[Freelance] Asleep

snsd-yoona-innisfree-6

 

Asleep | Hanabi

Im Yoona | Oh Sehun

Vignette | Marriage Life – Romance | PG-13

.

.

.

Saturday, 9 July 2016

Apa yang kau rasakan jika kau bagun dari tidur nyenyakmu dan melihat ada seorang pria asing yang berbaring di sampingmu? Memekik? Berteriak? Memukul secara brutal? Atau kau akan melakukan semuanya? Oke benar, Im Yoona melakukan semuanya.

Yang ia pikirkan adalah siapa pria cabul yang berani tidur di sampingnya? Yoona tidak mengenal pria itu sama sekali, oke? Dan Im Yoona adalah gadis berusia 21 tahun, sang primadona kampus, dan ia sudah memiliki kekasih. Oh tentu saja, kekasihnya bukanlah pria asing yang sedang tertidur di sampinya ini dan Yoona tidak semurah itu untuk tidur dengan pria yang tidak dikenalnya.

Wajah pria asing itu masih terlihat mengantuk, tapi dia tetap menegakkan tubuh saat Yoona menyuruhnya bangun. Matanya mengerjap-ngerjap pelan lalu memincing ketika menoleh ke arah jendela yang tertembus cahaya matahari pagi.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini? Maksudku, aku di mana? Ini bukan kamarku! Kau menculikku?” Cerocos Yoona panik saat menyadari dirinya berada di tempat asing. Dengan gusar matanya menelusuri ruangan yang didominasi warna putih gading.

Pria asing itu malah tersenyum manis. Yoona tidak tahu mesti bicara apa, begini, jujur saja, Im Yoona seorang peminum yang payah dan kalau ia sudah mabuk, wanita itu bisa tertidur di mana saja. Jangan-jangan pria ini adalah orang yang menggotongku pergi ketika aku mabuk? Ah! Aku tidak ingat!

“Yak! Kau! Harusnya kau menjawab pertanyaanku bukan malah tersenyum.”

Pria asing itu menarik laci nakas yang berada di sisi kiri ranjang, mengeluarkan sebuah album foto, dan menyerahkannya pada Yoona. Kening wanita itu berkerut, apa sih maksudnya? Jangan bilang kalau dia memfotoku saat aku sedang mabuk, dan mencetaknya, dan menjadikannya barang bukti untuk memberatkanku, dan mengancamku menggunakan foto-foto ini. Yoona menggeleng. Berhentilah mengotori pikiranmu dengan agedan dalam drama, Im Yoona!

“Bukalah.” Kata pria asing itu sambil menunjuk menggunakan dagu.

Yoona bergeming sesaat sambil menatapnya tak suka. Tapi, pria itu terlihat oke-oke saja ketika wanita itu hampir menggeram seperti anjing. Senyumnya malah semakin melebar. Yoona tidak mengerti apa maksudnya dan ia tidak mau membuka album foto itu, namun pria asing itu terlihat terus mendesaknya. Dan ketika Yoona membuka album foto itu, matanya hampir copot dari tempat yang seharusnya.

“Aku sudah menikah?” Tanya Yoona sambil menunjuk foto pertama. Dua manusia berbeda genre yang memakai pakaian pengantin tersenyum manis ke arah kamera. Tidak salah lagi, ini dia, ini Im Yoona! Tapi, aku masih berusia 21 tahun dan aku masih kuliah di jurusan sastra dan bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain, jika aku sudah memiliki kekasih?

Tolong siapa pun, katanya pada wanita ini kalau semuanya hanya lelucon. Oke, ini sudah kelewatan! Coba pikir, Im Yoona masih ingat dengan jelas kalau kemarin ia baru saja menghadiri acara reuni bersama teman SMA-nya dan ketika ia bangun, ia sudah menikah? Oh, gila!

“Iya, kau sudah menikah,” katanya, masih dengan senyum yang sama. “Denganku.”

.

.

.

[Berhentilah menggangguku, Yoona-ssi. Aku sudah bahagia bersama Suzy.]

“Apa maksudmu, Oppa? Dan, siapa Suzy?” Tanya Yoona tidak mengerti dengan alis tertaut.

[Bae Suzy adalah istriku. Aku lelah setiap pagi harus menerima telpon darimu dan menjelaskan kalau kita sudah lama putus. Aku tahu kau sakit. Kau amnesia. Tapi, ini sudah kelewatan. Kau harus berhenti menghubungiku mulai dari sekarang.]

“Kau sudah menikah?” Pekik Yoona. “Oke tunggu,” Yoona menjauhkan gagang telpon ketika wanita itu menghebuskan napas panjang dan mendekatkannya lagi ketika ia melanjutkan ucapannya. “Kau memangnya percaya dengan pria itu? Dia telah memberitahukan semuanya padaku, kalau aku mengalami kecelakaan satu bulan yang lalu dan menyebabkan amnesia. Aku selalu terbangun dari tidur dan berpikir kalau aku masih gadis berumur 21 tahun sang primadona kampus. Padahal umurku 31 tahun, 10 tahun memoriku terhapus karena kecelakaan itu dan setiap pagi aku menganggap diriku terbangun di musim panas tahun 2006. Apa kau tidak khawatir? Kau seharusnya khawatir! Aku sakit dan aku bersama orang asing!”

[Kau tidak bersama orang asing, Yoona-ssi. Kau bersama suamimu.] Orang yang sedang berbicara dengan Yoona di telpon terdengar begitu sabar mengucapkan satu persatu kata.

“Aku bahkan tidak mencintainya!” Ujar Yoona hampir membentak.

[Kau mencintainya. Karena kau meninggalkanku untuk menikah dengannya.]

Tiba-tiba sambungan telpon terputus atau lebih tepatnya Lee Sung Gi–pria yang tadi berbicara dengan Yoona di telpon, sekaligus mantan kekasihnya–yang memutuskannya. Yoona terbelak sambil menatap gagang telpon berwarna putih itu dengan tatapan ya ampun, tidak mungkin, dia pasti berbohong.

Apa katanya tadi? Aku memutuskan Sung-Gi oppa? Aku sangat mencintainya. Tidak mungkin aku mengakhiri hubungan kami apalagi sampai meninggalkannya demi pria bernama Oh Sehun yang mengaku sebagai suamiku. Dia bisa saja berbohong, karena aku sedang amnesia, bisa saja Sung-Gi oppa yang meninggalkanku demi wanita bernama Bae Suzy itu. Dasar brengsek!

“Kau masih tidak percaya setelah mendengar penjelasan darinya?”

Yoona menoleh cepat. Oh Sehun–pria yang mengaku sebagai suaminya itu–sedang menuangkan orange juice ke dalam gelas di meja makan. Wanita itu meletakkan kembali gagang telpon yang menggantung di dinding dapur. Rasa kesal belum luput dari ingatannya ketika tadi pagi Yoona memaksa Sehun untuk menelpon Sung-Gi. Pria itu malah menyerahkan benda tipis berwarna hitam yang manusia zaman sekarang menyebutnya : smart phone.

Jangan anggap Yoona bodoh. Wanita itu pintar, ia selalu mendapatkan juara kelas. Tapi, gara-gara kecelakaan itu Im Yoona harus rela juga kehilangan daya ingatnya tentang teknologi abad 20. Memory-nya terhapus sampai sepuluh tahun yang lalu. Setiap pagi ia menganggap hari ini adalah tahun 2006. Yoona juga tidak bisa mengingat apa saja yang ia lakukan di hari kemarin, semuanya ter-reset ulang ketika ia tertidur.

Di tahun 2006 juga ada ponsel. Tentu saja, bukan layar sentuh dan tidak secanggih sekarang. Jadi, Yoona lebih memilih telpon rumah yang tergantung di dapur–yang memang Sehun sediakan satu bulan lalu ketika pria itu tahu Yoona mengalami amnesia. Kalau kalian mau tahu Yoona hampir saja kena serangan jantung, waktu Sehun menyentuh layar smart phone dan tiba-tiba wush… menyala seperti sihir.

“Masih ingin mencoba menghubungi pria itu? Siapa namanya? Oh, Sung-Gi oppa?” Jelas-jelas Sehun sedang mengejek Yoona, apalagi pria itu mengatakan ‘Sung-Gi oppa’ dengan nada manja.

“Jangan sebut namanya.” Balas Yoona ketus.

“Kau juga selalu marah ketika aku menyebut namanya. Kau selalu bilang ‘jangan sebut namanya.’–setiap pagi,” Sehun meletakkan telur mata sapi terkhir di atas piring Yoona, kemudian duduk di kursinya. “Duduklah. Kau harus makan. Kau butuh tenaga untuk melanjutkan acara marah-marahmu.”

Dengan ragu Yoona berjalan mendekat dan duduk di kursi di depan Sehun. Wanita itu sedikit tersentuh dengan semua yang Sehun persiapkan untuknya. Sarapan pagi yang bergizi, begitulah yang akan Eomma-nya bilang kalau melihat makanan yang tersaji di depannya.

Wae-yo? Jangan bilang kau tidak menyukainya,” Sehun terlihat seperti ayah yang kesal melihat anaknya tidak mau makan. “Padahal kemarin kau yang meminta aku memasakkan ini untukmu.”

Aniya, terima kasih Sehun-ssi. Aku akan memakannya,” Yoona meraih pisau dan garpu, tetapi wanita itu menghentikan niatnya untuk menusuk sosis yang sangat menggugah selera. “Aku ingin bertanya sesuatu, Sehun-ssi.”

“Tentu,” jawab Sehun dengan mulut penuh dengan makanan. “Kau boleh bertanya apapun.”

Sebenarnya Yoona agak malu bertanya ini, tapi kalau ia tidak bertanya, rasanya ada yang menganjal. “Siapa yang menyatakan perasaan duluan?”

Alis tebal Sehun terangkat tinggi-tinggi, tapi segera turun lagi ketika dia melihat ekpresi penasaran yang Yoona tampilkan. “Tentu saja kau,” Pria itu tersenyum manis selagi Yoona mengerjap-ngerjap mata tak percaya. “Kau yang mengejar-ngejarku.”

Yoona menyahut dengan dengusan, kemudian berkata : “Penipu.”

.

.

.

Sunday, 10 July 2016

Yoona berhenti mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja, kemudian salah satu tangannya terangkat memijat pelipis pelan, sambil menatap tak percaya album foto yang terbuka di depannya Oh Sehun–pria yang mengaku sebagai suaminya–membeberkan album foto itu setelah dia menjelaskan panjang lebar kenyataan bahwa mereka telah menikah satu tahun yang lalu.

Oh tentu saja Yoona tidak langsung percaya, tidak ada jaminan apa yang diucapkan pria itu adalah kebenaran, apalagi mengingat bahwa ia sedang mengalami amnesia–begitulah kata pria itu. Im Yoona membutuhkan bukti, jadi Sehun memberikannya album foto dan surat pernikahan mereka. Dan jelas dalam foto itu mereka terlihat bahagia.

Yoona hampir terkena serangan jantung ketika tadi pagi ia menemukan dirinya di sebuah ruangan asing dan bersama pria asing yang duduk di pinggir ranjang sambil menatap dan tersenyum hangat. Yang pastinya Yoona masih belum bisa menerima atau mungkin tidak akan pernah bisa menerima semua ini. Masih segar diingatannya kalau semalam ia sedang mengadakan reuni bersama teman-teman SMA-nya dan ternyata kejadian itu terjadi sepuluh tahun yang lalu.

Wanita bernama Im Yoona yang memakai gaun pengantin dan tersenyum ke arah kamera bukanlah Im Yoona yang sedang duduk melongo di dapur rumah. Mungkin, Im Yoona di dalam foto ini sangat mencintai Oh Sehun, tapi tidak dengan dirinya.

Sehun meletakkan gelas berisi susu dan sepiring roti lapis di depan Yoona, sebelumnya dia memindahkan terlebih dahulu album foto dan surat pernikahan mereka. “Wae-yo? Kau masih belum percaya? Apa kau ingin menelpon Sung-Gi oppa-mu itu?”

“Kau mengenal Sung-Gi oppa?”

Sehun hanya mengangguk, sebab mulutnya dipenuhi oleh roti lapis. “Kau ingin menelponnya?” Tanyanya lagi setelah pria itu meneguk air.

Yoona menggeleng cepat. “Aku tidak boleh menelponnya. Tadi pagi aku menemukan note di atas nakas, Im Yoona yang kemarin mengatakan kalau aku tidak boleh menelpon Sung-Gi oppa karena dia sudah menikahi wanita bernama Bae Suzy. Di note tertulis kalau Sung-Gi oppa adalah pria brengsek yang meninggalkanku demi Bae Suzy. Aku tidak sudi menelponnya.”

Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali–bingung–sebelum akhirnya dia menjawab : “Ya, kau tidak boleh menelponnya lagi. Karena dia meninggalkanmu demi menikahi Bae Suzy.” Pria itu tahu itu tidak benar. Kenyataan yang sebenarnya adalah Im Yoona meninggalkan Lee Sung Gi demi menikah dengannya. Ini serius, loh. Oke, membohongi orang yang mengidap amnesia adalah kesalahan, tapi semua ini didasari karena rasa kesalnya harus melihat setiap pagi istri tercintanya menelpon pria lain. Tidak suka? Tuntut saja Oh Sehun sekarang! Toh, Yoona tidak akan ingat setelah hari ini.

Wanita itu tersenyum miring. “Awalnya aku tidak percaya, tapi aku yang kemarin tidak mungkin membohongiku. Oh, aku ingin bertanya, Sehun-ssi. Bagaimana kronologi kecelakaan yang kualami?”

Sehun yang tadinya sumringah telah berhasil mengelabui Yoona, wajahnya langsung mengendur mendengar pertanyaan Yoona. Kentara sekali pria itu tidak ingin mengungkit masalah ini, tetapi tatapan Yoona yang mendesaknya membuat pria itu angkat bicara. “Hm…” Sehun menautkan jemarinya di atas meja. “Kau mengalami kecelakaan saat kita dalam perjalanan menuju rumah sakit.”

“Rumah sakit? Siapa yang sakit?”

Aniya,” Sehun menggeleng sambil terkekeh pelan. “Tidak ada yang sakit. Kita datang ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganmu. Tetapi karena kecelakaan itu, kau harus kehilangan ingatan dan janin di dalam kandunganmu.”

Sehun masih terkekeh bahkan setelah dia menyelesaikan kalimatnya. Yoona rasa, pria itu seharusnya tidak tersenyum. Wanita itu tahu kalau pria sok tegar di hadapannya ini hampir menangis dan Yoona baru sadar dia baru saja mengorek masa lalu kelam. Yoona memang tidak mengerti dengan rasa sakit yang Sehun alami. Tapi di tubuhnya, di perutnya, pernah ada janin, darah dagingnya, dan hal itu ikut membuatnya sedih.

Suasana tiba-tiba menjadi tegang dan Yoona tidak suka ini. Wanita itu mendogak ragu-ragu setelah mereka menghabiskan waktu beberapa menit hanya berdiam diri. “Aku juga membaca di note itu,” Sehun langsung mendonggak mendengar suara Yoona. “Kau berjanji mengajakku ke Lotte World hari ini.”

.

.

.

Jika kau membaca tulisan ini, maka kau adalah Im Yoona dari Im Yoona hari kemarin. Kau pasti bingung tentang semua ini. Kau terbangun di sebuah ruangan asing dan bersama seorang pria asing yang akan menatap dan tersenyum hangat padamu. Dia suamimu, dia benar-benar suamimu yang sah. Jangan ragukan dia apalagi sampai memukuli dan memanggilnya cabul.

            Kau mengalami anterograde amnesia dan kupikir kau juga mengalami lacunar amnesia, yang menyebabkanmu hanya mengingat memory sepuluh tahun yang lalu dan juga ingatan pendek. Otakmu akan me-reset ulang semua memory ketika kau teridur. Kau yang hari ini dan kau yang besok bisa saja adalah orang yang berbeda. Tapi kita semua, tetaplah Im Yoona.

            Jika Oh Sehun menawarimu untuk menelpon Sung-Gi oppa, kau harus menolaknya. Aku serius! Karena Sung-Gi oppa meninggalkanmu demi wanita bernama Bae Suzy. Oh, aku sangat shock mengetahui fakta itu. Beraninya pria brengsek itu menyelingkuhi kita, sang primadona kampus. Astaga! Memangnya secantik apa sih Bae Suzy?

             Oh, dan kau harus ingat. Jangan pernah bertanya penyebab kecelakaan yang membuatmu amnesia! Itu bisa membuat Sehun sedih. Sebab Im Yoona yang dulu sedang mengandung calon anak Sehun dan Im Yoona yang dulu harus kehilangan ingatan dan janin dalam kandungannya.

“Apa yang kau lakukan?”

Yoona tersentak kaget. Ia langsung memasukkan note kecil ke dalam tote bag. Ia tidak ingin Sehun mengetahui apa yang ia lakukan. Oke, ini agak sedikit memalukan. Tapi setidaknya, Yoona ingin memberi tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh Im Yoona yang hari esok lakukan.

Aniya,” Yoona menggeleng lalu senyuman manis merekah di wajahnya melihat Sehun datang membawa dua cup ice cream. “Gomawo.”

“Kau tidak ingin pulang?” Tanya Sehun sambil duduk di samping Yoona. Rasanya seluruh tulang di tubuh Sehun hampir patah, penyebabnya Im Yoona hampir menaiki semua wahana di Lotte World Theme Park. “Kau terlihat sudah mengantuk.”

“Kita harus melihat kembang api dulu sebelum pulang. Wua…” Yoona mengeyahkan helaian rambut yang berterbangan masuk ke mulutnya selagi menikmati langit kota Seoul–dari salah satu bangku taman–yang bergemerlap bertabur percikan kembang api. “Aku harus menikmati ini dulu sebelum pulang. Karena besok pagi, aku pasti tidak mengingatnya.”

“Baiklah, kita akan pulang setelah acara kembang apinya selesai.”

Gomawo,” ujar Yoona tanpa mengalihkan pandangannya dari langit. “Karena telah membuat hari ini sangat meyenangkan,” Yoona mengalihkan tatapannya menju Sehun yang juga sedang menatapnya. Betapa beruntungnya Im Yoona yang dulu, bisa dicintai orang sebaik Sehun. “Kalau seperti ini aku tidak ingin tertidur.”

Alis Sehun tertaut. “Wae-yo?”

“Karena aku tidak ingin melupakanmu, lagi.” Jawab Yoona sambil tersenyum manis.

 

The End

 

Annyeong…

Aku mau kasih tau info. Bagi kalian pembaca fanfic-ku yang In a Dream dan Soul, mianhe, aku nggak post di YoongEXO lagi. Silahkan datang ke akun wattpadku :

https://www.wattpad.com/user/Hanabisite

 

15 thoughts on “[Freelance] Asleep

  1. sehun cinta bgt kayaknya sama yoona sampai2 sabar bgt tiap hari aku slalu diteriakkin cabul sama istrinya sendiri…
    mngkn yoona shock krn kehilangan bayi’a sampai amnesia parah kyk gitu…

  2. Keeerreeennn,,,so sweet banget yoonhun…
    Sehun oppa kuat n sabar banget ya menjalani hidup dengan sang istri yng amnesia..
    D tunggu ff yng lain nya yach…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s