[Freelance] Something

Untitled-1.jpg

 

 

Judul : SOMETHING // Cast : Im Yoona – Kim Suho // Author : Awan Mega Mendung

Genre : AU // Rating : Teen // Lenght : Oneshoot

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan Yang Maha Esa.

Warning : Typo bertebaran.

Note : Fanfiksi ini sudah pernah dipublikasikan di blog pribadi saya awanmegamendung.wordpress.com (pengganti http://www.yoona3005blog.wordpress.com) dan juga www.wattpad.com/azurdium. Sekian dan terima kasih.

-Selamat Membaca-

 

. . .

“Oh, Suho,” Yoona tersenyum melihat kedatangan salah satu teman dekatnya, “masuklah.” Ia mempersilahkan Suho agar masuk ke dalam dan duduk di sofa.
“Apa kabarmu?” tanya Suho setelah ia mendudukkan dirinya di sofa yang muat untuk dua orang.
Yoona yang duduk di sofa sebelahnya menyunggingkan senyuman termanisnya, “Baik, kau sendiri?”
“Aku juga baik,”

“Tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu minum,”
“Tidak perlu,” cegah Suho dengan menggenggam lengan Yoona yang hendak pergi. Oh, Yoona tidak tahu kalau saat ini Suho sangat gugup hanya karena menggenggam lengannya. Walau itu hanya gerak refleks, tapi efeknya begitu luar biasa. “Duduklah,” ujar pemuda berparas manis itu saat melihat tatapan penuh tanya dari Yoona. Uh, wajah polos Yoona itu terlihat sangat menggemaskan.

“Jadi, kedatanganku kemari adalah untuk mengajakmu pergi ke acara festival musim semi. Kau mau?”
Lagi, Yoona tersenyum. Menyebabkan jantung Suho berdegup kencang. Dalam hati ia terus merutuki jantungnya yang tidak bisa berdetak dengan normal. “Kau harus minta ijin dulu pada orangtuaku,”

“Ada apa?” Ibu dan ayah Yoona datang bersamaan. Mereka berdua ikut bergabung bersama anaknya dan juga Suho.
Suho berdeham pelan, sengaja dilakukannya untuk mengusir kegugupannya. Ya, meski itu adalah hal yang sia-sia. “Saya ingin mengajak Yoona pergi ke festival musim semi, bolehkah?”
“Baiklah, kami ijinkan kalian pergi,” kata ibu Yoona sambil mengulas senyuman.
“Tapi jangan pulang lebih dari jam sepuluh,” tambah ayah Yoona cepat, “kau mengerti?”
“Ya, saya mengerti,”

.

***

.

“Hey, bukankah seharusnya kita ke belok ke kanan? Festival musim seminya ke arah utara, bukan selatan,”
“Iya, aku tahu,” jawab Suho sedikit berteriak di balik helm merahnya.

Tak berapa lama Suho sudah sampai di pekarangan sebuah rumah yang mengingatkan Yoona tentang teman semasa SMP. Ekspresi Yoona langsung berubah seketika. Ia menggerak-gerakkan bibirnya, menahan kekesalannya pada Suho. ‘Kenapa harus berkumpul di sini, sih?’ rutuk Yoona dalam hati.

Menyadari Yoona hanya berdiri di samping motornya tanpa ada niatan untuk masuk, Suho menegurnya, “Ayo, masuk. Kita masih harus menunggu yang lainnya,”
“Ah, aku tidak ingin masuk. Sebaiknya aku menunggu disini saja, kau saja yang masuk,”
Belum sempat Suho mengeluarkan suaraya lagi, seseorang keluar dari rumah bergaya minimalis tersebut. Woo Jong Jin. Lelaki itu menampakkan senyuman tipis yang sejak dulu menjadi ciri khasnya, “Suho, kau sudah datang rupanya,” ujarnya, langsung saja Yoona memalingkan wajahnya. “Masuklah, teman-teman yang lain masih dalam perjalanan kemari,” ajak Jong Jin yang masih belum menyadari kehadiran Yoona. Namun mata Jong Jin cepat menangkap sosok perempuan yang sedang berdiri di samping motor Suho. Karena tidak melihat wajahnya, Jong Jin tak mengetahui siapa perempuan itu. “Oh, kau mengajak kekasihmu ternyata, ajaklah dia masuk. kita akan menunggu yang lain di dalam,”
“Yoona,” panggil Suho, “kemarilah.”
Mau tidak mau Yoona menolehkan kepalanya ke arah Suho. Seketika itu juga Jong Jin menahan nafasnya, ia sangat terkejut melihatnya. Dengan senyuman palsu, perempuan berambut panjang itu menggeleng pelan. “Kalian saja, aku sedikit merasa panas. Jadi kurasa diluar sini lebih baik,”
“Kau datang bersama Yoona?” Jong Jin seolah belum percaya dengan apa yang terjadi.
Suho tersenyum, “Ya,” jawabnya singkat, “apa ada masalah?”
Jong Jin menggeleng cepat, “Tidak, sama sekali tidak masalah,”

Perhatian mereka bertiga kini tertuju pada beberapa motor yang baru saja tiba di pekarangan rumah Jong Jin. Ada sekitar tiga motor yang pengendaranya tak lain adalah teman-teman sekolah Yoona.

Baekhyun melepaskan helmnya, memberikan senyuman lebar kala melihat Yoona yang berdiri tak jauh darinya, “Halo, Yoona,”
“Kau tak berubah, Baek,” canda Yoona.
“Yak! Kenapa kau bisa ada di sini?!” seru Xiumin. Dia merupakan cucu dari adik kakek Yoona. Lalu pandangan mata Xiumin menangkap sosok Suho yang tengah melambaikan tangan padanya. Kembali perhatiannya tertuju pada Yoona yang tengah mengendikkan bahunya. “Kau benar-benar, ya,” Xiumin terlihat menggeram kesal.

“Sudah cukup reuninya, kapan kita berangkat?” sela Chen cepat, “Acaranya akan segera dimulai.”
“Kalau begitu, kita berangkat sekarang,” Jong Jin menutup pintu rumahnya. Ia berjalan bersama Suho menghampiri teman-temannya.
“Tunggu dulu,” cegah Yoona sebelum semua menyalakan mesin motornya, “apa hanya aku saja yang perempuan di sini?”
“Sudah, jangan berisik,” Chen mendengus kesal, “di sana akan ada Ji Won, kekasih Baekhyun. Jadi kau tenang saja, oke?”

“Yoona, kau tidak ingin berangkat bersamaku?” Jong Jin tersenyum menggoda ke arah Yoona. Yang justru mendapatkan tatapan jijik darinya.
Xiumin berdecak, “Kau berangkat bersamaku, bodoh,” ujarnya ketus. Dipukulnya kepala Jong Jin cukup keras, hingga lelaki itu meringis karenanya. “Kau sudah cukup menyakiti Yoona, dan kurasa membiarkan Yoona berangkat bersamamu bukan ide yang baik. Biarkan Yoona berangkat bersama Suho, dan kau bersamaku. Aku tak begitu yakin dengan wajah dan pikiran iblismu itu,”
“Aish, sialan kau!” Jong Jin memukul lengan Xiumin keras.
“Yak! Apa yang kau lakukan, bodoh?!” teriak Xiumin sambil memegangi lengan kirinya.

.

***

.

“Kau cantik,” puji Jong Jin. Perhatiannya tak lepas dari wajah cantik Yoona yang kini berdiri di sebelahnya.
“Tapi tidak lebih cantik dari Seohyun,” Yoona menyeringai tipis, membalas tatapan Jong Jin, “benar, ‘kan?”
“Tidak, kau sekarang jauh lebih cantik darinya,”
Yoona tertawa sinis, “Ya, tentu saja. Karena Seohyun sekarang sudah bersuami dan memiliki anak,” lirih Yoona yang kembali menatap ke depan. Senyumnya mengembang kala melihat Suho yang sedang bertanding melawan Chen.

“Kenapa kau bisa bersama Suho? Setahuku kalian tidak pernah dekat satu sama lain,” jeda sejenak, namun Jong Jin masih mengamati Yoona, “apa kau kekasihnya?”
“Itu bukan urusanmu,” desis Yoona, kentara sekali bahwa ia tidak berminat dengan pembahasan kali ini.

Bubble tea yang tadi dibelikan oleh Suho diseruput oleh Yoona. Rasa segar dirasakannya ketika minuman itu masuk tenggorokannya. “Apapun yang kulakukan tidak membutuhkan komentarmu, jadi diamlah,”
Jong Jin tersenyum miris, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana jeansnya. “Kau tahu, lima tahun berlalu dan aku masih belum bisa melupakanmu,” Meski pelan, Yoona dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi ia memilih untuk bungkam dan kembali menyeruput salah satu minuman kesukaannya. “Kau masih ada dalam ingatanku,” kata Jong Jin sambil menerawang pada kenangan beberapa tahun silam, “senyumanmu, tatapan matamu, tutur katamu, aku masih mengingatnya.”
“Baguslah,” lirih Yoona, “aku senang mendengarnya.”

“Itu berarti kau akan selalu memikirkanku. Aku, Im Yoona, akan selalu menghantuimu, Woo Jong Jin,” tatapan serta tutur kata yang tajam itu sedikit mengejutkan Jong Jin. Sebelumnya Yoona tak pernah bersikap seperti ini padanya. “Tapi sayang sekali, aku tidak terkesan dengan curahan hatimu tadi,” Tangan Yoona menepuk pundak Jong Jin. Perempuan manis itu berlalu dari hadapannya, memilih duduk di sebuah bangku yang minim penerangan.

“Aku mencintaimu,” ucap Jong Jin yang seketika itu juga langsung membuat Yoona berhenti melangkah, “saat kau meninggalkanku karena kesalahanku, saat itulah aku menyadari kalau aku menyukaimu.”

Yoona hanya diam, berpura-pura tak mendengar apapun. Ia bahkan kembali berjalan menuju tempat duduk yang tak jauh darinya. Hal itu membuat Jong Jin geram dan mencekal lengannya cukup kuat. “Lepaskan tanganku!” Sekuat tenaga Yoona menggerakkan tangannya agar terlepas dari cengkeraman Jong Jin.

“Kau harus menjadi milikku, Im Yoona,”
“Kau gila!” sentak Yoona, “Lepaskan tanganku dan pergilah dari hadapanku, idiot!”
“Aku tidak akan melepaskanmu, kesalahanku yang membuatmu pergi dariku tidak akan kuulangi lagi,”
Yoona mencibir Jong Jin, “Dan seharusnya kau tahu, aku tidak akan pernah mau jatuh dalam jebakanmu lagi untuk yang kedua kalinya. Bodohnya aku yang mencintaimu, tapi yang harus kau tahu adalah aku tidak mencintaimu lagi. Aku sudah melupakan semua tentang dirimu, mengubur dalam-dalam rasa cintaku padamu,”
“Kau tidak akan bisa melakukannya,”
“Mengapa tidak?” tantang Yoona, nada bicaranya bahkan naik satu oktaf. “Kau yang mengatakan bahwa aku cantik, jadi aku bisa dengan mudahnya mencari pria yang jauh lebih dari dirimu. Sekarang, pergilah dariku,”

Jong Jin tak membalas perkataan Yoona, ia justru semakin mendekatkan wajahnya pada Yoona yang pergerakannya ia kurung dengan kedua tangannya. Yoona hanya mampu memejamkan matanya dengan sangat erat.

“Brengsek!” umpat Suho yang langsung menarik bahu Jong Jin dan memberikannya sebuah pukulan di wajah. Yoona membuka matanya, terkejut melihat apa yang terjadi di depannya. “Jangan sentuh Yoona, sialan!” Lagi, Suho melayangkan pukulan mautnya. Mata Yoona membulat, tak percaya jika Suho bisa semarah itu.
“Hentikan, Suho! Kumohon,” Yoona menarik-narik lengan Suho yang masih memukuli wajah Jong Jin dengan beringas. “Kita pergi saja,” lirih perempuan bersurai panjang itu, namun sama sekali tak dipedulikan Suho.
“Dia sudah menyentuhmu, aku tak bisa tinggal diam,”

“Kenapa kau marah aku menyentuh Yoona, eh? Kau bukan siapa-siapa untuknya,” senyuman mencibir itu Jong Jin berikan untuk Suho.
“Itu karena aku mencintainya!” amuk Suho, “Aku sangat mencintainya dan aku tidak suka kau menyentuhnya seperti itu.”
“Kau bukan kekasihnya, dan aku tahu itu,”
“Memang, tapi setidaknya dia tak mencintaimu. Harus kau tahu juga akan hal itu,”
“Sialan!” umpat Jong Jin seraya memberikan pukulannya hingga membuat Suho tersungkur. Sontak saja keduanya menjadi bahan tontonan bagi sebagian pengunjung.

Yoona menutup mulutnya melihat darah segar keluar dari ujung bibir Suho. Sementara itu Suho menyeka sudut bibirnya yang terasa perih. Decakan pelan keluar dari mulutnya. Ia menatap tajam pada Jong Jin yang berdiri di hadapannya. Memasang wajah dengan senyum penuh kemenangan. Tangan kanan Suho mengepal kuat. Ia bangkit dan memukul wajah Jong Jin dengan pukulan telak.

Xiumin yang sedari tadi memisahkan diri pun menghampiri keduanya dan melerai mereka yang kembali akan terlibat baku hantam. “Kalian sangat kekanak-kanakan! Semua orang melihat kalian, bodoh!”
“Yoona, sebaiknya kau bawa Suho pergi,” Yoona menggangguk pelan atas perintah Chen. “Untuk Jong Jin, biar kami yang mengurusnya,”

.

***

.

Suho meringis pelan saat Yoona mengobati lukanya. “Sudah kubilang untuk berhenti kenapa tak didengarkan, sih?” omel Yoona. Sebenarnya merasa bersalah juga karena ia yang menyebabkan Suho seperti ini. “Kau tidak seharusnya berurusan dengan laki-laki idiot seperti dirinya,”
“Kau pikir aku bisa diam saja melihatnya memperlakukanmu seperti itu?” Suho berseru kesal, detik selanjutnya ia malah merintih kesakitan karena Yoona menekan lukanya dengan sengaja.
Yoona menundukkan wajahnya, menyembunyikan raut kesedihannya, “Aku tidak mau melihatmu terluka,” gumamnya.
“Aku tidak apa-apa, sungguh,”
“Kau terluka, bagaimana kau bisa bilang kau baik-baik saja?” seru Yoona sebal, “Kalau seperti ini akhirnya sebaiknya kita tidak pergi.”
“Aku baik-baik saja, berhentilah khawatir. Oke?”

Yoona membulatkan matanya. Di hadapannya Suho tengah bersimpuh sembari menggenggam kedua tangannya. “Suho,”
“Kita sudah berteman selama hampir lima belas tahun, meskipun kita tidak pernah dekat tapi percayalah aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama. Hubungan kita yang semakin dekat membuatku semakin yakin akan perasaanku padamu,”

“Yoona, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Pernyataan cinta yang tiba-tiba itu tentu sangat mengejutkan bagi Yoona. Sama sekali tak menyangka kalau Suho akan menyatakan perasaannya. Di tempat ini, dan di saat yang seperti ini pula.
“Ya,” jawab Yoona akhirnya.

Di belakang Suho, Xiumin datang bersama Chen dan Jong Jin. Xiumin dan Chen tersenyum, mereka terlihat senang melihat Yoona dan Suho. “Selamat, ya,” ujar Chen.
Xiumin tersenyum penuh arti, “Kurasa bibi harus tahu hal ini. Dan bersiaplah kau akan dinikahkan segera,” candanya.
“Kak Xiumin,” rajuk Yoona yang terdengar menggemaskan di telinga mereka. Xiumin dan Chen tertawa melihat wajah Yoona yang terlihat kesal. Sementara Suho hanya tersenyum dan mengacak puncak kepala kekasihnya.

Jong Jin yang melihatnya memilih untuk membuang muka. Apa yang ada di depannya ini membuat matanya sakit. Jauh lebih sakit dari luka yang ia dapatkan dari Suho tadi.

“Kau dengar, Jong Jin,” suara tegas Suho mengundang perhatian Jong Jin, “Yoona sudah menjadi milikku. Sekali lagi kulihat kau menyentuhnya seperti tadi atau bahkan lebih dari itu, kupastikan kau akan mati ditanganku,” ancamnya penuh penekanan.

“Dan kau, kekasihku,” Suho berujar lembut, “jangan coba-coba untuk berselingkuh di belakangku. Kalau kau terbukti melakukannya, tamatlah riwayatmu.”
Yoona mendengus pelan, “Aku takkan melakukan hal bodoh semacam itu,”
“Bagus, sekarang aku butuh makan,” kata Baekhyun yang baru saja datang dari belakang mereka dan langsung merangkul kedua temannya itu. “Kalian berdua harus mentraktir kami,”
“Apa?” seru Suho dan Yoona bersamaan.

.

.

.

.

.

-FIN-

10 thoughts on “[Freelance] Something

  1. apa ff ini ada kelanjutanya thor..?q penasarn apa jong jin akan melakukan hal buruk terhdp yoona ma suho stlh tahu mereka ber2 jadian,,,?

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s