Pretending

by
Clora Darlene

Main Cast
Im Yoona | Oh Sehun

Length Rating | Genre
694 words PG-13 | Romance

Yoona mengambil beberapa sundress dari gantungan, lalu ia berdiri di depan sebuah cermin besar yang ditempel di dinding sebuah butik terkenal di pusat Kota Seoul. Yoona mulai menempelkan dress-dress tersebut di bagian depan tubuhnya, lalu menyampingkan badannya untuk memandangnya dari sisi yang lain, menimbang-nimbang manakah sundress yang terlihat tepat dan cocok untuknya.

“Saya mengatakan hal ini bukan karena Anda adalah Pelanggap VIP kami, Nona Im. Tapi, Anda tampak luar biasa mengenakan apapun.” Wanita yang dibalut dengan tailleur berwarna pastel tersebut yang berdiri tidak jauh dari Yoona.

Yoona tersenyum tersipu malu. “Sebenarnya, itu berlebihan. Tetapi, terimakasih.” Setelah memilih-milih dan menimbang-nimbang empat sundress yang telah ia keluarkan dari gantungan baju, Yoona akhirnya membeli semuanya. Tidak tanggung-tanggung. Setelah keluar dari butik tersebut dengan membawa dua paper bag berukuran besar, Yoona masih memiliki pemberhentian selanjutnya.

Ia butuh anting-anting baru. Jadi, ia menuju sebuah store khusus menjual perhiasan―Cartier. Ia disambut super hangat pertama kali ia menapakkan kakinya yang mengenakan stiletto milik Christian Louboutin. “Selamat siang, Nona Im. Selamat datang di Cartier.”

“Terimakasih, Hyera.” Yoona tersenyum hangat, membalas sapaan sang store manager Cartier Korea Selatan tersebut. Para pelayan store tersebut refleks membungkukkan badan mereka, menyambut kedatangan Yoona seakan-akan Yoona adalah shareholder sepenuhnya atas store tersebut. Ia masih tetap tersenyum hangat, membalas senyuman-senyuman yang terlontar kepadanya.

Setelah memberitahu apa yang ia cari kepada Hyera, manager itu langsung menuntunnya menuju bagian earrings. Banyak sekali macam-macamnya di sana, dan berkilau indah tanpa cacat. Yoona menimbang-nimbang sejenak lalu akhirnya memilih dua untuk dilihatnya lebih dekat.

“Anda selalu cocok mengenakan apapun, Nona.” Hyera memberikan pujiannya.

Yoona tertawa kecil mendengarnya. “Oh, astaga. Itu sangat berlebihan, kau tahu?”

Yoona kembali ke apartemennya yang berada di lantai dua puluh dua setelah seharian berkeliling di pusat perbelanjaan Seoul. Ia mendapatkan barang-barang yang ia butuhkan, dan ditambah barang-barang yang dia inginkan tetapi tidak terlalu dibutuhkannya. Ia mendapatkan empat sundress, padahal ia hanya butuh dua untuk mengisi lemarinya. Ia membutuhkan anting-anting baru, dan keluar dari store Cartier membawa dua buah set perhiasan dengan isi yang lengkap. Dan belum lagi barang-barang lainnya seperti clutch dan kacamata hitam.

Yoona menaruh paperbagpaperbag yang luar biasa banyak itu di atas sofa. Ia lalu pergi menuju lemari penyimpanan wine di dekat dapur apartemennya, membuka salah satu botol, meraih gelas tinggi, lalu menuangkannya. Ia kembali ke sofa dengan segelas wine di tangannya. Sebuah senyuman puas terlukiskan di wajahnya selagi ia dengan satu tangan mengeluarkan berbagai barang-barang barunya. Her new babies, begitulah Yoona memanggilnya semenjak pagi tadi. Senyumannya merekah lebar. Matanya bersinar di keremangan ruang tengah apartemennya.

Melihat barang-barang elit yang berserakan di sofanya tersebut membuat Yoona menyadari betapa menyedihkannya dirinya. Seharian berkeliling pusat perbelanjaan Seoul dengan berbagai credit card dan debit card yang tersusun rapih di dompetnya sepertinya tidak bisa membuat Yoona benar-benar bahagia. Yoona melemparkan pelan clutch yang berada di genggamannya ke atas sofa dan mendarat di atas beberapa tas yang juga ia beli. Betapa curangnya ia mencoba membeli kebahagiaan dengan uang melimpah yang ia miliki. Barang-barang tersebut, atau bahkan pujian yang terus ia dapatkan di setiap store yang ia masuki tidak benar-benar membuat beban di dalam hatinya terangkat atau berkurang.

Tidak banyak yang ia harapkan―hanya berkurangnya rasa hampa itu di dalam dadanya sedikit saja. Ia sudah berusaha keras sekali untuk mengisinya, tetapi masih ada sela-sela yang tidak bisa ia raih. Efek kepergian laki-laki itu di luar dugaannya. Hipotesa bahwa ia akan tetap baik-baik saja rupanya tidak terbukti benar.

Yoona memukul dadanya beberapa kali, mencoba meredam rasa sakit di dalam sana. Ia menyesap pelan wine-nya. Apartemennya terasa lengang. Kosong. Hening.

Laki-laki itu menyukainya mengenakan sundress, terutama jika mereka akan pergi kencan ke pantai. Laki-laki itu pernah membelikannya perhiasan dari Cartier. Laki-laki itu dan dirinya memiliki sunglasses couple. Laki-laki itu juga pernah memberikannya clutch.

Yoona telah membeli semua barang-barang yang begitu dekat maknanya dengan laki-laki itu, tetapi mengapa ia tidak bisa merasakan perasaan bahagia yang sama? Mengapa kebahagiaannya harus bergantung pada keberadaan laki-laki itu?

Rasanya sudah sangat lama bagi Yoona merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk terakhir kali. Kebahagiaan versi Im Yoona. Kebahagian di mana Oh Sehun ada di sana bersamanya.

Yoona mendengus pelan lalu kembali meminum wine-nya. Cinta mati tidak seindah yang ia baca di buku-buku kesukaannya atau di film-film nomor satu di bioskop dekat apartemennya.

End.

Advertisements

6 thoughts on “Pretending

  1. Hanjiiirrrrr
    Sakit tau tidak berdarah 😂😂
    Next thorr ditunggu sequel selanjutnya
    Ditunggu scene mpok yunah mendapatkan kebahagiaannya kembali 😁😁😂😂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s