berbanding terbalik jika aku menjadi diriku sendiri. Kau tahu kan, maksudku? Menjadi Im Yoona tak akan bisa mendapatkan perlakuan seperti ini. Teman sekelasku hanya bersikap cuek jika aku datang.

Aku hanya membalas dengan senyuman kikuk. Terserahlah mereka mau berpikir apa, lagi pula aku hanya menjadi Im Yuri untuk hari ini saja. Kemudian aku teringat sesuatu, membuat perutku mulas bukan main. Oh benar, bodoh! Dimana tempat duduk Im Yuri? Sial. Aku lupa menayakannya.

Jika ini adalah drama, webtoon, atau fanfiction online sekalipun. Sang peran utama pastilah duduk di deret keempat dari pintu dan baris terakhir. Duduk di belakang dengan jendela di sebelah kiri yang terbuka lebar menampilkan pemandangan musim semi dan bunga-bunga cherry blossom yang berguguran tertiup angin sepoi-sepoi. Oh yeah, background yang sangat luar biasa! Well, kita ikuti saja.

Aku meletakkan tasku–tas Yuri yang kupinjam tadi pagi–di atas meja. Menarik kursi lalu duduk di sana. Masih ada waktu setengah jam lagi sampai bel pelajaran pertama berkumandang. Mulai tahun ini di Hanyoung High School bel sekolah berganti dengan lagu, itu terdengar sangat asyik sampai kau tahu lagu apa yang diputar. Sialnya, kepala sekolah kami yang baru adalah pria berumur 60 tahun berbadan gempal dan botak yang sangat menyukai lagu klasik tahun 80-an. Well, lagu yang terputar bukannya membuat semangat, tetapi membuat murid-murid mengantuk. Aku bahkan tidak yakin, Eomma dan Appa mengetahui lagu itu.

Bola mataku mengikuti gerakan kelopak bunga cherry blossom yang berguguran di halaman belakang sekolah. Aku tidak yakin, apakah Yuri memang duduk di sini atau tidak. Tetapi kupikir, orang yang duduk disini sangatlah beruntung. Maksudku, hey sangat menyenangkan jika kau menoleh ke sisi kirimu dan langsung melihat keindahan halaman belakang sekolah, apalagi sekarang musim semi.

Asal tahu saja ya, posisi kelasku sangatlah sial, a) Kelasku–2-E–berada di lantai dua paling ujung dekat dengan toilet cowok yang tidak perlu di jelaskan lagi bagaimana baunya, b) Jangan berharap melihat pemandangan halaman belakang sekolah yang indah, karena kelasku bersampingan dengan halaman parkir guru yang gersang. Bisa kalian bayangkan jika musim panas tiba dan cahaya matahari terpantul dari mobil-mobil itu menuju kelasku? Sangat menyilaukan. Itu adalah kelas paling ketiban sial yang pernah kutempati.

Seseorang mengetuk mejaku–yang sesungguhnya belum kuyakini adalah meja Yuri–pelan dan singkat. Aku menoleh, seorang cowok berdiri, menatapku dengan matanya yang bulat seperti telur burung puyu. Rambutnya berwarna coklat–aku yakin 100%, rambutnya terlihat enak jika dielus-elus–agak sedikit berantakkan, sebuah headset berwarna kelabu tergantung dilehernya, dan bibirnya yang tebal–aku sempat berpikir, bibirnya mungkin sempat tersengat lebah atau digigit semut ketika dalam perjalanan kemarin–berwarna baby pink.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya dengan suara begitu lembut.

“Eh?” Jangan bilang kalau Yuri tidak duduk di sini. “Duduk.”

Alis tebalnya sedikit terangkat. “Tapi disini bukan tempat dudukmu.”

“Ah…” Aku mengangguk-angguk. “Benar. Kau tahu, aku hanya, menikmati pemandangan musim semi,” Aku bangun dengan kikuk, malu luar biasa. Harusnya aku bertanya dulu sebelum duduk disini. Lalu berjalan melewatinya sambil membawa tas. Tetapi baru tiga langkah, aku berbalik lagi. “Hm… dimana tempat dudukku…” Kulirik name tag-nya. “Kyungsoo?”

Dia tersenyum kecil dan aku bersumpah, dia menahan tawanya. “Ada apa denganmu, Yuri? Kau sakit atau amnesia?” Aku menggeleng. Aku bukan Yuri dan aku tidak sakit atau amnesia. Aku memang tidak tahu harus duduk dimana. “Kau memang duduk disini.”

“Maaf?”

“Kau memang duduk disini,” Dia menunjuk meja dan kursi yang tadi kududuki. “Aku hanya mengerjaimu.”

Aku memaksakan senyum. Sumpah demi apa? Cowok ini menyebalkan! Aku kembali ke tempatku dan dia meletakkan tasnya di meja di depanku. “Oh ya,” Dia berbalik sambil mengacungkan telunjuknya. “Jangan pangil aku Kyungsoo.”

Alisku tertaut. Jadi, dia bukan Kyungsoo? Tapi, kenapa name tag-nya Kyungsoo? Ah, itu bukan name tag-nya, begitu kah? Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga sembari berkata : “Jadi, aku harus memanggilmu apa?”

Tangannya terangkat dan aku membalas salamannya. “Namaku memang Do Kyungsoo,” Dia kemali tertawa, jadi kuremas saja tangannya. Kyungsoo meringis kesakitan lalu melepas genggamanku, kemudian wajahnya berubah serius. “Kau siapa? Kau bukan Im Yuri.”

Mataku berkedip dua kali. Aku tidak pernah menyangka penyamaranku yang belum lewat tiga puluh menit ini sudah ketahuan. Apa prilakuku dan Yuri sangat berbeda? Sampai-sampai cowok bernama Do Kyungsoo ini langsung menyadarinya?

“Astaga! Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku Im Yuri.” Aku memukul dadanya pelan dan bertingkah sedikit genit.

“Jangan berbohong! Kau bukan Im Yuri. Kau Im Yoona?”

Wajahku berubah menjadi kaku. Kyungsoo benar-benar sadar kalau aku hanya berpura-pura. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Tunggu. Berpura-pura menjadi saudara kembarmu sendiri bukanlah sebuah kejahatan. Kenapa aku harus begitu takut? Jika hanya Do Kyungsoo yang menyadari aku adalah Im Yoona. Itu bukanlah masalah yang besar. Lagi pula, memangnya dia mau mengadu ke siapa? Guru? Polisi? Masa iya, aku ditangkap gara-gara menjadi saudara kembarku sendiri? Dan yang perlu digaris bawahi, bukan aku yang mau, tapi Yuri yang memohon padaku.

“Sebenarnya,” Aku baru saja mau memulai mengaku dan menjelaskan semuanya ketika tiba-tiba saja Kyungsoo tertawa renyah. Bahkan sampai keluar air mata. Air mata!

“Kau benar-benar sangat lucu. Kau harusnya melihat ekspresimu tadi. Apa kau terbentur benda tumpul dalam perjalanan kemari. Tidak biasanya kau mempan dengan leluconku.”

Aku mengaruk kepalaku–yang sebenarnya tidak perlu, karena memang tidak gatal–hanya saja aku bingung harus bereaksi seperti apa. Pertama, aku lega karena Kyungsoo hanya bercanda, sesungguhnya dia tidak menyadari kalau aku adalah Im Yoona. Kedua, aku juga sangat kesal disaat yang bersamaan, dia mengerjaiku tiga kali. Tiga kali!

Aku tertawa kikuk, walau hatiku sangat dongkol. “Kurasa benar, tapi pagi aku jatuh dan menimpa mesin cuci.”

“Benarkah? Aku juga.” Serunya sambil mengangkat poni dan menunjukkan kening yang terbalut plester.

Oh sial! Aku harus berurusan dengan orang aneh.

.

.

.

Ada satu hal yang sangat aneh terjadi ketika bel istirahat makan siang berbunyi. Oke, kupikir akan banyak hal yang luar biasa terjadi. Misalnya, banyak murid yang mendatangi meja Yuri ketika istirahat makan siang. Oh benar, kupikir itu akan terjadi. Yeah, fakta bahwa Yuri sangatlah hebat bukanlah rahasia umum lagi, tetapi nyatanya tidak ada. Sama sekali!

Maksudku, harusnya ada banyak murid yang mendatanginya. Oke ini agak sedikit membingungkan. Kupikir dengan dirinya yang hebat dan hampir sempurna, akan ada banyak murid yang mau menjadi temannya. Nyatanya, tidak sama sekali. Tidak ada satupun dari mereka–yang tadi pagi seolah memuja Yuri–mendatangiku atau setidaknya mengajakku ke kantin. Setelah bel berbunyi, mereka semua melenggang pergi meninggalkanku sendirian di kelas.

Dan satu hal yang kupahami disini. Oh yeah, Im Yuri tidak punya teman. Aneh memang, tapi itu kenyataannya. Jadi, aku pergi sendirian ke kantin, membeli sandwich tuna dan sekotak susu–dari mesin penjual minuman otomatis–dan kembali lagi ke kelas. Aku tidak tahu apa kegiatan Yuri selama istirahat makan siang. Mungkin dia melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi setelah kupikir-pikir lebih baik aku kembali lagi, sebelum ada orang lain yang sadar. Kalian tahu, sadar kalau aku Im Yoona.

Tetapi ketika aku menarik kursi dari kolong meja, makanan yang berada dimulut Kim Taeyeon hampir saja jatuh ke lantai. Dan aku baru sadar ketika Taeyon menatapku seolah aku sedikit gila–oke, aku salah kelas. Aku lupa, sekarang kan aku sedang berpura-pura menjadi Im Yuri.

Aku memasukkan lagi kursiku–kursiku di kelas yang sebenarnya–ke dalam kolong meja. Tersenyum kikuk dan meraih lagi sandwich dan susu yang tadi kuletakkan di atas meja. Taeyeon meneguk air dalam kemasan sampai habis, barulah dia berkata dengan nada sedikit bingung. “Apa yang kau lakukan disini? Oh, jika kau mencari Yoona, dia sedang ke luar.”

Kim Taeyeon. Dia sahabatku sejak SMP. Dia baik dan juga periang, namun agak sedikit aneh. Orang-orang berpikir dia sedikit aneh, karena dia yeah terobsesi dengan cerita misteri dan hal-hal berbau pembunuhan. Banyak orang yang berpikir Kim Taeyeon dan Im Yoona sangatlah cocok. Sama-sama aneh, begitulah kata orang.

Aku melihat tatapan tidak suka yang Taeyeon layangkan–diantara senyum manisnya–untukku, bukan, untuk Im Yuri tepatnya. Bagaimana ya menceritakannya, Taeyon tidak menyukai Yuri. Mungkin Yuri mengenal Taeyeon, tetapi hanya sekadarnya, tetapi Taeyeon mengenal Yuri sebaik gadis itu mengenalku. Dari SMP–semenjak kami bersahabat–aku selalu menceritakan semua kekesalanku tentang kehebatan Im Yuri kepada Taeyeon. Dan hebatnya, Kim Taeyeon lebih tidak menyukai Yuri ketimbang aku. Oke, kalian boleh panggil aku saudara kembar yang jahat.

“Oh,” kataku sambil mengangguk. “Kau tahu dia ke mana?”

Taeyeon melipat tangannya di depan dada. Seolah menunjukkan rasa tak sukanya, dia berkata dengan nada sinis. “Kudengar ada seorang cowok yang menyukainya dan mereka sedang bertemu di atap sekolah gedung B.”

“Ada seorang cowok yang menyukaiku?” tanyaku sedikit berteriak. Apa katanya barusan? Ada seorang cowok yang menyukai Im Yoona? Menyukaiku? Rasanya ada yang aneh.

“Menyukai Im Yoona, bukan menyukaimu Im Yuri.” Ralat Taeyeon.

Aku mengangguk. “Iya, maksudku, menyukai Im Yoona. Ah, kalau begitu aku pergi dulu.”

Aku pergi meninggalkan kelasku dan berlari kecil menuju gedung B. Aku tidak mengerti, kenapa aku berlari kecil seperti ini? Harusnya aku berlari kencang. Oke, ada seorang cowok yang menyukaiku. Menyukai Im Yoona, menyukaiku, bukan Yuri. Dan sekarang cowok itu sedang menyatakan perasaannya kepadaku yang dia kira adalah aku, padahal Yuri. Tentu saja, aku harus melihat bentuk cowok yang nasir padaku.

Fakta bahwa selama ini banyak cowok yang naksir Yuri, membuatku menciut dan tidak pernah berpikir kalau ada cowok yang memendam perasaannya kepadaku. Dan fakta bahwa hampir semua cowok yang ku taksir malah menyukai Yuri, membuatku tidak berkutik. Tapi kenapa harus hari ini, maksudku kenapa harus di hari aku sedang bertukar tempat dengan Yuri. Seolah semua sudah di rencanakan dan tiba-tiba hal itu membuatku berhenti berlari.

Aku berjalan–ke luar koridor gedung A–ke jalanan berbatu di halaman menuju gedung B sambil memirkan hal ganjil ini. Benar, kenapa hari ini? Kenapa Yuri memaksaku bertukar tempat? Karena dia tahu akan ada seorang cowok yang ingin menyatakan perasaannya padaku, tapi kenapa? Kenapa dia harus berbuat seperti itu? Apa dia tidak menyukai kalau ada seseorang yang menyukaiku? Atau jangan-jangan orang yang akan menyatakan perasaannya padaku adalah orang yang Yuri sukai. Itulah mengapa dia ingin bertukar tempat denganku, karena Yuri tahu, jika aku ada di atap sekolah saat ini, aku akan menerima ajakan cowok itu. Tapi jika itu adalah Yuri, dia akan menolaknya.

Tapi, apa itu mungkin? Maksudku, untuk apa Yuri melakukan itu? Ada banyak cowok di luar sana yang mengemis cintanya. Memangnya sehebat apa cowok yang menyukaiku dibandingkan cowok-cowok yang selama ini menempel padanya seperti parasit?

Aku berhenti berjalan, sedikit terhenyak melihat banyak orang yang berdiri di depan gedung B sambil menatap ke atas. Jadi aku mengikuti mereka, melayangkan pandanganku ke atas, mataku sedikit memincing. Hari ini mendung, walau cahaya matahari masih bisa mengintip di sela-sela awan kelabu. Seorang cewek berdiri di bibir atap gedung B, pundaknya terlihat bergetar, melirik-lirik ke bawah dengan wajah sedikit takut. Dan napasku langsung tercekat, mengetahui siapa gerangan cewek gila itu. Itu Yuri, Im Yuri, saudara kembarku.

Apa yang dia lakukan di sana? Jangan bilang dia mau bunuh diri? Astaga! Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa ada banyak kejadian aneh yang terjadi hari ini?

Aku menutup mulutku. Yuri meloncat, dia benar-benar meloncat dan sedetik kemudian tubuhnya mendarat di atas tanaman herbal yang di tanam oleh kelompok pecinta lingkungan. Dedaunan di sekitarnya menjadi keunguan karena darah Yuri memuncrat ke mana-mana.

Im Yuri bunuh diri. Dia bunuh diri menggunakan identiasku.

 

To Be Continued

8 thoughts on “[Freelance] Soul (1)

  1. Aish, Yuri sumpah bikin kesel. Kenapa dia harus bunuh diri pake identitas Yoona, terus yang diomongin Taeyeon soal ada cowok yang mau nembak Yoona itu bener apa gak sih.
    Penasaran😧
    Seriusan, kayaknya bakal seru nih. Daebak thor🙂
    Ditungguu next chap^^
    Hwaiting!!

  2. disni yuri bunuh diri atas nama yoona.?trs apa yg akn trjdi ma kehidupan yoona selanjutnya….?q penasaran apa yg akn trjdi ma yoona…slnjtnya,,

  3. Yuri jahat sumpah, apa dia mau Yoina hidup sebagai seorang Im Yuri? atau justru bersikap baik supaya Yoona bisa ngerasain rasanya jadi idol kah?
    fix, bikin kepo thorr 😂
    next chap waiting 💪

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s