Hidden Scene [17]

request-aressa-hs

 

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

and

former member of EXO’s, Kris

.

.

.

.

.

.

Seperti de Javu, perempuan itu duduk di sofa yang sama dengan foto foto mereka bertebaran di hadapannya. Dihadapannya ada segelas martini—kalau boleh Sehun tebak. Matanya terpejam dan nafasnya tampak tenang.

Dia tampak seperti malaikat dengam gaun putih yang manis itu. Rambut coklatnya diikat asal namun Sehun bisa membayangkan lembutnya helaian itu. Dia tersenyum dan membiarkan ia berdiri berlama lama menatap sosok yang telah mengambil seluruh hatinya itu.

mia”

Perempun itu membuka matanya terkejut dan melihat Sehun tersenyum padanya. Untuk sesaat kedua iris berbeda warna itu saling menatap. Dibutakan oleh kerinduan yang teramat sangat.

Yoona adalah orang pertama yang melepaskan pandangan mereka. Ia bangkit dengan cepat dan menubruk Sehun dalam pelukan. Membiarkan tubuhnya melepas rindu dengan dekapan lelaki itu. Membiarkan hidungnya menghirup aroma nya yang selalu memabukkan. Yoona sudah tidak peduli dengan hubungan mereka. Dia hanya ingin memeluk lelaki ini sampai puas!

Sehun tidak tahu berapa lama mereka berpelukan tapi akhirnya ia lah yang melepas Yoona. Dia tampak tak rela tapi membiarkan Sehun menangkup wajahnya. Membiarkan Sehun membelai wajahnya. Jemarinya berhenti di bibir Yoona yang sedikit terbuka. Dan Sehun tak dapat menahan dirinya lagi.

Itu ciuman yang menyakitkan. Semua rasa yang mereka rasakan tumpah. Tangan Yoona berada di kerah sweater Sehun, menariknya semakin memperdalan ciuman mereka. Lengan Sehun mengusap usap punggung Yoona.

“God knows how much I miss you, baby.” bisik Sehun di bibir Yoona. Ia membiarkan wanitanya itu menarik nafas banyak banyak dan menghibur dirinya sendiri dengan mengecup setiap jengkal wajah Yoona.

Yoona mendesah merasakan ciuman Sehun di belakang telinganya. Ia menarik Sehun dan membelai wajahnya. Menikmati wajah tampan itu untuk dirinya sendiri. Sehun pucat dan matanya tampak sangat sakit. Hatinya terenyuh melihat keadaan Sehun. Tubuhnya mengurus dan ia tampak berantakan. Seolah ia tak hidup dengan baik selama mereka tidak bertemu.

“Sehun-ah” panggil Yoona setelah Sehun menyelesaikan ciumannya, “Ayo duduk. Kau pasti lelah.” Yoona menarik tangannya untuk duduk tapi Sehun justru dengan cepat mengangkat tubuh Yoona dalam bridal style, membuat Yoona memekik kaget.

“Ya Oh Sehun!”

Ia membaringkan Yoona di ranjangnya dan membungkam wanita itu dengan ciumannya. “Aku lelah. Kita berbaring saja, okay?” Sehun melempar plastik obatnya asal dan berbaring di samping Yoona. Mendekap wanita itu.

Untuk beberapa saat keheningan itu diisi oleh deru nafas keduanya. Sehun membiarkan Yoona bergelung dalam pelukannya sementara tangannya mengelus rambut wanita itu, “Semuanya dimulai karena Kris.”

Yoona tidak mengatakan apapun. Sebenarnya ia belum ingin membicarakan itu. Pelukan dan ciuman tadi berhasil membuatnya ingin berlama lama dengan Sehun tanpa membicarakan hubungan mereka. But now or never. Jadi, Yoona menelan semua keengganan nya dan mendengarkan Sehun.

“He’s falling for you right?” Sehun tersenyum kecut saat Yoona tidak menjawabnya. Ia bisa merasakan perempuan dalam dekapannya itu bergerak tak nyaman dengan perasaannya, “Bagaimana rasanya mengetahui Jessica mencintai dan menginginkan ku?”

Yoona terdiam sejenak sebelum melepaskan diri dari dekapan lelaki itu, “Sakit.”

“Bayangkan aku adalah alasan Jessica bertahan di grup. Alasan dia tidak pulang ke negaranya.”

Jemari Yoona bergerak menyingkirkan rambut di dahi Sehun. Ia tidak pernah membayangkan hal itu, tapi Yoona tahu rasanya pasti sangat tidak menyenangkan. Dia menggeleng pelan menyadari kemana arah pembicaraan Sehun, “Aku tak mampu membayangkannya.”

“Yoona, aku hidup dalam kenyataan itu selama dua tahun ini. Aku harus melihat Kris begitu peduli denganmu. Melihatnya mengagumi mu. Apa kau tau dia kadang menggunakan akun SNS Jessica untuk dekat denganmu? Kau tahu rasanya? Padahal saat itu jatuh cinta padamu. Aku tergila gila dengan Im Yoona.”

“Kau tahu apa yang paling kusesali? Aku terbangun malam itu. Seharusnya aku tak mencuri dengar pembicaraan Kris dengan ibunya. Seharusnya aku tak perlu mengetahui fakta bahwa Kris begitu menyukaimu. Cukup besar hingga membuatnya ingin bertahan demi dirimu.”

“Katakan padaku apa yang harus kulakukan saat itu? Aku takut Kris pergi. Aku takut dia meninggalkan grup yang baru merintis karirnya. Terlebih dengan perlakuan agensi dan bahkan Joonmyeon yang tidak ramah padanya. Kau adalah alasan dia bertahan. Tapi di satu sisi aku ingin memilikimu. Aku ingin bersama mu.”

Itu mengejutkan. Sangat mengejutkan. Yoona tidak pernah tahu kalau Kris menyukainya sebesar itu. Butuh waktu yang lama baginya untuk menetralkan keterkejutannya. Rasanya seperti kau disengat belut listrik beribu ribu volt.

Kemudian hati Yoona berderak ngilu memikirkan lelaki itu jauh lebih baik dari yang Yoona pikirkan. Sakit karena Sehun selama ini terluka. Apa yang bisa Sehun lakukan jika kondisinya seperti itu? Pilihan apa yang dimiliki lelaki ini? Yoona sakit karena dibalik keegoisannya, Sehun masih banyak memikirkan orang lain.

Kalau Yoona jadi Sehun, mungkin ia sudah tak sanggup lagi. Mengetahui Jessica begitu menginginkan Sehun saja rasanya ia seperti tercekik. Rasanya tak rela jika wanita itu mempunyai perasaan pada laki lakinya. Sehun miliknya dan ia tak akan pernah mau wanita lain mencintainya sebesar rasa suka Yoona padanya.

Apalagi jika tahu Sehun adalah alasan Jessica bertahan di grup? Yoona tidak yakin ia sanggup. Yoona tidak yakin masih bisa tersenyum pada wanita itu. Yoona tahu betul apa itu kehilangan dan percayalah, dia tak ingin grupnya pecah. Ini bukan yang ia bayangkan saat ia memasuki dunia entartainment.

Dan Yoona tahu Sehun merasakan hal yang sama. Ia tahu apa arti EXO bagi pria itu.

“Sehun, kau….” Yoona menarik Sehun bangun dari kasur, “How could you be fine?”

Sehun terkekeh dan memejamkan matanya, menggenggam tangan Yoona, “Because you choose me, Yoona. Karena kau mencintai Oh Sehun dan bukan Wu Yifan. Itu sudah cukup untukku.”

Ketika Sehun membuka matanya, ia melihat air mata Yoona mengalir di pipinya. Lelaki itu mengulurkan tangannya dan mengusap kristal jernih itu, “Tatapan matamu saat aku menyatakan perasaanku itu begitu menghantuiku. Kau hangat, begitu penuh cinta di dekapanku. Saat itu aku berpikir mungkin semuanya akan baik baik saja kalau Yifan tidak mengetahui hubungan kita. Mungkin aku tak perlu kehilangan apapun. Jadi, aku memutuskan egois, meskipun perlahan aku menyadari keegoisanku justru membuat kita berada di posisi tak mengenakan sekarang.”

“Kau tak tahu betapa inginnya aku membuka mulutku dan menceritakannya padamu. Tapi aku selalu gagal saat melihat senyummu yang secerah matahari. Saat itu aku berpikir, ‘Ah, apa aku sanggup menghancurkan senyum itu?’. Aku tidak ingin Kris membuat jurang diantara kita. Aku tak ingin hal hal diantara kita berubah karena kau mengetahui fakta itu. Aku tak ingin kau merasa terbebani. Cukup aku saja yang merasakannya. Kau tak perlu tahu. Kau tak perlu ikut terluka bersamaku. ”

Tangisan Yoona akhirnya pecah melihat senyum rapuh lelaki dihadapannya. Yoona tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia benci dirinya yang pernah membenci apa yang Sehun lakukan padanya. Dia benci membiarkan dirinya berpikiran buruk tentang Sehun. Disaat lelaki ini begitu memikirkan dirinya.

“Sehun-ah….” ia mengusap usap pipi Sehun, “Oh, Sehun-ah maafkan aku. Sungguh maafkan aku.” sekali lagi Yoona membiarkan Sehun menciumnya. Membiarkan lelaki itu menenangkannya dengan caranya sendiri.

Deru hangat nafas Sehun menerpa pipinya yang basah. Mereka saling memeluk dengan hati yang terluka, berusaha bertahan ditengah pedihnya cinta yang mereka miliki, “Maafkan aku telah membuatmu berada di situasi seperti ini. Maaf karena mendorongmu harus memilih antara aku atau membermu.” Yoona menempelkan kening mereka, menikmati kedekatan yang terasa menyakitkan, “Kalau saja kau tak bertemu denganku. Kalau saja aku tak menawarkan diri mengajarimu malam itu. Kalau saja aku tak membiarkan kau menyembuhkan lukaku, mungkinkah ini semua tidak ter—“

Sehun mengecupnya, “Jangan katakan itu.” ia kembali mengecupnya, “Kau adalah hal terbaik di tengah kegilaan ini.” dan mengecupnya, “Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku akan baik baik saja selama kau di sisiku.” kemudian menciumnya sekali lagi.

Dadanya sesak oleh beragam emosi. Yoona marah karena merasa Sehun mencintainya lebih besar dari rasa cinta Yoona padanya. Marah karena dia begitu bodoh bersikeras kalau ialah yang paling tersakiti. Marah karena ia begitu naif.

Dia sakit mengetahui betapa hancurnya lelaki ini. Sakit karena Oh Sehun memilih menyakiti dirinya perlahan untuk melindungi Yoona. Sakit karena dia begitu mengkhawatirkan Yoona bahkan hingga ke sudut yang tak pernah Yoona bayangkan. Sakit karena lelaki ini, melakukan segala cara untuk membahagiakannya.

Wanita itu menangis dan menangis. Ya, Yoona menyesal. Menyesal untuk semua prasangka buruknya. Menyesal karena menuduh Sehun melukainya disaat lelaki itulah yang paling terluka dengan hubungan mereka. Menyesal karena ia begitu buta. Yoona menyesal untuk semua emosinya. Dan Yoona menyesal datang ke hidup lelaki itu. Seharusnya ia tak datang dan memberikan banyak kesakitan pada Sehun.

“Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku akan baik baik saja selama kau di sisiku

Oh Sehun, seandainya kau tahu dan sadar, bahwa sampai akhirpun kau tidak pernah gagal untuk membuatnya jatuh cinta.

//

Jessica menatap Kris yang memakan sushi nya dengan tenang. Raut wajahnya tampak ceria. Seolah tidak sadar ada kebohongan besar di depan matanya.

“Apa sekarang kau melupakan Sehun dan mulai jatuh cinta padaku?” Kris terkekeh melihat Jessica yang membuang muka. Dia melirik piring sushi Jessica yang penuh, “Kau tidak makan Jess?”

Jessica tersenyum kaku dan memakan makanannya tanpa minat. Dia baru saja merelakan lelaki yang dia cintai pada wanita lain. Jessica patah hati, memangnya apa yang Kris harapkan? Dia tidak menyesal, hanya saja hatinya masih sakit. Jessica butuh waktu.

Kris memperhatikan sahabat wanita terdekatnya itu makan dengan tidak nyaman. Jessica tidak banyak bicara dari tadi. Yah meskipun Jessica memang bukan tipe yang banyak bicara, tetap saja dia tidak pernah sediam ini saat sedang bersama Kris. “Kantung matamu membesar Jess. Apa kau kurang tidur? Tenang saja, kondisi Sehun sudah membaik.”

Jessica menyesap greentea nya dan melanjutkan acara makannya. Tampak tidak terlalu berminat menjawab pertanyaan Kris. Lelaki itu mendengus dan kembali mengunyah satu sushi saat Jessica berbicara.

“Aku akan melepaskan Sehun.” dia berujar santai sekali, “Dan kali ini aku benar benar akan melepaskannya. Jadi berhenti membicarakannya.”

Kris memutar matanya jengah, “Kau juga mengatakan itu beberapa waktu lalu. Menyerahlah Jess, kau tidak bisa melepasnya begitu saja.”

“Aku serius.” Jessica meletakan sumpitnya. Auranya menjadi dingin dan tidak bersahabat membuat Kris terpaksa berhenti mengunyah. Wanita dihadapannya tampak teguh. Wajahnya keras oleh keinginan yang kuat.

Kris menelan ludah gugup. Jarang jarang Jessica bisa seperti ini. Ini adalah Jessica yang berbeda yang mengatakan padanya akan melupakan Sehun beberapa waktu yang lalu. “Kenapa?”

“Karena kita tak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta kan?”

Kris mengerutkan kening. Tidak nyambung. “Apa itu sebuah jawaban?”

Jessica menatap Kris ragu. Dia bisa saja mengatakan pada Kris kalau selama ini Yoona dan Sehun berhubungan. Tapi Jessica tidak bisa. Bukan karena dia ingin melindungi perasaan Kris—meskipun dia juga mempertimbangkan itu. Tapi lebih karena dia ingin menjaga perasaan banyak orang.

Jessica Jung sudah berteman dengan Kris bahkan sebelum mereka debut. Sebelum mereka menjadi trainee. Mereka sudah berteman sejak kecil. Jessica tahu banyak hal tentang Kris. Masa lalunya. Keluarganya. Kris adalah sahabat lelaki terdekatnya.

Jadi tentu saja Jessica tahu kalau bagi Kris, Yoona bukan hanya sosok wanita yang dia cintai. Yoona adalah alasan Kris bertahan dan Jessica tahu itu. Itulah mengapa Jessica dulu membiarkan Kris memegang akun SNS Jessica, rela mematai matai Yoona untuk Kris dan banyak hal lainnya.

Kalau Kris tahu wanita yang sangat dia cintai berhubungan dengan adik yang paling dia sayangi, Jessica tidak tahu apa yang akan dilakukan pria ini nanti. Yah, meskipun sepertinya hubungan mereka sudah berakhir. Tetap saja itu pasti akan menyakiti Kris. Mengetahui orang yang kau cintai mencintai orang lain pasti sangat sakit, tahu. Apalagi jika itu adalah kekasihmu. Oke, meskipun hubungan Kris dan Yoona adalah kepura puraan, tetap saja Yoona sudah setuju untuk mencoba. Mereka sepasang kekasih yang resmi sekarang, tak peduli Yoona masih belum bisa melupakan Sehun.

Jessica tidak bisa memberitahu Kris. Kemungkinan terburuk yang Jessica khawatirkan adalah Kris akan pergi. Dan Jessica sangat tidak menyukai option itu. Dia tidak mau memberitahu Kris lalu Kris akan mengacau dan memutuskan hengkang dari grup. Menyakiti banyak orang. Menyakiti Sehun-nya.

Tapi mau sampai kapan mereka bersembunyi? Percayalah, sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Suatu saat Kris akan tahu. Cepat atau lambat Kris harus menghadapi kenyataan itu. Dia harus membuat keputusan. Dan Jessica khawatir sekali dengan keputusan itu.

Tapi bukankah akan jauh lebih sakit jika Kris mengetahuinya saat hubungannya dengan Yoona semakin jauh?

Jessica menggigit bibirnya. Pasti akan jauh lebih menyakitkan. Belum lagi Kris akan sangat kecewa padanya. Kris begitu mempercayai Jessica dan saat ini dia merasa bersalah karena membohongi pria itu.

“Sehun mencintai wanita lain.” dia memperhatikan bagaimana Kris tersedak sushinya. Tentu saja. Sehun bukan tipe yang terbuka, dia pasti tidak pernah membicarakannya dengan Kris.

Jessica melakukan ini karena dia peduli dengan Kris.

“Tunggu, kau bilang apa? Sehun mencintai wanita lain? Siapa? Siapa? Bagaimana kau tahu?” tanya Kris heboh.

Wanita itu menatap Kris miris. Jessica tidak punya hati untuk mengatakannya pada Kris. Hanya sampai sini. Mungkin hanya sebatas ini.

“Kau tidak perlu tahu.”

Kris akhirnya terdiam. Jadi ini alasan Jessica tampak berbeda. Dia patah hati rupanya.  Sehun mencintai seorang wanita. Duh tuhan, dia terkejut sekali. Bukannya apa apa, tapi Sehun tampak tidak tertarik dengan wanita setelah Park Nami sungguh. Bahkan kadang saat melihat Sehun, dia dengan konyolnya berpikir kalau Sehun tidak normal.

“Kau serius?”

“Apa aku terlihat bercanda sekarang?” Jessica kini menatap Kris dalam. Sesaat ia bisa melihat keraguan berkilat di netra sahabatnya itu, “Dan aku bukan tipe yang bisa berbagi dengan wanita lain, Jiaheng.”

“Siapapun tidak ada yang bisa berbagi hati, Jess.” gerutu Kris.

Jessica sekali lagi melemparkan senyum aneh itu padanya. Ada perasaan was was yang mendadak menggerayanginya karena tingkah Jessica. Tapi Kris mengabaikannya dan kembali memakan makanannya. Itu pasti efek dari patah hati yang dialaminya.

Well, Sehun memang bukan tipe pria yang terbuka. Dia merasa iba pada Jessica. Kalau benar Sehun mencintai wanita lain, ada baiknya jika Jessica mundur. Karena Kris tahu Sehun adalah tipe pria setia yang tidak mudah melupakan seorang wanita. Park Nami buktinya.

Uhh, dia malah penasaran siapa wanita itu. Wanita macam apa yang bisa memenangkan hati setan kecil yang sialnya rupawan seperti Sehun?

“Jiaheng.” panggil Jessica membuatnya mendengus. Kris sebenarnya tidak suka jika ada yang memanggilnya dengan nama itu. Itu hanya membawa kenangan buruk padanya. Tapi biasanya Jessica hanya akan memanggilnya seperti itu kalau dia punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan.

“Hmm?”

“Apa kau menyayangi EXO?” Jessica tampak gugup dan seperti punya banyak hal yang ingin dia katakan, “Terlepas dari apapun, pernahkah kau memandang membermu sebagai hal terbaik yang kita miliki disini? Pernahkah kau berpikir kalau membermu adalah sesuatu yang berharga untukmu?”

Kris bingung dengan pertanyaan Jessica. Ada apa dengan wanita ini?

Tapi mau tak mau Kris memikirkannya juga. Pernahkah? Dia kembali memikirkan masa masanya selama ini. Mengingat semua memori itu.

Mengingat bagaimana mereka saling bercanda satu sama lain untuk menghibur diri setelah lelah berlatih.

Mengingat mereka saling mengingatkan untuk tetap semangat dan hidup dengan baik.

Mengingat mereka yang saling mendukung karir individual masing masing member.

Mengingat Chanyeol, Baekhyun dan Chen yang berisik mengacau di dorm.

Mengingat Sehun yang sering sekali beragegyo untuk meluluhkan hati hyung hyungnya.

Mengingat mereka yang saling membantu jika ada member yang sakit.

Mengingat saat dimana mereka menangis bersama karena memenangkan penghargaan.

Mereka berbagi peluh, tawa dan air mata bersama.

Semuanya bermunculan di kepala Kris. Membuatnya tanpa sadar tersenyum manis. Terlepas dari apapun. Terlepas dari Suho dan manager yang tidak ramah. Terlepas dari kelakuann beberapa member yang kadang membuat Kris sakit hati. Kris menyayangi mereka. Kris menyayangi EXO.

“Apa yang kau katakan Jess? Kami berjuang bersama, tumbuh bersama dan tinggal pada atap yang sama. Bagaimana bisa aku tak menyayangi mereka?”

Jessica tersenyum. Tentu saja. Yoona adalah alasan Kris tinggal. Dan mungkin akan terus begitu. Tapi Jessica berharap, sangat berharap kalau Kris tidak melupakan membernya. Dia berharap kalau kemungkinan terburuk yang dia khawatirkan itu benar terjadi, Kris akan mempertimbangkan keputusannya demi membernya.

“Tolong jangan lupakan itu, Jiaheng.”

Jessica tersenyum manis sekali dan menyentuh tangan Kris di meja, “Sampai kapanpun jangan pernah lupakan itu. Saat kau punya masalah, ingatlah bahwa kau menyayangi mereka. Berjanjilah padaku.”

“Jess, kau kenapa sih? Jadi mendadak melankolis begini?” Kris menampik tangan Jessica dan memandang wanita itu heran.

“Berjanjilah padaku, Jiaheng.”

Kris menghembuskan napas melihat Jessica yang sangat aneh. Bingung sebenarnya. Jessica kekeuh sekali. Kenapa temannya jadi mengurusi hal hal seperti ini sih? Tapi pada akhirnya Kris tersenyum dan mengacak rambut Jessica.

“Iya, Sooyeon. Aku berjanji tidak akan melupakan itu.”

//

“Kenapa kau memberitahu Jessica? Kalau kau begitu ketakutan Kris mengetahui ini semua, bukankah Jessica seharusnya adalah orang terakhir yang ingin kau beritahu?” Yoona bergumam pelan.

“Aku tidak tahu,” jawab Sehun setelah terdiam beberapa saat, “Aku hanya….” ia menghela nafasnya lelah, “lelah”

Yoona tersenyum kecut dan membuang pandangan dari iris cognac Sehun, “Kau menciumnya. Kemudian mengatakan kau mencintaiku.” ia tertawa penuh ironi saat melihat mata Sehun melebar terkejut, “Nami, aku, Jessica. Berapa banyak wanita yang harus menangis karenamu Sehun-ah?”

Lelaki itu tak mengatakan apapun. Jauh lebih menyakitkan mendengarnya dari Yoona. Ia seperti seorang terdakwa dengan Yoona yang membacakan buku dosanya. Sehun tahu betul ia sudah meninggalkan luka terhadap banyak wanita di hidupnya.

“Bagaimana bisa cinta yang kita miliki begitu menyiksa Sehun-ah? Bukankah cinta seharusnya manis?”

Sudah beberapa menit sejak Yoona berhenti menangis namun suara wanita itu tetap serak oleh tangisan tertahannya. Ia kembali menatap Sehun nanar, “Apa sesulit ini hanya untuk bersamamu?”

“Yoongie,” Sehun menangkup wajah Yoona dengan tangannya yang kurus, “Aku sudah memberitahumu alasan aku menyembunyikan hubungan kita. Sekarang, bisakah kau memahamiku?”

Yoona tahu maksud Sehun. Ia sebenarnya tidak ingin mengungkapkan hal ini. Tapi Sehun sudah mau membuka rahasianya. Lelaki itu mengerti jika rahasia hanya akan memperburuk hubungan mereka. Sehun sudah mengambil langkah itu, kenapa ia tak bisa? Bukankah ini alasan kenapa Yoona ingin bertemu Sehun? Karena ia ingin menyelesaikan semuanya secara baik baik?

“Kalau begitu bisakah kau juga memahamiku, Sehun?” no more secrets. Mereka harus menyelesaikannya atau akan semakin banyak hati yang terluka.

Pria disampingnya terdiam dan menarik kepala Yoona bersender di bahunya. Ia membiarkan Yoona menggenggam tangannya, siap mendengarkan. “Kau ingat saat kepalaku terluka karena menolong seorang tua?” Sehun terdiam sejenak dan mengangguk, “Percayakah kau jika aku mengatakan malam itu aku diserang oleh fansmu? Sasaeng?” suara Yoona bergetar mengingat kejadian malam itu.

Disampingnya Sehun menegang. Nafasnya menjadi pendek pendek dan ia berhenti memainkan jemari Yoona, “Mereka menyerangku karena hubungan kita Sehun-ah. Mereka tahu tentang kita. Mereka menyerangku, mengancam akan menyakiti orang orang disekitarku jika aku bersikeras menghubungimu.”

Pikiran Sehun mungkin beku karena terkejut, tapi memorinya masih mengingat salah satu panggilan panggilan mereka.

Im Yoona, kenapa kau berteriak? Hey, jawab aku!

Aku takut. Pulanglah. Aku butuh Sehun

Ia ingat suara jeritan tertahan. Tangisan Yoona yang memintanya pulang. Tingkah aneh wanita itu saat di bandara. Ketakutan yang Sehun tangkap dimatanya saat melihat kerumunan fans.

Oh tuhan, apa yang telah mereka lakukan pada wanitanya!!??

Sehun membalikan tubuh Yoona, mencengkram bahunya erat, “Apa yang telah mereka lakukan? Yoona, apa saja yang telah mereka lakukan?” tanpa sadar ia meninggikan suaranya.

Yoona mati matian menahan tangisnya. Dan itu membunuh Sehun. Dia rasa ia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri kalau Yoona tersakiti oleh fansnya. Yoona menunduk tak berani menatap kemarahan di iris cognac Sehun, “Yuri…”

Ia tidak baik. Ia diteror sasaeng fans lewat sebuah surat jahat

Tubuh Sehun membeku saat akhirnya Yoona mengangkat kepalanya dan kembali menangis tersedu sedu, “Ibu, Sehun-ah. Ibuku. Kecelakaan itu—Oh tuhan.” Yoona tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tangisannya menjadi tak terkendali, terlebih setelah Sehun merengkuhnya.

Yoona yang menangis—nyaris meraung—di bahu Sehun, tidak mengetahui kalau Sehun diam diam menjatuhkan air matanya di helaian rambut wanitanya.

//

Oh Sejun meraih salah satu pigura yang beradi di meja kerjanya. Tatapannya melembut menatap sosok adiknya dalam Hanbok tersenyum lebar ke kamera.

“Sen, apa yang harus kulakukan padamu?”

Kemudian fokusnya beralih pada sekumpulan foto yang dikirim anak buahnya. Menampilkan seorang wanita yang memasuki sebuah apartemen di Sangji Ritzville. Di foto yang lain terlihat sosok adiknya yang juga memasuki apartemen yang sama.

Foto itu diambil beberapa saat setelah Sejun melihat mobil adiknya keluar dari rumahnya. Sejun yang sudah siap marah besar kepala pelayannya terdiam saat wanita yang telah menjaga Sehun sejak kecil itu mengatakan kalau Sehun pergi ke apartemennya menemui seseorang yang berarti untuknya. Membuat Sejun langsung memerintahkan anak buahnya mengawasi apartemen adiknya itu.

“Im Yoona, huh?”

Adiknya itu ternyata mengencani wanita berparas luar biasa itu. Dan itu cukup membuat Sejun pusing. Karena ia tahu wanita itu diberitakan menjalin hubungan dengan Kris. Salah satu member Sehun.

Apa Yoona menyelingkuhi adiknya? Apa itu alasan kenapa Sehun jatuh sakit seperti itu? Itu mungkin saja. Pikiran itu membuat Sejun meremas foto yang di mejanya dan membuangnya kasar.

Kalau Im Yoona adalah alasan adiknya menderita Somatoform disorder, Sejun akan pastikan karir wanita itu tak akan mudah. Dia tak akan menolerir siapapum yamg berani menyakiti his lil’bro.

“Tuan Sejun”

Ia mendongak menatap sekretaris keluarganya masuk membawa setumpuk map, “Ini berkas yang Tuan Besar ingin anda periksa.” wanita muda itu meletakan beberapa map di meja kerjanya. Keningnya berkerut melihat foto foto yang berserakan di meja.

“Bukankah itu tuan muda Sehun? Apa sekarang anda memutuskan mematai matai adik anda?” Sejun hanya diam menatap foto dirinya dan adiknya. Wanita itu memgambil salah satu foto untuk memastikan, “Dia tak akan suka ini.” gumamnya.

Putra sulung keluarga Oh itu tidak mengatakan apapun, “Aku akan merahasiakannya sehingga ini tidak dianggap sebagai pelanggaran perjanjian ayah anda dengan Sehun.” ia membereskan foto foto itu saat salah satu menarik fotonya.

Seorang wanita? Siapa? Dilihat dari keterangan yang tertulis, foto itu diambil di apartemen tuan mudanya beberapa jam yang lalu. Berarti saat Song Ahjumma mengatakan Sehun pergi ke apartememnya menemui seseorang. Tapi siapa wanita itu? Kenapa ia tak asing dengam wajahnya?

“Naheul,” ia mengalihkan pandangan dari sosok di foto yang diambil diam diam itu, “Cari tahu keaslian berita yang disebarkan SMEnt tentang hubungan Im Yoona dengan leader Sehun itu.”

Ah, benar! Wanita itu Im Yoona! Wajahnya familiar karena adik Naheul adalah fans wanita itu, “Tapi kenapa?”

“Sehun menemui Yoona di apartemennya hari ini, bukankah itu sudah jelas?” kini Sejun menatap Naheul murung, “Aku curiga mereka berhubungan. Aku ingin tahu siapa yang membuat adikku sakit seperti itu. Im Yoona atau agensinya.” kemudian ia bangkit melonggarkan dasinya, “Dan pastikan ayahku tidak tahu tentang ini.”

Naheul terdiam sejenak dan mengangguk. Ia bisa mengerti kalau Sejun khawatir pada adik satu satunya. Sejun dan Sehun mungkin berasal dari keluarga konglomerat. Namun mereka tetap seperti adik kakak umumnya yang saling menyayangi. Walau mereka tidak begitu sering berkomunikasi dan tidak sejalan dalam banyak hal, Naheul tahu kalau mereka saling mengawasi satu sama lain.

“Bagaimana dengan keluarga Song?”

Pertanyaam Naheul berhasil membuat Sejun mendesah. Ia sebenarnya sangat tidak tega membiarkan adiknya terikat dalam sebuah perjodohan. Terlebih Sehun tidak mengatakan apapun. Lelaki itu tidak menolak ataupun menerimanya. Membuat ia semakin merasa bersalah karena sama saja ia lah alasan perjodohan itu dilakukan. Tapi apa yang harus ia lakukan? Sejun ingin bersama orang yang ia cintai. Ia tak ingin melepaskan Nara.

“Naheul, apa yang harus kulakukan untuk Sehun? Aku tidak ingin memaksa Sehun melakukannya, sungguh. Ia seharusnya mengatakan sesuatu bukannya diam seperti itu!”

Naheul terdiam. Menatap Sejun yang mendesah frustasi. Lelaki itu mengusap usap wajahnya. Naheul tahu betul kalau Sejun adalah orang yang sangat keberatan dengan perjodohan ini.

“Sehun pasti juga ingin bersama orang yang ia cintai kan, Naheul-ah?”

//

Sehun terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Ia mengerang tertahan, berusaha tidak membangunkan wanita di sampingnya. Ia turun dari kasur perlahan dengan tangan mencengkram erat rambutnya. Meraih kantung obatnya dan meminumnya melebihi resep dokter.

Untuk sejenak hanya terdengar deru nafasnya yang memburu. Sehun bersender pada dinding kaca apartemennya, menatap kerlap kerlip tanah kelahirannya. Ia memejamkan mata, mendesah berkali kali.

Ibu, Sehun-ah. Ibuku. Kecelakaan itu—Oh tuhan

Apa yang harus Sehun lakukan kalau begitu? Apa yang harus ia lakukan kalau orang yamg membuatnya berada di sini justru menyakiti wanita yang paling ia cintai? Apa yang harus ia lakukan kalau mereka membahayakan Yoona?

Sehun menyayangi fansnya sungguh. Ia menyayangi mereka yang terus membelanya saat banyak komentar miring tentangnya beredar. Ia menyangi mereka yang menyemangatinya saat ia kelelahan.

Sehun bisa berada di sini. Ia bisa meraih mimpinya berada diatas panggung. Semuanya karena EXO-L. Semua rasa lelah yang harus Sehun tanggung karena padatnya jadwal terbayar dengan kebahagiaan fans. Terbayar saat mereka menyukai dan mengapresiasi hasil kerja kerasnya.

Jika EXO adalah keluarganya, maka EXO-L adalah sahabat sahabatnya.

Tapi Yoona adalah hidupnya.

Ia tidak bisa kehilangan Yoona. Ini terasa seperti neraka bagi Sehun. Dia tak menginginkannya. Dia ingin memeluk Yoona dan tak melepaskannya. Dia ingin tumbuh tua bersama dan menatap wanita itu di malam malamnya.

Sehun sudah memutuskan ia bisa menjadi apa saja asalkan wanita itu bersamanya.

Dia bisa menjadi seorang aktor yang sangat hebat jika Yoona terus disampingnya, memberikan nasihat nasihat untuknya. Dia bisa memimpin perusahaan keluarganya, menjadi direktur yang luar biasa kalau Yoona mendapinginya, menggenggam tangan Sehun dan mendukungnya. Dia bisa menjadi kuat. Dia bisa terus tersenyum.

Dia bisa menjadi apapun yang Yoona inginkan. Dia bisa memberikan Yoona seluruh dunia sekalipun. Dia bisa membuat Yoona seorang ratu di hidupnya. Dia akan melakukan semua yang Yoona inginkan. Dia bisa.

Tapi untuk itu, ia butuh Yoona.

Apakah ia harus mempertahankan hubungan mereka saat fansnya tidak main main menyakiti Yoona? Apa yang harus ia pilih?

Sehun membuka matanya, meraih kotak satin dari sakunya. Matanya menelusuri cincin mewah itu dengan pandangan sakit. Mengingat masa masa dimana semua ini terjadi. Mengingat malam malam mereka yang manis. Mengingat panggilan panggilan mereka.

Bagaimana bisa cinta yang kita miliki begitu menyiksa Sehun-ah? Bukankah cinta seharusnya manis?

Sehun membenarkan perkataan Yoona. Bagaimana bisa mereka merasakan sakit saat keduanya saling mencintai? Sehun jadi meragukan bahwa bahagia sesederhana mengetahui bahwa Yoona mencintainya.

Tidak, bahagia tidak sesederhana itu. Dan bodohnya, ia baru menyadari itu.

Lalu untuk seutuhnya menjadi bahagia apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia meninggalkan fans nya dan memilih bersama Yoona? Haruskah ia menyakiti Kris untuk itu? Apa benar tidak ada happily ever after for them?

Atau haruskah ia meninggalkan Yoona. Bertahan dengan hubungan palsu Kris? Berpura pura bahagia dengan kebahagian hyungnya? Haruskah ia memilih fans nya? Grupnya?

Ataukah ia harus meminta Yoona untuk kembali berpura pura tidak memiliki hubungan apapun? Menyembunyikan cinta mereka? Menyakiti Yoona perlahan? Haruskah?

Kalau seperti ini akhirnya, kenapa Sehun rela menyakiti dirinya sendiri dengan hipnotherapy? Kenapa Sehun harus berusaha keras untuk memendam perasaannya hingga ia tersiksa oleh itu? Ada bagian dalam diri Sehun yang tidak rela jika semua yang telah ia lakukan dulu terbuang sia sia.

Pada akhirnya Sehun menunduk, menahan rasa sakit yang kembali menyerang kepalanya. Kalau ini terjadi terus menerus setiap ia memikirkan masa depannya dengan Yoona, Sehun rasa ia akan mengalah dan berhenti menjadi masokis. Menjalani terapi.

“Sehun-ah”

Lelaki itu mendongak, melihat Yoona menatapnya nanar. Dengan cepat ia menyembunyikan kotak satin itu di belakang tubuhnya saat Yoona berjalan mendekatinya.

“Baby,” Sehun berusaha tersenyum meskipun rasanya kepalanya ingin pecah, “Apa aku membuatmu terbangun?” ia berusaha berdiri namun kembali jatuh karena rasa sakit yang menderanya, mengundang pekikan Yoona saat melihat Sehun roboh ke lantai.

Yoona nyaris menangis saat menyentuh wajah Sehun yang pucat. “Apa aku harus memanggil dokter?” ia bersiap untuk bangun namun Sehun menariknya. Membuat ia terjatuh di pangkuan Sehun.

“Aku tak apa sayang,” Sehun tersenyum tipis dan mencuri satu kecupan dari Yoona sebelum menjatuhkan kepala besarnya di lekukan leher wanita itu, “Biarkan seperti ini. Aku akan baik baik saja.”

Yoona menurut, membiarkan Sehun menerpakan nafasnya yang panas pada kulitnya. Ia melingkarkan tangannya di leher Sehun, merasakan rambut halus Sehun di pipinya. Keheningan malam itu diisi oleh deru nafas mereka.

“Aku punya satu permintaan,” kata Yoona setelah nafas memburu Sehun menjadi lebih tenang. Ia menangkup wajah kekasih hatinya itu. Setelah Sehun mengangguk ia menghadiahkan satu ciuman lembut di bibir Sehun, “Kau harus melakukan terapi itu. Aku tak bisa melihatmu seperti ini, Sehun-ah.” ucapnya setelah ia melepaskan tautan bibir mereka.

Sehun memejamkan matanya sejenak, “Aku akan memikirkannya.”

“Kau kesakitan setiap saat! Kau memendam perasaanmu! Kau melakukam hipnoterapi untuk mengaburkan perasaanmu! Kondisimu secara psikologis jauh dari baik baik saja.” suaranya dipenuhi kekhawatiran, “Dan itu semua karenaku. Kau tersakiti karenaku, Sehun! Tolong jangan siksa aku seperti ini. Lakukan terapi it—“

Sehun kembali menciumanya untuk entah keberapa kalinya malam itu. Ciuman kali ini terasa menuntut. Penuh dengan perasaan yang menyakiti Yoona. Ia memejamkan matanya, menikmati kelembutan itu menyentuh hatinya yang terluka.

“Walaupun aku melakukan terapi itu, kau tetap tidak akan kembali padaku kan?”

Yoona membuka matanya, hanya untuk melihat iris cognac itu menatapnya memohon, “Sehun…”

Tangan lelaki itu mengambil sesuatu di belakang tubuhnya. Ia menimangnya sejenak dan itu membuat Yoona takut apa yang ada di dalamnya.

Dihadapannya kini terdapat sebuah cincin emas putih yang sangat cantik. Sebuah berlian—dugaannya—berada di tengahnya dan dikelilingi oleh batu ruby yang membentuk lambang infinity.

“Kalau aku lebih cepat mengatakannya malam itu, apakah kau masih tetap bersamaku, Yoona?”

Perempuan ini menutup mulutnya sendiri. Menahan tangisan yang hendak pecah. Sehun tidak boleh melihatnya menangis saat kondisi lelaki itu mengkhawatirkan. Tapi ia rasanya ingin menjerit oleh perasaan sakit namun disatu sisi bahagia ketika Sehun menyematkan cincin itu di jari manisnya.

“Cantik.” bisik Sehun memandang jemarinya yang kini dihiasi oleh berlian itu.

“Apakah itu akan merubah sesuatu Yoona?” iris itu menatapnya menusuk. Ia kemudian melepaskan sebuah kalung dengan cincin yang sama sebagai bandulnya.

“Kalau itu merubah sesuatu,” Sehun meletakan cincin itu di telapak tangan Yoona, “pasang ini di jariku. Dan aku akan mengabulkan semua permintaanmu,” ia menempelkan keningnya pada kening Yoona, “tak peduli seberapa gila hal itu.”

Yoona terdiam. Tangan Sehun ada di pangkuannya. Saat itu rasanya dunia berhenti berputar. Pikirannya mendadak kosong. Yoona tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Oh ayolah, ini kesempatanmu!

Sebuah suara bergaung di pikirannya yang beku. Yoona mengerjap dan menatap Sehun yang begitu dekat, menunggu. Yoona memantapkan hatinya, bisa jadi ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia tahu Sehun sudah melewati batasannya sendiri. Sehun sudah membuang segalanya saat mengatakan itu pada Yoona. Ini adalah kesempatan yang mungkin sangat langka.

Mereka bisa hidup bahagia. Membeli sebuah rumah dengan halaman yang luas yang akan Yoona tanam dengan pohon pohon besar. Membuat rumah pohon dan bermain basket dengan putra putrinya.

Sempurna. Ia mampu meraih kesempurnaan itu dengan Sehun.

Yoona tersenyum manis. Sehun sudah mengulurkan tangannya, maka Yoona akan menyambutnya. Tak peduli seberapa gilanya hal itu.

Namun sekonyong konyong wajah lelah ibunya muncul. Wajah sembab Yuri. Ekspresi Jessica saat menatapnya. Dan wajahnya sendiri saat ia menangis karena Sehun. Pengabaian lelaki itu. Rasa sakit saat Sehun tak menatapnya. Semua alasan alasan itu bermunculan seperti enggan ditolak.

Yoona tidak bisa. Bukan demi mereka. Bukan demi siapapun. Dia memang tidak bisa. Ada terlalu banyak air mata dan Yoona tidak bisa mengabaikan itu begitu saja.

Dan kala Sehun membuka matanya, iris caramel Yoona menatapnya sendu. “Oh Sehun, kau juga tahu kan?”

Detik berikutnya yang Yoona lihat adalah harapan yang digantung kuat kuat itu pecah. Kekecewaan yang tampak begitu nyata itu membuat Yoona ingin merengkuh Sehun dalam dekapannya.

“Ya” Sehun menunduk menatap cincin yang melinglar di jari Yoona, “But, I thought we were in love.”

Yoona tidak menjawabnya. Hatinya terasa ngilu mendengar kalimat Sehun. Jemarinya hanya bergerak perlahan di wajah Sehun yang pucat. Menjerit betapa Yoona telah mendorongnya hingga terluka begitu dalam. Kemudian tangan Sehun menahan gerakan jemarinya. Perlahan, ia mengecup ujung jari Yoona satu persatu. Membuat mata Yoona semakin memanas merasakan cinta yang lelaki ini miliki untuknya.

“Cinta,” Sehun mencoba tersenyum dan kembali menahan rasa sakit yang kini tak hanya berada di kepalanya, tapi juga hatinya. Sangat sakit. Luar biasa sakit, “memang tidak cukup kan, Yoon Ah?”

Yoona memejamkan mata, sebenarnya menahan air matanya yang hendak tumpah. Dia meyakinkan dirinya kalau ini adalah yang terbaik. Kalau dia melakukan ini bukan untuk siapa siapa. Dia melakukan ini murni karena keinginannya.

Perempuan itu kemudian melepaskan cincin yang melingkar di jarinya dengan berat dan menimangnya bersama cincin Sehun. Ia menghela nafas panjang dan meraih tangan Sehun, hanya untuk ditepis oleh lelaki itu.

“Sehun…”

“Tidak” ia bangkit dengan tiba tiba dan menatap Yoona dengan kekecewaan dan rasa sakit yang begitu nyata. Ia mengambil cincin miliknya, meninggalkan cincin yang sebelumnya melingkar di jemari Yoona sendirian. Seperti dirinya yang meninggalkan wanita itu. Atau sebaliknya kah?

“That was yours from the very beginning.”

Dan Sehun melangkah dengan erangan menahan rasa sakit yang menjadi jadi jadi di kepala dan hatinya. Ia membanting pintu kamar mandi dan merosot di sana. Tak mempedulikan tangisan meminta maaf Yoona di luar sana. Membiarkan air matanya menjatuhi cincin putih itu.

Air mata yang jatuh itu terpisahkan oleh selembar kaca pintu kamar mandi yang dingin. Terpisahkan oleh luka yang membatasi dengan begitu kuat.

Sehun dan Yoona duduk di sana selama berjam jam. Mengeluarkan entah sudah berapa banyak air mata. Mengenggam cincin putih perlambang cinta mereka itu kuat kuat. Crying because they’re in love but insecurities, keadaan dan rasa sakit yang di pendam membuat mereka tak bisa bersama.

Darling, my heart will always be yours no matter what it cost.

//

Yifan menatap Yoona yang meniup niup teh nya. Dengan sweater navy blue dan spectacles, wanita itu tampak rapuh. Namun juga indah.

“Ada apa?”

Dan Yifan tak bisa menahan dirinya sendiri untuk maju, menghadiahi sebuah kecupan di bibir pucat Yoona.Wanita itu tidak bereaksi apa apa.

“Maaf, aku tak bisa mengendalikan diriku. Kau begitu indah Yoona.”

Dia menyunggingkan satu senyum yang membuat Yifan terpesona dan kembali menyesap teh hangatnya. Memandang senja dari balkon apartemennya. Saat Yifan mengajak Yoona keluar untuk kencan, wanita itu menolak dan mengatakan ia hanya ingin berada di apartemennya.

“Kris.” panggilnya membuat Yifan menoleh. Dia tidak mengatakan apapun untuk beberapa detik, menikmati cahaya lemah senja menerangi wajah sendu kekasihnya itu. Tangannya terulur membelai pipi Yoona dengan jarinya.

“Hmm”

“Pernahkah,” Yoona menggigit bibir bawahnya, membuat Yifan gemas ingin menciumnya, “kau memikirkan untuk keluar? Maksudku meninggalkan EXO?”

Yoona tampak gelisah, Yifan sadar itu. Tapi di satu sisi, ia juga murung. Senyumnya tidak sepenuhnya menyentuh mata indah itu. Yoona tampak seperti orang sakit. Terlihat rapuh dan pucat. Yifan mengabaikannya, mungkin Yoona sedang ada masalah dan dia tidak ingin membicarakannya denganku. Begitu pikir Yifan.

Pernahkah?

Sering sekali. Yifan sering memikirkan apakah hidupnya jauh akan lebih baik jika saja ia tidak menjadi artis? Kalau boleh jujur, Yifan merasa lelah dengan semua ini. Ia memang menikmati popularitas dan uang yang berlimpah dengan mudahnya. Yifan menikmati semua yang telah di dapatkannya dari EXO.

Tapi, Yifan juga membenci perlakuan agensi yang terkesan tidak adil padanya. Ia benci karena agensi tak pernah percaya dengan kemampuannya dan akhirnya melimpahkannya pada membernya yang lain. Ia benci pada membernya yang tidak membelanya saat pihak agensi menyudutkannya. Ia benci Joonmyeon yang selalu tak ramah padanya. Ia benci harus menjadi leader di depan kamera, saat kenyataannya mereka tak menganggapnya leader di belakang kamera.

Tapi wanita dihadapannya ini. Alasan terkuat kenapa ia tak ingin lepas dari dunia entartainment. Perasaan untuk melakukan hal yang sama dengan orang yang kau cintai, begitu kuat. Begitu mengikat Yifan.

Saat bersama Yoona, Yifan bias menjadi apapun. Yifan ingin melakukan segala sesuatu bersama Im Yoona. Kalau Yoona menjadi aktris, maka ia akan menjadi aktor. Kalau Yoona pandai berbahasa Jepang, Yifan juga ingin pandai berbahasa itu. Dia pernah berpikir, mungkinkah itu hanya obsesi? Tapi perasaan itu mengakar dihatinya. Dan, Yifan tahu kalau itu bukan sebuah obsesi. Itu adalah caranya mencintai Im Yoona. Ia ingin melakukan semua yang Yoona lakukan, memahami kenapa wanita itu menikmati menjadi seorang aktris. Ini adalah caranya mencintai dan memahami.

“Pernah”

Dihadapannya Yoona tidak terkejut. Ia justru terlihat….sedih? Dia meletakan cangkir di tangannya dan menggenggam tangan Yifan, “Kenapa?”

“Bukankah aku sudah bilang kalau aku cukup anti-sosial?”ia kemudian tersenyum miring, “Menjadi artis memang menyenangkan, tapi aku juga merasa muak dengan semua ini.”

Yoona tak mengatakan apapun. Dia paham perasaan itu. Karena saat ini itulah yang sedang ia rasakan. Yoona muak dengan entartainment. Dia mulai merasa lelah dengan statusnya sebagai artis papan atas.

Sudah banyak orang yang terluka karena kekejaman dunia ini dan Yoona merasa marah dengan itu.

“Semuanya butuh pengorbanan, Kris.” dan Yoona merasa lebih muak pada dirinya yang sok menasehati Yifan tentang pengorbanan saat ia mulai membenci hal itu.

Yoona mengorbankan banyak hal. Waktunya, kebebasannya, keluarganya, bahkan hatinya. Kalau dipikir pikir apa yang sudah ia berikan tidak sebanding dengan apa yang ia dapatkan.

“Tapi kupikir aku akan tinggal lebih lama lagi.” ucap Yifan membuat Yoona mengangkat kepalanya dengan pandangan bertanya, “Aku ingin melakukan segala sesuatu denganmu.”

Itu berhasil membuat Yoona tak berkata kata. Di satu sisi dia merasa bersalah karena lelaki ini benar benar mencintainya dengan tulus tapi di satu sisi ia merasa marah karena Yifan bisa bersikap sangat kekanak kanakan. Marah karena Yifan tanpa sadar menyeretnya kedalam luka yang dalam.

“Meskipun hubungan kita adalah sebuah kepura puraan, aku sudah mengatakan bahwa aku ingin serius dengan ini, Yoona.”

Yoona hanya menatap Yifan sendu. Seharusnya perasaan lelaki itu menyentuh hatinya, tapi nyatanya yang Yoona rasakan hanyalah kehampaan. Tak ada debaran, tak ada perasaan hangat, tak ada emosi, nothing. Dingin dan kosong. Seolah hatinya direnggut dari ruang tempatnya hidup.

“Kau harus bersiap siap, Yoona. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, soon.”

Dan Yoona tahu betul siapa yang telah merenggut hatinya.

Yifan meraih tangan Yoona dan menciumi jemarinya satu persatu. Hanya untuk menyadari sebuah cincin melingkar manis di jari wanita itu. Dia mengkerutkan kening. Cincin itu tampak sederhana namun elegan.

“Dimana kau membeli cincin ini? Aku berpikir untuk memberikan satu untukmu.”

Iris caramel itu tidak mampu mengekspresikan emosinya saat itu. Dirinya seolah dipenuhi oleh mimpi buruk. Membuatnya berat bahkan hanya untuk menarik napas. Entah mengapa ia memakai cincin itu saat ia jelas menolaknya. Mungkin karena Yoona—jauh di dalam hatinya—masih mengharapkan sebuah pernikahan yang indah dengan lelaki itu.

“Yoona?”

Dia tersentak kaget saat suara Yifan lagi lagi menariknya dari pikirannya sendiri. Tatapan pria itu tak terbaca saat menatapnya dan mendadak ia merasa gugup. Jadi Yoona menarik tangannya dengan terburu buru dari genggaman Yifan, “Seseorang memberikannya padaku. Sebagai tanda persahabatan.”

“Siapa?”

Yoona memejamkan matanya. Menikmati usapan lembut Yifan di punggung tangannya. Pikirannya melayang pada satu lelaki yang diluar dugaan sangat peduli pada Yifan.

Bukan. Bukan sebagai tanda persahabatan.

It’s love.

“Umm fansite masterku.” Yoona tertawa pelan “Bodoh sebenarnya, hanya saja aku tak bisa untuk menolaknya.”

Yoona tertawa, tapi kali ini Yifan tidak terpesona. Ada sesuatu yang ganjil. Rasanya seperti Yoona menutupi sesuatu.

Yoona berbohong dan Yifan sadar itu. Tatapan Yoona tadi saat menatap cincin itu begitu terluka. Sesuatu yang jarang ia lihat dalam diri Im Yoona. Dia menatapnya, berusaha mencari penjelasan dari wanita itu. Berusaha mengetahui alasan yang membuat ia menjadi sangat murung atau kenapa matanya sembab seolah ia habis menangis semalaman.

Yoona menarik nafasnya panjang dan membelai pipi Yifan, “Kris, aku akan mencoba sekuat yang ku mampu.”

Tanpa diduga, Yoona mengecup bibirnya “Untuk itu kau harus tetap tinggal oke? Jangan pergi. Tetaplah bersama EXO.” Yoona menggigit bibirnya. Ini adalah hadiah terakhirnya untuk Sehun. Setidaknya, hanya inilah yang mampu Yoona lakukan untuknya, “Kumohon, Kris. Jangan pergi. Banyak orang yang menyayangimu. Amat sangat menyayangimu.”

Tatapannya begitu menggetarkan. Seolah Yoona memohon dengan seluruh hidupnya. Membuat Yifan mau tak mau mengangguk. Yoona tersenyum tipis dan menghembuskan nafas panjang, memainkan jemarinya. Untuk beberapa detik, Yifan melihat Yoona menyentuh cincin putih itu, membelainya pelan.

“Eung, aku ke kamar mandi dulu okay?” Yoona bangkit dengan cepat, membuang wajahnya saat bicara dengan Yifan.

Tapi sekilas, ia mampu melihat tatapan berkaca kaca wanita itu. Sebelum Yifan sempat bertanya apa yang terjadi dengan Yoona, dia sudah pergi.

Yifan menatap langit Seoul yang mulai menggelap. Angin bertiup mendesau desau membawa hawa dingin, membuat Yifan mengeratkan jaketnya.

Namun sayangnya, udara dingin tak jua meredakan kegelisahan yang mulai merayapi hatinya.

//

“Ya sialan! Seret wanitamu ke hadapanku dan bebaskan aku dari perasaan bersalah ini!”

“Sejun-ssi” Kai berusaha memapah lelaki dengan setelan jas kerja itu masuk ke dorm mereka.Tidak membiarkan Sejun yang mabuk meracau diluar dorm dan mengganggu tetangga mereka.

“Oh Sehun! Katakan apa masalahmu dengannya dan aku akan menyelesaikannya untukmu! Ya adik sialan kemari kau!”

Kai memijat keningnya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk kakak si bungsu satu ini. Sedangkan Kris masih speechless melihat kondisi putra sulung keluarga Oh itu.

“Bagaimana bisa dia seperti itu?”

Kai menggeleng frustasi. Mana ia tahu? Oh Sejun memencet bel dorm seperti orang kesetanan, meracau tidak jelas di depan dorm mereka dan dengan linglung mencoba bangkit dari sofa tempat Kai menjatuhkannya tadi.

“Yatuhan Sejun-ssi, seberapa banyak yang kau minum?”

Sejun tertawa seperti orang gila dan menunjuk nunjuk Kris, “Kau tega sekali pada adikku leader!” pada saat itu bel berbunyi dan Sejun langsung bergerak panik, “Oh itu pasti Nara! Tadi aku hik mengirimnya pesan hik”

“Hyung, kau jaga ia sebentar. Barangkali itu salah satu orangnya!”

Kris menghela nafas panjang dan mengambil air dingin untuk Sejun di dapur. Member yang lain sedang menghadiri fansign bersama dengan manager. Hanya ada Kai dan Kris yang terjaga di dorm. Sebenarnya ada Sehun yang sudah kembali beraktivitas dengan normal setelah menghabiskan beberapa minggu di rumah keluarganya untuk pemulihan. Namun setelah photoshoot bersama Kris dan Kai, Sehun pulang dan memasang tampang kusut. Kris menyuruh Sehun untuk langsung tidur dan anak itu pasti tak akan bangun sampai besok pagi. Jadi tinggal Kris dan Kai lah yang kena sial menghadapi chaebol mabuk satu ini.

“Leader kau jahat,” Sejun menarik kerah Kris secara tiba tiba saat Kris sedang membantunya minum. Anehnya iris autumn putra sulung keluarga Oh itu terlihat serius terlepas dia sedang mabuk. “Sehun mencintainya! Sehun mencintai wanita itu  tapi kenapa kau malah mengencaninya.”

Apa sih yang dikatakan orang ini?

Perasaan gelisah mendadak menyelimuti Kris. Lelaki itu menggeleng, berusaha menepis prasangka prasangka yang mulai bermunculan di pikirannya. Kris mendorong Sejun kembali jatuh di sofa, “Bicaramu ngawur Sejun-ssi.”

“Tidak!” Sejun kembali menarik kerah baju Kris, “Mereka hik telah berkencan selama ini hik dan kau hik menyakiti adikku dengan hik hubungan palsumu dengan Im Yoona! Kau jahat!” cengkraman Sejun mengendur dan ia kini menunduk lemah, “Padahal Sehun-ku sangat menyayangimu.”

Untuk beberapa saat Kris terdiam menatap Sejun yang tampak sedih. Kegelisahan itu semakin menjadi. Apa apaan dia? Yoona dan Sehun? Apa lelaki ini sadar apa yang ia bicarakan?

“Oh yaampun! Kau mabuk Sejun hyung!” ia menoleh dan mendapati Luhan melangkah buru buru kearah Sejun. Dibelakangnya ada Kai dan, tunggu, Yuri?

“Oh, kau….” Keningnya berkerut menunjuk Yuri yang membelak ngeri melihat Sejun, “Ahhhh kau mirip dengannya! Kau mirip dengan Yoona-nya Sehun.”

Sejun melepaskan rangkulan Luhan dengan tiba tiba dan setengah berlari menuju Kai dan Yuri. Membuat Kai berjengit kaget saat Sejun menarik tangan Yuri yang mengkeret dibalik punggung Kai. Mencengkram bahunya erat.

“Bilang pada Yoona untuk menemui ayahku, cepat! Apa ia tak tahu kalau Sehun dijodohkan? Bukankankah mereka sepasang kekasih?”

“Hyung!” Luhan berdecak frustasi dan langsung menerjang Sejun. Menarik lelaki itu dari Yuri yang masih shock. Tangan Sejun menggapai gapai dan matanya tidak fokus.

“Tolong, beritahu ia. Sehun mencintainya kan? Kumo—“

“BERHENTI KAU SIALAN!”

Untuk beberapa detik mereka terdiam. Tidak menyangka  Kris yang daritadi diam, maju ketengah dan menarik Sejun menjauh. Sejun menyeringai menatap Kris yang menatapnya penuh dengan kebencian. Sedangkan Luhan membeku dibalik tubuh Sejun melihat duijang mereka berubah warna menjadi merah. Sangat terkejut dengan tindakan Kris.

Kris tidak suka dengan perkelahian. Dia sebenarnya jarang sekali marah seperti itu. Tapi dia sudah tidak tahan dengan ocehan Sejun yang menusuk hatinya. Mencintai, kekasih? Apa itu? Sejun sungguh membuat Kris muak. Lelaki itu mengulurkan tangannya, mencengkram kerah kemeja Sejun “Pertama aku tidak jahat! Kedua Im Yoona adalah pacarku dan berhenti mengatakan ia milik Sehun! Kau mabuk Oh Sejun!”

Tanpa di duga Sejun malah tertawa penuh ironi dan balas mencengkram kerah kaos Kris , “Kau tak tahu—“

“Kris ge!” Kai yang akhirnya sadar dengan seluruh situasinya buru buru membekap mulut Sejun dan menarik yang lebih tua itu menjauh dari Kris. Matanya berputar panik melihat Kris, “Cepat bangunkan Sehun!”

Kris sebenarnya sangat ingin sekali menghajar Sejun. Dia membuka mulutnya, ingin membantah saat Luhan mendorong tubuhnya “Dia mabuk. Jangan dengarkan.” bisiknya pelan.

Akhirnya Kris berdecak frustasi dan berjalan menghentak hentak ke kamar Sehun, Kai dan Kyungsoo. Sungguh ia rasanya ingin meninju mulut Sejun atas racauan tidak bergunanya. Hanya untuk merasa kesal dengan dirinya karena begitu saja terbawa ucapan orang mabuk. Benar, Sejun mabuk. Jadi lupakan perkataannya dan bangunkan saja adik si sialan itu.

Dia berhenti didepan pintu kamar dan menghela nafasnya panjang panjang. Mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak ingin Sehun tahu kalau kakaknya baru saja mengatakan hal gila dan Kris dengan bodohnya terprovokasi.

“Sehun-ah, ayo bang—Ah”

Sehun ternyata tidak tidur, ia sedang duduk di kasur dengan mata yang basah. Lelaki itu sangat terkejut melihat kedatangan Kris dan menyembunyikan sesuatu kebalik tubuhnya. Kemudian menyeka air matanya dengan cepat dan memaksakan senyumnya pada Kris.

“Ada apa hyung?”

“Kenapa kau menangis?” Kris buru buru menghampiri Sehun dan menyentuh dahinya, “Apa yang sakit?”

Sehun menggeleng dan tetap tersenyum, meskipun jejak air mata masih terlihat di pipinya.”Tidak apa. Aku tak apa”

“Tapi kau—“

“Ya, Oh Sehun!” suara melengking itu diikuti oleh derap langkah yang terburu buru menuju mereka. Sedetik kemudian, Yuri muncul di depan pintu dan langsung menarik Sehun, “Ayo turun!”

“Yuri noona kena—“

“Kakakmu mabuk dan menggila dibawah! Cepat seret ia pulang sebelum mulut besarnya mulai membocorkan rahasia Presiden Korea!”

“Kakak—Oh!” Sehun segera bangkit berlari mengikuti Yuri kebawah. Membuat Kris berdecak dan mengikutinya dengan sebal. Malas harus berhadapan dengan Sejun dan omongan tidak bermutunya.

“Sejun ya tuhan!” Sehun segera menarik Sejun yang saat ini sedang ditahan oleh Luhan dan Kai sekaligus. Kakaknya itu tersenyum lebar melihatnya, “Sehun-ah!” sapanya riang.

Kris mendengus saat Sejun memeluk Sehun dengan erat sekali. Lelaki itu bahkan kini memutar mutar tubuh Sehun seperti anak kecil. Huh!

“Kau bau hyung. Seberapa banyak kau minum huh? Kau cari mati? Mau kuadukan pada Nara?”

“Laporkan saja dia Sehun-ah. Dia terlalu banyak minum dan asal bicara saja.” ujar Kris mendudukan diri di sofa, mengganti chanel TV. Tidak mau ambil urusan. Memangnya apa yang bisa kau percaya dari ucapan orang mabuk?

“Leader macam apa sih kau ini!” Sejun mendadak marah dan melepaskan pelukannya. Membuat Kris menggeram dan berbalik, siap bertempur dengan Sejun. Masa bodoh dengan alkohol, si sulung Oh ini benar benar menguji kesabarannya!

“Hyung, apa sih? Berhenti bicara dan ayo pulang!” Sehun meninggikan suaranya. Kesal dengan Sejun yang tak merubah kebiasaannya saat mabuk.

Sejun menyentak tangan Sehun, “Kenapa kau masih peduli dengannya hun? Dia jahat padamu. Dia mengambil Yoona-mu. Kenapa kau masi—“

“BERHENTI BICARA SEJUN, YOONA MILIKKU!”

“NO SHE’S NOT!”

Sekali lagi Luhan harus menahan Sejun yang ingin menyerang Kris. Sedangkan leader mereka itu melemparkan sumpah serapah pada Sejun. Sungguh Kris sangat tidak suka dengan omongan Sejun. Apa lelaki itu tak tahu kalau ucapannya sangat menyakiti Kris? Kenapa dia terus terusan mengatakan Yoona kekasih Sehun? Memangnya tahu apa laki laki itu!

“Yak! Leader kuberitahu ya, Sehun dan Yoona itu sep—“

“Berhenti. Oh.Sejun.”

Sejun menoleh dan mendapati Sehun menatapnya ngeri. Kalimatnya pendek dan penuh dengan ancaman yang dingin. Membuatnya sadar dari belenggu alkohol yang mengacau di otaknya. Sejun melihat adiknya tampak begitu kalut. Mimik wajahnya mengerut takut seolah ia baru saja melihat hantu.

“Kris hyung benar. Kau asal bicara.” ia menarik lengan Sejun hanya untuk ditepis oleh lelaki itu. Tak diduga Sejun mencengkram bahu Sehun dan membantingnya ke dinding. Menekan kuat leher adiknya dengan lengannya.

“Aku tahu semuanya, brengsek. Kau pikir kau bisa bersembunyi selamanya? Seret Im Yoona kehadapan ayah dan batalkan perjodohanmu atau aku akan gila karenanya!”

Semuanya terjadi begitu cepat. Yang Kris tahu, Sejun sudah tersungkur ke lantai dengan Sehun menduduki perutnya. Meninju wajah kakak lelakinya berkali kali.

“Sehun!”

“Ya kau gila?!”

Butuh beberapa detik bagi Kai dan Luhan menarik Sehun yang mengamuk menjauh dari Sejun. Wajah maknae itu merah oleh emosi dan ia dengan mudah mendorong Luhan dan Kai. Lalu berusaha menarik Sejun yang sedang dibantu berdiri oleh Kris dan Yuri.

“Sehun—“

“Jangan ikut campur.” Sehun berujar dingin dan menarik Sejun dengan paksa. Membuat Kris dan Yuri jatuh tersungkur karena kekuatan lelaki itu.

“Sehun hentikan!!”

Sejun menggeram saat Sehun berhasil meninju perutnya, membuat ia terhuyung menabrak dinding. Matanya melihat yang lain tidak mencoba menghentikan amarah lelaki itu. Jelas saja, Sehun memang mengerikan saat ia marah. Bukan, Sehun bukan marah lagi. Dia mengamuk.

Meskipun alkohol membuat refleknya menjadi lebih lambat, Sejun berhasil menahan satu pukulan Sehun. Mencekik lehernya dan memojokannya ke dinding. Dia tertawa sinis “Kenapa? Kau marah karena aku menyinggung perjodohanmu atau karena aku menyebut nama wanitamu? Atau ka—“

“NONE  OF YOUR BUSINESS!” Sehun menyentak tangan Sejun di lehernya dan menendang kaki Sejun membuat kakaknya itu merintih jatuh. “APA KAU PIKIR AKU TIDAK INGIN MENYERETNYA KE HADAPAN AYAH SEKARANG JUGA!? APA KAU PIKIR SEMUDAH ITU!?”

Sehun seperti orang kesetanan menghajar kakaknya yang hanya diam tak membalas, “KAU TAK TAHU APA APA OH SEJUN!! JADI BERHENTI SOK TAHU DAN URUS SAJA HIDUPMU!!”

“AKU BILANG BERHENTI!” Kai menarik Sehun dari Sejun yang sudah babak belur. Dan sebelum lelaki itu sempat bereaksi, Kai menghadiahkan bogem mentah di perutnya, “Kau bisa membunuhnya, sialan.”

Sehun terengah engah di bahu Kai. Kesadarannya kembali saat melihat kakaknya yang kesulitan berdiri dibantu oleh Luhan dan Yuri. Dia memejamkan matanya, menyadari tindakan bodohnya. Sehun harus berterimakasih pada Kai nantinya, kalau tidak sepertinya ia benar benar bisa merenggut nyawa kakaknya.

Sehun membuka matanya dan mendapati Kris menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Mendadak kepalanya sakit sekali seperti ada batu besar dijatuhkan diatasnya. Sehun mengerang dan bertumpu pada Kai untuk menegakan tubuhnya. Sial, dia gemetaran!

“Ayo pulang.”

Sejun mendesah. Pengaruh alkohol sepertinya sudah benar benar hilang akibat amukan Sehun. Ia menatap adiknya yang bertumpu pada Kai. Ekspresinya gusar dan dia luar biasa pucat, “Ayo pulang, hyung.” katanya sekali lagi.

“Sebegitu sakitkah hunnie?” Sejun menggumam pelan, “Apa dengan menghajarku bisa mengurangi sedikit rasa sakitmu? Kalau iya, aku masih kuat lho menghadapimu.” Ia tertawa pelan.

Sehun mengabaikan pertanyaan Sejun dan mengulurkan tangannya, membantu Sejun berdiri. Dia meringis melihat kondisi kakaknya yang buruk.  “Aku akan mengantarmu pulang.”

“Aku meninggalkan mobilku di kantor.”

Sehun mendesah frustasi. Kepalanya sudah sangat sakit sekarang dan yang ia inginkan adalah pergi dari sini. Dia bahkan tak berani menoleh untuk menatap ekspresi Kris.

Dia bisa gila.

“Aku bawa mobil!”

Sehun menoleh menatap Yuri. Lega karena ia bisa segera pergi dan merasa bersalah mengingat ia bersikap kasar pada wanita itu tadi. Dibantu oleh Luhan, dia memapah Sejun keluar sedangkan Yuri memimpin jalan menuju mobilnya.

Tersisa Kris dan Kai yang terdiam setelah pintu tertutup. Kai sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Sekarang semuanya terungkap dengan jelas. Padahal tadi Kai menilik ekspresi Kris dan sudah yakin sekali kalau Kris tidak akan mempercayai ucapan orang mabuk seperti Sejun.

Tapi kemudian si bodoh Sehun malah kesetanan dan bertindak anarkis. Berteriak dan membenarkan semua pernyataan kakaknya.

Oh!

Ya Tuhan, Kai baru sadar kalau tadi Sehun menumpukan seluruh berat badannya pada Kai. Napasnya pendek pendek dan dia sempat melihat Sehun mengerang menahan sakit. Sehun bisa kambuh kapan saja! Meskipun ia pulang kerumah keluarganya, Sejun yang babak belur tidak mungkin bisa merawat dan menemani Sehun. Orangtuanya pun belum tentu ada dirumah.

Kai baru saja hendak melangkah menyusul Luhan saat tangan Kris yang dingin menahan lengannya, “Kai…”

Dia menghela nafas panjang dan menoleh, mendapati Kris dia menatap lantai. Kris pasti sangat terkejut dan sakit hati mendengar kalimat kalimat itu. Mungkin itu menjelaskan sikapnya yang diam saat kakak beradik itu adu jotos.

Saat Kris mengangkat kepalanya, tatapannya nanar, “Itu…tidak benar kan? Sehun dan…” ia tak menyelesaikan kalimatnya.

Sekali lagi Kai menghela nafasnya dan berjalan merengkuh tubuh gege nya itu singkat. Menepuk nepuk bahunya. Merasa prihatin sekaligus bersalah dengan lelaki ini.

“Kau simpulkan sendiri, hyung. Aku akan mengantar Sehun.”

//

Wu Yifan memaki waktu yang berjalan dengan begitu lambat. Semakin menyiksanya dalam perasaan yang perlahan menusuknya.

Yoona dan Sehun, apa mereka benar benar berkencan? Apa Yifan bisa mempercayai ucapan orang mabuk seperti Sejun?

APA KAU PIKIR AKU TIDAK INGIN MENYERETNYA KE HADAPAN AYAH!? APA KAU PIKIR SEMUDAH ITU!?

Tapi kenapa Sehun mengatakan itu? Kenapa ia seolah membenarkan ucapan kakaknya? Apa maknaenya itu benar benar kekasih Im Yoona yang sebenarnya?

Yifan menjatuhkan diri di kasur Kyungsoo. Jemarinya mengangkat sebuah kalung yang baru saja ia temukan di lantai ruang tamu. Kalung itu berwarna putih dengan sebuah cincin sebagai bandulnya. Sepertinya lepas saat perkelahian tadi.

Dia punya dugaan kuat kalau itu milik Sehun.

Karena ada sesuatu yang terasa familiar dari cincin itu. Matanya mengamati dengan jeli. Berusaha menemukan jawaban dari berbagai pikiran yang berkecamuk di otaknya.

Seseorang memberikannya padaku. Sebagai tanda persahabatan

Persahabatan huh? Yifan tidak bodoh. Seberapa keras pun ia mencoba melihat perbedaannya, tetap  saja ia tak menemukannya. Cincin yang ia yakini punya Sehun itu adalah versi sederhana dari cincin yang kemarin ia lihat melingkar di jemari Yoona.

Yifan memejamkan matanya. Menahan air mata yang mulai bergerumul di sudut matanya. Memorinya memutar percakapannya dengan Yoona selama ini. Mengingat ucapan wanita itu tentang pria yang menguasai hatinya. Mengingat Sehun yang jatuh sakit bertepatan dengan publikasi hubungannya dengan Yoona. Mengingat Yoona yang panik saat tahu Sehun pingsan di bandara. Mengingat Yoona yang terus terusan menanyainya tentang kondisi Sehun.

Semuanya cocok.

Sehun mencintai wanita lain.

Dia mengingat percakapannya dengan Jessica beberapa hari yang lalu. Wanita itu pasti sudah tahu. Apa saat itu Jessica sebenarnya ingin memberitahu Yifan? Seharusnya Yifan kecewa dengan Jessica, tapi yang Yifan rasakan sekarang hanyalah perasaan kosong.

Saat Yifan membuka matanya, ia menangkap sebuah kotak di atas kasur Sehun. Ia kemudian bangkit, mengingat tadi Sehun berada di sana saat ia mendadak masuk.

Itu adalah sebuah brankas mini yang terbuka. Sepertinya Sehun terlalu terkejut saat Yifan masuk dan menyembunyikannya di balik bantal dan tak sempat menutupnya kembali karena Yuri mengabarinya tentang kondisi kakaknya. Tunggu, apa itu benar milik Sehun? Tapi siapa lagi diruangan ini yang akan cukup gila dengan membeli sebuah brankas? Hanya Sehun. Mungkin saja Sehun perlu tempat untuk meletakkan semua kekayaannya.

Yifan melirik isinya yang berantakan. Entah kenapa ia punya perasaan kalau itu semua akan menjawab semua pertanyaan di otaknya. Yifan punya dugaan yang bagus tentang apa isinya jadi ia menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya dan menumpahkan semua isi brankas itu ke kasur.

Lelaki itu mengambil salah satu polaroid hanya untuk menggigit bibirnya. Menahan emosi yang membuncah di dadanya.

Sehun mencium pipi Yoona yang tertawa lebar. Dibawah polaroid itu, ditulis dengan tinta merah adalah gambar hati yang sangat banyak.

Foto selanjutnya adalah Yoona yang sedang tertidur. Yifan mengenali tulisan Sehun yang menuliskan ‘My very kind of angel’ dibawahnya.

Lalu ada Yoona dalam balutan kostum Minnie Mouse memberikan flying kiss. Dibelakangnya tertulis, A kiss from Minnie for Kingsman ❤

Kemudian Sehun yang sedang cemberut dengan rambut pelanginya. Tulisan dibawahnya mengatakan. Pout pout, my candy man!!

Yifan tak sanggup melihat lebih jauh lagi. Ia mendongak menatap langit langit putih itu. Hatinya seperti dirajam. Sakit sekali.

Yoona

Sehun

Mereka adalah sepasang kekasih.

Dan foto Sehun dengan rambut pelanginya membuktikan bahwa hubungan mereka sudah berjalan sangat lama.

Amarah merengsek naik ke kepalanya. Sialan, mereka sudah berhubungan selama itu dan tidak ada yang mengetahuinya? Sehun tidak memberitahu dirinya? Membernya? Apa selama ini mereka tidak berarti untuk Sehun? Apa Sehun takut member lainnya akan merebut Yoona darinya? Hell.

Bukankah kau yang akan merebut Yoona nantinya?

Yifan segera menyingkirkan pikiran itu jauh jauh. Tidak, dia tidak mungkin merebut Yoona dari Sehun. Tapi kemudian, hati kecilnya tak dapat dibohongi. Dia pasti akan memandang Sehun berbeda, dengan caranya sekarang kalau tahu Sehun dan Yoona saling mencintai. Semuanya pasti akan berbeda.

Kalau Sehun menceritakannya dari awal, mungkin ia akan belajar melepaskan Yoona!

Pembohong.

Bukankah Yifan menyukai Yoona dari awal? Bukankah dia berada disini, pada detik ini dan menikmati popularitas demi wanita itu? Bukankah dulu sekali ia mengatakan kalau Yoona adalah alasannya bertahan?

Yifan menggeram. Konflik batinnya membuatnya pusing. Saat ini yang Yifan inginkan hanya menyeret Sehun dan menghajarnya sampai puas.

Sialan, Sehun sudah mendapatkan segalanya! Berasal dari keluarga terpandang, diberkati dengan fisik sempurna, diterima oleh member yang lain, disukai oleh banyak orang! Tidak bisakah dia berhenti untuk serakah dan memberikan Yoona untuknya? Kenapa mesti Sehun? Kenapa harus orang yang ia pikir begitu mengerti dirinya yang harus memiliki wanita itu?

“KENAPA HARUS SEHUN!!!!????”

Ruangan itu menggemakan suaranya. Seolah tidak ingin melepaskan Yifan dari belenggu sakit hatinya. Yifan begitu marah hingga ia merasa sesak.

Kalau sudah seperti ini apa yang harus dilakukannya? Apakah ia harus melepas Yoona? Tapi Yifan tak sanggup. Sangat tak sanggup. Wanita itu sudah mengambil seluruh hatinya sejak ia pertama kali memberikan senyumnya untuk Yifan. Dia memberikan Yifan kekuatan untuk terus maju. Memberinya alasan kenapa ia harus tetap berusaha keras.

Karena Yifan ingin pantas bersanding dengan Yoona.

Pria dua tahun yang lalu, yang jatuh cinta padanya, tidak pantas dengan Im Yoona yang jelita. Wanita hebat sepertinya tak bisa bersanding dengan pria lemah yang minim pengalaman di dunia yang kejam ini. Bagaimana Yifan akan melindungi Yoona nantinya kalau Yifan saja belum tentu mampu melindungi dirinya sendiri? Jadi saat itu Yifan memutuskan kalau ia akan menjadi cukup kuat, cukup bersinar untuk seorang Im Yoona. Dia akan bekerja agar semua orang bisa menerimanya. Seperti orang orang itu menerima Yoona. Dia tidak ingin mempermalukan Yoona. Dia ingin semua orang berdecak kagum karena Yifan dan Yoona adalah pasangan yang sempurna.

Wu Yifan bisa menjadi sempurna bersama Im Yoona disisinya.

Ya, dia selalu mempercayai itu. Untuk itu ia bekerja keras. Mencoba tetap bertahan disini saat banyak orang menyakitinya. Mencoba mengabaikan setiap omelan yang datang padanya. Mencoba berdamai dengan Suho dan manager yang tidak ramah. Semua ia lakukan karena ia ingin penerimaan. Ia ingin hebat dan sukses agar sepadan dengan Yoona.

Hal yang tidak ia sadari karena Yifan begitu tenggelam dalam kerasnya dunia entartainment, adalah Yoona menghilang dalam genggamannya bagai asap. Yifan lupa mempertimbangkan kemungkinan kalau sepeninggal Donghae, ada lelaki lain yang menyembuhkan luka wanita itu.

Dan ia merasa sangat menyesal sekarang.

Seharusnya ia tidak fokus dengan karirnya. Seharusnya ia mendengarkan perkataan Jessica untuk segera mengisi hati Yoona dua tahun lalu. Seharusnya Yifan ada disamping wanita itu dan tak membiarkan laki laki lain menyembuhkan lukanya. Seharusnya dan seharusnya.

Aku bukan tipe yang bisa berbagi dengan wanita lain, Jiaheng.

Apa sebenarnya Jessica bertanya padanya? Apa itu alasan kenapa dia tersenyum sangat aneh? Apa itu alasan dibalik perasaan was wasnya?

Apa aku bisa berbagi hati dengan pria lain?

Yifan akhirnya jatuh dilantai yang dingin. Dia memeluk lututnya dan menangis tersedu sedu disana. Menyesali semuanya. Memaki banyak hal.

Kalau saja dia ada disisi Yoona dua tahun lalu, akankah wanita itu bersamanya?

//

Sekali lagi Kim Jongin menghela napas panjang. Tatapan matanya menatap riak air dengan muram. Disisinya Kwon Yuri menatapnya prihatin dan mengulurkan tangannya, merangkul tubuh lelaki itu. Luka luka Sejun sudah diobati dan Sehun sudah masuk kamarnya, mengatakan dia ingin tidur setelah meminum obatnya. Dan kini mereka berdua duduk pada ayunan di pinggir kolam renang yang dingin dengan hanya ditemani cokelat hangat.

“Semuanya akan baik baik saja, Jongin.” bisik Yuri pelan.

Setengah jam yang lalu, Oh Sehun menangis dihadapan mereka berdua. Menceritakan semuanya. Seluruh rahasia yang dia pendam. Mengetahui semuanya, membuat Yuri berpikir ada bagusnya kalau dia tetap menyimpannya sendirian. Karena rahasia itu hanya akan menyakiti lebih banyak orang.

“EXO tidak akan pernah menjadi EXO tanpa Kris di dalamnya.”

Yuri ingat bagaimana tatapan nanar yang Sehun lemparkan padanya. Membuat Yuri sesak oleh bayangan kepergiaan salah satu membernya. Dia tidak merasakannya, tapi ia cukup yakin kalau dia tak akan bisa menahannya. She’s going crazy for sure.

Yuri merasa kesal sekali karena selama ini menuduh Sehun bertindak begitu egois dan menyakiti Yoona. Dia tidak bilang Sehun tidak egois, hanya saja jika Yuri berada di posisi Sehun, ia pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan membernya.

“Kalau,” Jongin mendorong pelan ayunan yang mereka duduki dengan kakinya, “kenyataannya seperti itu. Mungkin akan lebih baik semuanya tetap menjadi rahasia.”

Kali ini Yuri menghela napas. Dia sebenarnya sudah lelah bermain rahasia rahasian. Rahasia hanya akan menyakiti banyak orang. Tapi kalau hubungan Yoona dan Sehun tidak dirahasiakan, keutuhan EXO akan terancam. Mungkin berlebihan mengatakan Kris bertahan hanya karena seorang wanita, tapi seperti itulah kenyataannya.

Di dunia dimana seorang yang normal bisa dengan mudah mengalami gangguan mental, motivasi sangatlah penting. Yuri mengerti itu. Di dunia yang kejam ini, seseorang harus memiliki prinsip dan tujuan yang kuat. Agar bisa bertahan tanpa menjadi gila dengan semua tekanan yang diberikan.

Dan bagi Kris, Yoona adalah motivasinya. Dia tidak tahu dengan pasti perasaan lelaki itu pada teman sekamarnya tapi melihat tatapan Kris beberapa jam yang lalu membuatnya yakin kalau dia mencintai Yoona. Sangat. Dan itu sangat tidak bagus.

Kini Kris sudah tahu tentang hubungan Yoona dan Sehun, apa yang akan dilakukannya? Yuri mendesah dan menatap Jongin yang masih terlihat sendu. Tentu saja, Jongin pasti ketakutan. Kalau Yuri ada di posisi Jongin sekarang dia akan pergi klub dan meminum soju, mencoba melupakan hal yang dia dengar hari ini.

“Aku benci mengatakannya, tapi yah sekarang semuanya sudah terbongkar.” gumamnya.

Jongin mengusap wajahnya kasar. “Anak itu. Dia pasti kesulitan kan? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya sekarang.” Kemudian menjatuhkan pandangannya pada jendela kamar Sehun yang gelap. “Kalau ketakutannya terjawab, dia pasti akan merasa bersalah sampai ingin mati.”

Yuri tertawa getir. Dia sendiri bingung bagaimana Sehun bisa bertahan sejauh ini. Bagaimana dia bisa bersikap biasa dihadapan Kris saat dia tahu kalau lelaki itu mencintai dan begitu menginginkan kekasihnya. Tidak heran kalau Sehun sampai menempuh jalan hipnoterapis untuk melupakannya. Dia pasti sudah gila jika tidak melakukannya.

“Sekarang apa yang akan kita lakukan? Yoona dan Sehun sudah berakhir. Kris sudah mengetahui hubungan mereka dan kini Oh Sehun dijodohkan oleh keluarganya.” Yuri menggigit bibirnya,

Jongin terdiam. Pilihan terbaik saat ini adalah tetap membiarkan Yoona dan Kris menjalankan hubungan mereka.Walaupun kini Kris tahu itu tidak merubah apapun. Seperti yang Yuri katakan, Sehun dan Yoona sudah berakhir.

Tapi tentu saja Sehun yang tersakiti disini. Meskipun ia bilang bahwa dia menerima kepergian Yoona. Meskipun ia mengatakan dia akan melupakan wanita itu dan melanjutkan hidupnya. Meskipun ia bilang kalau mereka berdua sudah sepakat, bahwa mereka tetap tak bisa bersama bahkan jika tak ada masalah ini. Jongin tahu Sehun tetap kesakitan di dalam sana. Tahu dia merasa hampir mati setiap harinya.

Yah, hanya ini pilihan terbaiknya. Membiarkan Yoona dan Kris tetap berhubungan. Menyakiti Sehun. Sedangkan pria itu akan tetap dengan lukanya dan dijodohkan dengan wanita lain. Setidaknya ini akan sedikit mengurangi rasa sakit pria itu. Mungkin Sehun kehilangan Yoona, tapi dia tidak akan kehilangan Kris. Kalau sampai Kris memutuskan hengkang hanya karena Yoona dan Sehun pernah menjadi sepasang kekasih, dia akan menghajar lelaki itu sampai mati. Jongin bersumpah.

“Kita tak bisa membiarkan Yoona dan Sehun bersatu. Sehun tidak akan menginginkan itu. Aku tak menginginkan itu. Aku dan Sehun tidak bisa kehilangan Kris. EXO tidak bisa kehilangannya.” Jongin menoleh dan menatap Yuri yang diam memainkan jemari tangannya.

Mendengar itu entah kenapa membuat Yuri marah. Dia menatap Jongin yang tampak serius. Bukankah seharusnya lelaki ini bisa bersikap netral? Tapi Yuri tak bisa menyalahkannya. Yuri mencoba menempatkan dirinya di posisi Jongin. Dia pasti akan melakukan hal yang sama. Dan itulah yang membuatnya marah. “Aku tidak setuju. Jangan egois, Jongin. Kau tahu betul kalau itu hanya akan menyakiti Yoona.”

“Toh mereka sudah berakhir!” Jongin akhirnya bangkit dengan terengah engah. Dia menjadi emosi. Bukan karena perkataan Yuri tapi lebih karena dia frustasi tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tatapannya sekali lagi melirik kamar Sehun yang berada di lantai dua. Jongin marah karena tidak ada yang bisa dia lakukan untuk temannya yang sedang sakit disana. Jongin tidak bisa memeluk Sehun dan mengatakan semuanya akan baik baik saja. Karena dia tahu semuanya tidak akan baik baik saja.

Yuri memejamkan matanya sejenak. Mencoba tidak terpengaruh dengan emosi Jongin meskipun sebenarnya dia sangat ingin berteriak. Jongin sedang kalut saat ini, emosi Yuri hanya akan memperburuk keadaan. Sehun sedang sakit dikamarnya dan Oh Sejun babak belur. Keadaan sudah buruk tanpa perlu Yuri menambahnya dengan pertengkarannya dengan Jongin.

“Mereka saling mencintai!  Mereka tersakiti demi melindungi orang lain. Kurasa kau sudah paham kalau kebahagiaan Sehun ada pada Yoona. Mereka pantas untuk bahagia, Jongin. Pasti ada jalan. Kita hanya perlu duduk dan memikirkannya dengan kepala dingin.”

“Terimakasih sudah memikirkan kebahagiaan Sehun.” Jongin berujar dingin. Dia melangkahkan kakinya, bermaksud mengakhiri pembicaraan mereka malam ini, “Omong  omong Sehun sudah menawarkan kesempatan terakhir pada Yoona dan dia menolaknya. Terlepas dari apapun, Yoona sudah membuat keputusan. Kau harusnya menghargai itu. Bukankah kau juga paham bahwa dalam sebuah hubungan cinta tidaklah cukup?”

Jongin akhirnya melangkah dengan hati berat. Lelaki itu tahu bahwa sebenarnya Yuri mengerti. Mengerti kalau ini adalah pilihan terbaik. Dan itu yang membuat Jongin marah. Yuri tahu kalau ini adalah yang terbaik and yet she still desperately wants the happily ever after for them.

“Jongin-ah….”

Lelaki itu menghentikan langkahnya. Dia ingin memeluk Yuri dan menghentikan tangisnya. But she needs to wake up from her failed attempt. Jadi Jongin hanya membalikan tubuhnya. Sekali lagi mencoba teguh. Meskipun memikirkan Sehun sendirian dan tersiksa begitu membuatnya marah dan sedih.

“Kau mungkin tidak menyukai pilihan ini. It’s okay, kau boleh membenciku karena ini. Tapi aku bersumpah tidak akan membiarkan Kris pergi. Meskipun itu artinya aku harus menyakiti Yoona dan Sehun.”

//

“Oh Sehun, I suppose?”

Sehun menyunggingkan senyum tipis dan mengulurkan tangannya kearah wanita yang tersenyum lebar menyambut tangannya. Indeed, wanita pilihan ayahnya bukan main main. “Song Li An” katanya menyebut nama wanita disampingnya.

Mata wanita itu menjelajahi restoran super mewah itu dengan seksama. Mencoba menemukan kejanggalan. Li An tahu betul dengan siapa pria yang merangkulnya kini.

“Tak perlu khawatir dengan paparazzi. Ayahku sudah mengatur hal itu.” Sehun berbisik pelan saat menarik kursi untuk Li An. Ah, dia adalah pria yang cerdas. Tipe yang disukai Li An.

Mereka memesan makan malam dan tidak mengatakan apapun. Li An memang bukan tipe wanita yang suka berbicara dan sepertinya pria itu sama sekali tidak keberatan. Dan itu mulai membuatnya kesal, sungguh. Bukankah ada banyak yang harus mereka bicarakan? Tapi membuka pembicaraan? Bukankah harusnya pria itu yang memulainya?

Berperang dengan egonya, Li An sampai tak sadar kalau makan malam mereka telah habis. Dan kini ia benar benar kesal setengah mati. That’s it? Ia berdandan susah payah dan yang pria itu ucapkan hanyalah namanya? Wow. Harga dirinya terluka.

“Jadi….kita akan menikah?”

Pada akhirnya Li An mengalah pada egonya meskipun ia kesulitan menahan hasrat ingin menjambak lelaki itu. Semua orang memuja Li An dan Oh Sehun hanya tersenyum tipis melihatnya. Tidak terlihat terpesona dengan penampilan Li An yang sebenarnya sangat outstanding.

“Ya” Sehun berucap pendek dan mencondongkan tubuhnya ke arah Li An, “Aku rasa kau punya banyak pertanyaan untukku.”

Sialan, Oh Sehun memiringkan kepalanya dengan senyuman maut yang berhasil membuat jantung Li An menggila. Yatuhan, terberkatilah orangtua pria itu!

“Apa kau akan menjawab kalau aku bertanya?”

“Bukankah kita akan menikah?” Sehun terkekeh, “Lets drop our formality Lian.”

Lian menghembuskan nafas perlahan. Mencoba menetralkan detak jantungnya akibat pertanyaan sederhana lelaki itu. Ya mereka akan menikah. Dan Lian menyukai gagasan kalau Oh Sehun lah yang menjadi calom suaminya.

“Kenapa kau menerima perjodohan ini? Bagaimana dengan karirmu? Apa kau sama sekali tidak keberatan menikah dengan wanita asing?”

Sekonyong konyong ekspresi Sehun menjadi sendu. Aura kuat dan tegas yang tadi Lian rasakan menghilang. Pria itu memejamkan matanya sebelum melepaskan kekehan kecil, “Lian, apa kau keberatan dengan pernikahan ini?”

“Tidak.” jawabnya cepat. Terlalu cepat hingga mengundang senyum tipis Sehun. Ah, wanita ini terlalu mudah ditebak. “Hanya saja kita akan hidup bersama. So, aku pikir kita harus mulai membiasakan diri satu sama lain”

“Benar” Sehun menopang dagunya dan menatap Lian serius, “Tell me, apa yang kau harapkan dari pernikahan ini Lian?”

Lian merasa tersinggung. Sehun berbicara seolah lelaki itu tidak mengharapkan pernikahan ini. Tidak menginginkan menikah dengan Lian. Okay, Lian tahu ini adalah perjodohan. Wajar bagi pria itu untuk tidak menginginkan hal itu. Tapi Lian merasa kesal saja entah kenapa. Ia terbiasa untuk dipuja bahkan oleh relasi bisnis ayahnya. Dan Oh Sehun tampak tidak punya niatan untuk memujanya.

“Aku menginginkan sebuah pernikahan yang sebenarnya. Bukan karena perjodohan.” Senyum yang dilemparkan lelaki itu membuatnya tersinggung. Ugh, baiklah karena lelaki itu menantangnya maka Lian akan mengikuti arah permainannya. Jangan panggil dia Song Lian kalau ia mau saja dibodohi oleh pria!

“Enlight me, please?”

Lian menatap Sehun ragu. Tidak yakin pria ini murni tidak tahu atau hanya ingin menggodanya. Ia pikir kalimatnya sudah sangat jelas. Tunggu, apa jangan jangan si bungsu Oh ini ingin mengejeknya? Lian tidak tahu dengan pasti karena semua pikiran mendadak kacau saat Sehun kembali menyunggingkan senyuman mautnya. Jemarinya meraih tangan Lian yang berada di meja. Mengusapnya lembut, membuat Lian menggelinjang geli. Sialan Oh Sehun!

“Lian, aku akan menikahimu” ia berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang, “Setelah aku menyelesaikan wajib militer. Itu adalah syaratku.”

Ah tentu saja! Ini adalah perjodohan. Tentu saja akan ada perjanjian perjanjian konyol antara kedua mempelai. Seperti drama drama yang sering Lian tonton. Dan sekali lagi itu membuatnya kesal. Dia tak menginginkan pernikahan yang seperti itu!

“Katakan syaratmu, Lian. Aku perlu tahu apa yang kau inginkan.”

“Kenapa harus menunggu hingga selesai wajib militer? You’re too young for that!”

Sehun terdiam sejenak, “Kenapa?” gumamnya lebih kepada dirinya sendiri, “Karena aku akan membawamu pergi dari Korea setelah itu.”

Lian tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Itu artinya ia akan melepaskan karirnya kan? Sungguh ia tak ingin karir Sehun hancur karena pernikahan. No, she’s fine with his job really. Lian mungkin wanita yang angkuh dan manja, tapi ia tak akan pernah mau menghancurkan mimpi orang lain.

“Bagaimana dengan karirmu? Ah, tunggu” Lian mengangkat tangannya saat memikirkan opsi yang tidak terlalu buruk untuk mereka berdua, “Maksudmu kau ingin menunda mengambil wajib militermu dan memuaskan diri dengan karirmu terlebih dahulu? I’m okay with that, really.  Jangan melepas karirmu untukku, Sehun.”

“Ini bukan tentangmu” Sehun mendesah dan menunduk, “Lagipula  aku sudah cukup puas dengan apa yang telah kucapai.” Saat ia mengatakannya suaranya terdengar melayang jauh. Seolah ia sedang mengingat hal hal dimasa lalu.

Tapi kenapa Sehun ingin pergi dari Korea? Meskipun ayahnya adalah orang Taiwan, pikiran meningalkan tanah kelahirannya membuat Lian sedih. Apa mereka tak bisa tinggal di Korea saja?

“Aku keberatan dengan meninggalkan Korea, Sehun. Tak bisakah ki—“

“Song Li An, ini adalah syaratku, remember?” Lelaki itu mengeratkan tangannya yang menggenggam jemari Lian, “Sudah cukup berbicara tentangku. Kau belum mengatakan kemauanmu, Lian.”

Baiklah, mungkin ia bisa merubah keputusan Sehun nantinya, “Sudah kubilang Sehun, aku menginginkan sebuah pernikahan yang sebenarnya. Pernikahan bukan hal main main untukku. Aku tak ingin perjanjian perjanjian konyol seperti di drama drama. Saat kau menjadi suamiku, kau adalah milikku.”

Sehun mengangguk paham. Wanita dihadapannya begitu mudah ditebak. Bukan tipe yang disukainya. Manja dan punya harga diri yang tinggi. Sehun sempat ragu apakah mereka akan cocok mengingat Sehun pun memiliki sifat yang sama. Tapi apakah kecocokan itu penting sekarang? Pikirnya murung.

Pernikahan yang sempurna, itukah yang Lian inginkan?

Tapi bukan itu yang Sehun dambakan. Oh Sehun tahu bahwa sampai kapanpun ia tak akan pernah merasa sempurna dengan Song Li An.

“Anything for you, Lian.”

Lian tak dapat menyembunyikan senyumnya. Ini berjalan dengan mudah. Kekhawatiran akan pernikahan bisnis yang terus menghantuinya sejak ayahnya mengatakan perjodohan ini mereda.

“Kalau begitu, hanya ini syaratku, Sehun. You’re fine with that?”

Sehun mengangkat kepalanya dan kini senyumnya tampak sedih, “Lian, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Aku akan bersikap seperti suami yang sebenarnya untukmu. Aku tidak akan menyelingkuhimu dengan wanita lain. Aku akan menjadikanmu ratu dalam hidupku.”

Saat Sehun mengatakannya, Lian tahu itu adalah hal yang paling membahagiakannya. Jantungnya berdebar dengan keras memikirkan kehidupan pernikahan yang manis dengan suami yang tampan bak pangeran. Kemudian mereka akan memiliki putra putri yang lucu dan hidup bahagia selamanya. Tidak selamanya perjodohan akan berakhir buruk kan?

Lian begitu bahagia hingga ia tak menyadari ekspresi Sehun tampak begitu murung. Begitu sedih. Ia memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang merengsek keluar. Sehun tak boleh menangis dihadapan Lian. Dia tak ingin menangis dihadapan wanita asing yang akan menjadi istrinya.

“Sehun?”

Sehun membuka matanya. Menatap mata besar Lian yang menatapnya khawatir. Mata Lian sangat indah. Gaun biru tuanya juga jatuh dengan elegan di tubuh mungilnya. Rambutnya pendek dan dipotong dengan bergaya. Lian memang cantik.

But no matter how gorgeous she is, she can’t be her. 

Dihadapan Lian, Oh Sehun menatapnya sendu. Dan nyatanya pria itu tampak sangat lelah. Seperti ada berton ton batu diletakan dipundaknya. Lian menyentuh punggung tangan Sehun, “Sehun kau baik baik saja?”

“Kau bisa memiliki semua hal dalam hidupku, Lian. Namaku, tubuhku, waktuku. I’ll give it to you” katanya menatap Lian dengan kosong, “Itu janjiku padamu. Namun ada satu hal yang tidak bisa kuberikan padamu.”

Lian mendesah. Ia sebenarnya tidak keberatan dengan satu syarat lagi. Sehun toh sudah berjanji padanya. Namun ekspresi murung Sehun mendadak membuat Lian merasa gelisah, “Apa?”

“Hatiku,” Sehun menjawab dengan bergetar, “aku tak bisa memberikannya, Lian. Kumohon, biarkan aku memiliki hatiku sampai akhir.”

Biarkan aku mencintai Im Yoona hingga tak ada lagi  napas yang mengingat cintanya di raga ini.

///

keut!

00 : 00

Happy New Year! Happy 2k17! Semoga gua bisa nyelesein cerita ini sebelum taun baru 2018 ya wkwk. Sengaja di post pas jam pergantian taun baru. Biar lucu aja wkkw.

Ada 28 halaman dan entah berapa word ini chapter. Maap kalo adegan Yoona-Sehunnya kurang heartbreaking. Gatau kenapa akhir akhir ini susah banget buat jadi menye menye kwkw. Dan tadi ini awalnya banyak banget adegan yang rumpang karena nulis sesuai inspirasi dan jaraknya itu bisa jauh jauhan wkkw.  Makanya feelnya pasti nyampur nyampur karena gaya bahasanya bisa beda beda per adegan wkkw. Males ngelanjutin sebenernya eh terus iseng baca ulang komen kalian jadi semangat lagi. Ini serius.

btw gatau lagi nih kapan mau update. 2017 adalah tahun dimana aku harus siap tempur di sbmptn. Yeah im #pejuangsbmptn wkwk. Tapi sekali lagi aku tekankan, aku bakal selesein ini cerita.

Anyway, i’m afraid I’ve lost my ability to write 😦 Jadi sekali lagi mau minta maap nih kalo chap ini lagi lagi super ngebosenin 😦 gua aja miris bacanya tau 😦 feelnya juga terasa hambar 😦 maaaappp banget serius

But still, please drop your comment below. Cheer me up for this last chapter. Oh yeah, this story left with around two or three chapter. So please, look forward to it kkkk~

with love,

aressa.

 

p.s. udah liat teaser baru nct? duh bruh, taeyong biar rambut kaya gembel ga shampoan sebulan ko tetep bikin hati cenat cenut ya. angkat tangan yang setuju hayo

 

145 thoughts on “Hidden Scene [17]

  1. lian………………..oh my gosh who the hell she is. kenapa nyesek banget min bacanya, o my god aku gak terima kl gak yoonhun ending nya 😦

  2. Akhirnya update lagi setelah sekian lama aku nunggu , wkwkwk sampe lupa kalo aku nunggu eonni update . Baca nya bikib baper banget, sedih , bisa ga kalo sehun sama yoona bersama ? Hahaha

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s