[Freelance] Revenge (END)

REVENGE

 

REVENGE 6 / END

 

Author                        : Chobi
Tittle               :
Revenge
Cast                 :
Im Yoon Ah, Oh Sehun, Kris, Park Jiyeon

Support cast  : Kai, Chanyeol (Temukan yang lainnya)

Genre              : Romance, Action
Rating                         : PG
21
Length                        : Chapter

Disclaimer       : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini hanya khayalan semata, GAK NYATA. Banyak terinspirasi dari Kdrama maupun Kmovie. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran.

 

 

Di tempat lain, Sehun menggelengkan kepalanya saat mengetahui ada sebuah mobil kencang mengarah ke arah Yoona. “Andwae!” Ucapnya dan berlari meninggalkan markas untuk menghampiri Yoona.

 

Sedangkan di luar markas, Kris juga sudah menyadari apa yang terjadi pada adiknya itu.

 

“Hadiah untukmu Kris,” ucap Luhan.

 

“BAJ***N KAU!” Kris langsung melemparkan ponselnya entah kemana dan segera keluar dari mobilnya dan berlari.

 

TIN!! TIN!!

Mobil hitam yang berkecapatan kencang itu semakin dekat dengan keberadaan Yoona. Yoona yang tidak tahu apapun tetap berjalan lurus dengan tatapan kosongnya.

 

Kris berlari sekencang mungkin. “YOONA-YA!! ANDWAE!!” Teriak Kris kencang.

 

Sedangkan Sehun yang masih berada di lobi markas pun berlari dengan brutalnya, tak peduli apa yang sudah ia tabrak sebelumnya. “Andwae Yoona-ya,” ucap Sehun sembari terus berlari.

 

TIN!!! TIN!! TINN!! TIN!!!

 

“ANDWAE!!” Teriak Kris.

 

TIN!! TIN!! TIN!! TIN!! TIN!!

DARRRRR!!! BRUGGGG!!! CIIIITT!!

 

Tubuh Yoona pun terpelanting ke atas mobil dan berguling di jalanan cukup jauh, sampai akhirnya terhenti karena tubuhnya menabrak trotoar.

 

“Emmh,” suara lengguhan Yoona terdengar sesaat setelah tubuhnya menabrak trotoar.

 

“Ahhh,” Kris menghentikan langkahnya dan terdiam mematung.

 

“YOONA-YA!!” Teriak Sehun saat melihat Yoona tak sadarkan diri.

 

Kepala Yoona mulai mengeluarkan darah segar begitupun di beberapa bagian tubuh lainnya.

 

BRUG!!

Lutut Kris yang terasa sangat lemas pun membuat dirinya harus terjatuh dalam keadaan berlutut di jalan. Tatapannya tak kalah kosong dengan Yoona. Kris pun menggeleng pelan.

 

Berbeda dengan Kris, Sehun justru berlari semakin kencang untuk mencapai keberadaan Yoona. Sampainya di sana, Sehun langsung membalikkan tubuh Yoona dan dibawanya Yoona dalam pangkuannya.

 

“Yoona-ya…” panggil Sehun pelan sembari menggerakkan tubuh Yoona agar lekas bangun. Namun tak ada respon apapun dari Yoona.

 

“Kumohon sadarlah Im Yoona!!” Teriak Sehun.

 

Sedangkan di dalam markas, Lay, Baekhyun dan Tao tak kalah terkejutnya melihat adegan itu. Beberapa saat kemudian, Baekhyun pun berlari ke parkiran dan mengambil mobil untuk membawa Yoona ke rumah sakit.

 

Tidak jauh dari keberadaan Kris. Kai akhirnya datang, ia memarkirkan motornya terlebih dahulu barulah ia menghampiri Kris.

 

“Hyung,” Kai ikut berjongkok dan memandang Kris.

 

Kris tidak merespon apapun, ia masih terfokus dengan keadaan Yoona yang tak sadarkan diri di depan matanya. Kris perlahan bangun dan berjalan mendekati Yoona. Kai pun ikut menghampiri Yoona.

 

“Yoona-ya!! Sadarlah!! Kumohon!!” Ucap Sehun dengan wajah paniknya.

 

“Yoona-ya,” panggil Kris lirih dengan suara yang pelan.

 

“Cepat!! Telfon ambulance!” Ucap Sehun kepada siapapun yang mendengar ucapannya.

 

CITTT!!

Baekhyun menghentikan laju mobilnya tepat di samping Sehun.

 

“Sunbae!! Cepat masuk!” Ucap Baekhyun.

 

Sehun yang menyadari hal itu langsung bergegas mengangkat tubuh Yoona di bantu oleh Kris.

 

Mobil pun melaju pergi dengan kencangnya, meninggalkan Kai yang merasa tak jauh terpuruk mengetahui keadaan Yoona dan bekas darah yang masih terlihat jelas. Perlahan kedua tangannya mengepal.

 

Saat mobil yang dikemudikan Baekhyun melaju dengan kencangnya. Mobil lainnya yakni mobil yang baru saja menabrak Yoona dengan pengemudi Luhan juga melaju dengan sangat kencang. Hanya ada Luhan sendiri di mobil itu. Di balik keseriusan saat mengendari mobil, tersimpan rasa kepuasan dari dirinya untuk membalas semua permbuatan tim Kris yang sempat mempermalukannya.

 

“Ini baru permulaan, Kris!!” Ucap Luhan.

 

 

 

Rumah Sakit, Seoul

24.00 Malam

 

Seorang suster membawa peralatan untuk memeriksa keadaan Ayah Sehun, ia hendak memasuki ruangan itu. Namun kedua penjaga dari TIM AIK menahan untuk memeriksa apakah  suster tersebut merupakan suster yang biasanya atau tidak.

 

Suster itu pun dinyatakan lolos pemeriksaan dan masuk ke dalam kamar. Saat tengah berada di samping tubuh Oh Se Hwan, suster itu melihat situasi disekitarnya. Melihat situasi aman, suster itu pun segera menyuntikan cairan ke salah satu lengan Oh Se Hwan. Setelah selesai, suster itu segera keluar dari kamar Oh Se Hwan.

 

Setelah keluar, suster itu langsung beranjak pergi ke lokernya untuk mengambil semua barang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Lalu pergi dengan diam menuju pintu belakang rumah sakit.

 

Saat tiba di belakang rumah sakit. Suster itu menemui Zega selaku anak buah Luhan untuk meminta bayaran sisanya. Namun bukan uang yang ia dapatkan, justru tusukan pisau bertubi-tubi di perutnya.

 

SEP!! SEP!! SEP!!

 

“Emmh,” suara nafas tertahan dari suster itu.

 

Zega segara membopong tubuh suster itu dan membawanya pergi.

 

 

Rumah Sakit

01.00

 

Di rumah sakit lainnya, Sehun, Kris dan Baekhyun tengah menunggu dengan was-was di depan ruang operasi. Sudah 2 jam mereka menunggu, namun tak kunjung ada kabar.

 

Kris bersandar di samping pintu ruangan. Sedangkan, Sehun duduk termenung dengan kedua tangan yang penuh darah saling berkaitan yang sekaligus ia gunakan untuk memanjatkan doa untuk keselamatan Yoona.

 

Suasan rumah sakit yang sepi membuat aura menegangkan semakin dirasa oleh mereka.

 

Baekhyun melihat raut wajah kedua orang yang ada di dekatnya itu. Terlihat murung dan aura cemas tertampang jelas di wajah mereka. Baekhyun menghela nafasnya dan bergegas mengeluarkan ponselnya untuk mengabari Jiyeon akan kejadiaan malam itu. Namun beberapa kali ia coba hubungi, tak kunjung ada jawaban dari Jiyeon. Baekhyun pun berjalan pergi  ke kamar mandi.

 

Tak berseleang lama setelah kepergian Baekhyun. Ruang operasi pun di buka oleh dokter perempuan.

 

CEKLEK!!

Pintu ruangan rumah sakit terbuka. Seorang dokter bernama Seul Bi yang mempunyai hubungan dekat dengan Sehun itu keluar. Kris segera berdiri di depannya dan Sehun pun melakukan hal yang sama.

 

“Bagaimana keadannya?” Sergap Kris sembari memegang kedua bahu Seul Bi.

 

“Siapa kau?” Tanya Seul Bi penuh penasaran.

 

“Minggir!” Sehun menggeser Kris yang ada di sampingnya.

 

Kris menghela kesal dan menahan rasa kesalnya dengan menutup kedua matanya beberapa saat.

 

Seul Bi menatap dalam ke arah Sehun. Ia mengetahui persis perjalanan cinta Sehun dan Yoona. Maka dari itu ia berat untuk menyampaikan berita duka pada Sehun.

 

“Bagaimana keadannya?” Tanya Sehun.

 

Seul Bi mengelus lengan Sehun. Susah sekali rasanya untuk mengungkapkan kebenaran. Terlebih melihat Sehun dalam keadaan terpuruk seperi itu. “Sehun-ah..” Ucap Seul Bi pelan.

 

“Eoh,” jawab Sehun cepat.

 

“Mianhae…” Ucap Seul Bi masih tertahan.

 

“Wae? Waeyo? Anni!! Katakan yang sebenarnya!” Sehun menggenggam erat pundak Seul Bi. Tersirat rasa takut yang teramat dalam genggaman itu.

 

Seul Bi menghela nafasnya. “Kami bisa menyelematkannya, tapi kami tidak bisa memastikan kapan Yoona akan sadar…”

 

Kris bernafas lega. “Tidak apa-apa, itu cukup bagiku!” Jawab Kris dengan perasaan sedikit lega mengetahui Yoona dapat diselamatkan.

 

Seul Bi menoleh ke arah Kris sekilas, lalu kembali memandang ke arah Sehun. “Maafkan aku tidak bisa menyelamatkan bayimu,” lanjut Seul Bi.

 

DEG!!

Sehun dan Kris merasakan hal yang sama saat mendengar berita itu. Jantungnya seakan ingin keluar dari tempat asalnya.

 

NE?” Sehun tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.

 

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun lagi untuk meminta penjelasan.

 

Kris menggigit bibirnya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan terduduk di kursi penunggu yang memang tersedia di sana. “Kubilang tidak apa-apa! Melihatnya masih hidup sudah cukup bagiku!” Ucap Kris memandang ke arah lantai.

 

Kris justru merasakan sakit yang teramat mengetahui Yoona hamil, fakta bahwa bayi itu tak lagi ada di dunia sedikit membuat perasaan Kris membaik. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

 

“Apa maksudmu?” Seul Bi menoleh ke arah Kris.

 

Kris pun menoleh ke arah Seul Bi. “Wae? Apa ada yang salah dengan perkataanku?”

 

Seul Bi menggeleng menanggapi ucapan Kris. Ia belum tahu apa maksud ucapan Kris dan hubungan apa yang terjalin antara Kris dan Yoona.

 

“Kau bilang dia hamil?” Tanya Sehun.

 

Seul Bi mengerutkan keningnya. “Kau tidak tahu tentang kehamilannya?”

 

Sehun terdiam, tiba-tiba rasa amarah memuncak. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu. Ia menutup matanya dan berbalik badan.

 

“AKKHH!” Teriaknya kesal.

 

Seul Bi tidak bisa menutupi wajah bingungnya. “Ada apa dengan kalian? Apa benar dia bayimu?

 

Lalu Seul Bi menoleh ke arah Kris. “Tapi aku tidak yakin itu bayinya!” Mengingat Kris yang merasa tidak kehilangan akan bayi yang tidak tertolong.

 

“Yoona tidak bisa dijenguk saat ini!! Kau ikut ke ruanganku sekarang!” Pinta Seul Bi pada Sehun dan berjalan lebih dulu.

 

“Kau tahu soal ini?” Tanya Sehun sekilas menoleh.

 

“Menurutmu?” Kris balik bertanya.

 

Melihat raut wajah Kris, Sehun tahu bahwa Kris juga tidak mengetahui tentang kehamilan Yoona.

 

“Ini lebih baik dari pada kau harus kehilangan keduanya!” Ucap Kris pada Sehun.

 

“TUTUP MULUTMU!” Ucap Sehun penuh penekanan dan berlalu meninggalkan Kris.

 

 

Ruangan Dr. Seul Bi

 

Sehun memasuki ruangan dan duduk di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan Seul Bi.

 

Seul Bi menatap nanar ke arah Sehun. “Apa yang terjadi?”

 

Sehun mengangkat kepalanya yang sejak tadi terus ditundukkan. “Kau tahu persis bagaimana aku sangat menginginkan seorang anak,” ucapnya pelan.

 

Sehun tersenyum singkat. “Belum sempat aku mengetahui kabar membahagiakan itu, anakku sudah tidak lagi di dunia ini,” tambahnya.

 

“Maafkan aku,” jawab Seul Bi.

 

Sehun menggeleng beberapa kali. “Sudah berapa bulan Yoona mengandung? Laki-laki atau perempuan?”

 

“Kurang lebih sudah dua bulan, untuk jenis kelaminnya aku tidak bisa memastikan,” jawab Seul Bi.

 

Seul Bi mengulurkan tangannya untuk mengelus tangan Sehun yang ada di atas meja. Ia memang memiliki usia lebih tinggi dibanding Sehun dan sudah menganggap Sehun seperti adiknya sendiri. “Sudah kukatakan, profesimu sangat beresiko, bayimu sudah meninggal saat cairan racun masuk ke dalam tubuh Yoona,” terang Seul Bi.

 

Sehun tampak terkejut mendengar penjelasan Seul Bi. “Racun?”

 

Seul Bi mengangguk. “Racun yang jarang sekali kutemui kasus itu di negara ini,” tambahnya.

 

Perlahan namun pasti, Sehun mulai mengerti tentang kejadian ini. Ia mengepal tangannya dengan kencang, giginya saling bergesekan menahan rasa amarahnya.

 

Seul Bi tahu persis apa yang sedang dirasakan Sehun saat itu. “Sehun-ah, aku memang tidak punya hak mengatakan ini, tapi jangan memulai untuk balas dendam dengan cara yang sama, semua itu tidak akan ada akhirnya,” ucap Seul Bi.

 

Sehun menggeleng. “Anni! Semua itu sudah dimulai, aku hanya perlu mengikuti arusnya bukan?” Ucapnya yang terdengar penuh makna tersirat.

 

Sehun beranjak pergi meninggalkan ruangan kerja Seul Bi.

 

 

Apartemen Jiyeon

05.00 Pagi

 

Jiyeon sudah menerima berita tentang keadaan Yoona. Ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke markas Kris atas permintaan Kris. Namun belum sempat melangkah keluar apartemen, Jiyeon mendapat sebuah panggilan telepon dari pengawal kamar ayah Sehun.

 

“Waeyo?” Tanyanya.

 

“MWO?” Mata Jiyeon membuka dengan lebar. Kunci mobil yang berada di tangannya terjatuh ke lantai.

 

“Arraseo,” ucapnya lirih lalu mematikan panggilan teleponnya.

 

 

Markas Tim Kris

05.20

 

Kris, Kai, Sooyoung, Chanyeol dan puluhan orang bawahannya terjaga dari semalam. Tidak satupun yang tertidur saat mengetahui Yoona berada di rumah sakit.

 

Kris duduk di sebuah meja makan memandang ke arah lantai dibawahnya. Kai, Chanyeol dan Sooyong duduk di kursi dekat meja makan dan orang-orang bawahannya berdiri menyebar melihat ke arah Kris.

 

“Sudah waktunya,” ucap Kris.

 

Kris berbalik badan mengahandap Kai, Chanyeol dan Sooyoung. “Kalian, pergilah ke Brazil bersama Jiyeon!”

 

Sooyong menoleh cepat. “Aku akan tetap disini bersamamu!” Jawabnya.

 

Kris memandang tajam ke arah Sooyoung.

 

“Aku akan membantumu,” tambah Sooyoung.

 

“Aku tidak membutuhkan bantuanmu! Lakukan apa yang harus kau lakukan!” Jawab Kris.

 

“Hyung, terlalu bahaya jika kau hanya seorang diri,” ucap Kai.

 

Kris tersenyum. “Lalu jika kau berada disisiku apa aku akan tetap aman? Pikirkan! Kau hanya akan menghambatku jika kau berada disisiku!” Jawab Kris yang langsung menusuk perasaan Kai yang menaruh perhatian pada Kris.

 

Berbeda dengan kedua temannya, Chanyeol lebih memilih diam dan menuruti apa yang diperintahkan Kris padanya.

 

“Persiapkan diri kalian!” Ucap Kris dan kembali pergi menuju kamarnya.

 

Sooyong tersenyum. “Begitulah caranya menyelematkan kita.”

 

“Sudah cukup bagiku. Aku akan tetap berada disisinya,” jawab Kai. Ia tahu maksud ucapan Kris. Kris menginginkan dirinya tetap hidup dan tidak membuang waktunya untuk membantu Kris membunuh Luhan. Karena di Brazil tugas mereka hanya menangkap sesepuh tua dimana para pengawalnya sudah banyak dikirim ke Korea. Terlebih anggota Kai dan tim Jiyeon banyak sehingga memudahkan penangkapan. Walau tidak menutup kemungkinan mereka akan kehilangan nyawa juga.

 

“Kita akan menyusun rencana lainnya.. Arraseo?” Sooyoung menoleh ke semua bawahannya dan dianggukan lah permintaan Sooyoung.

 

 

Rumah Sakit, Soul

06.00

 

Jiyeon berlari kencang, wajahnya menunjukan rasa cemas yang teramat, ia berlari  di lobi rumah sakit untuk sampai ke kamar Oh Se Hwan.

 

CEKLEK!

Jiyeon membuka pintu kamar dengan cepat dan mendapati dua orang dokter dan tiga orang suster mengelilingi tubuh Oh Se Hwan.

 

Mendengar suara pintu terbuka, dokter dan suster itu pun menoleh dan mulai menjauh dari tempat tidur Oh Se Hwan.

 

DEG!

Bagaimana ia tidak terkejut mendapati tubuh Oh Se Hwan sudah tidak dipenuhi peralatan medis dan tertutup kain putih.

 

“Ayah…” Panggil Jiyeon pelan. Kemudian ia berjalan mendekati Oh Se Hwan.

 

Salah seorang dokter tua mengelus pundak Jiyeon. “Maafkan kami… Aku turut berduka atas kepergiannya. Tenangkan dirimu dan temui aku nanti,” ucapnya lalu membungkuk sopan dan pergi.

 

Sebutir air mata turun membasahi pipinya. Perlahan ia membuka kain putih untuk melihat wajah Oh Se Hwan. Sesaat Jiyeon teringat untuk menghubungi Sehun yang kemungkinan sedang di rumah sakit lain bersama dengan Yoona.

 

Sekali… Dua kali… Tiga kali ia terus mencoba menghubungi Sehun. Namun faktanya ia tak mendapatkan jawaban.

 

 

Di rumah sakit lainnya

06.00

 

Di suatu ruangan yang lebih terlihat seperti tempat berdoa, Sehun duduk terdiam dan menundukkan kepala sembari menyandarkan tubuhnya di tembok. Suasana ruangan itu amat sangat sepi, sunyi dan gelap.

 

Sesekali Sehun mengusap kedua matanya yang nyaris meneteskan air matanya.

 

DRT!! DRT!!

Ponsel Sehun yang berada di sebelahnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Sehun melihat nama Jiyeon, lalu mengabaikannya.

 

Ponselnya terus bergetar hingga 5 kali panggilan. Namun Sehun tetap tidak berniat mengangkatnya.

 

DRT!

Getaran terakhir menandakan sebuah pesan singkat telah masuk. Entah kenapa, Sehun langsung bergerak untuk membukanya.

 

Cepat datang ke rumah sakit!

 

Pesan singkat dari Jiyeon tidak menjelaskan detil maksudnya. Namun tiba-tiba Sehun merasa gusar yang teramat. Ia menggenggam erat ponselnya dan langsung menghubungi balik Jiyeon.

 

“Wae?” Tanya Sehun cepat.

 

“Cepat kesini,” jawab Jiyeon dengan suara yang seperti tertahan.

 

“W-w-ae?” Sehun mendadak gagap.

 

“…,” tidak ada jawaban dari Jiyeon selain suara isakan tangis.

 

Sehun menjauhkan ponselnya dari telingannya. “Appa,” ucapnya pelan.

 

Sehun mulai mengerti dengan situasi saat itu, ia segera bangun dan meninggalkan ruangan itu dengan sangat terburu-buru.

 

 

Rumah Sakit, Seoul

6.30

 

CEKLEK!!

Jiyeon yang ada di dalam kamar Oh Se Hwan langsung menoleh ke arah pintu, ia melihat Sehun datang dengan nafas terengah-engah.

 

Sehun berjalan mendekati tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa. Sehun memandang wajah ayahnya yang sudah memucat, ia menggerakkan tangannya untuk membelai wajah ayahnya dan mulai berbisik di telinga ayahnya.

 

“Tidak apa-apa, Ayah.. Kau sudah berjuang sampai saat ini.. Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku dan pergilah dengan tenang…” Bisiknya pelan.

 

Sehun terus mendekap tubuh ayahnya tanpa meneteskan air mata. Justru ia tersenyum dan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh ayahnya.

 

“Tidak apa-apa Jiyeon-ah, Ayah sudah berjuang selama ini,” ucap Sehun yang sesekali mendengar isak tangis Jiyeon.

 

Jiyeon mengangguk menjawab ucapan Sehun. Ia tahu persis bagaimana perasaan Sehun sesungguhnya.

 

Saat tubuh Oh Se Hwan sedang diurus oleh pihak rumah sakit. Sehun akhirnya pergi ke kamar mandi. Ia memeriksa satu persatu ruangan yang ada di dalam kamar mandi, setelah diketahui tidak ada orang, Sehun pun mengunci pintu utama kamar mandi dari dalam.

 

Sehun menatap wajahnya pada cermin besar dihadapannya. Tatapan menyedihkan, seperti kucing yang baru saja kehilangan induknya.

 

“Hhhh..” Sehun menghela nafasnya.

 

Ia membuka keran dan mulai membasuh wajahnya berkali-kali. Setelah itu, ia menatap ke bawah. Saat itu, air matanya turun bercampur dengan air keran yang baru saja ia basuhkan di wajahnya.

 

Sehun mulai bersandar pada dinding marmer yang ada disebelahnya. Lama kelamaan tubuhnya menurun sampai akhirnya pantatnya menyentuh lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

 

Ia mulai menangis terisak. Semua kesedihan bercampur menjadi satu hari itu. Ia merasa ditinggal sendirian oleh orang-orang yang dicintainya. Ia menumpahkan semua rasa sedihnya, sakitnya, lelahnya. Dadanya terasa amat sesak saat itu. Sehun sempat berfikir bagaimana jika Yoona tidak bisa diselamatkan. Apa tujuan hidupnya sekarang…

 

 

Selang beberapa menit, seseorang menggedor pintu kamar mandi.

 

DUG!! DUG!! DUG!!

“Yak!!” Teriak pria paruh baya yang hendak masuk ke kamar mandi itu.

 

DUG!! DUG!! DUG!!

Jiyeon dan Tao pun datang menghampiri pria paruh baya itu. Tao mengajak pria itu pergi untuk memberikan penjelasan. Jiyeon yang tahu Sehun berada di dalam pun tidak berniat meminta Sehun keluar, ia tahu Sehun sedang membutuhkan waktu sendiri.

 

 

Keeseokan harinya…

 

Makam

9.00

 

Hampir keseluruhan tim AIK berkumpul di makam Oh Se Hwan. Jelas di wajah mereka menunjukkan luka yang mendalam. Bahkan sosok Chanyeol ada di dalam barisan itu.

 

Sehun terlihat gagah dengan setelan jasnya. Bahkan ia tak segan memberikan senyuman kepada orang-orang yang mengatakan bela sungkawa padanya. Karena ia tahu, kini ayahnya tidak lagi merasa kesakitan, penderitaannya sudah berakhir. Dan mungkin, kedua orang tuanya kini telah bertemu di alam lain dan menatap bangga kepada putranya itu.

 

Setelah pemakaman hari itu selesai. Chanyeol dan Jiyeon memutuskan pergi ke markas Kris. Sampainya di sana, ia bertemu Kris yang baru saja tiba setelah menjenguk Yoona.

 

“Bagaimana keadannya?” Tanya Jiyeon yang belum sempat menjenguk Yoona.

 

“Belum ada perkembangan,” jawab Kris.

 

Kini mereka semua berkumpul di ruang rapat. Kris menjelaskan bahwa Jiyeon harus memimpin tim yang akan dikirim ke Brazil bersama Kai, Sooyoung dan Chanyeol.

 

Jiyeon menyetujui hal itu. Namun ada satu permintaan yang diinginkan Jiyeon pada Kris. “Aku ingin Luhan ditangkap dalam keadaan hidup!” Pinta Jiyeon.

 

Jiyeon sudah mengetahui bahwa Luhan lah dalang dari pembunuhan Oh Se Hwan. Ia tidak ingin Luhan mati dengan mudah tanpa melewati hukuman-hukuman yang akan lebih menyiksanya.

 

Kris mengangguk dengan mudah. Walau ia tahu permintaan Jiyeon tidak akan pernah ia tepati, sebab ia sudah haus membunuh Luhan dengan tangannya sendiri.

 

 

Rumah Sakit

12.00

 

TUT… TUT… TUT…

 

Suara detak jantung Yoona terdeteksi melalui peralatan rumah sakit yang menempel pada tubuhnya. Sudah dua hari, Yoona tak kunjung sadar. Di samping tubuh Yoona yang terbaring, terlihat Sehun tengah mengenggam tangan Yoona dan menempelkan tangan Yoona pada wajahnya. Bahkan sesekali ia mengecup singkat kening Yoona.

 

“Aku tahu kau bisa mendengarku…” Ucap Sehun.

 

“Untuk beberapa waktu ke depan, mungkin aku tidak bisa menemanimu.. Ada yang harus aku selesaikan,” lanjutnya.

 

“Saat aku kembali, kuharap kau sudah sadar Yoona-ya..” Tambah Sehun sembari membelai mesra pipi Yoona.

 

“Sadarlah dan jalani kehidupanmu yang baru dengan tenang, eoh?” Tambah Sehun lagi.

 

“Saranghae Im Yoona…” Ucapnya mengakhiri pertemuannya dengan Yoona sebelum melakukan misi yang sudah ia rencanakan dengan Kris.

 

 

Dua hari kemudian…

 

Setelah melakukan pantauan dari tim Kris maupun tim AIK, akhirnya mereka menemukan sarang dimana Luhan selama ini bersembunyi setelah melakukan kegaduhan yang luar biasa.

 

Bukan hanya Jiyeon yang dikirim ke Brazil, teteapi beberapa anggota tim AIK pun ikut dikirim untuk menyelasaikan misi itu. Tim yang sudah Jiyeon siapkan di Brazil pun sudah siap siaga untuk menunggu perintah.

 

 

Bandara Incheon

7.00

 

Sooyoung, Chanyeol, Jiyeon dan Tao tampak berjalan beriringan. Mereka akan pergi meninggalkan Korea untuk menyelesaikan misi yang mengakhiri semuanya.

 

Saat berada di dalam pesawat, Jiyeon duduk bersebelahan dengan Sooyoung. “Kau merencanakan sesuatu?” Tanya Jiyeon penuh rasa ingin tahu.

 

“Apa maksudmu?” Sooyoung balik bertanya.

 

“Kai, di mana dia?” Tanya Jiyeon.

 

“Bukan urusanmu!” Jawab Sooyoung.

 

“Kau bisa melakukan itu pada Kris! Tapi tidak denganku! Kau jangan coba-coba membuat rencana lain tanpa seijin dariku!” Tegas Jiyeon.

 

Sooyong memilih untuk membaca buku kebanding meladeni ucapan Jiyeon yang ampuh membuatnya tersulut emosi.

 

 

Markas Tim AIK

8.00

 

Kris mendapatkan akses agar bisa masuk ke markas AIK. Hal itu perlu dilakukan karena Kris diduga mengetahui persis apa yang harus dilakukan dengan peralatan canggih yang ada di sana.

 

Tidak aneh rasanya jika banyak pasang mata yang memandang ke arah Kris. Namun Kris tidak sekalipun mempedulikan hal itu.

 

“Mereka sudah berangkat?” Tanya Sehun pada Baekhyun yang sedang berkutik dengan komputernya.

 

“Sudah,” jawab Baekhyun.

 

“Tim di sana sudah siap?” Tanya Sehun lagi.

 

“Ne, tinggal menunggu perintah mereka akan segera bergerak,” jawab Baekhyun lagi.

 

Baiklah, pergi ke rumah sakit dan berjaga di sana!” Ucap Sehun meminta Baekhyun menjaga Yoona untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, hal itu sekaligus mengakhiri perbincangannya dengan Baekhyun.

 

“Ne,” jawab Baekhyun.

 

“Kau! Ikutlah dengannya!” Tiba-tiba Kris menyuruh Chen untuk ikut dengan Baekhyun.

 

Chen menatap kesal ke arah Kris, ia pun mengabaikan permintaan Kris.

 

Namun tiba-tiba Sehun datang dan menepuk pundak Chen. “Pergilah,” pintanya.

 

“Arraseo,” jawab Chen langsung menyetujui.

 

 

Kris tengah melihat keadaan markas Luhan yang super besar nan luas dan dikelilingi banyak orang yang diketahui sebagai anak buahnya pada layar komputer di hadapannya. Bahkan ia berbincang dengan anggota AIK yang sudah diturunkan untuk memantau langsung.

 

“Kau tahu bahwa tidak akan mudah untuk kembali setelah masuk ke dalam?” Tanya Kris.

 

“Eoh,” jawab Sehun.

 

“Atau mungkin kita tidak akan pernah kembali,” tambah Kris.

 

“Eoh,” jawab Sehun yang sudah tidak peduli lagi dengan resiko apa yang akan di hadapi.

 

“Kita akan bergerak malam ini,” ucap Kris pada Sehun.

 

Sehun pun mengangguk.

 

 

Malam pun tiba…

 

Di dalam sebuah mobil yang berkecepatan tinggi, tepatnya  dibalik setir kemudi, Sehun sudah berpakaian lengkap dengan rompi anti peluru di badannya, ia menuju tempat yang sudah dijanjikan Kris dengan timnya pukul 12 malam.

 

Jam saat itu menunjukkan pukul 11.15 malam. Namun tiba-tiba Sehun memutar arah mobilnya dan menginjak gas agar melaju lebih kencang lagi.

 

Sampai di parkiran Rumah Sakit, Sehun melepas rompi anti pelurunya dan berlari menuju kamar rawat Yoona.

 

CEKLEK!

 

“Ohh, sunbae..” Ucap Chen melihat kedatangan Sehun.

 

Baekhyun melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul 11.45. “Sunbae, ada apa?”

 

Sehun berjalan mendekati Yoona. Sekali lagi ia memeluknya dengan erat dan berbisik. “Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, aku mencintaimu Im Yoona!!”

 

CUP!!

Sehun mengecup bibir Yoona dan menempelkannya cukup lama.

 

Baekhyun dan Chen yang ada diruangan itu pun langsung berbalik badan dan menutup matanya.

 

Sehun pun berbalik pergi, mengingat waktu yang sudah ditentukan semakin mendekat. Saat Sehun berbalik, salah satu jari Yoona bergerak, seolah ingin mengehentikan kepergian Sehun. Namun sayang, tidak ada yang melihat kejadian itu sampai akhirnya Sehun pun benar-benar pergi dari rumah sakit.

 

 

Sekitar Markas Luhan

  1. 55

 

Kris masih berada di dalam mobil dengan beberapa anggota AIK di dalamnya. Ia menunggu kedatangan Sehun.

 

“Bagaimana jika sunbae belum datang sampai waktu yang sudah ditetapkan?” Tanya anggota AIK pada Kris.

 

“Kita tetap bergerak!” Jawab Kris.

 

“Ne?” Jawab anggota AIK lainnya seolah tidak menyetujui ucapan Kris.

 

“Kau lupa? Sehun sudah memberikan perintah pada kalian untuk mematuhiku!” Jawab Kris.

 

“Ne~,” jawabnya.

 

 

Pukul 12.00 malam

 

Sehun masih belum terlihat kemunculannya. Kris mempersiapkan pistolnya. “Bersiaplah,” perintahnya pada anak buahnya.

 

Kris keluar dari mobil dan memberikan perintah melalui earphone agar semuanya bersiaga. Puluhan anggota AIK dan anggotanya pun sudah siap ditempatnya masing-masing.

 

“Kajja,” Kris memimpin pertempuran itu dan berjalan tanpa ragu mendekati markas Luhan. Setelah hampir tiba, Kris bersembunyi menunggu penembak jitu melakukan tugasnya.

 

DEP!! DEP!!

Penembak jitu pun sudah menggugurkan ketiga penjaga yang ada di halaman depan. Kris pun mulai kembali berjalan.

 

Sedangkan Kris sudah memulai misinya, Sehun masih di jalan dan mengetahui bahwa Kris sudah memulai misinya.

 

Pukul 12.15

 

Sehun akhirnya tiba dan segera berlari memasuki markas Luhan. Terlihat sudah ada beberapa mayat yang tergeletak.

 

DOR!! DOR!!

Terdengar keributan dari pistol yang saling bersaut-sautan.

 

Saat Sehun sedang berjalan, tiba-tiba ada yang menarik tubunya.

 

DOR!!

 

BRAK!!

Tubuh Sehun membentur meja saat seseorang menariknya agar tidak tertembak peluru yang sudah diarahkan padanya.

 

Sehun melihat ke orang disebelahnya, ia melihat Kai yang tengah menatapnya. Jelas ia bingung karena seharusnya Kai ada di Brazil. Namun tak ada waktu untuk mereka bercakap-cakap. Mereka pun kembali bertarung.

 

DOR!! DOR!! DOR!!

Kai dan Sehun juga menggunakan pistol mereka untuk mematikan lawan. Puluhan orang pun muncul menghadang Sehun dan Kai. Bukan hanya pistol yang dijadikan senjata oleh anak buah Luhan, bahkan bermacam jenis pisau sudah berada di tangan mereka.

 

Disaat Kai terus menambaki musuhnya. Ia tersadar bahwa peluru pistolnya habis dan ia pun bersembunyi di balik tiang besar dengan banyaknya tembakan yang diarahkan padanya. Kai menghela nafasnya sejenak untuk dapat mengambil pistol musuhnya yang sangat jauh dari keberadaannya.

 

Sehun yang masih menembaki musuhnya pun sadar akan keadaan Kai, ia pun berlari ke balik dinding besar dan melemparkan pistolnya ke arah Kai.

 

“KAI!” Teriak Sehun sembari melempar pistolnya.

 

Kai menoleh dan dengan cekatan ia menangkapnya. Tidak membuang waktu, Kai kembali menghabisi musuhnya dengan tembakan yang langsung tertuju ke organ vital seperti jantung dan kepala.

 

Sehun mengamati keadaan sekitarnya, ia belum menemukan Kris dan beberapa anggotanya yang selamat. Lalu ia melihat pistol berlaras panjang milik musuhnya dan mengambilnya. Sehun pun kembali menembak dan anak buah Luhan yang berada di ruangan itu pun habis tertembak.

 

Kai dan Sehun sama-sama menghela nafas mereka. Lalu saling pandang sejenak.

 

“Seperti yang kuduga, dia tidak akan mudah ditemukan,” ucap Kai mengarah ke keberadaan Luhan di markas itu.

 

Sehun mengangguk, ia memberi kode pada Kai untuk mengambil jalur kiri dan dirinya sebelah kanan. Karena ada dua jalan besar di sana yang memungkinkan mereka dapat bertemu Kris atau Luhan.

 

Sedangkan di ruangan lainnya. Kris dan beberapa anggota AIK bertarung sengit dengan ratusan anak buah Luhan yang menggunakan senjata tajam. Tubuh Kris pun sudah banyak goresan karena lawannya. Begitupun beberapa anggota AIK mulai berguguran.

 

Saat Kris tengah bertarung, Luhan berdiri di lantai atas dengan didampingi Zega dan 5 anak buahnya di sampingnya. Ia tertawa sembari melipat kedua tangannya di perutnya.

 

“Sebaiknya kita pergi,” ucap Zega yang melihat banyak anak buahnya yang tumbang dan akan membahayakan Luhan selaku bosnya.

 

Bukan menjawab, Luhan justru meminta pistol berlaras panjang ke salah satu anak buahnya. Luhan mulai membidik kepala Kris yang terus bergerak karena sedang berkelahi. “Tidak menarik bukan jika langsung melihatnya mati,” ucap Luhan sembari merubah bidikannya ke arah paha Kris.

 

Sedangkan di bawah, sesekali Kris melihat ke arah Luhan dan ia mendapati Luhan tengah membidik tembakan ke arahnya.

 

DOR!!

Luhan pun menembakan pelurunya. Namun Kris dengan cepat menghindar dan menggantikan posisi dirinya dengan anak buah Luhan.

 

“AKHH,” teriak anak buah Luhan saat lututnya terkena timah panas yang kemungkinan  tengah bersarang di dalamnya.

 

“AISH!” Kesal Luhan.

 

Kris semakin menatap bengis ke arah Luhan. Sorot matanya menunjukkan kebencian amat dalam, bukan karena peluru yang dihempaskannya yang hampir mengenai dirinya. Namun karena Luhan berani menyentuh wanita yang amat dicintainya.

 

Luhan tidak menyerah, ia mulai membidik tubuh Kris lagi. Saat itu juga, tiba-tiba ada pukulan kencang di pundak Kris.

 

BUG!!

“Emmh,” keluh Kris yang sempat jatuh terhuyung ke arah depan.

 

Setelah menghela nafas beratnya. Kris kembali beranjak dan berbalik badan untuk menghabisi pria yang sudah memukulnya.

 

ZEPP!!

Kris berhasil menancapkan pisaunya pada salah seorang anak buah Luhan.

 

Beberapa anggota AIK dan anak buah Luhan pun sudah tergelatak tak sadarkan diri di lantai. Tinggal Kris seorang yang berdiri tangguh. Kris mencabut pisau yang sempat bersarang di perut musuhnya itu lalu melemparnya kencang ke arah Luhan.

 

ZEPP!!

“Akkkh,” jerit Luhan saat sebuah pisau menancap pada paha kirinya.

 

Zega yang ada disebelahnya pun langsung menembak Kris dan berhasil mengenai Kris.

 

DOR!! DOR!!

“Emmh,” ringisnya pelan saat dua buah peluru meluncur lurus mengenai paha kirinya.

 

BRUG!!

Tubuh Kris pun terhuyung.

 

Zega mulai membidik ke arah kepala Kris. Namun Kai lebih dulu muncul dan menembaki Zega untuk menggagalkan tembakannya ke arah Kris.

 

DOR!! DOR!! DOR!!

Zega berhasil bersembunyi dan membantu Luhan menjauh dari tempat itu. Kelima anak buah Luhan pun mati karena tembakan Kai.

 

Kai berjalan untuk menghampiri Kris yang tengah berusaha berdiri untuk mengejar Luhan. Namun belum sempat ia tiba di dekat Kris, Zega kembali menembakkan peluru ke arah Kris. Kris pun menggulingkan badannya untuk menghindari tembakan itu.

 

DOR!! DOR!! DOR!!

 

“Hyung!!” Kai yang kehabisan peluru hanya bisa berlari ke arah Kris tanpa membawa senjata apapun.

 

Zega pun kehabisan peluru, ia berlindung sekaligus untuk mengisi peluru pada pistol miliknya.

 

“Emmh,” rintih Kris menahan sakit pada pahanya karena terkena dua kali tembakan.

 

Kris melihat kehadiran Kai di sebelahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

 

Kai melihat Zega sudah siap kembali menembakan isi pistolnya ke arahnya. Segera ia membantu Kris untuk bersembunyi.

 

DOR!! DOR!! DOR!!

Kris dan Kai beberapa kali merunduk untuk menghindari tembakan itu.

 

DOR!! DOR!! DOR!!

Tembakan lain datang ke arah Zega, Sehun datang di waktu yang tepat.

 

Zega kembali bersembunyi. Sehun berlari menghampiri Kris dan Kai yang sedang bersembunyi di balik sebuah dinding besar.

 

Kris menatap Sehun dengan wajah kesakitannya. Jujur saja ia kecewa bercampu markah arena Sehun tidak datang tepat waktu seperti yang sudah dijanjikan, karena hal itu Kris harus merubah strategi dan membuat banyak anggota tim nya maupun anggota AIK berguguran.

 

Sehun sadar arti tatapan Kris padanya. Namun ia tidak berniat membela dirinya, sebab ia juga sadar akan kesalahannya yang menyebabkan anggota timnya banyak gugur.

 

Kris memalingkan pandangannya, ia bersusah payah berdiri, ia pun menolak bantuan Kai dan berhasil berdiri dengan hanya bertumpu pada satu kaki.

 

“Kau! Aku tidak perduli dengan apa yang kau lakukan! Jangan lagi muncul dihadapanku! Karena aku tidak bisa menahan untuk segera membunuhmu!” Ucap Kris penuh penekanan pada Sehun. Ia merasa sangat terpukul akan anak buahnya yang banyak berguguran.

 

Sehun menghela nafasnya. Ia pun memberi pistolnya pada Kris. Agar Kris dapat melindungi diri. Namun Kris menolak.

 

“Kajja!” Kris mengajak Kai pergi dari tempat itu untuk segera menangkap Luhan.

 

Kris berjalan dengan rasa penuh amarah, kesal, sedih, semua bercampur. Namun tujuannya untuk menghabisi Luhan tetap bertengker di kepalanya. Apapun dan bagaimanapun caranya ia harus berhasil. Dengan begitu, ia dapat pergi meninggalkan Yoona  dengan tenang.

 

Di ruangan lain, Luhan tengah duduk di sebuah sofa dengan menahan kesakitan. Zega sedang sibuk menelfon helikopter yang akan segera datang menjemput mereka.

 

Sehun mengambil waktu  untuk beristirahat dan menjernihkan pikirannya sejenak agar tidak salah lagi mengambil langkah. Ia melihat luka sobek di lengan kirinya yang terus mengeluarkan darah segar. Sehun pun merobek kain dari pakaian musuhnya yang sudah tidak bernyawa, lalu melilitkannya pada lengannya agar darahnya tidak terus menerus keluar.

 

Sekilas Sehun melihat keluar jendela dari lantai 2 markas itu. Sebuah mobil besar datang, dan diperkirakan 20 orang berbadan besar keluar dari dalam mobil besar itu dengan senjata laras panjang di tangan mereka. Beberapa orang itu ada yang berbaris di bawah dan siap menghabiskan isi pelurunya dan sisanya masuk ke dalam markas.

 

Sehun melihat Kai dan Kris belum sadar akan kehadiran puluhan orang itu, ia pun berlari untuk menyelamatkan keduanya dari tembakan yang bertubi-tubi.

 

BRUG!!

Sehun berhasil mendorong Kai dan Kris ke arah depan dan membuat mereka terjatuh di lantai.

 

DOR!! DOR!! DOR!!

Tak lama berselang, suara tembakan dan peluru yang diarahkan ke tempat mereka pun terus berbunyi. Bahkan beberapa jendela pun sudah hancur berantakan.

 

Dalam keadaan jatuh tengkurap, Kris melihat ke arah ruangan lain, di mana Luhan dan Zega tengah berjalan untuk meninggalkan ruangan itu. Kris tidak ingin kehilangan Luhan, ia bersusah payah merayap sampai di tempat yang aman untuk berdiri dan mengejar Luhan.

 

Kai yang melihat Kris pergi seorang diri pun meminta Sehun agar menemani Kris. “Aku akan mengurus mereka, kau pergilah bersamanya!” Pinta Kai.

 

“Mereka terlalu banyak,” Sehun menolak. Ia pun mencari tempat yang aman untuk berdiri dan mempersiapkan pistolnya.

 

Pistol yang sudah disiapkan pun diberikan pada Kai. Kai pun menerima dan menembaki kumpulan orang yang ada di bawah. Sedangkan Sehun akan mengangani orang-orang yang sedang memasuki markas.

 

“Lindungi aku!” Pinta Sehun. Ia harus menyebrangi tembakan yang terus menerus mengeluarkan pelurunya agar bisa sampai di tangga dimana ia akan menahan sisa anak buah Luhan agar tidak sampai ke tempat itu.

 

Kai pun mengangguk. Ia pun mulai menembaki ke arah orang yang di bawah bertubi-tubi. Membuat tembakan yang diarahkan ke arahnya pun berkurang. Sehun pun berlari di atas pecahan kaca dan bertemulah ia dengan orang-orang yang diperkirakan berjumlah 15 orang. Sehun yang hanya bermodalkan pisau pun mulai bertarung.

 

Sedangkan di tempat lain, Kris sudah memegang pistol dan mengarahkannya ke arah Luhan.

 

DOR!!

Tembakan pun lepas. Namun Kris tidak berhasil mengenai sasaran.

 

DOR!

Zega pun membalas dengan tembakan juga. Namun Kris berhasil menghindar.

 

Kris mengeluarkan pisau dari sakunya. Lalu melemparkannya ke arah Zega.

 

ZEPP!!

“Akhhh!” Ringis Zega saat sebuah pisau menancap di lengan kanannya yang otomatis membuat pistolnya terjatuh. Kris pun menembak kaki Zega dan berhasil membuat Zega lemas.

 

Luhan yang menyadari hal itu pun mempercepat laju jalannya, Kris pun melakukan hal yang sama. Kris dan Luhan sama-sama memiliki luka di kaki mereka yang akhirnya  membuat mereka sulit berjalan dengan normal. Namun kali ini, Kris seolah tak perduli rasa sakitnya, ia mengejar Luhan sampai akhirnya Kris mendapatkannya.

 

Kris menyudutkan Luhan dengan hunusan pistol di kepala Luhan. Kris bernafas dengan menderu, seolah menunjukkan betapa ia membenci pria yang ada di hadapannya itu.

 

“Tunggu! Tunggu!” Ucap Luhan memegang lengan Kris.

 

Di saat Kai sudah berhasil membunuh penembak yang ada di bawah. Sehun pun kewalahan menghadapi 15 orang yang mempunyai skill berkelahi dan berbadan lebih besar darinya. Ia tersudut dengan sisa 4 orang di kelilingnya. Keadaan Sehun saat itu sudah sangat menghkawatirkan, kemeja putihnya hampir ditutupi oleh darahnya sendiri.

 

Sehun mengambil balok besar di belakangnya. Ia mencoba memejamkan matanya sesaat untuk mengembalikan pandangannya yang sudah kabur. Namun tetap saja, pandangannya tak kunjung membaik. Hal itu membuat Sehun kesulitan untuk mengarahkan baloknya ke arah musuh.

 

BUG!!

Belum sempat memukul, Sehun justru terpelanting ke belakang saat salah seorang menendang dadanya.

 

Darah segar kembali keluar dari mulutnya. Ia pun terbatuk beberapa kali. Sebisa mungkin Sehun berusaha berdiri dengan bantuan balok yang masih ada di tangannya.

 

DOR!! DOR!!

Kai berhasil menembak mati kedua orang yang ada dikeliling Sehun. Namun saat ia ingin menembak, lagi-lagi isi pelurunya habis. Kai pun membuang pistolnya dan bergegas melawan kedua orang sisanya dengan tangan kosong.

 

Perkelahian sengit pun terjadi antara Kai dan dua orang anak buah Luhan. Saat Kai berhasil membunuh satu lawannya. Musuh lainnya pun hendak memukul kepala Kai dengan balok. Namun Sehun berhasil memukul lebih dulu musuhnya.

 

BUG!!

BRUG!!

Lawan mereka pun habis di tempat itu.

 

Kai teringat dengan Kris, ia pun berlari meninggalkan Sehun tanpa sepatah kata pun. Sehun pun berjalan untuk mengejar Kai.

 

Saat Kris tengah mencekik leher Luhan, Zega tengah berusaha menjangkau pistol yang berada tak jauh darinya. Saat ia berhasil menjangkaunya segera ia menembakannya ke arah Kris.

 

DOR!!

“Emmh,” pinggang Kris terkena tembak.

 

DOR!!

Kedua kali peluru menusuk pinggang Kris.

 

BRUG!!

Kris yang sudah memiliki total 4 peluru dalam tubuhnya pun tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tubuhnya terkulai lemas di lantai dan sesekali meringis menyesali keadaannya yang tak bisa menghabisi Luhan. Kesempatan itu dipakai Luhan untuk melarikan diri untuk mencapai helikopter yang sudah menunggunya di lantai paling atas gedung itu.

 

DOR!! DOR!! DOR!!

Kai datang dan langsung menembak bertubi-tubi kepala Zega.

 

“Hyung!!” Kai berlari ke arah Kris.

 

Kai sebisa mungkin menahan darah yang terus keluar dari pinggang Kris. Ia pun membuka jaket kulitnya dan menempelkan sekaligus menekan pada luka Kris agar darahnya berhenti keluar.

 

“Kejar dia!” Mohon Kris dengan suara tertahan.

 

Kai menggeleng. Ia berfikir harus menyelamatkan Kris lebih dulu.

 

Mata Kris sesat tertutup. “Kejar dia!” Ucap Kris lagi.

 

Sehun pun datang dan melihat kepergian Luhan. Ia pun meninggalkan Kai dan Kris dan pergi mengejar Luhan.

 

Membutuhkan waktu yang lama memang untuk sampai di rooftop, karena Luhan harus menaiki tangga sampai di lantai 10. Sampainya di sana, helikopter beserta pilot dan satu  anak buahnya sudah menunggu.

 

Saat sedang berjalan mendekati helikopter. Tiba-tiba suara tembakan terdengar lagi.

 

DOR!!

“Akhh!” Luhan mendapati luka tembak di kaki kanannya.

 

Sehun yang baru menembak Luhan itu pun berlari sekuat tenaga untuk menjadikan Sehun sandera.

 

Sehun menodongkan pistol pada kepala Luhan. “Keluar dari helikopter itu dan jauhkan senjata kalian!”

 

Pilot yang masih berada di dalam helikopter tidak mendengar perintah Sehun.

 

DOR!

Sehun sengaja menembak lutut Luhan. Tidak ada lagi belas kasihan darinya. Semua orang yang dicintainya terluka di tangan Luhan.

 

“Akkkh,” ringis Luhan.

 

Setelah melihat Luhan ditembak, pilot itu pun mengerti saat Sehun memberikan kode untuk segara turun dari sana. Ia pun turun.

 

DOR!! DOR!!

Kai pun datang dan langsung menembak mati pilot dan seorang anak buah Luhan.

 

Di saat yang bersamaan.

ZEP!!

Luhan berhasil menusuk perut Sehun menggunakan pisau yang cukup panjang, ia menyembunyikan pisau di kantungnya sebagai senjata rahasianya. Setelah menusuknya, Luhan menarik pisaunya, hal itu membuat darah semakin banyak keluar dari tubuh Sehun.

 

“Emmmh,” suara Sehun tercekat menahan sakit.

 

Luhan mengambil pistol yang ada di tangan Sehun dan menjadikan Sehun sebagai sanderanya. “Menjauh dariku! Atau kutembak dia!”

 

Kai terdiam beberapa saat. Lalu berjalan dengan percaya diri mendekati Luhan. “Tembak saja dia! Aku tak perduli! Yang kubutuhkan adalah kau!” Ucap Luhan sembari menodongkan pistol ke arah Luhan.

 

Luhan tersenyum. “Benarkah?”

 

Luhan mencoba membangunkan Sehun yang sudah terkulai lemah. Wajahnya dipenuhi darah begitupun dengan tubuhnya. Ia membawa Sehun ke pinggir dari gedung itu.

 

Sehun yang masih sedikit tersadar pun tidak bisa berbuat banyak. Ia sudah banyak mengeluarkan darah. Untuk membuka matanyanya saja rasanya sulit.

 

Luhan tersenyum lalu mendorong tubuh Sehun. Sehun pun tersadar saat tubuhnya terhuyung ke arah depan di mana yang ia lihat adalah mobil yang sedang berlalu lalang di bawah sana. Sehun segera mengeratkan pegangan tangannya pada tembok pinggiran gedung itu. Kini tubuhnya menggelantung di atas ketinggian 10 lantai.

 

Luhan mengarahkan tembakannya ke arah Kai. “Tentukan pilihanmu! Membantunya tetap hidup atau membunuhku!” Luhan tertawa sekaligus berjalan mendekati helikopternya.

 

Kai melihat Sehun masih bergelantung. Tangan Sehun berlumuran banyak darah. Tentu saja pegangan tangannya pun licin karena darah itu.

 

Sehun sedikit demi sedikit menutup matanya. Pegangan tangannya pun semakin mengendur.

 

“Kumohon.. Berbahagialah Yoona-ya..” Ucap Sehun dalam hati dan menutup kedua matanya.

 

 

 

Rumah Sakit

01.30 Pagi

 

Di waktu yang bersamaan. Yoona masih tak sadarkan diri. Baekhyun dan Chen sudah tak terlihat di sana. Suara detak jantung Yoona masih terdengar.

 

TUT!! TUT!! TUT!!

 

Yoona sedang duduk di kursi yang ada di taman. Suasana saat itu sangat cerah. Namun sejuk karena banyak pohon rindang di sekelilingnya. Yoona menatap penuh senyum kedua orang yang ada di depannya yang tengah berlari-lari kecil.

 

“Ayah.. Aku akan menembakmu!” Ucap bocah laki-laki berumur 5 tahun yang sedang mengarahkan pistol mainannya ke arah Sehun.

 

“Andwae..” Jawab Sehun dan mulai berlari menjauh dari putra semata wayangnya, Oh Hyun Soo.

 

“Dor… Dor… Dor, ayah aku sudah menembakmu.” Teriak Hyun Soo sembari terus mengejar Sehun.

 

Sehun menghentikan langkahnya. “Benarkah?”

 

“Emm,” Hyun Soo mengangguk.

 

“Eomma, kau tidak ingin menolongku?” Teriak Sehun kepada Yoona yang masih tersenyum memandangnya.

 

Hyun Soo pun menoleh ke arah Yoona. “Eomma, jangan khawatir.. Aku tidak akan menembakmu,” ucap Hyun Soo sembari memarkan deretan giginya.

 

“Wae? Kenapa hanya Ayah yang kau tembak?” Sehun seolah tidak terima.

 

“Hyun Soo-ya, aku akan menangkapmu karena sudah menembak ayah.. Yak….” Yoona berlari kecil sembari tertawa untuk mengejar putranya.

 

“Akkkk..” Teriak Hyun Soo dan mulai berlari menjauh dari ibunya.

 

Hyun Soo dan Yoona tertawa terbahak sembari terus kejar-kejaran. Sampai akhirnya Yoona berhasil menangkap tubuh Hyun Soo dan mendekapnya erat.

 

Hyun Soo sebisa mungkin melepaskan dirinya dari dekapan Ibunya. Namun sulit rasanya.

 

“Ayah.. Tolong aku,” teriak Hyun Soo pada Sehun.

 

Sehun menatap marah pada Hyun Soo. “Ayah sudah tertembak tadi, mianhae.. Ayah tidak bisa menolongmu,” jawab Sehun dan mulai duduk di rerumputan hijau sembari memandang kedua orang yang dicintainya itu.

 

Hyun Soo menggeleng cepat. “APPA!!” Teriak Hyun Soo saat Yoona mencoba menggendong tubuhnya.

 

Sehun tertawa melihat Yoona yang tertawa puas. Rasanya ia baru melihat Yoona tertawa puas saat itu.

 

“Hyun Soo-ya, ayah akan menolongmu jika kau bilang mencintaiku..” Ucap Sehun.

 

Hyun Soo langsung berucap. “Appa saranghae..” Teriak Hyun Soo.

 

Sehun tertawa dan ia mulai berlari menghampiri Yoona dan Hyun Soo. Bukan membantu Hyun so menjauh dari Yoona, Sehun justru memeluk tubuh Yoona yang tengah menggendong Hyun Soo, menjadikan putranya itu berada di tengah dekapan kedua orang tuanya.

 

Yoona dan Sehun saling bertatap dalam senyuman kebahagian. Hyun Soo pun ikut tersenyum dan mengeratkan kedua tanngannya di tubuh Yoona lalu berbisik. “Aku juga mencintaimu Ibu,” ucapnya lalu memberikan kecupan singkat pada pipi Yoona.

 

CUP!

Sehun pun ikut mencium pipi Yoona.

 

“Aku juga mencintaimu,” ucap Sehun pada Yoona.

 

Yoona, Sehun dan Hyun Soo pun tertawa dalam rasa bahagia yang teramat.

 

Yoona mengeluarkan air mata di ujung mata sebelah kanannya dalam keadaan terbaring di rumah sakit. Air mata itu mengalir turun bersamaan dengan mimpi indah yang baru saja membuatnya bahagia.

 

 

Markas Luhan

 

Saat Sehun sudah benar-benar tak sadarkan diri. Kai lebih dulu menangkap  pergelangan tangan Sehun sebelum Sehun meluncur jatuh ke bawah. Kai memilih menyelamatkan Sehun dibandingkan dengan menangkap Luhan. Kai berusaha mengangkat tubuh Sehun yang sudah tak sadarkan diri itu.

 

Luhan berlari ke tempat helikopternya. Namun belum sempat ia sampai. Helikopter lainnya yang memiliki tulisan AIK dibadanya datang dengan tim yang sudah siap tembak ke arah Luhan.

 

Sehun menyempatkan menelpon markasnya untuk meminta bantuan. Maka dari itu, Baekhyun dan Chen pun diturunkan untuk membantunya.

 

Luhan pun panik, ia pun mengabaikan ancaman seseorang dari dalam helikopter AIK untuk tidak bergerak.

 

DOR!! DOR!!

Dua tembakan dari tim AIK mampu membuat Luhan terkapar lemah.

 

Sehun segera di evakuasi menggunakan helikopter dan membawanya ke rumah sakit.

 

Kai kembali berlari ke dalam gedung untuk melihat keadaan Kris yang sebelumnya sudah kritis. Kai mendapati Kris masih memegang pinggangnya untuk menahan darah yang terus keluar.

 

Kai menghampiri Kris. Kris yang tadinya menutup kedua matanya pun membuka matanya. Lalu memandang Kai untuk meminta penjelasan tentang keadaan Luhan. Kai mengangguk, Kris mengerti bahwa Luhan sudah bisa ditangani.

 

Tidak lama, beberapa orang dari tim kesehatan AIK datang dan membawa Kris ke mobil ambulance. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Kris mendapati pertolongan. Namun Kris meminta agar dirinya dikirim ke rumah sakit dimana Yoona berada. Sempat terjadi perdebatan karena mereka tidak bisa membawa Kris kesana. Namun setelah Kai memaksa mereka menyetujui permintaan Kris.

 

Sampainya di rumah sakit, Kris yang masih berada di tempat tidur meminta Kai membantunya untuk membawanya ke kamar Yoona. Kai yang tidak bisa berbuat banyak pun menyetujui permintaan kris.

 

Di dalam kamar rawat, ternyata Yoona sudah membuka kedua matanya. Namun dirinya belum bisa banyak bergerak. Saat itulah tiba-tiba Kris datang dengan badan yang masih berlumur darah.

 

CEKLEK!

Yoona menolah pelan dengan harapan Sehun yang datang. Namun ia justru dibuat semakin terkejut dengan keadaan Kris.

 

“Oppa,” ucapnya pelan. Tangannya pun mengulur untuk dapat memegang Kris.

 

Kris tersenyum melihat adiknya sudah sadar dan memanggil namanya. Kris berjalan dengan tertatih dan menjangkau tangan Yoona.  “Maaf, bukan aku yang seharusnya datang,” ucap Kris sangat pelan.

 

Yoona menggeleng pelan. Ia ingin bangun dari tempat tidurnya. Namun rasanya amat sangat sakit. Yoona mulai mengeluarkan air matanya.

 

Saat itu juga, Kris terbatuk dan mulutnya semakin banyak mengeluarkan darah. Kai yang ada di belakangnya segera keluar untuk memanggil dokter.

 

“Terimakasih Yoona-ya… Berbahagialah, maka aku bisa mati dengan tenang,” ucap Kris dengan terbata sembari menahan sakit.

 

Yoona menggeleng. “Oppa, andwae…”

 

Kris tersenyum dan tiba-tiba tubuhnya terjatuh di lantai.

 

BRUG!!

 

“Oppa,” suara Yoona terdengar kencang saat melihat Kris terjatuh.

 

Kris masih melihat Yoona dan tersenyum sebelum akhirnya matanya benar-benar tertutup.

 

“Oppa~” tangan Yoona mengulur ke arah Kris, berharap Kris dapat kembali menggenggam tangannya.

 

 

 

 

DUA MINGGU KEMUDIAN…

 

 

 

Apartemen Yoona

11.00

 

Yoona sudah terbangun dari komanya sekitar dua minggu yang lalu, untuk pemulihan sepenuhnya, ia mengabiskan waktunya satu minggu di Rumah Sakit.

 

Yoona memakai kemeja putih di balut mantel hitam panjang siang itu. “Eonni, kau sudah siap?” Tanya Yoona pada Sooyoung.

 

Setelah menangkap gerombolan sesepuh di Brazil, Sooyoung memutuskan untuk tinggal beberapa saat dengan Yoona. Berbeda dengan Chanyeol, yang memilih tetap di Brazil.

 

“Kajja, Kai sudah di mobil,” ajak Sooyoung.

 

 

Tebing, Seoul

12.00

 

Kai, Yoona dan Sooyoung berjalan dengan seksama  menuju tebing dimana abu tubuh Kris ditaburkan. Setelah Kris meninggal, mereka bertiga seringkali datang ke tempat itu.

 

“Oppa, seperti yang kau minta, aku hidup bahagia sekarang,” ucap Yoona pelan.

 

Sooyoung tersenyum mendengar ucapan Yoona, lalu ia mengelus pundak Yoona beberapa saat.

 

“Hyung, jangan khawatir.. Walau aku aku dan Sooyoung akan kembali ke Brazil, kami akan sering berkunjung ke tempat ini, aku berjanji hyung!” Ucap Kai.

 

“Pengorbananmu tidak akan sia-sia, Kris. Kami hidup bahagia karenamu, terimakasih banyak,” Sooyoung ikut menimpali.

 

Setelah menghabiskan beberapa saat di tebing, Yoona akhirnya harus melepaskan kepergian dua kerabatnya. Ia pun mengantarnya ke bandara.

 

“Kau yakin akan tetap tinggal di sini?” Tanya Sooyoung.

 

Yoona tersenyum dan mengangguk. “Aku ingin berada di dekat Kris Oppa,” jawabnya.

 

Kai tertawa. “Benarkah hanya itu?”

 

Sooyoung menyenggol lengan Kai agar menyudahi percakapan yang menjurus ke area privasi Yoona.

 

Yoona hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. “Hati-hati di jalan, sampaikan salamku pada Chanyeol,” tambah Yoona.

 

Sooyoung mengangguk. “Jaga dirimu, hubungi aku kapan pun jika terjadi sesuatu,” ucapnya. Setelah kepergian Kris, Sooyoung berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melanjutkan peran Kris untuk melindungi Yoona.

 

“Arraseo,” jawab Yoona.

 

“Annyeong,” ucap Kai sembari berjalan meninggalkan Yoona dengan membawa troli untuk koper miliknya dan Sooyoung.

 

Sooyoung memeluk Yoona sekali lagi dan berbalik meninggalkan Yoona.

 

 

Makam Oh Se Hwan

02.00

 

Setelah mengantar kedua sahabatnya ke bandara, Yoona akhirnya pergi ke makam Ayah Sehun untuk yang pertama kalinya. Hampir satu jam lebih ia di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

Ayah, kumohon bantulah dia berjuang melawan komanya.

 

Ucap Yoona dalam hati yang meminta kesembuhan untuk Sehun. Sehun dinyatakan koma saat dirinya dilarikan ke rumah sakit menggunakan helikopter saat kejadian. Disaat Yoona tersadar, justru Sehun yang menggantikan posisi dirinya yang harus terbaring koma di rumah sakit.

 

Aku tahu aku tak pantas berada di sini. Maafkan aku Ayah, kumohon maafkan aku.

 

Ucap Yoona lagi dalam hati.

 

Saat Yoona tengah menutup kedua matanya, ia mendengar suara kursi roda yang mendekat ke arahnya. Sempat ragu, Yoona pun memberanikan diri menoleh ke arah samping. Yoona tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat Sehun yang duduk di kursi roda dan Dr Seul Bi di belakang Sehun.

 

Syukurlah.. Terimakasih Ayah..

 

Ucap Yoona lagi dalam hati. Ia tidak tahu kapan Sehun tersadar dari komanya. Namun melihat keadaan Sehun saat itu, sudah cukup membuat Yoona tenang dan senang.

 

Sehun menatap Yoona dalam, tak sekalipun ia mengalihkan pandangannya dari mata Yoona sekalipun Yoona mengabaikan pandangannya.

 

“Lama tak bertemu Yoona-ya,” sapa Seul Bi.

 

Yoona membalasnya dengan tersenyum.

 

“Kuharap kita memiliki waktu lagi untuk mengobrol seperti dahulu,” tambah Seul Bi.

 

“Ne,” jawab Yoona.  Yoona merasa kurang nyaman saat itu karena Sehun terus menatapnya.

 

“Sehun-ah, aku tinggal sebentar,” ucap Seul Bi, ia tahu Sehun dan Yoona harus berbicara mendalam tanpa dirinya.

 

“Noona, bisa kau bawa kursi roda ini?” Pinta Sehun sembari ia bangkit dari kursi roda itu.

 

“Yak, tubuhmu belum kuat menjaga keseimbangan,” tolak Seul Bi.

 

“Jangan khawatir, aku bisa mengandalkannya,” jawab Sehun tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari Yoona.

 

Seul Bi menghela nafasnya. Ia melihat ke arah Yoona, namun Yoona tak sedikitpun memandangnya kecuali memandang Sehun. Ia pun memutuskan pergi dengan membawa kursi roda milik Sehun.

 

Tinggalah Yoona dan Sehun yang masih diam dalam keheningan. Sehun masih kekeh menatap dalam mata Yoona, sedangkan Yoona memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah makam Oh Se Hwan.

 

“Wae?” Ucap Sehun singkat.

 

Yoona tidak menggubrisnya. Ia justru berbalik berniat pergi meninggalkan Sehun.

 

“Kenapa kau tidak sekalipun datang menjengukku?” Tanya Sehun yang ampuh menghentikan langkah Yoona yang masih dekat dengannya.

 

Saat Sehun terbaring koma selama 3 hari dan memasuki masa penyembuhan selama 2 minggu dan masih dalam perawatan, wanita yang dicintainya tak sekalipun datang menjenguknya. Justru Kai dan Sooyoung sempat menjenguk Sehun.

 

Yoona menghela nafasnya. Tentu saja ia punya alasan mengapa ia melakukan hal itu. Ia berfikir apa ia pantas mendapatkan cinta Sehun saat banyak orang-orang disekelilingnya kehilangan nyawa mereka. Ayah Sehun pastinya, ditambah kepergian Kris. Ia tidak ingin hidup bahagia di atas penderitaan orang lain. Terlebih ia adalah seseorang yang mengirim Oh Se Hwan terkapar lemah di rumah sakit yang mengakibatkan pembunuhan berencana oleh Luhan.

 

Sehun berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati. Ia meraih tangan Yoona lalu menggenggamnya. Yoona pun berbalik ke arah Sehun, ia menarik tangannya dari genggaman Sehun.

 

“Kau baik-baik saja?” Tanya Yoona.

 

Sehun menggeleng. “Appo,” jawabnya singkat.

 

Yoona mengangguk. “Tunggu sebentar, aku akan memanggil Seul Bi eonni,” ucap Yoona sembari berjalan.

 

“Jika kau benar-benar ingin melupakanku, apa yang kau lakukan di makam ayahku?” Ucap Sehun yang lagi-lagi dapat menghentikan langkah kaki Yoona.

 

Sehun mencoba meraih tangan Yoona kembali. Ia pun berhasil menggenggamnya tanpa ada penolakan dari Yoona.

 

“Ikut aku,” ucap Sehun. Ia tahu Yoona tidak akan nyaman berbicara banyak di depan makam ayahnya. Maka dari itu, ia membawa Yoona ke tempat yang lebih nyaman.

 

Yoona kembali menarik tangannya dari genggaman jemari Sehun. Ia mendekatkan dirinya di samping Sehun, menaruh lengan Sehun di pundaknya dan ia melingkarkan tangannya di pinggang Sehun untuk membantu Sehun berjalan.

 

Sehun justru memindahkan tangannya yang melingkar di leher Yoona ke pinggang Yoona sekaligus menarik Yoona agar lebih mendekat dengan dirinya.

 

Yoona menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sehun yang juga sedang menoleh ke arahnya. Wajah mereka sangat berdekatan. Yoona segera mengalihkan pandangannya lagi, ia tidak bisa terlalu lama memandang wajah Sehun karena jantungnya semakin berdetak kencang.

 

Sampainya di sebuah kursi panjang berwarna putih yang menhadap ke arah taman, Sehun dan Yoona duduk bersebelahan dan Yoona mengambil jarak cukup jauh dari tempat duduk Sehun.

 

Yoona memberanikan diri menoleh ke arah Sehun. “Kau bilang, aku harus hidup bahagia bukan?”

 

Sehun mengangguk. Lalu ia bertanya. “Kau bahagia sekarang?”

 

Tidak. Jawab Yoona dalam hati.

 

Yoona mengangguk dan tersenyum. “Aku sangat bahagia sekarang,” jawabnya pada Luhan.

 

Sehun menatap semakin dalam mata Yoona. “Kau hidup bahagia tanpa diriku?”

 

Tidak. Aku tersiksa karena aku sangat merindukanmu Sehun-ah. Jawab Yoona lagi dalam hati.

 

Yoona kembali mengangguk. “Aku bahagia dan aku merasa jauh lebih nyaman saat aku tidak berada didekatmu,” jawab Yoona yang jauh berbeda dengan jawaban hatinya.

 

Sehun hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Matamu mengatakan hal yang sebaliknya Yoona-ya. Ucap Sehun dalam hati.

 

“Aku mengenalmu bukan hanya satu bulan Yoona-ya, aku bahkan lebih tau dirimu dibandingkan dirimu sendiri,” ucap Sehun.

 

Yoona menggeleng cepat. “Anni, kau harus mempercayaiku kalau aku bahgia sekarang, jadi kau juga harus hidup bahagia,” jawab Yoona.

 

Sehun tersenyum kecut. Ia mengalihkan pandangannya ke arah depan. “Aku seperti menyesali usahaku melawan koma, ku pikir menyerah dan pergi meninggalkanmu untuk selama-lamanya jauh lebih baik dibandingkan aku harus mempercayai kebohonganmu.”

 

DEG!

Beralihnya tatapan dan ucapan Sehun, ampuh membuat Yoona merasa sedih.

 

“Kau akan tetap seperti ini?” Tanya Sehun yang kembali menoleh ke arah Yoona.

 

Yoona mengangguk.

 

“Kau akan tetap menyiksa dirimu sendiri?” Tanya Sehun.

 

Yoona mengangguk.

 

“Begitulah arti kebahagian untukmu?” Tanya Sehun lagi.

 

Yoona mengangguk.

 

Sehun menghela nafasnya lalu mengangguk. “Arraseo,” ucap Sehun singkat.

 

Yoona mulai beranjak dari tempat duduknya, Sehun masih saja menatap dalam kedua matanya.

 

“Aku akan memanggil Seul Bi eonni kesini,” ucap Yoona.

 

“Tidak perlu,” jawab Sehun singkat.

 

Yoona menggigit bibirnya lalu ia mengangguk dan berbalik pergi.

 

Maafkan aku Sehun-ah.. Kembali padamu, bukanlah perkaran mudah untukku.. Sekalipun hatiku menginginkan dirimu.. Aku butuh waktu untuk memahami situasi ini.

 

Ucap Yoona dalam hati dan pergi tanpa sekalipun menoleh ke arah Sehun.

 

Sehun justru menatap punggung Yoona yang semakin jauh darinya.

 

Aku tahu, untuk kembali padaku adalah hal yang berat untukmu.. Namun melihatmu membohongi dirimu sendiri adalah beban yang tak bisa kuabaikan.. Tunggu aku Yoona-ya..

 

Ucap Sehun dalam hati dan mulai mengalihkan pandangannya dari tubuh Yoona yang semakin jauh darinya. Sehun beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan meninggalkan suasana kehampaan di tempat itu.

 

 

2 Hari Kemudian…

 

Setelah keluar dari rumah sakit, Sehun sudah bertekad akan berjuang untuk mendapatkan cinta Yoona kembali bagaimanapun caranya. Karena ia tahu, Yoona masih mencintainya.

 

 

Apartemen Yoona

10.00

 

TUT TUT TUT TUT

 

Sehun menekan kode apartemen milik Yoona, lalu masuklah ia ke dalam. Sehun menaruh tas bawaannya di atas sofa lalu mulai mencari keberdaan wanita yang masih dicintainya itu.

 

Dapur, ruang tamu sampai di kamar sudah Sehun telusuri. Namun tak ia temukan keberadaan Yoona. Sehun pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, lagi-lagi tak ia temukan keberadaan Yoona.

 

Sehun mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi ponsel Yoona. Namun tidak tersambung.

 

Sehun menghela nafasnya, lalu matanya beralih ke arah lemari pakaian besar. Sehun berlari kecil mendekati lemari itu dan membukanya cepat.

 

DEG!!

Tidak ia temukan sehelai pakaian pun milik Yoona.

 

“Mwoya,,” ucap Sehun pelan.

 

Sehun tersenyum penuh arti lalu menggeleng. “Anniya,” ia mencoba menyangkal apa yang sedang terlintas dipikirannya.

 

Sehun menghela nafasnya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. Ia sama sekali tidak tahu kemana ia harus mencari Yoona. Namun Sehun teringat akan makam ayahnya. Ia pun berlari meninggalkan apartemennya.

 

 

Makam Oh Se Hwan

10.45

 

Setelah memarkirkan mobilnya, Sehun berlari dengan kencang menuju makam ayahnya. Dari kejauhan ia tidak melihat keberadaan seseorang. Hal itu membuat langkah kakinya menjadi pelan perlahan dan ia memilih untuk berjalan sampai di depan makam ayahnya.

 

Di atas rerumputan hijau makam ayahnya, Sehun melihat ada dua tangkai Bunga Daisy berwarna putih. Sehun pun mengambil keduanya.

 

“Beruntung sekali kau mendapatkan bunga itu,” ucap seorang wanita tua yang dikenal sebagai pembersih lingkungan makam.

 

Sehun menoleh ke arah wanita yang beberapa kali ia lihat dilingkungan makam.

 

“Kau tahu arti dari bunga itu?” Tanya wanita tua yang berdiri berhadapan dengan Sehun.

 

Sehun menggeleng singkat.

 

Wanita itu tersenyum. “Bunga Daisy putih memiliki makna kesetian cinta yang tidak mungkin terpisahkan oleh jarak dan waktu,” ujarnya.

 

Setelah mendengar ucapan wanita itu, Sehun kembali memandang kedua bunga yang ada di tangannya itu. Ia yakin bahwa Yoona lah pemberi bunga itu.

 

“Aku melihatnya datang dan menaruh bunga itu di sana,” lanjut wanita itu.

 

Sehun menatap ke arah wanita tua yang ada di hadapannya itu. “Kapan kau melihatnya?”

 

“Kemarin, gadis cantik itu datang dan cukup lama berada di sini. Saat aku bertanya hubungan apa yang terjalin dengan seseorang yang sudah terkubur di sana, ia menjawab itu adalah makam dari ayah pria yang sangat ia cintai,” tutur cerita wanita tua itu.

 

Sehun hanya mendengarkan cerita wanita tua itu tanpa berbuat apapun.

 

“Kau kah pria yang dicintainya itu?” Tanya wanita itu.

 

Sehun teridam beberapa saat. “Makam ini adalah makam ayahku,” jawab Sehun.

 

“Jadi kau lah orangnya. Gadis itu menitipkan sebuah pesan untumu,” lanjut wanita itu.

 

Sehun menatap mata wanita tua itu tanpa berkata apapun. Ia menunggu pesan apa yang disampaikan Yoona padanya.

 

 

FLASHBACK..

 

Yoona dan seorang wanita tua berdiri saling berhadapan di depan makam Oh Se Hwan.

 

“Makam ini adalah makam seorang Ayah dari pria yang sangat kucintai,” ucap Yoona sembari tersenyum.

 

“Lalu di mana pria yang kau cintai itu?” Tanya wanita tua itu.

 

Yoona tersenyum kembali. “Ahjumma, jika suatu saat nanti kau bertemu dengan pria itu, maukah kau menyampaikan pesanku untuknya?” Tanya Yoona dengan lembut.

 

Wanita tua itu mengangguk. “Pesan apa yang harus kusampaikan?”

 

Yoona kembali menoleh ke arah makam Oh Se Hwan dan menatap kedua bunga yang ia letakan di sana. “Aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, aku sangat menginginkamu. Maka dari itu, jangan mencariku dan mulailah mencari kebahagianmu tanpa diriku. Jika memang takdir berkata lain, percayalah aku yang akan datang mencarimu,” ucap Yoona dengan setetes air mata membasahi pipinya.

 

Wanita tua itu menarik lembut tangan Yoona agar Yoona menghadap ke arahnya. Ia mengusap air mata Yoona lalu tersenyum. “Aku pastikan akan menyampaikan pesan itu dan aku berdoa agar kau dapat dipertemukan lagi dengannya,” ucap lembut wanita tua itu.

 

Yoona mengangguk dan tersenyum. “Terimakasih banyak, aku juga berharap dapat bertemu denganmu lagi, Ahjumma,” jawab Yoona.

 

FLASHBACK END

 

 

Setelah mendengar cerita wanita tua itu, Sehun akhirnya tersenyum, seperti ia mendapatkan kembali cinta yang telah hilang dari sosok Yoona. Ia beralih memandang ke arah makam ayahnya. “Kau dengar itu, Ayah?”

 

Sehun meletakan kembali satu tangkai bunga daisy di atas makam ayahnya. “Aku percaya bahwa takdir akan berpihak padaku, aku akan menunggunya Ayah,” ucap Sehun.

 

Wanita tua itu pun tersenyum lalu mengelus lengan Sehun. “Bersabarlah, aku yakin takdir akan berpihak pada cinta kalian,” ucap wanita itu.

 

Sehun tersenyum lalu memeluk wanita tua itu. “Terimakasih banyak, aku akan mengajaknya untuk bertemu denganmu suatu saat nanti,” ucap Sehun.

 

Wanita tua itu hanya tersenyum sembari mengusap punggung Sehun.

 

 

 

6 Bulan Kemudian…

 

Apartemen Yoona

08.00

 

Apartemen itu memang milik Yoona. Namun setelah Yoona pergi, Sehun menghabiskan waktunya tinggal di sana dan hanya sesekali pulang ke rumah orangtuanya yang juga dalam keadaan sepi.

 

Sehun tengah bersiap-siap untuk pergi ke markas AIK. Setelah rapih berpakaian, Sehun melangkahkan kakinya ke meja di sudut ruangan kamarnya.

 

Ia menatap sebuah kotak kaca yang didalamnya terdapat setangkai bunga daisy layu yang beberapa kelopak bunga itu sudah ada di dasar kotak. “Aku mempercayai ucapanmu! Tapi kenapa kau tak pernah kembali sampai detik ini?” Ucapnya pada bunga daisy.

 

 

7 BULAN KEMUDIAN..

 

Apartemen Yoona

 

Sehun menatap bunga daisy yang ada di sudut mejanya. Bunga itu kini tak lagi memiliki kelopak bunga. “Yakk.. Bukankah ini terlalu lama.. Cepatlah kembali,” ucap Sehun lalu melangkah pergi.

 

 

5 Bulan Kemudian..

 

Apartemen Yoona

 

Sehun melihat ke arah bunga daisy yang tidak terlihat seperti bunga lagi, melainkan setangkai batang yang keadannya sudah layu dan keriput. “Mianhae… Aku putuskan untuk tetap menunggumu,” ucap Sehun lesu.

 

 

6 Bulan Kemudian..

 

Apartemen Yoona

08.00

 

Dua tahun sudah Sehun menunggu seseorang yang kepastiannya belum terjamin.

 

Sehun mengambil kotak itu lalu menatapnya dalam. “Katakan kalau kau sudah bahagia tanpaku sekarang! Anni! Terserah padamu, kembalilah saat kau ingin kembali,” Sehun menghela nafasnya lalu menaruh kotak itu dan pergi.

 

 

Markas AIK

09.00

 

Sehun sudah memiliki janji dengan Jiyeon untuk membicarakan kasus gembong narkoba yang sudah diintai selama satu tahun. Ia pun memasuki ruangan Jiyeon.

 

Jiyeon dan Sehun duduk saling berhadapan. Jiyeon memberikan Sehun sebuah kertas undangan pernikahannya.

 

Sehun tersenyum.  “Selamat atas pernikahanmu, Sunbae,” ucap Sehun.

 

“Kau akan terus menunggunya?” Tanya Jiyeon.

 

Sehun mengangkat kedua bahunya. “Molla,” jawabnya singkat.

 

“Dia menyuruhmu untuk mencari kebahagianmu sendiri Sehun-ah. Namun kau belum pernah mencobanya,” ucap Jiyeon.

 

“Kebahagianku adalah menunggu kedatangannya,” jawab Sehun.

 

Jiyeon menahan tawanya, yang ia tahu Sehun justru tersiksa menunggu kehadiran wanita yang tak kunjung datang menemuinya.

 

“Kita akan bekerjasama dengan beberapa orang untuk menangkap gembong narkoba itu,” Ucap Jiyeon mulai mengalihkan pembicaraan.

 

Sehun mengangguk mengiyakan.

 

“Jujur saja aku tidak tahu siapa mereka. Karena aku hanya berhubungan dengan ketua tim dari mata-mata itu,” tutur Jiyeon.

 

“Besok kita akan bertemu dengannya di Bandara Incheon. Selama ini mata-mata itu menjadi gadis simpanan bos besar mereka. Bukti-bukti akurat akan di dapat besok jika tidak terjadi kesalahan. Akan banyak bodyguard yang menjaga mereka, tugasmu melindungi wanita itu dan semua bukti yang ada padanya,” tambah Jiyeon yang sekaligus mengakhiri permbincangannya dengan Sehun.

 

 

KEESOKAN HARINYA..

 

 

Bandara Incheon

09.45

 

Sehun sudah berdiri di tempat berjaganya, bukan hanya dirinya yang diturunkan di lapangan saat itu, Tao dan Baekhyun juga terlihat sudah bersiap di tempatnya masing-masing.

 

“Jangan menyerang lebih dulu! Tujuan kita adalah mencuri barang bukti,” ucap Sehun memberi perintah pada timnya menggunakan suatu alat yang menempel di tangannya.

 

Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya yang berwarna hitam. Ia duduk menghadap ke arah kedatangan penumpang. Ia sudah menunggu cukup lama kehadiran gembong narkoba itu.

 

Ponsel Sehun bergetar, segera ia membuka pesan yang dikirim oleh Jiyeon untuknya. Di sana, Sehun melihat sebuah foto seorang pria cukup berumur dengan badan yang cukup besar dan tinggi. Pria itu adalah bos besar yang akan Sehun temui siang itu. Sehun memahami foto itu.

 

Tak selang beberapa waktu, Sehun menyadari kehadiran pria yang diincarnya itu. “Target terlihat, jangan berbuat gerakan mencurigakan dan tunggu perintah dariku!” Sehun berjalan menuruni ekslalator.

 

Terlihat seorang pria tinggi dan memiliki badan besar berjalan dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi, tampak seorang wanita berparas cantik bertubuh ramping setia menggandeng tangannya. Wanita itulah yang menjadi mata-mata alias wanita simpanan bos besar.

 

Saat Sehun sudah sampai di lantai dasar, ia melihat situasi. Ia menyadari bahwa memang banyak orang di sekelilingnya yang merupakan penjaga bos besar itu. “Aku akan mendekat dan mengambil barang bukti,” ucap Sehun lagi kepada timnya.

 

Sehun mulai berjalan mendekat. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat wanita yang digandeng bos besar itu sangat familiar untuknya.

 

DEG!!

Jantungnya semakin berdebar saat ia meyakini bahwa Yoona lah yang ada di depannya kini.

 

Yoona yang sedang berjalan dengan bos besar itu tahu apa yang sedang terjadi pada Sehun. Namun ia tetap menjaga sikapnya agar tidak terlihat. Lagi pula ia sudah tahu bahwa ia akan bekerjasama dengan Sehun.

 

“Sunbae! Mereka semakin mendekat,” ucap Baekhyun yang terdengar dari sebuah alat yang ada di dalam telinga Sehun.

 

Sehun pun tersadar, ia mulai berjalan lagi dan melihat-lihat sekelilingnya. Sehun menghela nafasnya, lalu tak lama ia berlari sembari berpura-pura mencari keberadaan seseorang.

 

Saat keberadaan Sehun dan bos besar itu semakin mendekat. Sehun sengaja berbalik badan dan terus berlari.

 

BRUG!!

 

“Akkh,” ringis Yoona.

 

Sehun menabrak Yoona dengan sengaja, dan saat itu tangan Yoona langsung menggenggam tangan Sehun untuk memberikan sebuah alat bukti berupa flashdisk dan segara menjauhkan tangannya dari Sehun.

 

“Yak!! Apa yang kau lakukan?” Bos besar itu pun membantu Yoona berdiri dan memandang marah ke arah Sehun.

 

Sehun segera memasukkan fd itu ke dalam saku mantelnya. Saat Sehun mencoba berdiri, beberapa penjaga mulai mengelilinya. “Ahh.. Aku minta maaf, sungguh aku tidak sengaja menabraknya.. Maafkan aku,” ucap Sehun sembari beberapa kali membungkuk.

 

Yoona memberi kode pada pria yang menjadikannya wanita simpanan bahwa dirinya baik-baik saja dan membiarkan Sehun pergi. Bos besar itu pun memberi kode pada penjaganya agar membiarkan Sehun pergi.

 

Setelah tidak lagi ada penjaga di sekelilingnya, Sehun kembali berjalan membelakangi Yoona. Namun ia segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yoona.

 

Aku tahu kau akan datang padaku! Terimakasih sudah kembali dalam keadaan hidup Im Yoona. Ucap Sehun dalam hati,  lalu tersenyum memandang punggung Yoona yang semakin jauh darinya.

 

Yoona dan bos besar itu terus berjalan dengan tangan Yoona selalu mengait ke salah satu tangan bos besar itu. Yoona melihat situasi di sekelilingnya, ia melihat beberapa penjaga sudah tak lagi ada didekatnya. Ia pun dengan perlahan menoleh ke arah belakang sembari tetap berjalan.

 

Saat menoleh ke arah belakang, Yoona melihat Sehun tengah berdiri memandangnya. Ia pun tersenyum ke arah Sehun dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan.

 

Aku menemukanmu Oh Sehun. Ucap Yoona dalam hati lalu ia tersenyum sekilas.

 

Sehun menyadari bahwa Yoona baru saja tersenyum padanya. Ia menghela nafasnya lalu berbalik dan berjalan dengan hati yang teramat senang sembari menggenggam erat fd yang ada disakunya  yang merupakan barang bukti kuat yang ampuh menjebloskan gerbong narkoba itu ke penjara.

 

Sehun berjalan dengan aura gembira dan senyum di bibirnya tak pernah luput. Ia tahu bahwa Yoona akan kembali padanya.

 

Aku sudah memberimu banyak waktu untuk menyiksa diriku. Tidak akan ada lagi waktu untukmu menjauh dariku Yoona-ya.

 

Ucap Sehun dalam hati.

 

 

 

 

~THE END~

 

 

Hai guys akhirnya aku bisa nyelesain ff ini.. Endingnya aku buat gini karena aku masih pengen ngelanjutin ff ini sebenernya. But, aku gak yakin.. Hehehe.. Mungkin kalian punya masukan yang bagus buat kelanjutan ff ini, hehhehe.. Silahkan komen ya kalo punya ide bagusnya ff ini digimanain,, hehehehe

 

Makasih banget buat kalian yang udah setia sama ff yang masih banyak kekurangan ini. Semua komentar kalian aku baca, terimakasih buat masukkannya juga, aku belajar banyak dari komentar yang udah kalian kasih… Jangan bosen2 buat kasih aku saran yang membangun yakk.. Hehehehe… Terimakasih banyak semua… :*

 

33 thoughts on “[Freelance] Revenge (END)

  1. Ceritanya keren banget,alurnya keren banget sampai aku ngikut,astaga pokoknya ceritanya keren bangat gk tau mau bilang apa lagi deh,btw endingnya gantung,sequel dong thoor aku pengen dan penasaran gimana kelanjutan hubungan antara sehun oppa dan yoong eonni apa mereka akan bersatu dan hidup bahagia kayak mimpi yoong eonni waktu koma, karna mereka baru bertemu kembali setelah dua tahun lamanya….
    Fighting thorr 💪🏻💕😍💕💕😊💕

  2. Ko masih gantung thor 😭
    Itu sehun sama yoona udh balikan apa blom, bingunglahh aku jadinya hmm😂
    Btw makasih thor udh bikin ff sekeren inii💕

  3. OMO…. FFnya sudah ending…
    Tapi masih gantung chingu.
    Bikin sequelnya yaa…hehehe
    Pengen lihat Yoona oenni dan Sehun oppa kembali bersama dan hidup bahagia, dan mereka memiliki baby…

  4. dengan ending yang kaya ginii udah cukup kok asalkan yoona ketemu sehun lagi. aigoo gak nyangka kris bakalan meninggal untung kai loyal banget hihi baguss banget ceritanya aku ikutin dari awal wahh joa! thankyou for your hard work authornimm

  5. Yahh kok the and sih…cerita kayak gantung gitu… Biuat sequel nya dong… Masih kepo deng kemistri yoonhun…. Sequel ya thor… Ff mu janggg

  6. Wuaaaah !!! Daebak!! Ini cerita bisa bikin aku tegang, mewek dan ending nya yang bikin senyum2 sendiri👏👏
    Berharap ada sequelnyaa, kasihan sehun udah nunggu lama, bahagianya cuman kesorot berapa menit doang 😂😂. Fighting thor!

  7. agak g rela sih sehun harus nunggu 2 thun dan blom da kpastian yoona mau blikan lgi pa g
    tpi agak tnang juga klo dilanjutin
    msih da kmungkinan yoonhun brsatu hdup bhgia

  8. Yah.. udh the end aja. Ini harus ada seq lah thor. Gak gantung sih, cuma pengen yoonhun ketemu ada moment2 mereka yang manis n romantis gtu. Yah yah!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s