(Freelance) Close To You

115681438-256-k733352

Author                  : Catur Anggraheni

Cast                       : Lim Yoona, Oh Sehun, Bae Irene, Park Chanyeol, etc.

Genre                   : Romance

Category              : Oneshot

Author’s Note   : Pernah di post di wattpad dan wordpress pribadi dengan judul yang sama^^

ENJOY READING^^

Yoona menghela nafas panjang. Writers block nya menyerang ia kembali. Kali ini lebih parah. Ia bahkan tak bisa membuat satu kalimat bagus sekalipun. Kopi. Ia butuh kopi. Ia segera bangkit dari kursi putarnya yang empuk dan segera menuju dapur. Percayalah, orang yang akan duduk di kursi itu pasti akan merasa hangat. Bagaimana tidak?  gadis itu duduk tanpa berdiri selama 4 jam!

Ia baru saja hendak menuang air panas ke kopinya ketika menyadari bahwa suaminya belum pulang. Pipi wanita itu langsung mengembung. Oh Sehun. Kemana laki laki itu pergi?  Dengan cepat ia kembali ke atas, ke kamarnya bersama Sehun, tanpa basa basi ia langsung menghubungi lelaki itu.

Tut.. tut….tut…

Yeoboseyo? Nuguya?” akhirnya telepon tersambung. Suara manis disebrang menjawab diikuti dengan suara berisik khas club malam sebagai backsound.

JEDAR

Yoona kaget. Itu bukan suara Sehun, itu suara wanita.

.

H+1

Sehun tiba tiba saja memeluk Yoona dari belakang. Mengejutkannya yang sedang menggoreng telur. Tak hanya memeluk ia bahkan mengecup singkat leher Yoona, bukan hanya sekali, tapi berkali kali. Sehun tahu Yoona suka ini. Tapi, tidakkah ini keterlaluan? Semalam itu suara siapa? Sehun pergi kemana? Kenapa ponselnya bisa ada bersama wanita lain? Yoona penasaran, tapi terlalu takut untuk bertanya. Mungkin besok ia akan bertanya, tidak,  mungkin setelah sarapan. Dengan enggan Yoona berbalik dan meminta Sehun untuk berhenti. Laki laki itu menurut dan dengan langkah gontai memilih untuk duduk di meja makan.

“Aku suka kau Yoong,”

Yoona hanya bergumam.

“Aku suka aroma badanmu, aku suka bibirmu yang seksi , aku suka mendengar suaramu ketika memanggil indah namaku,”

Gadis itu terpaku di tempat sejenak, lalu memandang ke arah sehun dengan pandangan tak percaya.. setelah apa yang ia lakukan semalam? Oh tidak.

“Sehun-ah, kau kemana semalam?”

“Aku? Kan aku sudah mengabarimu bahwa aku lembur semalam.”

Yoona mengangguk. Lalu dengan senyum mulai menyiapkan sarapan.

Baik. Sehun ingin memulai permainan rupanya. Akan ia turuti.

.

H+2

Dengan tergegas ia melangkahkan kakinya di sepanjang jalan Yangpyeong-ro, ia sudah berjanji untuk bertemu Tiffany –sahabatnya atau setidaknya ia menganggapnya begitu , mereka berjanji bertemu  di Holly’s café pagi ini dan tebak apa? Yoona sudah telat setengah jam. Salahkan saja Sehun atas perbuatannya semalam.

“Tiff… I’m sorr..ry I’m late. I’m really sorry” ucap Yoona sambil terengah, di depannya Tiffany duduk dengan tampang sebal.

“Well, I know you. Its okay. ”Gerutu gadis keturunan amerika-korea itu malas.

“Jadi.. ada apa menyuruhku datang pagi pagi seperti ini? Tidak biasanya? Jika ini bukan urusan penting sebaiknya kau enyah saja karna aku sudah melewatkan 1 jam berharga bersama Kris di pagi hari hanya karena kau!” Yoona terkekeh, ia tahu Tiffany hanya bercanda. Sebelum mulai bercerita Yoona memanggil waitress dan memesan paket sarapan yang disediakan. Tiffany memilih untuk hanya memesan jus brokoli. Walau tak tersedia di daftar menu ia memaksa dengan iming iming akan membayar 2 kali lipat.

“I’m on diet Yoong. Bagaimana mungkin mereka tidak menyediakan jus brokoli? Payah.” Serungut Tiffany. Yoona lagi lagi tertawa. Hening sejenak.

“Katakanlah, cepat!” perintah Tiffany, kali ini sambil menendang kaki Yoona di bawah meja. Yoona agak kalut, walaupun akhirnya memilih untuk berbicara.  

“Ehmm, begini Tiff, kemarin malam aku mendengar wanita menjawab telfon yang aku tujukan untuk Sehun. Menurut-”

“Wait… jadi apa yang ingin kau bilang adalah bahwa Sehun berselingkuh? Kau memergoki Sehun berselingkuh? Yoong, I told you this before. Jangan percaya sehun!” dengan cepat Tiffany memotong ucapan Yoona.

“I’m not sure Tiff, Sehun.. ia tak berubah sedikit pun bahkan tadi malam-”

“Yoong, kau tahu pria memang begitu. Well, mereka tak masalah memasuki banyak-“

“Cukup!” kali ini, Yoona yang dengan cepat memotong.

Tiffany diam. Yoona diam.

“Aku hanya ingin minta tolong, bisa kau lacak wanita itu untukku? Tidak. Aku tidak berpikir kau yang akan terjun langsung. Aku tahu kau punya banyak kenalan dan…”

 

.

H+6

Sesuai saran Tiffany, beberapa hari kemudian ia datang ke café yang sama di jam yang sama. Nama orang yang Tiffany rekomendasikan adalah  Chanyeol Park. Tiffany berkata  lelaki itu akan menggunakan pakaian serba hitam. Dengan teliti mata Yoona menelusuri café, itu dia! Di sudut café sedang menyeruput, ehm dilihat dari bentuk gelasnya.. Americano?

Dengan segera Yoona datang menghampiri.

“Hei! Aku Yoona Oh” ucap Yoona ceria seraya menarik bangku. Baru saja ia hendak memanggil waitress ketika lelaki itu mulai bicara.

“Aku tak suka basa basi. Jadi langsung saja kuceritakan tentang perempuan itu. Nama gadis yang menerima panggilanmu malam itu Irene Bae. Umur 23 tahun. Lulusan Sungkyungkwan University angkatan 2013. Hobi merawat bunga, well mungkin itu alasan mengapa ia bekerja di took bunga. Ia bekerja di pub dekat rumahnya saat malam. Tinggal di alamat ini (sembari menyerahkan selembar kertas pada Yoona), ia mantan kekasih Sehun saat SMA. Putus karena Sehun kemudian dijodohkan denganmu. Tetapi kemudian mereka baikan ketika Sehun kuliah. Hanya segini yang bisa kuberitahu. Wanita itu agak introvert.” Chanyeol berkata dengan cepat dan dingin. Yoona mendengarkan dengan seksama. Mantan kekasih? Putus karena dijodohkan? Well, walaupun mereka menikah karena perjodohan. Toh Sehun dan Yoona adalah teman kecil. Sehun mencintai Yoona. Yoona yakin itu.

“Terima kasih, Tuan Park”

.

H+7

Hari ini Yoona memutuskan untuk mendatangi rumah perempuan bernama Irene itu. Tak seperti dugaannya, Irene tidak tinggal di sebuah apartemen mewah melainkan di sebuah kawasan pinggiran Seoul yang terkesan eeeerrr…kumuh? Yoona bukan anak yang hidup dari keluarga pas pas an, ayahnya seorang pengusaha sukses dan ibunya seorang dokter, dan  berada di gang sempit dengan penerangan minim seperti ini bukan kebiasaannya. Sesekali Yoona mengeryit ngeri. Bagaimana bisa orang tinggal di lingkungan seperti ini? Genangan air dimana mana, sampah berhamburan, daun daun kering yang Yoona rasa tak penah disapu juga ikut melengkapi.

Ini semua demi Sehun.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam wilayah Seoul. Ia sedikit bergidik ketika menyadari sudah terlalu larut untuk wanita sepertinya berada di luar sendirian. Ia hanya perlu naik tanjakan di depannya sedikit lagi kemudian belok kanan dan sampai. Ia berjalan biasa sampai menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Yoona tinggal di Korea sudah lama, dan ia cantik. Pengalaman dikuntit seperti ini sudah sering ia rasakan. Yoona lalu berbalik.

“Aku tahu ada orang.” Ucap Yoona keras. Mungkin ia terlihat seperti bicara sendiri tapi tidak. Ia tidak berbicara sendiri. Penguntit itu pasti bersembunyi di suatu tempat.

3 menit dan tak ada tanda tanda akan ada orang. Okay, walau agak takut ia kembali berjalan. Jarak rumah Irene masih lumayan jauh. Yoona merasakannya lagi. Yonna tahu ada orang. Ia berbalik dan..

GREP

Dugaannya tepat. Seorang lelaki, masih bocah Yoona kira, menutup mulutnya rapat dengan tangannya. Tangan lelaki ini bau! Yoona tidak tahan. Dengan sekuat tenaga Yoona mencoba memberontak tapi tak ada hasil. Tenaga laki laki ini tidak bisa di remehkan. Yoona akhirnya pasrah. Jika penguntit ini ingin uangnya. Akan ia berikan.

“Lepaskan dia bajingan.” Suara dingin itu. Yoona tahu suara dingin itu. Park Chanyeol? Apa yang ia lakukan disini?

Dugaan Yoona benar. Dengan kasar Park Chanyeol menarik tubuh si penguntit dan membuat Yoona terhempas. Nafasnya tak beraturan. Di depannya, ia bisa lihat dengan jelas Chanyeol memukuli lelaki itu dengan tinju bertubi tubi. Lagi dan lagi sampai akhirnya lelaki itu dengan sempoyongan pergi. Chanyeol menghampiri Yoona yang masih syok.

“Kau baik baik saja?” Tanya Chanyeol sembari menduduki salah satu kakinya sementara kaki lainnya ia tekuk menyamakan posisinya dengan Yoona yang terduduk kaku. Wajahnya dingin, tapi Yoona tahu kalau ia khawatir.

Yona mengangguk angguk cepat. Ia hanya kaget. 

“Kau bodoh ya?!”Chanyeol tiba tiba saja membentak Yoona nyaring. Yoona kembali kaget.

“Kau tahu ini pukul berapa? Dan kau ingin menyelidiki sendirian? Kau tahu penguntit itu bisa saja tidak hanya mengurasmu, ia mungkin juga ingin memerkosamu tadi!” Ucap Chanyeol lagi. Kali ini Yoona tak bisa bergeming. Tubuhnya tegang. Ia sama sekali tidak berpikir tentang hal itu… bagaimana mungkin ia menganggap penguntit tadi hanya mau uangnya? Tanpa ia sadari, air matanya mulai jatuh.

“Maafkan aku.”

“Aku tahu aku bodoh.” Suara gadis itu gemetar. Ia masih saja menangis ketika Chanyeol dengan lembut memeluknya. Mereka baru kenal. Tapi rasanya sudah akrab sekali.

“Aish, kenapa malah minta maaf. Kau tahu tidak apa kebodohanmu?” Tanya Chanyeol, lelaki itu kemudian melepaskan pelukannya. Yoona mengangguk saja.

“Pertama, kau bodoh karena masih mencintai Sehun yang sudah menyelingkuhimu, kedua kau bodoh karena masih mencoba mayakinkan apakah suami brengsekmu itu benar benar selingkuh atau tidak, dan ketiga kau bodoh…kau bodoh karena datang kesini sendirian malam malam.”

“Kau bisa saja minta tolong bantuanku untuk menemanimu. Kau client ku. Tiffany ingin aku bertanggung jawab penuh menjagamu.”

“Dan…mari ku perkenalkan diriku. Aku Park Chanyeol. Senang bertemu denganmu, Yoona Lim.”

.

A few minutes later…

Yoona memutuskan untuk menerima ajakan Chanyeol untuk mengantarkannya pulang. Ia masih terlalu kaget untuk banyak bicara sehingga di sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Yoona melirik jam di tangannya. Setengah sebelas.

Yoona tahu Sehun belum pulang saat ini. Jadi ia tak perlu khawatir dipergoki diantar pulang oleh Chanyeol. Yoona seharusnya tidak perlu khawatir, toh kemarin ia juga memergoki Sehun….ah- ia ingin melupakan semua kejadian kemarin.

“Jadi…Sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Chanyeol, tetap fokus menyetir.

“2 tahun…” jawab Yoona lesu. Ia tidak suka pertanyaan menyebalkan  ini. Karena biasanya pertanyaan ini akan berlanjut pada pertanyaan berikutnya yang lebih menyebalkan.

“Dan kalian belum mempunyai anak.” Chanyeol tidak bertanya. Lelaki itu memberi penegasan. Yoona hanya diam, dalam hati ia meringis kecut.

“Mungkin itu sebabnya ia berselingkuh.” Lagi, Chanyeol berkata tajam. Ia sungguh sungguh ketika bilang tidak suka berbasa basi ternyata. Yoona menghela nafas panjang.  Ia lebih suka bagaimana Chanyeol mengatakan yang sesungguhnya. Kebanyakan dari orang orang akan berkata,

“Sabar ya, Tuhan pasti akan mendengar doa kalian.”

“Aku selalu mendoakan kalian agar bisa dapat momongan.”

Atau yang lebih menyakitkan,

“Kenapa tidak coba adopsi saja?”

Tidak. Yoona tidak benci adopsi anak. Hanya saja….. ia yakin ia bisa. Tentu.

“Nah, Chanyeol-ssi kau bisa berhenti di rumah berpagar hitam di depan.” Ucap Yoona ketika mereka sudah dekat.

Mobil berhenti dan Yoona segera keluar. Angin malam menerpa leher telanjangnya. Membuatnya sedikit ngilu. Yoona masih berdiri di samping mobil Chanyeol untuk mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih untuk hari ini Cahnyeol-ssi dan….. itu bukan keinginanku untuk tidak memiliki anak.Aku bisa dan mampu. Kau tahu? Banyak laki laki yang berkata mereka belum siap menjadi ayah.” Segera setelah Yoona mengucapkannya, ia masuk ke dalam rumahnya.

Mobil Chanyeol  terdiam untuk waktu yang lama.

.

Yoona lelah dan rasanya ia ingin segera naik ke tempat tidur empuknya. Jatuh tidur dengan keadaan berkhayal. Yoona salah satu orang yang memilih untuk berkhayal dulu sebelum tidur. Ia tak berkhayal menjadi idol atau punya pacar bintang hallyu, ia hanya ingin ia bersama Sehun dapat membangun keluarga yang benar benar ‘utuh’ nantinya.

Yoona membuka pintu rumah pelan. Ia kemudian sedikit membungkuk untuk melepas heelsnya, tangan kanannya mencari cari saklar lampu di dinding. Baru saja ia mau menyalakan lampu, ketika ia merasakan ada yang menyentuh permukaan tangannya. Lampu menyala. Sehun di depannya.

“Kau sudah pulang?” tanya Yoona bodoh, tentu Sehun sudah pulang. Kalau tidak siapa yang berada di depannya kini? Hantu Sehun?

“Kau dari mana?” Sehun balik bertanya. Suaranya dingin.

Sambil berjalan ke atas Yoona menjawab, “Rumah teman.”

“Siapa?” tanya nya lagi. Yoona benci ini. Ia seperti buronan saja, ditanyai terus terusan.

Sehun hanya tahu satu teman Yoona. Tiffany. Yah sebenarnya ia memang hanya punya Tiffany.

“Tiffany,” jawab Yoona asal. Ia sudah terlalu lelah untuk berbicara.

“Aku bertemu Tiffany tadi. Ia di supermarket. Aku tak melihat ia bersamamu. Ia bersama Kris.”  Langkah Yoona terhenti di tangga anak ketiga.

DEG.

Well, ia ketahuan. Tapi……

“Kau ke supermarket?” Setelah Yoona bertanya begitu, gantian Sehun yang gugup. Yoona tahu Sehun membenci tempat tempat seperti itu. Mall, supermarket, pasar…..

Yoona membuang nafas kasar ketika Sehun tidak menjawab.

“Sudahlah Sehun, aku lelah. Kita bahas besok ya?”  Yoona sebenarnya tak yakin apakah mereka sempat berbicara atau tidak besok. Ia sibuk dan Sehun juga sama sibuknya. Yoona harus merampungkan novelnya minggu ini. Dan masalah ini hanya membuatnya muak.

.

H+9

“Kau yakin ia ada di rumah di siang hari?” tanya Yoona ragu. Mobil melaju dengan kecepatan stabil, menuju ke rumah Irene .

“Aku yakin. Ia libur kerja hari senin.” Yoona mengangguk angguk mengerti dengan jawaban Chanyeol. Chanyeol hebat. Ia bahkan tahu hari kerja gadis itu.

Karna jalanannya tidak memungkinkan untuk membawa mobil, mereka memutuskan untuk parkir di bawah dan berjalan kaki ke atas. Beruntung, ini bukan musim panas. Kalau tidak, kulit mereka mungkin bisa terbakar.

“Ingin istirahat?” Tanya Chanyeol sambil berjalan. Chanyeol sepertinya tahu helaan nafas gadis itu sudah tidak teratur.

“Tidak. Lanjutkan saja.” Tapi Yoona bersikeras. Ia toh memang keras kepala. Chanyeol sebenarnya khawatir, Yoona tidak terlihat begitu baik. Muka gadis itu pucat, matanya sayu dan Chanyeol rasa ia mendengar Yoona juga menarik ingus tadi.

“Kau yakin kau tidak apa apa?” tanya Chanyeol sekali lagi. Sebenarnya kini, langkah gadis itu sudah sempoyongan.

Akhirnya Yoona berhenti. Gadis itu memegang kepalanya sebentar, dan..

BRUK

Yoona jatuh.

Tidak. Tidak.

Yoona pingsan.

Di bahu Chanyeol.

.

Pernah tidak kau merasa merasakan kebahagiaan yang terasa sangat besar tapi kemudian menyadari bahwa kau tak harus -atau tak boleh- merasa sebahagia ini? Yoona sedang merasakannya. Ia gembira dan gelisah. Ia senang dan sedih. Ia terharu dan takut. Ia kalut dan emosi. Ia merasa……

Ketika membuka mata pertama kali, yang Yoona lihat adalah cat putih sebuah rumah sakit. Ia masih harus menyesuaikan matanya yang agak kabur untuk bisa melihat Chanyeol dan Tiffany dan berada di samping kanan dan kirinya dengan tampang khawatir. Mereka berkata ia baik baik saja dan ia pingsan karena terlalu lelah tadi.

Tidak.  Ia tak akan merasa sebimbang itu karna hanya kelelahan.

Ketika Tiffany menyuruh Chanyeol untuk menunggu di luar, Yoona sadar bahwa ini masalah serius. Ia kira ia akan divonis kanker atau semacamnya. Jika iya, kisah hidupnya sudah pantas dijadikan novel.

Tiffany menutup pintu pelan. Wanita itu kemudian menatap Yoona dengan tatapan ke-ibu-an yang dimilikinya. Dengan eyesmile nya yang khas ia berjalan mendekati Yoona.

“Yoong..” panggil gadis itu lirih.

“Kau hamil.”

.

Ia ingat malam terakhir mereka bercinta. Mereka tidak memakai pengaman. Mungkin Sehun lupa. Itu malam setelahnya ketika Yoona mendengar suara wanita dari ponsel Sehun. Ia tidak tahu bahwa itu masa suburnya. Sekarang rasanya ia ingin berteriak sekencang kencangnya. Bagaimana hidup mempermainkannya.

Yoona terlihat frustasi. Wanita itu duduk di atas tempat tidur dengan menekuk kedua kakinya. Wajahnya dibenamkan di antara lutut dengan kedua tangan diatasnya.

Dan ketika ia mengangkat wajahnya, Tiffany bisa melihat bening bening kristal di matanya. Yoona menggeleng geleng pelan sambil terisak.

“Bagaimana ini Fany-ah? Sehun tidak suka ini…sehun tidak akan menyukai ini…” Yoona terisak nyaring. Tiffany memeluknya. Ia tahu sahabatnya ini kuat, tapi manusia pasti punya sisi rapuh yang kadang tak bisa terus disembunyikan.

“Aku takut Sehun tidak bisa menerima bayi ini…” Yoona berkata lagi. Tiffany tidak yakin harus berbuat apa dan hanya bisa memeluk erat Yoona. Tanpa sadar wanita bermarga Hwang itu ikut menangis. Dari awal ini semua salah Sehun. Kalau saja Sehun tidak menerima perjodohan ini, Yoona pasti sudah bahagia bersama Donghae, Kalau saja Sehun tidak punya pemikiran tolol belum siap menjadi ayah, Yoona pasti sudah tersenyum bahagia dan bukannya malah menangis sekarang. Tiffany tahu Sehun bajingan. Ia tahu dari awal. Ini…..ini seharusnya tidak terjadi pada sahabatnya. Pada Yoona.

“Kau pasti bisa melewati ini Yoong”

.

H+11

Sehun masih belum mengetahui kalau Yoona hamil. Dan Yoona masih memilih untuk diam. Dari kemarin wanita berusia 24 tahun tersebut uring-uringan. Writers block nya makin parah, padahal sebentar lagi selesai, tapi karena ia malas akhirnya ceritanya tersebut terbengkalai.

Ia masih belum siap untuk melanjutkan pencarian informasi tentang Irene. Yoona masih shock setelah tahu ia hamil. Kepalanya kerap pusing dan suhu tubuhnya juga sering tiba tiba naik. Ia bisa merasakan secara samar bahwa ada kehidupan di bawah sana. Ia tahu tidak seharusnya ia menyembunyikan hal ini dari Sehun. Cepat atau lambat, Sehun pasti akan segera tahu. Dan itulah yang membuat Yoona khawatir.

Ponselnya tiba tiba berdering, Chanyeol menelpon.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya laki laki di ujung telepon.

Yoona tersenyum singkat. Entah kenapa.

“Aku sudah merasa agak baikan.. tapi rasanya badanku jadi malas sekali melakukan apa apa.” Jawab Yoona jujur.

“Jangan melakukan hal hal yang berat sendirian.” Suara Chanyeol muncul lagi dan membuat Yoona merasa sedikit tenang. Ia harus berpikir positif. Sehun pasti senang ia hamil.

Yoona tertawa. “Baik…ah, kau terdengar seperti eommaku sekarang.”

Chanyeol tertawa renyah. “By the way, kau sudah memberi tahu mereka? Maksudku, orangtuamu dan Sehun.” Kalau tidak disadarkan Chanyeol, ia pasti sudah lupa kalau ia masih punya orangtua. Aish, tiba tiba saja ia merasa pusing. Tapi kalau semua ini ditunda tunda lagi, tidak akan berakhir jadinya. Yoona memiliki prinsip yang sama dengan orang Jepang, ‘Menunda pekerjaan sama dengan menambah pekerjaan’.

“Chanyeol,”

“Ya?”

“Bagaimana kalau sekarang ke rumah Irene?”

.

Kini, yang tepat ada di depannya adalah sebuah pagar dari kayu. Berwarna cokat dan besar, membuat orang orang yang lalu lalang tak bisa melihat ke dalam. Tembok putih rumah ini kusam dan di badannya terdapat banyak coretan. Sebagian ada yang retak. Tempat sampah yang berada di depannya sudah tampak kepenuhan. Tapi sepertinya si pemilik rumah tak ada niatan untuk membuangnya. Karna, demi Tuhan, sampahnya banyak sekali. Ia tak menyangka ini  Rumah Irene. Yoona menghela nafas kasar, ia menatap Chanyeol yang ada di sampingnya sebentar. Laki laki itu tersenyum. Dengan ragu namun pasti Yoona mengetuk pintu itu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Akhirnya ada respon, pagar dibuka dari dalam. Jantung Yoona berdegup kencang, ia takut, khawatir, gelisah, bimbang, penasaran. Semua perasaannya rasanya jadi satu. Bersamaan dengan pintu yang ditarik wajah sang pemilik perlahan muncul.

Wajah itu….inikah yang mengangkat ponsel Sehun waktu itu?

Wanita inikah yang membuat Sehun selalu pulang terlambat? Lututnya lemas.

Wanita itu berparas cantik , berkulit putih seputih susu –sama seperti Sehun, berbibir merah semerah apel , berhidung bangir, berambut kecokatan,

dan…..ia menggendong seorang anak.

.

Yoona ingat ketika Sehun bilang ia mulai mencintainya. Yoona ingat ketika pertama kali Sehun menyentuhnya. Yoona ingat pertama kali ia bangun dan Sehun tersenyum tulus. Yoona ingat Sehun memberikannya kejutan ulang tahun pernikahan mereka tahun lalu. Yoona ingat Sehun pernah berkata bahwa mereka akan bersama. Selamanya.

Yoona ingat semuanya. Karna dari awal ia sudah terlanjur jatuh hati. Mungkin memang salahnya sehingga semua jadi runyam begini.

Gadis itu tak menangis. Ini membuat Chanyeol heran.Semua mantan kekasihnya selalu meneteskan air mata ketika ia putuskan.Gadis itu hanya diam, mungkin yang tepat gadis itu memilih untuk tak menangis.

Tak semua gadis bisa sekuat Yoona. Ia pasti sudah sangat sakit hati, sudah sangat sangat sangat sakit hingga tak bisa lagi mengekspresikannya. Chanyeolpun tak bisa membayangkan jika orang yang ia cintai selingkuh di belakangnya, dan sudah menghasilkan seorang anak.

Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Irene mengenali Yoona. Irene sudah tahu ini dari awal, begitupun Sehun, hanya ia sendiri yang tidak tahu apa apa dan sekarang kelihatan seperti orang bodoh.

Yoona meringis kemudian. Jadi, untuk apa 2 tahunnya bersama Oh Sehun?

Untuk apa semua tangis haru dan tawa gembira tersebut?

Bila akhirnya akan jadi seperti ini, ia memilih untuk tak memulai. Yoona bertanya tanya, pasti ia sudah melakukan kesalahan yang amat besar di kehidupan sebelumnya sehingga harus merasakan karma seperti ini.

Ia kalut sungguh.

Ponselnya berbunyi. Oh Sehun menelpon.

.

Yoona dalam perjalanan pulang bersama Chanyeol. Lily Allen bernyanyi Not fair dengan merdu, mengisi keheningan yang kosong. Bagus sekali, bahkan lagu terlihat mendukung suasana hatinya. Chanyeol belum mengeluarkan sepatah katapun sedari tadi, Yoona demikian. Chanyeol mungkin bingung ingin berbicara apa, tapi Yoona…ia tidak berada di mood yang baik untuk berbicara.

“Kau yakin ingin pulang?” kata Chanyeol, si telinga besar.

“Aku tidak ingin, tapi aku harus..”ucap Yoona asal, bibir gadis itu bergerak seiring lagu yang diputar.

“Its not fair

And i think your really mean

I think your really mean

I think your really mean”

.

H+13

Sudah 2 hari dan pikirannya benar benar kosong. Ia tetap makan seperti biasa –ia ingat sekarang ada makhluk lain yang tumbuh dibawah sana. Yoona termasuk tipe yang penyabar, karena wanita lain yang tahu telah diselingkuhi mungkin saja bisa mengamuk, meminta cerai, atau yang paling tolol..bunuh diri.

Sebenarnya, opsi terakhir terlihat cocok untuknya. Ia sudah berumah tangga cukup lama dan ternyata suaminya telah memiliki anak lain dari wanita lain.

Jujur, ia stress, ia kecewa, ia sedih, rasanya menyakitkan. Pasti. Rasanya seperti mengetahui besok ada ujian yang diadakan secara mendadak, rasanya seperti ditelfon oleh seseorang yang mengatakan bahwa orang tuamu baru saja meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, rasanya seperti mengetahui bahwa pasangan yang terlihat cocok di film ternyata sudah memiliki istri/suami dalam kehidupan nyata, rasanya seperti mengetahui orang yang kau benci mempunyai nilai lebih baik darimu, rasanya seperti……

Ia ingin mati saja.

Tapi yang paling penting bagi Yoona adalah bagaimana cara ia bisa melewati semua ini?

Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

Ia benar benar tak punya ide, kehabisan akal,

Tapi ia memutuskan untuk bangun saja seperti biasa pagi ini.

Jadi, pertama tama ia mulai mebuka mata, mengusapnya, menguap lebar, melihat ke arah samping dan menemukan Sehun.

Yoona berniat membangunkan Sehun ketika laki laki itu tiba tiba bangun, kemudian duduk di atas kasur mereka, memandang ke arah gorden yang menampilkan sedikit cahaya matahari, Sehun membelakangi Yoona sehingga ia tak tahu bahwa Yoona telah bangun.

“Sehun apa kau sudah punyak anak?” Bukan Yoona yang mengatakannya, itu alam bawah sadarnya.

Sehun menoleh, ia tampak kaget.

.

Laki laki itu menatapnya tulus dan penuh cinta. Tapi, Yoona tak yakin itu nyata. Diselingkuhi itu tak enak. Karna semuanya jadi berubah. Yoona tak suka perubahan. Ia tak bisa menatap Sehun tanpa bayang bayang wajah Irene, ia tak bisa berbicara padanya tanpa bayang bayang anak kecil itu. Anak kecil yang bersama Irene. Tiba tiba saja Yoona jadi benci anak kecil.

Sehun menggenggam tangan Yoona erat, Yoona coba percaya tapi sulit. Haruskah ia menangis? Ia tak mau terlihat cengeng. Sudah 2 jam sejak mereka selesai sarapan dan belum ada yang terucap. Hanya Sehun yang menggenggam erat Yoona dan mencoba membuat gadis itu kembali percaya. Sehun memutuskan untuk tak pergi kerja, Yoona memutuskan untuk diam.

“Yoong, maafkan aku. Kau tahu aku..”

Yoona berharap Sehun lebih kreatif dalam rangka meminta maaf. Tapi sial! Lelaki itu tak kreatif sama sekali.

“Sejak kapan kau mengetahuinya?”  Tanya Sehun kali ini, ia benar benar  tak mengerti. Okay, mungkin ia juga merasa minta maaf saja tak cukup, jadi rasa penasarannya lebih berkuasa dan keluarlah kata kata itu.

“Two days ago I think,” Yoona mulai berbiacara bahasa inggris ketika ia panik, gugup, sedih dan sejenisnya.

Sehun terlihat ingin bicara. Ia membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi. Ia harusnya bicara saja. Toh Yoona sudah marah, tidak ada yang bisa diperbaiki.

“Kau tahu aku..”

Terus Sehun, katakanlah sesuatu.

“Aku mencintai Irene. Kita menikah karena perjodohan jadi….kau tahu? Irene cinta pertamaku. Ia yang pertama bagiku, ia yang membuatku mimpi basah, ia pacar pertamaku. Aku minta maaf Yoong, aku tahu ini tidak akan merubah apapun selain hatimu yang bertambah hancur, tapi aku sungguh…..minta maaf. Aku mencintaimu….”

Yoona benci sekali ketika kata kata itu keluar dari mulut Sehun, seakan tak puas menyakiti Yoona dengan berselingkuh, ia malah menceritakan kenangannya bersama gadis itu. Ia muak mendengar kebohongan dari mulutnya. Luka yang didapat Yoona ditabur garam oleh Oh Sehun dengan kejam. Yoona runtuh, ia menangis. Sehun tidak berbuat apapun.

“Tapi akhir akhir ini aku sadar bahwa aku tak bisa seperti ini terus Yoong. Aku berencana untuk memberi tahumu. Tapi..kau tahu..kau sudah tahu semuanya terlebih dahulu..aku minta maaf Yoong”

Yoona tambah runtuh. Tangisnya tambah parah. Yoona menarik tangannya dari Sehun, tubuhnya bergetar.

“Aku dan Ir-“

“AKU TAK BUTUH PENJELASAMU BANGS*T!!!!!!!!!!!” Yoona berteriak refleks.Seiring dengan ucapannya, ia memukul meja makan kasar.  Ini pertama kalinya ia berkata kasar. Tubuhnya masih bergetar, tangannya dingin. Yoona menangis kencang, ia ingin Sehun tahu bahwa ia sedih. Ia kecewa. Ia kesal. Ia marah, ia lelah.

Diam sejenak. Mungkin Sehun tidak menyangka Yoona akan berkata kasar seperti itu.

“Yoong..” Sehun berdiri. Kalau ini film, Yoona tahu ini pasti bagian dimana sang lelaki akan langsung memeluk atau menciumnya. Tapi sayangnya ini bukan film. Ini cerita hidupnya. Cerita hidupnya bersama laki laki brengsek bernama Sehun. Laki laki brengsek yang sialnya ia cintai.

“Kenapa kepadaku Sehun-ah? Apakah aku pernah menyakitimu? Apa aku pernah menyakitimu hah? Aku selalu baik kepadamu. Aku mencoba menjadi istri yang baik untukmu. Aku bangun pagi untuk membuatkanmu sarapan, walau aku tak terbiasa, menyiapkan pakaian untukmu, menyiapkan air panas setelah kau pulang kerja, membersihkan rumah yang luas ini sendirian, mencuci piring, baju, mengepel, kau bahkan tak menyetujui ideku membayar sebuah pembantu! Dan aku berhenti kerja karna kau menyuruhnya, kau tahu apa? Aku sering kebosanan di rumah. Aku tidak berkumpul dengan teman teman SMA ku karna kau bilang itu tak berguna. Aku pura pura tak mendengar setiap ada orang yang bertanya kapan aku hamil. Itu bagian tersulit. Aku…aku juga ingin punya anak bersamamu Sehun-ah…aku juga ingin membangun keluaraga yang benar benar keluarga. Aku ingin,,,aku ingin kau melihatku seperti kau melihat Irene. ” Ucap Yoona sambil terisak, Yoona salah. Sehun tak memeluknya. Sehun hanya diam. Ia benci ketika Sehun hanya diam dan tak berdaya.

“ini semua gara gara gadis itu. Aku bahkan memutuskan Donghae secara sepihak, bodoh sekali, hiks” Yoona bergumam pelan. Masih sesegukan ia terduduk lemas di kursi.

“Yoong..aku tahu aku salah. Aku tahu aku egois. Tapi maaf Yoong…jangan memintaku melihatmu seperti aku melihat Irene dan jangan pernah salahkan Irene atas semua kejadian ini. Aku yang memulainya Yoong, ia tak bersalah. Aku yang bersalah Yoong, aku…”

Yoona lemas. Ia tertohok. Di depannya, laki laki yang biasanya terlihat kuat, jatuh merosot. Membela gadis bernama Irene. Bukan ini yang ia cari, bukan ini yang ia minta. Yoona menggeleng gelengkan kepalanya. Tak habis pikir. Ia benci melihat Sehun membela perempuan itu, ia benci melihat Sehun lemah karna perempuan itu. Ia benci…

Dengan masih mengenakan piyama flannel berwarna biru Yoona memutuskan untuk pergi. Dengan cepat ia mengendarai mobilnya. Ia tahu Sehun dari belakang memanggilnya. Hatinya hancur dan meilhat Sehun hanya akan menambah hancur hatinya. Ia terus menyetir tanpa tahu harus kemana, ia seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tentu arah.

Ia lalu berhenti sejenak, mencari kertas dan pulpen kemudian mulai menulis.

Setelah selesai ia menyetir dengan kecepatan tinggi, ketika ia melihat ke spion dan tak menemukan mobil Sehun di belakangnya, ia meringis.  Pikirannya lagi lagi tak fokus. Terlalu banyak airmata pagi ini.

Ponselnya berdering, ia baru saja hendak mengambil ponselnya ketika-

BRAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK

.

H+14

Tepat di hari dimana gadis itu pergi, Sehun akhirnya sadar bahwa ia mencintai wanita itu. Ia mencintai Im Yoona. Tapi bodohnya ia juga tak bisa melupakan Irene begitu saja, apalagi Irene sudah memiliki anak bersamanya. Tapi penyesalan memang selalu datang belakangan. Yoona kecelakaan di hari dimana ia bertengkar dan…keguguran. Ia suami yang buruk yang bahkan tidak tahu Yoona hamil. Yoona meninggalkan surat yang mengatakan bahwa mereka seharusnya bercerai saja.

Ia tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan sekarang. Sehun memang serakah, ia plin plan, tak bisa menentukan pilihan antara Yoona dan Irene. Mengingat ia kini telah menjadi ayah dan ternyata mempunyai 2 anak membuatnya gugup. Ia baca kembali surat itu. Surat singkat dari Yoona. Entah ia telah baca ke berapa kali, ia tak peduli.

Sehun-ah

Aku tak tahu mengapa aku malah menulis ini. Mungkin karena setelah ini bisa saja kita tak bertemu lagi. Atau berbicara seperti dulu lagi. Mungkin setelah ini kita akan bercerai dan kau akan tinggal bersama Irene dan anak kalian. Mungkin memang seharusnya kita berpisah saja. Aku membencimu. Kau sudah tahu kan? Tapi sangat disayangkan rasa cintaku padamu lebih besar. Ketika kau mengetahui bahwa aku tahu tentang kau dan Irene, aku tak meminta kau menjelaskan apa yang terjadi. Bukannya aku tidak penasaran. Aku hanya tidak ingin mendengar hal yang tidak ingin kudengar. Dan soal hubunganmu dengan Irene adalah salah satunya. Harusnya pagi ini kau berkata “Apakah tidak apa apa Yoong?” , “Yang mana yang sakit?” , Harusnya kau menanyakan bagaimana keadaanku dulu pagi ini, dan bukannya menjelaskan apa yang terjadi. Tetapi nasi telah menjadi bubur.  Tidak apa apa.

Aku minta maaf karna menjadi egois untuk beberapa waktu. Aku merasa seperti orang ketiga diantara kalian.

Dan… aku rasa aku masih mencintaimu (saat ini aku sangat emosi, tapi ya, aku tahu aku masih mencintaimu).

Yoona meminta cerai dan meminta maaf. Sehun tidak merasa pantas menerima permintaan maaf itu, ia hanya ingin di maafkan. Irene menuntut pertanggungjawaban. Kepalanya serasa ingin pecah. Memang selama ini, ia selalu memberi nafkah yang cukup bahkan lebih pada Irene, tapi ia jarang sekali pulang. Membuat Irene harus mengurus anak mereka sendiran. Selama ia hidup, baru sekali ini Oh Sehun merasa bahwa ia harus segera memutuskan sesuatu.

Yoona atau Irene?

Yoona atau anaknya?

.

Few Years Later

Melepaskan bayi Yoona berarti melakukan sebuah pengorbanan. Bukan pengorbanan yang kecil, tapi yang besar. Rasa cinta, rasa rindu, rasa nyaman , rasa bahagia, saat bersamanya harus menjadi korban. Yoona merasa bersalah pada 4 rasa itu, karena 4 rasa itu sepertinya telah mati di dalam sana. Semenjak bercerai dari Sehun beberapa tahun yang lalu, ia, Im Yoona, tidak pernah merasakan kembali perasaan perasaan tersebut.

Rasa cintanya terkikis kemarahan.

Rasa rindunya terhalang jarak.

Rasa nyamannya tertimbun kebencian.

Rasa bahagianya telah tiada.

Yoona hidup seperti orang yang baik baik saja di luar. Ia makan, tertawa, masih suka bercanda, masih bisa marah marah saat seseorang di kantor melakukan kesalahan, meneteskan air mata saat menonton film tragedi. Tapi hidupnya kosong. Di malam saat ia sampai di apartemennya sepulang kerja. Aura sunyi menyambutnya, kesepian merasukinya. Sekalipun tv menyala, orang di radio tak henti hentinya berbicara, dan suara lagu dari handphone nya terputar, ia tetap merasa kosong. Ia tak penah merasa benar benar ‘masuk’ dalam kehidupannya sekarang.

Ia memilih pindah ke Edinburgh setelah kejadian itu. Hidup sendiri dan menata ulang kembali hidupnya. Menjadi penulis tak menghasilkan uang yang banyak disini. Jadi, ia memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan di pusat kota. Sempat ada beberapa laki laki yang singgah, -tentu saja, status janda tak pernah jadi masalah disini. Tapi ia tetap tak bisa menemukan sosok yang pas, ia tidak mencari yang seperti Oh Sehun, tentu saja tidak, mengingat kembali laki laki itu memuakkan sekaligus melegakan. Ia memutuskan semua kontak pada orang orang yang kenal dengannya, Sehun, Chanyeol, bahkan Tiffany. Ia tak perlu khawatir orang tuanya mencemaskannya, orangtuanya diketahui meninggal dalam kecelakaan pesawat setelah ia bercerai dengan Sehun.

Hidupnya tambah menyedihkan.

Drrtttt Drtttttt

Hapenya bergetar, tanda ada telfon masuk. Celine. Tetangganya itu sok akrab sekali, ia bersikap kepada Yoona seolah olah ia mengenal Yoona bertahun tahun, ia menjuluki Yoona “janda kesepian yang kehilangan arah” urgh! Menyebalkan memang,  tetapi biar bagaimanapun juga Yoona tahu ia orang baik. Dengan malas, Yoona mengangkat.

“Do you even remember about my party? Come here. Right NOW!”

Celine biasanya cerewet, tetapi ketika ia mulai murung seperti itu. Itu artinya tidak baik.

“okay okay, I wil be there in 30 minutes okay?” setelah mengumpat sedikit Yoona langsung beranjak untuk bersiap siap. Ah, ia benci winter.

.

Yoona menepati janjinya. 30 menit kemudian ia sudah duduk manis di salah satu kursi Pub yang disewa Celine untuk ulang tahunnya. Wanita tersebut sempat menyambutnya tadi –tentu saja sambil memarahi, lalu harus pergi karena tamu lain. Wah, ia tak menyangka Celine se terkenal ini.

Meneguk sekali orang juice nya ia mengelilingi pandangan ke Pub yang lumayan terkenal itu. Begitu banyak manusia, begitu banyak orang, ketika bosan Yoona sering menebak kehidupan orang orang tak dikenal disekelilingnya. Gadis berambut merah di sudut bar itu, ia pasti baru saja dicampakkan, sore tadi ia baru mengetahui bahwa pacarnya, Josh, menyukai sesame jenis. Yoona tanpa sadar tertawa singkat. Ia pasti sudah gila. Menyenangkan mengetahui kau tak satu satunya yang patah hati disini.

“Hei beautiful, wanna dance with me?” seorang pria berambut pirang berma biru khas orang inggris mengagetkannya. Ia terhenyak sesaat, lalu tersenyum singkat.

“I really want, you know…. But my husband is here.” Bisiknya singkat sambil menyondongkan tubuhnya ke arah telinga laki laki itu. Ekspresi laki laki itu berubah.

“Next time then,” setelah mengetahui rencananya tak dapat tereliasikan dengan baik, ia kemudian pergi. Yoona tersenyum penuh kemenangan. Setiap kali ada lelaki yang mencoba mendekatinya, ia sering menggunakan kata kat itu. Membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Tapi tak apa, kebahagiaan itu yang terpenting untuknya sekarang.

Sebenarnya ia agak menyesal sekarang,  lihat ia kembali kesepian. Apa harusnya ia terima saja tawaran lelaki tadi? Tidak. Ia tidak mau terbangun di apartemen antah berantah dan tidak mengingat apapun. Membuatnya diirnya tambah menyedihkan.

“Im Yoona-ssi..?”

Yoona menoleh cepat. Ia tahu orang yang memanggilnya tadi orang korea. Itu mengapa ia menoleh dengan cepat.

Lelaki. Berambut merah. Gagah dengan setelan jas serba hitam. Satu nama. Park Chanyeol.

.

Dari sini, Calton Hill, kedua insan itu bisa puas memandangi kota Edinburg, kota Leith, sampai dengan indahnya aliran laut Firth Of Forth. Yoona menghela nafas panjang. Ia baru menyadari bahwa Edinburg sangat indah. Ini pertama kalinya ia kesini. Selama ini dunianya disibukkan dengan kertas kertas dan layar komputer. Dan ia tak pernah menyangka ia akan kesini dengan laki laki ini. Park Chanyeol. Rasanya luka lama itu terbuka kembali, tambah lebar. Ia tertawa pelan, lagi, lagi, dan lagi sampai akhirnya jadi tawa yang besar.

Ia pasti sudah sinting. Tidak, ia begini karna kehadiran Chanyeol yang tiba tiba. Bertahun tahun ia bersembunyi, bagaimana bisa laki laki itu menemukannya?

“Bagaimana kau bisa men-“

“Kau lupa profesiku?” pertanyaannya dipotong oleh jawaban Chanyeol. Yoona gigit bibir, ia tidak lupa… hanya saja…

“Mengapa baru sekarang? Kalau kau memang benar benar detektif yang professional, harusnya kau lebih cepat menemukanku.” Ucap Yoona asal. Sebenarnya begitu banyak peratnyaan di kepalanya. Laki laki itu ibarat Seoul baginya, sungguh.

“Banyak yang terjadi Yoong..” balasnya. Yoona menghela nafas lagi. Ia tahu hari ini akan datang. Hari dimana seseorang akan menemukannnya. Semilir angin musim dingin mencari celah untuk masuk ke leher mereka yang sudah tertutupi syal masing masing.

Ia samar samar bisa melihat gedung apartemennya dari sini. Ia juga bisa membayangkan betapa Edinburgh berbeda dengan Seoul. Bayangan yang selalu menggangu tidur tenangnya.

“Kenapa?” Chanyeol pasti tahu maksud pertanayaannya.

Tapi laki laki itu idam saja. Memilih untuk diam lebih tepatnya. Sepertinya, Yoona harus lebih menegaskan lagi ucapannya.

“Kenapa mengunjungiku?”

“Aku hanya rindu padamu…. ”

Yoona diam, Chanyeol pun juga.

“Tidak hanya rindu, aku rasa aku telah jatuh cinta kepadamu.”

.

Sepertinya malam ini malam keberuntungannya. Dua lelaki super tampan terang terangan menyatakan ketertarikan mereka pada Yoona. Sepanjang jalan menuju apartemennya, ia malah cengengesan tidak jelas. Rambut coklatnya yang indah menutupi hampir sebagian wajahnya. Sambil jalan, tangannya tak berhenti mengambil keripik ketang dari bungkusnya. Giginya terus mengunyah.

“SEBENARNYA INI APA LAGI?!” Ucap Yoona tiba tiba dalam bahasa korea. Keripiknya berjatuhan di jalanan. Orang orang melihat dengan tatapan aneh. Mereka pasti berpikir ‘cantik, sayang tidak waras’. Tapi, Yoona benar benar bingung sekarang. Saat di korea beberapa tahun yang lalu Chanyeol bahkan hanya mengenalnya selama beberapa hari. Tak masuk akal.

“Ini mungkin akan terdengar sangat bodoh. Tapi, aku benar benar tak bisa melupakanmu sejak kau pergi, aku bahkan menghajar Oh Sehun sampai ia harus dirawat 3 hari, itu karena si bajingan itu tidak melawan dan hanya diam saja, kau tahu? Ini pengakuan pertama bagiku. Ini memalukan bukan?”

“Kau bodoh. Pertama kau bodoh karena menyukai janda sepertiku, lelaki yang telah menikahiku selama 2 tahun saja akhirnya meninggalkanku. Kau tak ingin hal itu terulang kembali kan? Kedua, kau bodoh, karena kau hanya membiarkan laki laki itu dirawat selama 3 hari, KAU HARUSNYA MEMBUATNYA MATI!”

“Kau masih mencintainya, apa aku salah?”

Yoona diam saja.

“Tapi lebih dari itu aku ingin memberitahukan bahwa Se-“

“HENTIKAN! JANGAN PERNAH KAU BERCERITA TENTANG SEHUN KEPADAKU LAGI.”

Percakapannya tadi bersama Park Chanyeol masih tergiang giang di kepalanya. Entah mengapa ia bisa semarah itu. Hanya gara gara satu nama. Huft. Tadi lelaki bermarga Park itu memaksa untuk mengantarnya pulang. Tapi, tentu saja ia memilih untuk menolak. Bisa tambah runyam kalau iya meng iya kan ajakan lelaki itu nanti.

Kurang lebih  lima menit lagi , ia akan sampai di apartemennya. Ia kan segera tidur dan berharap terbangun dengan keadaan seperti semua. Baru saja ia memikirkan harus memimpikan apa nanti malam ketika Dior –tetangga nya yang menempati lantai bawah memanggilnya dari kejauhan. Apartemen tua yang Yoona tempati hanya memiliki bertingkat 3, jadi hampir semua penghuni saling mengenal satu sama lain walau tak begitu dekat.

“Im Yoonaa, come here please fasterrr.” Ucap lelaki bertubuh subur itu, Yoona dengan tubuh terseok berjalan cepat ke arah apartemennya. Ada apa? Tak biasanya lelaki tua itu memanggilnya, menyuruhnya, dan memerintahnya.

Setelah sampai dengan masih terengah engah ia mendengarkan Dior berbicara.

“Ada wanita yang menunggumu sedari tadi, dia kelihatan seperti wanita baik baik, jadi aku menyuruhnya menunggu di apartemenmu, tidak kau kunci kan? Kebiasaan buruk memang tapi sekali kali ada untungnya juga. Lagi pula ia membawa anak kecil. Aku tak tega menyuruhnya menunggu di luar. Lagipula ini musim dingin, pasti tidak menyenangkan berada di luar.”

Yoona berusaha mencerna apa yang barusan Dior katakan, salah satu teman kantornya? Tapi yang ia tahu tak ada temannya yang mungkin sudah menikah sehingga memiliki anak yang masih berhubungan dengannya, dan  mengetahui alamat rumahnya, teman kuliahnya? Tidak mungkin, ia tidak pernah sedekat itu dengan seseorang sampai tahu alamat rumah segala, lagi pula ini di Edinburgh, Yoona kuliah di Oxford. Itu cukup jauh. Karena penasaran, setelah berterimakasih pada Dior ia langsung naik. Dengan jantung berdegup kencang karena habis berlari ia membuka klop pintu apartemennya.

Cklek.

Sepertinya si tamu misterius mendengar suara pintu yang dibuka, karena Yoona bisa rasakan suara kaki yang berjalan menghampirinya, dan karena itulah Yoona memilih diam di tempat. Yoona berhitung dari sini,

1…2…3…

Langkah itu semakin dekat, dan…

Berdirilah sesosok wanita di depannya, menggandeng anak kecil. Yoona memaku, ia bisa rasakan degup jantungnya sempat berhenti. Mulutnya setengah terbuka, matanya sayu melihat wanita itu, wanita yang paling ia benci kehadirannya itu datang. Di apartemennya. Di Edinburgh.

Irene Bae.

Ah, pasti sudah menjadi Irene Oh.

Hatinya tiba tiba saja sesak, kenangan lama yang ia sudah coba tutup rapat itu menggentayanginya. Matanya berlinang. Sial! Mengapa ia harus menangis.

“Aku perlu ke kamar mandi.” Ucap Yoona getir, dengan cepat gadis itu berjalan ke arah samping dan menutup pintu.Di dalam kamar mandi ia mencoba untuk berpikir. Ini apalagi? Setelah Chanyeol, Irene? Dan tunggu…apa gadis kecil tadi itu anak mereka? Ia sudah tumbuh besar, ia pasti dirawat dengan baik. Yoona sadar ia meneteskan airmata ketika menyadari bahwa jika saja anaknya dulu tak keguguran ia pasti sudah tumbuh kurang lebih sebesar itu.

Butuh waktu lama baginya untuk menenangkan dirinya, ia keluar 10 menit kemudian, ia mengenakan make up se natural mungkin untuk menutupi bekas air matanya. Menarik nafas dalam, ia membuka pintu kamar mandi.

Ia masih menemui Irene berdiri di tempatnya, dengan isyarat tangan, Yoona menyuruh Irene mengikutinya.Mereka lalu duduk.

Menghela nafas lagi. Ya ampun rasanya hari ini hidupnya berat sekali. Okay, Im Yoona tanya apa maksudnya datang kesini dan akhiri.

“Siapa nama anak itu?”  Tanyanya bodoh. Kenapa ia harus peduli pada nama anak itu? Aish.

“Serene,” ucap Irene singkat, ia masih sama seperti dulu, hanya saja tampilannyasekarang lebih berkelas. Ya, tentu saja. Anak nya bernama Serene itu tampak lebih modis lagi dari ibunya, anak ini bahkan sudah mengenakan Prada di tubuhnya. Sehun pasti sangat menyayanginya. Pemikiran tersebut membunuhnya.

“Singkatan Sehun-Irene?” lagi lagi mengajukan pertanyaan bodoh, Yoona mengutuk dirinya sendiri. Irene mengangguk lagi. Yoona lalu diam saja, ia mempersilahkan Irene setelahnya. Ia tak mau repot repot membuatkan minum atau sejenisnya, karena mereka memang tamu tak diharapkan. Lagi pula, terlalu baik jika ia melakukan semua itu pada wanita yang menghancurkan pernikahannya dulu.

“Im Yoona-ssi” panggil Irene setengah berbisik, Irene terlihat gelisah –setidaknyab egitulah yang dilihat Yoona.

“Nde?” jawabnya.

“Sehun membutuhkanmu.”

Ia tak tahu harus senang atau sedih.

.

“Sehun kecelakaan, ia sudah koma 2 minggu. Aku ingin kau datang, Yoona-ssi. Aku tahu Sehun membutuhkanmu.”

Kata kata dari Irene tergiang di kepalanya. Entah kemana rasa benci itu menguap. Yoona rasa, yang tertinggal hanyalah rasa rindu dan khawatir. Jujur, saat pertama mendengarnya ia cemas sekali sampai sampai ingin rasanya ia mengganti baju, lalu terbang ke Seoul.

Tapi kemudian ia berpikir lagi, mengapa ia harus? Ia toh hanya mantan istri yang Sehun campakkan –atau setidaknya begitu menurut Yoona. Kepalanya seperti mau pecah memikirkan apa ia harus datang ke Seoul atau tidak. Sampai akhirnya wanita tersebut memilih untuk tidur.

.

“Yak! Im Yoona bodoh, kenapa kau tak keluar saat aku memanggilmu tadi!” semprot Sehun kepada Yoona, saat lelaki itu baru saja membuka pintu kamar gadis kecil itu. Gadis kecil itu terlonjak kaget, dengan cepat ia menoleh.

“Kau membawa teman temanmu bodoh.” Balas Yoona sama nyolot nya pada Sehun.

“Yak! Mengapa kau panggil aku bodoh. Dari mana kau mempelajari kalimat seperti itu!” Bentakan itu terdengar kembali.

“Kau baru saja mengatakannya bodoh, sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu hari ini.” Gadis 9 tahun itu kemudian mendorong tubuh Sehun sekuat tenaga untuk keluar dari kamarnya. Tapi tetap saja tenaga Sehun lebih besar. Dengan kedua tangannya, Sehun menahan Yoona.

“Im Yoona, dengarkan aku baik baik, kalau aku memanggilmu untuk bermain lagi. Keluar dengan berani dan bergabung bersama kami. Kau tak perlu takut, ada aku disini, aku akan selalu melindungimu.”

Yoona terbangun, hitam adalah warna pertama yang menyapanya. Sambil meraba, ia mencoba menyalakan lampu.

Klik

Setelah lebih terang, ia kemudian berjalan ke dapur untuk minum. Mimpi itu lagi. Sejak pindah, mimpi itu selalu menghantuinya. Mimpi tentang kebohongan Sehun.

Akan selalu melindungimu?

Omong kosong macam apa.

Dulu mereka sangat dekat, jelas saja, mereka bertetangga. Jujur, jika tak ada Sehun mungkin ia masih sulit untuk bersosialisasi sampai sekarang. Yoona tersenyum tipis mengingat masa indahnya dulu bersama Sehun. Sayang, saat SMP, Yoona harus pindah ke Amerika. Mereka lost contact dan dipertemukan kembali dalam sebuah perjodohan.

Sebenarnya ia juga tidak begitu saja bisa menerima perjodohan yang dibuat oleh kedua orangtua mereka. Yoona punya Donghae saat itu, hatinya juga hancur saat harus memutuskan Donghae, ia bahkan menangis setiap kali mengingat kenangannya bersama Donghae. Tapi ia gadis penurut. Yoona bukan orang yang suka mengecewakan orangtua.

Sejenak ia merenung.

Dan akhirnya memutuskan.

.

.

.

H+1 (setelah pemberitahuan dari Irene)

Rasanya seperti ia harus memulai lagi. Ia masih bisa merasakan hal hal yang memang seharusnya ia rasakan ketika tiba di Seoul. Udaranya, orang orangnya, gedung gedung tingginya, semuanya. Rasanya lega bisa kembali lagi ke rumah. Pulang setelah bertahun tahun melarikan diri memang tidak terdengar terlalu bagus, tapi setidaknya, ia punya alasan untuk kembali. Ada seseorang yang membutuhkannya.

Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, kepalanya terasa mau meledak. Ada bagian dalam dirinya yang membuatnya tak sabar. Ya. Ia memang memutuskan untuk langsung ke rumah sakit. Berusaha sebisanya, dan jika memang tak berhasil. Ia akan memilih pulang.

“Agasshi?” panggilan sang supir taksi membuat lamunan Yoona buyar.

“Sudah sampai?” Tanya Yoona bodoh. Tentu saja sudah, ia bisa melihat Wooridul Spine Hospital yang berdiri megah di sebelah kanannya. Salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Setelah mebayar, Yoona kemudian bergegas masuk ke dalam rumah sakit.

Yoona tahu mungkin ini akan terdengar sangat bodoh. Iya. Dirinya bodoh karena masih saja membeku saat melihat Oh Sehun, tak ada seorangpun di ruangan itu. Mungkin Irene sedang pergi membeli sesuatu. Ia tahu Yoona datang hari ini. Di depannya ada Sehun yang terbaring lemah. Ya Tuhan, berapa lama sudah ia tak melihat laki laki ini. Tiba tiba saja hatinya nyeri, seperti terkikis, Yoona mulai terisak.

Ia merindukan laki laki ini.

Ia merindukan suaranya, hembusan nafasnya, sentuhannya…semuanya…

Yoona makin terisak, tubuhnya gemetar, pandangannya kabur oleh airmata.

“Sehun…”

“Aku merindukanmu.”

.

.

Jam 6 petang dan Irene belum datang, Yoona mendapati dirinya tertidur di samping Sehun. Atau mungkin Irene sudah datang , tapi Yoona tak menyadarinya. Jujur saja, rasanya sangat canggung untuk bisa menyentuh Sehun. Ia ingin sekali. Tapi, ia takut bahwa ketika ia menyentuh Sehun, tak terjadi apa apa. Tak terjadi hal hal ajaib yang biasanya ia tonton di drama kesayangannya. Jadi, ia hanya memandang wajahnya, maksudnya bukan hanya wajahnya, ia cermati dengan teliti seluruh bagian dari wajah Sehun. Hidungnya, matanya, bibirnya. Ah, ia pasti terlihat seperti orang mesum sekarang.

Ceklek

Bisa ia dengar pintu kamar terbuka. Yoona menoleh pelan, ada Irene dengan Serene.

“Ah~kau sudah bangun?” Irene berucap. Ah, rupanya, Irene sempat datang tadi.

Yoona mengangguk.

“Kau menginap dimana Yoona-ssi?”

Aku tak tahu.

“Kau tidak punya tempat untuk menginap?”

Aku punya uang. Tentu aku punya tempat untuk menginap. Rencana awalnya adalah aku langsung kembali ke Edinburgh. Tapi, kenapa rasanya sekarang aku tak mau pulang?

“Aku menginap di rumah temanku. Di sekitar Apujeoung” Jawab Yoona akhirnya, Ia tertawa dalam hati. Rencananya hancur hanya karena Oh Sehun. Tiffany mungkin tidak menganggap Yoona temannya lagi setelah apa yang Yoona lakukan.

“Rumah kalian kosong.”

Ia sedang bersimpun untuk pulang ke rumah temannya ketika Irene mengucapkan kata kata tersebut. Hatinya nyeri lagi. Bisa ia rasakan tubuhnya menengang.

“Setelah kau pergi, Sehun memutuskan untuk pindah dari rumah itu. Kami tinggal di apartemen sekarang. Jadi, kau tak perlu khawatir seandainya ada bekas tubuhku disana. Aku tak pernah menginjakkan kakiku disana..jadi, kau tak perlu khawatir. “

Ia memasang telinganya lebar lebar ketika Irene menjelaskan. Lantas apa?

“Terima kasih atas informasinya. Tapi aku pikir aku akan ke rumah temanku saja.” Jawab Yoona singkat lalu beranjak ke pintu untuk pergi.

Di sepanjang koridor rumah sakit, ia terus berpikir hotel mana yang harus ia datangi.

“Yoona-ssi!” Yoona bisa mendengar Irene berteriak padanya. Ya Tuhan, ini rumah sakit. Bagaimana ia bisa berteriak seperti itu. Yoona berbalik, lalu menatap Irene dengan malas. Padahal ia penasaran sekali apa yang membuat Irene berteriak begitu padanya. Irene berlari semakin dekat.

“Kau datang kan besok?” Tanya Irene. Yoona terkesiap.

“Tentu. Aku akan datang kalau tak sibuk.”

Yang benar saja, ia tak punya teman, pekerjaan, saudara atau semacamnya disini. Jadi, apa yang akan membuatnya sibuk?

.

.

Yoona bodoh. Bukannya mencari hotel. Ia malah berhenti disini. Di depan rumah besar berwarna putih. Rumahnya bersama Sehun dulu. Setelah membayar taksi, lama ia mematung di depan pagar. Ia tak sadar tangannya sudah mendorong pelan pagar berwarna hitam yang warnanya sudah tak lagi hitam. Rumah ini tak pernah dirawat, pikir Yoona. Sehun pasti sibuk sekali dengan keluarga barunya.

Ia tertawa kelu.

Lalu menangis. Ia cengeng sekali.

Ia sudah mau berbalik pulang saat tahu pintu terkunci. Kemudian, ia teringat, dulu mereka sepakat untuk menaruh kunci di pot bunga matahari kesukaan Yoona. Dicarinya pot tersebut, agak sulit karena keadaan gelap. Tapi ia berhasil menemukannya. Pot tersebut bahkan sudah tak bertanah. Dan ya. Kunci tersebut ada disana.

Yoona bisa melihat tak ada perubahan disana. Perabotannya bahkan tak ditutupi kain putih. Yoona meringis sedikit. Sebegitu sibukkah Oh Sehun sehingga tak sempat mengurus rumah ini? Seprai di kamar mereka bahkan masih sama saat terakhir Yoona pergi. Ia menangis. Lagi.

Dulu, kamar ini rasanya hangat sekali.

Tapi kenapa rasanya dingin sekarang?

Dulu, kalau saja ia tak menelfon Sehun, mungkin sekarang ia masih bahagia bersama Sehun.

.

.

Anak modis itu ada disana. Di bangku depan kamar ayahnya, duduk sambil meringkuk. Yoona bisa melihat bahwa anak itu sedang sedih. Tapi, ia tak simpati. Yah, apalagi yang kau harapkan dari seorang anak yang menjadi alasan mengapa ia bercerai dulu. Memeluknya?  Mengatakan bahwa semua baik baik saja? Terlalu berat baginya.

Sepertinya ia mendengar suara dari flat shoes yang Yoona kenakan, jadi ia menoleh.

“Ah, ahjumma sudah datang!” ucapnya riang, lalu berlari menghampiri Yoona.

“Where is your mom?”

“Pergi. Membeli sesuatu atau semacamnya. Mom bilang aku harus diam disini dan menunggu ahjumma datang.” Ucap Serene polos. Kalau saja tak ingat ia itu anak Irene, pasti Yoona sudah mencubit gemas pipi anak itu.

Yoona duduk. Serene ikut duduk disampingnya.

“Kau sudah sarapan?” Tanya Yoona. Serene menggeleng pelan. Yoona menggerutu mengeluhkan sikap Irene yang tidak memberi makan Serene terlebih dahulu, lalu dengan segera menyerahkan roti coklat keju dari dalam tasnya. Serene menerima senang.

“Ini roti kesukaan daddy.” Tiba tiba saja Serene berbicara sendiri. Yoona tak kaget.

Aku tahu itu roti kesukaan Sehun. Aku juga menyukai roti itu.

“Saat pagi, biasanya daddy sulit sekali bangun. Ia baru akan bangun saat mommy memanggangkan roti ini untuknya.”

Membayangkannya membuat Yoona merasa sesak dan sakit sekali. Tapi, ia tak berkata kata. Ia mungkin saja meangis jika tak ada Serene disini. Betapa ia masih mengharapkan bisa seperti itu bersama Sehun suatu saat nanti.

“Sayang sekali daddy tak bisa makan roti ini sekarang. Daddy pasti senang.”

Tentu saja. Tapi, sebelum memakan roti tersebut, daddy mu akan jantungan duluan melihat Yoona ada disini.

“Serene,” Ucapan Yoona tersedat,

“Ya?”

“Apa yang mommy mu katakan tentang ahjumma?” Pertanyaan itu lolos dengan mulus dari mulutnya. Ia hanya ingin tahu saja. Sungguh.

Serene diam.

“Mommy hanya bilang ahjumma itu orang baik, jadi aku tak boleh nakal pada ahjumma.”

“Hanya itu?”

“Ah! Mommy juga bilang ahjumma itu dulu dekat sekali dengan Daddy.”

Oh.

Itu toh yang dikatakan Irene tentangnya. Ia kira Irene akan mengatakan sesuatu yang buuruk tentangnya. Ia terlalu khawatir rupanya.

“Kalian sedang berbicara apa?” Irene bersuara. Yoona kaget, untungnya Irene tampak baru saja datang. Di tangannya terdapat sebungkus plastik berisi buah buahan dan makanan ringan.

“Bukan apa apa.” Ucap Yoona secara cepat. Mencegah Serene mengatakan yang tidak tidak. Irene lalu tersenyum.

“Yoona-ssi. Terima kasih telah datang. Oh ya, kau tak keberatan kan kalau aku tinggal lagi? Serene harus pergi sekolah sekarang.” Yoona tak keberatan, harusnya Irene nya lah yang keberatan. Bagaimana bisa ia meninggalkan suaminya dengan wanita lain? Tapi, Yoona hanya mengangguk.

Sebelum pergi Serene membungkukkan badan kepadanya terlebih dahulu. Fakta bahwa Serene sangat sopan membuat Yoona sedih sekaligus lega. Dan kkamjjak! Serene memeluknya erat!

“Ahjumma. Jaga daddy sebentar saja, oke?” Yoona meringis. Betapa ia merindukan sentuhan hangat anak kecil. Ia baru sadar semenjak kejadian itu dirinya tak pernah dekat dengan anak kecil lagi. Yoona tersenyum. Serene balik tersenyum. Kemudian mereka pergi.

Yoona sedang berpikir apakah ia harus masuk atau tidak ketika dari kejauhan tampak lelaki sedang membawa bunga. Lelaki itu jangkung, berambut merah…..tunggu, berambut merah?Sial! itu Park Chanyeol! Dengan kecepatan penuh Yoona berdiri lalu berjalan cepat menjauhi Chanyeol. Ia gugup.

“Im Yoona?” teriak sebuah suara. Sial! Kenapa ia harus se sial ini sih ya ampun. Yoona mempercepat langkahnya tapi ia tak mau berlari, ia takut menggangu ketenangan orang orang yang sedang sakit. Tapi Chanyeol yang kepala batu malah berlari. Yoona bisa dengar dari langkahnya. Dan grap! Ia berhasil menggapai tangan Yoona. Yoona berbalik gugup.

“Hai…” Ucapnya kaku. Wajah Chanyeol malah lebih kaku lagi.

“Sedang apa kau disini?”

“Menjenguk seseorang.”

“Sehun?”

Yoona terdiam.

.

.

Yoona sebenarnya sedang tak ingin ke luar Karen udara sangat dingin.  Tapi, sungguh, taman rumah sakit ini indah sekali, padahal ini winter.

“Aku kira kau sangat benci Sehun,”

“Memang” Yoona jelas berbohong.

“Tapi kau datang…”

Yoona diam saja, ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Kadang ia merasa sangat membenci Sehun, tapi kadang ia merasa tak apa semua orang meninggalkannya asalkan Sehun tidak.

“Soal penyataanku waktu itu,” Chanyeol tersedat, Yoona menoleh ke arahnya.

“Aku benar benar jatuh cinta padamu.”

Chanyeol, ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya kembali, aku lelah dan mendengarmu mencintaiku tak bisa membantuku menghilangkan rasa lelahku, mendengarmu mencintaiku membuat bebanku bertambah, aku tak ingin dicintai sekarang, dan jelas aku juga tak ingin mencintai……

“Aku tak lagi pergi ke club untuk menggoda para gadis”

Yoona menghela nafas.

“Aku mengalami banyak perubahan karnamu Yoong…” aku Chanyeol, ia kemudian menarik bahu Yoona, membuat Yoona menghadap ke arahnya.

“Well, aku tak menyuruhmu untuk melakukan itu semua. Kau bebas melakukan apa yang kau mau. Aku tak peduli.”  Yoona berhenti sejenak, meemikirkan apa kata kata selanjutnya yang harus ia keluarkan. Chanyeol masih menatapnya.

“Aku mencintai orang lain Chanyeol. Maafkan aku,” Yoona seperti tanpa beban saja mengatakan itu. Chanyeol yang mendengarkannya tertegun, kemudian menyadari bahwa Yoona memang hanya ingin berkata jujur,

“Sehun?” Tanya Chanyeol. Bisa Yoona rasakan tubuh Chanyeol menegang menunggu jawaban Yoona. Yoona diam saja.

“Maafkan aku.” Yoona tahu ia bodoh. Ia adalah wanita paling bodoh. Bagaimana mungkin, Sehun?

Sesaat hanya gesekan dari dahan yang terdengar, angina yang membuatnya saling bergesekan. Salju dari tumbuhan forsythia di depan mereka lagi lagi jatuh. Yoona diam, begitupun Chanyeol. Ia tak tahu harus bicara apa lagi, jadi ia diam.

“Yoong. (Chanyeol menarik nafas panjang) Aku mengerti. Aku hanya ingin kau tahu bahwa Sehun sudah mencintai orang lain, dan ada orang lain disini yang mencintai mu secara tulus. Orang itu tak akan berani menyakitimu sedikitpun. Orang itu akan melakukan apa saja untukmu. Orang itu akan  mengembalikan senyummu yang sudah lama hilang. Orang itu aku Yoong. Telpon aku saat kau membutuhkan sesuatu.”

Di kalimat terakhirnya, Chanyeol meraih ponsel dari tangan Yoona. Menyimpan nomornya lalu pergi.

Yoona diam saja. Ia tidak tahu kenapa air mata nya menetes. Apa yang telah ia lakukan selama ini? Ada banyak orang yang mencintainya di dunia ini. Mengapa ia harus menghindari mereka?

.

YoonA, ia tak tau kemana harus pergi. Setelah pengakuan tak terduga dari Chanyeol ia kembali ke kamar Sehun. Yoona duduk di sofa sambil melihat Sehun yang masih tertidur. Sehun, kapan laki laki itu bangun? Yoona sudah datang. Kenapa ia tak sadar juga? Apakah mereka memang bukan cinta sejati? Yoona lelah, dan tanpa sadar tertidur.

Ketika ia membuka mata, yang ia lihat pertama kali adalah Sehun. Dengan Irene dan Serene di sampingnya.Mereka semua tertidur. Mereka kelihatan cocok sekali. Kemudian ia tersadar, untuk apa semua ini? Untuk apa ia datang? Ketika Sehun sudah sadar nanti, ia tak mungkin meninggalkan Irene kan? Terlebih lagi Serene. Yoona tahu Sehun bukan tipe lelaki yang seperti itu.

Sesak.

Dengan frustasi, ia memegang kepalanya. Lalu berdiri untuk beranjak pergi. Ia tak yakin akan datang besok. Yoona baru saja berjalan 1 langkah ketika ada yang memanggilnya.

Suara itu masih suara yang sama.

Berat dan menenangkan.

Suara Sehun.

Sehunnya.

“Yoona?”

.

Dokter masih berada di dalam bersama Irene, memeriksa keadaan Sehun.  Serene diluar bersamanya, anak itu memeluknya erat. Yoona pasrah saja. Lagi pula, ia mulai suka bau rambut anak kecil ini. Tatapan mata Yoona kosong. Kakinya sudah tak segemetar tadi. Yoona kemudian memikirkan hal apa yang akan terjadi saat Sehun benar benar akan berbicara kepadanya. Oh God. Pasti menegangkan.

Ceklek

Pintu terbuka.

Irene keluar bersamaan dengan para dokter. Yoona bisa melihat dokter menjelaskan sesuatu kepada Irene. Dilihat dari rautnya, sepertinya Sehun membaik. Bagus kan kalau begitu? Tapi kenapa Yoona malah sedih? Tidak, ia bukan sedih karena Sehun sembuh, ia sedih karena ketika Sehun sembuh ia berarti harus kembali. Ke Edinburgh. Ke kehidupannya yang sepi.

Kemudian Irene menghampirinya. Wanita itu menangis. Lalu tanpa aba aba memeluknya. Yoona tak tahu kenapa, tapi kemudian ia ikut menangis. Bisa Yoona dengar Irene mengucapkan terima kasih secara berulang kepada Yoona.

Irene orang baik kan?

Tak apa kan kalau Sehun bersamanya?

.

Mungkin ini yang terbaik. Yoona sudah memutuskan. Ia akan kembali ke Edinburgh. Sehun sudah bangun. Ada Irene dan Serene yang akan menjaganya. Ia pergi tanpa berpamitan kepada siapapun.

Tak apa Yoong.

Begini saja juga sudah cukup.

Tapi kenapa ia tak bisa berhenti menangis?

Ia menyedihkan karena menangis sendirian di dalam taksi. Ia menyedihkan karena memutuskan untuk meninggalkan Sehun yang notabenya adalah lekaki yang masih dicintainya hingga detik ini. Ia menyedihkan karena menjadi pengecut. Ia menyedihkan. I masih menangis ketika Meet Me in the Hallway milik Harry Syles mengalun indah menandakan ada telepon masuk.

Yoona menarik ingusnya dan mencoba berbicara senatural mungkin.

“Hallo?” kata orang di seberang sana dengan suara khas anak kecil. Itu Serene.

Yoona terdiam untuk beberapa saat. Apa yang harus ia katakan?

“Ahjumma?” suara di seberang berbicara lagi.

“Aku tidak tahu apa ahjumma dengar ini atau tidak. Aku menggunakan ponsel mommy saat ini. Mommy sedang pergi ke apartemen kami untuk mengambil beberapa helai pakaian. Masalahnya adalah daddy sedari tadi memanggil nama ahjumma. Daddy memanggil ahjumma sambil tertidur by the way, bisakah kau kesini, ahjumma?”

Yoona diam saja lagi, berkata oke, mengakhiri panggilan dan menyuruh supir taksi untuk kembali ke rumah sakit.

Semudah itu, terkadang, kau hanya ingin di tahan, walau dengan alasan sepele sekalipun.

.

.

“Maaf.” itu kata pertama yang ia dengar saat ia memasuki ruangan berpengharum ruangan apel tersebut. Oh Sehun telah sadar.  Dan tepat saat ini mendengar kembali suara kesukaan nya itu, air matanya jatuh, ia tak berusaha menahan. Ia biarkan saja. Ia sangat emosional beakangan ini.

Ingin rasanya Yoona memeluk tubuh kurus itu, lalu mengecup pipinya pelan, mengecup kelopak matanya lembut, mengecup bibirnya tanpa nafsu. Lalu ia tak akan lepaskan pelukannya. Sampai kapanpun. Tapi, ia sangat lemah sekarang. Ia tak sanggup menggerakkan tubuhnya dan hanya diam. Lalu ia menangis dan terus menangis, sampai akhirnya ia rasakan tubuh kurus itu memeluknya mesra. Tangisannya tambah keras.

Detik dan detik berlalu,

Hingga menjadi menit,

Lalu berubah menjadi jam.

Yoona masih belum berhenti menangis dan mereka juga belum melepaskan satu sama lain.

Yoona tak ingin berpisah. Sehun pun begitu.

.

H+3650

Yoona pernah mendengar seseorang berkata begini padanya :

“Terkadang ketika kita merelakan, bukan berarti kita menyerah, kita hanya harus mengalah.”

Kata kata itu tidak akan ia lupakan. Sampai kapanpun. Sehun mengucapkannya di hari terakhir mereka bertemu. Hari dimana Sehun sadar dan Yoona kembali ke Edinburgh. Hari dimana bahwa ia sadar apa yang Sehun katakan benar.Hari itu mereka berdua berbicara banyak hal, semalaman penuh, entah kemana perginya Irene dan Serene, mereka berbicara seperti dulu baru saling mengenal, mengklarisifikasi semuanya, saling mengutarakan perasaan masing masing.

Mungkin mereka hanya tidak berjodoh.

Tidak papa ketika yang kau inginkan tidak tercapai. Tidak papa ketika kau terjatuh. Tidak papa karena semua hal itu hanya akan membuatmu lebih kuat.

-fin

Im Yoona diary, Friday, On a rainy day, 3 pm, Edinburgh (She was listening to Close To You cover by Reneé Dominique while writing)

Why do birds suddenly appear
Every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you

Waktu itu (malam pertama kami bertemu lagi, malam perjodohan kami), lagi lagi aku, Im Yoona,menyatakan telah kembali jatuh cinta kepada Oh Sehun. Ia sangat tampan dengan balutan jas serba hitam. Saat ia datang, burung burung seakan berterbangan di sekelilingku. Tak seperti laki laki lain, Sehun tak berbau rokok. Badannya harum bukan karena parfum, dan setelah menikah aku tahu bahwa Sehun tak pernah memakai sabun beraroma buah atau bunga, ia memakai sabun anti-bakteri (sebagian orang membenci bau itu, tapi aku, Im Yoona selalu menyukai bau itu).

Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by?
Just like me, they long to be
Close to you

Malam itu, untuk pertama kalinya kami berkencan. Kami bercerita tentang banyak hal. Aku juga banyak mengutarakan ide ide gila yang ada di kepalaku, seperti ide tentang pergi ke bulan, menaruh beribu balon untuk menerbangkan rumah (aku pecinta Up), mencuri Monalisa dan membuatkan alis untuknya  dan lain lain,  Oh Sehun terlihat lelah karena pekerjaan kantornya, tapi walau begitu ia tetap dengan semangat berbicara denganku yang sangat cerewet, Oh Sehun berbeda dengan laki laki lain. Laki laki lain akan mengatakan “kau gila”, tapi Oh Sehun tidak. Malam itu juga bintang jatuh, setelah mengucapkan permohonan satu sama lain (aku berharap akan bisa terus selamanya bersama Sehun, entah apa yang Sehun harapkan).

On the day that you were born the angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust in your hair of gold and starlight in your eyes of blue

Aku selalu ingin berterimakasih kepada orang tua Oh Sehun dan juga Tuhan. Keberadaan Oh Sehun di dunia ini banyak mempengaruhi diriku. Aku bukan lagi Im Yoona yang pemalu, tidak percaya diri, dan mudah dimanfaatkan setelah bertemu Sehun. Kadang ia berengsek, tapi tidak seperti laki laki lain yang membuatku jadi sangat benci setelah mereka menyakitiku, aku tak pernah bisa membenci Oh Sehun sekeras apapun aku berusaha.

That is why all the girls in town
Follow you all around
Just like me, they long to be
Close to you

Termasuk Irene, semua wanita sepertinya menggialimu. Aku sangat beruntung bisa memilikimu walau hanya dalam waktu yang singkat. Aku akan terus mengenang momen momen dimana kita bersama. Aku pikir itu masa terbaik hidupku saat bersamamu. Kau hanya tak seperti laki laki lain. Kau berbeda.

Just like me, they long to be
Close to you

Kau telah berbuat salah. Tapi aku terlalu mencintaimu dan telah meaafkanmu bahkan sejak pertama kali aku menerima telepon malam itu. Terima kasih untuk segalanya.

-fin (I swear this time)

 

 

 

Advertisements

17 thoughts on “(Freelance) Close To You

  1. Thorr you jahat bangett bikin ff se-emosional ini 😭 gilaa ffnya bagus banget, kesel sama sehun tapi kasihan jga, agak benci jg sama irene tp irene-nya baik, kirain YoonA ama Ceye tapi kenapa ceye ditolak 😭😭 gilaakk bagus banget ffnya, ditunggu karya2 lainnya
    Keep writing!~

  2. omg, I thought Yoona would have had her own happy ever after. I also thought Park Chanyeol was someone from Yoona’s past (because she felt the warmth on his hug). and screw you Oh Sehun for hurting my Yoona ugh

  3. Hah? Endingnya gitu aja?

    Yoona masih single parent?
    Yoona nya juga pasrah aja digituin sama Sehun, sebenernya emang disini Sehun itu udah kaya setan apa banget deh🤮 ewww

  4. Udah lama enggk baca ff. Sekali baca ff kok endingnya bikin nyesek 😭 aku suka sama jalan ceritanya. Pinginnya yoona sama sehun bukan sehun sama irene 😣 aku tunggu ff selanjutnya ya thor kalo bisa yg happy ending hehehe

  5. Nyesek, paling tdk suka dgn crita yg endingx kyak gini. Sumvah aku kesel bnget ama Sehun d’sini. Sequel dong thor /nantikitademodirumahauthorbarutahu

  6. Sumpah paling benci klo udh begini, ya kali jadi cewe sebegitu menyedihkannya, ga ada tegas²nya acan mana martabat loe ancur gitu aja cuma karna cinta, jijik tau ga jijik. Ga salah mencinta tpi klo lu udh diperbudak ama cinta itu yg salah… Musti banget jdi org yg plin plan yg ngemis yg sok ngerelain tpi kosong atinya njirrr sakit itu sakitttttt. Jijik ama sehun buat irene please yahhh gua tuh ga pengen ngebenci dia, gua pengen suka dia di dunia realnya krna dia keliatan baik cuma klo trs² dijadiin org ke 3 muluan apa ga kasian dia di benci tanpa alasan, lelah aku tuh lelah mbak airin mulu dia terus dia aja. Plis kali² pikirin dampaknya.

  7. Nangis… 😭😭
    Sukses thor! Feel nya itu ya ampun, aku yang baca sampai bisa ngerasain sakitnya jadi yoona. Berharap bisa baca karya kamu selanjutnya… ❤

  8. Udah? Segini aja? Sakit hatiku belum terobati thorrrr 😭😭😭😭😭😭
    I need sequel, author-nim.
    Setidaknya buat Yoona bahagia sama Chanyeol 😭😭😭😭
    Sequel plisssss sequelllllll
    Yoona harus bahagia, dan bahagianya boleh kok sama Ceye.
    Sequel untuk ChanYoon thorrr

  9. Sequel plsss
    Gue ikutan sakit hati, ikutan nangis, ikutan kesel, berasa jadi yoona gue nya huhuhu…
    Sial knp ff ini harus keren bangeettttsss
    Sequel pls..
    Kalo yoona gak mau sama ceye, mending ceye kasi gue wkwkkw

  10. Ihhh kesel sekesel keselnya sma sehun.. Kaya ga niat bgt memperjuangkan yoona 😫😭
    Yoona juga,, knp gak nerima si ceye aja sih? kurangnya ceye ap coba? Setidaknya ceye ga brengsek kaya sehun 😒😣

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s