[Freelance] Love Rain

love-rain

 

Tittle: Love Rain (OneShoot)

Author&Poster: CaHunHan7

Maincast : Im Yoon Ah

Othercast: Oh Se Hoon, Seo Joo Hyun, etc.

Genre: Hurt

Note: Anyyeong~ aku author freelance baru disini. Udah sering buat FF tapi di grup FB ini baru pertama ngirim FF disini. Sebenernya ini bukan FF pertama author, soalnya yang pertama jelek banget jadi author ngirim yang ini :-p Walaupun judulnya Love Rain, jalan ceritanya beda lho ama drama Yoona yang berjudul sama😛 author hanya meminjam judulnya aja gak lebih :v Ya udah lah, kebanyakan cincong(?) Maaf kalau EYD amburadul, typo berserakan, author hanya manusia yang penuh salah dan dosa :v tinggalkan jejak, oke?J

HAPPY READING~

-SUMMARY-

Hujan yang membawa bayang dirimu dalam hatiku.

Hujan yang mengenalkanku akan rasa ini.

Berpuluh kali aku melihat orang yang lebih tampan.

Berpuluh kali orang menyatakan rasanya padaku.

Tapi, semuanya hambar. Tak ada perasaan apapun.

Dan ketika ku bertemu denganmu, kau berbeda.

Kau satu-satunya yang tak pernah mencintaiku.

Semua yang aku inginkan hanya hidup disampingmu.

Takkan pernah menghapusmu dari pikiranku.

Apa ini yang mereka sebut cinta? Beritahu aku apa itu cinta?

-Im Yoona-

//

Walaupun aku membawa payung, aku enggan untuk memakainya. Aku enggan untuk merasakan rintikan hujan mengenai punggungku karena payungku yang kecil, aku enggan merasakan beceknya jalan yang penuh lumpur dan genangan. Kampusku sudah sangat sepi, orang-orang lebih memilih pulang segera dan beristirahat didekat alat penghangat ruangan dengan segelas coklat panas. Tapi, tidak denganku. Aku tak menyukai hujan. Hujan bagiku hanya bencana, mimpi buruk, dan kenangan yang tak mengenakkan hati.

Kenapa aku berkata begitu?

Masa kecilku penuh dengan kenangan buruk, dan itu semua selalu diiringi dengan hujan. Ibuku meninggal karena melahirkanku, aku lahir ketika hujan. Aku pernah ditinggal sendirian dan saat itu mati lampu, hanya hujan yang menemaniku, menjadi saksi bisu ketakutanku. Dan paling parah, aku pernah diculik, aku sangat ingat, aku sedang menunggu Appa menjemputku saat itu, gerimis kecil menemaniku, dan tiba-tiba ada mobil hitam berhenti didepanku, seorang ahjussi bermasker menarikku paksa kedalam mobilnya.

Jadi, bagaimana bisa aku merasa bahagia ketika rintikan hujan mulai turun? Bagaimana bisa aku tersenyum mendengar suara indah hujan yang jatuh mengenai tanah? Aku membenci hujan dan selamanya akan begitu.

//

Hujan mulai reda, menyisakan gerimis yang tak seberapa. Aku masih terdiam ditempatku berdiri, tak berniat melangkah keluar. Suara langkah samar-samar terdengar ditelingaku. Masih ada orang? Aku yakin suara langkah itu berasal dari orang yang baru saja datang dan berdiri disebelahku ini. Aku tak berniat untuk mengetahui wajahnya, diam kembali menghinggapi.

Pria disebelahku masih tetap pada posisinya padahal hujan telah digantikan oleh gerimis, apa ia juga membenci hujan sepertiku? Aku mulai penasaran dengan wajahnya. Kudongakkan kepalaku perlahan, pria itu jauh lebih tinggi dariku, tubuhnya yang sangat putih hampir membuatku iri, garis rahangnya pun tegas, dengan rambut pirang yang acak-acakan. Apa ia hantu?

“Ada apa, aggashi?”

Ia balas menatapku, raut bingung jelas terlihat dari manik hazelnya. Aku tahu rasanya jika dipandang oleh orang asing, aku tahu, karena aku sudah –sangat- sering merasakannya. Dan bagaimana bisa aku melakukan hal yang sama dengan yang pria sering lakukan saat ada disebelahku? Babo Im!

“Eh, aniyo. Mianhamnida.”

Aku meringis, menyembunyikan rasa maluku. Pria tadi tak terlalu memikirkan perbuatanku, ia kembali memandang jalan. Aku ingin memulai pembicaraan, tapi gengsiku yang terlalu tinggi membuatku terus diam. Pria ini tipikal seorang yang pendiam. Aku bisa melihat dari manik matanya, jelas sekali. Dia hanya akan bicara jika dia benar-benar terdesak. Kenapa aku tahu? Karena aku berkuliah dijurusan Psikologi.

Gerimis masih turun, pukul 05.00 KST dan kami masih disini. Sudah sekitar setengah jam –mungkin lebih- aku menunggu hujan benar-benar reda. Ini mulai menjengkelkan, hanya berdiam diri disini dengan kaki yang hampir kesemutan. Dan tiba-tiba pria pendiam disebelahku mulai membuka mulutnya, sepertinya ia juga kebosanan seperti aku.

“Aggashi, namamu siapa?”

Ia memandang terlebih dulu kali ini, aku balas menatapnya. Tidak ingin dikira sombong, aku tersenyum ramah. Ia juga balas tersenyum padaku, walaupun ia hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya –sangat sedikit-.

“Naneun Im Yoona imnida. Jurusan Psikologi semester 1. Bangapseumnida.”

“Siapa namamu?”

Aku balas bertanya pada pria itu.

“Naneun Oh Se Hoon imnida. Jurusan ekonomi semester 2.”

“Eh, sunbae? Jeongseohamnida.”

“Gwenchana. Tidak usah panggil sunbae. Panggil Sehun saja.”

“Arraseo. Kau bisa memanggilku Yoona, atau Yoong?”

“Itu pernyataan atau pertanyaan, Yoong? Hahaha.”

Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Kenapa hanya mendengar tawanya membuat jantungku seperti sedang lari marathon? Apa ini gejala penyakit jantung? Aish. Baboya! Atau aku jatuh cinta? Hah, mana mungkin?! Sadarlah Im Yoona!

“Im Yoona?”

“Eh, nde sun.. eh, Sehun-ssi.”

“Hujan sudah reda, kau tak pulang?”

“Aku akan pulang. Kau tidak pulang?”

“Ani. Aku sedang menunggu seseorang.”

Kami diam, sama-sama diam, aku bingung menentukan topik pembicaraan, tapi dari pertanyaannya barusan aku rasa ia menyuruhku segera pulang –atau kata lainnya mengusirku-. Payung yang sedari tadi kupegang, kubuka dengan hati-hati, takut mengenai diriku maupun Sehun yang berdiri dekat denganku. Walaupun hujan benar-benar sudah reda, aku masih berantisipasi jika gerimis kembali turun.

Aku melangkah dengan enggan, meninggalkan Sehun sendiri. Langkahku terasa berat, aku belum ingin pulang. Kenapa dengan diriku? Apa ini karena Sehun ada disana? Jangan difikirkan, Yoona!

//

Aku ada kuliah pagi, walaupun hari tampak berawan tapi tanda-tanda hujan akan turun masih belum terlihat, hanya berawan, tidak mendung. Aku sudah biasa –terlalu biasa- menghabiskan waktu istirahat di kelas. Aku tak suka keramaian, tak suka, bukan benci. Kuputuskan menghilangkan kesunyian dengan mendengarkan MP3 melalui headset, dan bermain dengan game dihandphoneku.

“BOO~”

Aku terperanjat dan terlonjak dari kursiku saking kagetnya, headsetku sudah terlepas karena guncangan yang –agak- mengerikan tadi. Siapa yang mengagetkanku?! Segera ku menengok ke belekang, melihat siapa pelaku kekagetanku. Sudah kutebak, itu pasti dia. Yeoja gila ini, aish!

“Ya! Choi Sooyoung!”

Kupukuli bahunya dengan buas, aku hampir mati terkejut tadi. Tak akan kulepaskan yeoja gila ini dengan mudah.

“Ya! Kau benar-benar garang, Nona!”

Sooyoung terus mengaduh akan sikap protesku, lama-kelamaan aku mulai iba. Aku berhenti memukulinya dan memutuskan kembali memasang headsetku, mengabaikan Sooyoung. Kupejamkan mataku karena kantuk mulai datang  menghampiri.

Aku kurang tidur semalam, mungkin karena sosok Sehun terus terbayang difikiranku. Tapi, itu hanya ‘mungkin’, belum jelas apa yang membuatku tak bisa tidur nyenyak semalam. Banyak alasan selain Sehun, kan? Sialnya, ketika aku baru saja memejamkan mataku, sosok Sehun kembali muncul, terpatri jelas didalam fikiranku. Enyahlah dari fikiranku!

Aku membuka mataku dengan cepat, jantungku bergemuruh, persis seperti kemarin –saat aku dan Sehun bertemu-. Karena sangat penasaran, aku melepas headsetku dan memandang Sooyoung yang sedang makan dengan lahapnya, dasar Ratu Makan!

“Soo, kalau hatimu berdegup cepat ketika bersama seorang pria itu artinya apa?”

Sooyoung yang sedang memakan snacknya langsung tersedak begitu aku bertanya, seterkejut itukah ia akan pertanyaanku? Aku hanya memandangnya dengan polos, menunggu Ratu Makan ini menjawab pertanyaanku. Kuharap ini bukan cinta. Kumohon.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau merasakan hal itu?”

Aku mengangguk ragu sebagai jawaban ‘iya’. Sooyoung membuka mulutnya lebar, seolah benar-benar tak percaya –atau memang benar-benar tak percaya-. Dengan sabar, aku menunggunya sadar dari keterkejutannya yang berlebihan itu. Beberapa menit berlalu, tapi Sooyoung masih saja  nampak terkejut. Karena kesal, kupukul –lagi- bahu kurusnya.

“Aaw.”

“Jawab pertanyaanku, Nona Choi!”

Aku memandangnya kesal, Sooyoung menatapku dengan meringis.

“Ne, mian. Apa kau benar-benar merasakan hal itu?”

Sooyoung tampak ragu, ia seolah-olah masih tak percaya. Apa seburuk itu ketika aku yang merasakannya? Apa masalahnya?

“Itu tandanya kau jatuh cinta, Yoong! Siapa pria beruntung itu? Tell me, Yoong~”

Sooyoung merengek dengan aegyonya yang menggelikan, oh betapa aku ingin muntah sekarang.

“YA! BERHENTI! AKU INGIN MUNTAH, CHOI SOOYOUNG!”

Soyooung mengerucutkan bibirnya –semakin menggelikan-. Aku paling benci aegyo Sooyoung, aegyoku jauh lebih menggemaskan.

“Kau ingin ku pukul lagi, hm?”

“Yoongie~ beritahu aku siapa dia?”

“Kau penasaran sekali ya?”

“Iya! Iya!”

“Tidak mau!”

“YOONG~”

“Kenapa?”

“Beritahu aku, aku sangat penasaran, Yoong. Kau tahu kan, aku manusia ‘serba ingin tahu’?!”

“Hm.”

“Ck, dasar gadis dingin!”

“YA!”

“Beritahu aku~ bbuing bbuing~”

“Enyahlah.”

“Oh, oke. Aku akan enyah dari kehidupanmu, Im Yoona-ssi.”

Sooyoung membereskan bukunya, aku memutar bola mata, merasa biasa dengan tingkah Sooyoung. Sooyoung itu orang yang ‘serba ingin tahu’ dan sangat kekanakkan, tapi ketika ia sudah benar-benar marah, sangat susah menghiburnya.

“Arrachi. Jangan beritahu siapa-siapa. Otte?”

“Ne, ne, ne~”

“Kemari!”

Aku mendekati telinga Sooyoung, membisikkan nama pria ‘beruntung’ itu.

“MWO?! KAU SUKA OH SE…”

Dengan secepat kilat, aku membekap mulut ‘ember’ Sooyoung. Wanita satu ini memang tak bisa diajak kerjasama, aish. Untunglah, kelas masih sepi, hanya ada Minyoung dan Taeyeon yang sedang bergosip dipojok kelas. Mereka memandang kami bingung, aku memberikan tanda bahwa tidak ada apa-apa, mereka kembali bergosip ria.

“Ya! Jangan keras-keras!”

“Hehehe, mianhae, Yoong. Keceplosan.”

“Tapi, Yoong, apa kau tahu bahwa Oh Sehun…”

“BAAA~”

“AAAA~”

Aku dan Sooyoung terkejut, suara menggelegar yang tepat diucapkan ditelinga kami –dengan sangat keras- membuat aku dan Sooyoung terkejut. Rasanya jantungku hampir copot, jinjja!

“Hahahaha. Ekspresi kalian sangat lucu.”

“Ya! Xi Lu Han! Jangan ganggu kami!”

“Mwo? Siapa yang mengganggu? Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Jessica mencarimu daritadi, Sooyoung.”

“Jessica? Aigoo! Aku lupa! Yoong, aku harus pergi, anyyeong~”

Sooyoung melambaikan tangannya dengan seulas senyum lebar. Lu Han beralih duduk di bangku Sooyoung, aku hanya meliriknya.

“Yoona, mau dinner denganku?”

“Shirreo.”

Aku bangkit dari duduk, meninggalkan Lu Han, kuselampirkan tasku dibahu, aku berjalan menuju tempat aku biasa membaca buku. Aku sudah agak jarang kesana karena hujan selalu saja turun. Taman belakang. Aku mendekati pohon ditengah taman tak terpakai ini, sejak aku masuk, taman ini sudah tidak terpakai. Tanahnya yang luas tertutup oleh ilalang yang tak seberapa, aku melangkah, merasakan tanah lembap mengenai kakiku yang hanya mengenakan sepatu sandal.

Aku duduk perlahan, melihat apakah tanah yang akan kududuki terlalu lembap atau tidak. Untunglah, dalam tasku ada novel yang belum selesai kubaca, jadi aku tak akan mati kebosanan dibawah pohon rindang ini. Kubuka novelku, temanya tentang percintaan, walaupun aku sudah bisa menebak akhir cerita dari novel yang pernah kubaca, aku akan membacanya hingga halaman terakhir. Sudah menjadi kebiasaan, aku harus menghabiskan buku yang aku baca, baru membaca buku yang lain.

Disini nyaman dan anginnya pun sangat sejuk, tempat yang sempurna untuk membaca. Tak ada kebisingan, hanya suara angin yang mengenai kulit dan daun serta rerumputan. Selalu menyenangkan seperti biasa.

Angin dingin menerpa diriku yang hanya mengenakan dress selutut tanpa lengan. Dari hawa-hawanya sepertinya akan hujan. Aku segera membereskan barang-barangku, menyebalkan, padahal aku baru saja sampai. Rintikan kecil hujan terasa mengenai tangan dan kepalaku, gerimis turun. Aku berlari kecil, tanah yang terkena air hujanpun sudah menjadi lumpur. Dapat kurasakan sepatu sandal dan kakiku sudah penuh dengan cipratan lumpur.

//

Kuliah usai, sepi, hanya aku disini, sama seperti kemarin. Hujanpun masih memamerkan rintikannya, membuatku tak mampu untuk melangkah keluar. Dimana Sehun? Apa dia sudah pulang? Kenapa aku memikirkan Sehun?!

“Sedang apa?”

DEG!

Suara ini, suara berat ini, Sehun. Aku menoleh, Sehun tepat disampingku, seperti kemarin. Suaranya, begitu melegakan mendengarnya, begitu menyenangkan. Perasaan apa ini?

“Sehun? Belum pulang?”

“Aku menunggu hujan reda. Sama?”

“Hm. Sehun?”

“Iya?”

“Apa kau benci hujan?”

Aku menatapnya takut, berharap bahwa ia tak menganggapku konyol karena bertanya hal semacam itu. Sehun memandang hujan, aku tak tahu yang dipikirkannya. Lalu, aku terkejut, ia memandangku, pandangannya intens.

“Aku benci hujan.”

Penekanan kalimatnya sangat dalam, seolah-olah ia sangat membenci hujan. Setelahnya, pandangannya kembali, pandangan dingin.

“Kau?”

“Sama. Aku juga.”

“Kenapa?”

“Eum… tapi, ini terlalu pribadi.”

“Oh, yasudah.”

“Sehun? Kalau kau, kenapa?”

“Ini terlalu pribadi.”

“Oh, yasudah.”

“Kau meniruku, Nona Im.”

“Tapi, kau juga.”

Kami saling pandang, detik berikutnya aku terkekeh geli. Sehun bahkan terbahak-bahak, suara rendahnya semakin memesona ketika tertawa. Degupan jantungku semakin menjadi, aku berhenti terkekeh, memandang Sehun yang tak menyadari aku memandangnya. Ia tampak seperti anak kecil, tertawa begitu lepas seolah tak ada kesedihan dalam hidupnya. Bagaimana bisa ia begitu memesona? Gerak-geriknya, wajahnya, bahkan suara rendahnya.

“Im Yoona?”

“Eh, iya?”

“Aku duluan ya.”

Tak kusadari hujan telah reda, Sehun melangkah keluar, meninggalkan aku seorang diri. Suara jantungku masih sama seperti tadi, cepat, aku menyentuh dadaku, merasakan seberapa cepat detaknya.

DEG!

DEG!

DEG!

Seulas senyum merekah dengan sendirinya dibibirku, sekarang aku yakin, aku benar-benar jatuh, aku jatuh ke dalam dirimu, Oh Sehun.

//

Beberapa hari sudah hujan tak turun, aku tak tahu harus merasa senang atau sedih. Entahlah. Aku selalu senang ketika hujan tak turun, tapi beberapa hari ini, ketika hujan tak turun, ketika aku tak lagi bisa menunggu hujan mereda bersama Sehun, aku merasa sedih, hatiku, hatiku merasakan sedih. Membayangkan wajah Sehun ketika tertawa, entah mengapa aku juga ingin tertawa.

Aku bangkit, memikirkan rencana bodohku agar bisa memandang wajah Sehun. Gedung jurusan Sehun hanya berjarak 100 meter dari gedung jurusanku. Kuharap Sehun sedang ada kuliah. Suasana hatiku kembali ceria, aku baru menyadari bahwa aku melangkah dengan cepat, bukan, aku berlari. Sesenang inikah aku? Aku sampai dihalamannya, aku belum pernah masuk ke gedung ini.

Tunggu. Kenapa tak pernah terpikirkan olehku mengapa ia bisa berada di gedungku, mengapa aku dapat bertemu Sehun jika gedung kami terpisah? Apa yang dilakukannya di gedungku? Aku berhenti berlari, sekelompok orang mungkin jumlahnya 5 keluar dari gedung itu. Aku masih berjarak 10 meter dari pintu masuk, salah seorang dari kelompok itu memisahkan diri, berjalan menuju ke arahku, bukan, ia hendak menuju ke gedungku. Aku hendak bersembunyi ketika…

“IM YOONA!”

Jangan berbalik, Yoong! Jangan! Jangan!

“Ya! Kenapa kau disini?”

“Eh… i… itu… aku habis menemui teman. Kau mau ke gedungku ya?”

Sehun hanya mengangguk. Aku semakin penasaran. Jiwa ingin tahuku muncul.

“Mengapa?”

Sehun hanya diam. Aku merasa diriku terlalu ikut campur urusan pribadinya. Mungkin ia tak suka seseorang yang terlalu banyak bertanya tentang hidupnya.

“Ma… maaf ka…”

“Aku mau menemui seseorang. Mau menemaniku?”

“Bolehkah?”

“Tentu. Ayo.”

Sehun memegang tanganku dan kami berjalan dengan cepat, tangannya begitu hangat, menyenangkan. Siapa orang yang akan ditemuinya? Kenapa Sehun yang dingin bisa seriang ini? Prasangka buruk menghampiri fikiranku, jangan, semoga prasangka ini hanyalah prasangkaku semata.

Sehun berhenti, yang otomatis membuatku juga berhenti, aku memandang tulisan diatas pintu ruangan itu.

‘Jurusan Seni’

Hatiku semakin gusar, kenyataan mungkin akan menyakitkan, iya kan? Tapi, ini yang pertama kali kurasakan dan mengapa aku harus merasakan kenyataan yang menyakitkan seperti ini? Sehun menarikku dengan agak kencang, ini tak menyakitkan, tapi, ini menyakitkan bagi hatiku. Aku takut, aku takut menghadapi kenyataan.

“Seo~”

DEG!

Aku pernah mendengar nama itu, aku yakin, dia Seohyun sang primadona jurusan seni, yang terkenal akan wajahnya yang cantik nan polos, yang terkenal akan suara lembut merdunya, yang terkenal akan keindahan tubuhnya, yang terkenal akan kebaikan hatinya.

Apa mungkin?! Kurasakan nyeri menghinggapi dadaku, mataku berkaca-kaca samar, Sehun semakin kencang menarik tanganku, aku tak punya kekuatan untuk melangkah lebih cepat, semuanya hilang setelah kenyataan ini terkuak, kenyataan yang menyakitkan ini.

“Hun~ Eum…siapa dia?”

Sehun sudah melepas genggamannya pada tanganku. Suara lembut terdengar ditelingaku, yang jelas-jelas adalah suara Seohyun. Tak akan ada pria yang tidak terpesona oleh suara lembut nan menyenangkan itu. Aku semakin takut, aku menggenggam telapakku dengan kuat, mencoba menghilangkan rasa takut ini.

“Yoong?”

Suara Sehun sedikit menghilangkan ketakutanku, aku memandang sang primadona dengan cemas. Ya Tuhan, bagaimana bisa ada wajah secantik dan sepolos itu? Dalam sekali pandangpun, aku sudah amat terpesona, apalagi Sehun. Tanganku gemetaran, semakin takut, takut, dan takut.

“Na… naneun Im Yoona imnida. Bangapseumnida.”

“Naneun Seo Joo Hyun imnida.”

Gadis ini menunduk dalam, tipe seorang yang peramah. Kepercayaan diriku semakin menciut, mengetahui seberapa memesonanya gadis ini, aku yang penuh kekurangan ini tak akan mungkin melampauinya.

“Yoong?”

Kembali suara Sehun menyadarkanku, aku memandang Sehun dan Seohyun, dan sialnya mereka terlihat amat cocok berdiri berdampingan, sempurna, seperti pasangan. Sakit. Hatiku sakit. Aku ingin pergi, menghilang dari bumi ini, menghindari kenyataan ini.

“Se… Sehun-ssi, aku harus segera pergi. Mianhamnida. Aku pergi dulu, Seohyun, Sehun.”

Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik, menggerakkan kakiku yang rasanya sudah tak mampu berdiri lagi, langkahku semakin cepat, cepat, cepat, dan cepat. Aliran air mata sudah mengalir dengan deras, aku masih berlari, menuju tempat dimana aku bisa mengeluarkan tangisku dengan puas.

//

Aku tak masuk kuliah selama 3 hari, rasanya hatiku masih belum siap untuk menapak di tempatku menimba ilmu ini, langkahku pelan memasuki halaman gedung jurusanku. Aku berhenti di pintu masuk, ingatan itu kembali, ketika pertama kalinya aku bertemu dengan Sehun, kebersamaan kita, tawanya, semua terulang dikepalaku. Dadaku sesak, apakah mencintai seseorang harus semenyakitkan ini?

“YOONA!”

Kuharap ini hanya imajinasiku semata, aku masih belum siap memandangnya, hatiku belum sembuh seutuhnya.

“Ya! Kau kenapa? Aku panggil dari tadi kau tak menoleh sedikitpun. Kau sakit? Aku tak melihatmu beberapa hari lalu.”

“Ani. Gwenchanayo.”

“Pagi-pagi begini muka sudah ditekuk. Semangatlah!”

Sehun menepuk bahuku. Sehun-ah, andai kau tahu, untuk berpura-pura bahagia tak semudah itu. Aku hanya diam, tak ada niat untuk membalas ucapan Sehun. Setiap kali aku melihat wajah Sehun, kenangan itu kembali datang, kenangan yang menyakitkan itu. Aku melangkah, memutuskan meninggalkan Sehun.

//

Gerimis turun diluar gedungku, aku menuju lantai 1, kampus sudah sepi, hanya ada beberapa dosen yang berlalu-lalang hendak pulang setelah bekerja. Aku termangu tepat dipintu masuk.

Tuhan, jika memang semua adalah takdir-Mu, mengapa aku tak pernah merasakan bahagia sesungguhnya? Mengapa bahagiaku tak pernah datang? Tuhan, apa aku tak berbakti pada-Mu? Dia cinta pertamaku setelah 20 tahun berlalu, ini bukan cinta monyet seperti yang anak remaja rasakan, ini cinta sesungguhnya.Bukankah terlalu keji merasakan sakit setelah penantian hati yang panjang? Dan ketika hatiku telah memilih pengisinya, mengapa kenyataan menghancurkannya?

Tak kusadari, air mataku sudah mengalir, membasahi pipiku. Mengingatkanku akan hari lalu, ketika kenyataan itu menyakiti hati. Gerimis makin deras, seakan ikut menangis bersamaku, seolah ia tahu seberapa sakitnya aku.

“Yoong?”

Aku menoleh reflek, dan ketika itu, sosoknya berlari kecil menuju diriku dengan senyum riang. Melihatnya, hanya melihatnya, aku sudah merasa bahagia. Aku juga ikut tersenyum, walaupun aku tahu air mataku masih mengalir dengan deras. Dinamakan apa perasaan ini? Hatiku menangis, tapi nyatanya, dengan hanya melihat sang ‘pelaku tangisan’ku tersenyum aku juga tersenyum tanpa sadar.

Ia sudah berdiri dihadapanku, menatapku dengan senyum riang yang masih terpatri diwajahnya. Apa ia tak sadar bahwa aku menangis? Aku menunduk, mengusap air mataku dengan cepat.

“Yoong, aku sangat bahagia hari ini.”

Aku mendongak, menatapnya, ia tampak berbeda dengan Sehun yang biasanya, wajahnya tampak sangar cerah dan senyum tak pernah luntur dari bibirnya. Firasatku mulai tak enak.

“Waeyo?”

“Seohyun menerimaku! Ia jadi kekasihku, Yoong!”

Sehun berteriak dengan girang dihadapanku, ia bahkan memelukku dengan erat, sangat erat. Aku sadar hatiku sudah benar-benar terluka sekarang. Sebelum Sehun melepaskan pelukannya, aku balas memeluknya dengan erat. Tak ingin Sehun melihat aku menangis.

“Yoong? Wae?”

“Tunggu. Sebentar saja.”

Air mataku kembali mengalir, lebih deras dari sebelumnya. Rasanya amat sesak hingga aku kesulitan bernafas, seolah ada sebongkah batu menimpa hatiku. Aku menghirup udara dalam-dalam, aroma khas Sehun menyeruak ke dalam penciumanku. Aku semakin menenggelamkan kepalaku didada Sehun karena aku tahu ini mungkin yang pertama dan terakhir bagiku.

“Kau menangis?”

“Ani.”

Sehun memaksa melepaskan pelukanku, aku yang hanya seorang wanita tentu tak bisa menang melawannya. Sehun memegang kedua pipiku, menghadapkan wajahku pada wajahnya, dan ketika pandangan kami bertemu, ia tampak terkejut.

“Kau menangis. Wae?”

“Gwenchana. Aku hanya terlalu bahagia mengetahui kau jadian dengan Seohyun.”

“Jinjjaro?”

“Ne, jinjja.”

“Bukan karena sebaliknya?”

“Aniyo.”

“Aku pulang dulu ya. Sehun-ah.”

Lanjutku, aku menyodorkan tanganku, Sehun hanya memandangnya bingung. Aku menarik tangan Sehun, kami berjabat tangan.

“Terimakasih atas kenangan yang menyenangkan bersama hujan, Sehun-ssi. Dan selamat tinggal.”

Aku tersenyum tipis, melepaskan genggaman kami, menembus dinginnya angin malam.

//

Sebut saja aku seorang pengecut, yang tak kuat dan tak mampu menerima kenyataan. Karena aku memang seperti itu. Setelah pengakuan Sehun, aku memutuskan untuk pindah tanpa sepengetahuan Sehun, tinggal bersama nenekku di Inggris.

Aku berkuliah disana, mencoba menemukan pengobat hati, melupakan sosok Sehun. Hingga tanpa terasa 4 tahun berlalu sejak aku memutuskan tinggal di Inggris. Aku selalu pulang di liburan musim dingin, dan ketika aku kembali ke rumah di tahun kelima-ku, Choi ahjumma memberikanku sebuah undangan.

Sampulnya berwarna biru muda, sesuai dengan nuansa dingin di musim ini. Aku membukanya didalam kamar, dan ketika satu lagi kenyataan yang menyakitkan tentang Sehun. Aku sadar ia tak pernah melupakanku, aku sadar ia selalu menganggapku temannya, tapi undangan itu menghancurkan hatiku yang belum seutuhnya sembuh. Itu undangan pernikahan, pernikahannya dengan Seohyun.

//

Mereka sudah resmi menjadi pasangan hidup, aku menatap kedua insan yang berbahagia itu dari bangku paling belakang. Mereka tampak sangat bahagia. Sehun semakin tampan sekarang, wajah Seohyunpun sudah terlihat lebih dewasa. Setelah tiba saatnya untuk mengucapkan selamat, aku segera bangkit dari dudukku, merasa diriku tak akan sanggup mengucapkan selamat pada mereka.

“IM YOONA!”

Aku mengenal suara ini dengan jelas, dengan enggan aku membalikkan badanku. Sehun berjalan cepat ke arahku, ini seperti deja vu, ia memandangku dengan seulas senyum. bayang masa lalu itu terngiang kembali. Pertemuan terakhir kita sebelum aku memutuskan pergi,meninggalkan Sehun beserta kenangan tentangnya.

DEG!

Sehun memelukku dengan erat, tapi aku tak bisa balas memeluknya seperti saat itu. Aku tahu batasanku.

“Yoong, kemana saja kau?! Kau tahu, selama 4 tahun ini aku selalu memikirkanmu. Kenapa kau pindah?”

“Mianhae, Sehun-ah. Aku harus menemani nenekku di Inggris.”

“Lalu, kenapa kau memutuskan pergi tanpa mengucapkan selamat padaku?!”

“Eum… Yasudah. Chukkae, Oh Sehun. Berikan aku teman yang lucu. Oke?”

“Siap laksanakan! Kalau itu, tak usah ditanya lagi. Hahaha.”

“Hahaha. Arra. Aku pamit dulu ya, Sehun.”

“Kenapa cepat sekali?”

“Aku ada urusan. Titipkan ucapan selamatku pada Seohyun.”

“Oke. Anyyeong, Yoong. Aku akan merindukanmu. Sering-seringlah berkunjung.”

“Nde, Sehun-ah. Anyyeong.”

Aku menyebut namamu dalam kesendirian. Aku merindukanmu hingga aku hampir gila. Aku lelah. Aku sangat lelah. Air mata menutupi mataku. Aku berbalik, meninggalkanmu untuk kesekian kali. Sekarang sosokmu masih terbayang. Aku berharap kau tak merasakan sakit sebanyak aku. Aku harap kau tak mengingat sebanyak yang aku lakukan. Hingga akhir aku tak pernah bisa mengutarakan rasaku. Aku sadar, walaupun aku mengutarakannya sejak dulu, ia tetap akan bersama Seohyun, bukan denganku. Jadi, kuputuskan untuk menyimpan dalam-dalam perasaanku, menjadikannya kenangan dihatiku, mungkin takdir kami memang bukan untuk bersama. Tapi, kuharap, di kehidupan selanjutnya, aku bisa mencintaimu dengan dicintai dirimu juga, tak bertepuk sebelah tangan seperti saat ini. Selamat tinggal Oh Sehun. Aku akan baik-baik saja, jika waktu berlalu aku bisa melupakanmu.

//

Bahagialah, Oh Sehun. Karena aku juga akan bahagia bersamamu. Utarakanlah semua padaku. Karena aku akan mendengarkan dengan seksama. Tak apa jika hatiku terluka, asalkan kau bisa merasa bahagia.

-Im Yoona-

 

Note : Makasih bagi yang udah mau baca :* Dimohon meninggalkan jejak J Ingat! Jangan ada plagiatisme! XOXO~

26 thoughts on “[Freelance] Love Rain

    • Hehehehe 😜 makasih semangatnya 💕 Mungkin ke depannya auhor bakal buat sequelnya. Tapi tinggal nunggu waktu luang dan mood ya 😁 btw makasih udah baca. Dan maaf baru bisa bales *bow

  1. Aduuhh bacanya aja udh bikin nyesekk hm hiks hiks hiks kasian yoonaa, tak kira dalama waktu 4 tahun itu sehun udh putus sama seo hmm
    Yyaa udh ditunggu karya selanjutnyaaaa thorrrr…

    • Hahahaha cup cup cup 😂 author suka bkn anak org nangis nih 😁 ke depannya mngkn author bakal buat sequelnya. Tapi, tnggl nunggu waktu luang n mood ya 😁 btw makasih udah baca dan komen. Maaf baru bisa bales *bow

    • Wakakakaka :”v tapi tampan kan say ehh 😂😂😂 canda. Iya Sehun jahat, tapi lebih jahat authornya hohoho *evillaugh 😁😈😁 Btw makasih udah baca dan komen. Mungkin ke depannya author bakal buat sequelnya. Tapi, tergantung waltu luang dan mood ya. Dan maaf baru bisa bales skrg. *bow

    • Iya. Sehun jahat. Tapi lebih jahatan authornya 😂😂😂😂 btw makasih lhoo ya udah baca dan nyempetin komen 😁 dan maaf baru bsa bales skrg. *bow

    • Wakakakaka. Memang author akui author jahat hohoho *evil laugh. Iya deh, mngkn ke depannya author bkl buat sequelnya. tapi, tinggal liat waktu luang dan mood ya. Btw makasih udah baca dan komen. Maaf baru bia bls skrg *bow

    • Author sukanya nge giniin ya 😂😂 iya deh. Insya Allah kalo author ada waktu luang dan mood author usahain buat sequelnya. Btw makasih udah baca dan komen. Maaf baru bisa bales *bow

    • Tinggal liat ke depannya ya. Kalo ada waktyu luang+mood author bakal bkn sequelnya. Tapi kalo gaada ya mungkin molor lama up-nya 😂😂😂 btw makasih udah baca dan komen. Maaf baru bisa bls *bow

  2. pokoknya udah kapok gw baca ff sad ending. ini trakhir kalinya. cukup ini ff sad end yg gw baca utk yg trakhir. hatinya jadi nyut nyut an kek gini, ngrasain jd yoona. arghhhhh. thor pokoknya bikin ff yoonhun yg happy end, buat ngobatin hati gw yg nyut nyutan kek gini,.

    • Hahahahahak. Iya deh author bakal bkn ff yoonhun yang happy end 😂 yang ga bkn anak org pada baper 😂 ini juga rencananya author bakal bkn sequelnya. Tapi tergantung waktu luang dan mood ya 😜 Btw makasih udah baca dan kome. Maaf baru bsa bles skrg *bow

    • Wkwkwkwk. Ini semua salah authornya 😂😂😂 anak orang pada baper smua 😂 btw makasih udah baca dan komen. Maaf baru bisa bles skrg *bow

    • Eumm… bisa tuh bisa tuh. Tapi, nunggu ntar dlu ya. Soalnya author ini lagi sibuk dengan uas dan tugas tugas 😭😭😭 Ntar kalo udah ngga di usahain deh 😁 btw makasih udah baca dan maaf baru bisa bales 😄

    • Author suka bikin sedih anak orang ya 😂😂😂 mianhae. Tapi, author suka sih yang beginian(?) Btw, makasih udah baca *bow*

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s