Merveille

original (1).gif

—-

pimthact storyline

– Chanyeol Park ; Yoona Im –

John Green pernah mengatakan, semua orang memiliki keajaiban; seperti memenangkan jackpot, atau menjadi pencetak gol terakhir di NBA; Mungkin berhasil ke luar angkasa atau menikahi Ratu Inggris. Jika kau memikirkan semua hal yang tak mungkin terjadi di dunia, pikirkan juga kalau salah satunya akan terjadi pada kita

Dan Yoona baru saja memikirkan hal itu. Ia menutup buku setebal 550 halaman lalu dilemparkan secara asal. Tatapan nya mengarah pada jendela di pojok ruangan, berharap suara pintu terbuka akan segera hadir dan memberikan sebuah kejutan dengan datang nya lelaki membawa dua kotak pizza.

Yoona menjadi cemas, ada apa? apa semua yang di dengar benar?

Ia mengambil jaket hitam dan keluar dari rumah. Pandangan nya menelusuri rumah besar yang ada di seberang rumah nya. Menilik pada jendela, dan sekali lagi ia berharap, suara jendela atau pintu terbuka akan segera hadir. Namun setelah berjalan 500 meter jauhnya, ia tetap tak mendengar. Dengan berat hati, ia melepas pandangan dari rumah besar itu.

Angin sejuk dan matahari yang baru saja bersinar menjadi rasa pertama Yoona hari ini. Oh tentunya, dengan suara ribut dari anak-anak yang sudah memenuhi rerumputan luas di dekat kolam. Ia mengingat bagaimana ia berada disana untuk terakhir kalinya, bersama seorang teman-duduk diatas perosotan, memandang bagaimana Matahari akhirnya bersembunyi di balik kolam air.

Yoona tersenyum dan melambai ketika salah satu anak disana menyapa. Ia lalu melanjutkan perjalanan nya, memandang rumah-rumah besar yang sudah terbangun beberapa tahun lalu. Yoona ingat sekali ketika ia menaiki sepeda bersama teman sepuluh tahun yang lalu, rumah-rumah besar itu belum ada. Lalu ia bersama teman nya saling bertanya, “Jika tanah itu tidak untuk dibuat rumah, lalu untuk apa?”

Yoona ingat juga jawaban-jawaban konyol yang ia keluarkan. Tak terasa nostalgia kecil membuat Yoona sampai pada kedai kopi. Ia segera masuk dan memesan dua macchiato, dan duduk di dekat jendela. Jendela itu menjadi saksi keluh kesah, dan pengalaman indah bersama teman. Hal yang paling menjijikkan yang Yoona ingat adalah mengeluarkan nafas ke jendela dan menuliskan “Jongin is fucking jerk”– ide teman ketika Yoona dicampakkan oleh Jongin.

“Kudengar, Junsa Kim hamil.” suara-suara gadis komplek sudah mulai terdengar. Yoona terlalu malas mendengarkan berita itu lagi.

“Ah, tapi dia beruntung. Lelaki yang menghamili nya tampan sekali! dan katanya mau bertanggung jawab juga,” sambung yang lain.

“Yang mana sih lelakinya? Rumah nya juga di dekat kedai kopi ini?” tanya teman yang lain. Yoona tidak tahu lagi ada berapa orang disitu, yang jelas ia hanya mendengar suara yang berbeda-beda.

“Setahuku rumah itu di komplek ini juga, tapi lumayan jauh dari kedai kopi ini. Rumah nya hanya dua blok dari taman bermain.”

“Berarti dekat dengan rumah Yoona Im, kan?”

“Kau kenal dia?”

“Hanya pernah saling sapa beberapa kali saja.”

Yoona segera berdiri ketika macchiato sudah datang. Ia kemudian berjalan cepat, namun sebelum tangan nya berhasil mencapai pintu kedai, salah satu dari gadis itu memanggil namanya, “Yoona!”

Yoona berbalik badan, berpura-pura tersenyum manis. Ia melambaikan tangan nya, bermaksud membalas sapaan itu. Harapan nya untuk cepat pergi pupus sudah ketika gadis itu menyuruh Yoona untuk duduk sebentar bersama mereka. Yoona tidak pernah berpikir ide yang lebih buruk dari ini.

Saat Yoona duduk, gadis disitu menyapa nya sembari mengenalkan nama mereka satu persatu dengan memberikan senyuman paling manis. Namun Yoona sadar, bahwa senyuman manis itu hanyalah sebuah manipulasi dari rasa penasaran mereka. Oh, enyahlah mereka ini! gerutu Yoona.

“Yoona, kau sudah dengar kabar itu?” Finally, she asked it.

“Kabar yang mana, ya?” tanya Yoona pura-pura mengingat, “Terlalu banyak gosip yang menyebar, aku bahkan tak ingat satu pun.”

“Itu loh, tentang teman depan rumah mu! Kudengar dia menghamili Junsa Kim-ah, siapa namanya?” tanya seorang gadis berambut kepang.

“Ah, mungkin kalian salah dengar, aku sendiri belum mendengar berita apapun.” sanggah Yoona.

“Namanya —“

“Ah, sepertinya tadi adik ku menitip macchiato ini, kasihan jika ini menjadi dingin. aku harus bergegas, sampai jumpa!” sahut Yoona. Ia segera berdiri dan pergi meninggalkan kedai kopi itu tanpa menengok lagi ke belakang.

Rasa khawatir Yoona semakin memuncak ketika gadis itu mengatakan Junsa Kim akan dipertanggungjawabkan. Gosip apalagi ini?

Yoona tidak peduli lagi tentang mulut-mulut yang membicarakan sebuah gosip tanpa ada kebenaran nya. Ia harus membuktikan sendiri bahwa gosip itu salah, ia tahu bahwa teman nya tidak akan melakukan hal seperti itu.

Yoona: kau baik? balas kali ini, hei. Aku benar-benar khawatir, tahu!

Yoona tersenyum miris. Ini adalah kesekian pesan yang sudah ia kirimkan dan sama sekali tidak ada jawaban. Bahkan ini sudah memasuki hari kedua sejak kabar itu beredar dan dia belum memberi kabar pada Yoona.

Yoona terlalu lelah untuk khawatir, Yoona lelah memikirkan kabar teman nya. Sebenarnya jika dipikir, Yoona sudah pasti tahu dan sadar bahwa dia tidak baik-baik saja. Ah benar, dia sedang hancur.

Dan Yoona disini. Berada di depan rumah besar yang sepi penghuni. Ia tak melihat adanya mobil yang terparkir, apakah penghuni nya sedang tidak ada dirumah?

Yoona mengetuk pintu beberapa kali, namun belum ada jawaban. Jadi ia memutuskan untuk duduk di teras sembari menunggu pintu dibuka. Setelah beberapa menit menunggu, pintu tak kunjung dibuka. Akhirnya Yoona memutuskan untuk mengetuk sekali lagi.

Pintu itu terbuka. Lengkungan Yoona lenyap seketika ketika melihat penampilan teman yang membuka pintu. Dia tidak berantakan, tidak bertambah tirus, atau tidak sepucat adik nya-Sehun Im. Tapi pancaran matanya menghitam, gelap dan sepi. Tidak ada cahaya seindah sinar mentari pagi ini.

Yoona mengulurkan macchiato, memberikan kepada teman. “Terimalah. Secangkir kopi mampu meredakan jiwa marah dan hati yang memanas.”

Dia-Chanyeol Park, lelaki yang terus berada di pikiran Yoona sekaligus teman dekat Yoona- hanya menatap macchiato sejenak kemudian beralih menatap gadis yang berdiri di hadapan nya. “Kenapa?”

“Ini, Macchiato.” Yoona memberikan jawaban dengan senyum dan menggoyang-goyangkan macchiato di depan wajah Chanyeol. Tapi lelaki itu bergeming. Pandangan nya lurus, menatap Yoona.

Yoona menghela nafas, ia tak suka atmosfer bodoh ini. “Just take it, Dobi. Aku benci melihatmu seperti ini, aku sudah mengirimkan berbagai line untuk mengetahui kabar mu tapi bahkan kau tak membalas. Kau pikir aku tidak cemas? Aku sudah muak mendengar berita bodoh itu, tapi kau tidak mengatakan apa-apa. Setidak nya beritahu saja bagaimana kabarmu.”

Chanyeol masih terdiam, kemudian seukir lengkungan tercipta. “Yoona, ini urusan ku. Tolong bertindak dewasa dengan mengerti orang lain, jangan terlalu peduli.”

Yoona terdiam. Macchiato yang ia ulurkan kembali ia tarik. “Ah kau benar.” Yoona tersenyum meski sorot kecewa terlihat jelas dalam tatapan nya. “Aku terlalu kekanak-kanakan sehingga aku memikirkan kabar mu terus menerus, bahkan dengan bodoh nya aku mengelak berita itu untuk menunggu mu bercerita, im too stupid to think how care i am.”

“Kenapa?” Yoona menatap Chanyeol tak percaya. Yoona paham bahwa pertanyaan Chanyeol mengarah pada rasa peduli nya, tapi apakah itu harus dipertanyakan jika mereka sepasang sahabat? bukan kah sahabat harus saling peduli satu sama lain?

“Ini karena aku percaya padamu, dan aku sahabatmu. Kau lupa siapa yang mendatangi kamarku dan membawa popcorn beserta pizza ketika aku dilanda masalah besar? Kau bilang kita harus peduli. Lalu apa kali ini aku salah karena peduli?” tegas Yoona. Yoona ingin Chanyeol mencurahkan isi hatinya, membuat Yoona menjadi bermanfaat karena tetap berada di sisinya ketika semua orang sibuk menghakiminya.

“Kau sudah mendengarkan dari semua orang kan? kupikir itu cukup untuk mengetahui bagaimana aku.” sahut Chanyeol tak mau kalah.

“Aku mengatakan bahwa aku memercayaimu, aku tak peduli bagaimana gosip yang mereka sebarkan. Ini kisah mu, bukan kisah mereka. Kau pikir aku teman macam apa yang percaya begitu saja dengan menghakimi tanpa mendengar sebuah kebenaran. Setidak nya curahkan emosi mu! apa kau pikir aku bodoh dengan tidak melihat semua amarah mu terpendam? Jangan berpikir bahwa kau sendiri, aku membenci ini Dobi. Tapi bahkan aku tak bisa berhenti memikirkan mu.” balas Yoona. Ia tak mau lagi membuat Chanyeol egois dengan menanggung beban itu, ia tak kuasa ketika wajah cerah yang menjadi semangat nya hilang.

“Yoona, please.” Yoona hampir menyentuh titik terlemah Chanyeol. Semua yang dikatakan Yoona benar-benar menusuk Chanyeol, memberikan rasa sakit lebih mendalam namun juga mengobati yang sudah berlalu. Rasa sakit dan lega bercampur menjadi satu, mengaduk-aduk pikiran dan emosi Chanyeol.

Yoona terdiam beberapa saat, begitu juga Chanyeol. Pada akhirnya, Yoona mengulurkan macchiato lagi kepada Chanyeol. “Ini, Macchiato.”

Alih-alih memarahi atau menutup pintu dengan meninggalkan Yoona sendiri, Chanyeol menerima macchiato itu. Sengatan tangan dingin Chanyeol membuat Yoona memeluk lelaki itu tanpa berpikir dua kali. Ia tak suka sesuatu yang dingin, ia suka yang hangat dan menghangatkan.

Pada saat itulah, Chanyeol merasa bahwa dia sudah mencapai batas limit nya. Dia menangis dipelukan Yoona. Meski tidak bersuara, Yoona tahu seberapa besar emosi yang lelaki itu keluarkan. Chanyeol adalah lelaki yang jarang menangis, bahkan terakhir kali Yoona melihat Chanyeol menangis empat tahun lalu, ketika saudara sepupu nya meninggal dunia.

I dont want to be this way, i’m lonely, i’m lost” Yoona merasakan sebuah bisikan tepat di telinga nya. Suara itu kembali, tapi tidak dengan pembawaan nya. Entah mengapa, hati Yoona terasa sakit meski hanya mendengar suara Chanyeol yang berubah.

Hey, i’m here. I have a big hug waiting for you anytime you need one.” Yoona berbisik. Ia mengeratkan pelukan nya dan mengusap punggung Chanyeol.

“Ini salah, aku bersumpah bahwa malam itu aku memakai pengaman.” Yoona menutup matanya ketika rasa sakit itu datang tiba-tiba. Menyerang hatinya lebih dalam, sedalam harapan yang sudah ia buat sejak pertama kali bertemu lelaki ini. ternyata, berita itu benar. 

“Hey, semua bisa terjadi kapan saja. Tuhan memiliki rencana untuk kita, Dobi.” Yoona masih mengusap punggung Chanyeol untuk memberi sebuah hiburan.

“Tidak, ini salah. Ini sangat salah. aku berada di bawah pengaruh alkohol saat itu.” Chanyeol menggeleng beberapa kali. “Aku tidak ingin ada yang pergi lagi, tolong, jangan.”

Yoona tersenyum, ia tidak tahu lagi bagaimana rasa itu kembali muncul bersama dengan rasa sakit yang ia rasakan. “Dobi, i will always care for you, even if we’re not together, and even if we’re far, far away from each other.”

Chanyeol melepaskan pelukan mereka, namun kedua tangan nya menangkup pipi Yoona. Menempelkan kedua dahi mereka, ia ingin membagi emosi yang ia rasakan pada Yoona. Ia tidak lagi kuat untuk menanggung beban itu sendiri.

The problem is,” Yoona menatap mata merah Chanyeol yang tak lebih dari lima sentimeter. Namun mata itu tertutup, tidak berani menatap manik indah Yoona. Dan suara berat Chanyeol memenuhi telinga Yoona,

“I’m in love with you and i can’t lose you”

Miracle, huh John Green?

END

 

Hai semua. Saya sebagai salah satu penulis disini memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian saya dalam menulis dikarenakan saya fokus pada ujian nasional. Bagi penunggu Judge dan Younger, saya usahakan akan menyelesaikan kedua cerita itu dalam waktu yang tidak lama. Sebagai bonus, saya akan meng-update fanfic setiap hari minggu. See ya on next week!

With love, Pimthact.

 

Advertisements

5 thoughts on “Merveille

  1. Ini menusuk 😢
    Endingnya yang gantung lebih menusuk hatiii 😭
    Tapi keren thor, cara penyampaiannya, kata katanya, semua keren.
    Feelnya dapet, good job thor👍

  2. Berarti yoona m chanyeol cmn sahabatan y.tpi pas bca part trkhr,,maaf y ngga trlalu pahm bhsa.inggrisnya.cmn mnrt q chanyeol mengatakn cinta y ke yoona,,bener ngga thor…hehe..?semangatt y thor,,buat karya2’ya…keren…

  3. I can’t lose you. yoona will probably do anything just to keep chanyeol beside her ..
    pengen nangis baca yg beginian. sedih:(

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s